KOPI - Indonesia tengah menghadapi badai kasus korupsi yang terkesan tidak berujung. Kasus-kasus korupsi cenderung melibatkan politisi-politisi yang notabenenya sedang menjabat sebagai Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Bukan hanya kasus korupsi saja, tetapi sejumlah kinerja DPR juga dirasakan hanya sekedar formalitas dan
menghambur-hamburkan uang negara untuk kepentingan pribadi. Kasus-kasus korupsi yang melibatkan sejumlah anggota DPR menyebabkan krisis kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan dan juga DPR yang seharusnya mengakomodir aspirasi rakyat.
DPR menghadapi pilihan apakah akan menjadi lembaga yang bekerja “biasa-biasa” saja, atau menjadi sebuah Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang untuk dan menjawab kebutuhan bangsa Indonesia
. Pada pemilhan mendatang akan dilaksanakan Pemilu DPR RI. Ada beberapa kriteria yang dapat digunakan oleh pemilih pada pemilu DPR RI mendatang untuk menentukan pilihannya, yaitu:
1.Memiliki karakter dan kepribadian yang kuat
Kursi DPR adalah kursi hangat Suap kiri-kanan dapat saja terjadi kepada anggota DPR baik yang benar-benar baik maupun yang telah terlihat kotornya. Dibutuhkan karakter dan
kepribadian yang kuat, bukan sekedar baik saja. tidak ada ukuran baku untuk menentukan apakah si calon anggota DPR baik atau tidak. Masyarakat juga harus melihat bahwa baik dengan memberikan sumbangan atau bakti sosial kepada masyarakat bukan ukuran bahwa orang tersebut baik. Untuk menilai karakter kepribadian yang kuat dapat dilihat dari proses selama ia menjalankan tugas dan kewajibannya serta bagaimana tindak-tanduknya di masyarakat sekitar dan prestasinya selama ini. Jadilah pemilih yang cerdas!
Tidak ada salahnya kita menggunakan istilah idealis, meskipun sosok idealis ini nyaris tidak mungkin pernah ada. Akan tetapi kita bisa melihat bagaimana sosok Gie yang memiliki karakter kuat. Meskipun ia adalah seorang Tionghoa, ia memiliki jiwa nasionalis yang lebih kuat dan
berkarakter kepada Republik Indonesia tercinta ini.
2.Memiliki jiwa kepemimpinan dan integritas yang tinggi
Kepemimpinan merupakan skill yang tidak didapat secara praktis, tetapi melalui proses. Orang-orang yang militan, heroik, dan bekerja sungguh-sungguh secara total, sepenuh hati, dan semangat tinggi merupakan bukti integritas dan loyalitas seseorang. Melalui loyalitas dan integritas inilah seseorang belajar bagaimana kepemimpinan itu seharusnya, karena ia bekerja bukan untuk kepentingan sendiri atau pragmatis.
DPR sebagai dewan perwakilan rakyat selayaknyalah menjadi corong masyarakat untuk menyuarakan aspirasinya. Tapi berdasarkan fakta yang kita lihat di media massa, DPR justru bekerja bukan karena integritas ataupun loyalitasnya, tetapi untuk memperkaya diri.
3.Calon anggota DPR memiliki kecakapan dalam public speaking dan mengemukakan pendapat
Anggota DPR sebagai dewan perwakilan rakyat yang menyuarakan aspirasi rakyat, seharusnya cakap berkomunikasi dan menyampaikan pendapat dengan beretika. DPR bukanlah arena pertunjukan adu fisik seperti yang pernah terjadi di sidang DPR. DPR dibayar karena ia berbicara, bukannya berbicara sekehendak hatinya saja, tetapi berbicara yang berbobot.
4.Tidak memiliki catatan criminal atau bersih dari tindak pidana ataupun pelanggaran
Hal ini bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 Perubahan yang memperbolehkan calon asalkan tidak dipidana dengan kejahatan yang diancam lebih dari lima tahun penjara. Akan tetapi, bagaimana kita bisa memberikan amanah untuk menyalurkan suara kita kepada orang yang memiliki catatan kriminal yang pernah meresahkan masyarakat atau pernah terlibat suatu kejahatan yang merugikan orang lain? Meskipun Indonesia menganut equality before the law, kita tidak bisa memunafikkan bahwa makanan yang telah berjamur menandakan bahwa makanan itu tak layak untuk dikonsumsi lagi. Contohnya: tindak pidana korupsi yang ancaman
koruptor akan kita biarkan melenggang kembali dengan indahnya dipanggung pemerintahan atau singgasana DPR?
5.Memiliki catatan finansial yang bersih sebelum dan setelah menjadi anggota DPR
Keuangan calon anggota maupun setelah menjadi anggota DPR harus diaudit secara berkala dan dengan melihat perubahan yang terjadi pada pola hidupnya juga. Tidak jarang kita
menemui anggota DPR yang semakin melonjak gaya hidup dirinya maupun keluarganya dengan uang yang keluar dari singgasana DPR tersebut.
6.Memiliki pengetahuan dalam ilmu pemerintahan dan masing-masing bidang komisinya
Kenapa DPR harus memiliki pengetahuan dalam ilmu pemerintahan? Karena salah satu fungsi DPR adalah fungsi kontroling terhadap eksekutif. bagaimana DPR akan mengontrol pemerintah jika ia sendiri tidak paham bagaimana kinerja pemerintah. Anggota DPR jangan hanya
mengandalkan staff ahlinya saja. sudah seharusnyalah kemampuan dan pengetahuan anggota DPR melebihi staff ahlinya, dan disinilah dibutuhkan leadership dari anggota DPR untuk
mengarahkan staff ahlinya. Namun, masih dijumpai yang bekerja adalah staff ahli, sedangkan DPR hanya berkomat-kamit di sidang.
7.Telah pernah mengikuti pelatihan legislative drafting nasional dan dibuktikan dengan nilai pada sertifikat.
Sebagai lembaga legislatif, fungssi utama DPR ialah membuat undang-undang. Sebagaimana yang saya nyatakan diatas, DPR harus memiliki kemampuan yang lebih dari staff ahlinya. Jika DPR tidak mampu membuat rancangan undang-undang, bagaimana ia akan mengoreksi hasil dari staff ahlinya jika kemudian disadari terdapat kesalahan? Contoh, hilangnya satu pasal dalam UU tentang Tembakau membuat rebut beberapa kalangan. Siapa yang akan
bertanggung jawab atas hal ini? Sementara peraturan menentukan tidak bisa diajukan kembali pada tahun yang sama setelah RUU tersebut disahkan menjadi UU. Bagaimana bisa hilangnya satu pasal ini dikhilafi secara serentak dan bersamaan oleh seluruh anggota DPR?
8.Selain aktif di organisasi politik, calon anggota DPR berpengalaman di organisasi kemasyarakatan lainnya dalam kurun waktu dua tahun terakhir
Sebagaimana karakter integritas, loyalitas, dan kepemimpinan yang saya ajukan diatas, hal tersebut juga dapat dilihat melalui organisasi yang diikutinya. Bukan hanya sekedar organisasi politik, tetapi juga organisasi kemasyarakatan lainnya yang positif. Agar lingkaran pengaruh yang ia dapati bukan hanya dari organisasi polit ik yang cenderung mengarah pada
kepentingan kelompok atau bersifat pragmatis
9.Calon anggota DPR bersedia untuk tidak diberikan fasilitas mobil negara
Integritas dan loyalitas anggota DPR dapat dilihat dari kesediaannya untuk tidak hidup
bermewah-mewahan dengan fasilitas negara yang notabenenya merupakan uang rakyat juga. Fasilitas mobil hanya diberikan kepada mereka yang memang tidak memiliki mobil. Jika ia anggota dewan sejati yang membela rakyat, bagaimana mungkin ia hidup mewah diatas penderitaan rakyat Indonesia yang masih bermasalah dengan kemiskinan dan kebodohan?
10.Calon anggota DPR harus memiliki kecakapan dalam menggunakan komputer dan mengikuti psikotest, hasil tersebut harus diumumkan kepada masyarakat
Psikotest dan tes menggunakan computer dasar tentunya lazim digunakan oleh
perusahaan-perusahaan dalam seleksi tenaga kerja atau karyawan. Hal ini untuk melihat bagaimana kecakapan dari anggota dewan tersebut. Dengan teknologi, ia tentunya dapat berkomunikasi dengan mudah antarnegara dan mengurangi kunjungan anggota DPR ke luar negeri yang sekali lagi menghabiskan uang rakyat. Selain itu psikotest juga untuk melihat bagaimana si calon tersebut dalam bekerja, Meskipun sebenarnya bersifat rahasia, tetapi tidak ada salahnya unt uk dipublikasikan kepada masyarakan dengan persetujuan si calon anggota DPR.
11.Masing-masing anggota DPR membuat naskah akademis
dan dinilai oleh tim independen dan/ atau LSM. Selain sertifikat pelatihan legislative drafting, kemampuan calon anggota DPR tentunya layak diuji dengan publikasi hasil naskah
akademisnya dalam jurnal legislative dan tentunya harus original dan dibuktikan dengan presentasi di dalam siding terbuka.
12.Bersedia untuk diturunkan dan/atau menurunkan diri dari jabatan sebagai anggota DPR
jika mendapat mosi tidak percaya dari rakyat Indonesia. Hal ini sudah selayaknyalah dilakukan oleh anggota DPR, bukannya bertahan ditengah mosi tidak percaya yang diberikan oleh
masyarakat. Apakah rakyat Indonesia masih mau diwakilkan suaranya oleh seorang yang disangka sebagai koruptos dan ia masih melenggang di DPR? Apa yang sebenarnya dipertahankan oleh seorang dewan rakyat di DPR ketika rakyat sendiri sudah tidak mempercayai loyalitas dan integritasnya?
Referensi :
Satjipto Rahardjo, Penegakan Hukum Progresif. 2010. Kompas: Jakarta
Ary Ginanjar Agustian. ESQ. 2005. Jakarta
IDENTITAS PENULIS
NAMA : WENNI ADZKIA
UNIVERSITAS : PADJADJARAN
ALAMAT UNIV. : Jalan Dipati Ukur No 35, Bandung (40132)
ALAMAT RUMAH : Jalan Pahlawan No 22 B, Kampung Jawa I, Kota Pariaman, Sumatera Barat
TEMPAT TINGGAL : Wisma Sapugatra, Kubang Selatan No7 RT 01/ RW 14, Bandung (40132) NO HP : 085263400132 Email : [email protected]