• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dewi Jayasari Bedriati Ibrahim Kamaruddin Ilmu Pendidikan, FKIP-Universitas Riau Jl. Bina Widya KM. 12,5 Pekanbaru ABSTRAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Dewi Jayasari Bedriati Ibrahim Kamaruddin Ilmu Pendidikan, FKIP-Universitas Riau Jl. Bina Widya KM. 12,5 Pekanbaru ABSTRAK"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEKNIK KANCING GEMERINCING PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KELAS XI IPS 1 UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA

DI SMAN 5 DUMAI

Dewi Jayasari Bedriati Ibrahim

Kamaruddin

Ilmu Pendidikan, FKIP-Universitas Riau Jl. Bina Widya KM. 12,5 Pekanbaru

ABSTRAK

Have been [done/conducted] [by] research of class action ( PTK) with aim to to know the make-up of result learn class student history of XI IPS I SMAN 5 Dumai School Year 2011 / 2012 by using model study of Co-Operative technique Latch Ting-A-Ling. Research [done/conducted] on 14 October until 21 November 2011. Amount of student in research counted 23 people ( 10 men student and 13 woman student). Research parameter [is] teacher activity, student activity and result learn ( absorpsion and complete learn student). Result of research indicate that the amount of activity mean learn [at] cycle of I [is] 19% with category ( enough), [at] cycle of II mount to become 32% with category ( very good). Amount of mean entire/all student activity to entire/all activity [at] cycle of I [is] 462% ( enough), [at] cycle of II mount to become 652,5% ( goodness). Result learn in the form of student absorpsion and complete learn student, [at] cycle of I, Post test I 69,78% ( Less), [at] post test II mount to become 76,30% ( Cukup) with daily restating 78,69% ( Enough). While [at] cycle of II, post test I 83,30% ( Whether), [at] post test II become 87,39% ( Baik) with daily restating 87,08% ( Whether). Complete learn cycle student of I [is] 82,60% and cycle of II become 95,65%. From result of research can be concluded that with applying of model study of Co-Operative technique Latch Ting-A-Ling can improve result learn class student history of XI IPS I SMAN 5 Dumai

Keyword : Model Study Of Co-Operative Technique Latch Ting-A-Ling, Result of Learning, History

(2)

2

PENDAHULUAN

Di zaman modern seperti ini, menjadi manusia yang selain mempunyai pribadi yang baik sesuai dengan norma dan ketentuan yang berlaku, perlu juga adanya bekal untuk bersaing mencapai kehidupan yang lebih baik, yaitu adanya ilmu dan pendidikan. Manusia dituntut untuk memiliki kompeten dalam kehidupannya, mampu mengembangkan jati diri dan kemampuan yang dimilikinya, agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik, sejahtera dan maju, selain itu berguna bagi keluarga, masyarakat dan Negara.

Pendidikan adalah suatu proses terhadap seseorang yang berlangsung terus menerus dari sejak kecil sampai menjadi pribadi yang dewasa (Hasbullah, 2006:4). Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Didalam bidang pendidikan tidak terlepas dengan yang namanya Pembelajaran, yaitu usaha-usaha yang dilakukan dalam pendidikan. Pembelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk membelajarkan siswa secara aktif, dalam kondisi yang telah ditentukan dan menghasilkan respons dari siswa terhadap situasi belajar. Dalam pembelajaran ini seorang guru sangat besar peranannya guna untuk mencapainya tujuan dari pendidikan itu sendiri. Agar pendidikan berjalan dengan baik dan menciptakan anak-anak didik yang cerdas, memiliki kepribadian yang baik dan ilmu yang bermanfaat maka seorang guru sangat penting peranannya.

Guru selain memiliki pengetahuan yang luas, dia juga harus memiliki keahlian untuk menyampaikan ilmunya dengan baik kepada siswa. Agar siswa bisa menerima ilmu yang diberikan guru dengan baik, jelas dan mudah di mengerti dan diingat siswa, serta mengenal jati dirinya. Selain itu seorang guru harus bisa menjadi pedoman bagi anak-anak didiknya, mampu mengelola kelas dengan baik, bisa membimbing siswa, serta mengerti setiap pribadi siswa-siswanya.

