ANALISIS TINDAK PIDANA PENIPUAN DALAM PENERIMAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL
(Studi Putusan Nomor :191/Pid/.B/2015/PN-LSM)
S K R I P S I
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada
Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
Oleh
Winda Asry 120200512
DEPARTEMEN HUKUM PIDANA
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
2
3
ABSTRAK
ANALISIS TINDAK PIDANA PENIPUAN DALAM PENERIMAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL
(Studi Putusan Nomor :191/Pid/.B/2015/PN-LSM)
Pegawai Negeri Sipil pada dasarnya berkedudukan sebagai pegawai negara, abdi negara dan abdi masyarakat yang dengan kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, negara dan pemerintah, menyelenggarakan tugas pemerintahan dan pembangunan.
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini pengaturan tindak pidana penipuan menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana penipuan terhadap penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil dan penerapan tindak pidana penipuan berdasarkan Putusan Nomor : 191/Pid.B/2015/PN-Lsm)
Jenis penelitian yang digunakan adalah hukum normatif yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif, yakni dengan melakukan analisis terhadap permasalahan dan penelitian melalui pendekatan terhadap asas-asas hukum yang mengacu pada norma-norma atau kaidah-kaidah hukum positif yang berlaku.
Tindak pidana penipuan diatur dalam Pasal 378 sampai dengan Pasal 394 KUHP. Sebagaimana dirumuskan Pasal 378 KUHP, penipuan berarti perbuatan dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum dengan memakai nama palsu, martabat palsu, tipu muslihat atau kebohongan yang dapat menyebabkan orang lain dengan mudah menyerahkan barang, uang atau kekayaannya.Faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana penipuan terhadap penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.Penerapan tindak pidana penipuan berdasarkan Putusan Nomor : 191/Pid.B/2015/PN-Lsm). Menjatuhkan pidana terhadap diri terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun.
Kesimpulan Faktor-faktor yang menjadi pertimbangan hakim dalam rangka Penjatuhan pidana terhadap PNS yang melakukan tindak pidana penipuan dsengan modus praktik percaloan. Dari segi sanksi pidana yang dijatuhkan menurut Penulis itu sangat ringan. Dimana sanksi pidananya yang hanya duatahun, itupun nantinya dikurangkan dengan masa penahanannya. Apalagi semestinya palaku adalah panutan, pelindung dan pengayom bagi masyarakat. Hal tersebut sama halnya dengan mengkhianati kepercayaan negara, institusinya, masyarakat, dan sumpahnya sendiri. Jadi sanksi yang dijatuhkan Majelis Hakim sangatah ringan.
Kata Kunci : Tindak Pidana, Penipuan, Calon Pegawai Negeri Sipil
*) Mahasiswa Fafultas Hukum USU
**) Dosen Pembimbing I
***)Dosen Pembimbing II
4
KATA PENGANTAR
Pertama-tama penulis menyampaikan rasa syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah SWT, atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Skripsi merupakan salah satu persyaratan bagi setiap mahasiswa untuk mencapai gelar sarjana hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Sehubungan dengan itu, disusun skripsi yang berjudul:Analisis Tindak Pidana Penipuan Dalam Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil(Studi Putusan Nomor :191/Pid/.B/2015/PN-LSM).
Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis telah mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara Medan.
2. Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, M.Hum selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
3. Prof. Dr. OK. Saidin, SH., M.Hum selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
4. Ibu Puspa Melati Hasibuan, SH, M.Hum selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
5. Bapak Dr. Jelly Leviza, SH., M.Hum selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
5
6. Bapak Dr. H.M. Hamdan, SH., MH, selaku Ketua Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
7. Ibu Liza Erwina SH., M.Hum selaku Sekretaris Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
8. Ibu Nurmalawaty, SH., M.Hum selaku Dosen Pembimbing I Penulis yang telah memberikan pengarahan dalam proses pengerjaaan skripsi ini.
9. Dr. M. Ekaputra, SH. M.Hum, selaku Dosen Pembimbing II Penulis yang telah memberikan pengarahan dalam proses pengerjaaan skripsi ini.
10. Seluruh staf pengajar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu khususnya dalam bidang hukum.
11. Kepada Ayah tercinta dan Ibunda yang selalu memberikan semangat dan motivasi untuk tidak patah semangat dalam menyelesaikan skripsi penulis yang selalu memberikan dukungan, arahan sebagai penyemangat dan doa yang tidak pernah putus-putusnya yang menjadi kekuatan penulis sehingga terselesaikanya skripsi ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada kita semua dan semoga doa yang telah diberikan mendapatkan berkah dari Tuhan dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca dan perkembangan hukum di negara Republik Indonesia.
Medan, September 2018 Penulis
Winda Asry 120200512
6
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... v
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6
D. Keaslian Penulisan ... 7
E. Tinjauan Kepustakaan ... 9
1. Perlindungan Hukum ... 9
2. Korban ... 9
3. Tindak Pidana ... 10
4. Pegawai Negeri Sipil ... 11
5. Prosedur Penerimaan Pegawai Negeri Sipil ... 11
F. Metode Penelitian ... 12
BAB II PENGATURAN HUKUM TINDAK PIDANA PENIPUAN MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA ... 15
A. Tindak Pidana terhadap Harta Benda ... 15
B. Tindak Pidana Penipuan ... 21
C. Jenis-jenis Tindak Pidana Penipuan ... 28
BAB III FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA TINDAK PIDANA PENIPUAN TERHADAP PENERIMAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL ... 31
7
A. Faktor Internal ... 31
B. Faktor Eksternal ... 33
BAB IV PENERAPAN TINDAK PIDANA PENIPUAN BERDASARKAN PUTUSAN NOMOR : 191/PID.B/2015/ PN-LSM) ... 35
A. Gambaran Kasus ... 35
1. Kronologi ... 35
2. Dakwaan ... 40
3. Tuntutan ... 40
4. Fakta Hukum ... 42
5. Pertimbangan Hakim ... 47
6. Putusan Pengadilan ... 48
B. Analisis Kasus ... 48
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ... 81
A. Kesimpulan ... 81
B. Saran ... 82
DAFTAR PUSTAKA ... 83 LAMPIRAN
8
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kejahatan di dalam masyarakat berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat itu sendiri, karena kejahatan merupakan produk dari masyarakat dan ini perlu ditanggulangi.1 Hal ini mengingat bahwa kejahatan tidak akan dapat hilang dengan sendirinya, sebaliknya kasus pidana semakin sering terjadi dan yang paling dominan adalah jenis tindak pidana terhadap harta kekayaan, khususnya yang termasuk didalamnya adalah tindak pidana penggelapan. ”Bahwa kejahatan terhadap harta benda akan tampak meningkat di negara-negara sedang berkembang. Kenaikan ini sejalan dengan perkembangan dan pertumbuhan ekonomi”.2
1 Kumanto Sunarto, Pengantar Sosiologi, (Jakarta: Akademika Presindo, 2000), hlm 187.
2 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Rajawali Press, 2005), hlm 2.
Dalam memelihara keselarasan hidup di masyarakat, diperlukan berbagai macam aturan sebagai pedoman dalam menjaga dan mengatur hubungan kepentingan individu maupun kepentingan masyarakat umum. Seiring dengan kemajuan di segala sektor menyebabkan berkembangnya kebutuhan masyarakat di berbagai bidang, sehingga semakin bertambah pula peraturan perundang- undangan yang diharapkan mampu untuk menyeimbangkan berbagai kebutuhan dan kepentingan setiap orang yang berbeda-beda dan bahkan saling bertentangan.
Dan pada akhirnya dapat menciptakan keamanan dan ketentraman di masyarakat.
9
Masyarakat, seiring dengan kemajuan yang dialami masyarakat dalam berbagai bidang, bertambah juga peraturan-peraturan hukum. Penambahan peraturan hukum itu tidak dapat dicegah, karena masyarakat berharap dengan bertambahnya peraturan tersebut, kehidupan dan keamanan bertambah baik walaupun mungkin jumlah pelanggaran terhadap peraturan-peraturan itu bertambah.3
Tindak pidana penipuan di Indonesia saat ini marak terjadi dan sering didengar. Himpitan ekonomi dengan gaya hidup yang semakin tinggi menjadi faktor utama terjadinya tindak pidana.Tindak pidana penipuan di negara Indonesia bukan hanya dilakukan oleh masyarakat biasa pada umumnya, akan tetapi jugapenegak hukum yang sejatinya merupakan penegak hukum, pengayom dan pelindung masyarakat, justru melakukan tindak pidana. Sungguh miris rasanya, seorang penegak hukum menjadi pelanggar hukum. Belum lagi kasus yang baru- baru ini terjadi, bahkan lebih parah, seorang ketua Mahkamah Konstitusi tertangkap tangan terlibat kasus suap. Hal ini mencerminkan bahwa betapa hancurnya, bobroknya moral penegak hukum di Indonesia. Jadi apa yang terjadi di Indonesia benar-benar jauh dari harapan bahwa seorang penegak hukum yang seharusnya menjadi teladan untuk masyarakat luas menjadi hilang wibawa karena tersandung kasus hukum.4
Kedudukan dan peranan Pegawai Negeri Sipil (selanjutnya disebut PNS) sebagai unsur aparatur negara yang bertugas sebagai abdi masyarakat, harus menyelenggarakan pelayanan secara adil kepada masyarakat, dengan dilandasi
3 Leden Marpaung, Asas – Teori – Praktik Hukum Pidana,(Jakarta: Sinar Grafika,2009), hlm 1
4Ibid
10
kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya disebut UUD 1945). Untuk dapat melaksanakan tugas dengan baik, maka pembinaan pegawai diarahkan untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) agar memiliki sikap dan perilaku yang berintikan pengabdian, kejujuran, tanggungjawab, disiplin serta wibawa, sehingga dapat memberikan pelayanan sesuai tuntutan perkembangan masyarakat.
