PENGOLAHAN AIR LIMBAH YANG MENGANDUNG LOGAM Cd MENGGUNAKAN KOMPOSIT ADSORBENT DENGAN BENTONIT Fe3O4

Teks penuh

(1)

Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 20, Agustus 2014 Page | 66

PENGOLAHAN AIR LIMBAH YANG

MENGANDUNG LOGAM Cd MENGGUNAKAN

KOMPOSIT ADSORBENT DENGAN BENTONIT & Fe

3

O

4

M. Faizal*, Hariyani, Rindy Mutia Fitri

*Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya Jln. Raya Palembang Prabumulih Km. 32 Inderalaya Ogan Ilir (OI) 30662

Email: faizal_ga@yahoo.co.id

Abstrak

Pertumbuhan kebutuhan manusia memberikan dampak negatif kepada lingkungan seperti pencemaran yang dapat membahayakan kelangsungan makhluk hidup. Pencemaran limbah logam yang berasal dari limbah domestik, rumah sakit, pasar, industri pertambangan, pengolahan logam besi, industri kimia dan otomotif banyak menghasilkan limbah ion logam. Limbah logam dapat diserap dengan metode berbagai macam cara seperti separasi, adsorpsi, membran, dll. Batuan alam yang bisa digunakan sebagai bahan penyerap seperti Bentonit, zeolit, arang, dan beberapa jenis lainnya yang biasanya digunakan sebagai adsorben. Bentonit memiliki daya untuk mengembangkan kation-kation yang ditukarkan ketika terjadi proses adsorpsi, tapi setiap adsorben harus diaktivasi terlebih dahulu sebelum digunakan untuk proses penyerapan supaya kerja absorbennya optimal, penelitian kami lebih memilih bentonit alam yang diaktifkan menggunakan campuran FeCl3 dan FeCl2, menggunakan limbah sintetik Cadmium Asetat

dengan kadar 5,32 ppm, dan rasio komposit yang digunakan adalah 1:1, 1:2, 1:3 dengan variabel masa bentonit 250 mg, 500 mg, 750 mg dan waktu kontak yang digunakan adalah 15 menit, 25 menit, 35 menit. Penelitian ini merupakan proses adsorpsi yang selanjutnya hasil penelitian kami dianalisa menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom (AAS). Dengan rasio komposit maksimum 1:3 dan waktu kontak 25 menit pada 500 mg bentonit dapat menurunkan kadar limbah logam Cadmium sintentik hingga persentase reduksi mencapai nilai optimal yaitu 80%.

Kata kunci : Cadmium, adsorpsi, bentonit.

Abstract

Growth of human needs negative impacts on the enviroment such as pollutions that many endanger the suvival of living beings. Metal waste pollution from domestic sewage, hospital,market minig industry, ferrous metal processing, chemical and automotive industry produces a lot of waste metal ions. Metal waste can be absorbed by the method in various ways such as separation, adsorption, membrane, etc. Natural rocks can use absorbent material such as bentonite, zeolite, charcoal, and some other some other types that are usually used as an adsorbent. Bentonite has the power to develop exchangeable cations when the adsortion process, but each adsorbent must be actived before use in order to process the work absorbennya be optimal absorption, our study prefer natural bentonite activated using a mixture of FeCl3

and FeCl2, using synthetic wastewater Cadmium acetate with levels of 5,32 ppm, and the compositeratio

used wa 1:1, 1:2, 1:3with a variable Period of bentonite 250 mg, 500 mg, 750 mg and contact time used was 15 minutes, 25 minutes, 35 minutes. This study is a further adsorption processes our results were analyzed using atomic absorption spectrophotometry (AAS). With a maximum composite ratio 1:3 and a contact time of 25 menutes at 500 mg bentonite can reduce levels of the metal cadmium synthetic waste reduction to ochieve optimum value percentage is 80%.

(2)

Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 20, Agustus 2014 Page | 67

1. PENDAHULUAN

Pertumbuhan kebutuhan manusia memberikan dampak negatif kepada lingkungan seperti pencemaran yang dapat membahayakan kelangsungan makhluk hidup. Pencemaran limbah logam yang berasal dari limbah domestik, rumah sakit, pasar, industri pertambangan, pengolahan logam besi, industri kimia dan otomotif banyak menghasilkan limbah ion logam. Limbah logam dapat diserap dengan metode berbagai macam cara seperti separasi, adsorpsi, membran, dll. Batuan alam yang bisa diguankan sebagai bahan penyerap seperti Bentonit, zeolit, arang, dan beberapa jenis lainnya yang biasanya digunakan sebagai adsorben. Bentonit memiliki daya untuk mengembangkan kation-kation yang ditukarkan ketika terjadi proses adsorpsi, tapi setiap adsorben harus diaktivasi terlebih dahulu sebelum digunakan untuk proses penyerapan, dimana proses pengaktivasinya dapat mengoptimalkan kinerja pemisahan sebagai adsorben.

Makin tinggi kadar logam berat dalam perairan semakin tinggi pula kandungan logam berat yang terakumulasi dalam tubuh hewan air tersebut dan akan menimbulkan gangguan terhadap kesehatan manusia yang memakannya (Darmono, 1999). Penanganan limbah logam banyak dilakukan menggunakan proses pemisahan membran (membrane separation), penukar kation, pengendapan atau (chemical precipitation) dan pengendapan secara elektro (electro deposition). Selain proses pemisahan menggunakan membrane, adsorben seperti zeolit, silika gel, karbon aktif, grafit, bentonit dan kitosan dapat kita gunakan.

Bentonit adalah material yang melimpah di pulau Sumatera dan Jawa. Selain itu, bentonit memiliki dua lapisan interlayer yang berbeda sehingga bentonit mempunyai kemampuan tukar kation yang tinggi, karena bentonit merupakan adsorben yang baik untuk menyerap campuran organik atau pestisida, zat warna dan ion logam berat. Keracunan kadmium dapat menimbulkan efek pada paru-paru, hati dan tekanan darah tinggi hingga merusak sistem pencernaan. Kadmium dalam air berasal dari pembuangan industri keramik dan baterai alkali. Penelitian ini dilakukan untuk mengurangi dampak negatif dari keberadaan limbah logam dengan metode adsoprsi bentonit.

Penggunaan batuan alam seperti bentonit merupakan hal yang menjadi kelebihan sebagai sumber daya alam yang melimpah di Indonesia. adapun jenis bentonit secara umum yaitu natrium bentonit dan calsium bentonit, dari

kedua jenis bentonit terdapat perbedaan pada hasil proses adsorpsi, seperti jenis calsium bentonit memiliki sifat yang menyerap sedikit air sehingga pertukaran ion akan lebih cepat mengendap menjadi suspensi, sedangkan natrium bentonit mempunyai sifat mengembang sehingga menimbulkan kekentalan dan meningkatkan pH basa.

2. METODOLOGI PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Mei 2014 sampai Juli 2014, penelitian menggunakan metode eksperimen dari data pengolahan limbah sintetis yang mengandung logam Cd dengan komposit bentonit dan Fe3O4,

dengan proses pencampuran, pengadukan, adsorpsi dan pengendapan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Fisika, UPT. Laboratorium Dasar Bersama, Universitas Sriwijaya, dan Laboratorium Balai Riset dan Standarisasi Nasional Sumatera Selatan.

Alat dan Bahan Penelitian Alat

Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah Beker gelas, Pengeduk mekanik, Erlemeyer, Labu ukur, Gelas Ukur, Ayakan 100 mesh, Termometer, Magnet, Water bath, Ember, Neraca Analitis, Absorption Atomic Spektrophotometry (AAS), Labu Leher Tiga, pH meter, shaker, corong, kertas saring, pipet

Variabel tetap dalam penelitian ini adalah massa Fe3O4 dan temperatur ruang adalah 28 oC.

Variabel Bebas

Variabel bebas yang digunakan adalah waktu kontak yaitu 15, 25, 35 menit dan masa bentonit 250, 500, 750 mg dengan rasio komposit adalah 1:1, 1:2, 1,3.

Prosedur Penelitian

Prosedur Pembuatan bahan Sintesis Fe3O4.

Siapkan FeCl3 sebanyak 16,25 gram dan FeCl2

sebanyak 6,35 gram, Campurkan FeCl3 dan

FeCl2 ke dalam erlemeyer, Tambahkan H2O

dalam campuran FeCl3 dan FeCl2 sebanyak 200

mL dan diaduk sampai larut, Panaskan larutan FeCl3 dan FeCl2 menggunakan water bath pada

(3)

Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 20, Agustus 2014 Page | 68 Limbah Sintetis

Komposit Bentonit dan

Fe3O4

Adsorpsi atau penyerapan

Waktu Kontak

Magnet Pengendapan

sampai berlebih (pH nya > 7 ) dan diaduk dengan kecepatan 200 rpm.

Prosedur Pembuatan Sintesis Komposit Fe3O4 – Bentonit, Tambahkan bentonit pada

saat reaksi pembentukan Fe3O4 (perbandingan

Fe3O4 dan bentonit 1:1, 1:2, dan 1:3). Fe3O4

yang dihasilkan disaring dan dicuci berulang kali sampai pH netral. Lalu Fe3O4 dicuci

menggunakan aseton dan dikeringkan pada suhu 105 oC sampai berat konstan.

Prosedur Pembuatan Limbah Sintetis

cadmium (Cd), Siapkan larutan Cd(CH3CO2)2

39,51 mg dan aquabidest sebanyak 3 L, Campurkan larutan Cd(CH3CO2)2 dan

aquabidest ke dalam beker glass, aduk hingga

homogen.

Prosedur Pengolahan Limbah Sintetis yang mengandung Cd dengan komposit Bentonit dan Fe3O4, Siapkan 3 buah larutan standar

Cd(CH3CO2)2 dengan volume masing-masing

100 mL, Siapkan komposit yang bervariasi 250, 500 dan 750 mg. Masukan komposit Bentonitdan Fe3O4 kedalam 3 buah larutan

standar Cd(CH3CO2)2 .Selanjutnya campuran

diaduk dengan waktu kontak yang bervariasi 15,30dan 45 menit menggunakan shaker ±100 rpm pada temperatur kamar. Kemudian komposit dipisahkan dari larutan secara magnetik. Larutan dianalisis kandungan Cd yang tersisa menggunakan ASS.

Prosedur Analisa

Persiapan sampel larutan standar Cd(CH3CO2)2 100 mL yang sudah dicampur

sampai homogen yang telah dimasukan komposit, lalu dimasukan ke dalam gelas piala. Tambahkan 5 mL asam nitrat. Panaskan di pemanas listrik sampai larutan sampel hampir kering. Ditambahkan 50 mL aquadest, masukan ke dalam labu ukur 100 mL melalui kertas saring dan ditepatkan 100 mL dengan aquadest. Pembuatan Larutan Baku Logam Cd, 100 mg/L. Pipet 10 mL larutan induk logam kadmium, Cd 1000 mg/L ke dalam labu ukur 100 mL. Tepatkan dengan larutan pengencer sampai tanda tera. Pembuatan larutan baku logam kadmium, Cd 10 mg/L. Pipet 50 mL larutan standar kadmium, Cd 100 mg/L ke dalam labu ukur 500 mL. Tepatkan dengan larutan pengencer sampai tanda tera.Pembuatan larutan kerja logam kadmium, Cd, Pipet 0,0 mL; 0,5 mL; 1 mL; 2 mL; 5 mL; 10 mL dan 20 mL larutan baku kadmium, Cd 10mg/L masing-masing ke dalam labu ukur 100 mL. Tambahkan larutan pengencer sampai tepat tanda tera

sehingga diperoleh konsentrasi logam besi 0,0 mg/L; 0,05 mg/L; 0,5 mg/L; 0,1 mg/L; dan 0,2 mg/L.

Diagram Alir Proses

Gambar 1. Blok Diagram Proses

PengolahanLimbah yang Mengandung Cd dengan Menggunakan Komposit Bentonit dan Fe3O4

Prosedur dan Pembuatan Kurva Kalibrasi

Optimalkan alat Spektrofotometer UV-Vis sesuai petunjuk penggunaan alat.Ukur masing-masing larutan kerja yang telah dibuat pada panjang gelombang 228,8 nm. Buat kurva kalibrasi untuk mendapatkan persamaan garis regresi.Lanjutkan dengan pengukuran contoh uji yang sudah di persiapkan.

Perhitungan : Konsentrasi logam kadmium, Cd dihitung sebagai berikut:

Cd (mg/L) = C x fp

dengan pengertian: C adalah konsentrasi yang didapat hasil pengukuran (mg/L); fp adalah faktor pengenceran. Persen temu balik (% recovery, %)

% R = A – B x 100 % / C dengan pengertian: A adalah kadar contoh uji yang di spike; B adalah kadar contoh uji yang tidak di spike; C adalah kadar standar yang diperoleh (target value).

(4)

Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 20, Agustus 2014 Page | 69

Jaminan Mutu dan Pengendalian Mutu

Gunakan bahan kimia berkualitas murni (pa). Gunakan alat gelas bebas kontaminasi. Gunakan alat ukur yang terkalibrasi. Dikerjakan oleh analis yang kompeten. Lakukan analisis dalam jangka waktu yang tidak melampaui waktu penyimpananmaksimum.

Pengendalian Mutu

Koefisien korelasi (r) lebih besar sama dengan 0,95 dengan intersepsi lebih kecil samadengan batas deteksi. Lakukan analisis blanko untuk kontrol kontaminasi. Lakukan analisis duplo untuk kontrol ketelitian analisis. Jika koefisien variasi/standar deviasi relatif hasil pengukuran lebih besar sama dengan10% maka dilakukan pengukuran ketiga.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

Penelitian mengenai penurunan konsentrasi limbah menggunakan proses adsorbsi dengan adsorben komposit Fe3O4 dan

bentonit. Limbah yang digunakan adalah limbah sintetik yang dibuat secara stoikiometri. Proses adsorpsi dilakukan dengan beberapa variabel yang berbedakan yaitu rasio komposit, masa bentonit dan waktu kontak. Hasil analisa menggunakan AAS dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1. Pengaruh Berat Komposit dan Waktu Kontak Terhadap % Reduksi Ion Cd

(Rasio Komposit 1:1)

Tabel 2. Pengaruh Berat Komposit dan Waktu Kontak Terhadap %Reduksi Ion Cd (Rasio

Komposit 1:2)

Tabel 3. Pengaruh Berat Komposit dan Waktu Kontak Terhadap % Reduksi Ion Cd (Rasio

Komposit 1:3) penelitian ini merupakan salah satu media yang kami pilih secara buatan sebab media tersebut tidak perlu dilakukan pemisahan seperti limbah alami yang diambil langsung dari lingkungan yang memiliki banyak pengotor sehingga harus dilakukan pretreatment yang cukup banyak, sehingga kami menggunakan limbah sintetis yang dibuat dari pengenceran kadmium asetat dengan aquabidest. Berdasarkan hasil analisa, sampel awal kandungan logam Cd yang terdapat di dalam limbah sintetis tersebut sebesar 5,32 ppm. Kandungan logam ini cukup tinggi, karena berdasarkan Peraturan Pemerintah No 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran air Kelas satu yaitu kadar maksimum kadmium yang diperbolehkan adalah 0,01 mg/l yang dapat digunakan untuk air baku air minum dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut. Tingginya kadar kadmium yang dikonsumsi oleh makhluk hidup dapat menyebabkan kerusakan pada saluran respirasi dan fungsi ginjal sehingga berakibat kematian.

Penelitian ini menggunakan proses adsorpsi dengan menggunakan komposit Fe3O4

(5)

Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 20, Agustus 2014 Page | 70 penyerap atau adsorben limbah logam kadmium

adalah 250, 500, dan 750 mg dengan perbandingan Fe3O4 dan bentonit yaitu 1:1 (50%

bentonit), 1:2 (66,7% bentonit), dan 1:3 (75% bentonit), serta waktu kontak selama 15, 25 dan 35 menit.

Proses adsorpsi dilakukan dalam sistem batch menggunakan shaker (pengguncang) dengan kecepatan 200 rpm. Shaker berfungsi agar proses adsorpsi tetap berlangsung pada temperatur dan kecepatan konstan. Proses adsorpsi dilakukan pada suhu ruang, yaitu 28o C, pemilihan suhu ruang ini karena proses adsorpsi pada suhu yang semakin tinggi menyebabkan ion logam berat yang terserap oleh adsorben semakin sedikit. Hal ini terjadi karena semakin tinggi suhu pada proses adsorpsi, maka pergerakan ion semakin cepat sehingga jumlah ion logam berat yang terserap oleh adsorben semakin berkurang (Kundari dan Slamet, 2008).

Gambar 1., gambar 2 dan gambar .3. menunjukkan hubungan antara waktu kontak, berat komposit dan rasio komposit terhadap kemampuan komposit untuk mereduksi ion logam Cd.

Gambar 1. Pengaruh Waktu Kontak Terhadap Reduksi Ion Cd pada Rasio Komposit 1:1

Gambar 2. Pengaruh Waktu Kontak Terhadap Reduksi Ion Cd pada Rasio Komposit 1:2

Gambar 3. Pengaruh Waktu Kontak Terhadap Reduksi Ion Cd pada Rasio Komposit 1:3

Pengaruh Waktu Kontak terhadap

Penyerapan Logam Cd

Pada gambar 4.1. penyerapan ion logam Cd untuk semua variasi berat komposit mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya variasi waktu kontak yang digunakan. Titik optimum pada gambar 4.1 adalah pada waktu kontak 35 menit dengan persen penyerapan ion Cd sebesar 54,13% (250 mg komposit), 59,52% (500 mg komposit), dan 64,39% (750 mg komposit). Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin lama waktu kontak yang digunakan, maka kemampuan komposit untuk menyerap ion Cd semakin besar. Peningkatan ini dikarenakan komposit yang digunakan sebagai adsorben belum mencapai titik jenuh adsorben tersebut dalam menyerap ion Cd (Suarya, 2008).

Pada gambar 4.2. dan gambar 4.3. menunjukkan peningkatan kemampuan penyerapan ion Cd sampai pada waktu kontak 25 menit. Pada gambar 4.2 dengan rasio komposit 1:2 kemampuan adsorben menyerap logam Cd pada waktu kontak 25 menit yaitu sebesar 67,95% (250 mg komposit), 70,18% (500 mg komposit), dan 74,30% (750 mg komposit).

(6)

Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 20, Agustus 2014 Page | 71

Berat Komposit Terhadap Penyerapan

Logam Cd

Variasi berat komposit yang digunakan pada penelitian ini adalah 250 mg, 500 mg, dan 750 mg. Adsorben komposit disintesis dari nanopartikel oksida besi magnetik dengan bentonit. Komposit ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas adsorben sehingga dapat menyederhanakan proses pemisahan.

Efisiensi penyerapan adsorben terhadap ion Cd terus meningkat dan mencapai 82,36 % pada berat komposit 750 mg (rasio komposit 1:3, waktu kontak 35 menit). Hal ini dikarenakan bertambahnya berat komposit sebanding dengan bertambahnya jumlah partikel dan luas permukaan komposit sehingga menyebabkan jumlah tempat mengikat ion logam juga bertambah dan efisiensi penyerapan pun meningkat (Refilda, 2001). Sebagai adsorben, komposit yang disintesis memiliki kualitas yang baik dan dapat menyederhanakan proses pemisahan ion Cd dari limbah air.

Pengaruh Rasio Komposit Fe3O4 dan

Bentonit terhadap Penyerapan Logam Cd

Pada rasio komposit 1:1 (50% bentonit), 1:2 (66,7% bentonit) dan 1:3 (75% bentonit) dengan berat komposit dari 250 - 750 mg jumlah adsorbat teradsorpsi meningkat dari 31,38 – 82,36 %. Penyerapan secara optimum terjadi pada massa komposit 750 mg dengan kemampuan masing-masing komposit untuk mereduksi ion Cd sebesar 64,39 %, 77,91%, dan 82,36%.

Pada penelitian ini, bentonit digunakan sebagai adsorben utama sehingga dijadikan salah satu variabel bebas dengan rasio diatas. Bentonit memiliki surface area yang besar dan merupakan penukar ion yang baik, sehingga semakin banyak bentonit yang terkandung di dalam komposit maka semakin efektif adsorben untuk mereduksi ion Cd.

Fe3O4 juga digunakan sebagai adsorben.

Kemampuan menyerap Fe3O4 berdasarkan pada

sifat senyawa tersebut sebagai paramagnetik yang mampu mengikat logam dengan gaya magnet yang dihasilkannya. Fe3O4 merupakan

nanopartikel oksida besi magnetik yang memiliki rasio volume dengan permukaan yang besar dan karena itu memiliki energi permukaan yang tinggi. Fe3O4 memiliki respon terhadap

medan magnet sehingga mudah ditarik dengan batangan magnet permanen.

4. KESIMPULAN

1. Pengolahan limbah logam Cd dilakukan dengan proses adsorpsi menggunakan adsorben komposit Fe3O4 dan bentonit.

2. Waktu optimum pada percobaan ini yaitu pada menit ke 25 dengan berat komposit 750 mg pada setiap rasio komposit Fe3O4 -proses adsorpsi, maka kemampuan komposit untuk mereduksi ion Cd semakin meningkat. 4. Pengujian kadar ion Cd sebelum dan sesudah

proses adsorpsi menggunakan metode SSA (Spektrofotometri Serapan Atom).

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. “Adsoption”. http://dx.doi.org. (Diakses 12 Mei 2014)

Anonim. 2006. “Bentonit”.

http://www.surabaya.bpkim.kemenperin. go.id/ (Diakses 20 April 2014).

Anonim. 2007. “Kadmium”.

http://www.digilib.unimus.ac.id/ (Diakses tanggal 22 April 2014).

Anonim. 2012. “Kadmium”.

http://environmentalchemistry.wordpre

ss.com/2012 /10/14/kadmium/.

(Diakses 22 April 2014). (Cd) Secara Spektrofotometri Serapan Atom (SSA)-nyala SNI 6989.16:2009. Badan Standarisasi Nasional. Jakarta. Bath, Daniel. 2012. Penggunaan Tanah Bentonit

Sebagai Adsorben Logam Cu. Jurnal Ilmiah Teknik Kimia, Universitas Sumatera Utara. Medan.

Coulson, dkk. “Particle Technology and

Separation Processes Edisi 5”. Chemical

and Engineering. McGraw-Hill Book

Company. New York.

Darmono. 1994. “Logam dalam Sistem Biologi

Makhluk Hidup”. Jakarta: UI Press. Fisli, A dan Yusuf, S. 2007. “Sintesis

Nanokomposit Magnetik Berbasis Bahan Alam Untuk Adsorben

(7)

Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 20, Agustus 2014 Page | 72 Kawasan Puspiptek, Serpong,

Tangerang.

Handayani, K dan Yusnimar. 2013. Pengaruh Ukuran Partikel Bentonit dan Suhu Adsorpsi terhadap Daya Serap Bentonit dan Aplikasinya pada Bleaching CPO. Jurnal Ilmiah Teknik Kimia

Universitas Riau. Riau.

Kustriana, Dikky. 2010. Penurunan Logam Cadmium (Cd) Air Limbah Industri Elektroplating Menggunakan Bakteri Pseudomonas Fluorescens. Skripsi S1. Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan Universitas Pembangunan Nasional

“Veteran”Jatim. Surabaya.

Loekitowati, P dan Faizal, M. 2013. “Synthesis

and Properties of Fe3O4 Nanoparticles by Co-precipitation Method to Removal

Procion Dye”. International Journal of Enviromental Science and Development.

Nasruddin. 2005. “Dynamic Modeling And

Simulation Of A Two-Bed Silicagel

Water Adsorption Chiller”. Disertation.

Rheinisch-Westfalische Technische Hochschule. Aachen.

Nurhasni. 2010. Penyerapan ion Logam Cd dan Cr Dalam air Limbah Menggunakan sekam Padi. Jurnal Ilmiah FMIPA Kimia, UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta.

P. Suarya. 2008. Adsorpsi Pengotor Minyak Daun Cengkeh Oleh Lempung Teraktivasi Asam. Jurnal Ilmiah FMIPA Kimia, Universitas Udayana. Bali.

Pusat Penelitian dan Pegembanan Teknologi Mineral. 2005. Bentonit. http//:www.tekmira.esdm.go.id. (Diakses 20 April 2014).

Putra, Eko. 2012. Analisis Struktur Keramik Berpori Dengan Memanfaatkan Limbah Padat Pulp Dengan Bahan Baku Bentonit. Skripsi S1. Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatra Utara. Medan.

Ramadani, Eko . 2011 . “Pengaruh Konsentrasi H2SO4 Dan Berat Dari

Bentonit Alam Teraktivasi Dan Komersil Terhadap Adsorpsi Logam Kadmium (Cd) Dan Tembaga (Cu) Dalam Larutan Standar Dengan Metode Spektrofotometri Serapan

Atom”. Universitas Sumatera Utara:

Medan.

Supeno, M dan Sembiring, S. B. 2007.

“Bentonit Alam Terpilar Sebagai Material Katalis/Co-katalis Pembuatan

Figur

Tabel 3. Pengaruh Berat Komposit dan Waktu

Tabel 3.

Pengaruh Berat Komposit dan Waktu p.4
Tabel 1. Pengaruh Berat Komposit dan Waktu Kontak Terhadap % Reduksi Ion Cd (Rasio Komposit 1:1)

Tabel 1.

Pengaruh Berat Komposit dan Waktu Kontak Terhadap % Reduksi Ion Cd (Rasio Komposit 1:1) p.4
Gambar 3. Pengaruh Waktu Kontak Terhadap     Reduksi Ion Cd pada Rasio Komposit 1:3

Gambar 3.

Pengaruh Waktu Kontak Terhadap Reduksi Ion Cd pada Rasio Komposit 1:3 p.5
Gambar 1. Pengaruh Waktu Kontak Terhadap     Reduksi Ion Cd pada Rasio Komposit 1:1

Gambar 1.

Pengaruh Waktu Kontak Terhadap Reduksi Ion Cd pada Rasio Komposit 1:1 p.5
Gambar 2. Pengaruh Waktu Kontak Terhadap     Reduksi Ion Cd pada Rasio Komposit 1:2

Gambar 2.

Pengaruh Waktu Kontak Terhadap Reduksi Ion Cd pada Rasio Komposit 1:2 p.5

Referensi

Memperbarui...