BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. adalah melaksanakan cara dan perilaku yang disarankan oleh orang lain, dan

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kepatuhan

2.1.1. Teori Kepatuhan

Menurut Yandianto Kamus Umum Bahasa Indonesia (2009), patuh adalah suka menurut perintah, taat pada perintah, sedangkan kepatuhan adalah perilaku sesuai aturan dan berdisiplin. Menurut Sarafino dalam Slamet (2007), kepatuhan adalah melaksanakan cara dan perilaku yang disarankan oleh orang lain, dan kepatuhan juga dapat didefinisikan sebagai perilaku positif dalam mencapai tujuan.

Kelman (2000) menyatakan bahwa perubahan sikap dan perilaku individu dimulai dengan tahap kepatuhan, identifikasi kemudian baru menjadi internalisasi. Mula-mula individu mematuhi anjuran atau instruksi petugas tanpa kerelaan untuk melakukan tindakan tersebut dan seringkali karena ingin menghindari hukuman/sanksi jika tidak patuh atau untuk memperoleh imbalan yang dijanjikan jika mematuhi anjuran tersebut tahap ini disebut tahap kesediaan, biasanya perubahan yang terjadi dalam tahap ini bersifat sementara, artinya bahwa tindakan itu dilakukan selama masih ada pengawasan petugas. Tetapi begitu pengawasan itu mengendur atau hilang, perilaku itupun ditinggalkan.

2.1.2. Faktor-faktor yang mendukung kepatuhan klien

Menurut Feuer Stein, et al (dalam Niven, 2002: 198) ada beberapa faktor yang dapat mendukung sikap patuh pasien, diantaranya: Pendidikan adalah suatu kegiatan, usaha manusia meningkatkan kepribadian atau proses perubahan

(2)

jalan membina dan mengembangkan potensi kepribadiannya, yang berupa rohni (cipta, rasa, karsa) dan jasmani. Domain pendidikan dapat diukur dari (Notoatmodjo, 2003) yakni; Pengetahuan terhadap pendidikan yang diberikan (knowledge), Sikap atau tanggapan terhadap materi pendidikan yang diberikan (attitude), Praktek atau tindakan sehubungan dengan materi pendidikan yang diberikan. Lalu akomodasi yakni suatu usaha harus dilakukan untuk memahami ciri kepribadian pasien yang dapat mempengaruhi kepatuhan. Pasien yang mandiri harus dilibatkan secara aktif dalam program pengobatan. Memodifikasi lingkungan dan sosial dengan membangun dukungan sosial dari keluarga dan teman-teman sangat penting, kelompok pendukung dapat dibentuk untuk membantu memahami kepatuhan terhadap program pengobatan. Program pengobatan dapat dibuat sesederhana mungkin dan pasien terlibat aktif dalam pembuatan program tersebut. Meningkatkan interaksi profesional kesehatan dengan pasien. Suatu hal yang penting untuk memberikan umpan balik pada pasien setelah memperoleh informasi diagnosa (Milgram dalam endone, 2004). 2.1.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kepatuhan

Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan menurut Brunner dan Suddarth (2002) adalah:

Faktor Demografi, seperti usia, jenis kelamin, status sosio ekonomi dan pendidikan. Tahun 2014 ada sebanyak 914.000 orang pengguna narkoba pada usia 12 tahun di dunia. Pada umumnya digunakan oleh para lelaki dengan status ekonomi dan pendidikan menengah kebawah (Waseso,2015). Faktor Penyakit seperti keparahan penyakit dan hilangnya gejala akibat terapi, Faktor Program

(3)

Teraupetik seperti kompleksitas program dan efek samping yang tidak menyenangkan, Faktor Psikososial seperti intelegensia, sikap terhadap tenaga kesehatan, penerimaan atau penyangkalan terhadap penyakit, keyakinan agama atau budaya, dan biaya finansial dan lainnya yang termasuk dalam mengikuti regimen hal tersebut di atas juga ditemukan oleh Bart Smet (1994) dalam psikologi kesehatan (dalam R Manyoe, 2014)

