• Tidak ada hasil yang ditemukan

EKSISTENSI AKSARA ARAB PEGON DALAM NASKAH MOCOAN LONTAR YUSUF BUDAYA SUKU OSING BANYUWANGI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "EKSISTENSI AKSARA ARAB PEGON DALAM NASKAH MOCOAN LONTAR YUSUF BUDAYA SUKU OSING BANYUWANGI"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

239 Seminar Nasional Bahasa Arab Mahasiswa V Tahun 2021 HMJ Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

EKSISTENSI AKSARA ARAB PEGON DALAM NASKAH MOCOAN LONTAR YUSUF BUDAYA SUKU OSING

BANYUWANGI

Ade Rizki Maulana Universitas Negeri Malang

[email protected]

Abstrak: Mocoan Lontar Yusuf merupakan salah satu kebudayaan asli masyarakat suku Osing Banyuwangi berupa naskah kuno. Naskah tersebut ditulis dengan menggunakan aksara arab pegon dan didalamnya berisi puisi yang menceritakan tentang kisah nabi yusuf. Aksara Arab Pegon merupakan aksara arab yang mengalami perubahan agar mudan ditulis dan diucapkan ketika ditulis menggunakan bahasa jawa. Kebudayaan adalah sebuah peraturan atau norma yang dimiliki bersama oleh masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di terima oleh semua masyarakat. Ada beberapa proses terbentuknya kebudayaan seperti akulturasi, asimilasi, enkulturasi, dan difusi. Di Indonesia banyak kebudayaan yang tercipta dari proses akulturasi. Menurut Harsoyo, Akulturasi adalah proses terbentuknya budaya karena adanya kontak langsung antar kelompok manusia yang memiliki budaya yang berbeda-beda, kemudian menimbulkan perubahan dalam lingkup kebudayaan dari salah satu kelompok atau kedua-duanya. Salah satu kebudayaan yang tercipta dari proses akulturasi di Indonesia yang unik dan masih terjaga hingga saat ini terdapat dalam kesenian sastra yakni Mocoan Lontar Yusuf Banyuwangi, didalamnya terdapat unsur budaya Arab, Jawa, dan Osing.

Dengan dituliskannya artikel ini penulis berharap agar para generasi muda utamanya di Kabupaten Banyuwangi

(2)

240 Seminar Nasional Bahasa Arab Mahasiswa V Tahun 2021 HMJ Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

mengetahui kebudayaan Mocoan Lontar Yusuf ini sehingga tetap terjaga dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari- hari, serta dapat memberikan wawasan baru kepada masyarakat di seluruh Indonesia.

Kata Kunci: Mocoan Lontar Yusuf, Suku Osing Banyuwangi, Aksara Arab Pegon, Akulturasi Budaya

Kebudayaan merupakan gagasan, karya, peraturan yang menjadi pedoman dan pengarahan bagi manusia dalam bersikap dan berperilaku.

Kebudayaan adalah sebuah peraturan atau norma yang dimiliki bersama oleh masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di terima oleh semua masyarakat. (William H.Haviland).

Ada beberapa proses terbentuknya kebudayaan seperti akulturasi, asimilasi, enkulturasi, dan difusi. Di Indonesia banyak kebudayaan yang tercipta dari proses akulturasi. Menurut Harsoyo, Akulturasi adalah proses terbentuknya budaya karena adanya kontak langsung antar kelompok manusia yang memiliki budaya yang berbeda-beda, kemudian menimbulkan perubahan dalam lingkup kebudayaan dari salah satu kelompok atau kedua-duanya. Salah satu kebudayaan yang tercipta dari proses akulturasi di Indonesia yang unik dan masih terjaga hingga saat ini terdapat dalam kesenian sastra yakni aksara pegon.

Aksara pegon adalah aksara arab yang mengalami modifikasi yang digunakan oleh masyarakat islam jawa pada zaman dahulu untuk menuliskan kata-kata jawa. Pegon berasal dari bahasa jawa “pego” yang artinya “ora lumrah anggone ngucapke” (tidak lazim diucapkan), (Kromopawiro, 1867:1).

Di ujung timur pulau Jawa tepatnya di kabupaten Banyuwangi ada sebuah kebudayaan sastra klasik yaitu Mocoan Lontar Yusuf. Sastra klasik tersebut berisi puisi kuno yang menceritakan kisah nabi Yusuf a.s dimana naskahnya ditulis menggunakan aksara pegon dan ditembangkan (dibacakan) menggunakan penembangan khas masyarakat suku Osing Banyuwangi.

Pembahasan

(3)

241 Seminar Nasional Bahasa Arab Mahasiswa V Tahun 2021 HMJ Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang Asal Usul Aksara Pegon

Aksara pegon adalah aksara arab yang yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa melayu. Kata pegon berasal dari kata berbahasa jawa pego yang berarti tidak lazim diucapkan. Menulusuri awal mula aksara pegon sangat sulit, hal ini dikarena banyak versi yang menyampaikan awal mula adanya aksara pegon. Hingga saat ini belum ada pendapat yang akurat tentang kapan, dimana, dan oleh siapa aksara pegon tersebut muncul dan digunakan.

Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa aksara pegon muncul sekitar tahun 1200 atau 1300 bersamaan dengan masuknya ajaran Islam di Indonesia. Catatan lain tentang asal usul aksara pegon ada di Pesantren Ampel Dentha Surabaya yang dikemukakan Raden Patah atau yang dikenal Sunan Ampel menyatakan bahwa aksara Pegon muncul sekitar tahun 1400. Sedangkan menurut pendapat lain, penggagas aksara pegon adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon dan Imam Nawawi Banten (Irmawati, 2014).

Namun secara historis penggunaan aksara Pegon memang telah populer antara abad ke-18 sampai abad ke-19. Hal ini dikuatkan karena adanya karya-karya ulama di Jawa pada abad tersebut yang ditulis dengan aksara pegon. Beberapa ulama Jawa yang telah mempopulerkan aksara pegon antara lain; KH. Ahmad Rifa’i (Kalisasak, 1786–1878), KH. Hasyim Asy'ari (Jombang, 1875–1947), Haji Hasan Mustafa (Garut, 1852–1930), dan lain sebagainya. Hampir seluruh kitab beliau menggunakan aksara pegon. Dengan berbagai kajian mulai dari bahasan filsafat, teologi, hadits, fiqh, Tasawuf, Tafsir dan Nahwu-Shorof (tata bahasa), karya-karya tersebut menjadi bukti kuat telah berdirinya akulturasi Islam dengan jawa dalam bingkai budaya dan kearifan lokal.

Mocoan Lontar Yusuf

Lontar Yusuf merupakan naskah puisi kuno yang mengisahkan Nabi Yusuf A.S, pada awal mulanya ditulis diatas daun lontar sehingga disebut Mocoan Lontar Yusuf. Namun secara bahasa lontar sendiri artinya manuskrip atau naskah. (Kang Pur, 2017). Lontar Yusup mengisahkan rentetan perjalanan hidup seorang utusan pilihan Tuhan (duta nabi luwih) dari usia dua belas tahun, kala beliau bermimpi tentang matahari, bulan, sebelas bintang bersujud kepadanya, sampai naik tahta menjadi penguasa Mesir, seusai nubuatnya tentang

(4)

242 Seminar Nasional Bahasa Arab Mahasiswa V Tahun 2021 HMJ Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

mimpi Raja Mesir; tujuh sapi kurus memangsa tujuh sapi gemu dan tujuh daun kering melahap tujuh daun hijau. (Wiwin Indiarti, 2018:1).

Lontar Yusuf hadir tidak lepas dari adanya proses islamisasi di tanah Belambangan (Banyuwangi). Cerita awal masuknya islam di tanah Belambangan bermula dari Sayid Ishak atau Syekh Maulana Ishak dimana mulanya beliau mengobati putri Raja Belambangan yang bernama Dewi Sekardadu. Karena berhasil mengobati beliau berhak untuk menikahi sang putri, disitulah awal mulaya beliau berdakwah di tanah Belambangan. Beliau memiliki putra yang bernama Raden Paku atau yang dikenal dengan Sunan Giri (salah satu wali songo) yang kelak menyebarkan islam di tanah Jawa. Kejadian tersebut terjadi sekitar tahun 1575. Namun proses islamisasi pada tahun tersebut tidak berjalan lancar. Banyuwangi berhasil di islamisasi tepatnya pada abad ke- 18 ketika kala itu dipimpin oleh Adipati Danuningrat atau Pangeran Pati.

