invest in
TANTANGAN DAN PRAKTIK BAIK DALAM MEMBANGUN
INTEGRITAS PELAYANAN PERIZINAN
(Case: Penyediaan Infrastruktur Skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha/KPBU)
Jakarta, 16 November 2016 International Business Integrity Conference (IBIC) 2016 KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI
DEPUTI BIDANG PERENCANAAN PENANAMAN MODAL Badan Koordinasi Penanaman Modal
Sumber Pembiayaan Infrastruktur 2015-2019
APBN dan APBD
Selisih Kebutuhan Pendanaan (Financing Gap) Rp 1.751 triliun BUMN ~ 22,23% ~ Rp 1.067 triliun Catatan:
1) Angka hipotesis, bukan pernyataan resmi. Jumlah kebutuhan yang sudah dipastikan hanya meliputi nilai APBN dan APBD yang telah disetujui oleh Menteri Keuangan di bulan Januari 2015.
2) Porsi APBN didasarkan pada nilai proposal plafon anggaran dari BAPPENAS yang telah disetujui oleh Menteri Keuangan
3) Seluruh estimasi hanya berdasarkan pada investasi dan proyek rehabilitasi bernilai besar, tidak mempertimbangkan detail biaya operasional Alternatif Skema Pendanaan Total Kebutuhan Investasi Infrastruktur1) (Rp 4.800 triliun) 3)
Investasi Swasta (KPBU, Off-Balance Sheet, Pinjaman, Utang, dsb ~ 36,52%)
}
APBN ~ 29,88%2) ~ Rp 1.433 triliun APBD ~ 11,37% ~ Rp 545 triliun Sumber: Bappenas, 2015 BUMN 2Indonesia Investment Coordinating Board
Tantangan Melibatkan Swasta Terlibat dalam Pembangunan Infrastruktur
• Pembangunan infrastruktur pada dasarnya merupakan tugas Pemerintah
• Kurangnya kapasitas APBN/APBD untuk mendanai penyediaan seluruh proyek infrastruktur strategis di Indonesia selama periode 2015-2019. Ada financing gap sekitar Rp 1.751 triliun.
• Karakteristik proyek infrastruktur: Layak secara ekonomi (Economically viable) namun kurang layak secara keuangan (Financially marginal or not viable)
• Pemerintah perlu mengundang pihak swasta (dan BUMN/BUMD) untuk ikut lebih banyak terlibat dalam penyediaan infrastruktur, dengan menjanjikan kelayakan secara finansial melalui:
‒ Penjaminan Pemerintah (Government Guarantee) ‒ Dukungan Kelayakan (Government Support)
‒ Fasilitas Fiskal (Government Incentives)
• Calon investor (swasta/BUMN/BUMD) mengharapkan adanya transparansi mulai dari penyiapan proyek (project preparation), business model, alokasi risiko, pelaksanaan lelang, financial close, hingga tahap pengakhiran proyek (akhir masa konsesi).
Perbandingan Pengadaan Infrastruktur Konvensional dengan KPBU
Pengadaan Konvensional (APBN) Skema KPBU
Fokus pengadaan pada aset secara fisik Fokus pengadaan pada layanan
Risiko konstruksi ditanggung oleh pemerintah Risiko konstruksi ditanggung oleh sektor privat
Pemerintah harus mengadakan kontrak terkait : - Konstruksi
- Operasional dan Pemeliharaan - Layanan Tambahan
Kontrak tunggal dengan Badan Usaha untuk seluruh kegiatan.
Hampir keseluruhan risiko proyek termasuk life cycle risk ditanggung oleh pemerintah
Memungkinkan optimalisasi alokasi risiko termasuk life cycle risk dengan badan usaha
Adanya keterbatasan atas inovasi yang dilakukan oleh badan usaha
Persaingan yang kompetitif memungkinkan inovasi-inovasi dilakukan oleh Badan Usaha.
Catatan: Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU)
Indonesia Investment Coordinating Board
Tugas Utama BKPM dalam Penyediaan Infrastruktur
Sejalan dengan Perpres No. 90 Tahun 2007, MoU antara Menteri Keuangan, Kepala Bappenas dan Kepala BKPM pada Tahun 2010 menggariskan tugas-tugas utama BKPM dalam lingkup penyediaan infrastruktur:
1. Pengemasan dan Pemasaran (untuk memberikan informasi yang memadai bagi investor):
– Mengemas informasi proyek infrastruktur sehingga menarik bagi calon investor (melalui memo info dan lain-lain).
– Memfasilitasi pemasaran proyek infrastruktur yang siap ditawarkan (sosialisasi, market sounding, dan lain-lain)
2. Percepatan Pelayanan Perizinan dan Nonperizinan (termasuk upaya-upaya peningkatan transparansi prosesnya):
– PTSP Pusat di BKPM
– Perizinan dan nonperizinan Online – I23J, KLIK, Jalur hijau, dan lain-lain
3. Aspek regulasi:
– Relaksasi DNI Proyek Infrastruktur (antara lain proyek ketenagalistrikan dan jalan tol) – Perumusan materi teknis Perpres KPBU (Perpres No. 38 Tahun 2015)
4. Pemantauan Pelaksanaan:
– Tidak terlibat dalam pelaksanaan lelang (sehingga menjaga kenetralan dengan PJPK dan calon investor)
– Melakukan monitoring atas proyek-proyek infrastruktur.
– Melakukan koordinasi penyelesaian permasalahan (debottlenecking) yang ditemui terkait proyek infrastruktur 5
BKPM adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden.
BKPM mempunyai tugas melaksanakan koordinasi kebijakan dan pelayanan di bidang penanaman modal berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
North Sumatera Jakarta Central Java East Java Bali Medan-Kualanamu – Tebing Tinggi Toll Road, North Sumatera Umbulan Water Spring Project, East Java 2X1000 MW Coal Fired Power Plant, Central Java Tanah Ampo Cruise Terminal, Bali
Soekarno Hatta Airport-Manggarai
Railway Development, DKI Jakarta
: telah dilelang
PPP Showcase Projects 2010-2014
Indonesia Investment Coordinating Board
Proyek Showcase KPBU (sebelumnya: KPS)
No. Nama Proyek Status
1. PLTU Batang, Jawa Tengah Pemenang lelang telah memperoleh izin prinsip dari BKPM,
pengadaan tanah di beberapa lokasi sudah selesai, financial close sudah selesai dan konstruksi sedang berjalan, merupakan salah satu proyek strategis nasional (PSN)
2. Tanah Ampo Cruise Terminal, Bali
Pemenang PQ sudah diumumkan namun Kemhub masih meninjau ulang skema pendanaannya, Tidak Masuk PSN
3. Soekarno-Hatta International Airport Railways, DKI – Banten
Final Business Case oleh PT SMI dianulir, sedang dianalisis ulang oleh Kemhub, merupakan salah satu PSN
4. Medan – Kuala Namu – Tebing Tinggi Toll Road, Sumatera Utara
Pemenang lelang sudah ditetapkan, konstruksi sedang berjalan, merupakan salah satu PSN
5. Umbulan Water Supply, Jawa Timur
Penandatanganan perjanjian konsesi sudah dilakukan, persiapan konstruksi, merupakan salah satu PSN
• Selain berbagai upaya pemasaran, BKPM aktif berkoordinasi dengan UKP4 dalam memonitor perkembangan proyek-proyek showcase di periode 2011-2014
• Koordinasi update perkembangan beberapa proyek infrastruktur belum berkelanjutan sebagaimana mestinya. Hal ini membuat beberapa informasi bagi calon investor menjadi kurang akurat.
Beberapa Proyek KPBU yang berubah Skema Pendanaannya
(1)No.
Nama Proyek
Status
1. Kertajati International Airport, Jawa Barat
Proyek KPBU ini menjadi murni anggaran pemerintah
(APBN&APBD), BUMD sudah dibentuk yang bekerja sama dengan PT Angkasa Pura II, konstruksi masih berlangsung
2. Cilamaya Port, Jawa Barat Proyek KPBU ini dibatalkan (terkait pipa Pertamina) 3. Makassar New Port, Sulawesi
Selatan
Proyek KPBU yang ditinjau ulang skema pendanaannya, akan lebih banyak melibatkan Pelindo IV
4. Kuala Tanjung Port, Sumatera Utara
Pelindo I yang akan lebih banyak dilibatkan 5. Semarang Barat Water Supply Proyek ini akan murni menggunakan APBN
Indonesia Investment Coordinating Board
Beberapa Proyek KPBU yang berubah Skema Pendanaannya
(2)No. Nama Proyek Status
6. PLTU Sumsel Mulut Tambang 9&10
Proyek ini masih menunggu hasil analisis Kementerian ESDM terkait kebutuhan ketenagalistrikan di Pulau Jawa dan Sumatera,
kemungkinan besar menggunakan skema IPP jika dilanjutkan
7. LRT Sumatera Selatan Proyek ini akan murni menggunakan APBN&APBD (untuk mengejar target ASIAN GAMES)
8. Jalan Tol Medan – Binjai, Sumatera Utara
Proyek ini diserahkan kepada BUMN (PT Hutama Karya) 9. Kilang Minyak Bontang,
Kalimantan Timur
Proyek ini diserahkan kepada Pertamina untuk menyusun skema KPBU
10. Kulonprogo Airport, DIY Proyek ini diserahkan kepada PT Angkasa Pura I
• Belum adanya institusi yang berperan sebagai leader dalam pengambilan keputusan kunci terkait prioritas proyek infrastruktur dengan skema KPBU. Hal ini membuat proyek-proyek yang telah dipromosikan sebagai proyek KPBU kemudian tidak dapat ditindaklanjuti oleh calon investor akibat berubahnya kebijakan Penanggung Jawab Proyek Kerjasama (PJPK).
• Berubahnya kebijakan PJPK (antara lain kebijakan skema pembiayaan) terkait beberapa proyek infrastruktur yang sudah pernah ditawarkan kepada calon investor badan usaha di berbagai kegiatan market sounding meningkatkan risiko penanaman modal di bidang infrastruktur (political risk)
• Dalam Perpres No. 44 Tahun 2016, masih terdapat beberapa bidang usaha terkait infrastruktur yang membatasi kepemilikan asing di bawah 50%, yang berpotensi menghambat upaya menarik minat investasi dari calon investor/konsorsium asing untuk berinvestasi di bidang tersebut
PTSP
Pusat
BKPM
22
Kementerian/ Lembaga terintegrasiI23J
(Izin
Investasi
3 Jam)
KLIK
(Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi)90%
PTSP Daerah telah terbentuk. 61% PTSP Daerah menerapkan e-licensing. 61% PTSP Daerah menerapkan e-licensing. 37.190 Izin yang dikeluarkan per Periode 2015-Sept 2016167
Izin dari K/L didelegasikan kepada BKPMPelayanan
Terpadu Satu
Pintu (PTSP)
Pusat BKPM
Perbaikan Pelayanan Penanaman Modal
Indonesia Investment Coordinating Board
PTSP Pusat BKPM
Dengan adanya
PTSP Pusat di BKPM,
investor tidak perlu lagi mendatangi banyak instansi pemerintahan.
Investor cukup datang ke BKPM saja untuk mendapatkan izin yang diperlukan.
PJPK Infrastruktur
11
22 KEMENTERIAN/LEMBAGA YANG TERLIBAT DI PTSP PUSAT
Keterangan:
1. Sejak 5 Mei 2015, BKPM telah melaksanakan Zona Integritas
2. PTSP BKPM masuk Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM) 3. Setiap tanda terima permohonan mencantumkan kapan perizinan yang diurus selesai dan
mencantumkan biaya gratis
4. Pengaduan lisan melalui kotak pengaduan, melalui email, telepon, dan desk pengaduan (Investor Relation Unit)
Pelayanan Perizinan Online di BKPM
12
1. Kebijakan ini untuk meminimalisir adanya interaksi face to face antara pengusaha dengan pejabat PTSP-BKPM
2. Menerapkan tracking system untuk transparansi pengecekan proses Catatan:
Indonesia Investment Coordinating Board Pembangkit Listrik AGRARIA ( 4 perbaikan) KEHUTANAN ( 13 perbaikan) TRANSPORTASI ( 4 perbaikan) APLIKASI TAX ALLOWANCE 49 izin 923 hari Hak Guna Usaha (HGU) 3,000-6,000 ha
123 hari Izin Penggunaan
Hutan 111 hari Izin terminal Khusus,
30 hari
Tidak ada SOP
25 izin 256 hari 90 hari 47 hari 5 hari 25 hari PERTANIAN (9 perbaikan) INDUSTRI ( 8 perbaikan) PARIWISATA (6 perbaikan) Izin perkebunan 751 hari
Izin kawasan industri, 672 hari Izin kawasan pariwisata (TDK), 661 hari 172 hari 152 hari 188 hari
Penyederhanaan
perizinan
Penyederhanaan Perizinan
13Indonesia Investment Coordinating Board Jenis Izin / Non Izin SLA (Hari) Penyederhanaan SLA (Hari)
B
ad
an
Us
ah
a Izin Prinsip Penanaman Modal 3 Izin Prinsip Penanaman Modal 3 Jam* 8 hari/
(PTSP Pusat) Badan Hukum PT 1 Badan Hukum PT
NPWP/NPPKP 1 NPWP/NPPKP TDP 3 TDP*) K ons tr uk si /R ea lisa si
Penetapan Wilayah Usaha Panas Bumi 5 Penetapan Wilayah Usaha Panas Bumi 5 Rencana Usaha Penyelenggaraan Tenaga Listrik (RUPTL) 45 IUPTL Sementara 5 hari/
3 Jam* (PTSP Pusat) Pengadaan Non-Pembangkit Listrik Tenaga Surya &
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi
45 Pengadaan Non-Pembangkit Listrik Tenaga Surya & Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi
45 Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) dengan PT. PLN Persero 60 Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) dengan PT. PLN Persero 60 Penetapan Kuota Pembangkit Listrik Tenaga Surya - Penetapan Kuota Pembangkit Listrik Tenaga Surya - Perizinan, penetapan dan permohonan penugasan (Energi
Baru Terbarukan/EBT atau Non EBT)
14 Perizinan, penetapan dan permohonan penugasan (Energi Baru Terbarukan/EBT atau Non EBT)
14 Pertimbangan Teknis Lahan (SKPT) 30 Pertimbangan Teknis Lahan (SKPT) 7 Izin Lokasi/SITU 14 Izin Lokasi *) tidak diperlukan apabila sdh ada IPKH 14 Izin Pelepasan Kawasan Hutan dari Menteri Kehutanan 120 Izin Pelepasan Kawasan Hutan dari Menteri Kehutanan 52 Izin Lingkungan dan AMDAL 115 Izin Lingkungan*) Diintegrasikan /AMDAL pemprakarsa 10 AMDAL LALIN 90 AMDAL LALIN
Izin Gangguan 14 Izin Gangguan
Hak Atas Tanah (HGB) 165 Hak Atas Tanah (HGB) *) 50
Izin Mendirikan Bangunan 14 Izin Mendirikan Bangunan *) 14 Izin terminal khusus dan navigasi dari Kemenhub (Jetty) 81 Ijin penetapan lokasi terminal khusus dari Kemenhub *) 5 Ketenagakerjaan 23 Ketenagakerjaan 3 Utilitas (air, telepon) 14 Utilitas (air, telepon) *) 14 BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan 1 BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan *) 1 Pembebasan bea impor dari Kemenkeu (IUPTL) 7 SK Pembebasan bea impor dari dari BKPM *) 7 Fasilitas fiskal pengembangan EBT dari Kemenkeu 10 Fasilitas fiskal pengembangan EBT dari Kemenkeu*)
Rincian Impor Barang (RIB) 7 Rincian Impor Barang (RIB)
Sertifikat Kompetensi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan 3 Sertifikat Kompetensi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan Persyaratan kontraktor Sertifikat Badan Usaha 3 Sertifikat Badan Usaha
Sertifikat Laik Operasi 5 Sertifikat Laik Operasi 5 Izin usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan
umum (untuk kepentingan sendiri: 14 hari, untuk kepentingan sementara: 20 hari)
30 Izin usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum
5
Total Penyelesaian 923 Total Penyelesaian 256
Indonesia Investment Coordinating Board
BKPM
• Tiba di PTSP Pusat di BKPM dari Bandara.
• Berkonsultasi dengan Direktur Pelayanan BKPM.
• Menyampaikan data diri dan
rencana kegiatan usaha.
8+1
Produk yang diperoleh
Menanti di lounge selama dokumen perizinan diproses oleh BKPM, Notaris, K/L terkait.
Mendapatkan 8 izin & 1 produk informasi blocking tanah dalam waktu 3 jam untuk memulai bisnis di Indonesia.
Kepastian untuk bekerja
• Rencana Penggunaan TKA (RPTKA) • Izin Mempekerjakan TKA (IMTA)
Kepastian untuk
memulai bisnis
• Izin Investasi
• Akta Pendirian Perusahaan & Pengesahannya
• Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) • Tanda Daftar Perusahaan (TDP)
Kepastian untuk
Importasi Barang
Modal
• Angka Pengenal Importir Produsen (APIP)
• Nomor Identitas Kepabeanan (NIK)
Informasi Tanah
yang Akurat
• Informasi blocking tanah
I23J (Izin Investasi 3 Jam)
15
KRITERIA
Minimum investasiRp. 100 M (+/- USD 8 million)
dan/atau mempekerjakan
1.000 orang tenaga kerja, industri yang
mendapatkan fasilitas IFTA, bagian dari
mata rantai Produksi, berlokasi di KEK,
investasi di bidang usaha
infrastruktur
, dan dana Investasi dariTax Amnesty
• Direktur Perusahaan
HADIR
di kantor PTSP Pusat.• SERAHKAN
kelengkapandokumen persyaratan.
MENUNGGU
di Ruang Tunggu Prioritas.
TERIMA
produk perizinan yang dimohonkan.
BKPM
10 Jenis Perizinan
dapat diterbitkan melalui Layanan ESDM3J
PERSYARATAN
Layanan ESDM3J diberikan bila telah memenuhi daftar
persyaratan (checklist) meliputi persyaratan administratif dan teknis.
ESDM3J
1. Izin Panas Bumi
2. Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Sementara 3. Izin Usaha Sementara Penyimpanan Minyak
Bumi/BBM/LPG.
4. Izin Usaha Sementara Penyimpanan Hasil Olahan/CNG 5. Izin Usaha Sementara Penyimpanan LNG
6. Izin Usaha Sementara Pengolahan Minyak Bumi 7. Izin Usaha Sementara Pengolahan Hasil Olahan 8. Izin Usaha Sementara Pengolahan Gas Bumi
9. Izin Usaha Sementara Niaga Umum Minyak Bumi/BBM 10.Izin Usaha Sementara Niaga Umum Hasil Olahan
Indonesia Investment Coordinating Board
Tujuan :
Memberikan layanan percepatan pemasukan barang modal bagi investor untuk mendorong
percepatan realisasi investasi.
Custom Clearance Time:
6 hari
Total Clearance Time:
5-6 minggu
2 hari
kurang dari ½ hari
setelah pemutakhiran
setelah pemutakhiran
Percepatan jalur hijau dapat memotong custom clearance time hingga
99,99%
(pada beberapa perusahaan)dan memotong rata-rata custom clearance time dari 72 perusahaan
sebanyak
94%
(dibandingkan sebelum pemutakhiran)BKPM akan memberikan rekomendasi pada Direktorat Jenderal Bea Cukai, bagi investor yang layak mendapatkan percepatan jalur hijau setelah lolos verifikasi dari BKPM.
KLIK: kemudahan bagi perusahaan yang akan melakukan investasi berlokasi di
Kawasan Industri tertentu.
Perusahaan setelah mendapat Izin Investasi/Izin Prinsip, baik dari PTSP Pusat
maupun PTSP daerah, dapat langsung melakukan konstruksi sambil secara paralel
mengurus Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Izin Lingkungan (UKL/UPL, AMDAL), dan
perizinan pelaksanaan daerah lainnya sepanjang telah memenuhi ketentuan Tata
Tertib Kawasan Industri (Estate Regulation).
Perizinan pelaksanaan yang diperlukan wajib dipenuhi sebelum perusahaan siap
produksi komersial.
Tidak ada batasan minimal nilai investasi atau penyerapan TKI.
Indonesia Investment Coordinating Board
Tidak ada Persyaratan
• Tidak ada minimum nilai investasi dan minimum jumlah tenaga kerja
• Hanya berlaku untuk Kawasan Industri Tertentu.
• Izin Konstruksi dapat dilakukan bersamaan dengan masa konstruksi
Dapatkan izin
investasi di PTSP Pusat atau PTSP Daerah.
• Survei ketersediaan lahan di kawasan industri yang dipilih dalam program KLIK.
• Akuisisi lahan untuk industri. • Seluruh investasi
infrastruktur yang terdapat dalam kawasan industri yang dipilih, berhak mendapat KLIK
• Memulai konstruksi proyek. Tidak ada izin lain yang diperlukan untuk memulai masa konstruksi.
• Ajukan aplikasi permohonan izin
konstruksi dan izin lingkungan bersamaan dengan masa konstruksi proyek (paralel).
Layanan Langsung Konstruksi
19
Investor dapat langsung memulai masa konstruksi
proyeknya tanpa harus Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Izin Lingkungan (UKL/UPL, AMDAL), dan perizinan
pelaksanaan daerah lainnya. Layanan ini didukung penuh
Jawa Tengah
KI Kendal
KI Bukit Semarang Baru KI Wijayakusuma
Jawa Timur
Java Integrated Industrial & Port Estate
Sulawesi Selatan
KI Bantaeng
Banten
Modern Cikande Industrial Estate KI Terpadu Wilmar Krakatau Industrial Estate Cilegon
Jawa Barat
Bekasi Fajar Industrial Estate KI Delta Silicon 8 Karawang Internasional Industrial City Suryacipta City of Industry GT Tech Park
Sumatera Utara
KI Medan
14 Kawasan Industri Sebagai Implementasi
Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi
Hingga 31 Oktober 2016, 81 perusahaan telah
mendapatkan fasilitas KLIK dengan total investasi Rp. 72,09 Triliun
Indonesia Investment Coordinating Board
Insentif Investasi (Tax Allowance dan Import Duty Facility)
Sumber: Renstra BKPM 2015-2019
PAJAK PENGHASILAN (TAX ALLOWANCE)
PP No. 9/2016 jo PP No. 18/2015
145
bidang usaha(Daftar bidang usaha dalam Lampiran PP No. 9 Tahun 2016)
30%
dari jumlah investasiPengurangan penghasilan netto selama 6
(enam) tahun, yaitu sebesar 5% per tahun
Penyusutan dan amortisasi yang dipercepat.
Pajak Penghasilan atas penghasilan dividen yang dibayarkan kepada subjek pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia
≤
10%
• berlokasi di Kawasan Industri dan/atau Kawasan Berikat • melakukan
pembangunan
infrastruktur• menggunakan bahan baku dalam negeri ≥70%.
Kompensasi kerugian
5-10
tahun
, bagi perusahaan yang:• menyerap tenaga kerja 500-1.000 orang
• melakukan kegiatan penelitian dan
pengembangan (R&D) • melakukan reinvestasi • melakukan ekspor ≥30% dari
penjualan.
PEMBEBASAN BEA MASUK (IMPORT DUTY FACILITY)
PMK No.176/PMK.011/2009 jo. PMK No. 76/PMK.011/2012 jo. PMK 188/PMK.010/2015
Pembebasan bea masuk atas impor mesin
2
tahun
Pembebasan bea masuk atas impor barang dan bahan untuk keperluan produksi sesuai kapasitas
terpasang
4
tahun
Pembebasan bea masuk atas impor barang dan bahan untuk keperluan tambahan produk apabila menggunakan mesin dalam negeri:
>
30%
dari total nilai mesinIndonesia Investment Coordinating Board
Insentif Investasi (Tax Holiday)
PMK No.159/PMK.010/2015
5-15
TahunPembebasan Pajak
Penghasilan sejak Tahun
Pajak dimulainya produksi komersial.
Dapat diperpanjang hingga
maksimum 20 tahun dengan diskresi Menteri Keuangan (sampai 25 tahun untuk KEK)
Industri Pionir
1. Industri logam hulu
2.Industri pengilangan minyak bumi
3. Industri kimia dasar organik yang bersumber dari minyak bumi dan gas alam
4. Industri permesinan yang menghasilkan mesin industri
5. Industri pengolahan berbasis hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan
6.Industri telekomunikasi, informasi dan
komunikasi
7.Industri transportasi kelautan
8. Industri pengolahan yang merupakan industri utama di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK); dan atau
9.Infrastruktur ekonomi non KPBU
. Pengurangan Pajak Penghasilan Badan:10% -
1 00 %
dari Pajak Penghasilan badan yang terhutang.> IDR
1
TrilliunRencana Investasi: (USD 80 Juta)
Untuk industri telekomunikasi,
informasi dan komunikasi (ICT):
≤
50 %
dari Pajak Penghasilanbadan yang terhutang. IDR
50
Miliar - IDR1
Triliun Rencana Investasi:Indonesia Investment Coordinating Board
Tindak Lanjut
(1)Peningkatan Pelayanan dalam Pencegahan Korupsi
23
1. Mengembangkan budaya kerja pelayanan yang transparan, akuntabel, efektif dan efisien.
2. Mengembangkan pelayanan perizinan dan nonperizinan secara online melalui Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE).
3. Menyediakan Tracking System yang merupakan sub sistem SPIPISE yang diimplementasikan pada PTSP Pusat di BKPM dan PTSP Daerah.
4. Penyederhanaan pelayanan perizinan dan nonperizinan di pusat dan daerah, yang meliputi: a. Penyederhanaan prosedur perizinan dan nonperizinan
b. Layanan Izin Investasi 3 jam
c. Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi (KLIK)
d. Jalur Hijau Importasi Barang Modal dan Bahan Baku/Penolong
e. Layanan terpisah antara Front Office dan Back Office pada PTSP Pusat di BKPM (wakil 22 Kementerian/Lembaga)
f. Pengembangan pelayanan pemberian fasilitas investasi (masterlist) secara online.
5. Integrasi informasi layanan terkait NPWP yang menjadi persyaratan perizinan dan nonperizinan (company folder) menjadi single submission
6. Layanan pengaduan dalam saluran Desk Pengaduan dan Kotak Pengaduan.
7. Menyediakan pengaduan masyarakat secara online (Whistle Blowing System/WBS, website, laman LAPOR, email, media sosial).
8. Melaksanakan pengadaan barang dan jasa melalui Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) dan menggunakan e-catalogue
9. Melakukan penyusunan perencanaan dan penganggaran dengan mengacu kepada Rencana Kerja Pemerintah (RKP), Arsitektur dan Informasi Kinerja (ADIK), serta menggunakan Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN).
Tindak Lanjut
(2)Peningkatan Pelayanan dan Fasilitasi Proyek Infrastruktur skema KPBU
1. BKPM siap untuk
terus memfasilitasi berbagai proyek penanaman modal di bidang infrastruktur
sesuai tugas dan fungsinya di bidang penanaman modal2. Perlunya
koordinasi yang terus menerus terkait update
perkembangan proyek-proyek infrastruktur (perkembangan proyek dan milestones waktu)3. Jika dimungkinkan,
perlu segera untuk merumuskan UU Infrastruktur
yang dapat meningkatkan kepastian hukum penanaman modal di bidang infrastruktur4. Perlunya penunjukan institusi yang berperan sebagai
leader/final decision maker
terkait prioritas proyek-proyek KPBU5. Perlunya konsistensi kebijakan sektoral untuk mendukung partisipasi pihak badan usaha (investor) di berbagai proyek infrastruktur, khususnya terkait:
– Kebijakan perizinan dan nonperizinan
– Kepastian skema pembiayaan yang akan digunakan (APBN/APBD atau melibatkan pihak badan usaha) – Kebijakan untuk mendukung PTSP Pusat di BKPM
The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia 25
Terima
Kasih
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating BoardJln. Jend. Gatot Subroto No. 44 Jakarta 12190 - Indonesia
t . +62 21 525 2008
f . +62 21 525 4945