• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Permasalahan

Kehidupan manusia tidak pernah statis, ia senantiasa berada dalam sebuah proses yang tidak pernah berhenti. Dari pembuahan hingga berakhir dengan kematian, manusia selalu mengalami perubahan baik dalam kemampuan fisik, psikologi, sosial maupun spiritualitas. Berbagai perubahan yang terjadi dalam perkembangan ini bertujuan untuk memungkinkan setiap orang menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana ia hidup. Hurlock mendefinisikan istilah perkembangan sebagai:

Serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Pada dasarnya ada dua proses perkembangan yang saling bertentangan yang terjadi secara serempak selama kehidupan, yaitu pertumbuhan atau evolusi dan kemunduran atau involusi. 1

Dalam prosesnya, setiap perkembangan mempunyai cirinya masing-masing yang terjadi pada fungsi biologis, cara berpikir, motif-motif dan kehidupan afektif serta hubungan sosial,2 misalnya: bayi dituntun untuk berjalan, seorang pemuda terlibat dalam memikirkan tentang bagaimana dan apa yang harus dilakukan untuk menata masa depannya, orangtua bertanggungjawab untuk mengasuh, membiayai dan mendidik anak-anaknya. Perubahan dalam perkembangan fisik ini diikuti dengan perubahan peranan pada diri setiap pribadi. Ini berarti setiap orang yang mengalami perubahan fisik, juga mengalami perubahan tugas dan tanggung jawab.

Dengan proses perubahan yang terus terjadi tidak dapat dipungkiri bahwa seseorang akan sampai pada suatu masa dimana ia tidak dapat lagi bekerja. Kondisi ini terjadi oleh karena berbagai alasan seperti sakit, fisik yang tidak kuat lagi dan peraturan yang berlaku di tempat kerja yang biasa dikenal dengan istilah pensiun. Masa pensiun adalah masa yang akan dialami oleh semua orang yang bekerja, termasuk di dalamnya kaum bapak. Dengan datangnya masa pensiun menandai bahwa

1

Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, Erlangga, Jakarta, 1990, p. 2

2

Contoh dari perkembangan fisik ketika manusia mengalami pertumbuhan sekaligus kemunduran dapat dilihat dari tahap-tahap perkembangan itu sendiri. Tahap-tahap itu, antara lain: a). Permulaan kemasakan seksual: pada anak laki-laki ± 15 tahun, pada anak wanita ±13 tahun. b). Penghentian pertumbuhan jasmani: wanita ±18 tahun, laki-laki-laki-laki ±25 tahun. c). Akhir masa subur: wanita ±40-46 tahun, laki-laki masih tanda tanya. d). permulaan kemunduran biologis: ±50 tahun. F.J.Monks-A.M.P.Knoers, Siti Rahayu Haditono, Psikologi Perkembangan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 2002, p. 10, 323

(2)

kaum bapak telah memasuki usia lanjut. Hari-hari yang sudah biasa diisi dengan kesibukan kini diperhadapkan dengan kenyataan yang berbeda. Apalagi sebagian besar dari masa dewasa kita adalah untuk bekerja. Dengan memasuki masa pensiun berarti hubungan individu dengan lingkungan sosial, khususnya teman kerja menjadi berkurang. Kecenderungan lain yang muncul adalah apa pekerjaan kita menunjukan siapa kita, membuat identitas seringkali dikemas dalam jabatan, status dan pendapatan yang dihasilkan.3 Namun dengan pensiun berarti kaum bapak kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan dan status. Dengan melihat pada perubahan-perubahan yang ditimbulkan dengan datangnya pensiun maka masa pasca pensiun adalah masa transisi yang berpotensi menimbulkan krisis4.

B. Rumusan Masalah

Berangkat dari kondisi seperti yang dikemukakan di atas maka masa pasca pensiun merupakan persoalan tersendiri. Sadar ataupun tidak, masa pasca pensiun memiliki pengaruh dalam perkembangan kepribadian individu selanjutnya. Oleh karena itu kaum bapak yang berada dalam masa pasca pensiun adalah orang yang membutuhkan pendampingan untuk melepaskan krisis darinya. Gereja sebagai wakil Allah yang peduli dengan segala bentuk pergumulan setiap manusia, harus menyadari dan peka terhadap pergumulan yang dihadapi kaum bapak pasca pensiun. Dalam masalah ini gereja seringkali lupa dan belum menunjukan kepeduliannya kepada kaum bapak pasca pensiun, sebagai pribadi yang utuh. Melalui konseling pastoral, gereja dapat memberikan sumbangan yang berarti dalam mengatasi krisis yang dialami oleh kaum bapak pasca pensiun. Gereja terpanggil untuk menghadirkan realitas Allah yang mengasihi dan selalu ada agar kaum bapak yang berada dalam situasi krisis tetap memiliki harapan. Dengan konseling pastoral diharapkan gereja mampu mendorong kaum bapak pasca pensiun untuk dapat memahami keberadaan dirinya sebagai seorang yang tetap berharga, sebagai gambar Allah dan terus mengaktualisasikan kasih dan kebaikan Allah dalam kehidupannya.

3

Patrick M.Morley, Tujuh Masa dalam Kehidupan Pria, Interaksara, Batam Center, 2000, p. 111

4

Webster mendefenisikan kata krisis sebagai suatu “masa yang gawat/kritis sekali” dan “suatu titik balik dalam sesuatu”. Seseorang mengalami suatu krisis biasanya meliputi hilangnya kemampuan untuk mengatasi selama sementara waktu dengan perkiraan bahwa gangguan fungsi emosi dapat kembali seperti semula. H. Norman Wright, Konseling Krisis, Gandum Mas, Malang, 2000, p. 11

(3)

Berdasarkan kenyataan di atas, maka penulis ingin mengetahui lebih lanjut :

1. Apa saja pergumulan-pergumulan yang muncul dalam kehidupan kaum bapak pasca

pensiun?

2. Bagaimana gereja melakukan konseling pastoral untuk menanggapi permasalahan kaum

bapak pasca pensiun?

C. Batasan Masalah

Permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan skripsi ini, penyusun batasi dengan berfokus pada kaum bapak pasca pensiun yang berada dalam masa kurang dari 2 tahun. Masa kurang dari 2 tahun adalah waktu yang dibatasi oleh penulis dengan alasan bahwa masa ini adalah masa transisi. Dalam masa ini, kaum bapak pasca pensiun dapat mengalami krisis karena diperhadapkan dengan kenyataan yang berbeda, yaitu masuk dalam suasana dan kondisi yang baru. Dalam penelitian ini, sampel diambil dari jemaat beberapa gereja anggota PGI di Yogyakarta yang diwakili oleh satu gereja dari tiap denominasi. Gereja-gereja ini yaitu Gereja Batak Karo Protestan (GBKP): 3 orang responden, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP): 2 orang responden, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Ngupasan: 2 orang responden dan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Mergangsan: 2 orang responden. Hal ini dilakukan karena sedikitnya responden yang ada pada satu jemaat. Adapun pensiun yang penulis maksudkan dalam skripsi ini adalah mereka yang tidak bekerja lagi karena masa tugasnya sudah selesai. Subyek penelitian yang dipilih adalah pensiunan pegawai negeri, dengan pertimbangan pensiun pegawai negeri mendapatkan tunjangan yang tetap sesuai dengan yang sudah diatur dalam pokok-pokok hukum kepegawaian.5

D. Judul

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah penulis uraikan di atas, maka skripsi ini akan diberi judul :

KONSELING PASTORAL KEPADA KAUM BAPAK PASCA PENSIUN

5

(4)

E. Tujuan Penulisan

Dari penulisan skripsi ini diharapkan kita dapat :

Menggali pergumulan-pergumulan yang muncul dalam kehidupan kaum bapak pasca pensiun. Merumuskan konseling pastoral seperti apa yang perlu diberikan kepada kaum bapak pasca

pensiun.

F. Metode Penulisan

Dalam membahas dan memaparkan lebih lanjut penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode penulisan deskriptif-analitis. Adapun maksudnya adalah menyajikan data-data yang berhubungan dengan kehidupan kaum bapak pasca pensiun dan juga menganalisa data-data yang telah penulis peroleh dari hasil penelitian di lapangan maupun melalui studi literatur. Adapun metode penelitian yang penyusun gunakan dalam melihat dan membahas permasalahan serta pergumulan kaum bapak pasca pensiun adalah dengan menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu6:

1. Penelitian yang datanya adalah data kualitatif; umumnya dalam bentuk narasi atau gambar. 2. Penelitian yang mengikuti proses induktif yaitu proses pengambilan keputusan dari khusus

ke umum.

Untuk mendukung proses pendataan tentang keberadaan kaum bapak pasca pensiun maka penulis melakukan penyebaran kuisioner kepada kaum bapak pasca pensiun.

G. Sistematika Penulisan Bab I. Pendahuluan

Dalam bab ini pembahasan mencakup latar belakang permasalahan, rumusan permasalahan, batasan masalah, tujuan penulisan, judul, metode penulisan dan sistematika penulisan.

Bab II. Pergumulan Kaum Bapak Pasca Pensiun

Dalam bab ini penulis akan menyajikan data-data dari hasil studi literatur tentang perkembangan kaum bapak pasca pensiun dari aspek fisik, psikologis, sosial ekonomi dan spiritualitas. Dan untuk selanjutnya juga akan menyajikan data-data yang diperoleh melalui penelitian lapangan tentang kondisi kaum bapak pasca pensiun yang kemudian akan digunakan sebagai bahan analisis.

6

(5)

Bab III. Landasan Teori Konseling Pastoral

Dalam bab ini penyusun akan menulis tentang arti konseling pastoral, tujuan dari konseling pastoral, fungsi konseling pastoral, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam konseling pastoral serta perencanaan bentuk konseling pastoral kepada kaum bapak pasca pensiun.

Bab IV. Refleksi Teologis dan Konseling Pastoral kepada Kaum Bapak Pasca Pensiun

Bab ini berisi tentang refleksi teologis dan bentuk konseling pastoral yang dapat gereja berikan kepada kaum bapak pasca pensiun.

Bab V. Penutup

Pada bab ini penulis akan memberikan suatu kesimpulan dari pembahasan yang sudah penulis paparkan pada bab I, II, III dan IV. Selain itu penulis juga akan memberikan masukan berupa saran yang sifatnya sebagai suatu sumbangan pemikiran.

Referensi

Dokumen terkait

Ilmu linguistik juga mempunyai beberapa bidang kajian yang menyangkut struktur-struktur dasar tertentu, salah satunya yaitu bidang kajian makna (semantik / 意味論 imiron) yang

Bila dibandingkan antar konsentrasi alginat pada CaCl 2 0,75 % aktivitas antioksidan saling tidak berbeda nyata, sedangkan antar konsentrasi alginat pada CaCl 2 1 %

Dalam penelitian ini, tema-tema dari cerita yang akan dimainkan dapat disesuaikan dengan tema pembelajaran yang sedang berlangsung di TK yaitu tema Makanan dan Minuman,

Seluruh dosen Jinan University yang mengajar di Program Studi Sastra China dari saya semester satu sampai semester akhir semester delapan ini, dan staf pengajar Fakultas Ilmu

Fakultas MIPA Universitas Islam Indonesia akan mengadakan Ujian Ulang PDQ di Semester Pendek 2019/2020 (Bulan Agustus 2021) untuk mengakomodasi mahasiswa angkatan

Tujuan perawatan hygiene mulut pasien adalah pasien akan memiliki mukosa mulut utuh yang terhidrasi baik serta untuk mencegah penyebaran penyakit yang ditularkan melalui

Simulasi distribusi air dengan Epanet 2.0 digunakan untuk mengetahui dan membandingkan hasil dari sistem distribusi air bersih yang sudah direncanakan dengan perhitungan

Karena itu diperlukan pengembangan pengajaran yang dapat membangun keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar melalui alternatif metode pembelajaran, yakni metode