KOTA JAYAPURA
SKRIPSI
Disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan di Program Studi S1 Teknik Pertambangan dan memperoleh
gelar Sarjana Teknik dari Universitas Cenderawasih
Oleh : BULEX HOWAY NIM. 0090640237
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS CENDERAWASIH JAYAPURA
PADA DAERAH DENZIPUR WAENA
KOTA JAYAPURA
SKRIPSI
Oleh : BULEX HOWAY NIM. 0090640237JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS CENDERAWASIH JAYAPURA
2016
HALAMAN PERSETUJUAN
PERHITUNGAN SUMBERDAYA BATUGAMPING
MENGGUNAKAN METODE CROSS SECTION
PADA DAERAH DENZIPUR WAENA
KOTA JAYAPURA
Disusun Oleh : BULEX HOWAY NIM. 0090640237
Telah dinyatakan lengkap dan memenuhi syarat untuk diajukan dalam Ujian sidang Skripsi Semester Ganjil Tahun Ajaran 2015/2016
Pada Program Studi S1 Teknik Pertambangan Disetujui oleh :
Pembimbing 1
Tanggal : Juni 2016
MARCELINO N. YONAS, M.Eng NIP : 1978 1121 2006 041003
Pembimbing 2
Tanggal : Juni 2016
BEVIE M. NAHUMURY, ST. MT NIP : 1981 0421 2008 121003
HALAMAN PENGESAHAN
PERHITUNGAN SUMBERDAYA BATUGAMPING
MENGGUNAKAN METODE CROSS SECTION
PADA DAERAH DENZIPUR WAENA
KOTA JAYAPURA
Disusun Oleh : BULEX HOWAY NIM. 0090640237
Telah diujikan dalam ujian sidang Skripsi pada tanggal Juni 2016 dan dinyatakan lulus dari Program Studi S1 Teknik Pertambangan
Fakultas Teknik, Universitas Cenderawasih Dewan Penguji :
Pembimbing 1 MARCELINO N. YONAS, M.Eng
NIP : 1978 1121 2006 041003 (.………) Pembimbing 2 BEVIE M. NAHUMURY, ST. MT
NIP. 1981 0421 2008 121003 (.………) Penguji 1 DJUARDENSI PATABANG, ST. M.Eng
NIP. 1969 0602 2003 121001 (……….) Penguji 2 PATRICK M. FANDY, ST. MT
NIP.1979 0208 2008 011007 (……….……) Penguji 3 LIA MEDY TANDY, ST. MT
NIP. 1981 0104 2008 012009 (………….…) Jayapura, Juni 2016
Disahkan oleh : Mengetahui :
Dekan Fakultas Teknik Ketua Jurusan Universitas Cenderawasih Teknik pertambangan
APOLO SAFANPO, ST. MT FRANS TAMBING, ST. MT
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Bulex Howay NIM : 0090640237
Program Studi : Teknik Pertambangan
Fakultas : Teknik, Universitas Cenderawasih
Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini merupakan hasil karya tulis ilmiah atau pemikiran saya sendiri, bukan hasil karya intelektual orang lain. Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebagian atau seluruh skripsi ini adalah hasil karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.
Jayapura, Juni 2016
PERHITUNGAN SUMBERDAYA BATUGAMPING
MENGGUNAKAN METODE CROSS SECTION
PADA DAERAH DENZIPUR WAENA
KOTA JAYAPURA
Oleh : BULEX HOWAY NIM. 0090640237
ABSTRAK
Keterdapatan batugamping tersebut pada Kota Jayapura sering dijumpai di Jayapura bagian barat salah satunya di daerah DENZIPUR Waena. Batuan ini sering dipakai untuk keperluan pembuatan infrastruktur jalan dan bahan bangunan lainnya. Karna manfaatnya yang penting untuk keperluan pembangunan maka jenis batuan ini dapat dikatakan ekonomis, maka diperlukan suatu kajian atau perhitungan mengenai jumlah cadangan batugamping yang terdapat pada daerah DENZIPUR Waena.
Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menghitung jumlah sumberdaya batugamping. Salah satu metode perhitungan cadangan yang dapat digunakan untuk mengestimasi sumberdaya atau cadangan adalah metode cross section atau metode sayatan. Berdasarkan data koordinat yang diperoleh dibuat peta topografi kemudian dibuat sayatan dengan jarak sayatan 11,4 m pada peta hingga dihasilkan penampang atau profil sebanyak 16 profil dengan luas masing-masing yaitu profil A 2494,06m2, profil B 3460,64m2, profil C 4273,11m2, profil D 4799,95m2, profil
E 5317,53m2, profil F 6186,64m2, profil G 6908,86m2, profil H 6806,20m2, profil
I 1754,94m2, profil J 7183,45m2, profil K 1124,04m2, profil L 5490,36m2, profil M
5211,94m2, profil N 5028,96m2, profil O 4189,41m2, profil P 4876,66m2 ,
berdasarkan hasil tersebut diketahui total volume batugamping adalah sebanyak 814.203,60m3
Kata Kunci : Batugamping, Metode Cross Section, Profil(penampang), Perhitungan Volume, Sumberdaya
PEDOMAN PENGGUNAAN SKRIPSI
Skripsi yang tidak dipublikasikan terdaftar dan tersedia di Perpustakaan Fakultas Teknik dan Universitas Cenderawasih, dan terbuka untuk umum dengan ketentuan bahwa hak cipta ada pada pangarang. Referensi kepustakaan diperkenankan dicatat, tetapi pengutipan atau peringkasan hanya dapat dilakukan seizin pengarang dan harus disertai dengan kebiasaan ilmiah untuk menyebutkan sumbernya.
Usaha memperbanyak atau menerbitkan sebagian atau seluruh skripsi haruslah seizin tertulis dari Dekan Fakultas Teknik Universitas Cenderawasih. Perpustakaan yang meminjamkan skripsi ini untuk keperluan anggotanya harus mengisi nama, dan tanda tangan peminjam serta tanggal pinjam.
LEMBAR PERUNTUKAN
Amsal 12:9
Lebih baik menjadi orang kecil, tetapi bekerja untuk diri sendiri, dari pada berlagak orang besar, tetapi kekurangan makan
Kupersembahkan Karya tulis ini kepada :
Kedua Orang tua tercinta yang selalu memberikan kasih sayang, motivasi tanpa kenal lelah dan tulus.
KATA PENGANTAR
Segala Puji dan Syukur Penulis Panjatkan Kepada Tuhan Yesus Kristus, karena atas pertolongan serta pengasihannya penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul “Perhitungan Sumberdaya Batugamping menggunakan Metode Cross Section pada daerah Denzipur Waena Kota Jayapura”dengan baik.
