9 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang dilakukan Dzikra and Winarningsih (2020) dengan judul Analisis Implementasi Program Pembebasan Denda Pajak dalam Penerimaan Piutang PBB Kota Bandung yang menggunakan jenis penelitian deskriptif, mengungkapkan bahwa efektivitas penerimaan piutang PBB sebelum dan sesudah implementasi program pembebasan denda pajak yang dilihat dari persentase sebelum dilaksanakannya program sudah mengalami kenaikan yang sangat signifikan, namun jika disesuaikan dengan kriteria efektivitas masih dikatakan tidak efektif karena masih menunjukkan angka di bawah enam puluh persen. Pengimplementasian program ini masih ada beberapa kendala dalam meningkatkan penerimaan piutang PBB sendiri. Kendala atau faktor tersebut yang ada yaitu mulai dari masih rendahnya tingkat kepatuhan wajib pajak, kurangnya sosialisasi program yang dilakukan, kurangnya memaksimalkan media massa serta media sosial, serta masih lambannya sistem yang dimiliki.
Penelitian yang dilakukan Citra Larasati (2017) dengan judul Evaluasi Program Inovasi “Sunset Policy” di Kota Malang Guna Menurunkan Angka Tunggakan Pajak Bumi dan Bangunan Perkotaan yang menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, mengungkapkan bahwa Program Inovasi Sunset Policy yang telah dilaksanakan dalam kurun waktu tiga bulan telah
10
berjalan dengan baik dan mampu menjadi solusi dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan adanya strategi yang dapat ditempuh Dispenda Kota Malang dalam mengatasi kendala internal maupun eksternal pada saat implementasi kebijakan sudah cukup baik.
Penelitian terdahulu yang dilakukan Noorain and Yahya (2018) dengan judul Tingkat Efektivitas Penerapan Pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor Terhadap Peningkatan Penerimaan Pajak Daerah. Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang sifatnya deskriptif. Hasil dalam penelitian ini penerimaan pajak kendaraan bermotor tahun 2016 pada Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendapatan Provinsi Jawa Timur Malang Utara dan Batu Kota sudah sangat efektif. Dan perbandingan sebelum dan pada saat penerapan kebijakan pemutihan menunujukkan bahwa kebijakan pemutihan pajak kendaraan bermotor tahun 2016 berkontribusi positif terhadap peningkatan penerimaan pajak kendaraan bermotot pada Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) Dinas Pendapatan Provinsi Jawa Timur Malang Utara dan Batu Kota.
Penelitian yang dilakukan oleh Martadani and Hertati (2019) yang berjudul Efektivitas Pelaksanaan Program Pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor dalam Mneingkatkan Penerimaan Pajak Daerah pada Unit Pelaksanaan Teknis Badan Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Timur di Jombang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan sifat deskriptif. Hasil dari penelitian ini adalah pelaksanaan program pemutihan di Badan Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Timur Jombang dikatakan
11
sudah efisien, kemudian indikator kecukupan, perataan, responsivitas dan ketepatan dikatakan sudah efektif.
Penelitian yang dilakukan oleh Rasid (2015) yang berjudul Analisis Penerapan Perda No. 20 Tahun 2011 Tentang Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2) pada Pemerintah Kabupaten Sorong.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Hasil dalam penelitian ini adalah Peraturan Daerah Nomor 20 Tahun 2011 sudah diterapkan dengan baik, dengan melihat tahapan-tahapan pelaksanaan PBB- P2 yang sudah didasarkan PERDA.
Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Wondal, Lambey, and Wangkar (2018) dengan judul Implikasi Penerapan Peraturan Gubernur Nomor 42 Tahun 2017 Terhadap Peningkatan Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di Samsat Manado. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Hasil dari penelitian ini adalah secara keseluruhan dengan dikeluarkannya Peraturan Gubernur Nomor 42 Tahun 2017 tentang Pemberian keringanan PKB, meningkatkan penerimaan PKB di UPTD samsat Manado walaupun tidak terlalu besar implikasinya terhadap penerimaan PKB di tahun 2017.
