• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengurai Kasus Korupsi dengan Pembalikan Beban Pembuktian: dalam Hukum Pidana Indonesia dan Hukum Pidana Islam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Mengurai Kasus Korupsi dengan Pembalikan Beban Pembuktian: dalam Hukum Pidana Indonesia dan Hukum Pidana Islam"

Copied!
162
0
0

Teks penuh

Loading

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa efektifitas penerapan beban pembuktian terbalik dalam tindak pidana korupsi (gratifikasi)

Penerapan pembalikan beban pembuktian sampai saat ini masih menjadi perdebatan di antara para ahli hukum dan praktisi, karena tidak terakomodirnya dalam suatu sistem hukum

Hukum pidana Islam dapat dijadikan sebuah pisau analisis bahkan sebagai sebuah sumbangsih pemikran dalam hal penanggulangan tindak pidana korupsi di bumi pertiwi. Kalaupun

8 Tahun 2010 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang adalah pembalikan beban pembuktian ( omkering van bewijslast atau Shifting the burden of proof )

Sedangkan hubungannya dengan Pasal 37 A khususnya ayat (3), bahwa sistem pembalikan beban pembuktian menurut Pasal 37 berlaku dalam hal pembuktian tentang sumber (asal)

Sedangkan hubungannya dengan Pasal 37 A khususnya ayat (3), bahwa sistem pembalikan beban pembuktian menurut Pasal 37 berlaku dalam hal pembuktian tentang sumber (asal)

Namun dalam penjelasannya tidak diuraikan atau tidak dicantumkan bahwa ketentuan pasal 77 adalah ketentuan pembalikan beban pembuktian, dan juga tidak dijelaskan

Undang-Undang No.25/2003 mengenai pembalikan beban pembuktian dapat dilakukan pada tindak pidana yang termasuk tindak pidana berat serta memiliki kelebihan yaitu