Standar operasional penerbitan dokumen Surat Keterangan Asal pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surakarta 38

68  52  Download (0)

Teks penuh

(1)

STANDAR OPERASIONAL PENERBITAN DOKUMEN SURAT KETERANGAN ASAL PADA DINAS PERINDUSTRIAN DAN

PERDAGANGAN KOTA SURAKARTA

Proposal Tugas Akhir

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program Studi Diploma III

Bisnis Internasional Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret

Surakarta

Disusun Oleh : Retno Istiyanto

F3106095

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Era globalisasi saat ini telah meningkatkan interaksi antar negara dalam berbagai bidang, termasuk di dalamnya perdagangan internasional. Pemenuhan kebutuhan suatu negara tidak lagi hanya dilakukan melalui produksi dalam negeri, akan tetapi dapat dilakukan dengan pembelian dari luar negeri (impor) atau bahkan memproduksi barang dengan tujuan untuk dipasarkan ke luar negeri (ekspor). Saat sekarang ini hampir tidak ada suatu negara yang dapat memenuhi kebutuhannya dari hasil produksi sendiri. Negara yang mampu memproduksi barang lebih murah dibandingkan negara lainnya, disebut keunggulan komparatif, sehingga dapat mengekspor barang tersebut ke negara lain. Sedangkan bagi negara yang tidak dapat memproduksinya sendiri maka negara tersebut akan mengimpor dari negara lain, dan terjadilah transaksi antar negara.

(3)

dengan meningkatkan ekspor dan menekan impor. Memperlancar pembangunan dengan menekan impor dimaksudkan agar produksi dalam negeri meningkat sehingga pendapatan per kapita masyarakat juga meningkat. Untuk mendorong pengembangan ekspor, pemerintah mengeluarkan PP No 1 / 1982 dengan tujuan menggalakkan ekspor komoditi non migas. Kebijakan itu perlu dilakukan karena perekonomian dunia yang tidak menentu sekarang ini yang disebabkan oleh adanya krisis global. Oleh karena itu beberapa negara maju melakukan penekanan terhadap barang impor. Sedangkan imbasnya bagi perekonomian Indonesia adalah berkurangnya devisa atau pendapatan negara yang berasal dari tarif ekspor tersebut.

(4)

Ekspor Barang (PEB), Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) yang berperan sebagai penerbit Surat Keterangan Asal (SKA).

Surat Keterangan Asal merupakan suatu dokumen penyerta ekspor dan untuk diterbitkannya Surat Keterangan Asal harus memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditetapkan, sehingga tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Dengan Surat Keterangan Asal ini kita dapat menikmati fasilitas penurunan tarif yang di berikan oleh negara-negara maju kepada negara-negara yang sedang berkembang. Ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan Surat Keterangan Asal (SKA) baik yang berdasarkan kesepakatan internasional dalam perjanjian bilateral, regional dan multilateral telah banyak mengalami perubahan. Maka dari itu dalam menunjang usaha peningkatan ekspor telah disusun penyempurnaan ketentuan tentang Surat Keterangan Asal (SKA) yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor : 17/M-DAG/PER/9/2005.

(5)

kerusakan dalam formulir form SKA. Dan dalam formulir form SKA yang sudah diganti tersebut dicantumkan kalimat duplicate.

Berdasarkan uraian tersebut, hal yang ingin diketahui adalah, bagaimana perkembangan prosedur penerbitan Surat Keterangan Asal, kendala apa saja yang di hadapi oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan dalam proses perkembangan standar operasional penerbitan Surat Keterangan Asal tersebut dan mengetahui kekurangan serta kelebihan dari masing-masing standar operasional tersebut.

Berdasarkan uraian di atas maka permasalahan yang akan di angkat oleh penulis adalah “STANDAR OPERASIONAL PENERBITAN DOKUMEN SURAT KETERANGAN ASAL PADA DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN KOTA SURAKARTA”.

B. Perumusan Masalah

Perumusan masalah dalam penulisan laporan ini dimaksudkan untuk mempermudah pembahasan masalah dan sebagai pedoman bagi penulis untuk melakukan penelitian secara cermat dan tepat sesuai dengan topik yang diambil. Untuk memudahkan pembahasan masalah dan pemahamannya, maka penulis merumuskan permasalahannya sebagai berikut :

1. Bagaimana perkembangan prosedur penerbitan Surat Keterangan Asal yang diterbitkan oleh Dinas Perindustrian dan Pedagangan Kota Surakarta?

(6)

3. Bagaimana peran Sucofindo dalam membantu Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surakarta untuk menerbitkan Surat Keterangan Asal ? 4. Apa kelemahan dan kelebihan prosedur penerbitan SKA secara manual,

semi otomasi dan full otomasi ?

5. Kendala apa yang di hadapi oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surakarta dalam proses perkembangan standar operasional penerbitan Surat Keterangan Asal tersebut ?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai prosedur penerbitan SKA secara manual, semi otomasi dan full otomasi yang diterbitkan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surakarta.

2. Untuk mengetahui kendala dan hambatan yang dihadapi pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surakarta dalam proses perkembangan standar operasional penerbitan Surat Keterangan Asal. 3. Untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan prosedur penerbitan SKA

secara manual, semi otomasi dan full otomasi.

4. Untuk mengetahui lebih rinci mengenai prosedur pembatalan SKA, prosedur replacement dan duplicate secara manual, semi otomasi dan full otomasi.

D. Manfaat Penelitian

(7)

penulis pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Ada pun manfaat yang dapat diperoleh yaitu sebagai berikut :

1. Bagi Penulis

Melalui penelitian ini penulis berharap dapat mengetahui, mengerti dan memahami secara terperinci mengenai prosedur penerbitan Surat Keterangan Asal.

2. Bagi Dinas Perindustrian dan Perdagangan

Mengetahui kekurangan-kekurangan serata hambatan dalam proses perkembangan prosedur penerbitan SKA. Sehingga dapat dijadikan tolak ukur agar kedepannya bisa lebih baik.

3. Bagi Eksportir

Dapat dijadikan referensi dan tambahan informasi bagi eksportir mengenai prosedur penerbitan SKA.

4. Bagi Pembaca

Bermanfaat sebagai tambahan pengetahuan serta sebagai referensi bacaan dan informasi khususnya bagi mahasiswa jurusan Bisnis Internasional.

E. Metode Penelitian

(8)

1. Ruang lingkup penelitian

Ruang lingkup dari penelitian ini adalah membahas mengenai suatu obyek yang di analisis secara mendalam dengan memfokuskan pada suatu masalah, yaitu prosedur atau standar operasional penerbitan SKA secara manual, semi otomasi dan full otomasi. Metode yang digunakan dalam penelitian Tugas Akhir ini adalah studi kasus karena mengambil salah satu obyek tertentu untuk di analisa.

2. Jenis dan Sumber Data a. Jenis Data

1) Data primer

Yaitu data yang diperoleh langsung dari sumbernya. Data ini diperoleh dengan wawancara langsung pada narasumber Data primer ini berupa gambaran umum mengenai prosedur penerbitan SKA secara manual, semi otomasi dan full otomasi yang diterbitkan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surakarta yang bekerjasama dengan pihak Sucofindo.

2) Data Sekunder

(9)

b. Sumber Data

1) Sumber Data Primer

Sumber Data Primer adalh data yang diperoleh dari wawancara secara langsung dengan pihak staf atau karyawan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surakarta.

2) Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder adalah data pendukung yang diperoleh dari sumber-sumber lain yaitu dari buku atau referensi, website atau arsip yang ada di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surakarta.

3. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data suatu penelitian dapat dilakukan dengan tiga cara sebagai berikut:

a. Wawancara

Merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mengadakan tanya jawab secara langsung yang dilaksanakan dengan tatap muka dengan pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surakarta. Wawancara dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan obyek penelitian.

b. Studi Pustaka

(10)

c. Observasi

Penulis melihat bahkan terlibat secara langsung mengenai kegiatan prosedur penerbitan SKA secara manual, semi otomasi dan full otomasi di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surakarta. 4. Metode Analisis Data

(11)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kajian Teori

1. Pengertian Ekspor

Ekspor adalah proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain secara legal, umumnya dalam proses perdagangan. Proses ekspor pada umumnya adalah tindakan untuk mengeluarkan barang atau komoditas dari dalam negeri untuk memasukannya ke negara lain. Ekspor barang secara besar umumnya membutuhkan campur tangan dari bea cukai di negara pengirim maupun penerima. Tujuan dari kegiatan ekspor anatara lain untuk memperoleh laba yang lebih besar di bandingkan hanya memasarkan barang di pasar dalam negeri, untuk membuka pasar baru di luar negeri sebagai perluasan pasar domestik, untuk memanfaatkan kelebihan kapasitas terpasang dan untuk membiasakan diri bersaing dalam pasar internasional.

2. Prosedur Ekspor

Prosedur Ekspor yaitu langkah-langkah yang harus dilakukan oleh eksportir apabila akan melakukan ekspor. Beberapa tahapan dalam melakukan kegiatan ekspor yaitu sebagai berikut :

a. Eksportir mengadak promosi, korespondensi, negosiasi dengan pembeli.

