• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERMASALAHAN DALAM KERJASAMA PENGELOLAAN lembaga

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERMASALAHAN DALAM KERJASAMA PENGELOLAAN lembaga"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

PERMASALAHAN DALAM KERJASAMA PENGELOLAAN ASET DAERAH PENGELOLAAN 3 PASAR TRADISIONAL (PASAR RAKYAT)

DI KABUPATEN KARAWANG

Pengaturan Tentang Keuangan Negara dan Indikasi Kerugian Negara/Daerah.

- keuangan negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu, baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut (Pasal 1 angka 1 Undang Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara);

- keuangan negara meliputi penerimaan daerah (Pasal 2 huruf e Undang Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara);

- piutang daerah adalah jumlah uang yang wajib dibayar kepada pemerintah daerah dan/atau hak pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang, sebagai akibat perjanjian atau akibat lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau akibat lainnya yang sah (Pasal 1 angka 7 Undang Undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara);

- piutang daerah diselesaikan seluruhnya dengan tepat waktu (Pasal 149 ayat (1) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah); - kerugian negara/daerah adalah kekurangan uang, surat berharga, dan barang yang nyata dan

pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum, baik sengaja maupun lalai (Pasal 1 angka 22 Undang Undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara); Pengaturan Tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah.

- pengelolaan barang milik daerah meliputi rangkaian kegiatan dan tindakan terhadap barang daerah yang mencakup perencanaan kebutuhan, penganggaran, pengadaan, penggunaan, pemanfaatan, pemeliharaan, penatausahaan, penilaian, penghapusan, pemindahtanganan dan pengamanan (Pasal 121 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah)

- Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah telah di cabut dan dinyatakan tidak berlaku (Pasal 109 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah). Namun demikian, seluruh kegiatan penggunaan, pemanfaatan, penatausahaan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian barang milik negara/daerah yang telah mendapatkan persetujuan dan/atau penetapan dari pejabat berwenang, dinyatakan tetap berlaku dan proses penyelesaiannya dilaksanakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan sebelum Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah berlaku (Pasal 107 huruf a Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah);

- peraturan pelaksanaan dari Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dinyatakan masih tetap berlaku, sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti dengan peraturan yang baru berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 (Pasal 110 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014).

- Pasal 514 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Pedoman Pengelolaan Barang Milik Daerah mencabut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah.

(2)

dasar pengaturan yang tercantum di dalam Pasal 107 huruf a Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah, yaitu bahwa seluruh kegiatan penggunaan, pemanfaatan, penatausahaan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian barang milik negara/daerah yang telah mendapatkan persetujuan dan/atau penetapan dari pejabat berwenang, proses penyelesaiannya dilaksanakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan sebelum Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah berlaku (tanggal 24 April 2014);

- selain Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah, terdapat pengaturan lain terkait pengelolaan barang milik daerah, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Daerah;

- Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Kerjasama Daerah merupakan peraturan pelaksanaan dari Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Daerah;

- Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah merupakan peraturan pelaksanaan dari Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah;

Pengaturan Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.

- keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang, termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah (Pasal 1 angka 5 Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah);

- pengelolaan keuangan daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah (Pasal 1 angka 6 Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah);

- ruang lingkup keuangan daerah meliputi penerimaan daerah (Pasal 2 huruf c Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah juncto Pasal 2 huruf c Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah);

- pengelolaan keuangan daerah meliputi pengelolaan barang milik daerah (Pasal 3 huruf m Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah);

- ketentuan lebih lanjut tentang pengelolaan keuangan daerah diatur dengan peraturan menteri dalam negeri (Pasal 155 Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah) yaitu:

a. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah:

b. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah

c. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

SANKSI.

(3)

Keuangan Nomor 78/PMK.06/2014 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Pemanfaatan Barang Milik Negara. Peraturan Menteri Dalam Negeri hanya memberikan pedoman tentang pengenaan sanksi yang ditetapkan dalam surat perjanjian kerjasama pengelolaan pasar tradisional/pasar rakyat (Lampiran Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007). Jenis sanksi yang dimuat dalam perjanjian pada umumnya hanya mengatur tentang pengahiran kerjasama.

Pengaturan Tentang Denda Keterlambatan.

Denda keterlambatan atas pembayaran kontribusi sebesar 0,1% (nol koma satu persen) dari jumlah kontribusi untuk setiap hari keterlambatan, hanya diatur dalam Pasal 6 ayat 5 dokumen perjanjian kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Karawang dengan PT Inspirasi Jelas Itqoni Nomor 073/3365-Huk dan Nomor 09/1-3/IJI/DC/2010, tetapi tidak diatur didalam 2 (dua) perjanjian kerjasama lainnya, yaitu kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Karawang dengan PT Aditya Laksana Sejahtera dan kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Karawang dengan PT Senjaya Rejeki Mas;

Pengaturan Tentang Pengakhiran Kerjasama Bangun Guna Serah (BGS).

Kerjasama daerah berahir apabila salah satu pihak tidak melaksanakan atau melanggar ketentuan perjanjian (Pasal 18 huruf d Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Daerah).

Pembanding :

BGS berahir dalam hal diahiri secara sepihak oleh Bupati (Pasal 236 ayat (1) huruf b Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Pedoman Pengelolaan Barang Milik Daerah): Pengahiran BGS secara sepihak oleh Bupati dapat dilakukan dalam hal mitra BGS tidak memenuhi kewajiban sebagaimana tertuang dalam perjanjian dan ketentuan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Pedoman Pengelolaan Barang Milik Daerah, antara lain (Pasal 236 ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Pedoman Pengelolaan Barang Milik Daerah:

a. mitra BGS terlambat membayar kontribusi tahunan sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut; b. mitra BGS tidak membayar kontribusi tahunan sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut; atau

c. mitra BGS belum memulai pembangunan dan/atau tidak menyelesaikan pembangunan sesuai dengan perjanjian, kecuali dalam keadaan force majeure.

-o0o-Perjanjian Kerjasama Antara Pemerintah Kabupaten Karawang Dengan 3 Badan Pengelola Pasar:

- pemerintah daerah sebagai legal entity berada dalam kedudukan sebagai badan hukum publik sebagaimana diatur dalam Pasal 1653 KUHPerdata.

