• Tidak ada hasil yang ditemukan

PANDANGAN IMAM MADZHAB TERHADAP MAHAR BERUPA JASA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PANDANGAN IMAM MADZHAB TERHADAP MAHAR BERUPA JASA"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1 (S1)

Dalam Ilmu Syari’ah

fv

Disusun Oleh :

EKA PUJI LESTARI 062111047

FAKULTAS SYARI’AH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG

2011

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv







“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka

menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai

makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” * (QS. an-Nisa’: 4)

* Yayasan Penyelenggara Penterjemah al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung:

Sinar Baru Algensindo, 2006, h. 61.

(5)

v untuk :

 Ayahanda dan Ibunda tercinta (Karwi dan Sri Suparni) selaku orang tua penulis yang dengan ketulusan, kesabaran memberikan kasih sayang yang tidak pernah pudar, dan curahan do’a, semangat serta inspirasi kepada penulis.

 Adik-adikku tercinta (Eni Pirnawati, Isti Yulyaeni, Indah Susi Jayanti, dan Muhammad Bagus Khoirum) yang selalu menghibur dan memberikan semangat.

 Keluarga besar Om dan Bu Lek serta putra-putrinya,terima kasih yang tidak terhingga karena tanpa mereka mungkin saya tidak bisa bertahan dan berjuang.

 Keluarga besar Kakek ( Simbah Darmo) dan Nenek (Simbah Misah) terima kasih banyak tanpa mereka saya tidak akan tahu arti berbagi.

 Teman-teman sehati seperjuangan, gus Labib, mbak Yoeny, mbak Ima, mbak Fatma, Olief, mbak Zum, mbak Alin, Nawang, Hani, Agustin, Nia, Nailul, Beti, Erwin, Munir, Hudam, Dedi, Wahyudi, Kholid, Anwar dan Azis, yang telah mendewasakanku dengan sejuta ilmu dan pengalaman berharga yang tidak ternilai.

 Teman-teman kos Amalia, yang selalu memberi keceriaan dan motivasi demi terselesainya skripsi ini.

 Semua rekan-rekan yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini. Terima Kasih.

(6)

vi

materi yang telah pernah ditulis oleh orang lain atau diterbitkan. Demikian juga skripsi ini tidak berisi satu pun pikiran-pikiran orang lain, kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan rujukan.

Semarang, 11 Juni 2011 Deklarator,

Eka Puji Lestari

(7)

vii

laki kepada calon mempelai wanita, baik berbentuk barang, uang atau jasa yang tidak bertentangan dengan hukum Islam. Pemberian mahar merupakan suatu kewajiban yang bertujuan untuk meninggikan harkat dan martabat perempuan, tetapi saat ini mahar dianggap sebagai salah satu bagian dalam ritualitas akad nikah. Mahar yang diberikan beraneka ragam bentuknya, terutama mahar berupa harta benda (materi), padahal mahar dapat pula berupa jasa atau manfaat (non materi). Pokok permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana konsep mahar berupa jasa menurut imam madzhab, dan bagaimana keterkaitan pemberian mahar berupa jasa dalam akad perkawinan dengan konteks sekarang?

Jenis penelitian dalam skripsi ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan metode kualitatif, oleh karena itu data-data sebagai penunjang penelitian, penulis dapatkan dari buku-buku yang berhubungan dengan penelitian ini. Penulis dalam menganalisis data menggunakan metode deskriptif analitis.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep mahar berupa jasa menurut imam madzhab ini terkait dengan pendapat ulama tentang mahar berupa jasa. Pendapat-pendapat tersebut yaitu: 1) Imam Abu Hanifah, tidak membolehkan terutama mahar berupa jasa dalam membacakan atau mengajarkan ayat-ayat al-Qur’an karena mahar tersebut tidak termasuk harta yang tidak boleh mengambil upah darinya, sehingga tidak sah untuk dijadikan mahar, namun darinya wajib dibayar mahar mitsil. 2) Imam Malik, membolehkan karena jasa patut menjadi mahar, sama halnya dengan harta. 3) Imam Syafi'i, membolehkan karena mahar yang berupa jasa atau manfaat yang dapat diupahkan sah dijadikan mahar. 4) Imam Ahmad Hambali, membolehkan karena mahar berupa manfaat seperti halnya mahar berupa benda, dengan syarat manfaat harus diketahui.

Keterkaitan pemberian mahar berupa jasa dalam akad perkawinan dengan konteks sekarang ini sesuai dengan KHI, bahwa mahar boleh berupa barang, uang atau jasa yang tidak bertentangan dengan hukum Islam (KHI Pasal 1 sub d).

Mahar itu bisa berdasarkan asas kesederhanaan dan kemudahan serta berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak baik bentuk dan jenisnya (KHI Pasal 30 dan 31).

Kata Kunci: Mahar, Mahar berupa Jasa

(8)

viii Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah wa Syukrulillah, senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan nikmat kepada semua hamba-Nya, sehingga sampai saat ini kita masih mendapatkan ketetapan Iman dan Islam.

Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepangkuan Rasulullah Muhammad SAW pembawa rahmat bagi makhluk sekian alam, keluarga, sahabat dan para tabi’in serta kita umatnya, semoga kita mendapat pertolongan di hari akhir nanti.

Dalam penjelasan skripsi ini tentulah tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, baik dalam ide, kritik, saran maupun dalam bentuk lainnya. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Muhibbin, M.Ag. selaku Rektor IAIN Walisongo Semarang.

2. Bapak Dr. Imam Yahya, M.Ag. selaku Dekan Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo.

3. Bapak Drs. H. Abu Hapsin, M.A., Ph.D. dan Bapak Moh. Khasan, M.Ag.

selaku Pembimbing I dan II yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan bimbingan dan pengarahan dalam skripsi ini.

4. Ibu Anthin Lathifah, M.Ag. selaku ketua jurusan Ahwal al-Syahsiyah Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang.

5. Seluruh Dosen, karyawan dan civitas akademika di Fakultas syari’ah IAIN Walisongo Semarang yang telah membekali berbagai ilmu pengetahuan sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.

6. Ayahanda dan Ibunda tercinta, yang telah memberikan dukungan serta do’anya dan semuanya yang tidak ternilai, serta adik-adikku yang selalu mendukung dan mendo’akan dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini.

(9)

ix

9. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Kepada mereka semua tiada yang dapat penulis perbuat untuk membalas kebaikan mereka, kecuali penghargaan yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih yang sebanyak-banyaknya serta sekuntum do’a semoga Allah membalas semua amal kebaikan mereka dengan balasan yang lebih dari yang mereka berikan.

Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari segi bahasa, isi maupun analisisnya, sehingga kritik dan saran sangat penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Semarang, 11 Juni 2011 Penulis

Eka Puji Lestari NIM. 062111047

(10)

x

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

HALAMAN DEKLARASI ... vi

HALAMAN ABSTRAK... vii

HALAMAN KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 10

C. Tujuan Penelitian ... 11

D. Telaah Pustaka ... 11

E. Metode Penelitian ... 14

F. Sistematika Penulisan Skripsi ... 17

BAB II : KETENTUAN UMUM TENTANG MAHAR DALAM PERKAWINAN A. Pengertian dan Dasar Hukum Mahar ... 19

1. Pengertian Mahar ... 19

2. Dasar Hukum Mahar ... 21

B. Macam-macam dan Syarat-syarat Mahar ... 24

1. Mahar Ditinjau dari Kualifikasi ... 24

a) Mahar dalam bentuk benda kongkrit ... 24

b) Mahar dalam bentuk jasa atau manfaat ... 26

2. Mahar Ditinjau dari Klasifikasi ... 34

a) Mahar Musamma ... 34

b) Mahar Mitsil ... 36

(11)

xi MADZHAB

A. Pendapat Ulama tentang Mahar berupa Jasa ... 44 B. Bentuk Mahar berupa Jasa yang Sah menjadi Mahar

Perkawinan ... 59

BAB IV : ANALISIS MAHAR BERUPA JASA MENURUT IMAM MADZHAB

A. Analisis Pendapat Ulama tentang Mahar berupa Jasa ... 65 B. Keterkaitan Pemberian Mahar berupa Jasa dalam Akad

Perkawinan dengan Konteks Sekarang ... 74

BAB V : PENUTUP

A. Kesimpulan ... 81 B. Saran-Saran ... 82 C. Penutup ... 83

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN

(12)

1

Agama Islam sangat menganjurkan perkawinan. Anjuran ini dinyatakan dalam al-Qur’an dan hadits. Ada yang menyatakan bahwa perkawinan itu telah menjadi sunnah para Rasul sejak dahulu kala dan hendaknya diikuti pula oleh generasi-generasi yang datang kemudian.1 Perkawinan dalam Islam merupakan ikatan yang kuat antara pria dengan wanita untuk selamanya. Oleh karena itu tujuan perkawinan adalah untuk membentuk tatanan keluarga yang diliputi rasa kasih sayang, antara sesama anggota keluarga. Tujuan tersebut dapat dilihat dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 3 diterangkan bahwa: “Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.”2

Salah satu keistimewaan Islam ialah memperhatikan dan menghargai kedudukan wanita, yaitu memberinya hak untuk memegang urusan dan memiliki sesuatu. Di zaman Jahiliyah, hak perempuan itu dihilangkan dan disia-siakan sehingga walinya dengan semena-mena dapat menggunakan hartanya dan tidak memberikan kesempatan untuk mengurus hartanya serta menggunakannya. Islam datang menggunakan belenggu ini.3 Pada setiap upacara perkawinan, hukum Islam mewajibkan pihak laki-laki untuk

1 Kamal Muchtar, Asas-asas Hukum Islam Tentang Perkawinan, Jakarta: Bulan Bintang, Cet. 1, 1974, h. 17.

2 Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: Academia Pressindo, 1992, h. 114.

3 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, Jilid 3, Terj. Nor Hasanuddin, Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2006, h. 40.

(13)

memberikan maskawin atau mahar. Pemberian ini dapat dilakukan secara tunai atau cicilan yang berupa uang atau barang.4

Mahar menurut ajaran islam, bukanlah dimaksudkan sebagai harga, pengganti atau nilai tukar bagi wanita (calon istri) yang akan dinikahi. Mahar hanyalah sebagai bagian dari lambang atau tanda bukti bahwa calon suami menaruh cinta terhadap calon istri yang akan dinikahi. Mahar juga berfungsi sebagai tanda ketulusan niat dari calon suami untuk membina kehidupan rumah tangga bersama calon istrinya dan dapat pula dinilai sebagai bukti pendahuluan bahwa setelah hidup berumah tangga nanti. Sang suami akan senantiasa memenuhi tanggung jawabnya, memberi nafkah bagi sang istri dan keluarganya, yang ditujukan pada awal pernikahannya dengan rela hati memberikan sebagian dari hartanya kepada calon istrinya.5

Para wanita harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang ada, sebagaimana yang sudah termaktub dalam al-Qur'an ataupun hadits-hadits Nabi SAW. Mahar yang diberikan atau yang diminta calon istri tidak memberatkan calon suami, karena hal ini sama dengan melanggar hukum Allah SWT, yaitu mempersulit atau mempersukar pelaksanaan pernikahan yang dampaknya akan lebih berat lagi yaitu dikhawatirkan timbulnya perzinaan serta hal-hal yang tidak diinginkan lainnya.

Ketidaktepatan dalam memaknai mahar menimbulkan berbagai implikasi terhadap status perempuan dalam kehidupan pernikahan. Para ahli

4 Lili Rasyidi, Hukum Perkawinan dan Perceraian di Malaysia dan Indonesia, Bandung:

PT Remaja Rosdakarya, 1991, h. 41.

5 Departemen Agama RI, Ensiklopedi Islam di Indonesia, Jakarta: CV. Anda Utama, 1993, h. 667.

(14)

hukum Islam membahas permasalahan mahar hanya berada di sekitar dan berkaitan dengan permasalahan biologis, sehingga seolah-seolah mahar hanya sebagai alat perantara dan kompensasi bagi kehalalan hubungan suami istri.

Pada saat yang sama, mahar juga digunakan sebagai alasan yang kuat untuk menyatakan bahwa suami mempunyai hak mutlak terhadap istrinya.6

Para ulama mazhab sepakat bahwa mahar bukanlah salah satu rukun akad, sebagaimana halnya dalam jual-beli, tetapi merupakan salah satu konsekuensi adanya akad. Akad nikah boleh dilakukan tanpa (menyebut) mahar.7 Dasar wajibnya menyerahkan mahar itu ditetapkan dalam al-Qur’an dan dalam hadits Nabi. Dalil dalam ayat al-Qur’an adalah firman Allah dalam surat an-Nisa’ ayat 4 yang berbunyi :































Artinya: “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.”8

Ditinjau dari asbab al-nuzul surat An-Nisa ayat 4 di atas bahwa ada keterangan sebagai berikut: diketengahkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abu Shahih, jika seorang bapak mengawinkan putrinya, menerima dan menggunakan maskawin tanpa seizin putrinya. Maka Allah

6 Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid III, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996, h. 1042.

7 Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab, Terj. Afif Muhammad, Jakarta:

PT. Lentera Basritama, 2001, h. 366.

8 Yayasan Penyelenggara Penterjemah al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung:

Sinar Baru Algensindo, 2006, h. 61.

(15)

pun melarang mereka berbuat demikian, sehingga menurunkan ayat 4 surat An-Nisa’.9

Demikian juga firman Allah dalam surat an-Nisa’ ayat 24 :

















Artinya: “Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban.”10

Diriwayatkan oleh Ibnu Jabir dari Ma’mar bin Sulaiman yang bersumber bapaknya yang mengemukakan bahwa orang Hadlrami membebani kaum laki-laki dalam membayar mahar (maskawin) dengan harapan dapat memberatkannya (sehingga tidak dapat membayar pada waktunya untuk mendapatkan tambahan pembayaran). Maka turunlah ayat 24 surat an-Nisa’

sebagai ketentuan pembayaran maskawin atas keridaan kedua belah pihak.11 Pada umumnya mahar itu dalam bentuk materi, baik berupa uang atau barang berharga lainnya. Syari’at Islam memungkinkan mahar itu dalam bentuk jasa melakukan sesuatu. Ini adalah pendapat yang dipegang jumhur ulama. Mahar dalam bentuk jasa ini ada landasannya dalam al-Qur’an dan demikian pula dalam hadits Nabi. Contoh mahar dalam bentuk jasa dalam al- Qur’an ialah menggembala kambing selama 8 tahun sebagai mahar perkawinan seorang perempuan.12 Hal ini sebagaimana telah terjadi ketika Nabi Musa a.s. menikahi salah seorang putri Nabi Syu’aib a.s., dengan mas

9 H.A.A. Dahlan dan M. Zaka Alfarisi (eds), Asbabun Nuzul Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-ayat al-Qur’an, Edisi kedua, Bandung: CV. Penerbit Diponegoro, 2000, h. 127.

10 Yayasan Penyelenggara Penterjemah al-Qur’an, op. cit., h. 65.

11 H.A.A. Dahlan dan M. Zaka Alfarisi (eds), op. cit., h. 135.

12 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia antara Fiqh Munakahat dan Undang-undang Perkawinan, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009, h. 91.

(16)

kawin bekerja selama delapan tahun sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Qashash ayat 27:







































Artinya: “Berkatalah dia (Syu'aib): "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu.”13

Hadits yang menyatakan bahwa mahar itu merupakan kewajiban yang harus dipikul oleh setiap calon suami yang akan menikahi calon istrinya, yaitu hadits tentang mahar yang hanya berupa tindakan atau bentuk usaha yang bisa mendatangkan manfaat, sebagaimana termaktub dalam hadits di bawah ini:

ﺪﺣ ٍﺪﻌﺳ ِﻦﺑ ِﻞﻬﺳ ﻦﻋ ِﻪﻴِﺑﹶﺃ ﻦﻋ ٍﻡِﺯﺎﺣ ﻲِﺑﹶﺃ ﻦﺑ ِﺰﻳِﺰﻌﹾﻟﺍ ﺪﺒﻋ ﺎﻨﹶﺛﺪﺣ ﹸﺔﺒﻴﺘﹸﻗ ﺎﻨﹶﺛ

ﺟ ﹶﻝﺎﹶﻗ ﻱِﺪِﻋﺎﺴﻟﺍ ﺖَﹶﻟ ﺎﹶﻘﹶﻓ ﻢﱠﻠﺳ ﻭ ِﻪﻴﹶﻠﻋ ُﷲﺍ ﻰﱠﻠﺻ ِﷲﺍ ِﻝﻮﺳﺭ ﻰﹶﻟِﺇ ﹲﺓﹶﺃﺮﻣﺍ ﺕَﺀﺎ

ُﷲﺍ ﻰﱠﻠﺻ ِﷲﺍ ﹸﻝﻮﺳﺭ ﺎﻬﻴﹶﻟِﺇ ﺮﹶﻈﻨﹶﻓ ﹶﻝﺎﹶﻗ ﻲِﺴﹾﻔﻧ ﻚﹶﻟ ﺐﻫﹶﺃ ﺖﹾﺌِﺟ ِﷲﺍ ﹶﻝﻮﺳﺭ ﺎﻳ

ﺳﺭ ﹶﺄﹶﻃﹾﺄﹶﻃ ﻢﹸﺛ ﻪﺑ ﻮﺻﻭ ﺎﻬﻴِﻓ ﺮﹶﻈﻨﻟﺍ ﺪﻌﺼﹶﻓ ﻢﱠﻠﺳ ﻭ ِﻪﻴﹶﻠﻋ ِﻪﻴﹶﻠﻋ ُﷲﺍ ﻰﱠﻠﺻ ِﷲﺍ ﹸﻝﻮ

ﹲﻞﺟﺭ ﻡﺎﹶﻘﹶﻓ ﺖﺴﹶﻠﺟ ﺎﹰﺌﻴﺷ ﺎﻬﻴِﻓ ِﺾﹾﻘﻳ ﻢﹶﻟ ﻪﻧﹶﺃ ﹸﺓﹶﺃﺮﻤﹾﻟﺍ ﺕﹶﺃﺭ ﺎﻤﹶﻠﹶﻓ ﻪﺳﹾﺃﺭ ﻢﱠﻠﺳﻭ ﹶﻝﺎﹶﻘﹶﻓ ﺎﻬﻴِﻨﺟﻭﺰﹶﻓ ﹲﺔﺟﺎﺣ ﺎﻬِﺑ ﻚﹶﻟ ﻦﹸﻜﻳ ﻢﹶﻟ ﹾﻥِﺇ ِﷲﺍ ﹶﻝﻮﺳﺭ ﺎﻳ ﹶﻝﺎﹶﻘﹶﻓ ِﻪِﺑﺎﺤﺻﹶﺃ ﻦِﻣ

ﻙﺪﻨِﻋ ﹾﻞﻫﻭ ﹶﻝﺎﹶﻘﹶﻓ ِﷲﺍ ﹶﻝﻮﺳﺭ ﺎﻳ ِﷲﺍ ﻭ ﻻ ﹶﻝﺎﹶﻗ ؟ٍﺀﻲﺷ ﻦِﻣ

: ﻚِﻠﻫﹶﺃ ﻰﹶﻟِﺇ ﺐﻫﹾﺫﺍ

ﺎﹰﺌﻴﺷ ﺪِﺠﺗ ﹾﻞﻫ ﺮﹸﻈﻧﺎﹶﻓ :

ﹶﻝﺎﹶﻘﹶﻓ ﺎﹰﺌﻴﺷ ﺕﺪﺟﻭ ﺎﻣ ِﷲﺍﻭ ﻻ ،ﹶﻝﺎﹶﻘﹶﻓ ﻊﺟﺭ ﻢﹸﺛ ﺐﻫﹶﺬﹶﻓ

ِﻣ ﺎﻤﺗﺎﺧ ﻮﹶﻟﻭ ﺮﹸﻈﻧﺍ ،ﻢﱠﻠﺳﻭ ِﻪﻴﹶﻠﻋ ُﷲﺍ ﻰﱠﻠﺻ ﷲ ﹸﻝﻮﺳﺭ ﻢﹸﺛ ﺐﻫﹶﺬﹶﻓ ،ٍﺪﻳِﺪﺣ ﻦ

ﹶﻝﺎﹶﻘﹶﻓ ﻊﺟﺭ :

ﻱِﺭﺍﺯِﺇ ﺍﹶﺬﻫ ﻦِﻜﹶﻟﻭ ٍﺪﻳِﺪﺣ ﻦِﻣ ﺎﻤﺗﺎﺧ ﻻﻭ ِﷲﺍ ﹶﻝﻮﺳﺭ ﺎﻳ ِﷲﺍﻭ ﻻ

13 Yayasan Penyelenggara Penterjemah al-Qur’an, op. cit., h. 310.

(17)

ﺎﻣ ،ﻢﱠﻠﺳﻭ ِﻪﻴﹶﻠﻋ ُﷲﺍ ﻰﱠﻠﺻ ِﷲﺍ ﹸﻝﻮﺳﺭ ﹶﻝﺎﹶﻘﹶﻓ ﻪﹸﻔﺼِﻧ ﺎﻬﹶﻠﹶﻓ ٌﺀﺍﺩِﺭ ﻪﹶﻟ ﺎﻣ ﹲﻞﻬﺳ ﹶﻝﺎﹶﻗ ﹾﻥِﺇ ﻙِﺭﺍﺯﺎِﺑ ﻊﻨﺼﺗ ﻚﻴﹶﻠﻋ ﻦﹸﻜﻳ ﻢﹶﻟ ﻪﺘﺴِﺒﹶﻟ ﹾﻥِﺇﻭ ٌﺀﻲﺷ ﻪﻨِﻣ ﺎﻬﻴﹶﻠﻋ ﻦﹸﻜﻳ ﻢﹶﻟ ﻪﺘﺴِﺒﹶﻟ

ﻡﺎﹶﻗ ﻪﺴِﻠﺠﻣ ﹶﻝﺎﹶﻃ ﺍﹶﺫِﺇ ﻰﺘﺣ ﹸﻞﺟ ﺮﻟﺍ ﺲﹶﻠﺠﹶﻓ ٌﺀﻲﺷ ﻪﻨِﻣ :

ﻰﱠﻠﺻ ِﷲﺍ ﹸﻝﻮﺳﺭ ﻩﺁﺮﹶﻓ

ﺟ ﺎﻤﹶﻠﹶﻓ ﻲِﻋﺪﹶﻓ ِﻪِﺑ ﺮﻣﹶﺄﹶﻓ ﺎﻴﱢﻟ ﻮﻣ ﻢﱠﻠﺳﻭ ِﻪﻴﹶﻠﻋ ُﷲﺍ ﹶﻝﺎﹶﻗ َﺀﺎ

: ؟ِﻥﺁﺮﹸﻘﹾﻟﺍ ﻦِﻣ ﻚﻌﻣ ﺍﹶﺫﺎﻣ

؟ﻚِﺒﹾﻠﹶﻗ ِﺮﻬﹶﻇ ﻦﻋ ﻦﻫﺅﺮﹾﻘﺗ ﹶﻝﺎﹶﻘﹶﻓ ﺎﻫﺩﺪﻋ ﺍﹶﺬﹶﻛ ﹸﺓﺭﻮﺳﻭ ﺍﹶﺬﹶﻛ ﹸﺓﺭﻮﺳ ﻲِﻌﻣ ،ﹶﻝﺎﹶﻗ ﹶﻓ ﺐﻫﹾﺫﺍ ﹶﻝﺎﹶﻗ ،ﻢﻌﻧ ﹶﻝﺎﹶﻗ

ِﻥﺁﺮﹸﻘﹾﻟﺍ ﻦِﻣ ﻚﻌﻣ ﺎﻤِﺑ ﺎﻬﹶﻜﺘﹾﻜﱠﻠﻣ ﺪﹶﻘ ) .

ﺭﺎﺨﺒﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ

١٤

(

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Hazim dari ayahnya dari Sahl bin Said al-Saidy berkata: "Seorang perempuan telah datang kepada Rasulullah, wahai Rasulullah, saya datang untuk menyerahkan diriku kepadamu". Kemudian Rasulallah SAW, memandang wanita itu dan memperhatikannya, lalu beliau menundukkan kepalanya.

Setelah wanita itu tahu bahwa Rasulallah SAW tidak berhasrat kepadanya, maka duduklah ia. Tiba-tiba salah seorang sahabat Nabi SAW berdiri dan berkata : "Wahai Rasulallah SAW, nikahkanlah saya dengannya jika memang engkau tidak berhasrat kepadanya".

Lalu Nabi SAW, bertanya kepada laki-laki tersebut: "Adakah kamu mempunyai sesuatu?” Dia menjawab: "Tidak, demi Allah saya tidak mempunyai sesuatu". Maka Nabi SAW bersabda: "Pergilah kepada ahlimu dan carilah apakah kamu menemukan sesuatu? Kemudian dia pergi dan datang kembali seraya berkata : "Tidak, demi Allah wahai Rasulullah, saya tidak menemukan sesuatu walaupun cincin dari besi, akan tetapi hanya sarung ini yang saya miliki ". Sahl berkata : "Karena sarung itu tidak ada selendangnya, maka harus dibagi menjadi dua". Rasulallah SAW bertanya: "Dan apa yang akan kamu lakukan dengan sarung itu?" jika sarung itu kamu pakai, maka ia tidak dapat memanfaatkannya, dan jika ia memakainya maka kamu tidak dapat memakai apa-apa". Sahabat itu duduk lama sekali, kemudian ia berdiri lalu pergi ketika Rasulallah SAW tahu bahwa sahabat itu pergi, maka beliau mengutus seseorang untuk memanggilnya. Setelah ia datang Rasulallah SAW bertanya : "Surat apa yang kamu hafal dari Al-Qur'an?" jawabanya : "yang aku hafal surat itu dan surat itu (ia menyebutkannya)". Tanya beliau :

"Apakah kamu hafal surat-surat itu diluar kepala?" jawabnya : "ya".

14 Al-Imam Abi Abdillah Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim ibn al-Mugirah ibn Bardizbah al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Juz V, Beirut Libanon: Darul Kutub Al’ilmiyah,1992, h.

444.

(18)

Maka Nabi SAW, bersabda : "Aku nikahkan kamu dengannya dengan maskawin beberapa ayat Al-Qur'an yang kamu hafal”.

Contoh lain adalah Nabi sendiri waktu menikahi Sofiyah yang waktu itu masih berstatus hamba dengan maharnya memerdekakan Sofiyah tersebut.

Hal ini terdapat dalam hadits:

ﺪﺣ ِﺲﻧﹶﺃ ﻦﻋ ﺎﺤﺒﺤﹾﻟﺍ ِﻦﺑ ِﺐﻴﻌﺷﻭ ٍﺖِﺑﺎﹶﺛ ﻦﻋ ﺩﺎﻤﺣ ﺎﻨﹶﺛﺪﺣ ٍﺪﻴِﻌﺳ ﻦﺑ ﹸﺔﺒﻴﺘﹸﻗ ﺎﻨﹶﺛ

ِﷲﺍ ِﻝﻮﺳﺭ ﱠﻥﹶﺃ ٍﻚِﻟﺎﻣ ِﻦﺑ ﺎﻬﹶﻘﺘِﻋ ﹶﻞﻌﺟﻭ ﹶﺔﻴِﻔﺻ ﻖﺘﻋﹶﺃ ﻢﱠﻠﺳﻭ ِﻪﻴﹶﻠﻋ ُﷲﺍ ﻰﱠﻠﺻ

ﺎﻬﹶﻗﹶﺍﺪﺻ .

١٥

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Hammad dari Tsabit dan Su’aib bin Habha dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW telah memerdekakan Shofiyah dan menjadikan kemerdekaan itu sebagai maharnya (waktu kemudian mengawininya).”

Hadits yang diterima dari Anas dalam kitab Sunan an-Nasa’i tentang mahar Ummu Sulaim yang berupa masuk Islamnya Abu Thalhah, sebagaimana dalam hadits:

ٍﺖِﺑﺎﹶﺛ ﻦﻋ ﹶﻥﹶﺎﻤﻴﹶﻠﺳ ﻦﺑ ﺮﹶﻔﻌﺟ ﺎﻧﺄﺒﻧﹶﺃ ﹶﻝﺎﹶﻗ ٍﺭِﻭﺎﺴﻣ ِﻦﺑ ِﺮﻀﻨﻟﺍ ﻦﺑ ﺪﻤﺤﻣ ﺎﻧﺮﺒﺧﹶﺃ ﺔﺤﹾﻠﹶﻃ ﺎﺑﹶﺃﺎﻳ ﻚﹸﻠﹾﺜِﻣ ﺎﻣ ِﷲﺍﻭ ﺖﹶﻟﺎﹶﻘﹶﻓ ﻢﻴﹶﻠﺳ ﻡﹸﺃ ﺔﺤﹾﻠﹶﻃ ﻮُﺑﹶﺃ ﺐﹶﻄﺧ ﹶﻝﹶﺎﻗ ٍﺲﻧﺃ ﻦﻋ

ﺮﻣﺃ ﺎﻧﹶﺃﻭ ﺮِﻓﺎﹶﻛ ﹲﻞﺟﺭ ﻚﻨِﻜﹶﻟﻭ ﺩﺮﻳ ﹾﻥِﺈﹶﻓ ﻚﺟﻭﺰﺗﹰﺃ ﹾﻥﹶﺃ ﻰِﻟ ﱡﻞِﺤﻳ ﹶﻻﻭ ﹲﺔﻤِﻠﺴﻣ ﹲﺓﹶﺃ

ﺎﻫﺮﻬﻣ ﻚِﻟﹶﺫ ﹶﻥﺎﹶﻜﹶﻓ ﻢﹶﻠﺳﹶﺄﹶﻓ ﻩﺮﻴﹶﻏ ﻚﹸﻟﹶﺄﺳﹶﺃ ﹶﺎﻣﻭ ﻱِﺮﻬﻣ ﻚِﻟﹶﺬﹶﻓ ﻢِﻠﺴﺗ )

ﻩﺍﻭﺭ

ﺉﺎﺴﻨﻟﺍ

١٦

(

Artinya: “Muhammad bin Nadhar bin Musawir meriwayatkan kepada kami dia berkata, Ja’far bin Sulaiman meriwayatkan kepada kami dari Tsabit dari Anas dia berkata, Abu Thalhah telah melamar Ummu Sulaim, kemudian Ummu Sulaim menjawab, “Demi Allah, tidaklah

15 Ibid., h. 443.

16 Ahmad Ibn ‘Ali Ibn Syu’aib Ibn ‘Ali Ibn Sinan Ibn Bahr Ibn Dinar Abu ‘Abd al- Rahman al-Nasa’i, Sunan an-Nasa’i Bisyarhi al-Hafidh Jalaluddin as-Suyuthi Wahatsiyah al- Imam as-Sanadi, Juz 6, Beirut Libanon: Darul Kutub al-‘Ilmiyah, tt, h. 114.

(19)

seorang laki-laki seperti kamu itu pantas ditolak. Tetapi kamu seorang laki-laki kafir sedang saya seorang wanita muslim, dan tidak halal bagi saya menikah denganmu. Jika kamu masuk Islam, maka itu adalah mahar untukkku dan saya tidak meminta kepadamu selain itu. Kemudian dia masuk Islam dan itu sebagai maharnya.”

(H.R. An-Nasa’i)

Ibnu Hazm dalam kitab al-Muhalla menyindir masalah pengambilan

dalil dengan hadits di atas. Dia berkata: sebenarnya itu terjadi sebelum hijrah Rasulullah SAW beberapa masa karena Abu Thalhah sudah lama masuk Islam dan dia termasuk orang Anshar pertama memeluk Islam. Ketika itu, ayat yang mewajibkan untuk memberikan mahar kepada para wanita belum lagi diturunkan. Begitu juga, tidak terdapat keterangan di dalam hadits di atas bahwa Rasulullah SAW mengetahui hal itu.17

Hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa mahar itu boleh dalam

jumlah sedikit dan boleh juga berupa sesuatu yang bermanfaat. Bagi Ummu Sulaim, keislaman Abu Thalhah adalah lebih berharga daripada harta yang akan diberikan suaminya. Menurut syari’at, pada dasarnya mahar menjadi hak perempuan dan dia bebas menggunakannya, jika ia rela menerima mahar dengan ilmu dan agama atau Islamnya calon suami atau pengajaran al-Qur’an, ini merupakan mahar yang sangat berharga, berguna dan paling utama.18

Ummu Sulaim meminta mahar berupa kesediaan masuk Islam Abu Thalhah demi meninggikan kemuliaan Islam, maka mahar Ummu Sulaim menunjukkan pengertian bahwa mahar dapat menjadi pengikat kasih-sayang sekaligus untuk syi'ar Islam dan tujuan dakwahnya. Mahar juga tidak dapat

17 Abi Muhammad bin Ahmad bin Sa’id bin Hazm, al-Muhalla, Juz V, Beirut Libanon:

Darul Fikr, tt, h. 499.

18 Sayyid Sabiq, op. cit., h. 42.

(20)

diukur dari sedikit-banyaknya secara kuantitatif dan sekedar untuk menunjukkan bahwa mahar tidak harus selalu berbentuk harta atau materi, tetapi mahar dapat berupa non materi seperti mengajarkan istri membaca al- Qur’an, memerdekakan budak, dan keislaman sebagai mahar.

Mahar jasa ini, terdapat perbedaan pendapat ulama seperti mengajarkan al-Qur’an, hukum-hukum agama, dan pekerjaan sebagai mahar yang akan diberikan calon mempelai laki-laki kepada calon mempelai wanita.

Menurut pendapat Imam Abu Hanifah, mengajarkan al-Qur’an, hukum-hukum agama dan sebagainya tidak termasuk harta yang tidak boleh mengambil upah darinya, sehingga tidak sah untuk dijadikan mahar, namun darinya wajib dibayar mahar mitsil.

Imam Kamaluddin bin al-Humam al-Hanafi dengan mengutip Imam Abu Hanifah yaitu bahwa mengajarkan al-Qur’an sebagai mahar adalah fasad (rusak) dan harus mengganti mahar mitsil.19 Menurut pendapat Imam Malik, mengajarkan al-Qur’an dan hukum-hukum agama membolehkan dijadikan mahar. Mereka sependapat dengan pendapat Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal.

Imam Syafi’i dalam kitab al-Umm menjelaskan bahwa membolehkan adanya mahar dengan menjahit pakaian, membangun rumah, melayani sebulan, atau mengajarkan al-Qur’an kepada istri, yang merupakan mahar jasa.20 Imam Ahmad Hambali membolehkan mahar dengan ayat al-Quran atau

19 Imam Kamal bin Muhammad bin Abdulrahim al-Ma’ruf bin al-Humam al-Hanafi, Syarh Fathul al-Qadir, Juz 3, Beirut Libanon: Darl al-Kutub al-‘Ilmiyah, tt, h. 326.

20 Imam Abi Abdus Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, Al-Umm, Juz V, Beirut Libanon:

Dar al-Fikr, tt, h. 64.

(21)

jasa, agar tidak ada persetubuhan antara laki-laki dan perempuan sebelum memberikan sesuatu sebagai maharnya.21

Kompilasi Hukum Islam Pasal 1 sub d, bahwa mahar adalah pemberian dari calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita, baik berbentuk barang, uang atau jasa yang tidak bertentangan dengan hukum Islam. Pasal 30 KHI menegaskan bahwa calon mempelai pria wajib membayar mahar kepada calon mempelai wanita yang jumlah, bentuk dan jenisnya disepakati oleh kedua belah pihak, sedangkan pasal 33 ayat 1 KHI bahwa penentuan besarnya mahar didasarkan atas kesederhanaan dan kemudahan yang dianjurkan oleh ajaran Islam.22

Mahar dalam konteks hukum Islam memang bukan merupakan rukun maupun syarat dari perkawinan dan hanya sebagai kewajiban dari mempelai laki-laki semata, apalagi dalam kenyataannya bahwa masyarakat lebih banyak memberi mahar materi dibandingkan mahar yang berupa non materi.

Dari latar belakang di atas, maka mendorong penulis untuk melakukan penelitian skripsi, yang berjudul “PANDANGAN IMAM MADZHAB TERHADAP MAHAR BERUPA JASA”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dan latar belakang di atas, maka penulis memfokuskan penelitian dengan rumusan permasalahan sebagai berikut : 1. Bagaimana konsep mahar berupa jasa menurut imam madzhab?

21 al-Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hambal, Beirut: Darl al-Fikr, tt, h.

401.

22 Abdurrahman, op. cit., h. 113-120.

(22)

2. Bagaimana keterkaitan pemberian mahar berupa jasa dalam akad perkawinan dengan konteks sekarang?

C. Tujuan Penulisan Skripsi

1. Untuk mengetahui konsep mahar non materi dalam hukum Islam.

2. Untuk mengetahui keterkaitan pemberian mahar non materi dalam akad perkawinan dengan konteks sekarang.

D. Telaah Pustaka

Pembahasan tentang mahar dalam pernikahan sedikit banyak telah dibahas oleh beberapa ulama, baik dari ulama hadits maupun ulama fiqh, baik tulisan di media massa, buku-buku dan karya tulis maupun kitab klasik. Akan tetapi setelah penulis melakukan telaah pustaka yang membahas tentang judul skripsi ini, yakni: “Pandangan Imam Madzhab terhadap Mahar berupa Jasa”, penulis tidak menemukan pembahasan judul tersebut baik dalam bentuk skripsi maupun dalam bentuk buku.

Sepanjang penelusuran yang telah penulis lakukan hanya sedikit yang secara intens membahas tentang mahar dalam pernikahan. Literatur tentang mahar kebanyakan pembahasannya hanya merupakan bagian dari seluruh isi kitab atau buku secara umum yang memaparkan ajaran Islam seperti masalah pernikahan.

Sepengetahuan penulis, mengenai permasalahan tentang mahar telah banyak penulis-penulis terdahulu yang mengkaji dan membahasnya, tetapi

(23)

semua dari mereka membahas pokok permasalahan yang berbeda. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini ada beberapa skripsi yang mempunyai bahasan dalam tema yang penulis jumpai di antaranya :

Skripsi yang ditulis oleh Nur Kheli: “Studi Komparatif Pendapat Imam Malik dan Abu Hanifah tentang Maskawin yang Tidak Diketahui Sifat dan Jenisnya”. Skripsi ini menjelaskan bahwa mengenai sifat-sifat maskawin, fuqaha sependapat tentang sahnya pernikahan berdasarkan pertukaran dengan suatu barang tertentu yang dikenal sifatnya, yakni yang tertentu jenis, besar, dan nilainya. Mereka berbeda pendapat tentang barang yang tidak diketahui sifatnya dan tidak ditentukan jenisnya, seperti jika seseorang mengatakan,

“Aku kawinkan engkau dengan dia dengan maskawin seorang hamba atau pelayan”, tanpa menerangkan sifat-sifat hamba atau pelayan itu yang dapat diketahui harga dan nilainya. Malik dan Abu Hanifah berpendapat bahwa perkawinan dengan cara seperti itu dibolehkan, sedang Syafi'i berpendapat tidak boleh. Apabila terjadi perkawinan seperti itu, Malik berpendapat bahwa pengantin wanita memperoleh jenis seperti yang disebutkan untuknya, sedangkan Abu Hanifah berpendapat bahwa pengantin pria dipaksa untuk mengeluarkan harganya. Silang pendapat ini disebabkan, apakah perkawinan seperti itu dapat disamakan dengan jual beli yang mengandung unsur kebakhilan, atau dimaksudkan memberi adalah sesuatu yang lebih tinggi dari itu, sebagai realisasi kedermawanan? Bagi fuqaha yang menyamakan perkawinan dengan kebakhilan pada jual beli, mengatakan, tidak boleh jual beli suatu barang yang tidak diketahui sifat-sifatnya, pernikahan juga berlaku

(24)

seperti jual beli. Fuqaha yang tidak menyamakannya dengan jual beli, karena yang dimaksudkan adalah memberikan kehormatan mengatakan bahwa perkawinan seperti itu boleh.23

Skripsi yang ditulis oleh Syamsul Mu’amar: “Studi Analisis Pendapat Imam Syafi’i tentang Diperbolehkannya Mengajarkan al-Qur’an sebagai Mahar”. Skripsi ini menerangkan bahwa pendapat Imam Syafi’i tentang mengajarkan al-Qur’an sebagai mahar dalam perkawinan merupakan suatu pemberian yang diwajibkan oleh Allah untuk si calon suami yang melangsungkan perkawinan, walaupun bentuk dan jumlahnya tidak ditentukan oleh syari’at, tetapi calon suami harus memberikan sesuatu kepada calon istrinya dan pemberian itu tidak boleh ditarik kembali oleh si calon suami terkecuali istri merelakannya.24

Skripsi yang ditulis oleh Muttaqin: “Studi Analisis Pendapat Imam Syafi'i tentang Batas Terendah Pembayaran Maskawin”. Skripsi ini menjelaskan bahwa menurut Imam Syafi'i, maskawin itu tidak ada batasan rendahnya. Prinsip bagi Imam Syafi'i yaitu asal sesuatu yang dijadikan mahar itu bernilai dan berharga, maka boleh digunakan sebagai maskawin. Alasan Imam Syafi'i adalah karena pernikahan merupakan lembaga yang suci tidak

23 Nur Kheli, Studi Komparatif Pendapat Imam Malik dan Abu Hanifah tentang Maskawin yang Tidak Diketahui Sifat dan Jenisnya, (Tidak dipublikasikan. Skripsi IAIN Walisongo Fakultas Syari’ah, 2005).

24 Syamsul Mu’amar, Studi Analisis Pendapat Imam Syafi’i tentang Diperbolehkannya Mengajarkan al-Qur’an sebagai Mahar, (Tidak dipublikasikan. Skripsi IAIN Walisongo Fakultas Syari’ah, 2004).

(25)

boleh batal hanya lantaran kecilnya pemberian, sebab, yang penting adanya kerelaan dari pihak wanita.25

Keterangan di atas menunjukkan penelitian terdahulu berbeda dengan penelitian saat ini. Perbedaan penelitian sebelumnya yaitu perbandingan pendapat Imam Malik dan Abu Hanifah tentang maskawin yang tidak diketahui sifat dan jenisnya, kemudian skripsi yang kedua menganalisis pendapat Imam Syafi’i tentang mengajarkan al-Qur’an sebagai mahar dalam perkawinan dan batasan terendah maskawin.

Pendapat yang penulis bahas ini, yakni tentang pandangan imam madzhab terhadap mahar berupa jasa, yang jelas diketahui dan tidak hanya mengkhususkan mahar yang berupa al-Qur’an saja yang dapat dijadikan mahar. Mahar juga dapat berupa jasa atau manfaat yang lain seperti pengajaran ilmu-ilmu agama, menggembalakan ternak dan berupa pekerjaan yang lain, dengan syarat mahar tersebut mempunyai manfaat yang baik, supaya sah menjadi mahar, serta menekankan bahwa mahar tidak harus berupa materi tetapi dapat pula berupa non materi yang mungkin lebih bermanfaat bagi istri.

E. Metode Penulisan Skripsi

Metode merupakan sarana untuk menemukan, merumuskan, mengolah data dan menganalisa suatu permasalahan untuk mengungkapkan suatu

25 Muttaqin, Studi Analisis Pendapat Imam Syafi'i tentang Batas Terendah Pembayaran Maskawin, (Tidak dipublikasikan. Skripsi IAIN Walisongo Fakultas Syari’ah, 2005).

(26)

kebenaran.26 Pada dasarnya metode merupakan pedoman tentang cara ilmuwan mempelajari, menganalisa dan memahami suatu objek kajian yang dihadapinya secara sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagai pegangan dalam penulisan skripsi dan pengelolaan data untuk memperoleh hasil yang valid dan qualified, penulis menggunakan beberapa metode dalam penulisan skripsi ini, yaitu:

1. Jenis Penelitian

Penulisan dan pembahasan penelitian dalam skripsi ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (Library Research) dengan metode kualitatif, yang berarti mengkaji permasalahan dengan cara menelusuri, mencari dan menelaah bahan berupa data dari literatur-literatur yang berhubungan dengan judul penelitian, baik yang berupa buku, artikel, dan karangan27 yang berkaitan dengan pembahasan tentang mahar berupa jasa menurut imam madzhab dalam perkawinan.

2. Sumber Data

Penelitian ini adalah termasuk studi pustaka. Sementara itu, data diambil dari berbagai sumber yaitu :

a. Sumber Primer

Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari sumber pertama.28 Data pokok yang diperoleh terdapat pada:

26 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Teori dan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta, 2002, h. 194.

27 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, Cet. 24, 2007, h. 9.

28 Amiruddin dan H. Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006, h. 30.

(27)

 Kitab al-Umm, karya Imam Syafi’i, yang salah satu babnya membahas tentang mahar.

 Kitab Syarh Fath al-Qadir, karya Imam Kamaluddin bin al- Humam, murid Imam Abu Hanifah yang salah satu babnya membahas tentang mahar.

 Kitab al-Muwaththa’, karya Imam Malik yang merupakan kitab fiqh dan hadis, salah satu babnya membahas tentang mahar.

 Kitab Musnad Ahmad bin Hambal, karya Imam Ahmad Hambali, slah satu babnya membahas tentang mahar.

Sumber data primer di atas untuk mengetahui data-data yang valid mengenai mahar berupa non materi dalam pandangan hukum Islam. Kitab-kitab di atas ini tergolong kitab kajian terbesar dalam masalah fiqh secara umum dan khususnya pada ulama empat mazhab, yang mewakili kita-kitab lain dalam pembahasan mahar yang berupa jasa.

b. Sumber Sekunder

Sumber data sekunder yaitu data yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer.29 Adapun sumber-sumber itu antara lain: Al-Muhazzab fi Fiqh al-Imam al-Syafi'i karya Abu Ishaq Ibrahim, Fiqh lima mazhab karya Muhammad Jawad Mugniyah, al-Fiqh ala Mazahib al-Arba'ah karya Abdur Rahman al-Jaziri, Hadist dan buku-

29 Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1998, h. 116.

(28)

buku yang membahas mahar yang memiliki keterkaitan dengan pembahasan skripsi ini.

3. Metode Analisis Data

Setelah dikumpulkannya data-data yang diperoleh untuk kepentingan kajian ini, maka akan dianalisis dengan metode deskriptif analitis, yaitu berusaha untuk menggambarkan dan menganalisis secara mendalam berdasarkan data yang diperoleh.30 Skripsi ini mencoba menganalisis konsep mahar berupa jasa menurut pendapat imam madzhab dan keterkaitan dengan pemberian mahar berupa jasa dalam konteks sekarang yang berkembang di masyarakat.

F. Sistematika Penulisan

Dalam skripsi ini, penulis akan membahas beberapa masalah yang sistematikanya adalah sebagai berikut:

1. Bagian Awal

Pada bagian ini memuat: Halaman Sampul, Halaman Judul, Penelitian, Halaman Pengesahan, Halaman Motto, Kata Pengantar, Daftar Isi.

2. Bagian Inti Skripsi ini dibagi dalam lima bab, yaitu : Bab I : Pendahuluan

Dalam bab ini akan diuraikan tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, telaah pustaka, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II : Ketentuan Umum tentang Mahar dalam Perkawinan

30 Lexy J. Moleong, op. cit., h. 11.

(29)

Dalam bab ini penulis akan menjelaskan tentang pengertian dan dasar hukum mahar, macam-macam dan syarat mahar berdasarkan kualifikasi (mahar berupa harta dan mahar berupa jasa) dan mahar berdasarkan klasifikasi, kedudukan mahar dan makna filosofis pemberian mahar, hikmah pemberian mahar.

Bab III : Konsep Mahar berupa Jasa menurut Imam Madzhab

Dalam bab ini penulis akan menguraikan tentang pendapat imam madzhab tentang mahar berupa jasa, dan bentuk mahar jasa yang sah dijadikan mahar.

Bab IV : Analisis Pendapat Imam Madzhab terhadap Mahar berupa Jasa Bab ini merupakan analisa untuk menguraikan analisis pendapat imam madzhab tentang mahar berupa jasa, dan keterkaitan pemberian mahar berupa jasa dalam akad perkawinan dengan konteks sekarang.

Bab V : Penutup

Dalam bab ini berisi tentang: kesimpulan, saran-saran dan kata penutup.

3. Bagian Akhir

Pada bagian akhir skripsi ini memuat: Daftar Pustaka dan Lampiran- lampiran.

(30)

BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG MAHAR DALAM PERKAWINAN

A. Pengertian dan Dasar Hukum Mahar 1. Pengertian Mahar

Kata mahar berasal dari bahasa Arab yaitu al-mahr, jamaknya al- muhur atau al-muhurah.31 Menurut bahasa, kata al-mahr bermakna al- shadaq yang dalam bahasa Indonesia lebih umum dikenal dengan

“maskawin”, yaitu pemberian wajib dari calon suami kepada calon istri ketika berlangsungnya acara akad nikah diantara keduanya untuk menuju kehidupan bersama sebagai suami istri.32

Lebih lanjut dalam kitab Subul al-Salam Syarh Bulug al-Maram menjelaskan bahwa mahar mempunyai delapan nama sebagai berikut:

ﻪﻟ ﻮﻗ ﺎﻬﻌﻤﳚ ،ﺀﺎﲰﺃ ﺔﻴﻧﺎﲦ ﻪﻟ ﻕﺍﺪﺼﻟﺍ :

ﰒ ﺮﺟﺃﻭ ﺀﺎﺒﺣ ﺔﻀﻳﺮﻓﻭ ﺔﻠﳓ ﺮﻬﻣﻭ ﻕﺍﺪﺻ

ﻖﺋﻼﻋ ﺮﻘﻋ

Artinya: “Mahar mempunyai delapan nama yang dinadzamkan dalam perkataannya: shadaq, mahar, nihlah, faridhah, hiba’, ujr, ’uqr,

‘alaiq”.33

Dalam kamus al-Munjid, kata mahar dapat dilihat dalam berbagai bentuknya: 34

ةَرﺎَﮭَﻣو اًرﺎَﮭَﻣو اًرﻮُﮭُﻣو اًﺮْﮭَﻣ : َﺮَﮭَﻣ

yang artinya tanda pengikat.

Menurut W.J.S. Poerwadarminta, mahar adalah pemberian dari mempelai

31 Amiur Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia: Studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dari Fikih, UU No. 1/1974 sampai KHI, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006, h. 64.

32 Departemen Agama RI, Ensiklopedi Islam di Indonesia, Jakarta: CV. Anda Utama, 1993, h. 667.

33 Imam Muhammad bin Isma’il al-Amir al-Yamin Ashin’ani, Subul al-Salam Syarh Bulug al-Maram, Juz III,Beirut Libanon: Darul Kutub al-‘Ilmiyah, 1988, h. 282.

34 Louis Ma’luf, al-Munjid fi al-Lughah wal-A'lam, Beirut: Dar al-Masyriq, 1986, h.777.

(31)

laki-laki kepada pengantin perempuan.35 Pengertian yang sama dijumpai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, mahar berarti pemberian wajib berupa uang atau barang dari mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan ketika dilangsungkan akad nikah.36

Mahar menurut istilah ulama dan ahli hukum Islam Indonesia diantaranya:

a) Menurut Abdurrrahman al-Jaziri, maskawin adalah nama suatu benda yang wajib diberikan oleh seorang pria terhadap seorang wanita yang disebut dalam akad nikah sebagai pernyataan persetujuan antara pria dan wanita itu untuk hidup bersama sebagai suami istri.37

b) Menurut Imam Taqiyuddin, maskawin (shadaq) ialah sebutan bagi harta yang wajib atas orang laki-laki bagi orang perempuan sebab nikah atau bersetubuh (wathi'), Di dalam al-Qur’an maskawin disebut:

shadaq, nihlah, faridhah dan ajr. Dalam sunnah disebut: mahar,

’aliqah dan ’aqr.38

c) Kamal Muchtar, mengatakan mahar adalah pemberian wajib yang diberikan dan dinyatakan oleh calon suami kepada calon istrinya di

35 W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2006, h. 731.

36 Tim Redaksi Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008, h. 856.

37 Abdurrrahman al-Jaziri, Kitab al-Fiqh ‘Ala al-Mazahib al-Arba’ah, Juz IV, Beirut Libanon: Darul Kutub ’Ilmiyah, 1990, h. 89.

38 Imam Taqiyuddin Abi Bakar Ibn Muhammad al-Husaini al-Hishni al-Dimasyqy al- Syafi’i, Kifayah al- Akhyar fii Halli Ghayah al- IKhtisar, Juz II, Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiah, 1990, h. 60.

(32)

dalam sighat akad nikah yang merupakan tanda persetujuan dan kerelaan dari mereka untuk hidup sebagai suami istri.39

d) Pasal 1 sub d KHI, mahar adalah pemberian dari calon mempelai pria pada calon mempelai wanita baik berbentuk barang, uang, maupun jasa yang tidak bertentangan dengan hukum Islam.40

e) Menurut Mustafa Kamal Pasha, mahar adalah suatu pemberian yang disampaikan oleh pihak mempelai putra kepada mempelai putri disebabkan karena terjadinya ikatan perkawinan.41

Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa mahar merupakan suatu kewajiban yang harus dipikul oleh setiap calon suami yang akan menikahi calon istri sebagai tanda persetujuan dan kerelaan untuk hidup bersama sebagai suami istri, jadi mahar itu menjadi hak penuh bagi istri yang menerimanya, bukan hak bersama dan bukan pula hak walinya, tidak ada seorangpun yang berhak memanfaatkannya tanpa seizin dari perempuan itu.

2. Dasar Hukum Mahar

Mahar adalah pemberian pria kepada wanita sebagai pemberian wajib, untuk memperkuat hubungan dan menumbuhkan tali kasih sayang antara kedua suami istri.42 Hal ini berdasarkan al-Qur'an dan hadits, sebagaimana yang tercantum dalam al-Qur'an surat an-Nisa’ ayat 4 yang berbunyi :

39 Kamal Muchtar, Asas-asas Hukum Islam tentang Perkawinan, Jakarta: Bulan Bintang, 1974, h. 78.

40 Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: Akademi Presindo, 1992, h. 113.

41 Mustafa Kamal Pasha, Fikih Islam, Jogjakarta: Citra Karsa Mandiri, 2009, h. 274.

42 Ibid., h. 83.

(33)































Artinya: “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.”43

Ayat di atas menegaskan bahwa apabila seorang laki-laki ingin menikahi seorang perempuan untuk dijadikan sebagai istri wajib atasnya untuk memberikan mahar atau maskawin.44 Ayat yang lain juga disebutkan dalam surat yang sama yaitu ayat 24 :

















Artinya: “Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban.”45

Ayat ini menegaskan bahwa kehalalan memperoleh kenikmatan dari seorang istri yang dinikahi menjadi sempurna apabila telah diberikan hak wanita tersebut yaitu berupa mahar.

Allah juga berfirman dalam surat al-Maidah ayat 5 berkaitan dengan kewajiban seorang suami untuk memberikan mahar kepada calon istrinya :























Artinya: “Dan dihalalkan mangawini wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab

43Yayasan Penyelenggara Penterjemah al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung:

Sinar Baru Algensindo, 2006, h. 61.

44 Syibli Syarjaya, Tafsir Ayat-ayat Ahkam, Jakarta: Rajawali Pers, 2008, h. 183.

45 Yayasan Penyelenggara Penterjemah al-Qur’an, op. cit., h. 65.

(34)

sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya.”46

Landasan hukum juga terdapat dalam hadits Nabi SAW, yang memperkuat statemen tentang kewajiban memberikan mahar kepada calon istri yaitu:

ﺖﻟﺎﻗ ﺔﺸﺋﺎﻋ ﻦﻋﻭ :

ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﻝﺎﻗ :

ﲑﻐﺑ ﺖﺤﻜﻧ ﺓﺃﺮﻣﺍ ﺎﳝﺃ

ﻞﻃﺎﺑ ﺎﻬﺣﺎﻜﻨﻓ ﺎﻬﻴﻟﻭ ﻥﺫﺇ ,

ﺎﻬﺟﺮﻓ ﻦﻣ ﻞﺤﺘﺳﺍ ﺎﲟ ﺮﻬﳌﺍ ﺎﻬﻠﻓ ﺎ ﻞﺧﺩ ﻥﺈﻓ ,

ﻥﺈﻓ

ﺍﻭﺮﺠﺘﺷﺍ ,

ﻪﻟ ﱄﻭ ﻻ ﻦﻣ ﱄﻭ ﻥﺎﻄﻠﺴﻟﺎﻓ )

ﻲﺋﺎﺴﻨﻟﺍ ﻻﺇ ﺔﻌﺑﺭﻷﺍ ﻪﺟﺮﺧﺃ ,

ﻪﺤﺤﺻﻭ

ﻢﻴﻜﳊﺍﻭ ﻥﺎﺒﺣ ﻦﺑﺍﻭ ﺔﻧﺍﻮﻋ ﻮﺑﺃ

٤٧

(

Artinya: “Dari ‘Aisyah berkata: Rasulullah SAW bersabda: perempuan siapapun yang menikah dengan tanpa izin dari walinya, maka pernikahannya batal, apabila suami telah mendzukhulnya, maka wajib baginya memberikan mahar untuk menghalalkan farjinya, namun apabila walinya tidak mau menikahkannya, maka penguasa menjadi walinya.” (dikeluarkan oleh empat perawi kecuali Nasa’i, dan dishahihkan oleh Abu ‘Awanah dan Ibnu Hiban dan Hakim).

Firman Allah SWT dan hadits Nabi SAW di atas menunjukkan bahwa mahar sangat penting meskipun bukan sebagai rukun nikah, namun setiap suami wajib memberi mahar sebatas kemampuannya. Ayat tersebut juga menjadi indikasi bahwa agama Islam sangat memberi kemudahan dan tidak bersifat memberatkan.

46 Yayasan Penyelenggara Penterjemah al-Qur’an, op. cit., h. 86.

47 al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani, Bulugh al-Maram Min Adillat al-Ahkam, Beirut Libanon: Dar al-Kutub al-Islamiyah, t.t., h. 250.

(35)

B. Macam-macam dan Syarat-syarat Mahar 1. Mahar Ditinjau dari Kualifikasi48

a) Mahar dalam bentuk benda kongkrit

Mahar disyaratkan harus diketahui secara jelas dan detail jenis dan kadar yang akan diberikan kepada calon istrinya.49 Sekarang ini masih terdapat dua bentuk macam mahar yang sering terjadi dikalangan masyarakat yang pada hakikatnya adalah satu, yaitu:

Pertama, mahar yang hanya sekedar simbolik dan formalitas biasanya diwujudkan dalam bentuk kitab suci al-Qur'an, sajadah, dan lain-lain yang kerap kali disebut sebagai satu perangkat alat shalat.

Kedua, mahar terselubung ialah yang lazim disebut dengan istilah “hantaran” atau “tukon” (dalam bahasa jawa) yaitu berupa uang atau barang yang nilainya disetujui oleh keluarga mempelai putri atau calon istri. Mahar dalam bentuk “terselubung” seperti ini biasanya tidak disebutkan dalam akad nikah.50

Para fuqaha mengatakan bahwa mahar boleh saja berupa benda atau manfaat. Adapun benda itu sendiri terdapat dua kategori, yaitu :

1) Semua benda yang boleh dimiliki seperti dirham, dinar, barang dagangan, hewan dan lain-lain. Semua benda tersebut sah dijadikan mahar dalam pernikahan.

48 Yang di maksud dengan kualifikasi mahar adalah apa saja yang boleh dijadikan mahar serta syarat-syaratnya.

49 Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab, Terj. Afif Muhammad, Jakarta:

PT Lentera Basritama, 2001, h. 365.

50 M. Labib al-Buhiy, Hidup Berkembang secara Islam, Bandung: al-Ma’arif, 1983, h. 63.

(36)

2) Benda-benda yang tidak boleh dimiliki seperti khamr, babi, dan lain-lain.

Mahar itu bisa berbentuk emas atau perak dan bisa juga berbentuk uang kertas, dan boleh juga berupa hewan atau tumbuh- tumbuhan, atau apa saja yang bersifat material.51 Idris Ahmad membagi sesuatu yang mempunyai nilai dan harga bisa dijadikan maskawin, seperti mata uang, barang (emas, perak, rumah, kebun, mobil, pabrik), makanan dan segala sesuatu yang mempunyai nilai finansial dan harga.52

Mahar dalam bentuk barang (mahar materi) ini dengan syarat- syarat sebagai berikut:

1. Harta atau bendanya berharga.

Tidak sah mahar dengan yang tidak berharga, walaupun tidak ada ketentuan banyak atau sedikitnya mahar. Akan tetapi apabila mahar sedikit tapi bernilai maka tetap sah.

2. Barangnya suci dan bisa diambil manfaat.

Tidak sah mahar dengan khamr, babi, atau darah karena semua itu haram dan tidak berharga.

3. Barangnya bukan barang ghasab.53

4. Bukan barang yang tidak jelas keadaannya.

51 Said Abdul Aziz al-Jandul, Wanita di antara Fitrah, Hak dan Kewajiban, Jakarta:

Darul Haq, 2003, h. 35.

52 Idris Ahmad, Fiqh Syafi’i: Fiqh Islam menurut Madzhab Syafi’i, Surabaya: Karya indah, 2002, h. 3.

53 Ghasab artinya mengambil barang milik orang lain tanpa seizinnya, namun tidak bermaksud untuk memilikinya karena berniat untuk mengembalikannya di kemudian hari.

Memberikan mahar dengan barang hasil ghasab tidak sah, tetapi akadnya tetap sah.

(37)

Tidak sah mahar dengan memberikan barang yang tidak jelas keadaannya, atau tidak disebutkan jenisnya.54

b) Mahar dalam bentuk jasa atau manfaat

Mahar berupa jasa atau manfaat yaitu mahar yang tidak berupa benda atau harta.55 Pengertian mengenai mahar manfaat atau jasa ini, dapat diartikan dengan melihat dari pendapat para ulama, yaitu:

1. Ulama Hanafiyah berpendapat mahar adalah harta yang menjadi hak istri dari suaminya dengan adanya akad atau dukhul.

2. Ulama Malikiyah berpendapat mahar adalah sesuatu yang diberikan kepada istri sebagai ganti (imbalan) dari istimta’

(bersenang-senang) dengannya.

3. Ulama Syafi’iyah berpendapat mahar adalah sesuatu yang menjadi wajib dengan adanya akad nikah atau watha’ atau karena merusakkan kehormatan wanita secara paksa (memperkosa).

4. Ulama Hanabilah berpendapat mahar adalah suatu imbalan dalam nikah baik yang disebutkan di dalam akad atau yang diwajibkan sesudahnya dengan kerelaan kedua belah pihak atau hakim, atau imbalan dalam hal-hal yang menyerupai nikah seperti watha’

syubhat dan watha’ yang dipaksakan.56

Definisi di atas tampak bahwa definisi yang dikemukakan oleh ulama Hanafiyah membatasi mahar itu hanya dalam bentuk harta,

54 Abdul Rahman Ghozali, Fiqh Munakahat, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008, h. 87-88.

55 Departemen Agama RI, op. cit., h. 668.

56 Wahbah al-Zuhaily, al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, Juz IX , Beirut Libanon: Dar al- Fikr, t.t, h. 6758.

(38)

sementara definisi yang dikemukakan oleh golongan lainnya tidak membatasi hanya pada harta saja, melainkan memasukkan jenis atau bentuk-bentuk lain selain harta dalam pengertian mahar, seperti jasa atau manfa’at, mengajarkan beberapa ayat al-Qur’an dan sebagainya.

Dasar yang membolehkan mahar berupa jasa ini ada landasannya dalam al-Qur’an dan dalam hadits Nabi. Hal ini dikisahkan Allah dalam surat an-Nisa’ ayat 25 :















Artinya: “Karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka, dan berilah maskawin mereka menurut yang patut.”57

Ayat di atas menegaskan bahwa dalam menunaikan kewajiban membayar mahar adalah didasarkan pada kemampuan calon mempelai pria secara pantas. Al-Qur’an tidak menjadikan mahar itu untuk tuannya, karena mahar itu adalah haknya. Karena itu, keluarkanlah hal ini dari kaidah bahwa seluruh penghasilan budak itu milik tuannya.

Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa apa yang diperolehnya itu bukan penghasilan, melainkan hak karena hubungannya dengan seorang laki-laki. Islam memuliakan mereka dengan tidak menggangap mereka menjual kehormatannya dengan mendapatkan sejumlah uang, tetapi yang dilakukannya itu adalah pernikahan dan pemeliharaan diri.

Penggunaan kata ﺮﺟأ( ) ajr/upah untuk menunjukkan maskawin, dijadikan dasar oleh ulama-ulama bermazhab Hanafi untuk mengatakan bahwa maskawin haruslah sesuatu yang bersifat materi,

57 Yayasan Penyelenggara Penterjemah al-Qur’an, op. cit., h. 65.

(39)

tetapi kelompok ulama bermazhab Syafi’i tidak mensyaratkan sifat materi untuk maskawin. Penyebutan upah di atas, hanyalah karena itu yang umum terjadi dalam masyarakat.58

Mahar dalam bentuk jasa juga terdapat dalam al-Qur’an yaitu menggembala kambing selama 8 tahun sebagai mahar perkawinan seorang perempuan.59 Hal ini dikisahkan Allah dalam surat al-Qashash ayat 27:







































Artinya: “Berkatalah dia (Syu'aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun, maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu”.60

Ayat di atas menjelaskan bahwa seorang bapak boleh meminang seorang laki-laki untuk menjadi suami putrinya. Hal ini banyak terjadi di masa Rasulullah SAW, bahkan ada di antara wanita yang menawarkan dirinya supaya dikawini oleh Rasulullah SAW atau supaya Rasulullah mengawinkan mereka dengan siapa yang diinginkannya oleh Rasulullah.

Umar ibn al-Khaththab pernah menawarkan anaknya Hafsah (yang sudah janda kepada Abu Bakar tetapi Abu Bakar diam saja,

58 M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati, 2000, h. 385.

59 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia antara Fiqh Munakahat dan Undang-undang Perkawinan, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009, h. 91.

60 Yayasan Penyelenggara Penterjemah al-Qur’an, op. cit., h. 310.

Gambar

Tabel  tersebut  tampak  bahwa  dalam  perspektif  Imam  Abu  Hanifah  mengenai  mahar  mengajarkan  al-Qur’an  atau  melayani  istri  yang  menurut  Imam Kamaluddin bin al-Humam al-Hanafi yang merupakan murid dari Imam  Abu Hanifah dalam kitab Syarh Fathu

Referensi

Dokumen terkait