(12)

d. Eksportir menyiapkan barang (ready to export).

e. Eksportir membuat dokumen Packing List dan Invoice.

f. Eksportir membuat dokumen Shipping Instruction yang ditujukan kepada forwarder / shipping company.

g. Eksportir mengurus PEB (Pemberitahuan Ekspor Barang) dan pihak Bea Cukai akan mengijinkan barang untuk diekspor.

h. Barang dimuat diatas kapal, kemudian eksportir memperoleh dokumen Bill Of Lading.

i. Eksportir mengurus

j. SKA (Surat Keterangan Asal).

k. Eksportir menghubungi bank untuk negosiasi pembayaran.

l. Selanjutnya Advising Bank mengirimkan dokumen ekspor seperti B/L, Commercial Invoice, Packing List, SKA dan PEB kepada pihak Issuing Bank untuk mendapatkan ganti pembayaran.

m. Issuing Bank memeriksa dokumen ekspor tersebut, apakah sesuai dengan syarat-syarat dalam L/C. Jika sesuai maka pihak Issuing Bank meminta importir menebus dokumen tersebut dengan cara melakukan pembayaran sesuai yang disyaratkan dalam L/C.

(13)
(14)

3. Dokumen Ekspor

Dalam perdagangan ekspor, pengurusan dan penyelesaian dokumen ekspor merupakan suatu hal yang sangat penting, karena sesungguhnya dalam perdagangan ekspor, pihak-pihak yang terkait seperti kantor Bea cukai, kantor Disperindag, perusahaan pelayaran dan lainnya, terutama bank, semuanya hanya berurusan dengan dokumen. Dapat dikatakan bahwa dalam perdagangan ekspor, eksportir bukan menjual barang melainkan menjual dokumen. Misalnya advising/negotiating bank tidak akan mencairkan/menguangkan L/C kepada eksportir sebelum eksportir tersebut telah melengkapi semua dokumen-dokumen ekspor yang disyaratkan dalam L/C. Bahkan bila dokumen tersebut telah dipenuhi oleh eksportir, negotiating bank belum tentu mencairkan L/C sebelum meneliti dengan ketat kebenaran dan kelengkapan data-data yang diisikan dalani dokumen tersebut. Bila terjadi kesalahan pengisian, maka pencairan L/C akan tertunda bahkan eksportir akan dikenai denda. Jadi pengisian dan pengurusan dokumen ekspor secara benar sangatlah penting bagi kelancaran eksportir dalam melakukan kegiatan ekspor.

(15)

a. Packing List

Packing List merupakan dokumen ekspor yang menjelaskan tentang isi dan informasi mengenai barang yang akan diekspor. Dokumen ini fungsinya untuk memudahkan dalam pemeriksaan oleh pihak Bea Cukai.

b. Invoice

Invoice merupakan dokumen ekspor yang menjelaskan mengenai nilai barang yang akan diekspor. Dokumen ini fungsinya untuk melihat dan mengetahui dengan pasti rincian harga jual suatu barang/komoditi.

c. Shipping Instruction

Shipping instruction merupakan dokumen ekspor yang digunakan untuk memesan wang kapal dan untuk memesan container. Dokumen ini memuat semua data yang diperlukan dalam pembuatan Bill of Lading (B/L) atau Airway Bill (AWB). Bill of Lading (B/L) atau Airway Bill (AWB) yaitu merupakan bukti tanda terima barang, pemilikan barang dan bukti adanya perjanjian pengangkutan barang yang dikeluarkan oleh maskapai pelayaran/penerbangan.

d. Bill of Lading

(16)

serta dapat dijadikan bukti adanya kontrak pengangkutan barang antara eksportir dengan perusahaan pelayaran. Apabila transaksi pengangkutan barang dikirim melalui pesawat udara dengan melalui perusahaan penerbangan, maka dokumen yang dipakai yaitu dokunien Airway Bill (AWB).

e. Certificate of Origin (COO) atau Surat Keterangan Asal (SKA). Surat Keterangan Asal (SKA) merupakan dokumen ekspor yang menyatakan asal barang/komoditi yang diekspor. Dokumen ini diterbitkan oleh pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Depperindag). Dokumen SKA juga merupakan surat pernyataan dari Pemerintah Indonesia yang menyatakan bahwa barang yang diekspor tersebut benar-benar dibuat di Indonesia.

f. Letter of Credit (L/C)

L/C merupakan dokumen ekspor yang sangat penting untuk pelaksanaan ekspor, karena L/C fungsinya sebagai bukti dalam transaksi pembayaran antara bank devisal Advising bank dengan pihak Issuing bank. Dokumen ini diterbitkan oleh pihak bank yang ditunjuk oleh eksportir.

g. Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB)

(17)

h. Polis Asuransi

Asuransi ini merupakan persetujuan dimana pihak penanggung berjanji akan mengganti kerugian jika teijadi kerusakan/kehilangan atas barang yang diekspor tersebut. Dalam kontrak FOB dan C & F importir hertanggung jawab atas asuransi barang tersebut, sedangkan dalam kontrak CIF eksportirlah yang akan menutup asuransi.

i. Certificate of Quality

Sertifikat ini merupakan syarat keterangan yang menyatakan tentang mutu barang yang diekspor. Sertifikat ini dikeluarkan oleh Badan Penelitian yang disahkan oleh pemerintah suatu negara. Sertifikat ini juga wajib dimiliki oleh setiap eksportir untuk keperluan perdagangan.

j. Beneficiary Certificate

Dokumen ini merupakan surat pemyataan yang dibuat oleh eksportir yang menyatakan bahwa asli/copy dan dokumen-dokumen ekspor telah dikirim kepada importir, dimana dokumen-dokumen ekspor yang dikirim harus sesuai dengan syarat dalam L/C.

k. Exporter‘s Certificate

(18)

l. Manufacturer‘s Certificate

Dokumen mi merupakan surat keterangan dan pembuat barang yang menyatakan bahwa barang-barang yang diekspor tersebut adalah merupakan hasil produksinya

B. Pedoman Umum Tentang Surat Keterangan Asal 1. Pengertian SKA

(19)

Beberapa Pengertian atau istilah yang sering muncul dalam SKA yaitu sebagai berikut (Departemen Perdagangan, Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Direktorat Fasilitasi Ekspor dan Impor, 2005:7):

a. Ketentuan Asal Barang (Rules of Origin,) adalah kaidah dan persyaratan yang wajib dipenuhi atas suatu barang ekspor untuk dapat diterbitkan SKA oleh pemenntah di negara asal barang sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan berdasarkan perjanjian bilateral, regional, multilateral atau ditetapkan secara sepihak oleh suatu negara tertentu. b. Formulir SKA adalah daftar isian SKA yang telah dibakukan dalam

bentuk, ukuran, wama kertas dan jenisnya serta isinya sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam perjanjian bilateral, regional, multilateral atau ditetapkan secara sepihak oleh suatu negara tertentu. c. Verifikasi adalah proses penyelidikan mengenai keabsahan dokumen

atau kebenaran pengisian SKA yang dilakukan atas permintaan pemerintah di negara tujuan ekspor barang kepada instansi penerbit SKA.

(20)

a. Sebagai dokumen yang membuktikan bahwa barang ekspor tersebut berasal, dihasilkan dan diolah di Indonesia. Dokumen mi dipersyaratkan oleh negara pengimpor.

b. Sebagai dokumen untuk memperoleh fasilitas preferensi berupa pembebasan bea masuk impor yang diberikan oleh suatu kelompok negara tertentu. Artinya, barang ekspor Indonesia bisa saja untuk ke negara pemberi preferensi meskipun tidak dilengkapi dengan SKA Preferensi, hanya tidak berhak mendapatkan keringanan bea masuk. c. Sebagai alat kontrol realisasi ekspor Indonesia secara urnum dan alat

kontrol realisasi ekspor barang tertentu. 2. Dasar Hukum Penerbitan SKA

Dengan memperhatikan peranan SKA yang cukup berarti dalam upaya peningkatan ekspor non migas Indonesia maka Pemerintah menerbitkan beberapa ketentuan tentang SKA, antara lain adalah sebagai berikut (Departemen Perdagangan, Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Direktorat Fasilitasi Ekspor dan Impor, 2005: 5-6) :

a. Keputusan Presiden RI. nomor 58 Tahun 1971 tentang Penetapan Pejabat yang berwenang mengeluarkan Surat Keterangan Asal. Pada butir kedua dinyatakan: Menetapkan dan menunjuk Menteri Perdagangan atau pejabat setempat yang ditunjuk sebagai pejabat yang berwenang dan bertangggung jawab untuk mengeluarkan Surat Keterangan Asal atas barang-barang ekspor Indonesia.

(21)

Indonesia. Keputusan Menteri Perdagangan R.I. Nomor 17/M-DAG/KEP/9/2005 ini merupakan ketentuan pelaksanaan dan KEPPRES Nomor: 58Tahun 1971 yang antara lain mengatur tentang: 1) Prosedur dan persyaratan untuk memperoleh SKA.