2.1.4. Pendekatan Praktis untuk meningkatkan Kepatuhan klien

Menurut Dinicola dan DiMatteo (dalam Niven, 2002: 194) menyebutkan ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam meningkatkan kepatuhan pasien, yaitu: Buat instruksi tertulis yang mudah diinterpretasikan, berikan informasi tentang pengobatan sebelum menjelaskan hal lain. Jika seseorang diberi suatu daftar tertulis tentang hal-hal yang harus diingat maka akan ada keunggulan yaitu mereka akan ada keunggulan dan berusaha mengingat hal yang pertama ditulis. Efek keunggulan ini telah terbukti. Instruksi-instruksi harus ditulis dengan bahasa umum (non-medis) dalam hal yang perlu ditekankan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidak-patuhan yakni: 2.1.4.1. Pemahaman tentang instruksi

Tidak seorangpun dapat mematuhi instruksi, jika ia salah paham tentang instruksi yang diterima. Ley dan Spetman (dalam Niven, 2002: 193), menemukan bahwa lebih dari 60% yang diwawancarai setelah bertemu dokter salah mengerti tentang instruksi yang diberikan kepada mereka. Hal ini disebabkan kegagalan petugas kesehatan dalam memberikan informasi yang

(4)

lengkap dan banyaknya instruksi yang harus diingat dan penggunaan istilah medis.

2.1.4.2. Kualitas interaksi

Menurut Korcsh dan Negrete (dalam Niven, 2002: 194), kualitas interaksi antara petugas kesehatan dan pasien merupakan bagian yang pentingdalam menentukan derajat kepatuhan.

2.1.4.3. Isolasi sosial dan keluarga

Keluarga dapat menjadi faktor yang sangat mempengaruhi dalam menentukan keyakinan dan nilai kesehatan individu serta dapat menetukan tentang program pengobatan yang dapat mereka terima.

2.1.4.4. Keyakinan, sikap dan kepribadian

Keyakinan seseorang tentang kesehatan berguna untuk memperkirakan adanya ketidakpatuhan. Orang-orang yang tidak patuh adalah orang yang mengalami depresi, ansietas sangat memperhatikan kesehatannya, memiliki ego yang lebih lemah dan yang kehidupan sosialnya lebih memusatkan perhatian pada diri sendiri (Niven, 2002:195).

Menurut Neil Niven (2002: 193) mengungkapkan derajat ketidak patuhan itu ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu: Kompleksitas prosedur pengobatan, derajat perubahan gaya hidup yang dibutuhkan , lamanya waktu dimana pasien harus mematuhi program tersebut, apakah program itu berpotensi menyelamatkan hidup.

(5)

2.2. Napza

2.2.1. Pengertian dan Istilah Napza

Menurut peraturan pemerintah Republik Indonesia No. 40 tahun 2013:

2.2.1.1. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintesis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

2.2.1.2. Tanaman Narkotika adalah jenis tanaman tertentu yang mengandung zat yang dapat dikategorikan kedalam jenis narkotika yang ditemukan di ladang atau tempat lainnya dalam keadaan masih tertanam atau hidup.

2.2.1.3. Prekursor Narkotika adalah zat atau bahan pemula atau bahan kimia yang dapat digunakan untuk pembuatan narkotika sebagaimana dibedakan dalam tabel yang terlampir dalam UU NO.35 Tahun 2009 tentang Narkotika (Binfar kemkes, 2015).

2.2.2. Penggolongan NAPZA

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.13 tahun 2014 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika: Daftar Narkotika golongan I: Tanaman Papaver Somniferum L dan semua bagian-bagiannya termasuk buah dan jeraminya kecuali bijinya. Opium mentah, yaitu getah yang membeku sendiri diperoleh dari buah tanaman Papaver Somniferum Ldengan atau tanpa mengalami pengolahan

(6)

sekedarnya untuk pembungkus dan pengangkutan tanpa memperhatikan kadar morfinnya.

Tanaman koka, tanaman dari semua genus Erythroxylon dari keluarga Erythroxylaceae termasuk buah dan bijinya. Daun koka,daun yang belum atau sudah dikeringkan atau dalam bentuk serbuk dari semua tanaman genus Erythroxylon dari keluarga Erythroxylaceae yang menghasilkan kokain secara langsung atau melalui perubahan kimia.

Tanaman ganja, semua tanaman genus canabis dan semua bagian dari tanaman termasuk biji, buah, jerami, hasil olahan tanaman ganja atau bagian tanaman ganja termasuk damar ganja atau hasis.

Tetrahydrocannabinol, dan semua isomer serta semua bentuk stereo kimianya. Delta 9 Tetrahydrocannabinoldan semua bentuk stereo kimianya. Asertofina :3-0-Acetiltetrahidro-7-a-(1-hidroksi-1-metilbutil)-6, 14-endoeteno-oripavina (Mboi, 2014).

2.2.3. Jenis NAPZA yang sering disalah-gunakan 2.2.3.1. Opioida

Opioida dihasilkan dari getah opium poppy yang diolah menjadi morfin, kemudian dengan proses tertentu menghasilkan putau , dimana putau mempunyai kekuatan 10 kali melebihi morfin. Opioid sintetik mempunyai kekuatan 400 kali lebih kuat dari morfin. Opioida atau opiate biasanya digunakan dokter sebagai analgetika kuat berupa pethidin, methadone, talwin, codein dan lain lain.

(7)

Opiate disalahgunakan dengan cara disuntik atau dihisap, dengan nama jalanannya adalah putau, ptw, black heroin, brown sugar. Opiate dibagi dalam 3 golongan besar, yaitu:

2.2.3.1.1. Opiate alamiah: morfin, opium, codein 2.2.3.1.2. Piate semi sintetik: heroin/putau, hidromorfin 2.2.3.1.3. Piate sintetik: meperidin, proposipen, metadon. 2.2.3.2. Kokain

Kokain adalah zat yang adiktif yang sering disalahgunakan dan merupakan zat yang sangat berbahaya.Kokain merupakan alkaloid yang didapatkan dari tanaman belukar erythroxylon coca, yang berasal dari Amerika Selatan, dimana daun dari tanaman belukar ini biasanya dikunyah kunyah-penduduk setempat untuk mendapatkan efek stimulan.Kokain mempunyai 2 bentuk, yaitu kokain hidroklorid dan free base.Nama jalanan darikokain adalah koka, coke, happy dust, charlie, snow/salju, putih(Mboi, 2014).

2.2.3.3. Kanabis

Kanabis (ganja) mengandung delta-9 tetra-hidrokanabinol (THC). Ganja yang dibentuk seperti rokok merupkan tanaman yang sudah dikeringkan dan dirajang , kemudian dilinting seperti tembakau. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah sindrom amotivasional, yaitu sekumpulan gejala yang timbul karena penggunaan ganja dalam jangka waktu yang lama dan dalam jumlah yang banyak sehingga mengakibatkan kemampuan bicara, baca, hitung akan menurun, kemampuan dan keterampilan sosial terhambat, menghindari persoalan bukan mnyelesaikannya, gerak anggota

(8)

badan lambat, perhatian terhadap lingkungan sekitar berkurang sampai tidak bereaksi sama sekali ketika dipanggil, mudah percaya mistik, kurang semangat dalam bersaing dan kurang memikirkan masa depan (Mboi, 2014). 2.2.3.4 Amfetamin

Nama generik amfetamin adalah D-pseudo efinefrin, yang digunakan sebagai dekongestan. Amfetamin terdiri dari 2 jenis yaitu MDMA (Methilene dioxy methamphetamine)/ekstasi dan metamfetamin (sabu-sabu). Penggunaannya melalui oral dalam bentuk pil, kristal yang dibakar dengan menggunakan kertas aluminium foil dan asapnya dihisap atau dibakar dengan menggunakan botol kaca yang dirancang khusus (bong) atau kristal yang dilarutkan disuntikkan melalui intravena (Mboi, 2014).

2.2.3.5 Lysergic acid (LSD)

Lysergic acid biasa didapatkan berbentuk seperti kertas berukuran kotak kecil, sebesar seperempat perangko dalam banyak warna dan gambar, ada juga berbentuk pil, kapsul. Cara penggunaannya dengan meletakkan LSD pada permukaan lidah, dan bereaksi setelah 30-60 menit dan hilang setelah 8-12 jam(Mboi, 2014).

2.2.3.6 Sedatif hipnotik (Benzodiazepine)

Sedatif (obat penenang) hipnotik (obat tidur) yang disalah gunakan adalah benzodiazepam (nitrazepam, flunitrazepam) (Mboi, 2014).

(9)

Inhalan adalah zat yang berbentuk gas dan dapat masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernapasan (paru-paru). Zat tersebut hanya dapat digunakan dengan cara di hirup (Mboi, 2014).

2.2.3.8. Alkohol

Alkohol diperoleh dari proses fermentasi madu, gula, sari buah, atau umbi umbian. Hasil fermentasi ini dapat diperoleh alkohol dengan kadar tidak lebih dari 15%, tetapi dengan proses penyulingan dapat dihasilkan alkohol dengan kadar yang lebih tinggi, bahkan mencapai 100%. Alkohol adalah zat yang banyak dikonsumsi orang melalui minuman (bir 2-5% alkohol, anggur 10-40%, wiski, vodka 40-50% alkohol) (Mboi, 2014).

Berikutdaftar nama narkotika baru yang telah diatur dalam Permenkes No 2/2017 antara lain adalah sebagai berikut:

Jenis Narkoba Turunan Narkotika Efek Samping

Methylone (MDMC) Cathinone Stimulan, halusinogen, insomnia, symphathomimetic

Mephedrone (4-MMC) Cathinone Stimulan, meningkatkan detak jantung, harmful

Pentedrone Cathinone Psychostimulant

4 MEC Cathinone Emphatogenic

MDPV Cathinone Euphoria, stimulan, efek

aphrodisiac, efek emphatogenic Jenis Narkoba Turunan Narkotika Efek Samping

(10)

MDHP Cathinone Psychostimulant

JWH-018 Syntetic

Cannabinoid

Halusinogen, efek cannabinoid, toxic

XLR-11 Syntetic

Cannabinoid

Halusinogen, efek cannabinoid, toxic

DMA

(Dimethylamphetamin)

Phenethylamine Stimulan, efek lebih rendah dari

methamphetamine 5-APB Phenethylamine Stimulan, emphatogenic

6-APB Phenethylamine Euphoria

PMMA Phenethylamine Stimulan, halusinogen, insomnia, symphathomimetic

2C-B Phenethylamine Halusinogen

DOC Phenethylamine Euphoria, archetypal psychedelic

251-NBOME Phenethylamine Stimulan, halusinogen, toxic 25C-NBOME Phenethylamine Stimulan, halusinogen, toxic Tembakau Gorilla (5-fluoro-ADB) Metil 2-{[1- (5fluoropentil)-1H-indazol–3- karbonil]amino}-3,3-dimetilbutanoat Kehilangan Kesadaran,kecanduan, toxic.

Dumolid (Nitrazepam) Benzodiazepin Depresi, Gangguan koordinasi dan berbicara, Bingung atau disorientasi, Gangguan konsentrasi dan memori, Penurunan pada tekanan darah dan frekuensi napas

(11)

Tanda dan gejala yang ditampilkan akibat intoksikasi dan putus zat berbeda beda, tergantung pada zat yang dikonsumsi. Tanda dan gejala dapat dilihat secara langsung, baik tanda tanda fisik ataupun non fisik.

Tanda-tanda non fisik yang biasa ditampakkan dirumah, meliputi: Membangkang terhadap teguran orang tua, tidak mau mempedulikan peraturan keluarga, mulai melupakan tanggung jawab rutinnya di rumah, malas mengurus diri, sering tersinggung dan mudah marah.

Tanda-tanda non fisik yang biasa ditampakkkan di sekolah, meliputi: Prestasi di sekolah tiba-tiba menurun mencolok, membolos sekolah, tidak disiplin, perhatian terhadap lingkungan tidak ada, sering kelihatan mengantuk di sekolah, sering keluar dari kelas pada jam pelajaran dengan alasan ke kamar mandi (Lisa,2013)

2.2.5. Mekanisme Penggunaan NAPZA Dalam Tubuh

Mekanisme kerja obat dalam tubuh merupakan suatu keadaan dimana obat tersebut merangsang susunan saraf pusat untuk bekerja sesuai dengan karakteristik zat yang akan digunakan.Zat yang masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi sinyal penghantar syaraf (sistem neurotransmitter dalam sistem syaraf pusat) yang dapat menggangu fungsi-fungsi antara lain kognitif (pikiran, memori), afektif (alam perasaan) dan psikomotor perilaku (Lisa,2013).

(12)

2.2.6. Faktor-Faktor Penyebab Penyalahgunaan Napza

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penyalahgunaan napza pada seseorang. Berdasarkan pendekatan kesehatan masyarakat, faktor-faktor penyebab timbulnya penyalahgunaan napza terdiri dari:

2.2.6.1 Faktor zat

Tidak semua zat yang digunakan akan memberikan pengaruh yang sama bagi pemakai. Dalam hal ini hanya obat dengan pengaruh farmakologik tertentu yang akan menimbulkan gangguan penyalahgunaan napza, baik yang akan menimbulkan ketergantungan.

2.2.6.2 Faktor Individu

Tiap individu memiliki perbedaan tingkat resiko untuk menyalahgunakan Napza. Faktor yang mempengaruhi individu terdiri dari faktor kepribadian dan faktor konstitusi. Di bawah ini merupakan beberapa alasan yang berasal dari diri sendiri (Lisa, 20013).

2.2.6.3 Faktor Lingkungan Sosial

Faktor lingkungan sosial adalah faktor dimana individu melakukan interaksi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Faktor ini mencakup faktor keluarga dan faktor sosial lainnya, misalnya pada keluarga yang kurang harmonis, lingkungan pergaulan individu, komunikasi orang tua dan anak kurang baik, orang tua yang bercerai atau kawin lagi, orang tua terlampau sibuk, orang tua yang acuh dan otoriter, kurangnya orang yang menjadi teladan dalam hidupnya dan kurangnya beragama (Lisa, 2013).

(13)

2.2.7. Proses Terjadinya Penyalagunaan dan Ketergantungan Napza Proses terjadinya ketergantungan NAPZA dapat dilihat dibawah ini: 2.2.7.1. Abstinence adalah berhenti total menggunakan NAPZA

2.2.7.2. Eksperimental adalah penggunaan NAPZA yang bersifat coba coba, tanpa motivasi tertentu dan hanya didorong oleh perasaan ingin tahu saja.

Ciri khas penggunaan NAPZA untuk penggunaan eksperimental berupa, Frekuensi Penggunaanyang bersifat occasional, biasanya beberapa kali dalam sebulan, pada saat liburan atau berkumpul dengan teman teman.Dari sumber zat, biasanya obat didapat dari teman sebaya.Karena alasan penggunaan seperti rasa ingin tahu, solidaritas, agar diterima oleh kelompok, menginginkan tantangan. Untuk mendapatkan efek yang diinginkan, pengguna akan merasa euphoria dalam jumlah kecil dapat menyebabkan intoksikasi, perasaan yang diinginkan meliputi perasaan senang, diterima, kontrol.Penyalahgunaan Napza adalah penyalahgunaan yang bersifat patologis,dipakai secara rutin (berlangsung selama 1 bulan), terjadi penyimpangan perilaku dan gangguan fisik di lingkungan sosial. Cara mendapatkannya dari teman, mencuri untuk mendapatkan uang untuk membeli zat, menjual zat dan menyimpan sebagian untuk konsumsi sendiri. Demi mendapatkan efek merasa normal kembali dari perasaan sakit, penurunan dalam aktivitas ekstrakurikuler (Sumiati, 2009)

Ketergantungan adalah penggunaan NAPZA yang cukup berat, telah terjadi ketergantungan fisik psikologik yang ditandai oleh adanya toleransi dan sindroma

(14)

putus obat. Ciri khas penggunaan NAPZA untuk ketergantungan yakni: Frekuensi penggunaan setiap hari atau terus menerus. Sumber zat berupa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan zat, mengambil resiko yang serius, sering melakukan tindakan kriminal, seperti merampok dan mencopet. Alasan menggunakan zat seperti membutuhakan zat untuk menghilangkan sakit dan depresi, untuk melarikan diri dari kenyataan, menggunakan karena di luar kontrol. Efek yang dirasakan, pada saat tidak menggunakan zat, klien akan merasa sakit atau tidak nyaman, zat membantu mereka untuk merasa normal, pengguna tidak merasa euphoria pada tahap ini, kemungkinan ada perasaan ingin bunuh diri, merasa bersalah, malu, ditolak, merasa adanya perubahan emosi, seperti depresi, agresif, cepat tersinggung, dan apatis. Ciri-ciri pengguna berupa perubahan fisk, seperti penurunan berat badan, masalah kesehatan, penampilan yang buruk, kemungkinan mengalami hilang ingatan, flash back, paranoid, perubahan mood, dan gangguan mental lainnya. Kemungkinan drop out dari sekolah atau dikeluarkan dari pekerjaan. Sering keluar rumah, kemungkinan over dosis. Tertangkap, terutama pada saat menggunakan zat/ relapse. Ciri khas penggunaan NAPZA untuk relapse:Relapse merupakan keadaan dimana seseorang yang memiliki riwayat penggunaan NAPZA setelah mampu berhenti dalam jangka waktu tertentu kembali menggunakan NAPZA yang bisa disebabkan oleh berbagai faktor (Prabowo, 2014)

2.2.8. Bahaya Penyalahgunaan NAPZA

Bahaya penyalahgunaan NAPZA (BNN, 2009) adalah: Bahaya terhadap diri pemakai berupa merubah kepribadian si pemakai. Merubah perilaku menjadi masa

(15)

bodoh, pemurung, memarah, dan melawan terhadap siapapun. Semangat kerja atau semangat belajar menurun, suatu saat bersikap seperti orang yang mengalami gangguan jiwa. Tidak ragu melanggar norma masyarakat. Tidak segan menyiksa diri untuk menghilangkan rasa nyeri. Bahaya terhadap keluarga berupa: tidak segan mencuri uang dan barang keluarga untuk membeli NAPZA. Tidak sopan dan melawan orang tua. Tidak menghargai harta untuk keluarga (merusak barang). Mencemarkan nama baik keluarga. Bahaya terhadap lingkungan masyarakat. Berbuat tidak senonoh (mesum) dengan orang lain. Mengambil dan mencuri harta milik tetangga atau orang lain. Menggangguketertiban umum. Tidak merasa menyesal apabila melakukan kesalahan atau pelanggaran. Bahaya terhadap bangsa dan negara berupa: rusaknya mental dan fisik generasi muda. Kehilangan rasa patriotisme dan cinta bangsa. Dipengaruhi pihak lain untuk menghancurkan negara (Prabowo, 2014).

2.2.9. Dampak Penyalahgunaan dan Ketergantungan NAPZA

Penggunaan NAPZA dalam jangka waktu yang lama dapat mempengaruhi: Kesehatan membuat organ tubuh yang paling banyak dipengaruhi adalah sistem syaraf pusat yaitu otak dan sumsum tulang belakang, dan organ lain seperti jantung, paru-paru, hati, ginjal dan panca indera.Tetapi sebenarnya penyalahgunaan NAPZA membahayakan seluruh tubuh. Sudah terlalu banyak kasus kematian terjadi akibat pemakaian NAPZA, terutama karena pemakaian berlebih (over dosis) dan kematian AIDS (akibat pemakaian NAPZA melalui jarum suntik bersama dengan orang yang sudah terinfeksi HIV).Pendidikan membuat kebiasaan malas, sering bolos, dikeluarkan dari sekolah.

(16)

Pekerjaanmenimbulkan konflik dengan teman kerja, tidak masuk kantor, pemutusan hubungan kerja (PHK).Ekonomi menimbulkan kerugian materi yang mengakibatkan kemiskinan. Sosial dan psikologis, Ketergantungan pada NAPZA menyebabkan orang tidak lagi dapat berpikir dan berperilaku normal. Perasaan, pikiran, dan perilakunya dipengaruhi oleh zat yang dipakainya. Hukum, misalnya terlibat kasus-kasus pencurian, perampokan atau pembunuhan (Prabowo,2014). 2.2.10. Upaya Penanggulangan Masalah NAPZA

Upaya penanggulangan masalah NAPZA bertujuan untuk menghentikan samasekali (abstinensia), mengurangi frekuensi/keparahan relapse, memperbaiki fungsi psikologi dan adaptasi sosial.

2.2.10.1. Preventif

Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan cara:Latihan afirmasi, misalnya mengatakan kepada diri sendiri “Say no to drugs”, tak pernah mencoba walaupun hanya 1 kali.Menolak ajakan (negosiasi) teman, seperti:Menolak ajakan yang tidak bermanfaat (mabuk, nonton film porno). Menolak ajakan yang jelas merugikan dan melanggar kesopanan. Menolak ajakan untuk melakukan perbuatan yang menakutkan atau mencurigakan (mengedarkan NAPZA). Menolak pengaruh atau ajakan teman tidak harus dilakukan kasar atau marah, tetapi dapat dilakukan dengan halus dan sopan, tetapi, tegas dan dengan alasan yang masuk akal. Dengan cara yang baik tetapi tegas (asertif), teman yang mengajak dapat mengerti dan akan berhenti merayu atau memaksa.Deteksi dini atau pengenalan sedini mungkin ciri-ciri : Pengguna NAPZA, sikapnya suka bohong, mencuri, sering berkelahi. Didalam

(17)

keluarga seperti kurang memberi perhatian, komunikasi tidak baik. Penyebaran informasi melalui media massa, misalnya iklan. Pendidikan efektif, misalnya terampil menyelesaikan masalah secara konstruktif. Pemberian alternatif, misalnya mengadakan aktifitas dan memberi kesempatan mengembangkan diri dalam aktifitas tersebut. Latihan ketahanan sosial, misalnya meningkatkan pertahanan diri, menolak, membuat permintaan untuk berdiskusi dengan orang lain.Peningkatan kemampuan, misalnya menyelesaikan masalahnya dan mengendalikan diri.

2.2.10.2. Kuratif

Pengobatan dapat dilakukan dengan cara:Detoksikasi bertujuan untuk mengurangi gejala putus zat, membantu klien terhindar dari pengobatan sendiri dangan zat ilegal, mempersiapkanuntuk program lanjutan (maintenance/rehabilitasi).Maintenance (pemeliharaan), klien diberikan substitusi setelah detoksifikasi untuk jangka panjang, misalnya dengan naltrekson, bufrenorfin atau metadon.Terapi psikososial seperti konseling (termasuk komunikasi teraupetik), psikotropika, terapi kelompok, terapi keluarga dan terapi lingkungan. Termasuk juga pemberian pendidikan, misalnya agama.

2.2.10.3. Berbagai modalitas terapi dan pendekatan

Therapeutic Community –TC Model, model ini merujuk pada keyakinan bahwa gangguan penggunaan Napza adalah gangguan pada seseorang secara menyeluruh. Dalam hal ini norma-norma perilaku diterapkan secara nyata dan ketat yang diyakinkan dan diperkuat dengan memeberikan reward dan sangsi

(18)

yang spesifik secara langsung untuk mengembangkan kemampuan mengontrol diri dan sosial/komunitas.

Model Medik, model ini berbasis pada biologik dan genetik atau fisiologik sebagai penyebab adiksi yang membutuhkan pengobatan dokter dan memerlukan farmakoterapi untuk menurunkan gejala serta perubahan perilaku. Program ini dirancang berbasis rumah sakit dengan program rawat inap sampai kondisi bebas dari rawat inap atau kembali ke fasilitas di masyarakat.

Model Minnesota, dikembangkan dari Hazelden Foundation dan Johnson Institute. Model ini fokus pada abstinen atau bebas Napza sebagai tujuan utama pengobatan. Model Minesota menggunakan program selama tiga sampai enam minggu rawat inap dengan lanjutan aftercare, termasuk mengikuti program self care group(Alcohol Anonymous or Narcotics Anonymous).

Model Ekletik, menerapkan pendekatan secara holistik dalam program rehabilitasi. Pendekatan spiritual dan kognitif melalui penerapan program 12 langkah merupakan pelengkap program TC yang menggunakan pendekatan perilaku, hal ini sesuai dengan jumlah dan variasi masalah yang ada pada setiap pasien adiksi.

Model Multi Disiplin, merupakan pendekatan yang lebih komprehensif dengan menggunakan komponen disiplin yang terkait termasuk reintegrasi dan kolaborasi dengan keluarga dan pasien.

Model Tradisional, tergantung pada kondisi setempatdan terinspirasi dari hal-hal praktis dan keyakinan yang selama ini sudah dijalankan. Komponen dasar terdiri dari: medikasi, pengobatan alternatif, ritual dan keyakinan yang dimiliki

(19)

oleh sistem lokal contoh: pondok pesantren, pengobatan tradisional/herbal (www.kepmen-kes-no420 tahun 2016).

Faith Based Model, sama dengan model tradisional hanya pengobatan tidak menggunakan farmakoterapi.

2.2.10.4. Panduan program rehabilitasi Napza

Komponen panduan program rehabilitasi napza yakni: Medik/klinis-menyediakan layanan medis/psikiatris secara profesional pada tempat dan saat diperlukan serta mampu untuk menentukan baik kondisi fisik maupun psikologis pasien. Merencanakan diet nutrisi/gizi yang dibutuhkan pasien. Melakukan pemeriksaan HIV, Hepatitis B/C dan IMS serta melakukan tindakan yang sesuai termasuk VCT (Voluntar, Counseling and Testing) dan PITC (Provider Initiated Testing and Counseling). Menyediakan pendidikan agama dan mendorong pasien untuk melaksanakan kegiatan ibadah sesuai kepercayaan mereka. Layanan/Terapi Keluarga untuk mendorong pasien yang menolak masuk ke dalam program pengobatan dan juga memelihara dukungan kepada pasien dalam proses pemulihan. Mengajarkan pasien untuk mengenali situasi dengan risiko tinggi dan pencetus yang mungkin menyebabkan menggunakan napza kembali, untuk mengembangkan strategi kemampuan menghadapi tekanan dari luar dan belajar untuk mengelola situasi slip (Kepmenkes, 2016).

Aftercare, suatu lanjutan dari layanan perawatan seperti dukungan kepada kelompok pemulihan, konseling, latihan keterampilan hidup, penempatan kerja, rujukan dan layanan lain sesuai kebutuhan pasien. Memberikan

(20)

hubungan terapeutik antara pasien yang membutuhkan bantuan dengan konselor (konseling). Membantu pasien dalam kebutuhan bantuan hukum. Mengajarkan untuk mampu bersosialisasi dan keterampilan bekerja untuk pasien sesuai minat dan kompetensi (terapi vokasional). Mengembangkan keterampilan sosial untuk berkomunikasi lebih baik (latihan keterampilan hidup). Melanjutkan pendidikan formal yang relevan dengan kemampuan pasien, meningkatkan pengetahuan tentang konsekuensi gaya hidup berisiko dan lain-lain (Kepmenkes, 2016).

Program rehabilitasi yang dijalankan pada yayasan Kahapi berlangsung selama enam bulan. Berupa program detoksifikasi berlangsung selama 7-10 hari. Program konseling berlangsung sekali dalam seminggu selama 1 jam diruang konseling. Terapi kelompok berlangsung 2x1 minggu selama 30 menit. Program pendidikan dan latihan berlangsung selama 2x1 minggu selama 1 jam. Program rekreasi berlangsung sekali setahun selama tujuh hari di tempat tempat indah. Program psikologis sekali seminggu selama satu jam. Program Vokasional dilakukan setiap hari selam 1 jam. Program pelayanan sosial berupa kegiatan gotong royong dan musyawarah sekali seminggu.

Figur

Tabel 2.1. Daftar nama narkotika terbaru dalam Permenkes No 2/2017

Tabel 2.1.

Daftar nama narkotika terbaru dalam Permenkes No 2/2017 p.10

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :