• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PENDIRI KOMNAS PENDIDIKAN INDONESIA. SURAT KEPUTUSAN KETUA DEWAN PENDIRI KOMNAS PENDIDIKAN INDONESIA Nomor : 002/SK/DPKPI/II/2020.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DEWAN PENDIRI KOMNAS PENDIDIKAN INDONESIA. SURAT KEPUTUSAN KETUA DEWAN PENDIRI KOMNAS PENDIDIKAN INDONESIA Nomor : 002/SK/DPKPI/II/2020."

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Kode Etik Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia

DEWAN PENDIRI

KOMNAS PENDIDIKAN INDONESIA

SURAT KEPUTUSAN

KETUA DEWAN PENDIRI

KOMNAS PENDIDIKAN INDONESIA

Nomor : 002/SK/DPKPI/II/2020

Tentang

KODE ETIK ANGGOTA PENGURUS

KOMNAS PENDIDIKAN INDONESIA

Menimbang : 1. Bahwa Pengurus memegang peranan penting dalam mewujudkan Visi, Misi, dan Tujuan Organisasi.

2. Bahwa Kode Etik Pengurus diberlakukan bagi semua Anggota Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia agar dapat dihayati dan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku;

3. Bahwa dalam mendorong terbentuknya perilaku pengurus yang bertaqwa Kepada Tuhan Y.M.E. dan beretika serta untuk menjamin terpeliharanya ketertiban, kelancaran tugas serta terwujudnya pelayanan prima bagi masyarakat, maka dipandang perlu untuk menetapkan Kode Etik Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia.

Mengingat : 1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

2. Undang-undang nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi 3. Permenpan nomor 17 Tahun 2013 tentang Jabatan Fungsional

(2)

Kode Etik Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia

Memperhatikan : Visi, Misi, dan Tujuan Komnas Pendidikan Indonesia

Menetapkan : Memutuskan KODE ETIK ANGGOTA PENGURUS KOMNAS PENDIDIKAN INDONESIA sebagai berikut:

BAB I

`KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam dokumen ini yang dimaksud dengan:

1. Kode Etik Anggota Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia yang selanjutnya disebut Kode Etik adalah seperangkat norma sebagai acuan tingkah laku bagi Anggota Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, khususnya dalam bersikap, berbicara, dan bertindak, guna menjaga citra, wibawa, martabat, kehormatan, kredibilitas, integritas, dan independensi Komnas Pendidikan Indonesia.

2. Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia adalah warga negara Indonesia yang dipilih dan dikukuhkan menjadi Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia, sesuai denga tata cara sebagaimana ditetapkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.

3. Pengurus Komnas Pendidikan adalah sumber daya manusia yang bertugas pada organisasi Komnas Pendidikan Indonesia sebagai suatu pengabdian.

4. Yang dimaksud dengan Ketua adalah Ketua Dewan Pendiri Komnas Pendidikan Indonesia.

5. Yang dimaksud dengan organisasi adalah Komnas Pendidikan Indonesia.

6. Mitra kerja Komnas Pendidikan Indonesia yang selanjutnya disebut Mitra Kerja mencakup korban ketidak adilan terhadap peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan serta lembaga pendidikan yang selanjutnya disebut korban, pendamping korban, lembaga negara, lembaga pemerintah, organisasi masyarakat sipil, pemberi dana baik perseorangan maupun lembaga, serta perseorangan, lembaga dan organisasi lainnya yang pernah dan sedang mempunyai kerjasama dengan Komnas Pendidikan Indonesia, yang memiliki visi dan misi serta fungsi dan tujuan yang tidak bertentangan dengan visi dan misi serta fungsi dan landasan Komnas Pendidikan Indonesia.

7. Pemasok barang dan/atau jasa bagi Komnas Pendidikan Indonesia selanjutnya disebut Pemasok adalah rekanan tetap berbentuk perseorangan, badan usaha atau lembaga lainnya yang bertindak sebagai penyedia barang dan/atau jasa bagi Komnas Pendidikan Indonesia.

