• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

54 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN

Berdasarkan Putusan Mahkamah Agung No 1395 K/Pdt/2017 yang telah adanya Putusan Pengadilan PN Jakarta Selatan No.

214/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel dan Putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta No.

143/PDT/2016/PT.DKI atas dibatalkannya PPJB sebagai pengikatan jaminan hutang piutang dan turunannya, adapun mengenai hal-hal yang penting yang harus diketahui, yaitu dianataranya mengenai:

1. Pihak yang bersengketa

Adapun mereka yang berperkara dan terlibat dalam kasus Putusan Mahkamah Agung No. 1395 K/Pdt/2017 yaitu Agus Susanto sebagai temohon kasasi dahulu penggugat I konvensi/ tergugat rekonvensi/

pembanding dan Maria Fransiska Kartika sebagai temohon kasasi dahulu ppenggugat II konvensi/ tergugat rekonvensi/ pembanding. Para penggugat tersebut merupakan debitur dalam hubungan hutang piutang dalam kasus Putusan Mahkamah Agung Nomor 1395 K/Pdt/2017. Lisa Juliana Tanjung sebagai tergugat I konvensi/ penggugat rekonvensi/ terbanding I dan pemohon kasasi, berkedudukan sebagai kreditur dalam hubungan hutang piutang dengan para penggugat di atas. Kemudian Marina Soewana, S.H sebagai tergugat II konvensi/ terbanding II dan turut termohon kasasi, Sastriany Josoprawiro,S.H sebagai tergugat III konvensi/ terbanding III, turut termohon kasasi dan Kantor Pertanahan Kota Madya Jakarta Selatan sebagai turut tergugat konvensi/ turut terbanding.

2. Pokok Perkara

Para termohon kasasi/para penggugat/para pembanding adalah

suami istri yang merupakan Warga Negara Indonesia telah menikah dan

selama menikah memiliki obyek hak atas tanah beserta bangunan yang

dicatat dalam Sertipikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor

621/Petukangan Utara atas nama penggugat II Maria Fransiska Kartika

(lstri Penggugat I), sebuah alas hak sah demi hukum yang diterbitkan oleh

(2)

55

Kantor Pertanahan Jakarta Selatan. Para termohon kasasi/ para penggugat/

para pembanding dan Lisa Juliana Tanjung (pemohon kasasi/tergugat I/terbanding I) mulanya mempunyai hubungan hukum hutang-piutang dimana para penggugat sebagai debitur dan tergugat I sebagai kreditur.

Pemohon kasasi/tergugat I/terbanding I merupakan subjek hukum pribadi yang mempunyai kemampuan dalam melakukan hutang-piutang. Para pihak tersebut pada tahun 2006 membuat perjanjian hutang piutang senilai Rp.2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) dengan disepakati waktu pinjaman selama 2 (dua) bulan dimulai dari tanggal 4 Oktober 2006 sampai pada tanggal 3 Desember 2006. Perjanjian tersebut dibuat dalam Akta Pengakuan Hutang No. 02 tertanggal 03 Oktober 2006 yang dibuat dihadapan tergugat II yaitu Notaris Marina Soewana, S.H serta melegalisasi surat pernyataan barang jaminan No. 68/L/2006 tanggal 03 Oktober 2006.

Kemudian para termohon kasasi/ para penggugat/ para pembanding atau debitur dan pemohon kasasi/ tergugat I/ terbanding I atau kreditur mengikatkan jaminan berupa hak atas tanah milik para debitur/ termohon kasasi/para penggugat/para pembanding dengan membuat Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) No. 03 dihadapan Tergugat II pada tanggal 03 Oktober 2006, yang isi pengikatan tersebut adalah para penggugat/ debitur merupakan pemilik yang sah atas tanah dan bangunan dalam Sertipikat HGB No. 621/ Petukangan Utara, dengan luas 312 m² (meter persegi) terdaftar atas nama Maria Fransiska Kartika/ penggugat II dan juga dibuatkan Akta Kuasa Menjual No. 04 tanggal 03 Oktober 2006 dihadapan tergugat II.

Seiiring berjalannya waktu sampai dengan tahun 2008 para

termohon kasasi/para penggugat/para pembanding atau debitur ini tidak

dapat memenuhi prestasinya dengan baik kepada Pemohon

Kasasi/Tergugat I/Terbanding I atau kreditur dengan tidak bisa melunasi

hutangnya pada waktu yang sudah diperjanjikan sebelumnya dalam

perjanjian. Diketahui bahwa Para Termohon Kasasi/Para Penggugat/Para

Pembanding atau debitur belum dapat melunasi hutangnya pada kurun

(3)

56

waktu 2006 sampai 2008. Akibat belum dipenuhinya kewajiban pelunasan hutang tersebut, adanya kesepakatan yang dibuat oleh para pihak untuk dilakukan pembayaran hutang dengan asset kekayaan yang dimiliki Para Termohon Kasasi/Para Penggugat/Para Pembanding atau debitur dengan hak atas tanahnya yang kemudian dilakukan peralihan hak atas tanah tersebut kepada Tergugat I atau kreditur. Dengan adanya kesepakatan tersebut terhadap PPJB Nomor 03 yang dibuat dihadapan notaris atau tergugat II pada tanggal 03 Oktober 2006 kemudian dibatalkan dengan Akta Pembatalan Nomor 42 tertanggal 11 Juli 2008, terhadap Akta Kuasa Menjual Nomor 04 tertanggal 03 Oktober 2006 dibatalkan dengan Akta Pembatalan Nomor 43 tertanggal 11 Juli 2008 dan terhadap Akta Pengakuan Hutang Nomor 02 tertanggal 03 Oktober 2006 dibatalkan dengan Akta Pembatalan Nomor 44 tertanggal 1 Juli 2008 yang dibuat dihadapan Tergugat II.

Dari pembatalan akta tersebut kemudian atas hutang yang belum dikembalikan para penggugat/debitur kepada tergugat I/kreditur, para pihak sepakat untuk membuat dan menandatangani kembali PPJB Nomor 45 tertanggal 11 Juli 2008 dihadapan tergugat II atau Notaris Marina Soewana, S.H atas Sertifikat HGB No. 621/ Petukangan dengan luas tanah 312 m² (meter persegi) atas nama penggugat II yaitu Maria Fransiska Kartika. PPJB tersebut dibuat sebagai bentuk pembayaran sebagian hutang yang dimiliki Para Penggugat/debitur kepada Tergugat I/kreditur, sehingga sebagian hutang milik debitur dibayarkan dengan hak milik atas tanahnya tersebut.

Berdasarkan PPJB tersebut para pihak telah sepakat, yaitu para

penggugat atau para penggugat konpensi/ para tergugat rekonpensi/ para

pembanding berkedudukan sebagai pihak pertama yang akan menjual hak

atas tanah miliknya beserta segala sesuatu yang ada diatasnya kepada

kreditur atau tergugat I konpensi/ penggugat rekonpensi/ terbanding I yang

berkedudukan sebagai pihak kedua. Tanah milik para penggugat/debitur

tersebut dijual senilai Rp.950.000.000,- ( sembilan ratus lima puluh juta )

sebagaimana disebutkan oleh para penggugat/debitur dalam posita

(4)

57

gugatannya berdasarkan PPJB yang mereka buat dengan tergugat I/kreditur dihadapan tergugat II.

Setelah dibuatnya kembali PPJB hak atas tanah milik para termohon kasasi/para penggugat/para pembanding atau debitur tersebut, atas hutang yang masih dimilikinya oleh para pihak yaitu para penggugat/debitur dan tergugat I/kreditur kemudian sepakat untuk membuat Akta Pengakuan Hutang No. 46 tertanggal 11 Juli 2008 yang mereka buat dihadapan notaris tergugat II bahwa para penggugat/debitur telah berhutang senilai Rp.1.050.000.000 ( satu milyar lima puluh juta rupiah ) dengan jangka waktu 3 (tiga) bulan dimulai dari tanggal 11 Juli tahun 2008 sampai tanggal 11 Oktober tahun 2008.

Berdasarkan PPJB No. 45 pada tertanggal 11 Juli 2008 yang dibuat oleh Para Pihak tersebut kemudian dilakukan proses balik nama sertipikat dengan menandatangi Akta Jual Beli No. 109/2008 pada tanggal 20 Agustus 2008 yang dibuat dihadapan Notaris Sastriany Josoprawiro, SH tergugat III di Jakarta Selatan. Setelah terjadinya peralihan hak atas tanah milik Para Termohon Kasasi/Para Penggugat/Para Pembanding menjadi milik Pemohon Banding/Tergugat I/Terbanding I, Sertipikat Hak Guna Bangunan (HGB) tersebut dinaikkan menjadi Sertipikat Hak Miliki (SHM) No. 3770/ Petukangan Utara, terdaftar atas nama Lisa Juliana Tanjung selaku tergugat I/ pemohon banding yang berkedudukan sebagai kreditur.

Peralihan kepemilikan hak atas tanah tersebut telah terjadi pada tahun 2008 tetapi hak atas tanah tersebut masih dalam penguasaan para termohon kasasi/ para penggugat/ para pembanding atau debitur. Sampai pada tahun 2010 adanya Putusan Pidana No. 1128/PID.B/2010/PN.Jkt-Sel yang putusannya berisi menyatakan Terdakwa Agus Susanto selaku penggugat I/termohon kasasi atau debitur telah terbukti secara sah dan menyakinkan sengaja melanggar penghunian rumah yang bukan rumah miliknya, tanpa ada ijin dari pemilik rumah.

Berdasarkan rangkaian peristiwa tersebut para termohon kasasi/

para penggugat/ para pembanding atau debitur yang sudah tidak memiliki

hak atas tanah Sertipikat Hak Guna Bangunan (HGB) No. 621/

(5)

58

Petukangan yang telah menjadi SHM No. 3770/ Petukangan Utara terdaftar atas nama Lisa Juliana Tanjung selaku tergugat I atau kreditur tersebut kemudian para penggugat/debitur pada tanggal 4 April 2014 mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dari gugatan yang diajukan para penggugat/debitur tersebut Pengadilan Negeri menjatuhkan putusan yang menyatakan para penggugat/debitur telah wanprestasi dan menyatakan Sertipikat tanah hasil peralihak hak dari debitur kepada kreditur, Akta Pengikatan Jual Beli No 45 tertanggal 11 Juli 2008 dan Akta Pengakuan Hutang No. 46 tertanggal 11 Juli 2008 dinyatakan sah dan benar.

Berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri tersebut, para penggugat /debitur pada tanggal 27 April 2015 mengajukan Permohonan Banding terhadap Putusan PN Jakarta Selatan Nomor214/Pdt.G/2014/ PN.Jkt.Sel tertanggal 9 Februari 2015. Dari hasil Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dengan putusan No. 143/PDT/2016/ PT.DKI tertanggal 30 Mei 2016 yang menyatakan putusan PN Jakarta Selatan No. 214/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel dibatalkan dan gugatan para pembanding yang semula para penggugat yang dalam hubungan hutang ini sebagai debitur dikabulkan oleh pengadilan untuk sebagian. Menyatakan para terbanding yang semula tergugat I atau kreditur telah melakukan penyalahgunaan keadaan, yang dimana para pembanding/para penggugat adalah pemilik sah atas obyek tanah yang menjadi obyek gugatan dan PPJB beserta turunannya dinyatakan batal.

Atas dibatalkannya Putusan PN Jakarta Selatan No.

214/Pdt.G/2014/ PN.Jkt.Sel tertanggal 9 Februari 2015 oleh Pengadilan

Tinggi DKI Jakarta dengan putusan No. 143/PDT/2016/ PT.DKI

tertanggal 30 Mei 2016, tergugat I/ terbanding I atau kreditur itu

mengajukan kasasi di tanggal 23 November 2016 dengan hasil Putusan

Mahkamah Agung No. 1395 K/Pdt/ 2017 yang menyatakan Permohonan

Kasasi Lisa Juliana Tanjung atau Tergugat I tersebut harus ditolak.

(6)

59 3. Putusan Hakim

Pada tingkat Pengadilan Pertama pada Putusan PN Jakarta Selatan No. 214/Pdt.G/2014/ PN.Jkt.Sel adapun putusan hakim dalam pokok perkara beberapa diantaranya yaitu:

a. Mengabulkan gugatan tergugat I atau kreditur untuk sebagian dan menyatakan para tergugat atau debitur terbukti telah melakukan perbuatan wanprestasi terhadap tergugat I atau kreditur.

b. Terhadap Sertipikat Hak Milik (SHM) No. 3770/Petukangan Utara atas nama tergugat I yang dikeluarkan Kepala Kantor Pertanahan Kota Jakarta Selatan dengan dasar Akta Jual Beli No. 109 tahun 2008 tertanggal 20 Agustus 2008 yang dibuat dihadapan Notaris/tergugat II oleh Hakim atas sertipikat dan Akta Jual Beli (AJB) tersebut dinyatakan berlaku sah dan benar.

c. Perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh debitur/para penggugat dan kreditur/tergugat I dihadapan Notaris diantaranya Akta Pengikatan Jual Beli No. 45 tertanggal 11 Juli 2008, Akta Jual Beli No. 109 tahun 2008, Akta Pengakuan Hutang No. 46 tertanggal 11 Juli 2008 oleh Hakim dinyatakan berlaku sah dan benar.

Kemudian para penggugat atau debitur mengajukan banding dan pengajuan tersebut diterima oleh Pengadilan Tinggi DKI Jakarta.

Berdasarkan putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta No. 143/PDT/2016 /PT.DKI tertanggal 30 Mei 2016 atas Putusan PN Jakarta Selatan No.

214/Pdt.G/2014/ PN.Jkt.Sel dibatalkan karena berdasarkan gugatan pokok perkara para pembanding/para penggugat atau debitur yang diajukan pada Pengadilan Tinggi DKI Jakarta yaitu diantaranya:

a. Mengabulkan gugatan Para Penggugat/debitur seluruhnya;

b. Menyatakan tergugat I atau kreditur, tergugat II seorang Notaris dan tergugat III juga seorang Notaris telah melakukan penyalahgunaan keadaan kepada para penggugat/debitur;

c. Menyatakan debitur atau para penggugat itu merupakan pemilih sah

atas tanah beserta bangunan dengan luas 312 m

2

( tiga ratus dua belas

meter persegi ) yang beada di Daerah Jakarta Setatan, Kecamatan

(7)

60

Pesanggrahan, Kelurahan Petukangan Utara yang dikenal sebagai PT Alfa Goldland Realty;

d. Menyatakan berlaku sah atas Akta Pengakuan Hutang No 02 tertanggal 3 Oktober 2006 yang para pihak buat di hadapan Notaris selaku tergugat II yaitu Marina Soewana, S.H.;

e. Menyatakan perhitungan sisa hutang Para Penggugat/debitur kepada Tergugat I/kreditur yang benar adalah senilai Rp356.250.000;- ( tiga ratus lima puluh enam juta dua ratus lima puluh ribu rupiah );

f. Batal demi hukum atas PPJB No. 45 tahun 2008 tertanggal 11 Juli 2008 yang dibuat oleh para penggugat/debitur dan tergugat I/kreditur secara notariil dihadapan tergugat II atau Notaris karena merupakan suatu perbuatan melanggar hukum yang telah menyalahgunakan keadaan (Misbruik Van Omstandigheden) posisi para penggugat/debitur.

g. Batal demi hukum atas Akta Jual Beli (AJB) No. 109/2008 tanggal 20 Agustus 2009 yang dibuat oleh penggugat I/debitur dengan tergugat I/kreditur dihadapan Ny. Sastriany Josoprawiro (Tergugat III);

h. Batal demi hukum dan tidak memiliki kekuatan hukum atas Sertipikat Hak Milik (SHM) No. 3770/Petukangan Utara, atas nama Lisa Juliana Tanjung selaku tergugat I/kreditur dan memerintahkan Turut Tergugat untuk membatalkan SHM No. 3770/ Petukangan Utara tertulis atas nama Lisa Juliana Tanjung (selaku tergugat I/kreditur.

Berdasarkan pokok perkara gugatan yang diajukan para pembanding/para penggugat atau debitur sebagaimana di atas, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta pada No. 143/PDT/2016/PT.DKI memberikan putusan mengenai pokok perkaranya, beberapa diantaranya yaitu:

a. Dikabulkannya gugatan sebagian yang diajukan oleh para pembanding yang semula para penggugat atau debitur;

b. Menyatakan adanya perbuatan menyalahgunkana keadaan atau

(Misbruik Van Omstandigheden) oleh para terbanding yang semula

tergugat I/ kreditur, tergugat II dan Tergugat III selaku Notari- PPAT

terhadap para penggugat atau debitur;

(8)

61

c. Menyatakan hak atas tanah beserta bangunan dalam Sertipikat Hak Guna Bangunan (HGB) No. 621/ Petukangan Utara yag sering dikenal PT. Alfa Goldland Realty adalah sah miliki para pembanding yang semula para penggugat atau debitur;

d. Atas PPJB No. 03 tahun 2006, PPJB No. 45 tahun 2008 yang dibuat oleh para pihak yaitu para pembanding yang semula para penggugat atau debitur dan terbanding I yang semula tergugat I atau kreditur dinyatakan batal demi hukum karena merupakan perbuatan melawan hukum yang didasarkan atas penyalahgunaan keadaan atau Misbruik Van Omstandingheden oleh tergugat I atau kreditur, tergugat II dan

tergugat III selaku Notaris PPAT kepada para penggugat atau debitur.

e. Atas Akta Jual Beli (AJB) No. 109/2008 yang dibuat pada tanggal 20 Agustus 2008 oleh para pihak yaitu para pembanding yang semula para penggugat atau debitur dan terbanding I yang semula tergugat I atau kreditur dihadapan Terbanding III yang semula Tergugat III selaku Notaris-PPAT dinyatakan batal demi hukum sehingga sertipikat Hak Milik (HM) No. 3770/Petukangan Utara tertulis nama Lisa Juliana Tanjung dinyatakan tidak sah dan tidak berkekuatan hukum oleh hakim.

Pada Pengadilan Tingkat Kasasi atas alasan-alasan pengajuan

kasasi yang diajukan oleh pemohon kasasi/ tergugat I/ terbanding I atau

kreditur itu majelis hakim menilai pertimbangan hukum hakim dalam

putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta No. 143/PDT/2016/PT.DKI yang

membatalkan putusan PN Jakarta Selatan No. 214/Pdt.G/2014/PN.Jkt

dengan mengabulkan pengajuan banding para pembanding/para penggugat

atau debitur itu tidak bertentangan dengan aturan hukum atau peraturan

perundang-undang. Dengan demikian atas pengajuan kasasi oleh pemohon

kasasi/tergugat I/ terbanding I atau kreditur tersebut ditolak sehingga

adanya putusan yang harus dilakukan pemohon kasasi/ tergugat I atau

kreditur untuk menanggung semua biaya perkara dalam tingkat peradilan,

dengan mengadili:

(9)

62

a. Pengajuan kasasi oleh pemohon kasasi/ tergugat I/ terbanding I atau kreditur Lisa Juliana Tanjung tersebut ditolak oleh hakim.

b. Pemohon kasasi/ tergugat I/ terbanding I atau kreditur untuk menanggung semua biaya perkara peradilan senilai Rp.500.000,00 (lima ratus ribu rupiah ).

