EDISI I Tahun 2014 | MaRET 2014
Ketahanan Energi:
Idealitas versus Realitas
UTAMA:
n
Ketahanan Energi: Konsep,
Kebijakan dan Tantangan
bagi Indonesia
n
Potret Kinerja Migas
Indonesia
EDUKASI FISKAL
n
Demokrasi, Pemilu, dan
Tantangan Fiskal
OPINI:
n
Berharap ECA Indonesia
yang Lebih Agresif
BKF
PuSaT PEngElolaan RISIko FISkal
UTAMA:
l Ketahanan Energi: Konsep, Kebijakan dan Tantangan bagi Indonesia ...4-8
Riza Azmi dan Hidayat Amir
l Potret Kinerja Migas Indonesia ...9-14
Mohamad Nasir
l Konversi BBM ke BBG: Belajar dari Pengalaman ...15-18
Hadi Setiawan
l Ketahanan dan Kedaulatan Energi Indonesia ...19-24
Akhmad Yasin
EDUKASI FISKAL
l Demokrasi, Pemilu, dan Tantangan Fiskal ...25-31
Syahrir Ika
l Energi Terbarukan, Apa dan Mengapa ...32-36
Widodo Ramadyanto
OPINI:
l Berharap ECA Indonesia yang Lebih Agresif ...37-41
Ivan Yulianto
l Mencapai Ketahanan Energi Dengan Pembangunan Kilang Minyak
Melalui Skema Kerjasama Pemerintah Swasta...42-45
Eko Nur Surachman
Daftar Isi
www.pusatpengobatan.comPenanggung jawab:
Freddy R. Saragih Sri Bagus Guritno
Dewan ReDaksi: Hendro Ratnanto Hadi Setiawan Rahmat Mulyono Penyunting: Syahrir Ika Hidayat Amir Brahmantio Isdijoso Abdul Aziz
Desain gRafis Dan Layout:
Tim Grafis Nagamedia
sekRetaRiat:
Sigit Purnomo Indra Setiawan Moh. Kharis Syukron
PeneRbit:
Pusat Pengelolaan Risiko Fiskal
PeRcetakan:
Naga Printing
aLamat:
Gedung R.M. Notohamiprodjo Lantai 4, Jalan Dr. Wahidin No.1
Jakarta 10710. Telp: (021) 3846725 Fax: (021) 3452571
Email: [email protected] Redaksi menerima kontribusi tulisan dan artikel yang sesuai dengan misi penerbitan. Tulisan dan artikel ditulis dalam huruf arial 11, spasi 1,5, maksimal 10 halaman A4. Redaksi berhak mengubah isi tulisan tanpa mengubah maksud dan substansi.
EDISI I TAHUN 2014 | MARET 2014
Ketahanan Energi:
Idealitas versus Realitas
UTAMA:
Ketahanan Energi: Konsep, Kebijakan dan Tantangan bagi Indonesia
Potret Kinerja Migas Indonesia
EDUKASI FISKAL
Demokrasi, Pemilu, dan Tantangan Fiskal
OPINI:
Berharap ECA Indonesia yang Lebih Agresif
DISCLAIMER
Pandangan, gagasan, atau ide yang termuat dalam buletin ini bukanlah representasi dari pikiran atau kebijakan yang keluar dari PPRF, BKF, Kementerian Keuangan, melainkan sepenuhnya menjadi
Nilai-Nilai
KemeNteriaN KeuaNgaN
IntegrItas
Bersifat jujur, tulus dan dapat dipercaya
Menjaga martabat dan tidak melakukan hal-hal tercela
ProfesIonalIsMe
Mempunyai keahlian dan pengetahuan yang luas
Bekerja dengan hati
sInergI
Memiliki sangka baik, saling percaya dan menghormati
Menemukan dan melaksanakan solusi terbaik
Pelayanan
Melayani dengan berorientasi pada kepuasan
pemangku kepentingan
Bersikap proaktif dan cepat tanggap
KeseMPurnaan
Melakukan perbaikan terus menerus
Mengembangkan inovasi dan kreativitas
Editorial
S
ebuah negara bisa saja “kaya akan sumber-sumber ener-gi”, akan tetapi “tidak kaya energi” atau bahasa lainnya ”tidak memiliki ketahanan energi”. Dalam kasus yang lain, sebuah negara mungkin saja “tidak kaya akan sumber-sumber energi”, akan tetapi bisa jadi “kaya energi”. Kasus pertamamerefleksikan Indonesia, sedangkan kasus kedua merefleksikan Singapura. Indonesia boleh bermimpi mewujudkan kemandirian
energi karena memiliki resources di bidang energi. Sebaliknya,
Singapura tidak akan pernah bermimpi seperti Indonesia kare -na Negeri Singa itu tidak memiliki resources di bidang energi.
Solusi ketahanan energi bagi Singapura adalah mengandal
-kan paso-kan impor, sebaliknya solusi ketahanan energi bagi Indonesia adalah mengandalkan pasokan dalam negeri. Bila Indonesia mengandalkan pasokan energi dengan cara impor, sebagaimana halnya yang dilakukan Singapura, maka kondisi tersebut menggambarkan kegagalan Indonesia dalam menge
-lola kekayaan sumber –sumber energi yang dimiliki.
Hari ini, rakyat Indonesia merasakan masih mudahnya akses konsumsi energi. Sebagian dengan harga yang murah karena disubsidi pemerintah (premium, solar, dan gas), sebagian lain -nya dengan harga yang ditentukan pasar (pertamax dan mi-nyak
tanah). Kebanyakan tidak peduli atau pun harus bertanya-tanya
mengapa yang ini disubsidi dan yang itu tidak disubsidi. Mereka juga tidak tertarik untuk bertanya sumber energi mana yang
banyak dimiliki dan yang tidak banyak dimiliki Indonesia. Mere
-ka pun tidak memikir-kan bahwa suatu saat energi yang sedang dikonsumsinya dengan mudah dan murah itu dapat berubah
menjadi langka, hanya dalam beberapa tahun saja. Mereka
tidak pernah membaca sejumlah studi yang menyimpulkan bahwa Indonsia telah menjadi net-importer minyak. Mereka menyerahkan pengetahuan dan kebijakan energi kepada pe-merintah.
Di sisi lain, rakyat Indonesia sangat sensitif terhadap kena
-ikan harga BBM. Mereka bisa turun ke jalan berdemo dengan penuh amarah bila pemerintah menaikan harga BBM bersubsi -di. Spanduk-spanduk besar bertuliskan kedaulatan energi dan ketahanan energi akan terpampang di mana-mana, seakan
mempertanyakan bahwa kebijakan menaikkan harga BBM ber
-tentangan dengan Konsititusi Negara. Di sisi lain, risiko besar ditanggung pemerintah, bila respon rakyat yang demikian tidak dapat direspon dengan baik maka beban subsidi dalam APBN
akan membengkak.
Kini, APBN tersandera oleh besarnya subsidi energi. Kondisi ini membuat ruang fiskal untuk pembangunan, diantaranya untuk membangun infrastruktur menjadi sempit. Penyande -raan ini terjadi karena lifting produksi minyak makin mengecil sementara tingkat konsumsi terus meningkat. Gap antara pro
-duksi dan konsumsi harus ditutup dengan impor; untuk tujuan “ketahanan energi”. Pemerintah menguras kocek APBN untuk pengadaan minyak impor, apalagi di tengah melemahnya nilai tukar rupiah sehingga minyak impor menjadi semakin mahal saja. Sebenarnya pemerintah bisa memilih solusi yang gampang, yaitu dengan menaikkan harga BBM. Bila perlu disamakan
dengan harga pasar, atau dihapuskan keseluruhan subsidi di
BBM. Namun, solusi gampang ini menjadi begitu sulit dieksekusi karena selalu mendapat penolakan dari sebagian besar rakyat
Indonesia. Hal ini bisa dipahami karena pendapatan per kapita masyarakat Indonesia masih relatif rendah. Daya beli mereka
terganggu bila ada kenaikan harga-harga.
Sebetulnya ada jalan lain, namun sayangnya tidak cukup gampang. Yaitu dengan memperbaiki kondisi infrastruktur,
seperti: jalan, jembatan, kereta api, pelabuhan, dan sebagainya.
Sehingga rakyat bisa memanfaatkan transportasi publik dan
memarkirkan kendaraan mereka di rumah, menggunakannya
hanya seperlunya saja. Persoalannya adalah kondisi infrastruk
-tur transportasi kita masih jauh dari baik. Jalanan yang rusak, moda transportasi yang tidak nyaman dan tidak andal. Kereta api, sebagai alternatif pun tidak selalu lancar dengan berbagai persoalannya. Buruknya infrastruktur transportasi menyebabkan penggunakan kendaraan bermotor roda dua dan roda empat
menjadi pilihan rakyat. Sehingga mereka membutuhkan pela-yanan energi yang murah dan mudah diakses. Ketika kebutuhan itu terganggu, mereka pun akan marah.