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan di Program Studi S1 Teknik Pertambangan, dan memperoleh gelar Sarjana Teknik Dari Universitas.
Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Dr. Onesimus Sahuleka, SH. M.Hum sebagai Rektor Universitas Cenderawasih.
2. Apolo Safanpo, ST. MT sebagai Dekan Fakultas Teknik Universitas Cenderawasih.
3. Frans Tambing, ST. MT sebagai Ketua Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Cenderawasih.
4.
Bevie Marcho Nahumury, ST. MT sebagai Ketua Program Studi Teknik Pertambangan dan juga sebagai Dosen Pembimbing II.5.
Marcelino N. Yonas, M.Eng sebagai Dosen Pembimbing I.6. Semua dosen Teknik Pertambangan Universitas Cenderawasih yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.
7. Keluarga tercinta yang memberi kasih sayang dan motivasi.
Akhir kata semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan atas segala kekurangan penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.
Semoga Tuhan Yesus yang Maha Esa memberi kasih dan pengharapan kepada kita sekalian. Amin.
Jayapura, 27 Juni 2016
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...ii
HALAMAN PERSETUJUAN...iii
HALAMAN PENGESAHAN...iv
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI...v
ABSTRAK...vi
PEDOMAN PENGGUNAAN SKRIPSI...vii
LEMBAR PERUNTUKAN...viii KATA PENGANTAR...ix DAFTAR ISI...x DAFTAR GAMBAR...xiii DAFTAR TABEL...xiv BAB I PENDAHULUAN...1 1.1 Latar Belakang...1 1.2 Permasalahan...2 1.2.1 Rumusan Masalah...2 1.2.2 Batasan Masalah...2
1.3 Tujuan dan Manfaat...2
1.3.1 Tujuan...2 1.3.2 Manfaat...2 1.4 Keadaan Lingkungan...3 1.4.1 Lokasi...3 1.4.2 Topografi...3 1.4.3 Morfologi...4 1.4.4 Geologi...4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...5
2.1 Batugamping...5
2.2 Pembentukan Batugamping...5
2.3 Kalsit dan Aragonit...7
2.4 Potensi dan Cadangan...7
2.5 Statigrafi daerah Jayapura...7
2.6 Sumber Daya Mineral dan Cadangan (SNI)...10
2.7 Metode Perhitungan Cadangan Konvensional...11
2.7.1 Metode Penampang Vertikal...12
BAB III METODOLOGI...17
3.1 Rencana Penelitian...17
3.2 Alat dan Bahan...17
3.2.1 Alat...17
3.2.2 Bahan...17
3.3 Tahapan Metode dan Teknik Penelitian...17
3.3.1 Tahapan...17
3.3.2 Metode dan Teknik Penelitian...19
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...20
4.1 Hasil...20
4.1.1 Data Koordinat...20
4.1.2 Perhitungan Luas Profil...21
4.1.3 Perhitungan Volume...27
4.2 Pembahasan...30
BAB V PENUTUP...31
5.2 Saran...31 DAFTAR PUSTAKA...32
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Lokasi Penelitian...3
Gambar 1.2 Geologi regional daerah penelitian...4
Gambar 2.1 Klasifikasi Sumberdaya Mineral dan Cadangan...11
Gambar 2.2 Perhitungan volume menggunakan satu penampang...13
Gambar 2.3 Perhitungan volume menggunakan dua penampang...14
Gambar 2.4 Perhitungan volume menggunakan tiga penampang...16
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Data Koordinat...20 Tabel 4.2 Perhitungan Luas Profil A sampai Profil P...22 Tabel 4.3 Perhitungan Volume...30
BAB I
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Papua merupakan pulau yang kaya akan sumber daya alam mineral dan batuan salah satunya batugamping atau sering disebut oleh masyarakan batu kapur. Batugamping sering dipakai sebagai penstabilan jalan raya, bahan baku semen dan juga sebagai bahan baku pembuatan batko (batu tela) yang digunakan untuk membuat dinding bangunan.
Keterdapatan batuan tersebut pada Kota Jayapura sering dijumpai di Jayapura bagian barat salah satunya di daerah Densipur Waena. Jenis batuan ini sering dipakai untuk keperluan pembuatan infrastruktur jalan dan bahan bangunan lainnya. Karna manfaatnya yang penting untuk keperluann pembangunan maka jenis batuan ini dapat dikatakan ekonomis, maka diperlukan suatu kajian atau perhitungan mengenai jumlah cadangan batugamping yang terdapat pada daerah Densipur Waena.
Perhitungan cadangan berperan penting dalam menentukan jumlah dan kemudahan dalam eksplorasi secara komersial dari suatu endapan. Sebab hasil dari perhitungan cadangan nantinya akan sangat bermanfaat untuk memberikan informasi kepada Pemerintah atau pengusaha yang ingin mengelolalanya, selain itu juga dapat digunakan dalam menentukan sasaran produksi, cara penambangan yang akan dilakukan bahkan dalam memperkirakan waktu yang dibutuhkan oleh perusahaan dalam melaksanakan usaha penambangannya.
Dalam ilmu perhitungan cadangan terdapat berbagai metode yang dapat dipergunakan untuk mengestimasi cadangan suatu endapan. Dalam hal pemilihan metode yang digunakan dalam perhitungan cadangan harus sesuai dengan sisi filosofinya, maka untuk endapan batugamping yang terdapat di daerah Densipur Waena Kota Jayapura. Karena merupakan bahan galian batuan bukan logam maka tentu membutuhkan metode yang lebih sesuai dengan jenis bahan galian tersebut. Dalam hal ini penulis tertarik untuk menghitung menggunakan metode cross
1.2 Permasalahan
1.2.1 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan diatas maka permasalahan dapat dirumuskan yaitu berapakah jumlah cadangan endapan batugamping di daerah Densipur Waena Kota Jayapura.
1.2.2 Batasan Masalah
Agar pembahasan tulisan ini mengarah sesuai judul, maka diperlukan batasan batasan masalah sebagai berikut.
1. Perhitungan cadangan batugamping dilakukan pada daerah Densipur Waena Kota Jayapura.
2. Perhitungan cadangan batugamping dihitung menggunakan Metode Cross
Section.
1.3 Tujuan dan Manfaat
1.3.1 Tujuan
Tujuan dari penelitian pada daerah Densipur Waena Kota Jayapura ini adalah untuk mengetahui jumlah cadangan endapan batugamping.
1.3.2 Manfaat
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian pada daerah Densipur Waena Kota Jayapura ini adalah :
1. Untuk peneliti, manfaat dari penelitian ini adalah sebagai pembelajaran dalam membuat perhitungan sumber daya dengan menggunakan metode Cross
Section.
2. Untuk Akademisi, diharapkan hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai konsumsi ilmiah dan dapat dijadikan referensi bagi peneliti yang lain dalam mengembangkan potensi dari jenis batuan ini berdasarkan perhitungan cadangan yang ada.
3. Untuk perusahaan dan pemerintah , diharapkan hasil dari penelitian ini dapat dijadikan informasi untuk dikelola lebih lanjut.
1.4 Keadaan Lingkungan
1.4.1 Lokasi
Secara administratif daerah buper berada dalam wilayah Distrik Heram Kota Jayapura Propinsi Papua. Kesampaian daerah yaitu dari Kota Jayapura (Abepura) ke lokasi penelitian Densipur Waena dapat ditempuh melalui jalan darat dengan menggunakan kendaraan beroda dua atau beroda empat dengan jarak tempuh ± 7 km dan waktu yang dibutuhkan adalah ± 25 menit. Berikut peta kesampaian daerah dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 1.1 Lokasi Penelitian
1.4.2 Topografi
Keadaan topografi Kota Jayapura sangat bervariasi mulai dataran rendah dengan lereng yang landai sampai dengan daerah bergunung-gunung. Secara topografi, wilayah daerah penyelidikan lebih didominasi kemiringan lereng yang sangat curam (40-65 %), sedangkan ketinggian daerah sebagian besar berada dibawah 100 meter diatas permukaan air laut.
1.4.3 Morfologi
Berdasarkan hasil pengamatan pada lokasi penelitian, morfologi yang ada didaerah penelitian terdiri dari perbukitan dengan keadaan vegetasi heterogen. 1.4.4 Geologi
Berdasarkan geologi regional daerah penelitian termasuk kedalam formasi jayapura (Qpj) Tersusun oleh batugamping koral – ganggang, kalsirudit, kalkarenit ; setempat batugamping kapuran, batugamping napalan dan napal, berlapis jelek, setempat berselingan dengan batugamping pelagos. Fosil foraminifera kecil bentos dan pelagos, koral moluska dan ganggang. Umur formasi ini adalah Plistosen. Lingkungan pengendapan laut terbuka yang tak ada lagi bahan rombakan daratan ; menindih tak selaras di atas Formasi Unk. Kemiringan landai ke arah selatan barat daya dengan undak nyata. Terangkat kepermukaan lebih kurang 700 m di atas muka laut. Tebal formasi 400 meter..
Gambar 1.2 Geologi regional daerah penelitian
BAB II
2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Batugamping
Batu Gamping merupakan salah satu mineral industri yang banyak digunakan oleh sektor industri ataupun konstruksi dan pertanian, antara lain untuk bahan bangunan, batu bangunan, bahan penstabil jalan raya, pengapuran untuk pertanian dll.
Stabilitas politik yang baik indonesia telah memacu pengembangan sektor industri, konstruksi dan pertanian ketingkat yang lebih baik. Perkembangan ini secara tidak langsung memperlihatkan adanya peningkatan kebutuhan akan bahan baku dan penolong bagi perkembangan sektor industri yang merupakan industri hilir. Berdasarkan pertimbangan tersebut diperkirakan prospek pasar untuk komoditas pasar cukup cerah.
2.2 Pembentukan Batugamping
Batu Gamping dapat terjadi dengan beberapa cara yaitu secara organik secara mekanik atau secara kimia sebagian batu gamping dialam terjadi secara organik. Jenis ini berasal dari pengembangan cangkang atau rumah kerang dan siput. Untuk batu kapur yang terjadi secara mekanik sebetulnya bahannya tidak jauh beda dengan batu gamping secara organik yang membedakannya adalah terjadinya perombakan dari bahan batu gamping tersebut kemudian terbawa oleh arus dan biasanya diendapkan tidak jauh dari tempat semula. Sedangkan yang terjadi secara kimia jenis batu gamping yang terjadi dalam kondisi iklim dan suasana lingkungan tertentu dalam air laut ataupun air tawar.
Selain hal di atas, maka air mineral dapat pula mengendapkan batu gamping, (disebut endapan sinter kapur). Jenis batu gamping ini terjadi karena Peredaran air panas alam yang melarutkan lapisan batu gamping di bawah permukaan, yang kemudian di endapkan kembali di permukaan bumi.
Magnesium, lempung, dan pasir merupakanunsur pengotor yang mengendap bersama-sama pada proses pengendapan. Keberadaan pengontor batu gamping memberikan klasifikasi jenis batu gamping. Apabila pengotornya magnesium, maka batu kapur tersebut diklasifikasikan sebagai batu gamping dolomitan.
Begitu juga apabila pengotornya lempung, maka batu gamping tersebut di klasifikasikan sebagai batu kapur lempungan, dan batu kapur pasiran apabila pengotornya pasir. Presentase unsur-unsur pengotor sangat berpengaruh terhadap warna batu kapur tersebut, yaitu mulai dari warna putih susu, abu muda, abu-abu tua, coklat, bahkan hitam. Warna kemerah-merahan misalnya, biasanya di
sebabkan oleh adanya unsur mangan, sedangkan kehitam-hitaman di sebabkan oleh adanya unsur organik.
Batu gamping dapat bersifat keras dan padat, tetapi dapat pula kebalikannya. Selain yang pejal (masive) di jumpai pula yang porous.
Batu gamping yang mengalami metamorfosa akan berubah penampakannya maupun sifat-sifatnya. Hal ini terjadi karena pengaruh tekanan maupun panas, sehingga batu kapur tersebut menjadi berhablur, seperti yang di jumpai pada marmer. Selain itu, air tanah juga sangat berpengaruh terhadap penghabluran kembali pada permukaan batu gamping, sehingga terbentuk hablur kalsit.
Di beberapa aerah endapan batu kapur seringkali di temukan di gua dan sungai bawah tanah. Hal ini terjadi sebagai akibat reaksi tanah. Air hujan mengandung CO3 dari udara maupun dan dari hasil pembusukan zat-zat organik di permukaan. Setelah meresap kedalam tanah dapat melarutkan batu kapur yang di laluinya. Reaksi kimia dari proses tersebut adalah sebagai berikut.
CaCO3 + 2 CO2 + H2O Ca (HCO3)2 + CO2
Ca(HCO3)2 larut dalam air, sehingga lambat laun terjadi rongga di dalam tubuh batu kapur tersebut. Secara geologi, batu kapur erat sekali hubungannya dengan dolomit. Karena pengaruh pelindian atau peresapan unsur magnesium dari laut ke dalam batu kapur, maka batu kapur tersebut dapat berubah menjadi dolomitan atau jadi dolomit. Kadar dolomit atau MgO dalam batu gamping yang berbeda akan memberikan klasifikasi yang berlainan pula pada jenis batu kapur tersebut.
