LANDASAN TEORI
2.1. Pengertian dan Definisi dari BPR
Menurut Manganelli dan Klein (1994) Proses adalah suatu rangkaian yang saling berhubungan dari suatu kegiatan yang merubah input bisnis menjadi output bisnis. Proses terdiri dari 3 aktifitas inti yaitu :
1. Kegiatan menambahkan nilai tambah (kegiatan yang penting bagi pelanggan)
2. Kegiatan hand-off (kegiatan yang memindahkan alur kerja melewati batas yang merupakan fungsi utama, departemen, atau organisasi).
3. Kegiatan pengawasan (kegiatan yang pada umumnya dibuat untuk mengawasi kegiatan hand-off yang melewati batas seperti yang telah dijelaskan diatas).
Sedangkan rekayasa-ulang adalah pembentukan ulang strategi yang radikal dan cepat, nilai tambah dari proses bisnis, juga sistem, kebijakan, struktur organisasi yang mendukungnya, dimana bertujuan untuk mengoptimalkan alur kerja dan produktifitas di suatu organisasi.
Pendekatan yang digunakan dalam rekayasa ulang proses bisnis adalah:
1. Rekayasa ulang proses bisnis mencari suatu terobosan didalam langkah yang penting dari suatu pelaksanaan dibandingkan
peningkatan-2. Rekayasa ulang proses bisnis mengejar beraneka ragam peningkatan tujuan, meliputi: kualitas, biaya, fleksibilitas, kecepatan, ketepatan, dan kepuasan pelanggan, bersama dengan itu, dimana program-program lain menitik beratkan pada tujuan lebih sedikit,
3. Rekayasa ulang proses bisnis menganut suatu pandangan proses dari suatu bisnis, dimana program-program lain tetap memakai fungsi atau pandangan organisasi.
4. Rekayasa ulang proses bisnis menggunakan pendekatan yang holistic terhadap peningkatan bisnis, mencakup prospek aspek teknik (teknologi standar, prosedur, sistem dan kontrol) dan aspek sosial (organisasi, susunan kepegawaian, kebijakan, pekerjaan, jenjang karier, dan insentif). Dengan kata lain, rekayasa ulang proses bisnis mempengaruhi teknologi dan masyarakat pemberi kuasa.
Menurut Johansson, McHugh, Pendlebury, Wheeler III, 1995, BPR adalah: sasaran bagi organisasi untuk mewujudkan perubahan kinerja secara radikal diukur dari biaya, waktu siklus, layanan dan mutu melalui penerapan beragam alat dan teknik yang difokuskan pada bisnis sebagai suatu perangkat proses yang berorientasi kepada pelanggan dan bukan sekedar seperangkat fungsi-fungsi organisasi.
Menurut Hammer dan Champy (1993), rekayasa ulang adalah pemikiran kembali secara fundamental dan perancangan kembali secara radikal atas proses-proses bisnis untuk mendapatkan perbaikan yang dramatis
dalam hal ukuran-ukuran kinerja yang penting dan kontemporer seperti : biaya, kualitas, pelayanan, dan kecepatan.
Definisi di atas memuat 4 kata kunci, yaitu : 1. Fundamental
Artinya menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang paling mendasar tentang perusahan-perusahan mereka dan bagaimana operasinya. Dasar pemikiran untuk melaksanakan reengineering haruslah sangat sejalan dengan strategi dan menjadikan nilai tambah bagi perusahaan tersebut.
2. Radikal
Artinya merancang ulang mulai dari akar permasalahan, yaitu bisa dengan mengesampingkan semua struktur dan prosedur yang sudah ada dan menciptakan cara-cara yang sama sekali baru dalam menyelesaikan pekerjaan.
3. Dramatis
Dalam reengineering bukan hanya membuat perubahan yang mendasar tetapi merupakan perubahan yang menghasilkan perubahan yang menghasilkan loncatan yang sangat cepat dalam kinerja perusahaan.
4. Proses
Proses merupakan hal yang sangat penting dalam reengineering, sebab proses adalah sekumpulan aktifitas terdiri dari satu input atau lebih dan menghasilkan output yang bernilai tinggi bagi konsumen.
2.2. Tujuan
BPR
Tujuan rekayasa ulang suatu proses bisnis adalah :
1. Meningkatkan kinerja dan efisieni dari pada proses bisnis melalui peningkatan produktivitas dan utilitas sumberdaya, perencanaan ulang yang strategis, cepat dan radikal, dramatis dan merupakan sistem kebijakan dan struktur dimana mendukung proses bisnis serta mengoptimalkan alur kerja organisasi.
2. Memfokuskan dan meningkatkan kepuasan konsumen. 3. Mengurangi waktu siklus proses bisnis.
Untuk mencapai tujuan tersebut maka perlu dilakukan perubahan terhadap proses yang sudah ada, yaitu dengan cara :
1. Menghilangkan bagian proses bisnis yang tidak penting.
2. Memanfaatkan teknologi informasi secara efektif dan efisien sehingga memungkinkan organisasi-organisasi melakukan pekerjaan dengan cara-cara yang secara-cara radikal berbeda.
3. Melakukan pemberdayaan dengan mengalihkan tanggung jawab pengambilan keputusan dan kontrol kepada tingkat dimana pekerjaan tersebut dilakukan.
4. Menetapkan kriteria pengukuran yang berguna untuk analisis dan pembuatan rencana strategis.
1. Visi, dibutuhkan agar seluruh jajaran yang terlibat mempunyai tujuan yang sama, baik dari aspek sumber daya manusia, produk, proses, fasilitas, budaya dan konsumen.
2. Ketrampilan, akan menjadikan sumberdaya manusia yang ada mampu melaksanakan tugas-tugas yang akan diterimanya pada proses yang baru. 3. Insentif, umumnya merupakan elemen terakhir untuk merubah ulang yang
diterapkan berdasarkan pemahaman dan penilaian serta peran masing-masing personalnya.
4. Sumber daya, meliputi tenga kerja, anggaran, informasi, fasilitas dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk mencapai hasil perubahan yang dimaksud.
5. Rencana kerja, yang meliputi kegiatan, tanggung jawab dan waktu pelaksanaan akan memberikan suatu kejelasan guna mencapai hasil perubahan yang diharapkan. Rekayasa ulang tanpa disertai rencana kerja mengakibatkan kesalahan dalam memulai suatu kegiatan dan para personil yang terlibat akan tidak mengetahui apa yang selanjutnya dilakukan setelah menjalani tahapan tertentu.
2.3. Tahapan dalam Rekayasa Ulang Proses Bisnis
Menurut Manganelli (1994) dalam rekayasa ulang proses bisnis terdapat 5 tahapan kegiatan yaitu :
1. Persiapan
Tahap ini dimulai dengan pengembangan dari konsesus bersama yang telah disepakati oleh eksekutif untuk membuat terobosan baru untuk mencapai tujuan bisnis dan tujuan rekayasa ulang.
2. Identifikasi
Identifikasi dilaksanakan untuk mengetahui kebutuhan konsumen, proses yang memiliki nilai tambah yang strategis, pemetaan terhadap struktur organisasi, sumber daya yang terkait dalam proses bisnis perusahaan. 3. Visi
Tujuan dari tahap ini adalah untuk membangun suatu visi akan suatu proses yang dapat diandalkan untuk meraih terobosan untuk proses yang akan dipilih untuk rekayasa ulang. Tahap ini mengidentifikasikan komponen-komponen proses yang sedang berjalan, masalah-masalah, isu-isu, ukuran perbandingan pada kinerja proses saat ini, perbaikan kesempatan dan tujuan, definisi perubahan yang diisyaratkan dan menyatakan visi dari proses yang baru.
4. Solusi
Tahap solusi ini dibagi dua yaitu tahap perancangan teknis dan perancangan sosial.