Dalam konteks ini sebetulnya diversifikasi energi mendapat justifikasinya dan dipandang sebagai jalan keluar yang terbaik. Idenya sederhana: “perbanyak energi murah dan kurangi energi mahal”. Pemerintah sebetulnya memiliki komitmen yang kuat untuk mengembangkan energi alterantif, seperti: gas, batu
bara, air, panas bumi, dan sebagainya. Namun,
pengembang-annya membutuhkan investasi yang besar dan manfaatnya baru akan dirasakan dalam kurun waktu yang relatif lama. Pilihan yang paling rasional ialah pemanfaatan potensi gas yang ca
-dangannya cukup besar di Indonesia. Untuk itu, kebijakan kon
-versi dari BBM ke Gas perlu diintensifkan. Walaupun memang
praktiknya tidak mudah karena banyak sekali kepentingan yang
dipertaruhkan dari adanya kebijakan konversi BBM tersebut. Kebijakan konversi BBM ke Gas hanya akan efektif bila
memenuhi empat syarat. Pertama, harga BBM harus di level
market price (bebas subsidi) atau minimal disparitas harga BBM dengan Gas cukup lebar. Kedua, pemerintah berani
menge-luarkan kebijakan yang “memaksa” kepada industri otomotif untuk memproduksi kendaraan berbasis penggunakan bahan
bakar gas. Ketiga, pasokan gas harus cukup serta lokasi SBPU harus cukup dan mudah dijangkau. Keempat, pemerintah harus
mengurangi aktivitas ekspor gas yang dilakukan BUMN maupun Swasta.
Dalam praktiknya, kebijakan energi di Indonesia sering kali saling berlawanan. Di saat kita ingin menaikan harga BBM, pada saat yang sama kita belum mampu menjamin pasokan energi alternatif. Di saat kita ingin membangun infratsruktur energi
yang kuat, pada saat yang sama kita tidak punya anggaran
yang cukup untuk membangunnya. Dalam kondisi seperti ini, kita sulit mewujudkan ketahanan energi yang kuat. Kita tidak
saja butuh strategi yang tepat untuk keluar dari jebakan ini, tetapi juga pemimpin yang berani membuat keputusan yang
berisiko dan mampu menjadikan keputusan tersebut berjalan efektif. Kita tidak bisa mengandalkan praktik-praktik ketela
-danan artifisial yang sering kali tidak dipercaya publik. Tindakan
yang sangat dibutuhkan untuk mewujudkan impian ketahanan energi adalah ketepatan memilih jalan keluar, konsistensi dalam menjalankannya, serta keteladanan substansif, yang mendapat aplaus secara “ ikhlas” dari publik. Redaktur, n Syahrir Ika
Ketahanan Energi:
U
T
A
M
A
K
etahanan energi kembalimenjadi topik pembicaraan yang hangat. Belum lama ini Pemerintah mengabar
-kan stok minyak mentah Indonesia ha
-nya cukup untuk persediaan 3-4 hari, sedangkan stok bahan bakar minyak (BBM) di stasiun penyedia bahan ba
-kar umum (SPBU) PT Pertamina hanya mampu melayani kebutuhan konsum
-si kendaraan bermotor selama 21 haria.
Akibatnya, timbul kekhawatiran pub
-lik atas kehandalan pasokan bahan
bakar dalam memenuhi permintaan masyarakat sekaligus ketergantungan
terhadap impor, khususnya dari kilang minyak Singapura. Kekhawatiran ini
menimbulkan pertanyaan seberapa jauh ketersediaan energi bisa menja-min terpenuhinya permenja-mintaan energi
sebagai komponen utama kegiatan ekonomi. Untuk itu, dalam kesempat
-an ini penulis ak-an mengulas secara singkat mengenai konsep ketahanan
energi yang berlaku umum, arah ke-bijakan dan tantangan dalam men-jaga ketahanan energi dalam negeri yang disertai dengan perkembangan
profil sumber dan kebutuhan energi nasional.
International Energy Agency
(IEA) mendefinisikan ketahanan
energi sebagai ketersediaan sumber energi yang tidak terputus dengan harga yang terjangkau. Lebih lanjut,
Ketahanan Energi: Konsep,
Kebijakan dan Tantangan
bagi Indonesia
Oleh: Riza Azmi dan Hidayat Amir
Staf dan Peneliti Madya pada Pusat Pengelolaan Risiko Fiskal, BKF, Kementerian Keuangan.
Email: [email protected] dan [email protected]
menjaga pasokan agar tidak bergan -tung pada satu jenis sumber energi
dan satu produsen energi.
Mengacu kepada konsep keta
-hanan energi yang didefinisikan oleh IEA di atas dan merujuk kepada teori dasar mikroekonomi, menurut penu
-lis ada tiga komponen dasar dalam menjaga keberlangsungan pasokan energi, yaitu: (1) estimasi permintaan
energi yang presisi sebagai dasar
perencanaan penyediaan pasokan energi, (2) kehandalan (reliability) pasokan energi yang diusahakan oleh badan usaha, dan (3) harga energi
yang menjadi sinyal bagi badan usa-ha untuk masuk dalam penyediaan energi. Harga energi menjadi begitu
penting karena akan digunakan oleh pihak produsen dalam menghitung estimasi imbal hasil atas investasi
yang dikeluarkan dalam penyediaan energi. Oleh karena itu, dalam kasus
Pemerintah memberlakukan batasan atas harga energi pada level tertentu, tidak jarang investasi dalam pemba -ngunan pembangkit listrik, kilang minyak, tambang batubara akan berkurang dan supply bahan bakar menghilang dari pasaran. Kebijakan
Pemerintah diperlukan agar ketiga komponen tersebut direspon dengan baik oleh pelaku ekonomi (konsumen dan produsen) sehingga ketersediaan
energi berada pada tingkat keseim-ukuran yang dipakai untuk menilai
suatu negara dikatakan memiliki ketahanan energi apabila memiliki
pasokan energi untuk 90 hari kebu
-tuhan impor setara minyak. Ketahan -an energi di-anggap penting karena
energi merupakan komponen pen
-ting dalam produksi barang dan jasa.
Segala bentuk gangguan yang dapat
menghambat ketersediaan pasokan
energidalam bentuk bahan bakar
primer (BBM, gas dan batubara) mau -pun kelistrikan dapat menurunkan
produktivitas ekonomi suatu wilayah
dan jika magnitude gangguan sampai
pada tingkat nasional dapat membuat target pertumbuhan ekonomi meleset
dari yang ditetapkan.
Menurut Yergin (2006) ketahan
-an energi mulai menjadi isu global ketika Arab Saudi menghentikan ekspor minyak mentahnya ke nega
-ra-negara industri pada awal dekade 70-an. Pada era tersebut, minyak me -rupakan sumber energi yang paling
vital bagi negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat, sedangkan Arab Saudi merupakan eksportir utama. Tindakan sepihak Arab Saudi terse
-but praktis mengganggu aktivitas perekonomian negara-negara impor
-tir minyak tersebut; yang waktu itu
hanya bergantung pada minyak Saudi
Arabia. Dunia internasional kemudian
U
T
A
M
A
bangan sesuai dengan kebutuhan
konsumsi di dalam perekoonomian. Dari sisi manajemen risiko, kajian ketahanan energi biasanya berfokus pada risiko operasional kehandalan infrastruktur atau sarana penyediaan
energi sebagaimana yang dijabarkan
oleh Chester (2010) dan dikutip da
-lam Singh (2012). Manajemen risiko terhadap keseluruhan operasional
menjadi begitu krusial agar
terpu-tusnya pasokan energi tidak terjadi.
Namun demikian, ketahanan energi
juga mencakup upaya diversifikasi
energi dalam mengurangi
ketergan-tungan pasokan energi pada salah satu jenis bahan bakar. Diversifikasi
juga dilakukan dalam memperbaiki bauran energi dengan
memperhati-kan potensi cadangan sumber energi yang dimiliki (Chester, 2010).
ArAh KEBijAKAn EnErgi
nAsionAl
Dari sisi kebijakan, Pemerintah telah mengundangkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 5/2006 ten
-tang Kebijakan Energi Nasional yang
bertujuan untuk menjamin keamanan
pasokan energi dalam negeri. Bebe
-rapa sasaran kebijakan yang secara rinci diatur dalam Perpres tersebut adalah pada tahun 2025 terwujud
-nya elastisitas energi di bawah 1 dan pengurangan porsi BBM dalam kom
-posisi energi primer hingga 20% dan optimalisasi bahan bakar batubara
dan gas masing-masing lebih dari
33% dan 30%, serta sisanya dengan
menumbuhkan sumber energi baru
terbarukan (EBT). Untuk mencapai
sasaran tersebut, terdapat dua
kebi-jakan, yaitu (i) kebijakan utama yang mengatur penyediaan, pemanfaatan, kebijakan harga dan konservasi alam; dan (ii) kebijakan pendukung, yang
mengarah kepada pengembangan
infrastruktur, kemitraan pemerintah dan swasta, serta pemberdayaan ma -syarakat.
Bila dilihat lebih lanjut, arah kebijakan energi nasional yang tertu
-ang dalam Perpres No. 5/2006 adalah untuk mengoptimalkan penggunaan energi primer yang memiliki cadangan potensial dan menurunkan ketergan
-tungan terhadap BBM. Dengan kecen
-derungan menipisnya cadangan mi
-nyak bumi dan menurunnya produksi
minyak mentah sebagaimana dapat
dilihat pada Gambar-1, kondisi keta -hanan energi minyaksemakin rentan.
Kerentanan atas produksi minyak juga
terlihat dari terbatasnya kapasitas
ki-lang minyak domestik dalam meme -nuhi kebutuhan dalam negeri.
Pemerintah menerbitkan aturan tersebut untuk memanfaatkan sum
-ber energi yang cadangannya lebih
besar daripada minyak. Dengan
demi-kian, ketergantungan terhadap BBM akan semakin berkurang. Untuk itu, optimalisasi penggunaan energi pri
-mer yang cadangannya relatif masih
besar seperti bahan bakar gas dan ba-tubara diharapkan dapat mengurangi
ketergantungan impor BBM sekaligus menurunkan biaya konsumsi energi
dan meringankan belanja negara untuk subsidi energi.
Batubara merupakan sumber energi yang cadangannya relatif cukup besar. Berdasarkan data Ke
-menterian ESDM, cadangan batuba
-ra diperki-rakan sekitar 21 milyar ton,
sementara produksinya mencapai 353 ribu ton sepanjang tahun 2011. Kurang lebih 77% produksi batubara tersebut diekspor ke luar negeri. Berdasarkan data tersebut, potensi batubara cukup
besar untuk ditingkatkan dalam
ba-uran energi nasional mengingat per
-bandingan antara cadangan dengan produksi batubara mencapai puluhan
ribu kali lipat. Selain batubara, gas juga merupakan energi yang
memi-liki cadangan yang potensial untuk dikembangkan. Total cadangan gas alam yang dimiliki Indonesia menca
-pai 150,7 TCF, sedangkan produksi di tahun 2012 sebanyak 3,1 juta MMSCF dan sekitar 43% produksi gas alam tersebut diekspor ke luar negeri.
Pemerintah juga telah mem -berikan perhatian terhadap energi terbarukan sebagai sumber energi
alternatif dalam Perpres No. 5/2006. Komposisi panas bumi dalam bauran energi nasional ditargetkan mening
-kat hingga mencapai 17% pada tahun 2025 begitu juga dengan energi terba
-rukan lainnya seperti biomasa, nuklir,
tenaga surya dan tenaga angin. Opti-malisasi energi terbarukan dianggap langkah strategis karena setidaknya
ada dua argumen utama. Pertama, dari sisi sumber daya, potensi panas bumi Indonesia cukup besar yaitu mencapai 29.038 GWe dan yang di
-kembangkan baru sebesar 1.226 WW,
Gambar-1. Perkembangan Cadangan dan Produksi Minyak Mentah
Indonesia
U
T
A
M
A
Gambar-2. Perkembangan dan Target Bauran Energi Nasional
Sumber: 2012 Handbook of Indonesia’s Energy Economy Statistics, hal. 10, Pusdatin ESDM, diolah
sehingga masih ada potensi yang cukup besar untuk pengembangan
energi panas bumi untuk kelistrikan
nasional. Sedangkan potensi tenaga air diperkirakan sekitar 75.000 MW dengan kapasitas PLTA terpasang 5.711 MW. Selain itu, masih banyak potensi EBT yang lain, seperti: tenaga angin (bayu), bioenergi, dan tenaga
surya. Kedua, energi terbarukan me-miliki karakteristik khusus yang tidak
dimiliki oleh energi fosil, yaitu dapat dihasilkan secara alamiah secara terus menerus sehingga risiko akan hilang
-nya sumber energi sangatlah kecil dan
time frame untuk pengembangannya bisa tak terbatas.
iMplEMEnTAsi KEBijAKAn
Berdasarkan data Kementerian ESDM, selama ini bauran energi nasional memang didominasi oleh penggunaan BBM sebagai sumber
energi primer utama. Sebagaimana
terlihat dalam Gambar-2, komposisi BBM dalam bauran energi nasional stabil sangat tinggi, mencapai 50%-60% sepanjang tahun 2000 hingga 2005. Dengan dikeluarkannya kebi
-jakan energi nasional dalam Perpres No. 5/2006 tersebut, diharapkan Pe -merintah dapat menyusun langkah-langkah strategis dan teknis untuk
mengurangi porsi BBM dalam kom
-posisi energy mix secara bertahap. Apabila kebijakan tersebut berjalan
dengan baik, publik akan merasakan dampaknya berupa pengurangan ketergantungan terhadap minyak.
Sepanjang kurun waktu 2006 hingga 2010, komposisi minyak sedikit menurun dari 51,3% menjadi 47,1% atau turun sekitar 1% per tahun. Na
-mun tren penurunan porsi minyak ter -sebut terhenti dan kembali meningkat
kembali di tahun 2011 menjadi 47,7%
dari energy mix nasional. Kondisi ini
mengindikasikan langkah-langkah
yang ditempuh oleh Pemerintah tidak berjalan efektif dan meningkatnya
risiko ketahanan energi. Di tengah
tingginya harga minyak dunia dan
fluktuasi nilai tukar rupiah yang cen -derung meningkat, penyediaan energi
nasional melalui BBM jelas beresiko. Risiko yang paling utama adalah ke
-langkaan BBM di tengah masyarakat akibat kuota dan nilai subsidi BBM dalam APBN telah terlampaui.
Salah satu target Perpres No. 5/2006 yang juga belum terlihat im -plementasinya adalah penyesuaian
harga BBM menuju tingkat keeko
-nomiannya. Dapat dikatakan bah
-wa kebijakan harga premium dan solar hanya bersifat responsif, yaitu
disesuaikan ketika realisasi subsidi
minyak jauh melampaui alokasi di APBN. Sejak diberlakukannya Perpres No. 5/2006 tercatat harga eceran pre
-mium dan solar telah beberapa kali
mengalami perubahan. Sebagaimana
terlihat pada Gambar-3 penyesuaian
tersebut tidak hanya berupa kenaikan namun juga berupa penurunan harga
eceran. Untuk merespon penurunan
harga minyak dunia, dalam rentang
waktu tahun 2008 hingga 2009 Peme
-rintah telah menurunkan harga ecer
-an kedua BBM jenis tertentu tersebut sebanyak dua kali, yaitu dari Rp6.000/ liter menjadi Rp4.500/liter untuk pre
-mium dan dari Rp5.500/liter menjadi Rp4.500/liter untuk minyak solar.
Harga eceran BBM, khususnya premium dan solar yang mendapat subsidi Pemerintah memberikan dorongan untuk konsumsi lebih dari
yang dibutuhkan. Semakin besar
se-lisih antara harga keekonomian dan
Gambar-3. Perkembangan Harga Minyak Mentah dan BBM Tertentu
U
T
A
M
A
target yang sudah dicanangkan oleh Pemerintah. Konsumsi BBM masih menguasai 30% energy mix disusul
oleh batubarasebanyak 28%. Proyeksi ini menjadi cambuk bagi Pemerintah bahwa target penurunan BBM dan optimalisasi batubara yang disusun dalam Perpres No. 5/2006 belum da -pat diyakini keberhasilannya.
Kedua, terkait dengan optimalisasi batubara, meskipun Pemerintah sudah
melaksanakan Fast Track Project (FTP) Tahap 1 dan sedang membangun FTP Tahap 2, tingkat kehandalan pembang -kit listrik berbahan bakar batubara tersebut perlu diuji lebih lanjut meng-ingat masih rendahnya capacity factorb
pembangkit FTP Tahap 1. Akibatnya konversi energi dari pembangkit listrik
tenaga diesel yang lebih mahal kepada
batubara menjadi tidak tercapai. Tan -tangan lainnya adalah mengurangi
ekspor batubara. Meskipun kebutuhan
dalam negeri saat ini sangat jauh dari
produksi tambang batubara, Pemerin
-tah harus menyadari bahwa batubara
bukan merupakan energi yang
terba-rukan, sehingga eksploitasi berlebihan atas cadangan tambang batubaraakan
meningkatkan opportunity costc
terha-dap penggunaan batubara di masa yang akan datang.
Adapun menyangkut bahan ba -kar gas, kendala utama adalah kurang
tersedianya infrastruktur distribusi/ pengangkutan. Pemerintah perlu
menetapkan kebijakan pipanisasi gas yang menghubungkan ladang gas
dan sentra industri nasional. Selama
ini pembangunan pipa gas selalu
berorientasi pada ekspor dan kurang memperhatikan kawasan industri, terutama yang berlokasi di dekat wi
-layah eksplorasi gas alam. Salah satu contohnya ialah kasus kekurangan gas
yang terjadi pada pembangkit listrik
gas di Belawan. Kurangnya pasokan
harusnya tidak terjadi apabila dari
dulu Pemerintah telah menetapkan rencana dan strategi untuk menyam
-dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 111/PMK.02/2007.
Lambannya penyesuaian harga
BBM ke tingkat keekonomiannya juga menimbulkan dampak negatif terhadap upaya diversifikasi energi. Pelaku usaha tidak memiliki rasiona
-litas dan motif ekonomi dalam men
-dukung diversifikasi energi nasional jika harga BBM masih didistorsi oleh Pemerintah. Tingkat pengembalian dalam pengembangan biodiesel dan biopremium menjadi tidak begitu
menarik ketika harga minyak
premi-um dan minyak solar terlalu rendah sehingga tidak menciptakan tingkat kompetisi yang sama antara bio ener
-gi dengan BBM.
TAnTAngAn KE DEpAn
Dalam melaksanakan amanat
Perpres No. 5/2006 terdapat beberapa tantangan yang perlu diantisipasi oleh Pemerintah. Pertama, Pemerintah
harus mengantisipasi tingginya
per-mintaan energi nasional. Berdasarkan
estimasi World Energy Outlook (2013),
konsumsi energi Indonesia diperkira
-kan tumbuh sekitar 2,5% per tahun dari tahun 2011 hingga 2035. Kon
-sumsi energi diperkirakan melonjak
hampir dua kali lipat dalam rentang
waktu tersebut dari 196 juta ton seta
-ra minyak (Mtoe) menjadi 358 Mtoe. Dalam proyeksi tersebut, diperkira
-kan bauran energi belum mencapai harga eceran, semakin besar insentif
untuk mengkonsumsi BBM bersubsidi. Tidak heran target penurunan porsi minyak dalam bauran energi nasional
tidak sesuai dengan yang diharapkan
karena tidak ada insentif ekonomi bagi konsumen kendaraan bermo
-tor untuk mengurangi penggunaan BBM. Kita juga tidak melihat penu
-runan porsi BBM bisa tercapai dalam tahun 2025 atau kurang dari 11 tahun lagi jika Pemerintah belum memiliki
keberanian untuk menaikkan harga
eceran BBM secara bertahap.
Tidak hanya memberatkan ang-garan negara terkait
membengkak-nya subsidi energi (lihat Gambar-4 dan Gambar-5), juga terlihat meningkat
-nya risiko BBM impor yang semakin besar tidak hanya berasal dari fluk -tuasi harga minyak tetapi juga dari
fluktuasi nilai tukar. Premium membe
-rikan kontribusi dominan dalam kese
-luruhan subsidi BBM. Besaran subsidi BBM dalam APBN termasuk subsidi
listrrik yang juga sangat erat terkait
dengan penggunaan BBM dalam pembangkitan listrik telah mencapai nilai yang sangat besar. Secara total, subsidi energi (BBM dan listrik) telah mencapai nilai Rp300 triliun pada tahun 2012. Nilai ini berpotensi untuk
terus meningkat jika tidak ada
per-ubahan dalam mekanisme harga BBM
bersubsidi dan skema perhitungan
subsidi listrik PLN sebagaimana diatur
Gambar-4. Perkembangan Konsumsi Premium
U
T
A
M
A
bungkan pipa dari lapangan gas Arun di Aceh ke pembangkit tersebut.
Selain pipanisasi, kebijakan pengangkutan gas juga harus
men-cakup pembangunan kilang gas alam cair dan terminal regasifikasi yang
berdekatan dengan pusat industri dan pembangkit listrik. Misalnya
rEfErEnsi
Chester, L.(2010). “Conceptualising energy security and making explicit its polysemic nature,” Energy Policy, Elsevier, vol. 38(2), pages 887-895 IEA. (2013).Southeast Asia Energy Outlook.
International Energy Agency. Energy security. http://www.iea.org/topics/ energysecurity/
Kementerian Energi dan Sumber Daya Minernal. (2012). Handbook of Energy and Economics and Statistics of Indonesia.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (2012).Statistik Batubara
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (2012). Statistik Energi Terbarukan
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (2012).Statistik Gas
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (2012).Statistik Minyak Bumi
Singh, S. (2012).Energy Security: Concepts and Concerns in India http:// inpec.in/2012/09/24/energy-security-concepts-and-concerns-in-india/ Yergin, D. (2006). Ensuring energy security. Foreign Affairs, 69-82.
CATATAn AKhir
a. http://finance.detik.com/read/2014/02/17/164948/2499940/1034/kalau-tak-impor-stok-minyak-mentah-ri-habis-dalam-4-hari
b. Capacity factor mengukur perbandingan antara energi yang dihasil-kan dengan kapasitas pembangkit. Semakin rendah tingkat capacity factor semakin kecil energi yang dihasilkan dari yang seharusnya. c. Opportunity cost mencerminkan selisih biaya antara energi untuk
menggantikan batubara di masa yang akan datang.
pembangunan terminal regasifikasi terapung (FRSU) di Jawa Barat dapat dikatakan terlambat dalam merespon kebutuhan pembangkit listrik PT PLN. Padahal biaya input gas jauh lebih
murah dibandingkan bahan bakar lainnya. Hanya tenaga air yang biaya inputnya bisa mengalahkan gas.
Ku-rangnya infrastruktur pengangkutan
gas tersebut menyebabkan hilangnya
kesempatan memanfaatkan energi
yang berbiaya rendah.
Pemerintah juga harus menyelesai -kan permasalahan yang menghalangi
eksploitasi energi terbarukan. Bebera
-pa permasalahan tersebut mencakup perijinan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air dan Pembangkit Lis
-trik Tenaga Panas Bumi yang dianggap
dapat merusak lingkungan terutama
wilayah hutan. Insentif Pemerintah ke -pada pelaku usaha dalam menurunkan tingkat ketidakpastian keberhasilan
eksplorasi panas bumi dan kompen
-sasi besarnya biaya investasi dan alat
penyimpanan energi untuk tenaga angin dan tenaga surya juga menjadi
area kebijakan yang perlu diatur oleh Pemerintah dalam pengembangan
energi terbarukan.
Beberapa fakta tersebut diatas mengindikasikan bahwa Indonesia te
-lah memiliki rencana yang baik untuk
menjaga ketahanan energi sebagai-mana telah dinyatakan dalam bentuk
roadmap bauran energi nasional sejak 2006, namun demikian progres selama periode tahun 2006-2011 menunjukkan bahwa progresnya belum menggembi
-rakan. Sementara pada periode yang sama tekanan risiko ketahanan energi
sebagai akibat terlalu
menggantung-kan pada sumber daya energi BBM mengalami peningkatan. Ini menjadi
lampu kuning bagi pembangunan
sek-tor keenergian nasional. Sebagai tahap awal perlu segera direformulasi pola subsidi BBM (termasuk listrik) yang ada; bukan hanya untuk mengurasi eksposur risiko subsidi BBM namun
juga untuk membuka jalan (necessary condition) penciptaan lingkungan yang kompetitif bagi pengembangan
sumber energi baru-terbarukan. Me-nunda setiap langkah kritis ini hanya
akan mengakumulasikan risiko atas ketahanan energi Indonesia di masa
yang akan datang. n
Gambar-5: Belanja Subsidi dalam APBN
U
T
A
M
A
Potret Kinerja Migas
Indonesia
Oleh: Mohamad Nasir
Peneliti Muda merangkap Kepala Sub Bidang BUMN Piset, Pusat Pengelolaan Risiko Fiskal – Badan Kebijakan Fiskal
– Kementerian Keuangan. Email: [email protected]
berbagai alasan yang rasional. Pihak yang pro berpendapat bahwa penye -suaian harga perlu dilakukan karena
beban subsidi telah membebani APBN
dan penyalurannya tidak tepat
sasar-an. Sementara itu, pihak yang kon -tra berpendapat penyesuaian harga belum perlu dilakukan karena akan membebani biaya hidup masyarakat.
Berangkat dari pro dan kontra harga BBM tersebut di atas, tentunya
timbul pertanyaan tentang
bagaima-na kondisi minyak dan gas bumi (mi
-gas) Indonesia sesungguhnya, cukup kaya atau miskin kah Indonesia akan migas? Logika sederhana, bila negara
kaya akan minyak tentunya ada
ke-wajaran harga BBM murah, atau se -baliknya. Dengan menggunakan data sekunder, artikel ini menggambarkan
tentang kondisi migas di Indonesia se
-bagai jawaban atas pertanyaan terse -but di atas. Selanjutnya, dari gambar-subsidi harga kepada masyarakat. Di
BBM tertentu, seperti premium, solar, minyak tanah, dan LPG 3 kg, Peme -rintah memberi subsidi sebesar selisih
harga patokan dikurangi harga ecer
-an. Di listrik, Pemerintah mensubsidi selisih biaya pokok penyediaan (BPP)
plus margin dikurangi harga jual. Ka-renanya, ketika minyak mentah naik
maka harga BBM yang merupakan produk minyak mentah akan naik, akibatnya harga patokan atau BPP
naik, dan selanjutnya subsidi naik.
Selain itu, ketika volume konsumsi
naik maka subsidi naik pula.
Untuk mengurangi beban sub
-sidi, Pemerintah telah beberapa kali
mengajukan penyesuaian harga, dan
baru berhasil pada tahun 2013. Na -mun demikian, dalam setiap upaya penyesuaian harga, dapat dipastikan
menimbulkan kontroversi di masyara
-kat, ada yang pro dan kontra dengan
pEnDAhUlUAn
Hingga saat ini, persoalan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan
tenaga listrik belum terselesaikan dengan baik dan tuntas. Di mana, setiap terjadi perubahan minimal tiga hal, yaitu harga minyak mentah, kurs
rupiah, dan volume konsumsi, pasti akan menyisakan persoalan pada
besaran subsidi. Ketika harga minyak
naik, nilai rupiah turun, dan volume konsumsi naik, belanja subsidi akan
membengkak sehingga membebani anggaran pendapatan dan belanja
negara (APBN). Ujung-ujungnya Pemerintah mengorbankan belanja modal dengan mengurangi alokasi
anggarannya atau menumpuk utang untuk menambah kekurangan beban subsidi.
Timbulnya persoalan subsidi ini tidak lain karena konsekuensi dari ke -bijakan pemerintah yang memberikan
Grafik 1. Perkembangan Produksi Minyak
U
T
A
M
A
an ini diharapkan masyarakat dapat mempunyai pendapat atau penilaian
yang logis dan berdasar terhadap ber -bagai bentuk kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan migas.
KAYA MinYAK KAh
inDonEsiA?
Indonesia merupakan negara ke
-pulauan, sebagian besar wilayahnya berupa perairan. Wilayah Indonesia juga terletak di wilayah tropis yang
memiliki dua musim yaitu penghu-jan dan kemarau. Terkait dengan
sumber daya alam (SDA), Indonesia
seharusnya bersyukur kepada Tuhan
karena di dalam perut bumi wilayah Indonesia terkandung berbagai jenis SDA. Indonesia memiliki batu bara,
tembaga, nikel, pasir besi, biji timah,
dan lainnya, tak terkecuali minyak
mentah dan gas bumi.
Khusus untuk minyak mentah,
Indonesia dapat dikatakan sebagai negara produsen minyak, bahkan pernah menjadi salah satu anggota
organisasi produsen minyak mentah dunia yaitu OPEC. Berdasarkan data dari BP (2013), Indonesia pernah ber
-hasil memproduksi minyak mentah di atas 1 juta barrel per day (BPD) selama periode 1972 s. d. 2006 dengan pen
-capaian tertinggi tahun 1977 dengan produksi 1,68 juta BPD. Gambaran perkembangan produksi minyak men -tah dapat dilihat dalam Grafik 1.
Bila dibandingkan dengan nega
-ra-negara lainnya, produksi minyak mentah Indonesia juga masih dapat dikategorikan lebih dari cukup. BP (2013) mencatat bahwa Indonesia mampu memproduksi minyak mentah sekitar 44,6 juta ton pada tahun 2012, dan menempati posisi ke-24 sebagai negara produsen minyak mentah terbesar dari 53 negara di dunia. Sedangkan di Asia Pasifik, Indonesia menempati posisi ke-2 terbesar setelah China yang mencapai 207,5 juta ton. Negara tetangga ASEAN di belakang Indonesia, Malaysia 29,7 juta ton, Viet
-nam 17 juta ton, Thailand 16,2 juta ton,
dan Brunei Darussalam 7,8 juta ton. Pencapaian produksi minyak mentah dunia yang masuk dalam 25 besar du -nia dapat dilihat dalam Grafik 2.
Namun demikian, perlu disadari
bahwa catatan pencapaian di atas adalah catatan masa lalu atau dapat dikatakan sejarah bagi Indonesia. Kini, produksi minyak mentah Indone -sia semakin menurun. Sebagaimana telah digambarkan dalam Grafik 1, dalam beberapa tahun terakhir, dari
tahun 2007 s. d. 2012, produksi minyak mentah Indonesia di kisaran 900 ribu BPD (BP, 2013). Penurunan ini meru -pakan suatu kenyataan yang harus
dihadapi Indonesia bahwa minyak
merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui semakin lama
produksinya akan semakin menurun
dan pada akhirnya suatu saat nanti akan habis.
Di samping itu, dari total produksi
minyak mentah yang dihasilkan, tidak
keseluruhannya adalah milik Peme
-rintah. Pemerintah harus berbagi de
-Grafik 2. Negara-Negara Produsen Minyak Mentah Terbesar Dunia
Sumber: BP Statistical Review, June 2013.
U
T
A
M
A
ngan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) dengan pola bagi hasil 85% un
-tuk pemerintah dan 15% un-tuk K3S.
Namun demikian, sebelum dibagi,
hasil produksi harus terlebih dahulu
digunakan sebagai pengganti biaya
eksplorasi yang dikeluarkan oleh K3S
atau cost recovery. Dengan demikian,
yang menjadi hak Pemerintah atas produksi minyak mentah adalah di bawah angka produksi tersebut da -lam Grafik 1.
KonsUMsi BBM YAng
sEMAKin MEningKAT
Berbeda dengan kinerja produksi
minyak mentah, seiring dengan
pe-ningkatan PDB dan jumlah penduduk,
konsumsi BBM di Indonesia semakin
lama semakin meningkat. Hal ini
ter-lihat dari perkembangan konsumsi
minyak mentah yang terjadi selama ini sebagaimana digambarkan dalam
Grafik 3. Di era tahun 70-an, konsumsi minyak hanya dikisaran 100 ribu s. d. 350 ribu BPD. Namun, dari tahun ke tahun konsumsi terus meningkat atau tumbuh di kisaran 6,1% per tahun se
-lama periode 1970 s. d. 2012.
Kondisi yang bertolak belakang antara kinerja produksi dan konsum -si minyak, pada akhirnya membuat
Indonesia mengalami defisit minyak. Hal ini mulai terjadi pada tahun 2004 di mana Indonesia mengalami defisit minyak sekitar 5 juta ton, kemudian
terus merangkak naik hingga tahun
2012 yang mengalami defisit 27 juta ton. Konsekuensi defisit sudah dapat dipastikan bahwa Indonesia harus impor baik dalam bentuk minyak mentah maupun hasil olahan (bensin, diesel, dan kerosene). Ketika impor, otomatis juga dapat berdampak pada neraca perdagangan Indonesia.
Dari Grafik 4 dan Grafik 5 terlihat
bahwa semakin lama volume impor minyak dan BBM semakin meningkat. Tahun 2008, volume impor mencapai 24,6 juta kiloliter (KL), meningkat 56,9% menjadi 38,6 juta KL pada ta
-hun 2012. Dari sisi nilai nominal pun otomatis defisit neraca perdagangan meningkat. Pada tahun 2003, terjadi
Grafik 3. Konsumsi dan Surplus/Defisit Minyak
Sumber: BP Statitical Review, June 2013.
Grafik 4. Neraca Minyak dan BBM
(JT KL)
Sumber: Pertamina, KESDM dalam Tempo, 2013.
Grafik 5. Ekspor – Impor Minyak dan BBM (US$
Juta)
U
T
A
M
A
defisit neraca perdagangan sekitar US$414,8 juta, kemudian pada tahun 2011 periode Januari - November men
-jadi US$19,0 miliar.
Pada dasarnya, kenaikan konsum
-si minyak atau BBM tidak menimbul -kan permasalahan selama kenai-kan
tersebut mampu mendorong pertum
-buhan ekonomi nasional dan kesejah
-teraan masyarakat secara maksimal. Pertanyaannya adalah sudah mak
-simalkah konsumsi tersebut dalam mendorong pertumbuhan ekonomi
dan kesejahteraan masyarakat? Hal
ini dapat ditunjukkan dalam rasio PDB dengan konsumsi energi ($/Kg Setara Minyak) sebagaimana terlihat
dalam Grafik 6. Indonesia terlihat masih di bawah Singapura ($8,3), Malaysia ($5,4), Korea ($4,88), dan Brunei Darussalam ($4,84) dalam hal efisiensi penggunaan energi untuk peningkatan PDB.
Kekurangefisienan konsumsi
energi tidak dapat terlepaskan dari
kebijakan energi nasional Indone
-sia. Salah satunya adalah kebijakan
harga BBM tertentu di pasaran yang disubsidi oleh Pemerintah. Harga BBM bersubsidi yang murah mendorong
masyarakat kurang memperhatikan
penggunaan BBM tersebut secara efi
-sien. Sebagai contoh harga premium Rp6.500 per liter, solar Rp5.500 per
liter, sementara itu harga minuman
cola 1,5 liter harganya Rp10.000. Premium dan solar merupakan SDA yang sulit diperoleh dan fungsinya
sangat strategis untuk menghasilkan
Grafik 6. Rasio PDB terhadap Konsumsi Energi Tahun 2012
Sumber: World Bank, 2013.
U
T
A
M
A
bed methane, dan energi terbarukan seperti panas bumi, surya, dan angin.
Khusus tentang gas bumi, Indo
-nesia mempunyai catatan yang juga luar biasa. Sejak tahun 1970 s. d. 2012, Indonesia merupakan negara produ
-sen terbesar gas bumi di Asia Pasifik meskipun khusus untuk tahun 2012 menempati posisi 2 terbesar sebagai negara produsen gas bumi di Asia Pasifik. Gambaran ini dapat dilihat
dalam Grafik 7.
Meskipun sampai dengan saat ini
produksi gas Indonesia sudah sangat besar, Indonesia masih diperkirakan memiliki potensi sumber gas yang energi. Sementara itu, minuman cola
mudah diproduksi termasuk bahan
baku juga mudah didapat dan dapat
di substitusi penggunaanya. Contoh ini menunjukan bahwa kebijakan
harga murah menunjukan adanya ketidaksesuaian antara nilai ekstrinsik
dengan fungsinya.
pEnggUnAAn gAs YAng
BElUM opTiMAl
Selain memiliki minyak mentah,
Indonesia juga memiliki sumber energi
primer lainnya yang tidak kalah dalam
hal nilai kalori dan ekonomisnya. In
-donesia memiliki gas, batu bara, coal
cukup besar. Fesharaki F. (2012), Chair
-man of Facts Global Energy, memper
-kirakan bahwa produksi kotor gas Indonesia diperkirakan masih di atas 8.300 million standard cubic feet per day (MMSCFD), bahkan diperkirakan dapat di atas 9.000 MMSCFD pada tahun 2020.
Namun sayang, Indonesia belum mampu menikmati produksi gas
-nya. Gas cenderung diekspor untuk
kepentingan luar negeri dan tidak menutup kemungkinan termasuk
potensi produksi di masa yang akan datang. Konsekuensinya, Indonesia belum dapat menikmati gas secara
Grafik 7. Kinerja Produksi Natural Gas 1970 s. d. 2012
Sumber: BP Statistical Review, June 2013.
Grafik 8. Perkiraan Konsumsi dan Produksi Gas
U
T
A
M
A
optimal meskipun harga gas lebih murah dibanding dengan BBM. Hal
ini terlihat dari pemakaian bauran
sumber energi pada tahun 2012. In
-donesia masih mengandalkan minyak
mentah dengan dengan persentase
sebesar 45%, kemudian gas 20%, dan batu bara 32%.
Seiring dengan harga minyak mentah yang mulai meningkat, gas nampaknya mulai menjadi perhatian
Pemerintah dengan mengeluarkan ke
-bijakan program konversi BBM ke BBG. Namun program ini dapat dikatakan tidak berjalan. Beberapa kendalanya antara lain keberadaan infrastruktur
transmisi dan ditribusi gas yang masih
kurang dan harga BBM yang murah. Infrastruktur diakui memang kurang
memadai dan terbatas karena selama
ini Pemerintah terfokus pada BBM se
-hingga kurang adanya perencanaan di sektor gas. Terkait dengan harga BBM yang murah juga berpengaruh
terhadap masyarakat dalam memilih
alternatif bahan bakarnya. BBM yang
murah mengurangi daya saing gas di masyarakat.
pEnUTUp
Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil beberapa poin kesimpulan. Pertama, produksi minyak mentah Indonesia telah mengalami penuru
-nan, dan suatu saat nanti akan habis.
Hal ini merupakan kosekuensi logis bahwa minyak adalah SDA yang ti -dak dapat diperbarui. Kedua, di sisi
konsumsi, permintaan akan minyak dan BBM cederung terus meningkat
seiring dengan peningkatan
pertum-buhan ekonomi dan kenaikan jumlah penduduk. Bila kedua kesimpulan ini
dikaitkan, tentunya dapat dipastikan
bahwa keamanan energi dan kedau
-latan negara terancam apabila Peme -rintah tidak melakukan apa-apa.
Keti-ga, Indonesia masih memiliki potensi produksi gas alam yang cukup besar. Namun demikian, berdasarkan catat
-an terdahulu, Indonesia lebih suka mengekspor gas dari pada mengkon -sumsi sendiri meskipun harga gas jauh
di bawah harga BBM. Dampaknya
rEfErEnsi
BP. 2013. Statistical Review of World Energy June 2013. Diakses 10 Januari 2014. http://www.bp.com/en/global/corporate/about-bp/energy- economics/statistical-review-of-world-energy-2013/statistical-review-downloads.html.
BPS. 2012. Perkembangan Ekspor-Impor Minyak dan BBM.
Fesharaki F. 2012. Indonesian LNG In The Global Context. Dipresentasikan pada Indonesia LNG Forum pada 12-13 Juli 2012.
Tempo. 2012. Maju Mundur Kilang Baru. Edisi 8 Desember 2012.
World Bank. 2014. Data. Diakses 10 Februari 2014. http://data.worldbank. org/indicator/EG.GDP.PUSE.KO.PP.KD
Sumber: BP Statistical Review, June 2013.
Grafik 9. Bauran Energi Primer Tahun 2012 dan Konsumsi Gas
Indonesia sangat tergantung dengan
sumber energi primer yang berbasis minyak mentah.
Dari beberapa kesimpulan
terse-but, Indonesia harus melakukan per -ubahan bauran kebijakan yang ideal
baik dari sisi kalori yang dihasilkan maupun dari nilai nominal rupiah
-nya. Untuk itu, diperlukan kebijakan terobosan seperti (1) pembangunan in
-frastruktur transmisi dan distribusi gas
untuk mempermudah penggunaan
gas, dan (2) meninjau kembali kebijak
-an harga BBM di pasar-an y-ang murah. Kebijakan ini dapat mendorong ma
-syarakat lebih menghargai BBM dan hidup dengan pola efisien. Di samping
itu, tinjauan kembali kebiijakan harga
tersebut dapat mendorong daya saing
gas alam sebagai sumber energi.n
Hydro electric 2% Coal 32% Natural Gas 20% Oil 45% Renewables 1%
159,4
JT EO
U
T
A
M
A
Konversi BBM ke BBG:
Belajar dari Pengalaman
Oleh: Hadi Setiawan
Peneliti Muda pada Pusat Pengelolaan Risiko Fiskal, BKF, Kementerian Keuangan. Email: [email protected]
total realisasi penerimaan pajak tahun 2013, bahkan jika ditambah
dengan subsidi listrik maka nilainya
menjadi sekitar 33,8% adalah suatu nilai yang tidak rasional karena se -bagian besar subsidi tersebut justru
dinikmati oleh orang yang mampu. Walaupun dilakukan kenaikan harga BBM bersubsidi pada pertengahan 2013, hal itu ternyata tidak terlalu membawa perubahan yang signifikan pada jumlah subsidi BBM tahun 2014. Jika pada APBN-P 2013 jumlah subsidi BBM sebesar Rp209,9 triliun maka pada tahun 2014 nilainya menjadi jumlah produksi gas kita hanya sekitar
3,17 TSCF (hanya sekitar 2,07% dari total cadangan gas bumi atau hanya 3,03% dari total cadangan terbukti).a
Ditambah lagi, jumlah yang dikom -sumsi di dalam negeri hanya separuh
dari jumlah produksi. Kondisi ini membuat Indonesia menjadi negara eksportir gas nomor 7 di dunia pada tahun 2012.b Hal ini berarti Indonesia
memiliki potensi yang sangat besar
untuk mengembangkan gas sebagai
bahan bakar pengganti BBM. Nilai subsidi BBM yang sudah mencapai sekitar 22,8% dari jumlah
pEnDAhUlUAn
Kekayaan gas alam Indonesia
yang besar dan melimpah, jumlah
subsidi bahan bakar minyak (BBM)/ energi yang sangat besar, dan kondi
-si Indone-sia yang sudah menjadi net importir minyak menjadi beberapa alasan bagi Indonesia untuk segera melakukan program konversi BBM ke bahan bakar gas (BBG).
Cadangan gas bumi Indonesia mencapai 152,89 TSCF merupakan
jumlah yang sangat besar jika diban-dingkan dengan jumlah gas yang
su-dah diproduksi. Pada tahun 2012 saja
Keterangan: Kondisi per 1 Januari 2011
Sumber: Ditjen Migas diunduh dari http://www.migas.esdm.go.id/
U
T
A
M
A
Rp210,7 triliun (sekitar 18,98% dari target penerimaan pajak). Jadi dapat dikatakan bahwa sekitar 1/5 uang
pajak dari rakyat hanya “dibakar”
di kendaraan. Alangkah jauh lebih bermanfaatnya jika uang pajak rakyat
yang “dibakar” tersebut digunakan
untuk pembangunan infrastruktur,
untuk pengentasan kemiskinan,
un-tuk penciptaan lapangan kerja, dan
sebagainya.
Harga BBM bersubsidi yang
murah menjadi salah satu penyebab
konsumsi BBM yang sangat besar
padahal supply di Indonesia sudah sangat terbatas. Efeknya, Indonesia menjadi salah satu net importir mi
-nyak sehingga neraca perdagangan minyak dan gas (migas) selalu meng
-alami defisit. Pada tahun 2013 saja ne
-raca perdagangan migas mengalami defisit sebesar US$12,6 miliar yang berdampak pada defisitnya neraca perdagangan secara keseluruhan se
-kitar US$4,1 miliar. Pada kuartal tiga 2013, defisit neraca perdagangan ini bahkan sampai mengganggu kondisi ekonomi kita (nilai kurs rupiah mele
-mah, pertumbuhan ekonomi melam
-bat, dan sebagainya).
Semua kondisi tersebut mendo
-rong kita untuk kembali menjalankan program konversi BBM ke BBG yang
sudah pernah dilakukan sebelumnya
di beberapa kota yaitu Jakarta, Ban
-dung, Surabaya, Cirebon, Bogor, dan Palembang. Walaupun dapat dikata
-kan program konversi yang dijalan-kan di beberapa kota tersebut gagal teta -pi seharusnya kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman kegagalan tersebut.
pEngAlAMAn inDonEsiA
sEBElUMnYA
Susanti, dkk. (2011)c menuliskan
dalam bukunya tentang pengalaman
beberapa kota dalam menjalankan program konversi. Pertama di Jakarta, Pemerintah DKI Jakarta telah meng
-haruskan penggunaan BBG bus Trans -jakarta dan angkutan umum lainnya
pada tahun 2006 melalui Perda DKI
Jakarta Nomor 2 Tahun 2005 dan
juga mengatur target penggunaan
BBG setiap tahunnya (Tabel 1). Pada tahun 2015 diharapkan 15.563 angkut
-an umum telah menggunak-an BBG,
namun kenyataan pada saat ini yang
konsisten menggunakan BBG hanya -lah bus Transjakarta, sedangkan jenis angkutan umum lainnya termasuk bajaj semakin berkurang jumlah yang
menggunakan BBG.
Program konversi di Jakarta ku -rang berhasil disebabkan antara lain
(i) sangat terbatasnya pasokan gas un
-tuk transportasi; (ii) jaringan pipa gas di Jakarta yang masih sangat minim, akibatnya SPBG yang ada sangat ter -batas dan jaraknya juga jauh sehing-ga para pemilik kendaraan angkutan umum tersebut malas untuk mengisi
BBG; (iii) posisi SPBG tersebut seba
-gian besar tidak dilewati oleh rute angkutan umum; dan (iv) sebagian SPBG yang ada masih menggunakan teknologi slow fill sehingga
memer-lukan waktu lama untuk pengisian 1 tangki BBG (sekitar 30 menit) sehing -ga antrian menjadi panjang.
Sementara di Bandung, peng
-alaman program konversi telah dimulai pada tahun 1997 melalui Program Langit Biru. Pada tahap awal sebanyak 35 angkutan kota dan 45 mobil dinas menggunakan BBG. Te
-tapi program ini tidak bertahan lama
karena banyaknya kendala yang
diha-dapi, yang antara lain (i) di Bandung
Tabel 1. Target Konversi BBM ke BBG Jakarta
Jenis Angkutan Umum 2011 2012 2013 2014 2015
Bus besar – Busway 50 100 200 350
Bus sedang 50 100 200 350
Bus kecil - Mikrolet 300 1.000 1.500 2.000 1.910
Bus kecil – APB 100 200 250 250 346
Bus kecil – KWK 300 1.000 1.500 2.000 1.438
Taksi 2.000 3.000 5.000 5.000 7.169
Bajaj 100 1.000 2.000 3.000 4.000
Sumber: Dinas Perhubungan DKI Jakarta dalam Susanti, dkk., 2011.
Grafik 1. Besaran Subsidi Tahun 2009 s. d. 2014 (dalam triliun rupiah)
U
T
A
M
A
tidak ada jaringan pipa gas sehingga
menyulitkan pasokan BBG, (ii) tidak ada suku cadang dan bengkel atau teknisi khusus untuk konverter kit dan kendaraan yang dikonversi sehingga apabila konverter kit rusak dilakukan kanibalisme efeknya jumlah konver
-ter kit lama-kelamaan habis, dan (iii) teknologi pengisian SPBG yang ada
adalah slow fill sehingga para sopir angkutan kota yang menggunakan BBG menjadi tidak sabar.
Program konversi juga sudah di mulai pada tahun 2003 di Cirebon. Program ini dilakukan dengan inisia
-tif sendiri dari pengusaha angkutan kota, karena pengusaha menilai bah
-wa dengan menggunakan BBG akan
dapat menghemat biaya mereka. Hal
ini ditunjang oleh infrastruktur di Ci
-rebon yang dilalui oleh jaringan pipa gas dan kondisi masyarakatnya yang
sudah terbiasa menggunakan gas.
Tetapi pada kenyataannya program konversi di Cirebon juga tidak dapat
bertahan lama karena terkendala
tek-nologi yang tersedia di SPBG hanyalah teknologi slow fill, dan sulitnya
men-cari spare part pengganti konverter
kit yang rusak serta ketiadaan
beng-kel khusus konverter kit.
Kementerian Perhubungan juga melakukan program konversi di Bogor dengan menyumbangkan 1.001 konverter kit bagi angkutan kota pada tahun 2009. Tetapi sam
-pai dengan saat ini, konverter kit
tersebut belum dapat dipergunakan
karena tidak adanya SPBG di Bogor. Ketiadaan SPBG tersebut disebabkan oleh tidak adanya jaringan pipa gas
yang memenuhi syarat untuk dapat
dibangun SPBG.
Sedangkan di Palembang prog
-ram konversi dimulai pada tahun 2009 dengan adanya bantuan konverter kit sebanyak 666 dari Pemerintah Pusat
yang diperuntukkan bagi angkutan
kota. Tetapi hanya sebanyak 53 unit
saja yang dipasang, karena
terken-dala letak SPBG yang jauh dari rute angkutan kota, ketakutan akan mele
-daknya tabung BBG, ketakutan akan
berkurangnya kinerja mesin, tidak
adanya suku cadang konverter kit,
dan layanan purna jual yang jelek.
Khusus untuk Surabaya program konversi ternyata cukup berhasil. Program yang diprakarsai oleh para pengusaha taksi pada tahun 2007 ini dilakukan dengan cara memberikan konverter kit kepada supir taksi dan cara pembayarannya dicicil pada saat pembelian BBG. Kemudian pada tahun 2010, Pemerintah Pusat juga turut serta memberikan 500 konver
-ter kit bagi angkutan kota. Sampai saat ini program ini masih bertahan
di Surabaya dan diharapkan semakin berkembang.
pElAjArAn YAng
DipErolEh
Potensi gas alam yang sangat besar dan manfaat-manfaat lainnya yang diperoleh dari program konversi membuat Indonesia sangat potensial untuk mengembangkan BBG sebagai bahan bakar pengganti BBM. Peng -alaman-pengalaman “kegagalan”
program konversi BBM ke BBG di be
-berapa kota memberi pelajaran untuk pengembangan program konversi se -lanjutnya. Dari pengalaman
sebelum-nya dapat disimpulkan bahwa kega
-galan program konversi di beberapa
kota antara lain disebabkan oleh sup-ply/pasokan gas yang sulit/terbatas, jumlah SPBG yang sangat sedikit dan lokasi nya yang tidak strategis, infra -struktur jaringan pipa gas yang masih
sangat terbatas, teknologi pengisian BBG yang sangat lama (sekitar 30-40 menit), harga BBM yang masih murah, suku cadang dan teknisi konverter kit (layanan purna jual) yang sangat ja
-rang, dan ketakutan pengguna BBG.
Oleh karena itu, setidaknya ter-dapat tiga hal yang harus dilakukan
agar program konversi ini dapat berjalan sukses, yaitu (i) pengadaan konverter kit, (ii) jaringan distribusi termasuk pengadaan SPBG, dan (iii) ketersediaan pasokan gas.d
Pengadaan Konverter Kit. Agar program konversi ini menarik, Peme
-rintah harus ikut campur tangan de -ngan memberikan subsidi pengadaan
konverter kit atau memberikan dana talangan pengadaan konverter kit yang nantinya akan dibayar oleh pem
-beli konverter kit dengan cara mencicil ketika membeli BBG (harga BBG sudah termasuk cicilan konverter kit - Gambar
2). Selain itu, pada tahap awal Pemerin
-tah juga harus memastikan bahwa la -yanan purna jual, bengkel, dan teknisi
untuk konverter kit tersedia di lapang
-an. Selanjutnya jika pasar konverter kit
sudah terbentuk maka kemungkinan besar layanan purna jualnya juga akan tersedia dengan sendirinya.
U
T
A
M
A
Pipa Jaringan Distribusi Dan
Pengadaan SPBG. Pemerintah juga
harus turut berperan dalam pemba-ngunan jaringan pipa distribusi gas
dan pengadaan SPBG. Untuk tahap awal adalah pembangunan jaringan pipa gas di lokasi-lokasi yang sudah direncanakan sebelumnya, termasuk
pembangunan jaringan pipa di dalam
kota. Pembangunan infrastruktur ini
dapat dilakukan dengan
mengguna-kan dana APBN/APBD atau menggu -nakan skema kerja sama pemerintah
dengan swasta (KPS) ataupun melalui penugasan kepada BUMN. Sedang
-kan untuk pengadaan SPBG dapat di dilakukan oleh Pemerintah melalui
dua skema sehingga dapat menarik
minat pengusaha agar mau berinves
-tasi dalam pembangunan SPBG, yaitu (i) melalui penerusan pinjaman dan (ii) melalui pemberian penjaminan
pinjaman.
Dalam skema penerusan
pinjam-an, Pemerintah dapat meneruskan fasilitas pinjaman murah atau hibah
dari luar negeri yang banyak
disedia-kan oleh negara maju atau lembaga internasional bagi teknologi ramah
lingkungan atau energi ramah ling-kungan ke pengusaha-pengusaha
SPBG dengan suku bunga kredit yang murah dan akses/skema yang mudah.
Sementara dalam skema pemberian penjaminan pinjaman, skema
pen-jaminan yang diterapkan pada KUR dapat dijadikan contoh untuk kredit pembangunan SPBG. Pemerintah
memberikan penjaminan atas
seba-gian pinjaman, misalnya sebesar 50% - 80% melalui perusahaan penjamin.
Di samping itu untuk membuka pasar
bisnis SPBG, Pemerintah dapat menu
-gaskan kepada BUMN (Pertamina atau PGN) untuk menjadi pionir. Setelah
pasar bisnis ini terbentuk, maka pasti pengusaha akan mau terjun untuk
membangun SPBG.
Ketersediaan Pasokan Gas.
Suplai BBG harus dapat dijamin oleh
Pemerintah. Caranya dapat dilaku -kan melalui tangan SKK Migas yang mengatur mengenai peruntukan gas.
Misalnya memanfaatkan bagian gas yang diterima oleh pemerintah untuk dipergunakan pada sektor transpor -tasi.
Untuk memastikan program ini berhasil, maka ketiga faktor
tersebut harus dibarengi dengan
kebijakan penyesuaian harga BBM
bersubsidi, misalnya dengan
mela-kukan pola subsidi tetap, dimana subsidi BBM yang diberikan per li
-ter nya adalah tetap (misal Rp1.000 atau Rp2.000). Sehingga masyarakat
akan mau beralih dari
mengguna-kan BBM menjadi menggunamengguna-kan BBG karena harga BBM menjadi
tidak menarik lagi.
pEnUTUp
Belajar dari pengalaman-peng
-alaman yang didapat dari program konversi BBM ke BBG yang sudah
dilakukan sebelumnya membuat kita mengetahui apa saja kelemahan-kele-mahan yang harus diperbaiki dan apa
saja yang harus dilakukan agar prog
-ram konversi dapat berhasil. Dengan kemauan yang kuat dari Pemerintah
dan peran serta dari seluruh pemangku
kepentingan, maka niscaya program konversi BBM ke BBG ini akan berhasil. Keberhasilan program konversi akan membuat Indonesia dapat menikmati manfaat dari pengalihan anggaran subsidi BBM yang sebelumnya sebagi
-an besar dinikmati oleh or-ang mampu menjadi lebih bermanfaat bagi pem
-bangunan ekonomi dan dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. n
CATATAn AKhir
a. Data dari Ditjen Migas
b. www.indexmundi.com, diakses tanggal 28 Februari 2014.
c. Susanti, dkk. 2011. Kebijakan Nasional Program Konversi dari BBM ke BBG untuk Kendaraan. LIPI Press. Jakarta
d. Setiawan. 2013. Konversi Bahan Bakar Minyak ke Bahan Bakar Gas Pada Sektor Transportasi: Mungkinkah Dilakukan. Bunga Rampai Energi. Jakarta.
Gambar 2. Skema Pengadaan Konverter Kit
Keterangan:
1. Konsumen mendapatkan konverter kit dari produsen/penjual secara cuma-cuma
2. Konverter kit dibayar oleh Pemerintah sebagian dengan dana subsidi dan sebagian lagi dibebankan kepada konsumen melalui pembelian BBG yang didalamnya terdapat
komponen harga konverter kit
3. Konsumen membayar BBG ke SPBG yang di dalamnya terdapat komponen pembelian konverter kit
4. SPBG membeli BBG dari Pertamina/PGN/Supplier Gas Swasta yang didalamnya ada komponen harga konverter kit
5. Pertamina/PGN/Supplier Gas Swasta membayar ke pemerintah porsi konverter kit dari hasil penjualan BBG
U
T
A
M
A
Ketahanan dan Kedaulatan
Energi Indonesia
Oleh: Akhmad Yasin
Peneliti Pertama pada Pusat Pengelolaan Risiko Fiskal, Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan.
Email: [email protected]
dijangkau secara luas dan harganya
pun mahal sedangkan permintaan ter-hadap energi tersebut meningkat
tan-pa batas. Oleh karena itu, pengelolaan
energi jangan hanya bertumpu pada sisi penyediaan, tetapi yang juga perlu diperhatikan adalah mengendalikan
sisi permintaan melalui upaya konser
-vasi energi. Kebijakan konser-vasi ener -gi dimaksudkan untuk meningkatkan
penggunaan energi secara efisien dan rasional tanpa mengurangi kuantitas
energi yang benar-benar diperlukan.
Menurut Santoso dkk (2012) upaya konservasi energi dapat diterapkan pada seluruh tahap pemanfaatan, mulai dari pemanfaatan sumber daya energi sampai pada pemanfaatan akhir dengan menggunakan teknologi yang efisien dan membudayakan pola
hidup hemat energi.
Dalam memenuhi kebutuhan energi, berbagai upaya untuk
me-ningkatkan pasokan energi telah
dilakukan, termasuk pengembangan
teknologi pemanfaatan sumber daya energi alternatif yang lebih ramah
lingkungan, mudah didapat, dan memiliki jumlah yang tidak terbatas
maupun dapat diperbaharui. Diversi
-fikasi penyediaan energi ini menjadi
penting dilakukan untuk menjamin
bahan bakar minyak (BBM) untuk
memenuhi kebutuhan energi dalam
negeri daripada mengekspor. Kondi
-si semacam ini menunjukkan bahwa pemanfaatan energi baru dan terba -rukan seperti bahan bakar nabati
be-lum dioptimalkan. Kebutuhan energi di Indonesia akan selalu meningkat seiring dengan pertumbuhan popu
-lasi penduduk dan ekonomi. Secara ekonomi, impor BBM yang semakin meningkat memengaruhi kondisi ke
-uangan negara. Pengeluaran negara untuk subsidi harga BBM dan listrik
menjadi semakin besar sehingga
memberikan tekanan terhadap APBN dari porsi pengeluaran.
Kompleksitas ini pada akhirnya memengaruhi kondisi ketahanan energi di Indonesia. Ketahanan energi adalah suatu kondisi di mana kebutuh -an masyarakat luas terhadap energi
dapat dipenuhi secara berkelanjutan
berdasarkan prinsip-prinsip keterse-diaan (availability), keterjangkauan
(accessibility), dan akseptabilitas (mutu dan harga).a Berbagai fenomena ke
-langkaan energi seperti antrean BBM
dan pemadaman listrik yang seringkali
terjadi di Indonesia mengindikasikan bahwa pasokan untuk ketersediaan
energi sangat terbatas, tidak dapat
pEngAnTAr
Indonesia merupakan negara
dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, bahkan bisa
dika-takan Indonesia menjadi salah satu
lumbung sumber daya alam, salah satunya adalah lumbung energi.
Berbagai faktor alam dan geografis menguatkan posisi Indonesia sebagai lumbung energi dunia. Indonesia se
-lain memiliki cadangan minyak bumi, juga memiliki cadangan gas alam dan
batu bara dalam jumlah besar. Kedua
komoditas tersebut bahkan diekspor
ke berbagai negara. Di samping energi
fosil, potensi Indonesia di bidang ener -gi nabati juga sangat besar. Sebagai negara yang dikaruniai dengan tanah
yang subur dan sebagai negara tropis, Indonesia menghasilkan berbagai jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan
sebagai sumber energi nabati. Hampir segala jenis tanaman penghasil minyak
nabati dapat tumbuh dengan cepat. Melihat kondisi Indonesia yang potensial dan prospektif dalam
penyediaan energi bagi ketahanan
nasional, tentunya menjadi hal yang
muskil ketika saat ini kita dihadapkan
pada suatu kondisi dimana kebutuh
-an energi nasional mengalami keren
U
T
A
M
A
Tabel 1. Perbandingan Indikator Ketahanan, Kedaulatan, dan Kemandirian Energi
Ketahanan Energi Kedaulatan Energi Kemandirian Energi
Definisi suatu kondisi di mana kebutuhan
masyarakat luas terhadap
energi dapat dipenuhi secara
berkelanjutan berdasarkan prinsip-prinsip ketersediaan (availability), keterjangkauan
(accessibility), dan akseptabilitas (mutu dan harga)
hak negara dan bangsa untuk
secara mandiri menentukan kebijakan pengelolaan energi untuk mencapai ketahanan dan
kemandirian energi
kemampuan suatu bangsa
untuk secara mandiri dapat
memenuhi kebutuhan energinya tanpa bergantung pada bangsa lain
Indikator
ketersediaan energi
penjaminan kelancaran
penyaluran, transmisi, dan penyimpanan sumber energi
dan energi; inventarisasi sumber daya energi; dan peningkatan cadangan energi
penjaminan kelancaran
penyaluran, transmisi, dan penyimpanan sumber energi
dan energi; inventarisasi sumber daya energi; dan peningkatan cadangan energi
penjaminan kelancaran
penyaluran, transmisi, dan penyimpanan sumber energi
dan energi; inventarisasi sumber daya energi; dan peningkatan cadangan energi
Indikator
keterjangkauan energi
keterjangkauan aspek
teknologi, sosial, ekonomi;
Keterjangkauan konservasi energi dan lingkungan; prioritas
dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat dan peningkatan
kegiatan ekonomi di daerah penghasil sumber energi; serta pemanfaatan energi baru dan
energi terbarukan
mengoptimalkan seluruh potensi sumber daya energi dan pemanfaatan seluruh sumber
daya energi
Indikator
kemandirian energi
Tingkat ketergantungan
terhadap impor energi;
rendahnya kemampuan SDM
dalam mengelola energi
Tingkat ketergantungan
terhadap impor energi Indikator
kedaulatan energi
Tingkat ketergantungan
terhadap impor energi; pemanfaatan energi yang
masih dikuasai asing
Sumber: 1. Jurnal Diplomasi, Vol. 3, No. 3, September 2011, diolah 2. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi, diolah
dalam bumi, termasuk minyak dan
gas bumi harus dimanfaatkan bagi
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Pemenuhan kebutuhan energi yang
berkesinambungan bagi kemakmuran
rakyat yang berasal dari hasil produksi energi nasional menjadi tumpuan ha -rapan untuk menuju kepada keman-dirian energi.
KETAhAnAn EnErgi,
KEDAUlATAn EnErgi DAn
KEMAnDiriAn EnErgi
Masih menurut Sampe L Purba,
ketahanan energi, kedaulatan ener-gi, dan kemandirian energi adalah
tiga kosakata yang berbeda karena
mempunyai makna yang berbeda.
Ke-dang-ladang minyak oleh perusahaan asing dan kedaulatan energi nasional pun semakin rentan karena dominasi
asing tersebut.
Sampe L Purba dalam artikelnya yang berjudul “Ketahanan Energi, Kemandirian Energi atau Kedaulatan Energi?” mengatakan kedaulatan
energi adalah hak negara dan
bang-sa untuk secara mandiri menentukan kebijakan pengelolaan energi untuk mencapai ketahanan dan kemandirian energi. Pengelolaan energi nasional
berhubungan erat dengan ketahanan
energi nasional. Pengelolaan energi harus selaras dengan amanat Pasal 33 UUD 1945 bahwa pemanfaatan
kekayaan alam yang terkandung di
ketahanan energi nasional. Tentu saja perlu adanya prioritas dalam perenca -naan pengembangannya. Dalam masa
transisi menuju pemanfaatan energi alternatif secara optimal, upaya pe -ngurangan ketergantungan terhadap minyak bumi perlu dilakukan.b
Ketergantungan terhadap minyak
bumi secara masif akan membawa ke
-pada krisis kedaulatan energi. Apalagi dengan berlakunya UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (Migas) telah membuka liberalisasi di sektor migas. Akibatnya pengelolaan migas, terutama di sektor hulu seba
-gian besar dikuasai oleh kontraktor
asing. Hal ini telah menimbulkan