ANALISA POTENSI BAHAYA DENGAN MENGGUNAKAN METODE JOB SAFETY ANALYSIS (JSA) PADA PETUGAS BAK VALVE
DI PT PGAS SOLUTION TAHUN 2018
SKRIPSI
Oleh :
MUHAMMAD AGUS JAUHARI NIM : 131000269
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2018
ANALISA POTENSI BAHAYA DENGAN MENGGUNAKAN METODE JOB SAFETY ANALYSIS (JSA) PADA PETUGAS BAK VALVE
DI PT PGAS SOLUTION TAHUN 2018
Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kesehatan Masyarakat
Oleh :
MUHAMMAD AGUS JAUHARI NIM : 131000269
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2018
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “ANALISA POTENSI
BAHAYA DENGAN MENGGUNAKAN METODE JOB SAFETY
ANALYSIS (JSA) PADA PETUGAS BAK VALVE DI PT PGAS SOLUTION TAHUN 2018” ini beserta isinya adalah benar hasil karya saya sendiri dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara yang tidak dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.
Medan, Januari 2018 Yang Membuat Pernyataan
M. Agus Jauhari
HALAMAN PENGESAHAN
Skripsi dengan Judul
ANALISA POTENSI BAHAYA DENGAN MENGGUNAKAN METODE JOB SAFETY ANALYSIS (JSA) PADA PETUGAS BAK VALVE
DI PT PGAS SOLUTION TAHUN 2018 Yang Disiapkan dan Dipertahankan Oleh
MUHAMMAD AGUS JAUHARI NIM : 131000269
Disahkan Oleh : Komisi Pembimbing Skripsi
Pembimbing I Pembimbing II
dr. Halinda Sari Lubis, M.KKK Eka Lestari Mahyuni, SKM., M.Kes NIP. 196506151996012001 NIP. 197911072005012003
Medan, Januari 2018 Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara Dekan,
Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si NIP. 196803201993082001
ABSTRAK
Kecelakaan kerja dapat kita hindari dengan mengetahui dan mengenal berbagai potensi-potensi bahaya yang ada dilingkungan kerja. Analisa potensi bahaya yang paling popular dan paling sering digunakan dilingkungan kerja adalah menggunakan metode Job Safety Analysis (JSA). Job Safety Analysis (JSA) merupakan sebuah metode yang menganalisis potensi bahaya yang terdapat pada sistem dan prosedur kerja serta manusia sebagai pekerjanya.
Jenis penelitian ini adalah survei yang bersifat deskriptif yaitu menggambarkan proses analisa keselamatan kerja dengan menggunakan metode Job Safety Analysis (JSA) dengan tujuan untuk mengetahui proses pekerjaan yang memiliki potensi bahaya. Objek yang diteliti adalah proses pekerjaan pada petugas Bak Valve di PT PGAS Solution tahun 2018.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada proses pekerjaan perawatan Bak Valve memiliki potensi bahaya seperti kecelakan lalu lintas, ledakan gas, keracunan gas, sesak nafas, pingsan akibat ruangan terbatas, terluka benda tajam dan alat-alat kerja berat yang berpotensi bahaya kepada petugas Bak Valve seperti Chain Block yang menimpa bagian kepala, tutup Bak Valve yang terlepas dari Crane atau Tripod yang menimpa bagian kaki petugas Bak Valve.
Peneliti menyarankan kepada pihak manajemen PT PGAS Solution untuk terus meningkatkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan melakukan upaya pengendalian dari berbagai potensi bahaya pada setiap pekerjaan terutama pada proses pekerjaan petugas Bak Valve.
Kata Kunci: Potensi Bahaya, Job Safety Analysis (JSA), Petugas Bak Valve
ABSTRACT
Work accident could be avoid by knowing and recognized the various potential hazards that exist in the work environment. The most commonly used to potential hazard analysis was Job Safety Analysis (JSA). Job Safety Analysis (JSA) was a method that analyze the potential hazards that exist in the system, work procedures and humans as their workers.
The type of this research is descriptive survey which describe the potetntial hazard at the process of safety by using Job Safety Analisys (JSA) method. The object under study is the work process on Bak Valve officer at PT PGAS Solution on 2018.
The results of this study indicate that in the work process of Bak Valve has potential hazard such as traffic accident, gas explosion, gas poisoning, out of breath, fainting due to confined space, injured by sharp objects and heavy work tools that has potential hazard to Bak Valve officer such as Chain Block hit the hat, Bak Valve Cover of the Crane or Tripod fall and hit the foot Bak Valve officer.
Suggested to the management of PT PGAS Solution to continuously improve Occupational Safety and Health by making efforts to control from various potential hazards on every job especially on job process Bak Valve officer.
Keywords: Potential Hazard, Job Safety Analysis (JSA), Bak Valve Officer
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul “Analisa Potensi Bahaya Dengan Metode Job Safety Analysis (JSA) Pada Petugas Bak Valve Di PT PGAS Solution Tahun 2018”. Skripsi ini adalah salah satu syarat yang ditetapkan untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara khususnya Departemen Keselamatan dan Kesehata Kerja (K3).
Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak, baik secara moril maupun materil. Untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada:
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
3. Dr. Ir. Gerry Silaban, M.Kes selaku Ketua Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan juga sebagai Dosen Penguji I yang telah meluangkan waktu dan pemikiran.
4. dr. Halinda Sari Lubis, M.KKK selaku Dosen Pembimbing I yang telah banyak membimbing, memberikan saran, serta arahan dalam penyelesaian skripsi ini.
5. Eka Lestari Mahyuni, SKM., M.Kes selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak membimbing, memberikan saran, serta arahan dalam penyelesaian skripsi ini.
6. Umi Salmah, SKM., M.Kes selaku Dosen Penguji II yang telah meluangkan waktu dan pemikiran.
7. Prof. dr. Sorimuda Sarumpaet, MPH selaku dosen penasehat akademik yang telah memberikan bimbing dan motivasi kepada penulis selama mengikuti pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarkat Universitas Sumatera Utara.
8. Seluruh Dosen dan Staf Akademik Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara yang telah banyak memberikan ilmu dan bantuan selama masa perkuliahan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
9. Andri Siregar, SKM selaku HSSE di PT PGAS Solution yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian ini.
10. Orang tua tersayang Ir. Yusuf Dedy Hernawan dan Enny Hartaty yang telah membesarkan, mendidik, dan memberikan kasih sayang yang begitu berharga serta memberi dukungan dan doa bagi penulis dalam menyelesaikan pendidikan dan penulisan skripsi ini.
11. Utari Adrianti yang telah membantu dan memberikan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.
12. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan dukungan dan bantuan selama penulisan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini kemungkinan masih banyak kekurangan, baik dari penulisan, pemahaman materi, pemakaian bahasa,
penyampaian materi, dan lain-lain. Oleh sebab itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk kesempurnaan skripsi ini.
