83
MERETAS KETERASINGAN GURU SEJARAH SMA SUMENEP
Akbar Mawlana
Program Studi Sosiologi, FISH, Universitas Negeri Surabaya e-mail korespondensi: [email protected]
Abstrak : Pendidikan telah kehilangan nilai luhurnya, karena kebijakan pendidikan selalu berkelindan dengan kekuasaan. Teraktualisasikan dari kebijakan pemerintah yang mendistorsi materi PKI di sekolah. Hal itu menjadikan guru mengalami keterasingan. Kondisi keterasingan juga terjadi pada guru sejarah SMA Sumenep.
Namun, kajian terdahulu belum meneliti tentang guru sejarah SMA Sumenep secara kritis. Oleh karenanya, penelitian ini mengkaji keterasingan guru sejarah SMA Sumenep dengan perspektif pendidikan kritis. Penelitian bersifat kualitatif dengan pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian memperlihatkan terjadi perbedaan kepentingan antara guru sejarah dengan pemerintah. Selain itu, proses pembelajaran yang menakutkan, menjadikan terjadinya pedagogi hitam di ruang kelas.
Kata kunci: keterasingan, guru sejarah, pendidikan kritis
Abstract : Education has experienced its noble value. Education policy is always intertwined with power. Actualized from government policies that distort PKI material in schools. This makes the teacher experience alienation. The condition of alienation also occurs in the history teacher of SMA Sumenep. However, previous studies have not examined history teachers critically. Therefore, this study examines the isolation of the history teacher at SMA Sumenep from a critical education perspective. This research is qualitative with data collection of observations, interviews, and documentation. The results of the study show that there are differences in interests between history teachers and the government. In addition, education leads to black pedagogy, because the learning process is scary.
Keywords: alienation, history teacher, critical education.
SUBMIT : 10 Juni 2021 REVIEW: 20 September 2021 ACCEPTED: 27 September 2021
PENDAHULUAN
Sekolah bukan lagi menjadi ruang yang sakral. Ilich (2008: 16) menilai kehadiran sekolah hanya menciptakan kesadaran palsu.
Sekolah berubah menjadi ruang yang mengkerdilkan nalar kritis peserta didik. Oleh sebab itu, keberadaan sekolah tidak bisa menjadi tempat untuk mendewasakan manusia. Borudie menganggap sekolah sebagai artefak dari budaya dominan (Harker, dkk. 2009: 72). Dengan kata lain, sekolah telah bertendesi untuk menciptakan kondisi sosial yang tidak adil.
Pemusatan kekuasan menjadi penyebab ketidakadilan di sekolah. Secara kritis,
pendidikan tidak pernah terbebas dari kepentingan politik (Fakih, 2011: 113).
Konstelasi tersebut terlihat jelas pada masa pemerintahan Orde Baru. Pemerintah Orde Baru membuat kebijakan represif dengan melarang materi PKI dalam pelajaran sejarah (Ahmad, 2016). Pelarangan tersebut secara tidak sadar membentuk pengetahuan sosial, bahwa PKI merupakan partai yang membahayakan.
Bahkan, runtuhnya Orde Baru belum mampu memberikan perubahan yang signifikan. Keberadaan propaganda Orde Baru masih tersimpan dengan baik (Heryanto, 2019:
115). Sehingga, pemerintah masih mendistorsi
84 mata pelajaran sejarah di era Reformasi.
Bentuk distorsi terlihat dari penyeragaman isi buku pelajaran sejarah. Riset Mulyana (2013) memperlihatkan isi buku pelajaran sejarah SMA hanya berorientasi pada nasionalisme dan militerisme. Hal itu mencerminkan sikap pemerintah yang ingin mempertegas tentang penghianatan PKI terhadap masyarakat.
Kebijakan pemerintah yang terus mendistorsi kehdarian PKI memberikan pengaruh kepada guru di sekolah. Guru akan menginterpretasikan keberadaan PKI sebagai musuh negara. Penelitian Suparjan (2017) memaparkan bahwa guru sejarah mengajar dengan cara yang menjenuhkan saat pemberian materi PKI di kelas. Pemberian materi PKI dengan perspektif yang luas dianggap tidak memiliki manfaat. Riset Widodo (2011) menyimpulkan jika guru sejarah masih memberikan pembelajaran yang bersifat metanaratif tentang PKI. Seorang guru masih memberikan narasi besar mengenai tradisi yang dianggap benar. Maka, tidak mengheranakan jika studi Mubarok (2017) memberikan gambaran jika ideologi komunis tetap dianggap sebagai musuh besar bagi Indonesia. Masyarakat telah menafsirkan komunis sebagai ideologi yang dapat menghancurkan Indonesia. Guru sejarah juga kerap memutarkan film Pengkhianatan G30S/PKI (Rahmat, 2019). Secara politis, film Pengkhianatan G30S/PKI merupakan propaganda untuk menyalahkan PKI.
