• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI PEMASARAN ANYAMAN TIKAR BERBAHAN BAKU DAUN LONTAR DI DESA LENTENG BARAT KEC. LENTENG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "STRATEGI PEMASARAN ANYAMAN TIKAR BERBAHAN BAKU DAUN LONTAR DI DESA LENTENG BARAT KEC. LENTENG"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

53 STRATEGI PEMASARAN ANYAMAN TIKAR BERBAHAN BAKU DAUN

LONTAR DI DESA LENTENG BARAT KEC. LENTENG

Hajara Syafiqur Rahmanb, Ahmad Mahfudzc, Moh. Rifqid

a Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Jl. Bukit Lancaran Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, [email protected]

b Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Jl. Bukit Lancaran Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, [email protected]

c Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Jl. Bukit Lancaran Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep,[email protected]

d Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Jl. Bukit Lancaran Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep,[email protected]

Abstract

The lack of strategy in marketing woven mats made from palm leaf in West Lenteng Village is the cause of the decline in sales of woven mats made from lontar leaves.

This research uses qualitative research with a descriptive approach. This type of research is field research, i.e. jumping directly into the research site. The location and time of the study took place in the western village began on September 3, 2021 which was sourced from primary data and Skunder Data. Data collection techniques are by observation, interview and documentation methods. Data analysis uses the miles and huberman model with three stages, namely data reduction, data presentation and conclusion.Marketing strategies used in woven mat marketing in West Lenteng Village use 4P: Products, Promotions, Prices and Locations The marketing of products carried out by mat craftsmen includes: a) the type of product in the form of woven mats made from lontar leaves. b) product development through a tighter and neater mat form that distinguishes with the production of other mats. c) Good mat quality prepared by the mat craftsmen selected by selection in order to produce a good mat. Marketing strategies against prices set by mat craftsmen are: a) Factors that affect the pricing of mat webbing are economic conditions, natural conditions, competition and costs. b) The purpose of pricing is optimization of increased operating profit. Marketing strategies to distributors carried out by woven mat craftsmen are: a) Direct distribution (where artisans woven mat-consumers) b) Indirect distribution, 1. Artisan-retailer- consumer 2. Artisan-agent-consumer 3. Artisan-agents-retailer-consumer.

Marketing strategy for promotion carried out by mat craftsmen in the village of west lenteng is publicity relations: a). cooperation with the community b). Fellow craftsmen woven mat c). Person to person. This mat woven strategy prioritizes quality lontar leaf raw materials so as to produce strong and durable goods. And the different way of making it becomes a characteristic of woven from West Lenteng Village. The obstacles faced from the mat woven marketing strategy is that a place very far from the highway makes it difficult for consumers to reach it and only reach by collectors. The second obstacle is that marketing using publicity is the cause of weak introduction to public affairs.

Keywords: Marketing Strategy, Woven Mats, Environment

(2)

54 PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara yang memiliki budaya yang sangat beranekaragam.

Kebudayaan yang timbul merupakan kebudayaan yang diturunkan secara turun temurun, yang dapat dikatakan sebagai kearifan lokal. Kebudayaan yang terdapat di Indonesia memiliki karakter yang berbeda sesuai adat dan aturan yang berlaku di masyarakat. Salah satu tradisi budaya yang telah berkembang secara turun temurun yaitu adalah kerajinan anyaman. Anyaman adalah tenunan yang dibuat dari susunan benang, bilah, daun pandan,daun lontar dan sebagainya. Dengan tindih menindih, silang menyilang atau dipersilangkan miring dari kiri ke kanan dan kembali begitu seterusnya sehingga didapat hasil anyaman. Kerajinan anyaman merupakan kerajinan tradisional yang masih ditekuni sampai saat ini. Disamping banyak kegunaannya juga karena unsuru kemudahannya. Saat ini anyaman banyak mengalami perkembangan mulai dari bentuk dan notif yang sangat bervariasi sehingga bentuk dan motif tidak kelihatan monoton. Dengan demikian maka anyaman adalah suatu kegiatan keterampilan masyarakat dalam pembuatan barang dengan cara teknik susup menyusup, tindih menindih dan saling lipat melipat antara lungsing dan pakan sehingga saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya (Yessy Friskilla 2018).

Kabupaten Sumenep merupakan kabupaten paling timur di Pulau Madura. Sumenep sejak dulu terkenal sebagai daerah yang kaya akan keragaman seni budaya tradisional, hal ini dibuktikan dengan adanya kerajaan sumenep yang sampai saat ini masih ada berupa keraton Sumenep yang saat ini dijadikan destinasi wisata serta peninggalan sejarah lainnya. Selain keraton kekayaan Sumenep juga berupa kerajinan ukiran, anyaman, mebel merupakan khas sumenep. Kekayaan kebudayaan ini merupakan anugerah yang diwariskan nenek moyang scara turun temurun yang membuat kabupaten ini memiliki ciri khas, yang membedakan dengan daerah lain (Sudibyo 2020).

Diantara kerajinan yang ada di kabupaten Sumenep ialah anyaman tikar yang tersebar di beberapa Kecamatan yang ada. Anyaman tikar merupakan salah satu bentuk kerajnan yang tetap dijalankan dengan beberapa tujuan diantaranya untuk tetap mempertahankan warisan-warisan nenek moyang namun lebih daripada itu anyaman tikar dibuat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari mereka. Salah satu pengrajin anyaman tikar yang tetap eksis di Kabupaten Sumenep ialah di Desa Lenteng Barat Kecamatan Lenteng,

(3)

55 Kabupaten Sumenep. Anyaman tikar yang ada di Desa Lenteng Barat ini dibuat oleh pengrajin yang bahan dasarnya ialah daun Lontar sebagai bahan utama pembuatan tikar.

Letak geografis yang sangat bagus di Desa ini menyebabkan daun lontar tumbuh subur dan tidak pernah kekurangan stock, apalagi di Musim kemarau ini yang mayoritas para petani tembakau banyak membutuhkan tikar sebagai bungkus tembakau yang sudah dikeringkan. Pengrajin anyaman tikar banyak ditemukan hampir di setiap rumah. Dalam musim kemarau ini setiap hari para pengepul silih berganti berdatangan mendatangi para pengrajin anyaman tikar berbahan daun lontar dengan harga yang murah, yang kemudian oleh para pengepul tikar tersebut dijual kembali dengan harga tinggi. Namun jauh daripada itu, terdapat kendala penjualan tikar diantaranya ialah hanya dapat dijangkau dan dibeli oleh para pengepul saja, sangat minim orang biasa (non pengepul) untuk membeli langsung ke tempat pengrajin tikar tersebut. dengan kata lain, orang yang membutuhkan tikar banyak langsung menghubungi pengepul daripada pengrajin itu sendiri, sehingga perlu kiranya adanya strategi pemasaran tikar yang lebih efektif untuk menjangkau kepada masyarakat. Sehingga masyarakat bisa langsung mendatangi pengrajin tikar itu sendiri. Maka dari itu, peneliti tertarik untuk meneliti dari sudut pandang Strategi pemasaran anyaman tikar yang berbahan baku daun lontar di Desa Lenteng Barat.

KAJIAN TEORI

Judul penelitian yang akan saya teliti, sebelumnya sudah ada peneliti terdahulu yang sudah membahas tentang strategi pemasaran, akan tetapi didalam penelitian tersebut tidak membahas apa semua yang tertuang didalam proposal ini, karena banyak terdapat perbedaan kajian. Adapun judul sebelumnya seperti tabel di bawah ini:

Menurut (Hastuti 2017) Kegiatan pemasaran merupakan usaha yang sangat penting untuk mendorong produksi. Semakin lancar pemasaran suatu barang maka akan meningkatkan produksi suatu barang sebab permintaan akan terus meningkat

Menurut (Winarsih 2017) Pengelohan bahan baku menjadi barang atau produk jadi yang siap dipasarkan kepada konsumen. Untuk memasarkan produknya, maka perusahaan mempunyai strategi yang tangguh dan handal dalam menghadapi pesaing.

Menurut (Ledy 2018) Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bauran pemasaran yang di terapkan pada Agro Industri Kopi Bubuk Cap Intan adalah produk yang

(4)

56 berkualitas baik, harga bersaing, lokasi penjualan strategis, kegitan promosi yang diterapkan adalah dengan cara penjualan tatap muka

Kajian terdahulu dicantumkan penulis sebanyak 3 peneliti (lebih dari satu) disebabkan agar dapat dibedakan serta menjadi bahan pembeda antara penelitian yang dilakukan oleh penulis dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya. Adapun judul penelitian ini yaitu: “Strategi Pemasaran Anyaman Tikar Berbahan Baku Daun Lontar”.

Dalam hal ini persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu meneliti tentang Strategi Pemasaran yang merupakan subjek penelitian. Dan adapun perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu:

1. Penelitian Hastusti melakukan penelitian terhadap Kerajinan Enceng Gondok (Studi Kasus Pada Industri Rumah Tangga di Desa Tegaron Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. sedangkan penelitian yang kami lakukan adalah Meneliti Tentang Strategi Pemasaran Anyaman Tikar Berbahan Baku Daun Lontar. Untuk lokasi tempat penelitian yang dilakukan Hastuti di Kerajinan Enceng Gondok (Studi Kasus Pada Industri Rumah Tangga di Desa Tegaron Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang.Sedangkan lokasi penelitian yang kami lakukan di Strategi Anyaman Tikar Berbahan Baku Daun Lontar Desa Lenteng Barat, Kec. Lenteng, Kab. Sumenep.

2. Penelitian Winarsih melakukan penelitian terhadap Strategi pemasaran Ekspor Furniture (Studi Kasus pada PT. Amalia Surya Cemerlang Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah). Sedangkan penelitian yang kami lakukan adalah Meneliti Tentang Strategi Pemasaran Anyaman Tikar Berbahan Baku Daun Lontar. Adapun untuk lokasi penelitian yang dilakukan oleh Winarsih di Ekspor Furniture (Studi Kasus pada PT. Amalia Surya Cemerlang Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah). Sedangkan lokasi penelitian yang kami lakukan di Strategi Anyaman Tikar Berbahan Baku Daun Lontar Desa Lenteng Barat, Kec.

Lenteng, Kab. Sumenep.

3. Penelitian Dilla Sefa Ledy melakukan penelitian terhadap Analisis Bauran Pemasaran (Marketing Mix) dan Strategi Pengembangan Pada Agro Industri Kopi Bubuk Cap Intan di Kota Bandar Lampung. Sedangkan penelitian yang kami lakukan iniTentang Strategi Pemasaran Anyaman Tikar Berbahan Baku Daun Lontar. Adapaun lokasi penelitian yang di lakukan Dilla Sefa Ledy di

(5)

57 Agro Industri Kopi Bubuk Cap Intan di Kota Bandar Lampung. Sedangkan lokasi penelitian yang kami lakukan di Strategi Anyaman Tikar Berbahan Baku Daun Lontar Desa Lenteng Barat, Kec. Lenteng, Kab. Sumenep.

Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa penelitian terdahulu tidak adanya kesamaan baik dalam hal objek penelitian serta lokasi penelitian dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis, dengan kata lain terdapat adanya perbedaan dari penelitian ini dengan penelitian sebelumnya atau penelitian terdahulu seperti yang dijelaskan diatas.

KERANGKA TEORITIK

Strategi berasal dati kata Yunani yaitu strategis (stratis : militer, agia:

memimpin). Istilah strategi digunakan untuk memenangkan peperangan.Oleh karena itu, tidak heran jika istilah strategi sering sekali digunakan dalam kancah peperangan.Strategi juga memberikan rencana besar dan rencana penting untuk mencapai suatu tujuan (Malia 2019).

Strategi merupakan rencana jangka panjang yang terdiri atas aktivitasaktivitas penting yang diperlukan untuk mencapai kinerja dan memuaskan sesuai dengan target perusahaan, strategi merupakan cara yang dibuat oleh perusahaan untuk mencapai suatu tujuan yang sudah ditentukan. Strategi sangat penting bagi perusahaan karena dengan adanya strategi yang telah direncanakan akan mudah untuk mencapai suatusasaran (Mursid 2005).

Menurut Kenneth R. Andrew menyatakan bahwa strategi perusahaan adalah pola keputusan dalam perusahaan yang menentukan dan mengungkapkan sasaran, maksud, dan tujuan yang menghasilkan kebijaksanaan utama dan merencanakan untuk pencapaian tujuan serta merinci jangkauan bisnis yang akan di kejar oleh perusahaan.

Jadi strategi adalah penetapan rencana atau arah keseluruhan dari bisnis. Setiap perusahaan memiliki visi dan misi dalam mencapai target dari perusahaan tersebut, strategi ini lah yang mengembangkan cara untuk mencapai dari visi, misi yang telah dibuat perusahaan tersebut.

Istilah pemasaran muncul pertama kali sejak kemumculan istilah barter. Proses pemasaran dimulai sebelum barang-barang diproduksi dan tidak berakhir dengan penjualan (Kotler 2002). Menurut Kotler, Pemasaran adalah suatu proses sosial dan

(6)

58 manajerial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran, dan pertukaran (exchange) (Sutanto 2003).

Kegiatan pemasaran selalu ada pada setiap usaha yang berorientasi pada profit dan maupun sosial, hanya saja banyak masyarakat yang belum tahu ataupun belum mengerti dalam ilmu pemasaran. Hal ini terjadi karena pelaku pemasaran belum pernah mendengar kata-kata pemasaran dan tidak mengetahui arti pemasaran itu sendiri .Kejadian seperti ini lah yang banyak terjadi di kehidupan masyarakat (Kasmir 2011).

Beberapa ahli memberikan bermacam-macam defenisi tentang pemasaran, antara lain (Mursid 2005) :

1. Philip dan Duncan, pemasaran meliputi semua langkah yang digunakan atau dipergunakan untuk menempatkan barang-barang nyata ke tangan konsumen.

2. W.J. Stanto, pemasaran meliputi keseluruhan sistem yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan usaha, yang bertujuan merencanakanmenentukan harga, hingga mempromosikan, dan mendistribusikan barang-barang atau jasa yang akan memuaskan kebutuhan pembeli, baik yang aktual ataupun yang potensial.

3. American Marketing Association, pemasaran meliputi segala kegiatan mengenai penyaluran niaga yang diarahkan pada arus aliran barang dan jasa dari produsen kekonsumen.

4. P.H. Nystrom, pemasaran meliputi segala kegiatan mengenai penyaluran barang atau jasa dari tangan produsen ke tangan konsumen.