Perencangan teknis bertujuan untuk menetapkan dimensi teknikal dari proses yang baru. Spesifikasi ini akan menghasilkan deskripsi tentang teknologi, standar, prosedur, sistem dan kontrol bagi karyawan, perancangan interaksi komponen sosial dan teknik, persiapan perencanaan
untuk pengembangan, procurement, fasilitas, pengetesan, konversi dan deployment.
Sedangkan perancangan sosial bertujuan untuk menetapkan dimensi sosial dari proses bisnis yang baru. Tahap ini menghasilan gambaran tentang organisasi, staffing, jalur karir, insentif bagi karyawan, perancangan interaksi elemen teknik dan soisal, dan perencanaan awal untuk perekrutan, pendidikan, mengatur ulang organisasi dan penyebaran ulang pegawai.
5. Tranformasi
Tahap ini adalah tahap akhir dalam melakukan implementasi perencanaan proses. Tahap ini bertujuan mewujudkan visi proses rekayasa ulang.
Menurut Tan (1994), rekayasa ulang proses bisnis dijalankan dengan kepastian bahwa perbaikan yang berarti dalam suatu proses yang sedang berlangsung adalah mutlak diperlukan. Penerapan suatu rekayasa ulang proses bisnis perlu memiliki metode yang terdiri dari beberapa tahapan, dibawah ini adalah 5 tahapan tersebut :
1. Memahami proses yang sedang berlangsung
Langkah pertama adalah mendokumentasi alur proses bisnis yang berlangsung saat ini, sampai dengan memetakan interaksi dari unit-unit yang melakukan proses dalam level organisasi. Alur proses dapat menggambarkan hubungan masukan dan keluaran antara supplier, unit organisasi dan pelanggan. Pemahaman secara menyeluruh dan seksama
dari proses yang sedang berlangsung akan menjadi dasar untuk merancang proses baru yang lebih baik.
2. Analisis proses yang sedang berlangsung.
Tahap ini merupakan tahap kritis dimana penerimaan asumsi terdahulu akan dipertanyakan. Kenyataanya untuk mendorong solusi yang kreatif serangkaian pertanyaan perlu dijawab :
! Mengapa prestasi proses yang sedang berlangsung hanya seperti sekarang ?
! Apakah ada kegiatan dalam proses sekarang yang tidak memberikan nilai tambah ?
! Unit organisasi mana yang seharusnya terlibat atau tidak terlibat dalam proses ?
3. Mencari alternatif rancangan ulang.
Tahap ini mencari alternative penyelesaian yang dapat memberikan perbaikan yang berarti melalui pendekatan kreatif. Hal ini berarti mengabaikan modul-modul, peraturan-peraturan, dan tata tertib yang berlaku. Kecuali kalau organisasi mengabaikan paradigma yang lama, proses baru akan lebih mudah diperbaiki. Dalam pertimbangan alternative proses, akan lebih baik jika proses baru dirancang berbeda dari proses yang sedang berlangsung. Pengaruh dari proses baru harus memberikan alternatif solusi terhadap permasalahan yang terjadi.
4. Mencari informasi yang diperlukan untuk mendukung proses rekayasa ulang.
Informasi merupakan kunci dalam menjalankan fungsi pada proses baru. Oleh sebab itu sangatlah penting untuk menguji perubahan informasi yang diperlukan untuk mendukung proses baru. Penilaian harus dilakukan sepanjang informasi yang dibutuhkan antara unit organisasi, sehingga saluran komunikasi terbaik untuk informasi ini harus dipertimbangkan. 5. Melakukan tes kelayakan terhadap rancangan proses yang baru.
Langkah akhir dari proses rekayasa ulang adalah mengidentifikasikan sumber-sumber tambahan seperti sumber daya manusia dan sumber daya keuangan. Hal ini diperlukan untuk memastikan keberhasilan proses yang baru.
Walaupun formulasi dari proses baru seharusnya tidak dihambat dengan kekurangan-kekurangan sumber-sumber daya yang ada dalam kenyataannya adalah bahwa sebagian besar kelayakan implementasi berdasarkan ketersediaan sumber daya. Oleh karena itu sangatlah penting untuk mengadakan tes sebelum memberikan rekomendasi proses baru tersebut untuk di impelementasikan.
2.4. Teori
Organisasi
Organisasi dan tata kerja penilaian dan pelepasan varietas dilakukan oleh Badan Benih Nasional (BBN) Departemen Pertanian. Organisasi merupakan kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi.
Menurut Mintzberg (teori organisasi edisi III Robbins Stephen. P) bahwa setiap organisasi mempunyai lima elemen dasar sebagai berikut :
1. The operating core. Para pegawai yang melaksanakan pekerjaan dasar yang berhubungan dengan produksi dari produk dan jasa.
2. The strategic apex. Manager tingkat puncak yang diberi tanggung jawab keseluruhan untuk organisasi itu.
3. The middle line. Para manager yang menjadi penguhubung operating core dan strategic apex.
4. The technostructure. Para analis yang mempunyai tanggung jawab untuk melaksanakan bentuk standarisasi tertentu dalam organisasi.
5. The support staff. Orang-orang yang mengisi unit staf, yang memberi jasa pendukung tidak langsung kepada organisasi.
2.5. Pentingnya Pelepasan Varietas
Permintaan produk hortikultura khususnya sayuran dan buah dewasa ini semakin meningkat sesuai perkembangan jumlah penduduk dan kesadaran masyarakat terhadap mutu gizi dari kedua komoditi tersebut yang mendorong peningkatan produksi tiap tahunnya. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan permintaan pasar, perlu diusahakan pengembangan luas panen yang diimbangi dengan ketersediaan benih bermutu varietas unggul.
Dalam memacu pembangunan pertanian, telah ditetapkan Undang-Undang No. 12 Tahun 1992, tentang Sistem Budidaya Tanaman, yang antara
lain mengatur bidang perbenihan. Pada pasal 12 dinyatakan bahwa varietas hasil pemuliaan atau introduksi dari luar negeri sebelum diedarkan, terlebih dahulu dilepas oleh pemerintah.
Benih merupakan faktor penentu dalam sistem agribisnis hortikultura dimana kebenaran varietas maupun mutu benih sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, produktivitas maupun kualitas hasilnya.
Benih bermutu dihasilkan melalui serangkaian proses yang diawali dengan perakitan varietas unggul melalui pemanfaatan plasma nutfah domestik atau introduksi bahan induk dari luar negeri.
Pengadaan benih untuk memenuhi kebutuhan petani, pada saat ini sebagian masih harus diimpor, hal ini dikarenakan hasil pemuliaan dalam negeri jumlahnya terbatas dan kurang diminati petani. Dalam rangka mempersiapkan pengadaan varietas-varietas unggul baru yang lebih baik dan penyediaan benih bermutu dari varietas unggul tersebut, diperlukan kegiatan penilaian varietas yang meliputi uji adaptasi yang bertujuan untuk mengetahui keunggulan dan interaksi varietas terhadap lingkungannya dilakukan pada tanaman semusim dan observasi bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat unggul dan daya adaptasi calon varietas terhadap lingkungan pada beberapa agroekologi pada calon varietas tanaman tahunan dan calon varietas tanaman semusim yang dibebaskan dari uji adaptasi.
Dari tahun 2000 sampai dengan awal tahun 2004 telah dilepas 775 varietas terdiri dari 557 varietas komoditas hortikultura; 159 varietas
Dalam perkembangannya tidak semua varietas yang telah dilepas oleh Menteri Pertanian dan dinyatakan unggul disukai konsumen dan digunakan petani.
Berdasarkan Undang-Undang No.12 Tahun 1992 dan PP nomor 44 tahun 1995, yang dimaksud dengan benih bina adalah benih dari varietas yang telah dilepas. Tiap benih bina yang akan diedarkan harus memenuhi standar mutu yang ditetapkan Pemerintah. Bagi varietas hasil pemulihan atau introduksi yang belum dilepaskan, dilarang untuk diedarkan. Pemerintah juga dapat melarang pengadaan, peredaran dan penanaman benih tertentu yang mempunyai potensi dapat membahayakan dan menimbulkan kerugian bagi masyarakat. Pelepasan varietas hanya dapat dilakukan oleh Pemerintah.
Pelepasan varietas dilakukan dengan penilaian terhadap hasil dari rangkaian kegiatan dalam pemuliaan tanaman. Permohonan untuk hal tersebut diajukan oleh pemulia atau instansinya. Hasil pemuliaan atau introduksi dari luar negeri yang belum diajukan untuk dilepas dan/atau sudah diajukan tetapi ditolak untuk dilepas, dilarang untuk disebar luaskan atau diedarkan.
Sedang bagi benih yang dimasukkan dari luar negeri (impor), bila di dalam negeri telah ada benih bina yang sejenis maka standar mutunya harus memenuhi standar mutu benih bina yang telah ada tersebut. Apabila di dalam negeri belum ada, maka standar mutunya akan ditetapkan lebih lanjut oleh Pemerintah.
Pemasukan benih dari luar negeri, hanya dimungkinkan bila benih tersebut belum dapat diproduksi di dalam negeri atau belum tersedia dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri.
Pelaksanaan pelepasan varietas dilakukan oleh Tim Penilai dan Pelepasan Varietas dengan ketua tim penilai dan pelepasan varietas serta anggota-anggotanya dari berbagai instansi baik dilingkungan Departemen Pertanian maupun diluar departemen, hal ini sering menyulitkan penentuan waktu sidang pelepasan varietas dan menjadi tidak efisien.
Badan Benih Nasional (BBN) dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 27 tahun 1971, bertujuan untuk mendorong perkembangan industri benih di Indonesia yang fungsinya koordinasi, integrasi dan sinkronisasi dengan instansi terkait. Kondisi saat itu memang sangat diperlukan karena lembaga perbenihan baru dibentuk, pakar-pakar perbenihan masih terbatas, sehingga perannya diperlukan. Kondisi perbenihan saat ini sudah lebih memadai dengan dukungan perangkat hukum seperti UU Budidaya Pertanian, UU Perlindungan Varietas dan Peraturan Pemerintah yang berkaitan dengan perbenihan. Instansi yang mendukung operasionalisasi bidang perbenihan ditingkat pusat dan daerah sudah berkembang seperti di tingkat pusat Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura, Direktorat Perbenihan Hortikultura, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, di tingkat daerah Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih, Balai Benih Induk Hortikultura dan produsen benih BUMN/swasta, Asosiasi, peneliti dan para
sudah dilakukan oleh Direktorat Perbenihan, sehingga timbul pertanyaan, apakah eksistensi BBN masih perlu dipertahankan ?
Sebagai bahan perbandingan organisasi dan tata kerja pelepasan varietas di Ohio State University’s - Ohio Agricultural Research Development Center (OSU-OARDC) di Amerika. Pelepasan Varietas dikoordinasi oleh komisi distribusi dan pelepasan varietas tanaman (Corp Variety Release and Distribution Committee/CVRDC) dan diketahui oleh Direktur OARDC. Komisi Distribusi dan Pelepasan Varietas Tanaman (CVRDC) memberikan rekomendasi kepada Direktur OARDC tentang distribusi dan pelepasan varietas tanaman atau bahan tanaman lain kepada petani/masyarakat di Ohio.
Fungsi CVRDC adalah mengevaluasi hasil perakitan varietas yang diusulkan untuk dilepas, merekomendasi kepada Direktur OARDC tentang pelepasan varietas disertai dengan alasan dan pertimbangan, mengirimkan hasil evalusi varietas kepada Direktur Stasiun Penelitian Pertanian disemua negara bagian, personal di USDA, Perusahaan Swasta yang berminat dan Personal Departemen Pertanian Ohio, merekomendasikan kepada Direktur OARDC bagaimana varietas baru dilepas dan disebarluaskan merekomendasi kepada OARDC dan Direktur Departemen Ohio apabila ada perubahan atau perbaikan Undang-Undang Perbenihan dan Pelindungan Varietas, merekomendasi kepada Direktur Departemen Pertanian Ohio dan OARDC persyaratan pelepasan dan distribusi varietas tanaman. dan merekomendasi kepada Direktur OARDC apabila ada kerjasama dengan negara bagian lain.
Keanggotaan Tim Pelepas varietas terdiri dari ahli pemulia tanaman dan ahli agronomi di Departemen Ilmu Tanaman dan Hortikultura, Ahli Penyuluh Tanaman, Direktur Fakultas Pertanian dan Hortikultura Universitas OHIO, Ahli Penyakit Tanaman, Ahli Hama Tanaman, Asosiasi Perbenihan Ohio Fondation Seed (OFS), Asosiasi Agribinis Ohio, Ketua Departemen Pertanian Ohio, Wakil Direktur, Industri Pertanian, Pemulia Tanaman USDA-ARS di Universitas Ohio dan OSU – Licensi.
Parameter pelepasan varietas di OSU-OARDC di Ohio :
1. Minimun standar untuk pengujian varietas yang dikembangkan dengan persilangan 4 atau lebih generasi yang sedang dikembangan dilakukan pengujian 3 kali setahun. Sedangkan untuk varietas backcrossing 2 atau 3 generasi dilaksanakan pengujian 6 kali selama 2 tahun dan varietas lainnya 9 kali pengujian dalam 3 tahun.
2. Pedoman anggota CVRDC dalam mengimpretasikan data menggunakan Least Significant Differences (LSD ) dengan variasi substansi : daya hasil; tingkat kematangan; dan tinggi tanaman.
3. Informasi tentang Pedigree/galur disampaikan kepada anggota tim sebagai bahan penilaian.
4. Deskripsi varietas perlu dipertimbangkan oleh Tim.
5. Parameter yang digunakan untuk pelepasan parameter daya hasil, tingkat kematangan, keseragaman warna, daya adaptasi terhadap cekaman lingkungan, masa periode pembungaan, ketahanan terhadap hama dan
2.6. Kondisi Industri Perbenihan Saat ini
Industri perbenihan hortikultura terdiri dari milik Pemerintah/BUMN, pengusaha swasta (PMDN dan PMA) serta petani penangkar yang berada di Pusat dan di Daerah. Skala usaha dan sistem pengelolaannya pun sangat beragam mulai dari usaha besar yang dikelola secara moderen dan profesional (jumlahnya hanya beberapa) hingga yang skala kecil dan menengah dengan pengelolaan yang sangat bervariasi.
Masalah utama yang dihadapi oleh dunia bisnis perbenihan adalah kurangnya tenaga ahli profesional di bidang teknologi baik di subsistem hulu (Penelitian dan Pengembangan/Riset) maupun di subsistem hilirnya.
Sistem industri perbenihan terdiri dari :
(1) Subsistem Penelitian, Pemuliaan dan Pelepasan Varietas (Badan Litbang) yang menghasilkan benih BS.
(2) Subsistem Produksi, Pengolahan, Peredaran dan Pemasaran (BBI/BUMN/Swasta yang menghasilkan benih BD – BP – BR).
(3) Subsistem Sertifikasi dan Pengawasan Mutu (BPSB)
(4) Subsistem Penunjang (Pendidikan, Penyuluhan, Sarana Prasarana, Peraturan/Kelembagaan).
Secara umum kegiatan industri perbenihan terdiri dari :
(a) penelitian menghasilkan varietas baru berkualitas tinggi (unggul/plant breeding).
(b) pelepasan varietas
(c) memproduksi benih dan pengolahannya (d) mensertifikasi benih.
(e) memasarkan dan mendistribusikan benih kepada konsumen/petani. Secara skematis gambaran industri perbenihan seperti berikut :
Pengawasan dan Sertifivasi
Pemulia Tanaman
Badan Litbang Pelepasan VarietasBBN Produksi BenihFS – SS – ES Peredaran dan Pemasaran
Subsistem Pendukung
Plasma Nutfah
Pengolahan