Namun, berbagai kajian mengenai pendiskreditan PKI di sekolah bersifat kontradiksi. Sebab, fokus kajian terdahulu hanya memperlihatkan dukungan guru sejarah untuk melanggengkan propaganda anti PKI.
Padahal, guru sejarah juga melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan. Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) pernah melakukan perlawanan, karena sikap pemerintah yang bernuansa politis dalam membuat kebijakan pendidikan (Wirajati, 2020).
Hanya saja perlawanan yang dilakukan oleh AGSI tidak membawakan hasil yang maksimal. Pemerintah Indonesia masih bersikukuh jika PKI merupakan musuh terbesar negara. Sebagaimana Prabowo Subianto menginginkan agar guru menjelaskan secara rinci terkait kekejaman yang dilakukan oleh PKI (CNN Indonesia, 2019). Terjadinya perbedaan pandangan antara AGSI dan
pemerintah, membawa guru sejarah pada kondisi keterasingan. Fromm (2019: 169) menilai keberadaan birokrasi modern telah menghilangkan nilai kemanusiaan, karena dominasinya yang preferensi.
Kondisi keterasingan juga terjadi terhadap guru sejarah SMA Sumenep. Guru sejarah SMA Sumenep yang memiliki kesadaran kritis berupaya agar pengajaran PKI tidak hanya berat sebelah. Tetapi, tragedi keterasingan guru sejarah SMA Sumenep bukan fenomena yang menarik untuk dikaji oleh peneliti terdahulu. Secara esensial, penelitian terdahulu banyak mengkaji pembuatan model pembelajaran sejarah.
Penelitian Karima (2018), Setiawan (2018), dan Nurhalimah (2015) mengulas tentang model pembelajaran sejarah yang efektif di kelas. Begitu juga dengan penelitian mengenai profesionalitas guru sejarah juga dikaji secara komprehensif. Riset Ramdhani (2020) melihat peranan MGMP dalam peningkatan profesionalitas guru sejarah di Sumenep.
Tidak berbeda jauh dari skripsi Khoyyiroh (2020) yang juga melihat profesionalitas guru sejarah di Pamekasan, Madura. Hanya saja, orientasinya adalah peran status profesionalits guru sejarah dalam pembelajaran di kelas.
Maka, hasil penelitian memperlihatkan profesionalitas guru sejarah bisa terlihat dari kedalamannya memaparkan materi pembelajaran, sekaligus inovasi membuat proses pembelajaran lebih menarik dalam kelas.
Berbagai penelitian yang ada menunjukkan jika orientasi kajian belum menggunakan perspektif pendidikan kritis.
Padahal, mengkaji permasalahan pendidikan secara kritis adalah tindakan yang penting.
Sebab, pendidikan dapat mempengaruhi realitas sosial (Arif et al., 2020). Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan menganalisa keterasingan guru sejarah di SMA Sumenep.
METODE
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Jaya (2020) memaparkan jika penelitian kualitatif berorientasi pada fenomena yang bersifat holistik. Pendekatan penelitian menggunakan fenomenologi realistis. Fenomenologi realistik mencoba memahami persoalan dengan meninjau dari aspek tindakan, motif tindakan, dan nilai kepribadian (Salim, 2006: 171). Pengumpulan
85 data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Lokasi penelitian berada di Sumenep. Pertimbangan memilih Sumenep karena sebagai salah satu kabupaten di Madura yang menjadi lumbung intelektual. Teknik analisis data menggunakan model Miles &
Huberman. Tahap pertama melakukan reduksi data untuk memilah dan menyederhanakan data yang terkumpul dari lapangan. Guest, dkk. (2012) menguraikan bahwa tidak semua data yang terkumpul akan relevan dengan topik pembahasan. Tahap kedua adalah penyajian datasecara naratif. Penyajian data bermanfaat untuk memahami fenomena secara esensial (Sugiyono, 2020). Tahap terakhir berupa penarikan kesimpulan.
HASIL DAN PEMBAHASAN Pertarungan kepentingan
Posisi guru sejarah SMA Sumenep yang tidak bebas dalam mengajarkan mata pelajaran sejarah pada peserta didik, menjadi titik awal perlawanan. Guru sejarah menyadari bahwa materi pembelajaran sejarah bermuatan politis.
Tidak jarang guru sejarah SMA Sumenep mengomentari bahwa pemberian materi sejarah tidak boleh diberikan batas.
Pembatasan materi sejarah hanya akan membunuh nalar kritis peserta didik.
Kendati demikian, tidak semua guru sejarah SMA Sumenep bisa melakukan perlawanan langsung ke pemerintah. Hanya guru sejarah yang terlibat aktif dalam kegiatan pendidikan di tingkat pusat yang bisa melakukannya. Bentuk perlawanan guru sejarah ke pemerintah bukan melalui tindakan yang anarkis. Tindakan anarkis hanya akan memperuncing permasalahan nantinya.
Sehingga, guru sejarah lebih memilih perlawanan dengan gagasan. Pemanfaatan gagasan sebagai alat perlawanan terjadi saat proses penyusunan modul mata pelajaran sejarah SMA.
Guru sejarah merancang modul pembelajaran yang bermuatan materi tentang komunis. Pembuatan rancangan modul tersebut bertujuan untuk mencegah hipernasionalisme. Mengingat, efek dari hipernasionalisme akan mendoktrin sikap yang imajiner (Heryanto, 2019:7). Semisal, masyarakat akan membenci negara lain secara tidak logis.
Akan tetapi, pembuatan rancangan modul yang dibuat oleh guru sejarah menjadi
percuma di hadapan pemerintah, selaku pemangku kebijakan. Pemerintah menolak modul yang dibuat oleh guru sejarah. Sebab, guru sejarah tidak memiliki kekuasan yang kuat dibandingkan pemerintah. Apple (2004:
174) menyatakan melalui kepemilikan kekuasaan dapat menghegemoni kebijakan pendidikan. Maka dari itu, guru sejarah mengalami kekalahan dalam arena pertarungan. Kekalahan guru sejarah dalam arena pertarungan akan mereproduksi pengetahuan sosial yang anti realistis (Kurniawan, 2020). Oleh karenya, pemerintah masih terjebak pada wacana anti komunis yang menilai PKI tidak nasionalis (Kurniawan, 2017). Sedangkan, pengetahuan guru sejarah berorientasi pada wacana HAM.
Pendidikan yang membelenggu
Guru sejarah di SMA Sumenep mengalami posisi ambivalen. Sebagai pendidik, guru sejarah memiliki keinginan untuk menambah wawasan peserta didiknya.
Bagaikan menggunaka bedak dalam air, keinginan tersebut terbentur dengan regulasi pengajaran yang dibuat oleh pemerintah.
Yakni, regulasi yang melarang penyampain pembelajaran tentang PKI, memaksa guru sejarah memilih mawas diri.
Hal itu menjadikan guru sejarah lebih selektif dalam memilih diksi saat menjelaskan materi PKI. Bahkan, tidak jarang peserta didik melihat adanya perbedaan cara mengajar guru sejarah saat menyampaikan materi kontroverisal dengan non-kontroversial. Pada materi non-kontroversial, sesi tanya jawab berjalan terbuka dan dialogis. Hal ini berbanding terbalik saat proses pembelajaran tentang PKI. Guru sejarah cenderung menggunakan kuasa otoriter dalam membatasi pemahaman siswa.
Tujuan tersirat yang membuat guru sejarah melakukan pembatasan pemebelajaran PKI adalah menghindari pemberian sangsi.
Pemberian sangsi bisa berupa teguran, penurunan golongan, dan pidana. Dengan demikian, guru sejarah menjalankan profesinya dengan tidak menyenangkan.
Kondisi tersebut dikenal dengan pedagogi hitam. Keberadaan pedagogi hitam telah merubah pendidikan yang seharusnya menyenangkan, menjadi kondisi menakutkan (Postman, 2020: 3).
86 Terbentuknya pedagogi hitam membuat guru sejarah mengalami keterasingan. Relasi yang timpang telah membuat guru sejarah mengalami budaya bisu. Budaya bisu menurut Freire (2007) adalah kelompok yang tidak mampu untuk memaparkan gagasannya secara terbuka. Penyebab guru sejarah mengalami budaya bisu adalah keberadaan otoritas yang irasional. Keberadaan otoritas irasional hanya membatasi ruang gerak manusia (Fromm, 2020: 14). Alhasil, guru sejarah tidak bisa menjalankan fungsinya untuk mendorong peserta didik berpikir kritis.
SIMPULAN
Guru sejarah SMA Sumenep harus terperangkap dalam pendidikan hitam yang memberanguskan kesadarannya saat memberikan pembelajaran di sekolah.
Kebijakan pemerintah yang membatasi perihal pembelajaran PKI, menjadikannya mengalami keterasingan. Alhasil, mereka tidak bisa menyampaikan gagasannya secara terbuka, komprehensif, dan ekstensif pada peseta didiknya. Lalu, apakah para guru sejarah SMA Sumenep terus mengalami keterasingan?
Proses resistensi terhadap pemerintah untuk memberikan keterbukaan dalam memaparkan materi PKI, tidak memperoleh hasil yang maksimal. Sebab, para guru tidak memiliki kuasa absolut dalam membuat kebijakan pendidikan. Dengan demikian, mereka akan tetap mengalami krisis identitas dalam ruang pendidikan.