Penelitian yang dilakukan oleh Avianto (2020) dengan judul Penerapan Kebijakan Penghapusan Sanksi Administtasi Pajak Kendaraan Bermotor di Kota Jakarta Selatan Tahun 2019 yang menggunakan metodologi survei tergolong metode ilmiah yang merupakan bagian dari
12
metode penelitian baik kuantitatif maupun kualitatif, mengungkapkan bahwa Badan Pajak dan Retribusi Daerah (BPRD) Provinsi DKI Jakarta pada akhir Tahun 2019 memprediksi dari 3,1 juta kendaraan roda dua dan sekitar 748,5 ribu unit mobil yang menunggak pembayaran pajak PKB dan BBN, jika di total tunggakan tersebut mencapai angka 1,18 triliun. Penelitin ini menemukan tunggakan pajak kendaraan bermotor di Kota Jakarta Selatan sampai akhir Bulan Desember 2019 mencapai 15 Milyar dengan realisasi penerimaan pajak kendaraan bermotor PKB dan BBN sebesar Rp 115.917.771.730,- terjadi penurunanan sebesar Rp 108.247.742.466,- artinya masih ada tunggakan pajak kendaran bermotor sekitar 7,5 Milyar.
Walaupun dalam kebijakan pemutihan ini hanya berupa penghapusan sanksi administrasi artinya wajib pajak tetap harus membayar besaran pokok pajak tersebut, akan tetapi kenyataannya masyarakat di Kota Jakarta Selatan kurang responsif menyambut kebijakan ini. Pernyataan ini muncul dari hasil survey dari responden yang menyatakan sikap responsif terhadap kebijakan sunset policy mencapai mencapai 88,5%, diantaranya 47,9% menyatakan responden setuju terhadap kebijakan penghapusasn sanksi administrasi kendaraan bermotor namun mereka belum memanfaatkannya.
B. Tinjauan Pustaka
1. Kebijakan Publik
Menurut Carl Friedrish Kebijakan adalah “serangkaian tindakan/kegiatan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok, atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu dimana terdapat
13
hambatan-hambatan dan kemungkinan-kemungkinan kebijakan tersebut diusulkan agar berguna dalam mengatasinyauntuk mencapai tujuan yang dimaksud” (Agustino, 2008).
Menurut Subarsono (2005) dalam penyusunan kebijakan ada tiga yang perlu dilakukan, yaitu membangun persepsi di kalangan stakholders bahwa sebuah fenomena benar-benar dianggap sebagai masalah, membuat batasan masalah, dan memobilisasi dukungan agar masalah tersebut dapat masuk dalam agenda pemerintah.
Menurut Subarsono (2005), James Anderson menetapkan proses kebijakan publik sebagai berikut :
a. Formulasi Masalah
Tahapan menentukan masalah apa yang dapat dijadikan kebijakan dan bagaimana masalah tersebut dapat masuk dalam agenda pemerintah.
b. Formulasi Kebijakan
Tahapan mengembangkan pilihan-pilihan atau alternatif- alternatif untuk memecahkan masalah yang ada.
c. Penentuan Kebijakan
Tahapan alternatif apa yang ditetapkan dari permasalahan yang ada, serta tahapan penentuan persyaratan apa saja, siapa saja yang terlibat, isi dalam kebijakan dan strategi dalam melaksanakan kebijakan.
14
d. Implementasi
Tahapan melihat apa yang dikerjakan dan dampak dari isi kebijakan.
e. Evaluasi
Tahapan melakukan penilaian tingkat keberhasilan dalam implementasi kebijakan dan menilai konsekuensi dari suatu kebijakan.
Implementasi kebijakan merupakan suatu proses yang cukup kompleks. keberhasilan suatu impelementasi kebijakan dapat diukur dari proses dan capaian tujuan hasil akhirnya, yaitu tercapai atau tidaknya tujuan-tujuan yang ingin diraih.
A. Teori George C. Edward III
Menurut George C. Edward III terdapat 4 variabel yang mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan, yaitu komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi (Agustino, 2008).
1. Komunikasi
Komunikasi menurut George C. Edward III sangat mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan.
Implementasi yang efektif terjadi jika para pembuat keputusan sudah mengetahui apa yang harus mereka kerjakan. Pengetahuan atas apa yang mereka kerjakan dapat berjalan dengan adanya komunikasi yang baik,
15
sehingga setiap keputusan dapat disampaikan dengan tepat, akurat, dan konsisten.
Faktor-faktor yang dapat dipakai untuk mengukur keberhasilan suatu komunikasi adalah :
a. Transmisi
Penyaluran komunikasi yang baik akan dapat mencapai keberhasilan suatu implementasi.
Seringkali yang terjadi dalam penyaluran komunikasi adalah salah pengertian, hal ini bisa disebabkan karena komunikasi telah melalui beberapa tingkatan birokrasi, sehingga apa yang diharapkan terdistorsi ditengah jalan.
b. Kejelasan
Komunikasi yang diterima oleh para pelaksana harus jelas dan tidak membingungkan.
Ketidakjelasan informasi kebijakan tidak selalu menghalangi impelentasi, tetapi pada kondisi lain informasi yang tidak jelas akan menyelewengkan tujuan yang hendak dicapai oleh kebijakan yang telah ditetapkan.
c. Konsistensi
Perintah dalam pelaksanaan suatu komunikasi harus jelas dan konsisten. Karena jika adanya
16
perintah yang berubah-ubah, makan akan menimbulkan kebingungan bagi pelaksana lapangan.
2. Sumber Daya
Faktor kedua yang mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan menurut George C. Edward III adalah sumber daya. Indikator dari sumber daya adalah Sumber Daya Manusia, Informasi, Wewenang, dan Fasilitas (Agustino, 2008).
a. Sumber Daya Manusia
Sumber Daya utama dalam implementasi kebijakan adalah Sumber Daya Manusia. Kegagalan biasanya terjadi salah satunya karena Sumber Daya Manusia yang tidak mencukupi atau tidak kompeten dibidangnya. Penambahan Sumber Daya Manusia saja tidak cukup, tetapi diperlukan keahlian dan kemampuan dalam mengimplementasikan kebijakan.
b. Informasi
Informasi dalam implementasi kebijakan dapat berupa informasi yang berhubungan dengan cara melaksanakan kebijakan, karena pelaksana kebijakan harus mengetahui apa yang harus mereka lakukan dalam mengimplementasi suatu kebijakan.
17
Kemudian informasi mengenai data kepatuhan dari para pelaksana terhadap peraturan atau regulasi pemerintah yang telah diterapkan.
c. Wewenang
Kewenangan merupakan otoritas bagi para pelaksana dalam melaksanakn kebijakan yang ditetapkan secara politik. Ketika tidak adanya wewenang, maka kekuatan para pelaksana dimata publik tidak terlegitimasi, sehingga dapat menggagalkan proses implementasi. Tetapi, dalam kondisi lain, ketika adanya wewenang, biasanya ada pihak yang menghambat impelemntasi demi kepentingannya sendiri atau demi kepentingan kelompoknya.
3. Disposisi
Variabel ketiga yang mempengaruhi keberhasilan impelementasi kebijakan adalah disposisi. Disposisi atau sikap dari pelaksana adalah faktor penting ketiga dalam implementasi kebijakan. Jika impelementasi ingin efektif, maka para pelaksana tidak hanya harus mengetahui apa yang dilakukan, tetapi juga harus memiliki kemauan dan kemampuan melaksanakannya. Hal penting dalam disposisi adalah :
18
a. Pengangkatan Birokrat
Disposisi akan menimbulkan hambatan- hambatan terhadap impelementasi kebijakan bila pelaksana yang ada tidak melaksanakan kebijakan- kebijakan yang diinginkan oleh pejabat-pejabat tinggi. Karena itu, pemilihan dan pengangkatan pelaksana adalah orang-orang yang meiliki dedikasi pada kebijakan yang telah ditetapkan.
b. Insentif
Pada umumnya orang bertindak menurut kepentingan mereka sendiri, maka insentif mempengaruhi tindakan para pelaksana kebijakan.
Dengan cara menambah keuntungan atau biaya tertentu mungkin akan menjadi faktor pendorong yang membuat para pelaksana kebijakan melaksanakan perintah dengan baik.
4. Struktur Birokrasi
Variabel keempat yang mempengaruhi tingkat keberhasilan implementasi kebijakan adalah struktur birokrasi. Waalaupun sumber-sumber untuk melaksanakan kebijakan tersedia, atau pelaksana mengetahui apa yang harus dilakukan, dan mempunyai keinginan melaksanakan kebijakan, kemungkinan kebijakan tersebut tidak dapat
19
terlaksana karena terdapatnya kelemahan dalam struktur birokrasi.
Faktor yang dapat mendorong kinerja struktur birokrasi kearah yang lebih baik adalah melakukan Standar Operating Prosedure (SOP) dan melakukan
fragmentasi. SOP adalah suatu kegiatan rutin yang memungkinkan para pelaksana untuk melaksanakan kegiatan-kegiatannya sesuai standar yang telah ditetapkan.
Sedangkan pelaksanaan fragmentasi adalah upaya penyebaran tanggungjawab kegiatan-kegiatan.
B. Teori Merilee S. Grindle
Keberhasilan implementasi kebijakan menurut Merilee S.
Grindle dipengaruhi oleh dua variabel, yaitu isi kebijakan dan lingkungan implementasi (Subarsono, 2005). Variabel isi kebijakan ini mencakup :
1. Sejauh mana kepentingan kelompok sasaran dalam isi kebijakan
2. Jenis manfaat yang diterima oleh kelompok sasaran
3. Sejauh mana perubahan yang diinginkan dari sebuah kebijakan
4. Apakah letak sebuah program sudah tepat
5. Apakah sebuah kebijakan telah menyebutkan impelementornya dengan rinci, dan
20
6. Apakah sebuah program didukung oleh sumberdaya yang memadai.
Sedangkan variabel lingkungan kebijakan mencakup : 1. Seberapa besar kekuasaan, kepentingan, dan strategi yang
dimiliki oleh para aktor yang terlibat dalam implementasi kebijakan
2. Karakteristik institusi dan rejim yang sedang berkuasa 3. Tingkat kepatuhan dan responsivitas kelompok sasaran C. Teori Daniel A. Mazmanian dan Paul A. Sabatier
Menurut Mazmanian dan Sabatier (Subarsono, 2005) ada tiga variabel yang mempengaruhi keberhasilan implementasi, yaitu karakteristik dari masalah, karakteristik kebijakan, dan variabel lingkungan (Subarsono, 2005).
1. Karakteristik Masalah
a. Tingkat kesulitan teknis dari masalah yang bersangkutan
b. Tingkat kemajemukan dari kelompok sasaran c. Proporsi kelompok sasaran terhadap total populasi d. Cakupan perubahan perilaku yang diharapkan 2. Karakteristik Kebijakan
a. Kejelasan isi kebijakan
b. Seberapa jauh kebijakan tersebut memiliki dukungan teoritis
21
c. Besarnya alokasi sumber daya finansial
d. Seberapa besar adanya keterpautan dan dukungan antar berbagai institusi pelaksana
e. Kejelasan dan konsistensi aturan yang ada pada badan pelaksana
f. Tingkat komitmen aparat terhadap tujuan kebijakan g. Seberapa luas akses kelompok-kelompok luar untuk
berpartisipasi dalam implementasi kebijakan 3. Lingkungan Kebijakan
a. Kondisi sosial ekonomi masyarakat dan tingkat kemajuan teknologi
b. Dukungan publik terhadap sebuah kebijakan c. Sikap dari kelompok pemilih
d. Tingkat komitmen dan keterampilan dari aparat implementator
D. Teori David L. Weimer dan Aidan R. Vining
Menurut David L. Weiner dan Aidan R. Vining ada tiga variabel yang mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan, yaitu logika kebijakan, lingkungan tempat kebijakan, dan kemampuan implementator kebijakan (Subarsono, 2005).
Maksud dari logika kebijakan adalah agar suatu kebijakan yang ditetapkan masuk akal dan mendapat dukungan. Isi dari
22
suatu kebijakan harus mencakup berbagai aspek yang memungkinkan kebijakan tersebut dapat diimplementasikan.
Lingkungan tempat kebijakan yang dimaksud adalah lingkungan sosial, politik, ekonomi, hankam, dan fisik atau geografis. Suatu kebijakan dapat berhasil diimplementasikan di suatu daerah, tetapi ternyata gagal diimplementasikan di daerah lain, karena kondisi lingkungan yang berbeda.
Kemampuan implementor. Keberhasilan suatu kebijakan dipengaruhi oleh tingkat kompetensi dan keterampilan dari para implementor kebijakan.
2. Pajak Daerah
Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut Pajak, adalah kontribusi wajib kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (UU No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah).
Berdasarkan Undang-Undang No. 28 Tahun 2009, Jenis Pajak yang dikelola provinsi maupun kabupaten/kota adalah sebagai berikut :
a. Jenis Pajak Provinsi terdiri atas : 1) Pajak Kendaraan Bermotor;
2) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor;
23
3) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;
4) Pajak Air Permukaan; dan 5) Pajak Rokok.
b. Jenis Pajak Kabupaten/Kota terdiri atas : 1) Pajak Hotel;
2) Pajak Restoran;
3) Pajak Hiburan;
4) Pajak Reklame;
5) Pajak Penerangan Jalan;
6) Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan;
7) Pajak Parkir;
8) Pajak Air Bawah Tanah;
9) Pajak Sarang Burung Walet;
10) Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan; dan 11) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.
3. Pajak Bumi dan Bangunan
Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya, sedangkan Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan (UU No. 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan).
Objek Pajak Bumi dan Bangunan dikelompokkan menjadi lima, yaitu Pedesaan, Perkotaan, Perkebunan, Pertambangan, dan Perhutanan. Dalam kebijakan Perwako No. 54 Tahun 2021 ini
24
membahas Perpanjangan Jatuh Tempo, Pengurangan Piutang Pokok dan Penghapusan Sanksi Administrasi Berupa Bunga atau Denda Pajak Bumi dan Bangunan sektor Pedesaan dan Perkotaan.
Menurut Undang-Undang No. 28 Tahun 2009, Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan adalah pajak atas bumi dan/atau bangunan yang dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau badan, kecuali kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan, perhutanan, dan pertambangan. Yang termasuk dalam pengertian Bangunan adalah :
a. Jalan lingkungan yang terletak dalam satu kompleks bangunan seperti hotel, pabrik dan emplasemennya, yang merupakan suatu kesatuan dengan kompleks bangunan tersebut;
b. Jalan tol;
c. Kolam renang;
d. Pagar mewah;
e. Tempat olahraga;
f. Galangan kapal, dermaga;
g. Taman mewah;
h. Tempat penampungan kilang minyak,air dan gas, pipa minyak;
dan i. Menara.
Sedangkan objek pajak yang tidak dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan adalah objek pajak yang :
25
a. Digunakan oleh pemerintah dan daerah untuk penyelenggaraan pemerintahan;
b. Digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di bidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan nasional, yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan;
c. Digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala, atau yang sejenis dengan itu;
d. Digunakan oleh perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik; dan
e. Digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan.
Berdasarkan Undang-Undang No. 28 Tahun 2009, besarnya Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan paling rendah sebesar Rp10.000.000,00 untuk setiap Wajib Pajak. Di Kota Batam berdasarkan Undang-Undang No. 10 Tahun 2011, besarnya Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan sebesar Rp15.000.000,00 untuk setiap Wajib Pajak.
Subjek Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan adalah orang pribadi atau badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas bumi dan/atau memperoleh manfaat atas bumi, dan/atau memiliki, menguasai, dan/atau memperoleh manfaat atas bangunan
26
(UU No. 10 Tahun 2011 tentang Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan).
Dasar pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan adalah NJOP. Berdasarkan Undang-Undang No. 10 Tahun 2011, besarnya NJOP ditetapkan setiap tiga tahu, kecuali objek pajak tertentu dapat ditetapkan setiap tahun sesuai dengan perkembangan wilayahnya. Tarif Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan yang ditetapkan adalah sebagai berikut :
a. Untuk NJOP sampai dengan Rp 1.000.000.000,00 ditetapkan sebesar 0,12% pertahun;
b. Untuk NJOP diatas Rp 1.000.000.000,00 ditetapkan sebesar 0,215% pertahun.
Besaran Pokok Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan pajak setelah dikurangi Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak.
Menurut (BPPRD, 2021) Prosedur Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan Kota Batam adalah sebagai berikut :
a. Prosedur Pengajuan Verifikasi Pembayaran PBB-P2 1.) Persyaratan
- Surat Permohonan
27
- Surat Kuasa dan fotococopi Identitas Pemberi Kuasa (jika dikuasakan)
- Fotocopi Identitas (KTP/SIM/Pasport)
- Fotocopi Surat Kepemilikan Tanah (Sertifikat, Akta Jual Beli, PL, SKEP, SPJ, dan IMB)
2.) Alur Pelayanan
Pengajuan verifikasi pembaran PBB-P2 biasanya menghabiskan waktu sekitar satu hari kerja.
- wajib Pajak membawa berkas persyaratan lengkap dan diserahkan kepada bagian pelayanan, kemudian bagian pelayanan akan memberikan tanda bukti pendaftaran.
- bagian pelayanan akan memeriksa berkas persyaratan dan memasukkan ke sistem, kemudian diserahkan kepada bagian pembukuan PBB-P2 dan BPHTB, setelah itu bagian pembukuan akan melakukan verifikasi, jika disetujui maka akan diserahkan kepada kepala badan, jika tidak akan dikembalikan kepada bagian pelayanan
- berkas yang sudah disetujui kepala badan akan diinput oleh pembukuan PBB-P2 dan BPHTB, kemudian Bagian Pendaftaran dan Pendataan akan mencetak SPPT dan diserahkan kepada Wajib Pajak.
28
b. Prosedur Pengajuan Pembetulan, Pembatalan, Pengurangan Ketetapan, dan Pengurangan Sanksi Administrasi PBB-P2 1.) Persyaratan
- Surat Permohonan
- Fotocopi Identitas (KTP/SIM/Pasport) - Mengisi formuir SPOP/LSOP
- Asli SPPT/SKPD PBB/STPD PBB tahun yang bersangkutan
- Fotocopi SPPT bukti pelunasan PBB tahun terakhir - Fotocopi Surat Kepemilikan Tanah (Sertifikat, Akta
Jual Beli, PL, SKEP, SPJ, dan IMB)
- Denah bangunan atau dokumen lainnya yang sejenis dan foto berwarna bangunan/lokasi
2.) Alur Pelayanan
- wajib Pajak membawa berkas persyaratan lengkap dan diserahkan kepada bagian pelayanan, kemudian bagian pelayanan akan memberikan tanda bukti pendaftaran.
- bagian pelayanan akan memeriksa berkas persyaratan dan memasukkan ke sistem, kemudian diserahkan kepada bagian Pertimbangan dan keberatan, setelah itu bagian pembukuan akan melakukan observasi lapangan dan akan dinilai oleh
29
bagian penilaian dan penetapan, jika disetujui maka akan diserahkan kepada kepala badan, jika tidak akan dikembalikan kepada bagian pelayanan
- kemudian Bagian Pendaftaran dan Pendataan akan mencetak SPPT/SK NJOP yang ditandatangani oleh Kepala Badan dan diserahkan kepada Wajib Pajak.
4. Kebijakan Peraturan Walikota No. 54 Tahun 2021
Kebijakan insentif PBB yang dimuat dalam Peraturan Walikota No. 54 Tahun 2021 tentang Perpanjangan Jatuh Tempo, Pengurangan Piutang Pokok dan Penghapusan Sanksi Administrasi berupa bunga dan/atau denda Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan Kota Batam Tahun 2021. Kebijakan insentif ini diberlakukan dari tanggal 1 September 2021 hingga 30 November 2021 yang disosialisasikan oleh Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD), maksud dan tujuan adanya kebijakan tersebut adalah untuk meringankan beban Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakan pada masa pandemik penyebaran Corona Virus Disase 19 (Covid-19) dan Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Berdasarkan Peraturan Walikota No. 54 Tahun 2021, tata cara pengurangan pokok dan penghapusan bunga dan/atau denda adalah sebagai berikut :
30
a. Perpanjangan jatuh tempo, pengurangan piutang pokok dan penghapusan sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda PBB-P2 diberikan secara jabatan melalui SISMIOP
b. Piutang pajak yang dapat dikurangi adalah yang tercantum dalam :
1.) SPPT 2.) SKPD 3.) STPD 4.) SKPDKB 5.) SKPDKBT, atau
6.) Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pembatalan, Putusan Banding dan Putusan Peninjauan kembali yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah.
Besarnya pengurangan piutang pokok yang diberikan terhadap piutang PBB-P2 tahun 1994-2018 adalah sebagai berikut :
a. Piutang PBB-P2 tahun 1994-2012 diberikan sebesar 50%
b. Piutang PBB-P2 tahun 2013-2015 diberikan sebesar 30%
c. Piutang PBB-P2 tahun 2016-2018 diberikan sebesar 20%
d. Piutang PBB-P2 tahun 2019-2020 diberikan sebesar 0%
C. Kerangka Berfikir
Sehubungan dengan penelitian ini mengenai Analisis Perpanjangan Jatuh Tempo, Pengurangan Piutang Pokok Dan Penghapusan Sanksi
31
Administrasi Pajak Bumi Dan Bangunan Pedesaan Dan Perkotaan Dalam Rangka Untuk Meningkatkan Efektivitas Pajak Daerah Kota Batam, maka kerangka pemikiran diilustrasikan sebagai berikut :
Gambar 2.1 Kerangka Berfikir
Peraturan Walikota Batam Nomor 54 Tahun 2021 tentang Perpanjangan Jatuh Tempo, Pengurangan Piutang Pokok Dan Penghapusan Sanksi Administrasi Pajak Bumi Dan Bangunan
Pedesaan Dan Perkotaan
Implementasi Perwako No. 54
Tahun 2021
Komunikasi
Sumber Daya
Disposisi
Birokrasi
Evaluasi Efektivitas Perwako No. 54
Tahun 2021 Penerimaan PBB-P2
sebelum kebijakan
Penerimaan PBB-P2 sesudah Kebijakan
Efektivitas Pajak Daerah