CHEMICAL SOLUTION DEPOSITION (CSD)
M. Romzie
PROGRAM STUDI FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
M. Romzie (G74104047). STUDI KONDUKTIVITAS LISTRIK, KURVA I-V DAN CELAH
ENERGI FOTODIODA BERBASIS FILM TIPIS Ba0,75Sr0,25TiO3 (BST) YANG DIDADAH
GALIUM (BSGT) MENGGUNAKAN METODE CHEMICAL SOLUTION DEPOSITION (CSD). Dibimbing Oleh Irzaman dan Ardian Arief.
ABSTRAK
Telah dilakukan penumbuhan film tipis Ba0.75Sr0.25TiO3 (BST) murni dan BST yang didoping
Ga2O3 (BSGT) di atas substrat Si(100) tipe-p dan gelas korning. Metode yang digunakan adalah
metode chemichal solution deposition (CSD) dengan teknik spin coating pada kecepatan putar 3000 rpm dalam waktu 30 detik. Film tipis BST dibuat dengan konsentrasi 1 M dan annealing
pada suhu 850oC, 900oC, dan 950oC untuk substrat Si dan 400oC, 450oC, dan 500oC untuk substrat
gelas korning. Uji konduktivitas listrik dan resistansi dilakukan dengan alat LCR meter tipe HIOKI 3522-50 LCR HiTESTER dengan kombinasi tiga kondisi cahaya, yaitu gelap (0 watt), 25 watt dan 100 watt. Pada film tipis BST dan BSGT didapatkan nilai konduktivitas semakin meningkat apabila semakin tinggi intensitas lampu yang diberikan dan sebaliknya nilai resistansi akan semakin menurun apabila intensitas cahaya ditingkatkan. Hasil karakterisasi I-V menunjukan bahwa film BST dan BSGT merupakan material fotodioda. Hasil karakterisasi UV-VIS
menunjukkan band gap film tipis BST dan BSGT. Pada film BST dengan suhu annealing 400oC,
450oC, dan 500oC didapatkan band gap sebesar 2.59 eV, 3.25 eV dan 3.32 eV. Pada film tipis
BSGT dengan suhu annealing 400oC, 450oC, dan 500oC didapatkan band gap sebesar 3.38 eV,
3.43 eV dan 3.43 eV, ini menunjukkan bahwa pendadah galium mempengaruhi besar band gap karena film tipis BSGT memiliki band gap lebih besar daripada band gap pada film tipis BST. Dari seluruh nilai band gap yang didapatkan menunjukkan bahwa film tipis BST dan BSGT merupakan bahan semikonduktor.
CHEMICAL SOLUTION DEPOSITION (CSD)
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains pada
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Intitut Pertanian Bogor
Oleh:
M. Romzie
G74104047
PROGRAM STUDI FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul : Studi Konduktivitas Listrik, Kurva I-V dan Celah Energi Fotodioda Berbasis Film Tipis
Ba0,75Sr0,25TiO3 (BST) yang Didadah Galium (BSGT) Menggunakan Metode Chemical
Solution Deposition (CSD) Nama : M. Romzie NRP : G74104047 Menyetujui Pembimbing I Dr. Irzaman NIP. 132 133 395 Pembimbing II
Ardian Arief, M.Si NIP. 132 321 392
Mengetahui :
Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor
Dr. Drh. Hasim, DEA NIP. 131 578 806
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 9 mei 1986 dari pasangan A. Sabrawi dan Fatimah. Penulis merupakan putra keempat dari enam bersaudara. Penulis menyelesaikan masa studinya di MI Nurul Hidayah Jakarta selama enam tahun, kemudian melanjutkan ke SLTP Islam Assalaam Jakarta selama tiga tahun, kemudian melanjutkan kembali ke SMA Negeri 49 Jakarta selama tiga tahun. Penulis lulus dari SMA Negeri 49 Jakarta pada tahun 2004 dan pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan sarjana strata satu di Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB).
v
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang begitu banyak memberikan nikmat kepada penulis terutama nikmat Iman, Islam dan kesehatan sehingga penulis dapat bersemangat dalam menyelesaikan skripsi yang merupakan salah satu syarat kelulusan penulis agar penulis dapat lulus dari Departemen Fisika IPB.
Dalam penyelesaian skripsi ini, penulis banyak dibantu oleh berbagai pihak. Terima kasih penulis sampaikan kepada kedua orangtua beserta saudara-saudara penulis yang telah mendo’akan, menyemangati dan mendanai penulis. Tak lupa ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak Irzaman dan bapak Ardian sebagai pembimbing tugas akhir yang sangat semangat dalam membimbing penulis dan juga terima kasih kepada seluruh staf Departemen Fisika IPB.
Rekan-rekan kerja di Serum-G (Serambi Ruhiyah Mahasiswa FMIPA) IPB Periode 2006-2007 terutam kepada Ketua Serum-G periode 2006-2007, Ihsan Purwadi Statistika 41. Sahabat-sahabat di SISCO (Agung, Heriyanto, Aep, Ade, Ulul dan Erdiansyah) yang selalu mendukung dan menyemangati penulis. Teman-teman di Fisika 41 terutama Farid, Tb Gamma, Isran, dan yang lainnya yang insya Allah setia selalu menemani dan menghibur penulis sehingga penulis menjadi semangat luar biasa. Dan juga teman-teman penulis yang lain yang tidak dapat dituliskan satu per satu karena sangat banyak.
Demikian skripsi ini penulis buat, semoga dapat bermanfaat untuk kita semua terutama untuk perkembangan teknologi di Indonesia. Kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan untuk kemajuan teknologi mengenai aplikasi material agar dapat lebih berkembang lagi. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan karunianya untuk kita semua. Amiin.
Bogor, September 2008
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
HALAMAN JUDUL... ii
LEMBAR PENGESAHAN... iii
RIWAYAT HIDUP... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI... vi
DAFTAR TABEL... vii
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
PENDAHULUAN... 1
Latar Belakang ... 1
Tujuan Penelitian... 1
Hipotesa... 1
TINJAUAN PUSTAKA... 1
Barium Stronsium Titanat (BaxSr1-xTiO3) ... 1
Pendadah Galium Oksida (Ga2O3)... 2
Fotodioda... 2
Fotokonduktivitas Listrik ... 3
Metode Pendeposisian Cairan Kimia (Chemical Solution Deposition / CSD) ... 3
Spektroskopi Optik... 4
Karakterisasi I-V ... 5
BAHAN DAN METODE ... 6
Waktu dan Tempat ... 6
Alat dan Bahan ... 6
Metode Penelitian... 6
Pembuatan Larutan BST dan BSGT ... 6
Persiapan Substrat Si (100) Tipe-p dan Gelas Korning ... 6
Proses Penumbuhan Film Tipis ... 7
Karakterisasi... 8
Pengukuran Resistansi dan Konduktivitas Film Tipis BST dan BSGT ... 8
Karakterisasi UV-VIS... 8
Karakterisasi I-V... 8
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 8
Karakterisasi UV-VIS ... 8
Konduktivitas Listrik dan Resistansi Film Tipis BST dan BSGT ... 10
Karakterisasi I-V (Arus - Tegangan) ... 11
KESIMPULAN DAN SARAN ... 12
Kesimpulan ... 12
Saran ... 13
DAFTAR PUSTAKA ... 13
vii
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 4.1 Tabel pengaruh suhu dan persen pendadah terhadap
nilai band gap ………... 10
Tabel 4.2 Tabel pengaruh konduktivitas listrik terhadap daya lampu, suhu annealing dan persen pendadah………... 10
Tabel 4.3 Tabel pengaruh resistansi terhadap daya lampu, suhu annealing dan persen pendadah………... 10
DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Konstanta kisi dari BaTiO3 terhadap fungsi temperatur ... 2
Gambar 2.2 a) Sruktur kristal perovskit BST (ABO3) pada fase kubik. b) Sruktur kristal perovskit BST pada fase tetragonal ... 2
Gambar 2.3 Level energi akseptor pada semikonduktor ... 2
Gambar 2.4 Lambang skematis fotodioda... 3
Gambar 2.5 Kurva karakteristik arus- tegangan dari persambungan p-n dalam kondisi gelap dan terang... 3
Gambar 2.6 Transisi optik: (a) transisi langsung yang diizinkan dan (b) transisi langsung yang terlarang; (c) transisi tidak langsung menyertakan emisi fonon (panah keatas) dan absorpsi fonon (panah kebawah)... 4
Gambar 2.7 Kurva koefisien absorpsi optik ... 5
Gambar 2.8 Skema UV-VIS... 5
Gambar 2.9 Karakteristik I-V dioda p-n ... 6
Gambar 3.1 Kurva suhu T terhadap waktu t saat proses annealing... 7
Gambar 3.2 Hasil proses penumbuhan film tipis ... 7
Gambar 3.3 a. Pemasangan kontak tampak samping b. Pemasangan kontak tampak muka... 8
Gambar 4.1 Grafik hubungan panjang gelombang terhadap nilai absorbansi ... 8
Gambar 4.2 Grafik hubungan panjang gelombang terhadap nilai transmitansi... 8
Gambar 4.3 Kurva plot touc pada suhu annealing 400oC dan tanpa pendadah ... 9
Gambar 4.4 Kurva plot touc pada suhu annealing 400oC dengan pendadah 5%... 9
Gambar 4.5 Kurva plot touc pada suhu annealing 450oC dan tanpa pendadah ... 9
Gambar 4.6 Kurva plot touc pada suhu annealing 450oC dengan pendadah 5%... 9
Gambar 4.7 Kurva plot touc pada suhu annealing 500oC dan tanpa pendadah ... 9
Gambar 4.8 Kurva plot touc pada suhu annealing 500oC dengan pendadah 5%... 10
Gambar 4.9 Grafik band gap terhadap suhu annealing... 10
Gambar 4.10 Grafik konduktivitas listrik terhadap daya lampu... 11
Gambar 4.11 Grafik resistansi terhadap daya lampu... 11
Gambar 4.12 Kurva I-V pada suhu annealing 850oC dan tanpa pendadah... 11
Gambar 4.13 Kurva I-V pada suhu annealing 850oC dengan pendadah 5% ... 11
Gambar 4.14 Kurva I-V pada suhu annealing 900oC dan tanpa pendadah... 12
Gambar 4.15 Kurva I-V pada suhu annealing 900oC dengan pendadah 5% ... 12
Gambar 4.16 Kurva I-V pada suhu annealing 950oC dan tanpa pendadah... 12
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Diagram alir penelitian ... 14
Lampiran 2. Skema Pengukuran ... 15
1. Karakterisasi UV-VIS... 15
2. Karakterisasi Konduktivitas Listrik ... 16
3. Karakterisasi I-V... 17
Lampiran 3. Data I-V meter ... 18
4. Suhu annealing 850oC dan tanpa pendadah ... 18
5. Suhu annealing 850oC dengan pendadah galium 5%... 20
6. Suhu annealing 900oC dan tanpa pendadah ... 22
7. Suhu annealing 900oC dengan pendadah galium 5%... 24
8. Suhu annealing 950oC dan tanpa pendadah ... 26
PENDAHULUAN Latar Belakang
Belakangan ini penelitian terhadap material ferroelektrik banyak menarik perhatian para ahli fisika karena material ferroelektrik sangat menjanjikan terhadap perkembangan divais generasi baru sehubungan dengan sifat-sifat unik yang dimilikinya [Azizahwati, 2002]. Material ferroelektrik, terutama yang didasari oleh campuran barium stronsium titanat (BST), diharapkan memiliki energi yang tinggi karena loss tangent yang rendah dan
memiliki dielektrik yang tinggi
[J. L. Wilson, 2006].
Film tipis BST dapat dibuat dengan beberapa teknik, seperti : r.f. sputtering,
laser ablation, metal organic chemical vapor deposition, sol-gel process
[N. V. Giridharan, 2001], and chemical
solution deposition [R. W. Schwartz, 1997].
Dalam penelitian ini, film tipis BST dideposisikan di atas substrat Si (100) tipe-p dengan menggunakan teknik/metode CSD (chemical solution deposition). Kelebihan menggunakan metode ini adalah bisa digunakan untuk mendapatkan film tipis dengan biaya yang rendah, namun dengan hasil yang bagus. Oleh karena itu, metode ini perlu dikembangkan penggunaanya agar lebih efektif dan efisien dalam penumbuhan material ferroelektrik di atas suatu substrat [R. W. Schwartz, 1997].
Karakterisasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah uji resistansi dan konduktivitas listrik dengan alat LCR meter, mencari band gap dengan spektrofotometer UV-VIS serta menentukan sifat listrik film tipis dengan I-V meter.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1. Melakukan penumbuhan film tipis
Ba0.75Sr0.25TiO3 (BST) murni dan
film tipis BST dengan bahan pendadah galium (BSGT) diatas substrat Si tipe-p dan gelas korning dengan metode chemical solution
deposition (CSD).
2. Menguji konduktivitas listrik dan resistansi film tipis dengan LCR meter.
3. Menghitung nilai band gap film tipis BST dengan menggunakan spektrofotometer UV-VIS.
4. Menetukan sifat kelistrikan suatu film
tipis BST dengan menggunakan
I-V meter. Hipotesa
- Pada penelitian ini diharapkan apabila
film tipis BST ditambahkan pendadah galium akan menurunkan nilai konduktivitas listriknya.
- Dalam pengujian fotodioda diharapkan
ada perubahan tegangan knee ketika film tipis BST dikenai cahaya
- Semakin besar intensitas cahaya
diharapkan dapat meningkatkan nilai konduktivitas listrik film tipis BST yang dibuat.
TINJAUAN PUSTAKA
Barium Stronsium Titanat (BaxSr1-xTiO3)
BST merupakan kombinasi dua material perovskit barium titanat (BTO) dan stronsium
titanat (STO). Kedudukan A pada kisi ABO3
dibagi bersama antara ion Ba2+ dan Sr2+,
sedangkan B ditempati oleh ion Ti4+.
Gambar 2.1 menunjukkan konstanta kisi dari BTO murni terhadap temperatur. Transisi dari keadaan kubik (paraelektrik) ke fase tetragonal (ferroelektrik) terjadi pada temperatur 396 K
(669oC). Sedangkan pada STO murni berbentuk
kubik pada temperatur ruangan karena fase transisi dari kubik ke tetragonal terjadi pada
105 K (378oC) [C. Kugeler, 2006].
Persamaan reaksi BST :
0,75Ba(CH3COO)2 + 0,25Sr(CH3COO)2 +
Ti(C12H28O4) + 22O2 → Ba0,75Sr0,25TiO3 +
16H2O + 17CO2
Salah satu kegunaan dari film tipis
BaxSr1-xTiO3 yaitu material ferroelektrik yang
bisa digunakan untuk DRAM dan NVRAM karena memiliki konstanta dielektrik yang tinggi, kebocoran arus yang rendah, dan tidak
mudah rusak pada temperatur Curie yaitu 130oC
[Yoon et al, 1995]. Keadaan inilah yang menyebabkan BST dapat digunakan secara luas pada temperatur ruangan [L. B. Kong].
Gambar 2.1 Konstanta kisi dari BaTiO3
terhadap fungsi suhu [C. Kugeler, 2006].
Gambar 2.2 (a) Sruktur kristal perovskit
BST (ABO3) pada fase kubik. (b) Sruktur
kristal perovskit BST pada fase tetragonal [C. Kugeler, 2006].
Pendadah Galium Oksida (Ga2O3)
Cara untuk menambah daya konduksi semikonduktor adalah dengan menyuntik (doping). Hal ini berarti menambahkan atom-atom yang tidak murni ke dalam kristal intrinsik untuk merubah daya konduksi listriknya. Apabila doping yang digunakan adalah atom pentavalen maka kristal akan menghasilkan satu elektron bebas (atom donor). Dan kalau dimasukkan atom trivalen, maka masing-masing hole akan membantu untuk menerima sebuah
elektron bebas selama rekombinasi
(atom akseptor) [A. P. Malvino, 2003]. Tidak semua atom dapat digunakan sebagai atom akseptor atau atom donor, ada beberapa persyaratan: (1) mempunyai ukuran atom yang hampir sama dengan atom murni (semikonduktor intrinsik yang akan didoping), sehingga dapat masuk dan tidak merusak struktur kristal atom murni, (2) memiliki jumlah elektron valensi
berbeda satu dengan atom murni
[Munasir, 2004].
Atom galium memiliki tiga elektron dalam kulit terluarnya (trivalen), apabila dimasukkan ke dalam kristal silikon akan menimbulkan kekosongan (lubang) dalam struktur elektron kristal itu. Elektron memerlukan energi relatif kecil untuk memasuki lubang, tetapi ketika elektron melakukan hal itu, elektron meninggalkan
lubang baru pada lokasi semula. Jika dipasang medan listrik melintang pada kristal silikon yang berisi galium, elektron bergerak ke arah anode dengan berturut-turut mengisi lubang. Aliran arus elektron disini lebih baik dinyatakan dengan mengacu pada lubangnya yang berlaku sebagai muatan positif karena lubang itu bergerak ke arah elektroda negatif hal ini mengakibatkan semikonduktornya menjadi semikonduktor tipe-p [A. Beiser,1992].
Gambar 2.3 Level energi akseptor pada semikonduktor.
Pada semikonduktor tipe-p terdapat level energi akseptor yang berada di dalam energi gap, sedikit diatas tepi dari pita valensi, seperti
yang ditunjukkan oleh gambar 2.3
[M.A. Omar, 1974]. Fotodioda
Fotodioda adalah suatu alat yang dibuat untuk berfungsi paling baik berdasarkan kepekaan terhadap cahaya. Pada dioda ini sebuah jendela memungkinkan cahaya untuk masuk melalui pembungkus dan mengenai persambungan. Cahaya yang datang menghasilkan elektron dan hole. Makin kuat cahayanya makin banyak pembawa minoritas dan makin besar arus baliknya.
Gambar 2.4 menunjukan lambang skematis fotodioda. Panah yang mengarah ke dalam melambangkan cahaya yang datang. Sumber dan tahanan seri memberikan prategangan balik pada fotodioda. Bila cahaya makin cerah arus balik naik. Dalam fotodioda yang lazim arus balik tersebut besarnya sekitar puluhan mikroampere. Fotodioda adalah salah satu contoh fotodetektor, yaitu sebuah alat optoelektronika yang dapat mengubah cahaya datang menjadi besaran listrik.