5. Philip Kotler, pemasaran adalah proses sosial dan manajerial yang seseorang atau kelompok lakukan dan memperoleh yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan dan pertukaran produk dan nilai (Sutanto 2003).

Menurut (Sutanto 2003) konsep bauran pemasaran sangat diperlukan pada setiap perusahaan dalam mengelola kegiatan pemasarannya yang bertujuan untuk menjangkau pasar sasaran. Ada beberapa strategi tersendiri dalam melakukan pemasaran, yaitu:

1. Produk : Produk adalah sekumpulan nilai kepuasan yang kompleks Nilai sebuah produk ditetapkan oleh pembeli berdasarkan manfaat yang akan mereka terima dari produk tersebut. Misalnya dengan melihat variasi produk, kualitas, desain, kemasan, ukuran, dan lain-lain.

(7)

59 2. Harga : Penetapan harga dipertimbangkan dengan baik karena harga menentukan pendapatan suatu usaha/bisnis. Harga yang tidak tepat akan berakibat tidak menariknya para pembeli untuk membeli barang tersebut.

Beberapa dasar penetapan harga seperti biaya, konsumen dan persaingan sangat berpengaruh terhadap keputusan dalam menentukan harga.Jadi, untuk menentukan harga harus sesuai dengan strategi secara keseluruhan.

3. Lokasi : Lokasi merupakan saluran pemasaran, cakupan pasar, pengelompokan, lokasi, persediaan, dan transportasi, dimana dengan letak / posisi tempat yang strategis dan baik akan banyak menunjang keberhasilan proses menjual.

4. Promosi : Promosi merupakan salah satu faktor paling penentu keberhasilan suatu program pemasaran. Menurut alma, promosi adalah suatu bentuk komunikasi pemasaran yang merupakan aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi/membujuk dan/atau mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli dan loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan. Promosi mencakup promosi penjualan, periklanan, personal selling, sales promotion, word of mouth dan publicity.

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian ini merupakan penilitian yang bersifat kualitatif dengan menggunakan teknik pendekatan deskriptif. Pendekatan deskriptif adalah menganalisis, menggambarkan, dan meringkas berbagai kondisi, situasi dari berbagai data yang dikumpulkan berupa hasil wawacara atau pengamatan mengenai masalah yang diteliti yang terjadi dilapangan (Afrizal 2016).

Menurut bogdan dan taylor, metode kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis dan prilaku yang dapat di amati (Meleong 2002) Jenis penelitiannya adalah penelitian lapangan ( field research ), yaitu terjun langsung ke tempat penelitian

Lokasi Dan Waktu Penelitian bertempat di desa lenteng barat yang beralamat di Jl. Raya Ganding, Monyet II, Lenteng barat, kecamatan lenteng, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Dimulai pada tanggal o3 september 2021. Penelitian ini dilakukan secara langsung dengan mengumpulkan data penelitian yang bersumber dari data primer dan

(8)

60 sekunder, yaitu dari pemilik pengrajin anyaman tikar dan wawacara dengan pekerja anyaman tikar.

Teknik pengumpulan data yaitu dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Metode Wawancara atau interview merupakan cara yang digunakan untuk memperoleh keterangan secara lisan guna mencapai tujuan tertentu.

Penelitian ini dilakukan dengan cara tanya jawab secara tatap muka antara peneliti sebagai pewawancara dengan atau tidak menggunakan pedoman wawancara dengan subjek yang diteliti. Pewawancara yaitu penliti yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai adalah pengrajin anyaman tikar. Metode ini digunakan untuk melengkapi data-data yang diperoleh dari metode observasi. Metode Observasi adalah teknik pengumpulan data dimana peneliti mengadakan pengamatan secara langsung atau tanpa alat terhadap gejala gejala subjek yang diselidiki baik pengamatan itu dilakukan di dalam situasi sebenarnya maupun dilakukan dalam situasi buatan, yang khusus diadakan (Anshof 1998). Observasi dilakukan dengan mengamati kegiatan-kegiatan yang berlangsung atau yang dilakuan di tempat pengrajin anyaman tikar. Kegiatan yang di observasi di tempat pengrajin anyaman tikar adalah konsumen yang melakukan pembelin tikar dan karyawan yang melayanikonsumen tersebut.Metode Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan kategori dan klarifikasi bahan- bahan tertulis yang berhubungan dengan masalah penelitian, baik dari sumber dokumen maupun buku-buku, jurnal dan lain lain yang berkaitan dengan penelitian ini.

Menurut Bogdan dalam sugiyono analisis data yaitu mencari dan menyusun secara sistematik data yang diproleh dari hasil wawancara, cacatan lapangan dan bahan lainnya. Sehingga dapat mudah mudah dipahami dan temuannya dapat di informasikan kepada orang lain (Sugiyono 2013)

Analisis data yang digunakan yaitu Analisis model miles and huberman dengan tiga tahapan yaitu reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Mengenai tahapan tersebut secara lebih lengkapnya sebagai berikut (Huberman 1992).

