• Tidak ada hasil yang ditemukan

Meneroka Pandangan Alam Islam dalam Baha

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Meneroka Pandangan Alam Islam dalam Baha"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

MENEROKA PANDANGAN-ALAM

ISLĀM

DALAM

BAHASA MELAYU-INDONESIA

oleh:

Yogi Theo Rinaldi, S.Hum.

http://theorinaldi.com/ | [email protected]

Penggiat Depok Islamic Study Circle Masjid Ukhuwah Islāmiyah Universitas Indonesia

“Jika hendak mengenal orang yang berbangsa lihatlah kepada budi dan bahasa” (Gurindam Dua Belas, Raja Ali Haji)

A. Sekilas Mengenai Peran Islām dalam Kebudayaan Melayu-Indonesia

Dalam sejarah peradaban dunia hanya Arab dan Barat (periode Yunani dan Eropa modern) yang dapat menyistematiskan nalar rasional dalam pemikiran, begitu menurut ‘Abed al-Jabiri

(Al-Jabiri, 2014: 31). Meski kita dapat tidak sepakat dengan Al-Jabiri yang secara khusus menyebut Arab sebagai satu-satunya entitas pesaing bagi Barat. Kita dapat secara tegas menyebutnya

dengan Islām secara umum. Sebab, setalah pengislāman beberapa peradaban besar di dunia telah berlaku hal yang sama seperti yang terjadi di dunia Arab. Sejarah telah membuktikan bahwa Islām telah berjasa mengeluarkan bangsa Arab dari keterkungkungan cara berfikir dan kebudayaan jahiliyahnya.

Al-Jabiri berpendabat bahwa hanya ada dua peradaban yang mampu mempraktikkan pemikiran teoritis rasional dalam bentuk yang memungkinkan dibangunnya pengetahuan ilmiah dan filosofis yang berbeda dari mitos, khurafat, kecenderungan animisme, dan

penitikberatan pada seni, yaitu peradaban Barat (Yunani dan Eropa Modern) dan Arab (baca:

Islām). Memang benar, bahwa peradaban-peradaban besar seperti Mesir, Cina, India,

Babilonia, dan sebagainya, memiliki peradaban yang hebat, dan masyarakatnya telah mempraktikkan ilmu: memproduksi dan menyebarluaskannya. Namun juga benar bahwa

struktur kebudayaan yang ada di wilayah-wilayah tersebut, adalah struktur yang menjadikan sihir dan mitos atau yang semisal dan bukan ilmu, sebagai unsur aktif dan medasar. Peradaban

yang mempraktikkan secara ilmiah dan secara sadar sehingga menghasilkan filsafat dan ilmu adalah peradaban yang di dalamnya nalar (‘aql) memainkan peranan. Perlu dikatahui, bahwa

(2)

kecil dari pemikiran "irasional" lainnya dalam peradaban yang tidak menghasilkan pengetahuan filosofis yang terstruktur dan rasional (Al-Jabiri, 2014: 32).

Dari pendapat Al-Jabiri di atas dapat diambil satu kesan bahwa peradaban besar seperti Mesir, Persia, India dan termasuk Melayu-Indonesia (yang akan kita fokuskan di sini) pada era pra-pengislāman adalah peradaban yang di mana pemikiran “irasional” seperti mitos,

animisme, khurafat dan bukan ilmu lebih mendominasi. Begitu juga penitikberatan pada kesenian telah berlaku dalam peradaban-peradaban itu sebelum dipengaruhi Islām. Menurut

Al-Attas, memang benar bahwa kesenian adalah satu ciri dari tamaddun (peradaban), namun pandangan-hidup yang berdasarkan kesenian adalah semata-mata kebudayaan estetik bukan

menandakan suatu masyarakat yang bersifat keluhuran budi dan akal. Bangunan-bangunan besar warisan peradaban dunia seperti Piramida di Mesir, Persepolis di Iran, Arcopolis di

Yunani dan sebagainya merupakan ejawantah dari pandangan-hidup yang berdasarkan kesenian (Al-Attas, 1999: 18-19). Pun pada abad pertengahan, Barat telah menggunakan seni

seperti lukisan dan patungan untuk menjelaskan kepercayaan Kristen. Suatu hal yang amat rumit difahami dan memungkinkan adanya intepretasi yang bercabang bahkan saling berten-tangan.

Di Indonesia terdapat candi Borobudur sebagai hasil pandangan-hidup yang semisal. Akan tetapi fakta menunjukan bahwa Borobudur yang dianggap sebagai hasil peradaban yang

agung itu tertimbun selama ratusan tahun dan baru ditemukan saat para arkeolog Belanda pada abad ke-19 EB melakukan ekspedisi penggalian. Bahkan di balik pembangunan semua

bangunan-bangunan megah itu tersimpan kisah duka yang menciderai nilai-nilai kemanusiaan seperti perbudakan, pemaksaan, dan penyiksaan bahkan sebagian besar melakukan eksodus

besar-besaran. Jika benar Hindu-Budha memiliki peranan penting bagi membentuk peradaban Indonesia, candi Borobudur tidak mungkin ditelantarkan begitu saja selama berabad-abad

lamanya.

Dari sini kita dapat menarik satu pandangan mendasar bagi peradaban, bahwa

peradaban (terutama Islām) tidak dapat diukur dari tinggi-rendah, mewah, dan megahnya bangunan. Bangunan-bangunan atau pun secara umum kita dapat menyebutnya sebagai unsur

zahir dari peradaban cukuplah diyakini sebagai jejak dan bekas-bekas peradaban saja. Di balik itu semua, ilmu pengetahuan memainkan peranan yang amat besar. Dalam pandangan Ibn Khaldun, ilmu pengetahuan merupakan faktor penting yang mempengaruhi terbentuknya

sebuah peradaban (Zarkasyi, 2010: 141). Kemajuan di bidang iptek, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan termasuk seni merancang serta mendirikan bagunan (arsitektur) tidak depat

(3)

pemikiran irasional merupakan hasil dari pandangan-hidup yang memainkan sifat asasi manusia itu sendiri yakni akal yang berpunca pada falsafah bukan kesenian.

Di dalam buku Islām dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, Syed Muhammad Naquib al-Attas menyatakan bahwa bawaan asli masyarakat Melayu-Indonesia adalah kecenderungan terhadap estetika. Hal ini menjadi alasan mengapa Al-Attas kemudian

mengambil kesimpulan bahwa kedatangan Hindu-Budha tidak berarti apa-apa bagi mengubah weltanschauung atau pandangan-hidup masyarakat Melayu-Indonesia yang sebelumnya

menitikberatkan pada nilai seni bukan falsafah (Al-Attas, 1999: 13). Meski tidak dapat dipungkiri bahwa Hindu-Budha merupakan bagian dari sejarah bangsa dan pernah berjaya di

kepulauan Melayu-Indonesia dalam bentuk kerajaan-kerajaan yang besar.

Al-Attas sepakat dengan pendapat Van Leur bahwa Hindu-Budha ternyata tidak

menyentuh seluruh lapisan masyarakat, melainkan sekadar kaum bangsawan dan kerajaan (superstructure) saja. Kemudian, pada hakikatnya super struktur ini pun tidak dapat dikatakan

benar-benar faham akan ajaran dan metafisika Hindu, tetapi mereka mengambil sisi tata-upacara ibadah serta ajaran-ajaran yang membesar-besarkan kedudukan mereka (raja) sebagai

titisan dewa. Masyarakat sekadar tunduk patuh terhadap raja yang telah dilegitimasi secara sakral oleh agama (Al-Attas, 1999: 12).

Penitikberatan pada nilai-nilai kesenian daripada nilai falsafah menyebabkan

ketinggian kedudukan akal sebagai sifat asasi manusia —dibandingkan makhluk lainnya— menjadi terabaikan (Al-Attas, 1999: 13). Masyarakat begitu juga raja hanya mengambil

nilai-nilai estetika dari Hindu-Budha yang terartikulasikan dalam bentuk bendawi seperti patung-patung dan candi. Hindu-Budha sebagai sebuah kepercayaan ternyata tidak menyentuh intisari

dari diri manusia dalam upaya membentuk sebuah peradaban.

Kedatangan Islām di kepulauan Melayu-Indonesia telah mengubah pandangan-hidup masyarakat dari estetika ke falsafah. Perlahan-lahan mulai dari proses awal pengislāman pada awal abad pertama hijriah (abad ke-7 EB) dan puncak kejayaannya di abad ke 16 sampai 18 EB

atau disebut juga dengan era pendalaman (intensification period), Islām di kepulaun Melayu-Indonesia telah berhasil menjayakan kedudukan rasionalisme dan intelektualisme di alam

Malayu-Indonesia. Pengunaan istilah rasionalisme di sini haruslah dibedakan dengan rasionalisme Barat yang telah mengeluarkan hal yang metafisikdari yang fisik. Rasionalisme di sini, secara epistemik tidak mengeluarkan tanzil (wahyu) dari struktur epistemologi.

Tema-tema ilmu pengetahuan yang tinggi kemudian dilahap dan diproduksi oleh orang-orang Melayu seperti kalam (teologi), tafsir Al-Quran, fiqh (yurisprudensi), matafisika,

(4)

Masyarakat Melayu-Indonesia kemudian merasakan gelombang intelektual Islām dan menyejajarkan diri dengan Arab, Persia, Andalusia, Damaskus, Mesir, dan negeri-negeri lain di mana Islām berkembang.

Dalam sejarah intelektual Islām di kepulauan Melayu-Indonesia, terutama pada abad ke-16 sampai 18 EB telah terjadi sebuah perbincangan (bahkan perdebatan) mengenai

tema-tema tinggi dalam ilmu pengetahuan sebagaimana yang sedang hangat dibahas di pusat peradaban Islām, Timur Tengah (Rinaldi, 2014: 7). Khazanah pemikiran Islām di

Melayu-Indonesia pada abad itu jelas sedang didominasi oleh pemikiran metafisika-tasawuf filosofis di samping ilmu syariah yang memunculkan sederet nama ulama otoritatif seperti Ḥamzah

Fanṣurī, Syams ad-Dīn as-Sumateranī, Nūr ad-Dīn ar-Ranirī, ‘Abd ar-Rauf as-Sinkel, Kemas

Fakhru ad-Dīn, ‘Abdu Shamad al-Palimbāni dan sebagainya (Al-Attas, 1999: 47). Kumudian

di abad ke-19 sampai 20 diteruskan oleh Raja Ali Haji dan kelompok ulama-cendekia dari golongan Rusydiah Club di Pulau Penyengat Riau, dan Amir Hamzah di abad 20. Di dalam

sejarah abad ke-21 muncul pula para cendekiawan yang turut menyusun konsep keindonesiaan seperti Hamka, H. M. Rasjidi, Agus Salim, M. Natsir, Wahid Hasyim dan sebagainya. Nama-nama di atas tidak hanya dikenal di kalangan masyarakat bumi putera tetapi juga mancanegara.

Di sisi lain sulit untuk menyebut satu filosof saja dari kalangan Hindu-Budha yang lahir dari pribumi. Memang benar, kononnya ada 1000 orang rahib agama Budha di Sumatera

termasuk di dalamnya ada Dharmakirti dan Atisha yang nantinya masyhur sebagai pembaharu di agama Budha di Tibet. Kita dapat bertimbangkan begitu hebat Budha di Sumatera ini sampai

melahirkan seorang pembaharu. Namun, adakah pengaruh ajaran dan falsafah mereka yang meresap ke dalam jiwa kehidupan masyarakat Melayu-Indonesa? Menurut Al-Attas, golongan

pendeta itu semuanya bukan dari golongan pribumi melainkan orang India selatan yang pergi ke Sumatera tidak lebih untuk mencari tempat sunyi untuk keperluan semadi.

Semangat intelektualisme yang telah digelorakan oleh Islām kemudian mengalir ke setiap nadi kebudayaan dan menjelma ke dalam alam berfikir masyarakat Melayu-Indonesia.

Perlu diketahui bahwa sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Attas, melalui para ulama-filosof tersebut, Islāmlah yang mula-mula memperkenalkan alam pemikiran rasional dunia Barat

dalam bentuk falsafah Yunani ke dunia Melayu, terutama yang diwakili oleh ideas Plato, Aristotles dan Plotinus di samping para filsuf muslim sendiri (Al-Attas, 1999: 32).

Intelektualisme Islām di Alam Melayu-Indonesia secara berangsur-angsur telah

mengubah pandangan-alam masyarakat. Sebagai contoh, padangan terhadap alam telah berubah dari “etat metaphisique” (menggunakan istilah August Comte) sebagai benda-benda

(5)

sebagai titisan dari dewa yang telah dilegitimasikan secara sakral dan “magis” kemudian diubah menjadi seorang manusia biasa yang hanya saja diberi kekuasaan (sulthān) dan menempati lapisan atas dalam struktur masyarakat. Para raja di kesultanan Islām kemudian disebut dengan sulthān ‘sultan’.

Dalam kebudayaan, masyarakat Melayu dapat dikatakan sebagai masyarakat yang

menggunakan keislāmannya dalam berinteraksi dengan alam dalam membentuk suatu kebudayaan. Kesadaran terhadap nilai-nilai Islām dan penunaian kewajiban-kewajiban agama

(syariat) menjadi cikal bakal lahirnya kebudayaan pula. Sebagai contoh, sholat bagi seorang Muslim adalah suatu kewajiban, dan menghadap kiblat adalah salah satu syarat diterimanya

sholat. Oleh karena itu, mengetahui arah kiblat menjadi suatu keharusan. Penunaian kewajiban ini menjadi latar belakang pencapaian-pencapaian dalam bidang navigasi. Begitu juga dalam

menentukan waktu-waktu ibadah seperti sholat, puasa Ramadhan dan dua hari raya melatarbelakangi lahirnya teknologi penanggalan dan astronomi. Dan hukum-hukum fiqh, seperti thaharah misalnya, telah berjaya membentuk cara berfikir Islām terhadap air.

Dalam hal berpakaian misalnya, yang sangat dekat dengan kebudayaan telah lahir cara

berpakaian Melayu yang tentunya dilatarbelakangi oleh pandangan Islām terhadap aurat. Pakaian adalah alat atau budaya hasil karya manusia dalam memenuhi hidup. Dalam Islām, pakaian tidak hanya berfungsi sebagai pelindung dari cuaca panas dan dingin, tetapi juga terkait

erat dengan etika dan hukum (Ismail, 1993: 372). Islām telah menerangkan ketentuan-ketentuan pakaian yang dianggap Islāmi seperti menutup aurat. Sedangkan mengenai bagaimana bentuk

pakaiannya, tentu diserahkan kepada daya-cipta manusia. Baju Kurung yang digunakan masyarakat Melayu merupakan hasil kebudayaan yang dilatarbelakangi oleh semangat

nilai-nilai keislāman ini. Dari sini sebenarnya terdapat sebuah konsep ihsān. Sebuah konsep yang menganjurkan kita agar tidak berhenti pada tataran benar-salah tetapi naik ke tingkat patut dan

indah.

Islam telah menjadi jati diri mereka sehingga muncul istilah “Orang Melayu adalah orang Islam”. Seorang disebut Melayu apabila beragama Islam, berbahasa Melayu sehari-hari

dan beradat istiadat Melayu yang didasari pada filosofi hidup, “Adat bersendi hukum syara’,

syara’ bersendi kitabullah”. Di antara sifat-sifat orang Melayu adalah sifat tahu asal kejadian, yakni sifat kesatria, setia dalam agama, taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta kokoh dalam ibadah. Sifat ini tercermin dalam ungkapan: “Yang agama berkelakukan, yang iman berketeguhan, yang sujud berkekalan, yang amal berkepanjangan” (ed. Erman, 2011: 118-120).

(6)

Islāmic Worldview (Pandangan-Alam Islām)dalam alam berfikir masyarakat Melayu. Al-Attas di dalam Prolegomena-nya mendefinisikan Islāmic Worldview dengan Islāmic vision of reality and truth atau ru’yat al-Islām li al-wujud yakni pandangan Islām terhadap wujud (realitas)

(Al-Attas, 1995: 2). Islām dalam temaddun Melayu telah menghidupkan peranan akal bagi menumbuhkan tradisi keilmuan yang terstruktur, ilmiah dan filosofis. Masyarakat Melayu

kemudian menggunakan Pandangan-Alam Islām itu untuk melihat segala fenomena di sekelilingnya termasuk dirinya sendiri.

Dalam tulisan ini, penulis akan coba meneroka Pandangan-Alam Islām sebagai elemen penting peradaban yang secara jelas terlihat manifestasinya dalam bahasa yang digunakan

untuk menerjemahkan alam fikirannya dan instrumen bagi ilmu pengetahuan. Pasalnya, menurut Al-Attas: “language reflects ontology” suatu elemen yang penting dalam worldview

(Al-Attas, 1995: 20). Bahasa-bahasa Islām seperti Arab, Persia, Turki, Berber, Urdu dan Melayu telah menjadi cerminan sebuah Pandangan-Alam Islām penuturnya. Dalam sebuah

bahasa tentunya terdapat istilah-istilah kunci yang maknanya mencerminkan sebuah pandangan-alam. Pandangan ini sebagaimana yang telah difahami oleh Toshihiko Izutsu (2004) dalam kajiannya mengenai Semantic of Qur’anic Weltanschauung yang akan disinggung

kemudian dalam tulisan ini.

B. Bahasa dan Alam Berfikir Manusia

Bahasa merupakan salah satu bagian terpenting dalam kehidupan manusia. Ketiadaan bahasa, manusia akan kesulitan menyampaikan gagasan-gagasannya, menyampaikan apa yang dia

fikirkan, dia rasakan, dan tentu kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Secara sederhana bahasa sering kali diartikan sebagai sarana mengekspresikan fikiran penuturnya

(lihat: Kushartanti, dkk ed., 2009: 3). Dengan bahasa, suatu kebudayaan dapat mengiden-tifikasikan dirinya. Bahasa juga mencerminkan nalar suatu masyarakat. Dan dengan bahasa akan tampak tinggi dan rendahnya suatu peradaban.

Bahasa sebagai cerminan nalar suatu masyarakat, misalnya terlihat pada masyarakat Melayu-Hindu pra-Islām dalam citra bahasa Melayu Kuno yang digunakan sebagai bahasa terjemahan Bhagavad Gita, Mahabarata, dan Bharatayudha dari bahasa aslinya, Sanskrit. Karya-karya sastra Hindu itu jelas mencerminkan sebuah kehampaan akal yang tidak

mencerminkan keluhuran falsafah. Karya-karya tersebut telah menegaskan kehampaan unsur

rasinonalisme suatu masyarakat dan lebih cenderung kepada nilai-nilai epos, mitos, roman dan keperwiraan (Al-Attas, 1999: 14). Begitu juga kita dapati hal ini pada bahasa Inggris. Kita tentu tahu bahwa banyak istilah ilmu pengetahuan dan teknologi yang berasal dari bahasa Inggris,

(7)

mengalami suatu keadaan di mana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang amat pesat di tempat di mana bahasa ini berasal.

Dalam falsafah al-Lughah al-’Arabiyah (2008: 13) karya Dr. Usman Amin, mengutip pernyataan beberapa cendikiawan seperti Henry Dolacro yang mengatakan bahwa bahasa adalah penanda fikiran; Syeikh Muhammad ‘Abduh berpendapat bahwa bahasa adalah sarana

berfikir dan penerjemah baginya; dan Olbert mengatakan bahwa bahasa membekali individu dengan peralatan berfikir. Pada intinya, bahasa memiliki kaitan yang erat dengan alam berfikir

sesuatu masyarakat. Al-Quran sendiri telah menegaskan bahwa Ia diturunkan berbahasa Arab

agar kita memahaminya. Kata “memahami” atau ta’qilūn merupakan bentuk kata kerja dari ‘aql

(akal).

Bila kita perhatikan, amat logis jika bahasa disebut-sebut sebagai sarana

mengekspresikan fikiran. Pasalnya, bahasa memang menjadi instrumen penting bagi ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, seberapa pun kegeniusan Einstein dengan teori-teorinya tidak

bernilai apa-apa jika tidak ada bahasa. Bahasa kemudian haruslah mampu menerjemahkan fikiran-fikiran dalam benak Einstein. Bahasa yang rendah akan sulit untuk mengekspresikan

fikiran-fikrian yang bersifat tinggi. Bahasa “orang pedalaman” akan sulit digunakan untuk mengekspresikan fikiran-fikiran Einstein. Sebab utamanya adalah ketidaktersediaan istilah yang dapat digunakan untuk mewakili referensi dan makna tertentu. Keadaan yang terjadi

kemudian adalah proses penyerapan istilah akibat tidak adanya padanan kata atas istilah tersebut. Sebagai contoh, kata “computer” dalam bahasa Inggris yang dalam bahasa Indonesia

menjadi “komputer” disebabkan karena teknologi ini memang tidak ditemukan di Indonesia dan bahasa Indonesia tidak memiliki padanan kata yang tepat untuk mewakili benda dan makna

dari “computer”. Hal di atas bagi penulis menunjukan sebuah usaha “imperalisme linguistik”. Bahasa yang tinggi menjajah bahasa yang lebih rendah. Bahasa yang rendah ini kemudian

secara sukarela menerima dominasi kata-kata asing dengan menyerapnya. Dari sini kita lagi-lagi mendapatkan kesan bahwa tingginya sebuah peradaban (terutama dalam ilmu pengetahuan) berbanding lurus bagi ketinggian bahasa yang digunakan untuk mengekspresikannya.

Alam fikiran Yunani, seperti Aristoteles mengakui bahwa manusia adalah animal rationale “makhluk rasional” sedangkan dalam Islām menyebut manusia sebagai hayawān an-nāthiq“makhluk yang bertutur”. Dari sini sebenarnya terlihat bahwa yang menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya adalah akalnya, dan bentuk refleksi dari akal yang

paling jelas adalah daya kemampuannya bertutur. Bertutur tentunya menggunakan suatu bahasa.

(8)

menempatkan posisi subjek, predikat, objek, dan keterangan tanpa menggunakan nalar (logika) yang baik. Manthiqah ‘wilayah/posisi/kedudukan’ juga berakar kata yang sama dengan nāthiq dan mantiq. Merangkai setiap kata dalam kalimat tidak mungkin dapat ditempatkan pada

kedudukannya (mantiqah) yang tepat kecuali dengan menggunakan logika (manthiq) yang lurus. Contoh bahasa Melayu yang diberikan Wan Mohd. Shaghir Abdullah berikut akan

membuktikan penjelasan di atas;

Ada beberapa cara membacanya;

1. Kambing mencari kambing datang kambing kambing terbang. Kalimat ini jelas salah

karena kambing tidak bisa terbang.

2. Kambing mencari kumbang datang kambing kumbang terbang. Kalimat ini jelas salah karena pada kaidah mantik (logika) tidak pernah kambing mencari kumbang.

3. Kambing mencari kembang datang kambing kumbang terbang. Kalimat ini juga tidak dapat diterima karena sifat kambing tidak pernah mencari kembang (bunga) tetapi

mencari rumput.

4. Kumbang mencari kembang datang kambing kumbang terbang. Kalimat ini logis karen

kalimat Ini dapat diterima naluri dan fitrah kumbang yang memang mencari kembang (bunga). Hanya kebetulan saja kambing pun datang, bukan maksud mendatangi

kumbang, bukan pula mendatangi kembang tetapi menurut kebiasaannya di sekitar tanaman bunga tumbuh pula rerumputan. Jadi kedatangan kambing adalah untuk

makan rumput, tiba-tiba kumbang terkejut maka ia pun terbang. (Abdullah, 1997: 98)

C. Berawal dari Islāmisasi

Setelah kita mengetahui bahwa akal menjadi sifat asasi bagi manusia; kemudian adanya relasi yang jelas antara keluhuran bahasa suatu peradaban dengan worldview penuturnya, dengan demikian kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sebenaranya di awal-awal pengislāmannya

Al-Quran telah mengislāmkan cara pandang masyarakat saat itu (Arab) dengan mengislāmkan bahasanya. Oleh karena itu banyak makna semantik kata-kata dalam bahasa Arab yang

kemudian diubah-gantikan oleh Al-Quran. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Syed M. Naquib Al-Attas berikut;

“Bahasa, pemikiran dan akal saling berhubungan erat dan memang saling bergantung dalam menayangkan kepada manusia pandangan-alam (worldview)-nya

(9)

telah mengubah kedudukan bahasa Arab menjadi satu-satunya bahasa yang diilhami Allah dan masih hidup di antara bahasa-bahasa manusia, oleh karena itu bahasa Arab menjadi ‘baru’ dan tersempurnakan sampai tingkat yang sangat unggul –khususnya kosa-kata Islām yang asasi– maka ia tidak berubah dan berkembang serta tidak dipengaruhi oleh perubahan sosial, seperti halnya semua bahasa-bahasa lainnya yang berasal dari budaya dan tradisi.” (Al-Attas, 2011: 56).

Al-Quran telah berperan menjaga bahasa Arab dari kepunahan dan perubahan (lihat Al-Attas, 2001: 99-100). Hal tersebut dikarenakan bahasa Arab telah menjadi bahasa Al-Quran

yang mana terjaga hingga akhir zaman. Al-Quran tidak hanya menjaga bahasa Al-Quran dalam aspek lahirnya yakni tetap dituturkan oleh sekelompok orang di dunia sampai kini, tetapi juga

telah menjaga istilah-istilah penting beserta maknanya yang telah terkunci oleh Al-Quran dari sembarang pengrusakan.

Ilmu Makna atau Semantik menurut Toshihiko Izutsu adalah suatu kajian mengenai makna istilah-istilah kunci dalam bahasa dengan suatu pandangan yang mengantarkan kepada

konsep weltanschauung atau worldview suatu masyarakat yang menuturkan bahasa tersebut. Bahasa sebagai sarana yang tidak hanya digunakan untuk bertutur dan berfikir, tetapi lebih dari itu untuk mengonsepsikan dan menafsirkan dunia di sekelilingnya (Izutsu, 2008: 2). Dari

definisi yang telah diletakkan oleh Izutsu tersebut kita dapat menyakini bahwa setiap bahasa kaum Muslimin seperti bahasa Arab, Farsi, Turki, Urdu, dan Melayu merefleksikan suatu

Pandangan-Alam Islāmnya. Pasalnya, melalui Al-Quran bahasa-bahasa tersebut telah mengalami pengislāman dan pemasukan istilah-istilah kunci Islām dalam bahasa-bahasa

tersebut.

Sejak pertama kali Al-Quran mengislāmkan bahasa Arab, sebagaimana diungkap

sebelumnya, banyak kosa-kata bahasa Arab yang dirombak makna semantiknya lalu dikunci maknanya oleh Al-Quran. Proses ini disebut dengan Islāmisasi bahasa Arab. Seperti kata Allāh, Imān, Islām, Karīm, Shalat dan sebagaianya. Kata “Allāh” misalnya, orang-orang musyrik Makkah dahulu sebelum Islām, telah mendefinisikan “Allāh” dengan beberapa definisi; pertama, bahwa Allāh memiliki hubungan dengan Jin (QS. Ash-Shaffat [37]: 158); kedua,

Allāh memiliki anak-anak wanita (QS. Al-Isra’ [17]: 40); dan keempat, perlu perantara dalam menyembah-Nya (QS. Az-Zumar [39]: 3). Kemudian Al-Quran telah membantah

makna-makna tersebut di antaranya dengan Surah al-Ikhlās dan memasukannya menjadi makna kata “Allāh”, lalu menguncinya1.

1 Untuk mendapatkan penjelasan yang dalam mengenai semantik kata “Allah” pembaca diharapkan

(10)

Begitu juga dengan kata “karīm”. Orang-orang kafir Makkah dahulu mendefinisi-kannya dengan seseorang yang berkedudukan tinggi di kabilahnya; memiliki banyak istri; membunuh anak-anak wanita mereka; dan memungut riba. Namun, kata “karīm” kemudian

diislāmkan menjadi makna yang positif. Bahwa yang paling karīm (akrām ‘mulia’) adalah orang yang bertakwa (baca QS. Al-Hujurat [49]: 13). Bahkan ia kemudian menjadi sifat bagi

Al-Quran, yakni Al-Qurānul-Karīm.

Kata “shalat” sebelum Islām datang, didefinisikan dengan sebuah ritual ibadah di

hadapan Ka’bah dengan bersiul dan bertepuk tangan. Ketika Islāmberkembang, kata “shalat

artinya menjadi doa atau ibadah yang diawali dari takbiratul-ihrām dan diakhiri dengan salam.

Allah Subhānahu wa ta’alā berfirman; "Tidaklah shalat (ibadah) mereka (kaum musyrik) di sekitar Baitul-Lāh itu, kecuali hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu" (QS Al Anfal [8]: 35). Contoh beberapa kata tersebut tidak

mengalami perubahan makna sejak masa awal perkembangan Islām sampai kini. Dari sini kita

melihat bahwa terhadap beberapa aspek, cara pandang telah berubah.

Bahasa Melayu-Indonesia dalam perkembangannya telah banyak dipengaruhi oleh

bahasa Islām (Arab dan kedua Farsi) yang dipelopori oleh para ulama-filosof Islām seperti Ḥamzah Fanṣurī di abad 16 EB. Ḥamzah Fanṣurī adalah pengarang pertama yang mengarang karya bersifat ilmiah dalam bahasa Melayu (Iskandar, 1996: 354). Karangan tersebut berjudul Syarāb al-‘ĀsyiqīnDrink of Lovers’2. Para sarjana setalahnya kemudian menerusi jejak Hamzah Fansuri tersebut.

Bahasa Melayu tentunya akan mengalami keadaan di mana terdapat penambahan persitilahan-peristilahan Islām (dalam bahasa Arab dan Farsi) yang tidak ada padanan katanya

dalam bahasa Melayu. Keadaan ini tidak tepat jika diistilahkan dengan “imperialisme

linguistik” tetapi lebih tepat jika disebut sebagai suatu proses Islāmisasi bahasa dan kemudian

pandangan-alamnya. Pembaruan ini, menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas telah mengubah cerminan bahasa Melayu-Indonesia yang sebelumnya dipengaruhi oleh Hindu-Budha menjadi bahasa yang mencerminkan keislāmannya. Dari sinilah kemudian Islām mengubah bahasa Melayu menjadi bahasa yang rasional, intelek dan saintifik.

Istilah-istilah kunci tersebut menurut Al-Attas, meliputi konsep-konsep tentang Tuhan, Wujud, Waktu, Agama, Manusia, Diri, Iradah dan sebagaianya (Al-Attas, 2011: 212). Istilah-istilah tersebut seperti; Allah, asma, sifat, khalik, makhluk, wujud, nama-nama hari, waktu, zaman,insan, ruh, akal, qolbu, nafas, adab, akhlak, hikmah, hukum, hakim, adil, arif, falsafah, ilmu, hakikat, hakiki, hak, nabi, rasul, wali, sahabat, alim, ulama, doa, sholat, zikir, haji, akidah, i’tiqad (itikat), tauhid, iman, wajib, kadar, takdir, alam, alamat, dunia, akhirat, ghaib,

2 Naskah Syarāb al-‘Āsyiqīn yang merupakan buku ilmiah pertama dengan bahasa Melayu telah

(11)

zahir, batin, awal, akhir dan banyak lagi yang lainnya. Istilah-istilah tersebut telah dikekalkan

dalam semua bahasa-bahasa Islām.

Kata-kata yang tetap dipertahankan dalam bahasa Melayu yang sebenarnya ada

padanannya dalam bahasa Arab telah diislāmkan maknanya sebagaimana makna kata dalam bahasa Arabnya dan alam fikiran terhadapnya. Hal tersebut bukanlah keadaan yang

menandakan sinkretisme atau pemertahanan konsep-konsep lama meski telah memeluk Islām. Keadaan ini haruslah disebut sebagai sebuah proses Islāmisasi. Sebagai contoh, kata pengetahuan maknanya telah diubah sehingga sepadan dengan kata ilmu; Orang-orang Melayu

ketika disebut kata pengetahuan dibenak mereka telah merujuk kepada maksud ilmu; pasalnya dahulu sebelum kedatangan Islām, pengetahuan adalah hasil perolehan “ilham” dari tapabrata. Setalah Islām masuk dengan membawa epistemologinya yang khas kata pengetahuan telah

menjadi ilmu dengan membawa konsekuensi epistemologisnya tersendiri. Atau keduanya juga sering kali digunakan secara bersama-sama. Begitu juga dengan kata ada dengan kata wujud;

guru dengan mursyid; agama dengan din; sembahyang dengan solat; puasa dengan shaum; surga dan neraka dengan jannah dan nar; dan sebagainya.

Selama berabad-abad setelah bertukarnya agama Hindu-Budha kepada Islām, bahasa Melayu telah menggunakan sistem alfabet bahasa Arab sebagai aksaranya. Sistem alfebet ini kemudian dikenal dengan Huruf Jawi atau Arab Pegon. Kemudian dalam perkembanganya

muncul beberapa fonem yang lazim dengan lidah masyarakat Melayu yakni cha (چ), nga ( ),

pa ( ), ga ( ), dan nya ( ) (Al-Attas, 1999: 41). Hal serupa juga terjadi pada bahasa Farsi,

Turki, Urdu dan Berber.

Sebagai tambahan di bagian ini; bahwa dengan bahasa kita dapat melihat pengaruh

sebuah agama dan peradaban. Misalnya, sulit untuk ditemukan padanan kata adil dalam bahasa Melayu-Indonesia atau bahasa-bahasa lokal yang tersebar di Indonesia. Ini menunjukan bahwa

Islām telah memperkenalkan dan mengajarkan konsep adil kepada masyarakat Melayu-Indonesia yang sebelumnya dimungkinkan belum ada, atau paling tidak sama dengan maksud adil. Begitu juga dengan kata benda kitab, kertas, dakwat (tinta)3, dan qalam (pena).

Keempatnya berasal dari bahasa Arab dan telah meresap ke dalam bahasa Melayu-Indonesia

dan digunakan sampai saat ini. Kata-kata tersebut telah mewakili nama-nama benda dalam pranata atau saranan-prasarana dalam kebudayaan intelektual yang menunjukkan bahwa Islām

telah mengembangkan sebuah tradisi keilmuan sehingga istilah-istilah tersebut begitu familiar. Sabagaimana bahasa sering juga didefinisikan sebagai sistem tanda, tidak mungkin ada tanda

jika tidak ada yang ditandai; tidak mungkin berkembang suatu kata tetapi referensialnya tidak ada. Pasalnya, orang-orang Arab sendiri telah mengenal kertas sejak pertengahan abad ke-7 EB

yang diimport dari negeri Cina. Setelah itu teknologi pembuatan kertas dibawa dari Cina ke

(12)

Samarkand pada 701 EB. Pada 794 EB sebuah pabrik kertas telah didirikan di Baghdad. Dari Baghdad, pabrik-pabrik pembuat kertas menjamur di banda-bandar Islam dan turut memudahkan dalam tradisi penulisan. Kemudian para pendakwah dan saudagar Islam itu

membawa kertas-kertas tersebut ke Negeri Melayu-Indonesia baik untuk tujuan perniagaan atau dakwah (Awang, et.al, 2006: 23-24).

D. Upaya Penidakislāman Bahasa Melayu

Telah dijelaskan bahwa pengislāman bahasa menjadi suatu proses yang amat penting bagi

mengislāmkan pandangan-alam suatu masyarakat yang menuturkannya. Pengislāman bahasa menjadi suatu proses pengislāman pertama. Sama halnya dengan mensekularkan atau membaratkan atau menidakislāmkan (deislāmisasi) pandangan-alam yang pertama-tama dan efektif adalah dengan membaratkan bahasanya.

Proses penidakislāman bahasa Melayu telah dimulai sejak kedatangan bangsa Eropa pertama yaitu Portugis ke dunia Melayu-Indonesia pada awal abad ke-16 EB. Pada masa ini

meski terbilang sebagai masa emas bahasa dan kesusasteraan, bahasa Melayu telah menyerap istilah-istilah asing dari bangsa Portugis. Istilah-isitilah itu seperti, minggu, gereja, algojo, mandor, bola, terigu, tembakau, keju, tempo, bendera, peluru, peniti, pita, kereta, meja, garpu, lemari dan sebagainya (Wijk, 1985: xxviii).

Proses pembaratan yang amat kentara adalah digantinya Huruf Jawi dengan aksara

Rumi atau Latin di abad ke-19 EB sampai saat ini. Keadaan ini dapat dikatakan sama dengan kasus di Turki pasca runtuhnya kekhilafaan Islam berganti ke Republik Turki dengan

menjujung tinggi ide-ide sekularisme. Mustafa Kemal Attaturk telah melarang penggunaan bahasa Arab dan bahasa Utsmaniyah (dengan sistem alfabet Arab) menjadi bahasa Turki yang menggunakan sistem alfebet Latin. Akibat perubahan ini, umat Islām masa kini tidak mampu

“berjabat tangan” dengan sejarah masa lalunya. Umat Islām telah dijauhkan dengan warisan

ilmu para ulama lampau yang ditulis dalam bahasa Jawi. Begitu pula telah dijauhkan dengan bahasa Arab dan Al-Quran. Saat ini manuskrip-manuskrip klasik karya ulama-ulama

Melayu-Indonesia tersebar di 14 negera seperti Laiden Belanda yang jumlahnya tidak kurang dari 12.000 naskah (Dahlan, 2014: 501).

Mulanya pemerintahan Hindia Belanda mengutus ahli bahasanya Hermann van de Wall dari Batavia untuk mempelajari bahasa Melayu kepada Raja Ali Haji4. Hal tersebut bertujuan

untuk menyusun ejaan yang tepat untuk diterapkan dalam pengajaran di sekolah-sekolah Hindia

Belanda. Ahmad Dahlan mengatakan di dalam Sejarah Melayu, bahwa pada 1901, ahli bahasa Melayu dari Universitas Laiden Belanda, Prof. Charles van Ophuijsen kemudian

menyempurnakan penggunaan bahasa Melayu yang telah disusun oleh Hermann. Ejaan Latin

(13)

ini disebut sebagai ejaan Van Ophuijsen. Ejaan Van Ophuijsen setelah itu disempurnakan dengan Ejaan Soewandi5. Ejaan Soewandi disempurnakan lagi menjadi Ejaan Yang

Disempurnakan (EYD) yang digunakan sampai saat ini yang menjadi cikal bakal Bahasa

Indonesia Modern (Dahlan, 2014: 504-505).

Bentuk deislāmisasi yang kedua dengan memasukkan nilai-nilai asasi

pandangan-hidup Barat ke dalam bahasa Melayu yang menjelma dalam istilah-istilah asing dari bahasa meraka. Sebenarnya tidak jadi persoalan jika terjadi penyerapan istilah-istilah asing tersebut.

Hanya saja tidak mengubah kata-kata kunci Islām yang telah ada di bahasa Melayu-Indonesia dan telah berperan sebagai pembentuk Pandangan-Alam Islāmnya. Kita pun tidak dapat

memungkiri bahwa terdapat istilah Portugis, Belanda, Inggris, Cina, Persia dan Tamil dalam bahasa Melayu. Bahasa Cina misalnya turut memasukkan istilah-istilah dalam “urusan perut”

seperti, capcai, bakwan, kwetiau, tahu, siomay, bakpaw, dan sebagianya. Istilah-istilah ini bukanlah istilah-istilah kunci peradaban bagi membentuk pandangan-alam masyarakatnya.

Nilai-nilai asasi yang coba dimasukan ke dalam bahasa Melayu yang sekarang telah menjangkiti cara berfikir kita di antaranya nilai-nilai tragedi, sekular, pengagungan rasio sambil

menolak wahyu dan faham perubahan (evolusi). Nilai-nilai tersebut mulai merasuk ke dalam bahasa Melayu-Indonesia kemudian menjalar ke alam berfikir penuturnya melalui karya-karya sastera dan surat kabar. Unsur-unsur tragedi yang hanya menghasilkan kehampaan jiwa

nir-ikhlas, serta sebuah sikap memprotes agama dapat dengan jelas terlihat dalam novel-novel Salah Asuhan, Layar Terkembang dan Siti Nurbaya. Pada zaman ini mereka menganggap

sebuah era baru bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia telah diwarnai semangat zaman baru (modern) seraya melepaskan diri dari sejarahnya. Modern yang bernafaskan sekular.

Akhirnya saat ini telah berlaku kekacauan makna. Sebuah usaha mengubah makna suatu kata dari makna aslinya yang Islām menjadi sekular kemudian menentukan cara berfikir

kita. Usaha-usaha ini sebenarnya begitu serius dilancarkan oleh media-media sekular. Misalnya kata adil. Makna kata adil dibawa ke arah pluralisme dan toleransi berlebihan; orang kemudian

menyebut bahwa orang yang adil adalah seorang pluralis. Kata “Islām” kemudian diberi sisipan/kata sifat seperti Islām Nusantara, Islām Jawa, Islām Arab, Islām Progresif, Islām Inklusif dan Islām Kultural. Frase-frase itu yang berangkat dari kajian sosiologi yang sekular menayangkan sebuah gambaran bahwa Islām itu bervarian. Islām bukan satu tetapi banyak;

Islām (di) Arab berbeda dengan Islām (di) Nusantara. Meski terkadang maksudnya adalah

menunjukan makusd sosio-geografis, tetapi lambat laun ia menjadi pandangan tersendiri. Selain dari pada itu penggunaan kata yang tidak semestinya yang diakibatkan dari ketidaktahuan

makna asli dari kata tersebut turut melanggengkan cara berfikir yang sekular. Pengunaan istilah

5 Prof. Ir. R. M. Soewandi Notokoesoemo, pelopor Ejaan Republik ketika menjabat Menteri

(14)

yang tidak pada tempatnya seperti istilah inklusif dan humanis. Padahal keduanya amat kental dengan warna kebudayaan Barat. Islam dan inklusif sebenarnya adalah dua kata yang saling menegasikan.

Sebagai bentuk “penjajahan” Barat kepada bahasa Melayu-Indonesia terlihat pada

penyerapan kata-kata asing terutama Inggris yang sebenarnya terdapat padanan katanya dalam

bahasa Melayu-Indonesia. Misalnya kata “argumen” dengan “hujjah” atau “pendapat”, “perspektif” dengan “pandangan”, “saintifik” dengan “ilmiah”, “formula” dengan “rumus”, “religi” dengan “agama”, “karakter” dengan “sifat” atau “tabiat”, “edukasi” dengan

“pendidikan”, “materi” dengan “bendawi”, “organisasi” dengan “perserikatan” atau

“perkumpulan”, “rekomendasi” dengan “saran”, “terma” dengan “istilah” dan sebagainya.

E. Kesimpulan dan Saran

Dari uraian di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Islām telah berjaya mengislamkan pandangan-alam masyarakat Melayu-Indonesia. Pandangan-Alam Islām itu terlihat dari

bahasanya. Sebab bahasa merupakan refleksi atas realitas; bahasa juga telah terbukti menjadi media mengekspresikan fikiran penuturnya dan instrumen penting bagi ilmu pengetahuan. Masyarakat Melayu-Indonesia kemudian menjadikan Pandangan-Alam Islām dalam alam berfikirnya untuk melihat segala realitas. Alam Melayu-Indonesia kemudian naik ke taraf derajat yang tinggi sebagai suatu Peradaban luhur di mana akal telah berhasil memainkan

peranannya. Ilmu pengetahuan telah terformulasikan secara terstruktur, ilmiah dan filosofis. pandangan-alam masyarakat telah berubah sepenuhnya dari estetika ke falsafah.

Islam melalui Al-Quran yang didakwahkan oleh para juru dakwahnya telah berjaya mengislāmkan bahasa Melayu-Indonesia sebagaimana mula-mula bagi bahasa Arab, kemudian

alam berfikir masyarakatnya. Pengislaman itu terlihat dengan masuknya istilah-istilah kunci

Islam ke dalam bahasa Melayu dan pengislāman makna kata-kata tertentu. Selain itu, selama

berabad-abad bahasa Melayu-Indonesia telah menggunakan sistem alfabet Arab sebagai aksaranya. Lalu sampai begitu canggihnya memunculkan fonem-fonem baru yang lazim di

lisan orang Melayu-Indonesia. Bahasa Melayu-Indonesia pun telah berhasil menjadi lingua franca pemersatu setiap pulau-pulau di Nusantara atas nafas Islām.

Selain pengislāman, penidakislāman pertama kali juga terjadi pada bahasa. Penidakislāman bahasa sama halnya dengan penidakislāman pandangan-alam penuturnya. Penidakislāman bahasa Melayu-Indonesia itu terlihat dari penghapusan aksara Jawi yang

kemudian beralih ke aksara Rumi atau Latin; masuknya istilah-istilah kunci mereka ke dalam bahasa Melayu-Indonesia; dan usaha pengrusakan terhadap makna kata kunci Islam dari makna

aslinya.

Sebagai saran di penghujung tulisan ini, penulis menghimbau agar kita sebagai kaum

(15)

pengrusakan. Penulis melihat kesadaran kaum Muslimin amat rendah untuk mamandang bahasanya sebagai sesuatu yang penting. Sensitifitas berbahasa juga belum tumbuh pada kaum Muslimin. Selain itu, kualitas berbahasa kita pun masih rendah. Media sosial turut mengubah

cara dan kualitas berbahasa kita. Kita merasa nyaman berada di martabat “cie-cie” yang tidak berperan apa-apa bagi meninggikan kualitas berbahasa, malah turut menjatuhkannya. Kita juga

perlu menggalakan kembali penulisan aksara Jawi. Meski ini dipandang mustahil di zaman sekarang. Pun, dahulu ketika para ulama kita di Nusantara memulainya mungkin akan

menganggap hal ini adalah mustahil. Namun, buktinya telah berabad-abad bahasa Melayu-Jawi itu terun temurun terus diwariskan.

Usaha untuk menangkal hegemoni ini baragkali saat ini kita dapat memulai menggunakan bahasa kita sendiri dibanding bahasa asing yang jelas-jelas ada padanan katanya.

Kemudian jika kita hendak benar-benar menjaga keaslian bahasa kita, kita dapat menyaring bahasa asing yang masuk dan mencari padanannya yang tepat untuk kita pergunakan. Upaya

ini telah dilakukan oleh bahasa Arab, Persia (iran) dan Tukri sampai saat ini, tentunya diawali dengan fahaman semantik yang benar. Dikarenakan bahasa mencerminkan suatu realitas, maka

setiap kata harus ditempatkan pada makna dan tempatnya yang benar.

Sadar berbahasa sama halnya sadar akan sejarah Islām di kepualaun Melayu-Indonesia ini. Melupakannya sama halnya kita memutus diri dari rantai sejarah Islām kita. Kita kemudian

tidak mampu berjabat tangan dengan masa kejayaan Islām di Melayu-Indonesia. Tanpa sadar kita turut melanggengkan fikiran-fikiran salah para orientalis yang menganggap bahwa Islām

di Indonesia ini tidak lebih dari sakadar pelitur kayu yang dikorek sedikit akan tampak isi dalamnya Hindu dan Budha. Selama beradab-abad, Hindu-Budha telah terkubur bersama

semua bangunan-bangunan candi di tanah air kita ini. Rupanya kita wajib menginsafi hal ini terlebih dahulu, sebelum pada taraf yang lebih tinggi lagi yakni usaha mengislamkan kembali

sisi-sisi yang telah terbaratkan.

RUJUKAN:

Abdullah, Hj. Wan Mohd. Shaghir. (1997). Tulisan Melayu/Jawi Dalam Manuskrip dan Kitab Bercetak: Suatu Analisis Perbandingan dalam Tradisi Penulisan Manuskrip Melayu.

Kuala Lumpur: Perpustakaan Negara Malaysia.

Al-Attas, S. M. (1970). The Mysticism of Hamzah Fansuri. Kuala Lumpur: University of

Malaya Press.

___________. (1999). Islām Dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu. Kuala Lumpur:

Angkatan Belia Islām Malaysia.

(16)

___________. (2011). Islām dan Sekularisme (Khalif Muamar, Penerjemah.). Bandung: PIMPIN

___________. (1995). Prolegomena to The Metaphysics of Islām: An Exposition of The Fundamental Elements of The Worldview of Islām. Kuala Lumpur: ISTAC.

Al-Jabiri, Muhammad ‘Abed. (2014). Formasi Nalar Arab (terjemahan dari Takwin ‘Aql

al-‘Arabi). Yogyakarta: IRCiSoD.

Dahlan, Ahmad. (2014). Sejarah Melayu. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

Erman, Erwiza (ed.). 2011. Sejarah Sosial Kesultanan Melayu Deli. Jakarta: KEMENAG RI Badan LITBANG dan DIKLAT PUSLITBANG Lektur Khazanah Keagamaan

Izutsu, Toshihiko. (2008). God and Man in the Qur’an: Semantics of the Qur’anic Weltanschauung. Kuala Lumpur: Islāmic Book Trust.

Iskandar, Teuku. (1996). Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad. Jakarta: Penerbit LIBRA.

Ismail, Zainon Siti. (1993). Nilai-nilai Islām dalam Pakaian Cara Melayu dalam Islām dan Kebudayaan Indonesia Dulu, Kini dan Esok (Yustiono, et al. ed.). Jakarta: Yayasan

Festival Istiqlal.

Kushartanti, dkk ed. (2009). Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Wijk, D. Gerth Van. (1985). Tata Bahasa Melayu. Jakarta: Pernebit Djambatan.

Zarkasyi, Hamid Fahmi, dkk. (2010). Membangun Peradaban dengan Ilmu. Depok: Kalam

Ilmu Indonesia.

Ensiklopedi:

Awang, Haji et.al. (2006). Sultan Haji Hassanal Bolkiah Islamic Exhibition Gallery, Revitalising Islamic Civilazation. Brunei Darussalam: Mufti Kerajaan Negera Brunei

Darussalam.

Skripsi:

Referensi

Dokumen terkait

Aplikasi Sistem Informasi Geografis Wisata Islam Melayu pada kota Palembang dengan smartphone yang menggunakan sistem operasi Android dapat diimplementasikan pada

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh paparan bunyi dari burung cendet pada peak frekuensi 3000 - 4000 Hz yang dipaparkan selama 1 jam setiap harinya

VII. KESIMPULAN Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa: Penggolongan darah manusia dapat dilakukan dengan beberapa

penelitian ini nampaknya usuran bangku untuk Sekolah Dasar murid laki-laki dan perempuan di kelas yang sama tidak perlu dibedakan, karena hanya ada

Suwandi (2010:7-8) mengemukakan bahwa penilaian suatu proses untuk mengetahui apakah proses dan hasil dari suatu program kegiatan telah sesuai dengan tujan dan kriteria

Mengetahui efisiensi penurunan konsentrasi amoniak pada limbah cair tapioka dengan menggunakan kombinasi sistem kolam (Pond) dan biofilm dengan media biofilter pipa

Tujuan skenario dalam hal ini adalah untuk mengetahui jumlah performansi dari variabel respon sistem dalam simulasi distribusi pupuk subsidi yang berhubungan langsung

Dari penelitian desain sekrup tulang disimpulkan bahwa perancangan sekrup tulang dari bahan biokomposit hidroksiapatit zirconia dapat dilihat dengan meneliti