2.3 Kalsit dan Aragonit
Batu Gamping dan dolomit merupakan batuan karbonat utama yang banyak digunakan diindustri Aragonit yang berkomposisi kimia sama dengan Kalsit (CaCO3) tetapi berbeda dengan struktur kristalnya, merupakan mineral metas table karena pada kurun waktu tertentu dapat berubah menjadi Kalsit. Karena sifat fisika mineral-mineral karbonat hampir sama satu sama lain, maka tidak mudah untuk mengidentifikasinya.
2.4 Potensi dan Cadangan
Potensi batu gamping di indonesia sangat besar dan tersebar hampir merata di seluruh kepulauan indonesia. Data yang pasti tentang jumlah seluruh cadangan batu gamping belum ada, namun secara umum potensi batu gamping indonesia sampai saat ini di ketahui berjumlah sekitar 28,678 miliyar ton (Tushadi madiadipoera, direktorat sumberdaya mineral 1990) dengan pencirian kurang lebih 61,376 juta ton merupakan cadangan terunjuk (Probable), termasuk di dalamnya cadangan dengan klasifikasi spekulatif dan hipotetik.
Sebagian besar cadangan batu gamping indonesia terdapat di Sumatera Barat dengan jumlah cadangan di perkirakan sekitar 23,23 milyar ton,atau hampir 81,02 persen dari cadangan seluruhnya.
2.5 Statigrafi daerah Jayapura
Stratigrafi daerah Jayapura menurut N. Suwarna Y. Noya, (1995) terdiri dari beberapa satuan batuan yang berumur pra-Tersier hingga kwarter. Urutan lapisan batuan dari unsur yang paling tua hingga termuda adalah sebagai berikut :
1. Kelompok Malihan Cycloops (pTmc)
Kelompok ini terdiri dari batuan metamorfik seperti sekis, gneiss (setempat), filit, amfibolit, marmer, aktinolit dan hornfels. Pada sekis bersusunan karbonat-klorit, klorit-muskovit, muskovit-epidot, glaukofan, aktinolit-epidot klorit, dijumpai urat kuarsa setebal 50 cm ; setempat terjadi mineralisasi sulfide akibat terobosan granit sebelum sekis mengalami alih tempat ; fasies sekis hijau terbentuk pada tekanan tinggi dan suhu rendah, mungkin berhubungan dengan sesar naik. Gneis, bersusunan mika, karbonat, hornblende, muskovit, klorit-epidot ; dijumpai sisa batuan diorite pada daerah Daromena. Filit, terdapat pada sisipan sekis. Amfibolit, berupa bongkah besar. Marmer berwarna putih susu, bersusunan kalsit, sedikit kuarsa dan pirit. Hornfels aktinolit bersusun kuarsa bertekstur mozaik, aktinolit, klorit, muskovit, magnetit. Satuan ini bersentuhan tektonik dengan batuan Ultramafik (um). Di duga berumur Pra Tersier, serta disusun oleh batuan skiss, batugamping dan batu beku ultra basa.
Terdiri dari harsburgit, serpentinit, piroksenit dan dunit. Harsburgit, berbutir menengah hingga kasar, mineral utama olivine yang sebagian berubah menjadi antigorit dan serpopit, serta ortopiroksen yang terserpentinkan, sedikit ditemukan mineral bijih. Serpentinit, mineral antigorit dan sedikit piroksen. Piroksenit, mineral piroksen jenis hipersten dan enstatit, klorit, aktinolit, tremolit, flogofit bertekstur mata burung, kuarsa dan sedikit oksida besi. Dunit, terserpentinkan ; mineral piroksen, klorit hasil ubahan piroksen dan aktinolit. Satuan batuan ini terbreksikan, terkekarkan dan terserpentinkan. Setempat rekahan diisi oleh asbes, talk dan kromit. Dijumpai pula urat kuarsa tebal hingga 2 meter. Satuan batuan ini bersentuhan tektonik dengan Kelompok Malihan Cycloops dan Batuan Mafik. Diduga berumur Pra-Tersier.
3. Formasi Nubai (Tomm)
Tersusun oleh batugamping bersisipan biomikrit, napal, batupasir halus, greiwek gamping tufan, tuf ; setempat bersisipan dengan kalkarenit dan kalsiterit. Batugamping dan biomikrit, berlapis baik ; dijumpai fosil jejak, dan fosil
Lepidocyclina sp, Spiroclypeus sp, Amphistegina sp, Elphidium sp, Globorotalia sp, Globigerina sp, ganggang, moluska dan koral, berumur Oligosen – Miosen
Awal (Te bawah – atas). Batupasir, halus, sisipan tebal 15 cm. Greiwek, gampingan tufan, sisipan lava andesit. Tuf halus, sisipan tebal 0,5 cm. Kalkarenit dan kasiterit, berlapis jelek, terdapat fosil Globoquadrina sp, Heterostegina sp
dan Sphaerodinellopsi sp, ganggang, dan moluska, berumur Miosen Awal –
Miosen Tengah. Batugamping pelagos tufan mengandung radiolarian, berumur Eosen – Miosen Akhir. Lingkungan pengendapan di duga laut dangkal – laut dalam, dekat daerah gunung api yang aktif atau giat. Menjemari dengan Formasi Auwewa, bagian atas menjemari dengan Formasi Makats, bersentuhan tektonik dgSatuan Ultramafik dan memiliki ketebal hingga 350 m.
4. Formasi Makats (Tmm)
Terdiri dari greiwek, berselingan dengan batulanau dan batulempung ; sisipan napal dan konglomerat ; lensa dan puncak batugamping ; bagian bawah bersisipan dengan tuf dan breksi gunung api. Greiwek dijumpai setempat gampingan, urat kalsit mengisi rekahan lebar sampai 0,5 cm ; struktur lapisan,
lengseran, lapisan sejajar, silang-siur, dan lapisan perulangan. Konglomerat, bercampur aneka batuan, permineralan ; fragmen andesit, batugamping, rijang, lempung terkersikan, sediment malih, berukuran 2 – 15 cm, dominan 4 – 5 cm. Batugamping, sebagian terkristal, setempat kalkarenit. Tuf, bersusunan andesit – basalt, berlapis baik, tebal tiap lapisan 1 – 2 cm. Breksi gunung api berkomponen andesit – basalt. Kumpulan fosil : Globorotalia sp, Globigerina sp, Miogypsina
sp, Lepidocylina sp, Cycloclypeus dan Operculina sp, menunjukkan umur Miosen
Tengah hingga Miosen Akhir (Te atas – Te bawah). Lingkungan pengendapan litoral. Formasi ini berlapis baik dan terlipat kuat, setempat lapisan membalik. Tebal formasi sekitar 1.500 m menjemari dengan bagian atas Formasi Auwewa.