- objek kerjasama daerah adalah seluruh urusan pemerintahan yang telah menjadi kewenangan daerah otonom dan dapat berupa penyediaan pelayanan publik (Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Daerah) Penjelasan : yang dimaksud dengan “pelayanan publik” adalah pelayanan yang diberikan bagi masyarakat oleh Pemerintah berupa pelayanan administrasi, pengembangan sektor unggulan dan penyediaan barang dan jasa seperti rumah sakit, pasar, pengelolaan air bersih, perumahan, tempat pemakaman umum, perparkiran, persampahan, pariwisata, dan lain-lain;

- objek kerjasama daerah adalah aset (barang) milik daerah dengan nilai (tahun 2014) sebesar Rp 21.112.256.520 (Buku I Laporan Hasil Pemeriksaan BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat Nomor 28.A/LHP/XVIII.BDG/05/2015 halaman 116);

(4)

merupakan kontrak publik, dengan demikian pengelolaan barang milik daerah harus dilaksanakan berdasarkan (ketentuan) peraturan perundang-undangan (penjelasan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah juncto Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Tentang pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah-lampiran)

- akad perjanjian kerjasama pengelolaan pasar Cikampek I antara Pemerintah Kabupaten Karawang dengan PT Aditya Laksana Sejahtera (ALS) Nomor 073/4445/Pemb dan Nomor 01-PKS/ALS-PK/XII/09 ditandatangani pada tanggal 16 Desember 2009; perjanjian kerjasama Nomor 073/3365-Huk dan Nomor 09/1-3/IJI/DC/2010 antara Pemerintah Kabupaten Karawang dengan PT Inspirasi Jelas Itqoni (IJI) sebagai pengelola pasar Cikampek II ditandatangani pada tanggal 3 September 2010; serta perjanjian kerjasama Nomor 073/1404/Pemb dan Nomor 008A/PKS/Dir/SRM/2010 antara Pemerintah Kabupaten Karawang dengan PT Senjaya Rejeki Mas (SRM) sebagai pengelola Pasar Johar ditandatangani pada tanggal 14 April 2010. Pola kerjasama yang di pilih dan digunakan oleh Pemerintah Kabupaten Karawang adalah bangun guna serah (Pasal 32 huruf d Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah);

- Pemerintah Kabupaten Karawang memberikan konsesi pengelolaan pasar selama 25 tahun untuk PT ALS dan PT IJI, sedangkan untuk PT SRM konsesi yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Karawang adalah selama 20 tahun;

- sebagai imbalan atas konsesi pengelolaan pasar yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Karawang, ketiga badan usaha pengelola pasar (PT ALS, PT IJI dan PT SRM) berkewajiban untuk membayar kontribusi berupa sewa lahan, royalty (integrasi dari retribusi parkir, kebersihan, dan fasilitas lain yang terbangun), dan pembagian keuntungan (profit sharing), sebagaimana diatur dalam Pasal 26 ayat 1 huruf c Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah;

- kewajiban PT ALS untuk sewa lahan sebesar Rp 300.000.000 per tahun dan untuk royalty sebesar Rp 400.000.000 per tahun, belum termasuk pembagian keuntungan (Pasal 6 ayat 4 Perjanjian kerjasama Nomor 073/4445/Pemb dan Nomor 01-PKS/ALS-PK/XII/09), kewajiban PT IJI untuk sewa lahan Rp 300.000.000 per tahun dan royalty sebesar Rp 200.000.000 per tahun, belum termasuk pembagian keuntungan (Pasal 6 ayat 4 Perjanjian Kerjasama Nomor 073/3365-Huk dan Nomor 1-3/IJI/IX/2010), sedangkan kewajiban PT SRM untuk sewa lahan sebesar Rp 500.000.000 per tahun dan royalty sebesar Rp 275.000.000 per tahun, belum termasuk pembagian keuntungan (Pasal 6 ayat 4 Perjanjian kerjasama Nomor 073/1404/Pemb dan Nomor 003A/PKS/Dir/SRM/2010);

- pengelolaan barang milik daerah dilaksanakan dengan memperhatikan asas-asas yang tercantum di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah, diantaranya asas kepastian hukum, yaitu pengelolaan barang milik daerah harus dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan (penjelasan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah juncto Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Tentang pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah-lampiran);

(5)

kewajiban PT ALS dihitung mulai tahun 2012 yaitu setelah pasar selesai dibangun dan mulai beroperasi);

- karena kewajiban pihak ketiga dalam membayar sewa lahan dan royalty tidak tertuang dengan jelas, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Provinsi Jawa Barat merekomendasikan kepada pelaksana tugas (plt) Bupati Karawang (dr. Cellica Nurrachadiana) agar memerintahkan Ketua TKKSD (Tim Koordinasi Kerja Sama Daerah) yang dijabat oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Karawang, melakukan addendum untuk memperjelas tanggal efektif kewajiban pihak ketiga dalam membayar kontribusi sewa lahan dan royalty, serta melakukan penagihan atas potensi kewajiban sewa lahan dan royalty berjumlah Rp 3.740.833.333,33 (Buku II Laporan Hasil Pemeriksaan BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat Nomor 28.B/LHP/XVIII.BDG/05/2015, halaman 541);

- pada tahun 2016 BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat merekomendasikan Bupati Karawang agar memerintahkan Kepala Disperindagtamben untuk melakukan penagihan kepada badan usaha pengelola pasar selaku mitra usaha kerjasama untuk segera membayar kontribusi kepada Pemerintah Kabupaten Karawang, dan melakukan penghitungan kewajiban badan pengelola Pasar Cikampek I dengan memperhitungkan sanksi dendanya (Laporan Hasil Pemeriksaan BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat Nomor 37.C/LHP/XVIII.BDG/05/2016 - Buku III halaman 530);

- didalam dokumen perjanjian kerjasama tertera, pembangunan Pasar Cikampek I dikerjakan selama 12 bulan (Pasal 11 angka 2 huruf a Perjanjian kerjasama Nomor 073/4445/Pemb dan Nomor 01-PKS/ALS-PK/XII/09), sedangkan pembangunan Pasar Cikampek II (Pasal 11 angka 2 huruf a Perjanjian kerjasama Nomor 073/3365-Huk dan Nomor 1-3/IJI/IX/2010) dan pembangunan Pasar Johar (Pasal 11 angka 2 huruf a Perjanjian kerjasama Nomor 073/1404/Pemb dan Nomor 008A/PKS/Dir/SRM/2010) dikerjakan selama 15 bulan;

- ketiga badan usaha (PT ALS, PT IJI dan PT SRM) terlambat dalam menyelesaikan pembangunan pasar. Berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan, pembangunan Pasar Cikampek I diselesaikan pada tanggal 30 Desember 2011 dan pembangunan Pasar Cikampek II diselesaikan pada tanggal 26 Agustus 2013, sedangkan pembangunan Pasar Johar direncanakan selesai pada tahun 2017;

- dampak dari keterlambatan pembangunan pasar, selain berpotensi menghambat pendapatan daerah juga menyalahi pasal perjanjian kerjasama terkait waktu konsesi, karena Pemerintah Kabupaten Karawang cq Disperindagtamben Kabupaten Karawang menghitung waktu konsesi dimulai sejak pasar selesai dibangun dan mulai beroperasi (contoh: konsesi pengelolaan Pasar Johar menjadi 27 tahun, karena pembangunan fisik Pasar Johar memakan waktu 7 tahun (2010-2017), bukan dihitung sejak perjanjian kerjasama ditandatangani sebagaimana diatur dalam Pasal 29 ayat 1 Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah juncto Pasal 26 ayat 1 huruf g Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah;

- pemanfaatan barang milik daerah dilaksanakan dengan memperhatikan kepentingan negara/daerah dan kepentingan umum (Pasal 19 ayat (5) Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah juncto Pasal 31 ayat (4) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah);

(6)

Asas itikad baik juga termaktub dalam Pasal 26 Konvensi Wina 1969 yang menyatakan: “every treaty in force is binding upon the parties to it and must be performed by them in good faith”. Rekomendasi BPK Jabar.

- Pada tahun 2015, BPK Jabar merekomendasikan kepada pelaksana tugas (plt) Bupati Karawang (dr. Cellica Nurrachadiana) agar memerintahkan Ketua TKKSD (Tim Koordinasi Kerja Sama Daerah) yang dijabat oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Karawang, melakukan addendum untuk memperjelas tanggal efektif kewajiban pihak ketiga dalam membayar kontribusi sewa lahan dan royalty, serta melakukan penagihan atas potensi kewajiban sewa lahan dan royalty berjumlah Rp 3.740.833.333,33 (Buku II Laporan Hasil Pemeriksaan BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat Nomor 28.B/LHP/XVIII.BDG/05/2015, halaman 541;

- Pada tahun 2016, BPK Jabar merekomendasikan Bupati Karawang agar memerintahkan Kepala Disperindagtamben untuk melakukan penagihan kepada badan usaha pengelola pasar selaku mitra usaha kerjasama untuk segera membayar kontribusi kepada Pemerintah Kabupaten Karawang, dan melakukan penghitungan kewajiban badan pengelola Pasar Cikampek I dengan memperhitungkan sanksi dendanya (Laporan Hasil Pemeriksaan BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat Nomor 37.C/LHP/XVIII.BDG/05/2016 - Buku III halaman 530);

- Pejabat wajib menindaklanjuti rekomendasi dalam laporan hasil pemeriksaan (Pasal 20 ayat (1) Undang Undang Nomor 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan Dan Tanggungjawab Keuangan Negara)

Kewajiban 3 Badan Pengelola Pasar:

Kewajiban PT Aditya Laksana Sejahtera (ALS).

- sampai dengan tahun 2013, PT ALS tidak membayar kontribusi, sehingga pada tanggal 9 Juli 2013 Bupati Karawang (saat itu), Drs. H. Ade Swara, MH membuat surat teguran Nomor 073/3130-Huk/2013 agar PT ALS melaksanakan kewajibannya mulai Tahun 2010 sampai dengan Tahun 2013 sebesar Rp 2.800.000.000. Namun, terdapat perbedaan perhitungan mengenai kewajiban PT ALS. Berdasarkan surat Bupati Karawang kewajiban PT ALS dihitung sejak penandatanganan perjanjian kerjasama (tahun 2010), sedangkan berdasarkan surat Kepala Disperindagtamben Kabupaten Karawang (Ir. Hanafi Chaniago), segala kewajiban PT ALS dihitung mulai tahun 2012, yaitu setelah pasar selesai dibangun dan mulai beroperasi;

- untuk mencari kejelasan atas perbedaan perhitungan kewajiban PT ALS, pada tanggal 16 Juli 2014, Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten Karawang mengirimkan surat Nomor 900/3460-Ek, meminta Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Jawa Barat untuk menghitung besaran kewajiban PT ALS;

- telaah BPKP Provinsi Jawa Barat Nomor LBA-985/PW10/3/2014 tanggal 24 Oktober 2014 menyatakan: berdasarkan ketentuan dalam perjanjian, tagihan kontribusi PT ALS sampai dengan 31 Desember 2013 adalah sebesar Rp 2.000.000.000 dan sampai dengan tahun 2014 adalah sebesar Rp 2.700.000.000;

- BPKP Provinsi Jawa Barat memberikan 2 pilihan kepada PT ALS, yaitu pemutusan kontrak kerjasama atau melanjutkan kontrak kerjasama dengan syarat PT ALS menyelesaikan seluruh kewajibannya terlebih dahulu;

- pada tanggal 4 Februari 2015, Direktur Utama PT ALS menandatangani surat Nomor 1602/ALS-DIR/II/2015 menyatakan siap memutus kontrak kerjasama karena tidak dapat memenuhi kewajibannya kepada Pemerintah Kabupaten Karawang. Menindaklanjuti surat pernyataan tersebut, pada tanggal 16 Februari 2015 Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Karawang, dr. Cellica Nurrachadiana membuat surat Nomor 073/1770-Huk/2015 tentang Pemutusan Kontrak Kerjasama Antara Pemerintah Kabupaten Karawang Dengan PT ALS;

(7)

2.787.500.000 (Buku II Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Sistim Pengendalian Intern Nomor 28.B/LHP/XVIII.BDG/05/2015 –halaman 535), dengan rincian:

sewa lahan 5 tahun dan 1,5 bulan (16 Desember 2009 sampai dengan 16 Febuari 2015) dengan tarif Rp 300.000.000 per tahun

Rp 1.537.500.000 royalty 3 tahun dan 1,5 bulan (tahun 2012 sampai dengan 16

Febuari 2015) dengan tarif Rp 400.000.000 per tahun

Rp 1.250.000.000 - pada tanggal 10 Maret 2016 Kepala Disperindagtamben Kabupaten Karawang, Ir. Hanafi

Chaniago dan Direktur PT ALS drg. Henny Haddade menandatangani Berita Acara Kesepakatan Bersama di hadapan Notaris Teguh Prayitno. PT ALS mengakui jumlah tunggakan kepada Pemerintah Kabupaten Karawang adalah sebesar Rp 2.700.000.000, yang terdiri dari tunggakan tahun 2012-2014 sebesar Rp 2.000.000.000 dan kontribusi tahun 2015 sebesar Rp 700.000.000. Pembayaran sebagian tunggakan PT ALS (Rp 2.000.000.000) dilakukan pada tanggal 7 Maret 2016 oleh PT Celebes Natura Propertindo (CNP) selaku pengelola baru Pasar Cikampek I berdasarkan Perjanjian Kerjasama Nomor 073/6152-Indagtamben/2015;

- berdasarkan perhitungan BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat, kewajiban PT ALS hingga tanggal 16 Februari 2015 adalah sebesar Rp 2.787.500.000. Dengan demikian kewajiban PT ALS/PT CNP pada tanggal 10 Maret 2016 adalah sebesar Rp 3.487.500.000 (Rp 2.787.500.000 + Rp 700.000.000), sehingga pada tahun 2016 PT CNP masih memiliki kewajiban pembayaran kontribusi sebesar Rp 1.487.500.000 (Rp 3.487.500.000 – Rp 2.000.000.000);

- pembagian keuntungan (profit sharing) belum ditagihkan kepada PT ALS/PT CNP. Kewajiban PT Inspirasi Jelas Itqoni (IJI).

- pada bulan Desember tahun 2013 PT IJI membayar sewa lahan dan royalty untuk 1 bulan sebesar Rp 41.667.000 (1/12 x Rp 500.000.000 dibulatkan) dan pada tahun 2014 PT IJI membayar kontribusi sebesar Rp 100.000.000, sehingga jumlah kontribusi yang telah dibayarkan oleh PT IJI sampai dengan 31 Desember 2014 adalah sebesar Rp 141.667.000. Jumlah kewajiban PT IJI sampai dengan 31 Desember 2014 adalah sebesar Rp 541.667.000 (13 bulan x Rp 500.000.000/12 dibulatkan), dikurangi dengan jumlah yang telah dibayarkan oleh PT IJI (Rp 141.667.000), sehingga hutang PT IJI sampai dengan 31 Desember 2014 adalah sebesar Rp 400.000.000

- hutang PT IJI hingga 31 Desember 2015 adalah sebesar Rp 900.000.000 (Rp 400.000.000 + Rp 500.000.000). Besaran hutang tersebut diakui PT IJI dan dituangkan dalam Berita Acara Klarifikasi Pembayaran Kontribusi Perjanjian BOT Pasar Cikampek II pada 15 Desember 2015.

- berdasarkan Pasal 6 ayat (4) Perjanjian Kerjasama Nomor 073/3365-Huk dan Nomor 1-3/IJI/IX/2010, kontribusi PT IJI kepada Pemerintah Kabupaten Karawang berupa sewa lahan, royalty, dan pembagian keuntungan (profit sharing).

- pembagian keuntungan (profit sharing) dan denda keterlambatan atas pembayaran kontribusi sebesar 0,1% (nol koma satu persen) dari jumlah kontribusi untuk setiap hari keterlambatan (Pasal 6 ayat 5 dokumen perjanjian kerjasama) belum ditagihkan kepada PT IJI.

Kewajiban PT Senjaya Rejeki Mas (SRM).

- menurut Kepala Disperindagtamben Kabupaten Karawang, Ir. Hanafi Chaniago, sampai dengan bulan Febuari 2012 Pasar Johar masih dikelola oleh Disperindagtamben Kabupaten Karawang, sejak tanggal 1 Maret 2012 pengelolaan Pasar Johar diserahkan kepada PT SRM;

(8)

masih harus dibayarkan PT SRM kepada Pemerintah Kabupaten Karawang per 31 Desember 2014 adalah sebesar Rp 640.833.333,33 (Rp 1.420.833.333,33 – Rp 780.000.000);

- PT SRM tidak menyepakati hasil perhitungan BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat dan tidak bersedia menyatakan jumlah hutang yang masih harus dibayarkan kepada Pemerintah Kabupaten Karawang. PT SRM menyampaikan, keterlambatan pembangunan Pasar Johar diakibatkan Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang disiapkan oleh Pemerintah Kabupaten Karawang tidak mencukupi;

- pada tanggal 18 Pebruari 2015 Plt. Bupati Karawang, dr. Cellica Nurrachadiana menerbitkan surat kuasa Nomor 183.5/1174-Huk/2015 kepada Kepala Disperindagtamben Kabupaten Karawang, Ir. Hanafi Chaniago, untuk menandatangani addendum Perjanjian Kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Karawang dengan PT SRM. Addendum berisi kesepakatan tentang pembayaran kontribusi yang dilakukan secara proporsional berdasarkan koefisien luas lahan terbangun dan berlaku efektif sejak tahun 2012 (surut);

- surat kuasa adalah naskah dinas yang dikeluarkan oleh kepala daerah berisi pemberian mandat atas wewenang dari kepala daerah kepada pejabat yang diberi kuasa untuk bertindak atas nama kepala daerah menyatakan persetujuan pemerintah daerah untuk mengikatkan diri pada kerjasama daerah dan/atau menyelesaikan hal-hal lain yang diperlukan dalam pembuatan kerjasama daerah (Pasal 1 angka 5 Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Daerah).

- berdasarkan perhitungan yang tertera di dalam addendum Perjanjian Kerja Sama Nomor 073/4673-Huk/2015 dan Nomor 020/ADD-KRW/DirOps-SRM/VII/2015, pada tahun 2015 PT SRM memiliki kelebihan pembayaran sebesar Rp 4.331.167 (Rp 1.101.000.000 – Rp 1.096.668.833) karena luas lahan terbangun Pasar Johar pada tahun 2015 adalah sebesar 52,74%. Kalkulasi tersebut tercantum di dalam Berita Acara Klarifikasi Pembayaran Kontribusi Perjanjian BOT Pasar Johar pada tanggal 15 Desember 2015 antara Kepala Disperindagtamben Kabupaten Karawang (Ir. Hanafi Chaniago) dengan Direktur PT. SRM. Dalam Berita Acara tersebut, dasar perhitungan nilai kontribusi adalah sebesar luas lahan yang telah terbangun. Luas bangunan yang telah terbangun diperoleh dari Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan Pembangunan Pasar Johar yang disampaikan oleh pelaksana kepada Direktur PT SRM.

(9)

kontribusi (Rp) Keterangan :

- pembongkaran bangunan blok D Pasar Johar dilakukan oleh PT SRM pada bulan Febuari tahun 2011;

- Peraturan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Nomor 22 Tahun 2014 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Badan Usaha Dalam Rangka Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha Untuk Pasar Tradisional, Lampiran I huruf C Ruang Lingkup, angka 2, kewajiban badan usaha mencakup pekerjaan pemindahan sementara pedagang ke tempat penampungan sementara yang disiapkan oleh badan usaha;

- setelah pengelolaan Pasar Johar diserahkan kepada PT SRM (1 Maret 2012), retribusi (royalty) Pasar Johar di pungut oleh PT SRM;

- mulai dari tahun 2012 hingga tahun 2016 PT SRM menyetorkan pembayaran kontribusi sebesar Rp 1.251.000.000 (Rp 250.000.000 + Rp 255.000.000 + Rp 275.000.000 + Rp 321.000.000 + Rp 150.000.000), sedangkan kewajiban pembayaran royalty selama 5 tahun (2012-2016) berjumlah Rp 1.375.000.000 (5 X Rp 275.000). Dalam hal pembayaran kontribusi, apabila kumulasi pembayaran kontribusi PT SRM (Rp 1.251.000.000) dikalkulasikan dengan kewajiban pembayaran royalty (Rp 1.375.000.000), maka PT SRM masih memiliki piutang kepada Pemerintah Kabupaten Karawang, belum termasuk pembayaran sewa lahan;

- dengan jumlah pedagang lebih dari 1.000 orang, pendapatan PT SRM dari retribusi kebersihan (sampah), retribusi parkir kendaraan bermotor dan retribusi lainnya (lamar mandi/WC) lebih besar dari royalty yang ditetapkan oleh Disperindagtamben Kabupaten Karawang (Rp 275.000.000 per tahun);

- isi addendum tentang pembayaran kontribusi berdasarkan koefisien luas lahan yang terbangun dan berlaku efektif mulai tahun 2012 (berlaku surut), tidak memiliki landasan hukum (tidak berdasarkan peraturan perundang-undangan) dan mereduksi besaran kontribusi yang telah disetujui dan ditetapkan di dalam dokumen perjanjian kerjasama (Pasal 6 ayat 4 Perjanjian kerjasama Nomor 073/1404/Pemb dan Nomor 003A/PKS/Dir/SRM/2010) yang mengikat bagi para pihak (prinsip pacta sunt servanda). Pacta sunt servanda atau aggrements must be kept tertuang dalam Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang menyatakan bahwa setiap perjanjian mengikat para pihak untuk memenuhi janji tersebut (promissorum implendorum obligati). Selain tidak memiliki landasan hukum, pembayaran kontribusi berdasarkan koefisien luas lahan yang terbangun juga memiliki ketidakjelasan, apakah reduksi kewajiban pembayaran kontribusi berlaku atas seluruh kontribusi yang terdiri dari sewa lahan dan royalty (Pasal 26 ayat 1 huruf c Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah) atau hanya mereduksi besaran sewa lahan;

- berdasarkan hasil audit BPKP Provinsi Jawa Barat, pada tahun 2016 PT SRM dinyatakan memiliki hutang royalty sebesar Rp 449 juta.

- akibat addendum Perjanjian Kerja Sama Nomor 073/4673-Huk/2015 dan Nomor 020/ADD-KRW/DirOps-SRM/VII/2015, pembagian keuntungan (profit sharing) yang menjadi hak Pemerintah Kabupaten Karawang menjadi terhambat untuk dibayarkan, karena pembangunan Pasar Johar direncanakan selesai pada tahun 2017.

TELAAH. Tentang Peran.

1. Bupati Karawang.

(10)

(Pasal 43 ayat (1) Undang Undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara juncto Pasal 5 ayat (2) huruf a Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah juncto Pasal 6 ayat (1) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah juncto Pasal 5 ayat (2) huruf b Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah);

b. sebagai pemegang kekuasaan pengelolaan barang milik daerah berwenang dan bertanggungjawab atas pembinaan dan pelaksanaan pengelolaan barang milik daerah (Pasal 5 ayat (1) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah);

c. melakukan pengendalian pengelolaan barang milik daerah (Pasal 82 ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah);

d. memberikan persetujuan atas kerjasama pemanfaatan barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan yang dilaksanakan oleh pengelola barang (Pasal 25 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah juncto Pasal 37 ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah);

e. memberikan persetujuan atas bangun guna serah barang milik daerah yang dilaksanakan oleh pengelola barang (Pasal 27 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah juncto Pasal 40 ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah);

2. Sekretaris Daerah Kabupaten Karawang.

a. adalah pejabat pengelola barang milik daerah (Pasal 5 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah);

b. berwenang dan bertanggungjawab mengatur pelaksanaan pemanfaatan barang milik daerah yang telah disetujui oleh Bupati atau DPRD (Pasal 5 ayat (4) huruf d Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah juncto Pasal 6 ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah);

c. melakukan pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan barang milik daerah (Pasal 5 ayat (4) huruf f Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah);

d. menyetujui besaran pembayaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan dalam kerjasama pemanfaatan atas barang milik daerah (Pasal 26 ayat (1) huruf e Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah juncto Pasal 26 ayat (1) huruf e Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah);

e. selaku Ketua Tim Koordinasi Kerja Sama Daerah (TKKSD) memberikan rekomendasi kepada Bupati untuk penandatanganan perjanjian kerjasama (Pasal 6 ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Petunjuk Tekhnis Tata Cara Kerjasama Daerah);

3. Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Karawang.

(11)

b. selaku bendahara umum daerah berwenang melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah (Pasal 9 ayat (2) Undang Undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara);

c. selaku pejabat pengelola keuangan daerah (PPKD) pada bendahara umum daerah (BUD) berwenang melakukan penagihan piutang daerah (Pasal 7 ayat (2) huruf o Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah);

d. selaku Kepala SKPKD melaksanakan penagihan dan menatausahakan piutang daerah (Pasal 152 ayat (1) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah);

e. wajib mengusahakan agar setiap piutang daerah diselesaikan seluruhnya dan tepat waktu (Pasal 34 ayat (1) Undang Undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara juncto Pasal 114 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah);

4. Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Pertambangan dan Energi Kabupaten Karawang.

a. mengelola dan menatausahakan barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya dengan sebaik-baiknya (Pasal 44 Undang Undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara juncto Pasal 10 huruf j Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah);

b. mengelola piutang daerah yang menjadi tanggungjawab satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya (Pasal 10 ayat (3) Undang Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara juncto Pasal 10 huruf i Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah);

c. berwenang dan bertanggungjawab melakukan pengawasan dan pengendalian atas penggunaan barang milik daerah yang ada dalam penguasaannya (Pasal 8 ayat (2) huruf h Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah juncto Pasal 6 ayat (4) huruf h Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Pedoman Tekhnis Pengelolaan Barang Milik Daerah);

Tentang Tanggal Efektif Perjanjian.

Di dalam Pasal 29 ayat 1 Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah juncto Pasal 26 ayat 1 huruf g Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah tertera, tanggal efektif pembayaran kewajiban kontribusi dihitung sejak perjanjian kerjasama ditandatangani. Berpijak pada pasal ini, Pemerintah Kabupaten Karawang kehilangan potensi pendapatan (kontribusi), yaitu sejak perjanjian kerjasama ditandatangai sampai dengan pasar selesai dibangun dan mulai beroperasi; Pembanding:

Penandatanganan perjanjian BGS dilakukan setelah mitra BGS menyampaikan bukti setor pembayaran kontribusi tahunan pertama ke Rekening Kas Umum Daerah paling lambat 2 (dua) hari kerja sebelum penandatanganan perjanjian BGS (Pasal 230 ayat (5) dan Pasal 234 ayat (1) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Pedoman Pengelolaan Barang Milik Daerah).

Tentang Nilai Aset Daerah dan Besaran Kontribusi.

Pada tahun 2014, nilai aset milik Pemerintah Kabupaten Karawang yang dikerjasamakan dengan PT SRM adalah sebesar Rp 21.112.256.520 (Buku I Laporan Hasil Pemeriksaan BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat Nomor 28.A/LHP /XVIII.BDG/05/2015 halaman 116). Terdapat penambahan luas lahan lebih dari 8.000 meter persegi, sehingga luas lahan pasar yang dikelola oleh PT SRM menjadi 36.358,90 meter persegi, tanpa mengubah (menambah) besaran kewajiban kontribusi

(12)

- besaran kontribusi tahunan merupakan hasil perkalian dari besaran persentase kontribusi tahunan dengan nilai wajar barang milik daerah (Pasal 232 ayat (1) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Pedoman Pengelolaan Barang Milik Daerah - besaran kontribusi tahunan pelaksanaan BGS dapat meningkat setiap tahun dari yang

telah ditetapkan. Peningkatan dihitung berdasarkan kontribusi tahunan tahun pertama dengan memperhatikan tingkat inflasi (Pasal 233 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Pedoman Pengelolaan Barang Milik Daerah). Tentang Addendum.

- Addendum perjanjian kerjasama Nomor 073/4673-Huk/2015 dan Nomor 020/ADD-KRW/DirOps-SRM/VII/2015 berisi kesepakatan tentang pembayaran kontribusi yang dilakukan secara proporsional berdasarkan koefisien luas lahan terbangun dan berlaku efektif sejak tahun 2012 (surut). Isi kesepakatan di dalam addendum tidak memiliki landasan hukum (tidak berdasarkan peraturan perundang-undangan) dan melanggar asas kepastian hukum sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah-penjelasan juncto Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Tentang pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah-lampiran;

- dalam melaksanakan addendum, Bupati Karawang, Sekretaris Daerah Kabupaten Karawang, dan Kepala Disperindagtamben Kabupaten Karawang maupun Tim Penilai yang dibentuk dan ditetapkan oleh Bupati, tidak mempertimbangkan nilai aset milik Pemerintah Kabupaten Karawang yang dikerjasamakan dengan pihak ketiga (PT SRM). Nilai aset Pemerintah Kabupaten Karawang pada tahun 2014 adalah sebesar Rp 21.112.256.520 (Buku I Laporan Hasil Pemeriksaan BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat Nomor 28.A/LHP /XVIII.BDG/05/2015 halaman 116). Setelah itu terdapat penambahan luas lahan lebih dari 8.000 meter persegi, sehingga luas lahan pasar yang dikelola oleh PT SRM menjadi 36.358,90 meter persegi, tanpa mengubah (menambah) besaran kewajiban kontribusi.

Pembanding:

- Dalam pelaksanaan BGS, mitra BGS dapat melakukan perubahan dan/atau penambahan hasil BGS. Perubahan dan/atau penambahan hasil BGS dilakukan dengan cara addendum perjanjian BGS (Pasal 225 ayat (1) dan ayat (3). Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Pedoman Pengelolaan Barang Milik Daerah).

- Addendum perjanjian BGS dilakukan untuk menghitung kembali besaran kontribusi yang ditetapkan berdasarkan hasil perhitungan Tim yang dibentuk oleh Bupati. Perubahan dan/atau penambahan hasil BGS dilakukan setelah memperoleh persetujuan Bupati (Pasal 225 ayat (4) dan ayat (5) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Pedoman Pengelolaan Barang Milik Daerah).

Alur Addendum.

persiapan Disperindagtamben konsultas

i

TKKSD penetapa

n

Bupati

sumber : lampiran I Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Kerjasama Daerah.

- Peran Bupati.

melalui surat kuasa Nomor 183.5/1174-Huk/2015, tanggal 18 Pebruari 2015, Bupati Karawang menyetujui perubahan (addendum) perjanjian kerjasama Nomor 073/1404/Pemb dan Nomor 008A/PKS/Dir/SRM/2010 antara Pemerintah Kabupaten Karawang dengan PT Senjaya Rejeki Mas (SRM);

(13)

selaku Ketua Tim Koordinasi Kerja Sama Daerah (TKKSD) memberikan rekomendasi kepada Bupati untuk penandatanganan perjanjian kerjasama (Pasal 6 ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Petunjuk Tekhnis Tata Cara Kerjasama Daerah);

- Peran Kepala Disperindagtamben.

selaku pengguna barang milik daerah, mengajukan draf addendum perjanjian kerjasama Tentang Pembiaran atas Piutang Daerah.

- Bupati Karawang selaku pemegang kekuasaan pengelolaan barang milik daerah menetapkan kebijakan pengelolaan barang milik daerah (Pasal 43 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara juncto Pasal 5 ayat (2) huruf a Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah),

- Sekretaris Daerah Kabupaten Karawang selaku pejabat pengelola barang milik daerah yang mengatur pelaksanaan penggunaan dan pemanfaatan barang milik daerah (Pasal 5 ayat (4) huruf d Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah),

- Kepala DPPKAD berwenang melakukan penagihan piutang daerah (Pasal 7 ayat (2) huruf o Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah) dan wajib mengusahakan agar setiap piutang daerah diselesaikan seluruhnya dan tepat waktu (Pasal 34 ayat (1) Undang Undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara juncto Pasal 114 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah),

- Kepala Disperindagtamben mempunyai tugas mengelola piutang daerah yang menjadi tanggungjawab satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya (Pasal 10 ayat (3) Undang Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara juncto Pasal 10 huruf i Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah). telah mengabaikan kewajibannya dan melakukan pembiaran atas terjadinya keterlambatan dalam pembayaran kontribusi.

Tentang Peran DPRD Kabupaten Karawang:

- Rencana kerjasama daerah yang membebani daerah dan masyarakat harus mendapat persetujuan dari DPRD, dengan ketentuan apabila biaya kerjasama belum teranggarkan dalam APBD tahun anggaran berjalan dan/atau menggunakan dan/atau memanfaatkan aset daerah (Pasal 9 Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Daerah).

Pembanding:

Pemanfaatan barang milik daerah dilakukan tanpa memerlukan persetujuan DPRD (Pasal 78 ayat (4) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Pedoman Pengelolaan Barang Milik Daerah).

- Bupati Karawang wajib menyampaikan salinan setiap perjanjian kerjasama, termasuk kepada DPRD Kabupaten Karawang (Pasal 12 ayat (6) Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Daerah).

- Berpijak pada pengaturan Pasal 9 Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Daerah dan Pasal 12 ayat (6) Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Daerah, dengan penjelasan bahwa salah satu fungsi DPRD adalah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kerjasama daerah, maka DPRD Kabupaten Karawang cq Komisi B DPRD Kabupaten Karawang dapat dianggap mengetahui permasalahan yang muncul dan terjadi didalam kerjasama pengelolaan aset daerah dan melakukan pengawasan terhadap kerjasama pengelolaan aset daerah.

(14)

Kabupaten Karawang dalam menindaklanjuti hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)

a. Lembaga perwakilan menindaklanjuti hasil pemeriksaan BPK dengan melakukan pembahasan sesuai dengan kewenangannya (Pasal 21 ayat (1) Undang Undang Nomor 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan Dan Tanggungjawab Keuangan Negara). b. DPRD dapat meminta BPK untuk melakukan pemeriksaan lanjutan (Pasal 21 ayat 3

Undang Undang Nomor 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan Dan Tanggungjawab Keuangan Negara). Penjelasan: bahwa yang dimaksud dengan pemeriksaan lanjutan dapat berupa pemeriksaan hal-hal yang berkaitan dengan keuangan, pemeriksaan kinerja, dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu.

- apabila dilihat dari permasalahan yang sama terjadi berulang kali dan ada kecenderungan dibiarkan, maka DPRD Kabupaten Karawang cq Komisi B DPRD Kabupaten Karawang dapat dianggap telah melalaikan tugas pengawasannya.

Sumber:

- Laporan Hasil Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2014 dan Tahun Anggaran 2015;

Kesimpulan.

- Bupati Karawang selaku pemegang kekuasaan pengelolaan barang milik daerah yang menetapkan kebijakan pengelolaan barang milik daerah (Pasal 43 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara juncto Pasal 5 ayat (2) huruf a Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah), melakukan pengendalian pengelolaan barang milik daerah (Pasal 82 ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah), memberikan persetujuan atas bangun guna serah barang milik daerah yang dilaksanakan oleh pengelola barang (Pasal 27 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah juncto Pasal 40 ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah), berwenang dan bertanggungjawab atas pembinaan dan pelaksanaan pengelolaan barang milik daerah (Pasal 5 ayat (1) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah);

- Sekretaris Daerah Kabupaten Karawang selaku Ketua TKKSD (Pasal 6 ayat (3) huruf a Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Kerjasama Daerah) dan pejabat pengelola barang milik daerah yang mengatur pelaksanaan penggunaan dan pemanfaatan barang milik daerah (Pasal 5 ayat (4) huruf d Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah), menyetujui besaran pembayaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan dalam kerjasama pemanfaatan atas barang milik daerah (Pasal 26 ayat (1) huruf e Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah juncto Pasal 26 ayat (1) huruf e Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah) dan memberikan rekomendasi kepada Bupati untuk penandatanganan perjanjian kerjasama (Pasal 6 ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Petunjuk Tekhnis Tata Cara Kerjasama Daerah);

(15)

114 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah);

- Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Pertambangan dan Energi (Disperindagtamben) Kabupaten Karawang selaku pengguna barang milik daerah yang mengelola dan menatausahakan barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya dengan sebaik-baiknya (Pasal 44 Undang Undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara juncto Pasal 10 huruf j Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah) dan mengelola piutang daerah yang menjadi tanggungjawab satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya (Pasal 10 ayat (3) Undang Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara juncto Pasal 10 huruf i Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah); Patut di duga:

- telah melakukan pembiaran atas terjadinya keterlambatan dalam pembayaran kontribusi; - tidak melakukan penagihan atas hak daerah berupa pembagian keuntungan (profit sharing); - tidak segera melakukan penagihan atas piutang daerah yang telah jatuh tempo;

- telah mereduksi besaran nilai kontribusi (PT SRM);

- telah menghilangkan potensi pedapatan daerah, yaitu sejak penandatanganan perjanjian kerjasama hingga pasar mulai beroperasi;

- telah mengabaikan rekomendasi dari BPK (Pejabat wajib menindaklanjuti rekomendasi dalam laporan hasil pemeriksaan (Pasal 20 ayat (1) Undang Undang Nomor 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan Dan Tanggungjawab Keuangan Negara juncto Pasal 3 ayat (1) Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan) Sehingga di duga:

a. telah mengabaikan tugasnya (untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu);

b. telah melakukan perbuatan yang menyebabkan munculnya potensi kerugian keuangan negara/daerah; dan

c. telah melakukan perbuatan yang menjurus kepada upaya memperkaya diri sendiri, orang lain atau suatu korporasi.

Kerugian Daerah dan Sanksi Pidana.

- setiap pihak yang mengakibatkan kerugian daerah dapat dikenakan sanksi administratif dan/atau sanksi pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan (Pasal 82 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah juncto Pasal 85 ayat 2 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah);

Sanksi Pidana.

Sanksi pidana yng diatur dalam Pasal 3 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 juncto Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi:

“Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan, yang (kata “dapat” ditiadakan) merugikan keuangan negara atau perekonomian negara”.

Unsur Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 juncto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU PTPK), yaitu:

1. unsur “setiap orang”

(16)

saja”. Mahkamah Agung dalam Putusan Nomor 892 K/PID/1983, tanggal 18 Desember 1984, memberi pengertian bahwa ”barang siapa” di dalam tindak pidana korupsi bukan hanya orang sebagai pegawai negeri, tetapi mencakup swasta, pengusaha dan badan hukum. Putusan Mahkamah Agung itu diikuti oleh Putusan Mahkamah Agung Nomor 103 K/Pid/2007, tanggal 28 Februari 2007. Dengan demikian, rumusan “setiap orang” dalam Pasal 3 UU PTPK yaitu siapa saja, baik pegawai negeri/penyelenggara negara maupun bukan pegawai negeri/penyelenggara negara.

2. unsur “dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi” Unsur “dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi” bersifat alternatif.

Unsur tujuan (doel) tidak berbeda artinya dengan maksud (opzet als oogmerk). Unsur ini menentukan arah dari perbuatan penyalahgunaan kewenangan.

Yang dimaksud dengan “menguntungkan” adalah mendapatkan untung atau diuntungkan. Dengan demikian yang dimaksudkan dengan “menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi” sama artinya dengan menguntungkan diri sendiri atau menguntungkan orang lain atau menguntungkan suatu korporasi. Di dalam ketentuan Pasal 3 UU PTPK, unsur “menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi” adalah tujuan dari pelaku.

Mahkamah Agung dalam Putusan Nomor 813 K/Pid/1987, tanggal 29 Juni 1989, menyatakan bahwa unsur “menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu badan” dinilai dari kenyataan yang terjadi atau dihubungkan dengan perilaku pelaku sesuai dengan kewenangan yang dimilikinya karena jabatan atau kedudukan.

3. unsur “menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan”

Yang dimaksud dengan “menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan” adalah menggunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang melekat pada jabatan atau kedudukan pelaku untuk tujuan lain dari maksud diberikannya kewenangan, kesempatan atau sarana tersebut.

Untuk mencapai tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, cara yang ditempuh oleh pelaku yaitu dengan menyalahgunakan kewenangan, dengan menyalahgunakan kesempatan atau dengan menyalahgunakan sarana yang ada pada jabatan atau kedudukan pelaku.

Yang dimaksud dengan “kewenangan” adalah serangkaian hak yang melekat pada jabatan atau kedudukan pelaku.

Yang dimaksud dengan “kesempatan” adalah peluang yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku. Yang dimaksud dengan “sarana” adalah cara kerja atau metoda kerja yang berkaitan dengan jabatan atau kedudukan pelaku.

Kewenangan untuk melakukan perbuatan tertentu yang digunakan secara salah, itulah yang disebut menyalahgunakan kewenangan. Dengan demikian menyalahgunakan kewenangan dapat didefinisikan sebagai perbuatan yang dilakukan oleh orang yang berhak untuk melakukan, tetapi dilakukan secara salah atau diarahkan kepada hal yang salah serta bertentangan dengan hukum atau kebiasaan.

Menurut E Utrecht yang dimaksud dengan “jabatan” adalah suatu lingkungan pekerjaan tetap (kring van vaste weerkzaamheden) yang diadakan dan dilakukan untuk kepentingan publik. Pada unsur menyalahgunakan kewenangan terkandung makna kesengajaan, kelalaian, melawan hukum.

(17)

Kesengajaan adalah menghendaki menggunakan kewenangan secara menyimpang dan mengetahui akibat daripada penyimpangan wewenang yang diberikan. Kesengajaan bisa diartikan sebagai niat untuk melakukan suatu perbuatan dan diwujudkan dalam pelaksanaan perbuatan jahat atau perbuatan melawan hukum.

Kelalaian (culpa) yakni tidak hati-hati dalam melaksanakan kewenangan, sehingga mengakibatkan wewenang yang diberikan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kelalaian bersifat temporer, tidak terjadi secara berulang (terus-menerus).

Melawan hukum adalah syarat dapat dipidananya suatu perbuatan. Melawan hukum bisa dikarenakan menyimpang dari tujuan kewenangan yang diberikan, atau dikarenakan dalam menjalankan kewenangan bertentangan dengan ketentuan hukum.

Makna yang terkandung didalam menyalahgunakan kewenangan menjadi tolak ukur untuk menyatakan seseorang telah menyalahgunakan kewenangan.

4. unsur “merugikan keuangan negara atau perekonomian negara”

Pengertian “merugikan” sama artinya dengan menjadi rugi atau menjadi berkurang. Dengan demikian yang dimaksudkan dengan unsur “merugikan keuangan negara” sama artinya dengan ruginya keuangan negara atau berkurangnya pendapatan negara.

BIBLIOGRAFI.

1. Buletin Teknis Nomor 20 tentang Akuntansi Kerugian Negara/Daerah, Desember 2015, oleh Komite Standar Akuntansi Pemerintahan (KSAP)

2. Menghitung Kerugian Keuangan Negara dalam Tindak Pidana Korupsi, Theodorus M.Tuanakotta terbitan Salemba Empat tahun 2009

Peraturan perundang-undangan:

1. Undang Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara; 2. Undang Undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara;

3. Undang Undang Nomor 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan Dan Tanggungjawab Keuangan Negara;

4. Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi; 5. Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi; 6. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;

7. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Daerah; 8. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah; 9. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah

Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah;

10. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah; 11. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2016 Tentang Tata Cara Tuntutan Ganti Kerugian

Negara/Daerah Terhadap Pegawai Negeri Bukan Bendahara Atau Pejabat Lain

12. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

13. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah 14. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Perubahan Kedua Atas

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

15. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah

(18)

Referensi

Dokumen terkait

6.4 Pegawai yang telah ditawarkan untuk mengikuti Program Cuti Sabatikal tetapi masih tidak memulakan program dalam tempoh enam (6) bulan dari tarikh surat

Secara garis besar buku ini mengambil lingkup waktu sekitar masa Orde Baru berkuasa, penjelasan-penjelasan di bagian awal merupakan sumber tertulis yang cukup

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di kelas III Sekolah Dasar Negeri 34 Pontianak Selatan, hasil analisis data yang diperoleh dari hasil belajar siswa pada mata

bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 5 ayat (2) dan Pasal 7 ayat (3) Peraturan Daerah Kabupaten Karawang Nomor 22 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Pelayanan

Kolaka -Kota Kendari Anggota DPRD/ASN (Trasport Keluar Daerah/Dalam Prov... 02 Dana Bagi Hasil

Penulis ucapkan terima kasih terhadap semua pihak yang telah membantu penulis, sehingga skripsi yang berjudul “Penerapan Algoritma Fuzzy K-Nearest Neighbor untuk Penentuan

Kandungan protein pucuk kolesom layak jual pada umur 80 HST dipengaruhi oleh interaksi antara perlakuan dosis pupuk urea + KCl dan interval panen.Tabel 3 menunjukkan bahwa

Tenaga perpustakaan SMP N 3 Padang Panjang memiliki beberapa problematika dalam mengelola perpustakaan tersebut diantaranya sebagai berikut: (1) faktor dari manusia