PROCEEDING STUDIUM GENERALE 2021 ISBN : 978-632-7583-84-4
TEACHING AND LEARNING IN THE 21 ST CENTURY :
Challenges and Opportunities For Educator 1
REFLEKSI DARI KARAKTER 'NARUTO' MENURUT PANDANGAN TEORI PSIKOANALISA
Muhammad Aldi1, Rudi Haryadi2
1Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari, Kalimantan Selatan, Indonesia
[email protected] [email protected]
ABSTRAK
Artikel ini bertujuan untuk mengulas karakter Naruto berdasarkan Psikoanalisa. Teori dalam menjelaskan kepribadian seseorang ada banyak macamnya dan karakteristiknya. Manusia berlomba-lomba dalam mencoba memecahkan masalah tentang kepribadian manusia, mereka membuat dan mengemukakan berbagai teori-teori sehingga disebutlah pencetus teori. Teori yang terkenal dan cukup lama dalam teori kepribadian adalah Teori Psikoanalisa yang mana pencetusnya adalah Sigmund Freud. Teori psikoanalisa memberikan gambaran tentang kepribadian manusia yang dibagi menjadi id, ego dan superego. Ketiga aspek itu menurut teori ini kunci kehidupan manusia dan perilaku-perilakunya. Lebih lanjut lagi teori ini mengemukakan bahwa manusia yang bermasalah adalah manusia yang tidak terpenuhi masa oral, anal, dan phalik. Demi mempertahankan dirinya agar tidak sakit, maka manusia memiliki sistem pertahanan ego dengan sifat dan karakter yang bermacam-macam.
Kata Kunci: teori; kepribadian; psikoanalisa
ABSTRACT
This articles aims to review There are many kinds of theories in explaining a person's personality and their characteristics. Humans compete in trying to solve problems about human personality, they make and put forward various theories so that they are called the originators of the theory. The theory that is well-known and quite old in personality theory is the Psychoanalytic Theory, the originator of which is Sigmund Freud. Psychoanalytic theory provides a description of the human personality which is divided into the id, ego and superego. According to this theory, these three aspects are the key to human life and behavior. Furthermore, this theory suggests that human beings who have problems are humans who are not fulfilled during the oral, anal, and phallic periods. In order to keep himself from getting sick, humans have an ego defense system with various traits and characters.
Key Word: theory, personality, psychoanalytic
PROCEEDING STUDIUM GENERALE 2021 ISBN : 978-632-7583-84-4
TEACHING AND LEARNING IN THE 21 ST CENTURY :
Challenges and Opportunities For Educator 2
PENDAHULUAN
Kepribadian merupakan salah satu misteri yang tidak bisa diungkapkan secara jelas dan terperinci. Banyak orang yang telah mencoba untuk memaparkan satu demi satu penemuannya tentang kepribadian, akan tetapi masih banyak kekuarangan dan penyanggahan dari teroi baru yang lebih aktual dan kredibel. Contoh dari teori kepribadian adalah Teori Psikonalisis dengan tokoh pencetus Sigmund Freud (6 Mei 1856-23 September 1939) yang merupakan seorang Austria keturunan Yahudi (Ja’far, 2015). Freud mengungkapkan teori yang memberikan gembaran tentang apa yang membentuk perilaku manusia berasal dari dalam diri individu yang mana dia sebut dengan id, ego dan superego.
Id merupakan sumber dari semua energi yang memberikan arahan/dukungan biologis untuk tejadinya sebuah perilaku. Id dalam pandangan Freud merupakan sebuah kekuatan biologis yang tak memiliki akal yanga mana kehendak (id) hanyalah berasal dari kehendak liar tanpa peduli risiko atau dampak dari apa yang dia inginkan. Keinginan id hanyalah keinginannya selalu terpenuhi dalam perilaku sehari hari. Ego merupakan aspek psikologis yang mana aspek ini berkaitan dengan kenyataan atau perilaku eksternal sedangkan superego merupakan aspek sosilogis yang mana keinginan atau kehendaknya berkaitan erat dengan hubungan kemanusiaan, norma, agama, hukum dan sebagainya (Sumadi, 2020).
Fase perkembangan pada teori Freud adalah, fase oral (0-1 tahun), fase anal (1-3 tahun), fase phalik (3-5 tahun), fase latent (5-13 tahun), fase pubertas (12-20), fase genital/dewasa (18 tahun keatas) (Sumadi, 2020). Jika pada masa awal itu terjadi kesalahan atau tidak terpenuhi, Freud mengklaim bahwa individu tersebut akan memiliki masalah dikedepannya atau jika individu mengalami permasalahan disaat ini, kemungkinan individu tersebut mengalami kegagalan, tidak terpenuhi atau tercukupinya 3 fase tahap awalnya (fase oral, anal, latent) (Bertens, 2016).
Hakikat manusia dalam pandangan Psikoanalsis yaitu manusia memiliki, a). dorongan biologis, yang mana manusia dalam bertindak dipengaruhi keinginan manusiawinya sebagai makhluk hidup, b). kekuatan irasional, Freud mengemukakan bahwa manusia tidak bertindak dengan sendirinya, dia menekankan bahwa manusia dipengaruhi oleh kekuatan yang tidak bisa dijelaskan oleh akal yaitu Tuhan, c). motivasi tak sadar, manusia seringkali mengingkan sesuatu atau berbuat sesuatu diakibatkan oleh keinginan alam bawah sadarnya, seringkali terjadi begitu saja disebabkan oleh motivasi tak sadar tersebut, d). insting, manusia memiliki insting-insting yang mana insting tersebut dibagi menjadi dua yaitu 1. Insting mati dan 2. Insting hidup, biasanya insting hiduplah yang membuat manusia terus berkeinginan survive dan merasa nyaman dengan hidup ini dan sedangkan insting mati merupakan keputusasaan oleh manusia.
PEMBAHASAN
Teori Psikoanalisa yang dikemukakan oleh Sigmund Freud mengemukakan bahwa permasalahan yang dialami seseorang saat ini, khususnya masalah kepribadian atau mentalnya disebabkan oleh tidak terpenuhinya 3 fase tahap awal pertumbuhan yaitu, fase oral, anal, latent, yang mana kekurangan hal tersebut dapat menyebabkan id, ego dan superego individu tidak sinkron yang menimbulkan perilaku salah suai (Hall, 2019). Mereka yang memiliki perilaku salah suai ini kadang-kadang tidak merasa bahwa perilaku/perbuatan mereka itu salah dimata sosial, sehingga menjadikan sebagian individu yang mengalami perilaku salah suai langsung dicap negatif dan dikucilkan. Seperti film/kartun/anime yang umumnya kita ketahui bersama yaitu tokoh Naruto yang memiliki perilaku salah suai nakal, bebal, suka tidur dikelas dan perilaku negatif lainnya.
Dalam film tersebut orang seperti tokoh Naruto itu memiliki landasan atau mekanisme pertahanan ego didalam dirinya mengapa dia melakukan hal/perilaku yang salah suai tersebut.
Misalnya, dia merupakan seorang yatim piatu yang mana orang tuanya meninggal saat kecil dan dia diasuh oleh seorang yang sibuk (memiliki pekerjaan), sehingga individu tersebut kurang
PROCEEDING STUDIUM GENERALE 2021 ISBN : 978-632-7583-84-4
TEACHING AND LEARNING IN THE 21 ST CENTURY :
Challenges and Opportunities For Educator 3
begitu terawat dalam diluar (jasmaniah) dan mental (rohaniah/kasih sayang dari orang terdekat) menimbulkan orang tersebut memiliki sikap yang nakal, bebal dan selalu menyusahkan orang lain, ditinjau dari teori Freud tentang insting maka perilaku orang seperti Naruto itu disebabkan inginnya dirinya diperhatikan atau dianggap orang lain (Alwisol, 2009), dikarenakan dirinya tidak memiliki bakat (pintar), maka dirinya dalam berbuat untuk diperhatikan tidak bisa menggunakan presetasi, oleh sebab itu individu seperti itu hanya menggunakan perilaku salah suai (nakal) berharap agar ada orang yang memperhatikan dirinya, menasehati dirinya bahkan dimarahi orang pun tidak masalah karena tujuannya hanya untuk bersosialisasi meskipun dengan cara yang salah. Didalam film tersebut aspek sosilogisnya Naruto bisa di berikan tabel berikut, analisis ini bisa kita gunakan untuk menganalisis perilaku manusia yang mungkin latar belakangnya sama dengan Naruto.
Tabel 1. Keinginan untuk Diperhatikan
Keinginan Perilaku Hasil yang Didapatkan
Diperhatikan Merusak, mencoret fasilitas umum Dimarahi
Makan Mencuri, menipu Dimarahi
Berteman Mengejek, berkelahi Tak dapat teman
Keterangan: keinginan individu, perilaku salah suai, hasil negatif yang didapatkan
Didalam tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam keinginan untuk bersosialisasi tepai menggunakan perilaku yang salah suai untuk mendapatkannya adalah hal yang buruk, sebab individu akan mendapatkan dampak negatif yang mana menimbulkan perilaku salah suai tersebut bertambah buruk dan masyarakat sudah tidak menganggapnya lagi. Pada permasalahan manusia seperti yang di alami Naruto yang yatim-piatu sejak lahir sudah dipastikan dalam teori Freud ini fase awal perkembangannya terganggu, dan yang mengasuhpun merupakan orang yang sibuk, dalam anime tersebut pengasuhnya adalah Hiruzen yang mana dia merupakan seorang Hokage, atau jika diletakkan didunia nyata maka pengasuhnya adalah orang yang penting (sibuk). Permasalahannya berkelanjutan apabila pengasuh sudah tidak ingin atau melepas tanggung jawab sehingga individu tadi hidup sendiri. Seperti yang dialami Naruto bahwa dirinya sekitar 6 tahun sudah hidup sendiri tetapi uang masih diberikan oleh pengasuhnya, hal ini dapat menyebabkan kehidupan individu semakin terpuruk, pada masa- masa itu keinginannya untuk berteman sangat tinggi tetapi tidak ada atau sedikit sekali yang mau berteman dengannya. kaitannya dengan 3 fase awal tersebut adalah, Naruto sampai masa latentnya tidak terpenuhi jadi wajar saja banyak perilakunya menjadi salah suai.
Terapi psikoanalisa dalam mengentaskan masalah memiliki tujuan berikut, a). membantu konseli agar lebih menyadari aspek-aspek tak sadar untuk menghadapi hal terkini yang mungkin menyebabkan perilakunya menjadi salah suai, b). membantu konseli untuk memenuhi fase perkembangan yang tidak terpenuhi/terpecahkan, c). membantu konseli untuk memenuhi tuntutan sosial, d.) menarik konseli dari tekanan dan motivasi tak sadar yang membuat perilakunya tidak sesuai dengan akal sehat. Tahapan konseling Psikoanalisa adalah a.) pembukaan, b.) pengembangan transferensi, c.) bekerja dengan transferensi, d.) resolusi transferensi. Dalam terapinya, Psikoanalisis memiliki teknik spesifik yaitu, a.) asosiasi bebas, b.) analisa mimpi, c.) analisa transferensi, d.) analisa resistensi, e.) interpretasi.
Jika kita melakukan metode terapi menggunakan model konseling Psikoanalisa kepada individu yang seperti Naruto maka, yang pertama, haruslah konseli terbuka dan memberikan pendapatnya tentang kehidupan, masyarakat, perilaku dirinya dan alasan mengapa dia melakukan perilaku yang salah suai, hal ini bisa memakai analisa mimpi agar alam bawah sadar konseli bisa dianalisis. Kedua, jika sudah didapatkan permasalahannya atau dimasa mana dia tidak terpenuhi (fase oral, anal, phalik) maka dilakukan transferensi yaitu sebagai orang terdekatnya seperti ayah atau ibu, seperti yang di alami Naruto ini dia tidak memiliki kasih
PROCEEDING STUDIUM GENERALE 2021 ISBN : 978-632-7583-84-4
TEACHING AND LEARNING IN THE 21 ST CENTURY :
Challenges and Opportunities For Educator 4
sayang oleh kedua orang tuanya jadi konselor dapat melakukan tranferensi sesuai gender (laki- laki=ayah, perempuan=ibu) jika mampu bisa melakukan keduanya dengan syarat transferensi yang pertama sudah selesai. Dalam transferensi, konselor harus senatural mungkin dalam memerankan tokoh yang diharapkan konselor, dalam model ini konselor dituntut untuk profesional, dan totalitas melaksanakan tranferensi, inilah sebab model konseling ini tidak begitu dipakai atau diberikan kritikan karena hal ini sangat tabu bila lawan jenis yang sudah dewasa melalukan ini, bisa saja timbul perasaan atau hal-hal yang tidak di inginkan, dan dari segi budaya dan agama khususnya Indonesia transferensi ini sangat sulit dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Apabila konseli dirasa sudah sembuh, terpenenuhi fase awalnya yang merupakan nilai positif dari transferensi maka sesi konseling dapat disudahi. Hal ini terjadi apabila konseli sudah memunculkan efek-efek positif, mengurangi perilaku salah suai atau bahkan perilaku negatifnya sudah hilang, atau memang konseli sudah mengaku konseling yang dilakukan terhadap dirinya berhasil.
Gambar 1. Naruto Setelah Mengecat Patung Hokage
PENUTUP Simpulan
Psikoanalisa merupakan gagasan teori yang dikemukakan oleh Sigmund Freud dengan mencoba menelaah dan menyimpulkan prespektif kepribadian dan hal-hal yang menyangkut dalam kesehatan mental. Id, ego dan superego merupakan sebuah kesatuan dalam tiap-tiap individu, yang mana ketiga aspek ini menjadi ciri khas manusia sebagai makhluk hidup dan makhluk sosial. Pada dasarnya manusia memiliki tahap-tahap pekerbangan apabila diklasifikasikan, yaitu tahan oral, anal, falis, latent dan genital. Dalam mengidentifikasi permasalahan dan perilaku manusia yang memiliki sifat dan perilaku seperti Naruto dapat dipandang dalam masa lalunya, setelah itu dapat diidentifikasi dimana tahap perkembangan awalnya tidak terpenuhi (oral, anal, phalik). Apabila sudah ditentukan maka berilah kesimpulan, dan kesimpulannya akan merujuk kepada sistem pertahanan ego yang menyangkut kembali kepada 3 aspek manusia (id, ego, superego) yang bermasalah.
Saran
Dalam mengidentifikasi permasalahan atau perilaku manusia tidak serta merta menyalahkan perilaku yang salah suai/tidak sesuai dengan tuntutan masyarakat. Kita seharusnya menilai seseorang melihat dari masa lalunya jika kita memakai prespektif Psikoanalsis, dikarenakan mungkin dari fase-fase perkembangannya kurang memumpuni/terpenuhi sehingga tidak bisa disalahkan seseorang menjadi berperilaku salah suai. Orang tua dan orang terdekat merupakan poin penting tentang terpenuhinya masa-masa perkembangan tesebebut. Kesimpulannya setiap individu berpotensi ingin berubah dan dapat diubah.
PROCEEDING STUDIUM GENERALE 2021 ISBN : 978-632-7583-84-4
TEACHING AND LEARNING IN THE 21 ST CENTURY :
Challenges and Opportunities For Educator 5
REFERENSI
Alwisol. (2014). Psikologi Kepribadian. Malang: UMM press.
Suryabrata, Sumadi. (2020). Psikologi Kepribadian. Depok: PT Raja Grafindo Persada.
Ja’far, H. 2015. Struktur Kepribadian Manusia Perspektif Psikologi dan Filsafat. Psymathic:
Jurnal Imiah Psikologi, 2(2), 209—221.
Bertens, K. 2016. Psikoanalisis Sigmund Freud. Jakarta: Gramedia.
Hall, Calvin S. (2019). Psikologi Freud. Yogyakarta: IRCiSoD.