Fenomena stabilnya kondisi ekonomi PNS, sekalipun tidak berlebihan menjadi daya tarik sendiri bagi para pencari kerja, sehingga sampai saat ini menjadi PNS masih merupakan pilihan sebagian besar para pencari kerja, mulai dari para pencari kerja dengan latar belakang pendidikan dasar sampai dengan pencari kerja yang berlatar belakang pendidikan sarjana. Setiap ada pembukaan lowongan kerja untuk menjadi PNS, berbondong-bondonglah orang yang berkompetisi untuk menjadi PNS.
Pegawai Negeri Sipil pada dasarnya berkedudukan sebagai pegawai negara, abdi negara dan abdi masyarakat yang dengan kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila dan UUD 1945, negara dan pemerintah, menyelenggarakan tugas pemerintahan dan pembangunan. Kelancaran penyelenggaraan tugas pemerintah dan pembangunan nasional sangat tergantung pada kesempurnaan pegawai negara. PNS yang ideal dalam upaya perjuangan dalam mencapai tujuan Pancasila, UUD 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah PNS yang profesional, berbudi pekerti yang luhur, berdaya guna, berhasil guna, sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur pegawai negara, abdi masyarakat
11
dan abdi negara dalam mewujudkan tata pemerintahan yang baik.5Untuk itu, PNS berperan sebagai pelaksana perundang-undangan di dalam melaksanakan tugas kedinasan. Pemberian tugas kedinasan kepada PNS pada dasarnya merupakan kepercayaan dari atasan yang berwenang, dengan harapan bahwa tugas itu akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.6
Penipuan itu sendiri adalah sebuah kebohongan yang di buat untuk keuntungan pribadi tetapi merugikan orang lain atau dapat pula disebut sebagai bentuk obral janji. Sifat umum dari obral janji itu adalah membuat orang lain menjadi keliru, dan oleh karena itu ia rela menyerahkan barangnya atau uangnya untuk sebuah kepentingan yang telah di janjikan kepada dirinya. Kejahatan penipuan itu termasuk materieel delict artinya untuk kesempurnaannya harus Pekerjaan sebagai PNS merupakan pekerjaan yang aman dan menjamin hari tua, sehingga sangat di minati oleh masyarakat luas. Sebagian masyarakat berpendapat bahwa masa depan hingga hari tuanya bersama keluarga akan terjamin apabila dapat menjadi seorang PNS, sehingga banyak sekali warga negara indonesia yang berlomba-lomba mendaftarkan diri guna mengikuti tes untuk menjadi seorang PNS. Namun untuk menjadi seorang PNS bukan lah hal yangmudah dan membutuhkan proses menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (selanjutnya disebut CPNS) terlebih dahulu,hal ini di jelaskan dalam Undang- Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (selanjutnya disebut UU ASN).
5 Mardiasmo. Kebijaksanaan Desentralisasi Dalam Rangka Menunjang Pembangunan Daerah dalam Pembangunan Administrasi Indonesia. (Jakarta: LP3ES, 2006) hlm.23.
6 Maidin,Aspek Hukum Pegawai Negeri Sipil, (Bandung: Refika Aditama,2012),hlm.21.
12
menjadi akibatnya.7
B. Rumusan Masalah
Banyaknya pelamar-pelamar yang menginginkan pekerjaan sebagai PNS inilah yang membuat sebagian dari CPNS menempuh berbagai cara untuk menjadi PNS. Mulai dari jalan yang formal dengan mengikuti tes penerimaan CPNS dengan mengandalkan kemampuan masing-masing hingga mencari koneksi yang ada di jajaran pemerintahan agar mereka dapatdi terima sebagai CPNS.Berbagai penyimpangan dan pelanggaran hukum terjadi disetiap sendi kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah kasus penipuan yang terjadi dalam proses penerimaan CPNS yang dilakukan oleh Ernawati binti Hasyem di Lhokseumawe.Ernawati binti Hasyemmelakukan pengurusan untuk menjadi PNS dan setelah saksi bertemu dengan terdakwa kemudian saksi bertanya kepada terdakwa apa betul ibu bisa urus PNS ” lalu terdakwa menjawabnya : bisa, karena Panitian CPNS di Banda Aceh orang yang saya kenal.
Berdasarkan uraian di atas yang sekaligus juga melatarbelakangi masalah, penulis ingin mengetahui lebih jauh mengenai permasalahan tersebut berdasarkan ketentuan Kitab Undang-undang Hukum Pidana sehingga dipilih judul Analisis Tindak Pidana Penipuan Dalam Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil(Studi Putusan Nomor :191/Pid/.B/2015/PN-LSM)
Berdasarkan uraian di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana pengaturan tindak pidana penipuan menurut Kitab Undang- Undang Hukum Pidana?
7 P.A.F Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, (Bandung: Citra Adi Bakti, 1996), hlm.100
13
2. Faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana penipuan terhadap penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil?
3. Bagaimana penerapan tindak pidana penipuan berdasarkan Putusan Nomor : 191/Pid.B/2015/PN-Lsm)?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Adapun yang merupakan permasalahan dalam penulisan skripsi ini, antara lain, sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengaturan tindak pidana penipuan menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana penipuan terhadap penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil.
3. Untuk mengetahui penerapan tindak pidana penipuan berdasarkan Putusan Nomor : 191/Pid.B/2015/PN-Lsm)
Penelitian selain mempunyai tujuan yang jelas, juga diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Manfaat teoritis
Memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu hukum serta dapat menambah informasi yang dapat digunakan untuk melakukan kajian tentang analisis tindak pidana penipuan dalam penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil.
2. Manfaat praktis
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan serta kajian pengetahuan bagi para pihak yang berkompeten dan bermiat pada hal yang
14
sama, baik itu kalangan akademisi dan penegak hukum, untuk menambah wawasan di bidang hukum khususnya yang berkaitan dengan putusan lepas dari segala tuntutan hukum, dengan segala akibat hukumnya yang merupakan hasil dari suatu proses peradilan.
D. Keaslian Penulisan
Sepanjang penelusuran di perpustakaan Fakultas hukum USU dan Universitas yang ada di Indonesia baik secara fisik maupun secara online skripsi dengan judul analisis tindak pidana penipuan dalam penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (Studi Putusan Nomor :191/Pid/.B/2015/PN-LSM), belum pernah diteliti dalam bentuk skripsi dari Departemen Hukum Pidana di Fakultas Hukum USU. Namun ada beberapa judul penelitian yang berkaitan dengan penipuan antara lain:
Andi Junaedi Zadsaly M (2014) Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin Makassar 2014 dengan judul penelitian Tinjauan Viktimologis Terhadap Kejahatan Penipuan Dalam Penerimaan Pegawai Negeri Sipil Di Kota Makassar.
Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah :
1. Peranan korban dalam terjadinya kejahatan penipuan dalam penerimaan pegawai negeri sipil di Kota Makassar
2. Upaya perlindungan hukum bagi korban penipuan dalam penerimaan pegawai negeri.
Aprina Tiarani (2015) Fakultas Hukum Universitas Lampung, dengan judul penelitian Analisis Pertanggungjawaban Pidana Pelaku Tindak Pidana Penipuan Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil Pemda Provinsi Lampung
15
(StudiPutusan No 859/pidB/2012/PN TK). Adapun permasalahan dalam penelitian ini :
1. Pertanggungjawaban Pidana Pelaku Tindak Pidana Penipuan Penerimaan Calon Pegawai NegeriSipil (CPNS) Provinsi Lampung (Studi Putusan No 859/Pid.B/2012/PN.TK)
2. Dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap Pelaku Penipuan Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Pemda Provinsi Lampung (Studi Putusan No 859/pidB/2012/PN TK)
Cahaya Rama Putra (2015) Fakultas Hukum Universitas Lampung dengan judul penelitian Analisis Penjatuhan Pidana Terhadap Tindak Pidana Penipuan Tentang Praktik Percaloan Calon Pegawai Negeri Sipil. Adapun permasalahan dalam penelitian ini :
1. Penjatuhan Pidana Terhadap Pegawai Negeri Sipil Yang Melakukan Praktik Percaloan Calon Pegawai Negeri Sipil.
2. Faktor-Faktor Yang Menjadi Pertimbangan Hakim Dalam Rangka Penjatuhan Pidana Terhadap Pegawai Negeri Sipil Yang Melakukan Tindak Pidana Penipuan Dengan Modus Praktik Percaloan
Dengan demikian, jika dilihat kepada permasalahan yang ada dalam penelitian ini, maka dapat dikatakan bahwa penelitian ini merupakan karya ilmiah yang asli, apabila ternyata dikemudian hari ditemukan judul yang sama, maka dapat dipertanggungjawabkan sepenuhnya.
16
E. Tinjauan Kepustakaan 1. Perlindungan hukum
Perlindungan hukum adalah tindakan atau upaya untuk melindungi masyarakat dari perbuatan sewenang-wenang oleh penguasa yang tidak sesuai dengan aturan hukum, untuk mewujudkan ketertiban dan ketentraman sehingga memungkinkan manusia untuk menikmati martabatnya sebagai manusia.8
2. Korban
Adanya kecenderungan sikap korban yang pasif dan bahkan non- kooperatif dengan aparat penegak hukum, merupakan salah satu bukti konkrit dari kurangnya perhatian sistem peradilan pidana terhadap hak-hak dan perlindungan hukum korban kejahatan. Belum lagi ditambah dengan kecenderungan yang
“offender centered” yang mengakibatkan kurangnya dukungan korban terhadap sistem peradilan pidana. Sikap kurang loyal di atas akan lebih mengemuka manakala korban harus pula berfungsi sebagai saksi yang memberikan kesaksian secara benar dibawah sumpah. Jika ternyata kesaksian korban tidak benar atau palsu dan memberatkan tersangka atau terdakwa, ia diancam dengan pidana penjara maksimal sembilan bulan (Pasal 242 ayat (2) KUHP) dengan tuduhan memberikan kesaksian palsu.
Korban (victims) adalah orang-orang yang baik secara individual maupun kolektif telah menderita kerugian, termasuk kerugian fisik atau mental , emosional, ekonomi, atau gangguan substansial terhadap hak-haknya yang
8 Setiono, Rule of Law (Supremasi Hukum),(Surakarta; Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, 2004) hlm. 3
17
fundamental, melalui perbuatan atau komisi yang melanggar hukum pidana di masing-masing negara, termasuk penyalahgunaan kekuasaan.9
Hubungan korban dan pelaku berdasarkan dengan sasaran tindakan pelaku sebagai berikut: 10
a. Korban langsung, yaitu mereka yang secara langsung menjadi sasaran atau objek perbuatan pelaku.
b. Korban tidak langsung, yaitu mereka yang meskipun tidak secara langsung menjadi sasaran perbuatan pelaku, tetapi juga mengalami penderitaan atau nestapa. Pada kasus pembunuhan terhadap seorang laki-laki yang mempunyai tanggungjawab menghidupi istri dan anak- anaknya, meninggalnya laki-laki tersebut merupakan korban langsung.
Sedangkan istri dan anaknya itu merupakan korban tidak langsung.
3. Tindak pidana
Tindak pidana (peristiwa pidana) merupakan suatu kejadian yang mengandung unsur-unsur perbuatan yang dilarang oleh undang-undang sehingga siapa saja yang menimbulkan peristiwa itu dapat dikenai sanksi pidana (hukuman)11
Unsur-unsur tindak pidana adalah syarat-syarat untuk mengetahui kategori suatu perbuatan yang melawan, atau melanggar hukum. Menurut Van Bemelen unsur-unsur dari suatu tindak pidana di antaranya ialah adanya unsur-unsur
9 Muladi, Hak Asasi Manusia, Politik dan Sistem Peradilan Pidana. (Semarang: Badan Universitas Diponegoro,1997), hlm. 108
10 Widiartana, G. Viktimologi, Perspektif Korban dalam Penaggulangan Kejahatan.(Yogyakarta: Atmajaya, 2011), hlm.11
11Herlina Manullang, Pengantar Ilmu Hukum Indonesia, (Medan: UHN Press, 2010), hlm. 71.
18
kesalahan, kemampuan, bertanggungjawab, dan sifat melawan hukum dari perbuatan tersebut.12
4. Pegawai Negeri Sipil
Dalam kasus ini korban merupakan pihak yang berkenan untuk melakukan penyimpangan dalam proses seleksi, sehingga korban dianggap duduk sejajar dengan pelaku penipuan penerimaan CPNS. Disisi lain, korban tetap duduk sebagai korban, yakni pihak yang dirugikan oleh pelaku penipuan dalam penerimaan CPNS. Sehingga, dalam hal ini tetap perlu dilakukan upaya perlindungan hukum terhadap korban penipuan dalam penerimaan CPNS
Pegawai Negeri Sipil merupakan warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, diangkat sebagai Pegawai ASN secara tetap oleh pejabat pembina kepegawaian untuk menduduki jabatan pemerintahan.13
5. Prosedur Penerimaan Pegawai Negeri Sipil
Sehubungan dengan kedudukan Pegawai Negeri maka baginya dibebankan kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan dan sudah tentu di samping kewajiban baginya juga diberikan apa-apa saja yang menjadi hak yang didapat oleh seorang pegawai negeri
Prosedur penerimaan PNS merupakan sebuah proses kegiatan untuk mengisi formasi yang lowong menurut kebutuhan sebuah organisasi Negara.
Formasi yang lowong disebabkan oleh dua hal yakni adanya PNS yang dan atau adanya perluasan organisasi.
12 Zainal Abidin, Hukum Pidana I, (Jakarta: Sinar Grafika, 2010), hlm.224-225
13 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara, Pasal 1 angka 2, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5494
19
F. Metode Penulisan 1. Jenis penelitian
Penelitian hukum pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hokum tertentu dengan jalan menganalisinya.14Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif. Metode penelitian normatif merupakan prosedur penelitian ilmiah untuk menemukan kebenaran berdasarkan logika keilmuan hukum dari sisi normatifnya.15 Penelitian hukum normatif merupakan penelitian hukum yang meletakkan hukum sebagai sebuah bangunan sistem norma mengenai asas-asas, norma, kaidah dari peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan, perjanjian serta doktrin.16
2. Sifatpenelitian
Sifat penelitian dalan penulisan skripsi ini penelitian deskripstif analisis, yaitu penelitian bersifat pemaparan yang bertujuan untuk memperoleh gambaran (deskriptif) lengkap tentang keadaan hukum yang berlaku di tempat tertentu dan pada saat tertentu, atau peristiwa hukum yang terjadi di dalam masyarakat.17
14Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif &
Empiris, Pustaka Pelajar, Yokyakarta, 2015, hlm135
15 Johnny Ibrahim, Teori & Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Bayumedia Publishing, Malang, 2011, hlm 57.
16Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, Op.Cit, hlm. 34.
17 Soerjono Soekanto, Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press, 2010), hlm. 9.
Metode deskripstif analisis tersebut menggambarkan peraturan yang berlaku yang kemudian dikaitkan dengan teori-teori hukum dan praktek pelaksanaan hukum positif yang menyangkut upaya perlindungan bagi korban
20
penipuan dalam penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (Studi Putusan Nomor 191/Pid.B/2015/PN-LSM).Demikian juga hukum dalam pelaksanaannya di dalam masyarakat yang berkenan dengan objek penelitian. Dalam penelitian ini, penulis ingin menemukan dan memahami gejala-gejala yang diteliti dengan cara penggambaran yang jelas untuk mendekati objek penelitian maupun permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya. Penelitian deskriptif memusatkan perhatian pada masalah aktual sebagaimana adanya pada saat penelitian berlangsung.Melalui penelitian deskriptif, peneliti berusaha mendeskripsikan peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatian tanpa memberikan perlakuan khusus terhadap peristiwa tersebut.
3. Sumber data
Sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari hasil penelaahan kepustakaan atau penelaahan terhadap berbagai literatur atau bahan pustaka yang berkaitan dengan masalah atau materi penelitian yang sering disebut bahan hukum.18
a. Bahan hukum primer yang terdiri atas peraturan perundang-undangan, yurisprudensi atau keputusan pengadilan. Adapun bahan hukum primer dalam penelitian ini antara lainUndang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5494. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Tahun 1968.