Medan, Januari 2018 Penulis
M. Agus Jauhari
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
ABSTRAK ... iii
ABSTRACT ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
RIWAYAT HIDUP ... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 6
1.3 Tujuan Penelitian ... 6
1.4 Manfaat Penelitian ... 6
1.4.1 Manfaat Aplikatif ... 6
1.4.2 Manfaat Teoritif ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8
2.1 Job Safety Analysis (JSA) ... 8
2.1.1 Manfaat Job Safety Analysis (JSA) ... 9
2.1.2 Langkah Menentukan Job Safety Analysis (JSA) ... 10
2.2 Potensi Bahaya ... 12
2.2.1 Jenis Bahaya ... 13
2.2.2 Sumber Bahaya dari Lingkungan Kerja ... 16
2.2.3 Sumber Bahaya dari Pekerja ... 17
2.2.4 Sumber Bahaya dari Bahan Kimia dan Peralatan ... 19
2.2.5 Analisa Potensi Bahaya Pekerjaan ... 20
2.3 Kecelakaan Kerja di Dunia Industri ... 22
2.3.1 Kecelakaan Kerja ... 22
2.3.2 Klasifikasi Kecelakaan Industri ... 22
2.3.3 Penyebab Kecelakaan Kerja ... 26
2.3.4 Dampak Kecelakaan Kerja ... 26
2.4 Perusahaan Gas Negara ... 27
2.4.1 Ruang Terbatas (Confined Space) ... 28
2.4.2 Bak Valve ... 39
2.4.3 Tahapan Pekerjaan Petugas Bak Valve ... 39
2.5 Alur Penelitian ... 41
BAB III METODE PENELITIAN ... 42
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 42
3.2.1 Lokasi Penelitian ... 42
3.2.2 Waktu Penelitian ... 42
3.3 Variabel Penelitian... 42
3.4 Objek Penelitian ... 42
3.5 Instrumen Penelitian ... 43
3.6 Metode Pengumpulan Data ... 43
3.6.1 Data Primer ... 43
3.6.2 Data Sekunder ... 43
3.7 Definisi Operasional ... 43
3.8 Analisis Data ... 44
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 45
4.1 Gambaran Umum Perusahaan ... 45
4.1.1 Bidang Usaha di PT PGAS Solution ... 45
4.1.2 Visi dan Misi Perusahaan ... 46
4.1.3 Budaya Perusahaan ... 46
4.1.4 Kebijakan Mutu dan Keselamatan Kerja PT PGAS Solution ... 47
4.1.5 Struktur Organisasi K3 PT PGAS Solution ... 48
4.1.6 Program K3 PT PGAS Solution ... 51
4.2 Job Safety Analysis pada Petugas Bak Valve di PT PGAS Solution... 53
4.2.1 Memilih Pekerjaan ... 53
4.2.2 Menguraikan Pekerjaan ... 54
4.3 Mengidentifikasi Bahaya (Hazard Identification) ... 55
4.4 Pengendalian Bahaya (Hazard Control) ... 56
BAB V PEMBAHASAN ... 58
5.1 Job Safety Analysis (JSA) pada Proses Pekerjaan Bak Valve ... 58
5.1.1 Pemeriksaan Kondisi Lingkungan Sekitar Bak Valve ... 58
5.1.2 Pembersihan Lingkungan Sekitar Luar Bak Valve ... 59
5.1.3 Membuka Tutup Bak Valve ... 60
5.1.4 Mendeteksi Kebocoran Gas pada Bak Valve ... 60
5.1.5 Pemeriksaan Kondisi Pipa dan Katup-katup ... 61
5.1.6 Pemeriksaan Dinding dalam Bak Valve ... 61
5.1.7 Menutup Bak Valve ... 62
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN... 64
6.1 Kesimpulan ... 64
6.2 Saran ... 65
DAFTAR PUSTAKA ... 66
LAMPIRAN ... 69
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Jenis Energi dan Bentuk Bahaya ... 15
Tabel 4.1 Program K3 di PT PGAS Solution. ... 51
Tabel 4.2 Menguraikan Pekerjaan pada Petugas Bak Valve ... 54
Tabel 4.3 Pengendalian Bahaya pada Pekerjaan Petugas Bak Valve ... 55
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Alur Penelitian ... 41 Gambar 4.1 Struktur Organisasi K3 PT PGAS Solution ... 49
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Job Safety Analysis (JSA) ... 69
Lampiran 2. Dokumentasi ... 72
Lampiran 3. Desain Gambar Bak Valve ... 77
Lampiran 4. Surat Izin Penelitian ... 81
Lampiran 5. Surat Selesai Penelitian ... 82
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama Muhammad Agus Jauhari lahir pada tanggal 7 Juni 1994 di Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Bertempat tinggal di Jalan Bunga Baldu No.59 Medan, Sumut. Penulis merupakan anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Ir. Yusuf Dedy Hernawan dan Enny Hartaty.
Pendidikan formal penulis dimulai di Taman Kanak-kanak Sultan Iskandar Muda Medan pada tahun 2000 dan selesai pada tahun 2001, penulis melanjutkan pedidikan Sekolah Dasar Sultan Iskandar Muda Medan pada tahun 2001 dan selesai pada tahun 2007, penulis melanjutkan pedidikan Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Medan pada tahun 2007 dan selesai pada tahun 2010, kemudian melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Atas Negeri 15 Medan pada tahun 2010 dan selesai pada tahun 2013. Pada tahun 2013, penulis melanjutkan pendidikan S1 di Universitas Sumatera Utara, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat dan selesai pada tahun 2018.
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan industri di Indonesia sekarang ini berlangsung sangat pesat seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Proses industrialisasi masyarakat Indonesia makin cepat dengan berdirinya perusahaan dan tempat kerja yang beraneka ragam. Perkembangan industri yang sangat pesat ini diiringi pula oleh adanya risiko bahaya yang lebih besar dan beraneka ragam karena adanya alih teknologi dimana penggunaan mesin dan peralatan kerja yang semakin kompleks untuk mendukung berjalannya proses produksi. Hal ini dapat menimbulkan masalah kesehatan dan keselamatan kerja (Novianto, 2010).
Minyak dan gas adalah bagian pokok dalam peradaban modern dan industri. Industri minyak dan gas tumbuh sejalan dengan perkembangan ekonomi dan masyarakat. Industri minyak dan gas telah membuat revolusi dalam kehidupan manusia, meningkatkan standar kehidupan kita, dan produk-produk tersebut merupakan dasar dalam setiap tingkat produksi dan konsumsi disemua sektor penting kehidupan. Pasokan minyak dan gas yang stabil diperlukan untuk menjaga keberlanjutan pembangunan ekonomi kita. Kedua industri tersebut mempunyai sifat sangat padat modal. Meskipun demikian, bagian-bagian signifikan dari produksinya masih mengandalkan input manusia. Hubungan pengusaha dan pekerja yang stabil menjadi sangat penting untuk stabilitas produksi dan pasokan minyak dan gas ( Anwar dan Senyonga, 2007).
Indonesia menduduki peringkat ke-11 dari 20 Negara dengan cadangan gas terbesar dalam satuan triliun kaki kubik dan menjadi negara ke-9 dengan
ladang gas terbesar. Sebagian besar cadangan gas alam Indonesia ditemukan lepas pantai, namun tidak semua cadangan tersebut secara komersial menguntungkan untuk dieksplorasi. Pada tahun 2004, Indonesia berada di ranking ke 13 di antara produsen gas alam dunia, dan merupakan pengekspor gas alam cair terbesar di dunia (Kementerian ESDM RI, 2017).
Dalam rangka melaksanakan pembangunan masyarakat dan menyumbang pemasukan bagi negara peranan Sektor Pertambangan Minyak dan Gas Bumi diharapkan masih tetap memberikan sumbangan yang cukup berarti.
Pertambangan minyak dan gas bumi banyak mengandung risiko-risiko kecelakaan. Secara umum, kecelakaan selalu diartikan sebagai “kejadian yang tidak dapat diduga”. Sebenarnya setiap kecelakaan kerja itu dapat diramalkan atau diduga dari semula jika perbuatan dan kondisi tidak memenuhi persyaratan.
Statistik mengungkapkan bahwa 80% kecelakaan disebabkan oleh perbuatan yang tidak selamat (unsafe act), dan hanya 20% oleh kondisi yang tidak selamat (unsafe condition) (Silalahi, 1991). Pada umumnya kecelakaan terjadi karena kurangnya pengetahuan dan pelatihan, kurangnya pengawasan, kompleksitas dan keanekaragaman ukuran organisasi, yang semuanya itu dapat mempengaruhi kinerja keselamatan dalam suatu perusahaan/industri. Kecelakaan di tempat kerja merupakan penyebab utama penderitaan perorangan dan penurunan produktivitas (Sastrohadiwiryo dan Siswanto, 2002).
Hal ini diperkuat dengan kejadian kecelakaan kerja pada sebuah ledakan gas di wilayah permukiman Rosario, kota terbesar ketiga di Argentina, terjadi pada 6 Agustus 2013. Peristiwa tersebut disebabkan oleh sebuah kebocoran gas yang besar sebuah bangunan yang ada di dekatnya runtuh, dan bangunan yang
lainnya mengalami kerusakan struktur yang tinggi. Dua puluh dua orang tewas, dan enam puluh orang luka-luka. Pemerintah provinsi mengadakan sebuah investigasi untuk mencari sebab-sebab dari ledakan tersebut. Terdakwa utamanya adalah Litoral Gas (penyedia gas alam untuk Rosario) dan seorang karyawan yang melalaikan kerja utamanya di bangunan tersebut pada hari itu (BBC News, 2013).
Tenaga kerja merupakan aset yang harus diberikan perlindungan mengingat risiko yang berhubungan dengan pekerjaan yang konsekuensinya dapat menimbulkan bahaya kecelakaan kerja. Kebijakan perlindungan tersebut ditetapkan dalam UU RI No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Peraturan pelaksana UU ini oleh pemerintah RI ditetapkan dalam bentuk lex specialis (peraturan khusus) dan lex generalis (peraturan pemerintah, peraturan menteri, keputusan menteri dan surat edaran menteri) (Depnaker RI, 1970).
Kecelakaan kerja dapat kita hindari dengan mengetahui dan mengenal berbagai potensi-potensi bahaya yang ada di lingkungan kerja. Berbagai potensi- potensi bahaya tersebut, kita eliminasi untuk menghilangkan risiko kecelakaan yang akan terjadi. Apabila bahaya tersebut tidak bisa dihilangkan, maka tindakan pengendalian harus diimplementasikan untuk meminimalkan potensi bahaya sampai risikonya dapat diterima oleh pekerja (Ramli, 2010).
