Abstrak— Surabaya, kota terbesar ke dua di Indonesia setelah Jakarta yang mana telah mendapatkan banyak piala penghargaan tentang lingkungan hidup baik Adipura, Adiwiyata, Anugerah Parahita Ekapraya dll, namun banyaknya prestasi lingkungan di Surabaya tidak di imbangi oleh perilaku moralitas dari warga Surabaya sendiri, dengan banyaknya para remaja, wanita pada khususnya sudah tidak perawan, lalu penjambretan dan pencurian yang merebak di Surabaya.
Surabaya butuh wadah, sebuah oase di dalam kegersangan jiwa warga Surabaya. Hal ini yang mendasari terbentuknya ide untuk membangun Rumah Sufi Surabaya, bangunan yang menyediakan tempat untuk masyarakat yang ingin belajar tentang agama Islam lebih dalam dan beribadah sholat pula tentunya.
Hal yang diutamakan pada bangunan ini ialah memberi kesan pada bangunan, menciptakan suasana yang mana seolah-olah bangunan ini berbicara, sehingga segala sesuatunya memiliki makna dan para pengunjung dapat mengevaluasi dirinya masing- masing.
Kata Kunci— Instropeksi, Tasawuf, Ornamen, Sufi, Islam
I. PENDAHULUAN
Surabaya, kota terbesar ke dua di Indonesia setelah Jakarta yang mana telah mendapatkan banyak piala penghargaan tentang lingkungan hidup baik Adipura, Adiwiyata, Anugerah Parahita Ekapraya dll, namun banyaknya prestasi lingkungan di Surabaya tidak di imbangi oleh perilaku moralitas dari warga Surabaya sendiri, dengan banyaknya para remaja, wanita pada khususnya sudah tidak perawan, lalu penjambretan dan pencurian yang merebak di Surabaya.
Surabaya butuh wadah, sebuah oase di dalam kegersangan jiwa warga Surabaya. Hal ini yang mendasari terbentuknya ide untuk membangun suatu bangunan yang menjadi tempat para warga Surabaya untuk menata perilaku. Manusia terdiri dari 2 unsur jasmani dan rohani, bila jasmani membutuhkan makanan dan minuman agar sehat, maka rohani memerlukan pula, bila makanan dan minuman bisa didapat di rumah makan, dimana kita dapat asupan untuk rohani?
Melihat fenomena yang terjadi di masyarakat Surabaya tersebut, penulis ingin merancang sebuah tempat yang mana sebagai tempat warga Surabaya yang hendak belajar ilmu agama, khususnya Islam lebih dalam serta menyediakan tempat ibadah yang layak bagi Surabaya.
Gambar 1: Siteplan Objek rancang Rumah Sufi Surabaya
Gambar 2: Perspektif Objek rancang Rumah Sufi Surabaya
Gambar 3: Perspektif Objek rancang Rumah Sufi Surabaya
Penerapan Tema pada Ornamen dalam Merancang Rumah Sufi Surabaya
Dyan Wijasena, dan Achmad Maksum
Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
E-mail: [email protected]
II. URAIAN A. Tinjauan Objek
Rumah Sufi Surabaya merupakan sebuah rancangan yang menghadirkan suatu kumpulan manusia yang berlatar belakang agama Islam, yang hendak beribadah . Selain itu bangunan ini juga mamfasilitasi tempat baca dan tempat untuk berbagi ilmu agama.
Mengapa Rumah Sufi?
Rumah dalam Hadits Qudsi, “Allah telah berfirman bahwa Qolbu mukmin Baitullah, yang mana Hati orang yang beriman ialah rumah Allah”
Sufi, Orang yang melakukan Tasawuf, dalam arti lebih sempitnya ialah orang yang yang mencari kebenaran atau tuhanNya, Keikhlasan dan kesungguhan mereka untuk mengenali diri mereka sendiri dan kemudian mengenali Allah.
Jadi Rumah Sufi Surabaya ialah tempat bagi orang yang ingin bersungguh-sungguh mencari jati dirinya melalui sholat dan tukar pikiran dengan sesama, agar selalu ikhlas dengan apa yang terjadi dengan dirinya yang terletak di Surabaya.
B. Tinjauan Tema
Tema yang digunakan dalam objek rancangan Rumah Sufi Surabaya ini adalah menggunakan pendekatan tentang judul tugas akhir, yang mana diambil dari salah satu penggalan syair tokoh sufi Jalalludin Rumi, yaitu
In Silence there is eloquence. Stop weaving and see how the pattern improves
- Jalaludin Rumi -
Sepotong dari syair Jalaludin Rumi, yang mana menujukan bahwasannya segala apapun yang ada di dunia ini dapat berbuat sesuatu dan menunjukan sesuatu.
Pada dunia tasawuf, terdapat 3 tingkatan yang mana terdiri dari, Islam, Iman, dan Ihsan. yang mana memiliki bagian tersendiri pada bangunan.
• Islam ----> Wujud ----> terdapat pada ruang
• Iman ----> Kepercayaan ----> individu diri sendiri
• Ihsan ----> Tak berwujud ----> terdapat pada susana Pada bangunan hal yang dapat dilakukan ialah menggabungkan antara sesuatu yang berwujud dan tidak berwujud, guna meningkatkan rasa percaya terhadap tuhannya.
Dengan pemikiran inilah, terbesit sebuah esensi dari melakukan dzikir dan tassawuf, yaitu kontemplasi yang mana esensi tersebut akan mendukung untuk menjadi tema rancang pada obyek rancang ini. Dengan tema “dalam diam terdapat kefasihan”, diharapkan obyek rancang dapat menciptakan ikatan emosi antara obyek rancang itu sendiri dengan para pelaku
Frasa in silence there is eloquence (dalam diam terdapat kefasihan) memiliki struktur bahasa yang memudahkan untuk menginterpretasikan interaksi fisik antara manusia dengan bangunan.
Gambar 4: Menara berornamen sebagai penanda
Gambar 5: Dinding berornamen
Gambar 6: Tempat parkir mobil Rumah Sufi Surabaya
Gambar 7: Perspektif Rumah Sufi Surabaya dari atas jembatan penyeberangan
Penggunaan Ornamen sebagai dasar penjabaran tema, yang mana penulis menggunakan Ornamen Islam sebagai dasar pembentukan bangunan ini, dipilih ornamen dikarenakan sebagai ciri khas sebuah bangunan ini, selain itu pula untuk mewujudkan rasa Islam pada bangunan ini.
Ornamen merupakan sebuah seni yang menimbulkan persepsi indera pada manusia:
Orang yang orang melihatnya akan bertanya.
Orang yang menyentuhmya dapat merasakan teksturnya.
Orang yang membaunya dapat mengingatkan memori- memori yang ia lupa.
Orang akan mengerti bahwa bangunan pun selalu bersuara, bahkan bangunan bisa terasa kosong, bila tanpa pernak-pernik yang menghias.
Ornamen menjadi aspek penting dalam bangunan ini karena dengan ornamen bangunan memiliki sesuatu yang dapat merubah keadaan seseorang yang ada di dalamnya maupun disekitarnya dari hasil mengamati keadaan atau suasana pada bangunan tersebut.
Adapun interprestasi sifat yang didapat perancang terhadap tema “dalam diam terdapat kefasihan” adalah sebagai berikut:
Menciptakan Atmosphere:
Dalam buku yang berjudul Atmosphere karya Peter Zumthor, hal-hal yang terkait dalam penciptaan suasana ialah:
Material Compability:
Menjelaskan tentang material menghadirkan sesuatu pada bangunan, akan selalu ada perasaan yang berbeda pada setiap perubahan yang terjadi pada material. Satu material pun bisa menimbulkan perasaan yang ber macam macam. Sebagai arsitek harus bisa memiliki kepekaan yang luar biasa terhadap kehadiran dan berat material
Sound of Space :
Interior diibaratkan seperti instrumen yang sangat besar, interior menerima, menguatkan suara, dan meruahnya ke berbagai macam arah. Suara yang timbul juga tergantung pada bentuk dan permukaan bidang pada tiap ruang. Perbedaan suara bisa memunculkan kenangan dan mood. Seperti suara di dapur saat ibu memasak, suara pergeseran batu kerikil yang terinjak saat berkunjung ke rumah nenek yang terjadi pada masa kecil akan bisa mengingatkan kenangan saat suara yang sama muncul.
Perbedaan suara saat memasuki bangunan bisa menimbulkasn perasaan yang beragam, saat memasuki ruangan yang kedap suara yang menimbulkan keheningan akan terasa sangat menyenangkan, karena pada zaman sekarang terasa sangat susah karena dunia semakin ramai. Ini adalah tentang bagaimana mengatur suara yang terjadi, saatsedang berjalan, berbicara atau sedang mengobrol.
The Temperature of Space:
Material sedikit atau banyak sangat mempengaruhi kehangatan pada tubuh kita. Seperti materialyang terbuat dari logam bersifat dingin, bisa menurunkan temperature.
Gambar 8: Dasar pembuatan ornamen
Gambar 9: Pola pengambila ornamen yang akan berulang
Gambar 10: Contoh pola yang menggunakan hiasan berbentuk mawar
Gambar 11: Contoh pola yang menggunakan segitiga dan segi enam
Gambar 12: Peter Zumtor dan bukunya Atmospheres
Surrounding of Objects :
Objek objek disekeliling juga bisa memunculkan suatu suasana.
Bagimana objek objek di sekitar bisa memunculkan suatu kesan, seperti buku bukuyang bagus atau alat musik yang diletakkan pada suatu ruang akan bisa meningkatkan kesan yang baik pada ruangan itu
Between Composure and Seduction :
Ini tentang cara arsitektur melibatkan pola pergerakan dalam merancang, tentang bagaimana mengatur tata letak ruang dan mengundang orang untuk menghampirinya.
Memikirkan tentang pergerakan manusia, memberi kebebasan pada pola gerak tetapi tidak secara langsung mengarahkan, tetapi bagaimana bisa mengundang orang untuk menghampirinya
Tension Between Interior & Exterior :
Transisi yang tidak terasaantara interior dan eksterior sehingga tiba tiba sadar telah ternaungi oleh bangunan, façade seperti berbicara ke lingkungan tapi juga punya sesuatu yang disembunyikan. Bangunan selalu mengemukakan kesan apa yang ditunjukkan pada lingkungan sekitar
Levels of Intimacy :
Tentang kedekatan dan jarak, sesuatu yang lebih dari sekedar skala dan dimensi. Tentang bagaimana membuat kesan yang akan dimunculkan terhadap ukuran, dmensi masa bangunan
Architectural of Surrounding :
Bangunan menjadi bagian dari sekelilingnya, bangunan akan mejadi bagian dari hidup manusia, karena adanya pengalaman pengalaman yang terjadi saat ada di bangunan itu
Light of Things :
Tentang bagaimna perasaan terhadap cahaya, dimana jatuhnya, bayangan seperti apa yang akan muncul, permainan cahaya yang ditimbulkan oleh jenis permukaan,dan bagaimana mengatur cahaya. Merancang perletakan lampu lebih baik setlah memperhatikan bayangan yang dimunculkan oleh bangunan
C. Aplikasi Konsep Rancangan
Pengaturan pencahayaan
Cahaya tidaklah sekedar memberi arti terhadap ruang dalam arsitektur Islam, melainkan juga memainkan peran utama dalam pewarnaan ruangan dan suasana.
Penataan cahaya sangat ditentukan dalam pembangunan gedung utama, masjid. Yang mana, cahaya yang masuk kedalam masjid akan membentuk sebuah suasana, dan mampu meninggalkan kesan yang mendalam bagi pengguna masjid tersebut. Contoh, pemakaian kisi-kisi maupun roster akan memasukan cahaya yang berbeda, mungkin intensitasnya maupun kuatnya cahaya yang masuk, dengan cara memperhitungkan besaran dari kisi-kisi tersebut, sehingga ruangan akan menjadi berbeda-beda setiap jamnya, tergantung kondisi matahari dan letak matahari dan biasan cahaya menjadi penghias dinding alami.
Gambar 13: Hall utama bangunan
Gambar 14: Jalan masuk menuju bangunan utama lewat bawah
Gambar 15: Jalan masuk menuju bangunan utama lewat atas
Gambar 16: Jalan ditengah sebagai penghijauan
Penataan Penghawaan
Penggunaan kisi-kisi selain sebagai penataan cahaya juga digunakan sebagai ventilasi, yang mana bertujuan agar meminimalisir penggunaan AC dengan cara menggunakan kisi- kisi atau roster pada dinding-dinding masjid.
Penggunaan dua lapis dinding (dinding dalam dan dinding luar) hal ini bertujuan untuk mengontrol suhu, karena tereduksi di dinding luar, dan membantu melindungi zona interior masjid dari hujan maupun panas terik matahari
.
Penggunaan Patern (motif ) atau Ornamen
Penggunaan motif motif arab sebagai elemen detail akan menjadi hal yang sangat menarik, karena eleman motif atau ornamen arab yang sangat beragam dan sangat indah.
Penggunaan motif ini juga ada yang diiaplikasikan pada bidang yang berfungsi sebagai bukaan cahaya (dinding) sehigga refleksi bayangan yang timbul akan sesuai dengan motif yang ditampilkan, sehingga akan menimbulkan kesan.
Penggunaan pendekatan Islam sebagai dasar pembangunan Pembangunan masjid maupun bangunan penunjang yang lain didasari oleh hal-hal yang terkait dengan islam, misalnya, jumlah kolom ditentukan dari rukun iman dan rukun islam, balok yang menerus secara vertikal melambangkan hubungan dengan tuhan, balok horizontal melambang hubungan dengan manusia dsb.
Pemaksimalan penggunaan air
Masjid memerlukan lebih banyak air daripada bangunan agama lain karena ritual wudhu sebelum shalat. Dalam rangka untuk mengurangi konsumsi air maka megupayakan beberapa strategi hemat energi. Hujan air dan limbah air dari wudhu dikumpulkan sehingga air murni dapat digunakan kembali untuk menyiram kebun .
Fitur lain yang menggabungkan masjid untuk mengurangi konsumsi air rendah aliran toilet . Urinal tanpa air lagi , kran aliran rendah dan perlengkapan hemat air pipa semua berkontribusi untuk penghematan air . Air dikumpulkan dari air wudhu dan air hujan juga digunakan untuk flushes toilet .
III. KESIMPULAN
Bangunan merupakan sebuah ciptaan manusia, bangunan dapat memiliki rasa atau unik tergantung dengan apa yang terdapat pada bangunan tersebut atau bagaimana bangunan itu dibangun.
Penulis disini ingin menunjukan bahwa bangunan itu ialah benda yang hidup namun hidup dengan caranya sendiri, tergantung bagaimana para perancang bangunan itu membangun, entah dibiarkan ia berbicara lantang dengan pencahayaan yang sangat terang, atau dikesankan sangat ramah dengan banyaknya bukaan dan warna yang kelam atau dibuat tanpa emosi yaitu kosong tanpa isi.
Gambar 17: Penggunaan metode Cross Ventilation
Gambar 18: Penggunaan metode Chimney Effect
Gambar 19: Penggunaan metode Thermal Buffer Zone dan Reusable Water
Gambar 20: Penggunaan Ornamen pada dinding
UCAPANTERIMAKASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. Achmad Maksum, MT atas bimbingan beliau selama proses pengerjaan tugas akhir penulis. Penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh keluarga besar jurusan Arsitektur ITS.
DAFTARPUSTAKA
[1] Zumthor, Peter. 2006. Atmosphere. Bikhauser, Boston.
[2] Adler, David. 1999. Metric Handbook: Planning and Design Data. Architectural Press, Oxford.
[3] Critchlow, Keith. 1976. Islamic Pattern: An Analytical and Cosmological Approach Foreword by Seyyed Hossein Nasr. 30 Bloomsbury Street, London.
[4] Holod, Renata and Uddin Khan, Hasan. 1997. The Mosque and The Modern World. 30 Bloomsbury Street, London
[5] Istiqlal Mosque, Jakarta: Architect’s Record Form, 1986 [6] Zumthor, Peter. 2006. Thinking Architecture.
Bikhauser, Boston.
[7] Schulz-Dornburg , Julia. 2000. Art and Architecture – New Affinities.
[8] Pallasmaa, Juhani. 1994. The Eyes of the Skin.
[9] Merleau ponty, Maurice. 2006. Phenomenology and Perception.