4.1 Keadaan Geografis, Topografi dan Klimatologi
Kabupaten Raja Ampat merupakan kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Sorong berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002. Kabupaten ini terdiri atas gugusan pulau besar dan kecil berjumlah 610 buah pulau dengan luas wilayah mencapai 46.108.km2. Dari jumlah tersebut tidak semua pulau-pulau di wilayah ini berpenghuni. Secara geografis hamparan pulau-pulau tersebut terletak pada posisi 00,33” LU – 01 LS dan 124 30,00”BT. Adapun batas- atas wilayah sebagai berikut :
(1) Sebelah utara berbatasan dengan Negara Palau; (2) Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Seram; (3) Sebelah timur berbatasan dengan Kab.Sorong; dan (4) Sebelah barat berbatasan dengan Provinsi Maluku Utara.
Gugusan kepulauan yang berbatasan langsung dengan Negara Palau di Samudra Pasifik dikenal dengan sebutan Kepulauan Ayau. Kepulauan Ayau terdiri atas 5 distrik, yaitu (1) Distrik Dorekhar, (2) Distrik Meosbekwan, (3) Distrik Yenkawir, (4) Distrik Reni dan (5) Distrik Rutum. Dari kelima distrik tersebut, Distrik Dorekhar memiliki wilayah yang paling luas mencapai 265,2 ha, sedangkan distrik yang wilayahnya paling sempit adalah Distrik Rutum dengan luas wilayah hanya 5,42 ha.
Dilihat dari topografinya, wilayah Kepulauan Ayau merupakan daerah pesisir dengan pantai yang landai dan daerah perbukitan batu yang umumnya digunakan oleh penduduk setempat untuk berkebun. Kondisi tanah di wilayah ini umumnya tanah berongga dan tanah berpasir sehingga tanaman yang dapat tumbuh subur hanyalah tanaman keras seperti kelapa dan sukun. Dengan keterbatasan luas wilayah yang dapat ditanami dengan tumbuhan sebagian penduduk ada yang berinisiatif untuk mengangkut tanah dari bukit yang kemudian diletakkan di ember atau baskom sehingga menjadi wadah tempat menanam berbagai tanaman rempah untuk keperluan masak.
Kepulauan Ayau pada umumnya terletak di garis katulistiwa sehingga daerah ini merupakan daerah tropis dengan udara yang sangat panas serta curah hujan yang cukup tinggi. Iklim daerah ini dipengaruhi oleh lima musim, yang terjadi selama satu sampai empat bulan tiap musimnya. Musim angin
selatan (warn brawe) terjadi pada bulan Juli hingga Agustus. Setelah musim tersebut berlalu dilanjutkan dengan musim angin barat laut selama 4 bulan hingga Desember. Masih pada bulan Desember terjadi musim barat yang berlangsung hanya 8 hari. Pada bulan Januari-Maret angin bertiup dari arah utara sehingga oleh masyarakat sekitar mengenal dengan musim angin utara (wam sios ). Setelah periode angin utara berakhir dilanjutkan dengan musim angin timur (wam urem) yang berlangsung pada bulan April-Juni.
4.2 Kependudukan
Penduduk Kepulauan Ayau pada umumnya berasal dari Kepulauan Biak yang datang secara bertahap ke beberapa pulau yang berada disekitarnya; termasuk Kepulauan Ayau yang termasuk wilayah Administrasi Kabupaten Raja Ampat. Berdasarkan hasil kajian sejarah yang diperoleh, penyebab utama migrasi penduduk Kepulauan Biak ke Ayau disebabkan berkecamuknya perang suku di daerah Biak yang menyebabkan tatanan kehidupan menjadi kurang kondusif. Gerakan penduduk yang pertama masuk Kepulauan Ayau merupakan gelombang ke tiga dari empat gelombang migran biak yang masuk ke Kepulauan Raja Ampat. Imigran yang bermukim di Kepulauan Ayau termasuk dalam kelompok Usba.
Pada perkembangan selanjutnya ada dua alasan terjadinya mobilitas penduduk ke Kepulauan Ayau. Pertama, alasan tugas kedinasan yang mengharuskan mereka pindah ke wilayah ini. Kedua, adanya hubungan perkawinan yang secara adat mengharuskan istri masuk ke kelompok suami.
Akhir-akhir ini, mobilitas penduduk Kepulauan Ayau yang keluar cenderung mengalami peningkatan. Tujuan utama perpindahan ini adalah melanjutkan pendidikan di Kota Sorong atau kota-kota lain di Indonesia. Pada umumnya, setelah menyelesaikan pendidikan formal tidak kembali ke daerah asal dengan alasan tuntutan pekerjaan.
Mayoritas penduduk di Kepulauan Ayau bermata pencaharian sebagai nelayan dan beberapa diantaranya PNS dengan profesi sebagai guru dan pegawai kantor desa. Walaupun sebagai PNS, pekerjaan sampingan mereka adalah sebagai nelayan.
Pada tahun 2002, jumlah penduduk di kelima distrik tersebut adalah 2.299 jiwa. Penduduk terbanyak bermukim di Distrik Dorekhar sedangkan yang paling sedikit bermukim di Distrik Meosbekwan. Komposisi penduduk didominasi penduduk yang berjenis kelamin laki-laki sebesar 62 % (Tabel 8).
Tabel 8. Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di Kepulauan Ayau
No Distrik Jumlah
KK
Pria Wanita Jumlah
1. Yenkawir 45 130 112 240 2. Reni 75 190 150 340 3. Rutum 115 286 304 590 4. Meosbekwan 46 108 102 210 5. Dorekhar 230 790 679 1 469 Jumlah 511 1 504 1 309 2 299
Sumber : Sinar Sakti Nusaraya, 2002
4.3 Kelembagaan Sosial, Ekonomi dan Budaya
Pada saat ini kelembagaan yang masih berfungsi untuk masyarakat Kepulauan Ayau hanya kelembagaan gereja dan kelembagaan adat sedangkan kelembagaan yang didisain oleh pemerintah-pemerintah seperti lembaga desa atau PKK sudah tidak berjalan dengan semestinya.
Keadaan ini tercermin dari kondisi fisik gedung yang buruk serta kegiatan administratif yang sudah tidak berjalan. Dampak dari kondisi tersebut adalah tidak terdatanya kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan peran dan fungsi kelembagaan. Salah satu gambaran yang dapat diberikan adalah lebih sulitnya memperoleh data kependudukan di lembaga pemerintah dibandingkan dari lembaga gereja maupun lembaga-lembaga adat
Dari tiga lembaga yang dianggap sebagai motor penggerak di masyarakat desa, yaitu sosial, budaya dan ekonomi, hanya lembaga sosial dan budaya yang berfungsi di Kepulauan Ayau. Lembaga sosial dan budaya dapat dianggap sebagai suatu kesatuan karena dalam konteks pelaksanaan aktivitas berjalan bersama-sama.
1) Lembaga gereja
Lembaga gereja di Pulau Ayau berada bawah organisasi Gereja Kristen Injil. Organisasi ini didirikan sekitar tahun 1934. Secara struktural, gereja ini berada dibawah klasis GKI-Sorong sehingga pendeta didatangkan khusus dari Sorong untuk memberikan bimbingan kepada umat pada acara-acara tertentu.
Aktivitas harian gereja dipimpin oleh ketua dan wakil ketua serta diikuti oleh kelompok anggota gereja. Pengelompokan anggota gereja didasarkan pada kelompok umur ataupun kesaman keret atau marga.
Keberadaan kelompok-kelompok gereja ini menunjukkan hal positif bagi persatuan masyarakat, karena keputusan-keputusan yang ada akan dikaitkan dengan kenyataan masyarakat. Jika terjadi perselisihan antar masyarakat, antar
keret atau desa maka permasalahan tersebut akan diselesaikan oleh gereja.
Oleh karena itu, keberadaan kelompok gereja ini dapat dianggap sebagai akses yang cukup signifikan untuk pengembangan program masyarakat yang berkaitan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial, dan pengembangan ekonomi.
Salah satu contoh aplikasi peran lembaga gereja dalam pengelolaan sumberdaya alam adalah sasi atau yang dalam bahasa lokal disebut kabus. . Penetapan dan penggunaan sasi di Kepulauan Ayau serupa dengan sasi yang diterapkan masyarakat di Maluku. Sasi diterapkan dengan tujuan agar pemanfaatan potensi alam dapat dilakukan secara berkelanjutan. Sasi merupakan aturan dan strategi sosial untuk mengelola lingkungan secara efektif, guna memastikan:
(1) Kesempatan yang adil dan sama bagi masyarakat lokal untuk mendapatkan hasil dan manfaat dari kawasan laut dan darat yang dijaga;
(2) Kesinambungan pengelolaan sumber daya yang tersedia;
(3) Kesempatan yang sama bagi masyarakat lokal untuk memperoleh mamfaat tambahan dari biota laut.
Dalam sasi dikenal istilah buka dan tutup sasi. Tutup sasi adalah pelarangan mengambil/mengeksploitasi sumber daya yang di sasi selama kurung waktu tertentu. Buka sasi adalah masa untuk mengambil/mengeksploitasi sumber daya yang di sasi secara bersama. Hasil ini digunakan untuk keperluan bersama.
Ada dua macam sasi, yaitu sasi adat dan sasi gereja. Sasi adat adalah sasi yang dibuat oleh kelompok adat, sedangkan sasi gereja adalah sasi yang disahkan oleh gereja. Menurut seorang nara sumber saat ini sasi adat sudah tidak dipergunakan lagi, karena tidak ada sanksi yang mengikat. Jenis sasi yang masih bertahan hingga saat ini hanyalah sasi gereja.
2) Lembaga Kerabat “Keret”
Keret yang dalam bahasa umum disebut marga, merupakan suatu
kelembagaan sosial yang mempunyai peran yang cukup besar dalam mengatur kehidupan anggotanya. Bahkan secara luas, keret turut berperan dalam pengaturan masyarakat desa, terutama aturan-aturan yang berkaitan dengan hubungan antar masyarakat. Penentuan hak ulayat terhadap tanah dan laut merupakan salah satu contoh wewenang keret dalam masyarakat. Dalam pemanfaatan lahan, setiap anggota keret mempunyai hak yang sama, namun tidak diperbolehkan memilikinya. Sedangkan dalam perkawinan, keret mempunyai peran yang penting mengingat sistem perkawinan yang berlaku adalah eksogam yaitu incest untuk melakukan perkawinan dalam satu keret.
