MAKALAH
BAHAYA LIDAH DAN KEUTAMAAN DIAM
Disusun guna memenuhi tugas
Tasawuf III
Dosen pengampu : Prof. Dr. H. Abdullah Hadziq, MA.
Disusun oleh:
Khusnun Diana (1504046006)
TASAWUF DAN PSIKOTERAPI
FAKULTAS USHULUDDIN DAN HUMANIORA
UIN WALISONGO SEMARANG
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Allah memberikan manusia anggota badan yang digunakan sebagai alat bukan
tanpa alasan, misalnya Allah menciptakan tangan untuk menulis, kaki untuk berjalan,
mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, serta mulut untuk bicara. Semua yang
diciptakan oleh Allah tidak ada yang mubadzir, atau hanya diciptakan sebagai hiasan
saja tanpa ada fungsinya. Jika sampai sekarang kita tidak tahu hakikat penciptaan
sesuatu bukan karena hal tersebut tidak memiliki manfaat melainkan kitalah yang
belum mengetahu apa manfaatnya.
Sama seperti yang lain mulut lebih spesifiknya lagi lidah memiliki fungsi yang
sangat penting bagi tubuh, lidah digunakan sebagai sarana untuk berkomunikasi
dengan individu yang lain. Fungsi dari lidah sejatinya adalah baik, namun terdapat
bahaya di dalamnya jika kita salah bahkan berlebihan dalam penggunaanya.
B. Rumusan masalah
1. Apa saja bahaya yang ditimbulkan oleh lidah?
2. Apa keutamaan diam?
C. Tujuan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Bahaya lidah
Apakah arti lidah? Hanya sepotong daging kecil dari tubuh manusia yang telah sempurna. Tapi tanpa lidah, orang akan kekurangan. Lidahlah yang menghubungkan manusia dengan manusia, lidahlah yang memberi suara pikiran dan cita. Lidahlah yang memberi nada segala rasa, lidahlah yang memperindah nyanyian dan irama, lidah dapat membuat hati yang rindu menjadi mesra ria. Lidah yang bernasihat dapat menerangkan gelora amarah dalam dada. Lidah dapat memutarbalikan segala peristiwa. Lidah dapat mempesona masyarakat dan massa. Lidah dapat membuat orang menangis menjadi tertawa dan sebaliknya.1
Sahabat Ali Ra pernah mengatakan “ukurannya kecil, tetapi dosanya besar.”
Ujaran bijaksana ini mengatakan dengan jelas bagaimana lidah kecil kita dapat digunakan untuk berbuat dosa-dosa besar.2Seperti dikatakan bahwa lisan mencerminkan apa
yang ada dalam hati. Ini mengungkapkan satu perasaan batin dan pikiran. Ini menggambarkan satu karakter dan kepribadian. Ada juga kemungkinan kerugian karena penggunaanya.3
Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menerangkan ada duapuluh bahaya lidah yaitu:
1. Pembicaraan tidak perlu
Keadaan yang terbaik adalah menyelamatkan lidah dari mengumpat, fitnah, riya, bohong, bertengkar, berbantah, dan sebagainya. Di dalam pembicaraan semacam ini tidak ada manfaat dan tidak menguntungkan. Akan lebih baik jika kita membaca tasbih, tahlil, dan zikir-zikir lainnya sebagai pengganti pembicaraan yang sia-sia itu. Barang siapa menyibukan diri dalam hal-hal yang kurang berguna meskipun halal (mubah) seraya meninggalkan zikir kepada Allah, maka itu hal yang tidak membawa manfaat dan keuntungan baginya, karena sekalipun tidak melakukan perbuatan dosa, tetapi sebenarnya dia merugi karena kehilangan pahala mengingat Allah. Diamnya seorang mukmin adalah berfikir, pandangannya adalah khutbah (nasehat) dan pmbicaraannya tak lain adalah zikir kepada Allah.4
Pembicaraan yang tidak berguna adalah pembicaraan yang jika disampaikan tidak membawa suatu manfaat atau mudharat di dunia dan di akhirat kelak.5
1 Imam al-Ghazali. Bahaya Lidah. (Bumi Aksara:Jakarta). Cet I. Disadur oleh Zainuddin. 1992. Hlm 2.
2 Irwan Kurniawan. Jalan Ruhani Bahagia. (Penerbit Marja:Bandung). Cet I. 2015. Hlm 309.
3 Irwan Kurniawan. Jalan Ruhani..... Hlm 311.
4 Al-Ghazali. Ihya’ Ulumuddin (Buku Keenam). (Penerbit MARJA:Bandung). Cet I. 2014. Hlm 202.
2. Terlalu banyak bicara atau terlibat dalam pembicaraan yang berlebihan.
Ini berarti kita hendaknya tidak berbicara tentang hal-hal yang tidak berguna dan melakukan pembicaraan yang tidak bermanfaat.6
Rasulullah SAW brsabda “diberkati Allah orang yang menahan lidahnya dari perkataan yang berlebihan dan membelanjakan kelbihan hartanya.”
Hasan al-Basri berkata “barangsiapa banyak perkataannya boleh jadi banyak pula bohongnya. Barang siapa banyak hartanya, boleh jadi banyak pula dosanya. Barangsiapa buruk akhlaknya, niscaya akhlak itu akan menyiksa jiwanya.”7
3. Bercakap kosong yang membawa kepada kebatilan
Harus di hindari pembicaraan dan percakapan yang tidak berguna dalam perkara batil dan menghabiskan waktu dengan membicarakan hal-hal yang membawa kepada dosa dan maksiat. Contohnya mempercakapkan kecantikan wanita, memperbincangkan manfaat minum khamr, memuji para pendosa dan pelaku maksiat, membicarakan enaknya orang kaya, menceritakan penindasan dan kezaliman para penguasa dengan kekaguman. Ini semua tergolong dalam pembicaraan yang dilarang, pembicaraan haram.8
4. Pembantahan dan pertengkaran
Kedua hal itu dilarang oleh agama. Rasulullah bersabda “janganlah engkau berbantah-bantahan dengan saudaramu, janganlah bersenda gurau berlebihan, dan jangan ingkar janji dengannya.”9 Sabda beliau lainnya, “iman seorang disebut sempurna apabila
mempunyai enam hal berikut ini: (1) berpuasa pada musim panas, (2) memukul musuh Allah dengan pedang, (3) menyegerakan shalat dalam keadaan hujan lebat, (4) tetap sabar dalam keadaan sulit dan bahaya, (5) menyempurnakan wudhu meskipun berat, (6) meninggalkan pertengkaran meskipun tahu bahwa dirinya benar.”10
Dalam Al-Qur’an Allah berfirman :
اُوللش
ش فَفتشفش اُوعلزشَانشتش َلوش هللشُوس
ل رشوش هشلللا اُوعلِيط
ط أشوش
ن
ش ِيرطبطَاص
ل لا عشمش هشلللا ن
ل إط اورلبطص
َف اوش م
َف ك
ل حلِيرط ب
ش هشذ
َف تشوش
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS al-Anfal : 46)5. Bertengkar tentang masalah harta dan kekayaan
Nabi bersabda “yang dibenci oleh Allah adalah orang yang bertengkar keras soal harta.”11
6. Berbicara dengan menggunakan kalimat berbunga-bunga
Yang termasuk ialah berbicara dengan gaya orator dan memberi ceramah atau kuliah dengan berbagai kata hiasan. Nabi SAW bersabda “yang paling buruk diantara pengikutku adalah orang yang dibesarkan dengan berbagai makanan lezat, mengenakan berbagai jenis pakaian, dan berbicara dengan perkataan yang dibuat-buat.”
7. Perkataan yang keji dan kotor, seperti caci maki, kutukan, sumpah serampah
Hal tersebut merupakan perbuatan yang dilarang. Nabi bersabda “janganlah kalian memaki orang musyrik yang meninggal, karena makian itu tidak akan sampai pada mereka, tetapi justru sampai kepada yang masih hidup. Karena itu ketahuilah bahwa perkataan yang keji adalah tercela.”12
8. Mengutuk sesuatu, apakah terhadap binatang, manusia, atau benda mati
Nabi bersabda tentang kutukan sebagai berikut “seorang mukmin tidak akan mengutuk orang lain.” Dalam hadits lain beliau bersabda “jangan mengutuk orang lain dengan kutukan Allah, dengan kemurkaanNya atau dengan nerakaNya.”13
9. Nyanyian dan syair
Dalam bab atau kitab tentang sama’ atau mendengar nyanyian religius telah dijelaskan bahwa nyanyian dan syair yang baik hukumnya adalah halal. Sedangkan nyanyian dan syair yang jahat hukumnya adalah haram.14
10. Banyak tertawa dan senda gurau
Pada dasarnya tertawa dan senda gurau yang berlebihan tidak diperbolehkan dan bukan termasuk akhlak terpuji. Namun dalam batas tertentu, ketawa dan senda gurau hukumnya halal dan karena itu diperbolehkan.15
11. Mengejek atau mengolok-olok
Mengejek atau mengolok-olok orang lain dilarang karena menyebabkan sakit hati pada orang yang diejek atau diolok-olok. Dalam QS al hujurat ayat 11 Allah berfirman :
م
yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yangmengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dhalim.”16