• Tidak ada hasil yang ditemukan

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PADANG LAWAS NOMOR TAHUN 2011 TENTANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PADANG LAWAS NOMOR TAHUN 2011 TENTANG"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

RANCANGAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PADANG LAWAS NOMOR TAHUN 2011

TENTANG

RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN PADANG LAWAS TAHUN 2011-2031

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI PADANG LAWAS,

Menimbang : a. bahwa ruang merupakan komponen lingkungan hidup yang bersifat terbatas dan tidak terbaharui, sehingga perlu dikelola secara bijaksana dan dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk kepentingan generasi sekarang dan generasi yang akan dating b. bahwa perkembangan pembangunan khususnya pemanfaatan

ruang di wilayah Padang Lawas diselenggarakan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan potensi sumberdaya alam, sumberdaya buatan, dan sumberdaya manusia dengan tetap memperhatikan daya dukung, daya tampung, dan kelestarian lingkungan hidup.

c. bahwa dalam rangka pelaksanaan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang , serta terjadinya perubahan factor-faktor eksternal dan internal membutuhkan penyesuaian penataan ruang wilayah Kabupaten Padang Lawas secara dinamis dalam satu kesatuan tata lingkungan berlandaskan kondisi fisik, kondisi sosial budaya, dan kondisi sosial ekonomi melalui penetapan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Padang Lawas sampai tahun 2031.

d. Bahwa dalam rangka pelaksanaan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Padang Lawas di Provinsi Sumatera Utara, yang mengamanatkan untuk menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Padang Lawas.

e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana tercantum huruf a, huruf b, huruf c dan huruf d, maka perlu ditetapkan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Padang Lawas tahun 2011-2031.

(2)

Mengingat : 1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah dua kali diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

3. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Padang Lawas di Provinsi Sumatera Utara

4. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN PADANG LAWAS dan

BUPATI PADANG LAWAS MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN PADANG LAWAS TAHUN 2011 - 2031

BAB I

KETENTUAN UMUM Bagian Kesatu

Pengertian Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:

1. Daerah adalah Kabupaten Padang Lawas

2. Pemerintah Daerah adalah Bupati beserta Perangkat Daerah otonom yang lain sebagai Badan Eksekutif Daerah Kabupaten Padang Lawas.

3. Kepala Daerah adalah Bupati Kabupaten Padang Lawas

4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Padang Lawas.

5. Pemerintah Kabupaten adalah Pemerintah Kabupaten Padang Lawas.

6. Peraturan Daerah adalah Peraturan Daerah Kabupaten Padang Lawas.

7. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya.

8. Tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang.

(3)

9. Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional.

10. Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya.

11. Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.

12. Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan tata ruang.

13. Penyelenggaran penataan ruang adalah kegiatan yang meliputi pengaturan, pembinaan, pelaksanaan, dan pengawasan penataan ruang.

14. Pengaturan penataan ruang adalah upaya pembentukan landasan hukum bagi pemerintah daerah, dan masyarakat dalam penataan ruang.

15. Pembinaan penataan ruang adalah upaya untuk meningkatkan kinerja penataan ruang yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah, dan masyarakat

16. Pelaksanaan penataan ruang adalah upaya pencapaian tujuan penataan ruang melalui pelaksanaan perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.

17. Perencanaan tata ruang adalah suatu proses untuk menentukan struktur ruang dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang.

18. Pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan dan pelaksanaan program beserta pembiayaannya.

19. Pengendalian pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan tertib tata ruang.

20. Pengawasan penataan ruang adalah upaya agar penyelenggaraan penataan ruang dapat diwujudkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

21. Pengaturan zonasi adalah ketentuan tentang persyaratan pemanfaatan ruang sektoral dan ketentuan persyaratan pemanfaatan ruang untuk setiap blok/zona peruntukan yang penetapan zonanya dalam rencana rinci tata ruang.

22. Peraturan zonasi adalah ketentuan yang mengatur tentang persyaratan pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendaliannya dan disusun untuk setiap blok/zona peruntukan yang penetapan zonanya dalam rencana rinci tata ruang.

23. Izin pemanfaatan ruang adalah izin yang dipersyaratkan dalam kegiatan pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

24. Izin pemanfaatan ruang adalah izin yang dipersyaratkan dalam kegiatan pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

25. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional.

26. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten (RTRWK) adalah rencana tata ruang yang bersifat umum dari wilayah kabupaten, yang berupa rencana operasional pembangunan wilayah kabupaten sesuai dengan peran dan fungsi wilayah yang telah ditetapkan dalam RTRW yang akan menjadi landasan dalam pelaksanaan pembangunan di wilayah kabupaten.

27. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Padang Lawas adalah kebijaksanaan yang menetapkan lokasi dan kebijaksanaan pengembangan kawasan yang harus dilindungi dan dibudidayakan serta wilayah yang akan diprioritaskan pengembangannya dalan kurun waktu perencanaan, yang selanjutnya disebut RTRW Kabupaten Padang Lawas.

28. Strategi penataan ruang wilayah kabupaten adalah penjabaran kebijakan penataan ruang ke dalam langkah-langkah pencapaian tindakan yang lebih nyata yang menjadi dasar dalam penyusunan rencana struktur dan pola ruang wilayah kabupaten.

(4)

29. Rencana struktur ruang wilayah kabupaten adalah rencana yang mencakup sistem perkotaan wilayah kabupaten yang berkaitan dengan kawasan perdesaan dalam wilayah pelayanannya dan jaringan prasarana wilayah kabupaten yang dikembangkan untuk mengintegrasikan wilayah kabupaten selain untuk melayani kegiatan skala kabupaten yang meliputi sistem jaringan transportasi, sistem jaringan energi dan kelistrikan, sistem jaringan telekomunikasi, dan sistem jaringan sumber daya air, termasuk seluruh daerah hulu bendungan atau waduk dari daerah aliran sungai, serta prasarana lainnya yang memiliki skala layanan satu kabupaten.

30. Pusat Kegiatan Nasional yang selanjutnya disebut PKN adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala internasional, nasional, atau beberapa provinsi.

31. Pusat Kegiatan Wilayah yang selanjutnya disebut PKW adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala provinsi atau beberapa kabupaten/kota.

32. Pusat Kegiatan Lokal yang selanjutnya disebut PKL adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kabupaten/kota atau beberapa kecamatan.

33. Pusat Pelayanan Kawasan yang selanjutnya disebut PPK adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan atau beberapa desa.

34. Pusat Pelayanan Lingkungan yang selanjutnya disebut PPL adalah pusat permukiman yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala antar desa.

35. Pusat Pelayanan Lingkungan yang selanjutnya disebut PPL adalah pusat permukiman yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala antar desa.

36. Rencana sistem jaringan prasarana kabupaten adalah rencana jaringan prasarana wilayah yang dikembangkan untuk mengintegrasikan wilayah kabupaten dan untuk melayani kegiatan yang memiliki cakupan wilayah layanan prasarana skala kabupaten.

37. Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapan-nya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel

38. Sistem Jaringan Jalan adalah satu kesatuan ruas jalan yang saling menghubungkan dan mengikat pusat-pusat pertumbuhan dengan wilayah yang berada dalam pengaruh pelayanannya dalam satu hubungan hierarkis

39. Rencana sistem perkotaan di wilayah kabupaten adalah rencana susunan kawasan perkotaan sebagai pusat kegiatan di dalam wilayah kabupaten yang menunjukkan keterkaitan saat ini maupun rencana yang membentuk hirarki pelayanan dengan cakupan dan dominasi fungsi tertentu dalam wilayah kabupaten.

40. Kawasan perdesaan dalam wilayah pelayanannya adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintah, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.

41. Rencana pola ruang wilayah kabupaten adalah rencana distribusi peruntukan ruang wilayah kabupaten yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan budidaya yang dituju sampai dengan akhir masa berlakunya RTRW kabupaten (20 tahun) yang dapat memberikan gambaran pemanfaatan ruang wilayah kabupaten yang dituju sampai dengan akhir masa berlakunya perencanaan 20 tahun.

42. Kawasan adalah satuan ruang wilayah yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional serta memiliki ciri tertentu.

43. Kawasan strategis nasional adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia.

(5)

44. Kawasan strategis provinsi adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup provinsi terhadap ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan.

45. Kawasan strategis kabupaten adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kabupaten terhadap ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan.

46. Kawasan Hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap.

47. Hutan adalah satu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan;

48. Daerah Aliran Sungai yang selanjutnya disingkat DAS adalah suatu wilayah tertentu yang bentuk dan sifat alamnya merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak- anak sungainya yang berfungsi menampung air yang berasal dari curah hujan dan sumber air lainnya dan kemudian mengalirkannya melalui sungai utama ke laut.

49. Kawasan Lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam, sumberdaya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan.

50. Kawasan Budidaya adalah kawasan yang dimanfaatkan secara terencana dan terarah sehingga dapat berdaya guna dan berhasil guna bagi hidup dan kehidupan manusia, terdiri dari kawasan budidaya pertanian dan kawasan budidaya non pertanian.

51. Kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.

52. Kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.

53. Kawasan tertentu adalah kawasan yang ditetapkan secara nasional mempunyai nilai strategis yang penataan ruangnya diprioritaskan

54. Sistem jaringan jalan adalah satu kesatuan ruas jalan yang saling menghubungkan dan mengikat pusat-pusat pertumbuhan dengan wilayah yang berada dalam pengaruh pelayanannya dalam satu hubungan hierarkis.

55. Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel.

56. Bandar udara adalah lapangan terbang yang dipergunakan untuk mendarat dan lepas landas pesawat udara, naik turun penumpang dan / atau bongkar muat kargo dan / atau pos serta dilengkapi dengan fasilitas keselamatan penerbangan dan sebagai tempat perpindahan antar moda transportasi.

57. Sistem pengelolaan air limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik.

58. Tempat penampungan sementara yang selanjutnya disebut TPS adalah tempat sebelum sampah diangkut ke tempat pendauran ulang, pengolahan, dan/atau tempat pengolahan sampah terpadu.

59. Tempat pemrosesan akhir yang selanjutnya disebut TPA adalah tempat untuk memroses dan mengembalikan sampah ke media lingkungan secara aman bagi manusia dan lingkungan.

(6)

60. Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah, yang selanjutnya disebut BKPRD adalah badan bersifat adhoc yang dibentuk mendukung Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 50 Tahun 2009 tentang Pedoman Koordinasi Penataan Ruang Daerah, dan di Kabupaten Padang Lawas Badan tersebut mempunyai bertugas membantu pelaksanaan tugas Bupati dalam koordinasi penataan ruang di daerah.

61. Mitigasi bencana adalah upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik secara struktur atau fisik alami dan/atau buatan maupun nonstruktur atau nonfisik melalui peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

62. Arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten adalah arahan untuk mewujudkan struktur ruang dan pola ruang wilayah kabupaten sesuai dengan rencana tata ruang wilayah kabupaten melalui penyusunan dan pelaksanaan program beserta pembiayaannya, dalam suatu indikasi program utama jangka menengah lima tahunan kabupaten.

63. Indikasi program utama jangka menengah lima tahunan adalah petunjuk yang memuat usulan program utama, lokasi, besaran, waktu pelaksanaan, sumber dana, dan instansi pelaksana dalam rangka mewujudkan pemanfaatan ruang yang sesuai dengan rencana tata ruang.

64. Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten adalah ketentuanketentuan yang dibuat atau disusun dalam upaya mengendalikan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten agar sesuai dengan RTRW kabupaten yang dirupakan dalam bentuk ketentuan umum peraturan zonasi, ketentuan perizinan, ketentuan insentif dan disinsentif, serta arahan sanksi untuk wilayah kabupaten.

65. Ketentuan umum peraturan zonasi sistem kabupaten adalah ketentuan umum yang mengatur pemanfaatan ruang dan unsur-unsur pengendalian yang disusun untuk setiap klasifikasi peruntukan/fungsi ruang sesuai dengan rencana tata ruang wilayah kabupaten.

66. Ketentuan perizinan adalah ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah kabupaten sesuai kewenangannya yang harus dipenuhi oleh setiap pihak sebelum pemanfaatan ruang, yang digunakan sebagai alat dalam melaksanakan pembangunan keruangan yang tertib sesuai dengan rencana tata ruang yang telah disusun dan ditetapkan.

67. Ketentuan insentif dan disinsentif adalah perangkat atau upaya untuk memberikan imbalan terhadap pelaksanaan kegiatan yang sejalan dengan rencana tata ruang dan juga perangkat untuk mencegah, membatasi pertumbuhan, atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang.

68. Arahan sanksi adalah arahan untuk memberikan sanksi bagi siapa saja yang melakukan pelanggaran pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang yang berlaku.

69. Masyarakat adalah adalah orang perseorangan, kelompok orang termasuk masyarakat hukum adat, korporasi, dan/atau pemangku kepentingan nonpemerintah lain dalam penyelenggaraan penataan ruang.

70. Peran masyarakat adalah berbagai kegiatan masyarakat, yang timbul atas kehendak dan prakarsa masyarakat, untuk berminat dan bergerak dalam penyelenggaraan penataan ruang.

Bagian Kedua Peran dan Fungsi

Pasal 2

RTRW Kabupaten Padang Lawas berperan sebagai alat operasionalisasi pelaksanaan pembangunan di Wilayah Kabupaten Padang Lawas

(7)

Pasal 3

RTRW Kabupaten Padang Lawas berfungsi sebagai pedoman untuk :

a. acuan dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD);

b. acuan dalam pemanfaatan ruang wilayah kabupaten;

c. acuan untuk mewujudkan keseimbangan pembangunan dalam wilayah kabupaten;

d. acuan lokasi investasi dalam wilayah Kabupaten yang dilakukan pemerintah, masyarakat dan swasta;

e. pedoman untuk penyusunan rencana rinci tata ruang di wilayah kabupaten; dan f. dasar pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah Kabupaten yang meliputi

penetapan peraturan zonasi, perijinan, pemberian insentif dan disinsentif, serta pengenaan sanksi; dan acuan dalam administrasi pertanahan.

.

Bagian Ketiga Ruang Lingkup Pengaturan

Paragraf 1 Muatan

Pasal 4 RTRW Kabupaten Padang Lawas memuat:

a. tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang wilayah Kabupaten Padang Lawas;

b. rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Padang Lawas yang meliputi sistem pusat kegiatan dan sistem jaringan prasarana wilayah;

c. rencana pola ruang wilayah Kabupaten Padang Lawas yang meliputi kawasan lindung dan kawasan budi daya;

d. penetapan kawasan strategis kabupaten;

e. arahan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten Padang Lawas yang terdiri dari indikasi program utama jangka menengah lima tahunan; dan

f. ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten Padang Lawas yang berisi ketentuan umum peraturan zonasi, ketentuan perizinan, ketentuan insentif dan disinsentif, serta arahan sanksi.

Paragraf 2 Wilayah Perencanaan

Pasal 5

Wilayah perencanaan RTRW Kabupaten Padang Lawas meliputi seluruh wilayah administrasi Kabupaten Padang Lawas yang terdiri atas:

a. Kecamatan Barumun;

b. Kecamatan Sosa;

c. Kecamatan Batang Lubu Sutam;

d. Kecamatan Hutaraja Tinggi;

e. Kecamatan Lubuk Barumun;

f. Kecamatan Ulu Barumun;

g. Kecamatan Sosopan;

h. Kecamatan Barumun Tengah;

i. Kecamatan Huristak;

(8)

BAB II

TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI Bagian Kesatu

Tujuan Penataan Ruang Wilayah Kabupaten Pasal 6

Penataan Ruang Wilayah Kabupaten Padang Lawas bertujuan untuk mewujudkan Kabupaten Padang Lawas sebagai Kawasan Agropolitan yang didukung oleh pengembangan industrinya dalam rangka pemerataan pertumbuhan pembangunan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Bagian Kedua

Kebijakan Penataan Ruang Wilayah Kabupaten Pasal 7

Untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ditetapkan kebijakan sebagai berikut:

1. Pemantapan kawasan lindung sebagai upaya mempertahankan kualitas lingkungan dalam lingkup regional.

2. Penataan dan pengoptimalan pemanfaatan kawasan budidaya pertanian guna mewujudkan kabupaten Padang Lawas yang berbasis agribisnis. Kebijakan tersebut diwujudkan melalui strategi sebagai berikut :

3. Penataan dan pengoptimalan pemanfaatan kawasan perkebunan.

4. Peningkatan dan pengelolaan kawasan hutan produksi secara optimal.

5. Pengembangan sentra-sentra industri untuk mendukung pertumbuhan ekonomi kerakyatan.

6. Penguatan peran pusat-pusat permukiman perkotaan.

7. Peningkatan aksesibilitas internal dan eksternal wilayah.

8. Peningkatan pelayanan prasarana dan sarana wilayah, 9. Peningkatan sektor ekonomi lainnya

Bagian Ketiga

Strategi Penataan Ruang Wilayah Kabupaten Pasal 8

(1) Strategi untuk melaksanakan kebijakan sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 huruf a meliputi:

a. Mempertahankan luasan dan meningkatkan kualitas kawasan lindung dan cagar alam di Kecamatan Ulu Barumun, Kecamatan Sosopan, Kecamatan Barumun, Kecamatan Sosa dan Kecamatan Batang Lubu Sutam;

b. Mengembalikan ekosistem kawasan lindung;

c. Menegaskan zona hutan lindung dan disosialisasikan ke masyarakat;

d. Menerapkan sanksi secara tegas terhadap pemanfaatan kawasan lindung;

e. Melindungi sempadan sungai.

(2) Strategi untuk melaksanakan kebijakan sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 huruf b meliputi:

(9)

a. Mengembangkan kawasan pertanian tanaman pangan dan kawasan perkebunan sesuai dengan rencana pola pemanfaatan ruang;

b. Intensifikasi lahan sawah di kawasan pinggiran sungai-sungai utama yang meliputi Kecamatan Ulu Barumun dan Kecamatan Barumun Tengah;

c. Perluasan Areal Tanam Padi yang meliputi Kecamatan Ulu Barumun dan Barumun bagian selatan;

d. Pencetakan sawah baru di Kecamatan Ulu Barumun;

e. Mendorong kegiatan pengolahan komoditi unggulan di pusat produksi yang ditetapkan;

f. Meningkatkan prasarana perhubungan dari pusat produksi komoditi unggulan menuju pusat pemasaran;

g. Mengembangkan sistem insentif-disinsentif bagi budidaya pertanian tanaman pangan;

h. Mempertahankan pertanian yang sudah ada dengan pengendalian perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi guna lahan lain.

(3) Strategi untuk melaksanakan kebijakan sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 huruf c meliputi:

a. Menetapkan pembagian kawasan perkebunan berdasarkan jenis komoditas potensialnya;

b. Membuka akses jalan-jalan produksi perkebunan untuk kepentingan distribusi hasil perkebunan;

c. Mendorong investasi pengembangan komoditas perkebunan dalam skala besar;

d. Membantu masyarakat dalam pengembangan komoditas unggulan, melalui pembinaa;

penyediaan bibit yang berkualitas dan kemudahan pemodalan usaha.

(4) Strategi untuk melaksanakan kebijakan sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 huruf d meliputi:

a. Mengembangkan Hutan Tanaman Industri (HTI) pada kawasan Barumun Tengah;

b. Pengembangan budidaya tanaman keras dan tanaman kehutanan (agroforestry) di kawasan penyangga hutan lindung.

(5) Strategi untuk melaksanakan kebijakan sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 huruf e meliputi:

a. Menetapkan kawasan industri pengolahan hasil pertanian dan perkebunan;

b. Mendorong investasi pembangunan industri pengolahan yang berbasis komoditas unggulan;

c. Mengembangkan jaringan infrastruktur pendukung terhadap kegiatan industri;

d. Mendorong dan membantu masyarakat dalam pengembangan industri rumah tangga.

(6) Strategi untuk melaksanakan kebijakan sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 huruf f meliputi:

a. Mengembangkan peran dan fungsi Kota Sibuhuan sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL);

b. Menetapkan dan mengembangkan Kawasan Binanga sebagai kawasan strategis bidang ekonomi, dimana fungsi perhubungan udara, industri dan jasa dikembangkan secara terintegrasi;

c. Mengembangkan kawasan perkotaan Binanga dan Pasar Ujung Batu sebagai Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) untuk melayani wilayah sekitarnya;

d. Mengembangkan Ibukota kecamatan lainnya sebagai Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) yang melayani wilayah sekitarnya.

(7) Strategi untuk melaksanakan kebijakan sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 huruf g meliputi:

a. Mendorong pengembangan jaringan jalan provinsi yang melalui Padang Lawas (ruas jalan Binanga-Sibuhuan-Sosa);

b. Mengembangkan jaringan jalan yang menghubungkan ibukota Kabupaten dengan Ibukota kecamatan;

c. Mengembangkan dan membangun jaringan jalan ke sentra-sentra produksi;

(10)

d. Mendorong pelayanan angkutan umum sampai tingkat desa khususnya ke sentra- sentra produksi,

e. Penetapan dan pembangunan lokasi terminal penumpang yang diarahkan di Kecamatan Sibuhuan sebagai simpul pergantian moda,

f. Mendorong pembangunan jaringan kereta api yang menghubungkan Padang Lawas dengan wilayah lainnya (Labuhanbatu - Gunung Tua - Sibuhuan).

g. Mendorong pembangunan Bandar Udara di Binanga.

(8) Strategi untuk melaksanakan kebijakan sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 huruf h meliputi:

a. Mendorong pembangunan pembangkit listrik dan pemanfaatan sumber energi alternatif;

b. Mendorong pengembangan jaringan listrik ke semua wilayah;

c. Mendorong pengembangan dan pembangunan jaringan telekomunikasi baik kabel maupun satelit;

d. Mengembangkan jaringan irigasi untuk mendukung ketahanan pangan;

e. Mengembangkan sistem pelayanan air minum yang memenuhi standar kesehatan;

f. Membangun fasilitas untuk mendukung peran dan fungsi di pusat-pusat pelayanan;

g. Membangun fasilitas umum bagi wilayah yang belum memiliki fasilitas umum seperti fasilitas ekonomi, fasilitas pendidikan dan fasilitas sosial.

(9) Strategi untuk melaksanakan kebijakan sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 huruf i meliputi:

a. Meningkatkan produksi perikanan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi Kabupaten Padang Lawas serta meningkatkan ekspor melalui usaha budidaya perikanan air tawar di daerah dan perikanan sawah;

b. Mengembangkan sektor pariwisata secara menyeluruh dan terpadu baik obyek wisata sejarah, budaya dan alam;

c. Mengembangkan dan menata pariwisata budaya di Kecamatan Barumun, Sosa, Barumun Tengah dan Lubuk Barumun;

d. Mengembangkan dan menata pariwisata alam di Kecamatan Batang Lubu Sutam, Ulu Barumun dan Sosa;

e. Mengembangkan industri kepariwisataan terpadu, dengan menampilkan karakteristik lokal;

f. Mengembangkan objek wisata yang masih bersifat potensi terutama yang cukup potensial seperti halnya pengembangan pariwisata yang berbasis agro;

g. Mengembangkan kawasan pariwisata unggulan dengan mengaitkan dengan sistem-sistem kepariwisataan tanpa meninggalkan karakter lokal;

h. Meningkatkan atraksi-atraksi wisata yang sudah ada sehingga lebih menarik, melalui kerjasama dengan pihak swasta;

i. Menata ruang kawasan pariwisata dan studi pengembangan pariwisata. Membangun sarana dan prasarana penunjang sektor pariwisata seperti sarana dan prasarana perhubungan, akomodasi, restoran, telekomunikasi, air bersih, fasilitas sosial dan penginapan.

BAB III

RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH KABUPATEN PADANG LAWAS

Bagian Kesatu Umum

Pasal 9

(11)

(1) Rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Padang Lawas, meliputi : a. Rencana Sistem Perkotaan Wilayah Kabupaten;

b. Rencana Sistem Jaringan Prasarana Wilayah.

(2) Rencana struktur ruang wilayah Kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digambarkan pada peta Rencana Struktur Ruang Kabupaten Padang Lawas dengan tingkat ketelitian 1:50.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Bagian Kedua

Rencana Sistem Perkotaan Wilayah Kabupaten Pasal 10

(1) Rencana sistem perkotaan wilayah yang terdapat di Kabupaten Padang Lawas meliputi : PKL (Pusat Kegiatan Lokal), PPK (Pusat Pelayanan Kawasan) dan PPL (Pusat Pelayanan Lingkungan);

(2) PKL (Pusat Kegiatan Lokal) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Utara, berdasarkan usulan Pemerintah Kabupaten Padang Lawas yaitu: Kecamatan Barumun;

(3) PPK (Pusat Pelayanan Kawasan) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan atau beberapa desa, yang meliputi: Kecamatan Sosa dan Barumun Tengah;

(4) PPL (Pusat Pelayanan Lingkungan) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumberdaya alam, dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman pedesaan, pelayanan jasa pemerintahan kecamatan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi kecamatan, meliputi : Kecamatan Sosopan, Ulu Barumun, Lubuk Barumun, Huristak, Hutaraja Tinggi, Batang Lubu Sutam.

Bagian Ketiga

Rencana Sistem Jaringan Prasarana Paragraf 1

Rencana Sistem Jaringan Transportasi

Pasal 11

(1) Rencana sistem jaringan transportasi wilayah di Kabupaten Padang Lawas meliputi:

a. Rencana sistem jaringan transportasi darat;

b. Rencana sistem jaringan perkeretaapian;

c. Rencana sistem jaringan transportasi udara.

(2) Rencana sistem jaringan transportasi darat terdiri atas terdiri dari rencana pengembangan dan pengelolaan jaringan jalan, rencana pengembangan prasarana angkutan umum;

(12)

(3) Rencana sistem jaringan perkeretaapian terdiri atas rencana pengembangan sistem jaringan prasarana perkeretaapian;

(4) Rencana sistem jaringan transportasi udara terdiri dari tatanan kebandarudaraan dan ruang udara untuk penerbangan.

Pasal 12

(1) Jaringan jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) berdasarkan kewenangan terdiri atas jaringan jalan nasional, provinsi dan kabupaten.

(2) Jaringan Jalan Nasional, meliputi :

Tidak ada jaringan jalan nasional yang melintas di Kabupaten Padang Lawas.

(3) Jaringan Jalan Provinsi, meliputi : a. KM.150 – Sibuhuan

b. KM.168 (Binanga) – Sibuhuan c. Sibuhuan – Ujung Batu d. Siabu – Sibuhuan

e. Binanga – U Rudang – Janji Matogu – Batas Riau f. Binanga – Siala gundi – Gn. Manaon – Batas Riau (4) Jaringan Jalan Kabupaten, meliputi :

Pasal 13

(1) Jaringan jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) berdasarkan fungsi terdiri atas jaringan jalan Arteri Primer (AP), jaringan jalan Kolektor Primer 1, 2 dan 3 (K1, K2, K3) serta jalan lokal (K4).

(2) Pengembangan Jaringan jalan Kolektor Primer 2 meliputi ruas :

a. Kota Padang Sidimpuan – Kabupaten Padang Lawas – Provinsi Riau.

b. Kota Sibuhuan – Sopo Dua – Kabupaten Mandailing Natal.

c. Kota Sibuhuan – Sopo Dua – Kabupaten Pasaman (Provinsi Sumatera Barat).

(3) Pengembangan Jaringan jalan Kolektor 3 (K3) yang merupakan jalan Provinsi, meliputi :

a. Jalan yang menghubungkan Portibi – Binanga – Pasar Latong – Sibuhuan Sosa – Huta Raja Tinggi.

b. Jalan yang menghubungkan Gunung Tua – KM. 168 (Binanga) – Sibuhuan - Ujung Batu – batas Riau.

c. Jalan yang menghubungkan Aek Godang – Sosopan – Sibuhuan

(4) Pengembangan jalan Lokal Primer, meliputi : Rencana pembangunan jalan lingkar (Ring Road) yang dapat menghubungkan Kecamatan Lubuk Barumun dengan Kecamatan Barumun.

(5) Jaringan Jalan Lingkungan yang merupakan jalan Kabupaten, meliputi : a. Kecamatan Sosopan - Kecamatan Barumun Tengah.

b. Kecamatan Batang Lubu Sutam – Kecamatan Huta Raja Tinggi.

Pasal 14

(13)

Terminal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) meliputi:

a. Rencana Pembangunan Terminal Type A Kota Sibuhuan

b. Rencana Pembangunan Terminal Type C direncanakan di Pasar Ujung Batu dan Binanga

Pasal 15

(1) Rencana sistem jaringan perkeretaapian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) menghubungkan Padang Lawas - Labuhanbatu.

(2) Selain Pengembangan jaringan kereta api sebagaimana dimaksud pada ayat 1 meliputi pembangunan stasiun Kecamatan Lubuk Barumun (Pasar Latong).

Pasal 16

(1) Pengembangan dan pembangunan Bandar udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat 2 merupakan Bandar udara tersier yang melayani wilayah Tapanuli Bagian Selatan.

(2) Pembangunan Bandar Udara sebagaimana dimaksud pada ayat 1 di Kota Binanga di Kecamatan Barumun Tengah dengan luas kawasan Bandar udara ± 1000 Ha.

Paragraf 2

Rencana Sistem Jaringan Energi Pasal 17

(1) Pengembangan sistem jaringan prasarana energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat 1 huruf b ditujukan bagi pengembangan jaringan prasarana energi listrik yang meliputi prasarana pembangkit dan jaringan listrik.

(2) Pengembangan sistem prasarana pembangkit dan jaringan listrik sebagaimana dimaksud ayat 1 adalah untuk meningkatkan ketersediaan energi/listrik bagi kegiatan permukiman dan kegiatan non permukiman dan mendukung kegiatan perekonomian, pengembangan kawasan.

(3) Perkiraan besaran kebutuhan listrik di Kabupaten Padang Lawas tahun 2031 terbagi menjadi empat jenis, yaitu :

a. Rumah Tangga.

i. Saat ini banyaknya rumah tangga di Kabupaten Padang Lawas berjumlah 25.467 KK sementara pada tahun 2031 mencapai 95.470 KK. Sehingga perkiraan kebutuhan listrik tahun 2031 diperkirakan sebesar 141.437 Kw.

(4) Perdagangan dan Perkantoran

i. Setelah dilakukan proyeksi terhadap kebutuhan fasilitas perdagangan dan perkantoran di Kabupaten Padang Lawas pada tahun 2031, maka diperoleh jumlah fasilitas perdagangan dan perkantoran berjumlah 2.103 unit.

ii. Sehingga pada tahun 2031 diperkirakan kebutuhan jenis perdagangan dan perkantoran mencapai 355.407 Kw.

(5) Kegiatan Sosial dan Pelayanan Umum.

i. kegiatan sosial dan pelayanan umum diperkirakan pada tahun 2031 berjumlah total 5.310 unit. Sehingga diperkirakan kebutuhan energi listrik pada tahun 2031 sebesar 897 KW.

(14)

(6) Penerangan jalan.

i. kebutuhan untuk penerangan jalan membutuhkan energi sebesar 14.144 Kw.

(7) Pengembangan prasarana pembangkit energi listrik sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dilakukan dengan memanfaatkan potensi sumber energi primer, terutama sumber energi terbarukan dan/atau sumber energi baru yang banyak tersedia di Kabupaten Padang Lawas diantaranya tenaga air.

(8) Rencana pembangunan prasarana pembangkit energi listrik sebagaimana dimaksud i. pada ayat (3) dilakukan dengan membangun dan pengembangan

PLTA.

Paragraf 3

Rencana Sistem Jaringan Telekomunikasi Pasal 18

(1) Sarana telekomunikasi yang ada di Kabupaten Padang Lawas terdiri dari kantor Telkom, telepon seluler dan kantor pos. Untuk kantor pos dan giro terdapat di Kecamatan Barumun dan Sosopan.

(2) Sedangkan untuk telepon seluler, direncanakan untuk pengadaan pemancar tranmisi di setiap kecamatan, dengan sistem distribusi jaringan primer dan jaringan sekunder (3) Kebutuhan sambungan telepon (TELKOM) di wilayah Kabupaten Padang Lawas

pada tahun 2031 yang didasarkan pada kebutuhan sambungan telepon, adalah sebagai berikut;

a. Kebutuhan Domestik.

i. Jumlah kebutuhan telepon untuk kebutuhan domestik pada tahun 2031 adalah 671 SS.

b. Fasilitas Umum.

i. Kebutuhan telepon untuk fasilitas umum sampai tahun 2031 mencapai 134 SS.

c. Telepon Umum.

i. kebutuhan telepon umum di Kabupaten Padang Lawas pada tahun 2031 mencapai 13 SS.

(4) Pengembangan prasarana telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 a. ayat 1 huruf b, meliputi sistem terestrial yang terdiri dari sistem kabel, sistem

seluler;

b. dan sistem satelit sebagai penghubung antara pusat - pusat pertumbuhan.

(5) Pengembangan prasarana telekomunikasi dilakukan hingga ke pelosok wilayah yang a. belum terjangkau sarana prasarana telekomunikasi.

Paragraf 4

Rencana Sistem Jaringan Sumber Daya Air Pasal 19

(1) Sistem jaringan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat 1 huruf b meliputi :

a. Sistem jaringan sungai, b. sistem jaringan irigasi, c. sistem jaringan air baku, d. sistem pengendalian banjir

(2) Sistem jaringan prasarana sumber daya air sebagaimana dimaksud ayat 1 direncanakan melalui pendekatan DAS dan cekungan air tanah serta

(15)

keterpaduannya dengan pola ruang dengan memperhatikan neraca penatagunaan air.

(3) Dalam rangka pengembangan penatagunaan air pada DAS diselenggarakan kegiatan penyusunan dan penetapan neraca penatagunaan sumberdaya air dengan mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(4) sumber air baku yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan perkotaan per kecamatan di Kabupaten Padang Lawas, sebagai berikut :

a. Kecamatan Huristak

Kecamatan ini dilalui oleh Sungai Barumun, dimana keberadaan sungai ini sangat potensial untuk pembangunan irigasi pertanian, dan letak Kecamatan Huristak ini berada ditengah DAS Barumun.

b. Kecamatan Barumun Tengah

Kecamatan ini merupakan tempat bertemunya beberapa anak Sungai Barumun, seperti Sungai Batang Pane, Aek Sihapas dan lainnya. Letak kecamatan ini berada di tengah DAS Barumun.

c. Kecamatan Sosopan

Kecamatan ini dialiri oleh anak-anak sungai DAS Barumun. Letaknya yang berada di hulu Sungai Barumun memberikan arti penting bagi reservoir (daerah tangkapan air) untuk DAS dibawahnya.

d. Kecamatan Barumun

Kecamatan ini juga banyak dialiri oleh anak-anak sungai DAS Barumun dan letaknya yang berada di hulu Sungai Barumun maka menjadi penting untuk reservoir DAS dibawahnya.

e. Kecamatan Ulu Barumun

Keberadaan Kecamatan Ulu Barumun ini tepat pada bagian hulu Kecamatan Barumun, sehingga memberikan kontribusi yang besar dalam kaitan reservoir DAS dibawahnya (hilir) dari DAS Barumun hingga ke Selat Malaka.

f. Kecamatan Lubuk Barumun

Keberadaan Kecamatan Lubuk Barumun ini berada pada bagian hulu Kecamatan Barumun Tengah, dimana banyak anak sungai yang bertemu di DAS Barumun, sehingga memberikan kontribusi yang besar dalam kaitan reservoir DAS dibawahnya.

g. Kecamatan Sosa

Kecamatan ini dilalui oleh DAS Batang Rokan, sehingga sangat berarti perannya dalam hal daerah tangkapan air (reservoir) oleh daerah hilir DAS Aek Sosa.

h. Kecamatan Huta Raja Tinggi

Sama dengan Kecamatan Sosa, Kecamatan Huta Raja Tinggi juga dilalui oleh DAS Batang Rokan. Kondisinya sangat ditentukan oleh daerah hulunya, dan menjadi reservoir bagi daerah hilir DAS Batang Rokan.

i. Kecamatan Batang Lubu Sutam

Keberadaaan kecamatan yang dialiri sungai-sungai kecil yang menuju ke Provinsi Riau menjadi sangat penting bagi daerah dibawahnya.

