• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALYSIS OF CAUSES OF HIVAIDS TRANSMISSION CASES VIEWED FROM PREDISPOSITION, ENABLING, AND REINFORCING FACTORS (Case Study in Group "x")

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALYSIS OF CAUSES OF HIVAIDS TRANSMISSION CASES VIEWED FROM PREDISPOSITION, ENABLING, AND REINFORCING FACTORS (Case Study in Group "x")"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENYEBAB KASUS PENULARAN HIV/AIDS DITINJAU DARI FAKTOR PREDISPOSISI, PEMUNGKIN DAN PENDORONG

(Studi Kasus di Kelompok “x”)

ANALYSIS OF CAUSES OF HIV/AIDS TRANSMISSION CASES VIEWED FROM PREDISPOSITION, ENABLING, AND REINFORCING FACTORS

(Case Study in Group "x")

Nining Novitamala1, Syamsul Arifin2, Laily Khairiyati3, Husaini3, Ratna Setyaningrum4

1

Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat 2

Departemen AKK dan Promkes 3

Departemen Kesehatan Lingkungan 4

Departemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja Program Studi Kesehatan Masyarakat

Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru Email: [email protected]

Abstrak

Berdasarkan data dari statistik kasus HIV/AIDS oleh Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan, kumulatif kasus HIV/AIDS dari tahun 2002 sampai dengan September 2016, jumlah kasus HIV/AIDS sebanyak 1,563 kasus HIV/AIDS. Penelitian ini adalah untuk menjelaskan penyebab kasus penularan HIV/AIDS ditinjau dari faktor predisposisi (demografi, persepsi dan gaya hidup), pemungkin (ketersediaan fasilitas-fasilitas yang berisiko, kurangnya pengawasan terhadap tempat-tempat hiburan yang berisiko, serta mudahnya akses terhadap media informasi) dan pendorong (teman dan

pasangan) dalam sudut pandang metode penelitian kualitatif (studi kasus di kelompok “x”). Penelitian

ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, desain grounded theory dan partisipan berjumlah 5 orang

Keabsahan data penelitian ini dengan cara credibility melalui triangulasi (sumber, waktu dan metode)

dan dependabilitas. Analisis data menurut Miles dan Huberman, 1992. Hasil penelitian menunjukkan bahwa demografi, persepsi dan gaya hidup merupakan faktor predisposisi yang berperan dalam penularan HIV/AIDS. Faktor pemungkin seperti ketersediaan tempat berisiko, pengawasan dari pemerintah dan media sosial berperan dalam penularan HIV/AIDS, tetapi yang paling berperan besar adalah media sosial. Sedangkan dari faktor pendorong yaitu teman dan pasangan. Oleh karena itu disarankan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS melalui kegiatan penyuluhan kepada masyarakat, peningkatan jangkauan pelayanan kesehatan untuk pemeriksaan HIV/AIDS, peningkatan koordinasi lintas program dan lintas sektor, komitmen dan dukungan dari pemangku kebijakan dan penguatan regulasi Perda dan Perwali.

Kata kunci: HIV/AIDS, predisposisi, pemungkin pendorong, Kelompok “x”

Abstract

(2)

cross-program and cross-sector coordination, commitment and support from stakeholders and strengthening regulations on Regional Regulations and Mayor Regulations.

Keywords: HIV/AIDS, predisposition, enabling, reinforcing, Group "x"

PENDAHULUAN

Penyakit HIV/AIDS merupakan suatu penyakit yang terus berkembang dan menjadi masalah

global karena pola penyakitnya yang hampir terjadi di semua negara. Berdasarkan case report

UNAIDS dan (WHO) tahun 2016 jumlah orang yang hidup dengan HIV di dunia sampai akhir tahun

2015 terdapat 34,0 juta-39,8 juta orang dan kematian akibat AIDS diperkirakan sebanyak 1,1 juta orang di seluruh dunia (1).

Jumlah kasus HIV dan AIDS di Indonesia yang dilaporkan secara triwulan terhitung 1 Januari sampai dengan 31 Maret 2016 oleh Ditjen PP dan PL Kemenkes RI adalah 32,711 kasus HIV dan 7,864 kasus AIDS. Berdasarkan laporan Ditjen PP dan PL Kemenkes RI di tahun 2016, persentase kumulatif kasus AIDS tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun (31,5%), kemudian diikuti kelompok umur 30-39 tahun (29,6%), 40-49 tahun (12%). Persentase AIDS pada laki-laki sebanyak 55% dan perempuan 31% (2).

Kasus HIV/AIDS yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan secara kumulatif dari tahun 2002 sampai dengan September 2016, jumlah kasus HIV/AIDS di Provinsi Kalimantan Selatan kasus HIV sebanyak 53,99% dan 46,01% kasus AIDS. Dari segi faktor risiko kasus HIV/AIDS di Kalimantan Selatan paling banyak adalah hubungan seksual yaitu 89,38%, tidak diketahui sebanyak 3,78%, penasun 3,58%, perinatal 2,63% dan melalui tranfusi darah 0,63% (3).

Teori Green menyatakan bahwa hal terpenting dalam perilaku kesehatan adalah masalah pembentukan perubahan perilaku. Dalam teori ini Green mengidentifikasi tiga faktor yang mempengaruhi perilaku. Perilaku berisiko pada kasus penularan HIV/AIDS masing-masing memiliki tipe pengaruh berbeda-beda yaitu faktor predisposisi yang terwujud dalam demografi, persepsi dan gaya hidup. Faktor pemungkin yang terwujud dalam ketersediaan fasilitas-fasilitas yang berisiko seperti hotel, tempat karaoke dan tempat hiburan lainnya, kurangnya pengawasan terhadap tempat-tempat hiburan yang berisiko, serta mudahnya akses terhadap media informasi saat ini. Faktor pendorong seperti teman maupun pasangan. Perilaku dapat diartikan suatu respons organisme atau seseorang terhadap rangsangan atau stimulus dari luar objek tersebut (4).

Kelompok “x” merupakan suatu kelompok dukungan sebaya dengan anggota berjumlah 15

orang yang terdiri dari ODHA atau Orang dengan HIV dan AIDS. Berdasarkan kejadian kasus HIV/AIDS yang meningkat di Kalimantan Selatan yaitu secara kumulatif dari tahun 2002-September 2016 sebanyak 1563 kasus dengan latar belakang yang bervariasi. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk menganalisis penyebab kasus penularan HIV/AIDS ditinjau dari faktor predisposisi, pemungkin dan pendorong dalam sudut pandang metode penelitian kualitatif (studi kasus di

kelompok “x”).

METODE

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dan desain grounded theory melalui studi

dokumentasi dan wawancara mendalam. Penentuan subjek yaitu teknik pengambilan sampel

menggunakan purposive sampling (5). Partisipan dalam penelitian terdiri dari Ketua Kelompok “x”,

ODHA laki-laki Kelompok “x”, ODHA perempuan Kelompok “x” dan wakil KPA (Komisi

Penanggulangan AIDS). Keabsahan data penelitian dapat dilakukan dengan cara credibility melalui

tiga triangulasi (sumber, waktu dan metode) dan dependabilitas (6). Sedangka analisis data menurut

Matthew B. Miles dan A. Michael Huberman (1992) yaitu data reduction, datadisplay, dan conclusion

drawing/verification (7).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan wawancara mendalam (indepth interview) dan dokumentasidatayang didapatkan

pada penelitian ini maka diperoleh tema-tema fenomena lapangan yang meliputi demografi, persepsi, gaya hidup, ketersediaan fasilitas-fasilitas yang berisiko seperti hotel, tempat karaoke dan tempat hiburan lainnya, kurangnya pengawasan terhadap tempat-tempat hiburan yang berisiko, mudahnya akses terhadap media informasi atau media massa saat ini, teman dan pasangan.

A. Demografi

Berikut adalah kesimpulan dari keterangan demografi partisipan utama yaitu ODHA dan

partisipan kunci yaitu pihak KPA yang didapat dari wawancara mendalam (indepth interview) disajikan

(3)

Tabel 1 Demografi Partisipan Utama (ODHA) dan Partisipan Kunci

Partisipan Demografi

Pendidikan Jenis Kelamin

Pekerjaan Umur

(Tahun)

Status Ekonomi (UMR)

GN SMA L Wiraswasta 42 Dibawah

S SD P Wiraswasta 40 Dibawah

M SMA L Swasta 23 Diatas

F SMA Paket C L Swasta 30 Dibawah

A Perguruan

Tinggi

L Sebagai pemegang

program VCT di KPA

30 Diatas

Sumber: Hasil wawancara mendalam (indepth interview)

Hasil penelitian yang dilakukan Sumarlin (2013) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku pada pasien HIV/AIDS di Kinik VCT Bunga Harapan RSUD Banyumas dengan desain penelitian cross sectional menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perubahan perilaku, denga nilai p =0,019. Sumarlin menambahkan bahwa semakin tinggi pengetahuan maka semakin tinggi seseorang meningkatkan perubahan perilaku (8).

Kementerian Kesehatan RI (2013) mengatakan bahwa proporsi laki-laki 2 kali lebih banyak dibandingkan perempuan (9). Tingginya proporsi laki-laki yang menderita HIV/AIDS diasumsikan karena banyaknya laki-laki yang melakukan hubungan seksual berisiko dan menggunakan napza suntik (penasun) dibandingkan perempuan yang lebih sering mendapatkannya dari pasangan seksual mereka. Hal ini didukung oleh Yusri dkk (10). (2012) dalam penelitiannya di RSUP H. Adam Malik Medan yang menyatakan bahwa dari 163 dengan transmisi hubungan seksual, proporsi tertinggi adalah laki-laki 119 orang (73,0%). Hasil penelitian laporan Depkes RI tentang jumlah kumulatif AIDS (tahun 1987 s.d Juni 2013) terbanyak menurut pekerjaan yaitu wiraswasta (5.131), ibu rumah tangga (5.006), dan tenaga non professional/karyawan (4.521) (10). Penderita yang didiagnosis pada umur 30-40 tahun sudah terpapar virus HIV pada saat remaja akhir dan dewasa awal. Kambu (2012) dalam penelitiannya menyatakan bahwa infeksi HIV lebih banyak terjadi pada umur muda (12-35 tahun) karena pada umur muda lebih dimungkinkan banyak melakukan perilaku seks tidak aman yang berisiko terhadap penularan HIV (11). Status ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan seseorang. (12). Melalui Surat Keputusan Gubernur Kalsel, Nomor 188.44/0588/KUM/2016, diputuskan besaran UMR Kalsel 2017 atau Upah Minimum Provinsi Kalsel 2017 sebesar Rp2.258.000 (13).

B. Persepsi

Dari hasil wawancara mendalam (indepth interview) tentang faktor penyebab penularan

HIV/AIDS dari segi persepsi atau pandangan menurut partisipan:

1. Faktor-faktor risiko penularan HIV/AIDS yang paling utama adalah perilaku seksual berisiko seperti tidak menggunakan kondom dan bergonta-ganti pasangan.

Penelitian yang dilakukan oleh Hounton et al (2005) dan Nwokoji and Ajuwon (2004) menunjukkan bahwa partner seks yang banyak dan tidak memakai kondom dalam melakukan aktivitas seksual yang berisiko merupakan faktor risiko utama penularan HIV/AIDS (14).

2. Penularan HIV/AIDS ditularkan dari suami.

Beberapa tahun terakhir, cara penularan HIV dan AIDS berubah lagi, terutama melalui hubungan heteroseksual. Kelompok ini bukan saja memiliki risiko tinggi terinfeksi karena perilaku berbagi jarum suntiknya, tetapi juga memiliki risiko akibat hubungan seksual berganti pasangan dan tidak menggunakan kondom. Hasil penelitian yang dilakukan oleh lembaga penelitian Pusat Penelitian HIV/AIDS di Indonesia mengenai jaringan seksual dan penggunaan narkoba pada pengguna narkoba suntik menemukan bahwa kebanyakan penasun pertama kali berhubungan seksual dengan pacarnya (15).

3. Pengguna jarum suntik dan narkoba (penasun).

(4)

penurut, setia, dan tidak memahami seks. Sementara laki-laki adalah pihak dominan, agresif, paham, dan berpengalaman. Ketidaksetaraan ini juga menganggap wajar bila laki-laki mempunyai lebih dari satu pasangan (16).

4. Lelaki seks lelaki.

Penelitian yang dilakukan oleh Fakih dkk (2013) bahwa perilaku seksual dari kelompok homoseksual yang berganti-ganti pasangan menjadi pemicu penularan HIV/AIDS dikalangan LSL dan hal ini dapat berdampak pula pada perluasan penularan HIV/AIDS kepada orang lain yaitu melalui hubungan seksual dengan LSL yang terindikasikan telah terkena virus HIV (17).

5. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS.

Tingginya kasus HIV/AIDS ini dapat disebabkan oleh pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS yang masih kurang, sehingga tidak dapat melakukan pencegahan terhadap HIV/AIDS, seperti menghindari penggunaan jarum suntik yang tidak steril secara bergantian, tidak melakukan hubungan seksual yang tidak aman seperti berganti pasangan dan tidak menggunakan kondom, melakukan proses persalinan yang aman bagi ibu yang HIV positif, dan menerima transfusi darah (18).

C. Gaya Hidup

Dari hasil wawancara mendalam (indepth interview) tentang faktor penyebab penularan

HIV/AIDS dari segi gaya hidup menurut partisipan yaitu:

1. Berawal dari coba-coba dan menjadi kebiasaan karena dipengaruhi oleh teman dan media sosial. Arus globalisasi telah memasuki semua sendi kehidupan di Indonesia. Perubahan-perubahan gaya hidup telah membentuk tipe manusia dengan gaya hidup modern. Salah satu pengaruh yang dirasakan adalah bergesernya nilai dan norma yang semula bersifat tradisional ke modern, seperti gaya hidup hedonis, dibangunnya klub-kub malam, tempat-tempat lokalisasi, peredaran narkoba, perilaku seks bebas dan lain sebagainya. Gaya hidup perilaku berisiko yang melekat menyebabkan penyebaran HIV/AIDS yang tidak terkendali. Mereka yang terpengaruh oleh gaya hidup/perilaku bebas cenderung mengakibatkan tertularnya penyakit HIV/AIDS. Gaya hidup hedonistik yang mencari kesenangan sesaat, semisal pengguna narkoba jarum suntik yang melakukan tindakan sharing atau penggunaan jarum suntik secara bersama-sama dengan teman-teman maupun pasangan (19). 2. Faktor ekonomi.

Globalisasi telah menimbulkan dampak yang sangat berarti dalam berbagai dimensi kehidupan manusia. Globalisasi merupakan proses internasionalisasi seluruh tatanan masyarakat modern. Pada awalnya proses ini hanya pada tatanan ekonomi, namun dalam perkembangannya cenderung menunjukkan keragaman. Malcolm waters mengemukakan bahwa ada tiga dimensi proses globalisasi, yaitu globalisasi ekonomi, globalisasi politik, dan globalisasi budaya (20).

Berdasarkan paparan diatas bahwa demografi, persepsi dan gaya hidup merupakan faktor predisposisi yang dapat berperan dalam penularan HIV/AIDS. Faktor predisposisi, yakni faktor-faktor yang mempermudah terjadinya perilaku seseorang karena anteseden terhadap perilaku yang menjadi dasar atau motifasi yang menjadi perilaku. Faktor predisposisi yang mencakup pengetahuan, sikap, kepercayaan, persepsi. Selain itu faktor sosiodemografi juga merupakan faktor predisposisi perilaku seseorang meliputi status individu, umur, pendidikan (21).

D. Ketersediaan Fasilitas-Fasilitas yang Berisiko Seperti Hotel, Tempat Karaoke dan Tempat Hiburan Lainnya

penyebab penularan HIV/AIDS dari segi ketersediaan fasilitas-fasilitas yang berisiko seperti hotel, tempat karaoke dan tempat hiburan lainnya menurut partisipan yaitu:

1. Adanya warung jablay sebagai tempat transaksi awal.

Kebermunculan lokalisasi ilegal baik di warung lesehan pinggir jalan, di cafe atau diskotik, serta di hotel atau losmen. Kenderwis dan Yustina (2009), yang mengungkapkan bahwa di Kabupaten Langkat terdapat banyak rumah makan atau kafe yang berada di sepanjang Jalan lintas Sumatra di mana tempat yang dimaksud berfungsi sebagai lokalisasi transaksi seksual tidak resmi atau ilegal yang sangat berpotensi menjadi sumber penularan HIV/AIDS. Penutupan lokalisasi legal, mengakibatkan munculnya lokalisasi ilegal yang tersebar di beberapa tempat, baik di warung makan atau warung lesehan di pinggir jalan, maupun di cafe atau tempat karaoke. Keadaan lokalisasi yang tidak resmi atau ilegal dapat menjadi sumber penularan penyakit HIV/AIDS (22).

2. Warung jablay sebagai tempat istirahat dan nongkrong para supir atau pekerja lainnya.

(5)

mereka memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap penularan HIV dan Penyakit Menular Seksula (PMS) lainnya daripada penduduk yang memiliki kondisi tempat tinggal yang stabil atau tetap (23).

E. Kurangnya pengawasan terhadap tempat-tempat hiburan yang berisiko

HIV/AIDS dari segi kurangnya pengawasan terhadap tempat-tempat hiburan yang berisiko dapat berperan pada penularan HIV/AIDS menurut partisipan:

1. Kurangnya pengawasan langsung oleh pemerintah terhadap tempat berisiko tersebut. 2. Masyarakat berperan sebagai pengawas.

Pelaksanaan koordinasi dan sinergisitas lintas sektor untuk pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS dianggap belum optimal. Pada hal upaya penanggulangan HIV/AIDS juga harus melibatkan dukungan dari lintas sektor termasuk dalam pengalokasian dana. Hal ini mengingat bahwa ada beberapa kegiatan yang seharusnya dilaksanakan oleh mereka yang mempunyai keahlian dari SKPD tertentu dengan mengusulkan kegiatan dan alokasi dana. Namun, dukungan dari lintas sektor sampai saat ini belum bisa terlaksana. Adapun permasalahan yang terkait ini dianggap berkaitan dengan belum adanya kebijakan yang mengatur, baik Perda maupun Perwako tentang penanggulangan HIV/AIDS (24).

F. Mudahnya akses terhadap media informasi atau media massa saat ini

Dari hasil wawancara mendalam (indepth interview) tentang faktor penyebab penularan

HIV/AIDS dari segi mudahnya akses terhadap media informasi atau media massa saat ini menurut partisipan:

1. Adanya aplikasi-aplikasi baru. 2. Majalah Dewasa tidak ada lagi.

Pendapat Azwar (2011) walaupun pengaruh media massa tidaklah sebesar pengaruh interaksi individual secara langsung, namun dalam proses pembentukan dan perubahan sikap, peranan media massa tidak kecil artinya (25). Perilaku berisiko yang dilakukan oleh LSL menurut partisipan juga cenderung dipengaruhi oleh tayangan/gambar yang terdapat pada HP atau setelah menonton video porno. Selanjutnya bagi kalangan lelaki seks lelaki (LSL) juga ada kecenderungan (misalnya LSL muda dan waria dengan status ekonomi menengah hingga tinggi) menggunakan sosial media untuk

berkomunikasi seperti facebook, twitter dan situs lain yang memuat informasi tentang gay. Dengan

media jejaring sosial tersebut mereka bisa saling mengenal dan berkomunikasi, dan akhirnya bisa berlanjut kepada ketertarikan satu sama lainnya (26).

Pada teori perilaku Lawrence Green, faktor pendukung yakni faktor-faktor yang memfasilitasi suatu perilaku. Faktor enabling seperti ketersediaan tempat berisiko, pengawasan dari pemerintah dan media sosial berperan dalam penularan HIV/AIDS. Akan tetapi yang paling berperan besar adalah mudahnya akses informasi atau hal apapun melalui media sosial. Yang termasuk kedalam faktor pendukung adalah ketersediaan sarana dan prasarana peraturan dan hukum yang berlaku dan

media sosial atau informasi juga merupakan faktor pendukung (enabling) (21).

G. Teman

Teman dapat berperan pada penularan HIV/AIDS diperoleh berdasarkan keterangan-keterangan partisipan. Sebagian besar partisipan menyatakan bahwa teman dapat mempengaruhi seseorang dalam hal bersikap. Teman memiliki peran penting dalam kehidupan sosial teman yang berperilaku negatif cenderung akan memberikan pengaruh negatif bagi seseorang. Berikut kutipan wawancara mendalam dengan beberapa partisipan

Lingkungan teman bermain atau lingkungan pergaulan seperti berkumpul dan nongkrong dengan komunitas mereka adalah merupakan faktor yang turut mendorong dia untuk melakukan seks maupun perilaku berisiko lainnya. Adapun tempat yang dimanfaatkan untuk berkumpul atau berinteraksi sesama mereka adalah di kafe-kafe maupun di warung-warung yang tergolong ilegal. Tempat ini biasanya mereka manfaatkan juga untuk saling bertukar informasi dan berbagi pengalaman. Adanya pertukaran informasi dan berbagi pengalaman dari sesama anggota komunitas turut berpengaruh terhadap kualitas hubungan atau kedekatan diantara mereka, sehingga akhirnya sampai kepada praktek seksual menyimpang yang akhirnya bisa berimplikasi terhadap HIV/AIDS (27).

H. Pasangan

(6)

Perempuan lebih rentan terhadap HIV karena hirarki konservatif yang tidak mengakui realitas atau hak perempuan. Perilaku berisiko yang menyebabkan kerentanan perempuan terhadap penularan IMS dan HIV adalah dari perilaku laki-laki yaitu hubungan seksual dengan lebih dari satu pasangan seksual, biseksual, membeli seks, IDU dan tidak konsisten menggunakan kondom. Sedangkan perilaku berisiko perempuan diantaranya memiliki lebih dari satu pasangan seksual, posisi tawar rendah dalam negosiasi kondom, melacur dan hubungan seks dalam keadaan terpaksa (28).

Pada teori perilaku Lawrence Green,. Faktor pendorong terwujud dalam dorongan keluarga,

dorongan teman, sikap dan perilaku petugas lainnya. Dalam hal ini faktor pendorong (reinforcing)

yaitu teman dan pasangan berperan dalam penularan HIV/AIDS. Terlebih yang paling berperan adalah karena ajakan teman (21).

A. Simpulan

Faktor penyebab penularan HIV/AIDS (studi kasus pada kelompok “x”) ditinjau dari tiga faktor

yaitu:

1. Faktor Predisposisi a. Demografi

1) Jenis kelamin partisipan utama (ODHA) sebagian besar adalah laki-laki. 2) Umur partisipan utama (ODHA) antara 20-45 tahun.

3) Keseluruhan partisipan utama (ODHA) berpendidikan maksimal tamatan SMA. 4) Pekerjaan partisipan (ODHA) sebagai wiraswasta dan swasta

5) Status ekonomi partisipan utama (ODHA) sebagian besar dibawah UMR. b. Persepsi

1) Faktor-faktor risiko penularan HIV/AIDS yang paling utama adalah perilaku seksual berisiko seperti tidak menggunakan kondom dan bergonta-ganti pasangan.

2) Pengguna jarum suntik dan narkoba (penasun). 3) Penularan HIV/AIDS ditularkan dari suami. 4) Lelaki seks lelaki.

5) Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS c. Gaya Hidup

1) Berawal dari coba-coba dan menjadi kebiasaan dipengaruhi oleh teman dan media sosial. 2) Faktor ekonomi.

2. Faktor pemungkin (Enabling)

a. Ketersediaan fasilitas-fasilitas yang berisiko seperti hotel, tempat karaoke dan tempat hiburan lainnya

1) Adanya warung jablay sebagai tempat transaksi awal.

2) Warung jablay sebagai tempat istirahat dan nongkrong para supir atau pekerja lainnya. b. Kurangnya pengawasan terhadap tempat-tempat hiburan yang berisiko

1) Kurangnya pengawasan langsung oleh pemerintah terhadap tempat berisiko tersebut. 2) Masyarakat berperan sebagai pengawas

c. Mudahnya akses terhadap media informasi atau media massa saat ini. 1) Munculnya aplikasi-aplikasi pendukung (glinder, hornet, blued) 2) Majalah Dewasa tidak ada lagi.

3. Faktor Pendorong (Reinforcing) a. Teman

Dalam hal ini peran lingkungan pertemanan dapat membentuk sikap seseorang karena berawal dari ajakan teman, kemudian karena memiliki sikap penasaran dan akhirnya pun terpengaruhi.

b. Pasangan

Dalam hal ini pasangan dapat berperan pada penularan HIV/AIDS diperoleh berdasarkan keterangan-keterangan partisipan karena gonta-ganti pasangan atau tidak setia terhadap pasangan berisiko besar dalam penularan HIV/AIDS.

B. Saran

Adapun saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian ini adalah:

1. Perlu ada penelitian selanjutnya untuk mengakaji fenomena lapangan terkait penularan HIV/AIDS

dengan metode kuantitatif berdasarkan penyebab kasus penularan HIV/AIDS paling berisiko yaitu dari segi perilaku seksual berisiko.

2. Dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS secara komprehensif melalui kegiatan

(7)

agama dan tokoh masyarakat untuk peningkatan informasi dan pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS.

3. Strategi peningkatan jangkauan pelayanan kesehatan dengan kegiatan kemitraan/jejaring antara

program HIV dengan organisasi masyarakat dan swasta dalam sosialisasi terkait pemeriksaan HIV/AIDS.

4. Adanya peningkatan koordinasi lintas program dan lintas sektor dalam terkait pencegahan dan

penanggulangan HIV/AIDS seperti dari sektor pendidikan adanya kurikulum sekolah atau pemberian informasi secara komprehensif tentang pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS sebagai pengenalan lebih dini kepada para anak-anak dan remaja. Selain itu dari sektor komunikasi dan informatika adanya upaya pemblokiran media-media sosial yang rawan.

5. Adanya komitmen dan dukungan dari pemangku kebijakan untuk mengalokasikan anggaran di

luar sektor kesehatan dalam menanggapi permasalahan HIV/AIDS.

6. Penguatan regulasi Perda dan Perwali dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS dengan kegiatan

peningkatan koordinasi dan advokasi terutama terhadap pengawasan tempat-tempat berisiko dan dilakukan penutupan pada tempat-tempat yang berisiko tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

1. United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS), World Health Organization. Case progress report 2016 prevent HIV, test and treat all who support for country impact, 2016.

2. Dinkes PP dan PL Kemenkes RI. Statistik kasus HIV/AIDS di Indonesia dilapor s/d Maret 2016. 3. Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan. Situasi kasus HIV dan AIDS sampai dengan

September 2016 di Kalimantan Selatan, 2016.

4. Notoatmodjo, S. Promosi kesehatan dan perilaku kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2012. 5. Sugiyono. Metodelogi penelitian kualitatif, kuantitatif dan R & D. Bandung. Alfabeta, 2006. 6. Sugiyono. Metodelogi penelitian kualitatif, kuantitatif dan R & D. Bandung. Alfabeta, 2015 7. Miles MB, Huberman MA. Qualitative data analysis. London: Sage Publication, 1992.

8. Sumarlin H. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku pasien HIV/AIDS di Klinik VCT Bunga Harapan RSUD Banyumas. FK-MIPA Jurusan Keperawatan: Universitas Jendral Soedirman Purwokerto, 2013.

9. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Kemenkes RI. Laporan situasi

perkembangan HIV&AIDS di Indonesia tahun 2013. Diunduh dari: URL:

http://www.aidsindonesia.or.id/ck_uploads/file s/Laporan%20

HIV%20AIDS%20TW%201%202013%20FIN AL.pdf.

10. Yusri A, Muda S, Rasmaliah. Karakteristik penderita AIDS dan infeksi opurtunistik di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H. Adam Malik Medan tahun 2012. Skripsi. Medan: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, 2012.

11. Kambu Y. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi tindakan pencegahan penularan HIV oleh ODHA di Sorong. Tesis. Sorong: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2012.

12. Notoatmodjo S. Promosi kesehatan & Ilmu perilaku. Jakarta: Rineka Cipta, 2007.

13. http://www.disosnakerbjm.com/2016/12/umk-kota-banjarmasin-th-2017.html. Diakses pada Kamis, 16 November 2017.

14. Hounton SH, Carabin H, Henderson NJ. Towards an understanding of barriers to condom use in rural Benin using the health belief model: a cross sectional survey. BMC Public Health 2005; 5: 8-15.

15. Pratiwi DWK. Pencegahan penularan HIV perempuan pasangan pengguna narkoba suntik di Kota Semarang. Jurnal Permata Indonesia 2015; 6(1): 9-20.

16. Aditya, BJ. 2005. Ketidakadilan gender picu perempuan positif HIV AIDS. Jurnal Perempuan 2005; 3(2): 33.

17. Faqih, Miftah, dkk, 2013. Panduan penanggulangan AIDS (perspektif nahdlatul ulama). Jakarta: Pengurus Pusat Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulam, 2013.

18. Wulandari Y, Mustikawati IS. Hubungan pengetahuan tentang HIV&AIDS dengan perilaku pencegahan berisiko HIV&AIDS pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta. Forum Ilmiah 2013; 10(2): 220-229.

19. Simarmata, Oster. Ancaman HIV pada remaja di Tanah Papua. Artikel ilmiah pada Jurnal Ekologi Kesehatan 2010; 9(3).

20. Dewi DM, Kurnia S. Kerentanan perempuan terhadap penularan ims dan hiv: gambaran perilaku seksual berisiko di Kota Denpasar. Jurnal Public Health and Preventive Medicine Archive 2013; 1(1):

(8)

22. Kenderwis, Yustina I. Kemampuan tawar pekerja seks komersial dalam penggunaan kondom untuk mencegah penularan HIV/ AIDS di Kabupaten langkat. Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia 2009; 34(3): 133-140.

23. Theodore M. Hammett. HIV/AIDS and other infectious diseases among correctional inmates: transmission, burden, and an appropriate response. American Journal of Public Health, 2005; 96(6): 974-978.

24. Kementerian Kesehatan. Permen Kesehatan No.21 tahun 2013 tentang penanggulangan HIV dan AIDS. Jakarta, 2013.

25. Azwar. Sikap manusia teori dan pengukurannya edisi ke-2. Pustaka Pelajar: Jakarta, 2011.

26. Anastasya G. Karakteristik penderita HIV/AIDS di pusat pelayanan khusus (pusyansus) klinik voluntary counceling and testing (VCT) RSUP Haji Adam Malik Medan Tahun 2006-2007. Medan: USU Digital Library, 2008.

27. Sosodoro, dkk. Hubungan pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan stigma orang dengan HIV/AIDS di Kalangan Pelajar SMA. Jurnal Berita Kedokteran Masyarakat 2009; 25(4).

Referensi

Dokumen terkait