PERANAN ULAMA TAPANULI BAGIAN SELATAN
DALAM PENGEMBANGAN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM
1Erawadi
Direktur Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Padangsidimpuan Jln. T. Rizal Nurdin KM. 4,5 Sihitang Padangsidimpuan
e-mail: [email protected]
PENGENALAN
Proses islamisasi, termasuk juga proses transmisi dan difusi ajaran dan gagasan
Islam, di Tapanuli dilakukan oleh para ulama, terutama melalui lembaga pendidikan yang
mereka dirikan dan kembangkan di berbagai wilayah. Namun, sebagian peranan dan kiprah
para ulama tersebut hampir terlupakan, padahal jasa-jasa mereka sangat besar bagi
islamisasi dan pembinaan umat di wilayah Tapanuli, khususnya Tapanuli Bagian Selatan.
Tulisan ini berusaha mendiskripsikan peranan ulama Tapanuli Bagian Selatan dalam
pengembangan lembaga pendidikan Islam dengan pendekatan historis sosiologis. Sebelum
abad XX sebenarnya sudah berdiri beberapa lembaga pendidikan Islam di wilayah Tapanuli
Bagian Selatan, namun lembaga-lembaga tersebut tidak berkembang. Perkembangan pesat
terjadi mulai awal abad XX, setelah para ulama yang belajar di Haramain dan Mesir kembali
ke tanah airnya. Mereka mendirikan pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi, dan
sebagian lainnya mendirikan mesjid dan persulukan sebagai tempat pengabdiannya. Di
antara ulama yang mendirikan lembaga pendidikan yaitu Ahmad Zein, Zainuddin Abdul
Wahab, Muhammad Nur, Dahlan, Husein, Ahmad Daud, Muhammad Daud Hasibuan,
Mukhtar Harahap, Muhammad Salih Muktar, Usman Ridwan Hasibuan, dan Ali Hasan
Ahmad Addary. Sedangkan ulama dalam bidang tarekat dan persulukan, di antaranya
Muhammad Bashir al-Khalidi Naqsyabandi, Rowani al-Khalidi Naqsyabandi,
Syihabuddin Aek Libung, Sulaiman, Abdul Manan, Muhammad Baqi, Kadirun Yahya, dan
lainnya.
Oleh karena itu, kajian historis sosiologis tentang kiprah para ulama tersebut
sangat penting untuk dilakukan, sehingga tergambar benang merah atau jaringan
1
Disampaikan pada Seminar Antarbangsa Isu-Isu Pendidikan 2015 (IsPEN2015), kerja sama Kolej Universiti Islam Antarbangsa Selangor, Persatuan Intelektual Muslim Malaysia, Universitas Islam Negeri
Ar-Raniry Banda Aceh, dan Institut Kefahaman Islam Malaysia, tanggal 8 – 9 Juni 2015 di Auditorium Dr. Zainuddin
murid (intelectual genealogy) dan peranan mereka, khususnya dalam bidang
pengembangan lembaga pendidikan Islam.
PENGEMBANGAN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM
Sebelum abad XX sebenarnya sudah berdiri beberapa lembaga pendidikan Islam di
wilayah Tapanuli Bagian Selatan, namun karena pengaruh kebijakan pemerintah kolonial
Belanda lembaga-lembaga tersebut tidak berkembang, bahkan ditutup oleh pemerintah
Belanda. Pendidikan di Tapanuli Selatan pada umumnya diusahakan oleh pemerintah,
kecuali sekolah agama Islam yang tidak disubsidi, sedangkan di Tapanuli Utara pemerintah
menyubsidi sekolah-sekolah yang diusahakan misi Kristen. Di Sipirok, misalnya, sekolah misi
yang disubsidi oleh pemerintah sebagian besar muridnya adalah anak Muslim dan mereka
mendapat pelajaran agama Kristen. Tahun 1891 pemerintah kolonial menutup sekolahnya
di Bungabondar, dan atas permintaan misi, juga menutup sebuah sekolah Muslim di
Baringin, yang didirikan untuk menandingi sekolah Kristen.2
Pada awal abad XX, setelah para ulama yang belajar di Haramain kembali ke tanah
airnya, muncul dan berkembang kembali sejumlah lembaga pendidikan Islam. Di antara
ulama ini ada yang mendirikan pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi, dan sebagian
lainnya mendirikan mesjid dan persulukan sebagai tempat pengabdiannya. Di antara ulama
yang mendirikan lembaga pendidikan, yaitu Ahmad Zein, Zainuddin Abdul Wahab,
Muhammad Nur, Dahlan, Husein, Ahmad Daud, Muhammad Daud Hasibuan, Mukhtar
Harahap, Muhammad Salih Muktar, Usman Ridwan Hasibuan, Ali Hasan Ahmad Addary,
Syeikh Ahmad Zein, sekembalinya dari Mekah, mendirikan Pondok di Pintu Padang
Julu Siabu Mandailing Godang tahun 1901. Ia memimpin pondok ini selama 23 tahun.
Kemudian tahun 1924 ia mendirikan Pondok di Tanjung Paringgonan Barumun, desa asal
orangtuanya. Ia awalnya belajar pada seorang ulama terkemuka di Tanjung Balai, kemudian
tahun 1869 belajar di Mekah, selama 12 tahun, pada Syeikh Abdul Qadir bin Sobir yang
berasal dari Huta Siantar Panyabungan, Syeikh Abdul Jabbar yang berasal dari Mompang
Mandailing, dan Syeikh Abu Bakar Tambusai.
2
Lance Castles, The Political Life of A Sumatran Residency: Tapanuli 1915-1940, terj. Maurits
Simatupang, Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatra: Tapanuli 1915-1940 (Jakarta: KPG
Ahmad Zein lahir di Pintu Padang Julu Panyabungan Tonga Siabu tahun 1846 dan
meninggal di Huta Baringin/Sinonoan Siabu tahun 1950. Ia adalah anak pertama dari tiga
bersaudara. Silsilahnya Ahmad Zein bin Siak Muda bin Ja Lempang bin Ja Barumun bin Ja
Pinayungan bin Ja Barumun Sutan Pinayungan bin Mangaraja Solonggonan. Ia mempunyai
12 (dua belas) orang anak. Anaknya dari isteri pertama (menikah 1901) 4 (empat) orang,
yaitu Zubeir Ahmad, Salamah, Saridingin, dan Fatimah; dari isteri kedua (menikah 1911) 1
(satu) putera, yaitu Ali Hasan Ahmad; dan dari isteri ketiga (menikah 1918) memperoleh 3
(tiga) putera, yaitu Ali Husin, Kamil, dan Baharuddin, serta 4 (empat) puteri, yaitu Rukimah,
Siti Mayur, Saharo, dan Maryam.3
Tahun 1910 Syeikh Ismail Daulay (1873 –1948), setelah belajar di Mesjidil Haram
Mekah (1899 – 1906), kembali ke Hasona Padang Bolak, dan mengabdi di sana dengan
mendirikan pengajian di Pintu Padang Siunggam. Ia lahir di Hasona Padang Bolak tahun
1873, dan meninggal 1948. Ia anak ketiga dari delapan bersaudara, lainnya Tuan Syekh
Musa (guru suluk), Haji Sulaiman, Malim Badullah, Halipa Kadir, Jamilla, Halipa Jarajo, dan
Tawaju.4
Tahun 1915, seorang ulama terkemuka Tapanuli Bagian Selatan Syeikh Mustafa
Husein (1883-1955), yang kembali dari Mekah tahun 1912 setelah 12 tahun belajar di sana,
mendirikan pesantren/madrasah di Purbabaru dengan menggunakan metode tradisional,
menolak penekanan pada akal seperti yang dilakukan kaum reformis, dan malah
menghendaki penekanan pada otoritas. Hubungannya dengan pemimpin adat baik, dan
pe e i tah e gha gai loyalitas da ke ode ata ya . Ia elaja di Mekah di bawah bimbingan guru Minangkabau yang terkenal Syeikh Ahmad Khatib. Tahun 1936 ia menjadi
penasehat Jamiatul Washliyah untuk Sipirok. Tahun 1939 ia mendirikan organisasinya
sendiri, Al Ittihadiyah Islamiyah (AII). Pada tahun 1947 ia bergabung dengan Nadhlatul
Ulama (NU), sehingga ia menjadi inti NU di Sumatera Utara.5
Setelah pimpinan Pondok Pesantren Musthafawiyah, Syekh Mustafa Husein tahun
1955 M, meninggal dunia, Abdul Halim Khatib menggantikannya sebagai pimpinan Pondok
Pesantren tersebut yang menjadi peninggalan mertuanya. Ia juga pernah menjadi penasehat
3Nu ila “i ega , Pe di iPo dok ya g Pe ta a di Ma daili g Goda g ,
Risalah (Padangsidimpuan:
Fakultas Tarbiyah IAIN Sumatera Utara Padangsidimpuan, 1979), h. 20 – 28.
4Ti ai u “i ega , Me ge a g Jasa da Pe jua ga “yekh Haji Is ail Daulay Pi tu Pada g “iu gga , Risalah (Padangsidimpuan: Fakultas Tarbiyah IAIN Sumatera Utara Padangsidimpuan, 1984), h. 8, 10, 37.
5
Majlis Ulama Sumatera Utara. Hasil karyanya antara lain: Kasyaful Ghumah, Saiful Thalabah,
Baya us Syafi i, dan Tadzkirus Sahy.