Analisa potensi bahaya yang paling popular dan paling sering digunakan di lingkungan kerja untuk upaya pencegahan kecelakaan kerja adalah dengan menggunakan metode Job Safety Analysis (JSA). Job Safety Analysis (JSA) merupakan sebuah metode analisa potensi bahaya yang menganalisis potensi bahaya yang terdapat pada sistem kerja dan prosedur serta manusia sebagai pekerjanya, serta mampu memberikan rekomendasi perbaikan atau cara
pencegahan terhadap kecelakaan kerja pada suatu pekerjaan (Ramli, 2010).
Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang Migas, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk selalu di hadapkan pada risiko bahaya yang sangat tinggi.
Risiko-risiko bahaya tersebut jika tidak di kelola dengan baik maka akan menimbulkan suatu kerugian baik terhadap manusia, bahan, peralatan maupun lingkungan. Hal ini sangat mempengaruhi citra PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk di berbagai pihak (konsumen, masyarakat, pelanggan, penanam modal) yang akhirnya akan menentukan keberadaan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk dimasa mendatang.
Ruang terbatas (confined space) mengandung beberapa sumber bahaya yang berasal dari bahan kimia yang mengandung racun dan mudah terbakar dalam bentuk gas, uap, asap, debu dan sebagainya. Selain itu masih terdapat bahaya lain berupa terjadinya oksigen defisiensi atau sebaliknya kadar oksigen yang berlebihan, suhu yang ekstrim, terjebak, maupun risiko fisik lainnya yang timbul seperti kebisingan, permukaan yang basah licin dan kejatuhan benda keras yang terdapat di ruang terbatas tersebut yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja sampai dengan kematian tenaga kerja yang bekerja di dalamnya (Tarwaka, 2012).
Bak Valve dikategorikan dalam ruang kerja yang terbatas (confined space).
Bak Valve adalah tempat penampung valve. Valve adalah sebuah katup yang mengatur aliran tekanan gas dengan menutup, membuka atau menghambat sebagian dari jalannya aliran. Bak Valve adalah tempat penampung valve - valve yang terpasang dibawah tanah dan berfungsi sebagai penyalur 3 (tiga) tekanan gas yang berbeda terdiri dari tekanan gas tinggi, menengah dan rendah. Tekanan gas
tersebut didistribusikan kepada konsumen yang bergerak di bidang industri dan rumah tangga.
Petugas Bak Valve mengoperasikan dan melakukan perawatan pada Bak Valve. Tahapan pekerjaan pada petugas Bak Valve dimulai dari memeriksa kondisi lingkungan di sekitar Bak Valve, membersihkan lingkungan sekitar luar Bak Valve, membuka tutup Bak Valve, mendeteksi kebocoran gas dengan Gas Detector, memeriksa kondisi pipa dan Valve di dalam Bak Valve, menutup kembali tutup Bak Valve (PGN, 2016).
Peran petugas Bak Valve sangat penting pada perusahaan, karena perawatan dan pengontrolan tekanan aliran gas harus dilakukan secara hati-hati sesuai standar perusahaan. Potensi bahaya yang terjadi pada petugas Bak Valve itu sendiri adalah kurangnya oksigen serta kualitas udara yang buruk, bahaya kebakaran yang terjadi kemungkinan akibat ledakan karena liquid dan gas, bahaya bahan kimia pada campuran gas, bahaya kecelakaan seperti peralatan yang bergerak, terbelit, tergelincir ataupun terjatuh, dan radiasi ataupun bahaya biologis yang terjadi.
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Analisa Potensi Bahaya dengan Menggunakan Metode Job Safety Analysis (JSA) pada Petugas Bak Valve di PT PGAS Solution Tahun 2018”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah dalam penelitian ini adalah analisa potensi bahaya dengan menggunakan metode Job Safety Analysis (JSA) pada petugas Bak Valve di PT PGAS Solution 2018.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa potensi bahaya dengan menggunakan metode Job Safety Analysis (JSA) pada petugas Bak Valve di PT PGAS Solution 2018.
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Aplikatif
1. Sebagai masukan bagi PT PGAS Solution untuk meningkatkan pelindungan terhadap Kesehatan dan Keselamatan Kerja serta menanggulangi potensi- potensi bahaya yang ditemukan pada proses Bak Valve dengan upaya pembenahan dan perbaikan.
2. Sebagai masukan bagi para pekerja untuk mengenali potensi-potensi bahaya dilingkungan kerja Valve dan Bak Valve agar dapat terhindar dari risiko kecelakaan.
1.4.2 Manfaat Teoritif
Sebagai masukan dalam pengembangan keilmuan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Khususnya bidang manajemen K3 yang berkaitan dengan program pencegahan dan pengendalian kecelakaan kerja.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Job Safety Analysis (JSA)
Job Safety Analysis (JSA) adalah suatu teknik yang dipakai untuk menganalisa suatu pekerjaan secara sistematis untuk bisa mengenali bahaya disetiap langkahnya sehingga bisa dikembangkan solusi untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
Job Safety Analysis (JSA) pada dasarnya adalah penganalisaan aktivitas kerja dan tempat kerja untuk menentukan tindakan pencegahan yang memadai di tempat kerja. Dengan kata lain, JSA sebagai sistematis identifikasi potensi bahaya di tempat kerja sebagai langkah untuk mengendalikan risiko yang mungkin akan terjadi disuatu lingkungan kerja.
Job Safety Analysis (JSA) digunakan untuk meninjau metode kerja dan menemukan bahaya yang :
1. Mungkin diabaikan dalam layout pabrik atau bangunan dan dalam desain permesinan, peralatan, perkakas, stasiun kerja dan proses.
2. Memberikan perubahan dalam prosedur kerja atau personel.
3. Mungkin dikembangkan setelah produksi dimulai.
Badan resmi yang bertanggung jawab dalam proses ini membuat gambaran yang paling aman, efisien dari setiap bentuk pekerjaan yang diberikan. Badan analisa keselamatan kerja membuat strategi yang terstruktur dalam mencegah kecelakaan kerja yaitu dengan melakukan pengenalan terhadap bahaya, melakukan evaluasi dan pengendalian risiko (Cipto, 2010).
Job Safety Analysis (JSA) sangat diperlukan dalam setiap pekerjaan.
Kriteria pekerjan yang memerlukan kajian Job Safety Analysis (JSA) menurut Ramli (2010) adalah sebegai berikut :
1. Pekerjaan yang sering mengalami kecelakaan atau memiliki angka kecelakaan yang tinggi.
2. Pekerjaan berisiko tinggi dan dapat berakibat fatal misalnya industry pertambangan.
3. Pekerjaan yang jarang dilakukan sehingga belum diketahui secara persis bahaya yang ada.
Pekerjaan yang rumit atau komplek dimana sedikit kelalaian dapat berakibat kecelakaan atau cidera.
2.1.1 Manfaat Job Safety Analysis (JSA)
Analisa keselamatan kerja atau JSA bermanfaat dalam keamanan kerja dan melindungi produktivitas pekerja. Manfaatnya adalah :
1. Mengidentifikasi usaha perlindungan yang dibutuhkan di tempat kerja.
2. Menemukan bahaya fisik yang ada di lingkungan kerja.
3. Mempelajari pekerjaan untuk peningkatan yang memungkinkan dalam metode kerja.
4. Biaya kompensasi pekerja menjadi lebih rendah dan meningkatkan produktivitas.
5. Penentuan standar-standar yang diperlukan untuk keamanan, termasuk petunjuk dan pelatihan tenaga kerja manusia.
6. Memberikan pelatihan individu dalam hal keselamatan dan prosedur kerja efisien.
2.1.2 Langkah Menentukan Job Safety Analysis (JSA)
Occupational Health and Safety (OSH, 2013) menjelaskan langkah Job Safety Analysis (JSA) adalah sebagai berikut :
1. Memilih pekerjaan ( Job selection)
Pekerjaan dengan sejarah kecelakaan yang buruk mempunyai prioritas dan harus dianalisa terlebih dulu. Dalam memilih pekerjaan yang akan dianalisa, hal penting yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :
a. frekuensi kecelakaan
Sebuah pekerjaan yang sering kali terulang kecelakaan merupakan prioritas utama dalam JSA.
b. tingkat cedera yang menyebabkan cacat
Setiap pekerjaan yang menyebabkan cacat harus dimasukan ke dalam JSA.
c. kekerasan potensi
Beberapa pekerjaan mungkin tidak mempunyai sejarah kecelakaan namun mungkin berpotensi untuk menimbulkan bahaya.
d. pekerjaan baru
Untuk setiap pekerjaan baru harus memiliki JSA. Analisa tidak boleh ditunda hingga kecelakaan atau kejadian hampir celaka terjadi.
e. mendekati bahaya
Pekerjaan yang sering hampir terjadi bahaya harus menjadi prioritas JSA. Hal ini dimaksudkan agar potensi bahaya yang sering terjadi itu berubah menjadi kecelakaan.
2. Menguraikan pekerjaan ( Job breakdown)
Pekerjaan yang akan dianalisis harus diuraikan berdasarkan tahapan- tahapan pekerjaannya. Tahapan setiap pekerjaan harus dijelaskan secara jelas dari tahap awal sampai akhir. Hindari keselahan-kesalahan yang sering terjadi seperti :
a. Terlalu rinci dalam menentukan langkah pekerjaan, sehingga dapat menimbulkan langkah yang tidak penting
b. Terlalu umum dalam menguraikan langkah pekerjaan, sehingga langkah- langkah dasar tindak dapat dibedakan.
3. Mengidentifikasi bahaya (Hazard identification)
Proses identifikasi bahaya merupakan bagian yang sangat penting dalam keberhasilan suatu analisa keselamatan kerja. Dalam upaya identifikasi semua potensi bahaya harus dicermati dan dianalisa dengan baik agar semua potensi dapat ditanggulangi. Ada beberapa pertanyaan yang dapat menggambarkan indentifikasi bahaya diantaranya :
1. Apakah metode kerja dan sikap pekerja aman dalam bekerja?
2. Apakah lingkungan kerja membahayakan pekerja?
3. Apakah kapasitas beban pekerja terlalu besar?
4. Apakah pekerja berpotensi tertusuk, terpotong, tergelincir, tergilas, terjepit, terpukul, tertanduk, terseruduk, dan lain sebagainya.
5. Apakah pekerja berpotensi terperangkap, tertanam, tertimbun dan potensi membahayakan pekerja lainnya.
4. Pengendalian bahaya (Hazard control)
Pada tahap terakhir dari dari analisa kecelakaan kerja adalah melakukan pengendalian bahaya dengan menemukan solusi alternatif yang dapat
mengembangkan suatu prosedur keselamatan dalam bekerja sehingga pekerjaan dapat dikerjakan secara aman, efektif dan efisien.
Dalam mengendalikan bahaya, intervensi yang paling efektif yang dapat kita lakukan adalah dengan menerapkan hirarki kontrol. Tahapan hirarki kontrol yang dimaksud adalah sebagai berikut :
i. Primary control : Mencakup pengendalian pertama dengan fokus intervensi pada alat dan mesin dengan upaya rekayasa.
ii. Secondary control : Mencakup pengendalian administrasi dengan cara membatasi paparan terhadap risiko tertentu.
iii. Tertiari control : Pengendalian yang dilakukan dengan mengajarkan praktek kerja yang benar atau melakukan prosedur kerja yang baik dalam suatu pekerjaan tertentu dengan sistematis.
iv. APD : Pengendalian yang menjadi pilihan terakhir dalam upaya penanggulangan yang ditujukan kepada pekerja dengan memberikan alat pelindung diri terhadap potensi bahaya tertentu.
2.2 Potensi Bahaya
ILO (1986) dalam Anugrah (2009), mendefinisikan potensi bahaya atau bahaya kerja (work hazard) adalah suatu sumber potensi kerugian atau suatu situasi yang berhubungan dengan pekerja, pekerjaan dan lingkungan kerja yang berpotensi menyebabkan gangguan/kerugian. Bahaya di tempat kerja timbul atau terjadi ketika ada interaksi antara unsur-unsur produksi yaitu manusia, peralatan, material, proses, atau metoda kerja. Dalam proses produksi tersebut terjadi kontak antara manusia dengan mesin, material, lingkungan kerja yang diakomodir oleh proses atau prosedur kerja. Karena
itu, sumber bahaya dapat berasal dari unsur-unsur produksi tersebut, yaitu manusia, peralatan, material, proses serta sistem dan prosedur (Ramli, 2010).
Potensi bahaya merupakan segala sesuatu yang mempunyai kemungkinan mengakibatkan kerugian baik pada harta benda, lingkungan maupun manusia. Di tempat kerja, potensi bahaya sebagai sumber risiko keselamatan dan kesehatan akan selalu dijumpai.
Jika setiap bahaya-bahaya tersebut dapat diidentifikasi, tindakan harus diambil untuk menghilangkan atau meminimalkan risiko yang dihadapi oleh pekerja. Jika bahaya -bahaya tersebut tidak dapat dihilangkan, suatu penilaian risiko perlu dilakukan untuk menentukan tingkat pencegahan apa saja yang harus diambil, Hal ini diupayakan untuk melindungi pekerja yang merupakan aset yang sangat berharga bagi perusahaan.
2.2.1 Jenis Bahaya
Bahaya dalam kehidupan sangat banyak ragam dan jenisnya. Disekitar kita terdapat banyak bahaya-bahaya yang berpotensial untuk mencederai tubuh kita baik cedera ringan maupun sampai cedera fatal. Kita tidak dapat mencegah berbagai bahaya-bahaya tersebut jika kita tidak mengenali bahayanya dengan baik.
Ramli (2010) mengklasifikasikan jenis bahaya sebagai berikut:
a. Bahaya Mekanis b. Bahaya Listrik c. Bahaya Fisis d. Bahaya Biologis
e. Bahaya Kimia A. Bahaya Mekanis
Bahaya mekanis bersumber dari peralatan mekanis atau benda bergerak dengan gaya mekanika baik yang digerakkan secara manual maupun dengan penggerak. Misalnya mesin sinso, bubut, gerinda, tempa dan lain-lain.
Bagian yang bergerak pada mesin mengandung bahaya seperti gerakan mengebor, memotong, menempa, menjepit, menekan dan bentuk gerakan lainnya. Gerakan mekanis ini dapat menimbulkan cedera atau kerusakan seperti tersayat, terjepit, terpotong, atau terkupas.
B. Bahaya Listrik
Suatu bahaya yang berasal dari energi listrik. Energi listrik dapat mengakibatkan berbagai bahaya seperti kebakaran, sengatan listrik, dan hubungan singkat. Di lingkungan kerja banyak ditemukan bahaya listrik, baik dari jaringan listrik, maupun peralatan kerja atau mesin yang menggunakan energi listrik.
C. Bahaya Kimiawi
Bahan kimia mengandung berbagai potensi bahaya sesuai dengan sifat dan kandungannya. Banyak kecelakaan terjadi akibat bahaya kimiawi.
Bahaya yang dapat ditimbulkan oleh bahan-bahan kimia antara lain:
a. Keracunan oleh bahan kimia yang bersifat beracun (toxic)
b. Iritasi, oleh bahan kimia yang memiliki sifat iritasi seperti asam keras, cuka air aki dan lainnya
c. Kebakaran dan peledakan, beberapa jenis bahan kimia memiliki sifat mudah
terbakar dan meledak misalnya golongan senyawa hidrokarbon seperti minyak tanah, premium, LPG, batubara dan lainnya.
d. Polusi dan pencemaran lingkungan
Bahan kimia sangat beragam, disekitar kita penuh dengan berbagai jenis bahan kimia. Oleh karena itu risiko bahaya bahan kimia harus diperhatikan dengan baik. Berbeda dengan jenis bahaya lain seperti mekanik atau listrik, bahaya bahan kimia sering kali tidak dirasakan secara langsung atau bersifat kronis dalam jangka waktu yang panjang.
D. Bahaya Fisis
Bahaya yang berasal dari faktor fisis antara lain :
a. Bising, dapat mengakibatkan bahaya ketulian atau kerusakan indera pendengaran
b. Tekanan c. Getaran
d. Suhu panas atau dingin e. Cahaya atau penerangan
f. Radiasi dari bahan radioaktif, sinar ultra violet atau infra merah E. Bahaya Biologis
Di berbagai lingkungan kerja terdapat bahaya yang bersumber dari unsur biologis seperti flora dan fauna yang terdapat di lingkungan kerja atau berasal dari aktivitas kerja. Potensi bahaya ini ditemukan dalam industri makanan, Farmasi, Pertanian dan Kimia, Pertambangan, Minyak dan Gas Bumi.
2.2.2 Sumber Bahaya dari Lingkungan Kerja
Banyak sekali sumber energi yang dapat menjadi suatu potensi bahaya disuatu lingkungan kerja. Sebagian diantaranya sebagai berikut : Tabel 2.1 Jenis Energi dan Bentuk Bahaya
JENIS ENERGI BENTUK BAHAYA
Gravitasi 1. Dapat terjadi jika suatu benda jatuh menimpa orang, jatuh dari ketinggian atau terpleset
2. Cedera bervariasi mulai dari terkilir, luka dan fatal
Bising dan Getaran 1. Ditemukan jika terpapar suara bising atau getaran
2. Cedera beragam dari ringan sampai ketulian
Kimia 1. Dapat terjadi jika manusia menghirup, menelan atau menyerap cairan, debu, gas atau yang dapat mengakibatkan kerusakan seperti kebakaran, peledakan, korosi dan lainnya.