BAB II

(3)

Kode Etik Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia

Pasal 2 A S A S

Kode Etik ini ditetapkan dan diterapkan berdasarkan asas: 1. Kemanusiaan; 2. Keadilan; 3. Kesetaraan; 4. Keberagaman; 5. Solidaritas; 6. Kemandirian 7. Akuntabilitas; 8. Anti kekerasan; 9. Anti diskriminasi;

10. Anti Narkoba dan atau sejenisnya; 11. Kepatutan.

Pasal 3 TUJUAN

1. Memastikan agar Anggota Pengurus Komisi Pendidikan Indonesia dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, dapat selalu menjaga citra, wibawa, martabat, kehormatan, kredibilitas, integritas, dan independensi organisasi;

2. Membangun dan memelihara iklim kerja yang sehat, nyaman dan bermartabat sehingga dapat menumbuhkan semangat dan motivasi kerja yang tinggi;

3. Melindungi Anggota Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia dan Mitra Komnas Pendidikan Indonesia dari kerugian moral dan/atau material yang dapat diakibatkan oleh sikap, pernyataan, dan/atau tindakan anggota pengurus lain.

BAB III

PERILAKU SEBAGAI PENGURUS KOMNAS PENDIDIKAN INDONESIA

Pasal 4 PERILAKU

Sebagai manusia yang berintegritras tinggi, setiap Anggota Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia dituntut berperilaku, sekurang-kurangnya sebagai berikut:

1. Jujur dalam bersikap, membuat pernyataan baik lisan maupun tertulis, dan bertindak; 2. Dapat dipercaya sikap, pernyataan dan tindakannya;

3. Toleran terhadap perbedaan dan keberagaman;

4. Tegas dalam sikap, pernyataan baik lisan maupun tertulis, dan tindakan mengenai pelaksanaan asas, tujuan dan tugas organisasi, namun santun dalam manifestasi penyampaian dan pelaksanaannya;

5. Bijaksana dalam sikap, pernyataan baik lisan maupun tertulis, dan tindakan;

6. Dalam hal Anggota Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia mengambil sikap; membuat pernyataan baik lisan maupun tertulis, dan/atau melakukan tindakan sebagai

(4)

Kode Etik Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia

pribadi, anggota pengurus yang bersangkutan wajib secara jelas dan tegas menyatakan bahwa sikap, pernyataan dan/atau tindakannya tersebut adalah merupakan pernyataan, dan/atau sikapnya sebagai pribadi.

Pasal 5 PERILAKU

Sebagai manusia yang berdedikasi tinggi, setiap Anggota Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia dituntut berperilaku sekurang-kurangnya sebagai berikut:

1. Terus–menerus meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya di bidang hak pendidikan manusia umumnya terutama mengenai masalah ketidak adilan terhadap peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan dan lembaga pendidikan;

2. Dalam menjalankan tugasnya, menempatkan kepentingan organisasi secara keseluruhan di atas kepentingan pribadi.

Pasal 6 PELARANGAN

Untuk menjaga citra, wibawa, martabat, kehormatan, kredibilitas, integritas, dan independensi Organisasi, Anggota Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia dilarang: 1. Menerima instruksi, permintaan, atau imbauan yang disampaikan, baik secara

langsung maupun secara tidak langsung, oleh pihak eksternal manapun, untuk mengambil sikap, membuat pernyataan lisan maupun tertulis, dan/atau melakukan tindakan yang berpengaruh negatif terhadap atau bertentangan dengan asas, landasan dan tujuan organisasi atau mengganggu, merugikan atau merusak citra, wibawa, martabat, kehormatan, kredibilitas, integritas, dan/atau independensinya;

2. Menerima pemberian atau janji apa pun dari pihak eksternal manapun yang jelas-jelas atau yang patut diduga dimaksudkan untuk mempengaruhi dirinya agar mengambil sikap, membuat pernyataan baik lisan maupun tertulis, dan/atau melakukan tindakan yang berpengaruh negatif terhadap atau bertentangan dengan landasan dan tujuan organisasi atau mengganggu, merugikan, atau merusak citra, wibawa, martabat, kehormatan, kredibilitas, integritas, dan/atau independensinya;

3. Meminta atau menerima komisi, pembayaran dalam bentuk lain apa pun, fasilitas, kemudahan, atau jasa dalam bentuk apapun dari pembelian barang dan atau perolehan jasa, untuk kepentingan pribadi;

4. Memberi suap, pembayaran yang melawan hukum lainnya, atau kemudahan, fasilitas kepada pemasok, donor, dan/atau pembuat kebijakan dalam transaksi dan/atau urusan yang menyangkut kepentingan Komnas Pendidikan Indonesia, kecuali biaya perjamuan dan atau pemberian cinderamata/karangan bunga yang wajar dan yang dikeluarkan oleh dan dicatat atas beban Komnas Pendidikan Indonesia, berdasarkan prosedur standar pengeluaran dan catatan biaya Komnas Pendidikan Indonesia; 5. Menggunakan media massa (cetak, elektronik, dalam jaringan/daring/online) dan

media sosial (facebook, instagram, path, twitter dan sejenisnya) untuk menyampaikan keluhan dan atau keberatan terhadap dinamika internal Komnas Pendidikan Indonesia

(5)

Kode Etik Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia

yang seharusnya dapat diselesaikan lewat mekanisme internal Komnas Pendidikan Indonesia.

Pasal 7 PELARANGAN

Untuk memastikan menjaga agar hal-hal yang bersifat internal Organisasi dan hal-hal yang karena sifatnya atau yang oleh Organisasi ditetapkan sebagai bersifat rahasia, Anggota Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia dilarang:

1. Membuat pernyataan atau memberitahukan kepada publik atau pihak eksternal mana pun, baik secara lisan maupun tertulis, posisi individualnya dalam proses pengambilan keputusan yang diambil dalam rapat tertutup;

2. Menyampaikan kepada pihak eksternal baik secara lisan maupun tertulis, data ataupun informasi yang karena sifatnya merupakan rahasia, atau yang ditetapkan demikian oleh Organisasi, kecuali apabila penyampaian data atau informasi tersebut diinstruksikan atau diizinkan secara khusus oleh Dewan Pendiri Komnas Pendidikan Indonesia berdasarkan pertimbangan tertentu;

3. Memanfaatkan dan/atau menggunakan data atau informasi yang karena sifatnya merupakan rahasia atau yang ditetapkan demikian oleh organisasi untuk kepentingan pribadi, keluarga, kerabat dan/atau pihak lain mana pun.

Pasal 8 PELARANGAN

Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 juga berlaku bagi Anggota Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia yang telah menyelesaikan masa baktinya di Komnas Pendidikan Indonesia.

BAB IV

TINDAK KEKERASAN, DISKRIMINASI, DAN PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA LAINNYA

Pasal 9

Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia, baik di tempat kerja maupun di luar tempat kerja, dilarang membuat pernyataan, mengambil sikap, dan/atau melakukan tindakan yang: 1. Secara langsung atau tidak langsung mengakibatkan terjadinya atau merupakan

tindakan kekerasan fisik, psikis, seksual dan/atau penyalahgunaan kekuasaan lainnya; 2. Bersifat diskriminatif dalam segala aspeknya;

3. Merupakan pelanggaran hak asasi manusia.

BAB V

(6)

Kode Etik Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia

Pasal 10

IMBALAN ATAU HADIAH

1. Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia dilarang menerima imbalan atau hadiah dalam bentuk apapun dari pihak mana pun di luar organisasi dalam hubungannya dengan tugas yang dilaksanakannya.

2. Imbalan atau hadiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak termasuk honorarium, uang transportasi, penggantian biaya penginapan, atau cinderamata yang tidak berlebihan nilainya, yang diberikan kepada pengurus Komnas Pendidikan Indonesia yang bertindak sebagai pembicara, narasumber, pakar, dan/atau peserta dalam suatu kegiatan yang selaras atau menunjang asas dan tujuan organisasi, atau sebagai penulis dalam suatu publikasi.

Pasal 11 PINJAMAN

Anggota Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia dilarang meminta atau menerima pinjaman dalam bentuk apa pun dari pemasok, baik perseorangan maupun badan usaha yang memiliki hubungan usaha dengan Komnas Pendidikan Indonesia, kecuali bank atau lembaga keuangan resmi lainnya yang salah satu usahanya adalah memberi pinjaman.

BAB VI

PERJALANAN DINAS Pasal 12

1. Anggota Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia dilarang menggunakan sarana dan fasilitas perjalanan dinas untuk kepentingan di luar tugas organisasi.

2. Anggota Pengurus Komisi Pendidikan Indonesia yang dalam perjalanan dinasnya membawa serta keluarga atau orang lain, wajib menanggung sendiri biaya perjalanan dan biaya lain yang berkaitan dengan perjalanan dinas yang bersangkutan. kecuali penyandang disabilitas yang membutuhkan pendamping.

3. Dalam hal perjalanan dinas dilakukan atas undangan yang ditujukan langsung kepadanya dan/atau atas biaya pengundang dan/atau sumber lain di luar organisasi, wajib memberitahukan kepada Sekretaris (pengurus tingkat DPD atau DPW) / Sekretaris Jenderal Komnas Pendidikan Indonesia (Pengurus DPN).

4. Apabila dalam hal perjalanan Anggota Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Pimpinan organisasi menganggap perjalanan tersebut bertentangan dengan, tidak sesuai dengan, atau berpengaruh negatif terhadap citra, wibawa, martabat, kehormatan, kredibilitas, integritas, dan/atau independensi Komnas Pendidikan Indonesia, Pimpinan Komnas Pendidikan dapat meminta Anggota Pengurus Komnas Pendidikan yang bersangkutan untuk tidak melakukan perjalanan tersebut baik atas nama pribadi, maupun sebagai Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia.

5. Anggota Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia dilarang melakukan perjalanan dinas atas biaya atau fasilitas pihak eksternal mana pun apabila patut diduga bahwa

(7)

Kode Etik Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia

pihak eksternal tersebut bermaksud mempengaruhi anggota pengurus yang bersangkutan demi kepentingan pihak eksternal.

BAB VII

KONFLIK KEPENTINGAN DAN PENYALAHGUNAAN JABATAN

Pasal 13

KONFLIK KEPENTINGAN

1. Apabila dalam pembahasan suatu masalah yang akan, sedang atau telah ditangani oleh organisasi dan anggota pengurus lain mengetahui terdapatnya konflik antara kepentingannya sebagai pengurus organisasi dan kepentingan pribadinya, pengurus Komnas Pendidikan Indonesia bersangkutan wajib memberitahukan terdapatnya konflik kepentingan tersebut dalam proses pembahasan, sebelum dia menyampaikan pendapatnya dan selanjutnya dilarang mengambil bagian dalam pembahasan masalah yang bersangkutan.

2. Anggota Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia yang mempunyai konflik kepentingan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mengundurkan diri dari panitia, tim, kelompok kerja, satuan tugas, atau mekanisme kerja lainnya yang dibentuk oleh organisasi untuk menangani masalah yang bersangkutan.

3. Anggota organisasi yang mempunyai konflik kepentingan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang ikut serta dalam pengambilan keputusan mengenai atau yang berkaitan dengan masalah yang bersangkutan.

Pasal 14

PENYALAHGUNAAN JABATAN

Anggota Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia dilarang menyalahgunakan kedudukannya untuk mencari dan memperoleh kemudahan atau keuntungan pribadi, keluarga, sanak saudara, atau teman karibnya untuk memperoleh pekerjaan di atau dari organisasi atau lembaga apa pun yang merupakan mitra yang sedang memiliki kerjasama program dengan Komnas Pendidikan Indonesia.

BAB VIII

HUBUNGAN DENGAN MITRA KERJA DAN PEMASOK Pasal 15

Anggota Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia:

1. Wajib bersikap jelas dan tegas dalam menjalin hubungan kerja dengan mitra kerja dan atau pemasok;

2. Dilarang melakukan hubungan dengan mitra kerja dan/atau pemasok dengan maksud memperoleh kemudahan dan fasilitas, imbalan, atau hadiah untuk kepentingan pribadi; 3. Dilarang melakukan perbuatan yang diketahuinya atau patut diketahuinya memberi

peluang disalahgunakannya untuk kepentingan mitra kerja atau pemasok yang bersangkutan.

(8)

Kode Etik Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia

BAB IX

KEHADIRAN DAN PERILAKU DALAM RAPAT

Pasal 16 KEHADIRAN

1. Anggota Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia wajib menghadiri secara fisik dan secara penuh setiap rapat yang diadakan oleh organisasi, kecuali apabila anggota pengurus yang bersangkutan sakit, sedang dalam menjalankan tugas di luar dari organisasi, atau karena alasan lain yang sah yang menyebabkannya tidak dapat menghadiri atau menghadiri secara penuh rapat yang bersangkutan.

2. Alasan lain yang sah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup :

a. Tidak menerima atau terlambat menerima undangan atau pemberitahuan untuk menghadiri rapat yang bersangkutan;

b. Sempitnya waktu antara diterimanya undangan atau pemberitahuan dengan waktu penyelenggaraan rapat.

Pasal 17

PERILAKU DALAM RAPAT

Selama rapat berlangsung, Anggota Pengurus Komnas Pendidikan wajib: 1. Berbicara, bersikap, dan bertindak dengan sopan dan santun;

2. Bersungguh–sungguh mengikuti dan turut menjaga ketertiban rapat;

3. Aktif menyumbangkan pemikiran mengenai masalah yang dibahas dalam rapat; 4. Mematuhi tata tertib rapat.

BAB X

PELANGGARAN DAN SANKSI

Pasal 18

PENYELESAIAN PELANGGARAN

1. Dugaan pelanggaran Kode Etik ini diselesaikan melalui Dewan Pendiri.

2. Sebelum pelanggaran Kode Etik disampaikan kepada Dewan Pendiri, Pimpinan DPN Komnas Pendidikan Indonesia dan atau Sekretaris Jenderal wajib menyelesaikan pelanggaran tersebut dengan menggunakan mekanisme penyelesaian internal di luar Dewan Pendiri.

3. Pelanggaran Kode Etik yang tidak dapat diselesaikan lewat mekanisme penyelesaian internal di luar Dewan Pendiri, dilaporkan kepada Dewan Pendiri baik oleh Pimpinan DPN atau Sekretaris Jenderal atau pihak-pihak yang bersangkutan.

4. Mekanisme penyelesaian dugaan pelanggaran Kode Etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Dewan Pendiri Komnas Pendidikan Indonesia.

(9)

Kode Etik Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia

Pasal 19 S A N K S I

Sanksi bagi pelanggaran Kode Etik terdiri atas : a. teguran lisan; b. teguran tertulis; c. pemindahan tempat tugas; d. pemberhentian sementara; e. pemberhentian tetap.

BAB XI

KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 20

Kode Etik ini juga berlaku, dengan sendirinya, bagi setiap orang bukan Anggota Pengurus Komnas Pendidikan Indonesia yang menjalankan kegiatan atau tugas untuk atau atas nama Komnas Pendidikan Indonesia, termasuk staf /karyawan dalam kegiatan organisasi.

BAB XII

KETENTUAN PENUTUP Pasal 21

Kode Etik ini mulai berlaku pada saat tanggal ditetapkan

ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 15 Februari 2020

KETUA DEWAN PENDIRI KOMNAS PENDIDIKAN INDONESIA

(10)

Referensi

Dokumen terkait

Apabila dosen yang terbukti melakukan pelanggaran Kode Etik sebagaimana dimaksud pada ayat (t) tidak bersedia melaksanakan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2)

(2) Anggota yang tidak menghadiri setiap Rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disertai keterangan yang sah dari pimpinan fraksi. atau ketua

(2) Mahkamah Agung berkoordinasi dengan Kementerian Negara Lingkungan Hidup membentuk Tim Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bertugas untuk melakukan

27 (2) Calon anggota Badan Permusyawaratan Desa terpilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Kepala Desa kepada Bupati melalui Camat paling lama 7 (tujuh)

Menetapkan : SURAT KEPUTUSAN PENGURUS HARIAN PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA PUSAT TENTANG PEMBENTUKAN PANITIA NASIONAL PERAYAAN HARI RAYA NYEPI TAHUN BARU SAKA

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47ayat (1) huruf a dan huruf b, serta ayat (2) huruf a, huruf b, dan huruf c dilakukan berdasarkan rekomendasi dari Anggota, pimpinan Alat

(1) Pelanggaran sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) a, b, dan c dalam kejuaraan tingkat kabupaten/kota, Pengurus Kabupaten/Kota PBSI berwenang

(3) Madrasah diniyah takmiliyah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diselenggarakan oleh pesantren, pengurus masjid, pengelola pendidikan formal dan nonformal,