PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN SASTRA LOKAL UNTUK MEMBANGUN KARAKTER POSITIF ANAK SEKOLAH DASAR
Patrisius Istiarto Djiwandono
Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Ma Chung [email protected]
Abstrak
Makalah ini menyarikan temuan yang telah didapat dari sebuah rangkaian penelitian dalam skema Hibah Bersaing yang bertujuan utama merancang pembelajaran karakter melalui muatan sastra lokal Malang. Terbagi menjadi 3 tahun, studi pada tahun pertama yang dilaporkan dalam makalah ini bertujuan menegaskan definisi sastra dan sastra lokal Malang, serta menggali data awal (baseline data) dari guru dan murid Sekolah Dasar tentang pemahaman karakter positif dan muatan sastra lokal yang digunakan untuk mendidik karakter. Hasil menunjukkan bahwa di sekolah belum ada upaya sistematis, terorganisir, dan berkelanjutan dalam pengembangan karakter. Juga belum banyak muatan sastra lokal yang digunakan sebagai dasar pengembangan karakter. Cerita yang mereka kenal hanya beberapa gelintir saja, dan itupun dengan pencerapan pesan moral yang kurang terarah. Sementara itu, para pakar sastra yang digali pendapatnya lewat wawancara menegaskan bahwa sastra lokal mempunyai potensi untuk menjadi dasar dalam pengembangan karakter. Disarankan untuk melakukan pendidikan karakter ini lewat permainan dan drama karena sifatnya yang selaras dengan dunia anak-anak.
Latar Belakang
berkembang dengan pondasi karakter positif yang membuatnya kokoh mengarungi gejolak kehidupan di masa-masa berikutnya.
Tentunya sudah banyak upaya yang dirintis untuk memantapkan pendidikan karakter di usia dini. Dalam pada itu, jika dicermati lebih dalam, ternyata karya-karya sastra di berbagai daerah mempunyai kandungan nilai-nilai moral yang sangat potensial untuk ditanamkan sebagai bagian dari karakter anak didik. Melalui suatu upaya pengintegrasian sastra lokal dengan kurikulum, dapat diupayakan pengembangan karakter positif melalui sastra lokal. Sayangnya, sejauh ini belum ada upaya yang cukup sistematis untuk menentukan seberapa besar potensi dari pengembangan peran sastra lokal dalam pendidikan karakter ini. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengembangan upaya pendidikan karakter melalui sastra lokal yang terentang mulai dari perancangannya, dampaknya, dan akhirnya model pembelajaran dan materi belajar untuk mencapai tujuan tersebut. Karena tujuan penelitian tersebut sangat luas, makalah ini hanya akan menyajikan sebagian darinya, yakni tentang pengertian sastra lokal, muatan sastra lokal, pendidikan karakter di mata guru dan murid, dan bagaimana potensi sastra lokal untuk menajamkan karakter.
Masalah dan Studi Terdahulu
Uraian di atas menyiratkan inti masalah yang terasa di dunia pendidikan, khususnya dunia pendidikan di tingkat sekolah dasar. Selain belum mantapnya pengelolaan pembelajaran karakter, ternyata para pendidik di tingkat ini pun belum melirik potensi muatan sastra lokal untuk dasar pengembangan karakter positif para murid. Sebagaimana yang akan tergambar di bagian berikutnya dari makalah ini, sebagian besar murid dan guru masih sampai pada tahap mengenali kemungkinan penggunaan materi sastra lokal untuk mengembangkan karakter. Selain cerita-cerita yang mereka sebutkan terkesan klise, tindak instruksional yang secara sistematis dilakukan untuk menempa karakter murid pun belum kelihatan solid.
pendidikan di perkotaan. Pendekatan naturalistik yang digunakan mengungkap fakta bahwa sikap berbahasa siswa dipengaruhi oleh lawan bicara. Mereka menggunakan bahasa yang santun hanya ketika mereka berbicara dengan kepala sekolah, guru atau orang yang lebih tua.