DAFTAR RUJUKAN
Ahmad, T. A. (2016). Sejarah Kontroversial di Indonesia: Perspektif pendidikan.
Sleman: Pustaka Obor.
Apple, M. W. (2004). Ideology and Curriculum. New York: Routledge Falmer.
Arif, M., Sulthon, A., Munfarida, A., Sumardi, E., Qudsiyah, F., Misnatun, &
Muchlison, M. (2020). Pendidikan Postmodern: Telaah Kritis Pemikiran Tokoh Pendidikan. Sleman: AR-RUZZ Media.
CNN Indonesia. (2019, November 23).
Prabowo Minta Guru Ceritakan Sejarah PKI yang Benar ke Siswa. CNN Indonesia.
Fakih, M. (2011). Jalan Lain: Manifesto Intelektual Organik (Kedua; E. Prasetyo
& F. Agustina, eds.). Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Freire, P. (2007). Politik Pendidikan Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pembebasan (Keenam). Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Fromm, E. (2019). Revolusi Harapan.
Yogyakarta: IRCiS0D.
Fromm, E. (2020). Perihal Ketidakpatuhan.
Yogyakarta: IRCiS0D.
Guest, G., Macqueenn, K. M., & Namey, E.
(2012). Applied Thematic Analysis.
America: Sage.
Harker, R., Mahar, C., & Wilkes, C. (2009).
(Habitus x Modal)+ Ranah= Praktik.
Yogyakarta: Jalasutra.
Heryanto, A. (2019). Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Illich, I. (2008). Bebaskan Masyarakat dari Belenggu Sekolah. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Jaya, I. M. L. M. (2020). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta:
Quadrant.
Karima, N. (2018). Pemanfaatan blog sebagai sumber belajar sejarah untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X IIS 2 di SMAN 1 Sumenep. Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Malang.
Khoyyiroh, S. (2020). Kompetensi Profesional Guru Sejarah Kebudayaan Islam dalam Mengelola Kelas di IPS IV MA Sumber Bungur Pakong Pamekasan. Pendidikan Agama Islam IAIN Madura.
Kurniawan, A. D. (2017). Memori Kolektif Mengenai PKI dan Komunisme Di Media Sosial .Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia.
Kurniawan, K. N. (2020). KISAH SOSIOLOGI : Pemikiran yang Mengubah Dunia dan Realitas Manusia. Jakarta: yayasan pustaka obor indonesia.
Mubaro, M. Y. (2017). "Problem Teologis Ideologi Komunisme". Tsaqafah, 13(1), 45.
87 Mulyana, A. (2013). "Nasionalisme Dan
Militerisme: Ideologisasi Historiografi Buku Teks Pelajaran Sejarah SMA".
Paramita: Historical Studies Journal, 23(1), 78–87.
Nurhalimah, S. (2015). Peningkatan Hasil Belajar Siswa Dengan Menggunakan Metode Role Playing (Bermain Peran) Pada Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Di Kelas V MI Nurul Islam Tarogan Lenten Sumenep Tahun Pelajaran 2014-2015. Program Studi Pendidikan Guru Marasah Ibtida'iyah Universitas Islami Sunan Ampel Surabaya.
Postman, N. (2020). Matinya Pendidikan:
Redefinisi Nilai-Nilai Sekolah.
Yogyakarta: Immortal Publishing dan Octopus.
Rahmat, S. S. (2019). Pengaruh Pemutaran Film G30S/PKI Terhadap Nasionalisme Siswa Kelas X SMK PGRI 3 Sidoarjo Tahun Pelajaran 2017/2018. STKIP PGRI SIDOARJO.
Ramdhani, F. (2020). Peranan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dalam meningkatkan kompetensi pedagogik guru sejarah di Kabupaten Sumenep.
Prodi Universitas Negeri Malang.
Salim, A. (2006). Teori & Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Setiawan, M. A. (2018). Pengembangan bahan ajar sejarah berbasis appy pie pada materi sejarah lokal islamisasi dan akulturasi bangunan asta tinggi untuk kelas X IPS di SMAN 1 Kalianget Sumenep. Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Malang.
Sugiyono. (2020). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Suparjan, E. (2017). "Peristiwa G 30 S sebagai Isu Kontroversial pada Mata Pelajaran Sejarah di SMA Kota Bima". Jurnal Pendidikan Sejarah, 5(1), 38.
Widodo, T. (2011). "Memahami Makna Praksis Pelaksanaan Pembelajaran Sejarah Kontroversial". Paramita:
Historical Studies Journal, 21(2), 238–
247.
Wirajati, Y. de B. (2020). Politik Kurikulum Dan Histriografi Nasional: Reaksi Asosiasi Guru Sejarah Di Yogyakarta Atas Perubahan Kurikulum Pasca Orde Baru. Program Studi Magister Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma.