1
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan Negara beraneka ragam adat dan budaya. Daerah yang satu dengan daerah yang lainnya memiliki adat dan budaya yang berbeda-beda. Demikian juga dalam hal pewarisan mempunyai berbagai macam bentuk pewarisan. Hukum waris di Indonesia bersifat pluralistis, belum ada kodifikasi mengenai hukum waris. Hukum waris yang berlaku secara nasional belum terbentuk dan hingga kini ada 3 (tiga) macam hukum waris yang berlaku dan diterima masyarakat Indonesia, yakni hukum waris yang berdasarkan hukum Islam, hukum Adat dan hukum Perdata Barat (BW). Masing-masing hukum tersebut mempunyai perbedaan satu dengan yang lainnya.
Hukum Islam meliputi seluruh kehidupan manusia di dunia, baik untuk mewujudkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat nanti. Di antara hukum tersebut ada yang mengandung sanksi yang dapat dirasakan
di dunia seperti sanksi hukum pada umumnya dan ada pula sanksi yang dirasakan di dunia namun ditimpakan di akhirat kelak dalam bentuk dosa dan balasan atas dosa tersebut.1
Allah telah mengatur semua kehidupan manusia di atas dunia iniyang dituangkan dalam bentuk perintah atau kehendak Allah tentang suatu perbuatan yang boleh dilakukan mauun perbuatan yang tidak boleh dilakukan oleh manusia. Aturan Allah mengenai tingkah laku manusia secara sederhana adalah syariah atau hukum syara’ yang sekarang ini biasanya disebut hukum Islam.2
1
Moh. Muhibbin dan Abdul Wahid, Hukum Kewarisan Islam Sebagai Pembaharuan Hukum Positif di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2011, hlm. 1.
Segi kehidupan yang diatur oleh Allah dapat dikelompokkan kepada dua kelompok, yaitu :
1. Hablum min Allaah, mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan lahir manusia dengan Allah penciptanya. Aturan tentang hal ini disebut hukum ibadah. Tujuannya untuk menjaga hubungan Allah dengan hamba-Nya.
2. Hablun min Annass, mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan manusia satu dengan lainnya dan alam sekitarnya. Aturan tentang hal ini disebut hukum muamalat. Tujuannya untuk menjaga hubungan manusia satu dengan lainnya.3 Nilai-nilai ke-Islaman adalah nilai-nilai moral sebagai pedoman berkehidupan Islam sesuai dengan apa yang
diperintahkan dalam Al Qur’an dan Al Hadits (As Sunnah). Nilai-nilai ke-Islaman itu akan terbentuk dalam diri dan terekspresikan pada perilaku
yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Karena sebagai muslim mentaati semua syariat Islam itu adalah kewajiban, yang berlaku secara universal. Salah satu syariat yang diatur dalam ajaran Islam adalah tentang hukum waris, yaitu pemindahan harta warisan dari pewaris kepada ahli waris yang berhak menerimanya, yang meliputi segala jenis harta benda, baik berupa uang, tanah, mobil, emas dan sebagainya.4
Sebagai agama yang sempurna, Islam mengatur segala sisi kehidupan manusia, termasuk dalam hal-hal yang berkaitan dengan peralihan harta yang ditinggal oleh seseorang, setelah meninggal dunia. Hukum yang mengatur tentang peralihan harta orang yang sudah meninggal dunia tersebut dinamakan hukum kewarisan, yang dalam hukum Islam disebut dengan hukum faraid.
Di dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 171 huruf a menjelaskan tentang pengertian dari hukum kewarisan yaitu hukum yang mengatur tentang pemindahan hak kepemilikan harta peninggalan (tirkah), pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing.
3
Ibid, hlm.2.
4
Muhammad Ali Ash-Shabuni, Pembagian Warisan Menurut Islam, Cetakan II, Gema Insani Press, Jakarta, 1996, hlm. 39.
Dalam hukum kewarisan Islam mengenal asas Ijbari, yaitu peralihan harta seseorang yang meninggal dunia kepada ahli warisnya berlaku dengan sendirinya menurut ketetapan Allah tanpa digantungkan kepada kehendak pewaris atau ahli waris. Dalam Islam tata cara mengenai pembagian harta warisan telah diatur dengan sebaik-baiknya dan jelas. Al Qur’an menjelaskan dan merinci secara detail hukum-hukum yang berkaitan dengan hak kewarisan tanpa mengabaikan hak seorangpun.5 Pembagian masing-masing ahli waris baik laki-laki maupun perempuan telah ada ketentuannya di dalam Al Qur’an Surah An Nisaa’ ayat 7, yang artinya :
“ Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan. “ (An-Nisaa : 7).6
Aturan tentang waris tersebut ditetapkan oleh Allah SWT melalui firman-Nya di dalam Al Qur’an terutama Surah An-Nisaa’ ayat 7, 8, 11, 12 dan 176. Ketentuan Allah yang berkenaan dengan warisan pada dasarnya sudah jelas mengenai maksud, arah dan tujuannya. Hal-hal yang memerlukan penjelasan, baik yang sifatnya menegaskan ataupun merinci, juga telah diatur melalui hadits-hadits Rosululah SAW atau sering sebut Sunnah Rosul. Namun dalam
penerapannya masih menimbulkan wacana pemikiran dan pembahasan di kalangan para ahli hukum Islam yang kemudian dirumuskan dalam ajaran
yang bersifat normatif. Aturan tersebut yang kemudian diabadikan dalam lembaran kitab fiqh serta menjadi pedoman bagi ummat muslim dalam menyelesaikan permasalahan tentang kewarisan.7
Timbulnya kebutuhan untuk mengetahui kejelasan ketentuan hukum kewarisan tersebut tidak harus menunggu karena adanya sengketa perkara waris, tetapi sebaiknya karena ingin agar dapat melaksanakan ketentuan hukum waris ini sebagaimana menurut ketentuan hukum Islam, mengingat sebagian besar bangsa Indonesia menganut agama Islam (muslim). Namun
5 Ibid, hlm. 32. 6
Yayasan Penyelenggaraan Penterjemah/Pentafsiran Al Qur’an, Al Qur’an dan Terjemahannya, PT. Intermasa, Jakarta, 1993, hlm. 116.
kenyataannya masih banyak orang muslim terutama di Indonesia yang belum memiliki pengetahuan yang mantap tentang kewarisan Islam, sekalipun hanya sekadar dasar-dasarnya. Mungkin seorang Muslim yang taat pada aturan agamanya menginginkan untuk melaksanakan pembagian warisan menurut
hukum Islam, tetapi kadang-kadang ia tidak begitu memahami, ragu dan takut salah yang akan menimbulkan dosa, sehingga untuk menghilangkan
keragu-raguan atau kekawatiran berbuat salah terhadap harta peninggalan atau warisan itu, ia akan bertanya dan meminta pendapat maupun saran Ulama, Kyai bahkan ahli hukum atau Sarjana Hukum yang dianggap ahli dan paham mengenai hukum kewarisan Islam. Selain itu tentu saja pengetahuan hukum waris Islam ini akan lebih penting lagi bagi seorang hakim maupun pengacara yang menghadapi perkara demikian yang secara moral berkewajiban untuk menguasai pengetahuan hukum waris Islam tersebut.8 Demikian pula bagi seorang Notaris dalam memberikan penyuluhan hukum dan penjelasan terhadap siapa saja atau klien yang datang kepadanya untuk meminta solusi penyelesaian terhadap permasalahan yang dihadapinya mengenai pembagian harta warisan khususnya bagi yang beragama Islam.
Karena itu, mengingat bangsa Indonesia mayoritas beragama Islam, tentunya mengharapkan berlakunya hukum Islam di Indonesia termasuk hukum warisnya bagi mereka yang beragama Islam, maka sudah selayaknya di dalam menyusun hukum waris nasional nanti hendaknya memasukkan ketentuan-ketentuan pokok hukum waris Islam ke dalamnya, dengan memperhatikan pula pola budaya atau adat yang hidup di masyarakat yang bersangkutan.
Hukum kewarisan Islam atau yang juga dikenal dengan sebutan the
Islamic Law of Inheritance mempunyai karakteristik tersendiri jika
dibandingkan dengan sistem hukum lainnya, misalnya Civil Law ataupun
Common Law. Di dalam hukum Islam ketentuan materiil bagi orang-orang
yang ditinggalkan pewaris, telah digariskan dalam Al Qur’an dan Al-Hadits secara rinci dan jelas sedangkan di dalam sistem hukum Barat pada pokoknya
menyerahkan soal harta peninggalan pewaris berdasarkan kepada keinginan yang bersangkutan itu sendiri, yaitu pewaris bisa membuat wasiat pada saat hidupnya. Dengan perkataan lain, kehendak atau keinginan pewaris merupakan sesuatu yang utama dan hukum baru ikut campur, apabila ternyata pewaris tidak meninggalkan wasiat yang sah. Hukum kewarisan Islam telah merombak secara mendasar sistem kewarisan yang berlaku pada masa sebelum Islam yang pada pokoknya tidak memberikan hak kewarisan kepada wanita dan anak-anak. Dengan demikian, hukum kewarisan Islam telah meletakkan suatu dasar keadilan hukum yang sesuai dengan hak asasi dan martabat manusia di dunia.9
Para Sarjana hukum Barat banyak yang menganggap Hukum Kewarisan Islam tidak mempunyai sistem dan hanya bersandar pada asas patrilineal. Di sisi lain di kalangan umat Islam sendiri banyak pula yang mengira tidak ada sistem tertentu dalam hukum kewarisan Islam, sehingga menimbulkan sebuah anggapan seolah-olah hukum kewarisan Islam merupakan hukum yang sangat rumit dan sulit. Hal itulah yang menyebabkan hukum kewarisan Islam menurut fiqih kebudayaan Arab itu sangat sulit diterima masyarakat Islam di Indonesia.10
Selain hal tersebut di atas, banyak kitab yang membahas tentang
hukum kewarisan Islam selalu mengandung perbedaan pendapat, baik di kalangan ulama yang satu mazhab, maupun yang berbeda mazhab. Hal ini menimbulkan ketidakpastian hukum yang dapat membingungkan umat
yang berperkara dan juga dapat menyulitkan para Hakim Pengadilan Agama untuk menentukan pendapat mana yang diambil di antara sekian banyak pendapat itu.11
Seiring dengan diterbitkannya Kompilasi Hukum sebagai Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991, ditindak lanjuti oleh Keputusan Menteri Agama Nomor 154 Tahun 1991, dan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan 9 Ibid, hlm. 3. 10 Ibid, hlm. 4. 11Ibid.
Agama, yang dirubah lagi dengan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama, para hakim pengadilan agama di Indonesia telah mempunyai sandaran hukum yang jelas dalam memutuskan perkara, khususnya masalah hukum kewarisan Islam.12 Demikian juga bagi seorang Notaris dalam menjalankan perannya juga telah mempunyai sandaran hukum (pijakan hukum) dalam menjalankan peran jabatannya sebagai Notaris sesuai peraturan Jabatan Notaris yang berlaku di Indonesia. Bagi umat Islam melaksanakan ketentuan yang berkenaan dengan hukum kewarisan merupakan suatu kewajiban yang harus dijalankan, karena itu merupakan bentuk manifestasi keimanan dan ketakwaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dewasa ini dalam kehidupan bermasyarakat telah mengalami perkembangan yang cukup pesat, dengan perkembangan yang semakin maju
tersebut, kebutuhan masyarakat atas jasa dari notaris semakin dibutuhkan. Hal ini terutama terkait dengan adanya keinginan dari masyarakat untuk
menyatakan kehendak dengan alat bukti yang autentik. Masyarakat banyak yang menganggap Notaris bisa dan sudah biasa menyelesaikan semua permasalahan yang mereka hadapi yang berhubungan dengan pembuatan akta-akta termasuk menyelesaikan permasalahan tentang pembagian warisan sesuai apa yang mereka pilih termasuk bagi yang memilih atau tunduk pada hukum Islam. Tugas jabatan Notaris adalah memformulasikan keinginan atau tindakan para pihak ke dalam akta autentik dengan memperhatikan aturan hukum yang berlaku.
Notaris merupakan pejabat umum yang mempunyai tugas dan kewenangan memberikan pelayanan dankonsultasi hukum kepada masyarakat yang membutuhkan. Bantuan hukum yang dapat diberikan dari seorang Notaris adalah dalam bentuk membuat akta autentik dan ataupun kewenangan lainnya sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris.
12 Ibid.
Tugas Notaris yang selain memberikan bantuan dengan membuat akta autentik, tetapi juga konsultasi hukum kepada masyarakat. Dengan demikian, penting bagi Notaris untuk dapat memahami ketentuan yang diatur oleh undang-undang supaya masyarakat umum yang tidak tahu atau kurang memahami aturan hukum, dapat memahami dengan benar serta tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum.
Kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukummenuntut, antara lain, bahwa lalu lintas hukum dalam kehidupan masyarakat memerlukan adanya alat bukti yang menentukan dengan jelas hak dan kewajiban seseorang sebagai obyek hukum dalam masyarakat.
Akta autentik sebagai alat bukti terkuat dan terpenuh, mempunyai peranan penting dalam setiap hubungan hukum dalam kehidupan masyarakat. Dalam berbagai hubungan bisnis, kegiatan di bidang perbankan, pertanahan, kegiatan sosial, dan lain-lain yang termasuk hubungan muamalah, memerlukan akan pembuktian tertulis berupa akta autentik, perkembangan tuntutan akan kepastian hukum dalam berbagai hubungan ekonomi dan sosial, baik pada tingkat regional, nasional, maupun global. Melalui akta autentik yang dibuat oleh atau di hadapan Notaris, yang disebut dengan akta notaris, yang menentukan secara jelas hak dan kewajiban para pihak dan menjamin kepastian hukum dan sekaligus diharapkan pula dapat dihindari terjadinya sengketa. Walaupun sengketa tersebut tidak dapat dihindari, dalam proses penyelesaian sengketa tersebut, akta autentik yang merupakan alat bukti tertulis terkuat dan terpenuh yang memberi sumbangan nyata bagi penyelesaian perkara secara murah dan cepat.
Notaris, adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik, sejauh pembuatan akta autentik tertentu tidak dikhususkan bagi pejabat umum lainnya. Pembuatan akta autentik, ada yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dalam rangka menciptakan kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum. Akta autentik dibuat oleh peraturan perundang-undangan, selain itu juga karena dikehendaki oleh pihak yang berkepentingan untuk memastikan hak dan kewajiban para pihak demi
kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum bagi pihak yang berkepentingan, sekaligus bagi masyarakat secara keseluruhan.
Akta autentik pada hakikatnya memuat kebenaran formal, sesuai dengan apa yang diberitahukan para pihak kepada Notaris. Namun, Notaris mempunyai kewajiban untuk memasukan ketentuan, bahwa apa yang termuat dalam akta notaris sungguh-sungguh telah dimengerti dan sesuai dengan kehendak para pihak, yaitu dengan cara membacakannya, sehingga menjadi jelas isi akta notaris, serta memberikan akses terhadap informasi, termasuk
akses terhadap peraturan perundang-undangan yang terkait dengan akta yang dibuat bagi para pihak. Selain itu dapat menentukan dengan bebas untuk menyetujui atau tidak menyetujui isi akta notaris yang akan
ditandatanganinya.
Profesi Notaris sangat penting dalam pembuatan akta waris maupun akta yang berhubungan dengan kewarisan khususnya mengenai pembagian harta warisan. Notaris sebagai Pejabat Publik, dituntut profesionalitasnya yang
salah satunya adalah menjembatani kepentingan para pihak (klien yang datang menghadap kepada Notaris) dalam menyelesaikan permasalahan yang
adadan atau menuangkan keinginan para pihak ke dalam sebuah akta autentik. Dalam penelitian ini penulis akan meneliti dan menganalisis sebuah akta mengenai pembagian warisan yang dilakukan oleh orang-orang yang beragama Islam (muslim) menurut hukum Islam yang dibuat secara autentik di hadapan Notaris.
Dengan adanya permasalahan tersebut di atas, sebelumnya telah dilakukan beberapa penelitian hukum yang sejenis, di antaranya yaitu :
pertama adalah penelitian hukum berupa tesis yang ditulis oleh Susiawati,
tahun 2008, dengan judul “Pelaksanaan Tashaluh Dalam Pembagian Warisan Pada Masyarakat Muslim Banjarsari Ciamis”, dari Magister Kenotariatan Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Penelitian ini membahas tentang pelaksanaan pembagian warisan yang dilakukan pada masyarakat muslim Banjarsari Ciamis, yang dilakukan dengan tashaluh. Hasil dari penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa pelaksanaan tashaluh dalam pembagian
warisan pada masyarakat muslim Banjarsari, Ciamis belum sepenuhnya sesuai dengan Pasal 183 Kompilasi Hukum Islam (KHI). Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis yaitu tentang jenis penelitiannya dan obyek yang diteliti. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Susiawati tersebut jenis penelitiannya yaitu penelitian hukum Empiris (Yuridis Empiris) dengan obyek penelitiannya mengenai pelaksanaan pembagian warisan pada masyarakat Muslim Banjarsari Ciamis dengan cara Tashaluh (damai) dengan hasil belum sesuai dengan Pasal 183 Kompilasi Hukum Islam (KHI). Sedangkan jenis penelitian yang dilakukan oleh penulis yaitu penelitian hukum Normatif (Yuridis Normatif) dengan obyek yang diteliti yaitu Akta autentik yang dibuat di hadapan Notaris (akta Notaris) yang isinya mengenai pembagian warisan yang dilakukan oleh para ahli waris dengan cara damai (Ash-Shulh atau Tashaluh) berdasarkan hukum Islam.
Kedua, penelitian hukum berupa tesis yang ditulis oleh Maryani,
tahun 2002, dengan judul “Akta Notariil Sebagai Salah Satu Bukti Penyelesaian Kewarisan Bagi Orang-Orang Islam”, dari Program Studi Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), yang membahas tentang penyelesaian perkara kewarisan bagi orang-orang beragama Islam. Hasil penelitian yang diperoleh adalah dalam menyelesaikan perkara warisan bagi orang-orang beragama Islam tidak harus dengan melalui jalur pengadilan tapi bisa melalui Notaris untuk meminta penyelesaian perkara kewarisan tersebut dengan cara mengadakan pembagian terhadap harta peninggalan
pewaris yang dituangkan ke dalam sebuah akta autentik yang dibuat di hadapan Notaris. Akta Notaris atau akta notariil yang dibuat tersebut yaitu
akta pemisahan dan pembagian harta peninggalan. Akta ini biasanya berlaku dan dikenal bagi orang-orang yang tunduk pada Hukum Perdata Barat (BW). Namun bisa juga diperuntukkan bagi orang-orang yang beragama Islam dalam menyelesaikan perkara pewarisan menurut hukum Islam. Hanya saja belum begitu banyak orang-orang Islam yang mengetahui. Perbedaan dengan penelitian hukum yang diteliti oleh penulis yaitu mengenai permasalahan yang diteliti. Penelitian hukum yang dilakukan oleh penulis mengkaji permasalahan
tentang kewenangan Notaris dalam membuat akta autentik mengenai pembagian warisan yang dilakukan para ahli waris menurut hukum Islam berdasarkan kesepakatan damai, sedangkan penelitian hukum yang dilakukan oleh Maryani dalam tesisnya tersebut mengkaji tentang fungsi akta Notariil sebagai salah satu bukti dan upaya untuk menyelesaikan permasalahan atau perkara kewarisan bagi orang-orang yang beragama Islam melalui jalur di luar pengadilan.
Ketiga, penelitian hukum berupa tesis yang ditulis oleh Risanti
Rosalina, S.H., tahun 2011, dengan judul “Akta Notariil Pembagian Waris Sama Rata Antara Anak Laki-Laki Dan Perempuan Menurut Hukum Islam, dari Program Studi Kenotariatan, Fakultas Hukum, Universitas Airlangga, yang membahas tentang pembagian warisan yang dilakukan oleh orang-orang yang beragama Islam menurut hukum Islam dengan pembagian sama rata antara ahli waris anak laki-laki dan anak perempuan. Pembagian warisan sama rata antara anak laki-laki dan anak perempuan dilaksanakan atas dasar kesepakatan, para ahli waris mengadakan upaya perdamaian pembagian waris berdasarkan kehendak bersama, yang kemudian dituangkan ke dalam sebuah akta autentik yang dibuat di hadapan Notaris. Tugas Notaris menformulasikan keinginan para pihak ke dalam akta otentik berupa akta Notariil (akta notaris) dengan memperhatikan aturan dan norma hukum yang berlaku. Hasil dari penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa Notaris sebagai pejabat umum yang berwenang membuat akta autentik sesuai dengan tugas jabatannya
menformulasikan keinginan atau kehendak para pihak yang dalam hal ini ahli waris anak laki-laki dan ahli waris anak perempuan dalam membagi
warisan dengan pembagian sama rata ke dalam akta Notaris (akta notariil). Akta Notaris yang subtansinya tentang perdamaian pembagian waris sama rata antara anak laki-laki dan anak perempuan tersebut merupakan kehendak para pihak yang harus dihormati dan merupakan intisari dari tujuan syariah yaitu terwujudnya kemaslahatan. Perbedaan dengan penelitian hukum yang diteliti oleh penulis yaitu subtansi yang diteliti. Penelitian hukum yang dilakukan oleh penulis subtansinya tentang analisis akta notaris mengenai pembagian
warisan menurut hukum Islam dihubungkan dengan kewenangan Notaris dalam membuat akta autentik mengenai pembagian warisan tersebut, sedangkan penelitian hukum yang dilakukan oleh Risanti Rosalina, S.H., dalam tesisnya tersebut subtansinya hanya mengenai perdamaian pembagian warisan sama rata antara anak laki-laki dan anak perempuan menurut hukum Islam.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan pokok-pokok permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana kewenangan Notaris dalam membuat akta yang menyimpang dari norma yang ditentukan dalam hukum Islam ?
2. Bagaimana kekuatan hukum Akta Pembagian Warisan Menurut hukum Islam yang dibuat di hadapan Notaris ?
C. Tujuan Penelitian
Dalam suatu penelitian pada dasarnya memiliki suatu tujuan tertentu yang hendak dicapai. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Tujuan Objektif.
a. Untuk mengetahui bagaimana kewenangan Notaris dalam membuat akta yang menyimpang dari norma yang ditentukan dalam hukum Islam.
b. Untuk mengetahui bagaimana kekuatan hukum Akta Pembagian Warisan menurut hukum Islam yang dibuat di hadapan Notaris tersebut.
2. Tujuan Subjektif.
a. Penelitian ini dimaksudkan sebagai suatu kajian akademik yang diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran terhadap bahasan yang terkait dengan Akta Pembagian Warisan menurut
hukum Islam, yang dibuat di hadapan Notaris sebagai pejabat umum
yang berwenang membuat akta autentik sebagaimana telah diatur di dalam Undang-Undang Jabatan Notaris.
b. Memenuhi persyaratan akademis guna mencapai gelar Magister Kenotariatan pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.
D. Manfaat Penelitian
Setiap penelitian dalam penulisan diharapkan adanya manfaat dari penelitian tersebut, yaitu :
1. Secara Teoritis
a. Di harapkan bisa menjadi bahan informasi bagi klien, Notaris maupun masyarakat Indonesia pada umumnya mengenai akta pembagian warisan menurut hukum Islam yang dibuat dihadapan Notaris.
b. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis dan sumbangan bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu hukum yang berkaitan dengan bidang Kenotariatan.
2. Secara Praktis
a. Mengetahui lebih dalam mengenai Akta Pembagian Warisan menurut hukum Islam yang dibuat di hadapan Notaris.
b. Sebagai bahan tinjauan bagi Notaris sebagai pejabat umum yang berwenang membuat akta autentik, maupun kewenangan lainnya yang yang telah diatur dalam peraturan jabatan Notaris.
c. Memberikan informasi yang bermanfaat, baik berupa masukan, saran dan sumbangan pemikiran bagi pihak-pihak yang berkepentingan dan Notaris sebagai pejabat umum yang berwenang membuat akta autentik yang dalam hal ini akta Notaris berkenaan dengan pemisahan dan pembagian harta warisan menurut hukum Islam di hadapan Notaris.