Kelembagaan keret ini, selain mengatur anggota dalam penggunaan lahan, hasil laut, hubungan kekerabatan dalam perkawinan, dapat juga dimanfaatkan untuk pensosialisasian program yang masuk desa ini. Melalui kelompok keret akan lebih mudah mengumpulkan masyarakat, karena akan mengikuti anjuran ketua, yang biasanya adalah orang tertua atau yang dituakan dalam kelompok. Keuntungan lain dari eksistensi kelembagaan keret adalah kemampuan meredam konflik sosial yang mungkin terjadi karena adanya hubungan antar
keret karena perkawinan. Sifat hubungan ini meniciptakan hubungan kerabat
baru yang harus saling menjaga keharmonisan.
4.4 Sarana-Prasarana dan Aksesibilitas 1) Transportasi
Letak Kepulauan Ayau yang ada di tengah laut menjadikan kapal dan perahu sebagai moda transportasi utama di wilayah tersebut. Untuk mencapai Kota Sorong yang berjarak 130 mil laut diperlukan waktu 8-9 jam perjalanan dengan menggunakan kapal motor 40 PK.
Sarana transportasi dari kampung ke Ibukota kecamatan atau ibukota Kabupaten sangat minim. Pada saat ini tidak ada angkutan laut yang secara reguler melayani penduduk. Akibat kelangkaan sarana transportasi tersebut penduduk secara turun-temurun mengusahakan kapal angkutan secara kolektif. Kapal tersebut terutama digunakan untuk keperluan perdagangan.
Antara tahun 1990 sampai 1999 ada kapal perintis yang dimiliki perusahaan swasta beroperasi melayani pengangkutan penumpang dan barang
ke Sorong. Pada saat itu masyarakat kampung merasa sangat terbantu dengan beroperasinya kapal tersebut, meskipun pelayaran hanya diadakan dua kali dalam sebulan. Setelah kapal perintis tersebut tidak beroperasi lagi, penduduk secara bergotong-royong kembali mengusahakan kapal dengan kapasitas 20-30 orang dan 3 ton barang dengan mesin berkekuatan 40 PK. Paling sedikit sebulan sekali kapal tersebut digunakan oleh penduduk pergi ke Sorong untuk kepentingan perdagangan.
2) Kesehatan
Seperti halnya sarana trasportasi, kondisi sarana dan prasarana kesehatan yang ada di Kepulauan Ayau sangat terbatas. Puskesmas hanya dapat ditemui di Distrik Dorekhar. Kondisi puskesmas pembantu yang serba terbatas baik peralatan maupun obat-obatan sangat menyulitkan penduduk untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai. Kondisi ini diperparah oleh tidak adanya transportasi khusus untuk mencapai rumah sakit atau puskesmas di kota distrik sehingga biaya yang dibutuhkan menjadi sangat besar.
Untuk melayani kepentingan kesehatan masyarakat pulau, pengelolaan puskesmas hanya diserahkan pada seorang Mantri. Petugas kesehatan lainnya adalah dukun terlatih yang khusus bertugas membantu ibu-ibu hamil sampai masa kelahiran. Disamping Puskesmas, masyarakat juga mempunyai kegiatan posyandu meski tidak dapat berjalan sesuai jadwal yang direncanakan.
3) Agama
Sarana ibadah yang dapat ditemui di wilayah Kepulauan Ayau adalah gereja yang berada di pusat desa. Bangunan gereja ada dua, yaitu bangunan lama dan bangunan baru. Bangunan lama telah ada sejak pekabaran injil masuk ke Pulau Ayau, namun karena dianggap sudah tidak layak maka dibangun gereja baru sekitar tahun 2001. Pembangunan gereja didanai oleh YKI Silo dan sumbangan penduduk serta pengumpul ikan.
Struktur pengurus gereja terdiri atas ketua dan wakil ketua yang berwenang untuk pengaturan kegiatan gereja dan jemaatnya. Selain kegiatan ibadah yang berlangsung setiap minggu, gereja juga melaksanakan sekolah minggu bagi anak-anak sampai tingkat remaja. Sesuai dengan jumlah keret yang ada, dibentuk pula lima perkumpulan ibadah yang mempunyai kegiatan sembahyang dan doa setiap minggu. Perkumpulan ini berfungsi juga sebagai wadah untuk membantu anggota yang mempunyai hajat.
Dalam perkembangannya, kegiatan keagamaan juga merupakan sarana untuk berkumpulnya bapak-bapak, ibu-ibu, dan remaja. Setiap penduduk menjadi anggota berdasarkan kategori golongan/kelompok umur, seperti PWGKI (Persekutuan Wanita Gereja Kristen Injili), PAMGKI (Persektuan Angkatan Muda Gereja Kristen Injili), PKBGKI (Persekutuan Kaum Bapak Gereja Kristen Injili), PARGKI (Persekutuan Anak dan Remaja Gereja Kristen Injili). Kegiatan yang dilakukan oleh berbagai persekutuan di atas berkaitan dengan aktivitas keagamaan dan moral bagi remaja dan kadang-kadang diikuti dengan aktivitas sosial atau sosialisasi program pemerintah untuk masyarakat.
4) Ekonomi
Kegiatan ekonomi masyarakat Kepulauan Ayau sebahagian besar terkonsentrasi pada kegiatan perikanan. Kegiatan ekonomi seperti perdagangan hanya bersifat sampingan untuk menunjang kebutuhan rumah tangga. Terbatasnya gerak ekonomi masyarakat tercermin dari keterbatasan sarana dan prasarana ekonomi di wilayah tersebut sehingga mempengaruhi aksesibilitas masyarakat terhadap sarana ekonomi. Sarana dan prasarana yang berkaitan dengan perikanan hanyalah dermaga tambat yang dikelola pengusaha asal Sorong. Fasilitas ekonomi seperti pasar atau tempat pelelangan ikan bahkan belum tersedia.
Sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan perdagangan tidak berdiri secara khusus dalam bentuk toko ataupun warung. Aktivitas jual-beli dilakukan dalam rumah yang lokasinya hanya diketahui penduduk desa. Jenis barang yang diperdagangkan di “warung” sangat bervariasi mulai kebutuhan rumah tangga, sekolah sampai keperluan melaut.
5) Pendidikan
Fasilitas pendidikan yang ada di Kepulauan Ayau hanya tersedia sampai tingkatan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, masyarakat harus pergi ke Distrik Waigeo Selatan ataupun Kota Sorong.
Jumlah Sekolah Dasar di wilayah ini hanya 5 buah, dan berada di masing-masing pulau. Pengelolaan sekolah dasar tersebut umumnya dikendalikan oleh Yayasan. Rata-rata tiap kelas dihuni oleh sekitar 7-10 orang murid. Pada tahun 1999 didirikan SLTP 2 Waigeo Utara yang berlokasi di Distrik Dorekhar. Pendirian sekolah ini utamanya untuk menampung anak-anak wilayah
Kepulauan Ayau setelah tamat sekolah dasar. Keberadaan SLTP di wilayah ini merupakan akses yang sangat penting bagi penyebaran informasi bagi generasi muda.
4.5 Kondisi Sumberdaya Alam di Darat
Dibandingkan dengan sumberdaya alam yang berada di laut, Sumberdaya alam di darat tersedia dalam jumlah yang sangat minim. Jenis flora maupun fauna yang dapat hidup di wilayah ini tidak beragam. Jenis tumbuhan hanya terdapat di perkebunan dan pekarangan. Perkebunan umumnya terletak di daerah pegunungan dengan komoditas utama adalah kelapa dan sukun. Hasil tanaman kelapa maupun sukun hanya dikonsumsi oleh penduduk setempat, dan sangat jarang dipasarkan ke Kota Sorong. Hal ini disebabkan jarak daerah pemasaran yang sangat jauh serta sulitnya mendapatkan sarana transportasi sehingga berdampak pada fisibilitas usaha pemasaran hasil bumi yang cukup rendah. Pengecualian pada hasil olahan kelapa yang telah dijadikan minyak dengan teknologi sederhana sering dipasarkan ke Kota Sorong.
Jenis tumbuhan lainnya seperti pepaya, singkong, talas, sukun, pisang, tebu dan jeruk nipis bukan merupakan komoditas utama yang ditanam masyarakat Kepulauan Ayau. Tumbuhan ini hanya sebagai tanaman pekarangan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Keterbatasan sumberdaya di darat yang dapat digunakan memenuhi kebutuhan primer menyebabkan bahan pangan seperti sagu dan beras harus didatangkan dari pulau besar (Pulau Waigeo) maupun dari Kota Sorong.
Tumbuhan spesifik yang banyak terdapat di Kepulauan Ayau adalah akar
bore. Oleh penduduk Ayau, tumbuhan ini digunakan sebagai bahan untuk
membius saat menangkap napoleon (C. undulatus), kerapu (Epinephelus sp) dan lobster. Menurut penduduk setempat cara penangkapan ikan dengan menggunakan akar bore telah dilakukan sejak zaman dahulu, namun tidak diketahui secara pasti awal penggunaan akar bore untuk menangkap ikan.
Seperti halnya flora yang ada di Kepulauan Ayau, kondisi fauna di darat baik fauna yang spesifik maupun jenis binatang peliharaan tidak beragam. Fauna spesifik adalah beberapa jenis burung kakatua dan burung nuri serta kokus. Kokus adalah binatang yang menyerupai koala, berbulu lembut dan halus serta hidup di pepohonan. Ternak yang biasa dipelihara oleh sebahagian penduduk adalah babi, namun tidak dalam jumlah yang besar. Binatang ini
ditempatkan pada kandang di sepanjang pesisir pantai di depan rumah. Ternak lain yang juga dipelihara oleh penduduk adalah ayam, tetapi juga dalam jumlah terbatas.
4.6 Keadaan Umum Perikanan Kepulauan Ayau 4.6.1 Potensi Sumberdaya Perikanan
Kondisi topografi wilayah yang dikelilingi laut menjadikan wilayah Kepulauan Ayau memiliki sumberdaya laut yang relatif besar. Mayoritas penduduk di Kepulauan Ayau menggantungkan hidupnya pada sumberdaya laut khususnya kegiatan penangkapan ikan, walaupun kegiatan pariwisata bahari memiliki prospek untuk dikembangkan.
Jenis sumberdaya laut yang dihasilkan oleh nelayan Ayau dapat dibedakan menjadi 3 ketegori, yaitu ikan karang, ikan pelagis dan sumberdaya selain ikan. Jenis ikan pelagis yang banyak ditangkap oleh nelayan diantaranya lencam (Gulita), bobara (Kuwi), belanak (Mugil cephalus), kulit pasir (Uma), ikan samandar (Inwones). Adapun sumberdaya lain selain ikan yang banyak diusahakan adalah lobster, cacing laut, kerang-kerangan, teripang dan gurita. Penjelasan mengenai komoditas ikan karang dapat dilihat pada Bab 5.
Potensi sumberdaya perairan di kepulauan ayau tidak terbatas pada berbagai komoditas seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Sumberdaya laut lainnya yang banyak diproduksi oleh penduduk adalah cacing tanah, pia-pia dan rumput laut. Budidaya rumput laut di Kepulauan Ayau mulai dilakukan pada tahun 1999. Hanya saja aktivitas ini di beberapa distrik kurang memberikan hasil yang memuaskan baik mutu maupun kuantitasnya, kecuali rumput laut yang dibudidayakan di Distrik Yenkawir . Hal ini terjadi karena kondisi perairan yang kurang sesuai dan kurang tekunnya masyarakat dalam memelihara rumput laut.
Produksi sumberdaya laut, khususnya ikan sangat dipengaruhi musim. Pada saat musim puncak yang berlangsung pada bulan September sampai Desember. Hasil tangkapan nelayan pada periode tersebut dapat meningkat sekitar 200% dari keadaan normal. Pada bulan-bulan tersebut nelayan berusaha keras untuk mendapatkan ikan lebih banyak, yang hasilnya digunakan untuk masa paceklik. Periodisasi penangkapan ikan di Kepulauan Ayau dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 9. Periodisasi penangkapan ikan di wilayah Kepulauan Ayau
Musim Bulan Keterangan
Angin Selatan (Wam brawe) Juli- Agustus
Dapat melaut, hasil tidak banyak karena masih ada pengaruh angin timur
Angin Barat Laut (WAm barek) September-Desember
Musim banyak ikan yang diawali pada akhir bulan September
Angin Barat (Wam meres) Desember Ikan mulai sulit diperoleh Angin Utara (Wam sios) Januari-Maret Ikan Sulit diperoleh
Angin Timur (Wam urem) April-Juni
Angin sangat keras, perolehan ikan sedikit bahkan tidak dapat melaut
4.6.2 Metode Penangkapan Ikan
Potensi sumberdaya laut Kepulauan Ayau yang didominasi komoditas ikan karang berpengaruh terhadap variasi metode penangkapan yang digunakan oleh nelayan. Ada sembilan metode penangkapan yang umumnya digunakan oleh nelayan di Kepulauan Ayau, yaitu (1) potasium, (2) akar bore, (3) pancing ulur, (4) pancing tonda, (5) bubu, (6) jaring insang (7) senapan ikan, (8) jerat dan (9) tombak. Dari keseluruhan jenis alat tangkap tersebut hanya jerat dan tombak yang tidak digunakan oleh nelayan sekitar untuk menangkap ikan karang. Berikut penjelasan teknologi penangkapan ikan yang digunakan oleh nelayan di Kepulauan Ayau untuk menangkap komoditas selain ikan karang. Penjelasan tentang ikan karang disajikan pada Bab 5.
1) Jerat
Jenis alat tangkap ini spesifik digunakan nelayan untuk menangkap lobster. Dalam istilah lokal alat ini sering disebut denm amos. Dalam sistem klasifikasi alat tangkap, jerat dapat digolongkan ke dalam kelompok perangkap.
Konstruksi alat ini sangat sederhana, hanya terdiri atas penjerat dan pegangan (Gambar 3). Penjerat terbuat dari tali yang kuat namun lentur. Biasanya nelayan menggunakan nylon (PA) no 200-400 sebagai bahan penjerat. Panjang nylon yang digunakan untuk satu unit penjerat berkisar antara 40-60 cm. Tali penjerat direkayasa agar dapat diulur dan dikerutkan. Sifat penjerat yang dapat bergerak secara fleksibel dimaksudkan untuk menjerat badan lobster saat gagang ditarik. Material gagang yang digunakan relatif bervariasi tergantung ketersediaan bahan. Berdasarkan pengamatan di lapangan jenis material yang
paling banyak digunakan nelayan sebagai gagang adalah bambu dan ranting mangrove (Rhyzophora sp) .
Teknik pengoperasian jerat relatif sederhana. Kegiatan penangkapan dimulai dengan pencarian lobster di perairan. Proses pencarian dilakukan dengan cara menyelam tanpa menggunakan kompresor. Kegiatan penangkapan lobster umumnya dilakukan pada pagi hingga sore hari, yaitu pukul 08.00-17.00 WITA. Untuk mensukseskan kegiatan penangkapan lobster digunakan alat bantu berupa kaca molo. Alat ini berfungsi melindungi mata nelayan agar dapat melihat dengan jelas di dalam air.
Operasi penangkapan lobster dengan jerat dimulai dengan pencarian keberadaan lobster di perairan. Tidak ada indikator baku yang digunakan oleh nelayan untuk menemukan keberadaan lobster. Nelayan biasanya melakukan pencaharian disekitar wilayah karang atau yang bersembunyi di balik karang. Saat keberadaan lobster telah diketahui, alat tangkap akan diseret sampai setengah badan lobster masuk ke tali penjerat. Setelah proses tersebut sukses dilakukan, gagang penjerat ditarik dengan cepat. Lobster yang tertangkap selanjutnya ditaruh dalam kotak yang terbuat dari fibreglass kapasitas 180 liter yang telah diisi air laut agar lobster dapat bertahan hidup.
Kegiatan penangkapan lobster umumnya dilakukan oleh 1-2 orang nelayan. Sarana yang digunakan nelayan untuk melakukan penangkapan adalah perahu kayu tanpa motor. Sering pula ditemukan adanya nelayan yang melakukan penangkapan secara berkelompok sebanyak 45 orang. Nelayan -nelayan tersebut umumnya melakukan penangkapan selama 5-6 hari dengan menggunakan perahu motor Jonson 15 PK berdimensi panjang 13-15 m, lebar 2-2,5 m dan dalam 1,25-2 m.
2) Tombak
Jenis tombak yang digunakan nelayan di Ayau dapat dibagi menjadi dua yaitu, arsyam dan aria. Alat-alat ini digunakan khusus untuk menangkap cacing laut dan gurita. Dilihat dari segi konstruksinya, arsyam dapat dikelompokkan alat tangkap lain-lain dalam sistem klasifikasi alat tangkap di Indonesia. Aria dalam sistem klasifikasi Indonesia termasuk dalam kelompok alat pengumpul kerang dan rumput laut (Gambar 4).
Kedua jenis alat tangkap yang disebutkan di atas umumnya dioperasikan oleh wanita. Operator alat tangkap yang didominasi wanita disebabkan relatif mudahnya menangkap cacing laut dan gurita. Baik cacing laut maupun gurita dengan mudah ditangkap pada saat air surut di tepi pantai.
Aria terbuat dari batang kayu yang pada ujungnya dibentuk celah yang
berfungsi sebagai penjepit. Pengoperasian alat ini dilakukan dengan cara menekan pasir sampai cacing terjepit pada bagian ujung alat. Arsyam terbuat dari kawat berjumlah 3-4 buah. Pada bagian ujung arsyam dibuat semacam kait. Pengoperasian arsyam serupa dengan pengoperasian tombak, yaitu menancapkan ujung alat pada bagian tubuh gurita.
Keterangan: A. Arsyam B. Aria
Gambar 4. Konstruksi tombak yang digunakan nelayan di Kepulauan Ayau
4.6.3 Penanganan dan Pengolahan Pascapanen
Penanganan hasil tangkapan dilakukan terhadap komoditas yang akan dipasarkan dalam bentuk hidup, sedangkan pengolahan pasca panen diperuntukkan untuk komoditas yang membutuhkan perlakuan tertentu sebelum dipasarkan.
Jenis ikan karang seperti napoleon (C. Undulatus), kerapu (Epinephelus
sp) maupun lobster umumnya dijual dalam kondisi hidup. Komoditas yang akan
A
diperdagangkan dalam bentuk hidup terlebih dahulu dikumpulkan di dalam keramba yang berlokasi di tengah laut sebelum dipasarkan.
Proses pengolahan komoditas pasca panen yang dilakukan di Kepulauan Ayau masih tergolong tradisional. Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh wanita/istri-istri nelayan Ada tiga kegiatan pasca panen yang dilakukan di Ayau, yaitu pengasinan, pengasapan dan pengeringan.
Bahan baku yang digunakan dalam proses pengolahan pasca panen biasanya merupakan sisa-sisa tangkapan yang tidak habis dikonsumsi. Jenis ikan yang diolah menjadi ikan asin antara lain kakatua, gutila, kuek dan bolana. Adapun pengasapan dan pengeringan umumnya dilakukan terhadap cacing laut. Berdasarkan hasil wawancara, dalam setiap bulan masing-masing keluarga di Kepulauan Ayau dapat memproduksi ikan asin sebanyak 30 kg, cacing asap sekitar 10 ikat (50 ekor) dan cacing kering sebanyak 5 ikat (25 ekor). Khusus ikan asap, data produksi dari pembuatan ini masih sulit diketahui karena tidak semua keluarga di Pulau Ayau membuat ikan asap.
Teknologi pascapanen dari ketiga jenis tersebut masih sangat sederhana dan tidak mempunyai standar mutu tertentu. Sistim pengeringan yang tidak sempurna membuat ikan tidak dapat disimpan dalam waktu yang lama. Tampilan yang kurang menarik dari ikan asap juga merupakan kekurangan produk yang dihasilkan. Demikian halnya dengan cita rasa masakan yang kurang sedap dan ketika dimasak menjadi keras (liat).
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan penanganan lebih lanjut seperti penyuluhan tentang metode pengolahan hasil perikanan yang baik dan bermutu tinggi. Solusi tersebut mendesak dilakukan mengingat produksi ikan asin dan ikan asap dapat dijadikan alternatif penghasilan penduduk bila terjadi penurunan produksi sumber daya laut utama.
4.6.4 Pemasaran Sumberdaya Hayati Laut
Sistem dan mata rantai pemasaran produk perikanan di Kepulauan Ayau dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan daerah pemasarannya, yaitu luar negeri/internasional dan dalam negeri. Jenis sumberdaya laut utama, yaitu kerapu (Epinephelus sp), napoleon (C. undulatus) dan lobster dipasarkan dalam keadaan hidup khusus sebagai komoditas ekspor. Untuk berbagai jenis ikan olahan memiliki sistem dan mata rantai pemasaran tersendiri yang berorientasi domestik.
1) Pemasaran Napoleon dan Kerapu
Pemasaran kedua komoditas ini di kawasan Kepulauan Ayau mempunyai pola yang sama. Untuk memasarkan komoditas ini dari produsen (nelayan) ke konsumen (restaurant internasional) ada empat lembaga pemasaran yang harus dilalui (Gambar 5).
Gambar 5. Saluran pemasaran napoleon (C. undulatus) dan kerapu (Epinephelus sp) di Kepulauan Ayau.
Ikan kerapu (Epinephelus sp) maupun napoleon (C. undulatus) yang ditangkap nelayan dijual ke pedagang pengumpul. Pada saat menangkap kedua komoditas tersebut, nelayan menyimpan hasil tangkapan dalam keranjang yang terbuat dari jaring (Gambar 6). Hasil tangkapan tersebut dipelihara selama satu minggu di keramba milik pedagang pengumpul yang ada ditengah laut (Gambar 7). Pembayaran hasil tangkapan nelayan dilakukukan secara tunai setelah ikan ditimbang.
Tahap berikutnya, pengusaha pengumpul yang ada di Pulau akan menjual kerapu (Epinephelus sp) dan napoleon (C. undulatus) ke pengusaha yang mempunyai izin eksport. Pada umumnya eksportir berlokasi di Kota Sorong. Setiap bulan eksportir dengan koordinasi dengan importir di Hongkong
mengirim kapal untuk mengambil ikan yang ada dalam kermba dan langsung dikirim ke Importir ke Hongkong. Jual-beli ikan antara pengusaha pengumpul di desa dan eksportir ikan dilakukan melalui komunikasi radio, sehingga pengumpul tidak selalu bertemu.
Gambar 6. Jaring tempat penyimpanan napoleon (C. undulatus) dan kerapu (Epinephelus sp).
Gambar 7. Jaring apung tempat penyimpanan sementara ikan sebelum di ekspor.
Dari importir ikan di Hongkong, komoditas ini selanjutnya dijual ke distributor khusus kerapu (Epinephelus sp) dan napoleon (C. undulatus). Sistem perdagangan yang berlaku di negara-negara tersebut memang mengharuskan adanya peran distributor sebagai mata rantai antara importir dengan konsumen. Informasi detail tentang proses-proses yang terjadi selama perpindahan saluran pemasaran tidak diperoleh karena terjadi di luar negeri.
Harga kerapu (Epinephelus sp) dan napoleon (C. undulatus) sangat bervariasi tergantung pada beratnya. Ada empat golongan ikan napoleon (C.
undulatus) berdasarkan beratnya, yaitu (1) baby, (2) super, (3) ekor kecil dan (4)
Nelayan penangkap
lobster Pedagang pengumpul
Eksportir Restoran seafood
domestik Distributor di luar negeri
Restoran seafood internasional tiga kelas, yaitu (1) baby, (2) super dan (3) up. Harga di tingkat pedagang pengumpul per kg untuk masing-masing jenis ikan disajikan pada tabel berikut: Tabel 10. Harga ikan kerapu (Epinephelus sp) dan napoleon (C. undulatus) per kg di tingkat pengumpul
Golongan Harga (Rp)
Ikan napoleon Ikan kerapu
GH Saisang Tongseng Baby (0,3-0,5 kg) 50.000 6.000 5.000 17.000 Super (0,6-1,2 kg) 120.000 15.000 15.000 27.000 Up (> 1,3 kg) - 15.000 20.000 30.000 Ekor kecil (1,3-3 kg) 130.000 - - - Ekor besar (3,1-5 kg) 160.000 - - - Up (> 5,1 kg) 30.000 - - - Sumber: Wawancara dengan nelayan dan pengumpul
Informasi mengenai harga ikan napoleon dan kerapu di tingkat pedagang besar masih sulit diperoleh. Namun sebagai gambaran, pedagang pengumpul sedikitnya memperoleh keuntungan bersih sebesar 35 % dari harga pembelian. Keuntungan merupakan kompensasi dari resiko kematian yang harus ditanggung pengumpul sebesar 15-20 %. Jika diestimasi dari gambaran diatas maka harga ikan ditingkat pedagang besar tersebut dua kali lipat dari harga di tingkat nelayan.
2) Pemasaran Lobster
Rantai pemasaran lobster di kepulauan Ayau dapat dibagi menjadi dua saluran pemasaran, yaitu saluran pemasaran dengan perantara dan saluran pemasaran tanpa perantara (Gambar 8).
Keterangan:
: Saluran pemasaran orientasi lokal : Saluran pemasaran orientasi ekspor
Model saluran pemasaran dengan perantara melibatkan beberapa lembaga pemasaran, yaitu (1) nelayan sebagai produsen, (2) pedagang pengumpul sebagai perantara, dan (3) restaurant sebagai konsumen. Kadang-kadang peranan restaurant sebagai konsumen digantikan oleh eksportir untuk jenis lobster yang termasuk kualifikasi ekspor. Pengumpulan lobster dari nelayan oleh pedagang pengumpul dilakukan secara harian. Lobster yang telah terkumpul sekitar 40 sampai 50 kg akan dibawa ke Sorong untuk dijual kepada restoran ataupun eksportir. Pedagang pengumpul akan mendapat bagian 20 persen dari harga jual.
Saluran pemasaran tanpa perantara lebih berorintasi pada pasar ekspor. Hasil tangkapan nelayan yang telah dikumpulkan selama lima hari langsung dibawa ke Sorong untuk dijual ke eksportir. Eksportir mengirim Lobster yang telah dibeli dari nelayan ke berbagai daerah di Hongkong. Pedagang di Hongkong, kemudian yang mendistribusikannya ke restoran.
Harga lobster sangat bervariasi dan tergantung pada jenis dan beratnya. Jenis lobster yang dihargai paling tinggi adalah lobster hias seharga 200.000 rupiah per kg, sedangkan yang dinilai paling rendah adalah udang batu seharga 50.000 ribu per kg. Dua jenis lobster lainnya yang biasa diperdagangkan adalah lobster emas dengan harga per kg-nya Rp. 100.000 dan lobster bambu seharga Rp. 80.000-90.000 per kg.
3) Pemasaran Teripang, Lola dan Kerang-kerangan
Produksi sumber daya lain yang memiliki nilai ekonomi adalah teripang, lola dan kerang-kerangan. Daerah pemasaran utama produk-produk tersebut adalah Kota Sorong. Hasil tangkapan lola langsung dijual kepada pedagang Cina yang akan mengeksport komoditas tersebut ke Italia sebagai bahan dasar kancing baju. Sedangkan teripang dan kerang-kerangan dijual bersama ikan asin dan ikan asap.
Diantara ketiga komoditas di atas, harga lola paling mahal yaitu Rp. 50.000,- per kilogram. Harga teripang sangat fluktuatif tergantung permintaan. Pada saat permintaan tinggi, satu ekor teripang seberat 200 gr dihargai sebesar Rp. 50.000. Kerang-kerangan memiliki harga yang relatif murah. Satu bagian kerang yang terdiri tas bermacan-macam rumah kerang dihargai Rp. 2.000.
Hasil tangkapan nelayan
Konsumsi pribadi Pengolahan pascapanen
Barter hasil bumi
Pedagang pengumpul
Konsumen 4) Pemasaran Komoditas Hasil Olahan
Komoditas hasil olahan seperti Ikan asin dan ikan asap hanya dipasarkan untuk kebutuhan masyarakat lokal dengan cara dipasakan langsung ke konsumen (Gambar 9). Sistem perdagangan lain yang masih diterapkan oleh masyarakat Ayau adalah sistem barter. Sistem barter hanya diterapkan pada masyarakat lokal. Barter dilakukan dengan cara menukar hasil produksi pasca panen laut dengan produksi pertanian yang tidak dapat dihasilkan di Pulau Ayau. Jenis komoditas pertanian yang sering dibarter dengan komoditas olahan perikanan antara lain sagu dan pisang. Pemasaran dengan cara barter telah mengalami penurunan sejak nelayan berkonsentrasi untuk menangkap kerapu (Epinephelus sp) dan napoleon (C. undulatus). Sebelum intensifnya penangkapan kedua komoditas tersebut, setiap tiga bulan sekali penduduk Ayau secara rutin melakukan barter dengan penduduk Kabare.
Sistim pemasaran ikan asap, ikan asin, cacing laut untuk kebutuhan lokal dipasarkan sendiri oleh penduduk Pulau Ayau ke Kota Sorong. Masyarakat Ayau yang berdagang ke Kota Sorong biasanya bermukim selama dua minggu sampai satu bulan khusus untuk menjajakan dagangan mereka. Sebagai biaya kompensasi transportasi dari Ayau ke Kota Sorong, hasil penjualan dipotong 20 persen. Harga jual produk olahan yang dijajakan pedagang Ayau relatif murah. Untuk membeli dua ekor ikan asin seberat 1 kilogram cukup mengeluarkan uang sebesar 5.000 rupiah. Harga ikan asap sangat tergantung pada jenis ikan, sedangkan gurita asap dijual 10.000 rupiah per ekornya.