KARTINI
Putu Wijaya
Babak I
Suatu hari, saat subuh rumah Amat digedor oleh seorang tetangga muda yang muncul di depan pintunya dengan mata berbinar – binar.
Tetangga muda :” Pak Amat, anak saya sudah lahir, selamat dan sehat”.
Pak Amat : (Wajah mengantuk)” Bagus ! Selamat ! Anak pertama kan ?” Tetangga muda :” Betul Pak Amat. Tolong !”
Pak Amat :” Tolong ?”
Tetangga muda : “Kasih nama. Saya belum punya nama.”
Pak Amat : (Berpikir cepat tentang hari kartini baru saja lewat dan ia langsung menanggapi)” Beri nama Kartini !”
Tetangga muda : (Terpesona)
Pak Amat : (Mengguncang tangannya)”Tak usah nama yang muluk – mulul, apa artinya nama, biar anak itu sendiri yang mengubah namanya. Siapa pun kamu sebut dia, kalau dia dididik dengan baik, dia akan jadi sejarah yang berguna bagi orang banyak. Selamat !”
Tetangga muda : (Bengong)
Babak II
Pak Amat : (Langsung menutup pintu dan sembari masuk kamar
menghampiri Bu Amat yang sudah tidur pulas kembali) ”Lagi asyik-asyiknya, ada saja yang mengganggu. Masak subuh – subuh begini nanya minta nama segala. Kalau belum siap punya anak, kenapa bikin anak. Masak nama saja bingung, nanti kalau beli susu, periksa dokter, pasti lebih bingung lagi. Sudah sampai dimana tadi, Bu ?”
Bu Amat : (Marah – marah)” Bapak keterlaluan !”
Pak Amat : ” Lho bukannya Ibu yang keterlaluan !Baru ditinggal sebentar langsung ngorok lagi !”
Bu Amat : “ Masak ngasih nama orang Kartini.”
harus dengan bercita – cita, akan jadi apa anak itu kelak. Ibu Kartini kan sudah berjasa membangkitkan kaum perempuan di Indonesia supaya percaya diri. Dia itu hebat Bu !”
Bu Amat : “Memang. tapi tidak semua orang yang namanya Kartini bisa seperti RA Kartini !”
Pak Amat : ” Makanya yang namanya usaha itu penting, jangan hanya bergantung dari nama toh. Itu namanya klenik. Nama sakti juga kalau pendidikannya tidak becus dadi sampah. Liat itu anak tetangga kita namanya Gajah Mada, mau bapaknya supaya jadi orang besar, eh nyatanya cuma kusir dokar.”
Bu Amat : “Mendingan Gajah Mada. Jelas. Kok Kartini !”
Pak Amat : ”Lho tidak bisa dibandingkan begitu,Bu. Sebesar – besarnya Gajah Mada, orang Sunda benci sama dia. Sementara Kartini, walau pun hanya bangsawan Jawa, tapi perjuangannya sangat berarti untuk membebaskan kaum perempuan di seluruh Indonesia yang sampai sekarang nasibnya masih dibawah telapak kaki lelaki !”
Bu Amat : “Betul ! Tapi kalau anak lelaki diberi nama Kartini itu namanya sinting !
Pak Amat : “Lho, jadi anaknya laki – laki ?”
Bu Amat : “Sejak 5 bulan yang lalu dokter sudah bilang lelaki. Kok kasih nama Kartini ?”
Babak III
Pak Amat : (Bengong. Ia cepat memakai sandal dan bergegas ke rumah tetangga itu).
Tetangga Muda : (Hampir hendak berangkat ke klinik bersalin membawa perlengkapan untuk istri dan anaknya) “Terimakasih Pak Amat.”
Pak Amat : (Salah tingkah dengan malu ia mengulurkan tangan dan meminta maaf) “Maaf, Bapak tidak tahu. Aku memberikan nama sembarangan. Jangan pakai nama itu !”
Pak Amat : (Bingung) “Lho jangan ngasih nama anakmu Kartini !” Tetangga Muda : “Tapi Raden Ajeng Kartini kan pahlawan Pak Amat. Saya
harap nanti anak saya akan berguna pada bangsa seperti Kartini.”
Pak Amat : “Jangan ! Kenapa mesti kasih nama Kartini !” Tetangga Muda : “Itu kan pemberian Pak Amat ?”
Pak Amat : “Habis aku kan tidak tahu, asal nyeplos saja !” Tetangga Muda : (Tertawa) “ Nama Kartini itu bagus, Pak !” Pak Amat : “Jangan !”
Tetangga Muda : (Tertawa lagi lalu pergi)
Pak Amat : (Curhat malam hari di meja makan) “Aku kira dia tersinggung dan menyindir. Masak aku kasih nama anak lakinya dengan perempuan.”
Bu Amat : “Makanya kalau ngomong jangan sembarangan, nama itu sudah kaulan, apa pun nama yang diberikan oleh orang pada anaknyaakan dia pakai. Sebab 11 tahun menikah belum punya anak.”
Pak Amat : (Terperanjat) “Jadi dia serius akan member nama putranya Kartini ?”
Bu Amat : “Iya iyalah !”
Pak Amat : (Merasa bersalah. Ia menunggu di depan rumah sampai larut malam dan anak muda itu pulang dari klinik, ia langsung menyapa) “Gus, Kartini tadi datang menemui Bapak.” Tetangga Muda : (Terkejut) “Siapa pak ?”
Pak Amat : “Rade Ajeng Kartini.” Tetangga Muda : (Tersenyum)
Pak Amat : (Langsung mencecer) “Boleh lamjutkan perjuanganku, bebaskan perempuan – perempuan Indonesia dari penindasan, kata RA Kartini. Merdekakan kaumku agar mendapat perlakuan setara dengan kaum lelaki. Tetapi tidak perlu menjadi lelaki. Hakekat perempuan tetap perempuan, lelaki tetap lelaki, karena itu laki perempuan akan bertemu untuk saling melengkapi. Kalau kamu menjadikan perempuan lelaki dan lelaki itu perempuan, kamu sudah menodai perjuanganku!”
Pak Amat : “Kalau begitu jangan kasih nama anakmu kartini !” Tetangga Muda : “Tidak bisa Pak, sudah dicatatkan dalam akte kelahiran.” Pak Amat : “Tapi kamu tidak boleh mengubah anak lelaki menjadi
perempuan !”
Tetangga Muda : “Anak saya perempuan Pak, bukan lelaki seperti yang diramalkan oleh dokter.”