TEORI SOSIOLOGI KLASIK
MAX WEBER
Prof. Dr. Farida Hanum
DISUSUN OLEH :
1. Rahma Dewi Agustin 12413244006 2. Nurrizal Ikrar L 12413244013 3. Suhendra Lumban R 12413249006
JURUSAN PENDIDIKAN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Max Weber lahir di Erfurt, Jerman pada tanggal 21 April 1864, dari keluarga kelas menengah. Perbedaan antara orang tuanya membawa dampak besar pada orientasi intelektual dan perkembangan psikologisnya. Ayahnya adalah seorang birokrat yang menduduki posisi politik yang relatif penting. Ia jelas menjadi bagian dalam kemapanan politik dan akibatnya ia abstain dari aktivitas dan idealisme yang memerlukan pengorbanan pribadi atau mengancam posisinya dari dalam system, sementara Ibu Weber adalah seorang Calvinis yang sangat religius, seorang perempuan yang berusaha menjalani kehidupan asketis yang tidak banyak terlibat dalam kenikmatan duniawi yang didambakan dalam oleh suaminya.
Pada usia 18 tahun, Weber meninggalkan rumah sementara waktu untuk belajar di Universitas Heidelberg. Disana ia berkembang secara sosial, paling tidak sebagian karena banyaknya bir yang ia konsumsi bersama teman-temannya. Selang 3 tahun, Weber meninggalkan Heidelberg untuk menjalani wajib militer, dan pada tahun 1884 kembali ke Berlin dan ke rumah orang tuanya untuk mengambil kuliah di Universitas Berlin. Ia tetap disains selama hampir 8 tahun kemudian ketika ia menyelesaikan studinya, meraih gelar doktor, menjadi pengacara dan mulai mengajar di universitas Berlin. Dalam proses ini, minatnya lebih banyak beralih ke persoalan-persoalan sepanjang masa ekonomi, sejarah, dan sosiologi.
Pada tahun 1904 dan 1905, ia menerbitkan salah satu karya terkenalnya The
Protestant Ethic And The Spirit Of Capitalism. Dalam karya ini Weber menyatakan
kesalehan sang ibu yang diwarisinya pada level akademik. Weber banyak menghabiskan waktu untuk mempelejari agama, kendati secara pribadi ia tidak religius. Pada tahun 1904 weber mampu menghasilkan beberapa karya pentingnya. Pada tahun-tahun itu Weber menerbitkan studinya tentang agama-agama dunia dalam perspektif sejarah dunia (misalnya China, India dan Yahudi kuno). Ketika ia meninggal (14 juni 1920) ia tengah mengerjakan karya terpentingnya Econami and
society. Meskipun bukunya diterbitkan dan kemudian diterjemahkan kedalam banyak
bahasa, buku ini tidak selesai.
Selain menghasilkan banyak tulisan ketika itu, Weber melakukan sejumlah aktivitas lain. Ia membantu mendirikan masyarakat sosiologi Jerman pada tahun 1910. Rumahnya menjadi pusat bagi banyak intelektual termasuk sosiolog seperti George Simmel, Robert Michels, dan saudaranya Albert Webber, maupun filsuf kritik sastra George Lukacs. bagaimana pemikiran – pemikiran Max Weber dalam kajian sosiologi dan kritik – kritik yang berkaitan dengan pemikiran – pemikiran tersebut.
C. TUJUAN PENULISAN
BAB II
PEMBAHASAN
1. Tradisi Idealisme – Historisisme Jerman
Pemikiran Weber tentang sosiologi terutama dibangun oleh serangkaian debat intelektual ( Methodenstreit) yang berlangsung di Jerman pada masanya. Yang terpenting dari perdebatan tersebut adalah masalah hubungan sejarah dengan ilmu pengetahuan. Perdebatan ini berlangsung antara kubu positivis yang memandang sejarah tersusun berdasarkan hukum – hukum umum, dengan kubu subjektivis yang menciutkan sejarah menjadi sekedar tindakan dan peristiwa idiosinkratis. Weber menolak kedua kutub ekstream tersebut dan berusaha mengembangkan cara sendiri untuk menangani sosiologi historis. Menurut Weber, sejarah terdiri dari sejumlah peristiwa empirik unik, tidak mungkin ada generalisasi pada level empiris. Dengan demikian, sosiolog harus memisahkan dunia empiris dari jagat konseptual yang mereka bangun. Konsep ini tidak pernah sepenuhnya mampu memahami dunia empiris, namun dapat digunakan sebagai perangkat heuristik untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik atas realitas.
2. Sosiologis Interpretatif (Verstehen)
Menurut Max Weber, sosiologi adalah ilmu yang memiliki kelebihan daripada ilmuan alam. Kelebihan tersebut terletak pada kemampuan sosiolog untuk memahami fenomena sosial, sementara ilmuan alam tidak dapat memperoleh pemahaman serupa tentang perilaku atom atau ikatan kimia. Kata pemahaman dalam bahasa Jerman adalah verstehen. Pemakaian istilah verstehen ini secara khusus oleh Weber dalam penelitian historis adalah sumbangan yang paling banyak dikenal, dan paling kontroversial, terhadap metodologi sosiologi kontemporer. Ketika kita mengerti apa yang dimaksud Weber dengan kata verstehen, kita akan menggarisbawahi beberapa masalah dalam menafsirkan maksud Weber, muncul dari masalah umum dalam pemikiran metodologis Weber. Seperti dikemukakan Thomas Burger, Weber tidak utuh dan konsisten dengan pernyataan metodologisnya. Ia cenderung gegabah dan tidak tepat sasaran karena merasa bahwa ia sekedar mengulangi gagasan-gagasannya yang pada zamannya terkenal di kalangan sejarawan Jerman. Terlebih lagi, seperti ditegaskan diatas, Weber tidak terlalu memikirkan refleksi metodologis.
sisi penafsiran level individu terhadap verstehen. Namun sejumlah orang juga sosiologis dari sekian kemungkinan lain. Karena itulah ia menyebut perspektifnya sebagai sosiologi interpretatif atau pemahaman. Menjadi ciri khas rasional dan positivisnya bahwa ia mentransformasikan konsep tentang pemahaman. Meski begitu baginya pemahaman tetap merupakan sebuah pendekatan unik terhadap moral atau ilmu-ilmu budaya, yang lebih berurusan dengan manusia ketimbang dengan binatang atau kehidupan non hayati lainnya. Manusia bisa memahami atau berusaha memahami niatnya sendiri melalui instropeksi, dan ia bisa menginterpretasikan perbuatan orang lain sehubungan dengan niatan yang mereka akui atau diduga mereka punyai.
Dengan kata lain verstehen adalah suatu metode pendekatan yang berusaha untuk mengerti makna yang mendasari dan mengitari peristiwa sosial dan historis. Pendekatan ini bertolak dari gagasan bahwa tiap situasi sosial didukung oleh jaringan makna yang dibuat oleh para aktor yang terlibat di dalamnya.
3. Kausalitas
Yang dimaksud Weber dengan kausalitas adalah kemungkinan suatu peristiwa diikuti atau disertai peserta lainnya. Menurut Weber tidak cukup hanya mencari keajekan historis, pengulangan, dan kepararelan, sebagaimana yang dilakukan sejarawan. Namun, penelitian harus melihat alasan, sekaligus makna, perubahan – perubahan historis. Max weber bekerja dengan pendekatan multikausal dimana “sekumpulan pengaruh interaktif sering kali menjadi faktor kausal efektif”.
Hal yang perlu diingat dalam pemikiran Weber tentang kausalitas adalah keyakinan dia bahwa karena kita dapat memiliki pemahaman khusus tentang kehidupan sosial (verstehen), pengetahuan kausal atas ilmu – ilmu sosial berbeda dengan pengetahuan kausal tentang ilmu – ilmu alam.
BAB III PENUTUP
Ringkasan
Max Weber membawa dampak positif yang lebih besar pada teori – teori sosiologi ketimbang teoretisi sosiologi lain. Pengaruh ini dapat dilacak pada kecanggihan, kompleksitas, dan kadang – kadang kebingungan terhadap teori Weberian. Karya Weber menyajikan perpaduan antara penelitian sejarah dengan teorisasi sosiologi.
Sepanjang karirnya Weber bergerak secara progresif ke arah penyatuan sejarah dengan sosiologi, yaitu ke arah perkembangan sosiologi historis. Salah satu konsep metodologis paling kritis yang dikemukakannya adalah verstehen. Walau
verstehen sering ditafsirkan sebagai alat untuk menganalisis kesadaran individu, di
Daftar Pustaka
George Ritzer dan Douglas J.Goodman. 2011. Teori Sosiologi. Jil 6. Bantul: Kreasi Wacana
Siahaan, Hotman M. 1986. Pengantar Ke Arah Sejarah dan Teori Sosiologi.