Tidak seperti LED yang biasnya panjar maju, persambungan semikonduktor pada fotodioda biasnya adalah panjar mundur. Prinsip dasar fotodioda berhubungan untuk membangkitkan pasangan elektron-hole (oleh peristiwa penyerapan foton dengan energi
g
E
3
Gambar 2.4 Lambang skematis fotodioda
Gambar 2.5 Kurva karakteristik arus- tegangan dari persambungan p-n dalam
kondisi gelap dan terang
[B. G. Yacobi, 2003].
deplesi yang menghasilkan pemisahan dari pengisian dalam arah yang berlawanan melalui persambungan dan aliran arus di dalam divais. Total arus yang dihasilkan adalah phg B
T
I
k
eV
I
I
=
0[exp(
/
)
−
1
]
−
(2.1)Dimana Iphg adalah arus fotogenerasi yang
dapat diekspresikan seperti
Iphg = eGA(W+Lc+Lh), dimana G adalah
rata-rata generasi pasangan elektron-hole. Persamaan ini menggambarkan karakteristik dioda (ditunjukkan oleh gambar 2.5) yaitu, terjadi pergeseran ke bawah, yang
bergantung pada intensitas cahaya
[B. G. Yacobi, 2003]. Fotokonduktivitas Listrik
Fotokonduktivitas adalah fenomena optik dan listrik di dalam suatu material yang menjadi lebih konduktif ketika menyerap radiasi elektromagnet seperti cahaya tampak, sinar ultraviolet, sinar inframerah, atau radiasi gamma. Ketika cahaya diserap oleh sebuah material seperti semikonduktor, jumlah dari perubahan elektron bebas dan hole meningkatkan konduktivitas listrik dari semikonduktor. Eksitasi cahaya yang menumbuk semikonduktor harus mempunyai cukup
energi untuk meningkatkan jumlah elektron yang menyebrangi daerah terlarang atau oleh eksitasi pengotoran dalam daerah bandgap. Ketika tegangan dan beban resistor digunakan secara seri dengan semikonduktor, penurunan tegangan menyeberangi beban resistor dapat diukur ketika perubahan pada konduktivitas listrik berubah-ubah melalui lintasan aliran arus [wikipedia.org].
Peningkatan konduktivitas listrik disebabkan oleh eksitasi dari penambahan pengisian bebas yang diangkut oleh cahaya energi tinggi pada semikonduktor dan insulator [www.answers.com].
Konduktivitas listrik σ (S/cm) berhubungan
dengan resistivitas ρ (Ω cm):
ρ
σ
= 1(2.2) Konduktivitas listrik suatu semikonduktor dapat dihitung dari persamaan :
n
q
μ
σ
=
(2.3)
Dengan besar muatan q (1,602 x 10-19 C),
mobilitas pembawa μ (unit cm2
/Vs), dan
densitas pembawa n (unit cm-3). Jika kedua
jenis pembawa (elektron dan hole) saling terkait, konduktivitas didapat dari persamaan :
n
q
n
q
μ
nμ
pσ
=
+
(2.4) Metode Pendeposisian Cairan Kimia (Chemical Solution Deposition / CSD)Dalam pengolahan film tipis dengan metode CSD, hasil yang diinginkan adalah untuk mengoptimalkan film untuk aplikasi yang spesifik. Untuk hasil yang efektif, diperlukan suatu pemahaman yang pokok tentang substrat, larutan kimia, dan efek dari proses termal pada evolusi struktural dari deposisi film untuk tingkatan kristalin keramik yang dibutuhkan [R. W. Schwartz, 1997].
Disini, substrat dicoating oleh cairan prekursor menggunakan spin coating atau
dip-coating. Bahan yang biasanya mengunakan
metode CSD adalah sol/gel dan dekomposisi metal organik (MOD) dengan lebar spektrum dari metode hibrid [C. Kugeler, 2006].
CSD didasarkan metode dekomposisi pada dasarnya dilakukan dengan beberapa tahap :
1. Persiapan larutan prekursor, 2. Pelapisan substrat,
3. Perlakuan panas untuk pirolisis film basah,
Persiapan pertama dalam pembuatan prekursor secara kimiawi adalah menggunakan material keras seperti
lead-asetat, zirconium-n-propoksida atau titanium-i-propoksida, kemudian campur
dengan bahan lain dan ditambah pelarut dan beri perlakuan suhu dengan cara yang tepat. Tahap kedua, film diberi beberapa tetes larutan prekursor di atas substrat, kemudian dirotasi dengan spin coater agar distribusi cairannya homogen. Dengan demikian ketebalan film bergantung pada viskositas dari prekursor dan kecepatan rotasi. Pada tahap yang ketiga film basah dikeringkan dan dipirolisis oleh pemanas pada temperatur sedang, misalnya penempatan substrat ditempat yang panas. Untuk menambahkan lapisan film pada tahap
spinning dan pirolisis diulang beberapa kali
tanpa merubah viskositas larutan prekursor. Akhirnya, film terkristalisasi pada
peningkatan suhu (antara 600oC dan 800oC)
[C. Kugeler, 2006].
Salah satu keuntungan metode CSD adalah sangat fleksibel untuk komposisi material apapun, sejak persiapan larutan prekursor prosesnya cepat dan tiap komposisi material yang diinginkan mungkin untuk dicampur pada komponen awal dengan rasio yang diinginkan. Selanjutnya, tidak diperlukan teknik khusus
dan juga biayanya murah
[C. Kugeler, 2006]. Spektroskopi Optik
Pengukuran nilai optik sangat penting dalam menentukan struktur pita semikonduktor. Induksi foton pada transisi elektronik dapat terjadi antara pita yang berbeda, yang nantinya akan digunakan untuk mencari band gap.
Pada semikonduktor, koefisien absorpsi merupakan fungsi dari panjang gelombang atau energi foton. Koefisien absorpsi dapat ditunjukkan berdasarkan persamaan
λ
π
α
=
4
k
e (2.5) dan(
)
γα
∝
hv
−
E
g (2.6)Dimana hv adalah energi foton dan γ adalah
konstanta dan ke adalah koefisien
pemadaman (extinction). Terdapat dua jenis transisi dari pita ke pita : diizinkan (allowed) dan terlarang (forbidden). Untuk material yang bandgapnya langsung, transisi kebanyakan terjadi antara dua pita yang
memiliki nilai k yang sama, seperti transisi (a) dan (b) pada gambar 2.6. Transisi langsung yang diizinkan dapat terjadi pada seluruh nilai
k, sedangkan transisi langsung yang terlarang
hanya dapat terjadi pada saat k ≠ 0. Untuk
transisi langsung perkiraan nilai γ sebesar 1/2 dan 3/2 secara berurutan untuk yang diizinkan dan terlarang. Untuk k = 0 dimana bandgap didefinisikan, hanya transisi yang diizinkan (γ = 1/2) yang terjadi dan ini digunakan untuk menentukan bandgap secara eksperimen. Untuk transisi tidak langsung [transisi (c) gambar 2.6], berperan dalam mempertahankan momentum.
Pada transisi ini, tiap fonon (dengan energi Ep)
ada yang diserap atau diemisikan, dan koefisien absorpsi dapat dimodifikasi menjadi :
Gambar 2.6 Transisi optik: (a) transisi langsung yang diizinkan dan (b) transisi langsung yang terlarang; (c) transisi tidak langsung menyertakan emisi fonon (panah keatas) dan
absorpsi fonon (panah kebawah)
[S. M. Sze et al, 2007].
(
)
γα
∝
hv
−
E
g±
E
p (2.7)Disini konstanta γ bernilai 2 dan 3 secara berurutan untuk transisi tidak langsung yang diizinkan dan terlarang. [S. M. Sze et al, 2007]
Kurva absorpsi optik semikonduktor dapat dibagi menjadi tiga daerah dan dapat dilihat pada gambar 2.6 :
1.
Daerah A disebut sebagai daerah absorpsi
tail (ekor) untuk nilai α
≤
1 cm-1.2. Daerah B disebut sebagai daerah Urbach atau daerah eksponensial. Daerah ini nilai
alphanya
1
cm
−1≤
α
≤
10
3cm
−1 .3. Daerah C disebut daerah pangkat, α pada daerah ini mengikuti hukum pangkat atau
n g E h C h ) ( ) (
υ
=υ
−α
, nilai alpha pada5
Gambar 2.7 Kurva koefisien absorpsi optik [Irzaman et al, 2003].
Transisi optik pada daerah C pada kurva
absorpsi (
α
≥
10
3cm
−1) dapat ditentukanenergi gapnya dengan membuat plot linier dari kurva alpha terhadap energi. Metode plot Tauc yang penjelasan sebagai berikut : 1. Data yang keluar adalah transmitansi
terhadap panjang gelombang
2. Kemudian tentukan apakah transisinya langsung atau tidak berdasarkan persamaan n g
E
h
B
h
ν
=
(
ν
−
)
α
(2.8)Untuk n=2 transisi tidak langsung, sedangkan untuk n=1/2 transisi langsung. Cari plot grafik yang lebih linier (apakah saat n=2 atau saat n=1/2), apabila n=2 lebih linier maka transisi tidak langsung, sebaliknya apabila n=1/2 yang lebih linier maka transisi langsung.
3. Dengan melakukan ekstrapolasi bagian
linier kurva
(
α
h
ν
)
1/n terhadaph
ν
memotong absis, diperoleh nilai energi
yang dinamakan celah energi (Eg).
Ekstrapolasi dilakukan pada daerah kurva yang meningkat tajam, dimana daerah tersebut
menyatakan terjadinya transisi langsung
[S. M. Sze , 2007].
Salah satu cara untuk menentukan sifat optik suatu bahan yaitu dengan menggunakan metode spektroskopi UV-VIS. Spektroskopi UV-VIS adalah teknik yang digunakan untuk mengeksitasi elektron valensi dalam atom seperti mencari celah (band) dari atom atau molekul. Spektroskopi UV-VIS memiliki rentang panjang gelombang antara 200-950 nm [M. M. Grady, 2006].