5. Formasi Jayapura (Qpj)
Tersusun oleh batugamping koral – ganggang, kalsirudit, kalkarenit ; setempat batugamping kapuran, batugamping napalan dan napal, berlapis jelek, setempat berselingan dengan batugamping pelagos. Fosil foraminifera kecil bentos dan pelagos, koral moluska dan ganggang. Umur formasi ini adalah Plistosen. Lingkungan pengendapan laut terbuka yang tak ada lagi bahan rombakan daratan ; menindih tak selaras di atas Formasi Unk. Kemiringan landai ke arah selatan barat daya dengan undak nyata. Terangkat kepermukaan lebih kurang 700 m di atas muka laut. Tebal formasi 400 meter.
6. Batuan Campur Aduk (Qc)
Tersusun oleh lempung, lumpur bongkah dan hancuran batuan satuan yang lebih tua tak terinci. Lempung dan lumpur berasal dari batuan tergerus dan juga lelahan dari poton serta aliran lumpur ; mengungkung bongkah batuan tua, termasuk bongkah-bongkah besar yang bisa dipetakan ; mengeluarkan gas metan dimana bersentuhan dengan satuan batuan lain umur Plistosen hingga Holosen, satuan lumpur diaper yang terbentuk oleh kompresi dan gravitasi yang ditunjang oleh sifat fisik batuan pembentuk kelompok Mamberamo yang setengah mampat.
7. Aluvium dan Endapan Pantai (Qa)
Terdiri dari kerakal, kerikil, pasir, lanau dan lumpur di lingkungan rawa dan pantai. Endapan pantai mengandung pecahan batugamping koral Resen. Berumur Kuarter.
2.6 Sumber Daya Mineral dan Cadangan (SNI)
Sumber daya mineral (Mineral Resources) adalah endapan mineral yang diharapkan dapat dimanfaatkan secara nyata. Sumber daya mineral dengan keyakinan tertentu dapat berubah menjadi cadangan setelah dilakukan pengkajian kelayakan tambang dan memenuhi kriteria layak tambang. Sumberdaya terbagi menjadi 4 yaitu :
1. Sumber Daya Mineral Hipotetik (Hypothetical Mineral Resource) adalah sumber daya mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh berdasarkan perkiraan pada tahap Survai Tinjau.
2. Sumber Daya Mineral Tereka (Inferred Mineral Resource) adalah sumber daya mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh berdasarkan hasil tahap Prospeksi.
3. Sumber Daya Mineral Terunjuk (Indicated Mineral Resource) adalah sumber daya mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh berdasarkan hasil tahap Eksplorasi Umum.
4. Sumber Daya Mineral Terukur (Measured Mineral Resource) adalah sumber daya mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh berdasarkan hasil tahap Eksplorasi Rinci.
Cadangan (Reserves) adalah endapan mineral yang telah diketahui ukuran, bentuk, sebaran, kualitas dan kuantitasnya dan yang secara ekonomis, teknis, hukum, lingkungan, dan sosial dapat ditambang pada saat perhitungan dilakukan. Cadangan terbagi 2 yaitu :
1. Cadangan Terkira (Probable Reserve) adalah sumber daya mineral terunjuk dan sebagian sumberdaya mineral terukur yang tingkat keyakinan geologinya masih lebih rendah, yang berdasarkan studi kelayakan tambang semua faktor yang terkait telah terpenuhi, sehingga penambangan dapat dilakukan secara ekonomik
2. Cadangan Terbukti (Proved Recerve) adalah sumber daya mineral terukur yang berdasarkan studi kelayakan tambang semua faktor yang terkait telah terpenuhi, sehingga penambangan dapat dilakukan secara ekonomik.
Klasifikasi sumber daya dan cadangan didasarkan pada tingkat keyakinan geologi dan kajian kelayakan. Pengelompokan tersebut mengandung dua aspek yaitu aspek geologi dan aspek ekonomi.
Gambar 2.3 Klasifikasi Sumberdaya Mineral dan Cadangan
2.7 Metode Perhitungan Cadangan Konvensional
Pemilihan metode perhitungan cadangan didasari oleh faktor geologi endapan, metode eksplorasi, data yang dimiliki, tujuan perhitungan, dan tingkat kepercayaan yang diinginkan. Berdasarkan metode (teknik, asumsi, pendekatan), maka penaksiran dan perhitungan sumberdaya atau cadangan terdiri dari metode konvensional yang terbagi menjadi dua, yaitu metode penampang vertikal (dengan menggunakan rumus mean area, kerucut terpancung, obelisk) dan penampang horizontal (Metode Poligon, Metode Triangle, dan Metode Circular USGS 1983). Selain itu, dapat pula dilakukan dengan metode geostatistik dan metode blok. 2.7.1 Metode Penampang Vertikal
Metode penampang vertikal menggambarkan kondisi endapan, bijih, tanah penutup (over burden) pada penampang-penampang vertikal. Perhitungan luas masing-masing elemen tersebut dilakukan pada masing-masing penampang.
Perhitungan tonase dan volume dilakukan dengan rumus-rumus yang sesuai. Metode penampang vertikal dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Membuat irisan-irisan penampang melintang yang memotong endapan batubara yang akan dihitung,
2. Menghitung luas batubara dan over burden tiap penampang,
3. Setelah luasan dihitung, maka volume dan tonase dihitung dengan rumusan perhitungan. Perhitungan volume tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan satu penampang, dua penampang, tiga penampang, atau rangkaian banyak penampang. Perhitungan volume dengan menggunakan satu penampang digunakan jika diasumsikan bahwa satu penampang mempunyai daerah pengaruh hanya terhadap penampang yang dihitung saja. Volume yang dihitung merupakan volume pada areal pengaruh penampang tersebut.
Gambar 2.4 Perhitungan volume menggunakan satu penampang
Rumus perhitungan volume dengan menggunakan satu penampang adalah : (2.1) Perhitungan volume dengan menggunakan dua penampang jika diasumsikan bahwa volume dihitung pada areal di antara 2 penampang tersebut. Yang perlu diperhatikan adalah variasi (perbedaan) dimensi antar kedua penampang tersebut.
Jika tidak terlalu berbeda, maka dapat digunakan rumus mean area dan kerucut terpancung, tetapi jika perbedaannya cukup besar maka digunakan rumus obelisk.
Gambar 2.5 Perhitungan volume menggunakan dua penampang
Adapun rumus yang digunakan sebagai berikut : 1. Rumus Mean Area
S ¿ 2 ¿1+S¿ ¿ ¿ V =L¿ (2.2) Dimana :
L = Jarak antar penampang (cm atau m) V = Volume cadangan (cm3 atau m3)
2. Rumus Kerucut Terpancung
S1+S2+
√
S1S2V =L
3¿ (2.3)
Dimana :
S1, S2 = Luas penampang endapan (cm2 atau m2)
L = Jarak antar penampang (cm atau m) V = Volume cadangan (cm3 atau m3)
3. Rumus Obelisk
V =L
M=(a1+a2)
2
(b1+b2)
2 (2.5)
Dimana :
S1, S2 = Luas penampang endapan (cm2 atau m2)
L = Jarak antar penampang (cm atau m) M = Luas penampang tengah (cm2 atau m2)
V = Volume cadangan (cm3 atau m3)
Perhitungan volume dengan menggunakan tiga penampang digunakan jika diketahui adanya variasi (kontras) pada areal di antara 2 penampang, maka perlu ditambahkan penampang antara untuk mereduksi kesalahan. Perhitungannya menggunakan rumus prismoida.
Gambar 2.6 Perhitungan volume menggunakan tiga penampang
Rumus prismoida sebagai berikut :
V =L(S1+4 M + S2)
Dimana :
S1, S2 = Luas penampang endapan (cm2 atau m2)
L = Jarak antar penampang (cm atau m) V = Volume cadangan (cm3 atau m3)
M = Luas penampang tengah (cm2 atau m2)
BAB III
3
METODOLOGI
3.1 Rencana Penelitian
Adapun rencana penelitian yang akan dilakukan menggenai perhitungan cadangan batuan beku ultrabasa di daerah Buper Waena Kota Jayapura. Waktu penelitian diperkirakan ± 3 bulan dengan data yang diambil berupa data primer dan data sekunder dapat dilihat pada Gambar 3.1. Diagram alir penelitian.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1. Global Positioning System (GPS) 2. Rol Meter
3. Palu Geologi 4. Laptop
5. Papan Data dan Pensil 3.2.2 Bahan
1. Kertas A4 2. Plastik Sampel
3.3 Tahapan Metode dan Teknik Penelitian
3.3.1 Tahapan 1. Persiapan
Persiapan dilakukan dengan mencari, mengumpulkan pustaka dan studi literatur. Studi litelatur ini dilakukan dengan mencari bahan-bahan pustaka yang menunjang perhitungan cadangan, buku, jurnal, membuat proposal kemudian di konsultasi dan ujian proposal.
Data yang di pakai dalam penelitian ini ada 2 yaitu :
a. Data Primer
Merupakan data yang diambil dan diolah sendiri oleh peneliti. Seperti KoordinatUTM, Survey geologi dan endapan bahan galian
b. Data Sekunder
Peta geology regional. 3. Pengolahan Data
Data koordinat yang diperoleh dijadikan peta topografi kemudian dilanjutkan dengan menbuat sayatan pada peta tersebut sehingga membentuk penampang di lanjutkan dengan menghitung luas dan volume.
4. Hasil
Hasil pengolahan data merupakan jumlah cadangan batugamping yang terdapat pada daerah Denzipur Waena Kota Jayapura.
5. Penyusunan Laporan
Laporan Tugas Akhir ini dibagi dalam beberapa bagian sebagai berikut : a. BAB I PENDAHULUAN
Bab ini membahas mengenai latar belakang, tujuan, permasalahan dan keadaan daerah penelitian.
b. BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisikan teori mengenai Batugamping, Sumberdaya dan Cadangan menurut SNI dan Metode perhitungan cadangan.
c. BAB III METODOLOGI
Bab ini mengurai metode, cara, tahapan yang dipakai untuk menjawab permasalahan dan sampai pada penyusunan skripsi.
d. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi hasil yang diperoleh dari setiap tahap penelitian. Pembahasan dilakukan terhadap hasil yang diperoleh.
e. BAB V PENUTUP
Bab ini berisikan tentang kesimpulan dan saran dari penelitian yang dilakukan yang diharapkan dapat menjawab permasalahan dari penelitian ini.
3.3.2 Metode dan Teknik Penelitian
BAB IV
PERSIAPAN
Studi Literatur, Pembuatan Proposal dan Bimbingan
PENGUMPULAN DATA
Data Primer 1. Koordinat UTM
2. Survey Geologi dan endapan bahan galian Data Sekunder 1. Geologi Regional
PENGOLAHAN DATA
Membuat Sayatan dan Penampang menggunakan Peta Topografi
Perhitungan Luas dan Volume menggunakan Metode Cross Section
HASIL
Jumlah Sumberdaya batugamping
4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil4.1.1 Data Koordinat
Pengambilan data pengkuran pada lokasi penelitian, data pengukuran langsung dilapangan dengan mengunakan GPS (Global Position System) Semi Geodetik, dimana data ini berupa data koordinat lokasi penelitian dan juga data elevasi yang nantinya data-data ini akan diolah lagi dengan program Surfer 11 untuk pembuatan peta Topografi daerah penelitian.
Tabel 4.1 Data Koordinat N
o East North Elevasi (m dpl)
1 460133 9712586 177 2 460142 9712594 180 3 460151 9712600 185 4 460161 9712613 189 5 460170 9712623 189 6 460180 9712629 188 7 460199 9712634 193 8 460210 9712649 199 9 460210 9712665 207 10 460213 9712681 212 11 460224 9712673 211 12 460241 9712668 209 13 460250 9712667 210 14 460264 9712680 207 15 460263 9712686 206 16 460260 9712690 206 17 460250 9712700 209 18 460249 9712703 210 19 460233 9712707 214 20 460225 9712710 216 21 460221 9712726 217 22 460219 9712736 218 23 460206 9712734 228 24 460201 9712735 227 25 460195 9712724 229
N
o East North Elevasi (m dpl)
26 460191 9712718 227 27 460185 9712709 224 28 460177 9712706 228 29 460161 9712711 237 30 460156 9712714 238 31 460148 9712710 237 32 460135 9712709 253 33 460122 9712708 250 34 460118 9712705 254 35 460121 9712701 253 36 460125 9712691 250 37 460117 9712691 240 38 460105 9712697 236 39 460123 9712677 236 40 460160 9712867 177 41 460014 9712772 177 42 460029 9712764 176 43 460052 9712599 176 44 460131 9712553 177
4.1.2 Perhitungan Luas Profil
Setelah data diinput maka dibuatlah peta Topografi menggunakan Surfer 11. Metode perhitungan yang digunakan adalah metode cross section atau sayatan. Peta di sayat sehingga terbentuk profil atau penampag, lalu hasil sayatan di pindahkan ke dalam milimter block untuk menghitung luasan dari tiap sayatan atau penampang tersebut. Berdasarkan hasil sayatan diperoleh 15 penampang, yaitu penampang A - A’ sampai penampang P - P’ dengan jarak antara penampang yaitu 1,2 cm. Untuk mendaptkan hasil sesuai dengan keadaan lapangan maka dalam perhitungannya setiap penampang di skalakan lebih dahulu berdasarkan skala pada peta yang dibuat. Untuk memudahkan perhitungan luasan maka hasil gambar dari tiap penampang dibuat dalam bentuk bangun datar yaitu segitiga dan persegi panjang.
Berikut merupakan hasil perhitungan luasan setiap penampang.
Tabel 4.2 Perhitungan Luas Profil A sampai Profil P
Profil Bangun No Rumus Luas (cm skala 1 :950) Luas(m) Total Luas
A Segitiga 1 4.00 0.60 1.20 197.20 2494.06 2 2.00 0.60 0.60 3 2.00 0.60 0.60 4 1.50 0.30 0.23 5 1.50 0.30 0.23 6 2.20 0.70 0.77 7 0.70 1.80 0.63 8 0.80 0.30 0.12 Persegi 1 4.00 0.40 1.60 2296.86 2 2.00 1.00 2.00 3 9.60 1.60 15.36 4 5.50 0.60 3.30 5 0.30 2.50 0.75 6 1.00 1.80 1.80 7 0.80 0.80 0.64 B Segitiga 1 1.00 0.20 0.10 248.64 3460.64 2 4.00 1.00 2.00 3 1.50 0.50 0.38 4 1.90 0.50 0.48 5 2.10 0.30 0.32 6 2.10 0.30 0.32 7 2.00 0.50 0.50 8 0.50 1.40 0.35 9 2.40 0.90 1.08 Persegi 1 1 0.8 0.80 3212.00 2 4 1 4.00 3 11 2 22.00 4 8.1 0.5 4.05 5 4.2 0.5 2.10 6 2.4 1.1 2.64
Profil Bangun No Rumus Luas (cm skala 1 :950) Luas(m) Total Luas C Segitiga 1 0.7 0.2 0.07 386.04 4273.11 2 4.8 1.6 3.84 3 1.6 0.6 0.48 4 0.4 1.4 0.28 5 2.1 0.5 0.53 6 0.5 1.6 0.40 7 3.7 1.6 2.96 Persegi 1 1.2 1.1 1.32 3887.07 2 17.2 1.4 24.08 3 8.7 1.6 13.92 4 5.5 0.5 2.75 5 2 0.5 1.00 D Segitiga 1 0.7 0.2 0.07 813.60 4799.95 2 6.9 2.7 9.32 3 1.3 0.4 0.26 4 0.7 0.2 0.07 5 1.3 0.2 0.13 6 1.1 0.4 0.22 7 5.9 2.7 7.97 Persegi 1 0.7 1.5 1.05 3986.34 2 17.8 1.6 28.48 3 5 2.7 13.50 4 2.6 0.4 1.04 5 0.5 0.2 0.10 E Segitiga 1 8 3.6 14.40 1218.37 5317.53 2 1.4 0.3 0.21 3 1 0.3 0.15 4 6.8 3.6 12.24 Persegi 1 18.3 1.9 34.77 4099.15 2 3 3.5 10.50 3 0.5 0.3 0.15 F Segitiga 1 8 3.9 15.60 1340.21 6186.64 2 2 0.9 0.90 3 1 0.8 0.40 4 6.4 4 12.80 Persegi 1 18.4 2 36.80 4846.43 2 4 4 16.00 3 1 0.9 0.90
Profil Bangun No Rumus Luas (cm skala 1 :950) Luas(m) Total Luas G Segitiga 1 5 2.4 6.00 1033.59 6908.86 2 5.5 3.1 8.53 3 0.5 1 0.25 4 2.7 3 4.05 5 3.4 2.4 4.08 Persegi 1 18.4 2 36.8 5875.27 2 10 2.4 24 3 1.5 2.7 4.05 4 0.5 0.5 0.25 H Segitiga 1 7.5 3.8 14.25 1019.37 6806.20 2 2.5 1.5 1.88 3 0.9 0.2 0.09 4 2.1 1.3 1.37 5 2 2.4 2.40 6 2.9 1.8 2.61 Persegi 1 2.3 18.4 42.32 5786.83 2 5.6 3.7 20.72 3 0.9 1.2 1.08 I Segitiga 1 8 3.8 15.20 1205.74 1754.94 2 0.9 0.2 0.09 3 0.2 1.1 0.11 4 0.3 1.1 0.17 5 0.3 1 0.15 6 3.8 5.7 10.83 7 0.5 0.7 0.18 Persegi 1 17.2 2.4 41.28 549.19 2 4 3.8 15.2 3 0.7 1.9 1.33
Profil Bangun No Rumus Luas (cm skala 1 :950) Luas(m) Total Luas J Segitiga 1 7 3 10.50 1556.36 7183.45 2 2 0.4 0.40 3 2 0.4 0.40 4 1 0.4 0.20 5 3.9 2.6 5.07 6 0.9 1.5 0.68 Persegi 1 16.8 2.5 42 5627.08 2 5 3 15 3 1 0.5 0.5 4 2.6 1 2.6 5 1.5 1.5 2.25 K Segitiga 1 2.3 5.5 6.33 507.21 1124.04 2 1.3 0.4 0.26 3 0.6 0.2 0.06 4 0.8 0.2 0.08 5 1.4 0.4 0.28 6 0.6 1.5 0.45 7 3 1.7 2.55 8 1.9 1.3 1.24 Persegi 1 2.6 16.5 42.9 616.83 2 2.3 6.5 14.95 3 0.4 3.9 1.56 4 0.2 2.5 0.5 5 1.7 1.5 2.55 6 1.9 1.3 2.47 L Segitiga 1 2.2 5.5 6.05 556.39 5490.36 2 0.5 2 0.50 3 1.4 0.4 0.28 4 4.4 1.3 2.86 5 1.2 0.8 0.48 6 1.6 2.7 2.16 Persegi 1 2.5 15.2 38 4933.96 2 4.6 2.2 10.12 3 1.2 0.5 0.6 4 4.4 0.8 3.52 5 0.9 2.7 2.43
Profil Bangun No Rumus Luas (cm skala 1 :950) Luas(m) Total Luas M Segitiga 1 7.5 2.6 9.75 757.20 5211.94 2 0.7 0.1 0.04 3 0.6 0.1 0.03 4 1.7 0.7 0.60 5 5.2 1.9 4.94 6 1.1 2.6 1.43 Persegi 1 2.5 15.8 39.5 4454.74 2 1.3 2.5 3.25 3 1.7 1.9 3.23 4 1.3 2.6 3.38 N Segitiga 1 7.6 2.5 9.50 735.76 5028.96 2 1 3.9 1.95 3 1.5 3.7 2.78 4 1.3 3.2 2.08 Persegi 1 15.2 2.5 38 4293.19 2 1.5 3.9 5.85 3 1.2 3.1 3.72 O Segitiga 1 1.6 6 4.80 388.08 4189.41 2 1 5.6 2.80 3 0.8 2.5 1.00 Persegi 1 2 15.7 31.4 3801.33 2 1.6 2.5 4 3 0.1 4.2 0.42 4 1.5 4.2 6.3 P Segitiga 1 1.1 4.5 2.48 260.37 4876.66 2 0.3 5 0.75 3 0.5 3 0.75 4 1 0.2 0.10 5 0.9 2.7 1.22 6 0.6 1.6 0.48 Persegi 1 16.6 2.3 38.18 4616.28 2 1.1 8.5 9.35 3 0.9 1 0.9 4 1.6 1.7 2.72 4.1.3 Perhitungan Volume
Berdasarkan hasil perhitungan luasan setiap penampang, maka dapat dilakukan perhitungan volume setiap blok sebagai berikut :
Volume Blok A – B = Luas Penampang A + Luas Penampang B2 x Jarak
= 2494,06 m2 + 3460,64 m 22
x 11,4 m
= 33.941,76 m3Volume Blok B – C = Luas Penampang B + Luas Penampang C2 x Jarak
= 3460,64m2 + 4273,11 m 22 x 11,4 m = 44.082,36 m3
Volume Blok C – D = Luas Penampang C + Luas Penampang D 2 x Jarak
= 4273,11 m2 + 4799,95 m 22 x 11,4m = 51.716,43 m3
Volume Blok D – E = Luas Penampang D + Luas Penampang E 2 x Jarak
= 4799,95 m 2+ 5317,53 m 22
x 11,4 m
= 57.669,61 m3Volume Blok E – F = Luas Penampang E + Luas Penampang F 2 x Jarak
= 5317,53 m2 + 6186,64 m 22 x 11,4 m = 65.673,75 m3
Volume Blok F – G = Luas Penampang F + Luas Penampang G 2 x Jarak
= 74.644,35 m3
Volume Blok G – H = Luas Penampang G + Luas Penampang H 2 x Jarak
= 6908,86 m2 + 6806,20 m22
x 11,4 m
= 78.175,88 m3Volume Blok H – I = Luas Penampang H + Luas Penampang I 2 x Jarak
= 6806,20 m2 + 1754,94 m22 x 11,4 m = 48.798,49 m3
Volume Blok I – J = Luas Penampang I + Luas Penampang J 2 x Jarak
= 1754,94 m2 + 7183,45 m22 x 11,4 m = 50.948,79 m3
Volume Blok J – K = Luas Penampang J + Luas Penampang K 2 x Jarak
= 7183,45 m2 + 1124,04 m 22 x 11,4 m = 47.352,69 m3
Volume Blok K – L = Luas Penampang K + Luas Penampang L 2 x Jarak
= 1124,04 m 2+ 5490,36 m 22 x 11,4 m = 37.702,07 m3
= 5490,36 m2 + 5211,94m 22 x 11,4 m = 61.003,09 m3
Volume Blok M – N = Luas Penampang M + Luas Penampang N2 x Jarak
= 5211,94 m 2+ 5028,96 m 22 x 11,4 m = 58.373,09 m3
Volume Blok N – O = Luas Penampang N + Luas Penampang O 2 x Jarak
= 5028,96 m2 + 4189,41 m22 x 11,4 m = 52.544,66 m3
Volume Blok O – P = Luas Penampang O + Luas Penampang P2 x Jarak
= 4189,41 m2 + 4876,66 m22 x 11,4 m = 51.676,56 m3
Maka Total Volumenya adalah 814.203,60 m3, atau dapat disajikan dalam Tabel
sebagai berikut :
Tabel 4.3 Perhitungan Volume Profil Volume (m3) A-B 33,941.76 B-C 44,082.36 C-D 51,716.43 D-E 57,669.61 E-F 65,573.75 F-G 74,644.35 G-H 78,175.88 H-I 48,798.49 I-J 50,948.79 J-K 47,352.69
K-L 37,702.07 L-M 61,003.09 M-N 58,373.09 N-O 52,544.66 O-P 51,676.56 Total 814,203.60 4.2 Pembahasan
Dengan jumlah sumber daya sebesar 814.203,60 m3 maka sesuai Standar
Nasional Indonesia penentuan Sumber daya dan Cadangan batugamping di daerah penelitian termasuk dalam kategori Sumberdaya mineral Hipotetik dimana sumber daya mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh berdasarkan perkiraan pada tahap Survei Tinjau yakni tahap eksplorasi untuk mengidentifikasi daerah yang berpotensi bagi keterdapatan mineral pada skala regional terutama berdasarkan hasil studi geologi regional, di antaranya pemetaan geologi regional, pemotretan udara dan metoda tidak langsung lainnya, dan inspeksi lapangan pendahuluan yang penarikan kesimpulannya berdasarkan ekstrapolasi. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi daerah -daerah anomali atau mineralisasi yang prospektif untuk diselidiki lebih lanjut.
BAB V
5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan metode perhitungan
cross section maka total Sumber daya batugamping pada daerah DENZIPUR Kota
Jayapura adalah sebesar 814.203,60 m3, maka Sesuai Standar Nasional Indonesia
(SNI)penentuan Sumber daya batugamping di daerah penelitian ini termasuk dalam kategori Sumberdaya mineral Hipotetik dimana sumber daya mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh berdasarkan perkiraan pada tahap Survei Tinjau.
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat sampaikan adalah perlu dilakukan studi lanjutan untuk meningkatkan tingkat keyakinan dan klasifikasi endapan pada lokasi penelitian di daerah DENZIPUR Kota Jayapura
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Rauf. 1998. Perhitungan Cadangan, Penerbit Yogyakarta
Adjat Sudrajad, 1999. Teknologi dan Manajemen Sumberdaya Mineral, Penerbit ITB Bandung.
Doddy Setia Graha, 1987, Batuan dan Mineral,Penerbit Nova Bandung
Ajun Ferdinandus Leba. 2011. Penaksiran Sumber daya Batubara dengan Metode
Cross Section di PT. Stria Mayangkara Sejahtera, Tanjung Telang, Lahat Sumatra Selatan, Universitas Pembangunan Nasional, Veteran Yogyakarta
Sutarto , 2008. Endapan Mineral Cadangan Bahan Galian,Teknik Geologi, Universitas Pembangunan Nasional, Veteran : Yogyakarta.