Ulama lainnya yang mendirikan pondok adalah Zainuddin Abdul Wahab. Ia mendirikan
pondok di Gunungtua Panyabungan tahun 1920, dan memimpinnya selama + 15 (lima belas)
tahun. Tahun 1920 Muhammad Nur (Lobe Langkat) mendirikan pondok di Malintang Jae,
kemudian tahun 1938 Muhammad Nur pindah ke Huta Bangun dan mendirikan pondok di
sana. Tahun 1930 Dahlan mendirikan pondok di Lumban Dolok. Pondok ini menggunakan
sistem klasikal, mempunyai ruang belajar/lokal dengan peralatannya, tetapi tetap
menggunakan kurikulum pondok. Tahun 1935 Husin mendirikan pondok di Huraba.6
Syeikh Juneid Thala, yang nama kecilnya Manonga, lahir 1889 di Hutadolok Maga,
Kotanopan, Mandailing Natal (dulu Tapanuli Selatan), di kaki gunung Sorik Merapi dan
meninggal 1367 H/1948 M, juga termasuk ulama yang mempunyai peranan penting
dalam pengembangan lembaga pendidikan Islam di Tapanuli Bagian Selatan. Awalnya
ia belajar pada Lobe Hasan, murid Syeikh Abdul Wahab Rokan. Guru inilah kemudian
yang merekomendasikan Manonga untuk belajar Syeikh Abdul Wahab Rokan di
Babussalam, Langkat. Karena kezuhudan dan ketawadhuannya, Syeikh Abdul Wahab
memberikan nama Juneid kepada Manonga, sebagai peringatan pada nama Syeikh
Juneid al-Bagdadi, seorang sufi besar dan terkenal, sehingga namanya menjadi Juneid
Thala. Kemudian, ia melanjutkan pengembaraannya ke Kedah, Malaysia, dan berguru
pada Saleh Misri. Selanjutnya, ia pergi ke Bukit Martajam dan Padang Rengas.7
Tidak lama kemudian, ia berangkat dan belajar di Mesir selama 4 (empat) tahun.
Tahun 1925 M, ia kembali ke Padang Rengas, dan membuka sebuah perguruan. Dua
tahun kemudian, 1927 M, ia pun kembali ke kampung halamannya, Hutadolok Maga,
Kotanopan, Mandailing Natal. Awalnya, Ia menjadi guru agama sebagai pembantu di
madrasah yang dipimpin oleh Rasyid Nasution, kemudian ia membangun madrasah
yang lebih besar, yang kemudian menjadi Madrasah Islamiyah.
Di antara murid-murid asal Indonesia yang belajar bersamanya di Mesir, yaitu
Mukhtar Luthfi (tokoh Permi Sumatera Barat), Syeikh Idris (pengarang Kamus
al-Marbawi). Sebelum pulang ke tanah air, ia pun sempat belajar pada Syeikh Abdul Qadir
6Nu ila “i ega , Pe di i
Pondok yang Pertama …, h. 17 - 19. 7
al-Mandili di Mesjidil Haram. Sedangkan di antara muridn ya yang terkenal adalah
Muktar Lintang, yang atas bantuannya dapat meneruskan pelajaran ke Mesir.8
Tahun 1923 Syeikh Ahmad Daud, setelah pulang dari Haramain, mendirikan
pondok pesantren di Desa Gunungtua Julu Sosopan. Karena tempat tersebut sempit dan
tanah pertapakannya pinjam pakai, lalu ia memindahkan lokasi pesantrennya ke Aek
Nabundong (kira-kira 3 Km jaraknya dari Desa Gunungtua Julu) tahun 1925, kemudian
karena tempat tersebut dirasakannya juga kurang strategis, karena jauh dari pasar, ia pun
memindahkan lagi pesantrennya ke Nabundong, dan ia namakan pesantren tersebut
dengan Pesantren Darul Ulum Nabundong.
Syeikh Ahmad Daud, yang nama kecilnya Binu Siregar dan lebih populer Tuan
Nabundong, lahir tahun 1891 M di Sipirok Bagas Godang, dan meninggal t ahun 1981
M.9 Ia adalah murid Syeikh Abdul Wahab Rokan10, Syeikh Abdul Jalil al-Mandili, dan Tuan Guru Muktar. Pendidikannya diawali di Sipirok pada sekolah Vervolokh School
(setingkat SD), kemudian tahun 1913 belajar di Basilam Langkat. Tahun 1915 berangkat ke
Kedah Malaysia dan belajar di pesantren Air Hitam. Selanjutnya ia pergi ke Mekah untuk
memperdalam ilmunya selama 7 tahun.11
Tahun 1952, di samping mengelola pesantren, Syeikh Ahmad Daud juga membuka
Persulukan tarekat Naqsyabandiyah yang diterima dari ayahnya, Syeikh Daud, dan ayahnya
juga menerimanya dari Tuan Guru Basilam, Syeikh Abdul Wahab Rokan. Kegiatan yang
dibinanya kemudian dilanjutkan oleh putranya yang tertua, H. Daud Ahmad, alumni
Candung Sumatera Barat, sedangkan putranya yang lain, H. Usman, alumni pesantren
Cirebon, membuka pesantren sendiri di Aek Linta. 12
Tahun 1940 Syeikh Ali Hasan Ahmad al-Dary, yang lahir di Pintu Padang Julu Siabu, 9
Pebruari 1915 dan meninggal di Medan, 26 Februari 1998, mendirikan Madrasah Ma'hadul
Islahiddin di Huta Baringin Siabu. Ia ikut mendirikan Nahdlatul Ulama Sumatera Utara tahun
1947, pendiri Pendidikan Guru Agama Al Iman tahun 1958 yang kemudian menjadi PGAN
Padangsidimpuan dan akhirnya menjadi MAN 2 Padangsidimpuan, pendiri dan Dekan
8 Harun Nasution (Ket. Tim),
Ensiklopedi Islam …, h. 500. 9
Anwar Saleh Daulay, dkk., “eja ah Ula a Ula a Te ke uka Tapa uli “elata , Penelitian
(Padangsidimpuan: Fakultas Tarbiyah IAIN Sumatera Utara, 1987), h. 75. 10
A. Fuad Said, Syeikh Abdul Wahab Tuan Guru Babussalam (Medan: Pustaka Babussalam, 1983),
h. 135.
11A wa “aleh, “eja ah Ula a
-Ula a , h. , , da . 12
Sekolah Persiapan Perguruan Tinggi Agama Islam Tapanuli Selatan tahun 1960, dan pendiri
Universitas Islam Tapanuli (UNISTA) yang kemudian menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam
Tapanuli (STAITA).
Syeikh Muhammad Daud Hasibuan (1900 – 1965 M) mendirikan Madrasah Ibtidaiyah
Ilmiyah Di iyah Hasahata Julu da Mad asah Ja iyatul Watha iyah
Muhammadiyah Hasahatan Julu (1946). Pengabdiannya diawali dengan membuka pengajian
di rumahnya tahun 1932 – 1935. Kemudian tahun 1936 membuka sebuah sekolah dengan 3
(tiga) lokal dan tahun 1939 mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Ilmiyah Diniyah (5 lokal). Tahun
a a ya e u ah e jadi Mad asah Ja iyatul Watho iyah Muha adiyah Hasahatan Julu.
Muhammad Daud Hasibuan, yang lahir di Hasahatan Julu, Barumun tahun 1900 dan
meninggal 1 Zulqaidah 1384 H/4 Maret 1965 M, pernah belajar di Pondok Panyarung Kedah
Malaysia (1915 – 1919 dan Pondok Syik di Kedah Malaysia (1920 – 1924), di antara gurunya
Haji Yakub dari Kelantan Malaysia. Ia kemudian belajar di Mekah tahun 1925 – 1930.13
Mukhtar Harahap (lahir di Rondaman Lombang Padang Bolak tahun 1900 dan
meninggal Padang Bolak 15 Juli 1948) mendirikan Pesantren Pasir Pinang Sungai Dua Padang
Bolak tahun 1935 yang kemudian menjadi Pesantren Al-Mukhtariyah Sungai Dua. Ia
awalnya belajar di Sungai Dua (1908 – 1909) dan Tanjung Pura Langkat (1910 – 1914),
kemudian belajar di Pondok Syik di Kedah (1914 – pada “yeikh Haji Ya u “yik dan
Pondok Kenali Kelantan Malaysia (1920 –1925) pada Syeikh M. Yusuf (Syeikh Kenali).
Tahun 1925 –1931 ia melanjutkan studinya di Mekah. Di antara guru-gurunya adalah
Syeikh Mukhtar Bogor, Syeikh Abdul Qadir Mandili, Syeikh Ali Maliki Makki, “yeikh U a
Bajuri Hadhrami, Syeikh Abdurrahman Makki, Syeikh Umar Satha Makki, Syeikh Muhammad
Amin Madinah, Syeikh Muhammad Fathoni dan Ustaz Nila. Murid-muridnya kemudian
mendirikan pesantren di berbagai tempat, di antaranya Abdul Halim Hasibuan (pendiri
pesantren di Portibi), Guru Uteh (Pimpinan pondok pesantren di Simaninggir Padang Bolak),
Mursal (pimpinan pondok pesantren di Rondaman Dolok), Guru Jidin (pimpinan pondok
pesantren di Hotang Sasa), Zakaria (pimpinan pondok pesantren di Aloban), Harun Harahap
13M. )ulfa A. Hasi ua , Me ge a g Jasa da Pe jua ga “je h H. M. Daud Hasi ua ,
Risalah
(Padangsidimpuan: Fakultas Tarbiyah IAIN Sumatera Utara Padangsidimpuan, 1976), h. 8 – 34; Anwar Saleh,
(IAIN Sumatera Utara), Fahruroji Harahap (pernah kepala Pendidikan Agama Sumatera
Utara), dan Jurman Harahap (tentara Sabilillah).14
Demikian juga Muhammad Salih Muktar (w. 1937) mendirikan Pesantren Maktab
Syariful Majlis Galanggang Sibuhuan tahun 1930. Di samping pesantren, tahun 1930 juga
didirikan Madrasah Ibtidaiyah Maktab Syariful Majlis secara bersamaan, kemudian diikuti
dengan Madrasah Tsanawiyah NU Sibuhuan dan Madrasah Aliyah NU Sibuhuan di
Galanggang.
Muhammad Dahlan Hasibuan (1904 – 1973) mendirikan Pesantren Syeikh Muhammad
Dahlan tahun 1938. Ia awalnya membangun pesantren di Aek Hayuara Sibuhuan dengan
membuka Madrasah Tingkat Tsanawiyah dan Aliyah sebagai kelanjutan dari Madrasah
Ibtidaiyah yang sudah ada pada masa itu. Pesantren ini kemudian dikenal dengan Pondok
Pesantren Syeikh Muhammad Dahlan. Selanjutnya dipimpin oleh Haji Muktar Muda
Nasution, yang merupakan alumni Dar al-Ulama Mekah dan pernah sebagai pemimpinya.
Usman Ridhwan Hasibuan (1915 – 1962) setelah pulang dari Mekah mendirikan
Pesantren Paringgonan Barumun tahun 1940. Ia juga mendirikan Madrasah Ibtidaiyah
Paringonan dan Madrasah Tsanawiyah NU Paringgonan, kemudian disusul dengan
Madrasah Aliyah NU Paringgonan. Sedangkan Pendidikan Guru Agama (PGA) pertama di
wilayah Barumun adalah PGA NU Sibuhuan dan PGA NU Paringgonan. Berdirinya PGA NU
Sibuhuan adalah atas inisiatif Haji Mukhtar Muda Nasution, sedangkan PGA NU Paringgonan
atas inisiatif Haji Masykur Daulay.15
Salah satu informasi penting tentang lembaga pendidikan Islam di Tapanuli
Bagian Selatan terdapat dalam kitab Mabadi u Musthalah al-Hadits karangan Syeikh
Sulaiman yang menyebutkan beberapa nama guru, murid dan lembaga. Dalam kitab
te se ut dise utka ahwa “ulai a adalah ahad ab a i Da al-Ulu al-Diniyah bi Makkah al-Muha iyah” (salah seorang murid/alumni Dar al- Ulu al-Diniyah di
Mekah dan nadhir madrasah al-Syihabiyyah bi Sani-Sa i Sayu ati ggi A gkola Jae”
(pimpinan Madrasah al-Syihabiyah di Sane-Sane (Aek Libung), Sayurmatinggi, Angkola
14“iti Haja “i ega , Me ge a g Jasa da Pe jua ga Haji Mukhta Ha ahap
, Risalah
(Padangsidimpuan: Fakultas Tarbiyah IAIN Sumatera Utara Padangsidimpuan, 1984), h. 9 – 37; Mariana
Ha ahap, Pe ke a ga Pesa t e Al-Mukhta iyah “u gai Dua Po ti i Ke a ata Pada g Bolak , Risalah (Padangsidimpuan: Fakultas Tarbiyah IAIN Sumatera Utara Padangsidimpuan, 1983), h. 9.
15Palit Ha ahap, “uatu Ti jaua “eja ah te ta g Be di i ya Pe gu ua Aga a Isla di Ke a ata
Jae, Tapanuli Selatan.16 Dalam sumber tersebut juga disebutkan bahwa Muhammad Ya ku i A dul Qadi Ma daili g adalah seorang syeikh (syaikhuna) dan guru (ustazuna) bagi Syeikh Sulaiman. Ini menunjukkan bahwa Syeikh Sulaiman belajar atau
berguru kepada Syeikh Muha ad Ya ku ya g pe ah e jadi pe gaja ahadu
Mu alli i) di Dar al- Ulu Mekah, ke udia ke ali ke I do esia da e gaja di
Madrasah Musthafawiyah Purbabaru, Mandailing Natal. Demikian juga dengan
Muha ad Ja fa Pasa Pa ya u ga adalah seo a g syeikh (syaikhuna dan al-Syeikh) dan al-Ali al-Alla ah (semacam Guru Besar). Ini menunjukkan bahwa ilmu
Muha ad Ja fa telah e apai ti gkat te ti ggi, ki a-kira setingkat dengan Guru Besar.17
“yeikh Muha ad Ja fa , put a A dul Qadi al-Mandili, lahir di Mekah tahun 1314 H/1896 M dan meninggal di Panyabungan tahun 1378 H/1958 M. Di samping
pada orangtuanya, ia juga belajar pada Syeikh Ahmad Fada dari Mesir tentang seni
baca ( i a at) al-Qu a . Tahu ia pula g ke Hutasia ta , Pa ya u ga , a u
setahun kemudian, ia kembali ke Mekah menunaikan ibadah haji. Setelah selesai
ibadah haji, ia, bersama orangtuanya Syeikh Abdul Qadir al -Mandili, pulang ke
Indonesia, tetapi tidak langsung ke Penyabungan, ia menetap di Medan.
Atas permintaan masyarakat Panya u ga , akhi ya Muha a d Ja fa ke ali
ke Penyabungan untuk menjadi guru agama bagi masyarakat Panyabungan. Tahun
1935 M ia mendirikan Madrasah Mardhiyah Islamiyah. Mulanya ia mengajarkan fikih,
tauhid, Bahasa Arab, tafsir, dan Hadis, namun kemudian ia juga mengajar seni baca
al-Qu a se agai salah satu keahlia ya. Di a ta a u id-muridnya dalam bidang te akhi i i adalah H. Khalil A. Ka i , H. Khuwailid Ja fa put a ya , H. “afa , da H. Khuwalid Daulay. Di antara karyanya adalah U dat al-Ikhwan, Syair Barzanji, dan
Syai Is a Mi aj Nabi Muha ad. 18
Dalam kitab tersebut disebutkan juga nama Ali Hasan, dalam Mabadi u
Musthalah al-Hadits, 2 (dua) kali, pertama dengan sebutan Ali Hasan Pintu Padang
16
Sulaiman bin Syihabuddin, Mabadi u Mushthalah al-Hadits (Medan: Typ Indische Drukkerij,
t.th), h. kulit. 17
Sulaiman, Mabadi u, h. 4.
18
Julu, dan terakhir Ali Hasan Ahmad al-Dary.19 Kedua nama tersebut merujuk pada orang yang sama, yaitu Ali Hasan Ahmad al-Dary, disebut juga Ali Hasan Pintu Padang
Julu. Sebutan bagi Ali Hasan adalah seorang guru dan syeikh (ustazuna dan al-Syeikh).
Kedudukannya sebagai salah seorang pengajar (ahad muali i) di Dar al- Ulu al
-Diniyah dan (Madrasah) Mushthafawiyah Purbabaru. Disamping itu, ia juga sebagai
pimpinan (nadhir) Pesantren Al-Ishlahuddin. Penyebutan Ali Hasan kepada Sulaiman
sebagai anak didik (waladina fi al-il ) menunjukkan bahwa Ali Hasan Ahmad sebagai
salah seorang guru Sulaiman. Namun di sini terdapat hal yang menarik dalam
penyebutan gelar/lakab di akhir nama Sulaiman, yaitu gelar al-Dary. Gelar ini selain
dilekatkan pada Syihabuddin, orangtua dari Sulaiman (Syeikh Sulaiman bin Syihab
al-Din al-Dary), juga dimiliki oleh Ali Hasan Ahmad al-Dary. Penjelasan gelar al-Dary ini
menunjukkan bahwa mereka alumni Madrasah Dar al-Ulum Mekah.
Dalam sumber ini juga disebutkan beberapa nama madrasah yaitu Dar al- Ulu
al-Diniyah, Madrasah al-Syihabiyyah, Madrasah al-Mushthafawiyah, dan Ma had al
-Ishlah al-Din.20 Pertama, Dar al- Ulu al-Diniyah di Mekah. Di antara tenaga pe gaja ya adalah Muha ad Ya ku i A dul Qadi al-Mandailing dan Ali Hasan Ahmad al-Dary (Ali Hasan Pintu Padang Julu), sedangkan di antara muridnya adalah
Sulaiman bin Syihabuddin. Kedua, Madrasah al-Syihabiyyah disebutkan terdapat di
Sani-Sani (Aek Libung) Sayurmatinggi Angkola Jae, Tapanuli Selatan, yang dipimpin oleh
Sulaiman bin Syihabuddin. Nama ini merujuk kepada nama Syeikh Syihabuddin.
Pendiriannya dimaksudkan sebagai tempat pewarisan nilai-nilai dan ajaran yang
dikembangkan oleh Syihabuddin, dan sekaligus untuk mengenang dan mengabadikan
jasa-jasanya.
Ketiga, Madrasah al-Mushthafawiyah. Informasinya menyebutkan bahwa
terdapat sebuah lembaga pendidikan di Purbabaru yang disebut Madrasah
al-Mushthafawiyah. Di a ta a te aga pe gaja ya adalah Muha ad Ya ku i A dul
Qadir al-Mandailing dan Ali Hasan Ahmad al-Dary (Ali Hasan Pintu Padang Julu).
Keempat, Ma had al-Ishlah al-Din, dipimpin oleh Ali Hasan Pintu Padang Julu (Ali Hasan
Ahmad al-Dary). Penyebutan nama tiga lembaga pendidikan tersebut dengan
19
Lihat Sulaiman, Mabadi u, h. 4 dan 5. Sekarang, untuk mengenang jasa mereka, di Kabupaten
Mandailing Natal terdapat nama sekolah dengan namanya, yaitu MIS Ali Hasan Ahmad di Pintu Padang, dan MIS Ahmad Pintu Padang Julu di Desa Pintu Padang Julu.
20
Madrasah, sedangkan yang terakhir dengan nama Ma had yang sering diartikan
dengan pesa t e .21
Selain mendirikan lembaga pendidikan pesantren, madrasah, perguruan tinggi,
ulama Tapanuli Bagian Selatan juga mengembangkan pendidikan melalui tarekat. Di antara
para ulama tarekat tersebut adalah Syeikh Muhammad Bashir al-Khalidi Naqsyabandi,
Syeikh Rowani al-Khalidi Naqsyabandi, Syeikh Syihabuddin Aek Libung, Syeikh
Sulaiman, Syeikh Abdul Manan, Syeikh Muhammad Baqi, Kadirun Yahya, dan lainnya.22
Di samping ulama-ulama tersebut, baik ulama pesantren/madrasah, maupun
ulama tarekat, juga terdapat sejumlah ulama lainnya, yaitu Abdul Fatah (1703 – 1863
M) di Natal, Haji Yusuf dari Gunung Berani, Abdul Malik (1825 – 1910 M) di Hutasiantar
Panyabungan, Haji Muhammad Yunus (1834 – 1909 M) di Huraba Mandailing, Haji
Ibrahim Sitompul, Yusuf Ahmad Lubis (1912 – 1980 M) asal Sayur Maincat Kotanopan,
Ja fa Pada gsidi pua , Ka i Naga, Tajuddi ‘idwa Botu g, da M. Ya ku
Hutasiantar Panyabungan, Muhammad Thoib Nasution (1857-1964), Syamsuddin
Pulungan (1868 – 1919 M), Musa bin Muhammad Thoib Nasution (w. 1982), dan
murid-murid Abdul Wahab Rokan lainnya, yaitu Ramadhan, Muhammad Arsyad, Muhammad
Nur, Kasim, Abdul Kadir, Mukmin, Sulaiman, Malim Itam, Muhammad Rasyid,
Muhammad Saleh, dan Daud.
21Untuk mengetahui keberadaan (eksistensi), peranan, dan perkembangan selanjutnya madrasah
dan pesantren yang disebutkan di atas, juga madrasah dan pesantren lainnya, yang muncul sejak masa pra kemerdekaan, tentu menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk ditelusuri lebih lanjut dengan penelitian selanjutnya.
22
Lebih lanjut lihat Syihabuddin, Fath al-Qalb (t.tp.: t.p., t.th.), h. 66 - 69; Abu Bakar Tuanku Saidina I ahi , “eja ah ‘i gkas “ye h Maula a I ahi al-Khalidi – Ku pula dala
http://kumpulanpangai.blogspot.com, diakses Dese e ; A y Hasi ua , Ta ekat
Naqsyabandiyah Syekh Abdul Manan Siregar di Padangsidimpuan (Studi tentang Ajaran, Sosialisasi dan Kade isasi , Tesis Medan: IAIN Sumatera Utara Medan, 2003), h. 56 - 91; As i A ifi Hasi ua , Buku Sejarah Tuan Guru Syekh Muhammad Baqi (Tuan Guru Syekh Tarekat Naqsyabandi Babussalam) (Tapanuli Selatan: t.p, t.th.), h. kulit, 10 – 17; dan Djamaan Nur, Tasawuf dan Tarekat Naqsyabandiyah Pimpinan Prof. Dr. H. Saidi Syeikh Kadirun Yahya (Medan: USU Press, Cet. 2, 2002), h. 337-338; E awadi, Pusat-pusat Pe ke a ga Ta ekat Na sya a diyah di Tapa uli Bagia “elata , Miqot: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman, Vol. XXXVIII, Nomor 1 Januari – Juni 2015, pada http://jurnalmiqotojs.uinsu.ac.id/index.php/jurnalmiqot/ article/view/53
KESIMPULAN
Sebelum abad XX sebenarnya sudah berdiri beberapa lembaga pendidikan Islam di
wilayah Tapanuli Bagian Selatan, namun lembaga-lembaga tersebut tidak berkembang
karena faktor politis. Perkembangan pesat terjadi mulai awal abad XX, setelah para ulama
yang belajar di Haramain kembali ke tanah airnya. Di antara ulama ini ada yang mendirikan
pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi, dan sebagian lainnya mendirikan mesjid dan
persulukan sebagai tempat pengabdiannya.
Di antara ulama yang mendirikan lembaga pendidikan pesantren, madrasah atau
perguruan tinggi yaitu Ahmad Zein mendirikan pondok di Pintu Padang Julu Mandailing
Godang tahun 1901, Zainuddin Abdul Wahab mendirikan pondok di Gunungtua
Panyabungan 1920, Muhammad Nur mendirikan pondok di Malintang Jae 1938, Dahlan
pondok di Lumban Dolok 1930, Husein mendirikan pondok di Huraba 1935, Ahmad Daud
mendirikan pondok pesantren di Desa Gunungtua Julu Sosopan 1923, Muhammad Daud
Hasibuan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Ilmiyah Diniyah Hasahatan Julu 1939 dan
Mad asah Ja iyatul Watha iyah Muha adiyah Hasahata Julu , Mukhtar Harahap mendirikan Pesantren Pasir Pinang Sungai Dua Padang Bolak 1935 yang kemudian menjadi
Pesantren Al-Mukhtariyah Sungai Dua, Ali Hasan Ahmad Addary mendirikan pondok di Huta
Baringin, dan lainnya.
Sedangkan ulama tarekat yang berkiprah dalam bidang tarekat dan persulukan, di
antaranya Syeikh Muhammad Bashir al-Khalidi Naqsyabandi, Syeikh Rowani al-Khalidi
Naqsyabandi, Syeikh Syihabuddin Aek Libung, Syeikh Sulaiman bin Syeikh Syamsuddin
Pulungan, Syeikh Abdul Manan, Syeikh Muhammad Baqi, Kadirun Yahya, dan lainnya.
RUJUKAN
A.Fuad Said, Syeikh Abdul Wahab Tuan Guru Babussalam, Medan: Pustaka Babussalam, 1983.
Abd Ghani Asyraf Mohd Az i, “yeikh A dul Qadi i A dul Muttali Al-Mandili: “u a ga dala Il u Tauhid, Fi ah da Tasawuf , Masters Thesis, Malaysia: Universiti Utara Malaysia, 2013, dalam http://etd.uum.edu.my.
A u Baka Tua ku “aidi a I ahi , “eja ah ‘i gkas “ye h Maula a I ahi al-Khalidi – Ku pula dala http://kumpulanpangai.blogspot.com, diakses 27 Desember 2013.
Castles, Lance, The Political Life of A Sumatran Residency: Tapanuli 1915-1940, terj. Maurits Simatupang, Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatra: Tapanuli 1915-1940 (Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) bekerjasama dengan Yayasan Adikarya IKAPI dan The Ford Foundation, 2001.
Daulay, A wa “aleh, dkk., “eja ah Ula a Ula a Te ke uka Tapa uli “elata ,
Penelitian, Padangsidimpuan: Fakultas Tarbiyah IAIN Sumatera Utara, 1987.
Djamaan Nur, Tasawuf dan Tarekat Naqsyabandiyah Pimpinan Prof. Dr. H. Saidi Syeikh Kadirun Yahya, Medan: USU Press, Cet. 2, 2002.
Harahap, Mariana, Pe ke a ga Pesa t e Al-Mukhtariyah Sungai Dua Portibi
Risalah, Padangsidimpuan: Fakultas Tarbiyah IAIN Sumatera Utara Padangsidimpuan, 1976.
M.O. Parlindungan, Tuanku Rao, Jakarta: Tanjung Pengharapan, 1964.
Mahmud Yunus, Sedjarah Pendidikan Islam di Indonesia, Djakarta: 1960.
Mulka , “eja ah ‘i gkas “yekh “yiha uddi da Tho i ot ya , Tapanuli Selatan: t.pn., 2011.
Nasution, Harun (Ket. Tim), Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta: Djambatan, 1992.
Rangkuti, Affa , Biog afi “i gkat Ula a Lege da is Ma daili g “yeikh A dul Qadi al -Ma dili , dala http://haji.kemenag.go.id,16 Maret 2015.
Sulaiman bin Syihabuddin, Mabadi u Mushthalah al-Hadits, Medan: Typ Indische Drukkerij, t.th.
Syihabuddin, Fath al-Qalb, t.tp.: t.p., t.th.
Taufik Abdullah, Sejarah Lokal di Indonesia, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1979.
Vergouwen, J. C., The Social Organisation and Customary Law of the Toba Batak of Northern Sumatra, Ed. Fuad Mustafid, Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba,