• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEMPREDIKSI BEHAVIOUR INTENTION MELALUI REPUTASI DAN FAILURE ATTRIBUTION

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MEMPREDIKSI BEHAVIOUR INTENTION MELALUI REPUTASI DAN FAILURE ATTRIBUTION"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

MEMPREDIKSI

BEHAVIOUR INTENTION

MELALUI

REPUTASI DAN

FAILURE ATTRIBUTION

Nunung Ghoniyah

Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sultan Agung Semarang [email protected]

Abstrak

Perusahaan dengan reputasi yang sangat baik mengarahkan pada niat berperilaku yaitu keinginan pembelian ulang dan melakukan positive word of mouth. Namun bukti lain menunjukkan bahwa failure attribution (stabilitydan controlability)menjadi variabel moderating antara reputasi perusahaan dengan niat berperilaku. Jika kegagalan sering terjadi, penyebab kegagalan berasal dari internal perusahaan dan perusahaan tidak bertanggungjawab terhadap kegagalan tersebut, maka pengaruh antara reputasi dengan niat berperilaku akan melemah. Sebaliknya, jika kegagalan itu jarang terjadi, penyebab kegagalan itu berasal dari eksternal dan perusahaan memperlihatkan tanggungjawabnya terhadap kegagalan tersebut, maka pengaruh reputasi dengan niat berperilaku akan menguat.

A. PENDAHULUAN

Tiap perusahaan, tidak memandang seberapa baiknya perusahaan

tersebut, tetap membuat kesalahan-kesalahan pada saat memenuhi

harapan-harapan konsumen yang sekarang ini cenderung lebih menuntut dan kurang

loyal (Nikbinet al.,2011). Bitner (1993) menyatakan bahwa karena keunikan

yang melekat pada jasa, sangatlah tidak mungkin untuk meyakinkan 100%

penawaran jasa bebas dari kesalahan. Bahkan banyak perusahaan yang telah

berorientasi pada konsumen dengan program kualitas pelayanan yang prima

tidak mampu menghilangkan semua kegagalan penyampaian jasa (del

Rio-Lanza et al., 2009). Jadi, kegagalan-kegagalan dalam penyampaian jasa

merupakan tantangan yang cukup signifikan bagi tiap perusahaan jasa.

Riset-riset sebelumnya menemukan bahwa kegagalan penyampaian

produk dan jasa dapat mendatangkan konsekuensi yang tidak diharapkan,

seperti kemarahan konsumen (Folkes et al., 1987), ketidakpuasan (Bitner at

al., 1990; Hess et al., 2003; Tsiros et al., 2004), keinginan mengajukan

komplain (Folkes et al., 1987), keinginan untuk menyakiti perusahaan

(2)

Pada saat karyawan menyampaikan jasa, konsumen mengharapkan

banyak hal dari organisasi jasa yang mempunyai reputasi yang baik dalam

kualitas jasanya. Riset-riset sebelumnya menunjukkan bahwa reputasi

perusahaan mempengaruhi respon konsumen, seperti pilihan produk dan jasa

(Traynor, 1983), sikap (Brown, 1995), niat beli (Yoon et al., 1993) dan

kepercayaan (Johnson dan Grayson, 2005). Hess (2008) menemukan bahwa

reputasi perusahaan mempunyai pengaruh langsung dengan niat beli ulang

dan rekomendasi dari mulut ke mulut.

Meskipun variabel reputasi perusahaan telah diteliti, namun masih

sangat sedikit riset yang menguji pengaruh reputasi perusahaan dalam

konteks kegagalan jasa atau penanganan komplain (Hess, 2008).

Sebagai tambahan, dalam bidang marketing terkini,

penyebab-penyebab kegagalan jasa termasuk stability dan controllability telah

ditekankan sebagai subyek penting. Riset menunjukkan bahwa konsumen

sering mencari penjelasan penyebab dari kegagalan jasa (Folkes et al.,1987;

Bitner, 1990).

B. REPUTASI

Reputasi perusahaan merupakan faktor strategis yang sangat penting

bagi suatu organisasi. Hall (1992) menyatakan bahwa reputasi adalah aset

strategis yang berpengaruh signifikan terhadap kesuksesan bisnis secara

keseluruhan. Greyser (1999) juga menyatakan bahwa memanaj dan

membangun reputasi dapat menghasilkan tiga manfaat bagi suatu perusahaan,

yaitu: (1) meningkatkan daya tarik perusahaan dibandingkan dengan

perusahaan sejenis, (2) mempertahankan perusahaan diwaktu krisis, (3)

meningkatkan financial returns. Charles dan Siah (2002) menambahkan

bahwa membangun reputasi merupakan unsur kritis untuk bisnis dimana

konsumen memiliki sedikit pengetahuan tentang pilihan produk.

Reputasi perusahaan didefinisikan sebagai persepsi konsumen tentang

bagaimana perusahaan memperhatikan konsumen dan memperhatikan tentang

(3)

Reputasi juga didefinisikan sebagai nilai jangka panjang yang dibangun

perusahaan bagi konsumennya (Chen dan Chen, 2009). Reputasi perusahaan

ini sangat penting bagi pelanggan untuk memberikan gambaran terhadap

kualitas produk yang dihasilkan (Brown dan Dacin, 1997). Reputasi

perusahaan dapat dilihat dari kompetensi perusahaan tersebut dan keunggulan

dibandingkan dengan kompetitornya (Herbig et al., 1994 dalam Margaretha,

2004).

Reputasi perusahaan dibangun sepanjang waktu melalui proses sosial

yang sangat kompleks yang melibatkan stakeholder internal maupun eksternal

(Deephouse, 2000). Riset telah menunjukkan bahwa reputasi mempengaruhi

pilihan produk (Traynor, 1983), sikap terhadap produk dan jasa (Brown,

1996), kepercayaan (Johnson dan Grayson, 2005) dan niat beli (Yoon et al.,

1993).

C. BEHAVIOUR INTENTION C.1. Word of Mouth Intention.

Banyak dari studi-studi marketing menjelaskan bahwa komunikasi

dari mulut ke mulut mempunyai pengaruh terhadap keputusan pembelian.

WoM communication merupakan pertukaran informasi baik positif

maupun negatif yang dilakukan secara informal antar individual

mengenai suatu produk atau jasa. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui

pertemuan langsung, melalui telpon atau internet. Menurut Lovelock,

Wirtz, Keh dan Lu (2005) dalam Nikbin et al. (2011) komunikasi dari

mulut merupakan rekomendasi yang berasal dari konsumen lain yang

dipandang secara umum dapat dipercaya dibandingkan dengan promosi

yang dilakukan perusahaan.

Katz dan Lazarsfeld (1955) menyatakan bahwa WoM tujuh kali

lebih efektif dibandingkan dengan iklan di majalah dan surat kabar,

empat kali lebih efektif dibandingkan dengan personal selling, dan dua

kali lebih efektif dibandingkan dengan iklan di radio dalam hal

(4)

Lebih jauh, Day (1971) mengestimasi bahwaWoM sepuluh kali

lebih efektif dibandingkan dengan iklan. Morin (1983) memperlihatkan

bahwa rekomendasi dari orang lain tiga kali lebih efektif. Saat itu, Morin

menggunakan sampel lebih dari 600 poduk yang berbeda.

Banyak riset telah dilakukan untuk melihat efek komunikasi dari

mulut ke mulut ini. Sebagian besar dari riset tersebut mengambil obyek

produk, namun sebenarnya WoM ini lebih relevan diterapkan di industri

jasa. Hal ini disebabkan karena jasa bersifat intangible, jadi keputusan

pembeliannya penuh dengan risiko (Tjiptono, 2010). Oleh karena itu,

pada umumnya konsumen jasa lebih mengandalkan dan lebih percaya

pada WoM dibandingkan dengan iklan. Sebagai contoh, dalam industri

jasa, konsumen membuat tiga kriteria dalam hal mengevaluasi jasa.

Nelson (1970) menyatakan bahwa konsumen akan mengevaluasi search

quality pada saat akan mengkonsumsi jasa, yaitu atribut jasa yang dapat

dievaluasi sebelum membeli. Kedua, Nelson (1970) menyatakan bahwa

konsumen akan mengevaluasi experience quality, yaitu atribut jasa yang

dapat dievaluasi selama konsumen jasa, seperti kecepatan dan ketepatan

janji. Darbi dan Karni (1973) menjelaskan tentang kriteria yang ketiga,

yaitu credence quality, yaitu atribut jasa yang sulit dievaluasi meskipun

telah membeli. Dalam hal ini konsumen hanya mengandalkan pada

reputasi perusahaan. Harisson dan Walker (2001) menyatakan bahwa

experiencedan credence quality itulah yang menjadi bahan pembicaraan

dalam WoM.

Komunikasi dari mulut ke mulut dapat dijadikan sebagai kekuatan

bertindak bagi konsumen yang puas dan yang tidak puas. Konsumen

yang puas dengan kualitas produk dan jasa perusahaan akan

menceritakan kinerja perusahaan tersebut kepada orang lain dan mereka

bersedia merekomendasikan produk atau jasa tersebut kepada

pihak-pihak lain yang kemudian akan berkembang menjadi informasi dari

mulut ke mulut positif yang sangat bermanfaat bagi perusahaan (Fill,

(5)

Carpenter dan Fairhust (2005) bahwa kepuasan konsumen akan secara

positif mempengaruhi komunikasi dari mulut ke mulut dan

mempengaruhi loyalitas konsumen. Schneider dan Bowen (1999)

mengatakan bahwa konsumen yang terpuaskan akan akan berkeinginan

untuk menceritakan tentang pengalamannya kepada orang lain.

Blackwell et al. (2006) mengatakan bahwa kepuasan dan ketidakpuasan

akan membentuk perkataan mulut (word of mouse). Perkataan mulut

adalah proses dimana seseorang menceritakan pengalaman konsumen

mereka dengan orang lain. Di zaman yang dipenuhi dengan teknologi

seperti sekarang ini, internet merupakan salah satu sarana komplain dari

konsumen. Oleh karena itu word of mouse perlu dicermati kemungkinan

terjadinya, karena melalui internet ini kecepatan dan cakupan word of

mouseakan semakin tinggi dan semakin luas.

Sichtman (2007) menambahkan bahwa komunikasi dari mulut ke

mulut juga dapat dipengaruhi oleh kepercayaan konsumen pada

perusahaan. Dengan adanya kepercayaan, dapat mengurangi kekecewaan

konsumen dan konsumen mempunyai perasaan senang dengan

perusahaan sehingga bersedia melakukan komunikasi dari mulut ke

mulut. Di lain pihak, komunikasi dari mulut ke mulut yang negatif

berkaitan dengan penyebaran pengalaman-pengalaman tidak

menyenangkan yang dialami konsumen pada saat mengkonsumsi produk

atau jasa sehingga berakibat negatif pula bagi perusahaan.

Dengan adanya kekuatan komunikasi dari mulut ke mulut ini,

banyak perusahaan membuat strategi untuk menciptakannya. Diantaranya

adalah dengan mendorong konsumen terutama pihak-pihak yang

dipercaya di dalam kelompoknya sebagai pemberi referensi pada orang

lain (Lovelock et al., 2005). Selain itu perusahaan dapat memberikan

penghargaan bagi konsumen bila mereka melakukan rekomendasi,

misalnya gratis satu produk apabila maampu mengajak 10 orang.

Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan kepada responden sehubungan

(6)

merekomendasikan jasa ini kepada teman-teman saya, (2) Jika teman

saya sedang mencari jasa seperti ini, saya akan memberitahu mereka

tentang jasa ini, (3) Saya akan mengatakan kepada teman-teman saya

tentang hal-hal positif dari jasa ini.

C.2. Minat Beli Ulang

Minat beli adalah tahap kecenderungan konsumen untuk

bertindak sebelum keputusan membeli benar-benar dilaksanakan,

sedangkan minat beli ulang mengacu pada keinginan konsumen untuk

mempertahankan hubungan dengan perusahaan tertentu (Jones dan

Taylor, 2007). Minat beli juga didefinisikan sebagai pernyataan yang

berkaitan dengan batin yang mencerminkan rencana dari pembeli

untuk membeli suatu produk tertentu dalam suatu periode waktu

tertentu (Howard et al., 1988) berdasarkan pengalaman pembelian

sebelumnya serta harapan-harapan terhadap produk tersebut dimasa

yang akan datang (Oliver, 1997). Menurut Kinnear dan Taylor (1995),

minat beli adalah tahap kecenderungan konsumen untuk bertindak

sebelum keputusan pembelian benar-benar dilaksanakan. Dodd,

Moenroe dan Grewal (1991) mendefinisikan minat pembelian sebagai

kemungkinan pembeli bermaksud membeli suatu produk.

Minat beli merupakan bagian dari komponen perilaku dalam

sikap konsumen. Sikap adalah perasaan seseorang terhadap suatu

objek, yaitu berhubungan dengan masalah suka atau tidak suka

terhadap sesuatu (Peter dan Olson, 1999). Sikap menggambarkan

emosi dan perasaan seseorang (Schiffiman dan Kanuk, 1994; Engel

Blackwell dan Miniard, 1993) menyebutnya sebagai “as primarily

evaluative in nature” yaitu menunjukkan penilaian langsung dan

umum terhadap suatu produk, apakah produk itu disukai atau tidak

disukai, atau apakah produk itu baik atau buruk.

Teori-teori sikap mengemukakan bahwa sikap konsumen

(7)

konsumen terhadap produk tersebut. Para pemasar berkepentingan

untuk mengetahui sikap konsumen terhadap produk yang

dipasarkannya kemudian merumuskan strategi untuk mempengaruhi

sikap konsumen tersebut (Sumarwan, 2003). Meskipun merupakan

pembelian yang belum tentu akan dilaksanakan pada masa mendatang,

namun pengukuran terhadap minat pembelian umumnya dilakukan

guna memaksimumkan prediksi terhadap pembelian aktual (Kinnear

dan Taylor, 1995; Engel et al., 1995). Meurut teori reasion action

yang dikemukakan oleh Fishbein (1975), niat berperilaku dan perilaku

aktual mempunyai hubungan yang sangat dekat. Selain itu, dari

berbagai hasil riset ditemukan bahwa semakin berminat seorang

konsumen untuk melakukan pembelian ulang terhadap suatu produk,

maka semakin ingin mereka melakukan pembelian aktual dan semakin

ingin menjalin hubungan jangka panjang dengan perusahaan (Kim et

al., 2011).

Mempertahankan konsumen saat ini sangatlah penting karena

biaya untuk mendapatkan konsumen baru lebih tinggi dibandingkan

dengan biaya mempertahankan konsumen yang sudah ada (Spreng et

al., 1995). Sebagai konsekuensi dari kepuasan dan ketidakpuasan,

minat pembelian ulang merupakan faktor kritis yang mempengaruhi

hubungan konsumen dengan perusahaan di masa datang dan

mempengaruhi tingkat profitabilitas (Reichheld dan Sasser, 1990;

Weun, 1997). Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan kepada

responden untuk mengukur niat beli ulang menurut Nikbin et al.

(2011) adalah: (1) Saya akan terus menerus secara kontinyu

menggunakan jasa ini, (2) Saya cenderung akan menggunakan jasa

yaang sama untuk pembelian di masa datang, (3) Saya mempunyai

niat yang kuat untuk menggunakan jasa ini pada pembelian

(8)

D. FAILURE ATTRIBUTIONS

Atribusi diartikan sebagai upaya-upaya dalam mengalihkan

tanggungjawab sebuah kejadian. Riset menunjukkan bahwa ketika terjadi

kegagalan, konsumen sering mencari penjelasan tentang penyebab kegagalan

tersebut (Folkes et al., 1987; Bitner, 1990) dan menghubungkan

penyebab-penyebab kegagalan untuk meyakinkan mengapa kegagalan tersebut dapat

terjadi (Welner, 2000). Atribusi dibuat untuk hasil yang positif maupun

negatif, namun umumnya dibuat untuk kejadian yang negatif (Folkes, 1984).

Weiner (1980) mengklasifikasikan failure attribution ke dalam tiga

kategori, yaitu:

1. Locus of Control

Locus of control mengacu pada apakah penyebab kegagalan

berasal dari konsumen atau produsen (Hess et al., 2003). Sebagai contoh,

ketika kegagalan terjadi, seperti keterlambatan pengiriman, konsumen

membuat atribusi dalam hal apakah kegagalan ini terjadi karena kesalahan

karyawan atau bukan (Mellalieu, 2005). Dimensilocusini diturunkan dari

teori atribusi (Mellalieu, 2005).

Walaupun locus attribution penting untuk banyak kondisi

kegagalan, banyak peneliti meniadakan atribusi ini karena banyak kasus

kegagalan dipersepsikan konsumen sebagai sesuatu yang berasal dari

perusahaan, dan bukan kesalahan dari konsumen. Riset lain menemukan

bahwa kegagalan suatu jasa dapat terjadi karena perilaku konsumen dan

proses pengiriman jasa (Denham, 1998). Hal ini menjadikan locus

attribution menjadi bermakna ganda dan menjadi tidak relevan untuk

banyak situasi (Folkes et al., 1987; Bitner, 1990; Smith et al., 1999; Hess

et al., 2003).

2. Stability

Stability mengacu pada apakah penyebab-penyebab kegagalan

disebabkan sebagai sesuatu yang relatif permanen dan tidak dapat berubah

atau sebagai sesuatu yang bersifat sementara dan berfluktuasi (Folkes,

(9)

kegagalan yang terjadi, selanjutnya konsumen menilai bagaimana kejadian

tersebut terjadi dan menghubungkan kejadian tersebut dengan kejadian

lain yang bersifat stabil dan tidak stabil (Mallalieu, 2005). Kegagalan

dengan penyebab-penyebab yang stabil, berulang lebih sering

dibandingkan dengan kegagalan yang tidak stabil yang akhirnya

menimbulkan masalah bagi organisasi. Atribusi untuk alasan-alasan yang

tidak stabil mengarahkan pada ketidakpastian outcome di masa datang,

sedangkan atribusi yang stabil mengarahkan seseorang untuk

mengharapkanoutcome yang sama di kemudian hari (Weiner, 2000). Jadi,

kegagalan dengan penyebab yang stabil merupakan target yang jelas bagi

pemecahan masalah bagi organisasi. Organisasi dengan tingkat kualitas

jasa yang tinggi sebaiknya mencoba untuk menghindari kagagalan yang

bersift stabil (Hesset al., 2003)

3. Controllability

Controllability mengacu pada derajat dimana kelompok fokal

mempersepsikan bahwa penyebab kegagalan itu dapat dikontrol atau tidak

(Hess et al., 2003). Atribusi ini meliputi kepercayaan konsumen tentang

apakah perusahaan dapat menghalangi kegagalan yang terjadi (Hamilton,

1980; Weiner, 2000). Ketika konsumen merasa bahwa penyebab

kegagalan bukan berasal dari internal perusahaan dan dapat dikontrol,

mereka cenderung tidak menyalahkan. Namun, ketika penyebab kegagalan

tersebut dapat dikontrol dan berasal dari internal, mereka akan

menyalahkan perusahaan, marah dan mempunyai keinginan untuk

menyakiti perusahaan (Folkes, 1984).

Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan kepada responden

sehubungan dengan variabel failure attribution menurut Nikbin et al.

(2011) adalah: (1) Kegagalan terjadi secara permanen, (2) Kegagalan

muncul terus menerus (stabil) sepanjang waktu, (3) Kegagalan sangat

sering terjadi, (4) Kegagalan berada dalam kontrol perusahaan, (5)

(10)

dapat ditangani sejak dini (preventif) oleh perusahaan, (7) kegagalan

sebenarnya dapat dihindari oleh perusahaan.

E. Pengaruh Reputasi terhadap Niat Pembelian Ulang danWord of Mouth

Penelitian sebelumnya tentang kepuasan dan kualitas jasa telah

menunjukkan bahwa pengalaman masa lalu dapat mempengaruhi respon

terhadap persepsi jasa saat ini. Sebagai contoh, banyak peneliti telah

memperlihatkan bahwaa kepuasan masa lalu secara signifikan mempengaruhi

kepuasan saat ini (Labarbera dan Mazursky, 1983; Oliver, 1980; Woodruffet

al., 1983). Bolton dan Drew (1991) menemukan bahwa sikap sebelumnya,

seperti sikap terhadap kualitas keseluruhan, mempunyai pengaruh langsung

terhadap sikap konsumen saat ini (terhadap kualitas keseluruhan).

Selanjutnya, Zeithaml et al. (1996) memperlihatkan bahwa kualitas jasa

sebelumnya secara segnifikan mempengaruhi loyalitas konsumen, keinginan

berpindah, dan keinginan komplain. Hess (2008) menemukan bahwa

perusahaan dengan reputasi yang sangat baik mengarahkan pada keinginan

pembelian yang lebih banyak dan tidak ingin melakukan negative word of

mouth. Reputasi perusahaan secara langsung membentuk kepercayaan

pelanggan terhadap produk sehingga akan mempengaruhi pertimbangan

pelanggan dalam menentukan pilihan (Dick et al., 1990). Sulivan (1998)

menyatakan bahwa jika dilihat dari sudut pandang pelanggan, reputasi

perusahaan dapat dijadikan jaminan bagi pelanggan untuk menilai kualitas

produk perusahaan tersebut.

F. Failure Attribution sebagai Variabel yang Memoderasi antara Reputasi dan Niat Berperilaku

Sejumlah bukti memperlihatkan bahwa reputasi mempengaruhi

niat berperilaku termasuk niat pembelian ulang dan rekomendasi dari mulut

ke mulut (Hess, 2008). Jadi hubungan langsung antara reputasi

perusahaandan niat berperilaku telah ditemukan. Namun bukti lain juga

(11)

reputasi perusahaan dengan niat berperilaku (Vazquez-Casielles et al., 2007;

Grewal et al., 22008; Tsiros et al., 2004). Vazquez-Casielles et al. (2007)

menemukan bahwa hubungan positif antara kualitas jasa dan kepuasan

konsumen keseluruhan (overall customer satisfaction) akan diperkuat ketika

konsumen membuat low stabilitydan low controllability attribution. Senada

dengan Vazquez-Casielles, Grewal et al. (2008) menyatakan bahwa

kompensasi penting hanya ketika perusahaan bertanggungjawab atas

kegagalan dan ketika kegagalan itu jarang terjadi. Jika kegagalan sering

terjadi atau ketika perusahaan tidak bertanggungjawab, kompensasi tidak

mempunyai pengaruh pada niat pembelian ulang. Selanjutnya Tsrios et al.

(2004) menemukan bahwa hubungan positif antara kualitas dan kepuasan

akan lebih kuat ketika persepsi konsumen ketika dimensi-dimensi penyebab

atribusi rendah.

Konsumen diharapkan menjadi lebih memaafkan atas kegagalan yang

terjadi, khususnya jika ini disebabkan oleh perusahaan. Namun

bagaimanapun, jika kegagalan tersebut stabil dan terjadi lagi dan perusahaan

sudah tidak mampu lagi menangani masalah, kemudian konsumen meragukan

reputasi perusahaan karena mereka percaya bahwa masalah yang terjadi

secara terus menerus sebaiknya dikoreksi oleh perusahaan. Jadi, ketika

masalah terjadi secara terus menerus (stabil), hubungan yang positif antara

reputasi perusahaan dengan niat berperilaku menjadi lemah.

SIMPULAN

Tiap perusahaan, tidak memandang seberapa baiknya perusahaan

tersebut, tetap membuat kesalahan-kesalahan pada saat memenuhi

harapan-harapan konsumen yang sekarang ini cenderung lebih menuntut dan kurang

loyal. Oleh karena itu, menarik untuk mencari penyebab-penyebab kegagalan

tersebut, karena hal ini akan berpengaruh pada reputasi perusahaan yang

akhirnya akan berpengaruh pada niat beli ulang dan rekomendasi dari mulut

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Bitner, M.J. (1990). “Evaluating Service Encounters: The Effects of Physical

Surroundings and Employee Responses”.Journal of Marketing Research. 54, 2, 69-82

Bolton, R. And Drew, J. (1991). “A Longitudinal Analysis of The Impact of Service Changes on Customer Attitudes”.Journal of Marketing. 55, 1, 1-9

Brown, S. (1995).”The Moderating Affects of Insupplier/Outsupplier Status on Organization Buyer Attitudes”. Journal of the Academy of Marketing Science.23, 3, 170-182

Brown, T., Barry, T., Dacin, P. And Gunst, R. (2005). “ Spreading the Word:

Investigating Antecedents of Consumers’ Positive Word of Mouth Intentions and Behaviour in a Retailing Concept”.Journal of the Academy of Marketing Science.33, 2, 123-138

Brown, Tom J., and Peter A. Dacin. (1997). “The company and the Product: Corporate Associations and Consumer Product Responses”. Journal of Marketing. January. 68-84

Campbell, M. (1999). “Perceptions of Price Unfairness Antecedens and consequences”.Journal of Marketing Research. 38, 2, 187-199

Del-Rio-Lanza, A.B., Vazquez-Casielles, R., and Diaz-Martin, A.M.

(2009).”Satisfaction with Sevice Recovery: Perceived Justice and Emotional Responses”.Journal of Business Research. 62, 8, 775-771

Dick, Alan, Dipankar Chakravarti and Gabriel Biehal. (1990). “Memory based Inference During Consumer Choice”. Journal of Consumer Research, 17, June, 82-93

Day G.S. (1971). Attitudechange, Media And Word Of Mouth . Journal Of Advertising Research.11, 6 , 31-40.

Doney,P. And Cannon, J. (1997). “An Examination of the Nature of Trust in

Buyer-Seller Relationship”.Journal of Marketing, 61, 2, 35-51

Dodds,K.B., Monroe, D., Grewal. (1991). “In Search of Value: How Price and Store Name Information Influence Buyer’s Product Perception”. The

Journal of Service Marketing.

(13)

Engel, J.F., Blackwell, R.D.,and Miniard,P.W. (1995).”Consumer Behaviour”. 8thed., Chicago: The Dryden Press.

Folkes, V.S. (1984). “Consumer Reactions to Product Failure: A Attributional Approach”.Journal of Marketing. 10, 4, 398-409

Folkes, V.S. (1988). “Recent Attribution Research in Consumer Behaviour: A

Review and New Directions”.Journal of Consumer Research, 14, 4, 548-585.

Folkes, V.S., Koletsky S. And Graham, J. (1987). “A Filed Study of Causal

Inferences and Consumer Reaction the View from the Airport”. Journal of Consumer Research.13, 4, 534-539

Fishbein, M. And Ajzen, I. (1975).”Belief, Attitude, Intentions, and

Behaviour: An Introduction to Theory and Research. MA: Addison-Wesley.

Grewal, D. Roggevean, A.L. and Tsiros, M. (2008). “The Affect of Compensation on Repurchase Intentions in Service Recovery”. Journal of Retailing.84, 4, 424-434

Hess, R.L., Ganesan, S. and Klein, N.M. (2003). “Service Failure and Recovery: The Impact of Relationship Factors on Customer Satisfaction”.

Journal of the Academy of Marketing Science. 31, 2, 127-145

Howard, John A., Robert P. Shay and Christoper A. Green (1988).

“Measuring The Effect of Marketing Information on Buying Intention”.

Journal of Service Marketing. 2, 4, 27-36

Harrison-Walker L.J. (2001).”The Measurement Of WOM Communication And An Investigation Of Service Quality And Consumer Commitment As Potential Antecedents” .Journal of Service Research.4, 61-75.

Kim, J.W., Kim E.J., Kim, S.M and Hong, H.G. (2011). “Effects of Fit with

CSR Activities and Consumption value on Corporate Image and Repurchase Intention.International Journal of Business Strategy. 11,1,35-46

Kinnear, Thomeas C. And James, R. Taylor. (1996). “Marketing Research:

An Applied Approach, 5th Edition, USA

Katz, P.F., Lazarsfeld. (1955).Personal influence.Glencoe : Free Press

(14)

Moureen Margaretha (2004). “Studi Mengenai Loyalitas Pelanggan pada Divisi Asuransi Kumpulan AJB Bumi Putra 1912”, Jurnal Sains Pemasaran Indonesia. 3, 3, 289-308

Morin S.P. (1983).“Influentials Advising Their Friends to Sell Lots of High-Tech Gadgetry”.Wall Street Journal.28. 30.

Nelson P. (1970). “Information And Consumer Behavior” . Journal of Political Economy. 78(20). 311-329.

Oliver, R.L. (1997). Satisfaction A Behavioral Perspective on Consumer. Boston, MA: Irwin,McGraw-Hill.

Schneider B., and Bowen D. (1999). “Understanding Consumer Delight and Outrage”.Sloan Management Review, 41, 35-46

Selnes, Fred. (1993). “An Examination of the Effect of Product Performance on Brand Reputation, Satisfaction, and Loyalty. European Journal of Marketing. 27, 9, 19-35

Sullivan, Mary W. (1998). “How Brand Names Affect the Demand for Twin

Automobiles”.Journal of Marketing Research.35, May, 154-165

Zeithaml, Valerie A. And Mary Jo Bitner. (1996).”Service Marketing”.

Referensi

Dokumen terkait