Kedatangan islam tentu saja tidak hanya memperkenalkan konsep religi, tetapi jugaproduk budayanya, salah satu tulisan arab yang di Jawa beradaptasi menjadi aksara pegon. (Tutik Pudjiastuti, 2019:271-284).

Lontar Yusuf ditulis menggunakan aksara arab peguon yang memiliki 12 pupuh, 593 bait dan 4366 larik. Lontar Yusuf memiliki empat jenis yaitu kasmaran, durma, sinom, dan pangkur. Berikut adalah beberapa naskah Lontar Yusuf pada tembang Durma Pupuh VII :

Gambar 1.1 Dok. Wiwin Indiarti 2018

Gambar 1.2 Dok. Wiwin Indiarti 2018

(5)

243 Seminar Nasional Bahasa Arab Mahasiswa V Tahun 2021 HMJ Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Gambar 1.3 Dok. Wiwin Indiarti 2018

Gambar 1.4 Dok. Wiwin Indiarti 2018

(6)

244 Seminar Nasional Bahasa Arab Mahasiswa V Tahun 2021 HMJ Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Gambar 1.5 Dok. Wiwin Indiarti 2018

Gambar 1.6 Dok. Wiwin Indiarti 2018

(7)

245 Seminar Nasional Bahasa Arab Mahasiswa V Tahun 2021 HMJ Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Naskah diatas mengisahkan Putri Zulaikha (Jaleha) dari Negeri Temas, sang putri raja yang berusia sembilan tahun, berulang kali memimpikan seorang pemuda yang tampan rupawan dari Mesir. Sang putri dilanda asmara dan jatuh cinta kepadanya. Dia memberitahu kepada orang tuanya tentang seseorang yang hadir dalam mimpinya. Orang tua sang putri sudah berjanji bahwa apabila seseorang yang ada didalam mimpi putrinya tersebut itu nyata adanya, mereka akan menikahkan sang putri dengannya. Sang Putri Zulaikha, yang sangat merindukan seseorang yang ada didalam mimpinya (bêrangta nira lumindhih), meminta ayahnya, Sang Raja Temas, untuk segera mengirimkan utusan ke Mesir.

Raja Temas mengirimkan utusan dengan membawa sepucuk surat kepada Raja Mesir, meminta sang Raja Mesir untuk meminang putrinya yang bernama Zulaikha.. Karena putri Temas terkenal akan kecantikannya sepucuk surat tersebut membuat Raja Mesir sangat senang menerimanya, seolah mendapatkan intan permata (katiban intên bumi). Raja Mesir datang menemui Putri Zulaikha. Ketika sang putri melihat sosok raja Mesir, ia tak kuasa menahan tangisnya hingga jatuh pingsan. Sang raja bukan seorang laki-laki yang datang dalam mimpinya. Melihat hal itu, sang raja merasa mendapat penghinaan. Dia ingin mengembalikan sang putri kepada orang tuanya, namun kemarahan sang raja padam ketika dia menyadari betapa cantiknya sang putri. Seketika putri Zulaikha mendengar suara yang ada didalam mimpinya, suara tersebut berujar bahwa raja Mesir ini adalah jalan bagi perjumpaannya (marganira panggiya) dengan laki-laki dalam mimpinya. Sang putri pun patuh, percaya, serta pasrah akan jodoh yang sudah ditakdir oleh Tuhan.

Dalam iring-iringan raja Mesir, sang putri menuju ke istana dengan diusung dalam tandu kebesaran. Semua orang yang ada didalam istana menyambut kedatangan sang putri. Para istri raja Mesir sangat terpana ketika melihat putri Zulaikha yang sangat cantik, mereka takjub seolah melihat ratu yang ada didalam dongeng. Sang raja Mesir pun teramat kasih kepada Zulaikha.

Pada suatu malam, sang Raja hendak bermadu kasih dengan putri Zulaikha.

Namun atas kekuasaan Tuhan, Zulaikha pun dilindungi oleh-Nya. Tuhan mengganti putri Zulaikha dengan seseorang yang wajahnya diserupakan seperti

(8)

246 Seminar Nasional Bahasa Arab Mahasiswa V Tahun 2021 HMJ Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

sang putri (jinarupa sang putêri) untuk bermadu kasih dengan sang raja. Tuhan telah berkehendak bahwa tidak ada seseorang pun kecuali Yusuf yang dimaksudkan sebagai jodoh putri Zulaikha.

Pengaplikasian Mocoan Lontar Yusuf

Suku Osing Banyuwangi merupakan salah satu sub suku di Indonesia yang berada di provinsi Jawa Timur, memiliki kebudayaan yang sangat khas atau spesifik nilai-nilai budaya Osing telah melekat dalam kehidupan sehari-hari orang Osing Banyuwangi. Usaha untuk mentransformasikan nilai-nilai budaya Osing telah dilaksanakan secara turuntemurun dari generasi pendahulu ke generasi berikutnya. Transformasi nilai-nilai itu dilakukan melalui jalur-jalur pendidikan di sekolah, pendidikan dalam keluarga, dan pendidikan di masyarakat. Nilai-nilai budaya masyarakat Osing disosialisasikan melalui pertunjukan seni dan hiburan yang merupakan kebutuhan hidup manusia, tentu corak, macam dan ragamnya bentuk seni serta hiburannya disesuaikan dengan jiwa dan keyakinan masyarakatnya (Rachmadi, 2010). Masyarakat Osing umumnya memeluk agama Islam, tentunya kesenian pun dipengaruhi oleh Islam, walaupun unsur-unsur tradisional ikut menjiwai kesenian itu. Misalnya, adalah pertunjukan kesenian Aljin (Pacul Goang), dan seni Mocoan yang menyampaikan kandungan kitab Lontar Yusuf dengan tulisan arab pegon dan isi syair-syairnya ditulis dalam bahasa Jawa peralihan (Bahasa Osing) konon kitab yang tergolong dalam kesusastraan Jawa yang mengandung ajaran-ajaran ketauhidan dan tauladan Nabi Yusuf ini menurut Koentjaraningrat (2009) ditulis dalam abad ke-16.

Mocoan Lontar Yusuf hingga saat ini masih hidup dan dilestarikan.

Bahkan para kaum muda di Banyuwangi membuat perkumpulan yang bernama MLY Milenial (Mocoan Lontar Yusuf Milenial) dimana mereka menjaga tradisi tersebut agar tetap hidup. Mocoan Lontar Yusuf Biasanya ditampilkan saat acara bersih desa, nikahan, khitanan, dan acara lainnya. Pembacaan naskah tersebut dimulai setelah sholat isya’ sampai pukul tiga pagi.

Karsono (2013) menjelaskan bahwa Seni Mocoan merupakan seni pembacaan (waosan) karya sastra dengan cara ditembangkan. Seni Mocoan

(9)

247 Seminar Nasional Bahasa Arab Mahasiswa V Tahun 2021 HMJ Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

tumbuh dan berkembang di Kabupaten Banyuwangi, daerah diujung paling timur provinsi Jawa Timur. Dalam penyajiannya, seni Mocoan memiliki kemiripan dengan beberapa seni waosan yang berkembang di Indonesia, seperti Macapatan di Jawa (Jawa Tengah dan Yogyakarta), Mamaca di Madura, Mamaos di Banten, dan Waosanlontar di Bali. Kemiripan tersebut terletak pada penggunaan melodi lagu (tembang) untuk menyajikan teks sastra tertentu.

Jika kita runtut lebih ke belakang lagi, tradisi membaca karya sastra, dalam hal ini lontar Yusuf, merupakan aktivitas yang sebelumnya sudah berkembang di zaman Hindu dan Buddha. Brandon (2009) menyatakan bahwa proses Islamisasi di Indonesia seringkali dilakukan dengan usaha-usaha meneruskan aktivitas kesenian Hindu-Buddha yang sudah ada sebelumnya, yang sudah mapan, dengan sedapat mungkin mengakomodasikan ajaran atau dogma Islam kedalamnya. Tradisi yang demikian kemungkinan dipengaruhi oleh Islam Sufistik atau Islam India.

Isi yang terkandung dalam Mocoan Lontar Yusuf merupakan penerjemahan dari kisah Nabi Yusuf yang bersumber dalam Surat Yusuf di Al- Qur’an. Proses penerjemahan tersebut kemungkinan terkait dengan kepentingan Islamisasi yang dilakukan para wali di tanah Jawa. Hal tersebut berdasar pada perbandingan isi kisah Yusuf dalam lontar yang tidak jauh berbeda dengan isi kisah Yusuf dalam Surat Yusuf. Di dalam Al-Qur’an Surat Yusuf merupakan surat yang ke13 dari 144 surat yang ada dalam Al-Qur’an. Surat Yususf berada pada akhir juz 12 dan awal juz 13, dengan jumlah ayat 111. Surat ini menceritakan kisah Nabi Yusuf dari kecil hingga dewasa. Dimulai dari kisah ketika dibenci saudara tirinya, diceburkan ke dalam sumur, diselamatkan oleh saudagar Mesir, diasuh oleh saudagar tersebut, digoda oleh Siti Julaeha (Siti Zulaikha istri saudagar Mesir), dipenjara, menjadi ahli tafsir mimpi, hingga menjadi bendahara negeri Mesir, kemudian menolong negeri asalnya yang kekeringan, bertemu ayahnya kembali, dan akhirnya bertahta sebagai raja di Mesir. Kisah-kisah tersebut semua ada juga di dalam Lontar Yusuf. Kisah hidup Nabi Yusuf menjadi kisah yang dominan dalam lontar Yusuf. Selain kisah Yusuf, terdapat juga nama nabi-nabi dan tokoh lain yang juga disebut. Nabi-nabi yang tertera dalam lontar Yusuf tersebut diantaranya Nabi Daud, Nabi Musa,

(10)

248 Seminar Nasional Bahasa Arab Mahasiswa V Tahun 2021 HMJ Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Nabi Sulaeman, Nabi Soleh, dan Nabi Muhammmad. Penyebutan beberapa nabi tersebut sering juga menggunakan kata awalan Bagindho. Sedangkan tokoh lain yang disebutkan dalam lontar adalah Ashabul Kahfi, yaitu sekelompok pemuda yang dalam AlQur’an diceritakan sebagai kelompok penyebar kebaikan, namun harus mengasingkan diri di sebuah goa karena diburu untuk dibunuh. Kelompok pemuda ini tertidur selama ratusan tahun bersama seekor anjing yang setia, hingga zaman berubah. Kelompok tersebut terbangun dan melihat anjingnya sudah menjadi kerangka dan uang yang mereka bawa dulu sudah tidak laku lagi.

Dari peristiwa tersebut mereka sadar sudah tertidur ratusan tahun dan mereka kembali menyebarkan kebaikan karena generasi dan umat sudah berganti. Cerita tentang anjing ternyata ikut menjelaskan tentang keterkaitan lontar Yusuf dengan kepercayaan Islam, yaitu kepercayaan mengenai lima binatang yang kelak menghuni surga, satu di antaranya anjing. Cerita ini tersurat dalam pupuh Durmo Lontar Yusuf. Namun demikian, dalam Al-Qur’an, keterangan tersebut tidak tertulis dalam Surat Yusuf, melainkan dalam Surat Al-Kahfi. Hal inilah yang memunculkan dugaan bahwa Lontar Yusuf tidak hanya bersumber dari Surat Yusuf saja, tetapi ada kisah lain yang terkait dengan ajaran Islam yang bersumber pada beberapa surat di Al-Qur’an.

Sebagai karya sastra Jawa yang mengisahkan kehidupan seorang tokoh Nabi, Lontar Yusuf sangat tepat untuk dijadikan suri teladan dalam kehidupan masyarakat masa kini. Segala aspek nilai ajaran yang digambarkan dalam kisah ini memberikan teladan agar masyarakat sekarang bisa mencontoh perilaku mulia dari seorang Nabi. Memang tidak dapat dipungkiri khasanah sastra Jawa mengandung gambaran kehidupan masa lalu. Oleh karena itu, sangatlah bermanfaat apabila aspek-aspek budi luhur yang terdapat di dalamnya digali, diungkapkan, dan disebarluaskan kepada generasi muda sekarang.