Pasal 20

(1) Rencana pengembangan prasarana sumber daya air sebagaimana dimaksud pada pasal 8 ayat 1 huruf e meliputi konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air.

(2) Konservasi sumber daya air dilakukan melalui kegiatan perlindungan dan pelestarian sumber air, pengawetan air, pengelolaan kualitas air, dan pencegahan pencemaran air.

(3) Pendayagunaan sumber daya air dilakukan melalui pengembangan jaringan irigasi pada seluruh wilayah kecamatan yang memiliki lahan pertanian lahan basah.

(16)

(4) rencana pengembangan jaringan irigasi di Kabupaten Padang Lawas diarahkan pada:

- Kecamatan Barumun peningkatan jaringan irigasi Bandar Padang Aek Siala dan Aek Rappa dan Jaringan irigasi Bandar Sola Dolok Desa Siolip dengan masing- masing luas 2000 dan 400 Ha

- Kecamatan Barumun Tengah dengan jaringan irigasi persawahan PP makmur, Saba Tolang Tanjung dan Saba Barumun Paran Julu

- Kecamatan Batang Lubu Sutam jaringan irigasi Bendungan Pulo Payung (Desa Pasar Sabtu) dan jaringan irigasi Bendungan Saba Tolang (Desa Botung) dengan masing-masing luas sebesar 350 Ha dan 250 Ha

- Kecamatan Huta Raja Tinggi, jaringan irigasi Desa Aliaga Parmainan dan jaringan irigasi Desa Lubuk Bunut

- Kecamatan Sosa, jaringan irigasi Desa Harang Jae, Desa Tanjung Bale dan Desa Ujung Batu, Danau Gayumbang dengan masing-masing luasan sebesar 50 Ha, 75 Ha dan 5 Ha.

- Kecamatan Ulu Barumun dengan jaringan irigasi Desa Siraisan dan Desa Tapian Nauli.

(5) Pengendalian daya rusak air dilakukan melalui pembangunan dan/ atau pengembangan prasarana pengendalian banjir.

(6) Rencana pengendalian banjir di Kabupaten padang Lawas adalah dengan penataan sungai yang berada di sekitar permukiman yang memiliki potensi terkena bencana banjir di semua kecamatan yang berada dekat dengan sungai

Pasal 21

Rencana pengembangan wilayah sungai lintas provinsi dan lintas kabupaten/kota dilakukan secara terpadu dalam penataan ruang, upaya konservasi dan pemanfaatan sungai lintas provinsi dan lintas kabupaten/kota.

Paragraf 5

Rencana Sistem Prasarana Pengelolaan Lingkungan Pasal 22

(1) Sistem prasarana lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat ) huruf f meliputi :

a. Terdiri dari TPA (Tempat Pembuangan Akhir)

Kabupaten Padang Lawas Terdapat TPS di Kecamatan Barumun. Sampah- sampah tersebut berasal dari perumahan, kantor, sekolah, arumah sakit, gedung umum lainnya, pasar, pertokoan, restoran, pabrik/industri, penyapuan jalan, taman, lapangan, pemotongan hewan, kandang hewa, bongkaran bangunan dan instalasi pengolahan sampah.

Perkiraan jumlah sampah yang akan dihasilkan pada tahun 2031 sebesar 1193.37 m3.

Pada tahun 2030 rencana penambahan prasarana TPA sebanyak dua lokasi, yaitu di Kecamatan Batang Lubu Sutam dan di Kecamatan Sosopan.

Sedangkan di arahkan di wilayah perkotaan atau pusat-pusat pengembangan wilayah pada jenjang I, II dan III seperti Sibuhuan, Binanga, Pasar Ujung Batu, Huta Raja Tinggi, Pinarik, Huristak, Pasar Paringgonan, Sosopan dan Pasar Latong.

(2) Rencana pengembangan sistem prasarana lingkungan sebagaimana dimaksud ayat 1 adalah upaya bersama dalam menghadapi dampak lingkungan, maka perlu dikembangkan lokasi yang digunakan bersama antara kecamatan dengan system pengelolaan yang berwawasan lingkungan.

(17)

Paragraf 6

Rencana Sistem Jaringan/Prasarana Lainnya Pasal 23

(1) Sistem jaringan prasarana/prasarana lainnya adalah yang meliputi : a. Prasarana Pengelolaan Lingkungan

b. Penyediaan Air Bersih Regional c. Pengelolaan Air Limbah

(2) Perkiraan kebutuhan air bersih tahun 2031 di Kabupaten Padang Lawas di bedakan menjadi dua jenis kebutuhan, yaitu kebutuhan domestic dan non-domestik

- Kebutuhan Domestik.

Kebutuhan domestik adalah kebutuhan air bersih untuk rumah angga dan di perkirakan jumlah kebutuhan tahun 2031 mencapai 6.445.488 liter/hari.]

- Kebutuhan Non-Domestik

Kebutuhan Non-Domestik adalah kebutuhan air bersih untuk kegiatan perdagangan dan perkantoran serta fasilitas sosial dan pelayanan umum dan di perkirakan tahun 2031 kebutuhan airnya mencapai 1.611.372 liter/hari.

(3) Untuk pengelolaan air limbah, direncanakan memiliki 1 buah IPLT dengan lokasi diarahkan di sebelah utara jalan lingkar Sibuhuan .

BAB IV

RENCANA POLA RUANG WILAYAH KABUPATEN Bagian Kesatu

Umum Pasal 24 (1) Rencana pola ruang meliputi :

a. Pola ruang kawasan lindung; dan b. Pola ruang kawasan budidaya.

(2) Penetapan kawasan lindung sebagaimana dimaksud pada ayat 1 huruf a dilakukan dengan mengacu pada kawasan lindung yang telah ditetapkan secara nasional dan memperhatikan kawasan lindung yang ditetapkan oleh Provinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Padang Lawas.

(3) Penetapan kawasan budidaya sebagaimana dimaksud pada ayat 1 huruf b dilakukan dengan mengacu pada kawasan budidaya yang memiliki nilai strategis nasional, serta memperhatikan kawasan budidaya Provinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Padang Lawas.

(4) Rencana pola ruang digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1 : 50.000 sebagaimana tercantum pada Lampiran II, merupakan satu kesatuan dan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Bagian Kedua Kawasan Lindung

(18)

Pasal 25 Rencana pengembangan kawasan lindung meliputi :

a. Kawasan hutan lindung

b. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya;

c. Kawasan perlindungan setempat;

d. Kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya;

e. Kawasan rawan bencana alam;

Pasal 26

(1) Kawasan hutan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf a, meliputi : a. Kecamatan Barumun dengan luas = 2.691,49 ha

b. Kecamatan Batang Lubu Sutam dengan luas = 9.168,07 ha c. Kecamatan Sosa dengan luas = 21.036,58 ha d. Kecamatan Sosopan dengan luas = 2.004,54 ha e. Kecamatan Ulu Barumun dengan luas = 554,46 ha

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai kawasan hutan lindung diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 27

(1) Kawasan Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf b, meliputi Kawasan resapan air yang umumnya terdapat di bagian hulu dari DAS Barumun dan DAS Rokan, Siaramanggis yang meliputi Kecamatan Huristak, Barumun Tengah, Lubuk Barumun, Ulu Barumun, Barumun, Sosa, Huta Raja Tinggi dan Batang Lubu Sutam.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

Pasal 28

(1) Kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf c, meliputi :

a. Sempadan Sungai, Sekurang-kurangnya 100 m di kiri-kanan sungai besar dan 50 m di kiri-kanan anak sungai yang berada di luar pemukiman dan Untuk sungai di kawasan pemukiman berupa sempadan sungai yang diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10-50 meter. Luas kawasan sempadan sungai sekitar 8.755,37 Ha yang tersebar di sepanjang sungai-sungai yang ada di Kabupaten Padang Lawas yang dimulai daerah hulu sungai hingga ke muara.

b. Kawasan Sekitar Mata Air, meliputi kawasan sekurang-kurangnya radius 200 meter di sekitar mata air. Kawasan ini berada di Sekitar kawasan hutan lindung.

c. Kawasan Lindung Spiritual Dan Kearifan Lokal Lainnya, meliputi :

a). Kawasan Kuburan Raksasa Permata Sipihak di Desa Binabo Kecamatan Barumun,

b). Kawasan Peninggalan Prasasti Kerajaan Panai (Kerajaan Asli Barumun) c). Kawasan Candi Parmainan di Kecamatan Huta Raja Tinggi.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai Kawasan perlindungan setempat diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 29

(19)

(1) Kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf d, adalah kawasan suaka alam yang meliputi :

a. Kec. Barumun dengan luas 9.007,75 ha b. Kec. Sosopan dengan luas 9.939,51 ha c. Kec. Ulu Barumun dengan luas 8.261,39 ha

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai Kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 30

(1) Kawasan rawan bencana alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf e, meliputi permukiman yang berada dekat dengan sungai.