2) Tata cara pengisian formulir untuk masing-masing jenis SKA. 3) Instansi penerbit SKA serta kewenangan dan tanggung jawab

penerbitan SKA.

4) Mekanisme pemberitahuan nama-nama pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab menandatangani SKA.

5) Penyelesaian verifikasi SKA.

c. Keputusan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Nomor 03/DAGLU/KP/X/2005 tentang Ketentuan Pelaksanaan Penerbitan Surat Keterangan Asal untuk barang ekspor Indonesia. Keputusan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri mi merupakan ketentuan pelaksanaan dan Keputusan Menteri Perdagangan R.I. Nomor: 17/M- DAG/KEP/9/2005 tentang Penerbitan Surat Keterangan Asal untuk barang ekspor Indonesia.

(22)

3. Jenis dan Masa Berlaku SKA

Surat Keterangan Asal (SKA) terdiri dan dna jenis yaitu sebagai berikut (Departemen Perdagangan, Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Direktorat Fasilitasi Ekspor dan Impor, 2005: 1-20):

a. SKA Preferensi

SKA Preferensi adalah jenis dokumen SKA yang berfungsi sebagai persyaratan dalam memperoleh preferensi, yang disertakan pada barang ekspor tertentu untuk memperoleh fasilitas pembebasan sebagian atau seluruh bea masuk, yang diberikan oleh suatu negara/kelompok negara tertentu. SKA Preferensi terdiri dan 10 jenis vaitu sebagai berikut: 1) Generalized Sistem of Preferences certificate of Origin Form “ A”

Negara Tujuan : Kanada, Jepang, Selandia Barn, Norwegia, Swiss, Amerika Serikat, Bulgaria, Federasi, Rusia, Belarus, Uni Eropa (Belgia, Perancis, Jerman, Italia, Luksemburg, Belanda, Denmark, Inggris, Yunani, Portugal, Spanyol, Austria, Finlandia, Swedia, Cyprus, Estonia, Latvia, Lituania, Malta, Polandia, Ceko, Slovakia, Irlandia, Hongaria, Slovenia.

Kegunaan : Untuk memperoleh preferensi/keringanan bea masuk. 2) ASEAN Common Effective Preferential Tariff Scheme Certificate of

Origin Form “ D “

(23)

3) Certificate in Regard to Traditional Handicrafts Batik Fabrics of Cotton.

Negara Tujuan Jepang. Kegunaan untuk ekspor hasil kerajinan batik tradisional yang terbuat dan kain kapas.

4) Certificate in Regard to Certain handicraft Products

Negara Tujuan Uni Eropa. Kegunaan untuk ekspor barang-barang kerajinan tangan non tekstil.

5) Certificate Relating to silk of Cotton Handlooins Products

Negara Tujuan Uni Eropa. Kegunaan untuk ekspor barang kerajinan tangan TPT yang terbuat dan bahan sutera atau kapas yang termasuk dalam cakupan skema barang kerajinan masyarakat Eropa.

6) Industrial Craft Certification (ICC)

Negara tujuan Australia. Kegunaan untuk ekspor barang yang termasuk “ Industrial Craft Merchandise“.

7) Global Sistem of Trade Preference Certificate of Origin

(24)

barang tertentu yang termasuk dalam daftar barang yang telah diberikan kenaikan bea masuk antar negara berkembang.

8) Certificate of Handicrafi Goods

Negara tujuan Kanada. Kegunaan untuk ekspor barang kerajinan. 9) Certificate of Authenticity Tobacco

Negara tujuan Uni Eropa. Kegunaan untuk ekspor tembakau jenis tertentu.

10) ASEAN-CHINA Free Trade Area Preferential Tariff Certificate of Origin Form “ E”

Negara tujuan Cina. Kegunaan untuk preferensi negara-negara ASEAN dan China.

b. SKA Non Preferensi

SKA Non Preferensi adalah jenis dokumen SKA yang berfungsi sebagai dokumen pengawasan atau dokumen penyerta asal barang yang disertakan pada barang ekspor untuk dapat memasuki suatu wilayah negara tertentu. SKA Non Preferensi terdiri dan 13 jenis yaitu sebagai berikut:

1) ICO Certificate of Origin

Negara tujuan semua negara tujuan ekspor. Kegunaan untuk ekspor kopi ke semua negara tujuan anggota ICO maupun bukan anggota ICO.

2) Fisheries Certificate of Origin

(25)

3) Export Certificate

Negara tujuan Uni Eropa. Kegunaan untuk ekspor maniok yang kuotanya telah ditetapkan oleh komisi UE.

4) Certificate of Origin for Imports of Agricultural Products into the Europian Economic Cummunity

Negara tujuan Uni Eropa. Kegunaan untuk ekspor produk pertanian tertentu.

5) Commercial Invoice

Negara tujuan Amerika Serikat. Kegunaan untuk ekspor tekstil dan produk tekstil yang terbuat dan kapas, serat buatan campuran sutera dan serat alami lainnya selain kapas yang telah dikenakan kuota. 6) Certificate in Regard to Handloom Textile Handicraft and

Traditional Textile Products of the Cottage Industry.

Negara tujuan Uni Eropa. Kegunaan untuk ekspor kain tenunan kerajinan dan tekstil.

7) Eksport Licence (Textile Products)

Negara tujuan Uni Eropa. Kegunaan untuk ekspor tekstil dan produk tekstil yang terkena kuota.

8) Certificate of Origin Form “ K”

Negara tujuan Kanada. Kegunaan untuk ekspor tekstil dan produk tekstil yang terkena kuota.

9) Certificate in Regard to Handloom Textile Handicraft Traditional Indonesians Handicraft Batik and Traditional Textile Products of

(26)

Negara tujuan Norwegia. Kegunaan untuk ekspor barang kerajinan tangan dan tekstil industri pedesaan.

10) Certificate of Origin Form “ N”

Negara tujuan Norwegia. Kegunaan untuk ekspor tekstil dan produk tekstil yang terkena kuota.

11) Certificate of Origin (Textile Products)

Negara tujuan Uni Eropa. Kegunaan untuk ekspor tekstil dan produk tekstil.

12) Republic of Indonesia Department of Trade (Certificate of Origin Form “ B” )

Negara tujuan semua negara apabila mewajibkan. Kegunaan untuk ekspor barang ke semua negara dengan ketentuan sebagai berikut :

a) Ekspor barang yang ditujukan ke negara bukan pemberi preferensi, kecuali yang bentuk SKA diatur tersendiri.

b) Ekspor barang yang ditujukan ke negara pemberi preferensi, tetapi barangnya tidak termasuk dalam cakupan produk yang rnendapatkan preferensi/bentuk SKA diatur tersendiri.

13) Certi,ficado De Pais De Origen Form“ M”

Negara tujuan Meksiko. Kegunaan untuk ekspor produk tekstil, pakaian jadi dan alas kaki.

(27)

dapat menggunakan form A. Masa berlakunya SKA dapat dibagi menjadi dua macam antara lain (Departemen Perdagangan, Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Direktorat Fasilitasi Ekspor dan Impor, 2005: 23):

a. Secara umum, form SKA berlaku sejak saat diterbitkan oleh instansi penerbit sampai dengan diterimanya barang ekspor oleh importir.

b. Secara khusus ada beberapa SKA yang mempunyai masa berlaku yang berbeda yaitu:

1) SKA form A untuk tujuan:

a) Uni Eropa dan Australia: 10 bulan b) Jepang : 12 bulan

c) Kanada : 24 bulan 2) SKA form D

Untuk pengiriman langsung, apabila pengirimannya melalui satu atau lebih pelabuhan di luar negara ASEAN maka dapat diperpanjang enam bulan.

3) Export Certificate : 120 han (4 bulan) sejak tanggal diterbitkannya SKA.

4) Certificate of Origin for imports of Agricultural Products : 10 bulan. 4. Manfaat SKA

Dalam penerbitan Surat Keterangan Asal (SKA) dapat memberikan manfaat antara lain:

a. Untuk mendapatkan preferensi/pengurangan/pembebasan bea masuk bagi komoditi Indonesia.

(28)

c. Untuk memenuhi persyaratan pencairan L/C terhadap pembiayaan ekspor yang menggunakan L/C.

d. Untuk data realisasi ekspor. e. Untuk data realisasi kuota.

f. Untuk pelacakan tuduhan dumping. 5. Instansi Penerbit SKA

Instansi/Dinas/Lembaga yang dapat ditetapkan sebagai Instansi Penerbit adalah sebagai berikut (Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri dan Departemen Perindustrian dan Perdagangan, 2004: 41-42) :

a. Instansi/Dinas yang membidangi perdagangan pada Pemerintah Propinsi atau Kabupaten atau Kota.

b. PT atau Persero kawasan Benkat Nusantara dan Unit Usaha di Jakarta. c. Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan

Bebas Sabang (BPKS).

d. Otoritas Pengembangan Daerah Industri (OPDI) Pulau Batam.

e. Lembaga Tembakau Cabang Surakarta dan Medan, Balai Pengujian Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB) dan Lembaga Tembakau Surabaya dan Jember.

f. Instansi lain yang akan ditetapkan kemudian oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan.

