NOMOR 15 TAHUN 1990 TENTANG
USAHA PERIKANAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa sumber daya ikan sebagai bagian kekayaan bangsa Indonesia perlu dimanf aat kan secara opt imal unt uk kemakmuran rakyat , dengan mengusahakannya secara berdaya guna dan berhasil guna sert a selalu memperhat ikan kelest ariannya;
b. bahwa unt uk mencapai maksud t ersebut di at as dan sebagai pelaksanaan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 t ent ang Perikanan, dipandang perlu unt uk mengat ur usaha perikanan dengan Perat uran Pemerint ah;
Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945;
2. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 t ent ang Penanaman Modal Asing (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2818) sebagaimana t elah diubah dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1970 (Lembaran Negara Tahun 1970 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2943);
3. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1968 t ent ang Penanaman Modal Dalam Negeri (Lembaran Negara Tahun 1968 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2853) sebagaimana t elah diubah dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1970 (Lembaran Negara Tahun 1970 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2944);
4. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983 t ent ang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3260);
MEMUTUSKAN :
Menet apkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG USAHA PERIKANAN.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Perat uran Pemerint ah ini yang dimaksud dengan :
1. Usaha Perikanan adalah semua usaha perorangan at au badan hukum unt uk menangkap at au membudidayakan ikan, t ermasuk kegiat an menyimpan, mendinginkan at au mengawet kan ikan unt uk t uj uan komersial.
2. Perusahaan Perikanan adalah perusahaan yang melakukan Usaha Perikanan dan dilakukan oleh warga negara Republik Indonesia at au badan hukum Indonesia.
3. Nelayan adalah orang yang mat a pencahariannya melakukan penangkapan ikan.
4. Pet ani Ikan adalah orang yang mat a pencahariannya melakukan pembudidayaan ikan.
5. Izin Usaha Perikanan (IUP) adalah izin t ert ulis yang harus dimiliki Perusahaan Perikanan unt uk melakukan Usaha Perikanan dengan menggunakan sarana produksi yang t ercant um dalam izin t ersebut .
menangkap ikan di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI).
7. Kapal Perikanan adalah kapal at au perahu at au alat apung lainnya yang dipergunakan unt uk melakukan penangkapan ikan, t ermasuk unt uk melakukan survai at au eksplorasi perikanan.
8. Perluasan Usaha Penangkapan Ikan adalah penambahan j umlah kapal perikanan dan at au penambahan j enis kegiat an usaha yang berkait an yang belum t ercant um dalam IUP.
9. Perluasan Usaha Pembudidayaan Ikan adalah penambahan areal lahan dan at au penambahan j enis kegiat an usaha yang belum t ercant um dalam IUP.
10. Surat Penangkapan Ikan (SPI) adalah surat yang harus dimiliki set iap kapal perikanan berbendera Indonesia unt uk melakukan kegiat an penangkapan ikan di Perairan Indonesia unt uk melakukan kegiat an penangkapan ikan di Perairan Indonesia dan at au Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) yang merupakan bagian yang t idak t erpisahkan dari IUP.
11. Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) adalah surat izin yang harus dimiliki set iap kapal perikanan berbendera asing yang digunakan oleh Perusahaan Perikanan Indonesia yang t elah memiliki IUP dan PPKA unt uk melakukan penangkapan ikan di Indonesia (ZEEI) dan merupakan bagian yang t idak t erpisahkan dari PPKA.
12. Ment eri adalah Ment eri yang bert anggung j awab di bidang perikanan.
Pasal 2
(1) Usaha Perikanan t erdiri at as :
a. Usaha Panangkapan Ikan;
b. Usaha Pembudidayaan Ikan.
huruf b meliput i j enis kegiat an :
a. pembudidayaan ikan di air t awar; dan at au
b. pembudidayaan ikan di air payau; dan at au
c. pembudidayaan ikan di laut .
Pasal 3
(1) Usaha Perikanan di Wilayah Perikanan Republik Indonesia hanya boleh dilakukan oleh perorangan warga negara Republik Indonesia at au badan hukum Indonesia t ermasuk Koperasi.
(2) Pengecualian t erhadap ket ent uan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat diberikan di bidang penangkapan ikan, sepanj ang hal t ersebut menyangkut kewaj iban Negara Republik Indonesia berdasarkan ket ent uan perset uj uan int ernasional at au hukum int ernasional yang berlaku.
(3) Wilayah Perikanan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliput i :
a. Perairan Indonesia;
b. Sungai, danau, waduk, rawa dan genangan air lainnya di dalam wilayah Republik Indonesia,
c. Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI).
Pasal 4
Pasal 5
(1) Perusahaan Perikanan dapat menggunakan kapal perikanan berbendera asing unt uk melakukan penangkapan ikan di ZEEI melalui kerj asama at au sewa dengan orang at au badan hukum asing.
(2) Cara kerj asama at au sewa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dit et apkan oleh Ment eri.
BAB II
PERIZINAN USAHA PERIKANAN
Pasal 6
(1) Perusahaan Perikanan yang melakukan Usaha Perikanan di Wilayah Perikanan Republik Indonesia waj ib memiliki Izin Usaha Perikanan (IUP).
(2) IUP diberikan unt uk masing-masing Usaha Perikanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dan berlaku selama perusahaan masih melakukan Usaha Perikanan.
(3) Dalam IUP unt uk Usaha Penangkapan Ikan dicant umkan koordinat daerah penangkapan ikan, j umlah dan ukuran Kapal Perikanan Sert a j enis alat t angkap yang digunakan.
(4) Dalam IUT unt uk Usaha Pembudidayaan Ikan dicant umkan luas lahan at au perairan dan let ak lokasinya.
Pasal 7
Surat Penangkapan Ikan (SPI).
(2) Dalam SPI dicant umkan ket et apan mengenai daerah penangkapan ikan dan j enis alat penangkap ikan yang digunakan.
(3) SPI berlaku selama 3 (t iga) t ahun dan set erusnya unt uk set iap kali berakhir masa berlakunya diberikan perpanj angan selama 3 (t iga) t ahun oleh pemberi izin sepanj ang kapal dimaksud masih dipergunakan oleh Perusahaan Perikanan yang bersangkut an sesuai dengan ket ent uan perat uran perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 8
Unt uk kepent ingan kelest arian sumberdaya ikan, pemberi izin set iap t ahun sekali meninj au kembali ket et apan mengenai daerah penangkapan ikan dan at au j enis alat penangkap ikan sebagaimana t ercant um dalam IUP dan SPI.
Pasal 9
(1) Perusahaan Perikanan yang t elah memiliki IUP yang akan menggunakan Kapal Perikanan berbendera asing unt uk menangkap ikan di ZEEI waj ib memiliki Perset uj uan Penggunaan Kapal Asing (PPKA) dan berlaku selama 3 (t iga) t ahun.
(2) Dalam PPKA dicant umkan koordinat daerah penangkapan ikan, j umlah dan ukuran Kapal Perikanan sert a j enis alat t angkap yang digunakan.
(3) Kapal Perikanan berbendera asing yang digunakan oleh Perusahaan Perikanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) waj ib dilengkapi dengan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI).
(sat u) t ahun sepanj ang kebij aksanaan unt uk memberikan kesempat an menggunakan kapal berbendera asing masih berlaku.
Pasal 10
(1) Gubernur Kepala Daerah Tingkai I at au Pej abat yang dit unj uk memberikan :
a. IUP dan SPI kepada Perusahaan Perikanan yang melakukan penangkapan ikan yang berdomisili di wilayah administ rasinya, yang menggunakan Kapal Perikanan t idak bermot or, Kapal Perikanan bermot or luar, dan Kapal Perikanan bermot or dalam yang berukuran t idak lebih dari 30 GT dan at au yang mesinnya berkekuat an t idak lebih dari 90 Daya Kuda (DK), dan berpangkalan di wilayah administ rasinya sert a t idak menggunakan modal dan at au t enaga asing;
b. IUP kepada Perusahaan Perikanan yang melakukan pembudidayaan ikan di air t awar, di air payau dan di laut yang t idak menggunakan modal asing dan at au t enaga asing.
(2) Ket ent uan mengenai t at acara pemberian IUP dan SPI sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diat ur oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I dengan berpedoman kepada Tat acara Pemberian Izin Usaha Perikanan yang diat ur oleh Ment eri.
Pasal 11
(1) Kecuali t erhadap kegiat an-kegiat an yang menj adi kewenangan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10, Ment eri at au Pej abat yang dit unj uknya memberikan IUP, PPKA, SPI dan SIPI kepada Perusahaan Perikanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 8.
penanaman modalnya dilakukan dalam rangka Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 t ent ang Penanaman Modal Dalam Negeri sebagaimana t elah diubah dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1970 dan dalam rangka Undang-undang Nomor 6 Tahun 1968 t ent ang Penanaman Modal Asing sebagaimana t elah diubah dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1970 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilimpahkan oleh Ment eri kepada Ket ua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
(3) Ket ent uan mengenai t at acara pemberian IUP dan SPI sert a PPKA dan SIPI sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) maupun pelimpahan kewenangan kepada Ket ua Badan Koordinasi Penanaman Modal sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diat ur oleh Ment eri.
Pasal 12
Perusahaan Perikanan yang t elah memiliki IUP dapat melakukan Perluasan Usaha Penangkapan Ikan at au Perluasan Usaha Pembudidayaan Ikan set elah mendapat perset uj uan pemberi izin.
Pasal 13
(1) Pemegang IUP berkewaj iban :
a. Melaksanakan ket ent uan yang t ercant um dalam IUP dan SIP;
b. Memohon perset uj uan t ert ulis dari pemberi izin dalam hal memindah-t angankan IUP-nya;
c. Menyampaikan laporan kegiat an usaha set iap 6 (enam) bulan sekali.
(2) Pemegang PPKA berkewaj iban :
a. Melaksanakan ket ent uan yang t ercant um dalam PPKA dan SIPI;
sekali kepada pemberi izin.
Pasal 14
(1) Kewaj iban memiliki IUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) dikecualikan bagi :
a. Kegiat an penangkapan ikan yang dilakukan oleh Nelayan dengan menggunakan sebuah Kapal Perikanan t idak bermot or at au menggunakan mot or luar at au mot or dalam berukuran t ert ent u;
b. Kegiat an pembudidayaan ikan di air t awar yang dilakukan oleh Pet ani Ikan di kolam air t enang dengan areal lahan t ert ent u;
c. Kegiat an pembudidayaan ikan di air payau yang dilakukan oleh Pet ani Ikan dengan areal lahan t ert ent u;
d. Kegiat an pembudidayaan ikan di laut yang dilakukan oleh Pet ani Ikan dengan areal lahan at au perairan t ert ent u.
(2) Ukuran Kapal Perikanan dan luas areal lahan at au perairan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diat ur oleh Ment eri.
(3) Nelayan dan Pet ani Ikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) waj ib mencat at kan kegiat an perikanannya kepada Dinas Perikanan Daerah.
BAB III
PENCABUTAN IUP, SPI, PPKA DAN SIPI
Pasal 15
(1) IUP dapat dicabut oleh pemberi izin dalam, hal Perusahaan Perikanan :
b. Tidak menyampaikan laporan kegiat an usaha 3 (t iga) kali bert urut -t urut at au dengan sengaj a menyampaikan laporan yang t idak benar; at au
c. Tidak melaksanakan ket ent uan yang t ercant um dalam IUP; at au
d. Memindah-t angankan IUP-nya t anpa perset uj uan t ert ulis dari pemberi izin; at au
e. Selama 1 (sat u) t ahun bert urut -t urut sej ak IUP dikeluarkan t idak melaksanakan kegiat an usahanya.
(2) SPI dapat dicabut oleh pemberi izin apabila :
a. Perusahaan Perikanan t idak melaksanakan ket ent uan yang t ercant um dalam IUP dan at au SPI; at au
b. Perusahaan Perikanan menggunakan Kapal Perikanan di luar kegiat an penangkapan ikan; at au
c. Perusahaan Perikanan t idak lagi menggunakan Kapal Perikanan yang dilengkapi dengan SPI t ersebut ; at au
d. IUP yang dimiliki oleh Perusahaan Perikanan dicabut oleh pemberi izin.
Pasal 16
(1) PPKA dapat dicabut oleh pemberi izin apabila :
a. Perusahaan Perikanan t idak melaksanakan ket ent uan yang t ercant um dalam PPKA; at au
b. Perusahaan Perikanan t idak menyampaikan laporan kegiat an usaha 3 (t iga) kali bert urut -t urut at au dengan sengaj a menyampaikan laporan yang t idak benar; at au
usahanya; at au
d. IUP dicabut oleh pemberi izin.
(2) SIPI dapat dicabut oleh pemberi izin apabila Perusahaan Perikanan :
a. Tidak melaksanakan ket ent uan yang t ercant um dalam PPKA dan at au SIPI; at au
b. Menggunakan Kapal Perikanan di luar kegiat an penangkapan ikan; at au
c. Tidak lagi menggunakan Kapal Perikanan yang dilengkapi dengan SIPI t ersebut ; at au
d. IUP dan at au PPKA dicabut oleh pemberi izin.
Pasal 17
Ket ent uan mengenai t at acara pencabut an IUP dan SPI sert a PPKA dan SIPI dit et apkan oleh Ment eri.
BAB IV
PUNGUTAN PERIKANAN
Pasal 18
(1) Perusahaan Perikanan yang melakukan Usaha Penangkapan Ikan at au Usaha Pembudidayaan Ikan di laut at au perairan lainnya di Wilayah Perikanan Republik Indonesia, dikenakan pungut an perikanan.
(2) Pungut an perikanan t idak dikenakan bagi :
bersangkut an;
b. Nelayan dan Pet ani Ikan sebagaimana dimaksud'dalam Pasal 1 ayat .
Pasal 19
Pungut an Perikanan dikenakan kepada Perusahaan Perikanan at as ikan hasil penangkapan at au pembudidayaan.
Pasal 20
(1) Pungut an Perikanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 dit et apkan sebagai berikut :
a. Unt uk kegiat an penangkapan ikan sebesar 2, 5 % (dua set engah prosen) dari harga j ual seluruh hasil ikan yang dit angkap;
b. Unt uk kegiat an pembudidayaan ikan sebesar 1 % (sat u prosen) dari harga j ual seluruh hasil ikan yang dibudidayakan.
(2) Tat acara pemungut an Pungut an Perikanan diat ur oleh Ment eri dengan perset uj uan Ment eri Keuangan.
Pasal 21
Pungut an Perikanan bagi Perusahaan Perikanan yang menggunakan Kapal Perikanan berbendera asing unt uk menangkap ikan di ZEEI dit et apkan oleh Ment eri dengan perset uj uan Ment eri Keuangan dan digunakan khusus unt uk membiayai pembangunan perikanan nasional.
Pasal 22
izin usahanya diberikan oleh Ment eri at au pej abat yang dit unj uknya, merupakan pendapat an Pemerint ah Pusat dan dialokasikan :
a. sebesar 70 % (t uj uh puluh prosen) unt uk Pemerint ah Pusat dan digunakan khusus unt uk membiayaj pembangunan perikanan nasional;
b. sebesar 30 % (t iga puluh prosen) merupakan pendapat an langsung Pemerint ah Daerah yang bersangkut an dan digunakan unt uk membiayai pembangunan perikanan Daerah.
BAB V
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 23
(1) Pembinaan dan pengawasan t erhadap kegiat an Usaha Perikanan, Nelayan dan Pet ani Ikan dilakukan oleh Ment eri dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I secara t erat ur dan berkesinambungan.
(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliput i pembinaan iklim usaha, sarana usaha, t eknik produksi, pemasaran dan mut u hasil perikanan.
BAB VI
KETENTUAN PIDANA
Pasal 24
Set iap Perusahaan Perikanan yang melanggar ket ent uan Pasal 6 dipidana menurut ket ent uan Pasal 25, 26 dan Pasal 29 Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 t ent ang Perikanan.
BAB VII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 25
Izin Usaha Perikanan yang t elah diberikan sebelum dit et apkannya Perat uran Penierint ah ini, t et ap berlaku sampai habis masa berlakunya dan harus diperbaharui sepanj ang Perusahaan Perikanan yang bersangkut an masih melanj ut kan kegiat annya berdasarkan ket ent uan Perat uran Pemerint ah ini.
BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 26
Perat uran Pemerint ah ini mulai berlaku pada t anggal diundangkan.
Dit et apkan di Jakart a pada t anggal 28 Mei 1990
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA t t d
SOEHARTO
Diundangkan di Jakart a pada t anggal 28 Mei 1990
MENTERI/ SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA
PENJELASAN ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1990
TENTANG USAHA PERIKANAN
UMUM
Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 mengamanat kan agar pemanf aat an sumber daya ikan diarahkan unt uk sebesar-besar kemakmuran dan kesej aht eraan rakyat Indonesia. Dengan demikian pemanf aat an sumber daya ikan t ersebut pada dasarnya hanya dapat dilaksanakan oleh warga negara Republik Indonesia, baik secara perorangan maupun dalam bent uk badan hukum, dan harus dapat dinikmat i secara merat a, baik oleh produsen maupun konsumen. Pemerat aan pemanf aat an sumber daya ikan hendaknya j uga t erwuj ud dalam perlindungan t erhadap kegiat an usaha yang masih lemah sepert i nelayan dan pet ani ikan kecil agar t idak t erdesak oleh kegiat an usaha yang lebih kuat . Oleh karena it u dalam rangka pengembangan usahanya perlu didorong ke arah kerj asama dalam wadah koperasi. Di samping it u diharapkan pula adanya kerj asama ant ara perusahaan perikanan yang kuat dengan nelayan/ pet ani ikan kecil dengan dasar saling mengunt ungkan, misalnya dalam bent uk Perusahaan Int i Rakyat (PIR).
dengan pengendalian usaha perikanan melalui perizinan. Penerapan perizinan t ersebut dit uj ukan bagi perusahaan perikanan, sedangkan bagi nelayan dan pet ani ikan kecil dibebaskan dari kewaj iban unt uk memiliki izin. Akan t et api unt uk keperluan pembinaan dan pengendalian pemanf aat an sumber daya ikan t et ap diperlukan pencat at an t erhadap usahanya.
Perizinan selain berf ungsi unt uk menj aga kelest arian sumber daya ikan j uga berf ungsi unt uk membina usaha perikanan dan memberikan kepast ian usaha perikanan. Unt uk mendorong pengembangan usaha perikanan, kepada para pengusaha baik perorangan maupun badan hukum, diberikan kemudahan berupa berlakunya izin usaha perikanan selama perusahaan masih beroperasi. Hal ini t idak berart i memberi keleluasaan bagi pengusaha penangkap ikan unt uk memanf aat kan sumber daya ikan t anpa kendali. Pengendalian t et ap dilakukan dengan penent uan j angka wakt u t ert ent u beroperasinya kapal yang dikait kan dengan t ersedianya sumber daya ikan. Disamping it u masih ada kemudahan lain yait u unt uk semua kegiat an dalam sat u bidang usaha perikanan hanya diperlukan sebuah izin.
Sebagian besar usaha penangkapan ikan dilakukan oleh nelayan yang dalam memasarkan hasil t angkapannya berada dalam posisi yang lemah sehingga sering mendapat kan harga yang t idak waj ar. Dilain pihak harga ikan pada t ingkat konsumen relat if t inggi karena panj angnya mat a rant ai pemasaran. Oleh karena it u unt uk mewuj udkan harga yang waj ar bagi konsumen dan mengunt ungkan bagi nelayan dalam rangka meningkat kan kesej aht eraan dan usahanya sekaligus memperpendek mat a rant ai pemasaran, Pemerint ah memberikan bimbingan dan dorongan agar hasil t angkapannya dij ual melalui pelelangan. Unt uk it u Pemerint ah menyediakan t empat pelelangan ikan.
sumber daya ikan t ersebut khususnya usaha yang bersif at ekst rakt if maupun usaha pembudidayaan di laut dan di perairan lain a di Wilayah Republik Indonesia, dikenakan pungut an perikanan at as hasil kegiat an perikanannya. Namun bagi para nelayan dan pet ani ikan yang hasil usahanya hanya sekedar unt uk memenuhi kebut uhan hidup sehari-hari sert a usaha pembudidayaan ikan yang dilakukan di t ambak at au di kolam di at as t anah yang menurut perat uran perundang-undangan t elah menj adi hak t ert ent u dari yang bersangkut an dibebaskan dari pungut an perikanan.
Pembinaan dan pengawasan merupakan salah sat u hal yang pent ing dalam upaya mengembangkan usaha perikanan. Melalui upaya pembinaan dan pengawasan, Pemerint ah mencipt akan iklim usaha secara sehat dan mant ap, sert a melakukan upaya-upaya pencegahan penggunaan sarana usaha (produksi) yang t idak sesuai dengan ket ent uan, penerapan t eknik berproduksi yang ef ekt if dan ef isien, sert a penerapan pembinaan mut u hasil perikanan yang bert uj uan unt uk meningkat kan daya saing dipasaran int ernasional dan melindungi konsumen dari hal-hal yang dapat merugikan sert a membahayakan kesehat an. Dari pembinaan dan pengawasan sepert i it u diharapkan dapat merangsang perkembangan usaha perikanan yang pada akhirnya akan dapat mencipt akan lapangan kerj a, meningkat kan penerimaan devisa negara dan meningkat kan kesej aht eraan para nelayan dan pet ani ikan kecil.
PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Angka 1 sampai dengan Angka 8 Cukup j elas
Angka 9
Pasal 2 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (2)
Usaha pembudidayaan ikan t erdiri dari pembudidayaan ikan di air t awar, di air payau dan di laut , yang mencakup seluruh kegiat an pembudidayaan j enis ikan yang dapat dibudidayakan menurut masing-masing kegiat an t ersebut , t ermasuk kegiat an pembenihannya. Apabila dalam permohonan Izin Usaha Perikanan (IUP) rencana usahanya t elah mencakup kegiat an pembudidayaan ikan di air t awar, air payau dan di laut , maka IUP yang diberikan meliput i ket iga kegiat an t ersebut . Namun apabila hanya salah sat u kegiat an saj a, maka IUP hanya diberikan unt uk kegiat an t ersebut .
Pasal 3 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (2)
Pengecualian t erhadap ket ent uan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), yait u pemanf aat an yang dilakukan oleh orang at au badan hukum asing hanya dapat diizinkan di bidang penangkapan ikan sepanj ang negara Republik Indonesia t erikat unt uk melaksanakan ket ent uan-ket ent uan perset uj uan int ernasional at au ket ent uan- ket ent uan hukum int ernasional yang berlaku. Ayat (3)
Cukup j elas
Pasal 4 Ayat (1)
Bent uk kerj asama ant ara perusahaan perikanan dengan sej umlah nelayan/ pet ani ikan pada saat ini dikenal dengan Perusahaan Int i Rakyat (PIR).
Cukup j elas
Pasal 5 Ayat (1)
Kerj asama ant ara Perusahaan Perikanan Indonesia dengan orang at au badan hukum asing dalam menggunakan kapal perikanan berbendera asing unt uk melakukan penangkapan ikan di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) ant ara lain dalam bent uk bagi hasil, kerj asama operasi penangkapan ikan, kerj asama keagenan dan kerj asama lainnya.
Ayat (2)
Usaha Perikanan dapat berupa Usaha Penangkapan Ikan dan Usaha Pembudidayaan Ikan. Unt uk masing-masing usaha
t ersebut diperlukan IUP. Khusus unt uk Usaha Pembudidayaan Ikan, IUP dapat mencakup pembudidayaan ikan di air t awar, di air payau dan di laut , sepanj ang kegiat an t ersebut t elah dit uangkan dalam rencana usaha yang diset uj ui dan dit et apkan dalam IUP. Namun apabila dalam Perset uj uan Prinsip maupun IUP hanya diset uj ui/ dit et apkan unt uk salah sat u kegiat an saj a misalnya Pembudidayaan Ikan di air payau, maka apabila Perusahaan Perikanan t ersebut ingin melakukan kegiat an lainnya di luar yang diset uj ui/ dit et apkan dalam IUP, Perusahaan Perikanan t ersebut harus mengaj ukan Permohonan Perset uj uan Perluasan Usaha.
Ayat (3) Cukup j elas Ayat (4)
Pasal 7
Cukup j elas
Pasal 8
Apabila berdasarkan hasil pengkaj ian t ingkat pemanf aat an di daerah penangkapan yang lama t idak lagi memungkinkan beroperasinya kapal perikanan sej umlah t ert ent u, maka kapal-kapal t ersebut harus dipindahkan ke daerah penangkapan ikan di perairan lainnya yang masih pot ensial dan at au dilakukan penggant ian alat penangkap ikan yang digunakan.
Pasal 9 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (2)
Cukup j elas Ayat (3)
Cukup j elas Ayat (4)
SIPI t idak diberikan lagi kepada orang at au badan hukum asing apabila Perusahaan Perikanan Indonesia t elah mampu memanf aat kan seluruh j umlah t angkapan yang diperbolehkan di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI).
Pasal 10 Ayat (1)
Penent uan ukuran kapal dimaksudkan unt uk mengendalikan pemanf aat an sumber daya ikan agar t ercapai pemanf aat an yang opt imal t anpa mengganggu kelest ariannya.
Ayat (2) Cukup j elas
Cukup j elas
Pasal 12
Perluasan Usaha khususnya di bidang Penangkapan Ikan yang dilakukan t anpa perset uj uan t erlebih dahulu dari pemberi izin, dapat membahayakan kelest arian sumber daya karena kegiat an penangkapan t ersebut berada di luar pengendalian pemanf aat an.
Pasal 13 Ayat (1)
Huruf a dan Huruf b Cukup j elas Huruf c
Dat a yang diperoleh melalui laporan kegiat an Perusahaan Perikanan digunakan unt uk bahan evaluasi pemanf aat an sumber daya perikanan dalam rangka pengelolaan dan pengendaliannya. Hasil evaluasi selanj ut nya digunakan unt uk penent uan alokasi pengembangan usaha dalam rangka pengembangan pemanf aat an sumber daya.
Ayat (2)
Pasal 15
Cukup j elas
Pasal 16
Cukup j elas
Pasal 17
Cukup j elas
Pasal 18 Ayat (1)
Pungut an perikanan t erhadap Perusahaan Perikanan yang melakukan usaha penangkapan ikan dan pembudidayaan ikan di laut at au perairan lainnya di Wilayah Perikanan Republik Indonesia, karena perusahaan yang bersangkut an t elah memperoleh manf aat langsung dari kekayaan negara.
Ayat (2) Cukup j elas
Pasal 19
Cukup j elas
Pasal 20
Cukup j elas
Pasal 21
Cukup j elas
Pasal 22 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (2)
Pasal 23
Cukup j elas
Pasal 24
Cukup j elas
Pasal 25
Cukup j elas
Pasal 26