(2) Kecamatan yang memiliki potensi bencana banjir yaitu : - Kecamatan Barumun

- Kecamatan Barumun Tengah - Kecamatan Batang Lubu Sutam - Kecamatan Sosa

- Kecamatan Ulu Barumun

Sedangkan Kecamatan yang memiliki potensi longsor adalah kecamatan Barumun Tengah.

(3) Terhadap kawasan yang memiliki potensi bencana banjir tersebut rencana yang dilakukan adalah :

- Pemeliharaan sempadan sungai sebagai buffer untuk mencegah banjir, - Revitalisasi sungai

- Relokasi permukiman sekitar sungai yang terhindar dari bencana.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai Kawasan rawan bencana alam diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Bagian Ketiga Kawasan Budi Daya

Pasal 31

Rencana Pengembangan Kawasan Budidaya terdiri atas : a. Kawasan hutan produksi;

b. Kawasan pertanian;

c. Kawasan perkebunan;

d. Kawasan perikanan;

e. Kawasan Peternakan f. Kawasan pertambangan;

g. Kawasan industri;

h. Kawasan pariwisata;

i. Kawasan permukiman.

Pasal 32

1. Rencana Pengembangan Kawasan hutan produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 huruf a, meliputi kawasan Hutan Produksi Tetap dan Hutan Produksi Terbatas. Hutan produksi tetap memiliki luas 107.116,35 ha tersebar di Kecamatan Barumun Tengah dengan luas 17.756,92 Ha, Kecamatan Batang Lubu Sutam dengan luas 4.668,47 Ha, Kecamatan Huristak dengan luas 23.463,98 Ha, Kecamatan Huta Raja Tinggi dengan luas 29.226,42 Ha, Kecamatan Lubuk

(20)

Barumun dengan luas 12.613,61 Ha dan Kecamatan Sosa dengan luas 19.386,94 Ha, Sedangkan Hutan Produksi terbatas memiliki luas 40.661,09 ha yang terdapat di kecamatan Barumun Tengah dengan luas 4.795,13 Ha, Kecamatan Lubuk Barumun dengan luas 7.860,59 Ha, Kecamatan Sosopan 22.925,56 Ha, Kecamatan Ulu Barumun dengan luas 5.079,81 Ha. Jadi total peruntukkan lahan yang diarahkan pemanfaatannya pada kawasan hutan produksi yang terdiri dari hutan produksi terbatas dan hutan produksi tetap sebesar 147.777,44 Ha.

2. Rencana Pengembangan Kawasan pertanian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 huruf b, meliputi pertanian lahan basah dengan luas 12.726,72 ha yang tersebar di Kecamatan Barumun dengan luasan 732,27 Ha, Kecamatan Barumun Tengah dengan luasan 5.834,90 Ha, Kecamatan Huristak 4.112,65 Ha, Kecamatan Lubuk Barumun dengan luas 392,98 Ha, Kecamatan Sosa dengan luas 752,66 Ha, Kecamatan Ulu Barumun dengan luas 901,26 Ha. Sedangkan pertanian lahan kering dengan luas 77.930,93 ha yang tersebar di Kecamatan Barumun dengan luas 4.698,63 Ha, Kecamatan Barumun Tengah dengan luas 24.309,90 Ha, Kecamatan Batang Lubu Sutam dengan luas 13.839,66 Ha, Kecamatan Huristak dengan luas 3.716,54 Ha, Kecamatan Huta Raja Tinggi dengan luas 5.886,30 Ha, Kecamatan Lubuk Barumun dengan luas 5.395,07 Ha, Kecamatan Sosa dengan luas 11.747,60 Ha, Kecamatan Sosopan dengan luas 5.807,61 Ha, Kecamata Ulu Barumun dengan luas 2.529,62 Ha.

3. Rencana Pengembangan Kawasan perkebunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 huruf c, memiliki luas 30.671,04 ha yang terdistribusi di Kecamatan Barumun Tengah dengan luas 170,96 Ha, Kecamatan Batang Lubu Sutam dengan luas 12.592 Ha, Kecamatan Huristak dengan luas 2.567,81 Ha, Kecamatan Huta Raja Tinggi dengan luas 11.407,42 Ha, Kecamatan Sosa dengan luas 3.931,97 Ha.

4. Rencana Pengembangan Kawasan perikanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 huruf d, memiliki luas 219,15 ha yang di arahkan di Kecamatan Sosa.

5. Rencana Pengembangan Kawasan peternakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 huruf e, meliputi semua kecamatan.

6. Pengembangan peternakan sangat berjalan dengan pengembangan perkebunan dimana satu dengan yang lain dapat saling mendukung. Untuk itu, wilayah potensial untuk pengembangan kawasan perkebunan yang direncanakan untuk perkebunan besar dan perkebunan rakyat adalah 1.831,11Ha. Yang terdistribusi di Kecamatan Barumun Tengah dengan luas 434,84 Ha dan Kecamatan Huta Raja Tinggi dengan luas 1.396,26 Ha.

7. Rencana Pengembangan Kawasan pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 huruf f, tersebar dibeberapa kecamatan yang Ketentuan lebih lanjut mengenai kawasan pertambangan diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

8. Potensi pertambangan di Kabupaten Padang Lawas, terdiri dari : - Kecamatan Sosa : potensi pertambangan baru bara

- Kecamatan Lubu Sutam : potensi pertambangan batu bara, timah dan emas - Kecamatan Ulu Barumun : potensi pertambangan batu bara, galian C batu

pasir, timah dan emas

- Kecamatan Sosopan : potensi pertambangan batu bara, marmer, kapur tohor dan emas

- Kecamatan Barumun Tengah : potensi pertambangan minyak bumi, pasir kuarsa dan laterit

- Kecamatan Huristak : potensi pertambangan laterit dan pasir kuarsa

9. Rencana Pengembangan Kawasan industri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 huruf g, dengan mengembangkan jenis industry yang terkait dengan komoditas unggulan yang ada di kabupaten Padang Lawas dan dialokasikan di Kecamatan Sosa dan Huta Raja Tinggi

10 Peruntukkan industri di Kabupaten Padang Lawas, terbagi menjadi dua, yaitu :

(21)

- Peruntukkan industri besar

Peruntukkan industri besar dikembangkan pada wilayah dengan skala pelayanan regional terdapat di Kecamatan Hutaraja Tinggi, Sosa dan Barumun Tengah. Industri besar yang terdapat di kecamatan tersebut adalah industri minyak sawit dan karet.

- Peruntukkan Industri Rumah Tangga

Peruntukkan industri kecil (home industry) dikembangkan pada wilayah dengan skala pelayanan lokal. Pengembangan industri diarahkan tersebar di seluruh kecamatan.

11 Rencana Pengembangan Kawasan pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 huruf h, dengan mengembangkan pariwisata budaya, pariwisata alam dan pariwisata buatan.

12 Wisata budaya yang terdapat di Kabupaten Padang Lawas terdiri dari jenis rumah adat, candi, dan makam yang letaknya tersebar di Kecamatan Barumun, Sosa, Lubuk Barumun dan Barumun Tengah.

13 Wisata Alam merupakan aset wisata yang menonjolkan keindahan alam dan panoramanya wisata alam ini cukup banyak menyebar seperti yang terdapat di Kecamatan Barumun, Barumun Tengah dan Batang Lubu Sutam.

14 Rencana Pengembangan Kawasan permukiman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 huruf i, yang terdiri dari permukiman perkotaan dan permukiman perdesaan.

Untuk permukiman perkotaan dikembangkan khususnya di pusat kegiatan local dan pusat kegiatan kawasan. Sedangkan permukiman perdesaan di sekitar pusat pelayanan lingkungan. Luas areal untuk permukiman di Kabupaten Padang Lawas sebesar 37232,14 Ha atau 9,71 % dari luas seluruh Kabupaten Padang Lawas.

15 Luas kawasan yang tergolong kedalam permukiman kawasan perkotaan adalah 12.156,63 Ha atau sekitar 3,13 % dari luas kawasan permukiman yang terdapat di Kabupaten Padang Lawas. Wilayah yang akan dikembangkan sebagai kawasan permukiman perkotaan yaitu :

- Kecamatan Barumun dengan luas 3.287,78 ha

- Kecamatan Barumun Tengah dengan luas 1.054,25 ha - Kecamatan Lubuk Barumun dengan luas 4.122,42 ha - Kecamatan Sosa dengan luas 2.935,52 ha

- Kecamatan Ulu Barumun dengan luas 756,66 ha

16. Luas kawasan permukiman sampai akhir tahun perencanaan sekitar 25.075,51 atau 6,54 % dari luas total. Wilayah yang akan dikembangkan sebagai kawasan permukiman perdesan di Kabupaten Padang Lawas yaitu :

- Kecamatan Barumun dengan luas 2.324,89 ha

- Kecamatan Barumun Tengah dengan luas 1.086,95 ha - Kecamatan Batang Lubu Sutam dengan luas 79,08 ha - Kecamatan Huristak dengan luas 1.415,24 ha

- Kecamatan Huta Raja Tinggi dengan luas 7.782,65 ha - Kecamatan Lubuk Barumun dengan luas 2.691,32 ha - Kecamatan Sosa dengan luas 7.040,33 ha

- Kecamatan Sosopan dengan luas 913,49

- Kecamatan Ulu Barumun dengan luas 1.741,55 ha

17. Perhitungan kebutuhan rencana pola ruang pada tahun 2030 mencapai 457122 Ha, yang meliputi :

- Bandara dengan luas areal 995 Ha

- Hutan lindung dengan luas areal 35.455,14 Ha - Hutan produksi dengan luas areal 107.116,34 Ha - Hutan produksi terbatas dengan luas areal 40.661,09 Ha - Hutan suaka alam dengan luas areal 27.208,65 Ha

(22)

- Industri dengan luas areal 2.311,45 Ha - Perikanan dengan luas areal 219,15 Ha - Perkebunan dengan luas areal 30.671,06 Ha

- Permukiman pedesaan dengan luas areal 25.075,5 Ha - Permukiman perkotaan dengan luas areal 87.065,97 Ha - Pertanian lahan kesing dengan luas areal 77.930,93 Ha - Peternakan dengan luas areal 1.831,1 Ha

- Pertanian lahan basah dengan luas areal 12.726,72 Ha - Sempadan sungai dengan luas areal 8.755,38 Ha - Terminal dengan luas areal 93,53 Ha

Pasal 33

Pengembangan lebih lanjut kawasan budidaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 diatur melalui surat keputusan oleh pejabat berwenang sesuai kewenangannya.

BAB V

PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS KABUPATEN Bagian Kesatu

Umum Pasal 34

Kawasan strategis merupakan bagian wilayah Kabupaten Padang Lawas yang penataan ruangnya diprioritaskan, karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup Kabupaten Padang Lawas terhadap ekonomi, sosial budaya, dan/atau lingkungan, baik yang ditetapkan oleh pemerintah maupun Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

Bagian Kedua

Penetapan dan Rencana Pengembangan Kawasan Strategis Kabupaten Padang Lawas

Pasal 35

(1) Rencana pengembangan kawasan strategis meliputi : a. Kawasan strategis nasional

b. kawasan strategis provinsi dan c. kawasan strategis kabupaten;

(2) Pengembangan kawasan strategis nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah kawasan strategis nasional yang ditetapkan RTRWN di Kabupaten Padang Lawas, yaitu Kawasan Suaka Margasatwa.

(3) Sebagaimana dalam peta penetapan Kawasan Strategis Provinsi ( KSP ) Sumatera Utara, bahwa Kabupaten Padang Lawas bagian barat termasuk dalam kawasan strategis yang bersifat lindung yaitu: Hutan suaka alam dan wisata serta kawasan perlindungan kawasan bawahannya kawasan strategis ini juga di tetapkan sebagai kawasan strategis nasional.

(4) Pengembangan kawasan strategis kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c adalah kawasan strategis kabupaten yang ditetapkan di Kabupaten Padang Lawas meliputi :

a. Kawasan Sentra Produksi CPO

(23)

b. Kawasan Perdagangan dan Jasa

c. Kawasan Kuburan Raksasa Permata Sipihak, d. Kawasan Peninggalan Prasasti Kerajaan Panai e. Kawasan Candi Parmainan

f. Kawasan Lubuk Larangan g. Kawasan Hutan Lindung

(5) Pengembangan dan pengelolaan lebih lanjut kawasan strategis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pejabat berwenang sesuai kewenangannya dengan berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(6) Pembiayaan pengembangan kawasan strategis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dialokasikan dari sumber dana anggaran Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Daerah (Kabupaten/Kota) serta dari dana investasi perorangan dan masyarakat (swasta/investor) maupun dana yang dibiayai bersama (sharring) baik antar Pemerintah (Pusat dan Provinsi), antar Pemerintah dan Pemerintah Daerah.

Kabupaten Padang Lawas maupun antara swasta/investor dengan Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah, dan dana lain-lain dari penerimaan yang sah.

(7) Pengelolaan, penggunaan, dan bentuk-bentuk kerjasama pembiayaan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (5) diatur lebih lanjut berdasarkan peraturan pemerintah/daerah dan mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(8) Penetapan kawasan startegis Kabupaten padang Lawas terdiri dari : a. Kawasan strategis kepentingan ekonomi

kawasan yang memiliki potensi sebagai kawasan strategis ekonomi Kawasan Sentra Produksi CPO, di Desa Lubuk Bunut, Sosa jae Kecamatan Hutaraja Tinggi. Namun secara regional, Kabupaten Padang Lawas membutuhkan pusat pelayanan ekonomi untuk mempercepat koleksi dan distribusi maka ditetapkan pula kawasan strategis ekonomi lainnya yaitu kawasan perdagangan dan jasa di Kota Sibuhuan

b. Kawasan strategis pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi

arahan kebijakan pengembangan lingkungan diperoleh bahwa potensi kawasan strategis sumber daya alam Kabupaten Padang Lawas yaitu kawasan Lubuk Larangan di desa Mamanti Soso Jae Kecamatan Hutaraja Tinggi.

c. Kawasan strategis kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup potensi kawasan strategis lingkungan Hidup Kabupaten Padang Lawas yaitu:

1. Kawasan Hutan, Kecamatan Batang Lubuk Sutam 2. Kawasan Hutan register 40 Kecamatan Sosa, 3. Kawasan Hutan register 39 Kecamatan Sosopan

Yang kemudian dapat diringkas menjadi kawasan lindung serta kawasan margasatwa yang ada didalamnya. Berikut adalah kawasan strategis lingkungan, yaitu :

- Kawasan Hutan Lindung

Sebagaimana dalam peta penetapan Kawasan Strategis Provinsi ( KSP ) Sumatera Utara, bahwa Kabupaten Padang Lawas bagian barat termasuk dalam kawasan strategis yang bersifat lindung yaitu: Hutan suaka alam dan wisata serta kawasan perlindungan kawasan bawahannya. Wilayah tersebut meliputi sebagian Kecamatan Batang Lubu Sutam, Kecamatan Sosa, Kecamatan Barumun, Kecamatan Barumun Tengah dan Kecamatan Sosospan. Kawasan strategis ini juga ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN)

- Kawasan Suaka Margasatwa Barumun

(24)

Kawasan Suaka Margasatwa Barumun ini seluas 40.330 hektar yang meliputi Kecamatan Sosopan, Kecamatan Barumun, Kecamatan Panyabungan dan Kecamatan Siabu (Kabupaten Mandailing Natal).

BAB VI

ARAHAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KABUPATEN Pasal 36

(1) Pemanfaatan ruang wilayah mengacu pada rencana struktur ruang dan rencana pola ruang Kabupaten Padang Lawas,

(2) Pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten Padang Lawas sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dilakukan melalui penyusunan program pemanfaatan ruang;

(3) Dalam prioritas pemanfaatan ruang, sektor pembangunan yang diprioritaskan di Kabupaten Padang Lawas diarahkan pada :

- Pemantapan kawasan hutan

- Pembangunan dan pengembangan jaringan jalan menuju sentra produksi, - Pengembangan sektor perkebunan dalam skala besar,

- Pengembangan industri CPO,

- Revitalisasi prasarana sumber daya air untuk mendukung ketahanan pangan.

- Pembangunan fasilitas umum seperti pendidikan, kesehatan dan ekonomi untuk setiap wilayah sesuai dengan jangkauan pelayanannya.

(4) Pembiayaan untuk merealisasikan program pemanfaatan ruang dalam rangka perwujudan rencana struktur ruang dan perwujudan rencana pola ruang dialokasikan dari sumber dana anggaran Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten Padang Lawas serta dari dana investasi perorangan dan masyarakat (swasta/investor) maupun dana yang dibiayai bersama (sharing) baik antar Pemerintah (Pusat dan Provinsi), antar Pemerintah dan Pemerintah Daerah Kabupaten Padang Lawas maupun antara swasta/investor dengan Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah, dan dana lain-lain dari penerimaan yang sah.

Pasal 37

(1) Program pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat 2 disusun berdasarkan indikasi program pembangunan yang memiliki jangka waktu pelaksanaan selama 20 tahun, pentahapan kegiatan tersebut dituangkan dalam kegiatan per 5 (lima) tahun dengan indikasi program utama lima tahun pertama diuraikan per tahun kegiatan yang meliputi perwujudan rencana struktur ruang dan perwujudan rencana pola ruang;

(2) Indikasi program perwujudan rencana struktur ruang mencakup program perwujudan pusat-pusat kegiatan yang akan dikembangkan dan perwujudan sistem prasarana;

(3) Indikasi program perwujudan rencana pola ruang mencakup progam pembangunan kawasan lindung dan kawasan budidaya;

(4) Indikasi program pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat 1ditetapkan dalam lampiran 3 dan merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

(5) Pengelolaan, penggunaan, dan bentuk-bentuk kerjasama pembiayaan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3) diatur lebih lanjut berdasarkan peraturan

(25)

pemerintah/daerah dan mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

BAB VII

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG Bagian Kesatu

Umum Pasal 38

(1) Arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten menjadi acuan pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah kabupaten;

(2) Arahan pengendalian pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat 1 meliputi :

a. Ketentuan umum peraturan zonasi;

b. Perizinan;

c. Pemberian intensif dan disinsentif; dan d. Arahan sanksi.

Bagian Kedua

Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Pasal 39

(1) Ketentuan umum peraturan zonasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat 2 huruf a, menjadi pedoman bagi penyusunan peraturan zonasi oleh pemerintah kabupaten Padang Lawas.

(2) Ketentuan umum peraturan zonasi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 terdapat pada Buku Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Padang Lawas Tahun 2011 – 2031 yang tidak terpisahkan dari peraturan ini.

Bagian Ketiga Ketentuan Perizinan

Pasal 40

(1) Perizinan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 38 ayat 2 huruf b merupakan acuan bagi pejabat yang berwenang dalam pemberian izin pemanfaatan ruang sesuai rencana struktur ruang dan pola ruang yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah ini;

(2) Izin pemanfaatan ruang diberikan oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan kewenangannya dan ketentuan peraturan perundang-undangan;

(3) Pemberian izin pemanfaatan ruang dilakukan menurut prosedur atau mekanisme sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

(4) Izin pemanfaatan ruang yang memiliki dampak skala kabupaten diberikan atau mendapat rekomendasi dari Bupati;

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai ketentuan perizinan wilayah Kabupaten Padang Lawas diatur dengan Peraturan Bupati Padang Lawas.

(6) Daftar perizinan yang diharus dipenuhi dalam rangka pengendalian pemanfaatan ruang adalah :

- Perijinan kegiatan/lisensi (SIUP, TDP, dan lain-lain).

(26)

- Perijinan pemanfaatan ruang dan bangunan (Ijin Lokasi, Ijin Peruntukan Penggunaan Tanah/IPPT, Ijin Penggunaan Bangunan/IPB).

- Perijinan konstruksi (Ijin Mendirikan Bangunan/IMB).

- Perijinan lingkungan (Amdal, yang terdiri dari Analisis Dampak Lingkungan, Rencana Pemantauan Lingkungan dan Rencana Pengelolaan Lingkungan; Ijin Gangguan/ HO).

- Perijinan khusus (pengambilan air tanah, dan lain-lain).

(7) Untuk memperoleh ijin bangunan maka berikut mekanisme yang harus ditempuh yaitu :

- Ijin mendirikan bangunan

- Ijin penggunaan bangunan (IPB) atau ijin layak huni (ILH) Bagian Keempat

Ketentuan Insentif dan Disinsentif Pasal 41

(1) Arahan insentif dan disinsentif sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 38 ayat 2 huruf c merupakan acuan bagi pejabat yang berwenang dalam pemberian insentif dan pengenaan disinsentif

(2) Ketentuan insentif dari Pemerintah Kabupaten Padang Lawas kepada pemerintah kabupaten/kota lain yang saling berhubungan diberikan dalam bentuk :

- pemberian kompensasi - subsidi silang

- penyediaan sarana dan prasarana; dan/ atau - publikasi atau promosi daerah

(3) Ketentuan disinsentif dari pemerintah Padang Lawas kepada pemerintah kabupaten/kota lain yang saling berhubungan dapat diberikan dalam bentuk :

- pengenaan retribusi yang tinggi; dan/atau - pembatasan penyediaan sarana dan prasarana

(4) Ketentuan insentif dari Pemerintah Kabupaten Padang Lawas kepada masyarakat umum (investor, lembaga komersial, perorangan, dan lain sebagainya), yang diberikan dalam bentuk :

- pemberian kompensasi - pengurangan retribusi - imbalan

- sewa ruang dan urun saham - penyediaan prasarana dan sarana - penghargaan

- kemudahan perizinan bagi kegiatan pemanfaatan ruang yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Padang Lawas penerima manfaat kepada masyarakat umum.

(5) ketentuan disinsentif dari pemerintah kota kepada masyarakat umum (investor, lembaga komersial, perorangan, dan lain sebagainya), yang diberikan dalam bentuk :

- pengenaan pajak/retribusi yang tinggi

- pemberian persyaratan khusus untuk perizinan dalam rangka kegiatan pemanfaatan ruang oleh masyarakat umum; dan/ atau

- pembatasan penyediaan sarana dan prasarana.

(6) Arahan insentif dan disinsentif untuk wilayah Kabupaten Padang Lawas meliputi : a. Arahan umum insentif-disinsentif; dan

b. Arahan khusus insentif-disinsentif

(27)

(7) Arahan umum sebagaimana yang dimaksud ayat 2 huruf a berisikan arahan pemberlakuan insentif dan disinsentif untuk berbagai pemanfaatan ruang secara umum.

(8) Arahan khusus sebagaiamana yang dimaksud ayat 2 huruf b ditujukan untuk pemberlakuan insentif dan disinsentif secara langsung pada jenis-jenis pemanfaatan ruang atau kawasan tertentu di wilayah Kabupaten Padang Lawas.

(9) Insentif diberikan apabila pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana struktur ruang, rencana pola ruang, dan indikasi arahan peraturan zonasi yang diatur dalam Peraturan Daerah ini;

10 Disinsentif dikenakan terhadap pemanfaatan ruang yang perlu dicegah, dibatasi, atau dikurangi keberadaannya berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Daerah ini;

11 Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dalam pemanfaatan ruang wilayah dilakukan oleh pemerintah kabupaten Padang Lawas kepada tingkat pemerintah yang lebih rendah (kecamatan/desa) dan kepada masyarakat (perorangan/kelompok);

12 Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dilakukan oleh instansi berwenang sesuai dengan kewenangannya;

13 Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dilakukan menurut prosedur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

14 Insentif dan pengenaan disinsentif diberikan oleh Bupati,

15 Ketentuan lebih lanjut mengenai ketentuan pemberian insentif dan disinsentif diatur dengan peraturan daerah.

Pasal 42

(1) Pemberian insentif diberlakukan pada pemanfaatan ruang yang didorong perkembangannya dan sesuai dengan rencana tata ruang.

(2) Pemberian disinsentif diberlakukan bagi kawasan yang dibatasi atau dikendalikan perkembangannya bahkan dilarang dikembangkan untuk kegiatan budidaya.

(3) Arahan pemberian insentif sebagaimana yang dimaksud ayat 1 meliputi :

a. Pemberian keringanan atau penundaan pajak (tax holiday) dan kemudahan proses perizinan;

b. Penyediaan sarana dan prasarana kawasan oleh pemerintah untuk memperingan biaya investasi oleh pemohon izin;

c. Pemberian kompensasi terhadap kawasan terbangun lama sebelum rencana tata ruang ditetapkan dan tidak sesuai tata ruang serta dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan;

d. Pemberian kemudahan dalam perizinan untuk kegiatan yang menimbulkan dampak positif.

(4) Arahan pemberian disinsentif sebagaimana yang dimaksud ayat 2 meliputi :

a. Pengenaan pajak yang tinggi terhadap kegiatan yang berlokasi di daerah yang memiliki nilai ekonomi tinggi, seperti pusat kota, kawasan komersial, daerah yang memiliki tingkat kepadatan tinggi;

b. Penolakan pemberian izin perpanjangan hak guna usaha, hak guna bangunan terhadap kegiatan yang terlanjur tidak sesuai dengan rencana tata ruang dan peraturan zonasi;

c. Peniadaan sarana dan prasarana bagi daerah yang tidak dipacu pengembangannya, atau pengembangannya dibatasi;

d. Penolakan pemberian izin pemanfaatan ruang budidaya yang akan dilakukan di dalam kawasan lindung;

e. Pencabutan izin yang sudah diberikan karena adanya perubahan pemanfaatan ruang budidaya menjadi lindung.

Pasal 43

Referensi

Dokumen terkait

Karya Pembangunan Kecamatan Barumun Kabupaten Padang Lawas Provinsi Sumatera Utara Telp./Fax ( 0636 ) 421945 Kode Pos 22763 E-mail [email protected] mengumumkan Rencana

(3) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk Pusat Kegiatan Lokal (PKL) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang

(7) Ketentuan umum peraturan zonasi pada kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan disusun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 ayat (2) huruf i, ditetapkan

(3) Kawasan peruntukan budidaya perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, merupakan kawasan budidaya perikanan air tawar ditetapkan di sebagian wilayah

(1) Izin peruntukan penggunaan tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93 ayat (3) huruf c diberikan berdasarkan rencana tata ruang wilayah, rencana detail tata ruang

(2) Rencana pengembangan sistem jaringan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran II dan diwujudkan dalam bentuk peta Rencana Jaringan Prasarana

(1) Pada saat Peraturan daerah ini diundangkan sedangkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tabanan sudah ditetapkan, penetapan Kawasan Lahan Pertanian Pangan

Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara Nomor 4 Tahun 2018 tentang Rencana Pembangunan Industri Provinsi Sumatera Utara Tahun