Untuk dapat ditetapkan sebagai Instansi Penerbit SKA maka harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

(29)

c) Terdapat Pelabuhan Ekspor (darat, laut, udara yang terbuka untuk perdagangan luar negeri/internasional.

d) Terdapat kawasan industri yang berorientasi ekspor. 6. Verifikasi SKA

Verifikasi dilakukan apabila pihak pabean di negara tujuan ekspor meragukan keabsahan atau kebenaran dokumen SKA, sehingga pihak pabean negara tujuan ekspor menyampaikan surat verifikasi kepada pemerintah negara asal barang. Timbulnya Verifikasi SKA dapat disebabkan karena adanya beberapa hal yang menjadi penyebab antara lain (Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri dan Direktorat Fasilitasi Ekspor dan Impor, 2005: 11) :

a. Verifikasi SKA dapat terjadi karena adanya keraguan atau kecurigaan dan pihak pabean di negara tujuan ekspor terhadap SKA yang telah diterbitkan oleh pemerintah Indonesia.

b. Bentuk keraguan atau kecurigaan yang dapat menimbulkan permintaan verifikasi antara lain meliputi:

1) Keabsahan atau kebenaran formulir, tanda tangan pejabat dan cap (stempel) dinas.

2) Kebenaran data dan informasi yang dicantumkan dalam SKA. 3) Persyaratan untuk memenuhi Ketentuan Asal Barang (Rules of

Origin) yangberlaku.

(30)

a. Apabila terjadi verifikasi, pihak pabean di negara tujuan ekspor akan menyampaikan surat permintaan verifikasi, baik langsung kepada instansi atau dinas perdagangan pada pemerintah Propinsi, Kabupaten, Kota maupun melalui Departemen Perdagangan yaitu Direktorat Fasilitasi Ekspor dan Impor, Ditjen Perdagangan Luar Negeri.

b. Apabila permintaan verifikasi tersebut menyangkut SKA yang diterbitkan oleh instansi atau Dinas perdagangan pada pemerintah Propinsi/Kabupaten/Kota maka Direktorat Fasilitasi Ekspor dan Impor meneruskan ke instansi penerbit SKA yang dimaksud.

c. Permintaan verifikasi yang berkaitan dengan keabsahan formulir SKA atau tanda tangan pejabat/pejabat pengganti yang menandatangani SKA atau keabsahan stempel/cap khusus penerbitan SKA, maka instansi penerbit SKA yang bersangkutan wajib memberikan jawaban atas penyelesaian verifikasi tersebut dengan tembusan disampaikan kepada Direktur Fasilitasi Ekspor dan Impor.

d. Permintaan verifikasi yang berkaitan dengan kebenaran data dan informasi yang dicantumkan dalam SKA, maka instansi penerbit SKA yang bersangkutan wajib memberikan jawaban/klarifikasi dan eksportir yang bersangkutan, dengan tembusan dan Direktur Fasilitasi Ekspor dan Impor.

(31)

f. Dalam menyiapkan jawaban verifikasi apabila dijumpai kendala, instansi penerbit SKA dapat menghubungi/konsultasi dengan Direktorat Fasilitasi Ekspor dan Impor, Ditjen Perdagangan Luar Negeri serta Ditjen kerjasama dengan Perdagangan Internasional. g. Jawaban verifikasi dan instansi atau dinas perdagangan path

pemerintah Propinsi/Kabupaten/Kota, dikirimkan langsung kepada pihak pabean negara tujuan ekspor dengan tembusan kepada Direktorat Fasilitasi Ekspor dan Impor.

h. Apabila jawaban verifikasi dianggap belum memenuhi permintaan pihak pabean di negara tujuan ekspor, maka dimungkinkan pihak pabean yang bersangkutan mengadakan investigasi/penyelidikan ke Instansi penerbit SKA dan eksportir.

i. Dalam hal verifikasi SKA, yang perlu mendapat perhatian serius Instansi Penerbit adalah:

1) Pejabat yang berwenang harus mengecek dan bertanggungjawab atas kebenaran informasi yang tercantum dalam form SKA.

2) Penggunaan cap (stempel) dinas, tanda tangan pejabat harus jelas dan tetap.

Verifikasi SKA seharusnya dihindari karena dampak negatifnya cukup besar yaitu sebagai berikut (Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri dan Direktorat Fasilitasi Ekspor dan Impor, 2005: 14):

(32)

b. Jumlah verifikasi mencerminkan tingkat pemahaman eksportir dan pejabat penandatanganan tentang SKA.

c. Mengurangi peluang pasar ekspor.

(33)

BAB III

DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surakarta

1. Sejarah Pembentukan Dinas Perindustrian dan Perdagngan

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surakarta dibentuk berdasarkan pada Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI No : 84//MPP/Kep/4/1996 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Departemen Perindustrian dan Perdagangan Kotamadya Surakarta yang mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas dan fungsi Kantor Wilayah Departemen Perindustrian dan Perdagangan di Wilayah Kotamadya Surakarta.

Waktu digulirkan Otonomi Daerah tahun 2000, Kantor Departemen Perindustrian dan Perdagangan Kota Surakarta juga sempat mengalami perubahan dan perkembangan dengan berganti nama menjadi Departemen Perindustrian Perdagangan dan Penanaman Modal Kota Surakarta yaitu berdasarkan Keputusan Walikota Kota Surakarta Nomor 6 tahun 2001 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat daerah Kota Surakarta yang termuat dalam Lembaran Daerah Kota Surakarta Tahun 2001 Nomor 14 seri D.12.

(34)

Perindustrian Perdagangan dan Penanaman Modal Kota Surakarta berganti nama menjadi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surakarta karena Dinas Penanaman Modal telah memisahkan diri dan berdiri sendiri. Hal ini dilakukan agar terjadi spesifikasi kerja dalam tubuh Disperindag dan agar mereka dapat lebih fokus mengurus Perdagangan dan perindustrian di Surakarta.

Visi dari Disperindag Kota Surakarta yaitu terwujudnya Kota Surakarta sebagai kota perdagangan dan industri yang maju dan berwawasan budaya. Sedangkan misi dari Disperindag yaitu terciptanya kesempatan berusaha disektor perdagangan dan perindustrian yang berwawasan lingkungan dan budaya serta meningkatnya kelancaran distribusi barang dan jasa perdagangan dalam dan luar negeri.

2. Struktur Organisasi

Dinas Perindustrian dan Perdagangan mempunyai tugas pokok menyeIenggarakan urusan pemerintahan di bidang perindustrian dan perdagangan. Dinas Perindustrian dan Perdagangan mempunyai fungsi : a. Penyelenggaraan kesekretariatan dinas

b. Penyusunan rencana program, pengendalian evaluasi dan pelaporan c. Penyelenggaraan bimbingan terhadap perindustrian

d. Pembinaan dan pengembangan pengusaha industri menengah, besar, kecil dan pengendalian pencemaran

e. Penyelenggaraan Perlindungan Terhadap Konsumen f. Penyelenggaraan sosialisasi

(35)

Berikut ini struktur organisasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surakarta berdasarkan pada Keputusan Walikota No. 21 Tahun 2008 :

1) Kepala Dinas

2) Sekretariat, terdiri dari :

a) Sub Bagian Perencanaan, Evaluasi Dan Pelaporan b) Sub Bagian Keuangan

c) Sub Bagian Umum Dan Kepegawaian. 3) Sub Dinas Bidang Perindustrian, terdiri dari :

a) Seksi Industri Kecil

b) Seksi Industri Menengah dan Besar 4) Sub Bidang Perdagangan, terdiri dari :

a) Seksi Perdagangan Dalam Negeri b) Seksi Perdagangan Luar Negeri

5) Bidang Pengawasan dan Perlindungan Konsumen a) Seksi Pengawasan

b) Seksi Perlindungan Konsumen 6) Kelompok Jabatan Fungsional

(36)
(37)

3. Uraian Tugas Dan Fungsi Jabatan

Uraian Tugas dan Fungsi Jabatan Struktural Dinas Perindustrian dan Perdagangan berdasarkan keputusan Walikota Kota Surakarta Nomor 21 tahun 2008 tentang Pedoman Uraian Tugas Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surakarta.

a. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan

Kepala memiliki tugas pokok melaksanakan administrasi urusan pemerintahan di bidang perindustrian dan perdagangan.

b. Bagian Sekretariat

Untuk menyelenggarakan tugasnya bagian Sekretariat mempunyai fungsi :

1) Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan, pengkoordinasian penyelenggaraan tugas secara secara terpadu, pelayanan administrasi, dan pelaksanaan di bidang perencanaan, evaluasi dan pelaporan

2) Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan, pengkoordinasian penyelenggaraan tugas secara secara terpadu, pelayanan administrasi, dan pelaksanaan di bidang keuangan 3) Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan,

pengkoordinasian penyeIenggaraan tugas secara terpadu, pelayanan administrasi, dan pelaksanaan di bidng umum dan Kepegawaian. Bagian Sekretariat terdiri dari :

