• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN PROGRAM RESISTIVITY 2D UNTUK ANALISA POTENSI AIRTANAH DI CEKUNGAN AIRTANAH PASURUAN.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENERAPAN PROGRAM RESISTIVITY 2D UNTUK ANALISA POTENSI AIRTANAH DI CEKUNGAN AIRTANAH PASURUAN."

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN PROGRAM RESISTIVITY 2D UNTUK ANALISA POTENSI AIRTANAH DI CEKUNGAN AIRTANAH PASURUAN

M. Sholichin1,Runi Asmaranto1, Suhermin Pratiwi2

1

Dosen Jurusan Teknik Pengairan

2

Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan email : [email protected]

ABSTRAK

Keberadaan airtanah pada suatu daerah tidak terlepas dari kondisi lapisan geologi bawah permukaan daerah tersebut. Untuk mengetahui keberadaan airtanah, perlu diketahui kondisi lapisan geologi bawah permukaan. Untuk mengetahui kondisi lapisan geologi bawah permukaan perlu adanya penelitian yaitu dengan pengeboran langsung dan beberapa metode geofisika. Salah satu dari metode geofisika adalah metode geolistrik yang digunakan untuk menyelidiki struktur bawah permukaan dan airtanah berdasarkan perbedaan resistivitas batuan atau tahanan jenis batuan.

Pelaksanaan penelitian menggunakan dua program yaitu dengan meggunakan Program IPI2WIN dan Program Res2Dinv. Program IPI2WIN adalah program yang dirancang untuk menganalisa data hasil pengukuran geolistrik 1D pada potongan tunggal secara otomatis atau semi otomatis untuk mendapatkan kesalahan (error) yang paling kecil. Sedangkan Program Res2DINV adalah program komputer yang akan secara otomatis menghitung tahanan jenis dalam arah 2 dimensi lapisan bawah tanah dengan data yang diperoleh dari pengukuran geolistrik dengan konfigurasi Schlumberger.

Studi ini bertujuan untuk mengetahui pada kedalaman berapa terdapat potensi airtanah yang ada di 6 kecamatan terpilih, antara lain Kecamatan Sukorejo, Kecamatan Kejayan, Kecamatan Gadingrejo, Kecamatan Gondangwetan, Kecamatan Rejoso dan Kecamatan Nguling. Hasil analisa dengan menggunakan metode IPI2WIN dengan metode Res2Dinv menunjukkan bahwa hasil dari analisa lapisan pada kedua metode tersebut tidak jauh berbeda.

Kata Kunci : Tahanan Jenis, konfigurasi Schlumberger, IPI2WIN, program Res2Dinv.

ABSTRACT

The existence of groundwater in an area is not separated from the condition of subsurface geology layer. To knowing the existence of groundwater is needed the condition of subsurface geology layer. It needs research with direct drilling and some geophysical methods. One of the geophysical methods is geoelectric method which is used for detect subsurface structure and groundwater based on the difference between rocks resistivity or rocks transmisivity.

This research used two methods, there are IPI2WIN Program and Res2Dinv Program. IPI2WIN Program is a program that was designed to analyze data from 1D geoelectric measurements on a single piece automatically or semi-automatically to get the smallest error. Res2Dinv is a program that would be automatically count the transmisivity in 2D from geoelectic measurements with schlumberger

configuration.

The result from this research is knowing the depth of groundwater potential in six subdistricts, there are Sukorejo, Kejayan, Gadingrejo, Gondangwetan, Rejoso and Nguling based on IPI2WIN method and Res2Dinv method showed that the result from this layer analysis on both methods are not much different.

Key Word : Transmisivity, Schlumberger Configuration, IPI2WIN, Res2Dinv Program.

1. PENDAHULUAN

Keberadaan airtanah pada suatu daerah tidak terlepas dari kondisi lapisan

geologi bawah permukaan daerah

tersebut. Untuk mengetahui keberadaan airtanah, perlu diketahui kondisi lapisan geologi bawah permukaan. Saat ini telah

dikembangkan berbagai cara untuk

mengetahui kondisi lapisan geologi

bawah permukaan. Ada beberapa cara yang secara umum sering digunakan dalam penyelidikan lapisan geologi bawah permukaan. Dapat dilakukan

dengan metode pemboran secara

langsung dan beberapa metode geofisika. Metode geofisika sendiri merupakan metode yang sering digunakan pada tahap

(2)

permukaan, seperti metode seismic,

metode elektromagnetik, metode

magnetik, dan metode geolistrik

resistivitas. Geolistrik resistivitas merupakan salah satu metode yang

praktis dan mudah dilakukan

dibandingkan dengan beberapa metode geofisika yang lain.

2. TINJAUAN PUSTAKA

A. SIFAT BATUAN SEBAGAI MEDIA ALIRAN AIRTANAH

a. Koefisien Kelulusan Air

Koefisien kelulusan air (Coefisient of Permeability / Hydraulic Conductivity) adalah kemampuan untuk meluluskan air

dalam rongga-rongga batuan tanpa

mengubah sifat-sifat airnya.

Tabel 1. Koefisien Kelulusan Air dari

Berbagai Batuan (K) Macam Batuan K (mm/hari)

Kerikil 450 Kerikil Menengah 270 Kerikil Kasar 150 Pasir Kasar 45 Pasir Menengah 12 Pasir Halus 3

Batu Pasir Menengah 3,1000 Batu Pasir Halus 0,2000

Silt 0,0800 Lempung 0,0002 Batu Gamping 0,9400 Dolomit 0,0010 (Sumber : Bisri, 2012 : 8) b. Kapasitas Jenis

Kapasitas jenis (Spesific

Capacity) adalah debit yang dapat diperoleh setiap penurunan pemukaan airtanah bebas ataupun airtanah tertekan. Kapasitas jenis secara umum dinyatakan dalam :

SQ = = = =

c. Koefisien Keterusan Air

Koefisien keterusan air atau koefisien

transmisivitas ( Coeficient of

Transmisivity) merupakan banyaknya air yang dapat mengalir melalui suatu bidang vertikal sesuai tebal akuifer. Koefisien jeterusan air dinyatakan dalam :

Transmisivity = = =

d. Koefisien Daya Simpan Air

Koefisien daya simpan air (Coeficient of Storage) adalah volume air yang dilepaskan atau dapat disimpan oleh suatu akuifer setiap satu satuan luas akuifer pada satu satuan perubahan kedudukan muka airtanah bebas maupun airtanah tertekan.

Berdasarkan sifat fisik lapisan batuan dan perlakuannya sebagai media aliran air, maka lapisan batuan tersebut dapat dibedakan menjadi empat yaitu :

- Akuifer

Merupakan suatu lapisan yang porous

sehingga dapat menyimpan dan

melepaskan air dalam jumlah yang cukup misalnya kerikil, pasir, batu kapur, batuan gunung berapi.

- Akuitar

Merupakan suatu lapisan yang porous sehingga dapat menyimpan air tetapi hanya dapat mengalirkan air dalam jumlah yang terbatas misalnya tampak

adanya kebocoran-kebocoran atau

rembesan yang terletak antara akuifer dan akuiklud.

- Akuiklud

Merupakan suatu lapisan yang porous sehingga dapat menampung air tetapi tidak melepaskan air dalam jumlah yang cukup dikarenakan nilai konduktivitasnya kecil sekali misalnya lapisan lempung dan lapisan lumpur (silt).

- Akuifug

Merupakan suatu lapisan yang tidak menampung maupun melepaskan air (sama sekali kedap terhadap air) misalnya granit yang keras, kuarsit, lapisan batuan yang kompak (rock) atau batuan sedimen yang tersemen penuh.

(3)

B. JENIS BATUAN PEMBAWA AIR

Jenis batuan (lapisan tanah) yang dapat berfungsi sebagai lapisan pembawa air adalah :

a. Batuan sedimen

Merupakan lapisan pembawa air yang terbaik, yaitu pada lapisan batuan yang banyak mempunyai pori ruang antar butir rekahan atau rongga batuan seperti endapan vulkanik klastik, endapan butir lepas (pasir, kerikil dan kerakal) dan batu gamping berongga.

b. Batuan Beku

Batuan beku bukan merupakan lapisan pembawa air yang baik, akan tetapi jika pada batuan tersebut terdapat rekahan

atau retakan akan menyebabkan

terdaptnya akumulasi airtanah. c. Batuan Metamorfosa

Batuan ini juga bukan batuan pembawa air yang baik. Kandungan air akan terdapat pasa ruang antara rekahan dan retakan batuan pada zona pelapukan batuan.

C. PENYEBARAN VERTIKAL

AIRTANAH

Distribusi airtanah secara vertikal

dibawah permukaan tanah dibagi dalam beberapa zone yaitu :

a. Zone Jenuh

Pada zone jenuh (Zone of Saturation) semua rongga-rongga atau pori-pori berisi air.

b. Zone Tidak Jenuh

Zone tidak jenuh (zone of Aeration) terletak di atas zone jenuh sampai ke permukaan tanah, sedangkan air yang berada di dalam zone tidak jenuh dinamakan air mengambang atau air dangkal.

D. METODE GEOFISIKA

Ada beberapa metode geofisika yang

dapat digunakan untuk mengetahui

kondisi lapisan geologi bawah permukaan (Bisri, 2008 : 37) yaitu :

a. Metode Seismik

Dalam metode seismik penyelidikan didasarkan pada kecepatan rambat dari getaran suara yang tergantung dari

kerapatan material dan massa. Metode seismik sendiri terdiri dari metode refraksi seismik dan metode refleksi sismik.

b. Metode Geolistrik

Pada metode geolistrik penyelidikan didasarkan pada variasi vertikal dan horizontal yang menyangkut perubahan dalam hantaran elektrik suatu arus listrik. Metode ini banyak digunakan dalam penentuan struktur geologi, ketebelan lapisan penutup, kadar kelembaban tanah dan permukaan airtanah.

c. Metode Magnetik

Metode magnetik merupakan salah satu bentuk pengukuran terhadap variasi dalam medan magnetik bumi. Metode ini banyak digunakan dalam pencarian material magnetik dalam lingkungan yang tidak magnetis atau sebaliknya.

E. METODE GEOLISTRIK

TAHANAN JENIS

Metode geolistrik tahanan jenis ini banyak digunakan dalam penentuan kedalaman batuan dasar dan pencarian reservoir air.

a. Tahanan Jenis Batuan

Tahanan jenis atau resistivitas, dapat ditentukan menggunakan Hukum Ohm :

q =

Dimana :

ρ = tahanan jenis (ohm-m) V = tegangan (volt)

I = arus listrik (ampere) A = luas penampang (m2) L = panjang (m)

(4)

Tabel 2. Harga Tahanan Jenis berbagai Mineral, Batuan maupun Fluida Material Bumi Resistivitas Semu (Ω-m) Material Bumi Resistivitas Semu (Ω-m)

Logam Batuan Sedimen

Tembaga 1,7 x 10-8 Batu Lempung 10-1 x 103 Emas 2,4 x 10-8 Batu Pasir 1-1 x 108 Perak 1,6 x 10-8 Batu Gamping 50-1 x 107 Grafit 1 x 10-3 Dolomit 100-1 x 104 Besi 1 x 10-7

Nikel 7,8 x 10-8 Sedimen Lepas

Timah 1,1 x 10-7 Pasir 1-1 x 103 Lempung 1-1 x 102

Batuan Kristalin

Granit 102 - 106 Air Tanah

Diorit 104 -105 Air Sumur 0,1 - 1 x 103 Gabbro 103 -106 Air Payau 0,3 – 1 Andesit 102 -104 Air Laut 0,2 Basalt 10 -107

Air Asin

(Garam) 0,05 - 0,2 Sekis 10 -104

Gneiss 104 -106

Tabel 3. Harga Resistivitas Spesifik Batuan

Material Harga Resistivitas ( Ω-m ) Air Permukaan 80 - 200

Air Tanah 30 - 100

Silt - Lempung 10 -200

Pasir 100 - 600

Pasir dan Kerikil 100 - 1000 Batu Lumpur 20 - 200 Batu Pasir 50 - 500 Konglomeralt 100 - 500 Tufa 20 - 200 Kelompok Adesit 100 - 2000 Kelompok Granit 1000 - 10000 Tanah Lempung 1,5 - 3,0 Lempung Lanau 3,0 - 15 Tanah Lanau Pasiran 15 -150 Batuan Dasar Lembab 150 -300 Pasir Kerikil

Kelanauan 300

Batuan Dasar Tak

Lapuk 2400

terdapat Air Tawar 20 -60

Air Asin 20 -200 Kelompok Chert, Slate 0,18 - 0,24 Unconsolidated Sedimen Sand 1 - 1000 Clay 1 - 100 Marl 1 -100 Ground Water Portable Well Water 0,1 - 1000 Breckish Water 0,3 - 1 Sea Water 0,05 - 0,2

Secara teknis hubungan antara besarnya nilai tahanan jenis dengan macam batuan dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Nilai tahanan jenis batuan yang lepas

lebih rendah dari batuan yang kompak

(5)

2. Nilai tahanan jenis batuan akan lebih rendah, jika airtanah berkadar garam tinggi

3. Tidak terdapat batas yang jelas antara nilai tahanan jenis dari tiap-tiap batuan

4. Tahanan jenis batuan dapat berbeda secara menyolok, tidak saja dari lapisan yang satu terhadap lapisan yang lain, tetapi juga di dalam satu lapisan batuan

5. Batuan yang pori-porinya

mengandung air, hambatan jenisnya lebih rendah dari yang kering. Kandungan air di dalam batuan akan menunjukkan harga resistivitas. b. Konfigurasi Elektroda

Ada beberapa macam model konfigurasi dalam metode geolistrik resistivitas, sesuai dengan susunan elektrodanya antara lain :

1. Konfigurasi Wenner Alpha

Gambar 1. Konfigurasi Wenner

Alpha 2. Konfigurasi Wenner Beta

Gambar 2. Konfigurasi Wenner

Beta 3. Konfigurasi Wenner Gamma

Gambar 3. Konfigurasi Wenner

Gamma 4. Konfigurasi Dipole – Dipole

Gambar 4. Konfigurasi Dipole -

Dipole 5. Konfigurasi Pole - Dipole

Gambar 5. Konfigurasi Pole –

Dipole

6. Konfigurasi Schlumberger

Gambar 6. Konfigurasi

Schlumberger c. Tahanan Jenis Semu

Tahanan jenis semu ini dirumuskan dengan :

ρa = K

Dimana :

ρa = resistivitas semua (ohm-m)

K = faktor geometri

∆V = beda potensial pada MN (volt)

I = kuat arus (ampere)

F. INTERPRETASI GEOLISTRIK

Dasar interpretasi geolistrik resistivitas yang digunakan hingga saat ini umumnya berdasarkan atas nilai tahanan jenis yang

kemudian menafsirkan kedalaman

batuan-batuan tertentu sesuai dengan

hasil pengamatan geologi dan

hidroogeologi setempat. Berdasarkan

jenis litologi dan nilai tahanan jenis

semunya, maka dapat diperkirakan

lapisan yang bertindak sebagai akuifer (lapisan pembawa air).

Proses penentuan daerah potensi akuifer dilakukan berdasarkan penyebaran nilai resistivitas, ketinggian lapisan bawah

permukaan dan ketebalan akuifer.

Umumnya setiap lokasi memiliki

karakteristik akuifer yang berlainan tergantung pada kandungan airtanahnya

beserta mineral-mineral lain yang

kecenderungannya akan berbeda sesuai dengan lingkungan pengendepannya.

3. METODE PENELITIAN

A. ANALISA DATA STUDI DAN

INTERPRETASI LAPISAN

GEOLOGI

1. Program IPI2WIN

Program IPI2WIN adalah program yang dirancang untuk menganalisi data hasil pengukuran geolistrik 1D pada potongan tunggal secara otomatis atau semi otomatis untuk mendapatkan kesalah (error) yang paling kecil.

(6)

2. Program Res2Dinv

Program Res2DINV adalah program komputer yang akan secara otomatis menghitung tahanan jenis dalam arah 2D lapisan bawah tanah dengan data yang diperoleh dari pengukuran geolistrik. Untuk menentukan jenis dan lapisan

geologi tanah diperoleh dengan

mencocokan nilai tahanan jenis

sebenarnya hasil perhitungan dengan nilai harga tahanan listrik berbagai material tanah. Penentuan lapisan batuan bisa membandingkan harga tahanan jenis

sebenarnya dengan hasil bor log,

sehingga dari perbandingan itu bisa mengetahui tahanan jenis sebenarnya dari batuan tersebut. Dan harga tahanan jenis batuannya tersebut dijadikan pedoman interpretasi di daerah itu

4. HASIL DAN PEMBAHASAN A. ANALISA DATA STUDI DAN

INTERPRETASI LAPISAN

GEOLOGI 1. Program IPI2WIN

Gambar 7. Hasil Akhir Program

IPI2WIN Di Kecamatan Sukorejo

Tabel 4. Analisa Tahanan Jenis dan

Interpretasi Lapisan di Kecamatan Sukorejo Tahanan Jenis (Ωm) h d Legenda Deskripsi Lapisan Klasifikasi (m) (m) 112 3,00 0,00 Silt - Lempung Akuiklud 3 87438 4,66 7,66 Batuan Granit Akuifug 125 92,34 100 Pasir dan Kerikil Akuifer Keterangan : h : Tebal lapisan( m ) d : Kedalaman Lapisan

Gambar 8. Hasil Akhir Program

IPI2WIN di Kecamatan Kejayan

Tabel 5. Analisa Tahanan Jenis dan

Interpretasi Lapisan di Kecamatan Kejayan Tahanan Jenis (Ωm) h d Legenda Deskripsi Lapisan Klasifikasi (m) (m) 16,9 6,35 0,00 Lempung Akuiklud 6,35 89,3 56,95 63,3

Batu Pasir Akuiklud 501 56,7 120 Pasir dan Kerikil Akuifer Keterangan : h : Tebal lapisan( m ) d : Kedalaman Lapisan

Gambar 9. Hasil Akhir Program

IPI2WIN di Kecamatan Gadingrejo

Tabel 6. Analisa Tahanan Jenis dan

Interpretasi Lapisan di Kecamatan Gadingrejo

Tahanan Jenis (Ωm)

h d

Legenda Deskripsi Lapisan Klasifikasi (m) (m) 18,4 2,50 0,00 Silt - Lempung Akuiklud 2,50 3,9 4,28 6,78 Lempung Lanau Akuiklud 51,3 93,22 100 Pasir Akuifer

(7)

Keterangan :

h : Tebal lapisan( m ) d : Kedalaman Lapisan

Gambar 10. Hasil Akhir Program

IPI2WIN Di Kecamatan Gondangwetan

Tabel 7. Analisa Tahanan Jenis dan

Interpretasi Lapisan di Kecamatan Gondangwetan Tahanan Jenis (Ωm) h d Legenda Deskripsi Lapisan Klasifikasi (m) (m) 6,04 6,17 0,00 Lempung Lanau Akuiklud 6,17 45 63,83 70 Tufa Akuiklud Keterangan : h : Tebal Lapisan (m) d : Kedalaman Lapisan (m)

Gambar 11. Hasil Akhir Program

IPI2WIN Di Kecamatan Rejoso

Tabel 8. Analisa Tahanan Jenis dan

Interpretasi Lapisan di Kecamatan Rejoso

Tahanan Jenis (Ωm) h d Legenda Deskripsi Lapisan Klasifikasi (m) (m)

4,49 2,95 0,00 Lempung Lanau Akuiklud

2,95 19,29 10,7 13,65 Silt - Lempung Akuiklud 49,69 106, 35 120 Tufa Akuiklud Keterangan : h : Tebal Lapisan (m) d : Kedalaman Lapisan (m)

Gambar 12. Hasil Akhir Program

IPI2WIN Di Kecamatan Nguling

Tabel 9. Analisa Tahanan Jenis dan

Interpretasi Lapisan di Kecamatan Nguling Tahanan Jenis (Ωm) h d Legenda Deskripsi Lapisan Klasifikasi (m) (m) 7,93 2,50 0,00 Lempung Lanau Akuiklud 2,50 46 64,4 66,90 Tufa Akuiklud 2321 23,1 90 Batuan Granit Akuifug Keterangan : h : Tebal Lapisan (m) d : Kedalaman Lapisan (m) 2. Program Res2Dinv

Gambar 13. Hasil akhir Program

Res2Dinv di Kecamatan Sukorejo Dari hasil pengolahan data dengan menggunakan Res2Dniv diatas dapat diketahui :

1. Kedalaman maksimal yang diperoleh adalah 17,3 m.

2. Interprestasi lapisan untuk :

- Nilai tahanan jenis berkisar antara

18,5 Ωm – 50,1 Ωm

diinterpretasikan sebagai lapisan lempung dan terdapat airtanah. - Nilai tahanan jenis berkisar antara

50,1 Ωm – 136 Ωm

diinterpretasikan sebagai lapisan lempung (silt).

- Nilai tahanan jenis berkisar antara 136 Ωm – 608 Ωm diinterpretasikan sebagai lapisan pasir dan kerikil.

(8)

Gambar 14. Hasil akhir Program

Res2Dinv di Kecamatan Kejayan Dari hasil pengolahan data dengan menggunakan Res2Dniv diatas dapat diketahui :

1. Kedalaman maksimal yang diperoleh adalah 17,3 m.

2. Interprestasi lapisan untuk :

- Nilai tahanan jenis berkisar antara

1,70 Ωm – 3,87 Ωm

diinterpretasikan sebagai lapisan

tanah lempung dan terdapat

airtanah.

- Nilai tahanan jenis berkisar antara

3,87 Ωm – 8,81 Ωm

diinterpretasikan sebagai lapisan lempung lanau.

- Nilai tahanan jenis berkisar antara

8,81 Ωm – 30,3 Ωm

diinterpretasikan sebagai lapisan lempung lanau dan tufa.

Gambar 15. Hasil akhir Program

Res2Dinv di Kecamatan Gadingrejo 1. Kedalaman maksimal yang diperoleh

adalah 17,3 m.

2. Interprestasi lapisan untuk :

- Nilai tahanan jenis berkisar antara

3,68 Ωm – 10,5 Ωm

diinterpretasikan sebagai lapisan

lempung lanau dan terdapat

airtanah.

- Nilai tahanan jenis berkisar antara

10,5 Ωm – 30,2 Ωm

diinterpretasikan sebagai lapisan lanau (silt) dan tufa (tuff).

- Nilai tahanan jenis berkisar antara

30,2 Ωm – 146 Ωm

diinterpretasikan sebagai lapisan tufa (tuff) dan pasir.

Gambar 16. Hasil akhir Program

Res2Dinv di Kecamatan Gondangwetan Dari hasil pengolahan data dengan menggunakan Res2Dniv diatas dapat diketahui :

1. Kedalaman maksimal yang diperoleh adalah 17,3 m.

2. Interprestasi lapisan untuk :

- Nilai tahanan jenis berkisar antara

4,56 Ωm – 23,1 Ωm

diinterpretasikan sebagai lapisan lempung lanau dan tufa serta terdapat airtanah.

- Nilai tahanan jenis berkisar antara

52,0 Ωm – 117 Ωm

diinterpretasikan sebagai lapisan tufa (tuff).

- Nilai tahanan jenis berkisar antara

117 Ωm – 1337 Ωm

diinterpretasikan sebagai lapisan kerikil (gravel) dan granit.

Gambar 17. Hasil akhir Program

Res2Dinv di Kecamatan Rejoso Dari hasil pengolahan data dengan menggunakan Res2Dniv diatas dapat diketahui :

1. Kedalaman maksimal yang diperoleh adalah 14,1 m.

2. Interprestasi lapisan untuk :

- Nilai tahanan jenis berkisar antara

3,66 Ωm – 10,6 Ωm

diinterpretasikan sebagai lapisan

lempung lanau dan terdapat

airtanah.

- Nilai tahanan jenis berkisar antara

10,6 Ωm – 30,8 Ωm

diinterpretasikan sebagai lapisan lanau (silt) dan tufa (tuff).

- Nilai tahanan jenis berkisar antara

30,8 Ωm – 152 Ωm

diinterpretasikan sebagai lapisan tufa (tuff).

(9)

Gambar 18. Hasil akhir Program

Res2Dinv di Kecamatan Nguling Dari hasil pengolahan data dengan menggunakan Res2Dniv diatas dapat diketahui :

1. Kedalaman maksimal yang diperoleh adalah 14,1 m.

2. Interprestasi lapisan untuk :

- Nilai tahanan jenis berkisar antara

9,49 Ωm – 16,4 Ωm

diinterpretasikan sebagai lapisan lanau (silt) dan terdapat airtanah. - Nilai tahanan jenis berkisar antara

16,4 Ωm – 37,2 Ωm

diinterpretasikan sebagai lapisan lanau (silt) dan tufa (tuff).

- Nilai tahanan jenis berkisar antara

37,2 Ωm – 64,3 Ωm

diinterpretasikan sebagai lapisan lanau (silt) dan tufa (tuff).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian pendugaan susunan lapisan geologi menggunakan

metode geolistrik konfigurasi

Schlumberger dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Dengan menggunakan Program

IPI2WIN

- Kecamatan Sukorejo, lapisan I adalah silt-lempung dengan tahanan jenis 112 Ωm dengan ketebalan 3 m, lapisan II adalah batuan granit dengan tahanan jenis 87438 Ωm dengan ketebalan 4,66 m dan lapisan III adalah pasir dan kerikil dengan tahanan jenisnya 125 Ωm dengan ketebalan 92,34 m.

- Kecamatan Kejayan, lapisan I adalah lempung dengan tahanan jenis 16,9 Ωm dengan ketebalan 6,35 m, lapisan II adalah batu pasir dengan tahanan jenis 89,3 Ωm dengan ketebalan 56,95 m dan lapisan III adalah pasir dan kerikil dengan tahanan jenis 501 Ωm dengan ketebalan 56,7 m . Bila

dibandingkan dengan data borlog perubahan lapisan tidak terlalu signifikan.. Terjadinya perubahan

ini kemungkinan disebabkan

perubahan lapisan geologi pada daerah tersebut.

- Kecamatan Gadingrejo, lapisan I adalah silt-lempung dengan tahanan jenis 18,4 Ωm dengan ketebalan 2,50 m, lapisan II adalah lempung lanau dengan tahanan jenis 3,9 Ωm dengan ketebalan 4,28 m dan lapisan III adalah pasir dengan tahanan jenisnya 51,3 Ωm dengan ketebalan 93,22 m.

- Kecamatan Gondangwetan, lapisan I adalah lempung lanau dengan tahanan jenis 6,04 Ωm dengan ketebalan 6,17 m dan lapisan II adalah tufa dengan tahanan jenis 45 Ωm dengan ketebalan 63,83 m. Bila dibandingkan dengan data borlog perubahan lapisan yang terjadi

menunjukkan perubahan yang

signifikan.. Terjadinya perubahan

ini kemungkinan disebabkan

perubahan lapisan geologi pada daerah tersebut.

- Kecamatan Rejoso, lapisan I adalah lempung lanau dengan tahanan jenis 4,49 Ωm dengan ketebalan 2,95 m, lapisan II adalah silt-lempung dengan tahanan jenis 19,29 Ωm dengan ketebalan 10,7 m dan lapisan III adalah tufa dengan tahanan jenis 49,69 Ωm dengan ketebalan 106,35 m.

- Kecamatan Nguling, lapisan I adalah lempung lanau dengan tahanan jenis 7,93 Ωm dengan ketebalan 2,50 m, lapisan II adalah tufa dengan tahanan jenis 46 Ωm dengan ketebalan 64,4 m dan lapisan III adalah batuan granit dengan tahanan jenis 2321 Ωm dengan ketebalan 23,1 m. Bila dibandingkan dengan data borlog perubahan lapisan yang terjadi

menunjukkan perubahan yang

(10)

ini kemungkinan disebabkan perubahan lapisan geologi pada daerah tersebut.

2. Dengan menggunakan Program

Res2Dinv

- Kecamatan Sukorejo, lapisan I adalah lempung dengan tahanan jenis 18,5 – 50,1 Ωm, lapisan II adalah lempung dengan tahanan jenis 50,1 – 136 Ωm dan lapisan III adalah pasir dan kerikil dengan tahanan jenisnya 136 – 608 Ωm. - Kecamatan Kejayan, lapisan I

adalah lempung dengan tahanan jenis 1,70 – 3,87 Ωm, lapisan II adalah lempung dengan tahanan jenis 3,87 – 8,81 Ωm dan lapisan III adalah lempung dan tufa dengan tahanan jenis 8,81 – 30,3 Ωm. - Kecamatan Gadingrejo, lapisan I

adalah lempung dengan tahanan jenis 3,68 – 10,5 Ωm, lapisan II adalah lempung dan tufa dengan tahanan jenis 10,5 – 30,2 Ωm dan lapisan III adalah tufa dan pasir dengan tahanan jenisnya 30,2 – 146 Ωm.

- Kecamatan Gondangwetan, lapisan I adalah lempung dengan tahanan jenis 4,56 – 23,1 Ωm dan lapisan II adalah tufa dengan tahanan jenis 52,0 – 117 Ωm, lapisan III adalah kerikil dan granit dengan tahanan jenis 117 – 1337 Ωm.

- Kecamatan Rejoso, lapisan I adalah lempung dengan tahanan jenis 3,66 – 10,6 Ωm, lapisan II adalah lempung dan tufa dengan tahanan jenis 10,6 – 30,8 Ωm dan lapisan III adalah lempung dan tufa dengan tahanan jenis 30,8 – 152 Ωm. Dan - Kecamatan Nguling, lapisan I

adalah lempung dengan tahanan jenis 79,49 – 16,4 Ωm, lapisan II adalah lempung dan tufa dengan tahanan jenis 16,4 – 37,2 Ωm dan lapisan III adalah lempung dan tufa dengan tahanan jenis 237,2 – 64,3 Ωm. DAFTAR PUSTAKA Anonim,2013.Penggunaan Res2Dinv. http://alumnisma4.blogspot.com/ 2010/12/penggunaan-res2dinv.html

Anonim,2013.Resistivity Software for download.

http://www.giscogeo.com/pages/r esabsw.html#r3di.

Bisri,Muhammad.2008.Airtanah.Malang : Tirta Media.

Aris Yhadhianto, 2007, Pendugaan Lapisan Geologi Dan Lapisan Akuifer Menggunakan Metode Geolistrik Konfigurasi Wenner 1D dan Dipole-Dipole 2D di DAS Pekalen Kabupaten Probolinggo. Malang : Jurusan Teknik Pengairan Universitas Brawijaya.

Mia Setyaningpala, 2011. Studi

Pendugaan Potensi Debit Dari Arah Aliran Airtanah dalam Dengan Menggunakan Metode Geolistrik (Studi Kasus di Kawasan Bagian Timur Perumahan Villa Bukit Tidar). Skripsi tidak diterbitkan.Malang:Jurusan Teknik Pengairan Universitas Brawijaya. Nedy Hidayat. 2007 Aplikasi Metode

Geolistrik Resistivitas 2D di DAS Pekalen Kabupaten Probolinggo Untuk Menentukan Letak Akuifer dan Pendugaan Lapisan Geologi

Bawah Permukaan.Malang :

Jurusan Teknik Pengairan

Universitas Brawijaya

Anonim, 2012.Praktikum Aliran

Airtanah. Malang Laboratorium Tanah dan Airtanah Jurusan Teknik Pengairan

Soemarto, C. D. 1995. Hidrologi Teknik. Jakarta: Erlangga

Suharyadi. 1984. Geohidrologi (Ilmu Air Tanah). Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.

Gambar

Gambar 1. Konfigurasi Wenner  Alpha
Tabel 4. Analisa Tahanan Jenis dan  Interpretasi Lapisan di Kecamatan

Referensi

Dokumen terkait