1. Reduksi Data

Reduksi Data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data yang muncul dari catatan tertulis dilapangan. Reduksi data terus menerus berlangsung selama proyek yang

(9)

61 berorentasi penelitian kualitatif berlangsung sampai laporan akhir lengkap tersusun.

Reduksi data merupakan bagian dari bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data dengan sedemikian rupa sehingga dapat ditarik dan diverifikasi atau kesimpulan akhir. Data kualitatif dapat di sederhanakan dan ditransformasikan dalam aneka macam cara , yakni: Melalui seleksi yang ketat, melalui ringkasan atau uraian singkat, menggolongkannya dalam satu pola yang lebih luas, dan lain sebagainya.

2. Penyajian Data

Miles dan huberman membatasi suatu penyajian sebagai sekumpulan informasi yang tersusun dan dapat memberikan kesimpulan dalam pengambilan tindakan.

Mereka meyakini bahwa penyajian yang baik merupakan suatu cara yang paling utama untuk analisis kualitatif yang valid, yaitu meliputi: Berbagai jenis matrik, grafik, jaringan dan bagan. Semuanya dirancang guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang padu dan mudah dipahami.

Dengan demikian seorang penganalisis dapat melihat apa yang sedang terjadi, dan menentukan apakah menarik kesimpulan yang benar ataukah terus melangkah melakukan analisis yang menurut saran yang dikisahkan oleh penyajian sebagai suatu yang dimungkinkan berguna.

3. Menarik Kesimpulan

Menurut Miles dan huberman penarikan kesimpulan hanyalah sebagian dari suatu kegiatan dari konfigurasi yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung. Verifikasi itu sendiri sesingkat pemikiran yang melintas dalam fikiran peneliti selama ia meneliti, suatu tinjauan ulang pada catatan lapangan, atau peninjauan kembali dengan cara tukar fikiran diantara teman sejawat untuk mengembangkan kesepakatan intersubjaktif.

Kesimpulan akhir tidak hanya terjadi pada waktu proses pengumpulan data saja, akan tetapi perlu diverifikasi agar benar-benar dapat pertanggung jawabkan.

(10)

62 Pengumpulan

Data

Penyajian Data

Verifikasi/

penarikan kesimpulan Redaksi Data

Proses analisis data menggunakan model analisis data interaktif miles dan huberman dengan skema sebagai berikut:

HASIL DAN PEMBAHASAN

Strategi pemasaran merupakan inti pokok banyak tidaknya penjualan dari sebuah produk termasuk anyaman tikar yang ada di Desa Lenteng Barat Kecamatan Lenteng. Jika strategi pemasarannya bagus maka semakin banyak pula konsumen atau pengepul untuk membelinya.

Karena pada umumnya, strategi pemasaran dibagi menjadi 2 yaitu, (1) strategi kebutuhan Primer, yaitu strategi-strategi pemasaran untuk merancang kebutuhan primer dengan cara menambah jumlah pemakai, meningkatkan jumlah pembeli (Yuliani 2012). (2) strategi kebutuhan selektif yaitu dengan cara mempertahankan pelanggan atau menjaring pelanggan yang baru.

Masyarakat Desa Lenteng Barat dalam memasarkan anyaman tikarnya masih terkesan sangat primitif artinya masih people to people (orang ke orang) kemudian desain pembuatan tikar masih tetap dengan modifikasi pembuatan yang sudah berjalan. Jadi, sangat sulit konsumen untuk membeli langsung tikar ke pengrajin itu sendiri terkecuali pengepul yang hampir bahkan setiap hari mendatanginya untuk dijual kembali kepada orang yang membutuhkannya dengan patokan harga yang lebih mahal daripada harga biasanya. Cara memasarkan anyaman tikar bisa dikatakan masih kurang efektif, dengan proses people to people (orang ke orang) belum bisa dikenal langsung oleh halayak umum dan juga menjdi penghabat kemajuan pemasaran anyaman tikar.

(11)

63 Memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen adalah inti dari pemasaran sasaran dari setiap usaha adalah menghantarkan nilai pelanggan untuk menghasilkan laba (Yuliani 2012).

Di desa Lenteng Barat dalam situasi ekonomi yang sangat kompetitif, dengan semakin banyaknya pembeli yang rasional yang dihadapkan dengan segudang pilihan, utamanya anyaman tikar berbahan daun lontar,maka setiap pengrajin dituntut untuk mampu memasarkan dengan baik dan dituntut agar setiap pembuatan anyaman tikar mempunyai nilai tawar dan ciri khas kepada setiap pelanggan yang membutuhkannya sehingga pembelian dan penjuala tetap berjalan.

Nilai tawar yang ditonjolkan dalam anyaman tikar di desa Lenteng Barat ini ialah barangnya (daun lontar) yang berkualitas, dengan barang yang berkualitas dapat membuat tikar lebih tahan lama. cara pembuatannya terlebih pada “anggi’en”

(baca: anyaman) yang menurut pengrajin sangat berbeda dengan tikar di luar kecamatan Lenteng Barat, anyaman yang baik akan membuat tikar lebih kuat dan bagus, sehingga dengan ciri khas inilah sampai saat ini sangat banyak para pengepul membeli tikar di Desa Lenteng Barat ini.

Strategi pemasaran anyaman tikar di desa Lenteng Barat Kecamatan Lenteng ini menggunakan pendekatan konsep 4 P, yaitu: Product, Price, Place, Promotion.

1. Produk (Product)

Pada proses ini, para pengrajin tikar desa lenteng barat melakukan strategi sebagai berikut :

a. Jenis produk

Jenis produk yang dipasarkan ialah anyaman tikar berbahan baku daun lontar yang dijual dan dipasarkan sebagai alas duduk dan sebagai alat pembungkus tembakau.

b. Pengembangan produk

Untuk menjaga dan menghadapi persaingan industri yang semakin ketat antar penganyam tikar yang ada di daerah lainnya, maka para penganyam tikar berbahan baku daun lontar yang berada di desa lenteng barat berusaha menjaga dan mengembangkan produknya melalui hal-hal berikut :

1) Bentuk tikar

(12)

64 Bentuk anyaman tikar berbahan baku daun lontar ini mengacu pada model anyaman yang lebih ketat dan rapi, ukurannya pun bisa dikatan cukup memuaskan yaitu dengan panjang 3 meter, lebar 1,40 meter. Beratnya 3,5 kilo. Sedangkan tikar yang berada di luar desa lenteng beratnya hanya 2,5 kilo. Karena itu banyak para petani tertarik untuk mengambil tikar di desa lenteng sebagai wadah tembakau yang sudah dikeringkan.

hal inlah yang menjadi ciri khas anyaman tikar di desa lenteng barat dan pembeda dengan anyaman tikar yang berada di desa lainnya.

2) Kualitas tikar

Hah-hal yang disiapkan oleh para pegrajin tikar dalam menjaga kualitas produknya ialah dengan menjamin kekuatan dan keawetan tikar dengan meggunakan bahan daun lontar yang dipilih secara seleksi lalu dikeringkan dan di ilas dengan alat pemotong yang yang dibuat sendiri oleh pengrajin agar menghasilkan ilasan bagus.

Suatu karya bisa kita nilai melalui berbagai dimensi sehingga diperoleh kesimpulan bahwa barang tersebut bisa kita nilai apakah barang tersebut bagus atau tidak. terkadang sesuatu karya dinilai dalam pandangan normatif (menilai seperti apa yang kita lihat) hanya dinilai dalam satu sudut pandang seperti halnya dinilai dari bentuk, ukuran, warna atau yang lainnya tanpa memperhatikan bahan suatu karya, berkualitas atau tidaknya tidak menjadi perhatian khusus. Padahal, keutuhan dan ketahan lamaan suatu karya bisa kita pastikan utamanya terletak pada bahan pokok/utama dari hasil karya tersebut.

termasuk juga tikar yang berbahan daun lontar. Pada proses Produksi anyaman tikar lontar, pengrajin menggunakan bahan pokok daun lontar untuk dijadikan sebuah karya kerajinan berupa anyaman tikar lontar. Bahan pokok tersebut diperoleh dari daun lontar yang telah lama ditanam oleh pengrajin daun lontar itu sendiri dan di keringkan selama 1-2 hari untuk memproleh hasil yang maksimal. Dalam pemilihan bahannya pengrajin daun lontar yang dijadikan tikar itu memilih bahan pokok yang berkualitas karena dengan itulah para pembeli akan membelinya. Karena tak jarang pembeli membatalkan niatnya untuk membeli dikarenakan bahannya kurang berkualitas. 1Bahan pokok yang

1Pertanian dan Tanaman Herbal Berkelanjutan di Indonesia, Vol. 5, No. 8, 2017, hal. 149

(13)

65 berkualitas sangatlah dominan menjadi daya tarik para pembeli, karena dengan bahan yang bagus akan membuat tikar lebih kuat, bagus, dan tidak mudah rusak.

Maka dapat disimpulkan bahwa dari setiap proses pembuatan menjadi karakteristik dan seni bagi anyaman tikar di desa lenteng barat, mulai dari pemilihan bahan, proses ilasan dan cara mengenyam. Dengan bentuknya yang cukup panjang dan lebar, berat yang menarik menjadi daya tarik sendiri untuk para petani sebagai bungkus tembakau yang telah dikeringkan karena dianggap bisa menambah pada berat pada hasil timbangan tembakaunya (Duham 2021).

maka dari itu penting kiranya untuk para pengrajin untuk menjaga karakteristik dari anyaman tikar berbahan baku dan lontar itu sendiri.

