Legal Aspects of Business – Chapter 02 11
K
S
AT
S
T
K
ASAS KEBEBASAN BERKONTRAK
ASAS
KEKUATAN MENGIKAT
ASAS
HANYA MENGIKAT
PARA PIHAK
Legal Aspects of Business – Contract Agreement
Legal Aspects of Business – Chapter 02
© Created by SUGIHARTO, SH.MM 2011
el
I
Open System
UU memberikan
k
ebebasan
k
kepada
p
ara
pihak untuk melakukan berbagai macam
bentuk perjanjian sepanjang tidak
bertentangan dengan
Hukum Positif
Asas
Kesusilaan/Kepatutan
Ketertiban Umum
Legal Aspects of Business – Chapter 02
11 Legal Aspects of Business – Contract Agreement
Legal Aspects of Business – Chapter 02
11
AN
AN
ma
AN
AN
PENAWARAN
PENAWARAN
Diterima
Legal Aspects of Business – Contract Agreement
Legal Aspects of Business – Chapter 02
© Created by SUGIHARTO, SH.MM 2011 Legal Aspects of Business – Contract
Agreement
As Cooperation Guidelines
Preventing any possible dispute
As source dispute settlement
Legal Aspects of Business – Chapter 02
© Created by SUGIHARTO, SH.MM 2011
Aspect
Economic
Safety
Legal Aspects of Business – Contract Agreement
For
Legal Aspects of Business – Chapter 02
© Created by SUGIHARTO, SH.MM 2011
L
No
More than jus
t
Business
Formality
Contents must be detailed
analysis
Every party will take safe
position
Draft
of contract must be reviewed
several time by team
Legal Aspects of Business – Contract Agreement
Things have to be
considered by
contract agreement
designer
Once its signed contract will never
will able to re-negotiated
L
Lo
Ec
Ec
o
obj
De
De
t
m
m
a
a
E
E
l
le
Legal Aspects of Business – Chapter 02
© Created by SUGIHARTO, SH.MM 2011
Economy analysis on contract’s by the team
Detailed business processing simulation mapping on the contract ‘s object
Loose and win Potencies
ana
l
ysis
Legal Aspects of Business – Contract Agreement
Element of dispute potencies check
list
Perjanjian (kontrak)
Pasal 1331 KUHPerdata:
“Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan
dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.”
Subekti:
“Suatu perjanjian adalah suatu peristiwa
di mana seorang berjanji kepada seorang
lain atau di mana dua orang itu saling
berjanji untuk melaksanakan sesuatu
hal.”
UNSUR-UNSUR PERJANJIAN
(KONTRAK)
pihak-pihak yang kompeten;
pokok yang disetujui;
pertimbangan hukum;
perjanjian timbal balik;
Subjek Hukum dalam
Perjanjian
Subjek Hukum adalah pendukung
hak dan kewajiban,
Manusia.
Badan hukum.
Kemampuan dalam membuat
perjanjian dengan menafsirkan
Pasal 1330 KUHPerdata secara “a
contrario” (Negatif).
Digolongkan orang-orang yang
cakap (“bekwaamheid”) adalah:
Orang-orang yang sudah dewasa.
Mereka yang tidak di bawah
Syarat sahnya suatu perjanjian
Pasal 1320 KUHPerdata:
sepakat mereka yang mengikatkan
dirinya;
kecakapan
untuk
membuat
suatu
perjanjian;
suatu hal tertentu;
Syarat sahnya suatu perjanjian
Syarat pertama dan kedua di atas
dinamakan syarat-syarat subjektif
(Perjanjian dapat dibatalkan:
Voidable / vernietigbaarheid.
syarat ketiga dan keempat
merupakan syarat-syarat obyektif
(Perjanjian Batal demi hukum: Void/
nietig.
SISTEM HUKUM PERJANJIAN DALAM
KUHPERDATA
sistem terbuka, artinya memberikan
kebebasan kepada para pihak (dalam
hal menentukan isi, bentuk, serta macam
perjanjian) untuk mengadakan
perjanjian akan tetapi isinya selain tidak
bertentangan dengan
perundang-undangan, kesusilaan, dan ketertiban
umum, juga harus memenuhi syarat
sahnya perjanjian
ASAS HUKUM DALAM HUKUM PERJANJIAN
(KONTRAK)
“konsensualitas” di mana
persetujuan-persetujuan dapat terjadi karena persesuaian kehendak (konsensus) para pihak;
“kekuatan mengikat persetujuan” menegaskan
bahwa para pihak harus memenuhi apa yang telah merupakan ikatan mereka satu sama lain dalam persetujuan yang mereka adakan;
asas kebebasan berkontrak: di mana para pihak diperkenankan membuat suatu persetujuan
ASAS HUKUM PERJANJIAN DALAM
PERANCANGAN KONTRAK
Asas Kebebasan Berkontrak (Freedom of
Contract)
Kebebasan untuk membuat perjanjian yang
meliputi:
Kebebasan untuk menentukan kehendak untuk
menutup atau tidak menutup perjanjian.
Kebebasan untuk memilih dengan pihak mana akan
ditutup suatu perjanjian;
Kebebasan untuk menetapkan isi perjanjian;
Kebebasan untuk menetapkan bentuk perjanjian; Kebebasan untuk menetapkan cara penutupan
perjanjian.
ASAS HUKUM PERJANJIAN DALAM
PERANCANGAN KONTRAK
Asas Konsensualitas (Consensus)
Kesepakatan para pihak yang membuat
perjanjian, yang ditandai dengan apa yang dikehendaki pihak yang satu juga dikehendaki oleh pihak lainnya.
Asas ini tercantum di dalam pasal 1320
KUHperdata.
Konsensus ini tidak ada bila terdapat 3 (tiga)
hal (pasal 1321 KUHPerdata) yaitu:
.Paksaan (dwang); .Kekhilafan (dwaling); .Penipuan (bedrog).
ASAS HUKUM PERJANJIAN DALAM
PERANCANGAN KONTRAK
Asas Mengikat sebagai Undang-undang (pacta sunt servanda)
Perjanjian yang dibuat secara sah mengikat kedua
belah pihak seperti mengikatnya sebuah undang-undang (pasal 1338 KUHPerdata)
Asas Itikad Baik (Good Faith)
Black’s Law Dictionary memberikan pengertian itikad
baik adalah:
“in or with good faith; honestly, openly, and
sincerely; without deceit or fraud. Truly; actually;
ASAS HUKUM PERJANJIAN DALAM
PERANCANGAN KONTRAK
Asas Itikad Baik (Good Faith)
Prof. Mr. P.L. Wry memberikan arti itikad baik
dalah hukum perjanjian adalah:
“…. Bahwa kedua belah pihak harus berlaku
yang satu terhadap yang lain seperti patut saja antara orang-orang sopan, tanpa tipu daya, tanpa tipu muslihat, tanpa cilat-cilat,
akal-akal, tanpa mengganggu pihak lain, tidak dengan melihat kepentingan sendiri saja,
tetapi juga dengan melihat kepentingan pihak
ASAS HUKUM PERJANJIAN DALAM
PERANCANGAN KONTRAK
Asas Itikad Baik (Good Faith)
Prof. Subekti, SH merumuskan itikad baik sebagai
berikut:
“Itikad baik diwaktu membuat suatu perjanjian
berarti kejujuran. Orang yang beritikad baik
menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada pihak lawan, yang dianggapnya jujur dan tidak
menyembunyikan sesuatu yang buruk yang dikemudian hari dapat menimbulkan
kesulitan-kesulitan”.
Pasal 1338 ayat 3KUHPerdata:
“Perjanjian-perjanjian harus dilaksanakan dengan
ASAS HUKUM PERJANJIAN DALAM
PERANCANGAN KONTRAK
Asas Itikad Baik (Good Faith)
Kesimpulan:
Itikad baik adalah suatu sikap batin atau
keadaan kejiwaan manusia yang:
Jujur;
Terbuka (tidak ada yang disembunyikan
atau digelapkan);
Tulus ikhlas;
ASAS HUKUM PERJANJIAN DALAM
PERANCANGAN KONTRAK
Fungsi Itikad Baik dalam kontrak.
Rumusan pasal 1338 ayat 3 KUHPerdata, dapat
disimpulkan bahwa itikad baik harus digunakan pada saat pelaksanaan suatu kontrak. Hal ini berarti bahwa pada waktu kontrak dilaksanakan, selain ketentuan-ketentuan yang telah disepakati dalam kontrak yang wajib ditaati oleh para pihak, melainkan juga itikad baik sebagai ketentuan-ketentuan yang tidak tertulis. Jadi, itikad baik berfungsi menambah (aanvullend) ketentuan-ketentuan yang telah disepakati oleh kedua belah pihak di dalam kontrak.
NEGOSIASI KONTRAK
Black’s
Law Dictionary:
“
Negotiation is
process
of
submission
and
consideration
of
offers
until
acceptable offer is made and
accepted….”.
Proses untuk menyerahkan dan
mempertimbangkan
penawaran-penawaran sampai suatu penawaran-penawaran
Sifat Negosiasi kontrak
Positif: Negosiasi yang kooperatif, jika para
pelaku negosiasi hendak mencapai suatu kontrak yang bersifat kerjasama. Jadi, sifat positif itu diperoleh dari maksud orang untuk memulai sesuatu yang baru dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Negatif: Negosiasi yang kompetitif, jika para
pelaku negosiasi hendak mencapai suatu perdamaian. Suatu negosiasi untuk mencapai perdamaian bersifat negatif karena melalui negosiasi itu orang hendak mengakhiri sesuatu yang negatif, yaitu perselisihan atau sengketa itu.
KODE ETIK DAN PERILAKU NEGOSIASI
Win-Win Attitude:
Suatu sikap yang dilandasi oleh itikad bahwa
negosiasi kontrak itu sedapat mungkin pada akhirnya akan menghasilkan suatu kontrak yang menguntungkan secara timbal balik.
Right or wrong my client/ Gaya Soviet:
Umumnya dilakukan oleh orang berpekara,
walaupun cara ini sebaiknya dihindari. Alasannya dengan cara seperti ini siapa
yang mau berhadapan dengan orang yang hanya mau menang sendiri, yang membuat orang enggan untuk bernegosiasi lebih
STRATEGI DASAR DALAM TEKNIK NEGOSIASI
Membangun kepercayaan.
Memenangkan commitment.
Mengelola tentangan.
PENYUSUNAN KONTRAK BISNIS
Pemahaman akan latar belakang
transaksi
latar belakang yang merupakan
keinginan dari para pihak untuk
mengadakan transaksi yang akan
dirumuskan dalam bentuk kontrak
menetapkan judul atau titel dari suatu
kontrak yang mencerminkan esensi
ketentuan-ketentuan dari kontrak
yang bersangkutan
PENYUSUNAN KONTRAK BISNIS
Pemahaman akan latar belakang
transaksi
Yang diperlukan adalah:
.Wawasan bidang transaksi yang akan
dirumuskan;
.Pengetahuan dan kemampuan berpikir
secara yuridis.
Kurangnya kemampuan, pengetahuan dan wawasan berakibat kerugian yang besar, karena transaksi yang dituju menjadi bias
PENYUSUNAN KONTRAK BISNIS
Pengenalan dan pemahaman akan para
pihak
harus mengenal mitranya dengan baik. Pengenalan mitra dengan baik, para
pihak akan mengetahui ‘identifikasi mitra’,
sehingga dapat diketahui apa usaha yang dimilikinya, seberapa canggih kemampuan profesionalnya, berapa besar pangsa pasar yang dikuasainya, pengalamannya.
Dengan mengetahui secara baik, barulah
PENYUSUNAN KONTRAK BISNIS
Pengenalan dan pemahaman akan
objek transaksi
Bisnis apa yang akan dijalani
bersama-sama dengan mitra ?
Prosedur kerja apa yang harus dilalui ?
Bagaimana cara kerja unsur-unsurnya
?
Bagaimana viability atau tingkat
PENYUSUNAN KONTRAK BISNIS
Penyusunan garis besar transaksi
skema transaksi yang transparan dan
konklusif
Proyek merupakan setimbun tindakan
dan langkah yang harus dilaksanakan
itu dirumuskan dalam kontrak sebagai
deretan dari aneka hak dan
PENYUSUNAN KONTRAK BISNIS
Penyusunan garis besar transaksi
Perlu diketahui mana “hulu” dan “hilir”
nya dari transaksi yang akan
dilaksanakan.
Menghindari petualang dalam
transaksi bisnis, sebuah pertanyaan
muncul “Do we have a case, or not ?”
(Apakah kita memang menghadapi
kasus, atau sebenarnya tidak terdapat
kasus ?).
PENYUSUNAN KONTRAK BISNIS
Perumusan pokok-pokok kontrak
Mana pesan yang menonjol, yang
merupakan pokok dari suatu kontrak.
Dalam keadaan ideal, pesan pokok
dari para pihak bersifat
komplementer, dalam arti pesan
pokok dari yang satu mengimbangi
pesan pokok dari pihak yang lain.
PENYUSUNAN KONTRAK BISNIS
Perumusan pokok-pokok kontrak
Contoh: jual beli dengan objek pabrik.
Pihak penjual ingin menjual pabriknya
dan mengharapkan harga yang
sepadan dengan nilai pabrik itu,
sementara pihak pembeli ingin
membeli pabrik tersebut dengan nilai
yang dianggapnya sepadan dengan
keuntungan yang bisa diperolehnya
melalui pabrik itu.
PENYUSUNAN KONTRAK BISNIS
Perumusan pokok-pokok kontrak
Setelah pesan pokok yang menonjol,
kemudian langkah selanjutnya
merumuskan pokok-pokok dari suatu
kontrak
PENYUSUNAN KONTRAK BISNIS
Perumusan pokok-pokok kontrak
Pokok-pokok tersebut harus
dirumuskan dengan cermat dan
akurat, karena. Hal ini dikarenakan:
Pertama,
rumusan tentang
pokok-pokok
kontrak
itu
menentukan
keruntutan (kesinambungan logis) dari
ketentuan-ketentuan
pelaksanaan
PENYUSUNAN KONTRAK BISNIS
Perumusan pokok-pokok kontrak
Kedua, keruntutan itu menentukan,
apakah hubungan timbal balik dari berbagai hak dan kewajiban yang akan berlaku bagi para pihak ditetapkan secara adil dan masuk akal.
Keruntutan ini perlu diperhatikan, karena
kadang-kadang dapat terjadi bahwa suatu pihak memang hendak mempecundangi pihak lain jauh hari sebelum mereka benar-benar saling mengikatkan diri.
ANATOMI KONTRAK
Judul Kontrak (Heading/Contract Title)
Judul kontrak harus dapat
mengidentifikasikan inti kontrak yang
syarat-syarat, ketentuan-ketentuan atau klausula-klausulanya diatur di
dalamnya.
Korelasi dan relevansi antara judul dan
isi kontrak.
ANATOMI KONTRAK
Tempat dan tanggal
penanda-tanganan kontrak
Standar pembukaan dari kontrak
pada umumnya memuat tempat dan
tanggal penanda-tangan kontrak.
Terkadang tunduk pada keharusan
formal tertentu, misal pada akta jual
beli tanah, akta notarial
ANATOMI KONTRAK
Tempat dan tanggal penanda-tanganan
kontrak
Tanggal penanda-tanganan kontrak
dapat menentukan keabsahan
kapasitas para pihak serta keabsahan
dari kesepakatan-kesepakatan yang
dicapai oleh para pihak. Alasannya,
kesepakatan-kesepakatan itu hanya
sah bila tidak bertentangan dengan
hukum yang berlaku pada tanggal
penanda-tangan kontrak
ANATOMI KONTRAK
KOMPARISI (Belanda : Comparitie,
yang berarti penghadapan).
Istilah ini sebenarnya digunakan untuk
menandai suatu bagian pembukaan dari akta-akta notaris, dan karena bagian itu memang menyebutkan
pihak-pihak yang menghadap notaris.
Komparisi memuat identifikasi dari para
pihak yang melibatkan dan
mengikatkan diri di dalam suatu kontrak
ANATOMI KONTRAK
Yang dapat menjadi pihak dalam kontrak
adalah subjek hukum, yang diklasifikasikan sebagai manusia dan badan hukum.
Untuk dapat menjadi subjek hukum, manusia
dan badan hukum harus memenuhi syarat kecakapan bertindak (bekwaamheid).
Kecakapan manusia harus dibuktikan dengan identitasnya. Akan tetapi untuk menjadi pihak dalam suatu kontrak, seseorang yang mewakili suatu badan hukum sebagai subjek hukum harus memenuhi syarat tambahan, yaitu
bahwa dia juga memiliki wewenang bertindak
(bevoegdheid)
ANATOMI KONTRAK
RECITALS
(Pertimbangan-Pertimbangan Umum Kontrak).
Berisikan kondisi umu dari para pihak
yang akan membuat suatu kontrak,
berisikan kemampuan modal, teknologi, pengalaman yang handal, pangsa
ANATOMI KONTRAK
RECITALS (Pertimbangan-Pertimbangan
Umum Kontrak). Contoh Kontrak Franchise a.tempat dimana franchisor membangun
sistem yang unik dan berhasil bertahan untuk mengoperasikan bisnis, identifikasi dari bisnis serta sistem franchise
b.menggambarkan merek dagang, jasa,
dan tanda-tanda lain, copy rights, logo, pembeda lannya.
ANATOMI KONTRAK
RECITALS
(Pertimbangan-Pertimbangan Umum Kontrak).
Contoh Kontrak Franchise
c.menggambarkan seluruh tanda
pembeda yang tergambar dalam
bangunan milik franchisor
d.menggambarkan sistem franchise
yang ada, serta atribut bisnis
KETENTUAN-KETENTUAN
POKOK KONTRAK
HAK DAN KEWAJIBAN PARA PIHAK.
Hubungan antara hak dan kewajiban,
serta hubungan antara perangkat hak
dan kewajiban di antara para pihak
seyogyanya merupakan hubungan
yang logis
ELEMEN-ELEMEN
PENUNJANG KONTRAK
Pernyataan dan jaminan.
Masa berlakunya kontrak, berupa:
Titik awal masa laku ditentukan
berdasarkan dua kemungkinan berikut ini:tanggal penanda tangan kontrak; atau tanggal dipenuhinya syarat-syarat tertentu (conditions precedent).
Titik akhir masa laku: titik akhir masa laku
dapat ditentukan berdasarkan:
ELEMEN-ELEMEN
PENUNJANG KONTRAK
Akhir masa laku yang disepakati
(
agreed expiry
). Berakhirnya masa
laku suatu kontrak pada tanggal
yang disepakati biasanya didasarkan
pada anggapan bahwa pada saat
tersebut
tujuan
kontrak
telah
tercapai.
Pengakhiran (
termination
).
Pengakhiran suatu kontrak bisa juga
dilakukan sebelum berakhirnya masa
laku dari kontrak tersebut pada
tanggal yang semula disepakati
bersama.
ELEMEN-ELEMEN
PENUNJANG KONTRAK
.Pengakhiran yang bersifat mendahului
ini dapat dikembalikan pada tiga sebab berikut ini:
Cedera janji (default) yang dilakukan oleh
salah satu pihak yang memberi alasan kepada pihak lainnya untuk mengakhiri atau membatalkan berlakunya kontrak;
Keadaan kahar (force majeure) yang
dialami oleh salah satu atau semua pihak pada suatu kontrak dan yang berlangsung secara berkepanjangan sehingga mendorong para pihak untuk sepakat mengakhiri kontrak yang mengikat mereka;
ELEMEN-ELEMEN
PENUNJANG KONTRAK
.Pengakhiran yang bersifat mendahului
ini dapat dikembalikan pada tiga sebab berikut ini:
Ketentuan hukum yang mengatasi
kehendak dan kesepakatan para pihak, yang dapat terjadi jika misalnya pada suatu ketika lahir undang-undang yang melarang dibuatnya kontrak-kontrak tertentu.
ELEMEN-ELEMEN
PENUNJANG KONTRAK
Hukum yang dipilih oleh para pihak. Forum yang dipilih.
Bahasa resmi yang digunakan untuk
penafsiran kontrak.
LAMPIRAN- LAMPIRAN
KONTRAK
Annex: lampiran.
Schedule: jadual pelaksanaan kontrak. Supplement: ketentuan-ketentuan
tambahan untuk pelaksanaan kontrak.
Exhibits: berisi jadual, spesifikasi teknis,
desain-desain, peta lokasi,
AMANDEMEN
Amandemen adalah perubahan yang
dilakukan terhadap perubahan suatu
kontrak yang telah berlaku dan
mengikat para pihak karena telah
mereka tanda tangani dan/atau telah
memenuhi syarat-syarat berlakunya
AMANDEMEN
Oleh karenanya amandemen itu
dapat mengakibatkan
perubahan-perubahan berikut ini:
Perubahan dari para pihak yang terlibat
pada kontrak, dan karena itu boleh disebut sebagai “perubahan subjektif”
atau ‘contract assignment’ (pengalihan kontrak.
Perubahan dari isi kontrak, dan dengan
demikian meliputi perubahan dari hak dan kewajiban, serta bisa juga perubahan dari ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang ditetapkan dalam kontrak, dan karena itu disebut sebagai
AMANDEMEN
Instrumen amandemen:
Suatu amandemen hanya berlaku
jika disepakati oleh para pihak,
kesepakatan itu perlu ditegaskan
juga. Karena itu dalam praktik,
suatu
amandemen
selaku
ditegaskan secara tertulis yang
dapat mengambil bentuk: