PENINGKATAN NILAI TAMBAH INDUSTRI WAYANG KULIT MELALUI PENYIAPAN DESTINASI WISATA PENDIDIKAN, SENI DAN BUDAYA
Eka Murtiasri, Suharto, Sartono
Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Semarang, Semarang, 50275 Email: [email protected]
Abstract
There are various problems faced by SMEs leather (puppet) in Sukoharjo in maintaining quality and improving product quality. In this study will be done thorough approach to SME development by integrating all aspects of SME activities ranging from production activities, administration, marketing and preparation of the gallery in a single integrated activities. End of the program is the establishment of a tourist destination education, arts, culture and shopping to become a mainstay of Sukoharjo in promoting the region and accounts for regional revenue. Detailed activities to be performed include: (1) Arrangement of the production process, spatial planning, structuring a storage area of the skin and educational space layout; (2) Increasing the number and quality of artisans through training puppet making "Ayo Nyantrik, Gawe Wayang" skills training ranging from basic to advanced skills for the young generation of enthusiasts puppet. Cost trainer is the share of owners of SMEs, while materials and equipment for training (cardboard, leather, color tools) covered with the team and owners of SMEs (3) Preparation of space gallery to show off the finished product with the procurement of display cabinets and display tool for displaying puppets and play puppet (4) manufacturing of manual catalogs as a promotional medium (5) integration of activities in realizing the tourist destinations of education, culture and art with the setting up of SMEs as a key industry partners with specific industry areas involving Sukoharjo district.
Keywords: SMEs, tourism destinations, culture and art, Tatah Sungging
Abstrak
Terdapat berbagai permasalahan yang dihadapi oleh UKM kerajinan kulit (wayang) di Kabupaten Sukoharjo dalam mempertahankan kualitas dan meningkatkan kualitas produk. Pada kajian ini akan dilakukan pendekatan pengembangan UKM secara menyeluruh dengan mengintegrasikan semua aspek kegiatan UKM mulai dari kegiatan produksi, administrasi, pemasaran dan penyiapan gallery dalam satu kegiatan terpadu. Akhir dari program ini adalah terbentuknya suatu destinasi wisata pendidikan, seni, budaya dan belanja yang mampu menjadi andalan Kabupaten Sukoharjo dalam memajukan daerah dan menyumbang PAD. Detil kegiatan yang akan dilakukan meliputi: (1) Penataan proses produksi, penataan ruang, penataan tempat penyimpanan kulit serta layout ruang pendidikan; (2) Peningkatan jumlah dan kualitas tenaga pengrajin melalui kegiatan pelatihan pembuatan wayang “Ayo Nyantrik, Gawe Wayang” mulai dari pelatihan ketrampilan dasar hingga ketrampilan tingkat lanjut bagi generasi muda peminat wayang. Biaya pelatih merupakan share dari pemilik UKM sedangkan bahan dan peralatan untuk pelatihan (karton, kulit, alat warna) ditanggung bersama tim dan pemilik UKM (3) Persiapan ruang gallery pamer produk jadi dengan pengadaan lemari display dan alat display untuk menampilkan wayang dan lakon wayang (4) pembuatan katalog manual sebagai media promosi (5) pengintegrasian kegiatan dalam mewujudkan destinasi wisata pendidikan, budaya dan seni dengan menyiapkan UKM mitra sebagai industri utama dengan melibatkan industri spesifik daerah Kabupaten Sukoharjo.
PENDAHULUAN
Wayang Kulit: Local Cultural Heritages of Creative Industries
Wayang, khususnya wayang kulit memberikan arti penting dalam pengembangan industri kreatif berbasis budaya lokal Indonesia. Sejalan dengan pencanangan peta jalan industri kreatif Nasional, industri kerajinan tatah sungging wayang kulit merupakan salah satu produk industri kreatif menyumbang kontribusi besar dalam ekspor secara signifikan yaitu sebesar 18% dari keseluruhan nilai ekspor (2010; Disperindag). Wayang kulit merupakan produk industri kreatif strategis karena berbasis pada nilai-nilai adiluhung budaya lokal Indonesia (local cultural heritages of creative industries) yang diakui sebagai salah satu warisan budaya dunia yang perlu mendapat perhatian dan pendampingan agar tetap eksis dalam proses perubahan jaman yang semakin modern.
Ketika seni wayang kulit dilihat dari perspektif budaya popular, wayang kulit lebih memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi sebuah industri kreatif daripada ketika seni wayang kulit dilihat dari perspektif budaya tradisi. Konsep dasar agar seni pertunjukan wayang kulit sebagai media tradisional bisa tetap bertahan dan laku dijual, maka perlu diproduksi sebagai industri budaya salah satunya berbasis teknologi. Dengan "digitalisasi, seni pertunjukan wayang kulit akan berkembang menjadi industri kreatif yang lebih mudah dikonsumsi oleh siapapun yang berminat. Para kreator seni dan ahli teknologi (terapan dan IT) diharapkan mampu berkolaborasi agar seni pertunjukan wayang kulit bisa dikonsumsi masyarakat secara nasional maupun Internasional sehingga dapat memperluas jangkauan segmentasi pasar dan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap budaya wayang kulit itu sendiri.
Berdasar data Produk Domestik Bruto tahun 2010-2013, sumbangan industri kreatif termasuk di dalamnya industri tatah sungging menunjukkan nilai sumbangan produk ekonomi kreatif (termasuk industri wayang kulit) mengalami peningkatan sejak tahun 2010 (tahun awal pencanangan industri kreatif) dari 9% hingga 11% pertahun. Dari sepuluh sektor penyumbang PDB, sektor ekonomi kreatif menyumbang 7% dari seluruh penerimaan PDB pada tahun 2013. Nilai yang cukup signifikan dalam menunjukkan kemampuannya berperan dalam menyumbang pendapatan negara.
Selain dilihat dari sisi industri kreatif, wayang kulit Indonesia, juga diakui sebagai bentuk kesenian tradisional yang telah mendunia. Negara lain seperti: Australia, Jepang, Suriname dan Belanda memasukkan seni pertunjukan wayang (kulit dan tari) serta gamelan dalam kurikulum studi pengenalan kebangsaan (cross cultural understanding) mereka. Bentuk cross cultural understanding diwujudkan dalam materi perkuliahan pengenalan budaya asing di negara mereka. Setiap tahun, semakin banyak negara asing yang memasukkan wayang dalam kurikulum pempendidikanan, sehingga permintaan produk wayang kulit sebagai media pembelajaran antar negara semakin meningkat.
Selain peminat wayang kulit dari luar negeri (asing), peminat di dalam negeri juga sangat banyak. Program Pemerintah untuk terus nguri-uri budaya Jawa dengan memasukkan cerita wayang dalam kurikulum pendidikan seni maupun bahasa Jawa mulai menampakkan hasil. Berkembangnya seni pewayangan yang sarat filosofi dan sering dikemas dalam bentuk yang lebih atraktif terbukti mampu mendorong minat generasi muda mencintai wayang melalui pementasan wayang dan tayangan Mahabarata, Ramayana, Syiwa di media elektronik, semakin mempertebal rasa cinta pada budaya wayang yang penuh dengan tuntunan filosofis kehidupan.
(cross cultural studies), permintaan produk wayang dari beberapa negara seperti Malaysia, Australia dan Suriname meningkat dari tahun ke tahun. Kenaikan permintaan tersebut merupakan wujud dari permintaan para peminat dan pemerhati pertunjukan wayang yang menyaksikan pagelaran wayang kulit oleh para dalang kondang di luar negeri dan dampak dari pengembangan kurikulum pada mata kuliah budaya asing (budaya Asia). Selanjutnya, kebutuhan pemenuhan ekspornya dilimpahkan pada UKM mitra di sentra kerajinan desa Kayen, Kecamatan Sonorejo, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah (sumber penuturan UKM mitra). Berbagai jenis produk dan jumlah wayang dipesan oleh beberapa Negara melalui perantaraan pihak ketiga kepada UKM mitra.
Permasalahan UKM Wayang di desa Sonorejo Kabupaten Sukoharjo merupakan bagian yang harus diselesaikan dari serangkaian permasalahan menyeluruh yang dihadapi. Beberapa permasalahan tersebut adalah:
1. Adanya keterbatasan dalam kegiatan promosi khususnya dalam perluasan pasar nasional dan internasional.
2. Perlunya menjaga kontinuitas produksi baik dalam jumlah (kuantitas) maupun dalam segi kualitas.
3. Belum dilakukan proses pengintegrasian sarana dan prasarana pendukung dalam mewujudkan destinasi wisata pendidikan, seni budaya dan wisata belanja
4. Belum terbentuknya forum kerja bersama dalam mengembangkan wilayah UKM Mitra sebagi destinasi wisata dengan instansi Pemerintah dan pelaku bisnis serupa.
Dalam penelitian ini, tujuan penelitian merujuk pada permasalahan yang dihadapi. Oleh karenanya, tujuan dilakukannya penelitian ini adalah:
1. Mengaktifkan kegiatan promosi khususnya dalam perluasan pasar nasional dan internasional.
2. Menjaga kontinuitas produksi baik dalam jumlah (kuantitas) maupun dalam segi kualitas melalui program penataan kerja dan penambahan jumlah pengrajin wayang.
3. Dilakukan proses pengintegrasian sarana dan prasarana pendukung dalam mewujudkan destinasi wisata pendidikan, seni budaya dan wisata belanja
4. Dilakukan pembahasan tentang pembentukan forum kerja bersama dalam mengembangkan wilayah UKM Mitra sebagai destinasi wisata dengan instansi Pemerintah dan pelaku bisnis serupa.
METODE PENELITIAN
Obyek Penelitian: Industri Tatah Sungging di Kabupaten Sukoharjo
Nilai strategis UKM Tatah Sungging Wayang di Sentra Kerajinan Kulit Sonorejo, Sukoharjo adalah potensinya dalam memenuhi permintaan produk wayang kualitas premium/ekspor. Melihat berbagai peluang dan nilai strategis yang tercipta, maka UKM Tatah Sungging selain merupakan usaha yang berorientasi laba dan mampu mendatangkan rupiah dari dalam dan luar negeri sehingga secara tidak langsung meningkatkan PAD Kabupaten Sukoharjo, PAD Propinsi Jawa Tengah dan PDB Indonesia.
Sukoharjo, selain pada sentra mebel rotan, adalah: kerajinan “Tatah Sungging”. Tatah Sungging merupakan ikon kerajinan Jawa Tengah yang memiliki sentra tidak lebih dari 70 UKM yang tersebar yang di daerah: Sukoharjo, Wonogiri, Klaten, dan Magelang. Tabel 1menunjukkan posisi Kabupaten Sukoharjo dalam sebaran sentra kerajinan tatah sungging di Jawa Tengah.
Tabel 1
Sebaran Sentra Tatah Sungging Jawa Tengah
N o
Desa Kecamatan Kab/Kodia Unit Usaha
1 Kayen Sonorejo Kab. Sukoharjo 20
2 Punduhsari Manyaran Kab. Wonogiri 9
3 Sidowarno Wonosari Kab. Klaten 18
4 Sumber Dukun Kab. Magelang 20
Sumber: Data Departemen Perindustrian dan Perdagangan Jateng, 2012
Kecamatan Sonorejo merupakan sentra pengrajin sungging terbesar Sukoharjo yang memiliki 20 UKM pengrajin wayang kulit untuk hiasan maupun wayang kulit untuk pertunjukan. Usaha yang dilakukan UKM Mitra, UKM Marwanto dan UKM Suwandi selain berorientasi pada profit, juga merupakan usaha yang berorientasi menjaga kearifan lokal dalam upaya turut serta nguri-uri budaya Jawa yang adiluhung. Tujuan akhir dari kegiatan ini adalah mewujudkan UKM yang mampu menembus pasar dunia melalui destinasi wisata budaya, seni dan pendidikan. Secara makro, salah satu tujuan yang ingin dicapai adalah melestarikan budaya bangsa (national heritage) yang selanjutnya menjadi tugas bersama Pemerintah Daerah dan Pusat untuk menjaganya, secara mikro menjadikan UKM menjadi kuat dan mandiri.
Metode Pemecahan Masalah
Berdasar tujuan dari kegiatan ini, upaya pendampingan terhadap UKM Tatah sungging dilakukan melalui berbagai program secara bertahap dengan prioritas pembuatan produk kualitas premium melalui pendekatan menjaga dan meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi, penerapan sains dan teknologi tepat guna, peningkatan kompetensi pengrajin tatah sungging, pengelolaan manajemen dan pengembangan pasar sasaran terutama pasar produk di luar negeri (ekspor) melalui pembuatan media promosi dengan mewujudkan suatu destinasi wisata pendidikan, budaya, seni dan belanja.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Mempertahankan Kualitas Produk Wayang Kulit
Kualitas produk merupakan harga yang akan dibayar oleh pembeli di samping pelayanan. Untuk dapat mempertahankan kualitas wayang premium, dilakukan kegiatan:
b. Menjaga kondisi bahanbaku kulit dari kerusakan karena peletakan yang ditumpuk-tumpuk menjadikan kulit siap pakai menjadi lembab (berjamur), kotor dan rusak.
c. Penyimpanan secara khusus pola master wayang, agar pengrajin tidak kehilangan gambar master. Dilakukan pendekatan teknologi desain pada UKM secara sederhana. Pola “master wayang” digambar secara manual (berdasarkan pemahaman filosofis).
d. Pembuatan meja kaca untuk mempermudah/mempresisikan proses menjiplak master wayang pada kulit sehingga proses ini tidak perlu dilakukan berulang. e. Pembuatan media yang memudahkan proses pewarnaan sesuai pakem sehingga
diperoleh warna standar, tidak terlalu tebal/tipis, terlalu gelap/terang.
f. Perancangan teknik pengepresan wayang menggunakan alat pres kaca menggantikan pres model lama dengan kaleng cat yang diisi semen.
Pemenuhan Produksi karena Minimnya Tenaga Pengrajin Tatah Sungging
Kesinambungan pelatihan pembuatan wayang bagi pengrajin pemula (usia di atas 8 tahun) dan kelompok pemuda desa Kayen merupakan kegiatan yang harus dipertahankan. Pembukaan pelatihan Nyantrik Gawe Wayang telah dilakukan pada tanggal 31 Agustus 2015. Hingga saat ini (tahun 2016) jumlah peserta pelatihan (cantrik) sebanyak 13 orang, 6 orang cantrik sungging dan 7 orang cantrik tatah. Terdapat seorang cantrik dewasa yang belajar baik tatah maupun warna (sungging). Hingga saat ini sudah banyak hasil produk wayang yang diperoleh dari kegiatan ini. Terdapat 2 orang yang telah sampai pada tahap mahir.
Hasil Kegiatan Belajar Nyantrik Gawe Wayang
Gambar 2. hasil pelatihan tatah setelah 2 bulan, peserta mampu membuat tatah wayang halus pada media bahan kertas karton sesuai ukuran wayang sebenarnya hingga memberi warna sesuai
dengan pakem wayang sebenarnya.
Adapun Jadwal Pelatihan Tingkat Dasar hingga mahir ditampilkan dalam tabel berikut:
Tabel 2
Jadwal Pelatihan Tingkat Dasar hingga mahir
Perte
2 minggu Siswa mengenal tokoh wayang kulit dan filosofi sifat setiap tokoh wayang
2 Penjelasan tentang proses pembuatan wayang dan pengenalan alat-alat tatah dan alat sungging
1 minggu Siswa mampu memahami tahap-tahap pembuatan wayang kulit mulai dari pengerokan kulit sampai
pemasangan gapit
3 Pengenalan alat-alat tatah dan alat sungging
1 minggu Siswa mampu mengenal nama dan memfungsikan alat-alat yang digunakan untuk menatah dan mewarnai/sungging
Kegiatan Tatah: tatah sandangan, jamang, mahkota dan gaman
4 Praktek 1: Tatah gambar corak sumping
2 minggu Siswa mampu menatah corak sumping
5 Praktek 2: Tatah gordan/garuda mungkur
2 minggu Siswa mampu menatah gordan/garuda mungkur 6 Praktek 3: Tatah probo 2 minggu Siswa mampu menatah probo 7 Praktek 4: Tatah
isen-isen patran
2 minggu Siswa mampu menatah isen-isen patran
8 Praktek 5: Tatah kunco/wiron/jarik
2 minggu Siswa mampu menatah kunco/wiron/jarik 9 Praktek 6: Tatah seritan
rambut
10 Praktek 7: Tatah Wajah 2 minggu Siswa mampu menatah Wajah 11 Praktek 8: Tatah Gaman/
senjata
1 minggu Siswa mampu menatah Gaman/ senjata
2 minggu Siswa mampu mengenali tokoh wayang dan sifatnya dilihat dari
2 minggu Siswa mampu menyebutkan tahap-tahap mewarnai dan cara
1 minggu Siswa mampu menyebutkan jenis warna, alat yang digunakan untuk
2 minggu Siswa mampu memberi warna dasar, menghapus bila terjadi kesalahan dan mewarnai kembali 5 Praktek 2: warna
seritan/rambut
2 minggu Siswa mampu mewarnai rambut/seritan dengan teliti 6 Praktek 3: isen-isen
mas-masan
2 minggu Siswa mampu mengisi mas-masan
7 Praktek 3: isen-isen inten-intenan
2 minggu Siswa mampu memberi isen-isen inten-intenan
8 Praktek 4: penggunaan prodo grenjeng
2 minggu Siswa mampu menggunakan prodo grenjeng
9 Praktek 5: penggunaan prodo mas
2 minggu Siswa mampu menggunakan prodo mas
10 Praktek 6: mbabari, ngalusi
2 minggu Siswa mampu mewarnai secara halus
Sumber: Hasil diskusi dengan pelatih, 2015
Di samping jadwal tersebut, akan dibuat jadwal pelatihan singkat bagi pengunjung apabila wisata budaya yang direncanakan akan tereliasasikan.
Pembuatan Buku Profil UKM sebagai Media Promosi
Gambar 3. Buku profil/Katalog wayang sebagaimedia promosi
Untuk menunjang kegiatan promosi, dilakukan pelatihan bagi para operator untuk pengelolaan web versi baru kepada para pengelola web UKM mitra dan UKM lainnya. Pelatihan ini dilakukan untuk beberapa operator, admin dan bidang-bidang terkait dengan pemasaran produk. Pemilik UKM juga akan dibekali teknik pengelolaan web lebih lanjut agar bisa mengembangkan website sesuai kebutuhan UKMnya. Pelatihan ini diselenggarakan satu hari dan merupakan tindak lanjut dari pembuatan web yang telah dilakukan oleh tim pada UKM mitra.
Pengadaan Lemari Display untuk Memajang Hasil Produk Wayang
Ruang Pamer/gallery belum didesain dalam tampilan estetika komersial yang baik, ruang pamer terkesan seadanya dan tidak rapi. Produk wayang jadi yang harganya mahal diletakkan begitu saja di meja. Kadang ditemukan produk setengah jadi dan produk jadi tertumpuk jadi satu. Diperlukan suatu penataan ruang sebagai tempat khusus menyimpan produk jadi wayang jenis premium. Dengan desain khusus, diharapkan lemari ini dapat menyimpan wayang dengan baik, sehingga tampilan ruang menjadi rapid dan kualitas wayang terjaga. Lemari pajang yang digunakan untuk mendisplay wayang jadi dirancang secara khusus oleh Tim dengan tambahan latar bahan beludru merah dan lampu di bagian atas untuk memberi kesan mewah sesuai dengan wayang kelas premium yang diproduksi oleh UKM Tatah Sungging. Lemari ini mampu menampung produk wayang.
Terintegrasinya Sarana dan Prasarana Pendukung, terbentuknya Destinasi wisata pendidikan, Seni, Budaya dan Belanja
Penataan showroom merupakan kegiatan terakhir dari berbagai macam kegiatan pendampingan pengembangan UKM mitra yang dilakukan selama 3 (tiga) tahun. Kegiatan ini dimulai dengan penataan ruang kerja yang terintegrasi dengan ruang pelatihan pembuatan wayang dan dengan ruang belanja. Unggulan dari kegiatan pada tahun terakhir ini adalah membentuk UKM mitra menjadai UKM yang mampu tumbuh, berkembang, bersaing, mandiri dan bernilai guna bagi lingkungannya. Pengembangan wisata ini, selain untuk mengembangkan usaha juga menjadi salah satu wujud upaya nguri-uri budaya Jawa melalui pengenalan wayang kulit dalam pertunjukan/tayangan lakon wayang yang disediakan oleh UKM mitra.
Gambar 5. Pendopo yang dibangun oleh mitra sebagai wujud komitmen dalam mengembangkan dan melestarikan wayang kulit sebagai budaya adiluhung.
Di pendopo inilah rencananya akan ditampilkan atraksi dan display pelatihan pembuatan wayang. Di sisi pendopo akan dijadikan gallery pamer, bengkel kerja, dan tempat pelatihan yang menyatu sebagai wisata budaya, seni dan belanja. Sebagai destinasi wisata yang menarik minat pengunjung, diperlukan pendampingan dalam mengintegrasikan produk pendukung yang berwujud semua potensi daerah yang mampu menunjang keberhasilan kegiatan ini, seperti industri makanan dan minuman khas daerah (jamu beras kencur, kunir asam) Kabupaten Sukoharjo. Di lingkungan UKM terdapat banyak pengrajin minuman jamu.
SIMPULAN
maka selain UKM mitra mampu mengembangkan proses produksi, sumber daya manusia, pemasaran dan keuangannya juga dapat menjadi bagian yang dapat mengangkat nama baik pemerintah daerah dalam hal ini Kabupaten Sukoharjo.
DAFTAR PUSTAKA Daftar Pustaka
Ali Hasballah. 2008. Cara Kerja Alat dan Rancang Bangun Mesin Pres untuk Penempelan Kulit dengan Sol Sepatu. Jurnal DINAMIKA. Vol.VI No. 1 Tahun 2008. Edisi Januari – April 2008
Boyd, Walker, Larrache, 2002. ”Manajemen Pemasaran” Jilid 2. Erlangga: Jakarta
BPS (2012),“Profil PAD dan Mata Struktur Pencarian Penduduk Kab.Sukoharjo”. Eko Indrajit, Ricardus. 2003. ”Internet dan Dunia Maya, Ekonomi Digital”.
Cetakan Kedua, Edisi Kedua. Elex media Komputindo: Jakarta
Iwan Hermawan .2008. e-commerce fitur dalam dinamika bisnis. Buletin Sains dan Artikel online: http://iwanpolines.blogspot.com akses 21 Maret2013 Jam:
08.00 wib.
Iwan Hermawan .2009. Pemutakhiran Katalog Konvensional ke dalam desain Digital dengan Pendekatan Manajemen Koleksi Berbasis 3D sebagai Added Value Strategi Promosi Bagi Produk Cinderamata Bubut Kayu Jati. Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi Vol. 1 No. 1 ISSN 2087-0868.
Iwan Hermawan .2011. Pengembangan Kemandirian Bidang Pendidikan dan Sosio Ekonomi pada Pesantren Desa Ngrembel dan Unit Ekonomi Masyarakat di Sekitarnya. Jurnal DIAN MAS. Inovasi dan Aplikasi Ipteks. Volume 1 No.1. Maret 2012. ISSN : 2089-9602
Koehler, Wallace (1999) "Digital libraries and World Wide Web sites and page persistence." Inf Research, akses: http://informationr.net/ir/4-4/paper60.html. 5 April 2010, Jam: 21.00 wib