Pada kenyataannya molekul memiliki kemampuan untuk menyerap ultraviolet atau cahaya tampak. Absorpsi ini sesuai untuk mengeksitasi elektron terluar pada molekul terkait. Ketika molekul menyerap energi elektron dinaikkan dari HOMO (Highest
Occupied Molecular Orbital) ke LUMO
(Lowest Unoccupied Molekular Orbital).
Bagian-bagian Spektrofotometer
UV-VIS adalah : sumber cahaya, monokromator dan detektor. Monokromator bekerja seperti kisi difraksi untuk membagi cahaya kedalam bermacam panjang gelombang. Peran detektor adalah untuk merekam intensitas cahaya yang ditransmisikan [A. Gahr]. Skema jalur sinar pada spektrofotometer UV-Vis dapat dilihat pada gambar 2.8.
Karakterisasi I-V
Saat diode berpanjar maju, probabilitas pembawa muatan mayoritas yang mempunyai
cukup energi untuk melewati potensial penghalang Vo – V akan tergantung pada muatan elektron (q) dan temperatur absolut.
kT V V q
e
− ( 0− )/η (2.7) Jadi arus difusi yang mengalir adalah sebesar T V VAe
I
=
/η(
V
T=
kT
/
q
)
(2.8)dimana VT = 25 mV pada temperatur ruang,
η = 1 untuk gemanium dan berharga 2 untuk silikon. Jadi arus total yang mengalir adalah sebesar T V V
Ae
I
I
=
−
0+
/ηGambar 2.9 Karakteristik I-V dioda p-n atau karena I = 0 untuk V = 0 diperoleh
)
1
(
/ 0−
=
I
e
V VTI
η (2.9)Persamaan 2.9 merupakan karakteristik I-V umum diode.
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Material Departemen Fisika IPB dengan
lama waktu penelitian dari bulan
juli 2007 – april 2008. Alat dan Bahan
Penelitian ini menggunakan alat dan bahan sebagai berikut :
1. Alat : timbangan Sartonius Model
BL 6100, spin coating, mortar, pipet, gelas ukur, gelas piala, tabung reaksi, setrika, pinset plastik, gunting,
stopwatch, spatula, pipet, masker, kertas
obat, desikator, pisau kristal, tisu, sarung tangan karet, masker, corong, cawan petritis, beaker glass, kompresor udara, Lampu, aluminium foil, double
tip (perekat), solasi transparan, IC 741,
resistor, potensiometer, baterai, kabel,
bread board, furnace tipe
VulcanTM 3-130, evaporator, I-V meter,
spektrofotometer UV-Vis, multimeter, LCR meter tipe HIOKI 3522-50 LCR
HiTESTER.
2. Bahan : Ba(CH3COO)2 99%, Sr(CH3COO)2
99%, Ti(C12O4H28) 99.999%, pelarut
2-metoksietanol [H3COCH2CH2OH, 99%],
galium asetat, substrat Si tipe-p, gelas korning, metanol, aseton, aquabides dan larutan HF 5%.
Metode Penelitian
Pembuatan Larutan BST dan BSGT
Dalam penelitian ini BST dibuat dengan metode chemical solution deposition (CSD). Pertama-tama semua bahan seperti barium
asetat [Ba(CH3COO)2, 99%] dan stronsium
asetat [Sr(CH3COO)2, 99%)] digerus selama
3 jam agar diperoleh butiran yang halus. Kemudian masukkan barium asetat, stronsium
asetat, titanium isopropoksida
[Ti(C12O4H28), 99%] dan 2-metoksietanol
[H3COOCH2CH2OH, 99%] ke dalam tabung
reaksi. Bahan-bahan yang telah tercampur di dalam tabung reaksi dikocok secara manual selama kurang lebih 1 jam (campuran tersebut biasa disebut precursor). Kemudian precursor dipanaskan pada permukaan setrika dengan
temperatur ±120oC selama 5 menit agar
bahan-bahan tercampur secara merata. terakhir
precursor tersebut disaring dengan kertas saring
agar didapat larutan yang lebih homogen. Untuk pembuatan larutan BSGT prosesnya sama seperti pada pembuatan larutan BST, bedanya hanya ditambahkan pendadah (galium oksida) sebanyak 5% yang sebelumnya telah digerus terlebih dahulu.
Persiapan Substrat Si (100) Tipe-p dan Gelas Korning
Substrat yang digunakan adalah Si (100) tipe-p dan gelas korning dengan ukuran 1 cm x 1 cm. Pemotongan substrat Si (100) tipe-p dilakukan dengan sangat hati-hati dengan menggunakan alat pemotong kristal dan dibantu dengan penggaris plastik. Usahakan dalam proses pemotongan agar tidak terbentuk goresan pada lapisan bahan aktif bagian muka substrat. Substrat Si (100) tipe-p yang telah terpotong, kemudian dibersihkan. Kebersihan substrat harus diperhatikan agar film tipis dapat tumbuh dengan baik dan merata pada permukaan substrat. Proses pembersihan substrat Si (100) tipe-p dilakukan secara bertahap. Tahapan pertama substrat Si (100) tipe-p dibersihkan bagian aktifnya dengan tisu, kemudian dicelupkan ke dalam larutan HF 5%. Setelah dicelupkan dalam HF 5% substrat dicelupkan
7
dalam larutan aquabides. Kemudian Setelah itu dikeringkan dengan kompresor udara.
Untuk pemotongan substrat gelas korning prosesnya hampir sama seperti pada pemotongan silikon, bedanya hanya pada proses pencucian. Tahapan pertama substrat korning dicelupkan ke dalam larutan etanol. Setelah dicelupkan dalam etanol substrat dicelupkan dalam larutan metanol. Kemudian metanol dibersihkan dengan dye
water selama 1 menit. Setelah itu
dikeringkan dengan kompresor udara. Dye
water dapat diganti dengan aquades atau
aquabides
Proses Penumbuhan Film Tipis
Substrat diletakkan di atas reaktor spin
coating (jangan lupa diberi perekat agar
substrat tidak terpental). Tutup kira-kira 1/3 dari bagian substrat dengan menggunakan solasi transparan untuk membedakan bagian yang akan di tumbuhi film dan yang tidak. Tetesi larutan prekursor di atas substrat Si (100) tipe-p sebanyak 1 tetes (usahakan merata di atas permukaan yang akan ditumbuhkan film). Kemudian reaktor spin
coating diputar pada 3000 rpm selama
30 detik. Substrat Si (100) tipe-p yang telah diproses dipanaskan di atas permukaan setrika selama satu jam pada temperatur
±120oC. Substrat siap diproses langkah
selanjutnya yaitu annealing.
Annealing adalah proses pemanasan
kristal yang mengalami pengerasan untuk
mengembalikan kelentukannya
[A.Beiser, 1987]. Annealing dilakukan
menggunakan furnace model
VulcanTM3-130. Proses annealing untuk
setiap substrat dilakukan pada temperatur
850oC, 900oC dan 950oC (untuk substrat
korning digunakan suhu 400oC, 450oC dan
500oC) sehingga sampel yang didapat sebanyak
enam jenis untuk substrat silikon (850oC 0%,
850oC 5%, 900oC 0%, 900oC 5%, 950oC 0%
dan 950oC 5%) dan enam sampel untuk substrat
korning (400oC 0%, 400oC 5%, 450oC 0%,
450oC 5%, 500oC 0% dan 500oC 5%).
Annealing dimulai dari temperatur ruangan
dengan kenaikan 1,7oC/menit sampai didapat
temperatur annealing 850oC, 900oC dan 950oC.
Penggunaan temperatur annealing 850oC keatas
karena berdasarkan penelitian sebelumnya film tipis BSGT lebih efektif ditumbuhkan pada temperatur annealing tinggi. Kemudian ketika temperatur annealing telah dicapai maka dilakukan penahanan temperatur tersebut selama 15 jam. Tahapan terakhir yaitu penurunan temperatur furnace (furnace cooling) sampai didapat temperatur ruang. Secara garis besar proses annealing diperlihatkan pada Gambar 3.1. Hasil yang didapat dapat dilihat pada Gambar 3.2.
Gambar 3.2. Hasil proses penumbuhan film tipis
Setelah proses annealing dilakukan pembuatan kontak aluminium dengan menggunakan alat evaporator. Berikut ini gambar film yang telah diberi kontak (gambar 3.3)
Gambar 3.1. Kurva suhu T terhadap waktu t saat proses annealing.
(a)
(b)
Gambar 3.3. (a) Pemasangan kontak tampak samping
(b) Pemasangan kontak tampak muka
Karakterisasi
Pengukuran Konduktivitas Listrik dan Resistansi Film Tipis BST dan BSGT
Pengukuran resistansi dan konduktivitas listrik dilakukan dengan menggunakan alat LCR meter tipe HIOKI 3522-50 LCR
HiTESTER. Alat ini memiliki kecepatan
pengukuran 5ms sehingga dapat lebih cepat dan efisien dalam melakukan pengukuran [HIOKI, 2001]. Parameter pengukuran yang dapat dilakukan oleh LCR meter adalah |Z|, |Y|, θ, Rp (DCR), Rs (ESR, DCR), G, X, B, Cp, Cs, Lp, Ls, D (tan δ), dan Q [HIOKI, 2001].
Dari alat LCR meter ini didapatkan nilai G (konduktansi), untuk mendapatkan nilai konduktivitas listriknya digunakan persamaan 3.1
A
G
t
=
σ
(3.1)untuk mendapatkan nilai R bisa dilihat langsung di alat LCR meter atau dengan menggunakan persamaan 3.2
G
R
=
1
(3.2)Skema pengukurannya dapat dilihat pada lampiran 2.
Karakterisasi UV-VIS
Karakterisasi UV-VIS ini dilakukan untuk mencari nilai bandgap suatu film tipis BST/BSGT. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat spektrofotometer UV-VIS. Perhitungan untuk mencari bandgap digunakan metode plot Tauc. Skema pengukuran lihat di lampiran 2.
Karakterisasi I-V
Karakterisasi I-V dilakukan untuk melihat karakteristik sifat listrik film tipis BST/BSGT yang dibuat dengan melihat hasil kurva I-V dari alat I-V meter. Skema pengukuran lihat di lampiran 2.
HASIL DAN PEMBAHASAN Karakterisasi UV-VIS
Karakterisasi UV-VIS ini dilakukan untuk mencari nilai band gap suatu film tipis BST/BSGT. Karakterisasi dilakukan dengan rentang panjang gelombang dari 200-800 nm.
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 1,4 1,6
0,00E+00 2,00E-07 4,00E-07 6,00E-07 8,00E-07 1,00E-06 λ (m) A b so rb a n si 400oC ; 0% 400oC ; 5% 450oC ; 0% 450oC ; 5% 500oC ; 0% 500oC ; 5%
Gambar 4.1 Grafik hubungan panjang gelombang terhadap nilai absorbansi
Berdasarkan data yang didapat (gambar 4.1) dapat dilihat bahwa nilai absorbansi maksimum kira-kira terjadi pada panjang gelombang 300 nm. 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
0,00E+00 2,00E-07 4,00E-07 6,00E-07 8,00E-07 1,00E-06 λ (m) T ran s m it an s i ( % ) 400oC ; 0% 400oC ; 5% 450oC ; 0% 450oC ; 5% 500oC ; 0% 500oC ; 5%
Gambar 4.2 Grafik hubungan panjang gelombang terhadap nilai transmitansi
Berdasarkan data yang didapat (gambar 4.2) dapat dilihat bahwa nilai transmitansi minimum
9
kira-kira terjadi pada panjang gelombang 300 nm.
Saat nilai absorbansi rendah (saat tidak maksimum) sekitar 0,2 pada saat panjang gelombangnya 350 – 800 nm menunjukkkan elektron tidak dapat menyerap energi pada panjang gelombang tersebut, sehingga energi yang diberikan hanya diteruskan saja. Oleh karena itu, nilai transmitansi pada panjang gelombang tersebut memiliki nilai yang besar, yaitu 60-90%. Nilai absorbansi maksimum atau nilai transmitansi minimum pada 300 nm ini merupakan nilai optimum penyerapan energi oleh elektron sehingga elektron memiliki energi yang cukup untuk melewati bandgap. 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 hυ (eV) (α hυ) 1/ 2
Gambar 4.3 Kurva plot touc pada suhu annealing 400oC dan tanpa pendadah
Berdasarkan gambar 4.3, didapatkan
nilai band gap (Eg) dari BST dengan suhu
annealing 400oC dan tanpa pendadah adalah sebesar 2,59 eV. 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 hυ (eV) (α hυ ) 1/ 2
Gambar 4.4 Kurva plot touc pada suhu annealing 400oC dengan pendadah 5%
Berdasarkan gambar 4.4, didapatkan
nilai band gap (Eg) dari BST dengan suhu
annealing 400oC dengan pendadah 5% adalah sebesar 3,38 eV.
0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 hυ (eV) (α hυ) 1/ 2
Gambar 4.5 Kurva plot touc pada suhu annealing 450oC dan tanpa pendadah
Berdasarkan gambar 4.5, didapatkan nilai
band gap (Eg) dari BST dengan suhu annealing
450oC dan tanpa pendadah adalah sebesar
3,25 eV. 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 hυ (eV) (α h υ) 1/ 2
Gambar 4.6 Kurva plot touc pada suhu annealing 450oC dengan pendadah 5%
Berdasarkan gambar 4.6, didapatkan nilai
band gap (Eg) dari BST dengan suhu annealing
450oC dengan pendadah 5% adalah sebesar
3,43 eV. 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 hυ (eV) (α hυ) 1/ 2
Gambar 4.7 Kurva plot touc pada suhu annealing 500oC dan tanpa pendadah
Berdasarkan gambar 4.7, didapatkan nilai
band gap (Eg) dari BST dengan suhu annealing
500oC dan tanpa pendadah adalah sebesar
0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 hυ (eV) (α hυ) 1/ 2
Gambar 4.8 Kurva plot touc pada suhu annealing 500oC dengan pendadah 5%
Berdasarkan gambar 4.8, didapatkan
nilai band gap (Eg) dari BST dengan suhu
annealing 500oC dengan pendadah 5% adalah sebesar 3,43 eV.
Berdasarkan nilai band gap yang telah didapat dapat dibuat tabel 4.1.
Tabel 4.1 Tabel pengaruh suhu dan persen pendadah terhadap nilai band gap
Bandgap (eV)
Suhu (oC) 0% 5%
400 2,59 3,38
450 3,25 3,43
500 3,32 3,43
Sehingga dapat digambarkan dengan grafik (gambar 4.9) 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 400 420 440 460 480 500 520 Suhu Annealing (oC) B a nd ga p (e V ) 0% 5%
Gambar 4.9 Grafik band gap terhadap suhu
annealing.
Berdasarkan grafik di atas dapat dinyatakan bahwa band gap meningkat seiring dengan semakin banyaknya pendadah dan semakin besarnya suhu. Hal ini terjadi karena pendadah yang dilakukan pada penelitian ini merupakan pendadah tipe-p yang akan membuat energi akseptor
(Ea) didalam celah energi (band gap), dekat
diatas tepi pita valensi sehingga elektron yang ada di pita konduksi akan mampir
terlebih dahulu ke energi akseptor (Ea) yang
selanjutnya akan menuju pita valensi. Karena elektron singgah di energi akseptor
terlebih dahulu sehingga seolah-olah menyebabkan energi band gap yang diperlukan semakin besar.
Peningkatan suhu juga akan memperbesar
band gap. Peningkatan band gap ini
kemungkinan karena suhu annealing yang digunakan masih dalam tahap pembentukan kristal, sehingga kristal yang terbentuk belum sempurna.
Konduktivitas Listrik dan Resistansi Film Tipis BST dan BSGT
Pengukuran nilai resistansi dan konduktivitas listrik pada penelitian dilakukan dalam tiga kondisi yang berbeda, yaitu gelap (0 Watt), dengan lampu 25 Watt dan dengan lampu 100 Watt. Pengukuran dilakukan pada
temperatur ruang 27oC. Hasilnya ditunjukkan
oleh tabel 4.2, tabel 4.3, gambar 4.10, dan gambar 4.11.
Tabel 4.2 Tabel pengaruh konduktivitas listrik terhadap daya lampu, suhu annealing dan persen pendadah.
Konduktivitas Listrik (S/m)
Suhu ; % 0 Watt 25 Watt 100 Watt
850oC; 0% 3.09x10-7 4.49x10-6 5.19x10-6 850oC; 5% 2.71x10-8 1.69x10-7 2.25x10-7 900oC; 0% 2.49x10-8 4.65x10-8 6.50x10-8 900oC; 5% 9.76x10-8 1.24x10-7 5.23x10-7 950oC; 0% 1.24x10-8 1.11x10-7 2.79x10-7 950oC; 5% 6.18x10-8 1.64x10-7 1.60x10-7
Tabel 4.3 Tabel pengaruh resistansi terhadap daya lampu, suhu annealing dan persen pendadah.
Resistansi (Ω)
Suhu ; % 0 Watt 25 Watt 100 Watt
11 0.00E+00 1.00E-06 2.00E-06 3.00E-06 4.00E-06 5.00E-06 6.00E-06 0 20 40 60 80 100 120
Daya Lampu (Watt)
K on duk ti v it a s ( S /m ) 850oC; 0% 850oC; 5% 900oC; 0% 900oC; 5% 950oC; 0% 950oC; 5%
Gambar 4.10 Grafik konduktivitas listrik terhadap daya lampu
-2.00E+06 0.00E+00 2.00E+06 4.00E+06 6.00E+06 8.00E+06 1.00E+07 1.20E+07 1.40E+07 1.60E+07 0 20 40 60 80 100 120
Daya Lampu (Watt)
R esi stansi (Ω ) 850oC; 0% 850oC; 5% 900oC; 0% 900oC; 5% 950oC; 0% 950oC; 5%
Gambar 4.11 Grafik resistansi terhadap daya lampu
Berdasarkan data diatas semakin besar daya lampu semakin meningkatkan nilai konduktivitas listrik dan semakin memperkecil nilai resistansi. Hal ini dikarenakan ketika semakin besar daya lampu yang digunakan untuk menyinari persambungan p-n antara film tipis BST dengan Si tipe-p akan mengakibatkan semakin bayak elektron yang terdapat pada pita valensi menuju ke pita konduksi sehingga dengan semakin banyaknya elektron pada pita konduksi akan menyebabkan konduktivitas listrik semakin besar dan sebaliknya resistansi akan semakin kecil.
Pengaruh doping terhadap konduktivitas listrik film tipis yaitu ketika diberi doping akan mengakibatkan konduktivitas listrik menurun
saat suhu annealing 850oC dan konduktivitas
listrik meningkat pada suhu annealing 900oC
dan 950oC. Penurunan konduktivitas listrik saat
suhu annealing 850oC terjadi karena kondisi
850oC tanpa pendadah merupakan kondisi yang
paling baik sehingga ketika diberi gangguan berupa pendadah mengakibatkan konduktivitas listriknya menurun. Peningkatan konduktivitas
listrik saat suhu annealing 900oC dan 950oC
terjadi karena pada kondisi ini ketika belum diberi pendadah nilai konduktivitas listriknya belum terlalu baik sehingga ketika diberi pendadah akan meningkatkan konduktivitas listrik film tipis tersebut.
Nilai konduktivitas listrik yang didapatkan
mempunyai orde antara 10-8 – 10-6 S/m, hal ini
dapat dikatakan bahwa film tipis yang dibuat bersifat sebagai semikonduktor.
Karakterisasi I -V (Arus - Tegangan)
Karakterisasi I-V dilakukan dengan menggunakan I-V meter dengan dua perlakuan: (1) kondisi terang (dengan menggunakan dua buah lampu dengan daya masing-masing 40 watt dan 20 watt), (2) kondisi gelap (sampel ditutup dengan kotak hitam). Hasilnya akan dibandingkan antara kurva I-V dalam kondisi terang dan dalam kondisi gelap. Berikut merupakan data yang didapatkan :
-0.0000025 -0.000002 -0.0000015 -0.000001 -0.0000005 0 0.0000005 0.000001 0.0000015 0.000002 0.0000025 0.000003 -6 -4 -2 0 2 4 6 Tegangan (V) Ar u s ( A) Gelap Terang Vknee= 1.4 V Vknee= 1.3 V
Gambar 4.12 Kurva I-V pada suhu annealing 850oC dan tanpa pendadah
-7.00E-07 -6.00E-07 -5.00E-07 -4.00E-07 -3.00E-07 -2.00E-07 -1.00E-07 0.00E+00 1.00E-07 2.00E-07 3.00E-07 -6 -4 -2 0 2 4 Tegangan (V) Ar u s (A ) Gelap Terang Vknee=1.5 V Vknee=1.7 V
-0.000001 -0.0000005 0 0.0000005 0.000001 0.0000015 0.000002 -6 -4 -2 0 2 4 6 Tegangan (V) Ar u s (A ) Gelap Terang Vknee=1.8 V Vknee=1.9 V
Gambar 4.14 Kurva I-V pada suhu annealing 900oC dan tanpa pendadah
-4.00E-07 -2.00E-07 0.00E+00 2.00E-07 4.00E-07 6.00E-07 8.00E-07 1.00E-06 1.20E-06 1.40E-06 -6 -4 -2 0 2 4 6 Tegangan (V) Aru s ( A ) Gelap Terang Vknee=3.0 V Vknee=3.4 V
Gambar 4.15 Kurva I-V pada suhu annealing 900oC dengan pendadah 5% -2.50E-07 -2.00E-07 -1.50E-07 -1.00E-07 -5.00E-08 0.00E+00 5.00E-08 1.00E-07 1.50E-07 2.00E-07 2.50E-07 -6 -4 -2 0 2 4 6 Tegangan (V) Ar u s ( A) Gelap Terang Vknee= 1.5 V Vknee= 1.7 V
Gambar 4.16 Kurva I-V pada suhu annealing 950oC dan tanpa pendadah
-0.0000002 -0.00000015 -0.0000001 -0.00000005 0 0.00000005 0.0000001 0.00000015 0.0000002 -6 -4 -2 0 2 4 6 Tegangan (V) Ar u s ( A ) Gelap Terang Vknee=1.6 V Vknee=1.7 V
Gambar 4.17 Kurva I-V pada suhu annealing 950oC dengan pendadah 5%
Data yang didapat, yaitu :
a. Pada suhu 850oC tanpa pendadah
tegangan knee pada kondisi gelap sebesar 1.4 V dan kondisi terang sebesar 1.3 V.
b. Pada suhu 850oC dengan pendadah
5% tegangan knee pada kondisi gelap sebesar 1.5 V dan kondisi terang sebesar 1.7 V.
c. Pada suhu 900oC tanpa pendadah
tegangan knee pada kondisi gelap sebesar 1.8 V dan kondisi terang sebesar 1.9 V.
d. Pada suhu 900oC dengan pendadah 5%
tegangan knee pada kondisi gelap sebesar 3.0 V dan kondisi terang sebesar 3.4 V.
e. Pada suhu 950oC tanpa pendadah
tegangan knee pada kondisi gelap sebesar 1.5 V dan kondisi terang sebesar 1.7 V.
f. Pada suhu 950oC dengan pendadah 5%
tegangan knee pada kondisi gelap sebesar 1.6V dan kondisi terang sebesar 1.7V.
Berdasarkan data yang didapat, dapat ternyata berbentuk kurvanya seperti kurva dioda dan ada perubahan tegangan knee ketika dalam kondisi terang dan gelap. Karena adanya perubahan nilai ini, maka film BST dan BSGT yang dibuat ini memiliki sifat fotodioda.
Perbedaan kondisi terang dan gelap mempengaruhi besar tegangan knee dari masing-masing sampel. Ketika terang, hampir disemua sampel memiliki tegangan knee yang lebih besar daripada pada kondisi gelap. Hal ini kemungkinan terjadi karena fotodioda adalah suatu alat yang dibuat untuk berfungsi paling baik berdasarkan kepekaan terhadap cahaya sehingga cahaya yang datang menghasilkan elektron dan hole. Makin kuat cahayanya makin banyak pembawa minoritas dan makin besar arus baliknya.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Telah berhasil ditumbuhkan film tipis
Ba0,75Sr0,25TiO3 (BST) murni dan BST yang
didadah galium (BSGT) di atas substrat Si tipe-p dengan menggunakan metode chemical
solution deposition (CSD). Film tipis BST dan
BSGT merupakan bahan semikonduktor karena mempunyai nilai konduktivitas listrik antara
10-6 - 10-8 S/m dan bandgap sebesar
2,59 - 3,43 eV.
Konduktivitas listrik film tipis akan semakin besar apabila intensitas penerangan lampu semakin tinggi.
Film tipis Ba0,75Sr0,25TiO3 (BST) dan BSGT
13
Saran
Diharapkan pada penelitian selanjutnya agar lebih diperhatikan saat pemasangan indium diatas kontak agar dalam proses pengukuran sifat listrk lebih stabil nilai keluarannya dan dalam pengukuran sifat optiknya sebaiknya gunakan lampu dengan panjang gelombang 300 nm sesuai dengan nilai panjang gelombang optimum yang didapatkan.
DAFTAR PUSTAKA
A. Beiser. Konsep Fisika Modern. Erlangga, (1992).
A. Gahr and D. Koppenkastrop. UV/VIS
Measurement of Load, Sludge Characterictics and Toxicity. STIP
Isco GmbH, 64823 Groß-Umstadt, Siemenstrasse 2, Germany.
A. P. Malvino. Prinsip Elektronika. Jakarta, Salemba Teknika, (2003).
Azizahwati. Studi Morfologi Permukaan
Film Tipis Pb0,525 Zr0,475 TiO3 yang Ditumbuhkan dengan Metode DC Unbalanced Magnetron Sputtering.
Universitas Riau, 5 (1), 50-56 (2002). B. G. Yacobi. Semiconductor Materials:
An Introduction to Basic Principles.
University of Toronto, Toronto, Ontario, Canada, (2003).
C. Kugeler and R.Wiedenbruck. Integration
of Ferroelectric Thin Films into Silicon Based Microsystems, (2006).
HIOKI, 3522-50/3532-50 LCR HiTESTER. Componenet Measuring Instrument, (2001).
http://en.wikipedia.org/wiki/Photoconductivi ty.
http://www.answers.com/topic/photoconduct ivity?cat=technology.
Irzaman, Y.Darvina, A Fuad, P.Arifin, M.Budiman and M Barmawi.
Physical and Pyroelectric properties of Tantalum-oxide doped lead
Zirconium titanate [Pb0,995O(Zr0,525Ti0,465Ta0,010)O3] Thin
Film and Their Application for IR
Sensor, phys, stat, sol (a), 199, no.3.
416-424,9 (2003).
J. L. Wilson, Y. W. Kang, A. Fathy.
Investigation of Using Ferrolectric Materials in High Power Fast RF Phase Shifters for RF Vector Modulation.
Edinburg, Scotland, 3248-3250 (2006). L. B. Kong, L. Yan, K. B. Chong, C. Y. Tan, L.
F. Chen and C. K. Ong. Pulsed Laser
Deposition of LaAlO3 – Ba0.5Sr0.5 TiO3 Thin Films for Tunable Device Applications. Temasek Laboratories,
National University of Singapore, 1-19. M. A. Omar. Elementary Solid States Physics;
Principles and Applications.
Addison-Wesley publishing Company, Reading, Massachusetts, (1974).
M. M. Grady, A. Morlok, C. D. Fernandes, and D. Johnson. Spectroscopy of Stardust
from 200nm to 16μm (with a Gap in the Middle). Planetary and Space Sciences
Research Institute, The Open University, Walton Hall, MK7 6AA, UK, (2006).
Munasir. Semikonduktor. Bagian Proyek
Pengembangan Kurikulum, Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menegah, Departemen Pendidikan Nasional, (2004).
N. V. Giridharan, R. Jayavel, and P. Ramasamy. Structural, Morphological
and Electrical Studies on Barium Strontium Titanate Thin Films Prepared by Sol-Gel Technique. Crystal Growth
Centre, Anna University, Chennai, India, 36 (1), 65-72 (2001).
R. W. Schwartz. Chemical Solution Deposition
of Perovskite Thin Films. Department of
Ceramic and Materials Engineering, Clemson University, Clemson, South Carolina 29634-0907, 9 (11), 2325-2340 (1997).
S. M. Sze. Physics of Semiconductor Devices,
John Wiley & Sons Inc, United States of
America, (2007).
Lampiran 1
Diagram Alir Penelitian
Precursor BSGT 5% Precursor BST Spin Coating Annealing Barium asetat [Ba(CH3COO)2, 99%] Stronsium asetat [Sr(CH3COO)2, 99%] 2-metoksietanol [H3COOCH2CH2OH, 99%] Titanium isopropoksida [Ti(C12O4H28), 99.99%] BST Dipanaskan Disaring Direaksikan (dikocok)
Film tipis BST Film tipis BGST 5%
Konduktivitas listrik dan Resistansi Dengan LCR Meter
UV-VIS untuk mencari Bandgap Kurva I-V
Karakterisasi
Buat Kontak Al
BSGT 5%
15
Lampiran 2
Skema Pengukuran 1. Karakterisasi UV-VIS
Alat yang digunakan : GENESYS 10 UV-Visible spectrophotometers.
Skema Pengukuran :
Cara pegukuran :
1. Hidupkan alat spektrofotometer UV-VIS
2. Pasang sampel yang telah dibuat pada posisi yang ditunjukkan oleh gambar di atas
3. Set konfigurasi alat (alat ini hanya dapat digunakan untuk panjang gelombang 190 - 1100 nm). Gunakan konfigurasi untuk pengukuran nilai absorbansi. Atur dengan range pengukuran kelipatan 2nm dari 100nm yang diinginkan. Misalnya kita akan mencari kurva absorbansi dari 200-300nm dengan rentang 2nm, maka nanti data yang didapat adalah data saat panjang gelombang 200, 202, 204,…300nm.
4. Catat hasil yang didapat dan lanjutkan ke 100nm panjang gelombang berikutnya
2. Karakterisasi Konduktivitas Listrik
Alat yang digunakan : LCR meter tipe HIOKI 3522-50 LCR HiTESTER
Skema Pengukuran :
Cara Pengukuran : 1. Hidupkan alat LCR meter
2. Sambungkan kabel ke kaki 1-3, 1-4, 2-3 dan 2-4
17
3. Karakterisasi I-V
Alat yang digunakan : Keithley's SourceMeter family model 2400
Skema pengukuran :
Cara pengukuran :
1. Hubungkan alat I-V meter dengan komputer. 2. Hidupkan komputer dan I-V meter.
3. Buka software dari komputer untuk membaca data dari I-V meter 4. Sambungkan kabel pada I-V meter ke kaki 1-3, 1-4, 2-3 dan 2-4 sampel 5. Atur konfigurasi pada software untuk pengukuran I-V
6. Lihat hasilnya (perhitungan dilakukan dalam dua kondisi, yaitu kondisi gelap dan terang) dan amati perbedaaan pada kondisi terang dan gelap
Lampiran 3
Data I-V Meter
1. Suhu annealing 850oC dan tanpa pendadah
Gelap
Voltage (V) Current (A) Voltage (V) Current (A) Voltage (V) Current (A)
-5 -2.16E-06 -0.7 -3.79E-10 3.4 7.872E-07 -4.9 -1.97E-06 -0.6 -1.94E-10 3.5 8.068E-07 -4.8 -1.97E-06 -0.5 -1.29E-10 3.6 8.464E-07 -4.7 -1.9E-06 -0.4 -7.67E-11 3.7 9.024E-07 -4.6 -1.61E-06 -0.3 -2.55E-11 3.8 9.11E-07 -4.5 -1.51E-06 -0.2 -7.32E-12 3.9 9.671E-07 -4.4 -1.5E-06 -0.1 8.375E-12 4 9.727E-07
-4.3 -1.38E-06 -1.03E-15 1.829E-11 4.1 1.032E-06
19
Terang
Voltage (V) Current (A) Voltage (V) Current (A) Voltage (V) Current (A)
-5 -2.12E-06 -0.7 -4.21E-08 3.4 1.041E-06
-4.9 -2.07E-06 -0.6 -2.87E-08 3.5 1.048E-06
-4.8 -1.88E-06 -0.5 -2.36E-08 3.6 1.066E-06
-4.7 -1.83E-06 -0.4 -1.74E-08 3.7 1.221E-06
-4.6 -1.78E-06 -0.3 -1.09E-08 3.8 1.327E-06
-4.5 -1.67E-06 -0.2 -4.51E-09 3.9 1.331E-06
-4.4 -1.59E-06 -0.1 -1.4E-09 4 1.431E-06
-4.3 -1.44E-06 -1.03E-15 -5.9E-10 4.1 1.546E-06
-4.2 -1.17E-06 0.1 -2.95E-10 4.2 1.612E-06
-4.1 -1.05E-06 0 5.423E-11 4.3 1.711E-06
-4 -1.05E-06 0.1 1.238E-10 4.4 1.772E-06
-3.9 -1.05E-06 0.2 5.369E-10 4.5 1.867E-06
-3.8 -1.04E-06 0.3 9.564E-10 4.6 1.98E-06
-3.7 -9.54E-07 0.4 1.918E-09 4.7 2.04E-06
-3.6 -8.51E-07 0.5 4.227E-09 4.8 2.181E-06
-3.5 -7.97E-07 0.6 8.609E-09 4.9 2.299E-06
-3.4 -7.61E-07 0.7 1.425E-08 5 2.327E-06
-3.3 -6.71E-07 0.8 2.224E-08 5.1 2.351E-06
2. Suhu annealing 850oC dengan pendadah galium 5% Gelap
Voltage (V) Current (A) Voltage (V) Current (A) Voltage (V) Current (A)
-5 -5.00E-07 -0.7 -1.76E-09 3.6 1.60E-07 -4.9 -2.68E-07 -0.6 -2.10E-09 3.7 1.64E-07 -4.8 -2.52E-07 -0.5 -5.78E-09 3.8 2.07E-07 -4.7 -2.29E-07 -0.4 -1.34E-09 3.9 2.21E-07 -4.6 -2.34E-07 -0.3 -5.59E-10 4 2.60E-07 -4.5 -1.79E-07 -0.2 -3.36E-10 4.1 2.51E-07 -4.4 -1.83E-07 -0.1 -2.93E-10 4.2 2.86E-07
-4.3 -1.31E-07 -1.03E-15 -7.44E-11 4.3 2.77E-07
-4.2 -1.27E-07 0.1 3.50E-11 4.4 2.97E-07 -4.1 -1.11E-07 0.2 1.63E-10 4.5 2.72E-07 -4 -1.32E-07 0.3 2.80E-10 4.6 2.92E-07 -3.9 -1.11E-07 0.4 4.73E-10 4.7 2.84E-07 -3.8 -8.71E-08 0.5 7.80E-10 4.8 2.72E-07 -3.7 -8.55E-08 0.6 1.31E-09 4.9 2.19E-07
-3.6 -7.27E-08 0.7 1.72E-09 5 2.33E-07
21
Terang
Voltage (V) Current (A) Voltage (V) Current (A) Voltage (V) Current (A)
-5 -5.73E-07 -0.7 -1.09E-09 3.6 2.93E-07 -4.9 -4.14E-07 -0.6 -9.13E-10 3.7 2.90E-07 -4.8 -3.49E-07 -0.5 -6.79E-10 3.8 2.47E-07 -4.7 -2.25E-07 -0.4 -4.14E-10 3.9 2.58E-07 -4.6 -1.96E-07 -0.3 -3.40E-10 4 4.24E-07 -4.5 -2.02E-07 -0.2 -3.65E-10 4.1 5.07E-07 -4.4 -2.00E-07 -0.1 -2.29E-10 4.2 4.24E-07
-4.3 -1.60E-07 -1.03E-15 -1.53E-10 4.3 5.00E-07
-4.2 -1.58E-07 0.1 -1.05E-11 4.4 4.79E-07 -4.1 -1.21E-07 0.2 1.54E-10 4.5 5.63E-07
-4 -1.03E-07 0.3 3.76E-10 4.6 5.99E-07 -3.9 -9.16E-08 0.4 4.22E-10 4.7 5.32E-07 -3.8 -8.77E-08 0.5 6.39E-10 4.8 5.19E-07 -3.7 -7.98E-08 0.6 9.91E-10 4.9 5.36E-07
-3.6 -7.31E-08 0.7 2.12E-09 5 4.99E-07
3. Suhu annealing 900oC dan tanpa pendadah Gelap
Voltage (V) Current (A) Voltage (V) Current (A) Voltage (V) Current (A)
-5 -6.6E-07 -0.7 -1.15E-08 3.6 2.949E-07
-4.9 -6.39E-07 -0.6 -8.72E-09 3.7 3.401E-07 -4.8 -6.27E-07 -0.5 -7.42E-09 3.8 3.512E-07 -4.7 -5.17E-07 -0.4 -5.31E-09 3.9 4.02E-07 -4.6 -5.09E-07 -0.3 -4.16E-09 4.0 4.888E-07 -4.5 -4.82E-07 -0.2 -2.73E-09 4.1 5.212E-07 -4.4 -4.25E-07 -0.1 -1.67E-09 4.2 6.36E-07
-4.3 -4.16E-07 -1.03E-15 -6.98E-10 4.3 6.879E-07
23
Terang
Voltage (V) Current (A) Voltage (V) Current (A) Voltage (V) Current (A)
-5 -6.16E-07 -0.7 -8.65E-09 3.6 3.31E-07
-4.9 -5.8E-07 -0.6 -7.1E-09 3.7 3.381E-07
-4.8 -5.49E-07 -0.5 -5.04E-09 3.8 3.91E-07
-4.7 -5.08E-07 -0.4 -3.79E-09 3.9 4.404E-07
-4.6 -4.88E-07 -0.3 -3.12E-09 4 4.493E-07
-4.5 -4.42E-07 -0.2 -1.76E-09 4.1 4.594E-07
-4.4 -4.24E-07 -0.1 -1.25E-09 4.2 5.818E-07
-4.3 -3.66E-07 -1.03E-15 -4.68E-10 4.3 6.018E-07
-4.2 -3.59E-07 0.1 2.61E-11 4.4 6.842E-07
-4.1 -3.57E-07 0.2 7.206E-10 4.5 7.086E-07
-4 -3.47E-07 0.3 9.724E-10 4.6 7.385E-07
-3.9 -3.22E-07 0.4 1.522E-09 4.7 8.284E-07
-3.8 -2.88E-07 0.5 2.855E-09 4.8 9.095E-07
-3.7 -2.73E-07 0.6 2.984E-09 4.9 9.898E-07
-3.6 -2.69E-07 0.7 3.91E-09 5 1.214E-06
-3.5 -2.54E-07 0.8 4.808E-09 5.1 1.599E-06
4. Suhu annealing 900oC dengan pendadah galium 5% Gelap
Voltage (V) Current (A) Voltage (V) Current (A) Voltage (V) Current (A)
-5 -2.75E-07 -0.7 -2.48E-09 3.6 7.46E-08 -4.9 -1.80E-07 -0.6 -1.69E-09 3.7 7.57E-08 -4.8 -2.12E-07 -0.5 -1.30E-09 3.8 7.94E-08 -4.7 -1.82E-07 -0.4 -1.39E-09 3.9 1.26E-07 -4.6 -1.64E-07 -0.3 -1.45E-09 4 1.23E-07 -4.5 -1.16E-07 -0.2 -1.12E-09 4.1 2.23E-07 -4.4 -1.14E-07 -0.1 -5.50E-10 4.2 1.66E-07
-4.3 -1.12E-07 -1.03E-15 -5.49E-11 4.3 2.50E-07
-4.2 -1.07E-07 0.1 5.26E-10 4.4 2.08E-07 -4.1 -8.73E-08 0.2 8.78E-10 4.5 3.78E-07 -4 -7.10E-08 0.3 9.05E-10 4.6 4.44E-07 -3.9 -6.51E-08 0.4 1.67E-09 4.7 6.00E-07 -3.8 -5.19E-08 0.5 1.82E-09 4.8 6.63E-07 -3.7 -4.64E-08 0.6 1.97E-09 4.9 7.55E-07
-3.6 -4.39E-08 0.7 2.50E-09 5 8.58E-07
25
Terang
Voltage (V) Current (A) Voltage (V) Current (A) Voltage (V) Current (A)
-5 -3.46E-08 -0.7 -3.85E-09 3.6 4.13E-08 -4.9 -6.39E-08 -0.6 -3.24E-09 3.7 4.99E-08 -4.8 -6.13E-08 -0.5 -2.48E-09 3.8 5.66E-08 -4.7 -5.34E-08 -0.4 -1.85E-09 3.9 6.72E-08 -4.6 -5.05E-08 -0.3 -1.51E-09 4 7.68E-08 -4.5 -4.78E-08 -0.2 -1.16E-09 4.1 9.48E-08 -4.4 -4.23E-08 -0.1 -9.53E-10 4.2 1.24E-07
-4.3 -4.86E-08 -1.03E-15 -6.98E-10 4.3 1.07E-07
-4.2 -4.25E-08 0.1 -3.74E-10 4.4 1.33E-07 -4.1 -4.02E-08 0.2 1.14E-09 4.5 1.34E-07
-4 -4.01E-08 0.3 2.04E-09 4.6 1.77E-07 -3.9 -3.59E-08 0.4 2.28E-09 4.7 1.87E-07 -3.8 -3.51E-08 0.5 3.07E-09 4.8 2.06E-07 -3.7 -3.54E-08 0.6 4.02E-09 4.9 2.56E-07
-3.6 -4.74E-08 0.7 5.27E-09 5 2.79E-07
5. Suhu annealing 950oC dan tanpa pendadah Gelap
Voltage (V) Current (A) Voltage (V) Current (A) Voltage (V) Current (A)
-5 -2.13E-07 -0.7 -1.20E-09 3.6 1.34E-07 -4.9 -2.08E-07 -0.6 -1.01E-09 3.7 1.50E-07 -4.8 -2.16E-07 -0.5 -8.40E-10 3.8 1.41E-07 -4.7 -1.96E-07 -0.4 -6.48E-10 3.9 1.51E-07 -4.6 -1.85E-07 -0.3 -4.79E-10 4 1.51E-07 -4.5 -1.89E-07 -0.2 -3.54E-10 4.1 1.61E-07 -4.4 -1.66E-07 -0.1 -2.09E-10 4.2 1.56E-07
-4.3 -1.76E-07 -1.03E-15 -9.36E-11 4.3 1.81E-07
-4.2 -1.56E-07 0.1 2.94E-11 4.4 1.79E-07 -4.1 -1.46E-07 0.2 2.13E-10 4.5 1.93E-07 -4 -1.67E-07 0.3 3.40E-10 4.6 1.79E-07 -3.9 -1.67E-07 0.4 4.96E-10 4.7 1.86E-07 -3.8 -1.54E-07 0.5 6.74E-10 4.8 2.20E-07 -3.7 -1.41E-07 0.6 9.32E-10 4.9 1.88E-07
-3.6 -1.36E-07 0.7 1.12E-09 5 2.09E-07
27
Terang
Voltage (V) Current (A) Voltage (V) Current (A) Voltage (V) Current (A)
-5 -1.84E-07 -0.7 -1.97E-09 3.6 9.62E-08 -4.9 -1.64E-07 -0.6 -9.87E-10 3.7 1.48E-07 -4.8 -1.76E-07 -0.5 -8.74E-10 3.8 1.15E-07 -4.7 -1.73E-07 -0.4 -6.92E-10 3.9 1.24E-07 -4.6 -1.58E-07 -0.3 -5.49E-10 4 1.52E-07 -4.5 -1.24E-07 -0.2 -3.83E-10 4.1 1.64E-07 -4.4 -1.60E-07 -0.1 -2.31E-10 4.2 1.48E-07
-4.3 -1.69E-07 -1.03E-15 -8.47E-11 4.3 1.75E-07
-4.2 -1.54E-07 0.1 -8.94E-12 4.4 1.63E-07 -4.1 -1.41E-07 0.2 3.10E-10 4.5 1.77E-07
-4 -1.36E-07 0.3 3.44E-10 4.6 1.94E-07 -3.9 -1.21E-07 0.4 4.43E-10 4.7 1.85E-07 -3.8 -1.11E-07 0.5 7.17E-10 4.8 1.99E-07 -3.7 -1.02E-07 0.6 9.26E-10 4.9 1.92E-07
-3.6 -9.77E-08 0.7 1.11E-09 5 2.03E-07
6. Suhu annealing 950oC dengan pendadah galium 5% Gelap
Voltage (V) Current (A) Voltage (V) Current (A) Voltage (V) Current (A)
-5 -1.59E-07 -0.7 -1.7E-09 3.6 6.494E-08 -4.9 -1.59E-07 -0.6 -1.16E-09 3.7 6.986E-08 -4.8 -1.52E-07 -0.5 -1.1E-09 3.8 7.272E-08 -4.7 -1.51E-07 -0.4 -7.97E-10 3.9 7.639E-08 -4.6 -1.43E-07 -0.3 -5.71E-10 4 8.876E-08 -4.5 -1.32E-07 -0.2 -3.63E-10 4.1 9.143E-08 -4.4 -1.22E-07 -0.1 -2.26E-10 4.2 1.06E-07
-4.3 -1.1E-07 -1.03E-15 -3.05E-11 4.3 1.072E-07
29
Terang
Voltage (V) Current (A) Voltage (V) Current (A) Voltage (V) Current (A)
-5 -1.47E-07 -0.7 -1.47E-09 3.6 5.921E-08
-4.9 -1.41E-07 -0.6 -1.35E-09 3.7 6.402E-08
-4.8 -1.3E-07 -0.5 -1.16E-09 3.8 6.519E-08
-4.7 -1.3E-07 -0.4 -7.88E-10 3.9 6.649E-08
-4.6 -1.21E-07 -0.3 -4.29E-10 4 7.06E-08
-4.5 -1.18E-07 -0.2 -2.96E-10 4.1 7.525E-08
-4.4 -1.14E-07 -0.1 -2.07E-10 4.2 7.821E-08
-4.3 -1.13E-07 -1.03E-15 1.637E-11 4.3 8.299E-08
-4.2 -1.07E-07 0.1 1.2E-10 4.4 8.477E-08
-4.1 -1.04E-07 0.2 2.135E-10 4.5 9.617E-08
-4 -8.85E-08 0.3 3.359E-10 4.6 1.013E-07
-3.9 -8.32E-08 0.4 5.615E-10 4.7 1.105E-07
-3.8 -8.3E-08 0.5 6.495E-10 4.8 1.11E-07
-3.7 -7.22E-08 0.6 9.153E-10 4.9 1.286E-07
-3.6 -7.01E-08 0.7 1.099E-09 5 1.384E-07
-3.5 -6.59E-08 0.8 1.406E-09 5.1 1.43E-07