2. Cidera bervariasi mulai dari akut, kronis, dan kematian
Listrik 1. Ditemukan dalam penggunaan listrik untuk mengoperasikan peralatan
2. Cedera bervariasi mulai dari cidera luka bakar sampai mati
Mekanikal 1. Terdapat pada mesin atau bagian bergerak atau berputar yang mengeluarkan bagian yang tajam, runcing, atau lontaran benda.
2. Cedera beragam mulai luka sayat, putus, dan mati
Termal 1. Terjadi pada lingkungan panas, dingin atau peralatan yang menggunakan dan menghasilkan panas atau dingin seperti dapur, ruang pendingin, proses panas, pengelasan, benda panas atau dingin 2. Cedera bervariasi mulai luka bakar,
strees panas sampai mati
Tekanan 1. Ditemukan pada bejana atau objek bertekanan termasuk boiler, botol bertekanan dan kompresor
2. Cedera bervariasi mulai dari luka sampai mati
peraralatan yang menggunakan sinar X, Radiasai Ultra Violet, gelombang mikro, laser atau pengelasan
2. Cidera bervariasi mulai luka bakar sampai mati
Mikrobiologis 1. Dapat terjadi jika terpajan dengan bakteri, virus atau zat pathogen lainnya misalnya dalam menara pendingin, organ tubuh manusia atau hewan
2. Cedera bervariasi mulai akut, kronis, yang bersifat jangka panjang menimbulkan kematian seperti HIV, Hepatitis, Keracunan
(Ramli, 2010)
2.2.3 Sumber Bahaya dari Pekerja
Menurut penelitian dalam Djati (2002) hampir 85% kecelakaan terjadi disebabkan faktor manusia yang melakukan tindakan tidak aman. Tindakan tidak aman ini dapat disebabkan oleh:
a. Karena tidak tahu
Yang bersangkutan tidak mengetahui bagaimana melakukan pekerjaan dengan aman dan tidak tahu bahaya-bahaya yang ada.
b. Karena tidak mampu/tidak bias
Yang bersangkutan telah mengetahui cara kerja yang aman, bahaya- bahaya yang ada tetapi karena belum mampu, kurang terampil dia melakukan kesalahan.
c. Walaupun telah mengetahui dengan jelas cara kerja dan peraturan- peraturannya serta yang bersangkutan dapat melaksanakannya, tetapi karena tidak mau melaksanakan maka terjadi kecelakaan. Misalnya tidak mau memakai alat keselamatan atau melepas alat pengaman.
pekerja celaka atau berpotensi untuk celaka sebagai penyebab tidak langsung dari suatu kecelakaan kerja yang sering ditemukan dalam aktivitas pertambangan menurut H.W. Heinrich dalam Suryani (2012), yaitu :
1. Mengoperasikan peralatan dengan kecepatan yang tidak layak 2. Mengoperasikan peralatan tanpa perintah.
3. Menggunakan peralatan yang tidak layak.
4. Menggunakan peralatan yang telah rusak atau cacat.
5. Gagal memperingatkan pekerja dan peralatan.
6. tidak menggunakan alat pelindung diri.
7. Bekerja dengan posisi yang salah atau tidak aman.
8. Bermain-main, bersenda gurau.
9. Konsumsi alcohol.
10. Konsumsi obat-obatan.
2.2.4 Sumber Bahaya dari Bahan Kimia dan Peralatan
Bahan kimia dan peralatan yang digunakan pada suatu perusahaan juga menjadi sumber bahaya yang dapat mengancam para pekerja setiap saat. Bahaya akan muncul ketika ada interakasi anatara pekerja dan bahan kimia maupun peralatan yang digunakan. Jika tidak ada Kontrol dan pemeriksaan berkala, potensi kecelakaan kerja dimungkinkan akan terjadi pada para pekerja.
Pada penggunaan bahan-bahan kimia, terdapat sejumlah tindakan yang dapat dilakukan untuk menghilangkan bahaya sehingga mencegah pekerja dari risiko terkena penyakit. Jika bahayanya tidak dapat dihilangkan, tindakan pengendalian harus diimplementasikan untuk meminimalkan risiko dari bahan- bahan kimia yang dihadapi pekerja (Riedley, 2008).
Efek dari bahan kimia sebagian besar tidak kita sadari dampaknya, hal ini dikarenakan efeknya yang akan timbul dalam jangka waktu yang relatif lama.
Tentu ini sangat berbeda dengan efek yang ditimbulkan dari bahaya peralatan seperti mesin dan peralatan lainnya yang akan menimbulkan efek dengan segera mungkin apabila terjadi kecelakaan pada pekerja baik itu cidera ringan sampai cidera berat sekalipun.
Untuk itu, perlunya upaya identifikasi, penilaian, dan pengukuran secara berkala terhadap bahan kimia dan peralatan yang digunakan di dalam suatu perusahaan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui berbagai potensi bahaya yang akan ditimbulkan sehingga dapat dilakukan upaya evaluasi dan perlindungan terhadap pekerja.
2.2.5 Analisa Potensi Bahaya Pekerjaan
Analisa potensi bahaya pekerjaan adalah sebuah upaya yang dilakukan untuk mengindentifikasi setiap potensi bahaya yang berhubungan dengan pekerjaan sebelum kecelakaan itu terjadi. Dan semua hasil temuan potensi bahaya itu akan dihilangkan. Apabila tidak bisa dihilangkan maka akan diminimalkan dengan pengelolaan lingkungan kerja baik secara teknis maupun administratif sampai potensi bahaya itu berkurang sampai pada tingkat risiko yang dapat diterima oleh para pekerja.
Analisa potensi bahaya sangat penting untuk dilakukan terutama pada pekerjaan-pekerjaan dengan tingkat risiko kecelakaan kerja yang cukup tinggi pekerjaan seperti pertambangan. Hal ini dikarenakan lingkungan kerja yang begitu ekstrem dan alat-alat yang begitu kompleks yang digunakan dalam dunia
pertambangan, sehingga sedikit kelalaian atau kesalahan kecil yang dilakukan dalam pekerjaannya akan menyebabkan kerugian yang begitu besar baik secara materi maupun produktivitas pekerja. Dalam Ramli (2010), Untuk menganalisa potensi bahaya ada beberapa metode yang dapat digunakan, diantaranya :
1. Hazard and Operability Study (HAZOPS) adalah teknik analisa potensi bahaya dengan sistem yang sangat terstruktur dan sistematis.
Namun kelemahan HAZOPS adalah memerlukan waktu yang sangat panjang, tim ahli, dan cendrung membosankan.
2. Job Safety Analysis (JSA) adalah teknik yang sangat popular dan banyak digunakan di lingkungan kerja. Teknik ini menganalisa dengan pengamatan terhadap sistem kerja, prosedur kerja serta pekerja itu sendiri.
3. Analisa pohon kegagalan (Fault Tree Analysis) adalah analisa bersifat dedeuktif. Dimulai dengan menetapkan kejadian puncak yang mungkin terjadi.
Semua potensi bahaya harus dianalisa secara berkala, hal ini dikarenakan setiap potensi bahaya itu akan berubah setiap saat. Setiap ada interaksi antara manusia dengan mesin dan peralatan kerja yang ada di lingkungan kerja, disaat itulah munculnya potensi bahaya. Semakin bervariasi interaksi antara pekerja dengan mesin, peralatan, dan lingkungan kerja, maka semakin berbeda pula potensi bahaya yang dihasilkan.
Analisa potensi bahaya harus dilakukan secara terencana dan komprehensif.
Banyak perusahaan yang telah melakukan analisa potensi bahaya, tetapi ternyata angka kecelakaan kerja masih tergolong tinggi. Hal ini menunjukkan
bahwa proses analisa potensi bahaya yang dilakukan belum berjalan dengan efektif. Analisa potensi bahaya harus dinamis dan selalu mempertimbangkan adanya teknologi dan ilmu terbaru. Banyak bahaya yang belum dikenal tetapi saat ini menjadi suatu potensi bahaya besar dalam pekerjaan. Selain itu, melibatkan pekerja dalam proses analisa potensi bahaya sangat diperlukan. Hal ini dikarenakan karena mereka yang paling mengetahui adanya potensi bahaya di lingkungan kerjanya dan mereka pula yang berkepentingan terhadap pengendalian di lingkungan kerjanya (Ramli, 2010).
2.3 Kecelakaan Kerja Di Dunia Industri 2.3.1 Kecelakaan Kerja
Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi berhubungan dengan kerja, termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja, demikian pula kecelakaan terjadi dalam perjalanan ke dan dari tempat kerja. Kecelakaan kerja merupakan kejadian yang tidak terduga dan tidak diinginkan, baik kecalakaan akibat langsung maupun kecelakaan yang terjadi pada saat pekerjaan sedang dilakukan (Hadipoetro, 2014).
Kecelakaan kerja merupakan kecelakaan seorang atau kelompok dalam rangka melaksanakan kerja di lingkungan industri atau perusahaan.
Kecelakaan kerja biasanya timbul sebagai gabungan dari beberapa faktor, seperti faktor peralatan, lingkungan kerja, dan pekerja itu sendiri. Dalam suatu pabrik, terkadang ada mesin yang kurang baik, seperti tidak dilengkapi alat pengaman yang cukup, maka kondisi seperti ini dapat menjadi sumber risiko (Siahaan, 2009).
2.3.2 Klasifikasi Kecelakaan Industri
Terlalu banyak jenis kecelakaan yang terjadi menyulitkan pengembangan metode klasifikasi dan pencatatan yang dapat memberikan informasi penting guna pencegahan kecelakaan tanpa membuatnya menjadi terlalu rumit. Menurut Olii- Kamil (1996), jenis-jenis kecelakaan diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Kecelakaan dalam industri berdasarkan jenis kecelakaannya:
a. Orang jatuh
b. Tertimpa benda jatuh
c. Menginjak, melanggar atau terpukul benda diluar benda-benda jatuhan.
d. Terperangkap/terjepit
e. Kehabisan tenaga atau penggerakan yang terlampau lambat f. Terkena atau tersentuh benda panas
g. Terkena atau tersentuh arus listrik
h. Terkena atau tersentuh bahan-bahan yang merusak atau mengandung radiasi
i. Jenis- jenis kecelakan lain yang tidak terkelompok karena kekurangan data yang cukup
2. Kecelakaan dalam industri berdasarkan perantaranya:
a. Mesin
1) Mesin-mesin penggerak, kecuali motor listrik 2) Mesin transmisi
3) Mesin-mesin pengerjaan logam 4) Mesin-mesin kayu dan sejenisnya
5) Mesin pertanian 6) Mesin pertambangan
7) Mesin-mesin lain yang tak terkelompokkan b. Alat-alat angkutan dan peralatan terkelompokkan
1) Mesin pengangkat dan peralatannya 2) Alat-alat angkutan yang menggunakan rel
3) Alat-alat angkutan beroda lainnya, diluar kereta api 4) Alat-alat angkutan udara
5) Alat-alat angkutan air 6) Alat-alat angkutan lainnya c. Peralatan lain
1) Alat-alat bertekanan tinggi 2) Tanur, tungku dan kilang 3) Alat-alat pendingin
4) Instalasi-instalasi listrik, termasuk motor listrik, diluar perkakas dengan bertenaga listrik
5) Tangga, tangga berjalan 6) Perancah (scalfolding)
7) Perantara lain yang tidak terkelompokkan d. Material, bahan-bahan dan radiasi
1) Bahan peledak
2) Debu, gas, cairan dan bahan kimia diluar peledak 3) Keping-kepingan terbang
4) Radiasi
5) Material dan bahan lainnya yang tidak terkelompokkan e. Lingkungan kerja
1) Diluar bangunan 2) Di dalam bangunan 3) Di bawah tanah
3. Kecelakaan dalam industri berdasarkan sifat yang diakibatkannya a. Patah tulang
b. Keseleo dan kejang-kejang
c. Geger otak dan luka dalam lainnya d. Amputasi dn enukleasi
e. Luka-luka luar f. Memar dan retak g. Luka bakar h. Keracunan akut
i. Dampak akibat cuaca, cahaya dan kodisi sejenis j. Sesak nafas
k. Akibat arus listrik l. Akibat radiasi
m. Luka majemuk dengan sifat yang berbeda-beda n. Luka-luka lain yang tak terkelompokkan
4. Kecelakaan dalam industri berdasarkan lokasi tempat luka-luka pada tubuh a. Kepala
b. Leher
c. Badan d. Lengan e. Kaki
f. Luka umum
g. Luka pada lokasi tubuh yang tak terkelompokkan 2.3.3 Penyebab Kecelakaan Kerja
Kecelakaan tidak terjadi kebetulan, melainkan ada sebabnya. Oleh karena ada penyebabnya, sebab kecelakaan harus diteliti dan ditemukan, agar untuk selanjutnya dengan tindakan korektif yang ditujukan kepada penyebab itu serta dengan upaya preventif lebih lanjut kecelakaan dapat dicegah dan kecelakaan serupa tidak terulang kembali (Suma’mur, 2009).
Kecelakaan kerja disebabkan oleh dua fakor yaitu : 1. Faktor Mekanis dan Lingkungan
Yaitu segala faktor yang menyangkut mesin dan peralatan-peralatan yang digunakan pada suatu pekerjaan tertentu serta segala kondisi potensi bahaya yang berada di lingkungan suatu tempat kerja yang berkontribusi terhadap terjadinya suatu kecelakaan kerja.
2. Faktor manusia
Yaitu segala faktor yang menyangkut tindakan para pekerja dalam melakukan pekerjaannya yang cenderung mengabaikan prosedur kerja yang telah ditetapkan terhadap suatu pekerjaan tertentu sehingga menimbulkan potensi bahaya kecelakaan kerja pada dirinya dalam pekerjaannya (Suma’mur, 2009).
2.3.4 Dampak Kecelakaan Kerja Dampak Kecelakaan Kerja
Berikut ini merupakan penggolongan dampak dari kecelakaan kerja yaitu:
a. Meninggal dunia, merupakan akibat kecelakaan yang paling fatal yang menyebabkan penderita meninggal dunia walaupun telah mendapatkan pertolongan dan perawatan.
b. Cacat permanen total, yaitu cacat yang mengharukan penderita secara permanen tidak mampu lagi melakukan pekerjaan produktif karena berfungsinya salah satu bagian-bagian tubuh seperti: kedua mata, satu mata dan satu tangan atau satu lengan atau satu kaki.
c. Cacat permanen sebagian, yaitu cacat yang mengakibatkan satu bagian tubuh hilang atau terpaksa dipotong atau sama sekali tidak berfungsi.
d. Tidak mampu bekerja sementara ketika dalam masa pengobatan maupun karena harus beristirahat menunggu kesembuhan.
Selain dampak langsung diatas, ada juga dampak kecelakaan kerja secara tidak langsung, seperti dampak psikologi dan psikososial berupa kegelisahan (Buntarto, 2015).
2.4 Perusahaan Gas Negara
PT PGAS Solution merupakan anak perusahaan dari PT PGN yang menjaga dan memelihara seluruh jaringan pipa milik PGN, baik yang ada di darat maupun di laut. PT PGAS Solution tidak lepas dari kerja sama antara Perusahaan dengan pelanggan dan semua sumber daya yang di miliki, oleh karena itu kesejahteraan karyawan dan kepuasan pelanggan senantiasa menjadi prioritas. PT PGAS Solution berkomitmen untuk terus mendorong dan mengeksplorasi
kemampuan, memprioritaskan kerjasama tim agar berat dipikul bersama, demi lompatan sukses yang signifikan di masa depan.
PT PGAS Solution merupakan salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang sangat mengutamakan perlindungan terhadap karyawan di tempat kerja dengan menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) sesuai dengan amanat Undang – Undang No. 13 Tahun 2003 pasal 87 ayat 1 tentang Ketenagakerjaan yang selanjutnya diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 50 tahun 2012 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan kerja Kerja (SMK3).
PT PGAS Solution menjaga dan mengoperasikan seluruh jaringan pipa gas milik PGN, baik yang berada di darat maupun berada di dasar laut. PGN selalu berusaha untuk menghadirkan rasa aman kepada masyarakat, dan dimanapun terdapat pipa milik PGN masyarakat tidak merasa terancam. PGN memiliki standar pelayanan respon timen terhadap pengaduan dari pelanggan ialah 1 x 24 jam. Oleh karena itu secara rutin melakukan pengecekan melalui kompetensi PT PGAS Solution, yaitu:
1. Patroli dan Survey Kebocoran Jaringan Pipa dan Fasilitasnya 2. Operasi dan Pemeliharaan Proteksi Katodik
3. Operasi dan Pemeliharaan Sistem Bak Valve
4. Operasi dan Pemeliharaan Metering Regulating Station 5. Operasi dan Pemeliharaan Off-Take (Stasiun Gas) 2.4.1 Ruang Terbatas (Confined Space)
Tempat kerja ialah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja bekerja, atau yang sering dimasuki
tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan di mana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya, termasuk tempat kerja ialah semua ruangan, lapangan, halaman dan sekelilingnya yang merupakan bagian-bagian atau yang berhubungan dengan tempat kerja tersebut (UU Nomor 1 Tahun 1970 Pasal 1).
a. Definisi Ruang Terbatas (confined space)
Dengan mengacu kepada OSHA General Industry Definition (29 CFR 1910.146), secara umum, ruang terbatas adalah ruang yang cukup besar dimana seorang pekerja dapat memasukinya sebagian atau seluruh badannya kedalam ruang tersebut dan mengerjakan tugasnya disana. Ruang terbatas (confined space) juga mempunyai keterbatasan dalam jalur masuk maupun keluar, yang tidak dirancang untuk tempat tinggal atau keadaan dimana satu atau lebih tanda-tanda berikut ini :
1) Kurang atau tidak tersedianya ventilasi secara alami atau secara mekanis
2) Ventilasi alami yang tidak bagus, sehingga udara yang mengalir adalah udara yang kotor atau udara yang berpotensi mengendapnya gas berbahaya atau beracun.
3) Potensi kurangnya kandungan oksigen di dalam udara ruang terbatas.
4) Adanya udara yang dapat terbakar atau meledak di dalam ruang terbatas.
5) Adanya konsentrasi pencemar udara.
6) Adanya kemungkinan terjadi bahaya terlepasnya energi secara tidak terduga.
7) Tersimpannya produk yang mempunyai sifat tidak stabil dalam ruangan.
8) Tertutupnya atau terhambatnya jalur masuk atau keluar, seperti halnya tangki, sumur, bejana proses atau boiler, galian,terowongan, ruang bawah tanah, parit air
kotor, dan lain-lain
9) Lepasnya energi secara tidak terduga.
10) Sifat tidak stabil dari bahan-bahan yang tersimpan
Adapun yang termasuk confined space adalah: tangki, lubang masuk (manhole), saluran air kotor bawah tanah (sewers), ketel pemanas (boilers), tungku pembakaran, bak (bins/corong penuang hoppers), ruangan besi, pipa, parit, terowongan, saluran udara.
Ruang terbatas (confined space) merupakan ruangan yang commit to user didesain memiliki tempat masuk terbatas dan tempat keluar terbatas, ventilasi alami yang kurang baik yang dapat mengandung dan menghasilkan kontaminan udara berbahaya, dan tidak dimaksudkan sebagai hunian pekerja secara terus menerus (National Institute for Occupational Safety and Health atau NIOSH).
Direktorat Pengawasan Norma Keselamatan Kesehatan Kerja, (2006) menyebutkan bahwa ruang terbatas (confined space) berarti ruangan yang :
1) Cukup luas dan memiliki konfigurasi sedemikian rupa sehingga pekerja dapat masuk dan melakukan pekerjaan di dalamnya
2) Mempunyai akses keluar masuk
b. Kategori Ruang Terbatas (confined space)
Ada dua kategori ruang terbatas menurut HSE Corporate, 2010, yaitu : 1) Ruang terbatas dengan keharusan mempunyai izin masuk yang mempunyai sifat antara lain:
a) Berisi atau berpotensi menyimpan udara yang berbahaya, seperti kekurangan
maupun terlalu tinggi kadar oksigen, adanya udara beracun ataupun yang bersifat iritasi terhadap manusia.
b) Berisi bahan yang berpotensi menghambat jalur masuk/keluar.
c) Mempunyai bentuk tertentu yang dapat membuat seseorang yang masuk terperangkap di dalamnya atau terhimpit dinding atau lantai yang miring ke bawah dan berpotensi terdorong masuk ke dalam lubangnya seperti galian tanah.
d) Berisi bahan-bahan atau peralatan yang berbahaya secara fisik seperti peralatan mekanikal, listrik, cairan atau gas, panas atau dingin, atau bahan-bahan yang juga berbahaya untuk kesehatan.
Seluruh izin masuk yang dikeluarkan harus disertai dengan tanda-tanda yang dipasang di sekitar jalan masuk dan keluar sehingga dapat mencegah orang yang tidak mempunyai izin secara tidak sengaja memasuki Ruang Tertutup tersebut.
2) Ruang terbatas tanpa diperlukan izin masuk yang mempunyai sifat tidak mengandung zat- zat berbahaya tetapi terdapat benda-benda yang dapat menyebabkan kematian atau cedera berat, seperti halnya jatuhnya plafon atau benda bergerak.
Yang dimaksud dengan terbatasnya jalan masuk dan keluar adalah:
a) Lubang terbuka untuk masuk – keluar dengan garis tengah terkecil 18 inchi.
b) Sulit untuk dimasuki dengan menggunakan peralatan pernafasan tabung udara atau alat bantu pertolongan yang lainnya (life saving equipment).
c) Sulit untuk mengeluarkan commit to user pekerja yang tidak berdaya di dalam
d) Sulit untuk keluar dari lubang terbuka yang lebar dikarenakan adanya tangga, alat angkat dan lain-lain.
c. Keselamatan Ruang Terbatas
Keselamatan ruang terbatas yaitu mencakup ruang lingkup tentang syarat-syarat prosedur dan kegiatan yang harus dilakukan dalam upaya melindungi bekerja dari bahaya saat memasuki dan bekerja didalam ruang terbatas yang memerlukan ijin khusus. Hal tersebut berlaku untuk semua orang yang mengurus memasuki dan bekerja di ruang terbatas (Tarwaka, 2012).
d. Identifikasi potensi bahaya
Setelah dapat ditentukan bahwa suatu pekerjaan termasuk kategori ruang terbatas, maka perlu dilakukan identifikasi potensi bahaya. Bahaya-bahaya yang mungkin terkait dengan pekerjaan dalam ruang terbatas menurut HSE Corporate, 2010 adalah :
1) Bahaya energi mekanis (mixers, crushers).
2) Kekurangan atau kelebihan oksigen <19,5% atau >23,5%.
3) Cairan, gas dan uap mudah terbakar (metana, hidrogen, asetilen, propana, dan lain-lain).
4) Cairan, gas dan uap beracun : karbon monoksida, hydrogen sulfida, asap dari pengelasan, bahan yang bersifat merusak (korosi), air raksa.
5) Bahan Radioaktif: Instrumen, Normally Occuring Radioactive Material (NORM).
6) Endapan besi sulfide.
7) Bahaya listrik.
8) Kebisingan atau getaran.
9) Bahaya permukaan (licin, tersandung, jatuh).
10) Pekerjaan di ruang terbatas sering kali, termasuk pemanjatan, bekerja di lingkungan yang sulit, berdiri pada permukaan lantai yang licin.
11) Suhu atau kelembaban ekstrem.
12) Tertutupnya jalan masuk/keluar.
13) Bahaya listrik statis.
14) Masuknya bahan berbahaya melalui saluran atau pipa.
15) Runtuhnya galian.
16) Permukaan licin, tersandung dan jatuh dari ketinggian.
17) Potensi benda-benda jatuh (perhatian khusus harus dilakukan untuk menghindari cedera dikarenakan benda-benda jatuh).
18) Ketegangan karena panas (sering beristirahat dan banyak minum air).
19) Asap (uap logam) dari las potong las listrik (sediakan ventilasi yang mencukupi selama pekerjaan pemotongan dan pengelasan berlangsung).
Kumpulan uap berbahaya dan uap logam dapat menimbulkan gas inert (gas mulia) yang dapat membuang commit to user oksigen dari tempat itu.
Menurut (Tarwaka, 2012) menyebutkan bahwa jenis pekerjaan yang menyebabkan orang memasuki ruang terbatas antara lain :
1) Pemeliharaan (pembersihan, pencucian)
2) Pemeriksaan
3) Pengelasan, pelapisan dan pelindung karat..
4) Perbaikan
5) Penyelamatan dan memberikan pertolongan kepada pekerja yang cidera atau pingsan dari ruang terbatas, dan
6) Jenis pekerjaan lain yang mengharuskan masuk ke dalam ruang terbatas.
e. Peralatan mauk ruang terbatas
Peralatan yang dipakai untuk pekerjaan di ruang terbatas menurut HSE Corporate, 2010 adalah peralatan khusus yang harus disediakan untuk para pekerja, dirawat seefektif mungkin dan dipakai dengan cara yang benar.
Bermacam- macam peralatan khusus diperlukan dan dipakai untuk mengevaluasi dan mengendalikan bahaya-bahaya di dalam ruang terbatas.
Peralatan-peralatan itu umumnya terdiri dari system ventilasi, instrumen penguji mutu udara, peralatan komunikasi, peralatan pernafasan dengan tanki udara, peralatan penyelamatan darurat, peralatan pelindung diri, lampu jalan tahan ledakan (portable explosion- proof lighting), penghalang dan tameng (protective barriers and shields) jika terdapat bahaya kebocoran radiasi dari instrumen, tangga dan peralatan panjat.
Peralatan listrik atau elektronik seperti kipas listrik, instrumen penguji, lampu jalan harus sesuai dengan ketentuan lokasi (classified locations) seperti yang ditetapkan pada National Electrical Code (NEC), diharuskan tahan percikan dan tahan ledakan.
Ruang terbatas (confined space) merupakan salah satu tempat yang memiliki potensi bahaya besar, diperlukan upaya-upaya pengendalian terhadap potensi bahaya yang ada pada ruang terbatas sehingga tenaga kerja dapat masuk dan melakukan pekerjaan dengan aman..
1) Isolasi energi
Setiap pekerja yang akan memasuki ruang terbatas, diharuskan mematikan/menonaktifkan segala macam jenis energi yang ada. Tujuan dari menonaktifkan energi ini ialah :
a) Pencegahan kecelakan melalui isolasi energi berbahaya terhadap pekerja yang dapat terpapar langsung dari energy berbahaya tersebut.
b) Sebagai bukti pelaksanaan isolasi energi berbahaya yang benar.
c) Dihilangkannya kemungkinan ketidak sengajaan atas pengaktifan energi berbahaya yang dapat berkontak langsung dengan pekerja. (HSE Corporate,2010).
2) Ventilasi
Sisa gas yang masih ada di dalam ruang terbatas itu selanjutnya harus dibersihkan dengan cara menghembus dengan udara, menghisap dengan kipas hisap melalui bagian yang terbuka di atas dan di bawah dari ruang terbatas itu.
Jenis Ventilasi :
a) Ventilasi Alami : Penggunaan arus udara alami untuk menggerakan udara melalui suatu ruang
b) Ventilasi Mekanis : Pergerakan udara yang disebabkan oleh penggunaan kipas atau alat penggerak udara mekanis lain (HSE Corporate, 2010).
3) Mengukur udara dalam ruang terbatas
Setelah dilakukan pembersihan/pengkosongan gas dalam ruang terbatas, sebelum orang diizinkan masuk, harus dilakukan dalam ruang terbatas. Uji seluruh tempat ruang terbatas (atas, tengah bawah) karena kemungkinan terperangkapnya gas di bagian-bagian tertentu dalam ruang terbatas mengingat commit gas to metana user lebih ringan dari udara, hidrogen sulfida lebih berat dari udara, risiko kekurangan oksigen. Pengujian gas dilakukan (disaat awal dan secara terus menerus) untuk memastikan tidak adanya uap atau gas yang bisa menimbulkan bahaya.
Pekerjaan tidak diizinkan jika ditengarai ada kandungan gas atau ada potensi timbulnya kandungan gas yang dapat menimbulkan kebakaran/ledakan, pencemar udara yang beracun atau berbahaya. Langkah pengamanan tertentu harus diambil untuk pekerjaan pembersihan tangki/vessel atau penggantian saringan bahan bakar (fuel filter), dikarenakan kemungkinan adanya residu yang mengandung pyrophoric (Oxides/Iron Sulfides) yang dapat terbakar dengan sendirinya jika bercampur dengan udara dalam keadaan kering.
Semua area dari ruang kerja harus benar-benar diuji sebelum pekerjaan dimulai di dalam suatu ruang terbatas. Udara normal memiliki kerapatan (density) sebesar 1,0. Gas yang lain mengacu pada suatu angka yang lebih tinggi atau lebih rendah daripada udara normal.
4) Alat pelindung diri
Mengacu kepada Occupational Safety & Health Administration (OSHA) General Industry Standards tentang perlunya alat pelindung diri jika ada
kemungkinan cedera pada anggota badan. Tetapi, commit to user alat pelindung diri baku seperti sarung tangan, topi pelindung kepala, peralatan pernafasan, baju kerja (coverall), penutup telinga, sepatu pelindung, kacamata keselamatan dan yang lain-lainnya tidak bisa menghilangkan bahaya, peralatan itu hanya berfungsi untuk mengurangi akibat dari bahaya yang bisa menimpa pemakai alat pelindung diri tersebut.
Semua peralatan harus dijaga tingkat kemampuannya sebagai pelindung seperti aslinya dan pemeriksaan berkala untuk mengetahui kerusakan seperti retak, pecah, robek, lapuk, dan kehilangan bagian-bagiannya yang dapat menurunkan keefektifan peralatan tersebut.
Khusus untuk pekerjaan di ruang terbatas, peralatan pernafasan mungkin diperlukan apabila udara di dalam ruangan itu berbahaya atau beracun yang membahayakan pekerja seperti pasokan udara bersih melalui selang (hose), masker dan peralatan pernafasan dengan tangki udara. Disamping itu, alat pelindung diri tambahan yang diperlukan untuk keperluan komunikasi dan pertolongan harus juga disediakan.
g. Persyaratan kesehatan
Persyaratan kesehatan untuk orang yang berada di ruang terbatas (Tarwaka, 2012) menjelaskan bekerja di ruang terbatas memberikan tekanan fisik dan psikologis, pengurus wajib memastikan petugas yang bekerja di ruang terbatas dalam keadaan sehat secara fisik dan psikologis dan dinyatakan oleh dokter bahwa petugas tersebut tidak memiliki riwayat :
1) Sakit sawan atau epilepsi
2) Penyakit jantung atau gangguan jantung 3) Asma atau sesak napas
4) Gangguan pendengaran 5) Sakit kepala
6) Klaustropobia, atau gangguan mental lainnya 7) Gangguan atau sakit tulang belakang
8) Kecacatan penglihatan permanen
9) Penyakit lainnya yang dapat membahayakan keselamatan kerja di ruang terbatas
h. Tata cara sebelum memasuki ruang terbatas
1) Seluruh saluran, termasuk saluran pembuangan yang terhubung dengan ruang tertutup harus diperiksa sesuai dengan kemungkinan adanya bahaya-bahaya.
Seluruh saluran pembuangan dalam keadaan tertutup atau terisolasi.
2) Hanya lampu senter yang sudah diklasifikasikan aman atau lampu gantung dengan kabel berisolasi tebal.
3) Setiap pekerja yang akan bekerja di dalam ruang tertutup diharuskan membaca tata cara memasuki ruang tertutup.
4) Setiap pekerja yang memasuki ruang tertutup harus mengenakan seluruh APD yang diperlukan.
5) Sebelum membuka tutup lubang (man hole) dari ruang tertutup, keadaan udara disekitarnya harus di pantau terlebih dahulu (HSE Corporate, 2010).
2.4.2 Bak Valve
Valve adalah sebuah katup. Bak Valve adalah tempat penampung valve - valve yang terpasang dibawah tanah dan berfungsi sebagai penyalur 3 (tiga) tekanan gas yang berbeda terdiri dari tekanan gas tinggi, menengah dan rendah.
Tekanan gas tersebut didistribusikan kepada konsumen yang bergerak di bidang industri dan rumah tangga. Valve adalah sebuah alat yang mengatur aliran tekanan gas dengan menutup, membuka atau menghambat sebagian dari jalannya aliran gas.
Petugas Bak Valve terdiri dari 4 tim dengan 1 tim terdiri dari 3 orang. Bak Valve tersebar sebanyak 200 titik di seluruh kota Medan. Jam kerja Petugas Bak Valve dimulai dari jam 08.00-17.00 WIB pada hari kerja yaitu hari Senin sampai dengan hari Jumat.
2.4.3 Tahapan Pekerjaan Petugas Bak Valve
1. Pastikan fungsi OPEL sub wilayah membuat jadwal pemeliharaan valve dan Bak Valve.
2. Pastikan personil menggunakan peralatan dan APD yang sesuai.
3. Pasang rambu-rambu (segitiga pengaman) di sekitar lokasi kerja.
4. Gas Control harus sudah diinformasikan sebelum mengoperasikan valve yang dapat mempengaruhi aliran gas. Petugas yng bertanggung jawab terhadap fasilitas pipa serta pengukuran volume gas yang juga harus diinformasikan.
5. Pastikan kondisi sekitar Bak Valve aman, terutama lalu lintasnya.
6. Buka tutup Bak Valve menggunakan chain block dan tripod/craine.
7. Periksa kondisi Bak Valve, cek secara umum apakah tidak ada yang rusak atau bocor/bolong/ada embesan air tanah, berlumut. Untuk daerah tertentu, periksa apakah lokasi bak dilintasi oleh kendaraan berat.
8. Periksa kondisi secara visual, dari kemungkinan terjadinya kebocoran, korosi, atau kondisi lain yang dapat mempengaruhi pengoperasian valve.
9. Periksa kondisi mastic.
10. Periksa bagian flensa valve, pastikan tidak ada kebocoran.
11. Pastikan valve dapat berfungsi dengan memutar tuas valve perlahan-lahan, kemudian kembalikan posisi semula. Bila perlu tambahkan sealant.
12. Valve diinspeksi dan di pelihara sesuai dengan petunjuk dari pabrikan.
13. Pastikan kondisi valve tidak terendam air.
14. Dokumentasikan kondisi sebelum dan sesudah pemeliharaan.
15. Setelah pekerjaan selesai Gas Control dan petugas terkait harus diinformasikan bahwa pekerjaan telah selesai.