• Tidak ada hasil yang ditemukan

BOOK Agus T, Eko Danang C Komunikasi Pembangunan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BOOK Agus T, Eko Danang C Komunikasi Pembangunan"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

SAYUR ORGANIK DI SURAKARTA

Agus Triyono dan Eko Danang Cahyanto

Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta

[email protected]; [email protected]

Pendahuluan

Program pembangunan pada dasarnya melibatkan minimal tiga komponen yaitu, pertama adalah komunikator pembangunan, bisa pemerintah atau masyarakat yang bertujuan membangun. Kedua yaitu pesan pembangunan, ide-ide ataupun program pembangunan. Ketiga berupa komunikan pembangunan, yakni masyarakat secara luas (Dilla, 2007). Konsep komunikasi pembangunan pada dasarnya melibatkan partisipasi masyarakat yang berperan sebagai komunikan dan diharapkan dapat menemukan gagasan atas permasalahan sosial yang ada.

Komunikasi pembangunan merupakan disiplin ilmu dan praktikum komunikasi dalam konteks negara-negara yang sedang berkembang, terutama kegiatan komunikasi untuk perubahan sosial yang berencana (Harun & Ardianto, 2011). Program atau kebijakan dalam komunikasi sosial pembangunan secara tidak langsung dapat menciptakan suatu perubahan sosial yang cenderung positif dan membangun. Program pembangunan direncanakan dengan pembaruan ataupun inovasi untuk pengelolaan sumber daya alam dan manusia ataupun kebijakan yang mencakup khalayak luas. Hal tersebut diharapkan dapat merubah masyarakat sesuai dengan visi misi program pemberdayaan yang telah direncanakan.

(2)

dan lingkungan merupakan salah satu aspek yang perlu dicermati dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Seperti penjelasan Sulaeman (2012) bahwa kesejahteraan masyarakat saat ini menurut

UNDP diukur oleh Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) yang merupakan indikator komposit yang terdiri atas tiga indikator sektor pembangunan. Pertama pendidikan (sebagai ukuran knowledge), kesehatan (sebagai ukuran longevity) dan ekonomi yaitu tingkat pendapatan riil (sebagai ukuran living standars). Aspek kesehatan juga dipengaruhi oleh baik buruknya status gizi masyarakat.

Makan buah dan sayur setiap hari menjadi salah satu indikator Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Sebanyak 19,6% di Indonesia masih ada gizi kurang (Riskesdas, 2013). Dalam meningkatkan status gizi yang baik diperlukan program pemberdayaan masyarakat yang berkesinambungan. Program pemberdayaan kesehatan dan gizi masyarakat dapat dimulai dari hal yang sederhana dengan memanfaatkan sumber daya yang ada. Pengelolaan sumber daya yang ada diharapkan dapat menciptakan produktivitas bagi masyarakat, dan yang utama mampu menciptakan kemandirian serta mewujudkan masyarakat yang sehat.

Pembangunan dalam aspek kesehatan dan gizi dapat diterapkan melalui program pengeloaan sumber daya alam yang berbasis ramah lingkungan. Program pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan yang cenderung dijalankan saat ini adalah kebun gizi mandiri.Di Indonesia sendiri sudah ada beberapa wilayah yang sukses menjalankan program kebun gizi mandiri. Di Sukoharjo misalnya, terdapat kebun gizi mandiri tingkat RT yang dijalankan berkesinambungan oleh Kelompok Wanita Tani Manunggal Mandiri. Contoh lain yang berhasil adalah kebun gizi di Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul yang telah mendapatkan penghargaan MDGs award 1 pada tahun 2013 (bantulkab.go.id, 2014). Sementara itu pada tahun 2013 giliran kebun gizi di Makassar yang dikelola Rumah Zakat mendapatkan MDGs Award untuk kategori nutrisi (Rumahzakat.org, 2014). Kebanyakan kebun gizi mandiri telah berhasil dalam meningkatkan indikator gizi keluarga di Indonesia.

(3)

Sutan, Mojosongo, Surakarta. Rumah Zakat mengusulkan program pemberdayaan melalui kebun gizi mandiri, setelah melakukan survey lahan yang ternyata memiliki potensi untuk dikembangkan. Gagasan tersebut kemudian dilanjutkan oleh masyarakat Ngemplak Sutan yang tergabung dalam Kelompok Swadaya Masyrakat (KSM) Kahuripan Sejahtera dengan program kampung sayur organik. Pemilihan objek penelitian didasarkan pada proximity yaitu kedekatan geograis sehingga memudahkan penulis untuk melakukan observasi. Selain itu program yang dijalankan oleh KSM Kahuripan Sejahtera tersebut telah dikenal secara luas di wilayah Surakarta dibuktikan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Dwi Endah dan Joko Adianto mengenai keberhasilan program inovasi kebun gizi Solo.

Penelitian Grade Imoh (2013) menekankan pada partisipasi masyarakat pedesaan di Afrika dalam program pembangunan yang dikonsep oleh pemerintah. Penelitian ini mengusulkan adanya desentralisasi dan pendekatan interpersonal dan kelompok agar masyarakat dapat memiliki akses pada informasi dan media massa. Penelitian ini membahas tentang dampak dari komunikasi pembangunan di masyarakat pedesaan Afrika dan mengamati bahwa sebagian besar program pemerintah tidak mencapai tujuan yang diinginkan. Karena itu, konsep bottom-up yang dimaksudkan adalah pendekatan komunikasi horizontal dan partisipatif yang secara aktif melibatkan masyarakat pedesaan di konseptualisasi masalah, menetapkan tujuan dan merancang strategi dan menyampaikan pesan yang mampu dijangkau semua masyarakat. Pemahaman yang seragam dapat melancarkan penerimaan pesan pembangunan (Imoh, 2013).

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah strategi komunikasi pembangunan yang digunakan KSM Kahuripan Sejahtera dalam memberdayakan masyarakat melalui program kampung sayur organik?

Telaah Pustaka

Pemberdayaan Masyarakat: Paradigma Baru Komunikasi Pembangunan

(4)

secara timbal balik) diantara semua pihak yang terlibat dalam usaha pembangunan antara masyarakat dengan pemerintah. Kegiatan dimulai sejak proses perencanaan, pelaksanaan, kemudian penilaian pembangunan. Sedangkan arti sempitnya, komunikasi pembangunan merupakan segala upaya dan cara serta teknik penyampaian pesan gagasan dan keterampilan pembangunan yang berasal dari pihak yang memprakarsai pembangunan dan ditujukan kepada masyarakat (Nasution, 2012).

Komunikasi pembangunan bersifat timbal balik dan mementingkan adanya dialog antara kedua belah pihak. Tujuannya untuk memberikan informasi atau menyampaikan pesan dengan pihak yang menerima pesan atau informasi, dan antara khalayak itu sendiri. Dengan demikian, komunikasi sosial dilaksanankan secara bebas, terbuka, terarah, jujur, dan bertanggung jawab. Keberhasilannya sangat bergantung dari adanya iklim yang diliputi rasa saling percaya antara pemerintah dan masyarakat serta adanya itikad baik atas dasar kepentingan nasional (Harun & Ardianto, 2011).

Menurut Rogers dalam Choudhury (2011) komunikasi pem-bangunan mengacu pada penggunaan komunikasi yang digunakan untuk pengembangan berkelanjutan. Dengan demikian dapat dikatakan pendekatan komunikasi yang ditujukan kepada masyarakat menunjukkan bahwa informasi sebagai suatu hal yang dapat memperbaiki kehidupan mereka (Choudhury, 2011). Informasi berperan penting dalam kelangsungan strategi komunikasi pembangunan yang melibatkan komunikasi antar anggota masyarakat. Komunikasi yang dilakukan menunjukkan adanya pendekatan partisipatif.

Pendekatan komunikasi yang dikembangkan dengan paradigma partisipatif harus mendorong proses berbasis kerangka kerja untuk menciptakan ruang berbagi informasi dan bertujuan untuk memberikan orang alat untuk merancang, membahas dan melaksanakan pembangunan mereka sendiri (Reeves, 2015). Dalam penelitian ini masyarakat Ngemplak Sutan telah dibekali sosialisasi mengenai pengelolaan kampung sayur oleh Rumah Zakat.

(5)

ketidakadilan. Komunikasi pembangunan merupakan salah satu terobosan di lingkungan ilmu sosial. Seperti mana terobosan lainnya, komunikasi pembangunan pada dasarnya merupakan gagasan dan konsep yang tidak mudah untuk diapresiasi atau dipahami sampai kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk tindakan. Komunikasi pembangunan merupakan inovasi yang harus diusahakan agar diketahui orang dan diterima, sebelum digunakan (Harun & Ardianto, 2011). Melihat penjelasan dari Harun & Ardianto dapat disimpulkan bahwa komunikasi pembangunan merupakan kegiatan berencana yang bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat. Dalam penentuan gagasan dan konsep komunikasi pembangunan diperlukan pemahaman dan antusias dari masyarakat dalam mengapresiasi program pembangunan. Hal tersebut diperlukan dalam memuluskan program komunikasi pembangunan.

Dalam komunikasi pembangunan, penggunaan pesan yang berbeda untuk mengubah kondisi sosial-ekonomi masyarakat sangat diperlukan. Pesan ini dirancang untuk mengubah perilaku masyarakat atau untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Oleh karena itu, komunikasi pembangunan dapat dideinisikan sebagai cara masyarakat untuk mempromosikan pembangunan mereka sendiri(Choudhury, 2011).

Dalam penelitian ini masyarakat kampung Ngemplak Sutan, Mojosongo, Surakarta yang tergabung dalam KSM Kahuripan Sejahtera mencoba memanfaatkan sumber daya alam disertai keterampilan yang telah disosialisasikan oleh Rumah Zakat. Sumber daya dan keterampilan berupa pengelolaan kampung sayur sejatinya tidak familiar dengan masyarakat Ngemplak Sutan. Masyarakat yang menjalankan program kampung sayur organik memerlukan dorongan dan motivasi dari luar agar program dapat berjalan secara berkelanjutan.

(6)

Pemberdayaan masyarakat mempunyai tujuan untuk mengubah individu atau kelompok masyarakat menuju kemandirian (Mustafa & Asyiek, 2015). Hal tersebut karena komunikasi sosial pembangunan mencakup tentang bagaimana sebuah komunikasi dilakukan dalam upaya mendukung atau melaksanakan perencanaan program sosial masyarakat. Pemberdayaan masyarakat merupakan bentuk dari pembangunan yang berpusat pada manusia. Pemberdayaan masyarakat juga merupakan bentuk pembangunan yang direncanakan, sesuai dengan potensi, masalah, dan kebutuhan masyarakat. Pemberdayaan ditujukan agar masyarakat mampu berdaya, memiliki daya saing, menuju kemandirian. Oleh karena itu, dalam proses pembangunan di era globalisasi, pemberdayaan merupakan bentuk pembangunan yang sangat penting (Anwas, 2014).

Pemberdayaan adalah upaya berkelanjutan yang dilakukan dengan menciptakan suatu proses yang dapat membantu masyarakat miskin menuju masyarakat mandiri (Nengsih, Dwina, Sari, Maulida, & Nazirun, 2015).Pemberdayaan melalui kebijakan dan perencanaan dicapai dengan mengembangkan atau mengubah struktur dan lembaganya untuk mewujudkan akses yang lebih adil kepada sumber daya. Atau melalui berbagai layanan dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. Berbagai kebijakan aksi airmatif atau diskriminasi positif mengakui keberadaan kelompok-kelompok yang dirugikan (kadang-kadang dinyatakan secara spesiik dalam istilah-istilah struktural), dan berupaya untuk memperbaiki keadaan ini dengan ‘mengubah aturan-aturan’ untuk menguntungkan kelompok yang dirugikan (Ife & Tesoriero, 2014). Secara sederhana apa yang dikatakan oleh Ife menyetujui pemberdayaan masyarakat sejatinya kembali pada masyarakat itu sendiri yang mengalami permasalahan atau dirugikan. Partisipasi masyarakat Ngemplak Sutan sebelumnya diprakarsai oleh lembaga dari luar yang melihat potensi lahan yang bagus. Munculnya KSM Kahuripan Sejahtera membuktikan bahwa masyarakat berpartisipasi dalam pemberdayaan yang sejatinya akan berdampak positif.

(7)

penting untuk memberikan dan menerima dukungan sosial, membangun modal sosial dan mengambil tindakan sosial (Christens, 2012). Program pemberdayaan diharapkan membawa perubahan pada masyarakat konvensional yang diharapkan berubah menjadi masyarakat yang lebih dinamis dan terlibat aktif dalam program pemberdayaan, menjadi mandiri dalam menemukan potensi yang ada di masyarakat itu sendiri (Mustafa & Asyiek, 2015).

Tantangan yang ada dalam pemberdayaan adalah membentuk kemitraan antara pemerintah di semua tingkatan, organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, lembaga adat, kelompok perempuan dan pemuda untuk memastikan bahwa rencana dari program dan kebijakan pembangunan telah menargetkan orang-orang pedesaan yang sensitif, inklusif, endogen dan partisipatif (Imoh, 2013). Partisipasi masyarakat menjadikan mereka menyadari eksistensi dan memberikan kesempatan untuk mendapat keterampilan yang bisa dimanfaatkan secara berkesinambungan.

Pemberdayaan ditujukan untuk mengubah perilaku masyarakat agar mampu berdaya sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan. Namun keberhasilannya tidak hanya menekankan pada hasil, tetapi juga pada prosesnya melalui tingkat partisipasi yang tinggi, berbasis pada kebutuhan dan potensi masyarakat (Anwas, 2014). Menurut Suharto (2005) dalam Anwas (2014), penerapan pendekatan pemberdayaan dapat dilakukan melalui 5P yaitu: pemungkinan, penguatan, perlindungan, penyokongan, dan pemeliharaan. Penjelasannya sebagai berikut:

Pemungkinan; menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang secara optimal.

Penguatan; memperkuat pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki masyarakat dalam memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

Perlindungan; melindungi masyarakat terutama kelompok lemah agar tidak tertindas oleh kelompok kuat, menghindari persaingan, mencegah terjadinya eksploitasi kelompok kuat terhadap kelompok lemah.

(8)

Pemeliharaan; memelihara situasi yang kondusif agar tetap terjadi keseimbangan distribusi kekuasaan antara berbagai kelompok dalam masyarakat.

Penelitian ini menggunakan poin 5P tentang penerapan pendekatan pemberdayaan untuk melihat bagaimana proses komunikasi pembangunan yang dijalankan oleh KSM Kahuripan Sejahtera.

Strategi Komunikasi Pembangunan: Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Partisipasi

Strategi dalam komunikasi pembanguan sangat penting untuk dapat menentukan sebuah langkah efektif dan dilakukan dengan tindakan yang benar.Strategi merupakan hal utama yang harus dipikirkan untuk penentuan rencana komunikasi pembangunan. Hal tersebut penting karena masing-masing wilayah memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan harus dengan pendekatan yang berbeda (Dilla, 2007). Perencanaan pembangunan pada suatu daerah atau pedesaan harus diperlukan konsep strategi pembangunan yang matang sehingga dapat memaksimalkan potensi sumber daya yang ada.

Strategi adalah suatu rencana umum yang bersifat menyeluruh dan mengandung arahan tentang tindakan-tindakan utama, yang apabila terlaksana dengan baik akan berpengaruh pada tercapainya berbagai tujuan jangka panjang. Strategi pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan adalah cara untuk menumbuhkan dan mengembangkan norma yang membuat masyarakat mampu berperilaku hidup bersih dan sehat (Sulaeman, 2012). Salah satu strategi untuk membangkitkan partisipasi aktif individu anggota masyarakat adalah melalui pendekatan kelompok. Pembangunan yang ditujukan kepada pengembangan masyarakat, akan mudah dipahami apabila melibatkan agen-agen lokal melalui suatu wadah yang dinamakan kelompok (Tampubolon, 2013).

(9)

Masyarakat harus kompeten untuk membuat keputusan yang bermakna dan otentik serta berpartisipasi secara setara dalam proses pembangunan. Mereka harus diberdayakan sehingga mereka dapat menerima dan memberikan informasi yang setara dalam proses bersama. Tujuannya adalah untuk membangun kapasitas komunikasi dari masyarakat pedesaan sehingga mereka dapat memiliki keterampilan dan kesempatan untuk berpartisipasi (Imoh, 2013). Adanya pemberdayaan dapat dilihat pada kemampuan masyarakat untuk mandiri, membuat keputusan dan keinginan untuk keluar dari tekanan (Mustafa & Asyiek, 2015).

Pada dasarnya sebuah konsep pemberdayaan masyarakat selalu mencakup partisipasi masyarakat (Christens, 2012). Partisipasi masyarakat dalam program pembangunan diharapkan dapat memanfaatkan potensi daerah yang telah dikenal sehingga capaian atau hasil lebih maksimal dan berkesinambungan. Salah satu bukti suksesnya program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat dapat dilihat dari kesejahteraan dan kemandirian masyarakat dalam mengelola sumber daya yang ada. Peningkatan partisipasi masyarakat merupakan salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat yang berorietasi pada pencapaian hasil pelaksanaan yang dilakukan masyarakat (Triyono, 2014).

Aspek gizi merupakan hal yang sangat penting pada masyarakat pedesaan pada negara yang sedang berkembang.Pemberdayaan di bidang kesehatan sebagai salah satu sub sistem dalam SKN (2009) merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan, baik perorangan, kelompok, maupun masyarakat secara terencana, terpadu dan berkesinambungaan guna tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya (Sulaeman, 2012). Dalam penelitian ini aspek kesehatan fokus pada pemberdayaan masyarakat tentang pengelolaan kampung sayur organik.

(10)

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pendekatan kualitatif dapat membantu peneliti dalam memahami fenomena yang dialami oleh subjek, seperti perilaku, persepsi, motivasi, tindakan yang dideskripsikan melalui kata-kata (Moleong, 2010). Secara sederhana penelitian kualitatif adalah penelitian yang bersifat interpretif (menggunakan penafsiran) yang melibatkan banyak metode dalam menelaah masalah penelitiannya. Penggunaan berbagai metode ini dimaksudkan agar peneliti memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai fenomena yang diteliti (Mulyana et al., 2007).

Dalam penelitian, penentuan subjek dan objek diperlukan untuk memudahkan penulis mengkategorikan masalah atau informasi apa yang akan dicari dan penentuan informan dalam pengumpulan data. Subjek dalam penelitian ini adalah KSM Kahuripan Sejahtera yang beranggotakan warga RW 37 kampung Ngemplak Sutan, Mojosongo, Jebres, Surakarta. Sedangkan objek penelitiannya adalah strategi komunikasi pembangunan melalui kampung sayur organik yang dijalankan oleh KSM Kahuripan Sejahtera.

Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui dokumentasi dan observasi di lapangan. Data dokumentasi juga diperoleh melalui sumber pustaka baik jurnal maupun buku referensi lain. Sedangkan observasi dilakukan peneliti dengan cara mengamati secara langsung program kampung sayur organik yang dijalankan oleh warga Ngemplak Sutan.

Penentuan informan menggunakan teknik snowball. Dalam teknik ini penentuan sampel berawal dengan jumlah kecil, kemudian berkembang semakin banyak. Sampel pertama diminta menunjuk orang lain untuk dijadikan sampel lagi (Kriyantono, 2010). Informan pertama adalah Mulyadi selaku ketua KSM Kahuripan Sejahtera yang dianggap mampu menjawab pertanyaan penelitian. Informan pertama merekomendasikan Suradi yang menjabat sebagai ketua RW 37 dan Paryanto selaku ketua RT 1 sebagai informan selanjutnya.

(11)

berada pada pokok permasalahan yang akan ditanyakan (Kriyantono, 2010). Selama proses wawancara peneliti melakukan proses perekaman dengan recorder, mulai dari awal hingga akhir proses wawancara. Selain itu, pencatatan juga harus dilakukan untuk melengkapi data dari tape recorder (Asmara & Kusuma, 2016). Perekaman menggunakan tape recorder dapat membantu peneliti untuk proses reduksi data.

Dalam penelitian ini analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang dibagi menjadi tiga tahap, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan serta veriikasi (Moleong, 2010). Tahap pertama peneliti mengumpulkan data dari hasil wawancara dan melakukan reduksi untuk memilih dan merangkum data untuk dikategorikan sesuai dengan konsep permasalahan. Kemudian dilakukan penyajian data dengan memasukkan hasil wawancara dan observasi melalui sebuah uraian dan narasi. Selanjutnya adalah penarikan kesimpulan yang sebelumnya telah dianalisis menggunakan teori yang telah dipaparkan.

Untuk keabsahan data peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber. Triangulasi sumber adalah teknik untuk membandingkan den mengecek balik drajat kepercayaan suatu informasi yang didapat melalui sumber yang berbeda (Kriyantono, 2010). Salah satu cara yang dilakukan adalah membandingkan hasil pengamatan langsung melalui dokumentasi dengan hasil wawancara oleh informan, serta membandingkan dengan pendapat umum yang berasal dari non informan. Penelitian ini dimulai pada bulan Maret 2016 dan proses pengumpulan data dilakukan pada bulan Desember 2016 sampai Januari 2017.

Hasil Dan Pembahasan

KSM Kahuripan Sejahtera dan Program Kampung Sayur Organik

(12)

Hidup Bersih dan Sehat). Bentuk nyata kunjungan tersebut adalah pembentukan kebun gizi mandiri yang dikelola secara kelompok. KSM Kahuripan Sejahtera berperan dalam pengelolaan kebun gizi mandiri yang digalakkan oleh Rumah Zakat. Dalam pembahasan, penulis mengkategorikan penerapan pendekatan pemberdayaan menurut Soeharto (2005) berupa 5P, yaitu:

a. Pemungkinan

Untuk menjalankan program pemberdayaan diperlukan adanya pengembangan ide yang berasal dari potensi masyarakat yang menjadi objek pembangunan. Rumah Zakat menyadari adanya potensi yang dimiliki oleh kampung Ngemplak Sutan dalam penerapan program dengan dasar lahan pekarangan warga yang kurang dimanfaatkan. Hal tersebut sesuai dengan yang dikatakan oleh informan, yaitu:

“Untuk inisiator program dari Rumah Zakat.Awalnya sebelum ada program kampung sayur, Rumah Zakat memberikan program di bidang kesehatan ada pemeriksaan jentik, posyandu, senam sehat dsb. Mungkin untuk peningkatan gizi masyarakat kan kalo bisa diadakan kebun gizi mandiri. Makanya kita bentuk kebun gizi yang dikelola oleh kelompok.” (wawancara dengan Paryanto, tanggal 18 Januari 2017)

“Sebelum ada program kampung sayur ini sebenarnya Ngemplak Sutan termasuk wilayah gersang, pihak RZ mungkin menyadari potensi lahan sempit dari warga yang kurang dimanfaatkan. Nantinya kan bisa mengurangi imej gersang di kampung ini kalo programnya jalan.” (wawancara dengan Mulyadi, tanggal 7 Januari 2017)

Apa yang dikatakan informan diatas menegaskan bahwa munculnya program kampung sayur organik berawal dari gagasan pihak luar. Rumah Zakat berperan dalam menciptakan iklim yang baik terkait potensi masyarakat Ngemplak Sutan dalam menjalankan program pemberdayaan. Sesuai dengan poin pemungkinan yang disampaikan Soeharto (2000) melalui Anwas (2014). Dalam hal ini, program kampung sayur organik telah menunjukkan bagaimana potensi atau kemungkinan pemberdayaan dapat dilihat dan dikembangkan oleh pihak luar yaitu Rumah Zakat.

(13)

berjalan lancar ketika masyarakat sebagai objek mau dan terbuka dalam menerapkan ide dari program. Munculnya program kampung sayur organik didukung oleh inisiatif beberapa tokoh masyarakat RW 37 Ngemplak Sutan, seperti yang dikatakan oleh informan 1 selaku ketua KSM, yaitu:

“Kesadaran masyarakat akan kesehatan pada awalnya memang sangat kurang sekali, sehingga dari sana kita sebagai tokoh masyarakat memunculkan suatu gagasan bagaimana agar kampung Ngemplak Sutan ini menjadi kampung yang lebih bersih, lebih sehat dengan lingkungan yang terjaga sehingga nantinya kesehatan lingkungan ataupun kesehatan masyarakat itu dengan sendirinya bisa tercapai dengan aktivitas program kampung sayur organik.” (wawancara dengan Mulyadi, tanggal 7 Januari 2017)

Hal tersebut sejalan dengan apa yang dikatakan Dilla (2007) bahwa komunikasi pembangunan berisi kajian yang tidak lepas dari usaha penyampaian berupa ide, gagasan, dan inovasi kepada sejumlah besar orang. Dalam kasus ini Rumah Zakat mengeluarkan ide program peningkatan gizi yang direspon oleh beberapa tokoh masyarakat yang mempunyai inisiatif melakukan pemberdayaan.

Respon masyarakat berupa pembentukan kelompok untuk mengelola program. Pembentukan kelompok sesuai dengan apa yang dikatakan Ife & Tesoriero (2014) bahwa pemberdayaan melalui kebijakan dan perencanaan dicapai dengan mengembangkan atau mengubah struktur dan lembaganya. Untuk mewujudkan akses yang lebih adil kepada sumber daya atau berbagai layanan, dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.Untuk menncapai pembangunan, KSM mengusulkan program pemberdayaan yang menyeluruh dan mencakup partisipasi semua masyarakat. Seperti yang dikatakan informan 1 sebagai berikut:

“Awal mula program adalah menciptakan kebun gizisebagai sarana untuk pencapaian program selanjutnya dimana sasaran kita adalah untuk menciptakan taman sayur organik di setiap pekarangan rumah masing-masing warga. Sasaran utama kita adalah semua warga RW 37. Maka dari situ kita buat kampung sayur organik.” (wawancara dengan Mulyadi, tanggal 7 Januari 2017)

(14)

Kebun gizi dibuat di kawasan RW 37 yang mencakup RT 1, 2 dan 3. Lahan percontohan tersebut yang kemudian dikembangkan menjadi kampung sayur organik yang ditujukan kepada seluruh warga. Pembuatan KSM merupakan inisiatif dari beberapa tokoh masyarakat yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan keluarga. Selain peningkatan kesehatan, program tersebut diharapkan dapat menjadi sarana untuk memberdayakan masyarakat sehingga menjadi lebih mandiri.

b. Penguatan

Dalam menjalankan program, KSM menerima pengetahuan dari studi banding dan pelatihan yang telah diterima. Pengetahuan tersebut digunakan untuk sosialisasi kepada masyarakat RW 37 yang belum mengerti tentang teknik penanaman sayuran. Bentuk pelatihan sebagaimana dikatakan oleh informan 2 sebagai berikut:

“KSM dulu pernah mendapat pelatihan dan studi banding. Rumah Zakat mengirim beberapa orang dari pengurus kelompok untuk melakukan studi banding ke lembaga Oiska yang berada di Karanganyar. Oiska merupakan lembaga tentang pengelolaan pertanian yang berasal dari Jepang. Disana kita belajar tentang teknik penanaman hingga panen, bahkan pengelolaan bibit juga diajarkan.” (wawancara dengan Paryanto, 18 Januari 2017)

(15)

c. Perlindungan

Kampung sayur organik merupakan program yang dijalankan KSM Kahuripan Sejahtera secara mandiri. Dalam menjalankan sebuah program pembangunan tentunya diperlukan sebuah lembaga yang berfungsi untuk melindungi orginasasi dari ancaman pihak luar. Seperti yang dijelaskan Soeharto (2005) melalui poin perlindungan yaitu melindungi masyarakat terutama kelompok lemah agar tidak tertindas oleh kelompok kuat, menghindari persaingan, mencegah terjadinya eksploitasi kelompok kuat terhadap kelompok lemah. Pihak yang berperan memberikan perlindungan bagi KSM dikatakan oleh informan 2 sebagai berikut:

“Program kita itu setelah berjalan kan mendapat perhatian dari pihak luar. Kemudian dari pihak kelurahan merangkul dan setelahnya menjadi badan yang bertanggung jawab melindungi program kita kampung sayur organik.”(wawancara dengan Suradi, 7 Januari 2017)

Dalam pelaksanaannya, program kampung sayur organik tidak mendapat ancaman ataupan hambatan dari pihak lain. Perlindungan dalam program ini hanya berfungsi menjadi pihak yang bertanggung jawab secara hukum. Program pemberdayaan di Ngemplak Sutan merupakan inisiatif dari beberapa pihak dan hampir semua masyarakat merespon secara positif sehingga meminimalkan hambatan ataupun ancaman. Hal tersebut dikemukakan oleh informan 3, yaitu:

“Untuk fungsi perlindungan itu sebenarnya kita tidak ada ancaman dari luar, disini kan program kita membangun. Kelurahan melindungi kita sebenarnya juga merupakan bentuk apresiasi terhadap kampung sayur organik. Selebihnya tidak ada ancaman dari pihak luar.” (wawancara dengan Paryanto, 18 Januari 2017)

Kampung sayur organik mendapat perlindungan oleh pemerintah sebagai bentuk apresiasi atas penerapan program pemberdayaan. Kelurahan Mojosongo sebagai wilayah yang menaungi RW 37 berperan untuk menjaga situasi kondusif pada kelangsungan program kampung sayur organik.

d. Penyokongan

(16)

menuju mandiri menjadi pemicu bagi KSM sebagai pelopor program untuk bersedia belajar. Hal tersebut pentinguntuk bekal dalam penyampaian program pemberdayaan kepada warga lain yang menjadi sasaran program. Seperti yang dikatakan oleh informan 2 sebagai berikut:

“Kita tidak lepas dari pembina yaitu Rumah Zakat yang selalu memantau dari nol sampai sekarang.Dulu waktu sosialisasi itu dengan adanya Rumah Zakat yang ikut membimbing, kita dicarikan ilmu melalui studi banding ke daerah tertentu. Akhirnya dari beberapa warga yang ikut pelatihan dan tergabung dalam KSM itu menjadi pembimbing bagi warga lain.” (wawancara dengan Suradi, tanggal 7 Januari 2017)

Apa yang dikatakan informan diatas diperkuat dengan data dokumentasi berupa deskripsi program yang dipublikasikan oleh Rumah Zakat. Bisa dipastikan bahwa Rumah Zakat selain menjadi perintis program juga menjadi pembina dan penyokong dalam pelaksanaan program yang dijalankan oleh KSM Kahuripan Sejahtera. Seperti penyokongan yang disebutkan oleh Suharto (2005) dalam Anwas (2014) mengenai penerapan pendekatan pemberdayaan.Poin penyokongan memaparkan tentang pihak yang melakukan bimbingan maupun dukungan agar masyarakat mampu menjalankan program pemberdayaan secara baik.

e. Pemeliharaan

Kampung sayur organik dijalankan oleh masyarakat Ngemplak Sutan sebagai lanjutan program kebun gizi mandiri yang diusulkan oleh Rumah Zakat. KSM Kahuripan Sejahtera sebagai pemrakarsa sekaligus pengurus program kampung sayur organik selalu melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Sosialisasi dilakukan agar program dapat berjalan secara berkesinambungan, karena hal tersebut merupakan tujuan KSM mengenai kampung sayur organik.Untuk mencapainya, KSM Kahuripan Sejahtera selalu mengadakan sosialisasi agar masyarakat tidak jenuh dalam melaksanakan program. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan oleh imforman 3, yaitu:

(17)

Pernyataan informan diperkuat dengan data observasi dari penulis yang melihat secara langsung kegiatan sosialisasi dari warga Ngemplak Sutan melalui pertemuan RT. Budaya gotong royong yang tinggi di kawasan RW 37 memudahkan KSM dalam mensosialisasikan program kampung sayur organik kepada masyarakat.Budaya tersebut juga dapat sebagai modal pemeliharaan program yang sangat membantu KSM dalam menjalankan kampung sayur organik. Hal tersebut didukung oleh pernyataan informan 2, yaitu:

“Untuk sosialisasi program kampung sayur organik relatif mudah. Budaya gotong royong menjadikan warga terbuka akan informasi tentang apa saja kegiatan yang bersifat membangun.” (wawancara dengan Suradi, tanggal 7 Januari 2017)

Konsep gotong royong tersebut memudahkan KSM mengelola program dan dapat menciptakan iklim komunikasi yang kondusif. Langkah tersebut sesuai dengan konsep pemeliharaan yang dikatakan Soeharto (2005) dalam Anwas (2014) yaitu memelihara situasi yang kondusif agar tetap terjadi keseimbangan distribusi kekuasaan antara berbagai kelompok dalam masyarakat.Dalam melakukan sosialisasi, KSM menekankan tentang pentingnya pemberdayaan masyarakat. Serta meningkatkan kesadaran untuk mencintai lingkungan dengan memanfaatkan lahan pekarangan untuk hal yang positif, kemudian KSM melakukan pembekalan pengetahuan mengenai teknik penanaman. Upaya lain yang dilakukan KSM berupa pemberian bibit dan media tanam secara gratis. Hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan antusias warga untuk menanam sayuran. Upaya sosialisasi merupakan langkah efektif KSM dalam mewujudkan masyarakat mandiri. Bekal pengetahuan dapat dimanfaatkan warga sehingga mereka mampu mengelola tanaman sayur secara mandiri.

Strategi Pemberdayaan Masyarakat Melalui Kampung Sayur Organik

(18)

suatu hal sederhana menjadi berharga merupakan target utama. Metode pembangunan melalui pendekatan top-down secara umum telah dinyatakan gagal. Akademisi dan praktisi pembangunan telah menemukan solusi melalui bottom-up dengan pendekatan berbasis masyarakat yang berpartisipasi langsung dalam program pembangunan (Tremblay, 2013).

Melihat informasi yang diterima dari beberapa informan, penulis menyimpulkan bahwa konsep pembangunan yang dilaksanakan melalui kampung sayur organik adalah berbasis partisipasi.Dalam kasus ini KSM merumuskan tujuan program dengan menargetkan partisipasi masyarakat. Program dijalankan sebagai upaya meningkatkan kesadaran individu akan kesehatan keluarga.

Partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan memang mutlak diperlukan. Partisipasi masyarakat dalam pembangunan penting karena pada akhirnya masyarakatlah yang akan menikmati hasil pembangunan tersebut (Muslim, 2007). Sejalan dengan konsep program kampung sayur organik menurut informan 3, yaitu:

“Untuk konsep program KSM ini memang semua dijalankan oleh masyarakat dan hasilnya itupun untuk kepentingan masyarakat .Kita fokus pada partisipasinya.” (wawancara dengan Paryanto, tanggal 18 Januari 2017)

Kegiatan program dimulai dengan penanaman secara mandiri oleh warga di pekarangan rumah. Berbagai jenis sayuran dan buah ditanam sesuai dengan musim ataupun minat warga itu sendiri. Data observasi menunjukkan jenis sayuran yang ditanam berupa sawi, kangkung, kubis, terong, bayam, cabai, dll. Secara umum program kampung sayur organik telah menyadarkan masyarakat akan pentingnya kesehatan keluarga. Indikator kesehatan keluarga yang dimaksud bisa dilihat melalui penerapan program yang berbasis rumah tangga, dengan penerapan tanaman sayur di pekaranagan rumah. Temuan observasi menunjukkan bahwa masyarakat mengkonsumsi sayuran setiap hari, sehingga indikator kesehatan keluarga telah terpenuhi dengan konsumsi buah dan sayur setiap hari. Program dijalankan secara individu oleh warga dengan hasil yang bisa dimanfaatkan sendiri. Seperti yang dikatakan oleh informan 1, yaitu:

(19)

Kadang kalau ada permintaan banyak baru kita bicarakan secara kelompok.” (wawancara dengan Mulyadi, tanggal 7 Januari 2017)

Keuntungan yang bisa langsung dimanfaatkan secara pribadi merupakan faktor yang berpengaruh pada tingkat partisipasi warga, karena hasil dari programbisa dinikmati secara individu dan mendatangkan keuntungan tersendiri. Untuk program kampung sayur organik yang bersifat kelompok, dijalankan oleh KSM dalam lingkup RT dengan menerapkan sistem gotong royong.

KSM berperan penuh dalam kelangsungan program kampung sayur organik.Dibuktikan dengan adanya inisiatif dari KSM untuk mendirikan koperasi yang difungsikan untuk melancarkan program tersebut.Koperasi menyediakan bibit sayur, pupuk maupun media tanam yang dibutuhkan warga dalam penanaman sayur. Tujuan pembentukan koperasi agar warga dapat membeli bibit maupun keperluan tanam lain dengan harga yang lebih murah. KSM membeli dari toko pertanian dengan jumlah besar dan menyediakan untuk masyarakat dalam takaran kecil. Seperti yang dikatakan oleh informan 1, yaitu:

“Kita membeli bibit dari toko pertanian, ataupun kita mengadakan sendiri baik itu bibit ataupun sarana untuk menanam yang lain. Kita sediakan di koperasi kemudian warga bisa membeli dengan harga yang lebih murah.Kalau kita membeli secara mandiri di toko pertanian itu harganya lebih mahal karena toko hanya menyediakan bibit dalam skala besar.” (wawancara dengan Mulyadi, tanggal 7 Januari 2017)

(20)

tersebut bisa saling berkaitan. Keterkaitan tersebut sebagai simbiosis mutualisme yang menguntungkan antara KSM dengan masyarakat.

Program kampung sayur organik yang dijalankan oleh KSM telah menyadarkan warga Ngemplak Sutan tentang pentingnya kesehatan keluarga. Dibuktikan dengan partisipasi warga yang telah mengikuti program mencapai 80%. Hal tersebut seperti diungkapkan oleh informan 1, yaitu:

“Sejauh ini untuk tingkat partisipasi masyarakat di RW 37 telah mencapai 80%. Itu terhitung dari awal program sampai sekarang.” (wawancara dengan Mulyadi, 7 Januari 2017)

Pernyataan informan dikuatkan temuan peneliti yang melihat tanaman sayur banyak ditanam di sebagian besar pekarangan rumah warga RW 37. Untuk menyempurnakan program yaitu dengan tingkat keberhasilan 100%, dibutuhkan komitmen kuat dari KSMdalam melakukan sosialisasi kepada warga yang belum berpartisipasi. Adanya warga yang tidak berpartisipasi menunjukkan bahwa program kampung sayur organik masih mempunyai beberapa kendala. Dari informasi yang didapat oleh informan, kendala program salah satunya berupa dana ataupun modal yang masih sedikit. Dana program terkumpul hanya melalui swadana anggota KSM yang melakukan iuran setiap bulan demi kelangsungan program. Seperti yang dikatakan oleh informan 2 sebagai berikut:

“Untuk kendalanya tuh dari dana sebenarnya, kalau dana banyak kan kita bisa mengembangkan program ini secara cepat dengan tambahan beberapa teknologi. Sedangkan dana program kan selama ini kebanyakan dari swadana. Ya kita pengurus dan anggota selalu mengadakan iuran tiap bulan dalam pertemuan rutin.” (wawancara dengan Suradi, 7 Januari 2017)

(21)

dari pihak luar. Permintaan sayur bisa dalam jumlah kecil maupun besar. Untuk pemesanan sayur dalam jumlah besar, biasanya dikelola oleh KSM dengan dibantu beberapa warga yang mampu untuk menyediakan permintaan tersebut. Hal tersebut seperti yang dijelaskan oleh informan 3, yaitu:

“Selama ini kan kita sudah banyak sekali permintaan dari luar. Tapi menjualnya itu satu pohon, sekalian polybag sama potnya. Itu menjualnya kelompok kalau permintaan besar. Untuk permintaan kecil biasanya dikelola perorangan.” (wawancara dengan Paryanto, tanggal 18 Januari 2017)

Penulis menemukan data dari ketiga informan yaitu pesanan yang telah diterima oleh KSM berupa permintaan bibit sayur sebanyak 2100 benih yang telah tumbuh 10cm. KSM diminta oleh Dinas Ketahanan Pangan untuk menyalurkan benih tersebut kepada KWT se-Surakarta. Untuk hasil penjualan dibagi antara warga yang menyediakan pesanan maupun KSM sebagai pengelola program.Sedangkan untuk hasil panen petani yang dijual secara perorangan, sebagian kecil hasilnya masuk ke kas KSM untuk pengelolaan program. Dana swadana dari KSM berupa iuran tiap anggota sebesar Rp 5000 per bulan. Penulis menyimpulkan program kampung sayur organik telah berjalan dengan baik, dengan melihat pengelolaan dana swadana dan pemanfaatan hasil panen antara warga dengan KSM. Sejalan dengan yang dikatakan Harun & Ardianto (2011) bahwa komunikasi pembangunan meliputi peran dan fungsi komunikasi (sebagai suatu aktivitas pertukaran pesan secara timbal balik) diantara semua pihak yang terlibat dalam usaha pembangunan antara masyarakat dengan pemerintah.Dalam hal ini KSM dan masyarakatsaling berbagi peran dan fungsi dalam melaksanakan pembangunan melalui kampung sayur organik.

(22)

dalam pelaksanaan program. Kendala dari kampung sayur organik yang disampaikan oleh informan 3 berupa teknologi. Dalam hal ini KSM harus berupaya mencari solusi untuk pertanian perkotaan yang modern dan harus memiliki teknologi canggih. Berbeda dengan pertanian konvensional yang cenderung menggunakan lahan yang luas.Lahan pekarangan Ngemplak Sutan sejatinya sesuai dengan teknik penanaman sayur yang sifatnya menggunakan lahan sempit dan waktu sedikit. Hal tersebut bisa dilakukan dengan adanya penambahan teknologi.

Program pemberdayaan yang dijalankan oleh KSM Kahuripan Sejahtera telah berkembang sejak awal pembentukan kampung sayur organik. Dibuktikan dengan adanya respon dari beberapa pihak mengenai program tersebut. Respon nyata datang dari Badan Ketahanan Pangan Semarang yang memberikan bantuan lain berupa benih lele. Bantuan telah dimanfaatkan oleh KSM untuk membuat program tambahan di bidang perikanan. Program tersebut berupa kolam lele yang dikelola oleh KSM. Keterkaitan antara program kolam lele dan kampung sayur organik bisa dilihat dari pemanfaatan air kolam yang dapat digunakan sebagai air siraman untuk tanaman. Untuk panen hasilnya bisa dilakukan secara bersamaan antara lele dan sayuran setelah tiga bulan, terhitung dari awal masa pengelolaan bibit. KSM menggunakan metode lain untuk menarik minat masyarakat yang belum antusias melalui keterkaitan program tersebut.

Strategi dalam komunikasi pembanguan sangat penting untuk dapat menentukan sebuah langkah yang efektif dan dilakukan dengan tindakan yang benar.Strategi merupakan hal utama yang harus dipikirkan untuk penentuan rencana komunikasi pembangunan (Dilla, 2007). Selain menggunakan strategi dengan pendekatan berbasis partisipasi, KSM juga mampu memanfaatkan program lain dalam kelangsungan kampung sayur organik. Pemanfaatan program lain yang berkaitan dengan kampung sayur organik adalah pengelolaan sampah. Sampah organik yang telah dikumpulkan oleh KSM dikelola dengan alat pencacah untuk kemudian dijadikan kompos.Seperti yang diungkapkan oleh informan 1, yaitu:

(23)

KSM menciptakan beberapa inovasi dalam mewujudkan pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. Upaya tersebut merupakan langkah positif yang harus dikembangkan oleh KSM dengan menemukan inovasi lainnya. Penulis menyimpulkan bahwa strategi komunikasi pembangunan dilakukan dengan konsep partisipasi. KSM sebagai pelopor melakukan sosialisasi dan upaya lain untuk meningkatkan partisipasi masyarakat. Upaya yang dilakukan oleh KSM menjadikan mereka sebagai kelompok yang dinamis dan mampu mengelola program dengan melihat kondisi masyarakatnya.

Simpulan

Dalam pelaksanaannya, program kampung sayur organik telah mencapai poin 5P mengenai penerapan pendekatan pemberdayaan. Poin pemungkinan berawal dari program kebun gizi yang digalakkan oleh Rumah Zakat yang sekaligus menjadi penyokong atau pembina program. Poin perlindungan merujuk pada peran kelurahan Mojosongo sebagai bentuk apresiasi terhadap program dengan menjadi penanggung jawab program. Kemudian penguatan dilakukan dengan pembelajaran yang diterima oleh KSM mengenai teknik penanaman, melalui kegiatan studi banding. Pemeliharaan dilakukan KSM dengan memberikan sosialisasi secara rutin agar program dapat berjalan secara berkesinambungan.

KSM tidak menetapkan proit sebagai tujuan utama program. Melainkan partisipasi masyarakat dan kesadaran akan kesehatan sebagai tujuan utama. Kesehatan keluarga dan PHBS dapat diterapkan melalui kampung sayur organik. Kesehatan dapat diawali melalui hal sederhana, yaitu memanfaatkan lahan pekarangan dengan menanam sayur dan buah. Selain berpengaruh dalam peningkatan gizi, penanaman sayur juga dapat meringankan biaya konsumsi bagi masyarakat. Masyarakat dapat memanfaatkan secara pribadi hasil panen dari tanaman sayur tersebut. Berbagai jenis tanaman yang dikelola oleh KSM adalah terong, kubis, kol, cabai, sawi, kangkung, tomat, bayam, dan berbagai sayuran lain.

(24)

Upaya tersebut dilakukan guna mencapai tujuan program yaitu peningkatan gizi masyarakat, diikuti harapan pencapaian program yang berkesinambungan.Salah satunya adalah melakukan relasi dengan instansi pemerintah yang bertujuan untuk memajukan program. Semua upaya tersebut dilakukan KSM untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menanam sayur di pekarangan rumah.

(25)

Datar Pustaka

Anwas, O. M. (2014). Pemberdayaan Masyarakat di Era Global. Bandung: Alfabeta.

Asmara, L. R., & Kusuma, R. (2016). Pria Barat Ideal Menurut Pandangan Khalayak Indonesia. he 4th University Research Coloquium 2016, 132–147.

bantulkab.go.id. (2014). No Title.

Choudhury, P. Sen. (2011). Media in Development Communication.

Global Media Journal – Indian Edition, 2(2), 1–13.

Christens, B. D. (2012). Targeting Empowerment in Community Development: A Community Psychology Approach to Enhancing Local Power and Well-being. Oxford University Press and Community Development Journal, 47(4), 538–554. https:// doi.org/10.1093/cdj/bss031

Dilla, S. (2007). Komunikasi Pembangunan: Pendekatan Terpadu. Bandung: Simbiosa Rakatama Media.

Harun, R., & Ardianto, E. (2011). Komunikasi Pembangunan dan Perubahan Sosial: Perspektif Dominan, Kaji Ulang, dan Teori Kritis. Jakarta: RajaGraindo Persada.

Ife, J., & Tesoriero, F. (2014). Community Development: Alternatif Pengembangan Masyarakat di Era Globalisasi. (S. Z. Qudsy, Ed.). Pustaka Pelajar.

Imoh, G. O. (2013). Application of Development Communication in Africa’s Rural Development-Need for a Paradigm Shit. Global Journal of Arts Humanities and Social Sciences, 1(4), 15–33.

Kriyantono, R. (2010). Teknik Praktis Riset Komunikasi: Disertai Contoh Praktis Riset Media, Public Relations, Advertising, Komunikasi Organisasi, Komunikasi Pemasaran. Jakarta: Kencana.

Mulyana, D., Arrianie, L., Kuswarno, E., Schimd, T. J., Jones, R. S., Turner, R. E., … Solatun. (2007). Metode Penelitian Komunikasi: Contoh-contoh Penelitian Kualitatif Dengan Pendekatan Praktis. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Muslim, A. (2007). Pendekatan Partisipatif Dalam Pemberdayaan Masyarakat. Jurnal Aplikasi Ilmu-Ilmu Agama, 8(2), 89–103.

(26)

Women Empowerment in Indonesia: Integrating the Role of Media, Interpersonal Communication, Cosmopolite, Extension Agent and Culture as Predictors Variables. Asian Social Science,

11(16), 225–239. https://doi.org/10.5539/ass.v11n16p225

Nasution, Z. (2012). Komunikasi Pembangunan: Pengenalan Teori dan Penerapannya. Jakarta: RajaGraindo Persada.

Nengsih, R., Dwina, J., Sari, P., Maulida, Z., & Nazirun, F. (2015). he Efectiveness of Urban Independent Community Empowerment Program (PNPM) in Tackling Poverty in Indonesia. Journal of Asian Scientiic Research, 5(6), 320–327. https://doi.org/10.18488/ journal.2/2015.5.6/2.6.320.327

Reeves, L. S. (2015). Visualizing Participatory Development Communication in Social Change Processes: Challenging the Notion that Visual Research Methods are Inherently Participatory.

International Journal of Communication, 9, 3327–3346.

Rumahzakat.org. (2014). No Title.

Sulaeman, E. S. (2012). Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Kesehatan: Teori dan Implementasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Tampubolon, D. (2013). Strategi Pemberdayaan Masyarakat Pesisir di Kabupaten Kepulauan Meranti. SOROT, 8(2), 153–161.

Tremblay, C. (2013). Empowerment and communication in Sao Paulo, Brazil: Participatory Video with recycling cooperatives.

Referensi

Dokumen terkait