• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Politik Pemerintahan Jepang di

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perbandingan Politik Pemerintahan Jepang di"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Perbandingan Politik Pemerintahan Jepang dan Korea Selatan:

Sistem Pemerintahan dan

Soft Power

melalui Diplomasi Budaya Pop-Culture

Penyusun: Prilla Marsingga, S.Sos. M.I.Pol

Metode yang digunakan untuk menganalisis perbandingan politik pemerintahan kedua

Negara ini adalah

contextual description

yang berisi kondisi pemerintahan di Negara yang

berbeda, dan bertujuan untuk memahami perbedaan konteks diantara Negara yang dibandingkan

(membandingkan secara terperinci) dan classification (mengklasifikasikan berdasarkan karakter

atau kategori tertentu). Faktor-faktor yang akan menjadi bahan perbandingan adalah sistem

pemerintahan di kedua Negara dan pengaplikasian

soft power

kedua Negara tersebut melalui

teknologi dan Budaya.

Perbandingan Sistem Pemerintahan Jepang dan Korea Selatan

Berdasarkan Kategori Dasar Sistem Pemerintahan

Dasar Sistem Pemerintahan

Jepang

Korea Selatan

Bentuk/ Jenis Pemerintahan

Monarkhi Konstitusional

Sistem Pemerintahan

Parlementer

Semi Presidensil/ Presidensil

Campuran

Sistem Parlemen

Bikameral (dua kamar)

Unikameral

Sistem Kepartaian

multipartai dengan dominasi

LDP

(Partai

Liberal

Demokrat)

sistem multi partai. Ada 9

partai di korea selatan,

diantaranya adalah Grand

National

Party,

(2)

Demokrasi Baru Bersatu

kedaulatan rakyat, hormat

terhadap hak-hak asasi

mengalami beberapa kali

amandemendan terakhir pada

tahun 1987. Oleh karena itu,

Perdana Menteri sebagai

kepala pemerintahan

Presiden sebagai kepala

negara

dan

kepala

Satu-satunya badan negara

pembuat undang-undang dari

negara. Diet terdiri dari

Majelis Nasional, satu-satunya

badan legislaif dipilih melalui

pemilu dengan 299 kursi

(3)

Majelis Rendah dengan 480

kursi dan Majelis Tinggi

dengan 242 kursi.

Yudikatif

Mahkamah Agung dan

pengadilan-pengadilan yang

lebih rendah, seperti

pengadilan tinggi, pengadilan

distrik, dan pengadilan sumir.

Korea Selatan dan Jepang:

Soft Power

melalui Teknologi dan Diplomasi Budaya

Nye menjelaskan bahwa ada cara lain untuk mempraktekan power selain dengan

memerintah, memberi imbalan, dan memaksa, yaitu dengan memikat (attraction). Dengan

‘menebarkan pesona’, kita dapat membuat orang lain membenarkan pandangan kita dan akhirnya

setuju dengan pendapat kita. Jika pihak lain setuju, maka kita dapat mendapatkan apa yang kita

inginkan tanpa harus memerintah ataupun memaksanya. Kemampuan untuk memikat pihak lain

ini disebut Soft Power oleh Nye. Nye mendefinisikan soft power sebagai “the ability to get what

you want through attraction rather than through coercion or payments” (Nye, 2004, x). Soft

power berdasarkan pada kemampuan membentuk preferensi orang lain (Nye, 2004). Dalam

membuat keputusan, kita harus membuat peraturan yang ramah dan menarik sehingga

masyarakat mau membantu kita untuk mencapai tujuan bersama. Kemampuan untuk membentuk

preferensi orang lain ini cenderung dikaitkan dengan aset-aset yang tak terlihat, seperti

kepribadian yang menarik, budaya, nilai dan institusi politis, dan kebijakan-kebijakan yang

terlihat didasarkan pada hukum yang benar dan memiliki otoritas moral. Jika seorang pemimpin

mewakili nilai-nilai yang dianut masyarakat yang dipimpinnya, maka akan lebih mudah baginya

untuk memimpin mereka.

(4)

power. Soft power bekerja dengan alat yang berbeda (bukan kekuatan atau uang) untuk

menghasilkan kerja sama, yaitu daya tarik dalam nilai yang dianut bersama dan keadilan, serta

kewajiban untuk berkontribusi dalam pencapaian nilai-nilai tersebut. Dalam politik internasional,

sumber penghasil soft power sebagian besar berupa nilai-nilai yang dianut dan diperlihatkan oleh

organisasi dan negara dalam budayanya, dalam praktek dan kebijakannya, dan dalam

berhubungan dengan negara lain. Sumber yang sama dapat menghasilkan perilaku yang berbeda

dalam spektrum. Sebuah negara yang memiliki militer yang kuat dapat memiliki daya tarik

berupa citra tak terkalahkan. Citra ini, kemudian, akan menghasilkan kekaguman negara lain

yang akhirnya memilih untuk berpihak pada negara tersebut. Soft power bersumber pada budaya,

nilai, dan kebijakan. Budaya adalah “the set of values and practices that create meaning for a

society” (Nye, 2004, 11). Budaya dalam konteks ini tidak selalu high culture yang menarik untuk

kalangan elit, tetapi juga budaya populer yang lebih berupa hiburan.

2

Gelombang Korea (

Korean Wave

) adalah sebuah fenomena dimana terjadi

peningkatan popularitas dari kebudayaan Korea Selatan yang digemari oleh

orang-orang di luar Korea Selatan sendiri. Korean Wave di Daratan Cina sendiri dimulai pada

tahun 1993 dimana pada saat itu sinema elektronik dari Korea Selatan diimpor dan

disiarkan oleh televisi CCTV. Dapat dikatakan Korean Wave dimulai dan menyebar lebih

jauh ke negara tetangga setelah kebudayaan Korea Selatan terkenal di Cina (Sue Jin

Lee, 2011, hlm.2). Setelah fenomena Korean Wave di Cina, gelombang ini menyebar ke

negara tetangga yang lain diantaranya adalah Jepang, negara-negara di Asia Timur,

Timur Tengah, dan juga negara-negara barat seperti Amerika Serikat dan Eropa. Awal

kemunculan Korean Wave menimbulkan reaksi yang berbeda di setiap negara, hal ini

dikarenakan adanya perbedaan etos, dan kebudayaan, sehingga respon yang diterima

dan dicerna oleh masyakarat menghasilkan output yang berbeda-beda. Dewasa ini,

penyebaran Korean Wave ini menjadi fenomena dimana-mana di seluruh dunia, yang

mana efeknya sekarang tidak hanya minat terhadap kebudayaan Korea Selatan saja

namun juga ketertarikan terhadap gaya busana, kuliner, musik dan perfilman ala Korea

Selatan.

(5)

Industri film di Korea Selatan merupakan faktor awal lahirnya Korean Wave.

Sepuluh tahun yang lalu mungkin hanya drama-drama produksi Korea Selatan menjadi

salah satu produk yang diimpor oleh negara tersebut. Drama produksi dari Korea

Selatan menjadi daya tarik karena ceritanya yang dikemas dengan baik dan

berkualitas. Drama dari Korea Selatan ini selalu membawa unsur-unsur kebudayaan

dalam setiap filmnya, contohnya seperti gaya busana, makanan khas negara tersebut,

atau daerah-daerah khas dari negara Korea Selatan. Hal-hal yang seperti inilah yang

mampu menghipnotis penonton di dunia ini, sehingga secara tidak langsung penonton

menyukai dan mencintai apa yang tokoh dalam drama tersebut lakukan, hal inilah yang

menyebabkan kecintaan dan keinginan untuk mengikuti kebudayaan Korea Selatan.

Industri film ini memberikan dampak baik kepada Korea Selatan, karena film dapat

mencerminkan keadaan negara tersebut secara tidak langsung, contohnya seperti

memperlihatkan teknologi Korea Selatan yang maju, masyarakatnya yang ramah,

kebudayaan yang beragam, negara-negara dengan pemandangan yang indah yang

mana akan menarik minat yang melihatnya untuk lebih dalam mengenal kebudayaan

dari Korea Selatan.

(6)

tetapi juga perhatian dari masyarakat di seluruh dunia. Hal ini dikarenakan

K-Pop

memberikan tidak hanya audio yang enak didengar namun juga visual yang enak

dilihat. BBC pernah menuliskan bahwa “Grup musik dari Korea Selatan seperti

diantaranya Super Junior dan Wonder Girls adalah

boy-

dan girlband, yang para

personilnya memiliki wajah yang rupawan dengan kemampuan tari yang baik dan

musik yang

catchy.

Kebanyakan dari video musik di korea sangat berwarna dengan musik

beat

yang

menarik, musisinya pun kebanyakan datang dari generasi muda yang rupawan

sehingga banyak yang tertarik”[1]. Suara yang merdu, wajah rupawan, dan gaya busana

unik dari Korea Selatan yang membuat musik

K-Pop

menjadi paket yang lengkap bagi

para pecintanya. Pengaruh musik

K-Pop

sendiri sudah meyebar ke berbagai negara,

khususnya negara-negara di Asia. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan banyaknya

para penggemar dari boyband dan girlband Korea yang yang menjamur dimana-mana,

tidak terkecuali di Indonesia. Dewasa ini generasi muda sudah sangat banyak yang

mencintai dan menggemari musik dari Korea Selatan tersebut, sehingga tidak heran

jika banyak sekali toko-toko yang menjual pernak-pernik dari musisi-musisi dari Korea

Selatan.

Kontribusi Korean Wave dalam Kegiatan Ekspor dan Bidang

Pariwisata

(7)

Pemerintah Korea Selatan kemudian mencoba untuk mengekspor produk budaya

bersamaan dengan produk manufaktur dan makanan, kemudian produk kebudayaan

Korea Selatan ditempatkan bersama produk-produk kebudayaan dari negara lain di

Pasar Asia. Pada saat itu Pasar Asia masih didominasi oleh produk kebudayaan dari

Amerika Serikat, Jepang dan Cina. Seiring dengan berjalannya waktu, produk

kebudayaan Korea Selatan semakin banyak digemari. Hal ini dikarenakan ada

kemiripan budaya dengan negara-negarta pengimpor; seperti Cina, Jepang, Taiwan,

dan negara-negara lain di Asia. Kebudayaan Korea Selatan dapat dengan mudah

diterima oleh masyarakat yang kebudayaannya sudah menjadi suatu adat yang ada di

Asia, contohnya seperti nilai-nilai harmonis, komunitas, moralitas yang kuat, dan rasa

hormat yang tinggi terhadap keluarga.

(8)

Sektor pariwisata jelas sekali menjadi pembangkit perekonomian Korea Selatan

yang kala itu sempat jatuh karena krisis yang melanda Asia. Hal tersebut dimanfaatkan

pemerintah Korea Selatan untuk mendatangkan turis dengan sajian film-film drama

dengan lokasi syuting-nya yang menunjukkan keindahan dan budaya hidup

orang-orang Korea itu sendiri. Data tahun 2005 menunjukkan bahwa Hallyu menyokong GDP

Korea Selatan sebanyak 0,2%. Hallyu menyokong $1,87 miliar atau 2,14 triliun won

pada sektor ekspor dan pariwisata pada tahun 2004. Di kategori penjualan

barang-barang lokal, Hallyu mampu menyumbang $918 miliar. Secara lebih rinci lagi, institut

penelitian Korea Selatan mengatakan bahwa jumlah wisatawan mancanegara ke Korea

Selatan meningkat dari 647.000 orang menjadi 968.000 orang pada tahun 2004.

Meningkatnya wisatawan mancanegara ini disebabkan dengan meningkatnya

masyarakat di luar Korea Selatan yang ingin berkunjung langsung ke Korea Selatan

karena terkena demam Hallyu. Sebagai contohnya, banyak wisatawan mancanegara

yang mengunjungi

Dae Jang Geum Village

di Korea Selatan setelah menonton

drama

Dae Jang Geum (Jewel in the Palace)

.[3] Sebuah kota di Korea Selatan bernama

kota Chuncheon, pada tahun 2003 wisatawan mancanegara yang berkunjung kesana

sebesar 140.000 orang. Pada 2004 meningkat secara signifikan menjadi 370.000 orang

dan kembali meningkat menjadi 390.000 orang di tahun 2005.[4]

(9)

Korea Selatan semakin membaik karena banyaknya permintaan produk-produk seperti

album musik, film drama, serta banyaknya turis-turis mancanegara yang datang dari

luar negeri karena tertarik untuk mengunjungi tempat-tempat yang mereka lihat di

dalam drama yang mereka sukai. Menurut data dari

Ministry of Culture, Sport, and

Tourism

of South Korea pada tahun 2004 sampai dengan 2007, perekonomian Korea

Selatan hasil ekspor produk budaya dari industri film dan musik mengalami

peningkatan. Melihat peningkatan jumlah ekspor dari produk budaya setiap tahunnya,

pemerintah Korea Selatan menjadikan fenomena Korean Wave sebagai salah satu

soft

power

yang dapat diandalkan. Tidak hanya dalam industri hiburannya saja, pemerintah

juga mempromosikan pariwisata agar banyak wisatawan asing yang berlibur ke Korea

Selatan, sehingga devisa negaranya bertambah. Pemerintah Korea Selatan juga

memberikan dana bantuan atau hibah kepada organisasi-organisasi di mancanegara

yang ikut mengenalkan kebudayaan Korea Selatan. Hal tersebut dimaksudkan agar

mereka bisa ikut mempromosikan nilai kebudayaan Korea Selatan tidak hanya melalui

televisi namun juga bisa dilihat secara langsung.

(10)

penjualan album musik saja, konser-konser dari para musisi Korea Selatan di

mancanegara juga menjadi perhitungan, pada tahun 2012 banyak sekali para musisi

yang melakukan Tour keliling dunia untuk memuaskan kerinduan para penggemarnya

yang secara tidak langsung mempromosikan pariwisata Korea Selatan dan

mempererat kerjasama dengan negara yang dituju. Dari data diatas dapat kita lihat

bahwa

hallyu

berkontribusi dalam peningkatan nilai ekonomi di Korea Selatan,

khususnya pada tahun 1997 saat terjadi krisis ekonomi global. Korea Selatan dengan

baik dapat menjadikan budaya mereka sebagai

soft power

yang dapat dijadikan sebagai

alat untuk mencapai kepentingan nasional, selain itu kebudayaannya juga menjadi

dikenal oleh masyarakat di seluruh dunia.

Industry

Total

revenue

Exports

Jobs

Animation

₩135.5 billion

₩35.2 billion

4,624 jobs

Broadcasting (including independent

broadcasting video producers)

₩213.5 billion

₩2.2 billion

4,714 jobs

Cartoon

₩183.2 billion

₩4.7 billion

209,964 jobs (cartoon

and publishing

combined)

Character

₩1,882.9 billio

n

₩111.6 billio

n

26,560 jobs

Gaming

₩2,412.5 billio

n

₩662.5 billio

n

97,072 jobs

Knowledge/Information

₩2,123.1 billio

n

₩105.2 billio

n

51,348 jobs

Motion Picture

₩903.8 billion

₩15.6 billion

30,787 jobs

(11)

Industry

Total

revenue

Exports

Jobs

Publishing

₩5,284.6 billio

n

₩65 billion

209,964 jobs (cartoo

combined)

Praktik Soft diplomacy Jepang di Indonesia dan Dunia

Pemerintah Jepang mencoba meningkatkan diplomasi kultural (sebagai bentuk soft

diplomacy) untuk memvariasikan citranya yang semula hanya sebagai “pendonor”? terbesar

ODA . Melalui soft diplomacy ini, Jepang bertujuan untuk menciptakan understanding dengan

cara aktivitas “misionaris”? budaya Jepang. Seiichi Kondo, Direktur dari bidang pertukaran

budaya MoFA Jepang mengatakan bahwa adanya improvisasi image Jepang dapat mendorong

adanya active personal and commodity exchanges. Sebagai bentuk konkret cultural diplomacy,

didirikanlah The Japan Foundation pada tahun 1972 yang merupakan organisasi non-profit semi

pemerintah yang berada di bawah pengawasan Japanese Foreign department. Tujuannya adalah

untuk memperkenalkan Jepang kepada dunia agar mereka dapat mengetahui dan memahami

tentang kebudayaan dan masyarakat Jepang. Tujuan ini sesuai dengan konteks era 1970an

dimana pada saat itu hubungan Jepang dengan negara lain hanya berbasis ekonomi saja, tanpa

adanya “heart-to-heart understanding”. Di Indonesia sendiri, kantor perwakilan The Japan

Foundation didirikan tahun 1979 sebagai bentuk implementasi heart to heart diplomacy yang

diamanatkan dalam Doktrin Fukuda (1977).

(12)

dengan mengundang 6000 pemuda dari 40 negara setiap tahunnya untuk memperkenalkan

kebudayaan mereka di sekolah-sekolah Jepang. Selain itu, terdapat wadah bagi para alumninya

untuk menjaga hubungan persahabatan yang ada. Cultural Diplomacy yang dicanangkan

pemerintah mendapatkan dukungan yang besar dari para pemimpin Jepang. Misalnya, pada masa

kepemimpinan PM Aso ini, ada dukungan terhadap penggunaan budaya populer sebagai soft

power, dan PM Aso menyarankan bahwa budaya tersebut dapat digunakan untuk

mengembangkan bisnis/industri Jepang. Bahkan ia menerima adanya kesan dan sugesti dari

negara lain yang mengatakan bahwa budaya populer merupakan Japan’s business front.

Pengaruh Soft Diplomacy Jepang terhadap Indonesia

Hasil nyata dari soft diplomacy Jepang adalah adanya opini publik masyarakat di Asia

Tenggara termasuk Indonesia terhadap citra “Japan Cool”. Image jepang tidak dapat dilepaskan

dari industri manga, anime, games, fashion, teknologi tinggi, serta hal-hal baik lainnya. Tentu

saja pencitraan ini sangat membantu pemerintah Jepang dalam melaksanakan politik luar negeri

dan hubungan internasionalnya, karena sudah ada penerimaan yang cukup terbuka terhadap

Jepang, sehingga masyarakat cenderung menganggap segala hal yang berasal dari Jepang adalah

baik. Sebagai buktinya, kerjasama EPA yang dijalin antara Jepang-Indonesia sejak 2007 lalu,

menimbulkan banyak perdebatan. Analisa kritisnya adalah terdapat poin-poin kerjasama yang

ambigu dan dinilai lebih banyak menguntungkan Jepang. Hal ini menyalahi konsep strategic

partnership yang seharusnya adalah win-win dan setara. Salah satu isi perjanjian kemitraan ini

menyebutkan bahwa Indonesia wajib menjamin pasokan LNG ke Jepang (konkret), dan sebagai

balasannya, Jepang akan membantu memfasilitasi capacity building yang sulit diukur

kemungkinan dampaknya bagi masa depan industri nasional Indonesia . Terlebih, Jepang dikenal

cukup sulit dalam melaksanakan transfer of technology yang seharusnya menjadi kewajiban bagi

suatu perusahaan multinasional. Poin-poin kerjasama J-I EPA ini menunjukkan sikap Indonesia

yang tidak tegas dan kurang kritis dalam memperjuangkan kepentingan nasionalnya. Salah satu

faktor penyebabnya adalah karena adanya pengaruh soft diplomacy dan rasa kekaguman pada

Jepang. Oleh karenanya, diperlukan pengkajian dan pelaksanaan yang serius dalam

melaksanakan kebijakan politik luar negeri yang selaras dengan kepentingan nasional Indonesia.

(13)

membawa Jepang meraih posisi global melalui perkembangan soft power-nya. Dapat dilihat

bahwa diplomasi dalam politik luar negeri Jepang sejalan dengan kebijakan dan kepentingan

nasionalnya yaitu kepentingan ekonomi. Agenda ini dibungkus secara rapi melalui pendekatan

yang lunak, sehingga tidak terasa bahwa soft power Jepang berhasil mempengaruhi dunia, tak

terkecuali di Indonesia. Salah satu bentuk dampak dan pengaruh soft diplomacy Jepang di

Indonesia adalah tingginya minat masyarakat terhadap produk-produk dan teknologi Jepang,

serta image Jepang sangat baik di mata masyarakat Indonesia. Jepang berhasil

mengkombinasikan hard dan soft power-nya menjadi smart power yang mampu membuat

Indonesia takluk dalam setiap negosiasi dan kerjasama.

Referensi

Dokumen terkait