38791 PERENCANAAN USAHA BUDIDAYA RUMPUT

13 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PERENCANAAN USAHA BUDIDAYA RUMPUT LAUT

Indonesia merupakan negara dengan bentuk kepulauan yang terbesar di

dunia. Indonesia terdiri dari 13.000 pulau besar kecil dan memiliki panjang garis

pantai 81.000 km. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki potensi 26 juta

Ha areal perikanan laut dan pantai. Selain sebagai lahan penangkapan ikan,

perairan pantai juga dimanfaatkan untuk usaha budidaya perairan (marine

aquaculture). Dari areal lahan pantai seluas 26 juta Ha, hanya 680.000 Ha atau

kurang dari 3% yang dimanfaatkan untuk produksi (ADB, 2006, Project Number

35183).

Menentukkan Ide Bisnis

Salah satu bidang aquaculture (budidaya perairan) yang berkembang dewasa ini

adalah budidaya rumput laut (seaweed culture) terutama budidaya rumput laut

jenis Eucheuma Cottonii. Rumput Laut Euchuema Cottonii.

Taksonomi dan Morfologi Eucheuma cottonii

dapat diklasifikasikansebagai berikut :

Phylum : Rhodophyta

Kelas : Rhodophyceae

Ordo : Gigartinales

Family : Soliericeae

Genus : Eucheuma

(2)

Ciri-ciri umum antara lain : terdapat tonjolan-tonjolan (nodules) dan duri (spines),

thallus berbentuk silindris atau pipih, bercabang-cabang tidak teratur, berwarna

hijau kemerahan bila hidup dan bila kering berwarna kuning kecoklatan. Gambar

Rumput Laut Eucheuma cottonii

Karaginan merupakan senyawa polisakarida yang tersusun dari unit

D-galaktosa danLD-galaktosa 3,6 anhidroD-galaktosa yang dihubungkan oleh ikatan 1-4

glikosidik Setiap unit galaktosa mengikat gugusan sulfat. Kappa karaginan

tersusun dari (1 - > 3) D-galaktosa-4 sulfatdan (1 - > 4) 3,6

anhydro-galaktosa. Iota karaginan mengandung 4-sulfat ester pada setiapresidu

D-galaktosa dan gugusan 2 sulfat ester pada setiap gugusan 3,6

anhydro-D-galaktosa.Sedangkan lambda karaginan memiliki sebuah residu disulphated (1-4)

D-galaktosa (Istini dkk,2007). Struktur kimia kappa, iota dan lambda karaginan

(3)

Indonesia memiliki potensi areal budidaya rumput laut seluas 1,2 juta Ha,

dengan potensi produksi rumput laut kering rata-rata 16 ton per Ha. Apabila

seluruh lahan bisa dimanfaatkan maka akan dapat dicapai 17.774.400 ton per

tahun dengan harga Rp.4,5 juta per ton. Dengan kisaran jumlah produksi dan

tingkat harga tersebut, akan diperoleh nilai Rp.79,984 triliun. Namun dari potensi

area yang sangat luas ini, Indonesia saat ini hanya mampu mengusahakan 3% dari

(4)

Berdasar data yang dikemukakan di atas, masih terbuka lebar peluang

usaha budidaya dan investasi pemrosesan rumput laut. Peluang usaha itu semakin

besar sejalan dengan perkembangan permintaan rumput laut dunia yang

meningkat rata-rata 5-10% per tahun. Dewasa ini permintaan rumput laut yang

ditujukan kepada eksportir Indonesia diindikasikan sudah mencapai 48.000 ton

rumput laut kering per tahun (World Bank Report, 2006).

Rumput laut pada waktu ini menjadi salah satu komoditas pertanian

penting yang makin banyak dibudidayakan karena permintaan terhadapnya makin

meningkat. Disamping karena kandungan agarnya juga ada kandungan karagenan

(Carrageenan) yang penggunaannya makin meluas. Rumput laut dengan

kandungan bahan untuk agar terutama didapatkan dari spesies Gracilaria dan

Gelidium, sedangkan untuk kandungan karagenan banyak dibudidayakan spesies

Eucheuma, ialah Eucheuma Cottoni dan Eucheuma. Sebagai karagenan, rumput

laut kering diolah menjadi bentuk tepung untuk diekspor dan sebagian untuk

memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kebutuhan pasar lokal mencapai 22.000 ton

per tahun (Ekon. Neraca 2 Juni 1999).

Karagenan merupakan bahan yang unik untuk berbagai industri makanan

seperti kemampuan dengan konsentrasi rendah mengikat cokelat ke dalam susu

cokelat. Sari karegenan juga dipergunakan untuk pembuatan “dessertgel”

semacam agar untuk hidangan penutup makan. Karagenan memiliki derajat panas

pencairan yang tinggi, sehingga mudah dipasarkan di daerah tropis atau di tempat

yang tidak tersedia lemari pendingin (refrigerator). Agar karagenan juga banyak

(5)

Fungsi karagenan sebagai perekat pasta gigi menyaingi penggunaan

sodium carboxymethylcellulose (SCMC), karena keunggulan kualitasnya dan

penampilan karagenan dalam pasta gigi. Karagenan juga sangat penting di dalam

industri makanan binatang piaraan (Pet Food), penyegar udara (Air Freshener)

dan dalam daging hamburger sebagai subsitusi lemak. Berikut gambar alat yang

dipakai pada proses pembuatan karaginan

Penggunaan karagenan rumput laut akan bertambah makin luas dan makin

banyak di masa yang akan datang, sehingga permintaan terhadap produksi rumput

laut ini akan terus meningkat di masa mendatang.

Potensi usaha budidaya ini akan terus berkembang sejalan makin luasnya

pemanfaatan rumput laut sebagai bahan makanan, polimer maupun bahan dasar

kertas dan industri lainnya. Untuk memanfaatkan peluang pasar yang masih

sangat terbuka ini, maka usaha-usaha di bidang rumput laut yang sangat potensial

(6)

1. Pembukaan usaha budidaya rumput laut, atau pengembangan perluasan usaha

dengan perluasan areal budidaya.

2. Pengolahan paska panen untuk memperoleh nilai tambah

3. Industri pemroses rumput laut untuk produk makanan siap saji, Semi Refined

Carrageenan (SRC) dan Alkali Treated Carrageenan (ATC).

Hampir seluruh daerah di Indanesia dapat dilangsungkan usaha budidaya

rumput laut antara lain di Sulawesi, Bali, NTB dan NTT, serta Papua. Di NTB

rumput laut banyak dibudidayakan di Pulau Bali, Pulau Sumbawa dan Pulau

Lombok. Mengingat besarnya permintaan pasar terhadap bahan baku rumput laut

tersebut dibidang industri baik makanan, bahan baku kosmetika, dunia medis, dan

industri maka diperlukan usaha penyediaan bahan baku yang memiliki kualifikasi

yang dapat diterima. Dengan produksi yang tinggi maka ketersediaan bahan baku

menjadi tersedia dan menentukan keberlangsungan usaha lanjutan bidang ini.

Berdasarkan peluang usaha yang dianalisa maka prospek usaha yang

menguntungkan dibidang rumput laut ini maka dipilih usaha budidaya dan

pemrosesan rumput laut bahan baku industri dalam skala yang lebih besar. Bentuk

produk yang akan diproduksi adalah rumput laut jenis Euchema cottoni dengan

(7)

Gambar 1. Rumput laut jenis Euchema cottoni

Pemilihan usaha budiaya rumput laut sebagai ide bisnis ini didasari semakin

meningkatnya permintaan pasar lokal, nasional dan bahkan internasional terhadap

bahan baku dan makin meluasnya skala pemanfaatan bahan baku rumput laut

dalam dunia industri. Kebutuhan yang kian meningkat ini menjadi tantangan

untuk dapat dipenuhi terutama dari usaha budidaya dan pemrosesan rumput laut.

Sebagai daerah yang didominasi oleh wilayah perairan menjadikan potensi

pengembangan rumput laut yang sangat tinggi. Pengembangan rumput laut

dilakukan dengan pertimbangan : periode budidaya singkat (30 – 60 hari), transfer

teknologi mudah, serta mampu melibatkan partisipasi aktif perempuan secara

massal. Selain dipengaruhi oleh kenyataan bahwa komoditas ini belum memiliki

kuota, baik di pasar domestik maupun internasional.

Segmentasi Pasar dan Target Pasar

Kondisi industri hilir rumput laut di Indonesia saat ini tergolong minim dan

penyebarannya masih terkonsentrasi di beberapa kota besar seperti Surabaya,

Makassar dan Jakarta. Minimnya industri hilir dalam negeri, secara kalkulasi

merugikan, terutama bagi industri hulu yang mayoritas berada di Kawasan Timur

Indonesia (KTI). Akselerasi industri hulu yang tinggi tidak diimbangi dengan

pengembangan industri hilir, sehingga secara simultan mendorong orientasi

pemasaran (domestik/ekspor) dalam bentuk bahan mentah.

Hasil panen produksi budidaya oleh pembudidaya, dijual dalam bentuk

(8)

dimasukkan ke dalam karung-karung plastik untuk dijual kepada para pedagang

pengumpul atau kepada Koperasi yang kemudian menjualnya kepada pengusaha /

pabrik pengolahan rumput laut di beberapa kota besar di Indonesia. Para

pengumpul membeli rumput laut kering dari nelayan dengan harga sekitar Rp.

3.500 – Rp. 5.000 per kilogram, tergantung pada jenis rumput laut ataupun jarak

lokasi budidaya ke perusahaan pengelola. Pemasaran seperti ini bagi pembudidaya

memang tidak menguntungkan dari segi harga.

Gambar 2. Pengolahan pasca panen rumput laut

Segmentasi Pasar

Permintaan rumput laut dipengaruhi oleh permintaan pengguna rumput

laut yaitu industri-industri makanan, obat-obatan dan bahan polimer. Ekspor

rumput laut Indonesia secara total selalu meningkat pesat. Perkembangan ekspor

itu terjadi pada hampir seluruh negara tujuan ekspor rumput laut Indonesia,

Peningkatan ekspor paling pesat terjadi pada negara tujuan ekspor rumput laut

Indonesia di Asia yaitu: Cina, Hongkong dan Phillipina.

Proyeksi peluang pasar, ekspor rumput laut Indonesia mengalami

perkembangan rata-rata 15% per tahun. Selain ditunjukkan oleh perkembangan

(9)

dan jumlah yang mampu diproduksi. Kondisi tingkat penawaran rumput laut di

tingkat dunia yang belum mampu memenuhi permintaan yang ada. Hal demikian

juga terjadi di Indonesia, kemampuan produksi yang ada masih kecil dibanding

permintaan. Penawaran suatu produk selalu berada pada posisi sebatas

kemampuan kapasitas produksi. Pada tahun 2005 permintaan rumput laut dunia

mencapai 260.571.050 ton berat kering sementara Indonesia hanya mampu

memenuhi sejumlah 300.000 ton berat kering. Jadi penawaran rumput laut masih

jauh dari kebutuhan atau permintaan. Sebagai gambaran Provinsi Nusa Tenggara

Barat (NTB) yang memiliki potensi areal budidaya rumput laut seluas 6.000 Ha

dengan potensi produksi 28.100 ton, namun kenyataannya pada tahun 2005 hanya

mampu memproduksi 419 ton rumput laut kering, suatu jumlah yang jauh dari

potensi yang ada (Sunarpi et.al, April 2006). Hal ini menunjukkan bahwa potensi

budidaya rumput laut belum dimanfaatkan secara optimal.

Ekspor rumput laut Indonesia dalam posisi belum menggembirakan,

karena mayoritas masih dilakukan dalam bentuk raw seaweed atau rumput laut

kering atau raw seaweed, sedangkan ekspor hasil olahan rumput laut (ekstrak)

masih kecil porsinya. Pada tahun 2000 jumlah ekspor rumput laut kering 25.000

ton, dan ekspor ekstrak berjumlah kurang lebih 15.000 ton. Pada tahun 2004

ekspor rumput laut kering kurang lebih berjumlah 55.000, ekstrak rumput laut

kurang lebih 10.000 ton, dan total ekspor rumput laut sebesar 65.000 (Neish. Ian

Charles, 2006).

(10)

1. Peluang pasar dan perluasan usaha budidaya rumput laut masih sangat terbuka

karena realisasi produksi jauh berada di bawah kapasitas produksi dan permintaan

rumput laut kering.

2. Ekspor rumput laut Indonesia sebagian besar adalah raw seaweed, dengan

demikian terdapat peluang yang cukup besar untuk membuka investasi industri

pengolahan ekstrakt rumput laut yang memiliki nilai tambah (value added).

Rantai pemasaran rumput laut berawal dari pembeli besar yang biasanya exporter

atau pemroses rumput laut (pabrikan). Pabrikan akan mengadakan negosiasi

transaksi kepada pedagang besar, tentang harga, spesifikasi produk dan

syarat-syarat pembayaran. Dalam proses transaksi ini, biasa terjadi pedagang besar diberi

modal atau uang muka untuk pengadaan barang. Selanjutnya pedagang besar aka

melakukan kontak kepada pedagang pengumpul. Selanjutnya pedagang kecil

inilah yang melakukan pencarian/ pengumpulan rumput laut kering, proses awal

(sortir dan pemilihan) dan pembayaran kepada petani pembudidaya.

Biasanya pedagang pengumpul sudah memiliki “anak buah” yaitu pembudidaya

yang diberi pinjaman modal dan akan menjual hasil panennya kepada pedagang

pengumpul tersebut. Untuk pedagang besar akan mengumpulkan rumput laut

kering dari pedagang pengumpul dan juga dari pembudidaya binaannya.

Ditinjau dari aspek transportasi, komunikasi dan ketersediaan produk yang jauh

dibawah permintaan maka kendala pemasaran dapat dikatakan tidak ada. Namun

demikian tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada kendala dalam pemasaran yaitu

(11)

Kendala utama pemasaran utama dan pertama-tama harus ditangani adalah

masalah kepercayaan pada produk yang ditawarkan. Kepercayaan akan terbentuk

melalui terpenuhinya standard mutu produk rumput laut (Neish, 2006). Aspek

kualitas ini banyak dipengaruhi aspek teknologi dan pengolahan pasca panen

(DKP, 2006). Dengan keadaan seperti itu, maka kendala yang ada sebenarnya

adalah tantangan pasar dan tuntutan persaingan untuk selalu meningkatkan mutu.

Untuk merebut posisi dan kepercayaan pasar, standard mutu produk rumput laut

yang diekspor harus memenuhi berbagai kriteria (Neish, 2006):

1. Aspek Produk.

a. Kadar air atau tingkat kelembaban max 38%

b. Prosentasi kotoran pada rumput laut maksimum 2%

c. Umur pemanenan minimum 45 hari.

d. Kadar garam rumput laut.

2. Aspek standarisasi produk.

a. Standarisasi produk sesuai dengan kebutuhan pasar.

b. Prosedur standar menggunakan uji laboratorium

c. Diterapkan dan dipatuhinya manual mutu dan produksi

d. Sertifikasi sebagai penjaminan mutu.

Pemakaian karaginan diperkirakan 80% digunakan dibidang industry

makanan, farmasi dan kosmetik. Pada industry makanan sebagai stabilizer,

thickener, gelling agent, additive atau komponen tambahan dalam pembuatan

coklat, milk, pudding, instant milk, makanan kaleng dan bakery. Untuk industry

(12)

- farmasi: sebagai suspensi, emulsi, stabilizer dalam pembuatan pasta gigi,

obat-obatan, mineral oil.

- Industri-industri lain : misalnya pada industry keramik, cat dan lain-lain.

Segmentasi pasar rumput laut yang akan digarap dalam usaha budidaya ini

dengan memproduksi Euchema cottoni yang bisa diharap pada segmen pasar

bahan baku industry pengolahan makanan siap saji maupun Alkali Treated

Carrageenan (ATC) dan Semi-refined Carrageenan (SRC). Dengan menggarap

segmen pasar ini maka usaha budidaya dan pemrosesan rumput laut ini dapat

memproduksi kualitas rumput laut yang sesuai dengan permintaan pasar di

segmen pasar ini.

Target Pasar

Target pasar dari bisnis budidaya rumput laut E. cottonii adalah para

perusahaan pangan dan non pangan yang menggunakan campuran rumput laut

sebagai pengolahan produknya. Produk ditawarkan nantinya juga akan sangat

memperhatikan peluang pasar baik nasional maupun Internasional.

Posisi daya saing Indonesia dapat ditingkatkan melalui peningkatan mutu produk.

Mutu produk dapat ditingkatkan melalui penggunaan strain bibit yang baik, dan

pemrosesan paska panen lebih yang baik. Indonesia sudah saatnya meningkatkan

posisi dari pengekspor raw seaweed menjadi ekpsortir produk rumput laut, baik

dalam bentuk makanan siap saji maupun Alkali Treated Carrageenan (ATC) dan

Semi-refined Carrageenan (SRC).

ANALISIS KEKUATAN, KELEMAHAN, PELUANG DAN ANCAMAN

(13)

Kekuatan Kelemahan

permintaan dengan penawaran. Kemampuan produksi untuk memenuhi pangsa

pasar masih sangat rendah dibandingkan dengan permintaan produk rumput laut

baik skala nasional (domestik) maupun internasional (eksport). Produk yang

dihasilkan adalah berupa produk yang seragam maka pencakupan pasar yang

diterapkan adalah strategi pemasaran tampa pembedaan. Sementara level pasar

yang terdapat di usaha ini memiliki pasar potensial yang sangat tinggi. Target

pasar (target market) bidang usaha ini meliputi sasaran yang merupakan

perusahaan/pabrik industry pengolahan makanan siap saji maupun Alkali Treated

Carrageenan (ATC) dan Semi-refined Carrageenan (SRC). Usaha budidaya dan

pemrosesan rumput laut yang dilakukan diharapkan dapat menyuplai atau

memasok kebutuhan bahan baku dari industry hilir (pengolahan) rumput laut

Figur

Gambar 2. Pengolahan pasca panen rumput laut
Gambar 2 Pengolahan pasca panen rumput laut. View in document p.8

Referensi

Memperbarui...