(38)

pembinaan, pengkoordinasian penyelenggaraan tugas secara terpadu di bidang perencanaan, evaluasi dan pelaporan.

b) Sub Bagian Keuangan rnempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pernbinaan, pengkoordinasian penyelenggaraan tugas secara terpadu, pelayanan administrasi, dan pelaksanaan di bidang keuangan, meliputi pengelolaan keuangan, verifikasi, pembukuan dan akuntansi di lingkungan Dinas.

c) Sub Bagan Umum dan Kepegawaian mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan, pengkoor-dinasan penyelenggaraan tugas secara terpadu, pelayanan administrasi, dan pelaksanaan di bidang umum dan kepegawaian, meliputi : pengelolaan administrasi kepegawaian, hukum, humas, organisasi dan tatalaksana, ketatausahaan, rumah tangga dan perlengkapan di lingkungan Dinas.

c. Uraian Tugas Sub Bidang Perindustrian

Bidang Perindustrian mempunyai tugas rnelaksnakan penyiapan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang industri kecil dan industri menengah dan besar. Untuk menyelenggarakan tugasnya, Bidang Perindustrian mempunyai fungsi :

(39)

b) Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang industri menengah dan besar

c) Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Bidang Perindustrian, membawahkan : Ø Seksi Industri Kecil

Ø Seksi Industri Menengah dan Besar.

Seksi-seksi di atas masing-masing dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Bidang Perindustrian. Seksi-seksi di atas mempunyai tugas :

a) Seksi Industri Kecil mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan Kebijakan teknis pembinaan dan pelaksanaan di bidang industri kecil, meliputi pembinaan dan pengembangan indusri kecil.

b) Seksi Industri Menengah dan Besar mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis pembinaan dan pelaksanaan di bidang industri menengah dan besar, meliputi : pembinaan dan pengembangan industri menengah dan besar.

d. Uraian Tugas Sub Bidang Perdagangan

(40)

Untuk menyelenggarakan tugasnya Bidang Perindustrian mempunyai fungsi :

a) Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang perdagangan dalam negeri

b) Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang perdagangan luar negeri

c) Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Bidang Perdagangan membawahkan: Ø Seksi Perdagangan Dalam Neqeri Ø Seksi Perdagangan Luar Negeri.

Seksi-seksi tersebut masing-masing dipimpin oleh seorang Kepala Seksi, yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Bidang Perdagangan. Seksi-seksi di atas mempunyai tugas :

a) Seksi Perdagangan Dalam Negeri mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis pembinaan dan pelaksanaan di bidang perdagangan dalam negeri, meliputi : pembinaan dan pengembangan perdagangan dalam negeri. b) Seksi Perdagangan Luar Negeri rnempunyai tugas melakukan

(41)

e. Uraian Tugas Sub Bidang Pengawasan dan Perlindungan Konsumen

Seksi perlindungan konsumen mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis pembinaan dan pelaksanaan di bidang perlindungn konsumen, meliputi : pernbinaan perlidungan konsumen.

f. Uraian Tugas Kelompok Jabatan Fungsional

Kelompok Jabatan Fungsional mernpunyai tugas sesuai dengan jabatan Fungsional masing-masing. Kelompok Jabatan Fungsional terdiri dari sejumlah tenaga fungsional yang terbagi dalam berbagai kelompok sesuai dengan bidang keahliannya. Jumlah Jabatan Fungsional ditentukan berdasarkan kebutuhan dan beban kerja. Jenis dan jenjang Jabatan Fungsional diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pembinaan terhadap Pejabat Fungsional dilakukan sesuai dengan perturan perundang-undangan yang berlaku.

4. Tata Kerja

1) Kepala Dinas, Sekretaris, Kepala Bidang, Kepala Sub bagian, dan Kepala Seksi dalam melaksanakan tugasnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan kebijakan yang ditetapkan oleh Walikota.

(42)

pelaksanaan, monitoring, evaluasi dan pelaporan sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing.

3) Dalam melaksanakan tugasnya, Kepala Dinas, Sekretaris, Kepala Bidang, Kepala Sub bagian, Kepala Seksi, dan Pejabat Fungsional wajib menerapkan prinsip koordinasi, integrasi dan sinkronisasi secara vertikal maupun horizontal baik ke dalam maupun antar satuan organisasi dalam lingkungan Pemerintahan Daerah serta instansi lain sesuai dengan tugas pokoknya masing-masing.

4) Kepala Dinas, Sekretaris, Kepala Bidang, Kepala Sub bagian, dan Kepala Seksi bertanggungjawab dalam rnemimpin, mengkoordinasikan dan memberikan bimbingan serta petunjuk bagi peaksanaan tugas bawahannya masing-masing.

5) Kepala Dinas, Sekretaris, Kepala Bidang, Kepala Sub bagian, dan Kepala Seksi wajib mengikuti dan mematuhi petunjuk-petunjuk dan bertanggungjawab pada atasan masing-masing serta menyampaikan laporan tepat pada waktunya.

6) Dalam menyampaikan laporan masing-masing kepada atasan, tembusan laporan dapat disampaikan kepada satuan organisasi lain di lingkungan Dinas yang secara fungsional mempunyai hubungan kerja.

(43)

B. Pembahasan

Dalam rangka peningkatan ekspor guna menunjang pertumbuhan ekonomi nasional, perlu mengoptimalkan pemanfaatan Surat Keterangan Asal (SKA) atau Certificate of Origin barang ekspor Indonesia secara efektif dan efisien serta sekaligus sebagai instrumen pengawasan untuk menghindarkan penyalahgunaan/manipulasi ekspor. Instansi yang bertugas dalam menerbitkan Surat Keterangan Asal adalah Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Untuk regional Surakarta dan sekitarnya Disperindag Kota Surakarta yang mempunyai wewenang menerbitkan Surat Keterangan Asal.

Certificate of Origin ini merupakan pernyataan yang ditanda tangani untuk membuktikan asal barang-barang yang diekspor. Surat keterangan asal barang ini menerangkan barang bahwa barang-barang tersebut betul-betul hasil atau produk dari negara eksportir. Mengingat negara asal barang dapat mempengaruhi besarnya pertanggungjawaban bea atau tingkat bea masuk yang akan dikenakan oleh negara pengimpor, maka untuk itu surat keterangan asal ini harus diisi dengan hati-hati dan akurat sesuai dengan peraturan yang berlaku di negara pengimpor.

Surat keterangan asal ini dikeluarkan oleh instansi yang ditunjuk Pemerintah, yaitu:

(44)

b. Kantor Departemen Perindustrian dan Perdagangan di kabupaten / kotamadya, termasuk Dinas Perdagangan di 26 Dati II Percontohan (sepanjang di wilayah kerjanya terdapat Bank Devisa dan atau pelabuhan ekspor). Yang berwenang dan bertanggungjawab dalam hal ini adalah Kepala Kantor, Kepala Seksi Usaha Perdagangan (sebagai Pejabat Pengganti I), Kepala Sub Bagian Tata Usaha (sebagai Pejabat Pengganti II).

c. PT (Persero) Kawasan Berikat Nusantara. Yang berwenang dan bertanggungjawab adalah Direktur Utama, Direktur Operasi, Direktur Operasi (sebagai Pejabat Pengganti I), Direktur Administrasi dan Keuangan (sebagai Pejabat Pengganti II).

d. Pada Kantor Cabang PT (Persero) Kawasan Berikat Nusantara. Yang berwenang dan bertanggungjawab adalah Kepala Kantor, dan Kepala Divisi Operasi (sebagai Pejabat Pengganti).

e. Satuan Pelaksana Otorita Pengembangan Daerah: Kepala Satuan Pelaksana, Kepala Sub Direktorat Perdagangan (sebagai Pejabat Pengganti I), dan Kepala Seksi Bina Usaha Perdagangan (sebagai Pejabat Pengganti II).

f. Industri (Satuan Pelaksanaan Otorita Pengembangan Daerah Industri - SPOPDI) Pulau Batam.

(45)

h. Instansi lain yang akan ditetapkan kemudian oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan.

1. Prosedur Penerbitan Surat Keterangan Asal

Adapun persyaratan dalam memperoleh SKA adalah sebagai berikut:

1. Eksportir atau pihak yang memerlukan SKA dapat mengajukan permohonan penerbitan SKA kepada instansi penerbit dengan melampirkan dokumen pendukung.

2. Dokumen pendukung untuk pengeluaran barang ke luar negeri yang wajib memenuhi ketentuan umum di bidang ekspor adalah: PEB lembar keempat yang telah diberi persetujuan muat oleh Pejabat Hanggar Bea dan Cukai di pelabuhan ekspor atau copy PEB tersebut yang sudah dilegalisir oleh Bank Devisa yang menerbitkan, dan Bill of Lading (B/L) atau Air Ways Bill on Board.