Salah satu pelajaran yang turut memberikan peranan dan usaha untuk menciptakan anak didik yang mampu mengenal jati dirinya melalui penemuan nilai-nilai positif yang harus diteladani dan nilai-nilai negatif yang harus ditinggalkan adalah pendidikan sejarah. Hasil pembelajaran sejarah menjadikan peserta didik berkepribadian kuat, mengerti sesuatu agar dapat menentukan sikapnya, membuat peserta didik mempunyai alat untuk menyingkap tabir rahasia gerak masyarakat dan dengan sejarah mereka dapat mengetahui hasil-hasil perjuangan sejak zaman dahulu.

Pelajaran sejarah selalu dianggap sebagai pelajaran yang membosankan, penuh dengan hafalan teori, dan membuat siswa lebih banyak mengantuk diruangan kelas, metode yang digunakan lebih sering dengan metode ceramah, Tanya jawab, mencatat tanpa adanya hal-hal yang menarik yang bisa dilakukan siswa. Melihat dari berbagai pengalaman, observasi dan pengalaman pribadi peneliti sendiri, maka perlu adanya suatu perbaikan, agar pelajaran sejarah tidak lagi selalu seperti itu, harus ada perubahan dalam pendidikan, karena sejarah

(3)

3

sangat penting peranannya dalam kehidupan kita, selain kita bisa menjadi manusia yang berhasil dan sukses, tanpa mengenal sejarah dia tidak akan menjadi pribadi yang tangguh, baik dan mampu menghargai orang lain juga, terutama menghargai setiap perjalanan hidupnya dan sebagai pedoman agar lebih baik di masa yang akan datang.

Penulisan Tugas Akhir ini dilatar belakangi oleh berbagai permasalahan yang dijumpai oleh peneliti, baik dari pengalaman pribadi peneliti selama duduk dibangku sekolah maupun dalam proses mengajar di kelas. Ada beberapa permasalahan yang terdapat dalam proses belajar mengajar diantaranya: Dalam proses pembelajaran siswa kurang serius dalam mengikuti pelajaran, kurang bersemangat, kurang diminati, karena banyak anggapan bahwa pelajaran sejarah sering kali menjadi pelajaran yang membosankan. Suasana kelas dalam pembelajaran sejarah umumnya kurang mengembirakan, akibatnya anak didik terlihat gerah dan tidak tenang. Guru dalam mengajarkan pelajaran sejarah umumnya cenderung menyajikan sederet informasi yang berupa data seperti nama, tanggal dan kejadian. Anak didik jarang diajak melakukan interpretasi dan mengungkap makna dibalik peristiwa sejarah tersebut.

Dalam penelitian ini peneliti lebih melihat dan memfokuskan kepada jurusan atau kelas yang sangat dominan dengan ilmu-ilmu sosial yaitu kelas IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Selain harus bisa mengetahui, memahami kehidupan lingkungan sosial, siswa harus mengetahui sejarahnya sendiri, agar bisa menciptakan kehidupan sosial yang lebih baik yang berpedoman pada sejarahnya.

Dalam penelitian ini, penulis melakukan observasi di SMAN 5 Dumai, dimana disekolah ini KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang ditentukan untuk kelas XI IPS adalah 7,2. Tetapi hasil belajar siswa belum sepenuhnya mencapai skor tersebut, masih sebagian siswa yang tuntas dengan nilai yang baik, maka tujuan dari pendidikan belum sepenuhnya tercapai, terutama dalam pelajaran sejarah. Menurut Depdikbud (1994) ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 85% dari siswa memperoleh nilai 7,2 atau 72%, artinya siswa baru dapat dikatakan tuntas bila siswa telah mendapat nilai minimal 7,2. Bila siswa memperoleh nilai kurang dari 7,2 dianggap belum tuntas belajar, selanjutnya bagi siswa yang bersangkutan dimasukkan kedalam satu atau dua kelompok tergantung dari jumlah siswa yang belum tuntas bekajar. Siswa inilah yang mendapatkan perhatian (fokus) dari guru saat pelaksanaan tindakan pada siklus-siklus berikutnya.

Didalam penelitian ini peneliti mengambil model pembelajaran kooperatif teknik kancing gemerincing untuk memperbaiki masalah-masalah sebelumnya terutama pada pelajaran sejarah. Peneliti ingin membuat suasana belajar siswa dengan cara berkelompok dan bekerja sama dalam belajar. Selain untuk menciptakan suasana belajar yang menarik dan kreatif, juga untuk membentuk pribadi siswa yang bertanggung jawab, menghargai orang lain, mampu bekerja sama dengan orang lain dengan baik, berani mengeluarkan pendapat dan ide-ide yang dimiliki, serta minat dan keinginan belajar yang tinggi. Sehingga siswa bisa berhasil mendapatkan nilai yang baik, sesuai dengan yang telah ditentukan.

Menurut Lie (dalam Cooperatif Learning) pembelajaran kooperatif adalah sebagai lingkungan belajar dimana siswa bekerjasama, bergotong royong dalam satu kelompok kecil yang kemampuannya berbeda-beda untuk menyelesaikan tugas akademik. Sistem pembelajaran gotong royong merupakan sistem

(4)

4

pengajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur. Pembelajaran kooperatif dikenal dengan pembelajaran secara berkelompok. Teknik kancing Gemerincing yaitu teknik pembelajaran Kooperatif yang menggunakan kancing-kancing sebagai media untuk pola interaksi siswa dalam kelompok belajar.

Disini siswa dituntut untuk bisa menggunakan kancing-kancing yang disediakan guru dengan baik, sesuai dengan langkah-langkah dari teknik kancing gemerincing yang diberikan dan dijelaskan oleh guru di depan kelas. Tujuannya adalah agar siswa tidak pasif, malah tertarik untuk mengikuti pembelajaran.

Siswa juga diminta untuk bisa belajar menggunakan hal-hal yang baru. Karena didalam proses pembelajaran tidak lepas dengan kegiatan mengajar dan belajar. Mengajar dilakukan oleh guru kepada siswa, sedangkan belajar tindakan yang harus dilakukan siswa setelah mendapatkan pengajaran dan pengetahuan dari guru.

Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 1988:31).

Ada hubungan antara belajar dan mengajar, karena proses belajar akan berlangsung dengan baik dan berhasil jika didukung oleh proses belajar yang baik pula. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kegiatan belajar mengajar adalah suatu kondisi yang diciptakan dengan sengaja oleh guru sebagai pendidik yang ditunjukkan kepada siswanya sehingga terjadi interaksi antara guru dan siswa.

Dalam proses pembelajaran banyak faktor-faktor juga yang mempengaruhi kegiatan belajar siswa. Yang paling utama adalah peranan dari keluarga yaitu orang tua. Jika hubungan orang tua dan anak baik, maka proses belajar juga akan tercipta dengan baik dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Siswa bisa lebih terbuka dan orang tua bisa memberikan semangat dan membantu anaknya dalam menyelesaikan semua kesulitan dalam belajar. Faktor kesehatan (Jasmani) juga harus dijaga dan diutamakan karna akan berpengaruh pada proses belajar (M. Dalyono, 2009:55-60).

Selain itu ada hubungan hasil belajar dengan model pembelajaran yang digunakan. Jika model pembelajaran yang digunakan tepat, siswa bisa tertarik dan belajar dengan baik maka akan berpengaruh juga pada hasil belajarnya. Rasa bosan terhadap pelajaran tersebut akan hilang, siswa senang setiap mengikuti pembelajaran, mudah mengingat materi yang diberikan guru, sehingga bersemangat untuk selalu mengikuti pelajaran sejarah.

Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Kancing Gemerincing Pada Mata Pelajaran Sejarah kelas XI IPS I Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Di SMA Negeri 5 Dumai”.

Sehubungan dengan judul penelitian diatas, maka masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut: Apakah melalui penerapan model pembelajaran kooperatif teknik kancing gemerincing dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah kelas XI IPS 1 SMAN 5 Dumai.

Salah satu model pembelajaran yang dapat membentuk kecintaan dan meningkatkan minat dalam kegiatan belajar mengajar adalah Pembelajaran Kooperatif teknik kancing gemerincing. Teknik ini dapat memberikan kesempatan

(5)

5

kepada siswa untuk memberikan kontribusi dan pandanganya serta berinteraksi dengan sesamanya, siswa bisa bekerja sama antara satu sama lainnya sehingga semua siswa bisa ikut aktif dalam proses pembelajaran (Lie, 1994).

Sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalahnya, maka penelitian ini bertujuan untuk: 1) Penerapan model pembelajaran kooperatif teknik kancing gemerincing, 2) Untuk mengetahui hasil belajar sejarah setelah diterapkannya model pembelajaran kooperatif teknik kancing gemerincing pada siswa kelas IX IPS SMAN 5 Dumai.

Maka dari itu, dari penjelasan-penjelasan diatas, masalah-masalah yang umum yang sering terjadi pada pelajaran sejarah, pemilihan metode pembelajaran yang tepat, serta melihat faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa, dan apakah model pembelajaran yang tepat bisa mempengaruhi hasil belajar siswa dan juga berdasarkan dari tinjauan pustaka, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe kancing gemerincing dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI. IPS 1 SMAN 5 Dumai pada mata pelajaran sejarah.

METODE PENELITIAN

Metode adalah cara atau langkah-langkah yang digunakan, sedangkan penelitian adalah sesuatu yang dilakukan guna memperbaiki dari masalah yang ada, agar menemukan sebab, akibat dan cara penyelesaiannya yang baik.

Penelitian ini dilakukan di kelas XI IPS 1 SMAN 5 Dumai yang beralamat di jalan M.Yusuf, teluk makmur Kecamatan Medang Kampai Kota Dumai. Dalam penelitian tindakan kelas ini terdapat 23 siswa, yang terdiri dari 10 orang laki-laki dan 13 orang perempuan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2011 sampai dengan selesai.

Sesuai dengan judul penelitian dan permasalahan sebagaimana telah dikemukakan pada bab I, maka variabel dalam penelitian ini adalah penerapan metode kooperatif tipe kancing gemerincing dalam proses belajar mengajar IPS di SMAN 5 Dumai. 1) Model pembelajaran kancing gemerincing merupakan sebuah model pembelajaran yang menggunakan kancing-kancing sebagai media untuk pola interaksi siswa dalam kelompok belajar. Dalam banyak kelompok, sering ada anak yang terlalu dominan dan banyak bicara, sebaliknya juga ada anak yang pasif dan pasrah saja pada rekannya yang lebih dominan dalam kelompok. Teknik kancing gemerincing memastikan bahwa setiap siswa mendapatkan kesempatan untuk berperan serta dalam menyalurkan pendapat dan pemikirannya dalam diskusi kelompok. 2) Hasil belajar adalah kemampuan–kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Keberhasilan proses belajar mengajar dapat dilihat dari empat aspek yaitu : tujuan yang ingin dicapai, materi yang dikembangkan, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, pelaksanaan evaluasi dalam pembelajaran. (Nana Sudjana, 1989:22)

Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 (dua) siklus. Setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan evaluasi. Setiap siklus dilaksanakan refleksi sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai yaitu untuk melihat sejauh mana siswa memahami dan menguasai materi yang telah diberikan, maka dilakukan tes dengan mengajukan sejumlah pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang telah dipelajari. Dari hasil tes yang diperoleh setiap siklusnya

(6)

6

maka dapat ditetapkan tindakan yang akan dilakukan atau digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan memaksimalkan pembelajaran melalui pendekatan model pembelajaran teknik kancing gemerincing.

Pengambilan data dilakukan pada saat penelitian tindakan kelas. Karena penelitian yang akan dilaksanakan bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, maka data yang dikumpulkan adalah data yang berkaitan dengan proses dan hasil pembelajaran, bila dikaitkan dengan judul penelitian “peningkatan hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran kancing gemerincing, maka data yang perlu dikumpulkan adalah data yang berhubungan dengan: 1) Observasi cara pengumpulan data dengan melakukan pengamatan secara langsung dilapangan, guna melihat secara langsung objek penelitian. 2) Data tentang aktifitas belajar siswa dan aktifitas guru dengan menggunakan lembaran observasi. 3) Data mengenai hasil belajar siswa dikumpulkan melalui hasil observasi pada nilai ulangan harian.

Teknik Analisis data, Data yang didapatkan untuk memperoleh gambaran mengenai hasil belajar siswa berupa daya serap, ketuntasan belajar,evaluasi serta gambaran aktifitas guru dan aktifitas siswa dalam proses pembelajaran, langkah-langkah yang akan digunakan untuk mengolah data tersebut sebagai berikut: 1) Aktivitas Guru, a. Cara untuk melakukan analisisnya yaitu dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:

Menetapkan klasifikasi kriteria keberhasilan yang diperlukan yaitu: 4 = Sangat baik, 3 = Baik, 2 = Cukup, 1 = Kurang, Jadi jumlah klasifikasi adalah 4, b. Menghitung Interval skor untuk masing-masing klasifikasi dengan rumus:

I = NA-NB = (10x4)-(10x1) = (40-10) = 7,5 K 4 4 Keterangan: I = Interval NA = Nilai Atas NB = Nilai Bawah K = Klasifikasi

2) Aktivitas Siswa, a. Cara untuk melakukan analisisnya yaitu dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: Menetapkan klasifikasi kriteria keberhasilan yang diperlukan yaitu: 4 = Sangat baik, 3 = Baik, 2 = Cukup, 1 = Kurang, Jadi jumlah klasifikasi adalah 4, b. Menghitung Interval skor untuk masing-masing klasifikasi dengan rumus:

I = NA-NB K Keterangan: I = Interval NA = Nilai Atas NB = Nilai Bawah K = Klasifikasi

(7)

7

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan di kelas XI IPS 1 SMAN 5 Dumai yang beralamat di jalan M.Yusuf, teluk makmur Kecamatan Medang Kampai Kota Dumai. Dalam penelitian tindakan kelas ini terdapat 23 siswa, yang terdiri dari 10 orang laki-laki dan 13 orang perempuan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2011 sampai dengan selesai. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus yang terdiri dari 6 kali pertemuan. Pada setiap pertemuan dibutuhkan alokasi waktu 2 x 45 menit.

Untuk memotivasi siswa sebelum mengikuti pembelajaran, guru memberikan siswa beberapa pertanyaan yang menyangkut tentang materi sebelumnya yang bertujuan untuk menggali daya ingat siswa tentang pembelajaran yang telah lalu yang dimiliki siswa. Guru juga memberikan peta konsep mengenai materi pembelajaran yang dapat memberikan informasi singkat dan jelas tentang materi pembelajaran.

Dalam penelitian ini data yang diperoleh adalah tentang Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Kancing Gemerincing didalam kelas dan hasil belajar siswa setelah menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Kancing Gemerincing. Data penelitian ini diperoleh langsung dari guru dengan melakukan penelitian disekolah yang menjadi tempat penelitian yaitu dengan mengajar di kelas XI IPS 1 Pada Mata Pelajaran Sejarah. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus.

Untuk memperoleh data bagaimana Keaktifan guru dan siswa selama belajar mengajar berlangsung, penulis menggunakan Lembar Observasi Aktivitas Guru dan Lembar Observasi Aktivitas Siswa, selain itu hasil dari Post Test dan nilai ulangan siswa di setiap akhir siklus.

Pada pelaksanaan tindakan siklus I ini pertemuan I, aktivitas guru dilaksanakan dengan kategori (cukup) dengan nilai 18. Pertemuan II dilaksanakan dengan kategori (cukup) dengan nilai 20. Dengan demikian pelaksanaan tindakan pada siklus I dapat disimpulkan bahwa terlaksana dengan kategori cukup dengan nilai rata-rata dari pertemuan I dan II (19%). Hasil ini menunjukkan bahwa aktivitas yang dilaksanakan guru belum sepenuhnya dilakukan secara baik. Begitu juga dengan hasil belajar siswa belum mencapai indikator yang telah ditetapkan, sedangkan Aktivitas siswa pertemuan I 410 dengan kategori (cukup) dan pertemuan II 514 masih dalam kategori (cukup).

Daya serap pada siklus I ini nilai rata-rata untuk Post tes pertemuan I yaitu 69,78% termasuk pada kategori (kurang) sedangkan post test pertemuan II 76,30% termasuk dalam kategori (cukup). Ketuntasan belajar siswa pada siklus I ini terdapat 19 siswa dinyatakan tuntas dan 4 orang siswa dinyatakan tidak tuntas. Jadi secara klasikal siklus I ketuntasan belajar siswa dengan persentase 82,60% termasuk kategori (baik). Sedangkan untuk hasil belajar siswa pada siklus I yaitu 78,69% termasuk dalam kategori (cukup). 4 orang yang termasuk kategori (baik) 17,39%, 13 orang mendapatkan kategori (cukup) 56,52%, dan 2 orang mendapatkan kategori (kurang) 8,69%.

Adapun Refleksi siklus I : 1) guru belum menjelaskan secara terperinci tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. 2) Guru masih belum menjelaskan secara ringkas dan jelas tentang materi pembelajaran. 3) Guru belum bisa mengatur dan

(8)

8

membimbing siswa dengan baik dalam membuat kesimpulan mengenai materi pembelajaran. 4) Siswa belum bisa mengikuti pembelajaran dengan baik, banyak siswa yang belum siap untuk mengikuti pembelajaran, belum termotivasi dan memahami tujuan pembelajaran. 5) Siswa masih belum benar-benar memperhatikan penjelasan materi pembelajaran yang diberikan guru dan teknik kancing gemerincing. 6) Pada aktivitas no 5 banyak siswa yang belum bisa menerapkannya dengan baik dalam diskusi kelompok. 7) Banyak siswa yang belum berani dan terbiasa dalam membuat kesimpulan diakhir pembelajaran. 8) Daya serap siswa siklus I belum cukup memuaskan dan peneliti harus lebih meningkatkan proses belajar siswa. 9) hasil belajar secara umu sudah mulai mengalami peningkatan, namun masih terdapat beberapa siswa yang belum mencapai ketuntasan secara individu, ini akan diperbaiki pada siklus berikutnya. Rencana Perbaikan pada siklus II.

1) Guru harus lebih jelas dalam menjelaskan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa. 2) Guru harus lebih aktif dan kreatif dalam menjelaskan materi pembelajaran dan langka-langkah model pembelajaran kancing gemerincing. 3) Guru lebih aktif dalam membimbing siswa membuat kesimpulan dan kegiatan pembelajaran dengan cara berkeliling ke setiap kelompok. 4) Siswa diharapkan bisa termotivasi dan mengetahui tujuan dari pembelajaran. 5) Siswa harus serius memperhatikan penjelasan dari guru mengenai materi pembelajaran. 6) Siswa harus serius memperhatikan tiap point langkah-langkah model pembelajaran yang diberikan oleh guru. 7) Siswa harus mampu berdiskusi dengan anggota kelompok dan mengeluarkan pendapatnya. 8) Daya serap siswa harus dapat mencapai nilai yang memuaskan. 9) Hasil belajar siswa sudah mengalami peningkatan, siswa harus bisa mencapai ketuntasan belajar.

Hasil pelaksanaan siklus II Aktivitas guru pada pertemuan I siklus II dilaksanakan dengan kategori baik dengan nilai 30. Pertemuan II dilaksanakan dengan kategori sangat baik dengan nilai 34. Dengan demikian pelaksanaan tindakan pada siklus I dapat disimpulkan bahwa terlaksana dengan kategori baik dengan nilai rata-rata dari pertemuan I dan II (32%) telah terjadi peningkatan aktivitas guru dalam proses pembelajaran dari siklus I ke siklus II. aktivitas siswa pertemuan I dengan skor 624 dengan kategori (baik) dan pertemuan II dengan skor 681 masih dalam kategori (baik).

Daya serap pada siklus II ini nilai rata-rata untuk Post tes pertemuan I yaitu 83,30% termasuk pada kategori (baik) sedangkan post test pertemuan II 87,39% termasuk dalam kategori (baik). Ketuntasan belajar siswa pada siklus II ini terdapat 22 siswa dinyatakan tuntas dan 1 orang siswa dinyatakan tidak tuntas. Jadi secara klasikal siklus I ketuntasan belajar siswa dengan persentase 95,69% termasuk kategori (sangat baik). Sedangkan untuk hasil belajar siswa pada siklus II yaitu 87,08% termasuk dalam kategori (baik). 14 orang yang termasuk kategori (sangat baik) 60,86%, 1 orang yang termasuk kategori baik 4,34%, dan 8 orang mendapatkan kategori (cukup) 34,78%.

Dari hasil diatas dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan dalam aktivitas belajar baik guru dan siswa, serta hasil belajar siswa (daya serap, ketuntasan klasikal dan hasil belajar siswa berdasarkan ulangan harian). Tercapainya indikator kerja dan tujuan penelitian yang ditetapkan pada pelaksanaan tindakan pada siklus II, sehingga penulis tidak melaksanakan siklus berikutnya (siklus III).

(9)

9

Kelemahan-kelemahan pada siklus I telah diperbaiki pada siklus II, adapun hasil refleksinya adalah:

1) Guru telah mampu menciptakan suasana belajar dengan menggunakan model pembelajaran kancing gemerincing, telah mampu menjelaskan tujuan pembelajaran dengan baik. 2) Guru sudah bisa menjelaskan materi pembelajaran dengan baik. 3) Guru sudah bisa mengontrol dan mengatur proses pembelajaran didalam kelas. 4) Siswa sudah bisa mengikuti pembelajaran dengan baik. 5) Siswa telah mampu beradaptasi dengan model pembelajaran kancing gemerincing. 6) Siswa sudah bisa menggunakan model pembelajaran kancing gemerincing dengan baik. 7) Siswa sudah aktif dan berani dalam mengeluarkan pendapat dan membuat kesimpulan diakhir pembelajaran. 8) Daya serap siswa sudah mengalami peningkatan. 9) Hasil belajar siswa pada siklus II mengalami peningkatan baik ketuntasan klasikal maupun ketuntasan individu.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat diambil suatu kesimpulan yaitu: 1) Dari hasil pengamatan aktivitas guru pada siklus I pertemuan pertama diperoleh dengan skor 18 dengan kategori cukup. Sedangkan untuk pertemuan kedua aktivitas guru meningkat dengan skor 20 masih dengan kategori cukup. Untuk rata-rata aktivitas guru pada siklus I ini adalah (19) dengan kategori cukup. Sedangkan untuk siklus II pertemuan pertama diperoleh skor 30 dengan kategori baik, sedangkan untuk pertemuan kedua aktivitas guru meningkat dengan skor 34 dengan kategori Sangat baik. Rata-rata aktivitas guru pada siklus II ini meningkat dengan skor (32) dengan kategori Sangat baik. 2) Berdasarkan analisis data dari aktivitas siswa siklus I pertemuan pertama diperoleh skor 410 dengan kategori cukup dan meningkat pada pertemuan kedua dengan skor 514 dengan kategori cukup. Untuk rata-rata aktivitas siswa pada siklus I dengan skor 462 dengan kategori cukup. Untuk siklus II aktivitas siswa pertemuan pertama diperoleh skor 624 dengan kategori baik dan meningkat pada pertemuan kedua dengan skor 681 dengan kategori baik. Rata-rata aktivitas siswa pada siklus II ini mengalami peningkatan dari siklus I yaitu dengan skor 652,5 dengan kategori baik. 3) Berdasarkan analisis data, daya serap siswa pada siklus I pertemuan pertama yaitu dengan rata-rata 69,78 dengan kategori kurang dan pada pertemuan kedua mengalami peningkatan yaitu dengan skor 76,30 dengan kategori cukup. Pada siklus II pertemuan pertama rata-rata daya serap siswa dengan skor 83,30 dengan kategori baik, sedangkan pertemuan kedua mengalami peningkatan dengan skor 87,39 dengan kategori baik. Rata-rata daya serap siswa siklus II adalah 85,34 dengan kategori baik. 4) Ketuntasan belajar siswa pada siklus I adalah 82,60% belum sepenuhnya mencapai target ketuntasan secara klasikal, dan pada siklus II meningkat menjadi 95,65% dan telah mencapai target ketuntasan yang ditetapkan yaitu sekitar 85% siswa yang dinyatakan tuntas dan lulus dengan nilai minimal 72. 5) Hasil belajar siswa pada pra siklus diperoleh rata-rata 61,86 dengan kategori kurang, dan pada siklus I hasil belajar siswa diperoleh dengan skor 78,69 dengan kategori cukup. Sedangkan untuk siklus II mengalami peningkatan yaitu dengan skor 87,08 dengan kategori baik. 6) Dengan demikian

(10)

10

penerapan model pembelajaran kancing gemerincing dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah di kelas XI IPS 1 SMAN 5 Dumai. 7) dengan penerapan model pembelajaran kancing gemerincing dalam pembelajaran sejarah, membuat belajar menjadi lebih efektif dan efisien, siswa lebih mampu aktif dan berperan serta dalam pembelajaran, sehingga tidak ada lagi siswa yang hanya pasif dalam mengikuti pembelajaran.

Sesuai dengan hasil penelitian dan ditinjau pustaka yang berhubungan dengan penelitian ini, maka penulis sampaikan saran-saran sebagai berikut: 1) Model pembelajaran Kooperatif teknik kancing gemerincing dapat dijadikan sebagai alternatif dalam pembelajaran Sejarah karena dapat meningkatkan hasil belajar siswa. 2) Disarankan supaya dapat menerapkan model pembelajaran kancing gemerincing dalam pembelajaran karena model pembelajaran ini dapat digunakan untuk pengembangan pemahaman materi siswa, membuat siswa aktif dalam pembelajaran, serta menimbulkan rasa percaya diri, minat dan motivasi dalam mengikuti pelajaran. 3) Bagi guru yang menerapkan pembelajaran kooperatif teknik kancing gemerincing ini, agar dapat mempersiapkan konsep materi pembelajaran secara terencana serta media pembelajaran yang diperlukan, sehingga pada saat proses pembelajaran berlangsung dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. 4) Kepada siswa disarankan belajar menggunakan model pembelajaran kancing gemerincing karena model pembelajaran ini sangat membantu menunjang pembelajaran sejarah yang kebanyakan materinya saling berkaitan satu sama lain dan agar siswa mudah mengingat materi pembelajaran yang kebanyakan hafalan.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi dkk. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara,

Asma, Nur. 2006. Model Pembelajaran Kooperatif. Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

Dalyono M, 2001. Psikologi Pendidikan.Jakarta: Rineka Cipta.

Ernawati,2009.Metode inquiri untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas IV SD Negeri Sungai Piring,kec. batang tuaka, Kab.indragiri hilirl. Skripsi tidak dipublikasikan. Pekanbaru : Universitas Riau.

Hasbullah, 2005. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Lie Anita, 2004. Cooperatif Learning mempraktekkan Cooperatif Learningdiruang-ruang Kelas. Jakarta: Grasindo.

(11)

11

Ninggsih Dwi Ariyani, 2009. Pengaruh Penggunaan Mode Pembelajaran Kooperatif Teknik Kancing Gemerincing Terhadap Hasil Belajar PKN Siswa Kelas VIII SMPN 1 KAMPAR KIRI HILIR, FKIP.Skripsi tidak dipublikasikan.

Purwanto M. Ngalim, 2004. Prinsip-prinsip Dan Teknik Evaluasi Pengajaran. jakarta: PT. Remaja Rosdakarya.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sagala H. Syaiful, 2009. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung:Alfabeta. Slameto, 1995. Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya.

Jakarta:Rineka Cipta.

Slameto, 2001. Evaluasi Pendidikan. jakarta: Bumi Aksara.

Sudjana Nana, 2001. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sukardi, 2010. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Aqib Zainal, 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: CV. Yrama W idya.

Referensi

Dokumen terkait

Persepsi para guru SMAN di Kecamatan XIII Koto Kampar terhadap hasil penilaian sertifikasi (hasil penilaian yang belum mencukupi angka minimal kelulusan dan hasil

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji tentang (1) praktek pengungkapan tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan perbankan dan lembaga keuangan non perbankan, (2)

Hal ini disebabkan bagian hilir lebih tinggi dari pada bagian hulu dikarenakan bagian hilir adalah tempat pemukiman masyarakat yang begitu banyak sehingga hal

Salah satu hal terpenting untuk menarik minat pelanggan adalah konsep yang baik dan perencanaan strategis sistem informasi pada perusahaan tersebut.Oleh karna itu

kita ketahui bahwa masyarakat miskin banyak yang menerima raskin dengan tetap membayar harga distribusi seperti biaya tambahan untuk transportasi mengangkut beras dari

Langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut, misalkanpada sebuah sebarang ∆ABC disetiap sisi segitiga dibentuk suatu excircle, sehinggamasing-masing menyinggung di

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah menyediakan informasi sebagaimana pentingnya pengaruh pemanfaatan teknologi informasi dan pengendalian intern terhadap

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,