40
BAB III STUDI KASUS
A. Identitas Anak
Anak berinisial AR lahir di Boyolali, pada tanggal 18 April 2012.Berjenis kelamin laki-laki, anak merupakan anak tunggal dan beragama Islam.Bertempat tinggal di Banjarsari, Kemiri, Mojosongo, Boyolali.
AnakAR memiliki sisi dominan kanan. Diagnosis medis anak adalah Attention-Defisit Hiperactivity Disorder(ADHD). Pada performance area anak mengalami gangguan pada area produktivitas yaitu mengalami permasalahan pada akademik khususnya mengidentifikasi warna.
B. Data Subjektif Initial Asessment : 1. Observasi klinis
Berdasarkan observasi pada tanggal 6 januari 2018, anak berperilaku baik, kooperatif, dan interaktif. Anak sedikit bicara tetapi selalu terlihat aktif bergerak. Tingkah laku anak baik tidak mengganggu anak lain. Anak juga mengalami gangguan persepsi yang ditandai dengan anak belum mampu menyebutkan dan memilih warna yang di tunjukkan oleh terapis. Perilaku anak manja apabila bersama ibu, dan ibu selalu menuruti keinginan anak AR. Sehingga lebih membuat anak menjadi kurang mandiri.
2. Screening Test
Berdasarkan pemeriksaan blangko screening pediatric pada tanggal 6 januari 2018, diperoleh data usia anak saat ini adalah 5 tahun 9 bulan. Riwayat dahulu, anak lahir secara normal, dengan usia kehamilan 9 bulan 1 hari di rumah bersalin, dan usia ibu 33 tahun. Ibu menderita mioma pada saat umur kehamilan 2 bulan. Anak merupakan anak tunggal, ayah bekerja sebagai buruh dan ibu sebagai pekerja laundry. Tidak terdapat riwayat ADHD pada anggota keluarga.
Berdasarkan screening kemampuan mengidentifikasi warna didapatkan data bahwa anak belum mampu mengidentifikasi berbagai macam warna.Anak juga belum mampu menyebutkan warna.
Riwayat postnatal anak sering sakit panas, batuk, dan pilek. Anak kooperatif,ketika terapi anak mampu mempertahankan konsentrasi dalam satu aktivitas. Anak mampu berguling pada umur 5 bulan, mampu duduk umur bulan, mampu duduk mandiri umur 12 bulan, mampu berjalan umur 16 bulan. Anak tidak mengalami gangguan dalam mobilitas. Anak mampu melokalisir sentuhan yang diberikan oleh terapis. Anak masih memerlukan motivasi dalam melakukan aktivitas.
Orang tua mengeluhkan, saat ini anak selalu bergerak dan tidak bisa diam pada saat menyelesaikan suatu aktivitas. Anak juga sering membutuhkan bantuan pada saat melakukan aktivitas. Interaksi anak baik, mampu bermain bersama teman sebayanya. Pada aktivitas ADL hampir semua aktivitas mampu dilakukan secara mandiri, yaitu: makan, minum,
memakai kaos, menggosok gigi, menyisir rambut, BAB, BAK, memakai sepatu (model slop/Velcro). Aktivitas dengan bantuan minimal yaitu:
memakai sepatu bertali dan memakai baju berkancing.
C. Model treatment
Model treatment yang akan digunakan dalam pelaksanaan terapi diatas adalah dengan menggunakan kerangka acuan sensori integrasi.
Dengan menggunakan metode sensory diet digunakan dengan penerapan memberikan stimulus sensori yang dibutuhkan oleh anak. Strategi Calming technique digunakan untuk membantu anak cemas agar tetap tenang, dan mengurangi respon sensori berlebihan yang di terima oleh anak. Strategi Organizing Technique digunakan agar anak lebih fokus dan perhatian terhadap aktivitas yang diberikan.
D. Data Objektif
Berdasarkan pemeriksaan ADHDT (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder Test) yang dilakukan, diperoleh data pada subtest hyperactivity diperoleh skor 15,pada subtest impulsivity diperoleh skor 13, dan pada subtest inattention diperoleh skor 15. Sehingga diperoleh data standard scores27, ADHD Quotient 94, dengan precentile 35% dan dapat disimpulkan bahwa anak masuk dalam level Average (sedang).
Berdasarkan pemeriksaan konsep dan persepsi anak, didapatkan hasil pada subtest imitasi desain balok bahwa anak hanya mampu menyusun balok dengan bentuk menara, pada subtest menyusun puzzle anak sudah mampu menyelesaikan puzzle dengan 5 potongan secara
mandiri, pada subtest ukuran benda anak juga sudah mampu membedakan antara benda besar dan kecil. Pada subtest berhitung, anak hanya mampu berhitung sampai angka 5 dan belum dapat mengidentifikasi angka 1-5, pada subtest warna anak belum mampu mengidentifikasi warna. Dan pada subtestbody awareness anak mampu mengidentifikasi 8 bagian tubuh meliputi (kepala, hidung, telinga, rambut, mata, mulut, tangan, dan kaki).
Berdasarkan data diatas menunjukkan anak mengalami gangguan persepsi dengan kemampuan anak setara umur 3 tahun.
Berdasarkan blangko pemeriksaan motorik kasar didapatkan data, tidak terdapat gangguan pada anggota gerak bawah anak sudah mampu mobilitas secara mandiri. Anak juga sudah mampu mengikuti garis yang dibuat oleh terapis, mampu merangkak, berlutut berdiri di atas satu kaki (walaupun hanya 3 detik), mampu melempar dan menendang bola, mampu naik dan turun tangga secara mandiri dengan kaki bergantian, meniti papan dan berlari tanpa terjatuh. Tetapi anak belum mampu melompat ke depan dengan kedua kaki secara bersamaan, berjalan ke belakang, melompat dengan satu kaki. Dapat disimpulkan bahwa anak mengalami gangguan pada motorik kasar. Kemampuan anak saat ini setara dengan anak usia 3 tahun.
Berdasarkan blangko pemeriksaan motorik halus didapatkan data, tidak terdapat gangguan pada anggota gerak atas. Pada subtest kemampuan bilateral, anak mampu memanipulasi benda kecil seperti kacang, beras, dan manik-manik. Mampu merangkai manik-manik ukuran sedang pada
tali, mampu menarik dan merobek kertas. Pada subtest keterampilan memakai pensil, anak mampu menggenggam pensil dengan pola lateral, dan mampu mengimitasi bentuk garis lurus vertikal dan horizontal, mampu meraih dan menggenggam benda. Anak mampu mengkopi garis lurus, lingkaran dan segitiga. Dapat disimpulkan bahwa, anak mengalami gangguan motorik halus, pada sub test ini kemampuan anak setara usia 2 tahun.
Berdasarkan Pemeriksaan sensory short profile di dapatkan data, pada tactile sensitivity memperoleh skor 20, taste/smell sensitivity memperoleh 8, movement sensitivity memperoleh skor 9, underresponsive/seekssensation memperoleh skor 20, auditory filtering memperoleh skor 15, low energy/weak memperoleh skor 14, visual/auditory memperoleh skor 12, dengan skor total adalah 89 yang berarti definite difference yang dapat di interpretasikan bahwa anak mengalami gangguan sensori. Dalam hal ini anak merespon stimulus input sensori pada tingkat sensitivitas yang lebih tinggi.
E. Pengkajian Data
1. Rangkuman Data Subjektif dan Objektif
Berdasarkan pemeriksaan ADHDT (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder Test) yang dilakukan, diperoleh data hyperactivity skor 15, impulsivity skor 13, dan inattention skor 15. Jadi diperoleh data skor of subtest standard scores adalah 27, jumlah ADHD Quotient 94, dengan
precentile 35% dan didapatkan hasil bahwa anak masuk dalam level Average (sedang).
Berdasarkan pemeriksaan sensory short profile di dapatkan data bahwa skor total keseluruhan adalah 89 yang berarti definite difference yang berarti anak mengalami gangguan sensori. Dalam hal ini anak merespon stimulus input sensori pada tingkat sensitivitas yang lebih tinggi.
Berdasarkan rangkuman pemeriksaan konsep dan persepsi, anak hanya mampu menyusun balok dengan bentuk menara, menyusun puzzle dan mampu menyelesaikan puzzle dengan 5 potongan secara mandiri, mampu menunjukkan antara benda besar dan kecil. Mampu berhitung sampai angka 5. Anak belum mampu mengidentifikasi angka 1-5, dan anak belum mampu mengidentifikasi warna.
Berdasarkan rangkuman pemeriksaan motorik kasar, anak tidak mengalami gangguan pada anggota gerak bawah. Anak mampu merangkak, berlutut, berdiri di atas satu kaki (hanya 3 detik), mampu naik dan turun tangga secara mandiri dengan kaki bergantian, meniti papan dan berlari tanpa terjatuh. Tetapi anak belum mampu melompat ke depan dengan kedua kaki secara bersamaan, dan melompat kedepan dengan satu kaki.
Berdasarkan rangkuman pemeriksaan motorik halus, anak mampu memanipulasi benda kecil seperti kacang, beras, dan manik-manik.
mampu merangkai manik-manik ukuran sedang pada tali. menarik dan merobek kertas. Anak mampu menggenggam pensil dengan pola lateral,
dan mampu mengimitasi bentuk garis lurus vertikal dan horizontal. Anak mampu mengkopi garis lurus, lingkaran, dan segitiga.
2. Aset
Aset yang dimilki anak adalah anak berpenampilan rapi, kontak mata baik, anak cukup kooperatif, terlihat saat mengikuti sesi terapi anak paham jika diberi instruksi sederhana, anak mampu berhitung angka 1 sampai dengan 5, mampu mengimitasi pola garis vertikal dan horizontal, anak tidak takut dengan orang asing, anak mampu melompat, berlari, menendang bola, merangkak, berlutut, berguling & tidak mengalami gangguan mobilitas. Aktivitas keseharian anak (makan, toileting, BAB, BAK, mobilitas) mampu secara mandiri.
3. Limitasi
Limitasi yang diperoleh adalah anak mengalami gangguan sensori dan mudah terdistraksi dalam melakukan aktivitas, konsentrasi dan atensi anak masih kurang, mudah bosan, anak masih membutuhkan motivasi dalam melakukan aktivitas, anak.anak mengalami gangguan persepsi dalam identifikasi warna.
4. Prioritas Masalah
Berdasarkan limitasi yang didapat, maka diambil prioritas masalah pada area produktivitas yaitu anak belum mampu mengidentifikasi warna.
F. Perencanaan Terapi
Merupakan proses intervensi yang dilakukan untuk mengatasi prioritas masalah pada anak, pada kondisi diatas penulis cenderung menetnukan tujuan terapi yang terdiri dari Long Term Goal (Tujuan jangka panjang) dan Short Term Goal (Tujuan jangka pendek).
1. Long Term Goal (LTG)
Anak mampu mengidentifikasi warna dasar (merah, kuning, biru) dengan aktivitas perceptual motor dalam 16 kali sesi terapi.
STG I :
Anak mampu mengidentifikasi warna merah, dengan aktivitas perseptual motor dalam 4 kali sesi terapi.
STG II :
Anak mampu mengidentifikasi warna kuning, dengan aktivitas perseptual motor dalam 4 kali sesi terapi.
STG III :
Anak mampu mengidentifikasi warna biru, dengan aktivitas perseptual motor dalam 4 kali sesi terapi.
STG IV :
Anak mampu mengidentifikasi warna merah, kuning, biru dengan aktivitas perseptual motor dalam 4 kali sesi terapi.
2. Strategi atau Teknik
Strategi yang dapat digunakan dalam penanganan anak ADHD saat melakukan aktivitas yaitu 1) Sensory Diet, untuk mengurangi respon pertahanan atau sensory defensif negatif yang dapat berpengaruh pada interaksi sosial dan hubungan dalam bersosialisasi serta dapat mencegah anak berperilaku agresif. 2) General calming menggosok dengan sentuhan yang nyaman, kompresi sendi, peregangan, berayun lambat dengan selimut, menyediakan ruangan/sudut untuk anak bersembunyi atau menenangkan diri. 3) Organizing Technique Mengorganisir pengalaman yang dapat membantu anak yang tidak aktif menjadi anak yang fokus dan penuh perhatian. Seperti aktivitas propioseptif.
3. Frekuensi
Frekuensi terapi yang diberikan pada anak yaitu 3 kali sesi terapi dalam satu minggu.
4. Durasi
Durasi waktu satu sesi terapi yaitu kurang lebih 25 menit.
5. Media Terapi
Media terapi yang digunakan adalah kotak sortir, pegboard besar, holahup,sarung, kartu warna, bola basket, kursi, meja, bola bobath, papan kayu, footstep warna, baju berwarna, tali rafia warna, flashcard warna, dan mainan motor-motoran.
6. Home Program
Untuk mendukung keberhasilan terapi yang telah direncanakan dalam meningkatkan kemampuan anak dalam mengidentifikasi warna, maka peran keluarga dirumah juga diperlukan. Orang tua dirumah harus membiasakan dengan membantu menstimulasi anak dengan cara menebutkan warna baju yang dipakai, memilih baju dengan menyebutkan warna, mengidentifikasi warna benda satu yang ada di sekitarnya. Hal ini dilakukan agar anak mampu mengidentifikasi konsep warna secara mandiri. Peran keluarga dirumah sangat diperlukan agar anak dapat mencapai tujuan terapi telah direncanakan oleh terapis.
G. Pelaksanaan Terapi
pelaksanaan terapi yang akan dilakukan berdasarkan Continum Paradigm: Adjunctive Methods, Enabling Activities, Purposeful Activity, Occupational Performance.
1. Adjunctive Methods
Tahapan Adjunctive Methods ini yaitu tahapan awal suatu proses terapi untuk mempersiapkan pasien sebelum mengikuti proses terapi yang akan dilakukan. Aktivitas yang dilakukan pada tahapan ini yaitu memberi instruksi anak untuk duduk tenang. Kemudian berdoa, melakukan tos dan menyapa ucapan selamat pagi serta menanyakan kabar (Gb. 3.1).
Gambar 3.1 aktivitas berdoa
2. Enabling Activities
Enabling Therapy merupakan tahapan aktivitas lanjutan setelah adjunctive. Aktivitas pada enabling dilakukan dengan menggunakan media (therapy equipment). Dalam tahapan ini aktivitas yang diberikan adalah memasang pegboard, puzzle dan Lego. Tujuan penggunakan media lego, puzzle warna, dan pegboard warna untuk meningkatkan atensi dan untuk media mengenal warna. Strategi yang digunakan pada tahapan ini adalah organizing technique. Safety precaution pada tahap ini yaitu ujung meja yang tajam dapat melukai tangan anak, posisi duduk anak yang kurang ergonomis dilihat dari meja yang terlalu tinggi untuk anak (Gb. 3.2)
Gambar 3.2 Aktivitas memasang lego sesuai warna
3. Purposefull Activity
Tahapan ini meliputi aktivitas yang memiliki tujuan, relevan dan bermakna bagi anak yang merupakan bagian dari aktivitas kehidupan sehari-hari dan terjadi pada konteks “Occupational Performance”. Pada tahap aktivitas ini digunakan perceptual motor activity untuk menyalurkanhyperactivity pada anak. Strategi yang digunakan disini adalah Sensory diet untuk memenuhi kebutuhan sensorik anak dengan aktivitas yang telah direncanakan. Organizing Technique menyalurkan hiperakivitas anak dengan aktivitas perseptual motor. Aktivitas perseptual motor menggunakan aktivitas haling rintang bertahap mulai dari melompat, meniti, merangkak, dan berlari. Permainan ini bertujuan untuk mengidentifikasi warna dasar. Safety precaution pada aktivitas ini adalah perlu diperhatikan risiko jatuh dan terluka pada anak saat melakukan aktivitas (Gb. 3.3).
Gambar 3.3 aktivitas perseptual motor dengan mengidentifikasi warna
4. Occupational Performance
Tahapan Occupational merupakan tahapan tertinggi dalam pelaksanaan terapi dimana dalam lingkungan fisik maupun sosial pasien mampu melakukan occupation (aktivitas) secara mandiri. Anak dapat mengidentifikasi, membedakan, dan menyebutkan warna dalam kehidupan sehari - hari. Seperti menyebutkan baju yang digunakan, mengambil pakaian dengan warna yang ditentukan, menunjukkan warna gelas, mewarnai gambar dengan warna yang ditentukan.
H. Re-evaluasi
1. Re-evaluasi Data Subjektif a. Interview
Berdasarkan Re-evaluasi pada tanggal 24 Februari 2018 yang dilakukan dengan orangtua pasien diperoleh informasi bahwa, sekarang perilaku pasien selama di rumah menunjukkan ada perubahan yang baik yaitu lebih terkontrol hiperaktifnya, meskipun perilaku pasien masih seenaknya sendiri. Pasien sudah mampu mengelompokkan, menunjukan, dan memilih warna. Anak juga mulai mandiri dalam melakukan aktivitas kegiatan sehari hari.
b. Observasi Klinis
Berdasarkan hasil observasi klinis dapat diketahui bahwa, an.
AR sekarang menunjukkan perilaku kooperatif saat mengikuti sesi terapi mulai dari awal sampai selesai terapi. Atensi dan konsentrasi pasien meningkat saat mengerjakan aktivitas yaitu kurang lebih 5 menit. Verbal pasien juga semakin bertambah dalam mengucapkan kata meskipun masih kurang jelas.
2. Reevaluasi Data Objektif
Berdasarkan re-evaluasi pemeriksaan ADHDT (Attention Deficit/HyperactivityDisorder Test) yang dilakukan, diperoleh data pada subtest hyperactivity diperoleh skor 13, pada subtest impulsivity diperoleh skor 12, dan pada subtest inattention diperoleh skor 14.
Sehingga diperoleh data subtest standard scores adalah 25, jumlah
ADHD Quotient 89, dengan precentile 23% dan dapat disimpulkan bahwa anak masuk dalam level Below Average (dibawah rata-rata).
(terlampir).
Berdasarkan re-evaluasi pemeriksaan short sensory profile pada tanggal 28 februari 2018,di dapatkan data bahwa skor total keseluruhan adalah 89 yang berarti definite difference yang berarti anak mengalami gangguan sensori. Dalam hal ini anak merespon stimulus input sensori pada tingkat sensitivitas yang lebih tinggi. Dengan intrepetasi masih sama yaitu kemungkinan ada gangguan. (hasil pemeriksaan terlampir)
Berdasarkan re-evaluasi pemeriksaan konsep dan persepsi, anak mampu menyusun balok dengan bentuk jembatan dan robot, menyusun puzzle dan mampu menyelesaikan puzzle dengan 5 potongan secara mandiri,mampu menunjukkan antara benda besar dan kecil. menghitung sampai angka 5. Anak belum mampu mengidentifikasi angka 1-5, anak sudah mampu mengidentifikasi warna berupa, menunjuk warna merah, kuning, biru, memberi label warna merah, biru, kuning (hasil pemeriksaan terlampir).
Berdasarkan re-evaluasi pemeriksaan motorik kasar, Anak mampu merangkak, berlutut, berdiri di atas satu kaki (hanya 5 detik), mampu naik dan turun tangga secara mandiri dengan kaki bergantian, meniti papan dan berlari tanpa terjatuh, mampu menendang dan menangkap bola. Tetapi anak belum mampu melompat ke depan
dengan kedua kaki secara bersamaan, dan melompat kedepan dengan satu kaki(hasil pemeriksaan terlampir).
Berdasarkan rangkuman pemeriksaan motorik halus, anak mampu meraih, melepas, menggenggam dan memanipulasi benda kecil seperti kacang, beras, dan manik-manik.mampu merangkai manik- manik ukuran sedang pada tali. menarik dan merobek kertas.Anak mampu menggenggam pensil dengan pola lateral,dan mampu mengimitasi bentuk garis lurus vertikal dan horizontal. Anak mampu mengkopi garis lurus, lingkaran, dan segitiga (hasil pemeriksaan terlampir).
3. Re-Evaluasi Hasil Terapi/ Pencapaian.
Berdasarkan capaian terapi yang dilakukan sebanyak 16 kali sesi terapi diperoleh hasil bahwa LTG yang disusun dalam perencanaan terapi, yaitu pasien mampu mengidentifikasi warna (kuning, merah, biru) dengan perceptual motor activity. Untuk mencapai LTG disusun beberapa STG, dari STG I mampu mengidentifikasi warna merah dengan aktivitas perseptual motor, STG II mampu mengidentifikasi warna kuning dengan aktivitas perseptual motor, STG III mampu mengidentifikasi warna biru dengan aktivitas perseptual motor telah tercapai dengan baik. Adapaun STG yang belum tercapai yaitu STG IV mampu mengidentifikasi warna merah, kuning, biru secara bersamaan dengan aktivitas perseptual motor. Meskipun dalam pelaksanaanya
harus dengan arahan instruksi berulang kali dan dampingan penuh dari terapis.
I. Follow-Up
Berdasarkan re-evaluasi yang telah dilakukan oleh terapis diketahui STG IV mampu mengidentifikasi warna merah, kuning, biru dengan aktivitas perseptual motor belum tercapai. Namun orangtua diharapkan tetap melakukan home programme yang telah di berikan oleh terapis, agar STG IV tercapai dengan hasil yang lebih maksimal dan konsisten. Orangtua pasien diharap dapat mengaplikasikan kemampuan anak tentang mengidentifikasi warna dalam kehidupan sehari-hari yaitu, menyebutkan baju yang digunakan, mengambil pakaian dengan warna yang ditentukan, menunjukkan warna gelas, mewarnai gambar dengan warna yang ditentukan.