B. PEMBAHASAN

1. Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) yang Dinyatakan Batal Demi Hukum Oleh Hakim Dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 1395 K/Pdt/2017 Sebagai Pengikatan Obyek Jaminan Hutang Piutang Ditinjau Berdasarkan Asas Proporsionalitas dan Asas Itikad Baik.

Suatu putusan yang diambil hakim itu harus memenuhi 2 (dua) kebutuhan, yaitu pertama, kebutuhan teoritis yaitu hakim dalam memberikan pertimbangan hukumnya dalam memutus suatu perkara di persidangan harus berdasarkan fakta hukum yang terjadi untuk dapat dipertanggungjawabkan. Kedua, kebutuhan praktis ialah dengan diambilnya putusan berdasarkan pertimbangan hukum yang diambil oleh hakim secara bertanggungjawaban tersebut hakim diharapkan dapat menyelesaikan kasus perkara hukum yang sedang dihadapi sehingga putusan tersebut dapat diterima oleh pihak-pihak yang terlibat dalam sengketa (Nila & Pujiyono, 2013: 272).

Uraian mengenai atas pertimbangan hukum merupakan landasan dasar untuk hakim dalam mengambil keputusan dalam setiap perkara yang diadili di persidangan. Selain memuat dasar pertimbangan yang logis rasional, pertimbangan hakim juga mencakup pertimbangan lainnya berupa penafsiran ataupun konstruksi hukum majelis hakim dalam perkara yang sedang diadili olehnya (Natsir, 2014: 86).

Bahwa dalam kasus perdata ada tugas yang harus dilakukan baik

oleh hakim atau para pihak, dimana hakim harus mencari, menemukan dan

menentukan hukum yang berlaku terhadap perkara atau sengketa yang

bersangkutan dan untuk para pihak diharuskan menyampaikan di

pengadilan atas suatu peristiwanya/bukti-buktinya. Putusan hakim

haruslah memiliki nilai yang obyektif, karena dalam putusannya tersebut

(10)

63

dicantumkan alasan-alasan hakim dalam mengambil putusan tersebut untuk dapat mempertanggungjawabkan kepada masyarakat (Rusmadi, 1991: 60).

Hakim dalam membuat putusan itu tidak mudah karena suatu putusan harus memuat 3 (tiga) unsur yaitu: keadilan (gerechtigkeit), kepastian hukum (rechtsicherheit) dan kemanfaatan (zwechtmassigkeit).

Berdasarkan unsur-unsur tersebut hakim harus dipertimbangkan dan menerapkan unsur-unsur tersebut secara proporsional, sehingga nantinya dihasilkannya suatu putusan yang berkualitas dan terpenuhinya harapan masyarakat untuk mencari keadilan ((Nila & Pujiyono, 2013: 273).

Dalam kasus ini, para penggugat/debitur mengajukan gugatan kepada tergugat I/kreditur ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan atas beralihnya hak atas tanah milik para penggugat yang dijadikan jaminan hutang piutangnya kepada tergugat I/kreditur yang dalam Putusan No.

214/Dpt.G/2014/PN.Jkt.Sel menyatakan:

a. Mengabulkan gugatan tergugat I atau kreditur untuk sebagian dan menyatakan para tergugat atau debitur terbukti telah melakukan perbuatan wanprestasi terhadap tergugat I atau kreditur.

b. Terhadap Sertipikat Hak Milik (SHM) No. 3770/Petukangan Utara atas nama tergugat I yang dikeluarkan Kepala Kantor Pertanahan Kota Jakarta Selatan dengan dasar Akta Jual Beli No. 109 tahun 2008 tertanggal 20 Agustus 2008 yang dibuat dihadapan Notaris/tergugat II oleh Hakim atas sertipikat dan Akta Jual Beli (AJB) tersebut dinyatakan berlaku sah dan benar.

c. Perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh debitur/para penggugat dan kreditur/tergugat I dihadapan Notaris diantaranya Akta Pengikatan Jual Beli No. 45 tertanggal 11 Juli 2008, Akta Jual Beli No. 109 tahun 2008, Akta Pengakuan Hutang No. 46 tertanggal 11 Juli 2008 oleh Hakim dinyatakan berlaku sah dan benar.

Hakim pada Pengadilan Negeri dengan melihat hubungan hukum

yang terjadi diantara para penggugat/debitur dan tergugat I/kreditur yaitu

masalah hutang piutang dengan menyatakan bahwa para

(11)

64

penggugat/debitur telah wanprestasi kepada tergugat I/kreditur sehingga PPJB yang dibuat oleh para pihak untuk mengikat jaminan hutang milik debitur yang digunakan sebagai dasar dilakukannya peralihan hak atas tanah milik debitur dengan dibuatkannya AJB sebagai wujud pemenuhan pengembalian hutang dari debitur kepada kreditur itu dinyatakan sah dan benar.

Putusan Pengadilan Negeri tersebut kemudian dibatalkan dengan Putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta No. 143/PDT/2016/ PT.DKI yang menyatakan putusan PN Jakarta Selatan No.

214/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel dibatalkan dan gugatan para pembanding yang semula para penggugat yang dalam hubungan hutang ini sebagai debitur dikabulkan oleh pengadilan untuk sebagian. Menyatakan para terbanding yang semula tergugat I atau kreditur telah melakukan penyalahgunaan keadaan, yang dimana para pembanding/para penggugat adalah pemilik sah atas obyek tanah yang menjadi obyek gugatan dan PPJB beserta turunannya dinyatakan batal.

Sampai pada Putusan Pengadilan Tinggi tersebut kemudian tergugat I/kreditur mengajukan kasasi dengan Putusan Mahkamah Agung No. 1395 K/Pdt/2017 dalam salah satu amar putusannya telah menolak pengajuan kasasi oleh pemohon kasasi/ tergugat I/ terbanding I dalam hal ini diajukan oleh kreditur, yang dalam memori kasasinya memohon Majelis Hakim Agung membatalkan Putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta No. 143/PDT/2016/PT.DKI.

Dasar pertimbangan hukum Hakim Mahkamah Agung dalam Putusan No. 1395 K/Pdt/2017 yang membatalkan PPJB yang oleh para pihak membuatnya dihadapan Notaris, Akta Jual Beli (AJB) dan sertipikat tanah hasil peralihan hak yang telah menjadi atas nama pemohon kasasi/

tergugat I/ terbanding I atau kreditur dinyatakan batal demi hukum, hakim

menyatakan atas alasan permohonan kasasi tidak dapat dibenarkan oleh

karena putusan Judex Facti atau Pengadilan Tinggi sudah benar serta tidak

keliru atau salah dalam penerapan hukumnya dengan pertimbangan

hukumnya yaitu:

(12)

65

a. Terkait surat kuasa yang dipergunakan tergugat I atau kreditur untuk melakukan jual beli hak atas tanah milik para penggugat/ debitur dalam membuat AJB No. 109 / 2008 tertanggal 20 Agustus 2008 merupakan bentuk surat kuasa mutlak yang keberadaanya dilarang oleh Instruksi Dalam Negeri No. 14 tahun 1982 terkait Larangan Membuat Surat Kuasa Mutlak;

b. Terkait AJB No. 109 / 2008 yang tertanggal 20 Agustus 2008 itu digunakan oleh pihak tergugat I atau kreditur untuk dilakukan peralihan hak atas tanah milik para penggugat atau debitur dari Hak Guna Bangunan (HGB) No. 621/Petukangan Utara tertulis atas nama Maria Fransiska Kartika menjadi Hak Milik (HM) No.

3770/Petukangan Utara tertulis atas nama Nyonya Lisa Julianda Tanjung pada tanggal 7 Oktober 2008.

c. Dengan demikian para tergugat telah melanggar hukum dengan melakukan penyalahgunaan keadaan dari para penggugat atau debitur sehingga harus dinyatakankan batal demi hukum atas Akta Pengikatan Jual Beli No. 45 tertanggal 11 Juli 2008 dan Akta Jual beli (AJB) No.

109/2008 tertanggal 20 Agustus 2008;

d. Bahwa dengan ini putusan Judec Facti/Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dalam kasus atau sengekta ini tidak bertentangan dengan aturan hukum atau aturan perundang-undangan, maka atas pengajuan kasasi oleh pemohon kasasi/ tergugat I atau kreditur Lisa Juliana Tanjung haruslah ditolak.

Pertimbangannya hukum hakim Mahkamah Agung dalam Putusan

No. 1395 K/Pdt /2017 menyatakan adanya penyalahgunaan keadaan Para

Penggugat/debitur oleh Tergugat I/kreditur mengenai PPJB yang mereka

buat. Diketahui adanya penyalahgunaan keadaan mengenai kekuasaan

ekonomi (eemisch verwicht) pada posisi salah satu pihak yang dapat

mengganggu keseimbangan diantara kedua belah pihak sehingga dapat

menimbulkan kehendak yang tidak bebas dalam memberikan persetujuan

dalam perjanjian (H.P Pangabean, 2010: 101).

(13)

66

Berdasarkan jawaban gugatan Tergugat I/Terbanding I/Pemohon Kasasi/kreditur menyatakan sangat keberatan atas pertimbangan hukum hakim yang didasarkan hanya karena keterpurukan kehidupan ekonomi daripada Agus Susanto (Termohon Kasasi I semula Pembanding I semula Penggugat I) dan Maria Fransiska Kartika (Termohon Kasasi II semula Pembanding II semula Penggugat II) sehingga tidak mampu melaksanakan kewajiban mengembalikan hutang kepada Tergugat I/kreditur.

Pertimbangan hakim ini dilihat berdasarkan pengakuan saksi yang diajukan Para Penggugat/debitur yang tidak dapat didukung dengan bukti- bukti dalam persidangan. Perjanjan itu sendiri dibuat atas kesepakatan para pihak yang merupakan wujud tanggung jawab debitur untuk memenuhi prestasi kepada kreditur sehingga tidak ada kekuasaan ekonomi disalah satu keadaan para pihak yang dapat menimbulkan ketidakseimbangan posisi diantara para pihak.

Mengenai PPJB yang dinyatakan batal demi hukum oleh hakim dalam Putusan Mahkamah ini yang digunakan menjadi dasar adanya Akta Jual Beli (AJB) hak atas tanah milik Para Penggugat/debitur yang dialihkan menjadi milik Tergugat I/kreditur karena adanya penyalahgunaan keadaan tersebut akan ditinjau berdasarkan asas proporsionalitas dan asas itikad baik. Asas hukum merupakan dasar dalam membuat perjanjian yang memberikan pandangan cara berpikir bagi para pihak dalam membuat perjanjian. Perjanjian yang dibuat berdasarkan ketentuan asas-asas perjanjian, diharapkan tercapainya suatu keadilan, suatu ketertiban dan adanya kepastian hukum yang dapat terwujud.

Dengan adanya perjanjian yang dibuat oleh para pihak, masing-masing pihak diharapkan untuk dapat melakukan perjanjian dengan baik. Asas- asas hukum berfungsi untuk melindungi kepentingan masyarakat.

Adanya perbedaan mengenai peraturan hukum dengan asas-asas hukum. Sering kali asas hukum itu keberadaanya di luar dari UU. Tetapi asas hukum juga dikonkritkan atau diwujudkan sebagai aturan hukum.

Sebagaimana dalam Pasal 1339 KUHPerdata adanya pengaturan asas

hukum yang mengharuskan seseorang memperhatikan kepatutan serta

(14)

67

kepantasan. Selain itu juga termanifestasi dalam ketentuan Pasal 1338 KUHPerdata suatu perjanjian itu sah dan berlaku mengikat dan sebagai aturan yang harus ditaati bagi para pihak yang membuatnya (Herlien, 2010: 28).

Tinjaun pertama, adapun Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) yang dinyatakan batal demi hukum oleh hakim dalam Putusan Mahkamah Agung No. 1395 K/Pdt/2017 ditinjau berdasarkan asas proporsionalitas, yang dimana asas proporsionalitas ialah wujud dari doktrin keadilan kontraktual yang mengatur keutamaan kebebasan dalam berkontrak bahkan pada beberapa kasus dapat terjadinya suatu ketidakadilan. Suatu keadilan dalam kontrak didefinisikan pada dua pendekatan: yaitu secara prosedural, yang menitikberatkan pada persoalan kehendak bebas dalam kontrak dan pendekatan yang secara substantif yang fokus pada isi dan pelaksaan perjanjian. Pendekatan substantif ini perlu diperhatikan mengenai adanya perbedaan kepentingan (Agus Yudha Hernoko, 2007:

235).

Asas proporsionalitas mengacu pada asas-asas yang mendasari terjadinya pemenuhan atas hak serta kewajiban para pihak dalam perjanjian sesuai dengan bagiannya atau proporsional. Asas proporsionalitas berpandangan bahwa terdapat cara dalam pembagian hak serta kewajiban sesuai dengan proporsi yang terwujud pada bembentukan dan pelaksanaan kontrak/perjanjian. Prinsip proporsi berfokus pada keberlangsungan kepentingan hubungan para pihak dalam menjalankan perjanjian (Agus Yudha Hernoko, 2007: 236).

Asas proporsionalitas ini menjadi asas dasar dalam pertukaran hak serta kewajiban pihak-pihak dalam perjanjian menurut bagian masing- masing. Asas ini tidak mempersoalkan soal kesamaan ataupun keseimbangan dari suatu hasil, melainkan lebih pada rasio mengenai pembagian hak seta kewajiban antara pihak-pihak dalam perjanjian atau kontrak (Agus Yudho Hernoko, 2009: 31).

Kontrak atau perjanjian yang bersubstansikan asas proporsionalitas

yaitu (Agus Yudho Hernoko, 2009: 88):

(15)

68

a. Kontrak yang mengakui persamaan hak, peluang yang sama untuk mereka para pihak yang melakukan perjanjian untuk dapat menentukan pertukaran yang adil yang diberikan kepada para pihak tersebut.

Kesetaraan tidak dapat diartikan persamaan hasil tetapi kedudukan para pihak berdasarkan persamaan posisi dan hak (equitability) adanya prinsip persamaan atau kesetaraan hak.

b. Berdasarkan prinsip persamaan hak diatas, kontrak yang mengandung asas proporsional ialah kontrak yang didasari atas kebebasan para pihak dalam kontrak atau perjanjian untuk menentukan isi mengenai suatu hal yang adil dan tidak adil untuk mereka atau dapat disebut dengan prinsip kebebasan.

c. Kontrak berdasarkan asas proporsional adalah kontrak yang dapat menjamin pelaksanaan hak sekaligus dan pada saat yang sama mengalokasikan kewajiban antar para pihak secara proporsional.

Keadilan itu tidak selalu diartikan bahwa setiap individu harus menerima sesuatu dengan jumlah yang sama rata, di mana dapat terjadinya hasil akhir yang berbeda.

Berdasarkan kronologi kasus Putusan Mahkamah Agung tersebut yang sebelumnya telah adanya Putusan PN Jakarta Selatan No.

214/Pdt.G/2014/PN.Jkt dan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta No.

143/PDT/2016/PT.DKI, bahwa yang terjadi diantara Para Penggugat atau debitur dan Tergugat I atau kreditur yaitu hubungan hutang piutang yang telah terjadi dari tahun 2006 sampai pada tahun 2008 dengan hutang senilai Rp. 2.000.000.000 (dua milyar rupiah). Para Penggugat/debitur dalam kasus ini tidak sanggup mengembalikan hutang yang diberikan Tergugat I/kreditur sesuai dengan waktu pengembalian hutang yang telah disepakati.

Debitur dalam pemenuhan kewajiban pengembalian hutang kepada

kreditur, menjaminkan hak atas tanah miliknya dan disepakati bersama

antara debitur dan kreditur untuk mengikat hak atas tanah tersebut dengan

Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB). Pembuatan akta tersebut

dilakukan oleh para pihak dihadapan Notaris yang dituangkan dalam Akta

(16)

69

Pengikatan Jual Beli No. 45 tanggal 11 Juli 2008. PPPJB yang dibuat oleh para pihak merupakan perjanjian pendahuluan yang obyek perjanjian yaitu hak atas tanah milik Para Penggugat/debitur berupa Sertipikat Hak Guna Bangunan (HGB) No. 621/ Petukangan Utara dikenal sebagai PT. Alfa Goldland Realty dengan luas 312 m² (tigaratus duabelas meter persegi) terdaftar atas nama Penggugat II yang kemudian dari dasar PPJB tersebut dilakukan peralihan hak atas tanah kepada Tergugat I/kreditur dengan membuat Akta Jual Beli (AJB) yang dilakukan dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah atau sering disebut PPAT.

Tanah dan bangunan yang dimiliki para penggugat atau debitur yang kepemilikannya beralih menjadi milik tergugat I atau kreditur tersebutlah yang menjadi obyek gugatan Putusan Mahkamah Agung No.

1395 K/Pdt/2017 yang dijadikan jaminan hutang Para Penggugat/debitur kepada Tergugat I/kreditur yang diikat dengan PPJB. Peralihan hak atas tanah itu didasarkan atas perjanjian tersebut yang dibuat oleh para pihak dengan obyek tanah dinilai sebesar Rp. 950.000.000 (sembilanratus limapuluh juta rupiah ) sebagaimana disebutkan oleh para penggugat atau debitur dalam alasan gugatannya.

Hal ini didasarkan alat bukti dengan kode (P.5) yang sama dengan alat bukti dengan kode (T1.6) mengenai Akta pengikatan jual beli No. 45 tertanggal 11 Juli 2008 yang dilakukan dengan menghadap tergugat II atau seorang Notaris-PPAT yang salah satu intinya menyebutkan penjualan atas sebidang tanah Hak Guna Bangunan (HGB) No. 621/ Petukaran Utara yang dalam Gambar Situasi No.14/1992 tertanggal 1 April 1992 dengan luas tanah 312 m

2

(meter persegi) dikenal sebagai PT. Alfa Goldland Realty dengan harga penjualan senilai Rp. 950.000.000 (sembilanratus limapuluh juta rupiah).

Dilakukannya peralihan tanah kepemilikan dari para penggugat

atau debitur menjadi milik Tergugat I/kreditur tersebut maka hutang yang

dimiliki Para Penggugat kepada Tergugat I/kreditur telah dibayarkan

sebagian, dengan demikian Para Penggugat/debitur telah membayar

sebagian hutangnya dengan hak atas tanah miliknya. Menurut keterangan

(17)

70

Tergugat I/kreditur bahwa Para Penggugat/debitur dengan demikian masih memiliki sisa hutang yang dituangkan dalam Akta Pengakuan Hutang Nomor 46 tertanggal 11 Juli 2008 yang mereka buat bersama dihadapan Tergugat II atau selaku Notaris.

Telah beralihnya hak atas tanah milik Para Penggugat/debitur menjadi milik Tergugat I/kreditur tersebut, Para Penggugat/debitur menginginkan hak atas tanah tersebut kembali kepada Para Penggugat/debitur dengan mengajukan gugatan ke Pengadilan untuk dimohonkan pembatalan atas Sertipikat tanah atas nama tergugat I/kreditur tersebut dan dimohonkannya batal demi hukum atas PPJB beserta turunannya.

Mengingat dalam jaminan hak atas tanah berdasarkan ketentuan UU No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan memberikan definisi Hak Tanggungan sebagaimana termuat di dalam penjelasan Pasal 1 angka 1 yang memiliki pengertian bahwa jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah itu disebut Hak Tanggungan seperti yang dimaksudkan dalam UU No. 5 Tahun 1960 (Undang-Undang Pokok Agraria) baik berikut atau yang tidak berikut benda lain yang yang merupakan bagian kesatuan dengan tanah jaminan itu yang digunakan untuk melunasi hutang sehingga menjadikan kreditur pemegang hak tanggungan menjadi diutamakan dari pada kreditur lainnya.

Jaminan dibebankan pada hak atas tanah milik Para Penggugat/debitur tersebut disebut dengan hak tanggungan, yang dimana Para Penggugat/debitur bertindak sebagai pemberi hak tanggungan dan Tergugat I/kreditur bertindak sebagai pihak yang memegang hak tanggungan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 9 Undang-Undang Hak Tanggungan (UUHT) menyebutkan pihak perorangan atau pihak yang berbadan hukum yang berkedudukan sebagai pihak yang memberikan hutang maka dalam jaminan hak atas tanah yang diberikan oleh debitur berperan sebagai pemegang hak tanggungan.

Apabila debitur cidera janji berdasar Pasal 20 ayat (1) huruf a

Undang-Undang Hak Tanggungan (UUHT) menyebutkan pemegang hak

(18)

71

tanggungan memiliki hak untuk menjual obyek dari hak tanggungan yang diberikan oleh debitur itu seperti yang dimaksud dalam Pasal 6, bahwa diketahui debitur tidak dapat melaksanakan perjanjian atau cidera janji, kreditur yang memegang hak tanggungan pertama memiliki hak menjual obyek jaminan dengan prakarsa sendiri melalui lelang dan mengambil hasil penjualan itu untuk melunasi hutang debitur.

Tetapi dilihat dari sengketa kasus putusan Mahkamah Agung No.

1395 K/Pdt/2017, hak tanggungan tersebut diikat dengan PPJB yang oleh para pihak yaitu debitur dan kreditur dibuat dihadapan seorang Notaris, dimana debitur itu pihak pertama yang memiliki dan menjual tanahnya kemudian kreditur itu pihak kedua yang membeli tanah milik pihak pertama yang juga memuat nilai harga jual tanah milik Para Penggugat/debitur.

Berkaitan dengan PPJB yang telah dibuat kreditur dan debitur tersebut, pada prinsipnya PPJB itu sendiri tunduk berdasarkan ketentuan umum perjanjian dalam Buku III KUHPerdata Pasal 1313 KUHPerdata tentang perikatan yang dimana perjanjian adalah tindakan atau perbuatan yang mana individu satu ataupun lebih yang mengikatkan dirinya pada satu individu lainnya ataupun lebih.

Kemudian menurut Herlien Budiono yang disebut dengan Perjanjian Pengikatan Jual Beli adalah perjanjian bantuan yang bentuknya bebas yang berlaku sebagai perjanjian pendahuluan, sehingga PPJB ini dibuat sebagai perjanjian pendahuluan sebelum perjanjian utama atau pokok itu dilakukan (Dewi, 2017: 632). Jadi sebelum para pihak membuat Akta jual beli di hadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah atau PPAT mereka membuat PPJB terlebih dahulu dihadapan Notaris yang berwenang. Hak ini dimaksudkan bahwa PPJB merupakan perjanjian pendahuluan sebelu para pihak melakukan peralihan dan menandatangani akta jual beli di hadapan PPAT.

Di Indonesia hukum perjanjian menganut asas kebebasan

berkontrak dimana setiap pihak memiliki kebebasan untuk saling janji atau

mengikatkan dirinya dengan orang lain dalam melakukan sesuatu hal. Dari

(19)

72

asas kebebasan berkontrak ini adanya posisi yang seimbang diantara para pihak yang membuat perjanjian yang artinya masing-masing pihak pada posisi yang sama kuat dan mempunyai posisi tawar (bargaining position) yang sama (Alya, Suraji, 2020: 166).

System aturan hukum perjanjian itu bersifat terbuka yang artinya bahwa setiap individu mempunyai kebebasan untuk membuat perjanjian baik yang sudah diatur ataupun yang belum diatur keberadaanya dalam UU. Perjanjian yang dibuat tersebut haruslah berdasarkan dengan Undang- Undang yang berlaku dan memenuhi ketentuan KUHPerdata Pasal 1320 mengenai syarat-syarat sah perjanjian yaitu sepakat, kecapakan dalam membuat perjanjian, mengenai suatu hal tertentu dan causa yang halal. Hal ini sesuai dengan asas kebebasan berkontrak bahwa semua orang mempunyai hak untuk membuat dan melakukan perjanjian dengan bebas asalkan tidak melanggar aturan hukum dan melawan hukum.

Adanya suatu gugatan dari Para Penggugat/debitur terhadap Tergugat I/kreditur tersebut, menurut penulis adanya perlawanan oleh Para Penggugat/debitur mengenai penjualan jaminan yang dimana Tergugat I/kreditur sebagai pembeli membeli dengan harga jual hak atas tanah milik Para Penggugat/debitur senilai Rp. 950.000.000 (sembilanratus limapuluh juta rupiah ).

Berdasarkan keterangan para penggugat atau debitur dalam gugatannya menyebutkan telah melakukan pengecekan di kantor kelurahan setempat harga per meter persegi tanah dan bangunan tersebut adalah senilai Rp.15.000.000 (limabelas juta rupiah)/m

2

sehingga Para Penggugat/kreditur menilai harga atau nilai yang tercantum di PPJB tersebut menjadi tidak wajar dan disinyalir dibuat rendah, agar pokok hutang Para Penggugat/debitur menjadi tetap.

Berdasarkan keterangan Para Penggugat/debitur tersebut Tergugat

I/kreditur memberikan jawaban gugatan bahwa di dalam posita gugatan

Para Penggugat, Penggugat mendalilkan setelah dilakukan pengecekan di

kantor kelurahan setempat harga per meter persegi tanah dan bangunan

tersebut adalah senilai Rp.15.000.000 (limabelas juta rupiah)/m

2

dinilai

(20)

73

gugatan penggugat tidak jelas/kabur/obsuur karena tidak didasari dengan data data yang valid kebenarannya seperti halnya nilai objek tanah.

Berdasarkan keterangan yang diajukan oleh masing-masing pihak tersebut, penulis beranggapan bahwa yang menjadi permasalahan dalam gugatan yang diajukan oleh Para Penggugat/debitur yaitu karena merasa dirugikan dengan dijualnya hak atas tanah miliknya dengan harga dibawah nilai jual yang sebenarnya, sehingga tidak dapat menutup seluruh hutang yang dimiliki Para Penggugat/debitur.

Dengan demikian PPJB yang dibuat oleh para penggugat atau debitur dengan tergugat I/ atau kreditur merupakan wujud kebebasan berkontrak dimana setiap individu memiliki kebebasan untuk membuat janji atau mengikatkan dirinya dengan pihak lain. Dalam kebebasan berkontrak harus ada posisi tawar yang seimbang di antara para pembuat kontrak. Apabila ditinjau dengan asas proporsionalitas, adanya dominasi salah satu pihak dalam kebebasan berkontrak dalam perjanjian tersebut yang menimbulkan suatu ketidakadilan dengan adanya kedudukan yang tidak seimbang antara Para Penggugat/debitur dan Tergugat I/kreditur.

Mengingat hubungan awal dari para pihak yaitu hutang piutang maka dengan dibuatnya PPJB tersebut menimbulkan ketidakseimbangan posisi diantara para pihak. Tergugat I/kreditur yang dalam perkara hutang piutang ini seharusnya bertindak yang memegang hak tanggungan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 9 UU No. 4 tahun 1996 tentang Hak Tanggungan, tetapi dalam kasus ini bertindak sebagai pembeli jaminan yang menimbulkan suatu ketidakadilan untuk Para Penggugat/debitur dengan dibelinya jaminan hak atas tanah milik debitur oleh kreditur dengan harga dibawah nilai jual tanah itu sendiri yang dapat menguntungkan kreditur.

Berdasarkan kriteria dalam menentukan adanya asas

proporsionalitas dalam suatu akta, PPJB yang oleh Para Penggugat/debitur

dan Tergugat I/kreditur dibuat sebagai pengikatan jaminan hak atas tanah

miliki Para Penggugat/debitur tidak memberikan peluang kesempatan

yang sama dalam menentukan pertukaran yang adil bagi mereka. Dengan

(21)

74

demikian tidak adanya kebebasan untuk para pihak dalam menentukan subtansi dalam hal ini menentukan nilai jual tanah yang adil bagi para pihak yaitu Tergugat I/kreditur dan Para Penggugat/debitur. Sehingga pelaksanaan kewajiban Para Penggugat/debitur untuk membayar hutangnya dengan hak atas tanah miliknya menjadi tidak ada jaminan kepastian mengenai sisa hutang yang seharusnya masih dimiliki Para Penggugat/debitur. Dengan diberikannya nilai jual hak atas tanah milik Para Pengggat/debitur lebih rendah dari nilai jual yang sesungguhnya membuat Para Penggugat/debitur merasa dirugikan.

Tinjaun kedua, Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) yang dinyatakan batal demi hukum oleh hakim dalam Putusan MA No. 1395 K/Pdt/2017 ditinjau berdasarkan asas itikad baik. Dalam kontrak dikenal adanya asas itikad baik yang dimana setiap kontrak atau perjanjian yang dibuat harus dilaksanakan dengan itikad baik. Berdasar Pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata, setiap perjanjian harus dibuat dan dilakukan dengan suatu iktikad baik. Pasal 1339 KUHPerdata menyatakan bahwa suatu perjanjian tidak hanya mengikat pada apa yang secara tegas dinyatakan di dalamnya, tetapi juga terhadap segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian itu diwajibkan oleh suatu kepatutan, suatu kebiasaan dan undang-undang.

Adanya itikad baik dalam pelaksanaan perjanjian berarti kita harus mengartikan perjanjian tersebut atas dasar keadilan dan suatu kepatutan (Purwahid, 199: 67).

Dapat dikatakan itikad baik memiliki pemahaman yang abstrak dan sukar untuk dirumuskan sehingga banyak pihak yang merumuskan tentang itikad baik itu dalam peristiwa yang terjadi di pengadilan (Niru Anita, 2018: 61). Asas ini dilihat dengan adanya niat dari para pihak dalam membuat dan melakukan perjanjian untuk tidak menimbulkan kerugian bagi mitranya atau kepentingan masyarakat umum lainnya. Itikad baik dalam pelaksanaan perjanjian memiliki 2 (dua) penjelasan, yakni:

a) Dalam arti subyektif yaitu sikap batin seseorang bersikap jujur dengan

tidak menyembunyikan atau menutupi hal-hal yang buruk yang dapat

(22)

75

merugikan orang lain dipermulaan hubungan hukum yang mereka lakukan.

b) Dalam arti obyektif yaitu dalam melaksanakan perjanjian adanya perbuatan untuk melakukan suatu kewajiban dan hak dengan didasarkan pada kaidah-kaidah yang tepat berdasarkan kepatutan serta kesusilaan.

Asas yang diatur pada Pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata menyatakan perikatan atau perjanjian haruslah dilakukan dengan itikad baik, menurut pasal tersebut hakim memiliki kekuasaan dalam melakukan pengawasan terhadap jalannya perjanjian jangan sampai perjanjian itu melanggar suatu kepatutan serta suatu keadilan (Abdul, 1992: 10).

Suatu itikad baik juga penting dalam tahap proses negosiasi dan tahap penyusunan kontrak. Dengan demikian dalam suatu kontrak haruslah adanya itikad baik sejak saat proses negosiasi dan penyusunan kontrak sampai dengan pelaksanaan kontrak itu sendiri. Wujud itikad baik pada masa pra kontrak mencakup kewajiban untuk meneliti dan kewajiban untuk menginformasikan dan memberikan penjelasan (Ridwan, 2003: 13).

Dapat disimpulkan asas dari itikad baik ini harus diterapkan dari tahap prakontraktual sampai dengan tahap pascakontraktual.

Kasus dalam Putusan MA No. 1395 K/Pdt/2017, diketahui tidak adanya itikad baik dari para pihak yaitu baik dari Para Penggugat/debitur maupun Tergugat I/Kreditur. Diketahui hubungan awal dari para pihak yaitu karena adanya hutang piutang. Para Penggugat yang berkedudukan sebagia debitur tidak dapat membayar kembali hutang yang dimilikinya kepada kreditur sesuai apa yang diperjanjian sehingga untuk memenuhi kewajibannya untuk membayar hutang kepada kreditur menjaminkan tanah miliknya dan diikat dengan Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB).

Sedangkan Tergugat I sebagai kreditur dalam penjualan jaminan hak atas

tanah milik debitur tersebut bertindak sebagai pembeli jaminan yang

menurut debitur dalam gugatannya hal ini memberikan kerugian kepada

debitur selaku pemilik jaminan karena jaminan tersebut dibeli dengan

harga dibawah nilai jual tanah itu sendiri.

(23)

76

Mengingat dalam hutang piutang ada 2 (dua) pihak yang terdapat dalam perjanjian hutang piutang yaitu: 1) pihak pemberi pinjaman uang atau yang berpiutang atau sering disebut kreditur; 2) pihak menerima pinjaman uang atau yang berutang yang sering disebut debitur (Gatot, 2013: 9).

Para pihak dalam melakukan pinjam meminjam uang harus menjalankan perjanjian sebagaimana yang mereka sepakati. Para pihak tidak diperbolehkan menagih atau meminta hutangnya melebihi dari jumlah yang telah disepakati di dalam perjanjian yang mereka buat.

Keditur hanya mempunyai hak untuk menagih hutang yang diberikan kepada debitur sesuai dengan apa yang mereka perjanjikan (Gatot, 2013:

10).

Kewajiban pokok si peminjam atau yang berhutang ialah mengembalikan barang/uang yang dipinjam. Setiap pihak yang berhutang atau debitur berkewajiban melakukan prestasi atau disebut schuld kepada kreditur sesuai waktu pengembalian hutang yang telah mereka buat dan disepakati dalam perjanjian. Apabila pihak yang berhutang atau debitur itu tidak dapat melakukan prestasi atau tidak terpenuhinya kewajiban mengembalikan hutang kepada kreditur maka ia berkewajiban untuk memberikan harta kekayaan yang dimilikinya untuk diambil oleh kreditur sebanyak hutang yang dimilikinya untuk pelunasan hutangnya atau disebut hafting (Mariam, 2001: 8).

Jika pihak yang berhutang atau si debitur tidak memenuhi segala sesuatu yang telah diperjanjikan, si debitur tersebut dapat dikatakan wanprestasi karena adanya kelalaian atau kealpaan atau tidak nemepati janjinya. Selain daripada itu si debitur juga telah melakukan pelanggaran atas kesepakatan perjanjian yang dibuat, ketika debitur melakukan hal yang tidak diperkenankan untuk melakukannya. Wanprestasi atau kelalaian dari debitur dapat dibagi menjadi empat kategori:

a) Tidak menjalankan atas apa yang seharusnya ia lakukan;

b) Memenuhi apa yang diperjanjikan, tetapi pemenuhan tersebut tidak

dijalankan sebagaimana yang diperjanjikannya;

(24)

77

c) Terlambat dalam memenuhi perjanjiannya;

d) Berbuat sesuatu tetapi oleh perjanjiannya sendiri tidak diperkenankan untuk dilakukan.

Tidak dipenuhinya pemenuhan pengembalian hutang oleh debitur kepada kreditur pada waktu pengembalian hutang yang telah diperjanjikan, maka tidak adanya itikad baik dari debitur dalam melaksanakan perjanjian hutang piutang tersebut. Diketahui dengan adanya itikad baik maka dapat dilihat niat dari para pihak dalam membuat dan melakukan perjanjian untuk tidak menimbulkan kerugian bagi mitranya atau kepentingan masyarakat umum lainnya. Dari awal perjanjian hutang piutang debitur tidak sanggup melunasi seluruh hutang yang dimilikinya kepada kreditur berdasarkan waktu pengembalian hutang yang mereka sepakati dalam perjanjian, hal ini membawa kerugian kepada kreditur yang telah memberikan pinjaman hutang kepada debitur.

Tidak adanya itikad baik dari Para Penggugat/debitur dalam melunasi hutangnya sesuai dengan waktu pengembalian hutang yang telah mereka buat, maka dibuatlah PPJB dengan mengahadap Notaris oleh debitur dan kreditur untuk mengikat hak atas tanah milik debitur. Dengan dasar PPJB tersebut kemudian dilakukan pembuatan Akta Jual Beli (AJB) dengan menghadap Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) untuk mengalihkan hak atas tanah milik debitur menjadi atas nama kreditur yang kemudian dilakuakn proses pendaftaran di kantor Pertanahan setempat.

Semua ini dilakukan untuk pembayaran sebagian hutang debitur

kepada kreditur, yang dimana posisi kreditur dalam peralihan hak atas

tanah sebagai jaminan tersebut sebagai pembeli jaminan. Hal ini apabila

dikaitkan dengan asas itikad baik maka kreditur tidak beritikad baik karena

sesuai Pasal 9 Undang-Undang Hak Tanggungan (UUHT) bahwa kreditur

sebagai pihak yang memegang hak tanggungan, yang seharusnya

pemegang hak tanggungan sebagai penjual untuk menjual jaminan tersebut

kepada pihak lain. Sehingga dengan kreditur sebagai pembeli atas jaminan

hutang yang diberikan debitur itu dapat menentukan nilai jual jaminan

sendiri yang dapat memberikan keuntungan kepada kreditur sendiri.

(25)

78

Harta kekayaan berupa tanah yang dijaminkan merupakan Hak Tanggungan yang berdasr Pasal 20 Undang-Undang Nomor 4 tahun 1996 tentang Hak Tanggungan terdapat 3 (tiga) macam pelaksanaan eksekusi atas hak tanggungan apabila diketahui si debitur telah ingkar janji di dalam melakukan perjanjiannya, yaitu:

a) Eksekusi dengan cara penjualan di bawah tangan

Eksekusi ini merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan antara debitur dengan kreditur apabila suatu saat debitur wanprestasi atas obyek jaminan dapat dilakukan penjualan dengan harga yang lebih tinggi untuk menghindari kerugian bagi debitur atau pemilik atas barang yang dijaminkan. Adanya kesempatan bagi debitur yang diatur oleh aturan hukum bahwa sebelum benda jaminan miliknya itu dijual melalui lelang ia memiliki kesempatan untuk menjual dan menawarkan kepada pihak lain.

b) Eksekusi atas kekuasaan sendiri atau parate executie

Hal ini berdasar irah-irah yang ada pada sertipikat hak tanggungan yang mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama seperti putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Apabila diketahui si debitur itu ingkar janji tidak melakukan prestasinya dan dinyatakan wanprestasi maka benda yang dijaminkan oleh si debitur itu dapat dilakukan eksekusi seperti putusan pengadilan tersebut oleh si kreditur. Sehingga apablila debitur wanprestasi tanpa melalui proses di pengadilan, maka dapat dilakukan penjualan dengan cara dilelang supaya si debitur itu tidak dirugikan.

c) Eksekusi berdasarkan titel eksekutorial

Apabila debitur itu telah wanprestasi atau cidera janji dalam

melakukan perjanjiannya dan penjualan obyek jaminan yang

dilakukan secara bawah tangan atau dijual dengan kekuasaannya

sendiri yang dilakukan oleh kreditur itu gagal, dengan demikian

berdasarkan Sertipikat Hak Tanggungan yang berisikan titel

eksekutorial kreditur bisa memohonkan pada pengadilan untuk

dilakukan eksekusi atas benda jaminan yang dijaminkan si debitur

(26)

79

yang telah wanprestasi itu. Pasal 224 HIR/258 R.B.G mengatur tentang eksekusi ini.

Eksekusi tersebut tidak bisa diterapkan dalam kasus ini karena hak tanggungan milik Para Penggugat/debitur diikat dengan Perjanjian Pengikatan Jual Beli yang tidak memiliki dasar untuk dilakukannya eksekusi sebagaimana disebutkan di dalam Pasal 20 UU Hak Tanggungan tersebut. Mengingat berdasarkan Pasal 10 ayat (2) UU Hak Tanggungan (UUHT) jaminan yang diberikan dengan Hak Tanggungan diberikan dalam bentuk Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) oleh PPAT sesuai dengan UU yang berlaku.

Diikatnya jaminan hak tanggungan milik Para Penggugat/debitur dengan Perjanjian Pengikatan Jual Beli yang dimana posisi Tergugat I/kreditur sebagai pembeli hak tanggungan maka dapat dilihat adanya iktikad tidak baik yang tidak menguntungkan semua pihak. Berdasarkan keterangan Para Penggugat/debitur dalam gugatannya, jaminan hak atas tanah milik debitur tersebut dibeli di bawah harga nilai jual tanah itu sendiri. Nilai jual tanah milik Para Penggugat/debitur yang telah dialihkan menjadi milik Tergugat I/kreditur senilai Rp.950.000.000 (sembilanratus limapuluh juta rupiah). Sehingga Para Penggugat/debitur merasa dirugikan atas dibelinya hak atas tanah miliknya oleh Tergugat I/kreditur dengan harga yang menurut Para Penggugat/debitur dibawah harga nilai jual tanah yang sebenarnya.

Mengingat asas itikad baik dalam arti obyektif ini merupakan perbuatan para pihak dalam melakukan suatu perjanjian yaitu pada saat melaksanakan hak serta kewajibannya dalam suatu hubungan hukum.

Artinya, pelaksanaan perjanjian harus didasarkan pada kaidah-kaidah yang tepat yaitu berdasarkan norma kepatutan dan kesusilaan. Apabila para pihak tidak menjalankan hak dan kewajiban sebagaimana dalam hubungan hukumnya dan tidak mengindahkan norma aturan yang ada maka para pihak tersebut tidak beritikad baik.

Tidak adanya itikad baik dari debitur dilihat dalam menjalankan

kewajibannya dalam mengembalikan hutang kepada kreditur tidak tepat

(27)

80

waktu pengembalian hutang yang telah disepakati sehingga dibuatlah PPJB dengan obyek hak atas tanah milik debitur yang dijadikan jaminan sebagai wujud pembayaran hutangnya kepada kreditur yang kemudian hak atas tanah tersebut dialihkan menjadi milik kreditur. Kemudian kreditur dalam menerima haknya mendapatkan pelunasan hutang dari debitur, tidak beritikad baik karena dalam penjualan jaminan hak atas tanah milik debitur tersebut kreditur bertindak sebagai pembeli yang menurut debitur dalam gugatannya tanah tersebut dibeli dibawah nilai jual tanah itu sendiri sehingga merugikan debitur.

Menurut penulis, hal inilah yang menjadikan dasar Para Penggugat/debitur mengajukan gugatan ke Pengadilan dikarenakan tidak adanya itikad baik dari Tergugat I/kreditur dalam membeli tanah miliknya dan merasa dirugikan atas dibelinya hak atas tanah miliknya tersebut dengan harga dibawah nilai jual tanah itu sendiri.

Adanya suatu gugatan tersebut, berdasarkan keterangan Tergugat I/kreditur dalam jawaban gugatannya bahwa juga mengalami kerugian akibat dari tidak adanya itikad baik Para Penggugat/debitur mengalami kerugian secara materiil dan immaterial. Kerugian materiil ialah suatu kerugian nyata yang diderita oleh pihak yang mengalami kerugian tersebut, sedangkan kerugian immaterial ialah kerugian dari hilangnya keuntungan atau hilangnya manfaat yang diterima oleh pihak yang mengalami kerugian di kemudian hari. Kerugian tersebut yaitu diantaranya adanya hutang yang belum dilunasi oleh Para Penggugat/debitur, biaya yang harus dikeluarkan oleh Tergugat I/kreditur akibat timbulnya gugatan dari Para Penggugat/debitur ini, Tergugat I/kreditur terganggung secara pikiran mental dan psikologinya, dan hak atas tanah beserta bangunan yang sudah dibalik nama atas nama tergugat I atau kreditur tersebut menjadi tidak bisa digunakan sebagaimana hak dan tujuannya.

Berdasarkan pernyataan di atas, apabila dikaitan dengan teori

kepastian hukum, bahwa Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) yang

dinyatakan batal demi hukum oleh hakim dalam Putusan MA No. 1395

K/Pdt/2017 sebagai pengikatan jaminan hutang piutang ditinjau dengan

(28)

81

asas proporsionalitas dan asas itikad baik ini memberikan suatu kepastian hukum bagi mereka para pihak. Kepastian hukum menurut oleh Van Apeldoorn yaitu mengenai kepastian hukum dapat dipahami dalam beberapa hal. Namun dalam hal kepastian hukum, Van Apeldoorn hanya menjabarkan dua arti. Pertama, kepastian hukum itu mampu menentukan hukum mana yang berlaku atau akan digunakan untuk suatu permasalahan yang konkret. Dengan ditentukannya aturan hukum yang akan digunakan dalam permasalahan tersebut, para pihak yang berperkara dengan ini sejak awal dapat mengetahui aturan apa yang akan digunakan dalam menyelesaikan sengketa. Adanya suatu kepastian hukum, Oleh Roscoe Pound dikatakan dimungkinkannya adanya predictability (Peter, 2013:

97).

Pengertian yang kedua, kepastian hukum dapat diartikan perlindungan hukum. Hal ini bagi para pihak yang berpekara dapat terhindar dari kesewenang-wenangan penghakiman. Artinya dengan adanya kepastian hukum ini dapat membatasi pihak yang memiliki kewenangan atas kehidupan seseorang seperti hakim dan pihak pembuat regulator. Memberikan pembatasan kepada pihak-pihak yang berkaitan dengan kesewenangan hakim dan pembuat peraturan. Benar bahwa hakim mempunyai kebebasan untuk menafsirkan peraturan, dan mempunyai diskresi bahkan ketika harus membuat hukum. Akan tetapi keberadaan peraturan yang digunakan untuk permasalahan-permasalahan yang konkret harus dijadikan pedoman untuk menangani kasus-kasus serupa yang dihadapinya (Peter, 2013: 98).

Menurut penulis, berdasarkan pengertian kepastian hukum oleh

Van Apeldoorn tersebut, mampu menentukan hukum mana yang yang

dapat diberlakukan atau akan digunakan untuk suatu permasalahan yang

konkret. Bahwa mengenai PPJB yang telah dinyatakan batal demi hukum

oleh hakim dalam memutus sengketa Putusan Mahkamah Agung No. 1395

K/Pdt/2017 yang digunakan sebagai pengikatan jaminan hutang piutang

ini sudah menerapkan hukumnya dalam masalah yang konkret secar tepat

dengan dilihat berdasarkan asas proporsionalitas dan asas itikad baik.

(29)

82

Hakim dalam memeriksa perkara melihat mendasarkan alat bukti yang diajukan oleh Para Penggugat/debitur sehingga memberikan pertimbangan hukum dengan menyatakan adanya penyalahgunaan keadaan Para Penggugat/debitur oleh Terggugat I/kreditur. Hal ini dikarenakan apa yang terjadi diantara para penggugat atau debitur dengan tergugat I atau kreditur yaitu hubungan hukum hutang piutang yang apabila dilihat dari kronologis kejadian dimulai pada Putusan PN No.

214/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel adanya ketidak seimbangan para pihak dalam membuat PPJB dan tidak adanya itikad tidak baik dari para pihak dalam membuat dan memenuhi perjanjian. PPJB yang seharusnya digunakan sebagai perjanjian pendahuluan untuk proses jual beli tanah tersebut dibuat oleh para pihak sebagai pengikatan jaminan hutang milik debitur berupa hak atas tanah yang dimana debitur bertindak sebagai penjual dan kreditur bertindak sebagai pembeli tanah.

Dengan demikian dapat disimpulkan, Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) yang dinyatakan batal demi hukum oleh hakim dalam Putusan Mahkamah Agung No 1395 K/PDT/2017 sebagai pengikatan jaminan hutang piutang sudah sesuai ditinjau berdasarkan asas proporsionalitas dan asas itikad baik. Putusan hakim yang menyatakan batal demi hukum atas PPJB beserta turunannya tersebut memberikan kepastian hukum kepada para pihak, hal ini dikarenakan apa yang terjadi diantara para pihak yaitu hutang piutang adanya ketidak seimbangan posisi para pihak disini yaitu antara debitur dan kreditur dan tidak adanya itikad tidak baik dari para pihak dalam membuat dan memenuhi perjanjian.

2. Bentuk Perlindungan Hukum Bagi Kreditur Akibat Dibatalkannya Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) Oleh Pengadilan Sebagai Pengikatan Obyek Jaminan Hutang Piutang.

Segala aspek kehidupan manusia itu diatur oleh aturan hukum baik

hubungan yang bersifat publik ataupun hubungan yang bersifat privat. Dalam

lingkungan masyarakat, hukum merupakan alat untuk memperoleh suatu

ketertiban atau ketenteraman sehingga dapat terjaganya kepentingann dari

masing-masing masyarakat. Selain itu hukum juga mengatur dan memberikan

(30)

83

suatu perlindungan terhadap kepentingan masyarakat dalam bentuk suatu norma dan kaidah. Perlindungan hukum memberikan hak asasi setiap individu untuk mendapatkan pengayoman atas kerugian yang diterima dari pihak lain dan diberikannya perlindungan kepada masyarakat ini supaya mereka mendapatkan segala hak-hak yang diberikan oleh hukum (Stjipto, 2014: 74).

Perlindungan hukum dapat diberikan kepada masyarakat dalam hal ini mengenai hubungan hukum hutang piutang yang dimana para pihak yang terlibat untuk dapat menerima hak-haknya sesuai dengan porsinya. Dalam perjanjian hutang atau pinjam meminjam adanya 2 (dua) pihak yang terlibat di dalamnya, yaitu adanya pihak yang berpiutang dan disisi lain adanya pihak yang berhutang. Bagi pihak yang berpiutang atau memberikan pinjaman uang ini disebut dengan kreditur kemudian bagi pihak yang berhutang atau yang menerima pinjaman uang disebut dengan debitur (Gatot, 2013: 9).

Hubungan kreditur dan debitur berdasarkan Pasal 1131 dan 1132 KUHPerdata mengenai pelaksanaan kewajiban, pihak yang berutang atau debitur memiliki kewajiban untuk melaksanakan prestasi dan harus memberikan jaminan kepada pihak yang berpiutang atau kreditur. Menurut R.

Setiawan, Schuld merupakan utang pihak debitur kepada kreditur sedangkan Haftung ialah jaminan berupa harta kekayaan yang dimiliki debitur untuk

pelunasan hutangnya kepada kreditur (R.Setiawan, 1999: 7).

Kreditur yang meminjamkan uang kepada debitur memiliki hak untuk menagih hutangnya kepada debitur. Apabila debitur tidak melakukan kewajibannya dengan membayar atau mengembalikan hutang kepada kreditur, selain kreditur memiliki hak untuk menagih (Vorderingsrecht ) ia juga memiliki hak untuk menagih hutangnya supaya kembali kepada kreditur dengan kekayaan yang dimiliki debitur (verhaalsrecht) (Mariam, 2010: 10 ).

Kewajiban pokok si peminjam atau yang berhutang ialah

mengembalikan barang/uang yang dipinjam. Setiap pihak yang berhutang

atau debitur berkewajiban melakukan prestasi kepada kreditur sesuai waktu

pengembalian hutang yang telah mereka buat dan disepakati dalam

(31)

84

perjanjian. Dalam perjanjian hutang atau pinjam-meminjam, pihak yang meminjamkan itu memiliki beberapa kewajiban diantaranya (Evi, 2013: 58):

a) Pihak pemberi pinjaman tidak boleh meminta kembali pinjamanya sebelum tanggal daluasa yang telah ditentukan dalam kontrak atau perjanjian

b) Apabila tanggal daluarsa tidak ditetapkan dalam kontrak atau perjanjian dan pemberi pinjaman meminta pembayaran hutangnya kepada peminjam, hakim mempunyai kekuasaan yang menurut keadaan dapat memberikan kelonggaran atau waktu kepada peminjam untuk mengembalikan hutangnya.

c) Apabila dalam kontrak telah disepakati bahwa peminjam akan mengembalikan pinjamaan atau uang jika dimungkinkan, hakim akan menentukan kapan peminjam berkewajiban mengembalikan pinjaman atau uang tersebut.

Kasus di dalam putusan Mahkamah Agung No 1395 K/Pdt/2017 adanya hutang piutang yang terjadi antara perorangan, dimana Para Penggugat (suami isteri) merupakan pihak yang menerima pinjaman atau disebut debitur dan Tergugat I (perorangan) yang merupakan pihak yang memberikan pinjaman atau disebut kreditur. Dalam hubungan hutang piutang tersebut tanah milik debitur dijadikan jaminan yang diikat menggunakan PPJB yang dibuat oleh para pihak dihadapan Notaris. Sengketa terjadi, tanah jaminan yang diikat dengan PPJB tersebut telah dilakukan balik nama dengan dasar kuasa menjual dalam PPJB sehingga dibuatlah akta jual beli (AJB) yang mengakibatkan beralihnya status kepemilikan tanah menjadi milik Tergugat I/kreditur. Hal ini dilakukan karena Para Penggugat/debitur tidak dapat memenuhi kewajibannya untuk mengembalikan hutangnya kepada kreditur tepat pada waktu pengembalian hutang yang telah mereka sepakati.

Mengenai pengembalian hutang oleh Para Penggugat/debitur kepada

Tergugat I/kreditur telah disepakati bersama dibuatnya PPJB sebagai

pengikatan jaminan hutang berupa hak atas tanah milik Para

Penggugat/debitur untuk pemenuhan pengembalian hutang debitur dengan

asset harta kekayaan yang miliknya dalam hal ini berupa hak atas tanah.

(32)

85

PPJB tersebut berbentuk dalam Akta pengikatan jual beli nomor 45 tertanggal 11 Juli tahun 2008 yang berisikan obyek yaitu hak atas tanah milik debitur. Kesepakatan ini dilakukan oleh para pihak dengan melakukan pembatalan Akta pengikatan jual beli nomor 03 tertanggal 3 Oktober 2006 yang mereka buat pada hadapan tergugat II atau Notaris dibatalkan dengan Akta pembatalan nomor 42 tertanggal 11 Juli 2008, Akta surat kuasa menjual nomor 04 tertanggal 3 Oktober 2006 dibatalkan dengan Akta pembatalan nomor 43 tertanggal 11 Juli 2008 yang dibuat dihadapan tergugat II selaku notaris dan Akta pengakuan hutang nomor 02 tertanggal 3 Oktober 2006 dibatalkan dengan Akta pembatalan nomor 44 tertanggal 11 Juli 2008 dihadapan tergugat II selaku Notaris-PPAT.

Berdasarkan Akta pengikatan jual beli nomor 45 tertanggal 11 Juli 2008 kemudian dibuatlah AJB nomor 109/2008 untuk kemudian dilakukan jual beli atas hak tanah milik para penggugat atau debitur kepada tergugat I/kreditur. Setelah dilakukan peralihan tanah tersebut atas sisa hutang yang masih dimilik Para Penggugat/debitur kepada Tergugat I/kreditur dituangkan dalam Akat Pengakuan Hutang Nomor 46 tertanggal 11 Juli 2008 yang kreditur dan debitur buat dihadapan Notaris Marina Soewana, S.H selaku Tergugat II.

Tergugat I/kreditur dalam PPJB bertindak sebagai pembeli yang

setelah proses balik nama sertipikat di Kantor Pertanahan mendapatkan hak

atas tanah milik Para Penggugat/debitur tersebut. Pembayaran atas tanah

diambil dari uang yang telah diberikan Tergugat I/kreditur kepada Para

Penggugat/debitur dalam hutang piutang mereka yang belum dipenuhinya

pengembalian hutang oleh Para Penggugat/debitur. Dengan demikian

Tergugat I/kreditur telah mendapatakan sebagian pelunasan hutang oleh Para

Penggugat/debitur dengan menggunakan hak atas tanah miliknya yang

dialihkan dengan dasar PPJB yang mereka buat. Kemudian Para

Penggugat/debitur sebagai penjual dalam peralihan hak atas tanahnya telah

mendapatkan pengurangan hutang dari uang yang telah diberikan oleh

Tergugat I/kreditur dalam hal ini hutang yang diberikan Tergugat I/kreditur

yang dalam jangka waktu pengembaliannya Para Penggugat/debitur tidak

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil identifikasi terhadap 88 Gapoktan di Kabupaten Kulon Progo yang mempunyai potensi SDM, sarana dan prasarana serta potensi produksi terdapat 17 Gapoktan

ON, maka untuk hidupkan mesin kita menggunakan kartu dari RFID kemudian di tag kartu tersebut ke reader, apabila kartu yang ditag valid, maka kunci kontak hidup dan

 Perlu adanya komunikasi dan koordinasi yang lebih baik lagi antara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dengan Kementerian Pertanian terkait sosialisasi Program Kartu

Hal ini disebabkan oleh banyaknya bidang pendifraksi pada bidang (200) yang memiliki parameter kisi sama dengan jarak yang berdekatan, sehingga gelombang-gelombang

Yesus yang bangkit bukan hanya pengalaman masa lampau, tetapi juga masa kini, karena Kristus adalah harapan dan kekuatan khu- susnya bagi komunitas Kristen yang menderita

Keputusan konsumen untuk menginap tergolong tinggi, walaupun indikator tingkat prioritas Serrata Hotel sebagai pilihan menginap dan keinginan responden

Dalam  persoalan  ekonomi,  jika  rizki  Allah  tidak  sampai  kepada  kita  disebabkan  karena  kemalasan  kita,  maka  yang  diobati  adalah  sifat  malas  itu. 

Lalu pada beberapa tahun sebelumnya, kehadiran tangga pada angkul-angkul ini selain membiasakan penghuninya untuk selalu melangkah hati-hati, seringkali juga dipergunakan