KUALITAS LAPORAN KEUANGAN UNTUK USAHA MIKRO KECIL
MENENGAH (UMKM) DAN PROSPEK IMPLEMENTASI STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN ENTITAS TANPA AKUNTANBILITAS PUBLIK (SAK ETAP)
(Studi Empiris Pada UMKM Di Sumatera Barat)
SKRIPSI
OLEH : ROZA FITRIAWATI NPM : 0810011311027
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi
Jurusan Akuntansi
JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS BUNG HATTA
ALLAH akan meninggikan orang – orang yang beriman di antara kamu dan orang – orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat dan Allah mengetahui apa – apa yang kamu kerjakan.
(Q.S Al Mujadallah ayat 11)
Ya Allah engkau maha pemurah, maha bijaksana, maha penyayang Alhamdulillah ya Allah...karena kehendak dan keinginanmu Aku mampu menunaikan salah satu perjuanganku Namun perjalanan hidupku belum berakhir sampai disini Masih ada jalan yang panjang luas membentang dihadapanmu Kumohon padamu ya Allah tuntunlah aku dijalanmu Dalam meraih hari esok yang lebih cerah
Hari ini 16 Maret 2012 setitik kebahagiaan telah kunikmati Sekeping cita-cita tlah kuraih, secercah harapan telah ku genggam Sepenggal asa telah kurasa, sujud syukurqu ke hadiratmu ya Allah Engkau beri aku kesempatan untuk membahagiakan orang-orang
yang kucintai dan kusayangi
Dengan slalu mengharapkan ridho Allah SWT
Kupersembanhkan karya sederhana ini untuk orang –orang yang ku cintai Ayahanda Jamaris dan Ibunda Rosmida
Yang sangat aku sayangi dan aku hormati
Harapan yang telah engkau gantungkan dalam setiap untaian doamu Dalam Hikmat malam sepi melambung ke Arby di pangkuan Ilahi Dan kini aku datang tuk mempersembahkan satu kemenangan Dalam setiap tetes keringat dan air mata
Penuh kasih sayang bersama lafaz Allah SWT Tatkala sujud bersama Tasbih, Tahmid dan Thalil
Ya Robbi....naungilah orang-orang yang aku cintai dengan kasihmu Mandikanlah kami dengan sejuta karyamu
Dan jadikanlah kami golongan insan Yang senantiasa mengagungkan-Mu
Dalam setiap denyut nadi tertanam asma-Mu Dan berikanlah kami kebesaran jiwa
Dalam mendapatkan cinta dan kasih dijalan-Mu Amin...Ya Rabbal Alamin
TANDA PERSETUJUAN SKRIPSI
Dengan ini pembimbing skripsi dan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Bung Hatta
Menyatakan :
Nama : Roza Fitriawati NPM : 0810011311027 Program Study : Strata Satu (S1) Jurusan : Akuntansi
Judul Skripsi : Kualitas Laporan Keuangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan Prospek Implementasi Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tampa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP). (Studi Empiris Pada UMKM di Sumatera Barat)
Telah disetujui skripsinya sesuai dengan prosedur, ketentuan dan kelaziman yang
berlaku yang telah diuji dan telah dinyatakan LULUS dalam ujian komprehensif pada 16
Maret 2012.
PEMBIMBING SKRIPSI
Pembimbing I pembimbing II
Fivi Anggraini, S.E.,M.Si.,Ak Arie Frinola Minovia, S.E.,M.Si
Disetujui Oleh
Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Bung Hatta
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam isi dan kandungan skripsi ini tidak terdapat
karya orang lain yang pernah di ajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan disuatu
perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat
yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diajukan
dalam naskah ini dan disebutkn dalam daftar pustaka.
Padang,Maret 2012
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu.
Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin, Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan
karunia-Nya serta salawat dan salam kepada Nabi besar Muhammad SAW, berkat usaha
yang sungguh-sungguh dan bantuan dari berbagai pihak sehingga penulisan skripsi yang
berjudul “Kualitas Laporan Keuangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan Prospek Implementasi Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas
Publik (SAK ETAP)” (Studi Empiris pada UMKM di Sumatera Barat). Yang
merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi
pada Universitas Bung Hatta dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Dalam penulisan skripsi ini banyak pihak yang telah ikut serta memberikan bantuan
dan bimbingan. Karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
:
1. Ibu Fivi Anggraini SE.,M.Si.,Ak sebagai Pembimbing 1 yang dalam kesibukannya telah
banyak meluangkan waktu dan pikiran untuk membimbing dan memberi petunjuk dalam
menyelesaikan skripsi ini dan terima kasih juga karena ibu udah mengizinkan ojha maju
untuk kompre buk. Maafin jha kalo selama ini banyak salah baik sengaja atau tidak
sengaja.
2. Ibu Arie Frinola Minovia SE.,M.Si selaku pembimbing II yang telah sangat membantu
baik tenaga pikiran dan waktu untuk membimbing dan memberikan petunjuk, makasi
untuk dukungannya buk, makasie juga untuk motivasinya dan makasi juga udah mau
membimbing jha. Maafin jha y buk selama ini banyak merepotkan ibuk dan
menyusahkan ibu.
3. Bapak Antoni Selaku dekan Fakultas Ekonomi universitas Bung Hatta
4. Ibu Yeasy Darmayanti SE.,Msi.,Ak selaku sekretaris jurusan, makasi untuk bantuannya
buk, sehingga jha bisa kompre
5. Ibu Novia Rahmawati SE.,MSi dan Ibu Resti selaku penguji dalam ujian komprehensif
tanggal 16 maret 2012, terima kasih ya buk untuk semuanya
6. Ibu Nia makasie ya bu untuk olah datanya, ibu dandes, ibuk popi, ibu dwi, ibu yunilma,
ibu hera, pak nurhuda dan bapak/Ibu pengajar dijurusan akuntansi serta staf dan
karyawan yang telah memberikan bantuan dan ilmu yang bermanfaat selama menempuh
7. Bapak/Ibu pemilik UMKM yang ada di Sumbar yang telah memberikan kesempatan dan
bantuan kepada penulis dalam melakukan penelitian ini.
Special Thank to :
Teristimewa untuk Ayahanda tercinta Jamaris dan Ibunda Tersayang Rosmida yang slalu mengiringi langkah anak-anaknya dengan do’a, usaha serta kasih sayang
yang tulus tanpa kenal rasa lelah dan ga’ pernah mengeluh dalam mendidik dan
membesarkan anaknya... terima kasih ya pa udah bekerja keras memenuhi
semua keinginan jha slalu nasehati jha dan ga’ pernah marahin jha kalo jha salah,
makasi bu udah slalu nasehati jha dan dengar keluh kesah jha,dengar cerita jha dan
slalu setia manjain jha, ternyata tidak mudah membahagiakan dan membalas semua
yang appa dan ibu berikan untuk jha. Semua kesabaran ibu N appa untuk
menguliahkan jha dengan sejuta permintaan jha. Jha sayang appa dan Ibu jha akan
slalu ingat pesan appa dan ibu usaha sungguh-sungguh, kerja keras ga’ pernah ngeluh
dan doa akan membawa kesuksesan untuk jha.
Buat kakak qu Rina, abangqu Jon dan uda Imol makasi y nen, abang dan uda untuk dukungannya dan bantuannya hingga jha bisa wisuda sekarang. Makasi udah jadi
kakak,abang dan uda yang baik untuk jha. Nen jaga ibu dan appa kalo jha ga’
dirumah, jangan buat ibu dan appa sedih ya nen, untuk abang jon sering2 pulang
kerumah bang, karena ibu dan appa sering kangen abang dan untuk uda imol juga
walaupun sibuk kerja disana harus sering nelp ibu dan tanyain kabar ibu, karena uda
jauh ibu suka kangen karena uda jarang nelp.
Untuk kakak iparqu Nen Lola dan uni pit serta abang iparqu Abang andi makasi bangat udah jadi keluarga yang baik untuk kita semua, abang andi makasi udah
sayang ma jha kek adik kandung sendiri, abang adalah abang ipar terbaik yang pernah
jha punya slalu sayang ma jha y bang dan slalu sayang nen rina jaga nen rina sampai nanti y bang.
Untuk ponakan-ponakanqu Sisil, Rara, Araf, Felisha dan Devin jangan nakal y, jadi anak yang baik nanti dan harus pintar y biar bisa jadi orang sukses, bunda sayang
kalian
Untuk keluarga besarqu Makwo dan pakwo makasi untuk nasehatnya, uni mur dan uda Ud makasi untuk bantuan dan semangatnya, makasi uda ud udah slalu bawa
Teristimewa “Syg” yang slalu menemani di saat-saat sulit dalam menyelesaikan study, yang slalu sabar mengingatkan aqu, dan slalu ada disaat-saat aqu sangat butuh
seseorang, makasi udah menerima jha apa adanya, makasi untuk kesabarannya,
makasi untuk slalu ada untuk jha dan slalu menemani jha, cepat nyusul jha y syg, jha
tunggu qm, makasi y syg untuk semua semua semuanya.
Tante, Elly yang mirip bangat ma emil, Elvin yang nakal abiz dan Farra yang cantik makasie udah mau dengar cerita jha dan udah semangati jha dari jauh, moga suatu
saat nanti kita bisa bertemu dan berkumpul amin
Paling istimewa untuk “LG” yang menemani jha dari awal kita masuk bung hatta, teman seperjuangan,mami, mbar dan anyek teman sekoz, teman berantem, teman
ketawa, teman sedih, teman dikala susah jha sayang kalian. Kocen, dan Omi akhirnya
qta wisuda bareng ya dan untuk anyek, kojep, mami, mbar, cuun,migo dan arnol cepat nyusul ya. nanti kalo kita udah bekeluarga kita reunian ya, untuk pak kocen
walaupun udah pulang ke Natuna tetap ingat kita ya pak, untuk kojep kalo jadi bupati
ntar jha jadi wakilnya ya, mami jadi ga’ produksi CD tu ? hahahahha cuun kurusin tu
badan gi ya, cuun teman yang paling pengertian dan sabar, mbar jadi juga ama
brondong tu??ayo mau ikuti jejak jha ya?? hahahah jha sayang kalian
Anak Elok Bunda V no 8 makasi ya udah menerima jha di antara kalian, makasi ya yuni yang slalu nyapa kak setiap pulang ke koz kalo ga ada yuni jadi sepi keknya koz
tu, icha, vesi, siska, ayu, tia, kak rara makasie ya kak dah bolehin jha masuk karena
jha sering tlat pulang (rapat pe malam), kak isun juga dah izinkan jha pulang rapat
malam2, kak ichi dan kak wid makasi udah jadi teman sekoz yang baik untuk jha
Elok makasie ya lok dah izinkan jha koz dirumah elok, makasi juga udah sabar ma
jha yang sering tlat bayar uang koz, jha akan slalu ingat elok
Komting 10, Tia makasi ya buat snak untuk seminarnya makasi juga untuk masukan
dan info dan nasehatnya untuk kak(Awal jadian dengan emil adalah saat2 paling berat
makasi y dek udah semangatin kak) , zefni makasi udah sabar menghadapi kak, saat
dimakasar bareng asyk bgt, kak pasti akan kangen saat-saat itu, curhat dipesawat dll
nya (makasie juga udah dengarin curhat kak dulu ya). Febri kimbum versi HMJ
Akuntansi N sein rangga versi HMJ Akuntansi makasi untuk semangatnya, jagain
pacar aq baik2 y, bilangin ke aq kalo dia macam2 . Teguh makasi ya udah sering dengar cerita-cerita aq dulu, titi makasi untuk ramalannya dek, Kiki makasi ya untuk
selamat ya, liatin emil ya jangan sampai dia macam-macam, hubungi jha kalo dia
macam-macam ke no 085263565757 hahahahhahahahaha kalian teman yang baik
Hima 2011/2012 ketum(Neva) makasi y tum untuk kesabarannya ngadapin jha, jha
akan lebih baik lagi, jha akan berubah, susi,yona dan kak kiki kita wisuda bareng juga
, gema makasi udah banyak bantu y dek, bobi makasi untu ketawa-ketawa yang menghiburnya tetap pertahankan humorisnya, arif jangan slalu diam y dek banyak
bicara dan kejar mimpinya y
Abg-abg Senior HMJ Akuntansi bg dodo makasi untuk motivasi, semangat dan ilmunya bg, insaAllah jha akan berubah dan jadi anak kebanggaan ibu makasi
nasehatnya bg, bg brata, bg angga, bg yandri, bg mugi, bg yudha, bg okto, makasi ya
bg untuk semua bantuannya ke hima dan ke diri jha khususnya, moga hima kita terus
jaya,,,,
Kakak2 senior HMJ Akuntansi kak Yuli makasi ya kak dah banyak ngajarin jha, udah mau dengar keluh kesah jha selama acara, dah banyak nasehati jha, jha akan
slalu ingat kata2 kak, kak bunga makasie ya kak untuk buku2nya, bukunya sangat
membantu skripsi jha kak, kak linda,kak dian, kak putri, kak dewi, kak num, kak pica,
mkasie banyak untuk bantuannya dan semangatnya kak
Komting 011 dan panitia BNCAC , isya, nisa, icha, yoga, vino, andre, dede,deri, lia,
rilla, dan yg ga tresebutkan namanya satu persatu makasi ya untuk bantuannya dan
telah mensukseskan acara kita
Buat Ak 1 teman seperjuangan ilda, degi, ayu, ita, selvi, della dan yang lainnya,
makasi udah ngisi hari2 jha selama dibangku kuliah.
Dan terakhir buat teman – teman qu yang ga’ tersebutkan namanya satu persatu, ga ada maksud untuk melupakan kalian...
Terima kasih juga untuk semua pihak yang telah membantu penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, akhirnya penulis
mengharapkan semoga skripsi ini bermanfaat serta dapat menambah wawasan bagi penulis
sendiri dan bagi teman – teman serta bagi seluruh pembaca.
Wassalamualaikum Wr. Wb
Padang, April 2012
Penulis
DAFTAR ISI
DARTAR ISI ... i
DAFTAR TABEL ... ii
DAFTAR LAMPIRAN ... iii
ABSTRAK... iv
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang……… 1
1.2 Perumusan Masalah………...………. 8
1.3 Tujuan Penelitian ………..……… 8
1.4 Manfaat Penelitian……….. 9
1.5 Sistematika penulisan...……….. 10
BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESISI 2.1 Usaha Mikro,Kecil dan Menengah (UMKM) 2.2.1 Usaha Mikro……… 11
2.2.2 Usaha Kecil……….……… 13
2.2.3 Usaha Menengah………..……….. 15
2.2 Laporan Keuangan Untuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) 2.2.1 Pengertian Laporan Keuangan……… 17
2.2.2 Tujuan Laporan Keuangan ……….……….. 19
2.2.3 Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan…… 20
2.2.4 Laporan Keuangan Untuk UMKM……… 21
2.2.5 Standar Akuntansi Keuangan Untuk UMKM… 22 2.3 Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) 2.3.1 Pengertian SAK ETAP………..…… 23
2.3.2 Tujuan Laporan Keuangan dalam SAK ETAP…… 24
2.3.3 Karakteristik Kualitativ Informasi dalam Laporan Keuangan SAK ETAP ……….…… 24
2.4 Pengembangan Hipotesis
2.4.1 Hubungan teoritis Faktor – faktor yang mempengaruhi
kualitas laporan keuangan UMKM………...…… 32
2.4.2 Hubungan Teoritis Kualitas Laporan Keuangan UMKM Terhadap Jumlah Kredit Perbankan Yang Diterima Oleh UMKM……….. 36
2.4.3 Hubungan Teoritis Faktor-faktor Pemahaman Pengusaha UMKM Terkait SAK ETAP……….. 37
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Populasi Dan Sampel Penelitian………... 39
3.2 Metode Pengumpulan Data………...……… 39
3.3 Devinisi Operasional dan Pengukuran Variabel………….… 40
3.4 Teknik Pengujian Data 3.4.1 Uji Multikolinieritas ……… 44
3.5 Pengujian Hipotesis……….……….… 45
3.5.1 Uji F (F-test)……….… 46
3.5.2 Uji t (t-test)……….. 46
3.5.3 Uji Koefisien Determinasi (R2)………. 46
BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN 4.1 Deskripsi Hasil Penelitian ... 47
4.2 Deskripsi Statistik Variabel ... 53
4.3 Pengujian Data ... 54
4.3.1 Pengujian Multikolinieritas ... 54
4.4 Pengujian Hipotesis ... 55
4.4.1 Hasil Analisis Regresi Model I ... 56
4.4.3 Hasil Analisis Regresi Model III ... 63
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ... 67
5.2 Keterbatasan Penelitian ... 70
5.3 Implikasi Penelitian ... 71
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Perkembangan Industri UMKM Sumatera Barat ... 5
Tabel 4.1 Pengiriman dan tingkat pengembalian Kuisioner ... 47
Tabel 4.2 Demografis Responden ... 48
Tabel 4.3 Deskripsi Statistik ... 52
Tabel 4.4 Hasil Uji Multikolinieritas ... 54
Tabel 4.5 Hasil Uji R2 untuk Model 1 (H1a,H1b,H1c,H1d) ... 55
Tabel 4.6 Hasil Uji R2 Untuk Model 2 (H2)... 55
Tabel 4.7 Hasil Uji R2 untuk Model 3 (H3a,H3b,H3c)... 56
Tabel 4.8 Hasil Uji F untuk Model 1 (H1a,H1b,H1c,H1d)... 59
Tabel 4.9 Hasil Uji FUntuk Model 2 (H2)... 60
Tabel 4.10 Hasil Uji F untuk Model 3 (H3a,H3b,H3c)... 61
Tabel 4.11 Hasil Uji t untuk Model 1 (H1a,H1b,H1c,H1d)... 63
Tabel 4.12 Hasil Uji t Untuk Model 2 (H2)... 64
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I : Kuisioner Penelitian
Lampiran II : Hasil Uji Multikolinieritas model 1
Lampiran III : Hasil Uji Multikolinieritas Model III
Lampiran IV : Hasil Uji Statistik Deskriptif
Lampiran V : Hasil Uji Regresi Model I
Lampiran VI : Hasil Uji Regresi Model II
KUALITAS LAPORAN KEUANGAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM) DAN PROSPEK IMPLEMENTASI STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN
ENTITAS TANPA AKUNTANBILITAS PUBLIK (SAK ETAP) Roza Fitriawati
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan pengaruh Jenjang pendidikan terakhir, ukuran usaha, lama usaha berdiri, dan latar belakang pendidikan terhadap persepsi Pengusaha terkait pentingnya pembukuan dan pelaporan keuangan bagi usahanya. Selanjutnya pengaruh kualitas laporan Keuangan UMKM terhadap besarnya jumlah kredit perbankan yang diterima oleh UMKM dan pengaruh Pemberian informasi dan sosialisasi SAK ETAP ,latar belakang pendidikan pengusaha, jenjang pendidikan terakhir pengusaha terhadap pemahaman pengusaha UMKM terkait SAK ETAP. Data penelitian ini di ambil dengan menyebarkan kuisioner kepada UMKM di kota padang sebanyak 15 UMKM, pariaman sebanyak 10 UMKM, Padang panjang sebanyak 10 UMKM, Solok sebanyak 8 UMKM, Bukit Tinggi sebanyak 9 UMKM, Pasaman sebanyak 10 UMKM, Payakumbuh sebanyak 8 UMKM, Batu Sangkar sebanyak 10 UMKM, dan Painan sebanyak 10 UMKM sehingga menghasilkan 90 responden dari UMKM yang ada di Sumatera Barat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Model 1 hipotesis H1a jenjang pendidikan tidak berpengaruh terhadap persepsi pengusaha terkait pentingnya pembukuan dan pelaporan keuangan bagi usahanya,lama usaha (H1b), ukuran usaha(H1c) dan latar belakang pendidikan (H1d) berpengaruh terhadap persepsi pengusaha terkait pentingnya pembukuan dan pelaporan keuangan bagi usahanya. Model 2 hipotesis H2 menunjukkan bahwa kualitas laporan keuangan berpengaruh terhadap semakin besarnya jumlah kredit perbankan yang diterima oleh UMKM. Model 3 hipotesis H3a menunjukkan bahwa pemberian informasi dan sosialisasi SAK ETAP dan latar belakang pendidikan (H3b) berpengaruh terhadap pemahaman pengusaha UMKM terkait SAK ETAP, jenjang pendidikan (H3c) tidak berpengaruh terhadap pemahaman pengusaha UMKM terkait SAK ETAP.
QUALITY OF FINANCIAL STATEMENTS MICRO SMALL AND MEDIUM ENTERPRISES (SMEs) AND PROSPECTS OF IMPLEMENTATION OF FINANCIAL ACCOUNTING
STANDARDS NO AKUNTANBILITAS PUBLIC ENTITIES (SAK ETAP)
Roza Fitriawati
ABSTRACT
The purpose of this study was to demonstrate the influence of education courses last, the size of the business, long established businesses, and educational background related to the perception of the importance of entrepreneur financial accounting and reporting for business. Furthermore the influence of the quality of financial reporting of SMEs against the amount of bank credit received by SMEs and the provision of information and socialization influence SAK ETAP, educational background, business, education Last employers related to the understanding of the SME entrepreneurs SAK ETAP. The research data was taken by distributing questionnaires to SMEs in the desert town of 15 SMEs, as many as 10 SMEs Pariaman, Padang length of 10 SMEs, as many as 8 Solok SMEs, SMEs as much as 9 Bukit Tinggi, Pasaman of 10 SMEs, SMEs Payakumbuh as many as 8, the Stone cage of 10 SMEs, and SMEs as much as 10 Painan resulting in 90 respondents from the SMEs in West Sumatra.
The results showed that Model 1 hypothesis H1a levels of education had no effect on employers' perceptions related to the importance of accounting and financial reporting for business, old business (H1b), size of business (H1c) and educational background (H1d) affect the perception of the importance of book-keeping and related businesses financial reporting for the business. Model 2 H2 hypothesis suggests that the quality of financial reporting affect the growing number of bank credit received by SMEs. Model 3 H3a hypothesis suggests that the provision of information and socialization SAK ETAP and educational background (H3b) affects the understanding of the SME entrepreneurs related to SAK ETAP, education level (H3c) had no effect on understanding of related GAAP ETAP SME entrepreneurs.
BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang
Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan atau badan usaha
perorangan yang memenuhi kriteria sebagai Usaha Mikro. Sedangkan Usaha Kecil adalah
usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan
atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang
perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun
tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria Usaha
Kecil. Dan Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri,
yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak
perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian
baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha Besar dengan
jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan (Lupiyoadi, 2004).
Pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia
merupakan salah satu prioritas dalam pembangunan ekonomi nasional. Hal ini selain karena
usaha tersebut merupakan tulang punggung sistem ekonomi kerakyatan yang tidak hanya
ditujukan untuk mengurangi masalah kesenjangan antar golongan pendapatan dan antar
pelaku usaha, ataupun pengentasan kemiskinan dan penyerapan tenaga kerja. Lebih dari itu,
pengembangannya mampu memperluas basis ekonomi dan dapat memberikan konstribusi
yang signifikan dalam mempercepat perubahan struktural, yaitu meningkatnya perekonomian
daerah dan ketahanan ekonomi nasional.
Saat ini yang menjadi kendala bagi UMKM untuk memajukan usahanya adalah
program pinjaman bersubsidi yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang
sasaran kredit untuk UMKM lebih sering merusak daripada menolong akses bagi UMKM
untuk memperoleh kredit.
UMKM seringkali menghadapi kesulitan dalam hal memenuhi persyaratan jaminan
perbankan. Karena kecilnya usaha mereka cenderung tidak memiliki tanah atau sumber daya
penting lainnya untuk melindungi aset keuangan mereka. Ketika perbankan menerapkan
peminjaman yang didasari pada arus kas, pemerintah harus menciptakan lingkungan yang
dapat memunculkan perusahaan sewa beli (leasing) maupun anjak piutang (factoring), yang
dapat membantu UMKM untuk mendapatkan akses modal tanpa harus ada sejumlah jaminan
pinjaman yang besar. Tapi para pengusaha UMKM harus mampu membuat laporan keuangan
untuk usahanya agar jelas harta yang dimiliki sehingga bank dapat memberi pinjaman.
Penjaminan merupakan alat kebijakan pemerintah untuk mengoreksi kegagalan pasar
tidak semua usaha yang fleksibel bisa mengakses kredit karena ketidakmampuan memenuhi
syarat minimal pemberian kredit oleh lembaga keuangan. Pada tanggal 26 Januari 2008,
Presiden Republik Indonesia mengeluarkan Peraturan Presiden No.2 Tahun 2008 tentang
Lembaga Penjaminan. Melalui lembaga penjaminan tersebut diharapkan memberikan
dampak terhadap pertumbuhan usaha UMKM. Jika UMKM tumbuh, akan dapat
meningkatkan usaha, nilai tambah, lapangan kerja, serta penerimaan pemerintah
(www.bi.go.id) .
Persepsi pengusaha terhadap pembukuan dan pelaporan keuangan merupakan
tanggapan atau pandangan pengusaha terhadap laporan keuangan. Dimana pengusaha akan
menyeleksi laporan keuangan dengan meminta laporan keuangan kepada bendahara dan
mengorganisir laporan keuangan tersebut sehingga laporan keuangan tersebut dapat
digunakan oleh pihak–pihak yang berkepentingan dengan menindak lanjuti laporan keuangan
tersebut dengan cara menganalisa lebih lanjut dan akhirnya dapat menghasilkan keputusan
Salah satu program pemerintah Indonesia terkait pembiayaan UMKM adalah Kredit
Usaha Rakyat (KUR). Tujuan dari KUR tersebut adalah untuk menjadi solusi pembiayan
modal yang efektif bagi UMKM, sebab selama ini banyak UMKM yang terkendala untuk
akses terhadap perbankan untuk mendapatkan bantuan pembiayaaan (Osa, 2010 dalam
Rudiantoro dan Veronica Siregar,2011). Penyebab rendahnya penyaluran KUR tersebut
karena bank yang ditunjuk sebagai penyalur KUR masih telalu berhati-hati dalam penyaluran
kredit, karena tidak memiliki akses informasi yang memadai terkait kondisi UMKM.
Pelaksanaan pembukuan akuntansi untuk menghasilkan laporan keuangan
merupakan hal yang masih sulit bagi UMKM. Keterbatasan pengetahuan pembukuan
akuntansi, rumitnya proses akuntansi, dan anggapan bahwa laporan keuangan bukanlah hal
yang penting bagi UMKM (Said, 2009 dalam Rudiantoro dan Veronika Siregar 2011).
Berbagai macam keterbatasan lain dihadapi oleh UMKM mulai dari latar belakang
pendidikan yang tidak mengenal akuntansi atau tata buku, kurang disiplin dan rajinnya dalam
pelaksanaan pembukuan akuntansi, hingga tidak adanya kecukupan dana untuk
mempekerjakan akuntan atau membeli software akuntansi untuk mempermudah
pelaksanaan pembukuan akuntansi.
Terkait dengan kondisi tersebut di atas, Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK)
pada tahun 2009 telah mensahkan Standar Akuntansi untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas
Publik (SAK ETAP). SAK ETAP tersebut akan efektif per 1 Januari 2011 namun penerapan
sebelum tanggal efektif diperbolehkan. Penggunaan SAK ETAP ini adalah ditujukan untuk
entitas tanpa akuntabilitas publik yakni entitas yang 1) Tidak memiliki akuntabilitas publik
yang signifikan, dan 2) Entitas yang menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum bagi
pengguna eksternal. SAK Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik merupakan salah satu Standar
Akuntansi yang penggunaanya ditujukan untuk entitas usaha yang tidak memiliki
ETAP menggunakan acuan IFRS (International Financial Reporting Standards) untuk Small
Medium Enterprises.
Secara umum SAK ETAP ini lebih mudah dipahami dan tidak sekompleks SAK
Umum selain itu semakin banyaknya software akuntansi buatan dalam negeri maupun luar
negeri yang telah secara khusus dirancang bagi UMKM seperti Zahir dan Oracle. Dan
dengan ini diharapkan UMKM mampu melakukan pembukuan akuntansi untuk menyajikan
laporan keuangan yang lebih informatif dengan tujuan tentunya memberikan kemudahan bagi
investor maupun kreditor untuk memberikan bantuan pembiayaan bagi para pengusaha
UMKM.
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di Sumatera Barat dilihat dari perkembangan pada
tabel berikut ini :
TABEL 1
Perkembangan Industri UKM Sumatera Barat Tahun 2005 – 2009
NO. INDUSTRI
TAHUN
2005 2006 2007 2008 2009
1 Unit Usaha
(UU)
43.014 42.311 42.251 43.853 35.391
2 Tenaga Kerja
(Orang)
147.094 290.162 146.876 152.174 132.895
3 Nilai Investasi
(Rp. Juta)
222.504.569 253.727.955 297.829.976 332.800.537 628.492.895
4 Nilai Produksi
(Rp. Juta)
306.754.788 1.578.870.125 1.665.396.069 2.037.277.307 2.167.160.547
Sumber : sumbarprov.co.id
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa usaha industri UMKM dari tahun 2005 sampai
tahun 2007 mengalami penurunan Unit Usaha UMKM tapi tidak terlalu riskan ini
dikarenakan tingkat inflasi yang masih rendah dimana rata-rata inflasi tiap tahun mencapai
6%. Pada tahun 2008 unit usaha mengalami peningkatan tetapi di tahun 2009 mengalami
Tenaga kerja mengalami peningkatan pada tahun 2006 dimana usaha kecil memiliki
kemampuan untuk menyerap tenaga kerja dengan jumlah yang banyak. Pada tahun 2007
jumlah tenaga kerja mulai mengalami penurunan hingga turun drastis pada tahun 2009 karena
terjadinya inflasi yang cukup tinggi yaitu sebesar 11,1%. Berbeda dengan jumla investasi dan
jumlah produksi yang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Berita Sumbar (www.sumbarprov.go.id) mengatakan bahwa daerah lain
mengandalkan sektor industri sebagai sumber pendongkrak perekonomian yang dihadapkan
pada kesulitan untuk tumbuh saat krisis finansial terjadi akhir 2008 tetapi Sumatera Barat
tumbuh cukup baik karena tak bertumpu pada industri tetapi pada sektor usaha kecil. Sumbar
sebagai daerah yang hanya kecil dukungan pertumbuhan perekonomian dari sektor industri,
tetap mengandalkan usaha kecil dan revitalisasi perkebunan sebagai kekuatan. Sumatera
Barat akan mamaksimalkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) agar jumlah usaha kecil
di berbagai sektor terus berkembang ini yang harus didorong terus sehingga perekonomian
masyarakat terus membaik.
Penelitian Rudiantoro dan Veronica Siregar (2011) tentang Kualitas Laporan
Keuangan UMKM Serta Prospek Implementasi SAK ETAP dimana penelitiannya dilakukan
pada UMKM di JABODETABEK yang menghasilkan bahwa pengujian model 1 jenjang
pendidikan terakhir dan Latar belakang pendidikan tidak berpengaruh terhadap persepsi
pengusaha terkait pentingnya pembukuan dan pelaporan keuangan bagi usahanya, Ukuran
usaha dan lama usaha berdiri berpengaruh terhadap persepsi pengusaha terkait pentingnya
pembukuan dan pelaporan keuangan bagi usahanya. Hasil pengujian Model 2 kualitas laporan
keuangan UMKM tidak berpengaruh signifikan terhadap semakin besarnya jumlah kredit
perbankan yang diterima oleh UMKM, dan Hasil dari pengujian model 3 bahwa informasi
pengusaha UMKM terkait SAK ETAP, Latar belakang pendidikan tidak berpengaruh
signifikan terhadap pemahaman pengusaha UMKM terkait SAK ETAP.
Peneliti tertarik untuk meneliti kembali penelitian Rudiantoro dan Veronica Siregar
(2011) ini karena adanya standar terbaru yang sangat sederhana dan sangat membantu untuk
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah karena Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa
Akuntabilitas (SAK ETAP) dibuat khusus untuk entitas yang belum berbadan hukum dan
dibuat dengan peraturan yang sederhana sehingga mudah dipahami dan diharapkan mampu
membantu dalam pembuatan laporan keuangan termasuk UMKM (Rudiantoro dan Veronika
Siregar 2011).
Dalam Implementasi SAK ETAP di tahun 2011 nampaknya masih menemui kendala
yang dikhawatirkan menghambat penerapan SAK ini (Rudiantoro dan Veronika Siregar,
2011). Dengan adanya penelitian dari Rudiantoro dan Veronika Siregar (2011) ini maka
peneliti tertarik untuk meneliti kembali Kualitas laporan keuangan untuk UMKM dan
prospek implementasi SAK ETAP dengan sampel UMKM yang ada di Sumatera Barat.
Berdasarkan data berita Sumbar bahwa Sumatera Barat memiliki 35.456 UMKM
maka peneliti termotivasi untuk melakukan penelitian tentang kualitas laporan keuangan
untuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan prospek implementasi Standar
Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) di Sumatera Barat.
1.2Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas maka masalah pokok yang ada pada
1. Apakah jenjang pendidikan terakhir, ukuran usaha, lama usaha berdiri, dan latar
belakang pendidikan berpengaruh terhadap persepsi Pengusaha terkait pentingnya
pembukuan dan pelaporan keuangan bagi usahanya.
2. Apakah kualitas laporan Keuangan UMKM berpengaruh terhadap besarnya jumlah
kredit perbankan yang diterima oleh UMKM
3. Apakah pemberian informasi dan sosialisasi SAK ETAP ,latar belakang pendidikan
pengusaha, jenjang pendidikan terakhir pengusaha berpengaruh terhadap pemahaman
pengusaha UMKM terkait SAK ETAP.
1.3Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukan diatas maka tujuan penelitian adalah untuk
membuktikan secara empiris bahwa :
1. Jenjang pendidikan terakhir, ukuran usaha, lama usaha berdiri, dan latar belakang
pendidikan berpengaruh terhadap persepsi Pengusaha terkait pentingnya pembukuan
dan pelaporan keuangan bagi usahanya.
2. Kualitas laporan Keuangan UMKM berpengaruh terhadap besarnya jumlah kredit
perbankan yang diterima oleh UMKM
3. Pemberian informasi dan sosialisasi SAK ETAP ,latar belakang pendidikan
pengusaha, jenjang pendidikan terakhir pengusaha berpengaruh terhadap pemahaman
pengusaha UMKM terkait SAK ETAP.
1.4 Manfaat Penelitian
Diharapkan dengan hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi sebagai
1. Bagi pengusaha UMKM penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan
saran tentang kualitas laporan keuangannya dan penerapan SAK ETAP untuk laporan
keuangannya,serta informasi untuk pengusaha dalam pengambilan keputusan yang
lebih baik untuk usahanya tentang peminjaman kredit Bank.
2. Bagi Akademisi, penelitian ini diharapkan bisa memberikan kontribusi pada
pengembangan teori terutama yang berkaitan dengan standar akuntansi dan
meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang standar akuntansi keuangan untuk
entitas tanpa akuntabilitas publik.
3. Bagi peneliti selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan acuan referensi tentang
kualitas laporan keuangan UMKM dan penerapan SAK ETAP untuk laporan
keuangan UMKM.
1.5 Sistematika Penulisan
Secara garis besar pembahasan skripsi ini dibagi dalam lima bab, dengan sistematika
sebagai berikut :
Bab I , Pendahuluan yang menguraikan tentang latar belakang masalah, perumusan
masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.
Bab II , merupakan landasan teori dan pengembangan hipotesa yang menguraikan
tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah,Laporan Keuangan UMKM, SAK ETAP,
Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas persepsi pengusaha terkait pentingnya pembukuan dan
pelaporan keuangan bagi usahanya, Pengaruh kualitas laporan keuangan UMKM terhadap
jumlah kredit yang perbankan yang diterima UMKM, pengaruh pemahaman pengusaha
Bab III, membahas populasi dan sampel, metode pengumpulan data, teknik pengujian
data dan Teknik pengujian hipotesis
Bab IV, membahas tentang analisi data hasil penelitian terdiri dari uraian deskriptif
hasil penelitian, deskriptif statistic veriabel, pengujian asumsi klasik dan pengujian hipotesis.
Bab V, merupakan penutup yang terdiri dari kesimpulan atas hasil analisis data yang
dilakukan pada bab sebelumnya, keterbatasan penelitian yang dilakukan, dan implikasi hasil
BAB II
LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESA 2.1 Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)
2.1.1 Usaha Mikro
Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan atau badan usaha
perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana yang telah di atur (Undang-
Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) ).
Usaha mikro mempunyai peran yang penting dalam pembangunan ekonomi, karena intensitas
tenaga kerja yang relatif lebih tinggi dan investasi yang lebih kecil, sehingga usaha mikro
lebih fleksibel dalam menghadapi dan beradaptasi dengan perubahan pasar. Hal ini
menyebabkan usaha mikro tidak terlalu terpengaruh oleh tekanan eksternal, karena dapat
mengurang impor dan memiliki kandungan lokal yang tinggi (Oswari, Susys, Ati : 2008).
Usaha mikro dapat memberikan kontribusi pada diversifikasi ekonomi dan perubahan
struktur sebagai prakondisi pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang stabil dan
berkesinambungan. Disamping itu tingkat penciptaan lapangan kerja lebih tinggi pada usaha
mikro dari pada yang terjadi di perusahaan besar (Baas dan Schrooten,2006).
Mempertimbangkan kelangkaan modal dalam negeri dan tingginya pertumbuhan
angkatan kerja yang berlanjut, maka perkembangan usaha mikro merupakan elemen kunci
dalam setiap strategi penciptaan lapangan kerja dalam negeri. Daya saing ekonomi nasional
dipengaruhi oleh daya saing dan kondisi usaha mikro. Sebagai pemasok input, komponen dan
jasa, usaha mikro mempengaruhi daya saing perusahaan besar , termasuk investor asing yang
dapat menciptakan peluang pasar usaha mikro. Pengembangan usaha mikro merupakan
elemen terpadu dalam strategi daya saing nasional dan terkait erat dengan kebijakan promosi
dalam usaha mengatasi kemiskinan dan pembangunan ekonomi daerah yang lebih berimbang
(www.visijobs.com)
Menurut Keputusan Menteri Keuangan No. 40/KMK.06/2003 tgl 29 Januari 2003,
usaha mikro adalah usaha produktif milik keluarga atau perorangan yang memiliki hasil
penjualan paling banyak Rp. 100 juta pertahun, dan dapat mengajukan kredit kepada Bank
paling banyak Rp. 50 juta. Ciri-ciri khas Usaha Mikro lain:
a) Belum melakukan manajemen/catatan keuangan, sekalipun yang sederhana atau
masih sangat sedikit yang mampu membuat catatan neraca usahanya.
b) Pengusaha atau SDM-nya berpendidikan rerata sangat rendah, umumnya tingkat SD
dan belum memiliki jiwa kewirausahaan yang memadai,
c) Pada umumnya tidak/belum mengenal perbankan tetapi lebih mengenal rentenir atau
tengkulak,
d) Umumnya tidak memiliki izin usaha atau persyaratan legalitas lainnya termasuk
NPWP,
e) Tenaga kerja atau karyawan yang dimiliki kurang dari 4 orang.
2.1.2 Usaha Kecil
Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak
perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi
bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar
yang memenuhi kriteria Usaha Kecil (Syarif, 1991).
Menurut Tasri (2010) ada beberapa alasan mengapa usaha kecil mempunyai pengaruh
yang besar terhadap perekonomian.
Lebih dari 20 tahun ini menunjukkan bahwa lapangan kerja baru datang dari jenis
usaha kecil.
2) Inovatif
Sangat penting bagi perusahaan besar karena hampir seluruh produk yang dibuat oleh
perusahaan manufaktur besar dikerjakan melalui usaha kecil.
Bentuk-bentuk Usaha Kecil ada bisnis jasa merupakan yang terbesar dan cepat
pertumbuhannya dalam dunia usaha kecil. Jasa juga membawa keuntungan yang sangat besar
bagi wirausaha kecil yang mampu berinovasi tinggi. Bisnis eceran (Retail Business) Adalah
satu-satunya usaha yang menjual produk manufaktur yang langsung kepada konsumen.
Bisnis distribusi (wholesale business) Adalah satu-satunya bisnis yang membeli barang dari
pabrik atau produsen dan menjual kepada pedagang eceran. Agribisnis/Pertanian
(Agriculture) Pertanian barangkali adalah bentuk bisnis kecil yang tertua. Pada awalnya hasil
pertanian itu dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan keluarga namun lama
kelamaan menjadi sebuah bisnis yang cukup besar karena adanya ketergantungan masyarakat
satu sama lain. Bisnis Manufaktur Merupakan suatu bisnis kecil yang memerlukan modal
untuk investasi yang cukup besar, karena memerlukan tenaga kerja, teknologi dan bahan
mentah untuk mengoperasikannya (Syarif, 1991).
Hal-hal yang mempengaruhi kegagalan suatu usaha kecil menurut Syarif (1991) yaitu
1. Banyak perusahaan kecil yang dikelola oleh manajer yang kurang mampu dan kurang
berpengalaman dalam menjalankan tugasnya
2. Kurangnya dukungan dari pihak yang berhubungan
3. Masih lemahnya sistem kontrol dimana sistem pengontrolan yang lemah cenderung
akan menyebabkan kerugian
4. Penggunaan sumber-sumber daya yang berlebihan dan kurangnya modal untuk
Beberapa sifat dasar dan kemampuan yang biasanya ada pada diri seorang
wirausaha(Lupiyoadi, 2004), diantaranya
1. Wirausaha adalah seorang pencipta perubahan (The Change Creator)
2. Wirausaha selalu melihat perbedaan baik antarorang maupun antar fenomena
kehidupan, sebagai peluang disbanding sebagai kesulitan
3. Wirausaha cenderung mudah jenuh terhadap segala kemampuan hidup untuk
kemudian bereksperimen dengan pembaharuan-pembaharuan
4. Wirausaha melihat pengetahuan dan pengalaman hanyalah alat untuk memacu
kreativitas, bukan sesuatu yang harus diulangi
5. Wirausaha adalah seorang “pakar” tentang dirinya sendiri
6. Wirausaha berani memaksa diri untuk menjadi pelayan bagi orang lain.
Menurut Undang-Undang No. 9 Tahun 1995, usaha kecil adalah usaha produktif yang
berskala kecil dan memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp.200 juta, tidak termasuk tanah
dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan paling banyak Rp.1 milyar
pertahun serta dapat menerima kredit dari Bank di atas Rp. 50 juta sampai Rp. 500 juta.
Ciri-ciri Usaha Kecil antara lain:
a) Pada umumnya sudah melakukan pembukuan/manajemen keuangan walau masih
sederhana, keuangan perusahaan sudah mulai dipisahkan dengan keuangan keluarga,
dan sudah membuat neraca usaha.
b) SDM-nya sudah lebih maju, rata-rata berpendidikan SMA dan sudah ada pengalaman
usahanya.
c) Pada umumnya sudah memiliki izin usaha dan persyaratan legalitas lainnya, termasuk
d) Sebagian besar sudah berhubungan dengan perbankan, namun belum dapat membuat
perencanaan bisnis, studi kelayakan dan proposal kredit kepada Bank, sehingga masih
sangat memerlukan jasa konsultasi/pendampingan
e) Tenaga kerja yang dipekerjakan antara 5 – 19 orang.
2.1.3 Usaha Menengah
Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak
perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian
baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau usaha besar dengan
jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan(Lupiyoadi, 2004) .
Menurut Instruksi Presiden No. 10 Tahun 1998 usaha menengah adalah usaha
produktif yang memiliki kekayaan usaha produktif yang memiliki kekayaan bersih lebih
besar dari Rp. 200 juta sampai paling banyak Rp. 10 milyar, tidak termasuk tanah dan
bangunan tempat usaha, serta dapat menerima kredit dari Bank sebesar Rp. 500 juta sampai
dengan Rp. 5 milyar. Ciri-ciri Usaha Menengah antara lain:
a) Pada umumya telah memiliki manajemen dan organisasi yang lebih baik, lebih
teratur, bahkan lebih modern dengan pembagian tugas yang jelas antara bagian
keuangan, bagian pemasaran dan bagian produksi.
b) Telah memiliki manajemen keuangan dengan menerapkan sistem akuntasi dengan
teratur, sehingga memudahkan untuk auditing dan penilaian atau pemeriksaan
termasuk oleh Perbankan.
c) Telah melakukan aturan atau pengelolaan organisasi dan organisasi perburuhan.
Sudah ada program Jamsostek dan pemeliharaan kesehatan.
d) Sudah memiliki segala persyaratan legalitas antara lain izin gangguan, (HO), izin
e) Telah sering bermitra dan memanfaatkan pendanaan yang ada di Bank
f) SDM-nya sudah lebih meningkat banyak penggunaan Sarjana sebagai Manajer
g) Pada umumnya memiliki karyawan antara 20-99 orang,
2.2 Laporan Keuangan Untuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) 2.2.1 Pengertian Laporan Keuangan
Laporan Keuangan merupakan ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan yang
terjadi selama tahun buku yang bersangkutan (Darmayanti, 2008).laporan keuangan dibuat
oleh manajemen dengan tujuan untuk mempertanggung jawabkan tugas-tugas yang
dibebankan kepadanya oleh pemilik perusahaan.
Pengertian laporan keuangan menurut Baridwan (1992) dalam Warsono, Sony dan
Murti (2010) laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan
transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama dua tahun buku yang bersangkutan. Menurut Sundjaja
dan Barlian (2001) dalam Rudiantoro dan veronica Siregar (2011) laporan keuangan adalah
suatu laporan yang menggambarkan hasil dari proses akuntansi yang digunakan sebagai alat
komunikasi untuk pihak-pihak yang berkepentingan dengan data keuangan atau aktivitas
perusahaan.
Laporan keuangan menurut Munawir (1991) dalam Nurhasanah (2005) laporan
keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat
untuk mengkomunikasikan data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan.
Pengertian laporan keuangan menurut Standar Akuntansi Keuangan menurut IAI
(2009) : “Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan
keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan perubahan posisi keuangan (yang
dapat disajikan dalam berbagai cara seperti misal, sebagai laporan arus kas, atau laporan arus
tersebut, misal informasi keuangan segmen industri dan geografis serta pengungkapan
pengaruh perubahan harga”
Dari pengertian di atas laporan keuangan dibuat sebagai bagian dari proses pelaporan
keuangan yang lengkap, dengan tujuan untuk mempertanggung jawabkan tugas-tugas yang
dibebankan kepada manajemen.
Penyusunan laporan keuangan disiapkan mulai dari berbagai sumber data, terdiri dari
faktur-faktur, bon-bon, nota kredit, salinan faktur penjualan, laporan bank dan sebagainya.
Data yang asli bukan saja digunakan untuk mengisi buku perkiraan, tetapi dapat juga dipakai
untuk membuktikan keabsahan transaksi. Laporan keuangan terdiri dari (Abrori, 2010) :
1. Neraca, menginformasikan posisi keuangan pada saat tertentu, yang tercermin pada
jumlah harta yang dimiliki, jumlah kewajiban, dan modal perusahaan.
2. Perhitungan laba rugi, menginformasikan hasil usaha perusahaan dalam suatu periode
tertentu.
3. Laporan Perubahan Modal, Laporan perubahan modal adalah ringkasan tentang
perubahan modal yang terjadi dalam suatu periode tertentu
4. Laporan arus kas, menginformasikan perubahan dalam posisi keuangan sebagai akibat
dari kegiatan usaha, pembelanjaan, dan investasi selama periode yang bersangkutan.
5. Catatan atas laporan keuangan, menginformasikan kebijaksanaan akuntansi yang
mempengaruhi posisi keuangan dari hasil keuangan perusahaan.
Laporan keuangan diharapkan disajikan secara layak, jelas, dan lengkap, yang
mengungkapkan kenyataan-kenyataan ekonomi mengenai eksistensi dan operasi perusahaan
tersebut. Dalam menyusun laporan keuangan, akuntansi dihadapkan dengan kemungkinan
bahaya penyimpangan (bias), salah penafsiran dan ketidaktepatan. Untuk meminimkan
ini. Setiap akuntansi atau perusahaan harus menyesuaikan diri terhadap praktik akuntansi dan
pelaporan dari setiap perusahaan tertentu (Arifin, 2005).
2.2.2 Tujuan Laporan Keuangan
Tujuan laporan keuangan menurut Sawir (2005) dalam Abrori (2010) adalah sebagai
berikut:
1) Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan
posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai
dalam pengambilan keputusan ekonomi,
2) Laporan keuangan disusun untuk memenuhi kebutuhan bersama oleh sebagian besar
pemakainya, yang secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian
masa lalu
3) Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang dilakukan manajemen atau
pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
4) Laporan keuangan digunakan untuk mengevaluasi kondisi keuangan perusahaan saat
ini dan untuk memperkirakan hasil operasi serta arus kas di masa depan.
Dari pengertian di atas tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi
keuangan yang dapat dipercaya mengenai sumber-sumber ekonomi dan kewajiban serta
modal suatu perusahaan.
2.2.3 Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan
Karakteris kualitatif laporan keuangan merupakan cirri khas yang membuat informasi
dalam keuangan tersebut berguna bagi pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
Terdapat empat karakteristik pokok kualitatif laporan keuangan menurut IAI (2009).
Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah
kemudahannya untuk segera dapat dipahami ole para pemakai.
2. Relevan
Agar bermanfaat informasi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam
proses pengambilan keputusan, informasi memiliki kualitas relevan kalau dapat
mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai dengan membantu mereka mengevaluasi
peristiwa masa lalu, masa kini dan masa depan.
3. Keandalan
Agar bermanfaat,informasi juga harus andal.
4. Dapat dibandingkan
Pemakai harus dapat mempertimbangkan laporan keungan perusahaan antar periode
untuk mengidentifikasikan kecendrungan posisi dan kinerja keuangan.
2.2.4 Laporan Keuangan Untuk UMKM
Praktek akuntansi, khususnya akuntansi keuangan bagi UKM di Indonesia masih
rendah dan masih memiliki banyak kelemahan. Beberapa penelitian pada UKM telah
menyimpulkan bahwa penggunaan informasi akuntansi dalam pengambilan keputusan akan
mempengaruhi prestasi perusahaan, penelitian pada perusahaan besar juga telah
membuktikan bahwa penggunaan informasi akuntansi akan mempengaruhi prestasi
perusahaan dan atau prestasi manajer (Suhairi, 2004 dalam Rudiantoro dan Veronika Siregar,
2011).
Pemerintah Indonesia belum mengatur secara khusus kewajiban UKM menyusun
laporan keuangan. Namun demikian, Undang-undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1995
tentang Perseroan Terbatas secara tidak langsung telah mengisyaratkannya melalui pasal 56
yang berbunyi “ Dalam waktu 5 bulan setelah tahun buku perseroan ditutup, Direksi
demikian, bagi suatu perusahaan yang berbadan hukum Perseroan Terbatas, tidak terkecuali
usaha kecil ataupun menengah, diwajibkan menyusun laporan keuangan.
Laporan keuangan juga sangat berguna bagi UMKM untuk mendapatkan modal dan
pinjaman kredit Bank atau KUR (Kredt Usaha Rakyat). Berdasarkan Baas dan Schrooten
(2006) bahwa salah satu teknik pemberian kredit yang paling banyak digunakan adalah
financial statement lending yang mendasarkan pemberian kreditnya atas informasi keuangan
dari debiturnya. Namun di sisi lain hal tersebut menjadi kendala tersendiri sebab UMKM
ternyata tidak mampu menyediakan informasi yang diperlukan oleh bank tersebut. Cziraky,
Tisma, dan Pisarovic (2005) dalam Abrori (2010) menyatakan bahwa penyebab rendahnya
tingkat penyaluran kredit UMKM adalah perbankan tidak memiliki cukup informasi dalam
melakukan penilaian kelayakan kredit. Kedua penelitian sebelumnya tersebut semakin
menguatkan bahwa laporan keuangan memiliki peran penting sebagai sarana informasi bagi
perbankan untuk menilai kelayakan pemberian kredit.
2.2.5 Standar Akuntansi Keuangan Untuk UMKM
Masih banyak kelemahan yang dihadapi UKM di Indonesia, kelemahan itu antara lain
disebabkan rendahnya pendidikan, kurangnya pemahaman terhadap Standar Akuntansi
Keuangan (SAK) dari manajer pemilik dan karena tidak adanya peraturan yang mewajibkan
penyusunan laporan keuangan bagi UKM. pendidikan pemilik dan jenis laporan keuangan
memiliki pola hubungan yang searah (positif) dengan kebutuhan SAK, sedangkan variabel
karakteristik kualitatif laporan keuangan memiliki pola hubungan yang berlawanan (negatif)
dengan kebutuhan SAK (Abrori, 2010)
Pemerintah Indonesia belum mengatur secara khusus kewajiban UKM menyusun
laporan keuangan. Namun demikian, Undang-undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1995
tentang Perseroan Terbatas secara tidak langsung telah mengisyaratkannya melalui pasal 56
menyusun laporan tahunan yang diajukan kepada Rapat Umum Pemegang Saham”. Dengan
demikian, bagi suatu perusahaan yang berbadan hukum Perseroan Terbatas, tidak terkecuali
usaha kecil ataupun menengah, diwajibkan menyusun laporan keuangan.
Sudarini (1992) dalam Abrori (2010) juga membuktikan bahwa perusahaan kecil di
Indonesia cendrung untuk memilih normal perhitungan (tanpa menyusun laporan keuangan)
sebagai dasar perhitungan pajak. Karena, biaya yang dikeluarkan untuk menyusun laporan
keuangan jauh lebih besar dari pada kelebihan pajak yang harus dibayar.
2.3 Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) 2.3.1 Pengertian SAK ETAP
Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP)
dimaksudkan untuk digunakan entitas tanpa akuntabilitas publik. Entitas tanpa akuntabilitas
publik adalah entitas yang:
a) Tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan
b) Menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial
statement) bagi pengguna eksternal. Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang
tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur,dan lembaga pemeringkat
kredit.
2.3.2 Tujuan Laporan Keuangan dalam SAK ETAP
Tujuan laporan keuangan menurut SAK ETAP adalah menyediakan informasi posisi
keuangan, kinerja keuangan, dan laporan arus kas suatu entitas yang bermanfaat bagi
sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi oleh siapapun yang tidak
dalam posisi dapat meminta laporan keuangan khusus untuk memenuhi kebutuhan informasi
tertentu. Dalam memenuhi tujuannya, laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah
dilakukan manajemen (stewardship) atau pertanggung jawaban manajemen atas sumber daya
2.3.3 Karakteristik Kualitatif Informasi dalam Laporan Keuangan SAK ETAP
Laporan keuangan yang dipersiapkan sesuai dengan SAK ETAP untuk menyediakan
informasi mengenai posisi keuangan, kinerja dan arus kas entitas yang berguna untuk
pengguna luas yang tidak dalam posisi meminta laporan untuk memenuhi kebutuhan
informasi tertentu, misalnya diberikan kepada: Bank, Pemilik, dan Penyandang dana. Dalam
SAK ETAP Laporan keuangannya mempunyai karakteristik kualitatif yang merupakan ciri
khas yang membuat informasi dalam laporan keuangan berguna bagi pemakai dalam
pengambilan keputusan perusahaan.Terdapat sepuluh karakteristik pokok kualitatif laporan
keuangan menurut IAI tentang SAK ETAP (2009).
1. Dapat Dipahami
Kualitas penting informasi yang disajikan dalam laporan keuangan adalah
kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh pengguna. Untuk maksud ini,
pengguna diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas
ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta kemauan untuk mempelajari informasi tersebut
dengan ketekunan yang wajar. Namun demikian, kepentingan agar laporan keuangan
dapat dipahami tetapi tidak sesuai dengan informasi yang relevan harus diabaikan
dengan pertimbangan bahwa informasi tersebut terlalu sulit untuk dapat dipahami
oleh pengguna tertentu.
2. Relevan
Agar bermanfaat, informasi harus relevan dengan kebutuhan pengguna untuk proses
pengambilan keputusan. Informasi memiliki kualitas relevan jika dapat
mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna dengan cara membantu mereka
mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan, menegaskan, atau
mengoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu.
Informasi dipandang material jika kelalaian untuk mencantumkan atau kesalahan
dalam mencatat informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi
pengguna yang diambil atas dasar laporan keuangan. Materialitas tergantung pada
besarnya pos atau kesalahan yang dinilai sesuai dengan situasi tertentu dari kelalaian
dalam mencantumkan (omission) atau kesalahan dalam mencatat (misstatement).
Namun demikian, tidak tepat membuat atau membiarkan kesalahan untuk
menyimpang secara tidak material dari SAK ETAP agar mencapai penyajian tertentu
dari posisi keuangan, kinerja keuangan atau arus kas suatu entitas.
4. Keandalan
Agar bermanfaat, informasi yang disajikan dalam laporan keuangan harus andal.
Informasi memiliki kualitas andal jika bebas dari kesalahan material dan bias, dan
penyajian secara jujur apa yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar
diharapkan dapat disajikan. Laporan keuangan tidak bebas dari bias (melalui
pemilihan atau penyajian informasi) jika dimaksudkan untuk mempengaruhi
pembuatan suatu keputusan atau kebijakan untuk tujuan mencapai suatu hasil tertentu.
5. Substansi Mengungguli Bentuk
Transaksi, peristiwa dan kondisi lain dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan
realitas ekonomi dan bukan hanya bentuk hukumnya. Hal ini untuk meningkatkan
keandalan laporan keuangan.
6. Pertimbangan Sehat
Ketidakpastian yang tidak dapat diabaikan meliputi berbagai peristiwa dan keadaan
yang dipahami berdasarkan pengungkapan sifat dan penjelasan peristiwa dan keadaan
tersebut dan melalui penggunaan pertimbangan sehat dalam menyusun laporan
keuangan. Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian pada saat melakukan
penghasilan tidak disajikan lebih tinggi dan kewajiban atau beban tidak disajikan
lebih rendah. Namun demikian, penggunaan pertimbangan sehat tidak
memperkenankan pembentukan asset atau penghasilan yang lebih rendah atau
pencatatan kewajiban atau beban yang lebih tinggi. Singkatnya, pertimbangan sehat
tidak mengijinkan bias.
7. Kelengkapan
Agar dapat diandalkan, informasi dalam laporan keuangan harus lengkap dalam
batasan materialitas dan biaya. Kesengajaan untuk tidak mengungkapkan
mengakibatkan informasi menjadi tidak benar atau menyesatkan dan karena itu tidak
dapat diandalkan dan kurang mencukupi ditinjau dari segi relevansi.
8. Dapat Dibandingkan
Pengguna harus dapat membandingkan laporan keuangan entitas antar periode untuk
mengidentifikasi kecenderungan posisi dan kinerja keuangan. Pengguna juga harus
dapat membandingkan laporan keuangan antar entitas untuk mengevaluasi posisi
keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan secara relatif. Oleh karena itu,
pengukuran dan penyajian dampak keuangan dari transaksi dan peristiwa lain yang
serupa harus dilakukan secara konsisten untuk suatu entitas, antar periode untuk
entitas tersebut dan untuk entitas yang berbeda. Sebagai tambahan, pengguna laporan
keuangan harus mendapat informasi tentang kebijakan akuntansi yang digunakan
dalam penyusunan laporan keuangan, perubahan kebijakan akuntansi dan pengaruh
dampak perubahan tersebut.
9. Tepat Waktu
Agar relevan, informasi dalam laporan keuangan harus dapat mempengaruhi
keputusan ekonomi para penggunanya. Tepat waktu meliputi penyediaan informasi
penundaan yang tidak semestinya dalam pelaporan, maka informasi yang dihasilkan
akan kehilangan relevansinya. Manajemen mungkin perlu menyeimbangkan secara
relative antara pelaporan tepat waktu dan penyediaan informasi yang andal. Untuk
mencapai keseimbangan antara relevansi dan keandalan, maka pertimbangan utama
adalah bagaimana yang terbaik untuk memenuhi kebutuhan pengguna dalam
mengambil keputusan ekonomi.
10.Keseimbangan antara Biaya dan Manfaat
Manfaat informasi seharusnya melebihi biaya penyediannya. Namun demikian,
evaluasi biaya dan manfaat merupakan proses pertimbangan yang substansial. Biaya
tersebut juga tidak perlu ditanggung oleh pengguna yang menikmati manfaat. Dalam
evaluasi manfaat dan biaya, entitas harus memahami bahwa manfaat informasi
mungkin juga manfaat yang dinikmati oleh pengguna eksternal.
2.3.4 Laporan Keuangan Dalam SAK ETAP
Laporan keuangan dalam SAK ETAP (Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa
Akuntabilitas Publik) yakni :
1. Penyajian Wajar
Laporan keuangan menyajikan dengan wajar posisi keuangan, kinerja
keuangan, dan arus kas suatu entitas. Penyajian wajar mensyaratkan penyajian jujur
atas pengaruh transaksi, peristiwa dan kondisi lain yang sesuai dengan definisi dan
kriteria pengakuan aset, kewajiban, penghasilan dan beban yang dijelaskan dalam Bab
2 Konsep dan Prinsip Pervasif.
Penerapan SAK ETAP, dengan pengungkapan tambahan jika diperlukan,
menghasilkan laporan keuangan yang wajar atas posisi keuangan, kinerja keuangan,
persyaratan tertentu dalam SAK ETAP tidak memadai bagi pemakai untuk memahami
pengaruh dari transaksi tertentu, peristiwa dan kondisi lain atas posisi keuangan dan
kinerja keuangan entitas.
2. Frekuensi Pelaporan
Entitas menyajikan secara lengkap laporan keuangan (termasuk informasi
komparatif) minimum satu tahun sekali. Ketika akhir periode pelaporan entitas
berubah dan laporan keuangan tahunan telah disajikan untuk periode yang lebih
panjang atau lebih pendek dari satu tahun, maka entitas mengungkapkan:
a) Fakta tersebut
b) Alasan penggunaan untuk periode lebih panjang atau lebih pendek; dan
c) Fakta bahwa jumlah komparatif untuk laporan laba rugi,laporan perubahan
ekuitas, laporan laba rugi dan saldo laba,laporan arus kas, dan catatan atas
laporan keuangan yang terkait adalah tidak dapat seluruhnya diperbandingkan.
3. Penyajian Yang Konsisten
Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar periode harus
konsisten kecuali:
a) Terjadi perubahan yang signifikan atas sifat operasi entitas atau perubahan
penyajian atau pengklasifikasian bertujuan menghasilkan penyajian lebih baik
sesuai kriteria pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi dalam Bab 9
Kebijakan Akuntansi, Estimasi, dan Kesalahan; atau
b) SAK ETAP mensyaratkan suatu perubahan penyajian. Jika penyajian atau
pengklasifikasian pos-pos dalam laporan keuangan diubah, maka entitas harus
mereklasifikasi jumlah komparatif kecuali jika reklasifikasi tidak praktis.
Entitas harus mengungkapkan hal-hal berikut jika jumlah komparatif direklasifikasi:
b) Jumlah setiap pos atau kelompok dari pos yang direklasifikasi; dan
c) Alasan reklasifikasi.
Jika reklasifikasi jumlah komparatif tidak praktis, maka entitas harus mengungkapkan:
a) Alasan reklasifikasi jumlah komparatif tidak dilakukan; dan
b) Sifat penyesuaian yang telah dibuat jika jumlah komparatif direklasifikasi.
4. Laporan Keuangan Yang Lengkap
Laporan keuangan entitas meliputi:
1. Neraca
2. Laporan laba rugi
3. Laporan perubahan ekuitas yang juga menunjukkan Seluruh perubahan dalam
ekuitas, atau Perubahan ekuitas selain perubahan yang timbul dari transaksi
dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik
4. Laporan arus kas; dan
5. Catatan atas laporan keuangan yang berisi ringkasan kebijakan akuntansi yang
signifikan dan informasi penjelasan lainnya.
Jika entitas hanya mengalami perubahan ekuitas yang muncul dari laba atau
rugi, pembayaran dividen, koreksi kesalahan periode lalu, dan perubahan kebijakan
akuntansi selama periode laporan keuangan disajikan maka entitas dapat menyajikan
laporan laba rugi dan saldo laba sebagai pengganti laporan laba rugi dan laporan
perubahan ekuitas.
Laporan keuangan lengkap berarti bahwa suatu entitas harus menyajikan minimum
dua periode dari setiap laporan keuangan yang disyaratkan dan catatan atas laporan keuangan
yang terkait. Dalam suatu laporan keuangan lengkap, suatu entitas menyajikan setiap laporan
2.4 Pengembang Hipotesis
2.4.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi Pengusaha Terkait Pentingnya Pembukuan dan Pelaporan Keuangan Bagi Usahanya
Persepsi merupakan suatu proses dari individu dalam memilih, mengelola, dan
menginterpretasikan suatu rangsangan yang diterimanya kedalam suatu penilaian terkait apa
yang ada disekitarnya (Schiffman dan Kanuk, 2010). Persepsi menjadi titik awal seseorang
dalam menilai dan menjalankan suatu hal, termasuk pembukuan dan pelaporan keuangan.
Dengan memandang bahwa pembukuan dan pelaporan merupakan hal yang penting bagi
berkembangnnya usaha, maka akan mendorong mereka untuk memulai melakukan
pembukuan atau bagi yang sudah memulai dapat lebih lagi meningkatkan kualitas laporan
keuangannya.
Beberapa hal yang dapat mempengaruhi persepsi pengusaha terkait pentingnya
pembukuan dan pelaporan keuangan bagi tumbuh dan berkembangnya usaha yaitu :
1. Jenjang Pendidikan Terakir
Jenjang pendidikan terakhir maksudnya tingkat pendidikan terakhir pengusaha atau
pemimpin usaha UMKM, umumnya, UMKM dipimpin langsung oleh pemilik sehingga
kemampuan manajerial pemilik tercermin dari tingkat pendidikannya. Dengan kata lain
semakin tinggi jenjang pendidikan pimpinan UMKM maka kemampuan manajerialnya akan
semakin baik.
Murniati (2002) menemukan bahwa pengusaha dengan jenjang pendidikan formal
yang rendah cenderung tidak memiliki persiapan dan penggunaan informasi akuntansi yang
memadai dibandingkan pengusaha yang memiliki pendidikan formal lebih tinggi. Hal