3. Dokumen pendukung untuk pengeluaran barang ke luar negeri yang tidak wajib memenuhi ketentuan umum di bidang ekspor, seperti dokumen permohonan ekspor tanpa PEB (PETP) yang disahkan oleh Pejabat Bea dan Cukai di pelabuhan ekspor atau pengiriman barang, kuitansi pembelian barang yang dimintakan SKA, photo copy KTP bagi WNI atau paspor bagi WNA, serta surat kuasa dari pemilik barang yang menggunakan Perusahaan Jasa Titipan.

(46)

v Surat Pernyataan dan struktur biaya per unit,

v Untuk permohonan SKA berikutnya apabila :

Ø Proses produksi atau persentasi kandungan impor/lokal, atau Ø Produsen asal bahan baku atau barang tidak mengalami

perubahan, maka eksportir atau pihak lain yang memerlukan SKA cukup melengkapi dengan Surat Penegasan.

5. Permohonan SKA dapat diproses oleh Instansi Penerbit apabila diisi dalam bahasa Inggris. Dokumen ini diisi secara jelas, lengkap dan benar, serta dilengkapi dengan dokumen pendukung.

6. Eksportir atau pihak lain yang memerlukan SKA dapat memilih salah satu instansi penerbit yang termasuk dalam wilayah kerjanya untuk penerbitan SKA, terutama untuk pengeluaran barang ke luar negeri yang wajib memenuhi ketentuan umum di bidang ekspor :

Ø Instansi penerbit yang wilayah kerjanya mencakup tempat barang di produksi, atau

Ø Instansi penerbit yang wilayah kerjanya mencakup tempat PEB didaftarkan pada bank devisa, atau

Ø Instansi penerbit yang wilayah kerjanya mencakup tempat PEB mendapat persetujuan muat dari Pejabat Hanggar Bea dan Cukai di pelabuhan ekspor, atau

Ø Instansi penerbit yang terdekat.

(47)

instansi penerbit yang terdekat, atau instansi penerbit lain dengan pertimbangan lebih efisien.

8. Bagi barang yang diatur ekspornya dan/atau terkena pembatasan ekspor dalam bentuk kuota berdasarkan perjanjian internasional, SKA-nya hanya dapat diterbitkan oleh Kantor Wilayah Departemen Perindustrian dan Perdagangan di Propinsi/Daerah Tingkat I atau PT (Persero) Kawasan Berikat Nusantara dan Kantor Cabangnya atau Satuan Pelaksana Otorita Pengembangan Daerah Industri (SPOPDI) Pulau Batam sesuai wilayah kerjasama dimana barang dikapalkan (pelabuhan ekspor) atau kuota ekspor dialokasikan/dimutasikan.

9. Barang yang diatur ekspornya atau terkena pembatasan ekspor dalam bentuk kuota adalah :

Ø Yang diatur ekspornya, yaitu kopi

Ø Yang terkena pembatasan ekspor dalam bentuk kuota, yaitu Maniok (khusus tujuan Uni Eropa) dan Tekstil dan Produk Tekstil (TPT). Khusus untuk kuota ekspor TPT yang dialokasi melalui Kantor Wilayah Departemen Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Jawa Tengah, SKA dapat juga diterbitkan oleh Kantor Departemen Perindustrian dan Perdagangan Kotamadya Surakarta.

Ada 3 macam prosedur penerbitan SKA yang di gunakan oleh pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surakarta saat ini, antara lain :

a. Prosedur Penerbitan SKA secara manual

(48)

seperti flashdisk ataupun disket. Prosedur manual ini di gunakan sebelum tanggal 1 Oktober 2006 Tata Cara Penerbitan SKA secara manual : 1) Eksportir mengajukan surat permohonan untuk memperoleh formulir

SKA sesuai jenis SKA yang diperlukan kepada Instansi Penerbit SKA. 2) Formulir SKA yang telah diisi oleh eksportir disampaikan beserta

dokumen pendukung kepada Instansi Penerbit SKA.

3) Petugas Instansi Penerbit SKA melakukan pemeriksaan atas isi formulir SKA beserta kelegkapan dokumen pendukung.

4) Permohonan penerbitan SKA yang belum memenuhi persyaratan dikembalikan kepada eksportir pemohon SKA untuk disempurnakan. 5) Permohonan penerbitan SKA yang telah memenuhi persyaratan

diproses penerbitan SKA-nya.

6) Instansi Penerbit SKA dan eksportir pemohon SKA menandatangani SKA.

Prosedur penerbitan dokumen SKA secara manual ada dua macam yaitu : 1) Prosedur Penerbitan SKA secara manual yang ditanda tangani

oleh eksportir

(49)

2) Prosedur Penerbitan Dokumen SKA secara manual yang tidak ditanda tangani oleh eksportir

Prosedur ini bertujuan untuk memberikan panduan operasional mengenai proses penerbitan Surat Keterangan Asal (SKA) secara manual mulai dari pengajuan permohonan penerbitan SKA yang dilakukan oleh eksportir sampai dengan penandatanganan SKA oleh pejabat yang berwenang, untuk SKA yang tidak ditanda tangani oleh eksportir yaitu seperti form B, form TP.

b. Prosedur Penerbitan SKA secara Semi Otomasi

Prosedur penerbitan SKA secara semi otomasi adalah proses pengajuan penerbitan SKA dengan menggunakan media penyimpanan data elektronik seperti disket, flash disk. Prosedur ini merupakan peralihan dari metode manual ke metode otomasi nanti akhirnya. Metode ini hanya sebagai sosialisasi kepada para eksportir sebelum mereka benar-benar menggunakan metode otomasi nanti. Tata Cara Penerbitan SKA secara semi otomasi :

1) Pengisian dan pengiriman data SKA

(50)

b. Menyimpan data hasil pengisian ke dalam disket/flashdisk. 2) Pengajuan Permohonan Penerbitan SKA

Eksportir mengajukan permohonan penerbitan SKA dengan disertai dokumen pendukung kepada petugas instansi penerbit SKA serta menyerahkan disket/flashdisk kepada petugas penerimaan dokumen (Pendok) untuk memproses pendaftaran secara elektronik dan mencetak tanda terima pengajuan SKA.

3) Penerimaan dan Registrasi

a. Petugas instansi penerbit SKA menerima permohonan penerbitan SKA beserta dokumen pendukungnya.

b. Petugas instansi penerbit SKA melakukan pemeriksaan kelengkapan dokumen pendukung, dan apabila tidak lengkap/sesuai dikembalikan kepada eksportir untuk dilengkapi. c. Permohonn penerbitan SKA yang telah memenuhi persyaratan

dilakukan registrasi pendaftaran permohonan penerbitan SKA secara elektronik oleh petugas penerima dokumen (pendok) pada instansi penerbit SKA dengan menyerahkan disket/flashdisk dan mengirim data elektronik untuk proses penerbitan SKA ke Sucofindo serta mencetak tanda terima pendaftaran SKA.

d. Instansi Penerbit SKA menyerahkan permohonan penerbitan SKA yang memenuhi syarat beserta dokumen pendukung ke Sucofindo.

(51)

Pihak Sucofindo membantu melakukan verifikasi pengisian data SKA berdasarkan dokumen pendukung dengan melihat database referensi. Apabila terdapat data yang perlu diklarifikasi, maka dikonfirmasikan kepada eksportir.

5) Pengiriman Struk SKA

Pihak Sucofindo mengirimkan struk SKA yang berupa data elektronik kepada petugas instansi penerbit SKA untuk dimintakan persetujuan penerbitan SKA.

6) Persetujuan Penerbitan SKA/Sistem Aplikasi Approval SKA

Instansi penerbit SKA menerima struk SKA dan Sucofindo yang berupa data elektronik, apabila data telah sesuai dan disetujui oleh instansi penerbit SKA kemudian dilakukan proses pengiriman data elektronik ke Sucofindo untuk dilanjutkan penomoran dan pencetakan SKA.

7) Pencetakan SKA

Pihak Sucofindo melakukan pencetakan SKA berdasarkan persetujuan instansi penerbit SKA dan menyerahkan SKA kepada eksportir untuk ditanda tangani.

8) Tanda tangan SKA oleh eksportir

(52)

Eksportir menyerahkan SKA yang telah ditanda tangani kepada petugas instansi penerbit SKA, untuk mendata nomor seri, nama perusahaan, tanggal, bulan dan tahun penerbitan SKA.

10) Tanda tangan SKA oleh pejabat yang berwenang pada instansi penerbit SKA

Pejabat penandatanganan SKA menandatangani SKA yang datanya sudah benar, kemudian diserahkan kepada petugas instansi penerbit SKA untuk dicap/stempel.

11) Penyerahan SKA

Petugas instansi penerbit SKA menyerahkan SKA yang sudah ditanda tangani kepada eksportir dengan menandatangani tanda terima.

12) File SKA

Instansi penerbit SKA menyimpan copy SKA beserta dokumen pendukungnya untuk dijadikan arsip.

Sama halnya dengan prosedur secara manual, prosedur penerbitan dokumen SKA secara semi otomasi juga ada dua macam yaitu :

1) Prosedur Penerbitan SKA secara semi otomasi yang ditanda tangani oleh eksportir

(53)

berwenang. Untuk SKA yang harus ditanda tangani oleh eksportir yaitu seperti form A, form D, form E, form M.

2) Prosedur Penerbitan Dokumen SKA secara semi otomasi yang tidak ditanda tangani oleh eksportir

Prosedur ini bertujuan untuk memberikan panduan operasional mengenai proses penerbitan Surat Keterangan Asal (SKA) secara semi otomasi mulai dari perekaman data SKA yang dilakukan oleh eksportir sampai dengan penandatanganan SKA oleh pejabat yang berwenang. Untuk SKA yang tidak ditanda tangani oleh eksportir yaitu seperti form B dan form TP.

c. Prosedur Penerbitan SKA secara Full Otomasi

Prosedur Penerbitan SKA secara Full Otomasi adalah proses pengajuan penerbitan SKA dengan menggunakan sistem jaringan online. Sistem ini mempermudah eksportir dalam pengurusan SKA. Eksportir dapat mengajukan SKA tanpa harus mendatangi instansi penerbit SKA. Tata Cara Penerbitan SKA secara Otomasi dengan memanfaatkan teknologi informasi :

1. Dengan menggunakan disket aplikasi

a) Eksportir mengajukan permohonan penerbitan SKA sesuai jenis SKA yang diperlukan disertai disket aplikasi SKA yang telah diisi data SKA dan dokumen pendukung kepada Instansi Penerbit SKA untuk diproses oleh Surveyor.

(54)

c) Surveyor menyerahkan struk SKA disertai catatan mengenai kelengkapan isi SKA kepada Instansi Penerbit SKA.

d) Instansi Penerbit SKA mengembalikan struk SKA kepada petugas Surveyor untuk memproses kembali apabila isi SKA masih belum sempurna.

e) Instansi Penerbit SKA menerbitkan SKA yang telah memnuhi persyaratan dan menandatanganinya bersama dengan eksportir pemohon SKA.

2. Dengan menggunakan sistem jaringan online

a) Eksportir yang telah mendaftar pada jaringan online dapat mengajukan permohonan penerbitan SKA sesuai jenis SKA yang diperlukan melalui/lewat sistem jaringan online yang tersedia kepada Instansi Penerbit SKA untuk diproses oleh Surveyor. b) Petugas Surveyor memproses dan mengecek kelengkapan isi SKA

serta mencetak struk SKA.

c) Surveyor menyerahkan struk SKA kepada Instansi Penerbit SKA. d) Instansi Penerbit SKA memeriksa struk dan membubuhkan paraf

apabila struk tersebut telah memenuhi ketentuan.

e) Instansi Penerbit SKA mengembalikan struk SKA kepada petugas Surveyor untuk memproses kembali isi SKA masih belum sempurna.

(55)

g) Eksportir mencetak dan menyerahkan formulir SKA yang telah diisi dan ditanda tangani oleh pejabat eksportir beserta dokumen pendukung kepada Instansi Penerbit SKA untuk ditanda tangani oleh pejabat penandatangan SKA.

Untuk Disperindag daerah Surakarta pengajuan permohoman penerbitan SKA dapat juga di lakukan dengan mengirim email ke yuni@skaservices.com.

Seperti halnya kedua metode sebelumnya, metode full otomasi ada 2 macam :

1) Prosedur Penerbitan SKA secara full otomasi yang tidak ditanda tangani oleh eksportir

Prosedur ini bertujuan untuk memberikan panduan operasional mengenai proses penerbitan Surat Keterangan Asal (SKA) secara semi otomasi mulai dari perekaman data SKA yang dilakukan oleh eksportir sampai dengan penandatanganan SKA oleh pejabat yang berwenang. Untuk SKA yang harus ditanda tangani oleh eksportir yaitu seperti form A, form D, form E, form M.

2) Prosedur Penerbitan SKA secara full otomasi yang ditanda tangani oleh eksportir

(56)

berwenang. Untuk SKA yang tidak ditanda tangani oleh eksportir yaitu seperti form B dan form TP.

2.Peranan Sucofindo dalam Prosedur Penerbitan SKA

Dalam prosedur penerbitan (Surat Keterangan Asal) SKA secara manual, semi otomasi dan full otomasi pihak Sucofindo mempunyai peran antara lain:

a. Sucofindo memiliki peran membantu instansi penerbit SKA dalam penyediaan data base mengenai sistem aplikasi module eksportir dan menyediakan data-data SKA yang diterbitkan

b. Untuk mencegah terjadinya verifikasi, maka Sucofindo sebelum mencetak formulir SKA membantu melakukan sistem approval SKA pemeriksaan dan memperbaiki pengisian formulir SKA form SKA yang salah/tidak sesuai.

c. Sucofindo membantu pengisian nomor referensi SKA dan melakukan pencetakan formulir SKA yang diterbitkan secara semi otomasi dan full otomasi.

d. Sucofindo juga berperan dalam verifikasi SKA/penyelidikan dokumen SKA dalam mengontrol prosedur penerbitan SKA supaya tidak terjadi penyalahgunaan SKA.

3.Prosedur Replacement, Duplicate dan Pembatalan SKA a. Prosedur Replacement dan Duplicate SKA

(57)

nomor referensi SKA, tanggal SKA dan nomor serial SKA yang telah diterbitkan, perubahan tersebut nantinya akan mempengaruhi pengisian formulir SKA yang baru, perubahannya dengan memberikan catatan yaitu kata “ Replacement” dan diikuti kalimat “ This Certificate is issued to replace the previous certificate No...

Date ... Serial No... di kolom 4 pada formulir SKA. Kata Duplicate diberikan apabila SKA yang sudah diterbitkan terjadi kerusakan/kehilangan, maka dalam pengisian formulir SKA yang baru pada kolom 4 diberi catatan yaitu kata “ Duplicate “. Untuk mengetahui lebih rinci mengenai prosedur Replacement dan Duplicate SKA, berikut uraian kegiatannya :

1. Pengajuan Permohonan Penerbitan SKA Revisi Eksportir mengajukan permohonan penerbitan SKA revisi dengan disertai dokumen pendukungnya kepada petugas instansi penerbit SKA. 2. Penerimaan dan Registrasi

a. Petugas instansi penerbit SKA menerima permohonan penerbitan SKA revisi beserta dokumen pendukung dan menyerahkan formulir SKA yang telah diisi oleh eksportir. b. Memeriksa kelengkapan dokumen pendukung, dan apabila tidak

lengkap/sesuai dikembalikan ke eksportir untuk dilengkapi. c. Bila sudah lengkap, menyerahkan permohonan penerbitan SKA

(58)

Pihak Sucofindo yang telah menerima permohonan penerbitan SKA revisi beserta dokumen pendukung yang memenuhi syarat, melakukan input data SKA sesuai dengan data yang ada dalam dokumen pendukung penerbitan SKA revisi.

4. Verifikasi Data SKA revisi

Sucofindo membantu melakukan verifikasi pengisian data SKA berdasarkan dokumen pendukung. Apabila terdapat data yang perlu diklarifikasi, maka dikonfirmasikan kepada eksportir.

5. Cetak dan Paraf struk SKA revisi

Sucofindo mencetak dan memaraf struk SKA revisi dan dapat memberikan catatan apabila diperlukan berdasarkan hasil verifikasi. Struk SKA revisi yang telah diparaf diserahkan ke instansi penerbit SKA untuk dimintakan persetujuannya.

6. Persetujuan penerbitan SKA revisi

a. Instansi penerbit SKA menerima struk SKA revisi dari Sucofindo, apabila data telah sesuai maka instansi penerbit SKA memberikan persetujuan untuk penerbitan revisi SKA.

b. Memberikan catatan pada kolom 4 “ REPLACEMENT” untuk perubahan pada pengisian formulir SKA yang diikuti dengan kalimat “This Certificate is Issued to replace the previous certificate No...Date...Serial No...”

(59)

c. Penomoran SKA untuk REPLACEMENT adalah nomor dan tanggal baru, untuk DUPLICATE adalah nomor lama dan tanggal baru.

7. Pencetakan SKA revisi

Sucofindo melakukan pencetakan no referensi SKA revisi, tempat, tanggal, bulan dan tahun penerbitan SKA, untuk SKA bukan TP. Untuk SKA TP (Textile Product) penulisan no referensi, tempat, tanggal, bulan dan tahun penerbitan SKA dilakukan oleh petugas instansi penerbit SKA.

8. Tanda tangan SKA revisi oleh eksportir dan pendataan SKA revisi Eksportir menandatangani, mencantumkan nama jelas dan memberi cap perusahaan lalu menyerahkan SKA revisi yang telah ditanda tangani kepada instansi penerbit SKA, untuk mendata nomor seri SKA revisi, nama perusahaan, tanggal, bulan dan tahun penerbitan SKA revisi.

9. Tanda tangan SKA revisi oleh pejabat yang berwenang pada instansi penerbitan

Pejabat penandatanganan SKA menandatangani SKA revisi yang datanya sudah benar, lalu diserahkan kepada petugas instansi penerbit SKA untuk dicap/stempel instansi penerbit SKA.

10. Penyerahan SKA revisi

(60)

11. File SKA revisi

Instansi penerbita SKA menyimpan copy SKA revisi beserta dokumen pendukungnya untuk dijadikan arsip.

b. Prosedur Pembatalan SKA

Prosedur pembatalan SKA diminta oleh eksportir apabila mereka tidak jadi mengekspor barang mereka. Biasanya hal itu disebabkan oleh beberapa hal, misal dari pihak importir dengan sepihak membatalkan proses ekspor barang tersebut. Prosedur ini bertujuan untuk memberikan panduan operasional kepada eksportir mengenai proses pembatalan SKA mulai dari permohonan pembatalan SKA oleh eksportir sampai dengan pembatalan SKA. Proses ini berlaku untuk seluruh kegiatan yang berkaitan dengan proses pembatalan SKA. Berikut uraian secara rinci mengenai prosedur pembatalan SKA :

1) Permohonan Pembatalan SKA

Eksportir mengajukan permohonan pembatalan SKA yang dilampiri dokumen pendukungnya.

2) Penerimaan Permohonan Pembatalan SKA

Instansi Penerbit SKA menerima dokumen permohonan pembatalan SKA yang dilampiri dokumen SKA beserta dokumen pendukungnya.

3) Persetujuan Pembatalan SKA

(61)

4) Proses Pembatalan SKA

Pihak Sucofindo juga memberikan tanda “Batal” pada data SKA yang dibatalkan.

5) File SKA Batal

Instansi Penerbit SKA menyimpan file/data SKA batal beserta kelengkapan dokumennya.

4.Kelemahan dan Kelebihan Prosedur Penerbitan SKA

Dalam prosedur penerbitan Surat Keterangan Asal (SKA) pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Surakarta selama ini masih ditemukan adanya kesalahan-kesalahan yang terjadi. Kesalahan yang sering dilakukan baik dari eksportir, pihak pengguna jasa maupun dari petugas pada Disperindag Kota Surakarta. Kelemahan tersebut antara lain sebagai berikut :

a. Kesalahan dalam pengisian formulir SKA (Surat Keterangan Asal). Kesalahan ini sebagian besar dikarenakan adanya kesalahan pengetikan, kesalahan tersebut dapat dilihat dan pengetikan alamat eksportir, nama/alamat importir, uraian barang tidak sesuai dengan invoice dan packing list, kuantitas barang, nomor/tanggal invoice. b. Fasilitas penunjang yang kurang memadai di Dinas Perindustrian dan

Perdagangan Kota Surakarta, terutama masalah jaringan antara pihak Disperindag dengan Sucofindo yang sering putus, sehingga menghambat proses penerbitan SKA.

(62)

d. Penandatanganan SKA hanya dilakukan oleh satu pejabat yang berwenang pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan, sehingga proses penerbitan SKA sedikit terganggu.

e. Kesalahan dalam pengetikan/pengisian form SKA maupun karena kurang teliti dalam pemeriksaan, yang menyebabkan penggantian form SKA yang baru/ganti seri/revisi SKA. Penggantian form SKA yang baru/ganti seri dapat dilakukan apabila:

1) Terjadi perubahan pada pengisian form SKA, SKA yang baru/SKA revisi yang akan diterbitkan kembali diisi dengan kalimat “ REPLACEMENT” diikuti dengan kalimat “This Certificate is Issued to replace the previous certificate No... Date... “(nomor dan tanggal SKA yang diganti).

2) Terjadi kehilangan atau kerusakan SKA, maka pada SKA yang baru diterbitkan kembali diisi dengan kalimat “ DUPLICATE” . Selain adanya kelemahan dalam prosedur penerbitan dokumen SKA secara manual, semi otomasi dan full otomasi pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surakarta maka ada pula kelebihannya antara lain: a. Data yang ada dalam SKA (Surat Keterangan Asal) dapat tersimpan dalam database sehingga dapat memonitoring penerbitan SKA supaya tidak terjadi penyalahgunaan SKA.

(63)

c. Data-data SKA dapat tersimpan dengan aman dan pihak yang berkepentingan dapat memanfaatkan data tersebut apabila membutuhkannya.

d. Penyajian data SKA dapat dilakukan dengan cepat karena menggunakan media komputer.

5.Kendala yang di hadapi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surakarta dalam proses perkembangan standar operasional penerbitan Surat Keterangan Asal

a. Keterbatasan sarana/ruangan termasuk suhu ruangan, ruang arsip. b. Perbedaan tingkat pemahaman IT.

c. Ketidakdisiplinan eksportir dalam melengkapi kekurangan dokumen yang dipersyaratkan sesuai batas waktu yang diperkenankan ( 10 hari ) untuk by air.

d. Ketaatan pada aturan yang tertera di L/C / permintaan pembeli seringkali menjadi permintaan eksportir yang menjadi bertentangan dengan ketentuan tatacara pengisian SKA sesuai aturan Mendag No: 43/M.Dag/Per/10/2007.

e. Peningkatan SDM kedepan diharapkan lebih banyak diberikan pelatihan baik untuk tata cara pengisian SKA dan alih teknologi dalam rangka pengalihan dari PT.SUCOFINDO ke Disperindag.

(64)

BAB IV PENUTUP

A.Kesimpulan

Setelah penulis melakukan magang kerja serta observasi di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surakarta, maka penulis dapat menarik beberapa kesimpulan yang di ambil dari hasil pengamatan yang dilakukan.

1. Dalam penerbitan Surat Keterangan Asal, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surakarta mempunyai tiga sistem penerbitan, yaitu secara manual, semi otomasi dan full otomasi. Ketiga sistem tersebut di dalamnya masih di bagi menjadi penerbitan SKA yang ditanda tangani dan penebitan SKA yang tidak ditanda tangani eksportir. Sebenarnya untuk perbedaan SKA yang ditanda tangani dengan yang tidak ditanda tangani hanya terletak pada jenis SKA, SKA yang harus ditandatangani oleh eksportir adalah SKA Form A, Form D, Form E dan Form M, sedangkan yang tidak ditanda tangani oleh eksportir adalah SKA Form B dan Form TP.

(65)

kerusakan/kehilangan. Dalam pengisian formulir SKA revisi pada kolom 4 diberi catatan yaitu kata “ Duplicate” .

3. Peran Sucofindo dalam penerbitan SKA sangat signifikan. Selain membantu pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan dalam penyediaan aplikasi module, data base serta server, Sucofindo juga membantu melakuakan sistem approval SKA serta membantu melakukan pencetakan formulir SKA yang diterbitkan secara semi otomasi dan full otomasi. 4. Dalam prosedur penerbitan SKA yang dilakukan oleh pihak Disperindag

Kota Surakarta terdapat juga suatu kekurangan dan kelebihan. Untuk kelemahan/kekurangannya antara lain kesalahan dalam pengisian formulir SKA yang dilakukan oleh eksportir, kurang teliti dalam pemeriksaan SKA yang menyebabkan penggantian form SKA yang baru (revisi SKA), banyak sekali SKA yang menumpuk di Disperindag Kota Surakarta dan data SKA tersebut sering kali hilang, kemudian yang terakhir kurangnya fasilitas yang mendukung sehingga proses penerbitan SKA sering terganggu dan para eksportir sering kali dibuat menunggu.

(66)

5. Untuk kendala yang dihadapi oleh pihak Disperindag Kota Surakarta dalam proses penerbitan SKA lebih banyak dalam sarana dan prasarana yang kurang mendukung. Untuk SDM/petugas yang bekerja masih sedikit yang mengerti soal IT, jadi apabila terjadi gangguan butuh waktu untuk mengatasinya.

B. Saran

1. Untuk memperlancar proses penerbitan SKA perlu penambahan sarana dan prasarana dalam Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surakarta. Untuk Sumber Daya Manusianya sendiri dapat dilakukan penambahan karyawan yang lebih kemampuan dalam hal IT, atau untuk karyawan yang sudah ada dilakukan pelatihan-pelatihan agar dalam proses penerbitan SKA tidak terhambat.

2. Dalam proses input data, para petugas untuk lebih berhati-hati agar tidak terjadi kesalahan. Apabila SKA tersebut diragukan keabsahannya oleh pihak negara importir maka SKA tersebut akan dikembalikan dan harus di verifikasi ulang oleh pihak SKA. Ini membuat kedua belah pihak baik eksportir maupun pihak Disperindag dirugikan.

3. Agar para eksportir lebih mengenal prosedur-prosedur penerbitan SKA baik secara manual, semi otomasi maupun full otomasi perlu diadakan sosialisasi. Sehingga diharapkan agar tidak terjadi penyalahgunaan SKA. 4. Untuk lebih meningkatkan kinerja dan mengurangi kesalahan-kesalahan

(67)
(68)

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pengembangan Ekspor Nasional, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, 2003, Pedoman Pengelolaan Ekspor Indonesia, Penerbit Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Jakarta.

Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri dan Departemen Perindustrian dan Perdagangan, 2004, Kebijakan Umum di Bidang Ekspor, Penerbit Indag, Jakarta.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...