2. Harga (Price)

Para pengrajin tikar lenteng barat menetapkan harga untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Adapun ketetapannnya sebagi berikut ;

a. Faktor yang mempengaruhi penetapan harga 1) Kondisi perekonomian

Dalam konteks ini kondisi perekonomian sangatlah berpengaruh terhadap tingkat harga yang berlaku, yaitu dengan adanya kenaikan bahan baku, apabila bahan baku naik maka maka harga produksi juga ikut naik.

Dengan demikian ketidak setabilan keadaan perekonomian mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap produk yang di tetapkan. Sehingga para pengrajin mejual hasil anyamannya dengan harga yang terjangkau.

2) Kondisi Alam

Dalam kontek ini alam juga mempunyai pengaruh yang cukup signifikan terhadap tingkat harga yang berlaku, yaitu dengan berubahnya kondisi alam, jika pada musim panas harga akan naik karena disaat itulah akan lebih banyak permintaan produk dari petani untuk membungkus tembakanya. Dan sebaliknya pada musim penghujan harga akan turun, karena sedikitnya permintaan dari konsumen.

3) Persaingan

Para pengrajin anyaman tikar selalu berusaha meningkatkan kualitas anyamannya, meski demikian harga jual di tekan sangat rendah.

(14)

66 Setidaknya menyamai dengan harga produk pesaing lain, hal ini bertujuan untuk mendapatkan pangsa pasar yang lebih luas, karena mampu menjangkau setiap lapisan masyarakat

4) Biaya

Salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam menetapkan harga ialah besaran Biaya, sebab setiap pengusaha yang tidak mampu menutup seluruh biaya yang dikeluarkan maka dikatakan rugi dan sebaliknya.

b. Tujuan penetapan harga

Tujuan penetapan harga yang ditetapkan oleh para pengrajin tikar ialah bentuk pongoptimalan peningkatan laba usaha. Pada penetapan harga produk sangat penting terhadap kebijakan strategi yang dilakukan karena harga dapat menentukan produk di pasar. Para pengrajin tikar di desa lenteng barat menjalankan kebijakan penetapan harga yaitu :

1) Musim hujan

Harga umum anyaman tikar 1 lembar Rp. 25.000.

Harga anyaman tikar sikulasi ke Agen 1. Lembar Rp. 20. 000.

Harga anyaman tikar dari agen ke pengecer 1 lembar Rp. 22.000 Harga anyaman tikar Ke Gudang Rokok 1 lembar Rp. 15.000 2) Musim kemarau ( Tembakau )

Harga umum anyaman tikar 1 lembar Rp. 40.000 Harga sirkulasi Ke Agen 1 lembar Rp. 35.000

Harga anyaman tikar dari agen ke pengecer 1 lembar Rp. 37.000.

Harga anyaman tikar ke gudang rokok 1 lembar 20.000

Dari harga-harga yang ditetapkan pengrajin tidak bisa menjual harga tinggi ke gudang rokok karena mereka menganggap gudang adalah konsumen yang paling banyak mengambil tikar, dan untuk menjaga keberlangsungan usahanya, tak ada pilihan lain bagi mereka selain memberikan harga yang sangat rendah ke gudang, meskipun hasil yang didapatkan hanya sedikit.

3. Distributor (Place)

Dalam mendistribusikan anyaman tikar para pengrajin anyaman tikar menggunakan dua distribusi yaitu :

a. Distribusi langsung

(15)

67 Pada saluran distribusi ini, konsumen dapat langsung berlangganan melalui para pengrajin anyaman tikar ke tempat pembuatan tikar.

b. Distribusi tidak langsung

Ada tiga jenis distribusi tidak langsung, saluran-saluran distribusi tidak langsung adalah sebagai berikut :

1) Pengrajin – pengecer – konsumen

Pada saluran distribusi ini pengecer membeli langsung kepada pengrajin tikar untuk dijual kembali pada konsumen akhir.

2) Pengrajin – agen – konsumen.

Pada saluran distribusi ini dengan perantara dari agen membeli langsung ke pengrajin tikar, lalu agen mencari pelanggan untuk menjual kembali ke pelanggan atau konsumen.

3) Pengrajin – agen – pengecer – konsumen.

Pada saluran distribusi ini, agen menjual atau mendistribusikannya kepengecer yang kemudian dijual kembali oleh pengecer kepada konsumen.

Maka dapat diambil kesimpulan bahwa dengan keanekaragaman saluran distrbusi yang dilakukan oleh para pengusaha tikar yang berada di desa lenteng barat dapat memudahkan terhadap konsumen dalam memperoleh anyaman tikar.

4. Promosi (Promotion)

Salah satu cara yang sangat menunjang terhadap pemasaran ialah promosi, makin baik dan banyak promosi yang dilakukan maka semakin banyak pula peminat yang akan datang. Dan pemasarannya pun akan semakin mudah.

Namun dalam hal ini para pengrajin tikar lenteng barat hanya menggunakan satu bentuk kegiatan promosi yaitu hubungan masyarakat (publicity). Kegiatan promosi ini dilakukan melalui hubungan masyarakat dengan menjalin hubungan kerjasama dengan masyarakat dan pengusaha pengrajin anyaman tikar laninya agar kerajinan ini dikenal oleh halanyak umum. Jalinan promosi ini bisa dikatakan pengenalan dari orang ke orang ( peopel to people ). Pelanggan ke pelanggan, dan bisa dikenalkan oleh agen, pengecer dan juga antar konsumen.

Dapat disimpulkan bahwa promosi yang dilakukan untuk pengenalan dalam pemasaran anyaman tikar hanya menggunakan people to teople yang hal

(16)

68 ini masih dikatan kurang efektif karena pemasarannya bisa dipastikan sangat sulit untuk dikenal halayak umum tanpa ada nya jaringan yang cukup luas.

KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa :

1. Starategi pemasaran dalam aspek produk yang dilakukan oleh pengrajin tikar di desa lenteng barat yaitu meliputi : a) jenis produk berupa anyaman tikar berbahan baku daun lontar. b) pengembangan produk melalui bentuk tikar yang lebih ketat dan rapi dengan panjang 3 m , lebar 1,40 m dan beratnya 3,5 kg hal inilah yang menjadi pembeda dengan produksi tikar lainnya. c) kualitas tikar yang baik disiapkan oleh para pengrajin tikar dengan bahan baku daun lontar yang dipilih secara seleksi lalu dikeringkan dan diilas dengan alat pemotong yang dirancang sendiri oleh pengrajin agar menghasilkan ilasan tikar yang bagus 2. Strategi pemasaran dalam aspek harga yang ditetapkan oleh para pengrajin tikar di desa lenteng barat yaitu : a) Faktor yang mempengaruhi penetapan harga pada anyaman tikar adalah kondisi perekonomian, kondisi alam, persaingan dan biaya. b) Tujuan penetapan harga adalah pengoptimalan peningkatan laba usaha.

3. Strategi pemasaran dalam aspek distributor yang dilakukan oleh pengrajin anyaman tikar yaitu : a) Distribusi langsung (tempat pengrajin anyaman tikar- konsumen) b) Distribusi tidak langsung, 1. Pengrajin-pengecer-konsumen 2.

Pengrajin-agen-konsumen 3. Pengrajin-agen-pengecer-konsumen.

4. Strategi pemasaran dalam aspek promosi yang dilakukan oleh para pengrajin tikar di desa lenteng barat yaitu hubungan kemasyarakatn (publicity) : a). kerja sama dengan masyarakat b). Sesama pengrajin anyaman tikar c). Orang ke orang.

DAFTAR PUSTAKA

Afrizal. 2016. Metode Penelitian Kualitatif Sebuah Upaya Mendukung Penggunaan Penelitian Kualitatif Dalam Berbagai Disiplin Ilmu. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Anshof, Burhan. 1998. Metode Penelitian Hukum. Jakarta: Rineka Cipta.

Duham. 2021. “Wawancara Dengan Bapak Duham.”

(17)

69 Hastuti. 2017. “Kerajinan Enceng Gondok (Studi Kasus Pada Industri Rumah Tangga

Di Desa Tegaron Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang.”

Huberman, Miles dan. 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: Universitas indonesia press.

Kasmir. 2011. Pemasaran Bank. Jakarta: Kencana.

Kotler, Philips. 2002. Manajemen Pemasaran. Jakarta: SMTG desa putra.

Ledy, Dilla Sefa. 2018. “Analisis Bauran Pemasaran (Marketing Mix) Dan Strategi Pengembangan Pada Agro Industri Kopi Bubuk Cap Intan Di Kota Bandar Lampung.” Universitas Lampung.

Malia. 2019. “Analisis Strategi Pemasaran Tabungan Mabrur Di Bank Syariah Mandiri Kcp Pandaan Pasuruan.” Jurnal Ekonomi Islam 10(2).

Meleong, Lexi J. 2002. Metode Penilitian Kualitatif. 17th ed. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mursid, M. 2005. Manajemen Pemasaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Sudibyo, Ganjar Adhywirwan Sutarjo David Hermawan Rahmad Pulung. 2020.

“Community Empowerment Through Probiotic Production and Fish Feed

Production Based on Local Materials in Gapoktan Mekar Mulyo, Sukun District, Malang City.” Jurnal Dedikasi 17(2).

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sutanto, Herry. 2003. Manajemen Pemasaran Bank Syariah. Bandung: CV Pustaka Setia.

Winarsih. 2017. “Strategi Pemasaran Ekspor Furniture (Studi Kasus Pada PT. Amalia Surya Cemerlang Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah).”

Yessy Friskilla, Rahmawati Rahmawati. 2018. “PENGEMBANGAN MINUMAN TEH

(18)

70 HITAM DENGAN DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA L) SEBAGAI MINUMAN MENYEGARKAN.” Jurnal Industri kreatif dan kewirausahaan 1(1).

Yuliani, Farida. 2012. Manajemen Pemasaran. Yogyakarta: Budi Utama.

Referensi

Dokumen terkait