Manajemen ISK
dan
ISK Rekuren
POKOK BAHASAN
• PENDAHULUAN • KLASIFIKASI
• ETIOLOGI
• PATOGENESIS
• FAKTOR RISIKO & PREDISPOSISI
PENDAHULUAN
• ISK adalah infeksi yang paling sering menyerang pria dan wanita dari berbagai usia dengan berbagai tampilan klinis dan episode.
• ISK, salah satu penyakit yang paling dominan yang memiliki beban finansial yang penting di tengah masyarakat.
• Definisi ISK rekuren (CUA / SOGC)
“Infeksi saluran kemih (ISK) yang terjadi setelah penyembuhan klinis sempurna dari episode ISK sebelumnya dan biasanya setelah diberikan pengobatan yang tepat”
• Infeksi Saluran Kemih (ISK) infeksi tersering pada wanita (50-60%)
• 25% wanita ISK akan mengalami ISK rekuren (berulang)
• Foxman (AS) :
• Episode pertama ISK wanita terjadi saat kuliah • 27% ISK rekuren dalam waktu enam bulan • 2,7% Rekurensi kedua
PREVALENSI
• Data pusat layanan kesehatan primer AS: 53% wanita usia > 55 tahun
36% wanita usia muda
ISK dalam waktu 1 tahun
• Risiko ISK pada kehamilan : 2-10%
ISK rekuren 20-40% bakteriuria asimptomatik 1-4% sistitis akut
KLASIFIKASI ISK
• Secara Klasik : berdasarkan gejala klinis, hasil pemeriksaan laboratorium, mikrobiologi.
• Secara Praktis, dibagi menjadi : ISK Non Komplikata
ISK Komplikata
• Panduan saat ini, merangkum klasifikasi ISK berdasarkan :
Infeksi sesuai level anatomi Tingkat keparahan infeksi
Faktor resiko yang mendasari Temuan Mikrobiologi
Infeksi Sesuai Level Anatomi
• Uretra : Uretritis
• Kandung kemih : Sistitis • Ginjal : Pielonefritis
ISK NON KOMPLIKATA
• DEFINISI : ISK yang terjadi pada org dewasa,
termasuk episode sporadik, episode sporadik yang didapat dari komunitas, dalam hal ini sistitis akut dan pielonefritis akut pada individu yang sehat.
• ISK ini banyak didapat pada wanita dibanding pria. Tanpa adanya kelainan anatomi/fungsional didalam saluran kemih maupun penyakit ginjal atau faktor lain yang memperberat penyakit.
Sistitis Akut Non Komplikata
• Definisi : infeksi pada kandung kemih dengan sindroma klinis yang terdiri dari disuria,
frekuensi, urgensi dan kadang nyeri pada suprapubik.
• Gejala : disuria, frekuensi, urgensi dan nyeri
suprapubik. Pada Urinalisis didapatkan
leukosituria, bakteriuria, nitrit atau leukosit esterase
• Faktor Resiko :
Pada wanita usia muda dan premenopause :
Hub seksual
Penggunaan spermatisida Partner seksual baru
Riw ISK pada masa anak-anak
Pada wanita usia tua dan post menopause :
Riw ISK sebelum menopause Inkontinensia
• DIAGNOSIS :
1. Gejala iritatif
2. Laboratorium : Urinalisis / dipstik 3. Kultur Urine dilakukan bila :
Diduga Pielonefritis Akut
Gejala yang tidak hilang atau terjadi
kembali dalam 2-4 minggu setelah terapi. Wanita hamil.
• PENATALAKSANAAN :
1. Pilihan AB sesuai dengan panduan pola kuman dan uji sensitivitas AB di rumah sakit atau klinik setempat.
2. Lama pemberian tergantung obat yang dipakai dan berkisar 1-7 hari.
3. Kultur urin bila pasca terapi masih terdapat gejala.
Pielonefritis Akut Non
Komplikata
DEFINISI :
Pielonefritis Akut Non Komplikata adalah infeksi akut pada parenkim dan pelvis ginjal dengan
sindrom klinis berupa :
Demam, menggigil dan nyeri pinggang yang
berhubungan dengan bakteriuria dan piuria
tanpa adanya faktor resiko ( kelainan struktural dan fungsional saluran kemih atau kegagalan terapi AB)
• DIAGNOSIS :
1. Gejala dan tanda 2. Urinalisis / dipstik 3. Radiologi :
BNO- USG ( menyingkirkan kemungkinan obstruksi atau batu sal kemih )
IVP atau CT scan, bila demam (+) > 72 jam ( kemungkinan abses ginjal )
PENATALAKSANAAN :
1. Pemberian AB sesuai dengan pola resistensi dan uji sensitivitas.
2. Lama : 10-14 hari
3. Follow up : Urinalisis rutin 4. Kultur Urin dilakukan pada :
Wanita hamil.
Pasien 3 hari pengobatan tidak membaik. PNA berulang setelah dua minggu
ISK KOMPLIKATA
• DEFINISI :
ISK Komplikata adalah
Infeksi yang diasosiasikan dengan suatu kondisi misalnya abnormalitas struktur atau fungsi
saluran kemih atau adanya penyakit yang mengganggu daya tahan tubuh sehingga
meningkatkan resiko terjadinya infeksi atau kegagalan terapi
• FAKTOR RESIKO :
1. Penggunaan kateter atau stent atau kateter berkala.
2. residual urin > 100 ml 3. Obstruksi saluran kemih 4. refluks vesikoureteral
GEJALA KLINIS :
1. Dapat berupa disuria, urgensi, frekuensi, kolik, nyeri CVA, nyeri suprapubik, dan
demam.
2. LUTS dapat dijumpai pula.
3. DM dijumpai pada 10% kasus ISK Komplikata 4. Gagal ginjal dpt dijumpai.
• DIAGNOSIS : 1. Gejala klinis
2. Urinalisis : Bakteriuria, Piuria
3. Selain ditemukan mikroba, pada ISK komplikata harus didapatkan kelainan
anatomi atau fungsional saluran kemih atau penyakit dasar.
KONDISI KHUSUS YANG BERKAITAN DENGAN ISK KOMPLIKATA :
1. Batu saluran kemih 2. Penggunaan Kateter
3. Adult Polycystic Kidney Diseases 4. Nefritis Bilateral
5. Abses Renal
6. Xantogranulomatous pielonefritis 7. Transplantasi Ginjal
PENATALAKSANAAN :
1. Penanganan kelainan urologi 2. Terapi Antimikroba Empiris 3. Terapi Suportif
4. Follow up : kultur urin dilakukan sebelum dan sesudah pengobatan untuk identifikasi
UROSEPSIS
(SINDROMA SEPSIS UROLOGI)
• Deteksi dini penting, terutama pada ISK Kompilkata. • Angka Mortalitas meningkat bila dijumpai sepsis.
• Prognosis Urosepsis lebih baik dari sepsis karena sebab lain.
• Sepsis ditegakan berdasarkan gejala infeksi ( tanda inflamasi sitemik), pemeriksaan fisik, pemeriksaan
radiologi dan laboratorium (bakteriuria dan leukosituria) • Diagnosis pasti apabila dapat dibuktikan bahwa bakteri
dari kultur darah sama dengan yang ditemukan pada kultur urin
• PENATALAKSANAAN :
1. Penanganan penyebab urologi
(menghilangkan obstruksi dalam saluran kemih)
2. Pelayanan Suportif yang memadai
3. Pemberian AB yang tepat ( terapi awal AB
menggunakan spektrum luas dan disesuaikan dengan hasil kultur )
4. Berkolaborasi dengan perawatan intensif dan spesialis penyakit menular.
ETIOLOGI
• ISK: Escherichia coli - paling dominan ( 80% ) • ISK rekuren pada wanita: E. coli,
Staphylococcus saprophyticus, Enterococcus, Klebsiella, Enterobacter, Proteus
• + diabetes : Klebisiella & Streptococcus grup B • + kateter lama : Pseudomonas
• + cedera med spinalis, kelainan anatomis: Proteus
mirabilis
• Bakteri yang kurang virulen justru
SEPULUH BAKTERI TERBANYAK INSTALASI RAWAT JALAN 5 RS BESAR DI INDONESIA ESC COLI PSEUDOMONAS KLEBSIELLA ACITENOBACTER ENTEROBACTER OTHER gr + OTHER gr -STAPHYLOCOCCUS PROTEUS 32 % 17 % 15 %
TIGA BAKTERI TERBANYAK INSTALASI RAWAT JALAN DI 5 RS BESAR DI INDONESIA E COLLI KL PNEUMONIA STAP COAG LAIN2 62 % 16 % 13 % 9 %
PATOGENESIS
• Teori klasik: Rekolonisasi
E. Coli
• Faktor virulensi E.coli
• Faktor genetika –
Patogenesis
Rekolonisasi
E.coli
• Flora normal dalam feses membentuk
kolonisasi di vagina dan uretra distal naik ke kandung kemih ISK
• Koloni cadangan (resevoir) di dalam saluran cerna dan vagina
• Lactobacillus dalam vagina diduga bersifat protektif dan mencegah kolonisasi
Patogenesis
Faktor Virulensi
• Faktor virulensi meningkatkan kemampuan bakteri menimbulkan ISK
• Fimbria meningkatkan daya lekatnya ke epitel uretra
• Bersifat dormant & reaktivasi relaps ISK • Bersembunyi di dalam sel (intraselular)
• Meningkatkan resistensi terhadap
antibiotik dan bakteri mampu menghadapi
Patogenesis
Faktor Genetika
Tahun 2012, Journal Women Health : Individu dengan golongan darah
tertentu (ABO), P1, dan sistem
golongan darah lainnya, mempunyai kerentanan reseptor di dalam
tubuhnya
E. coli lebih mudah melekat pada reseptor yang rentan menyebabkan ISK rekuren
FAKTOR RESIKO &
PREDISPOSISI
• Faktor RESIKO: Faktor yang berperan dalam patogenesis ISK rekuren tanpa komplikasi
• Faktor PREDISPOSISI: mempengaruhi terjadinya ISK rekuren dengan komplikasi
Faktor Predisposisi
• Imunosupresi & imunosupresan
• Insufisiensi ginjal kronik, transplantasi ginjal • Diabetes melitus
• Infeksi nosokomial
• Paparan bakteri resisten terhadap antibiotik • Pemasangan kateter, stent ureter
• Kelainan anatomis dan fungsi pada saluran kemih dan kelainan kongenital.
AFP
TATA LAKSANA
• Goal tatalaksana ISK adalah:
Hilangkan infeksi
Hindari efek samping
Cegah infeksi berulang
• Pengobatan • Pencegahan
• Modifikasi Perilaku
• Strategi Penggunaan Antibiotik • Preparat Estrogen
• Strategi pilihan lainnya
Tatalaksana ISK Rekuren
tanpa Komplikasi pada
Pengobatan
• Antibiotik lini pertama:
Trimetoprim/sulfametoksazol (TMP – SMX) Diberikan selama 3 hari
• Antibiotik lainnya: Fluorokuinolon misalnya norfloksasin, siprofloksasin, ofloksasin dan fleroksasin
• Nitrofurantoin cukup aman dan efektif dan perlu diberikan selama minimal 7 hari
Pengobatan
A. Dosis tunggal
1. Trimethoprim –sulfamethoxazole DS for 2 tablets 2. Sulfisoxazole 2 g
3. Trimethoprim 400 mg 4. Amoxicillin 3g
5. Ciprofloxacin 250-500mg 6. Norfloxacin 400mg.
B. Jangka pendek (3 – 5 hari) 1. TMP-SMS DS PO bid
2. Sulfisoxasole 500 mg qid 3. Amoxicillin 500mg tid
4. Nitrofurantoin 100 mg qid 5. Macrobid 100mg.bid
RECURRENT CYSTITIS
RELAPSE
Seek occult source of infection or urologic abnormality
Treat longer (2-6 wk)
REINFECTION
If woman uses diagphragm and spermicide,
Consider changing contraceptive method Urologic evaluation not routinely indicated
>3 UTI/yr
No relation to coitus
Temporally related to coitus
Patient initiated therapy for symptomatic episodes ( See Table 2 for single-dose Or 3 day regimens)
Daily or thrice
weekly prophylaxis
(recommended daily regimens:
Trimethoprim, 100 mg; trimethoprim-sulfamethoxazole 40/200 mg; Nitrofurantoin 50-100 mg; norfloxacin 200 mg; cephalexin 250 mg ) ( recommended regimens: Trimethoprim-sulfamethoxazole 40/200 mg; Cephalexin 250 mg; nitrofurantoin 50-100 mg ) Postcoital prophylaxis < 3 UTI / yr
Pencegahan
• Modifikasi perilaku
• Strategi penggunaan antibiotik
• Profilaksis kontinu (continuous prophylaxis ) • Profilaksis pasca senggama (post-coital
prophylaxis)
• Pengobatan antibiotik mandiri (self-start antibiotic treatment)
Pencegahan
Strategi pilihan lainnya Cranberry Probiotik Akupunktur Vaksin Interferensi bakteri Asam hialuronat
Modifikasi Perilaku
“Tidak ada korelasi antara kejadian ISK rekuren dengan modifikasi perilaku”
Pola berkemih pra- dan pasca-senggama Frekuensi berkemih, menunda berkemih Membersihkan vagina (douching)
Mandi berendam, mandi busa, indeks massa tubuh
Strategi Pilihan Lain
Akupunktur
Selama 6 bulan pengobatan, penelitian menunjukkan bahwa akupuntur dapat memainkan peranan penting untuk mencegah ISK rekuren
SOGC - akupuntur dapat menjadi terapi alternatif yang berharga untuk menggantikan strategi pengobatan antibiotik
Strategi Pilihan Lain
Probiotik
Induksi pertumbuhan laktobasilus di dalam vagina dipercaya dapat menghentikan naiknya bakteri uropatogen ke kandung kemih
SOGC - masih diperlukan penelitian lebih lanjut sebelum produk probiotik dapat direkomendasikan untuk mencegah ISK rekuren
• Infeksi Saluran Kemih (ISK) infeksi tersering pada wanita (50-60%)
• 25% wanita ISK akan mengalami ISK rekuren (berulang)
• Risiko ISK pada kehamilan : 2-10%
• ISK rekuren pada kehamilan 20-40% bakteriuria asimptomatik
• Penyebab paling sering adalah Escherichia coli: 80% • Tujuan penatatalaksanaan ISK adalah:
• Hilangkan infeksi
• Hindari efek samping • Cegah infeksi berulang
Tatalaksana:
Pengobatan drug of choice: Trimethoprim-sulfamethoxazole
Pencegahan:
Modifikasi Perilaku
Strategi Penggunaan Antibiotik
Preparat Estrogen
Strategi pilihan lainnya:
KESIMPULAN
• Cranberry • Probiotik • Akupunktur • Vaksin