Studi oleh Sauri dan Nurdin (2008) meneliti pengembangan model pendidikan nilai berbasis sekolah, keluarga, dan masyarakat. Pendekatan statistic inferensial sebagai prosedur kuantitatif, serta teknik angket dan wawancara mendalam untuk prosedur kualitatif menghasilkan luaran yang mencakup (1) model pendidikan nilai dan personalisasi nilai berbasis lingkungan pendidikan formal (sekolah), pendidikan informal (keluarga), dan pendidikan nonformal (masyarakat), (2) metodologi pengembangan pendidikan nilai yang dapat digunakan guru di lingkungan sekolah, orang tua dalam lingkungan keluarga, dan tokoh masyarakat dalam lingkungan masyarakat, serta (3) model konseptual pendidikan nilai yang efektif untuk pendidikan dalam lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Tergerak oleh kekuatan global yang telah merasuki gaya hidup masyarakat Indonesia, termasuk para siswa SMP, Mulyani (2010) mengembangkan model pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia menggunakan media audio visual berbasis kearifan lokal dengan tujuan untuk membentuk kepribadian anak SMP. Masalah sentral penelitian ini adalah seberapa efektif pengembangan model pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia melalui media audio visual berbasis kearifan budaya lokal dalam upaya meningkatkan kemampuan berbahasa dan membentuk kepribadian siswa SMP. Dengan desain Riset Pengembangan dan berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan jurnal untuk guru dan siswa, terungkap bahwa penggunaan media pembelajaran audio-visual berbasis kearifan lokal dalam pembelajaran bahasa Indonesia sangat bermanfaat. Para siswa berpendapat bahwa pembelajaran menjadi tidak monoton, menyenangkan, lebih bervariasi sehingga minat, kreativitas, keaktifan dan kompetensi berbahasa mereka bisa meningkat. Selain itu, kepribadian siswa mengalami perubahan, yakni menjadi lebih mandiri, cinta tanah air, toleran, disiplin, kerja keras, jujur, kreatif, menghargai prestasi, membantu teman yang mengalami kesulitan, dan bisa menjadi pendengar yang baik.
budaya yang kuat akan tergerus dalam arus globalisasi, menjadi masyarakat yang kalah dan selalu merasa minder. Akhirnya, masyarakat tersebut akan kehilangan karakternya dan menjadi kelompok yang tidak berbeda dan tidak unik. Demikian pentingnya posisi cerita rakyat—dan tradisi lisannya—hingga ia bisa menjadi salah satu penanda bila ada tanda perubahan dalam suatu masyarakat. Di sisi lain, cerita rakyat, sebagaimana dikutip Sulistyarini, memiliki kegunaan ganda, yakni sebagai alat pendidikan, penglipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam. Sulistyarini, karenanya, berkesimpulan bahwa untuk menanamkan nilai-nilai luhur dan membangun serta mempertahankan karakter suatu masyarakat, cerita rakyat atau sastra lisan merupakan sebuah alat yang baik.
Wurianto (2011) menulis bahwa karakter manusia dibentuk melalui penanaman nilai melalui berbagai media dan metode. Salah satu cara yang potensial untuk membangun karakter adalah melalui sastra. Sastra adalah wahana menuangkan kearifan suatu masyarakat, yang diperoleh melalui proses yang panjang dan menyakitkan, dan karenanya bisa dijadikan pedoman tingkah laku generasi muda. Sastra Jawa klasik dianggap sebagai puncak kearifan lokal masyarakat Jawa. Di samping itu, ada banyak ragam budaya yang turut berperan dalam mengembangkan karakter. Salah satunya adalah sastra lisan (folklore). Sarana ini bisa menanamkan nilai-nilai mulai kepada anak didik tanpa nada menggurui.
Inti masalah yang kedua berkaitan dengan pengertian sastra, khususnya sastra lokal. Selama ini belum jelas benar apakah sastra itu, dan apakah sastra lokal itu. Wawancara dengan beberapa pakar sastra akan memperjelas kedua konsep tersebut.
Metode
Untuk mencapai tujuan pertama, yakni menangkap arti sastra dan sastra lokal serta bagaimana sebaiknya sastra dikemas untuk mengajarkan karakter dilakukan wawancara dengan 3 orang pakar sastra dari Universitas Negeri Malang.
Untuk mencapai tujuan kedua, yakni pendidikan karakter di mata guru dan murid Sekolah Dasar, dilakukan penyebaran angket dan wawancara dengan 3 orang guru dan beberapa murid kelas 4 sampai kelas 6 di SD Pagentan di Singosari, Malang.
Untuk mencapai tujuan ketiga, yakni mengenali potensi sastra lokal untuk menajamkan karakter, dilakukan wawancara dengan ketiga pakar sastra.
Angket kepada para guru berisi jawaban terbuka (open-ended) dan menanyakan 3 hal: (1) apakah pengertian karakter yang baik; (2) bagaimana selama ini pendidikan karakter diberikan di sekolah, dan (3) apakah ada cerita-cerita lokal Malang yang digunakan untuk mendidik karakter siswa.
Wawancara kepada para guru juga menanyakan ketiga hal tersebut.
Angket kepada para murid dari kelas 4 sampai 6 juga menanyakan hal yang sama. Demikian juga, wawancara kepada mereka.
Jawaban di angket dianalisis bersama oleh ketiga peneliti. Untuk memastikan tercapainya keajegan antar peneliti, dilakukan penghitungan dengan rumus Cohen-Kappa, dan hasilnya adalah tercapai keajegan pengkodingan sebesar 0.87.
Wawancara dengan pakar sastra dilakukan selama sekitar satu jam untuk menggali pendapat profesional mereka tentang pengertian sastra, pengertian sastra lokal Malang, dan bagaimana sebaiknya muatan lokal itu digunakan untuk mengembangkan karakter positif di kalangan anak SD.
Wawancara ini dipindah dalam bentuk transkrip tertulis, yang kemudian dianalisis dengan software nVivo versi 10 untuk mendapatkan beberapa kategori tema.
Dua orang pakar sastra dan satu penulis buku sastra diwawancarai untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang sastra dan sastra lokal. Wawancara yang direkam itu kemudian ditranskripsikan, dan diolah dengan Nvivo versi 10.
Bagian ini menguraikan pendapat para pakar sastra tentang definisi sastra lokal, serta potensi sastra lokal untuk mengasah karakter. Pembahasan dibagi menjadi dua topik utama: pengertian sastra dan sastra lokal Malang, dan pembelajaran karakter melalui karya sastra.
Pengertian Sastra dan Sastra Lokal
Semua pakar yang diwawancarai sependapat bahwa sastra dimengertikan sebagai karya tulis, walaupun tumbuh dari tadisi lisan. Sastra adalah suatu karya yang banyak diwarnai dengan fiksionalitas dan imajinasi.
Pakar pertama menyatakan bahwa untuk menentukan apakah suatu karya sastra termasuk karya lokal atau tidak, perlu dilihat bahasanya. Jadi cerita panji atau bentuk cerita lain yang berbahasa Malang sudah bisa dianggap sebagai sastra lokal Malang. Ini senada dengan pendapat pakar kedua yang mengatakan bahwa sastra lokal adalah yang berbahasa lokal atau mempunyai sensibilitas lokal. Secara lebih sempit, sastra lokal adalah yang ditulis oleh penulis-penulis yang tumbuh, berkarya di Malang, dan mengangkat tema-tema lokal Malang. Sebagai contoh, disebutkan penulis Ratna Indraswari Ibrahim yang meskipun karya-karyanya berbahasa Indonesia namun menceritakan masalah-masalah sosial politik yang muncul di Malang.
Menurut pakar pertama, beberapa jenis sastra lokal Malang meliputi cerita panji dan babad, cerita di kawasan Singosari, Tengger, dan Coban Rondo, Wayang Topeng dan Wayang Gandrung, bahkan lagu-lagu tradisional.
Muatan Sastra Lokal dan Potensinya
sastra Malang, apapun bentuknya, jika diceritakan dalam bahasa Jawa dialek Malang maka dia menjadi karya sastra lokal Malang.
Dalam hubungannya dengan teknik pembelajaran yang tepat untuk mendidik karakter, pakar yang diwawancarai ini menyebutkan teknik pembelajaran berupa permainan yang cocok untuk anak-anak usia Sekolah Dasar. Muatan sastra lokal dapat dikemas dalam bentuk permainan atau main peran yang kemudian bisa dimainkan oleh anak-anak, sedemikian sehingga terjadi internalisasi karakter positif ke dalam diri mereka.
Inti sari dari hasil wawancara dengan Bapak Drs. Amri adalah sebagai berikut:
1. Cerita-cerita lokal baik sekali untuk dijadikan materi pendidikan karakter karena bersumber dari budaya Indonesia.
2. Cerita di sekitar kawasan Malang yang bisa diangkat sebagai materi pendidikan karakter adalah cerita-cerita di kawasan Singosari, Tengger, dan Coban Rondo yang berkaitan dg Sedudo, Nganjuk. Juga cerita-cerita tentang Gajayana.
3. Ekspresi sastra khas Malang muncul dalam bentuk cerita Panji dalam bentuk wayang Topeng atau Wayang Gandrung.
4. Sastra per definisi adalah karya tulis, padahal bisa berakar dari tradisi lisan. Jenis karya sastra ditentukan oleh bahasanya.
5. Pada dasarnya sebagian besar sastra lokal memungkinkan untuk dijadikan materi pengembangan karakter, apalagi untuk anak usia sekolah dasar. Tidak terikat pada cerita rakyat yang punya kerangka cerita, lagu-lagu tradisional seperti “Bapak Pucung” atau “Megatruh” pun bisa diangkat sebagai materi pengembangan karakter.
6. Penyajian muatan sastra lokal lebih baik dibuat bervariasi; bisa berupa permainan/games atau nembang bersama, mengingat dunia anak-anak erat sekali dengan bermain-main. Mereka akan lebih mudah menerima karakter positif melalui aktivitas seperti itu karena tidak membosankan, tidak harus berpikir terlalu berat untuk mencernanya, sehingga akan lebih menyenangkan.
7. Cerita yang memuat sisi positif dan sisi negatif bisa digunakan sebagai materi, dengan penekanan pada karakter positif yang ingin ditonjolkan.
Pengertian karakter, sebagaimana dikemukakan oleh Latif (2014) adalah “cetakan dasar kepribadian seseorang . . . yang terkait dengan kualitas-kualitas moral, integritas, serta kekhasan potensi dan kapasitasnya sebagai hasil dari suatu proses pembudayaan dan pelaziman”. Bagian berikut ini menguraikan secara terperinci pendapat ketiga pakar sastra yang kami wawancarai tentang bagaimana mengembangkan pengajaran sastra untuk mendidik karakter anak sekolah dasar. Pada umumnya, ketiga pakar sepakat bahwa materi sastra lokal menyimpan potensi untuk dijadikan sebagai bahan pendidikan karakter. Saryono (komunikasi pribadi, 2014) mengemukakan bahwa karakter itu tidak bisa kita comot dari negeri yang jauh karena karakter yang dibangun harus memiliki otentisitas. Khasanah oorang-orang besar itu kuyup dengan khasanah lokal, tidak pernah mengadopsi dari bangsa lain. Misalnya, Gandhi menjadi hebat karena konsep khas lokalnya, yaitu Ahimsa, Satyagraha. Nelson Mandela juga menjadi terkenal karena konsep Ubuntunya itu. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa sastra-sastra lokal selalu mempunyai peluang untuk membentuk karakter yang otentik.
Amri (komunikasi pribadi, 2014) menyarankan penyajian materi sastra lokal secara bervariasi, yang bisa berupa permainan/games atau nembang bersama. Mereka akan lebih mudah menerima karakter positif melalui aktivitas seperti itu karena tidak membosankan, tidak harus berpikir terlalu berat untuk mencernanya, sehingga akan lebih menyenangkan. Ini penting karena dunia anak-anak erat sekali dengan bermain-main. Dia juga mengatakan bahwa kalau karakter ‘keberanian’ yang ingin ditonjolkan, maka perilaku karakter yang menunjukkan keberanianlah yang harus disajikan dalam materi pengembangannya.
Dia mengemukakan bahwa pengembangan karakter lewat sastra lokal bisa dicapai melalui 2 jalur, yakni menyatu dengan pembelajaran, atau di luar pembelajaran. Ada istilah “tumpang sari”, yaitu pembelajaran dengan tumpang sari. Tumpang sari adalah menanam satu tanaman pokok tapi juga tanaman yg lain tumbuh dengan bagus. Hal ini bisa juga diterapkan di kelas. Sebagai contoh, pada pelajaran agama dan PKN bisa disisipkan pengajaran seni-seni sastra.
Selanjutnya beliau juga meyakini bahwa model-model jagoan seperti Gatutkaca dan Antareja bisa menjadi pengganti jagoan-jagoan Barat yang selama ini diidolakan para murid. Ccerita sastra lokal Malang ditambah dengan sastra pentas, seperti wayang Malang, wayang topeng Malang, bisa menjadi sarana pembentukan karakter. Aspek kesastraannya bisa dipakai untuk mengembangkan karakter.
Maka menurutnya tidak cukup hanya membaca karya sastra, namun juga lewat mempraktekkan, mempertunjukkan, dan ditambah juga dengan sarasehan, yaitu mendiskusikan pesan-pesan moral itu.
Menarik untuk mengupas hal keteladanan lewat tokoh-tokoh dalam cerita sastra. Menurut Saryono (komunikasi pribadi, 2014) keteladanan yang baik tidak timbul dari tokoh yg tipologis, yaitu tokoh yang jelas kelihatan jahat atau buruknya; tokoh seperti ini umumnya digambarkan sangat jahat saja, atau sangat baik saja. Yang ideal adalah tokoh yang psikologis, yaitu yang yang berkembang menjadi baik setelah melalui pergulatan dalam diri antara nilai-nilai baik dengan nafsu jahat. Jadi peneladannannya adalah meniru bagaimana tokoh itu berkembang menjadi orang baik, orang hebat, orang bermoral. Tokoh yang tipologis, yang hanya hitam saja atau putih saja justru tidak menguntungkan anak-anak. Anak-anak harus diberi pengertian bahwa ada perjuangan-perjuangan yang harus dilalui untuk menjadi insan baik. Jadi menurutnya yang layak diteladani itu tidak terjadi secara tiba-tiba, tapi memerlukan usaha dan perjuangan.
sebagainya. Perbedaan ini ini nampaknya menjadi bahan untuk dipertimbangkan ketika menyusun rancangan pembelajaran untuk anak-anak usia SD.
Tak kalah pentingnya adalah pendapat mereka tentang tugas guru yang baik dan profesional dalam pembelajaran sastra. Guru yang baik harus bisa memilih karya sastra, memandu dalam proses mempelajari karya sastra itu, kemudian memberikan konfirmasi mana yang harus diteladani dan mana yang tidak. Ini karena sastra yang baik selalu dilematis, memuat gambaran-gambaran yang lebih kompleks. Disinilah peran guru sangat penting dalam memberikan konfirmasi.
Pendidikan Karakter di Mata Guru dan Murid
Melalui wawancara dan angket dengan para guru SDN Pagentan, Singosari, diperoleh gambaran umum tentang pendidikan karakter di sekolah tersebut. Setelah melalui pengkodean transkrip wawancara dan angket open-ended, didapat beberapa cara yang umumnya dilakukan pihak sekolah dalam melakukan pembentukan karakter positif. Tabel di bawah ini meringkas cara tersebut dan jumlah guru yang mengatakan telah melakukannya:
Tabel 1. Pengembangan Karakter Positif di Sekolah
No Cara pembinaan karakter Jumlah responden (%)
1. Guru sebagai model 33.33
2. Penanaman nilai lewat agama 16.67
3. Menunjukkan perilaku baik 50
4. Menceritakan dongeng 33.33
No Cara pembinaan karakter Jumlah responden (%)
7. Langsung menindak 33.33
8. Meminta pendapat anak 16.67
9. Lewat kegiatan bersama (senam, sholat, menyanyi, membersihkan halaman)
16.67
10. Memakai kelembutan 16.67
11. Kerja kelompok 16.67
Tampak dari hasil di atas bahwa sebagian besar guru memilih untuk menunjukkan perilaku baik sebagai teladan untuk para muridnya. Adapun cerita/dongeng ternyata tidak banyak dipakai, sekalipun dari pengakuan mereka yang menggunakannya ditemukan cukup beragam jenis cerita.
Pada tanggal 8 Mei 2014 dilakukan wawancara dengan 4 orang guru SDN Pagentan 2. Wawancara semi-terstruktur ini bertujuan menggali pendapat mereka tentang bagaimana sekolah mendidik karakter para murid, cerita-cerita apa yang sudah pernah disampaikan kepada para murid sebagai upaya pengembangan karakter positifnya, dan apa yang harus dilakukan untuk menjadikan cerita-cerita tersebut sebagai materi pengembangan karakter.
Inti sari dari wawancara dengan ketiga guru tersebut dapat diringkas sebagai berikut:
1. Pendidikan karakter diajarkan melalui beberapa kebiasaan, seperti menyapu halaman, senam, atau upacara.
2. Pendidikan karakter juga dilakukan melalui keteladanan guru dan teguran langsung. 3. Beberapa cerita yang bisa digunakan sebagai materi pendidikan karakter: Malin
Kundang, Thomas Alva Edison, Ken Arok dan Ken Dedes, Coban Rondo.
4. Dalam kaitannya dengan cerita-cerita, pendidikan karakter sebaiknya ditanamkan melalui pementasan-pementasan, atau bermain peran.
Cerita-cerita yang Digunakan di Sekolah
Temuan berikutnya yang didapat dari hasil wawancara dan angket adalah cerita-cerita yang disampaikan oleh para guru dalam upaya mereka mengembangkan karakter positif anak didiknya. Berikut ini disajikan tabel yang memuat cerita-cerita yang biasanya mereka pakai, dan jumlah responden yang mengaku menggunakannya:
Tabel 2. Cerita-Cerita yang Digunakan di Sekolah
No Cerita Jumlah responden (%)
1. Malin Kundang 100
2. Si Kancil 50
3. Singosari 50
4. Bawang Merah Bawang Putih 33.33
5. Sangkuriang/Tangkuban Prahu 33.33
6. Raden Ajeng Kartini 16.67
7. Roro Jonggrang 16.67
8. Sunan Kalijaga 16.67
9. Putri Cinderella 16.67
10. Kejujuran Pak Lurus 16.67
11. Nabi Muhammad 16.67
12. Terjadinya Banyuwangi 16.67
Tabel di atas menunjukkan bahwa cerita yang paling sering dipakai adalah bukan yang berlatar budaya Malang, namun merupakan cerita yang umum dikenal di Nusantara. Cerita Singosari cukup banyak dipakai (separuh dari jumlah responden) untuk mengembangkan karakter positif.
Tabel berikut di bawah ini menunjukkan rangkuman jawaban para murid SD tentang cerita lokal yang sering diperdengarkan ke mereka oleh para gurunya.
Tabel 3. Cerita Lokal Menurut Para Murid SD (dalam persen)
Menarik untuk melihat bahwa sebagian besar dari mereka menyebutkan cerita tentang Singosari dan perebutan Ken Dedes oleh Ken Arok dan Tunggul Ametung. Rupanya hanya sebatas itulah cerita-cerita yang mereka sering dengar dari gurunya. Agak memprihatinkan untuk mengetahui bahwa hal yang paling mereka ingat tentang Ken Dedes adalah pertarungan antara Ken Arok dan Tunggul Ametung memperebutkan Ken Dedes, yang berujung pada tewasnya Tunggul Ametung dan naiknya Ken Arok menjadi raja dan memperistri Ken Dedes.
Materi Sastra Lokal Malang
Dari wawancara dengan Bapak Wahyudi diperoleh beberapa kumpulan karya sastra lokal Malang. Karya-karya tersebut meliputi cerita-cerita legenda, puisi, dan cerpen yang kesemuanya dapat digolongkan sebagai karya sastra lokal Malang menurut definisi yang telah diuraikan di atas.
No Judul 1 Asal Usul Nama Malang 2 Ken Arok
3 Coban Rondo 4 Aji Saka
5 Legenda Gunung Arjuna 6 Jaka Unthuk
7 Empu Supa
8 Bagus Setya dan Bagus Tuhu 9 Bambang Durjana
Kesimpulan
Makalah ini telah menguraikan keterkaitan antara upaya pendidikan karakter anak-anak usia Sekolah Dasar dan potensi muatan sastra lokal Malang dalam pengembangan karakter tersebut. Upaya ini telah mulai banyak dikaji secara empiris oleh beberapa peneliti, yang secara umum menyimpulkan bahwa muatan satra atau kebahasaan selalu berpotensi untuk mengembangkan karakter luhur. Khususnya di daerah Malang, ternyata belum ada upaya untuk mengembangkan sastra lokal menjadi dasar pendidikan karakter. Maka dilakukan penelitian yang bertujuan menyajikan definisi sastra lokal dan muatan sastra lokal, menggambarkan potensi sastra lokal untuk menajamkan karakter, dan menyajikan pendidikan karakter di mata guru dan murid Sekolah Dasar.
pengembangan karakter, dan penyajiannya sebagai pelajaran bisa dalam bentuk main peran dan pementasan drama.
Dalam pada itu, didapat juga profil pandangan guru dan murid tentang sastra lokal Malang dan pendidikan karakter di sekolah. Umumnya, sastra lokal yang mereka ketahui hanya terdiri dari beberapa gelintir saja, dan belum ada upaya sangat sistematis dan berkelanjutan untuk menjadikan sastra lokal sebagai dasar pijakan bagi pengembangan karakter anak didik.
DAFTAR RUJUKAN
Latif, Y. 2014. Keteladanan Pancasila. Kompas, 25 Maret 2014, hal 15.
Mulyani, M. 2010. Pengembangan Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Menggunakan Media Audio Visual Berbasis Kearifan Lokal Yang beroriantasi Pada Pembentukan Kepribadian Anak SMP. Laporan Penelitian. Diunduh 10 Januari 2013. http://elib.pdii.lipi.go.id/katalog/index.php/searchkatalog /byld/269992.
Nugrahani, F. 2011. Penanaman nilai-nilai kearifan lokal melalui pembelajaran unggah-ungguhing basa dalam upaya pembentukan karakter generasi muda. Makalah dalam seminar nasional Pengembangan Pendidikan Karakter Bangsa Berbasis Kearifan Lokal di Universitas Muhammadiyah Malang 30 April 2011. Diunduh 26 Juli 2012 dari
http://www.mpbi-pascaunivet.ac.id/nilaikearifan.pdf.
Sauri, S. & Nurdin, D. 2008. Pengembangan Model Pendidikan Nilai Berbasis Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat. Laporan Penelitian. Diunduh 9 Februari 2013.
http://penelitian.lppm.upi.edu/detil/26/pengembangan-model-pendidikan-nilai-berbasis-sekolah,keluarga,-dan-masyarakat.
Sulistyarini, D. 2011. Nilai Moral dalam Cerita Rakyat sebagai Sarana Pendidikan Budi Pekerti. Makalah dalam Kongres Bahasa Jawa V di Surabaya. Diunduh 21 Februari 2013. http://www.adjisaka.com/kbj5/index.php/03-makalah-komisi-b/642-13-nilai-moral-dalam-cerita-rakyat-sebagai-sarana-pendidikan-budi-pekerti
Wurianto, A.B. 2011. Transformasi Nilai - Nilai Luhur Sastra Jawa Klasik sebagai
Pengembang "Content" Pendidikan Karakter Berkearifan Lokal Di Sekolah. Makalah dalam Kongres Bahasa Jawa V di Surabaya. Diunduh 21 Februari 2013.