MEMBANGUN KESADARAN AKAN KESELAMATAN DI JALAN RAYA desa terlebih di perkotaan. Hampir seluruh aktifitas kehidupan masyarakat berhubungan dengan lalu lintas. Permasalahan-permasalahan lalu lintas tidak sebatas menghambat tata kehidupan masyarakat tetapi bisa menghancurkan bahkan mematikan. Untuk itu dibutuhkan keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelacaran berlalulintas (Kamseltibcarlantas) sehingga masyarakat dapat melaksanakan segala aktifitasnya dengan baik, lancar, aman, nyaman sehingga produktivitas kehidupan yang dihasilkan dapat terus tumbuh dan berkembang. Tentu mewujudkanya tidak semudah mengucapkanya, namun setidaknya kita tahu dulu apa yang harus kita perbuat dan mengapa kamseltibcarlantas penting dan harus diwujudkan dan dipelihara.
masalah keselamatan. Hanya saling menyalahkan, tak mau belajar dari kesalahan. Data statitstik menunjukan bahwa ternyata korban kecelakaan lalu lintas lebih besar dari korban perang, bahkan lebih besar dari korban flu burung, AIDS, Sars dan wabah penyakit lainya, tapi mengapa tidak dianggap menakutkan dan dianggap biasa-biasa saja. Mungkin juga kita terlalu pasrah dan semua ini takdir atau nasib, sudah garis tangan, Tuhan menghendaki demikian. Tuhanpun dalam masalah kecelakaan diikut-ikutkan. Kita harus ingat yang bisa dikerjakan manusia tidak dikerjakan oleh Tuhan. Setiap tahunya di Indonesia lebih dari sepuluh ribu jiwa mati sia-sia di jalan raya, belum yang cacat, yang luka-luka, kerugian materil, kerugian ekonomi dan sebagaianya.
Sering kita melihat para pengendara sepeda motor yang tidak memakai helm atau mengendarai sepeda motor dengan helm biasa bukan helem standar (SNI), atau membawa helm tetapi hanya digantung dimotor atau di taruh di dengkul, seolah dengan membawa helm berarti sudah memenuhi syarat aman berkendaraan. Ada juga yang membawa anak kecil namun yang menggunakan helm hanya yang dewasa. Niat baik orang tua menghibur anaknya keliling dengan sepeda motor kadang dapat berakibat fatal karena ketidaktahuan atau kelalian orang tua. Tanpa sadar dari keluarga telah memberikan edukasi yang keliru. Betapa seringnya kalau kita amati di lingkungan sekolah Dasar atau SMP banyak orang tua yang mengantar atau menjemput anaknya dengan sembarangan dan mengabaikan faktor keselamatan. Di lingkungan pendidikanpun masalah keselamatan berlalulinas ini sering diabaikan bahkan dianggap hal yang tidak penting atau biasa-biasa saja.
seremonial, karena ketakutan atau terpaksa oleh karena itu yang sangat
1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209).
2. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3886)
3. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4168).
4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437)
5. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5025).
7. ST Kapolri Nomor : STR/499/III/2012 tanggal 9 Maret 2012 tentang Upaya Pencegahan Laka Lantas.
C. Maksud dan Tujuan
1. Maksud tulisan ini
a) Bagi penulis, naskah karya perorangan ini berguna bagi peningkatan wawasan Penulis dalam pelaksanaan tugas di Satuan Lalu-lintas.
b) Bagi Kepolisian, hasil naskah ini diharapkan memberikan masukan dan evaluasi dalam operasional pelaksanaan tugas Kepolisian khusunya dibidang Lalu lintas.
c) Bagi masyarakat, naskah ini diharapkan memberikan sumbangan pemikiran konseptual dalam menumbuhkan kesadaran akan mentaati semua peraturan yang ada demi keselamatan di jalan raya.
2. Tujuan Tulisan ini
a) Untuk mengetahui tindakan tepat Kepolisian dalam mengurangi tingkat kecelakaan di jalan raya.
b) Untuk mengetahui hubungan antara kesadaran pengendara dalam mematuhi ketentuan yang berlaku di jalan raya dengan tingkat keslamatan.
c) Untuk mengetahui hubungan antara Kegiatan Dikmas lantas dengan tingkat kecelakaan di Jalan raya.
D. Permasalahan
a) Adakah upaya dari Kepolisian yang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat pengguna jalan raya untuk mematuhi ketentuan yang berlaku di jalan raya?
b) Apakah yang dimaksud dengan Dikmas lantas dan unsur-unsur apa saja yang terkait didalamnya?
c) Bagaimana pelaksanaan Dikmas lantas bagi masyarakat umum yang tidak terorganisir?
d) Bagaimana metode Dikmas Lantas yang digunakan bagi pelajar?
E. Ruang Lingkup
Mengingat keterbatasan Penulis, maka naskah karya perorangan ini dibatasi pada evaluasi program Dikmas Lantas untuk membangun kesadaran masyarakat secara umun dan secara khusus bagi para pelajar akan pentingnya mematuhi ketentuan yang berlaku dijalan raya demi meningkatkan tingkat keselamatan berlalulintas di jalan raya.
F. Tata Urut
BAB II PEMBAHASAN
Implementasi adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan setelah suatu program/kebijakan ditetapkan. Parsons, Wayne, 2006 menyatakan bahwa “implementasi adalah suatu kegiatan yang dimaksudkan untuk mengoperasikan sebuah program/kebijakan, ada tiga hal yang utama di dalam proses implementasi suatu kebijakan yaitu ; 1) organisasi (sumberdaya, unit-unit serta metode untuk menjadikan program berjalan), 2) Interpretasi (pemahaman dan penafsiran arah program), dan 3) Penerapan (ketentuan rutin dari pelayanan yang disesuaikan dengan tujuan kebijakan)”. Dalam melaksanakan program/kebijakan di bidang Lalu lintas dalam rangka mengurangi tingkat kecelakaan dijalan raya Satuan Lalulintas membutuhkan metode-metode tertentu untuk mengarahkan program tersebut sehingga dapat diterapkan dimasyarakat sehingga tujuan program tersebut dapat tercapai secara utuh dan berkesinambungan, yaitu mulai dari program Dikmas Lantas, penegakan hukum lalu lintas, rekayasa lalu lintas, registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor dan pengemudi. Jika setiap program ini memiliki keterkaitan maka kebijakan dibidang lalu lintas harus diawali dengan pendidikan kepada masyarakat tentang berlalu lintas (Dikmas Lantas) secara baik.
mengingatkan kita "esse est persipi, sesuatu itu ada karena di mengerti". Bagaimana akan peka, akan peduli dan akan menindaklajuti kalau tidak mengerti. Ini yang menjadi pemikiran utama dan prioritas pertama dalam mewujudkanan memelihara kamseltibcarlantas. Karena tanpa adanya edukasi, tanpa ada pengertian maka sesuatu itu tidak ada. Kalau pengertianya hanya kewenangan, kekuasaan, pengeksploitasian maka tiada lagi untuk kerelaan berkorban, semua pelayanan bukan untuk kemanusiaan dan keselamatan tentu untuk uang, kesenangan bagi yang berwenang dan berkuasa. Tentu sasaranya rakyat yang terus menerus dibodoh-bodohi dan tentu akan tetap dibiarkan bodoh (Polisi Harapan dan Kenyataan, Anton Tabah dan Kunarto, 1995).
Safety first, keselamatan yang utama. Pandai, kaya, mempunyai jabatan tinggi, terhormat, terkenal kalau tidak selamat ya percuma. Seorang suhu atau guru Silat mengatakan : "orang yang jagoan bukan orang yang anti peluru, anti bacok, anti air keras, dan sebagianya tetapi orang yang selamat". Maka kalau kita dalam menata lalu lintas tanpa memikirkan keselamatan tentu juga akan sia-sia. Keselamatan adalah bagian dari kemanusiaan, yang berarti juga sadar dan peduli akan aset utama bangsa, penerus bangsa dan tentu citra dan nama baik bangsa.
kesewenag-wenagan dan tentu tidak dapat menolong orang yang lemah dan benar". Hati nuranilah yang harus menjadi penjuru bagi para aparat dan stakeholder di bidang lalu lintas sehingga kamseltibcarlantas bukan barang yang instant tetapi merupakan proses kerja sama, kemitraan yang harus terus ditumbuhkembangkan. Dimulai sejak usia dini, sebagai bagaian pendidikan sepanjang hayat (long life education).
1) Pendidikan.
Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam rangka mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (Kamus Besar Indonesia, Badudu, JS dan Sutan, 2001).
2) Masyarakat.
Pengertian masyarakat adalah pergaulan hidup manusia dan atau sekelompok orang yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan tertentu.
3) Lalu lintas jalan.
Adalah gerak pindah kendaraan, orang, dan hewan dengan atau tanpa alat penggerak dari suatu tempat ke tempat lain dengan penggunaan jalan sebagai ruang geraknya.
4) Dikmas bidang Lalu lintas.
Pendidikan masyarakat tentang lalu lintas disingkat Dikmas lantas adalah segala kegiatan dan usaha untuk menumbuhkan pengertian, dukungan dan pengikutsertaan masyarakat secara aktif dalam usaha menciptakan keamanan ketertiban dan kelancaran lalu lintas melalui proses pengajaran dan pelatihan.
Sasaran pendidikan masyarakat di bidang lalu-lintas yakni terhadap individu dan kelompok yang cenderung menyimpang atau tidak bertanggung jawab di jalan raya, namun pelaksanaan Dikmas lantas meliputi seluruh lapisan masyarakat, yang terdiri dari 2 (dua) golongan masyarakat yaitu terhadap masyarakat yang tidak terorganisir (Masyarakat umum) dan terhadap masyarakat terorganisir (Pelajar). Terhadap masyarakat yang tidak terorganisir atau masyarakat umum tidak memiliki suatu karakteristik yang sama oleh karena itu perlu ditetapkan suatu sasaran dan tujuan yang diharapkan tercapai dalam kegiatan Dikmas Lantas ini, seperti :
lalu-lintas.
2) Pencegahan terhadap faktor-faktor yang cepat dan timbulnya hal-hal yang melanggar hukum di jalan raya atau mencegah masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang melanggar hukum di jalan raya.
3) Meningkatkan (promoting) ketaatan masyarakat terhadap hal-hal yang bersifat pelanggaran lalu-lintas.
Bagi masyarakat umum, program Dikmas lantas ini adalah salah satu program yang sifatnya reemtif edukasi, sehingga dalam kegiatan Dikmas Lantas yang dilaksanakan adalah dengan komunikasi yang bersifat informatif, persuasif melalui prosedur yang disebut atention action (wujud perhatian), pemberitahuan, memberikan motivasi yaitu mendorong untuk menerima penjelasan dan melakukan/mengaplikasikan didalam kehidupan sehari-hari dan Dikmas lantas ini bersifat persuasif, yaitu bersifat mengajak bukan memaksa.
Taktik dan Teknik Dikmas Lantas terhadap masyarakat terorganisir seperti Pelajar, Pramuka Saka Bhayangkara dan Patroli keamanan sekolah (PKS) adalah dengan methode kegiatan pendidikan dan latihan, yang bertujuan untuk meningkatkan keikutsertaan masyarakat khususnya para pelajar dalam menciptakan Kamtibcar Lantas dan mengendalikan potensi positif pelajar agar dapat membantu secara fisik pelaksanaan tugas - tugas Polisi lalu-lintas. Sasaran yang diharapkan dalam Dikmas lantas bagi pelajar ini adalah :
a) Penguasaan peraturan - peraturan / Undang - undang Lalu-lintas. b) Kemampuan menjelaskan masalah lalu-lintas.
c) Pemberian teladan dalam disiplin lalu-lintas
d) Kemampuan untuk membantu tugas - tugas Polisi lalu-lintas (Pengaturan, Penjagaan lalu-lintas).
sebagai unsur bantuan didalam menunjang tugas - tugas Polisi lalu-lintas bila sewaktu - waktu diperlukan. Secara periodek dan terprogram perlu dilakukan pembinaan kemampuan bagi Pramuka Saka Bhayangkara melalui pendidikan dan latihan dengan tujuan ; (a) Menanamkan dan memelihara kesadaran berlalu lintas; (b) Kemampuan mengatur lalu-lintas; (c) Menangani sementara di TKP kecelakan lalu-lintas.
Kelompok pelajar terorganisir lainnya yaitu Patroli Keamanan Sekolah (PKS) diberikan peran untuk menanamkan kebiasaan bagi para pelajar agar sejak duduk di bangku sekolah telah mengenal dan memahami ; (a) Dasar-dasar lalu-lintas, (b) Cara -cara bertingkah laku yang baik dan benar di jalan umum, (c) Memupuk disiplin pribadi, (d) Mampu mengatur lalu-lintas penyebrangan di jalan umum sekitar sekolahnya, serta (e) Memiliki rasa tanggung jawab.
Program Dikmas Lantas mungkin tidak sepopuler program-program lainnya seperti program dibidang penegakan hukum lalu lintas, rekayasa lalu lintas, registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor dan pengemudi, namun untuk mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalulintas (Kamseltibmas Lantas) tentu harus dimulai dari adanya upaya memberikan pendidikan yang baik kepada masyarakat sehingga menumbuhkan adanya pemahaman yang baik dan benar sehingga membangun kesadaran akan keselamatan di jalan raya bagi masyarakat, baik masyarakat yang tidak terorganisir (masyarakat umum) dan terlebih bagi masyarakat terorganisir (Pelajar) sehingga dari kelompok-kelompok yang memperoleh pembinaan dan pendidikan dari kegiatan Dikmas lantas tersebut maka lahirlah para pelopor-pelopor keselamatan dijalan raya, baik bagi diri mereka sendiri dan juga bagi orang lain, serta kelompok-kelompok binaan ini dapat menjadi mitra Polri dalam mensosialisasikan etika berlalulintas yang berorientasi pada keselamatan bagi masyarakat di lingkungan mereka.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
1) Adapun salah satu upaya Polri dalam meningkatkan kesadaran masyarakat agar terhindar dari segala perbuatan melawan hukum demi keselamatan dijalan raya adalah dengan menyelenggarakan "Pendidikan masyarakat dibidang lalu-lintas"
2) Pendidikan masyarakat tentang lalu lintas disingkat Dikmas lantas adalah segala kegiatan dan usaha untuk menumbuhkan pengertian, dukungan dan pengikutsertaan masyarakat secara aktif dalam usaha menciptakan keamanan ketertiban dan kelancaran lalu lintas melalui proses pengajaran dan pelatihan.
3) Kegiatan Dikmas Lantas teridiri dari : a) Mencegah, menghapuskan atau memulihkan sesuatu yang merupakan ancaman, gangguan, pelanggaran dan kecelakaan lalu-lintas, b)Pencegahan terhadap faktor-faktor yang cepat dan timbulnya hal-hal yang melanggar hukum di jalan raya atau mencegah masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang melanggar hukum di jalan raya, c) Meningkatkan (promoting) ketaatan masyarakat terhadap hal-hal yang bersifat pelanggaran lalu-lintas.
4) Kesadaran akan keselamatan di Jalan raya harus ditanamkan sedini mungkin bagi para pelajar karena mereka sangat rentan menjadi korban kecelakaan sekaligus menjadi pelaku pelanggaran hukum di jalan raya.
1) Tingkatkan terus berbagai upaya preemtif, preventif dan penegakkan hukum Lantas dalam rangka cegah dan penanggulangan laka lantas dengan korban fatal yang terus meningkat.
2) Dalam memberikan pendidikan kepada masyarakat (Dikmas lantas) harus dilakukan sidini mungkin sehingga tumbuh kesadaran dari Masyarakat dan sebagai anggota Polri kita tidak boleh sebatas bicara tetapi juga memberikan pengajaran dengan menjadi teladan di jalan raya, serta memberikan tindakan tegas terhadap setiap pelanggaran yang ditemui.
3) Meningkatkan pembinaan untuk menumbuhkan kesadaran bagi masyarakat agar tidak melakukan pelanggaran hukum di jalan raya sehingga bersama-sama mencari solusi agar angka kecelakaan di jalan raya semakin berkurang.
Daftar Pustaka
Badudu, JS dan Sutan, 2001; Kamus Umum Bahasa Indonesia, Pustaka sinar harapan. Jakarta
Berkeley, George, 1707; Philosiphical Commentaries or Common.
Place Book.
Mangunwijaya, YB, 1998; Menuju Indonesia serba Baru, Erlangga, Jakarta.
Parsons, Wayne, 2006. Public Policy. Pengantar Teori dan Praktek Analisis Kebijakan. Kencana, Jakarta.
Tabah, Anton dan Kunarto; 1995, Polisi Harapan Dan Kenyataan. CV Sahabat, Klaten.
Dokumen-Dokumen
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209).
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3886).
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4168).
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437).
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5025).
Peraturan Kapolri Nomor 7 Tahun 2008 Tentang Pedoman dasar Strategi dan Implementasi Pemolisian Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Tugas Polri.
NASKAH KARYA PERORANGAN
MEMBANGUN KESADARAN AKAN KESELAMATAN DI JALAN RAYA BAGI PELAJAR MELALUI PROGRAM
PENDIDIKAN MASYARAKAT LALU LINTAS (DIKMAS LANTAS)