Bab 2
Data dan Analisa
2.1 Data dan literatur
Data dan sumber informasi untuk mendukung identitas café wayan ini diperoleh dari: • www.kompas.com
• Food and Wine Magazine
• Wawancara dengan nara sumber dari pihak terkait dan masyarakat sekitar di Ubud. Data yang didapar merukapan pendapat pribadi, opini dan pengalaman
dari perorangan, tidak bersifat ilmiah.
2.2 Gambaran Umum tentang Identitas Kafe di Indonesia
Makin hari tampaknya kafe semakin menjadi tempat favorit bagi sebagian orang.
Pertumbuhan kafe begitu terasa karena keberadaannya seakan mengikuti ke arah mana
pun kita pergi. Di Jakarta, nyaris dalam setiap mal pasti ada kafe. Bukan hanya satu kafe
dalam satu mal. Beberapa kafe dalam satu mal pun tampaknya tak kurang pengunjung,
terutama pada akhir pekan.
Tatanan interior pada beberapa kafe masa kini cenderung bergaya modern minimalis.
setempat. Di Bandung, misalnya, ada Atmosphere Resort Café yang memilih mebel
bergaya minimalis dan memadukannya dengan gaya saung khas masyarakat Jawa Barat.
Semangat minimalis dalam tatanan interior kafe juga ditunjukkan oleh Potluck, yang
terletak di Jalan Teuku Umar, Bandung. Kafe sekaligus galeri dan perpustakaan atau
tempat baca ini memadukan desain kursi dan meja yang lurus-lurus saja, nyaris tanpa
ornamen. Menurut Dani, nama panggilan Sri Ramadani, konsep kafe sekaligus tempat
baca dan galeri dipilih untuk memberikan kehangatan dan menumbuhkan ”hubungan”
yang personal antara kafe dan para pengunjungnya. Suasana dan atmosfer yang
ditimbulkan dari interior kafe bisa meredam kebisingan lalu lintas Bandung. suasana
kafe tampaknya sengaja dibuat untuk membuat orang betah berlama-lama, tak sekadar
makan dan langsung pergi. Menurut Dani, Potluck awalnya didesain sebagai tempat
mampir semata. Tempat seseorang bisa bertemu siapa saja, untuk urusan apa saja, dalam
tenggang waktu yang relatif singkat. Oleh karena itulah awalnya di sini hanya
disediakan minuman dan makanan kecil. Namun, seiring dengan perjalanan waktu,
ternyata sebagian pengunjung kafe yang mulai beroperasi tahun 2003 ini ingin sekalian
makan besar.
Meski namanya kafe, tak semua tempat yang menyebut diri kafe hanya cocok
dikunjungi orang dewasa yang sekadar ingin minum kopi sambil ngobrol. Tidak sedikit
pula kafe yang cocok untuk kebutuhan seluruh anggota keluarga. Kafe seperti ini
biasanya menggabungkan suasana restoran dan kafe sebagai tempat bersantai.
2.3 Gambaran Umum tentang Penggunaan Kafe di Jakarta
Budaya kafe memungkinkan semuanya. Orang bisa leyeh-leyeh tetapi tetap produktif.
Suasana kafe yang tenang, santai, serta sofa yang empuk, beberapa bahkan dilengkapi
fasilitas internet memungkin kegiatan belajar mengajar bisa dilakukan di situ. Mereka
tidak sekedar obrol tetapi tengah mempelajari sesuatu. Bermodal laptop atau selembar
kertas dengan pensil kegitan itu berjalan lancar. Tampak tidak mencolok. Lagi pula,
siapa yang peduli kalau ternyata orang tidak hanya duduk-duduk menikmati capucino
atau expreso tetapi juga belajar bahasa Inggris, Perancis, Jepang atau Mandarin.
Fenomena ini juga tidak lepas dari kebutuhan kaum urban akan sebuah tempat yang
mudah dijangkau sekaligus mengasyikkan. Praktek les privat di kafe dilakukan terutama
karena pertimbangan efisiensi waktu dari ke dua pihak (guru dan murid). Lalulintas
Jakarta yang macet membuat banyak waktu warganya terbuang sia-sia di jalan.
Sumber : www.kompas.com
2.4 Gambaran Umum tentang Perkembangan Dunia Kulinari di Indonesia
Dunia Kulinari tidak pernah berhenti, sebaliknya berputar terus mengikuti
perkembangan zaman, Nuansa kafe dan restoran dewasa ini pun sudah semakin
fantastic. Para kulinari pun tidak segan-segan memadukan berbagai cita rasa masakan.
Ada koki yang senang berkreasi “besar-besaran” tanpa menghilangkan cita rasa asli dari
masakan itu sendiri. Adapula yang memilih mengolah masakan sesuai dengan resep
2.5 Sejarah Café Wayan
Café Wayan pada mulanya berawal dari sebuah warung kecil yang terbuat dari bamboo
dimana ibu Wayan pada pertama kali menjual kopi kepada petani disekitar area tersebut
yang sekarang dikenal sebagai Monkey Forest Road dan telah berlangsung selama
bertahun-tahun.
Gambar 1.1 Gambar 1.2 Gambar 1.3
Bentuk identitas Café Wayan dibuat sangat sederhana menandai kesederhanaan kota
Ubud. Nama Wayan diambil dari nama Ibu Wayan yang merintis usaha ini dan
mengelola makanan Café Wayan hingga sekarang. Bentuk Identitas Café Wayan sendiri
menggunakan jenis font serif dan dihiasi dengan bunga kembang sepatu yang
merupakan gaya tradisional khas Bali zaman dahulu. Namun, hal ini menyebabkan
beberapa kekurangan, yakni tidak unik, kurang mempunyai daya tarik dan kurangnya
kesatuan pada bunga kembang sepatu sebagai logogram, namun lebih tampak sebagai
super grafik.
Seiring perkembangan zaman, ibu Wayan berserta suami mengubah warung kecil
tersebut menjadi café yang didalamnya terdapat keisitmewaan tradisi ubud dengan
terdapat bunga dan dihias dengan kain catur, yang merupakan salah satu karakteristik
kuat tradisi Bali. Tempat Café Wayan itu sendiri memanfaatkan lingkungan ubud yang
tenang dan damai dipadukan dengan alam pegunungan dan kebun yang membuat tempat
ini memiliki nilai tersendiri.
Pada awalnya Café Wayan hanya menyediakan menu masakan khas bali yang
merupakan andalan dari ibu Wayan itu sendiri, namun dengan perkembangan kota
Ubud, café ini mulai menyediakan masakan internasional selain pada menu khasnya
Ayam Betutu (masakan tradisional yang diolah dengan rempah-rempah digoreng
kemudian dikukus). Selain ayam betutu, masakan tradisional lainnya adalah nasi
campur. Nasi putih dengan sate ayam, ayam goreng, jukud bejek (terbuat dari kelapa
yang mirip dengan urap bagi orang jawa) dan sambal. Semuanya diolah dari
rempah-rempah yang didapat dari daerah Ubud itu sendiri.
Harga yang ditetapkan pada menu Café Wayan mengikuti standar harga pada
daerah-daerah pariwisata berkisar antara 35,000 IDR untuk nasi campur dan 210,000 IDR untuk
Bebek Betutu, mengingat target utama dari Café Wayan sendiri merupakan wisatawan
yang sedang berkunjung ke daerah Ubud.
Dengan perkembangan ekonomi, suami ibu Wayan yang lebih dikenal dengan Pak Ketut
menyediakan akomodasi dan mengembangkan kebun yang merupakan nuansa
pendukung yang menjadi khas nuansa Café Wayan itu sendiri. Hingga sekarang ini,
2.6 Data Kompetitor
Bebek Bengil merupakan tempat terbaik dalam menyediakan masakan Indonesia dengan
nuansa kebun Bali yang khas, dikelilingi oleh kolam dengan air mancur, patung dan
persawahan mengelilingi restoran ini yang membuat restoran ini menjadi sangat
nyaman.
Bebek Bengil pertama kali dibuka pada tahun 1990, dan sejak itu telah terkenal dengan
penyediaan makanan, pelayanan yang ramah, nyaman, dan dikelilingi dengan nuansa
yang santai. Nama Bebek Bengil diambil dari pengunjung pertama restoran ini pada saat
menjelang hari pembukaan restoran ini. Sekumpulan bebek yang menyeberang dari
persawahan diseberang restoran hendak berpindah ke persawahan dibelakang restoran,
meninggalkan bekas lumpur dimana-mana pada hampir semua bagian restoran. Dari
peristiwa inilah nama Bebek Bengil diambil yang berarti bebek nakal.
Bebek Bengil menyediakan masakan utama terbuat dari daging bebek yang digoreng
renyah dan menjadi andalan utama restoran ini. Bebek tidak mempunyai banyak daging
didalamnya, namun tetap mempunyai kenikmatan tersendiri. Selain masakan Indonesia,
tempat ini juga menyediakan masakan internasional lainnya.
Selain memiliki makanan dan tempat yang indah, Bebek Bengil juga memiliki identitas
yang cukup baik dimana pengaplikasiannya dari pakaian hingga packaging tersusun
menjadi kompetitor utama bagi Café Wayan, terlebih dengan memiliki identitas yang
lebih baik dibandingkan dengan Café Wayan.
2.7 Perilaku Pengunjung Café Wayan
Survei sebagai bahan pencarian data dilakukan dengan responden pengunjung Café
Wayan, baik pria maupun wanita dengan jangkauan usia antara 21 sampai dengan 65
tahun dengan jumlah responden 12 orang.
Data hasil survei yang didapatkan melalui wawancara pada masyarakat sehubungan
dengan keberadaan Café Wayan di Ubud menyebutkan antara lain sebagai berikut: • Responden mengetahui keberadaan Café Wayan dari rekomendasi pengunjung
lain ataupun referensi di majalah
• Responden rata-rata berkunjung 1-2x setahun bagi wisatawan yang sementara di Bali. Sementara bagi wisatawan yang menetap di Bali dapat berkunjung hingga
7x setahun.
• Responden menggambarkan pengalaman yang didapat merupakan kebahagiaan tersendiri dimana mendapat suasana damai, ramah disertai dengan nuansa kebun
yang alami yang pada malam hari disertai dengan penerangan berupa obor. • Responden rata-rata mengatakan menu di Café Wayan sangat enak dan yang
merupakan menu favorit dari rata-rata responden adalah sate ayam, nasi campur
dan chocolate cake.
• Responden berpendapat keistimewaan Café Wayan terdapat pada makanan tradisional dan nuansa yang alami.
• Semua responden mengatakan kesediaannya untuk berkunjung kembali, bahkan ada yang mengatakan untuk merekomendasikan kepada kerabat lainnya.
2.8 Target Komunikasi
Target Komunikasi Café Wayan dibatasi pada sasaran usia 25 – 45 tahun dengan
golongan ekonomi menengah dan atas dengan psikografi senang dengan suasana santai
sambil menikmati nuansa alam. Hal ini didukung oleh tujuan wisatawan yang
berkunjung ke Ubud untuk berwisata.
2.9 Analisa SWOT
Strengh:
• Banyaknya pengunjung yang merasa puas akan pelayanan dan kualitas yang diberikan oleh Café Wayan sehingga akan merekomendasikan kafe wayan
kepada kerabatnya.
• Brand identity Café Wayan telah melekat di benak masyarakat ubud, sehingga wisatawan yang mencari letaknya, dapat mudah terbantu.
• Nasi Campur dan Ayam Betutu yang dipadu dengan nuansa kebun yang alami memberikan pengalaman tersendiri bagi pengunjung.
• Letaknya yang dekad dengan lokasi parawisata Monkey Forest membuat letak ini strategis bagi wisatawan asing maupun domestik.
Weakness:
• Tidak adanya komunikasi visual yang mencerinkan identitas Café Wayan, selain logo Café Wayan itu sendiri.
• Tidak adanya promosi yang dilakukan Café Wayan.
• Tidak semua makanan khas bali menjadi menu di Café Wayan.
• Adanya pemesanan khusus 1x24 jam untuk beberapa menu makanan seperti
Bebek Betutu, sehingga dapat mengecewakan pengunjung.
Opportunity:
• Café dengan memanfaatkan nuansa dan tempat tradisonal bali, merupakan nilai yang tinggi bagi masyarakat asing dan memiliki identitas yang baik merupakan
hal yang utama.
• Merupakan tempat rujukan tempat makan bagi masyarakat asing yang diberikan oleh majalah-majalah asing.
Threat:
• Banyaknya kompetitor yang telah berkembang lama di ubud yang menawarkan jenis makanan yang sama.
• Masih adanya ketakutan untuk berkumpul di luar bagi masyarakat asing, dikarenakan pengaruh trauma bom yang pernah terjadi di Bali.
• Adanya faktor luar dan dalam yang menyebabkan masyarakat untuk berhenti mengunjungi kafe.