Sumber data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
18Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad,Op.Cit., hlm. 156
21
b. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan hukum yang dapat memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer yang dapat berupa pendapat para ahli, jurnal ilmiah, surat kabar dan berita internet.
c. Bahan hukum tersier, yautu bahan hukum yang dapat menjelaskan baik bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder, yang berupa kamus hukum, kamus Bahasa Indonesia, dan Ensiklopedia.19
4. Teknik pengumpulan data
Teknik penelitian hukum normatif atau kepustakaan.Teknik pengumpulan data dalam penelitian hukum normatif dilakukan dengan studi pustaka terhadap bahan-bahan hukum, baik bahan hukum primer, bahan hukum sekunder maupun bahan hukum tersierdan atau bahan non hukum. Penelusuran bahan-bahan hukum tersebut dapat dilakukan dengan membaca , melihat, mendengarkan maupun sekarang banyak dilakukan bahan hukum tersebut dengan melalui media internet.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam studi pustaka, yaitu:
a. Adakalahnya data sekunder dianggap sebagai data yang tuntas.
b. Autentisitas data sekunder harus ditelaah secara kritis sebelum diterapkan pada penelitian yang dilakukan sendiri.
c. Apabila tidak ada penjelasan, sukar untuk mengetahui metode yang dipergunakan dalam pengumpulan dan pengolahan data sekunder tersebut.
d. Kerap kali sukar untuk mengetahui secara pasti lokasi terhimpunnya data sekunder tersebut.20.
19Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad,Op.Cit.,hlm. 157-158
20Ibid.
22
5. Analisa data
Analisis data merupakan kegiatan dalam penelitian yang berupa melakukan kajian atau telaah terhadap hasil pengolahan data yang dibantu dengan teori-teori yang telah didapatkan sebelumnya.Secara sederhana analisis data ini disebut sebagai kegiatan memberikan telaah, yang dapat berarti menentang, mengkritik, mendukung.Menambah atau memberi komentar dan kemudian membuat suatu kesimpulan terhadap hasil penelitian dengan pikiran sendiri dan bantuan teori yang telah dikuasainya.21
Hasil suatu penelitian hukum normatif agar lebih baik nilainya atau untuk lebih tepatnya penelaahan dalam penelitian tersebut, peneliti perlu menggunakan pendekatan dalam setiap analisisnya. Pendekatan ini bahkan akan dapat menentukan nilai dari hasil penelitian tersebut. Hal ini dapat dilihat jika pendekatan yang digunakan dalam analisis tersebut tidak tepat, maka dipastikan bahwa bobot penelitian ini akan rendah, tidak akurat dan kebenarannya pun diragukan atau dapat dipertanyakan. Oleh karena itu, pemilihan pendekatan dalam melakukan analisis hasil penelitian menjadi sangat penting.Pendekatan dalam penelitian hukum normatif dimaksudnya adalah bahan untuk mengawali sebagai dasar sudut pandang dan kerangka berpikir seorang peneliti untuk melakukan analisis.22
21Ibid.,hlm. 180
22Ibid., hlm. 184
BAB II
PENGATURAN TINDAK PIDANA PENIPUAN MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA
A. Tindak Pidana terhadap Harta Benda
Di Indonesia istilah yang digunakan sebagai terjemahan dari istilah Strafbaarfeit. Istilah yang pernah digunakan baik yang digunakan dalam perundang-undangan maupun dari literatur-literatur hukum diantaranya adalah tindak pidana, peristiwa pidana, delik, pelanggaran pidana, perbuatan yang boleh dihukum, perbuatan yang dapat dihukum dan yang terakhir adalah perbuatan pidana.23
Strafbaar felt itu sebagai "suatu tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak dengan sengaja oleh seseorang yang dapat di pertanggungjawabkan atas tindakannya dan yang oleh undang - undang telah dinyatakan sebagai suatu tindakan yang dapat dihukum"24
Tindak pidana adalah perbuatan yang oleh aturan hukum dilarang dan diancam dengan pidana.Pengertian perbuatan di sini selain perbuatan yang bersifat aktif (melakukan sesuatu yang sebenarnya dilarang oleh hukum) dan perbuatan yang bersifat pasif (tidak berbuat sesuatu yang sebenarnya diharuskan oleh hukum).25
23Chazawi, Adami. Hukum Pidana (Stelsel Pidana, Tindak Pidana, Teori-teori Pemidanaan dan Batas Berlakunya Hukum Pidana).(Jakarta: Raja Grafindo Persada), 2008, hlm, 3
24 MarpaungLeden. Asas-Teori-Praktek Hukum Pidana, (Jakarta: SinarGrafika, 2005), hlm 8
25 Teguh Prasetyo,Hukum Pidana Edisi Revisi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), hlm.49
24
Tujuan hukum pidana (Strafrechtscholen), dimaksudkan sebagai hukuman terhadap seseorang yang melanggar kepentingan hukum, bagi yang melanggar akan mendapatkan sanksi pidana berupa hukuman mati, hukuman penjara dan hukuman denda. Hukuman itu bersifat siksaan (penderitaan). Maksud dan tujuan dibentuknya peraturan hukum pidana dikenal dua aliran, yaitu aliran klasik dan aliran modern. Menurut aliran klasik hukum pidana itu dimaksudkan untuk melindungi kepentingan seseorang dari kekuasaan negara. Ajaran Markies van Beccaria yang menulis tentang “ De dellite pene ” berpendapat agar hukum pidana harus diatur dengan undang-undang, yang bersifat tertulis, ajaran ini sangat berpengaruh dalam perkembangan masyarakat supaya hukum pidana dibuat dengan tertulis.
Hukum pidana tertulis yang dinormakan dalam bentuk undang-undang berlaku mengikat dalam suatu wilayah tertentu, bagi yang melanggar akan mendapat sanksi pidana. Sebaliknya, aliran modern mengajarkan tujuan hukum pidan itu memnbarantas kejahatan untuk melindungi masyarakat. Aliran ini dalam perkembangan memberantas kejahatan sangat berpengaruh terhadap aliran yang dikenal dengan “ Kriminologi aethilogi ”, menurut aliran ini, bertujuan untuk mempelajari sebab-sebab terjadinya kejahatan. Dalam memberantas kejahatan harus diketahui sebab-sebabnya. Casare Lombroso dalam bukunya “ L’Uomo Delinqente ”26
26 Satochid Kartanagara, Hukum Pidana Kumpulan Kuliah dan Pendapat – pendapat para Alhi Hukum Terkemuka Bagian Satu, Balai Lektur Mahasiswa, tanpa tanggal dan tahun, hlm.
18.
sebagaimana disitir oleh Satochid Kartanagara berpendapat bahwa, seorang penjahat itu dapat dikenal dari ciri-ciri yang terdapat pada dirinya, yaitu sebagaimana tampak pada jasmani dan rohani.
25
Ajaran Casare Lambroso ini dalam perkembangan ditentang oleh ajaran “ Criminele sociologie ” yang dikenal dengan ajaran “ sociologis ” atau ajaran “ Perancis ” oleh Lacassagne berpendapat mengakui ajaran Casare Lambroso, kejahatan itu dpengaruhi oleh bakat dan keadaan masyarakatnya. Berhubungan dengan kedua ajaran diatas, kemudian lahir aliran “ Bio socilogieshe school ” yang dikemukakan oleh Ferri bahwa, kejahatan dipengaruhi oleh faktor sosial dan antropologisch, ajaran ini yang kemudian menjadi dasar undang-undang hukum pidana. Aliran modern hukum pidana itu lahir karena hukum pidana. Aliran modern hukum pidana itu lahir karena pengaruh kriminologi dan tujuan hukum pidana, yaitu untuk melindungi masyarakat dari kejahatan.
Tujuan akhir dari hukum pidana menurut Van Bemmelen 27
Kemudian dalam Seminar Hukum Nasional I Tahun 1963 menyimpulkan dan merekomendasikan supaya dalam pembuat KUHP yang berlaku di Indonesia, menyebutkan pemerintah atas nama wewenang yang diberikan oleh masyarakat yang berhubungan dengan keamanan, ketertiban, ketenangan, perlindungan kepentingan tertentu, menghindarkan tindakan main hakim sendiri dari pihak penduduk secara perorangan atau badan administrasi berupa “ on rechtmatige daden ”, serta menegakan kebenaran. Kesemuanya disebutkan dalam undang- undang dengan menentukan bagaimana suatu perbuatan patut dianacam pidana bagi orang yang dapat bertanggung jawab yang melanggar peraturan hukum pidana yang telah ditetapkan. Tidak dijelaskan lebih lanjut apakah tujuan hukum pidana merupakan rumusan dari undang-undang ataukah hukum pidana.
27 Bemmelen, JM Van, Ons Strafrecht, HD – TW & Zoon NV, Haarlem, 1968, hlm. 21.
26
dicantumkan dan tujuan hukum pidana sebagaimana yang terkandung didalam kesadaran Bangsa Indonesia, yang dapat melindungi dan mengayomi masyarakat.
Perkembangan selanjutnya tujuan hukum pidana bagi Indonesia yaitu “agar berlandaskan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan cita-cita bangsa Indonesia untuk dapat mewujudkan masyarakat Pancasila ”,28
Pengertian benda dalam penipuan mempunyai arti yang sama dengan benda dalam pencurian dan penggelapan, yakni sebagai benda yang berwujud dan bergerak. Dalam tindak penipuan ini ‘menyerahkan suatu benda” tindaklah harus dilakukan sendiri secara langsung oleh orang yang menipu. Dalam hal ini penyerahan juga dapat dilakukan oleh orang yang tertipu itu kepada orang suruhan dari orang yang menipu.Hanya dalam hal ini oleh karena unsur jangan dihalangi dan dihambat oleh tindak pidana, sehingga Negara Indonesia, mayarakat, badan-badan hukum maupun warga negara Republik Indonesia mendapat pengayoman dan perlindungan.
Dalam seminar Hukum Nasional I Tahun 1963 dalam rumusan KUHP yang akan datang tentang gagasan tujuan hukum pidana, perlu mendapatkan perhatian dan gagasan mengenai dicantumkannya tentang “ pengayoman” menjadi fungsi hukum, negara tidak berperan sebagai subjek hukum melainkan berperan sebagai objek hukum disamping masyarakat, badan-badan, serta penduduk yang mendapat pengayoman dan perlindungan hukum dari suatu negara / badan yang ditunjuk, dalam hal ini lembaga pemasyarakatan sebagai lembaga tempat pengayoman dan pembinaan.
28 Kitab Undang – Undang Hukum Pidana, Tahun 1968.
27
kesengajaan, maka ini berarti unsur penyerahan haruslah merupakan akibat langsung dari adanya daya upaya yang dilakukan oleh sipenipu. Dengan demikian antar perbuatan penyerahan yang dilakukan oleh orang yang terkena tipu dengan daya upaya dilakukan oleh orang yang terkena tipu dengan daya upaya yang dilakukan oleh si penipu harus ada hubungan kausal.29
Sebagaimana yang telah disebutkan diatas bahwa kejahatan terhadap harta benda adalah tindak kejahatan yang menyerang kepentingan dan hubungan hukum antara satu harta benda dengan pemiliknya dengan melawan hukum, telah disinggung pula bahwa kejahatan ini dalam KUHP dapat dilihat dalam beberapa pasal yakni diantaranya pasal tindak pidana tentang :
Kejahatan terhadap harta benda bisa digolongkan atau dilihat pada buku kedua pada KUHP, tentang kejahatan, dimana dalam kejahatan terhadap harta benda ini dikatakan sebagai suatu penyerangan terhadap kepentingan hukum orang atas benda milik orang lain dengan melawan hukum tentunya, buku II pada KUHP tidaklah memiliki pasal yang mencantumkan kejahatan seperti ini dengan nama kejahatan terhadap harta benda, namun ada dalam beberapa jenis kejahatan yang keseluruhannya adalah perbuatan yang sama, yakni mengambil, menggelapkan, merusak dan segalanya yang berhubungan dengan mengganggu hubungan hukum antara satu harta benda dengan pemiliknya, adapun segala delik pasal yang mengatur kejahatan jenis ini memiliki unsur unsur subjektif dan objektifnya masing masing.
30
29 Tongat, Hukum Pidana Materil,(Malang: Um Press, Malang, 2003), hlm. 73
30http://docktorh.blogspot.co.id/2011/07/kejahatan-terhadap-harta-benda.html diakses tanggal 1 September 2016.
28
1. Pencurian (diefstal): mengambil barang orang lain untuk memilikinya, yang mana terdapat dalam bab XXII KUHP.
2. Pemerasan (afpersing); memaksa orang lain dengan kekerasan untuk memberikan sesuatu, yang bersama sama dengan pengancaman ada pada bab XXII.
3. Pengancaman (afdreiging); memaksa orang lain dengan ancaman untuk memberikan sesuatu.
4. Penggelapan barang (verduistering); memiliki barang bukan haknya yang sudah ada di tangannya, ada pada bab xxiv.
5. Merugikan orang yang berpiutang: sebagai orang yang berpiutang berbuat sesuatu terhadap kekayaan sendiri dengan merugikan si berpiutang (creditor) ada pada bab xxvi.
6. Penghancuran atau perusakan barang: melakukan perbuatan terhadap barang orang lain secara merugikan tanpa mengambil barang itu, yang dapat dilihat pada bab xxvii.
7. Penadahan; menerima atau memperlakukan barang yang diperoleh orang lain secara tindak pidana, yang ada pada bab XXX.
B. Tindak Pidana Penipuan
Penipuan berasal dari kata “tipu” yang dalam kamus Bahasa Indonesia berarti kecoh, daya cara, perbuatan atau perkataan yang tidak jujur atau bohong, palsu dan sebagainyadengan maksud untuk menyesatkan, mengakali atau mencari keuntungan. Tindakan penipuan merupakan suatu tindakan yang merugikan orang
29
lain sehingga termasuk ke dalam tindakan yang dapat dikenakan hukuman pidana.31
Barang dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hokum, dengan memakai sebuah nama palsu atau suatu sifat palsu, dengan memakai tipu muslihat atau dengan memakai rangakaian kata-kata bohong, menggerakkan seseorang agar orang tersebut menyerahkan sesuatu benda atau mengadakan peringatan utang atau meniadakan suatu piutang, karena bersalah telah melakukan penipuan, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya empat tahun.
Tindak pidana penipuan atau bedro ataupun yang didalam doktrin juga disebut oplichting dalam bentuk pokok oleh pembentukan undang-undangan telah diatur dalam Pasal 378 KUHP yang rumusan aslinya dalam bahasa Belanda berbunyi sebagai berikut :
32
Pengertian penipuan di atas memberikan gambaran bahwa tindakan penipuan memiliki beberapa bentuk, baik berupa perkataan bohong atau berupa perbuatan yang dengan maksud untuk mencari keuntungan sendiri dari orang lain.
Keuntungan yang dimaksud baik berupa keuntungan materil maupun keuntungan yang sifatnya abstrak, misalnya menjatuhkan seseorang dari jabatannya.
Kejahatan penipuan (bedrog) dimuat dalam Bab XXV Buku II KUHP, dari Pasal 378 sampai dengan Pasal 394. Title asli bab ini adalah bedrog yang oleh banyak ahli diterjemahkan sebagai penipuan, atau ada juga yang menerjemakan sebagai Konsep penipuan (bedrog) terdapat dalam Pasal 378 KUHP merupakan suatu perbuata pidana atau delik, apabila dilanggar akan mendapat sanksi penjara.
31 S. Ananda, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Surabaya: Kartika, 2009), hlm. 364
32P.A.F. Lamintang, Theo Lamintang, Delik-delik Khusus Kejahatan terhadap Harta Kekayaan, edisi kedua, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hlm. 150
30
perbuatan curang. Perkataan penipuan itu sendiri mempunyai dua pengertian, yakni: 33
1. Penipuan dalam arti luas, yaitu semua kejahatan yang dirumuskan dalam BAB XXV KUHP.
2. Penipuan dalam arti sempit, ialah bentuk penipuan yang dirumuskan dalam Pasal 378 KUHP (bentuk pokoknya) dan pasal 379 KUHP (bentuk khususnya). Adapun seluruh ketentuan tindak pidana dalam BAB XXV ini disebut dengan penipuan, oleh karena dalam semua tindak pidana tersebut terdapat perbuatan-perbuatan yang bersifat menipu atau membohongi orang lain.
Ketentuan Pasal 378 KUHP diatur sebagai berikut: “Barang siapa dengan maksud hendak menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hak, baik dengan memakai nama palsu, baik dengan akal dan tipu muslihat maupun dengan karangan-karangan perkataan bohong, membujuk orang supaya membeikan suatu barang, membuat utang atau menghapuskan piutang, dihukum karena penipuan, dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun.”
Penipuan sendiri dikalangan masyarakat merupakan perbuatan yang sangat tercela namun jarang dari pelaku tindak kejahatan tersebut tidak dilaporkan ke pihak kepolisan. Penipuan yang bersifat kecil-kecilan yang korbannya tidak melaporkan membuat pelaku penipuan terus mengembangkan aksinya yang pada akhirnya pelaku penipuan tersebut menjadi pelaku penipuan yang berskala besar.
33Ibid., hlm.167
31
Berdasarkan Pasal 378 KUHP, adapun unsur-unsur tindak pidana penipuan, yaitu
1. Subjektif
a. Barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri dan/atau orang lain.
Unsur ini menunjukkan bahwa pelaku tindak pidana melakukan penipuan dengan sengaja dan/atau mempunyai niat untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri dan/atau orang lain. Keuntungan tidak hanya berupa harta kekayaan saja, namun juga dapat berupa sesuatu yang memberi keuntungan non-materiil, misalnya pembebasan piutang.
b. Secara melawan hukum.
Unsur melawan hukum merupakan perbuatan dimana pelaku menyadari bahwa perbuatan yang ia lakukan tersebutdilarang oleh hukum, namun dengan sengaja ia tetap melakukan perbuatan tersebut
2. Objektif
a. Menggerakkan orang lain.
Unsur ini ditujukan kepada orang yang menjadi korban, tujuan pelaku menggerakkan hati korban untuk memberikan keuntungan kepadanya berupa sesuatu barang/uang, atau memberikan utang, atau menghapus piutang.
b. Menggunakan berbagai cara.
Menggunakan berbagai caramerupakan berbagai bentuk upaya atau cara yang dilakukan pelaku terhadap korban untuk mencapai tujuannya, antara lain:
i. Nama palsu
Nama palsu merupakan nama yang bukan merupakan nama aslinya atau sebenarnya.
ii. Martabat palsu
Martabat palsu merupakan kedudukan atau jabatan yang digunakan pelaku, untuk menunjukan bahwa dirinya mempunyai hak atau wewenang tertentu.
iii. Tipu Muslihat:
Satochid Kartanegara sebagaimana dikutip P.A.F. Lamintang dan Theo Lamintang,mengatakan bahwa tipu muslihat merupakan tindakan-tindakan yang sedemikian rupa, sehingga dapat menimbulkan kepercayaan orang dan/atau memberi kesan pada orang yang digerakkan, seolah-olah keadaannya sesuai dengan kebenaran.34 iv. Rangkaian kebohongan
Artinya kata-kata dan/atau ucapan-ucapan yang menyesatkan dan/atau berbeda dengan kenyataannya diucapkan secara meyakinkan agar dipercaya oleh korban atau orang yang digerakkan tersebut.
34Ibid.
32
c. Sanksi pidana Pasal 378 KUHP telah menentukan ancaman atau sanksi yaitu pidana penjara paling lama selama 4 (empat) tahun.
Menurut Andi Hamzah unsur-unsur tindak pidana penipuan, antara lain:35 1. Dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain;
2. Secara melawan hukum;
3. Dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun dengan rangkaian perkataan bohong;
4. Menggerakan orang lain;
5. Untuk menyerahkan suatu barang kepadanya atau untuk memberi utang ataupun menghapus piutang.
Jadi ada maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain, yang berarti disini ada kesengajaan sebagai maksud (oogmerk). Perbuatan itu dilakukan secara melawan hukum, artinya antara lain pelaku tidak mempunyai hak untuk menikmati keuntungan itu. Memakai nama palsu, misalnya mengaku suatu nama yang dikenal baik oleh orang yang ditipu atau memakai nama seseorang yang terkenal. Martabat palsu, misalnya mengaku sebagai seseorang yang memiliki martabat seperti kyai, camat, kepala desa dan lain-lain. Dengan tipu muslihat, misalnya mengaku akan membelikan barang yang sangat murah kepada orang yang ditipu. Rangkaian kebohongan artinya banyak, pokoknya kebohongan itu sebagai upaya penipuan.36
Ketentuan KUHPidanatentang Penipuan terdapat dalam BAB XXV Buku II. Pada bab tersebut, termuat berbagai bentuk penipuan yang dirumuskan dalam
35 Andi Hamzah, Delik-delik Tertentu (Speciale Delicten) di Dalam KUHP, (Jakarta:
Sinar Grafika, 2010), hlm. 110
36Ibid.
33
20 pasal, masing-masing pasal mempunyai nama khusus. Keseluruhan pasal pada BAB XXV ini dikenal dengan sebutan bedrogatau perbuatan orang. Bentuk pokok dari bedrogatau perbuatan orang adalah Pasal 378 KUHP tentangPenipuan.
Berdasarkan rumusan tersebut, maka tindak pidana penipuan memiliki unsur- unsur pokok, yaitu :
1. Dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum. Dengan maksud harus diartikan sebagai tujuan terdekat dari pelaku, yakni pelaku hendak mendapatkan keuntungan. Keuntungan ini adalah tujuan utama pelaku dengan jalan melawan hukum, pelaku masih membutuhkan tindakan lain, maka maksud belum dapat terpenuhi. Dengan demikian, maksud tersebut harusditujukan untuk menguntungkan dan melawan hukumsehingga pelaku harus mengetahui bahwa keuntungan yang menjadi tujuannya harus bersifat melawan hukum.
2. Dengan menggunakan salah satu atau lebih alat penggerak penipuan (nama palsu, martabat palsu atau keadaan palsu, tipu muslihat dan rangkaian kebohongan). Sifat dari penipuan sebagai tindak pidana ditentukan oleh caracara pelaku menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang. Alat- alat penggerak yang digunakan untuk menggerakkan orang lain adalah sebagai berikut:
a. Nama palsu.
Nama palsu dalam hal ini adalah nama yang berlainan dengan nama yang sebenarnya, meskipun perbedaan tersebut sangat kecil. Apabila penipu menggunakan nama orang lain yang sama dengan nama dan dengan dia
34
sendiri, maka penipu dapat dipersalahkan melakukan tipu muslihat atau susunan belit dusta.
b. Tipu muslihat
Tipu muslihat adalah perbuatan-perbuatan yang dilakukan sedemikian rupasehingga perbuatan tersebut menimbulkan kepercayaan atau keyakinan atas kebenaran dari sesuatu kepada orang lain. Tipu muslihat ini bukanlah ucapan melainkan perbuatan atau tindakan.
c. Martabatatau keadaan palsu
Pemakaian martabat atau keadaan palsu adalah bilamana seseorang memberikan pernyataan bahwa dia berada dalam suatu keadaan tertentu dan keadaan itu memberikan hak-hak kepada orang yang ada dalam keadaan tersebut.
d. Rangkaian kebohongan beberapa kata bohong dianggap tidak cukup sebagai alat penggerak. Hal ini dipertegas oleh Hoge Raad dalam Arrest 8 Maret 1926, bahwa37
“Terdapat suatu rangkaian kebohongan jika antara berbagai kebohongan itu terdapat suatu hubungan yang sedemikian rupa dan kebohongan yang satu melengkapi kebohongan yang lain sehingga mereka secara timbal balik menimbulkan suatu gambaran palsu seolah-olah merupakan suatu kebenaran.” Rangkaian kebohongan itu harus diucapkan secara tersusun sehingga merupakan suatu cerita yang dapat diterima secara logis dan benar. Dengan demikian, kata yang satu memperkuat atau membenarkan kata orang lain
e. Menggerakkan orang lain untuk menyerahkan sesuatu barang, atau memberi utang, atau menghapus utang. Dalam perbuatan menggunakan
37Bastian Bastari, Analisis Yuridis Terhadap Delik Penipuan, Makassar, 2011, hlm. 40.
35
orang lain untuk menyerahkan barang diisyaratkan adanya hubungan kausal antara alat penggerak dan penyerahan barang. Hal inidipertegas oleh Hoge Raad dalam Arrest 25 Agustus 1923, bahwa38
“Harus terdapat suatu hubungan sebab manusia antara upaya yang digunakan dengan penyerahan yang dimaksud dari itu. Penyerahan suatu barang yang terjadi sebagai akibat penggunaan alat-alat penggerak dipandang belum cukup terbukti tanpa menguraikan pengaruh yang ditimbulkan karena dipergunakannya alat-alat tersebut menciptakan suatu situasi yang tepat untuk menyesatkan seseorang yang normalsehingga orang tersebut terpedaya karenanya, alat-alat penggerak itu harus menimbulkan dorongan dalam jiwa seseorang sehingga orang tersebut menyerahkan sesuatu barang.”
C. Jenis-jenis Tindak Pidana Penipuan
Tindak pidana penipuan yang diatur dalam buku II bab XXV pasal 378 - 379 KUHP. Pasal-pasal tersebut menjelaskan tentang jenis-jenis tindak pidana dalam KUHP yaitu :
1. Pasal378KUHPidanamengenaitindakpidanapenipuandalam bentukpokok.
2. Pasal379KUHPidanamengenaitindakpidanapenipuandengan unsur-unsur yang meriingankan.
Kejahataninimerupakanbentukgeprivilegeerddelictatausuatu penipuan dengan unsur-unsuryangmeringankan.
3. Pasal379aKUHPidanamerupakanbentukpokokyangdisebut
penarikanbotol(Flessentrekkerij) yang mengaturtentangtindak pidana kebiasaan membeli barang tanpa membayar lunas harganya.Unsurdariflessentrekkerijadalah unsurmenjadikan sebagaimata
38Ibid.
36
pencaharian atau sebagai kebiasaan.
4. Pasal 380 ayat 1-2 KUHPidana yaitu tindak pidana pemalsuan nama dan tandaatassesuatu karya ciptaanorang.Pasal ini dibuat bukan untukmelindungihakcipta seseorang,melainkan untuk melindungi konsumenterhadap perbuatan-perbuatanyangbersifat menipu oleh orang- orang tertentu. Pasal 381 KUHPidana mengenai penipuan pada pertanggungan atau perangsuransian.
5. Pasal382KUHPidanamengaturtindakpidanayangmenimbulkan kerusakan pada bendayang di pertanggungkan.
6. Pasal 382 bis KUHPidana mengatur tentang tindak pidana persaingan curang atauoneerlijkemededinging.
7. Pasal383KUHPidana mengaturtindak pidanapenipuandalam jual-beli.
8. Pasal 383bisKUHPidana mengaturpenipuan dalampenjualan beberapa salinan (copy)kognosement.
9. Pasal384 KUHPidanamengatur tindakpidanapenipuandalamjual beli dalambentukgeprivilegeerd.
10. Pasal 385KUHPidana mengatur tentang stellionet yaitu tenang tindakpidana penipuan yangmenyangkuttanah.
11. Pasal386mengaturpenipuandalampenjualanbahanmakanan dan obat.
12. Pasal 387 KUHPidana mengatur penipuan terhadap pekerjaan pembagunan atau pemborongan.
13. Pasal388KUHPidanamengaturpenipuanterhadappenyerahan barang untukangkatan perang.
37
14. Pasal 389 KUHPidana mengatur penipuan terhadap batas pekarangan.
15. Pasal 390 KUHPidana mengatur tindak pidana penyebarluasan berita bohongyangmembuatharga barang-barang kebutuhan menjadi naik.
16. Pasal 391 KUHPidana mengatur penipuan dengan memberikan gambaran tidakbenar tentang surat berharga.
17. Pasal 392 KUHPidana mengatur penipuan dengan penyusunan neraca palsu.
18. Pasal 393 KUHPidana mengatur penipuan dengan nama firma atau merkatasbarang dagangan.
19. Pasal393bisKUHPidanamengaturpenipuandalamlingkungan pengacara.
20. Pasal 394 KUHPidanamengaturpenipuandalamkelurga.
21. Pasal 395 KUHPidana mengatur tentang hukuman tambahan.Pasalinimenentukan bagi tindakpidana penipuan inisebagai hukumantambahanyaitupengumumanputusanhakim dan pemecatan hak.
BAB III
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA TINDAK PIDANA PENIPUAN TERHADAP PENERIMAAN CALON
PEGAWAI NEGERI SIPIL
Penipuan terhadap Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) semakin sering terjadi baik di daerah perkotaan maupun daerah terpencil. Hal ini terjadi karena banyaknya masyarakat yang beranggapan bahwa dengan menjadi PNS berarti bahwa kesejahteraanhidupnya akan terjamin. Akhir-akhir ini di kota Lokseumawe banyak terjadi kasus penipuan terhadap para CPNS, kejadian penipuan tersebut sering terjadi karena bagi mayoritas penduduk kota Lhokseumawe, menjadi PNS merupakan pekerjaan yang menjanjikan. Tidak jarang CPNS melakukan hal apa saja supaya dapat menjadi PNS, baik itu dari jalur legal maupun illegal. Keadaan tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh para pelaku tindak pidana penipuan untuk melakukan aksinya pada CPNS tersebut.
A. Faktor internal
Adapun faktor penyebab terjadinya tindak pidana penipuan terhadap penerimaan CPNS, antara lain
1. Sistem perekrutan PNS
Dimana dalam sistem perekrutan saat ini masih adanya titipan 2. Peraturan perundang-undangan
Setiap kali menggunakan sistem baru, pasti akan selalu ada sisi positif dan negatif. Sisi positif bagi pelamar adalah berkurang biaya mengirimkan berkas melalui pos. terbayangkan bila melamar lima instansi dengan biaya pengiriman ke setiap instansi sekitar Rp15.000, berarti calon pelamar harus
39
punya modal setidaknya Rp75.000, belum lagi biaya untuk menyalin berkas untuk lampiran.39
3. Penegakan hukum
Penegakan hukum diIndonesiamasih lemah. Itu terlihat dari tidak tercapainya tujuan utama dari hukum diIndonesiaitu sendiri yaitu keadilan bagi seluruh rakyatnya. Sepertinya sangat sulit sekali memperoleh keadilan di negeri ini, padahal hukum yang ada diIndonesiasudah disusun dengan sangat baik bila dijalankan dengan benar. Namun kenyataan yang ada sekarang adalah hukum diIndonesiapelaksanaanya belum sesuai dengan yang sebagaimana mestinya.
Ada dua faktor utama mengapa hukum diIndonesiabelum bisa berjalan dengan baik. Pertama, para aparat hukum yang ada belum optimal menjalankan perannya sebagai penegak hukum, terlihat dari kurang diamalkannya etika profesi yang ada oleh aparat hukum tersebut. Faktor yang kedua adalah kurangnya kesadaran dari masyarakat akan pentingnya mentaati hukum, sehingga hukum bisa sesuai dengan fungsinya yaitu mempertahankan ketertiban atau pola kehidupan yang ada, terlihat dari banyaknya pelanggaran- pelanggaran hukum yang dilakukan masyarakat mulai dari hal yang kecil, seperti membuang sampah sembarangan, sampai hal yang besar, seperti penggunaan formalin dalam produksi makanan, peredaran narkoba, dan lain- lain.
39http://www.kompasiana.com/cucum-suminar/negatif-positif-perekrutan-cpns-satu- pintu_54f98d44a33311af798b4920, diakses tanggal 20 Januari 2017.
40
B. Faktor eksternal 1. Dalam kondisi terpaksa
Orang yang dalam situasi dan kondisi yang serba sulit dapat mengubah seseoang yang tadinya tidak ada keinginan berbuat jahat menjadi pelaku tindak kejahatan. Contoh kondisi sulit yang bisa mengubah perilaku orang yaitu seperti merasa lapar yang amat sangat, sedang dalam kondisi gawat darurat untuk menyelamatkan nyawa seseorang, dalam kondisi bencana alam parah dan lain sebagainya di mana tidak ada orang lain yang datang secara sukarela memberi bantuan.
2. Adanya kesempatan berbuat jahat
Ada orang-orang yang bisa berubah menjadi seorang penjahat jika muncul suatu peluang besar dalam melakukan tindak kejahatan. Jika dihitung-hitung resiko tertangkap tangan ketika melakukan aksi kejahatan kecil, serta kecilnya peluang untuk tertangkap setelah dilakukan penyidikan dapat memperbesar dorongan seseorang untuk berbuat jahat. Seorang penjahat kambuhan akan menjadi gelap mata ketika melihat sebuah handphone mahal tergeletak tanpa pengawasan. Seorang penjambret dan perampok akan memiliki niat jahat ketika melihat nenek-nenek memakai banyak perhiasan mahal di tempat yang sepi.
3. Dalam suatu tekanan pihak tertentu
Seseorang yang dipaksa untuk melakukan suatu tindak kejahatan, bisa saja melakukan perbuatan jahat kepada orang lain. Misalnya saja seseorang yang anaknya diculik penjahat bisa saja melakukan tindak kriminal sesuai yang diperintahkan oleh penjahat yang menculik anaknya. Atau para pelajar yang
41
harus ikut tawuran antar pelajar sekolah jika ingin diakui sebagai teman yang setiakawan oleh teman-teman jahatnya. Biasanya orang yang berbuat jahat karena alasan ini merasa tekanan batin dan ingin menolak berbuat jahat pada orang lain.
Pelaku kejahatan yang satu ini kemungkinan gagal dalam melakukan aksi kejahatan bisa cukup besar.
4. Sudah sifat dasar seseorang
Seseorang yang sudah memiliki sifat dasar yang jahat biasanya akan selalu berbuat jahat kapan dan di mana pun ia berada. Orang yang seperti ini biasanya sangat tidak nyaman menjadi orang baik-baik. Para penjahat ini akan lebih suka berteman dengan orang-orang yang sama-sama jahat walaupun ada kemungkinan besar teman-temannya akan mencelakakan dirinya suatu saat nanti. Meskipun orang ini diberi hukuman penjara, tetap saja orang ini akan melanjutkan aksi jahatnya setelah keluar dari penjara. Orang semacam ini memang sulit untuk dibina untuk menjadi orang yang baik dan dapat berbaur dalam masyarakat.40
40http://www.organisasi.org/1970/01/faktor-alasan-penyebab-seseorang-melakukan- kejahatan-menjadi-penjahat.html, diakses tanggal 15 Januari 2017.
BAB IV
PENERAPAN TINDAK PIDANA PENIPUAN BERDASARKAN PUTUSAN NOMOR : 191/PID.B/2015/PN-LSM
A. Gambaran Kasus 1. Kronologi
NamaErnawati binti Hasyem, Tempat LahirBayu, Umur/Tanggal Lahir, 53 Tahun/30 Desember 1962, Jenis Kelamin Perempuan, kebangsaaanIndonesia, tempat tinggalJl. Darussalam Gg. Delia Desa Hagu Selatan Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe, Agama Islam, pekerjaan wiraswasta.Terdakwa Ernawati Binti Hasyem pada hari Rabu, tangal 07 November 2012 atau setidak – tidaknya pada Bulan November 2012 bertempat di Jalan Darussalam Gang Famili Desa Hagu Teungoh Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe atau setidak – tidaknya pada suatu tempat yang masih termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Lhokseumawe dan selanjutnya pada hari Jumat tanggal 25 Oktober 2013 sekira pukul 11.30 Wib atau setidak-tidaknya pada Bulan Oktober 2013 bertempat dijalan Darussalam Gang Delia Desa Hagu Selatan Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe atau setidak-tidaknya pada suatu tempat yang masih termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Lhokseumawe, dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang, yang mana dalam hal gabungan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai
43
perbuatan yang berdiri sehingga merupakan beberapa kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang sejenis.perbuatan tersebut dilakukan terdakwa dengan cara sebagai berikut :
a. Berawal pada hari selasa tanggal 6 November 2012 saat itu terdakwa datang kerumah saksi korban Hj. Juariah Binti Ibrahim untuk menawarkan apakah anak saksi korban Hj. Juariah Binti Ibrahim mau masuk PNS, dan pada saat itu terdakwa mengatakan kepada saksi korban Hj. Juariah Binti Ibrahim “ Buk Jur, saya bisa mengurus anak buk jur untuk menjadi PNS di Pemko Lhokseumawe, karena ini lagi ada pengganti PNS yang akan pensiun ”, lalu saksi korban Hj. Juariah Binti Ibrahim menjawab “ apakah itu serius atau tidak
” lalu terdakwa menjawab “ serius sudah banyak orang byang saya urus masuk PNS dans emuanya berhasil menjadi PNS dan saya yang urus, tapi syaratnya harus ada uang sebesar Rp. 40.000.000.- (empat puluh juta rupiah) lebih bagus uangnya sekaligus dibayar sebelum nanti masuk orang lain jadi ini kita harus cepat, buk Jur tenang aja ini pasti lewat nanti kalau tidak lewat uang akan saya kembalikan ”. bahwa mendegar hal tersebut saksi korban Hj. Juariah Binti Ibrahim menjadi yakin dan setuju dan keesokan harinya yaitu hari rabu tanggal 07 November 2012, terdakwa datang lagi kerumah saksi korban Hj.
Juaruah Binti Ibrahim untuk mengambil uang sebesar Rp. 40.000.000.- (empat puluh juta rupiah) untuk pengurusan PNS tersebut, selain dari pada itu terdakwa juga ada meminjamkan emas milik saksi korban Hj. Juariah Binti Ibrahim sebanyak 25 (dua puluh lima) Manyam mas yang terdakwa katakan akan dipergunakan untuk modal usaha jual beli bawang, dan pada hari yang
44
sama juga emas miliki saksi korban Hj. Juariah Binti Ibrahim tersebut saksi korban Hj. Juariah Binti Ibrahim serahkan kepada terdakwa dan dibuatlkan kuintasinya. Bahwa sebelum terdakwa meminjam emas tersebut kepada saksi korban Hj. Juariah Binti Ibrahim, oleh terdakwa sempat mengatakan “ Buk Jur nanti kapan buk jur perlu emas ini bilang saja nanti akan segera saya kembalikan ”. Bahwa hingga saat ini anak saksi korban Hj. Juariah Binti Ibrahim tidak jadi diangkat menjadi PNS dan uang untuk pengurusan menjadi PNS tersebut juga tidak dikembalikan oleh terdakwa dan tidak pernah memberi kepastian kapan dikembalikan sedangkan 25 (dua puluh lima) mayam mas juga tidak dikembalikan oleh terdakwa padahal saksi korban Hj.
Juariah Binti Ibrahim sudah berusaha untuk meminta kembali. Bahwa saksi korban Hj. Juariah Binti Ibrahim pernah meminta kepada terdakwa untuk menunjukkan dimana usaha jual beli bawang tersebut akan tetapi terdakwa tidak dapat menunjukkannya. Bahwa akibat kejadian tersebut saksi korban HJ.
Juariah Binti Ibrahim dirugikan sebesar Rp. 40.000.000.- (empat puluh juta) dan emas sebanyak 25 (dua puluh lima) Mayam.
b. Berawal saat saksi korban Cut Yenni Fachrina bertemu dengan terdakwa dirumahnya yang berada di jalan Darussalam Gang Delia Desa hagu Selatan Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe dan setelah bertemu kemudian saksi korban Cut Yenni Fachrina bertanya kepada terdakwa “ apa betul ibu bias urus CPNS ” dan dijawab oleh terdakwa “ bias, karena panitia CPNS di Banda Aceh orang yang saya kenal ” dan jawab oleh terdakwa “ tahun yang lalu Rp. 35.000.000.- dan tahun sekarang juga masih sama ” lalu saksi korban
45
Cut Fachrina jawab “ boleh, nanti kalau sudah lulus baru diberikan uangnya ” dan setelah itu saksi korban Cut Yenni Fachrina pulang dari rumah terdakwa.
Bahwa kemudian keesokan harinya terdakwa menghubungi saksi korban Cut Yenni Fachrina via HP dan meminta kepada saksi korban Cut Yenni Fachrina agar memfotocopy nomor ujian CPNS dan setelah memfotocopy lalu saksi korban Cut Yenni Fachrina antarkan kerumah terdakwa. Bahwa berselang beberapa hari kemudian terdakwa kembali menghubungi saksi korban Cut Yenni Fachrina dan mengatakan bahwa uang pengurusan harus ditransfer ke Banda Aceh secepatnya dan saksi korban Cut Yenni Fachrina jawab “ kalau hari ini tidak ada uangnya dan akan saya usahakan secepatnya ”. Bahwa meskipun pada awal pertemuan terdakwa mengatakan uang baru akan diberikan setelah lulus namun karena saksi korban Cut Yenni Fachrina yakin dan percaya kepada terdakwa yang sebelumnya telah menyakinkan saksi korban Cut Yenni Fachrina dengan bujuk rayu dan memberikan keterangan dengan bukti-bukti berupa kwitansi penyerahan uang untuk mengikuti CPNS atas nama orang lain serta memberikan contoh orang yang telah terdakwa luluskan CPNS serta terdakwa juga menyakinkan dengan kata-kata “ pasti bisa
” mengurus dan meluluskan saksi korban Cut Yenni Fachrina menjadi CPNS tahun 2013 sekira pukul 11.30 wib saksi korban Cut Yenni Fachrina bersanma suami yang bernama Azmi dan Ibu kandung saksi korban Cut Yenni Fachrina yang bernama Cut Berliana mendatangi rumah terdakwa untuk menyerahkan uang pengurusan CPNS tahun 2013 sebesar Rp. 35.000.000.- (tiga puluh lima juta rupiah) dan dibuatkan kuitansinya oleh terdakwa. Bahwa sekira bulan
46
November 2013 saksi korban Cut Yenni Fachrina mengikuti tes CPNS di Banda Aceh dan sebelumnya saksi korban Cut Yenni Fachrina ada menghubungi terdakwa via HP untuk menanyakan “ apa sudah diurus ? ” dan dijawab oleh terdakwa “sudah beres ”. bahwa pada bulan Desember 2013 saksi korban Cut Yenni Fachrina kembali menghubungi terdakwa untuk menanyakan kapan keluar pengumuman tes CPNS nya dan ternyata terdakwa tidak mengetahui kapan keluar pengumumannya karena belum dihubungi sama yang di Banda Aceh. Bahwa setelah pengumuman keluar disurat kabar ternyata saksi korban Cut Yenni Fachrina dinyatakan tidak lulus, lalu saksi korban Cut Yenni Fachrina bersama suami mendatangi terdakwa dirumahnya untuk menanyakan tentang permasalahan tersebut namun setelah saksi korban Cut Yenni Fachrina mengetuk pintu rumahterdakwa ternyata pintu rumah tertutup rapat dan tidak ada yang keluar dari rumah dan setelah itu saksi sempat bertemu dengan bterdakwa dan bertanya masalah uang yang telah saksi korban Cut Yenni Fachrina berikan, lalu terdakwa mengatakjan bahwa orang yang di Banda Aceh butuh waktu untuk menarik kembali uangnya, dan terdakwa juga menanyakan masalah bukti pengiriman uang tersebut dari terdakwa ke seseorang yang mengurus saksi korban Cut Yenni Fachrina di Banda Aceh, namun terdakwa tidak dapat memperlihatkan bukti pengiriman uang tersebut. Bahwa akibat perbuatan terdakwa saksi korban Cut Yenni Fachrina mengalami kerugian sebesar Rp. 35.000.000.- (tiga puluh lima juta).
47
2. Dakwaan Dakwaan Kesatu
Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana pada Pasal 378 KUHP Jo. Pasasl 64 KUHP.
Dakwaan Kedua
Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana pada Pasal 378 KUHP Jo. Pasal 65 KUHP.
Dakwaan Ketiga
Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana pada Pasal 372 KUHP Jo. Pasal 64 KUHP.
Dakwaan Keempat
Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana pada Pasal 372 KUHP Jo. Pasal 65 KUHP.
3. Tuntutan
Setelah mendengar uraian tuntutan hukum Penuntut Umum tertanggal 18 Januari 2016 yang pada pokoknya menuntut agar Majelis Hakim Pengadilan Negeri Lhokseumawe yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan : a. Menyatakan terdakwa Ernawati Binti Hasyem terbukti secara sah dan
menyakinkan bersalah melakkan tindak pidana pada Pasal 378 KUHP Jo.
Pasal 64, 65 KUHP sebagaimana dalam dakwaan kesatu.
b. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama 3 (tiga) tahun dan 6 (enam) bulan dikurangkan selama terdakwa berada dalam tahanan sementara dengan perintah agar terdakwa tetap ditahan.