SIMPULAN

Aksara pegon adalah aksara arab yang yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa melayu. Kata pegon berasal dari kata berbahasa jawa pego yang berarti tidak lazim diucapkan. Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa aksara pegon muncul sekitar tahun 1200 atau 1300 bersamaan dengan masuknya ajaran Islam di Indonesia. Catatan lain tentang asal usul aksara pegon

(11)

249 Seminar Nasional Bahasa Arab Mahasiswa V Tahun 2021 HMJ Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

ada di Pesantren Ampel Dentha Surabaya yang dikemukakan Raden Patah atau yang dikenal Sunan Ampel menyatakan bahwa aksara Pegon muncul sekitar tahun 1400.

Lontar Yusuf merupakan naskah puisi kuno yang mengisahkan Nabi Yusuf A.S, pada awal mulanya ditulis diatas daun lontar sehingga disebut Mocoan Lontar Yusuf serta ditulis menggunakan aksara pegon. Lontar Yusuf hadir tidak lepas dari adanya proses islamisasi di tanah Belambangan (Banyuwangi). Cerita awal masuknya islam di tanah Belambangan bermula dari Sayid Ishak atau Syekh Maulana Ishak dimana mulanya beliau mengobati putri Raja Belambangan yang bernama Dewi Sekardadu. Karena berhasil mengobati beliau berhak untuk menikahi sang putri, disitulah awal mulaya beliau berdakwah di tanah Belambangan. Beliau memiliki putra yang bernama Raden Paku atau yang dikenal dengan Sunan Giri (salah satu wali songo) yang kelak menyebarkan islam di tanah Jawa. Kejadian tersebut terjadi sekitar tahun 1575.

Isi yang terkandung dalam Mocoan Lontar Yusuf merupakan penerjemahan dari kisah Nabi Yusuf yang bersumber dalam Surat Yusuf di Al- Qur’an. Proses penerjemahan tersebut kemungkinan terkait dengan kepentingan Islamisasi yang dilakukan para wali di tanah Jawa. Hal tersebut berdasar pada perbandingan isi kisah Yusuf dalam lontar yang tidak jauh berbeda dengan isi kisah Yusuf dalam Surat Yusuf.

Mocoan Lontar Yusuf hingga saat ini masih hidup dan dilestarikan.

Bahkan para kaum muda di Banyuwangi membuat perkumpulan yang bernama MLY Milenial (Mocoan Lontar Yusuf Milenial) dimana mereka menjaga tradisi tersebut agar tetap hidup. Mocoan Lontar Yusuf Biasanya ditampilkan saat acara bersih desa, nikahan, khitanan, dan acara lainnya. Pembacaan naskah tersebut dimulai setelah sholat isya’ sampai pukul tiga pagi.

Sebagai karya sastra Jawa yang mengisahkan kehidupan seorang tokoh Nabi, Lontar Yusuf sangat tepat untuk dijadikan suri teladan dalam kehidupan masyarakat masa kini. Segala aspek nilai ajaran yang digambarkan dalam kisah ini memberikan teladan agar masyarakat sekarang bisa mencontoh perilaku mulia dari seorang Nabi. Memang tidak dapat dipungkiri khasanah sastra Jawa mengandung gambaran kehidupan masa lalu.

(12)

250 Seminar Nasional Bahasa Arab Mahasiswa V Tahun 2021 HMJ Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Harapan dari penulis artikel ini adalah agar pembaca dapat mengetahui sejarah suatu kebudayaan, mulai dari proses terbentuknya, faktor-faktor yang mempengaruhi terciptanya kebudayaan tersebut. Hendaknya kita sebagai kaum muda harus menjaga dan melestarikan kebudayaan yang kita miliki serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya Mocoan Lontar Yusuf ini kita juga dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari cerita nabi-nabi, mempelajari Al-Qur’an secara mendalam serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari

DAFTAR RUJUKAN

Indiarti, Wiwin. 2015. “Kajian mengenai Desa Kemiren sebagai Penyangga Tradisi dan Kearifan Lokal Masyarakat Osing”. Dalam Anasrullah (Eds.), Jagat Osing: Seni, Tradisi dan Kearifan Lokal Osing (hlm.

139-156). Banyuwangi: Rumah Budaya

Indiarti, Wiwin. 2018. LONTAR YUSUP BANYUWANGI: Teks Pegon – Transliterasi–Terjemahan. Jakarta: Perpus Nasional RI

Indiarti, Wiwin & Hasibin. 2019. “Lontar Yusup Banyuwangi: Warna Lokal dan Variasi Teks dalam Manuskrip Pegon di Ujung Timur Jawa”. Jurnal Manuskripta, 9 (1): 1-23

Indiarti, Wiwin, Suhalik & Anasrullah. 2019. Babad Tawangalun: Wiracarita Pangeran Blambangan dalam Unataian Tembang. Jakarta: Perpusnas Press.

Indiarti, Wiwin dan Hervina Nurullita. 2020. Geliat Kaum Muda Dalam Preservasi Tradisi Mocoan Lontar Yusup di Banyuwangi. Jember : Jember University Press.

Kromoprawiro. 1867. Kawruh Sastro Pegon. (Manuskrip) Madiun.

Mumfangati, Titi. 2009. “Macaan Lontar Yusup Tradisi Lisan sebagai Bentuk Pelestarian Nilai Budaya pada Masyarakat Using, Banyuwangi”.

Patrawidya, 10 (2): 252–290.

Pudjiastuti, Titik. 2009. Tulisan Pegon Wujud Identitas Islam Jawa: Tinjauan atas Bentuk dan Maknanya. Suhuf, Vol 2, 2009, hal. 271-284

(13)

251 Seminar Nasional Bahasa Arab Mahasiswa V Tahun 2021 HMJ Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Rofiq, Arif Ainur, Nur Hidayah, dkk. 2016. Nilai-nilai Budaya Suku Osing Banyuwangi DalamKitab Lontar Yusuf dan Aplikasinya pada Konseling.

Tedjowirawan, Anung. 2019. Jurnal Manassa Manuskripta.

https://www.dosenpendidikan.co.id/pengertian-akulturasi-menurut-para-ahli/

https://coretanandrea.wordpress.com/2013/11/03/definisi-kebudayaan-menurut- beberapa-ahli

Gambar

Gambar 1.1  Dok. Wiwin Indiarti 2018
Gambar 1.3  Dok. Wiwin Indiarti 2018
Gambar 1.5  Dok. Wiwin Indiarti 2018

Referensi

Dokumen terkait

Hasil: Didapatkan hasil pengetahuan yang baik tentang inisiasi menyusu dini menurut kelompok umur ada pada kelompok umur <20 tahun (100%), menurut pendidikan terakhir ada

Dari pernyataan informan diatas dalam hal ini penulis menyimpilkan bahwa kendala yang menjadi penghambat pengadaan bahan pustaka di perpustakaan Madarasah Aliyah

Modul akan disajikan dalam konsep pembelajaran mandiri menyajikan pembelajaran yang berfungsi sebagai bahan belajar untuk mengingatkan kembali substansi materi

Dibawah kondisi normal untuk penggunaan yang dimaksud, bahan ini diharapkan tidak berbahaya bagi

Kemajuan dalam bidang genetika dan biologi reproduksi memungkinkan terjadinya rekayasa duplikasi manusia secara seksual dengan klonisasi. Tujuan klonisasi itu sendiri salah

Adapun hasil dalam penelitian ini adalah, pertama, terdapat hubungan (korelasi) yang positif dan signifikan antara tayangan pariwisata di televisi denganperilaku

Peserta AMSA Youth Project Medical Olympiad and Public Poster Competition 2017 (Public Poster Competition) akan mengikuti perlombaan poster publik yang terbagi menjadi babak

Berdasarkan kesimpulan tersebut, peneliti memberikan saran kepada, (1) Kepada Kepala Sekolah Dasar Laboratorium UM, hendaknya lebih perhatian dalam melakukan pengawasan