• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. PERANCANGAN TAPAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. PERANCANGAN TAPAK"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

2.1 Kriteria Pemilihan Lokasi

{Criteria pemilihan lokasi untuk proyek museum antariksa adalah :

• Berada pada lokasi yang rencana tata guna lahannya untuk fasilitas pendidikan.

Karena fungsi bangunan sebagai fasilitas pendidikan dan rekreasi. Lokasi diusahakan berada dekat dengan pusat pendidikan tinggi, karena diharapkan dapat menjadi sarana pendamping bagi pendidikan formal, yang dirancang agar pendidikan yang didapat dipendidikan formal lebih menarik, karena dibantu oleh benda-benda pamer 3 dimensi.

• Tidak terletak pusat kota atau tempat yang ramai.

Walaupun merupakan proyek komersial dan mampu menarik minat masyarakat banyak, namun ketenangan sangat dibutuhkan dalam eksplorasi, agar pengunjung dapat berkonsentrasi dengan baik.

• Pencapaian mudah

Karena bangunan bersifat umum, maka lokasi site harus dapat dicapai oleh semua orang baik dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.

2.2 Alasan Pemilihan Lokasi

Lokasi terpilih adalah di kecamatan Tembalang, Semarang, Jawa Tengah.

Alasan pemilihan lokasi tersebut adalah :

• Mengacu pada Rencana Detail Tata Ruang Kbta bagian wilayah kota VI (BWKVI) kecamatan Tembalang tahun 2000-2010 dan Rencana Tata Ruang Wilayah Semarang, bagian penggunaan lahan, lahan pada kecamatan Tembalang dipergunakan untuk pendidikan.

• Letaknya bersebelahan dengan kawasan universitas negeri Diponegoro (Undip) atas, dimana gedung UNDIP atas dipergunakan untuk fakultas tehnik termasuk jurusan Fisika, yang sangat erat hubungannya dengan keantariksaan.

• Lokasi berada pada jalan utama dan jalan masuk lokasi UNDIP dan dilewati kendaraan umum, sehingga memudahkan pencapaian. Letaknya sekitar 1km

13

(2)

dari jalan tol yang merupakan jalan masuk kota Semarang dari jalur pantura dan selatan.

• Daerah tersebut masih tenang, namun termasuk dalam rencana perluasan kota Semarang.

\_OK*»5l S I T E

in I in | l«J ! iii ; m •*« • I " - )** Iw aw • wi ' nr -r^> ' w • x* ; x* | MI | M I «?» | na m . m | n» 1 J1' i " t i »« ! >w I

Gambar 2.1 Peta lokasi

2.3 Perencanaan Tapak

2.3.1 Data Tapak

Tinjauan secara uiniini :

Kota Semarang adalah ibukota Jawa Tengah dengan penduduk usia sekolah pada tahun 2000 mencapai 277.875 dan 10.834.446 orang di Jawa Tengah.

Jumlah mahasiswa dan dosen tahun 2000/2001 mencapai 314.810 orang. Namun perhatian masyarakat untuk memajukan kota Semarang masih sangat minim,

(3)

apalagi dalam bidang ilmu pengetahuan, sehingga menjadikan kota Semarang menjadi kota yang statis yang menyebabkan banyak penduduk usia muda yang pindah dari Semarang untuk mencari kehidupan yang lebih maju. Pendidikan dan pengetahuan adalah hal yang sangat penting karena mempengaruhi pola berpikir manusia yang berarti juga kemajuan manusia.

Mengacu pada rencana detail tata ruang kota BWK VI kecamatan Tembalang tentang fiingsi dan peran kota Semarang, antara lain :

• Sebagai pusat pertumbuhan dan pusat aktifitas regional.

• Sebagai pusat pemerintahan propinsi yang merupakan perpanjangan dari pemerintah pusat propinsi jawa tengah dan sebagai pusat pemerintahan kota yang membawabi 16 wilayah kecamatan.

• Sebagai pusat atau simpul transportasi dengan skala lokal (kota) hingga internasional.

• Sebagai daerah produksi manufaktur dengan skala lokal hingga internasional.

• Sebagai pusat perdagangan dan jasa komersial dengan skala lokal (kota) hingga internasional.

• Sebagai pusat pelayanan umum terutama sebagai pusat pelayanan pendidikan, olah raga dan rekreasi dengan skala pelayanan regional bahkan nasional (terutama untuk pendidikan dan olah raga).

Menurut RDTRK tahun 2000-2010, terdapat kecenderungan perkembangan kota Semarang ke arah selatan yang menjangkau kawsan Tembalang dan sekitamya. Kecenderungan tersebut didukung oleh faktor pendorong dan faktor penarik. Faktor pendorong berasal dari kawasan pusat kota Semarang yang semakin padat dan beban yang ditanggungnyapun semakin berat dimana pembangunan pusat-pusat perbelanjaan semakin banyak yang menyebabkan memusatnya masyarakat di kawasan Semarang bawah. Sedangkan faktor penarik berasal dari kawasan Tembalang berupa lahan-lahan yang masih dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya tanpa meninggalkan aspek pelestarian lingkungan. Fenomena pemekaran kampus Undip adalah unsur penting yang akan mendukung perkembangan kawasan Tembalang yang memiliki skala pendidikan regional, nasional dan internasional.

(4)

, Dari segi kemudahan pencapaian, kawasan ini sangat strategis, mudah dicapai dari segala arah. Kawasan dapat dicapai kurang lebih lima dari jalan pintu keluar tol Semarang-Demak yang merupakan jalan alternatif menuju ke jalur Pantura.

Perencanaan jalan lingkar luar Semarang (outer ring road) untuk tahun 2000- 2010 juga sangat berperan dalam aksebilitas kawasan.

vo Has i

I * k a w a s a n P t n o \ D \ K ^ n

P-cncana a a t a t - i unGk<3i?

S a r i G u n a n u n c i p

P t - M S a n c u n a o p-CRsiMPanaan 33L3n

Gambar 2.2 Peta Tapak

(5)

2.3.2 Kondisi fisik 2.3.2.1 Morfologi

Bentuk morfologi BWK VI, kecamatan Tembalang secara garis besar terdiri atas tiga satuan, yaitu:

• Satuan morfologi lereng perbukitan

• Satuan morfologi lembah sungai

• Satuan morfologi dataran bergelombang yang merupakan bentuk morfologi yang berbentuk dataran yang dikombinasikan oleh cekungan-cekungan membentuk wilayah bergelombang yang terletak di daerah bagian tengah dan selatan.

2.3.2.2 Topografi

Kecamatan Tembalang memiliki ketinggian yang beragam. Wilayah ini merupakan perbukitan dan sebagian kecil merupakan dataran rendah dan dataran tinggi dengan variasi ketinggian 50-350 m dpal dan elevasi 30 % - 70%. Luas area perbukitan 60 % wilayah perencanaan, sedangkan dataran rendah 15% dan 25% dataran tinggi. Kondisi topografi/kemiringan berkisar antara 30% - 70% .

2.4 Pengaruh Lingkungan sckitar Terhadap Tapak

Kondisi lingkungan yang mempengaruhi tapak :

• Adanya universitas negeri Diponegoro, yang merupakan pusat pendidikan tinggi yang berskala regional sampai nasional.

• Adanya kampus-kampus lain disisi jalan masuk tapak.

• Terdapat angkutan umum dan halte-halte pemberhentian.

• Jalan tol Ungaran-Manyaran dan rencana pembangunan tol Semarang-Demak yang merupakan akses masuk dan keluar Semarang.

• Tanah berkontur yang sangat berpengaruh terhadap perencanaan bangunan.

• Peraturan yang berlaku pada tapak yang mempengaruhi perencanaan adalah : - Koefisien Dasar Bangunan (KDB): 40%

- Kofisien Lantai Bangunan ( KLB): 1,6 Ketinggian Bangunan : 1-3 - Garis Sempadan Bangunan (GSB): 29 meter

(6)

2.5 Pengaruh Perancangan Tapak Terhadap Lingkungan Sekitar

Perancangan tapak akan memberikan dampak pada lingkungan sekitar, antara lain:

• Keberadaan proyek ini melengkapi fasilitas pendidikan yang ada di kawasan Tembalang dan Semarang, sebagai fasilitas non formal pendamping yang diharapkan dapat melengkapi pendidikan formal yang didapat pada institusi pendidikan yang ada.

• Pembangunan proyek menciptakan skyline terhadap sekitarnya dengan puncak pada space station II, yang merupakan bangunan utama.

• Bangunan direncanakan menjadi landmark kawasan yang juga merupakan landmark iptek di jawa tengah.

• Jalan masuk lokasi diletakkan di jalan yang tidak terlalu ramai, untuk mencegah kemacetan.

• Meningkatkan value tanah yang diharapkan dapat menaikkan tingkat kesejahteraan masyarakat melalui perdagangan/jasa yang bermunculan akibat dibangunnya proyek ini.

2.6 Konsep Urban

Bangunan direncanakan tidak seluruhnya solid, namun diberi ruang-ruang (void) untuk memasukkan unsur-unsur alam baik secara horizontal maupun vertikal (dengan mengangkat bangunan)

Open space pada sisi depan lahan digunakan untuk tempat parkir pengunjung serta untuk pembukaan view ke arah sungai. Open space tersebut juga digunakan sebagai space penangkap. Sedangkan open space pada sisi dalam lahan digunakan untuk view buatan. Bangunan direncanakan dengan pola massa majemuk, untuk memasukkan unsur-unsur alam.

Orientasi bangunan menghadap kearah Jl. Ngesrep Timur, karena jalan ini direncanakan akan menjadi penghubung antara jalan lingkar Semarang dengan jalan Setiabudi (jalan arteri primer).

Bangunan direncanakan menjadi landmark kawasan juga sebagai landmark iptek di Jawa Tengah. Style bangunan tidak mengikuti style bangunan sekitar yang dominan atap perisai joglo. Style bangunan yang direncanakan dibuat

(7)

kontras dengan bangunan sekitar yang mencerminkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

2.7 Zoning

Pendaerahan (zoning) dibuat berdasarkan analisis tapak dan urban namun dengan memperhatikan pertimbangan lain, seperti kemudahan pencapaian untuk ruang-ruang utama, view dll. Fasilitas utama dan edukasi diletakkan ditempat yang jauh dari kebisingan namun mudah dicapai dari segala arah dan yang mudah terlihat dari jalan raya, agar menarik perhatian masyarakat. Area parkir diletakkan di daerah garis sempadan bangunan (GSB) yang juga berfungsi sebagai buffer kebisingan karena kebisingan tertinggi berasal dari jalan raya. Fasilitas pelayanan administrasi dan pelayanan teknis diletakkan didaerah yang tenang.

Untuk daerah dengan view yang kurang menarik dan tidak terlihat dari jalan raya digunakan untuk area servis. Site yang merupakan tanah berkontur sangat menguntungkan karena bangunan mudah terlihat dari jalan raya.

r \ t - - •""•

\ S«.Rv\5

i

C . 1

l ]

..-

" '•: . ' " N*

t o u t s '

t

Gambar 2.3 Zoning

(8)

2.8 I't ncapaian Tapak

Tapak dapat dicapai oleh mobil dan motor dari jalan Prof Sudharto yang merupakan jalan yang tidak terlalu ramai. Pintu masuk diletakkan agak jauh dari tikungan, untuk mencegah kemacetan akibat antrian yang panjang. Sedangkan untuk bis, disediakan tempat parkir di jalan Ngesrep Timur. Untuk pengontrolan, entrance pengunjung dan pengelola fasilitas umum dibuat hanya satu, begitu juga dengan jalan keluar.

Sedangkan untuk servis dan karyawan, jalan masuk dari side entrance, yang diletakkan di jalan Ngesrep Timur. Diletakkan terpisah dengan pengunjung agar tidak terjadi cross sirkulasi.

Pencapaian ke lokasi saat ini hanya ada satu jalan, namun dalam RDTRK tahun 2000-2010, lokasi bisa dicapai dari jalan penghubung ringroad.

2.9 Sistem Sirkulasi Dalam Tapak

Sistem sirkulasi dalam tapak diatur sebagai berikut:

• Mobil dan motor pengunjung masuk melalui entrance, parkir dilahan parkir dan keluar melalui pintu keluar. Dari tempat parkir terdapat pedestrian yang menghubungkan antara lahan parkir dan bangunan. Pada pedestrian terdapat canopy untuk melindungi pengunjung dari hujan.

• Kendaraan karyawan masuk melalui side entrance dan keluar dari pintu yang sama.

• Sirkulasi pejalan kaki didalam site dimulai dari lahan parkir menuju ke ruang pamer terbuka.

• Sirkulasi kendaraan servis, seperti kendaraan pengiriman benda-benda peraga, disediakan loading dock yang terletak dilantai dasar, sedangkan untuk pengiriman benda-benda servis seperti ac, mesin-mesin, loading dock disediakan di semi basemen. Sedangkan untuk pengangkutan servis seperti sampah, terdapat jalur khusus yang berbeda dengan pengunjung.

• Untuk sirkulasi pendistribusian benda-benda pamer, disediakan jalur khusus yang berbeda dengan jalur pengunjung, secara horisontal dengan perkerasan dan ramp, secara vertikal dengan lift servis . (lihat lampiran5)

(9)

2.10 Pola Penataan Ruang Luar

Ruang luar yang terbentuk sebagai bagian dari alur konsep, juga sebagai konsekuensi logis dari rangkaian tema pada ruang pamer.

Pola-pola lantai digunakan untuk menegaskan konsep keseluruhan bangunan. Pola pada ruang pamer tetap, untuk mempertegas kesan memusat pada bangunan.

Penataan ruang luar dirancang untuk mempermudah pencapaian dari satu titik ke titik lainnya.

Ptnaiaan poua t a m a i

«,tba*a« ptnaHUBuna w n a u n a n saiu Denaan i_amnya

•%L + / . \ • \ \ ~V' - V-. \ V.

^ /

^ - j ^ ^ ^ x x UL^ ^ >% % ,». .%.^>

LAY OUT PLAN

&-.

oPcnSRact

Gambar 2.4 Penataan Ruang Luar

Gambar

Gambar 2.1 Peta lokasi
Gambar 2.2 Peta Tapak
Gambar 2.4 Penataan Ruang Luar

Referensi

Dokumen terkait

Untuk itulah konsep dasarnya berpijak pada nilai riil bisa dipraktekkan dalam dunia nyata ( instrummental ) , tidak hanya mencakup masalah ekonomi saja tapi juga

 Basic Magement Development Program (BMDP) dilaksanakan dengan tujuan memberikan pelatihan jabatan paling dasar sebagai prasyarat untuk dapat memperoleh jabatan managerial

daerah penghasil Cukai Hasil Tembakau adalah Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Batang, Kabupaten Blora, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Brebes,

Dengan demikian, Secara ontologis, hubungan ilmu dan agama bersifat integratif- interdependentif, artinya eksistensi (keberadaan) ilmu dan agama saling bergantung satu sama lain.

Hasil analisa pada kondisi tanpa perbaikan pondasi adalah sebagai berikut faktor keamanan terhadap piping 2,113 &lt; 4.Lokasi yang diindikasikan berbahaya terhadap piping adalah

Hasil analisis menunjukkan bahwa WPS yang selalu memakai kondom paling banyak yang mendapat dukungan dari mucikari sedangkan WPS yang tidak menggunakan

Langkah-langkah memperoleh data di lapangan dilakukan dengan: 1) wawancara mendalam kepada beberapa informan yang diambil secara acak dari mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang

Deskripsi Sistem ini memungkinkan aktor untuk masuk ke halaman pemilik toko yang didalamnya ada data user, data karyawan, data supplier, data pembelian, data bahan