SURGERY
CLASS
Batch #3 Part1
C
urriculum
V
itae
Nama : Dr. Dion Faisal, Sp.B FICS
TTL : Balikpapan, 31 Mei 1985
Istri & anak :
Dr. Dian Manggiasih Muhammad Nabil Muhammad Dhafin Pendidikan :
S1 Kedokteran Umum FK Unmul 2009 Spesialis Bedah Umum FK Unair 2018
Fellow International College of Surgeon 2020 Pekerjaan :
Kepala SMF Bedah, Subkomite Mutu RSUD Tarakan
MENJADI
AHLI BEDAH
• PERJALANAN
PANJANG
• PENGORBANAN
TIADA HENTI
• DUKUNGAN KELUARGA
SANGAT PENTING
• USAHA, DOA
, ORANG DALAM???
KOMPONEN
TES MASUK
• PERSYARATAN UMUM, KHUSUS, AFIRMATIF
• TES AKADEMIK
: sesuai bidang, jurnal reading, case
report
• TES PSIKOLOGI & MMPI
• TES KESEHATAN
: lab darah & urine, narkoba, radiologi,
treadmill
• WAWANCARA:
motivasi, dukungan keluarga,
pembiayaan/beasiswa, alasan memilih prodi atau
universitas
• REKOMENDASI:
pimpinan RS, SMF bedah, IDI, Dekan,
Walikota, Gubernur, izin BKD
Berikut ini prinsip yang perlu diperhatikan mengenai fraktur pelvis, kecuali a. Merupakan indikasi trauma yang berat
b. Dapat menyebabkan pendarahan hebat c. Memerlukan reussitasi cairan
d. Pendarahan terjadi akibat keruskaan arteri gluteus superior e. Pemasangan pelvic binder dapat memperparah pendarahan
Genetik (ABC Breast Disease)
• Jenis kelamin: Wanita : laki-laki = 100 : 1 • Usia
• Riwayat keluarga: 1st degree relative RR : 4-6x
• Mutasi genetik: autosomal dominan, familial breast cancer (5-10%), BRCA 1 & BRCA 2, P53, PTEN.
• DCIS & LCIS pada biopsi
• Proliferative benign disease (lesi premaligna): hiperplasia atipikal, duktal hyperplasia, florid papilloma
Hormonal
• Early menarche, < 12 tahun RR 1,7-3,4 x • Late menopause, > 55 tahun RR : 1,5 x • Oral kontrasepsi, > 10 tahun
• Hormon replacement therapy > 5 tahun
• Usia melahirkan anak pertama, usia > 30 th beresiko 2x lipat dibanding < 20 th
• Nullipara, RR : 1,4x dibanding wanita yang mempunyai anak
• Menyusui menurunkan resiko Ca mama 4%, namun bukan berarti tidak menyusui meningkatkan resiko Ca mama
Lingkungan
• Radiasi
• Obesitas: 2x resiko pada menopause
• Diet tinggi kalori, diet tinggi lemak kontroversi • Alkohol, merokok kontroversi
Untuk mendiagnosis fraktur acetabulum perlu dilakukan pemeriksaan foto rontgen dengan posisi
a. Anteroposterior
b. Oblique Judet Views c. Posterioanterior
d. Lateral
Tn. J, 50 tahun, dibawa ambulans ke unit gawat darurat setelah mengalami kecelakaan lalu lintas . Resusitasi sudah dilakukan dan saat ini pasien dalam keadaan stabil. Pada pemeriksaan radiologis ditemukan dislokasi hip.
Setelah dilakukan pemeriksaan ulang, pasien merasa kesemutan pada bagian atas kaki. Nervus yang terkena pada kasus ini adalah
a. Nervus ischiadicus
b. Nervus gluteus inferior c. Nervus gluteus superior d. Nervus obturatoria
Penyebab paling sering dilakukannya trakeostomi adalah a. Reaksi anafilaksis
b. Trauma kepala c. Trauma thoraks
d. Pasien terintubasi lama e. Keganasan laring
TRAKEOSTOMI
• DEFINISI: prosedur untuk memasang kanula ke
lumen trakea melalui insisi kulit di atas trakea, dan
menyisihkan jaringan pretrakealis sehingga melihat
secara langsung pada trakea.
• Tehnik:
• Trakeostomi tinggi (cincin 2-3), rendah (cincin 4-5)
• Krikotirotomi: membuat lubang pada membrana
krikotiroid)
• Perkutan trakeostomi
R. Yoga Wijayahadi, R. Martatko Marmowinoto, Urip Murtedjo, Sunarto Reksoprawiro, Sahudi. Trakeostomi, masalah dan penatalaksanaannya. Seksi Bedah Kepala & Leher Bagian Ilmu Bedah FK Unair 2003
TRAKEOSTOMI
INDIKASI:
• Trauma kepala dengan gangguan kesadaran (batuk tidak efektif)
• Peradangan hebat pada wajah, leher dan faring
• Trakeobronkitis dengan edema dan sekret yang banyak
• Perlukaan trakea
• Prosedur operasi kepala leher yang berat
• Tumor saluran nafas
• Operasi tiroid dengan komplikasi perdarahan atau paralisis n. laringeus
rekuren bilateral
• Radioterapi daerah leher
• Trauma thoraks dengan pernafasan tidak efektif (flail chest)
• Paska pembedahan dan batuk tidak efektif
• Prolonged ventilator >48 jam
TRAKEOSTOMI
TUJUAN:
• Menjamin jalan nafas aman
• Membersihkan jalan nafas (bronchial toilet)
• Mengurangi deadspace saluran nafas
TRAKEOSTOMI
• KOMPLIKASI:
• Dini/ durante operasi: perdarahan (lesi a. tiroidea
ima, v. innominata), lesi esofagus, lesi n. laringeus
rekuren, lesi pita suara
• Lanjut: infeksi, obstruksi (plugging), aspirasi,
dekanulasi, emfisema subkutis, pneumothoraks,
fistel, stenosis trakea, granulasi
Berikut ini merupakan komplikasi yang dapat muncul akibat trakeostomi,
kecuali
a. Pneumothoraks b. Stenosis trakeal c. Stomatitis
d. Erosi pembuluh darah besar e. Hematothoraks
Berikut ini merupakan prinsip yang benar pada pemeriksaan payudara,
kecuali
a. Inspeksi dilakukan dengan kedua tangan diangkat b. Inspeksi dilakukan dengan kedua tangan di samping c. Inspeksi dilakukan dengan dua tangan di pinggang d. Palpasi dilakukan pada posisi supine
TRIPLE DIAGNOSIS
• Kapan dilakukan? setiap massa pada wanita usia > 35 th, setiap massa pada usia < 35 th yang mencurigakan ganas
• Triple Diagnosis:
1. Klinis (anamnesis & pemeriksaan fisik):
a. Tumor ( ganas / jinak ): progresif, infiltratif, metastasis b. Faktor resiko: genetik, hormonal, lingkungan
c. Komorbid: berhubungan dengan kanker, operasi/ terapi lain 2. Radiologis (mammografi / USG mama ipsilateral)
3. Patologi (FNA / biopsi)
Bila dari ketiga triple diagnosis tsb terdapat ketidaksamaan (incorcordance), maka dilakukan VC atau bila tidak terdapat fasilitas VC dilakukan eksisi
TRIPLE DIAGNOSTIK
TRIPLE Diagnostik SADARNIS Radiologi Patologi AnatomiALOGARITMA
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Harris et al. 2014. Diseases of The Breast. Edisi 5. Philadelphia: Wolters Kluwer.
PEMERIKSAAN
PAYUDARA KLINIS (SADARNIS)
ANAMNESA
• Keluhan Utama: Apa, mulai kapan, apa keluhan pertama,perjalanan penyakitnya • Riwayat Penyakit Dahulu, Riwayat Penyakit Keluarga
• Riwayat Hormonal : Usia menarche, jumlah kehamilan, usia saat hamil anak pertama,
pada premenopause ditanyakan tgl mens terakhir, lama mens, pengunaan kontrasepsi oral
PEMERIKSAAN FISIK
SADARNIS
INSPEKSI
• Dikerjakan saat penderita duduk
• Kedua lengan relaks disamping penderita dan dengan gerakan mengangkat kedua lengan tergantung lemas di kedua sisi tubuh dan diangkat setinggi-tingginya keatas
PEMERIKSAAN FISIK
SADARNIS
PENILAIAN INSPEKSI
• Keadaan kulit:
• Normal, retraksi, ulkus, venaektasi, peau d’orange, warna kulit , skin nodul.
• Areola dan papila:
• Normal, retraksi, erosi puting susu, ulkus, discharge dari puting susu
• Mobilitas payudara Saat penderita mengangkat lengan
Barber et al. 2008. An Atlas of Investigation and Management Breast Cancer. Oxford:
PEMERIKSAAN FISIK
SADARNIS
PALPASI
• Mengunakan bagian volar dari jari ke-2 sampai ke-5
• Mulai dari payudara yang sehat
• Posisi duduk pembesaran KGB (axilla, supraklavikula,
infraklavikula) dan menentukan mobilitas tumor terhadap
dinding dada.
• Saat berbaring, payudara diusahakan mendatar dan
menyebar
• Radier atau sirkuler
Penting
seluruh kwadran payudara
termasuk areola harus di periksa.
ALOGARITMA SETELAH
PEMERIKSAAN FISIK SADARNIS
Pemeriksaan Radiologi
Mammografi
USG
Payudara
MRI
Payudara
Pemeriksaan Mammografi
• Deskripsi dari pemeriksaan Mammografi American
College of Radiology “BI-RADS lexicon”:
Mass lesions ordensities, Calcifications, Architectural distortions.
BIRADS
Pemeriksaan Mammografi
BIRADS C-1
Fischer et al. 2014. Breast Cancer: Diagnostic Imaging and Therapeutic Guidance. Germany: Thieme.
BIRADS C-5
(a) A new occurrence of pleomorphic microcalcifications with segmental distribution.
(b) Mass with spiculated margins and associated microcalcifications.
Pemeriksaan USG Payudara
Fischer et al. 2014. Breast Cancer: Diagnostic Imaging and Therapeutic Guidance. Germany: Thieme.
USG Payudara Pemeriksaan imaging dinamis yang real-time berdasarkan pada konduksi dan refleksi dari high-frequency mechanical sound waves (ultrasound) pada jaringan payudara
Mass lesions in breast ultrasonography
(a) Benign mass lesion with the criteria “oval” and
“circumscribed,” and oriented parallel to the
skin.
(b) Malignant mass lesion with the criteria
“irregular,” “hypoechogenic,” “hyperechogenic margin,” “posterior acoustic attenuation,” and “disruption of surrounding structures.”
Pemeriksaan USG Payudara
Pemeriksaan MRI Payudara
Fischer et al. 2014. Breast Cancer: Diagnostic Imaging and Therapeutic Guidance. Germany: Thieme.
Pemeriksaan MRI Payudara memiliki sensitivitas yang tinggi untuk mendeteksi area hipervaskular pada payudara melalui imaging dari struktur inframammary yang berupa lapisan tipis sebelum dan sesudah pemberian kontras
Pemeriksaan MRI Payudara
Fischer et al. 2014. Breast Cancer: Diagnostic Imaging and Therapeutic Guidance. Germany: Thieme.
Deskripsi dari pemeriksaan MRI Payudara American College of Radiology “BI-RADS lexicon”: Focus or foci, Mass lesion, Lesion without space-occupying characteristics (non mass like enhancement).
BIRADS
Pemeriksaan MRI
MRI BIRADS 1
Fischer et al. 2014. Breast Cancer: Diagnostic Imaging and Therapeutic Guidance. Germany: Thieme.
MRI BIRADS 5 Classic carcinoma of the breast
(a) Irregular shape and spiculations.
(b) Indistinct margins with ring enhancement and increased central enhancement.
Pemeriksaan Patologis
Anatomi
Fine Needle Aspiration Biopsy Core Needle Biopsy Incisional/ Excisional BiopsyPemeriksaan
Fine Needle Aspiration Biopsy
• Pemeriksaan tercepat untuk mediagnosis keganasan pada kanker payudara
• Jika sel ganas teridentifikasi, kebanyakan
menunjukkan invasive carcinoma karena ductal carcinoma jarang teraba pada palpasi
• False-positive yang rendah tetapi false-negative yang tinggi. Oleh karena itu, Ahli Bedah apabila menemukan hasil FNAB Negative Eksisional Biopsi untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis keganasan
Pemeriksaan
Core Needle Biopsy
Pemeriksaan
Core Needle Biopsy
Norton, J.A. 2002. Essential Practice of Surgery Basic Science and Clinical Evidence. USA: Springer. Jatoi et al. 2006. Atlas of Breast Surgery. New York: Springer.
Pemeriksaan
Needle Localization Biopsy
Pemeriksaan
Needle Localization Biopsy
Perbandingan Pemeriksaan
Patologi Anatomi
Jatoi et al. 2006. Atlas of Breast Surgery. New York: Springer.
Gold Standard Diagnostic Breast Cancer:
TISSUE BIOPSY
Tatalaksana awal yang perlu dilakukan pada pasien kanker payudara stage III, adalah
a. Kemoterapi pre operasi b. Mastektomi radikal c. Mastektomi parsial
d. Kortikosteroid dosis tinggi e. Plasma exchange
Surgery Mapping on Beast Cancer
(Azril, 2005)
TUMOR GANAS
PROGRESIFITAS - Massa di payudara - Massa axilla +/- payudara - (Nyeri)
- Krusta / eksem pada puting payudara
INFILTRASI
KULIT - Ulkus
- Edem payudara / Peau d'orange - Satelit nodule JARINGAN SEKITAR - Edem lengan - Retraksi papil - Nipple discharge - Skin dimpling DINDING DADA --> Infiltrasi sampai - Costa - M. intercostalis - M. serratus anterior METASTASIS
- Paru - Pleura - Hepar - Otak - Spine - Tulang
TERAPI LOKOREGIONAL OPERASI RADIOTERAPI SISTEMIK KEMOTERAPI HORMONAL TERAPI TARGETED TERAPI
Klasifikasi TNM (AJCC 7 2010)
• Tx : Tumor primer tidak dapat dinilai.
• T0 : Tidak terdapat tumor primer. • Tis : Karsinoma in situ.
• T1 : Tumor < 20mm • T1mi : Tumor < 1mm • T1a : Tumor 1mm < x < 5mm • T1b : Tumor 5mm < x < 10mm • T1c : Tumor 10mm < x < 20mm • T2 : Tumor 20mm < x < 50mm • T3 : Tumor > 50mm
• T4: Ukuran tumor berapapun
dengan ekstensi langsung ke dinding dada / kulit.
• T4a: Ekstensi ke dinding dada
(tidak termasuk otot pektoralis).
• T4b: Edema ( termasuk peau
d'orange ), ulserasi, nodul satelit ipsilateral
• T4c: T4a + T4b
• Nx : Kgb regional tidak bisa dinilai (telah diangkat sebelumnya). • N0 : Tidak terdapat metastasis kgb.
• N1 : Metastasis ke kgb aksila level I, II ipsilateral yang mobil. • N2a : Metastasis pada kgb aksila level I, II terfiksir atau
berkonglomerasi atau melekat ke struktur lain.
• N2b : Metastasis hanya pada kgb mamaria interna ipsilateral secara klinis *, metastasis pada kgb aksila (-).
• N3a : Metastasis ke kgb infraklavikular ipsilateral.
• N3b : Metastasis ke kgb mamaria interna dan kgb aksila. • N3c : Metastasis ke kgb supraklavikula.
• Mx : Metastasis jauh belum dapat dinilai. • M0 : Tidak terdapat metastasis jauh.
• cM0 (i+) : Tidak terdapat metastasis jauh, tapi terdapat deposit < 0,2mm pada darah, bone marrow, dan node non regional yang terdeteksi secara molekuler/mikroskopis pada pasien tanpa gejala metastasis
• M1 : Terdapat metastasis jauh secara klinis, radiologis, dan/atau histologi > 0,2mm
1. Early Breast Cancer ( EBC )
2. Locally Advanced Breast Cancer ( LABC ) 3. Metastatic Breast Cancer ( MBC )
LABC ( Hohenberger P,Oxford Textbook of Oncology 2nd Ed ) • Tumor dengan diameter lebih dari 5 cm (T3)
• Ekstensi ke dinding dada (T4a)
• Tumor yang menyebabkan edema payudara atau lengan, atau ulserasi kulit payudara • Adanya satelit nodul pada kulit payudara yang sama (T4b)
• Tumor dengan ukuran berapapun dengan kelenjar aksiler yang fixed (N2) atau kelenjar getah bening mammary interna ipsilateral (N3) yang diperkirakan mengandung sel kanker.
• Kanker mama inflammatory (T4d)
Immunohisto chemistry (IHC)
• Jenis: ER/PR, Her2 Neu, Ki67
• Dari pemeriksaan IHC dapat ditentukan subtipe intrinsik
biologi sel kanker berdasarkan kriteria St Gallen 2013
Subtipe intrinsik Definisi kliniko-patologi Rekomendasi terapi sistemik Luminal A ER dan PgR (+) Her2 (-) Ki67 rendah (<14%) Hormonal terapi Luminal B Her2 (-) ER (+) Her2 (-)
Salah satu dari : - Ki67 tinggi ( > 14%) - PgR (-) atau rendah
Hormonal + Kemoterapi
Her2 (+) / Triple positif ER (+) Her2 (+)
Ki67 berapapun nilainya PgR berapapun nilainya
Hormonal + Kemo + Targeted terapi
Erb-B2 overexpression (Her2 type) Her2 (+) ER dan PgR (-)
Kemo + Targeted terapi
Triple negatif ( TNBC ) ER dan PgR (-) Her2 (-)
Mamografi adalah salah satu cara melakukan screening pada keganasan payudara. Berikut ini pernyataan yang benar mengenai mamografi, kecuali a. Radiasi yang digunakan adalah 10 cGy
b. Tidak terdapat peningkatan risiko kanker payudara c. Posisi yang dilihat adalah kraniokaudal
d. Digunakan untuk melihat kanker payudara pada pasien asimptomatis e. Radiasi yang digunakan lebih besar dari foto polos dada
Mammografi
CIRI GANAS PADA
MAMMOGRAFI
Tanda mayor
A. Gambaran stellata / spiculated sign / star sign atau comet sign B. Mikrokalsifikasi: Clustered (berkelompok), Scattered (menyebar)
Kriteria Egan untuk kalsifikasi yang diduga ganas: lokasi di parenkim payudara, ukuran < 0,5 mm, jumlah > 5, berbentuk stellata
C. Perubahan densitas: massa yang terpisah – pisah (discrete), distorsi arsitektur, asimetri
Tanda minor
A. Penebalan kulit. Normal + 0,7 mm. patologis : > 2,5 mm B. Bertambahnya vaskularisasi
C. Retraksi papil
Ny. D 50 tahun, datang dengan keluhan adanya benjolan pada payudaranya sejak 3 bulan lalu. Padda inspeksi ditemukan adanya masa padat pada
payudara kanan di bagian inferior, peau d orange +. Selain itu nampak ada keluar cairan dari payudara berwarna kemerahan gelap. Pada palpasi juga ditemukan adanya pembesaran KGB aksila. Indikasi dilakukan duktografi untuk pasien ini adalah
a. Kecurigaan masa payudara b. Mendeteksi metastasis jauh c. Curiga metastasis paru
d. Terdapat nipple discharge e. Ditemukan peau d orange
Nipple Discharge
• Nipple discharge is
very common
. Fluid can be obtained
from the nipples of approximately
50–70% of normal
women when special techniques, massage, or devices
such as breast pumps are used. This discharge of fluid
from a normal breast is referred to as
‘physiological
discharge’ yellow, milky, or green
in appearance, it
does not happen spontaneously.
• Milky
nipple discharge normal (physiological) during
pregnancy and breast feeding.
• Abnormal Nipple discharge associated with other
symptoms:
lump, ulceration or inversion of the nipple,
blood-stained
Causes
• Duct papilloma
• Duct ectasia
• Nipple eczema
• Breast cancer
• Hormonal causes
• Drugs & medication (oral contraceptives, HRT,
treatment of nausea, depression & psychiatric
disorders)
Berikut ini merupakan temuan klinis yang mengarahkan diagnosis pada peningkatan tekanan intracranial, kecuali
a. Hipotensi b. Bradikardia c. Napas ireguler
d. Penurunan kesadaran e. Mual muntah
An. J, lahir dengan persalinan normal spontan belakang kepala 4 jam lalu. Pasien ini dikonsultasikan kepada Anda sebagai Dokter Bedah karena pada saat usia 20 minggu, pasien ini didiagnosis oleh Dokter Kandungan
menderita Hernia Diafragmatika Kongenital. Pemeriksaan penunjang apa yang paling cepat untuk mendiagnosis pasien ini
a. Foto polos dada
b. Foto polos abdomen c. Pasang NGT
d. Manuver Smith e. Endoskopi
Congenital Diaphragmatic Hernia
(CDH)
• Gangguan pertumbuhan diaphragma menyebabkan
organ abdominal masuk kedalam rongga thorax.
• Bagian postero lateral kiri menutup terakhir pada
pertumbuhan diapragma. CDH sebagian besar pada
posterolateral kiri, disebut CDH Bochdalek.
• CDH yang lebih jarang adalah anterior kanan, para
sternal kanan, disebut CDH Morgagni.
Embriologi
Diafragma dibentuk dalam usia 4 – 8 minggu
usia gestasi, dimana rongga coelum terbagi
menjadi :
• Rongga pleura
• Rongga peritoneum
central tendon dibentuk dari :
• Septum tranversum
Hernia diafragmatika kongenital
Klasifikasi hernia diafragmatika: Didasarkan pada
letak dan etiologinya.
I.
Hernia posterolateral, melalui foramen
Bochdalek.
II.
Hernia subkostal anterior, melalui foramen
Morgagni.
III.
Hernia paraesofageal di sentral.
IV.
Hernia traumatika akuisita, disebabkan oleh
Embriologi
• Kegagalan fusi antara septum
transversum dengan bagian muskuler
perifer diafragma (yg tumbuh dari
postero lateral pleuroperitoneal
membran) akan menyebabkan
terjadinya hernia postero-lateral
BOCHDALEK.
• Diafragma kanan tertutup lebih dulu
daripada yang kiri sehingga hernia
difragma kiri lebih sering ditemukan
dari pada yang kanan
Patofisiologi
• Hipoplasia paru akan menyebabkan pertukaran gas
tidak adekwat
• Hipoplasia juga menyebabkan hipertensi paru,
karena adanya hypoplastic pulmonary vascular
bed.
• Otot-otot arteri paru menjadi hipertrofik,
menyebabkan pembuluh darah menjadi sangat
sensitif terhadap perubahan metabolik; antara lain:
hipoksia, asidosis, hiperkarbia, hipokarbia.
Patofisiologi
Masuknya visera abdomen ke dalam rongga toraks
selama masa gestasi akan menghambat tumbuh
kembang pada paru ipsilateral.
Selanjutnya mediastinum akan terdorong ke sisi
kontra lateral sehingga juga mengganggu tumbuh
kembang pada paru sisi kontra lateral (hipoplasia)
Diagnostik
• Bayi lahir dengan
abdomen scapoid, flat.
• Bayi lahir dengan tanda
distress napas yang
disebabkan hipoplasi paru
kiri, kadang bilateral.
• Prenatal USG
• Thorax foto tampak
jelas usus berada intra
thorakal kiri, mediastinum
terdorong ke kanan.
Terapi dan perawatan
• Oksigenasi adequat, selalu dibutuhkan ventilator.
• Repair diaphragma transabdominal bila ventilasi
sudah dalam keadaan kompensasi.
• Bila intrauterine sudah dapat diketahui dapat
dilakukan intervensi intauterine.
Berikut ini yang merupakan prinsip tatalaksana hernia diafragmatika yang benar, kecuali
a. Manajemen hipertensi pulmonal b. Minimalisasi barotrauma
c. Optimalisasi oksigenasi
d. Pembedahan segera setelah lahir
ECMO
Veno-arterial extracorporeal membrane oxygenation in congenital diaphragmatic hernia (CDH). Veno-arterial (VA) extracorporeal membrane oxygenation (ECMO) is usually performed with an open cut-down technique where the right common carotid artery and right internal jugular vein are isolated and cannulated. Circuit flows are gradually increased to provide about 50 to 100 mL/kg/min, equivalent to an unloading of the right ventricle with 1/3 of the cardiac output.
CO, cardiac output; LA, left atrium; LV, left ventricle; PA, pulmonary artery; PDA, persistent ductus arteriosus; RA, right atrium; RV, right ventricle.
Berikut ini merupakan pernyataan yang tepat mengenai pemeriksaaan penunjang pada congenital lobar emphysema, kecuali
a. Pemeriksaan awal menggunakan foto polos dada
b. Terdapat area hiperlusen pada area paru yang terdampak c. Terdapat atelectasis
d. Kadang perlu pemeriksaan CT Scan untuk pasien yang manifestasi klinisnya tidak jelas
Congenital lobar emphysema
(CLE)
A rare developmental lung malformation. During the
third week of gestation, the development of the
respiratory system begins and aberrations in this
developmental stage may cause parenchymal lung
malformations.
CLE is defined as the hyperinflation of one or more
pulmonary lobes due to the partial obstruction of the
bronchus, which causes pressure symptoms on the
adjacent organs.
CLE is one of the rarest causes of respiratory distress
in newborns
CLINICAL PRESENTATION
• Nearly half of patients are symptomatic at birth, while the
other half mostly develop symptoms in the first 6 months of
life.
• The affected lobe is overinflated, and ventilation and
perfusion are impaired in the overinflated lobe.
• With progressive overinflation, compression occurs in the
adjacent organs.
• Ventilation and perfusion are impaired in these parts of the
lung parenchyma, which leads to progressive respiratory
failure.
• Retractions, wheezing, cyanosis, and difficulty in feeding can
be observed.
• In infancy, wheezing, chronic cough, and recurrent
respiratory tract infections can be seen
DIAGNOSIS
• Prenatal USG
• Chest X ray
• CT
Berikut ini yang BUKAN tatalaksana pembedahan untuk penyakit ulkus peptikum adalah
a. Perforasi b. Obstruksi c. Pendarahan
d. Lesi tidak sembuh
PEPTIC ULCER DISEASE (PUD)
• Includes duodenal, gastric, and marginal ulcers
• Complication: perforation >>> highest mortality,
followed by obstruction, bleeding, rarely
nonhealing.
DIAGNOSIS
• Peptic ulceration is typically characterized by nonradiating
epigastric pain described as burning, stabbing, or gnawing.
• Referral of pain to the back posterior penetration of the
ulcer.
• The pain is usually related to eating, with duodenal ulcer
pain relieved by eating, which sometimes makes gastric or
marginal ulcer pain worse.
• Ingestion of antacids or initiation of antisecretory agents
(H2 antagonists or PPIs) usually provides prompt relief.
• Endoscopic examination of the esophagus, stomach, &
duodenum. In controlled trials, endoscopy was both more
sensitive (92% vs 54%) and more specific (100% vs 91%)
than radiographic examination, but the latter should be
considered if perforation is suspected.
Untuk mendapatkan akses pada pendarahan ulkus peptikum posterior perlu dilakukan insisi a. Gastrojejunostomy b. Gastrostomi c. Piloromiotomi d. Fundostomi e. Cardiotomi
Bleeding Peptic Ulcer
• Early
endoscopy
should be performed and bleeding sites
treated with
epinephrine injection
and an
energy source
• Bleeding gastric ulcer
can be treated with oversewing,
wedge resection, or definitive gastrectomy to include the
ulcer
• Bleeding duodenal ulcer
include oversewing, either alone or
with definitive ulcer operation, usually vagotomy and
drainage.
• Classically the pyloroduodenotomy, which is made to access
the bleeding ulcer, is incorporated into a pyloroplasty.
• Alternatively, the pyloric incision is closed and
gastrojejunostomy performed. Then truncal vagotomy is
done.
GASTRIC ULCER OPERATION
Feldman M, Scharschmidt BF, Sleisenger MH: Gastrointestinal and Liver Disease, 6th ed. Philadelphia, PA: WB Saunders; 1998
Indikasi untuk terapi pembedahan pada ulkus peptikum pendarahan adalah sebagai berikut, kecuali
a. Pendarahan hebat yang tidak respon dengan kontrol endoskopik b. Pendarahan berulang yang membutuhkan transfusi
c. Berulang kali masuk rumah sakit akibat pendarahan d. Terjadinya perforasi
Tatalaksana pembedahan lini pertama pada pasien ulkus duodenum
perforasi dengan instabilitas heomodinamik dan peritonitis eksudatif adalah a. Simple patch closure
b. Patch closure and HSV c. HSV
d. Patch closure and V + D e. V + D and HSV
Sindroma Zollinger Ellison adalah sebuah penyakit yang dicirikan oleh sekresi gastrin yang berlebihan, paling banyak disebabkan oleh
a. Ulkus peptikum b. Ulkus duodenum
c. Tumor neuroendokrin d. Polip gaster
Zollinger – Ellison Syndrome (ZES)
INTRODUCTION
Severe peptic ulcer diathesis secondary to gastric acid hypersecretion due to unregulated gastrin release from a non-ß cell endocrine tumor (gastrinoma). Incidence: 0.1-1% of individuals presenting with PUD. Males > females. Ages between 30 and 50.
PATHOPHSIOLOGY
The gastrinoma secretes gastrin, which in turn stimulates acid secretion through gastrin receptors on parietal cells and by inducing histamine release from
Enterochromaffin-like cells (ECL).
Acid output may be so great that it reaches the upper small intestine Pancreatic lipase is inactivated and bile acids are precipitated
90% of tumours occur in the pancreatic head or proximal duodenal wall Gastrinomas can develop in the presence of MEN 1 syndrome in ~25% of patients (autosomal dominant) involved the parathyroid glands (80-90%), pancreas (40-80%), and pituitary gland (30-60%).
TUMOR DISTRIBUTION
• Majority of gastrinomas occurred within the pancreas, a
significant number of these lesions are extrapancreatic.
• 80% within the hypothetical
gastrinoma triangle
.
• Duodenal tumors constitute the most common nonpancreatic
lesion (50-75%) smaller, slower growing, and less likely to
metastasize than pancreatic lesions.
• Less common extrapancreatic sites include stomach, bones,
ovaries, heart, liver, and Iymph nodes.
• 60% of tumors are considered malignant, with up to 30-50%
of patients having multiple lesions or metastatic disease at
presentation.
CLINICAL MANIFESTATIONS
• Severe and often multiple peptic ulcers in unusual
sites, such as the post-bulbar duodenum, jejunum or
oesophagus
• Poor response to standard ulcer therapy
• Bleeding and perforations are common
• Diarrhoea and steatorrhoea
• Abdominal pain
• Nausea & vomiting
DIAGNOSIS
• Biochemical: Gastrin, pH, BAO/MAO ratio
• Endoscopy
Tn. J, 50 tahun datang dengan keluhan nyeri hilang timbul pada punggung sebalah kanan bawah. Pada pemeriksaan tanda vital ditemukan tidak ada kelainan. Abdomen sopel, nyeri tekan Mac Burney -, nyeri tekan kontra Mac Burney -. Pada pemeriksaan foto abdomen ditemukan adanya gambaran radioopaq pada daerah sekitar ureter kanan. Diagnosis untuk pasien ini adalah a. Batu Staghorn b. Ureterolitiasis c. Sistitis d. Batu ren e. Balantitis
URINARY TRACT STONE
MIAF & Idiopathic
Urolithiasis
Defects in purine
metabolism
(uric acid related disorders)
Hyperoxaluric states (Primary hyperoxaluria, Enteric hyperoxaluria)
Hypercalcemic states (Primary hyperparathyroidism,
Hyperthyroidism, Vitamin D abuse, Immobilization,
Disseminated malignancies, Sarcoidosis, Renal tubular
acidosis)
Chronic diarrhoeal states
Cystinuria
Urinary
infection
with urease producing microorganisms
URINARY TRACT STONE
RISK FACTORS
• Genetics:
• Cystinuria: autosomal recessive
• RTA (renal tubular acidosis) – type I
• Medullary sponge kidney
• Geography: temperature & humidity
• Diet: calcium/ oxalate intake >>
URINARY TRACT STONE
• DIAGNOSIS
• History
• Physical exam.
• Additional :
• Urine, microbiology
• Serum: kidney function, uric acid
• Plain x-ray / USG /IVP
EVALUASI SELEKTIF TAMBAHAN UROLITIASIS MIAF TERAPI SESUAI KELAINAN DASAR TAK PERLU EVALUASI
SELANJUTNYA MINUM > BANYAK •URIN 24 JAM •S.KREATININ •KALSIUM •SITRAT
•MINUM LEBIH BANYAK
•HIPER-KALSIURIA --- TX THIAZIDE •HIPO-SITRATURIA --- TX K-- SITRAT
BASIC METABOLISM EVALUATION
HISTORY X-RAY STONE ANALYSIS BLOOD: • SERUM CREATININE • CALCIUM • URIC ACID URINE: • CULTURE • pH NEFROLITIASIS KALSIUM IDIOPATIK SEDERHANA
NEFROLITIASIS KALSIUM IDIOPATIK KOMPLIKASI
MANAGEMENT OF URINARY TRACT STONE
EVALUASI METABOLIK DASAR
•
Anamnesa: peny. GI, tulang, dsb, RPK, diit, obat2an
•
Foto polos abd., IVP, USG
•
Pem. Urin: UL, biakan, pH
•
Analisa batu
•
Pem. Darah: kreatinin, urat, kalsium
EVALUASI METABOLIK LUAS Urin 24 jam:
•
volume
•
kreatinin
•
kalsium
•
sitrat
MANAGEMENT OF URINARY TRACT STONE
• TERAPI
• MENGHILANGKAN NYERI
• PENGAMBILAN BATU
• TERAPI PENCEGAHAN BATU
KALSIUM
• TERAPI FARMAKOLOGIS BATU
KALSIUM
• TERAPI FARMAKOLOGIS BATU
ASAM URAT
• TERAPI FARMAKOLOGIS BATU
SISTIN
MANAGEMENT OF URINARY TRACT STONE
TERAPI
PENGAMBILAN BATU
1. ESWL
2. URS
3. PNL
4. BEDAH TERBUKA
MANAGEMENT OF URINARY TRACT STONE
ESWL (1)
• Sejak 1984
• Mesin ESWL : bertambah kecil, kekuatan lebih rendah
• Modifikasi kriteria indikasi
• Kontra indikasi absolut:
• Malformasi skeletal berat
• Obesitas berat
• Pregnancy
MANAGEMENT OF URINARY TRACT STONE
ESWL (2)
•
Paling efektif untuk batu < 20 mm
•
Tidak ideal untuk batu kaliks inferior >15 mm
•
Hasil untuk batu ginjal:
Ukuran batu
Angka bebas batu (3 bulan)
< 10 mm
62-92% (
84%
)
10-20 mm
59-81% (
77%
)
> 20 mm
19-70% (40%)
MANAGEMENT OF URINARY TRACT STONE
ESWL (3)
•
Terapi ulangan tdk lebih dari 3 – 5 X
•
Antibiotika hanya bila ISK +
•
Pd hidronefrosis atau ginjal terinfeksi k/p nefrostomy
atau PNL
•
Maximum shock waves:
•
Electrohydraulic
: 3500 shocks
•
Piezoelectric
: 5000 shocks
MANAGEMENT OF URINARY TRACT STONE
ESWL (4)
•
ESWL untuk batu ureter:
•
Kurang mudah dipecah (tx ulangan >)
•
Berguna untuk batu kecil (< 8 mm)
•
In-situ atau push’n’bang
•
Kadang2 perlu DJ-stent
•
Angka bebas batu (3 bulan):
•
B.ureter prox.
: 62 – 100% (re-tx 38%)
•
B.ureter tengah
: 46 – 100% (re-tx 38-90%)
•
B.ureter distal
: 72 – 100% (re-tx 38%)
MANAGEMENT OF URINARY TRACT STONE
Perlu tindakan urgen / segera:
1. Ada bakteriemia atau sepsis
2. Profesi tertentu, tidak melihat ukuran batu (preventif):
1.
Pilot
2.
Insinyur/ pekerja konstruksi
3.
Dokter spesialis bedah
MANAGEMENT OF URINARY TRACT STONE
Pedoman terapi ekspektatif:
1. Ukuran 4 mm atau lebih kecil
2. Keluhan tidak mengganggu
3. Tidak ada ISK (biakan, febris, mengigil)
4. Tidak ada obstruksi (hidronefrosis)
MANAGEMENT OF URINARY TRACT STONE
Perlu diperhatikan untuk terapi ekspektatif:
1. Anamnesa yang cermat (keluhan)
2. Foto polos abd. (BOF) atau USG
3. IVP
4. Biakan urin
MANAGEMENT OF URINARY TRACT STONE
Terapi ekspektatif:
1. Diuretika :
•
HCT 25 mg 1 X 1 tab
2. K/p analgetik (bl kolik) :
•
Mefenamic ac / Ketoprofen tab / sup
3. Exercise : lari, olah raga yg loncat2
•
Jogging, badminton, tennis : 3 X 20 menit / minggu
4. Minum 3-4 liter air
•
Bila faal ginjal normal
5. Jangan diberi antibiotika
Prosedur di bawah ini yang paling memiliki morbiditas rendah dan komplikasi yang rendah untuk terapi ureterolithiasis adalah
a. ESWL b. PCNL c. URS
d. Open ren
Tn. J, 65 tahun, datang dengan keluhan tidak bisa berkemih sejak 6 jam lalu. Keluhan terjadi perlahan-lahan sejak 3 hari. Pada pemeriksaan fisik buli teraba penuh. Selanjutnya pada pemeriksaan colok dubur teraba
prostat yang membesar, licin, tidak berdungkul, dan tidak rapuh. Diagnosis yang tepat untuk pasien ini adalah
a. Karsinoma prostat b. BPH
c. Cystitis d. Balantitis e. Orchitis
Patogenesis BPH
Syarat terjadinya BPH :
* Testis yg memproduksi androgen * Ketuaan ( ? )
Theory
Dihydrotestosteron
hypothesis
Oestrogen-testosteron
imbalance
Stromal-epithelial
interactions
Reduced cell death
Stem cell theory
Theories for the cause of BPH
Cause
5- reductase and
androgen receptors
Oestrogens
Testosteron
Epidermal growth
factor/fibroblast
growth factor
Transforming growth
factor
Oestrogens
Stem cells
Effect
Epithelial and stromal
hyperplasia
Stromal hyperplasia
Epithelial and stromal
hyperplasia
Longevity of stroma
and epithelium
Proliferation of transit
cells
BPH - DMS 2005 132
Kontra-indikasi Tx medik BPH
• Retensi urin (akut atau kronik)
• Insufisiensi renal
• Dilatasi traktus atas
• Hematuria berulang
• ISK berulang
Terapi medik BPH
• Alpha blocker
• terazosin
• prazosin
• tamsulosin, dll
• Supresi Androgen
• 5 alfa-reduktase inhibitor
• Fitoterapi
Rasional penggunaan alpha blocker
• Kontraksi otot polos prostat dimediasi oleh: stimulasi
simpatis reseptor alpha
• Kontraksi otot polos (kapsul, adenoma, leher buli) :
merupakan 40% dari penyebab obstruksi saluran keluar
• Alpha blocker :
• relaksasi otot polos prostat
• mengurangi simptom
Intervensi urologi
• Balloon dilatation
• Prostatic stent
• Thermotherapy
• TUIP (transurethral incision of the prostate)
• TURP (transurethral resection of the p.)
• Laser TURP
Fase pertama yang terjadi pada proses penyembuhan luka adalah a. Hemostasis b. Inflammation c. Biofilm d. Proliferasi e. Maturasi
Pada fase inflamasi bagian sel yang bertugas untuk membersihkan luka dari debris, bakteri, dan benda asing adalah
a. Sel MN b. Sel PMN c. Trombosit d. Sel T memori e. Sel B memori
Berikut ini merupakan pernyataan yang tepat mengenai Full Thickness Graft
kecuali
a. Kontraksi primer yang baik b. Kontraksi sekunder yang baik c. Paling durable
d. Sering digunakan untuk rekonstruksi luka superfisial e. Memiliki fungsi kosmetik yang paling baik
Luka
Dibiarkan
Ditutup primer
Skin graft
DEFINISI
Tindakan transplatasi kulit dengan melepaskan
sebagian atau seluruh tebal kulit dari daerah donor
ke daerah yang membutuhkan ( resipien = host ),
dimana dibutuhkan suplai darah baru untuk
menjamin kehidupan kulit yang dipindahkan.
INDIKASI
1.
Luka terbuka yang memiliki permukaan luka
dengan vaskularisasi yang cukup baik seperti otot,
fasia, dermis, perikondrium, periosteum,
paratenon, peritoneum, meningen, pleura, dan
jaringan granulasi.
2.
Tidak dapat ditutup primer
3.
Ingin cepat sembuh
4.
Luka akibat trauma, luka bakar, luka akibat eksisi
keganasan, release kontraktur, eksisi parut / keloid,
eksisi tatto
MACAM
Berdasarkan ketebalannya :
• Split thickness skin graft ( STG ): thin, intermediate,
thick
• Full thickness skin graft ( FTG )
Berdasarkan asalnya :
• Autograft
• Homograft
• Heterograft
Keuntungan STG
•
Kemungkinan take lebih besar
•
Dapat menutup defek yang luas
•
Donor dapat diambil dari daerah tubuh
mana saja dan dapat sembuh sendiri
Kerugian STG
• Punya kecenderungan kontraksi lebih besar
• Punya kecenderungan berubah warna
Keuntungan FTG
•
Kecenderungan kontraksi lebih kecil
•
Kecenderungan berubah warna lebih kecil
•
Secara estetik lebih baik daripada STG
Kerugian FTG
•
Kemungkinan take lebih kecil dibanding STG.
•
Untuk defek yang tak terlalu luas
Herniasi uncus dapat menyebabkan infark oksipital akibat terjepitnya struktur berikut ini
a. Nervus optikus
b. Arteri serebralis posterior c. Arteri serebralis anterior d. Arteri serebralis media
BRAIN SHIFT
HERNIASI OTAK
BERAKIBAT :
KERUSAKAN OTAK SECARA MEKANIK
TERJEPITNYA PEMBULUH DARAH
NEKROSIS YANG LEBIH LUAS
KENAIKAN ICP UMUM ISKEMIA LUAS
SIRKULUS VITIOSUS
@dionfaisal31