TIM PENULIS
Tim Rating GBCI
Ir. Rana Yusuf Nasir, I. P. M.
Lestari Suryandari, S. P., M. Si.
Anky C. J. Padmadinata, M. Sc.
Yodi Danusastro, S. T.
Dian Fitria, S. T., M. Sc.
Yanu Aryani, S. Si.
Rahmi Novalia, S. T., M. Sc.
Teuku Muhammad Zulfadly, S. T.
Ibnu Malik, S. Si.
TAG untuk Appropriate Site Development
Iwan Prijanto (Ketua), Core Founder GBCI
Anggia Murni, Core Founder GBCI
Dr. Ir. Srihartiningsih Purnomohadi, M. Sc., Core Founder GBCI
Prasetyoadi, Core Founder GBCI
Quintarina Uniaty, Ph. D., Core Founder GBCI
Ir. Timmy Setiawan, IAI, Core Founder GBCI
TAG untuk Energy Efficiency and Conservation
Ir. Agus Sudjadi Tjokrorahardjo (Ketua), Core Founder GBCI
Ir. Achmad Yani Chaidir, M. T., I. P. M., Core Founder GBCI
Dick Arnan, Core Founder GBCI
Dion Anandityo, Surbana Technologies
Eka Sediadi Rasyad, Core Founder
Eko Wisaksono, PT Bita Enarcon Engineering
Herman Endro, Core Founder GBCI
HP Manullang, Core Founder GBCI
Kafi'uddin, PT Summarecon Agung, Tbk.
M. Sacha J. van Diest, Core Founder GBCI
Romanus,
Sinta Marino, PT Philips Indonesia
Ir. Sri Oetari Saleh, PT Pertamina (Persero)
Yosef Lim Tjay Ong, G-Energy Global Pte. Ltd.
Dra. Yulia Sulasmi, M. K3, PT Pertamina (Persero)
TAG untuk Water Conservation
Jimmy S. Juwana (Ketua), Core Founder GBCI
Dwi Joko Anggoro, PT Surya Toto Indonesia, Tbk.
Hendry Tanuwidjaja, PT Surya Toto Indonesia, Tbk.
Hendry Wijaya, PT Surya Toto Indonesia, Tbk.
Mahfudin, PT Surya Toto Indonesia, Tbk.
Sunardi H., PT Surya Toto Indonesia, Tbk.
TAG untuk Material Resources and Recycle
Ir. Dina Hartadi (Ketua), Core Founder GBCI
Anto P. Suparmanto, PT Cipta Mortar Utama
Ir. Asmady Parman, Core Founder GBCI
Bambang Sukoaji, PT Knauf Gypsum Indonesia
Esther Tiurma, PT Knauf Gypsum Indonesia
Eva H., PT Knauf Gypsum Indonesia
Gunawan Salim, PT Sumalindo Lestari, Tbk.
Dra. Ika Yuni Purnama, M. Hum., Core Founder GBCI
Irene Pirokida Hasugian, Jotun
Mulyo Soetomo, Toucanecofloors
Naning Adiwoso, Core Founder GBCI
Raymond Irawan, PT Duta Sarana Perkasa
Rudi Gunawan, PT Sumalindo Lestari, Tbk.
Moh. Sigit Kusbandono, S. T., PT Cipta Mortar Utama
Slamet Widjaja, PT Duta Sarana Perkasa
TAG untuk Indoor Air Health and Comfort
Priyanto H. S. (Ketua), Core Founder GBCI
Ahmad Djuhara, Core Founder GBCI
Bintang Nugroho, Core Founder
Gregorius Wahyu Kurniawan, S. T., PT Holcim Indonesia
John Budi L., Core Founder
TAG untuk Building and Environment Management
Tondy O. Lubis, Core Founder GBCI
Slamet Ristono, PT Grand Indonesia
Totok Sulistiyanto, Core Founder GBCI
KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Mahaesa atas terselesaikannya buku Panduan Penerapan Perangkat Penilaian Bangunan Hijau GREEENSHIP Versi 1.0, yang merupakan hasil studi Direktorat Rating dan Teknologi dari Konsil Bangunan Hijau Indonesia (Green Building Council of
Indonesia – GBCI). Proses penyelesaian buku ini melibatkan sejumlah tenaga ahli dan profesional
dari berbagai disiplin ilmu dan instansi terkait. Diharapkan, terbitnya buku ini akan menjadi tonggak penting dalam penerapan konsep bangunan hijau (green building) di Indonesia.
Panduan Penerapan Perangkat Penilaian Bangunan Hijau GREENSHIP Versi 1.0 ini disusun dengan maksud membantu dimulainya praktik green building di Indonesia. Dengan demikian, diharapkan dapat terjadi transformasi pasar dan perilaku. Panduan ini juga diharapkan dapat membantu untuk memperkenalkan green building kepada seluruh lapisan masyarakat sehingga terjadi proses edukasi yang berujung kepada perilaku hidup yang green. Oleh sebab itu, GBCI sebagai badan independen yang diakui oleh World Green Building Council (WGBC) merasa terpanggil untuk berperan serta dalam melakukan tugas ini, dengan menyusun perangkat penilaian yang disusun disesuaikan dengan kondisi dan budaya di Indonesia. Dalam hal ini, kami terbuka terhadap umpan balik dan kritik yang membangun dari pihak mana pun, sehingga dengan demikian diharapkan terjadi perbaikan yang bersifat terus-menerus pada perangkat ini, yang tentunya akan berakibat pada semakin majunya industri bangunan di Indonesia dalam menerapkan konsep green building.
Pada kesempatan yang berharga ini, kami juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada rekan-rekan founder (core dan corporate), para tenaga ahli, dan tim penyusun yang berperan serta secara aktif dalam penyusunan ini.
Jakarta, 17 Juni 2010 Hormat kami,
Konsil Bangunan Hijau Indonesia
Naning Adiwoso (Ketua Umum)
KATA PENGANTAR
Buku Panduan Penerapan Bangunan Hijau GREENSHIP Versi 1.0 ini memuat sistem perangkat penilaian bangunan hijau yang merupakan penyempurnaan akhir dari panduan kerangka konsep versi pertama dan kedua. Sistem ini akan digunakan dalam melakukan sertifikasi green building di Indonesia. Oleh karena itu, panduan penerapan tidak hanya berisi tolok ukur dan poin nilai seperti versi sebelumnya, melainkan juga sudah dilengkapi dengan pengantar kepada proses sertifikasi dan prosedur yang harus dilakukan sehingga dapat melaksanakan fungsinya.
Panduan ini merupakan kumpulan dari praktik-praktik terbaik serta pengetahuan yang tersebar, dan terdiri atas berbagai disiplin ilmu yang kemudian dirangkum dan dikelompok-kelompokkan. Dalam proses penyusunannya, panduan ini telah melalui serangkaian proses dan diskusi dengan para ahli dari berbagai disiplin ilmu, kemudian dilegitimasi melalui proses Konsensus Nasional. Tentunya isinya akan terus-menerus mengalami penyempurnaan seiring dengan waktu, kemajuan teknologi, serta perkembangan keahlian dan ilmu pengetahuan dari para profesional dan industri bangunan yang menerapkannya. Selanjutnya, diharapkan pula akan terjadi suatu proses berkesinambungan yang mendorong peningkatan kinerja dari industri konstruksi dan bangunan di Indonesia, sehingga dapat bersaing dengan standar internasional.
Dalam penyusunan ini, tentu masih dijumpai sejumlah kekurangan, kekurang-tepatan, serta struktur penulisan yang masih harus disempurnakan. Oleh sebab itu, kami selalu terbuka terhadap masukan, komentar, koreksi, serta usulan untuk butir-butir rating dan hal-hal lain berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, sehingga dapat terjadi proses perbaikan yang berkelanjutan terhadap perangkat penilaian GREENSHIP versi-versi berikutnya. Untuk itu, semua saran, komentar, dan usul dapat dikirimkan melalui email ke [email protected]. sehingga dapat dipertimbangkan dan diolah oleh Direktorat Rating dan Teknologi GBCI untuk versi-versi selanjutnya.
Terakhir, perlu ditekankan bahwa panduan ini hanya akan terus berkembang bila melalui proses penerapan dan dukungan dari semua pemangku kepentingan. Oleh karena itu, kami mengharapkan partisipasi aktif dari kalangan industri dalam membangun industri bangunan di Indonesia.
Jakarta, 17 Juni 2010
Hormat Kami,
Direktorat Rating & Teknologi Konsil Bangunan Hijau Indonesia
DAFTAR ISI
Hal
JUDUL
KATA SAMBUTAN
0-1
KATA PENGANTAR
0-2
DAFTAR ISI
0-3
DAFTAR TABEL
0-4
DAFTAR ISTILAH
0-5
RINGKASAN RATING
0-6
RINGKASAN TOLOK UKUR
0-7
PENDAHULUAN
1-1
LATAR BELAKANG1-2
TUJUAN1-3
FILOSOFI GREENSHIP1-4
PROSES PENYUSUNAN1-5
Guidelines v1 Framework v2 Framework v3 Konsensus NasionalSISTEMATIKA
2-1
GREEN SEBAGAI TUJUAN
2-2
NEW BUILDING/ BANGUNAN BARU
2-3
ELIGIBILITY
2-4
TOLOK UKUR2-5
ACCREDITED PROFESSIONAL2-6
PERANGKAT PENILAIAN2-7
Kategori Rating Prerequisite Nilai Point BonusELIGIBILITY
3-1
Tujuan Latar belakangRATING & PENILAIAN
Appropriate Site Development
4-6
(Tepat Guna Lahan)
Energy Efficiency and Conservation
4-8
Water Conservation
4-18
(Konservasi Air)
Material Resources and Cycle
4-27
(Sumber dan Siklus Material)
Indoor Air Health and Comfort
4-35
(Kualitas Udara dan Kenyamanan Ruangan)
Building and Environment Management
4-44
(Manajemen dan Lingkungan Bangunan)
SERTIFIKASI PROYEK
5-1
DAFTAR PUSTAKA
6-1
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Daftar Fasilitas Umum untuk Rating ASD 2
Tabel 2. Koefisien Limpasan (Runoff) Air Hujan untuk Rating ASD 7 Tabel 3. Kebutuhan Air untuk Rating WAC 1
Tabel 4. Kemampuan Fixtures untuk Rating WAC 2
DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN
Adjusment : Suatu usaha untuk mengatur besaran (parameter) operasional dari suatu peralatan sehingga unjuk kerja dari peralatan tersebut sesuai dengan perencanaan
AHU : Air handling unit atau unit pendistribusian udara dingin
Air conditioning : Pengondisian udara
Albedo : Daya refleksi panas matahari suatu permukaan yang dapat memengaruhi
heat island effect
AP : Accredited professional, yaitu seorang tenaga ahli yang sudah tersertifikasi, bertugas untuk mengarahkan berjalannya proyek sejak tahap perencanaan desain dan sebelum pendaftaran sertifikasi
ASD : Appropriate site development
Balast : Alat yang dipasang pada lampu fluoresen dan lampu pelepasan gas lainnya untuk membantu dalam penyalaan dan pengoperasiannya
BEM : Building environmental management
Best practise : Praktik terbaik yang dapat dilakukan
BMKG : Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
BPO : Bahan perusak ozon
Brownfield : Lahan bekas industri atau fasilitas komersial yang dapat digunakan kembali dengan terlebih dahulu dilakukan pembangunan atau rehabilitasi lahan
CFC : Chloro fluorocarbon, merupakan bahan refrigerant yang memiliki potensi merusak lapisan Ozon
Cfm : Cubic feet per minute, merupakan satuan kecepatan arus larutan dalam satuan kaki kubik per menit
CO2 : Carbon dioxide
Comissioning : Serangkaian kegiatan pemeriksaan dan pengujian suatu obyek untuk meyakinkan bahwa obyek yang diperiksa dan diuji, baik alat demi alat maupun sebagai suatu sistem, telah berfungsi sebagaimana mestinya dan memenuhi persyaratan kontrak sehingga dapat dinyatakan siap untuk dioperasikan, dan secara resmi dapat diserahterimakan oleh perencana kepada pengelola gedung
Cooling load : Beban pendingin pada sistem pengondisian udara
Cooling tower : Alat pembuang panas yang tidak berguna ke atmosfer melalui pendingan aliran air
COP : Coefficient of performance, yaitu perbandingan antara kalor bersih yang dilepaskan (net heat removal) dan total masukan energi, yang dinyatakan dalam unit yang konsisten dan di bawah kondisi yang ditetapkan dalam perencanaan
Data centre : Merupakan sebuah fasilitas yang digunakan untuk sistem komputer utama dan komponen-komponen yang tergabung di dalamnya, seperti halnya telekomunikasi dan sistem penyimpanan
Database : Data dasar yang terdiri atas kumpulan data yang terorganisasi untuk satu atau lebih penggunaan
Drainase : Tindakan teknis penanganan kelebihan air yang disebabkan oleh hujan, rembesan, irigasi, atau buangan air rumah tangga dengan cara
mengalirkan, menguras, membuang, meresapkan dengan tujuan akhir mengembalikan ataupun meningkatkan fungsi kawasan
EEC : Energy efficiency conservation
Energy modelling software : Perangkat lunak yang digunakan untuk melakukan simulasi penggunaan energi pada gedung designed yang dibandingkan dengan gedung baseline
F&B : Food and beverages, adalah sektor/industri yang mengkhususkan konsepsi atas pembuatan dan distribusi pangan
FAKO : Faktur angkutan kayu olahan
Fit-out : Aktivitas mengimplementasikan desain interior pada ruang yang telah ditentukan
Fluks luminus (lumen) : Ukuran tingkat kekuatan cahaya yang diterima oleh mata manusia
Formaldehyde : Zat kimia organik yang penting bagi industri material bangunan berupa gas dan berbau tajam yang biasa digunakan sebagai perekat pada kayu
komposit
FSC : Forest Stewardship Council, yaitu lembaga internasional yang menyertifikasi produk kayu beserta sistem produksinya
Gravity : Teknologi yang digunakan untuk membersihkan kotoran pada WC dengan menggunakan potensi gravitasi
GBCI : Green Building Council Indonesia
Gedung baseline : Gedung yang digunakan sebagai acuan penggunaan energi dimana komponen-komponennya berdasarkan SNI, keputusan pemerintah, dan peraturan yang ada
Gedung designed : Gedung yang akan dibangun. Gedung ini akan dibandingkan dengan gedung baseline untuk mengetahui perbedaan penggunaan energinya sesuai dengan desain yang telah direncanakan.
Global warming : Proses peningkatan suhu rata-rata global pada permukaan bumi yang meliputi atmosfer, laut, dan daratan
Grade emission factor : Konversi antara CO2 dan energi listrik
Green building : Bangunan ramah lingkungan yang dicapai baik dari tahap perencanaan, pembangunan maupun pengoperasian dan pemeliharaan sehari-hari
Green practice : Praktik-praktik yang mengimplementasikan konsep ramah lingkungan
Green product : Produk ramah lingkungan yang mempertimbangkan beberapa ketentuan dampak lingkungan, antara lain bahan baku produk, proses produksi, emisi produk, dan sumber bahan baku produk
Halon : CFC yang mengandung bromin, yang merupakan gas perusak ozon dengan ODP < 1
Hardscape : Bagian dari lansekap yang dikenal sebagai elemen keras atau bagian dari taman yang bersifat padat
HCFC : Hydro chloro fluoro carbon, yang merupakan gas perusak ozon dengan ODP < 1
Icon/landmark : Penanda yang diberikan untuk menggambarkan sesuatu berdasarkan ciri khas tertentu
IHC : Indoor air health and comfort
Iluminasi : Fluks luminus yang datang pada permukaan atau hasil bagi antara fluks cahaya dengan luas permukaan yang disinari dinyatakan dalam lux
Infrared : Sinar tidak tampak pada spektrum warna merah dengan panjang gelombang sekitar 750 nm
Introduksi udara luar : Kebutuhan udara luar atau kebutuhan laju udara ventilasi bangunan gedung
ISO 14001 : Suatu standar internasional untuk sistem manajemen lingkungan (SML) yang meliputi pencegahan polusi, kesesuaian dengan undang-undang yang berlaku, dan perbaikan yang berkesinambungan SML
Kawasan lindung : Wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan
Kawasan perkotaan : Wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi
Klaustrofobia : Rasa takut akan terkurung pada suatu tempat (ruangan) yang sempit dan tertutup
Kondensasi : Perubahan suatu zat dari fasa uap menjadi fasa cair
kWh : Kilo watt hour, satuan daya listrik yang mengalir selama 1 jam
Laminating adhesive : Bahan perekat pada material finishing
LEI : Lembaga Ekolabel Indonesia, yaitu lembaga nasional yang dapat mensertifikasi produk kayu beserta sistem produksinya
Loker : Tempat penyimpanan barang yang dilengkapi dengan sistem kunci
Lux sensor : Automatisasi sistem yang mengatur tingkat pencahayaan sesuai dengan kebutuhan
Make up water cooling tower
: Sebagai tambahan untuk kebutuhan air di menara pendingin
Material modular : Material yang diproduksi dalam modul tertentu di pabrik sesuai dengan kebutuhan pasar
measuring-adjusting instruments
: Alat ukur dan alat adjusting. Hasil pengukuruan digunakan untuk melakukan adjusting bila parameter belum sesuai dengan perencanaan Mekanikal elektrikal : Hal-hal yang berhubungan dengan desain aktif bangunan yang diatur baik
secara mekanis maupun elektrik
MRC : Material resources and cycle
Nikotin : Senyawa kimia organik kelompok alkaloid, kandungan dalam tembakau yang bersifat karsigonik
NLA : Nett letable area, luasan area gedung komersial yang termasuk komponen hitungan sewa atau jual
ODP : Ozone depleting potential, kemampuan suatu zat untuk merusak lapisan ozon
OTTV : Overall thermal transfer value, yaitu nilai perpindahan panas menyeluruh untuk bidang luar bangunan gedung dengan orientasi tertentu atau pengukuran rata-rata perpindahan panas dari luar lingkungan ke dalam kondisi bangunan melalui selubung bangunan per satuan luas watt/m2, nilai tersebut bergantung dari sifat konduktivitas suatu bahan
Owner : Pemilik gedung
Ozon : Molekul triatomik yang terdiri dari tiga molekul oksigen yang bersifat reaktif
Papan partikel : Rekayasa produk kayu yang diproduksi dari limbah kayu , seperti serpihan kayu, serutan penggergajian, atau bahkan debu gergaji. . Limbah ini diolah menjadi partikel kayu yang dilem, dipadatkan dan di bawah tekanan yang ekstrim menjadi panel yang solid
PDAM : Perusahaan Daerah Air Minum
Phase balance : Tegangan di antara ketiga fase dalam jala-jala listrik harus seimbang
Planter box : Wadah tanaman
Pollutant : Zat pencemar Ppm : Part per million
Prafabrikasi : Merupakan metode konstruksi yang komponen-komponennya dirakit di pabrik
Protokol Montreal : Piagam perjanjian pada 16 September 1987 di Montreal, berisi perlindungan lapisan ozon dengan menghapus produksi bahan-bahan yang dapat menimbulkan kerusakan lapisan ozon
QS : Quantity surveyor, yaitu pihak profesional yang bekerja dalam industri konstruksi bangunan dalam bidang estimasi biaya
Ramp : Jalur untuk pengguna kursi roda dengan kemiringan tertentu
Rapid transit : Sistem angkutan transportasi massal yang memiliki kecepatan tinggi pada jalur khusus
Rating tools : Perangkat penilaian
Recycle : Memanfaatkan kembali sisa material atau air dengan cara melalui proses daur ulang menjadi bentuk baru.
Reduce : Mengurangi sampah (limbah) dengan cara minimalisasi barang atau material yang digunakan
Refrigerant : Bahan yang digunakan untuk mengatur suhu sampai mencapai di bawah suhu lingkungan
Regenerative drive system : Lift yang menggunakan energi untuk menghasilkan energi lisrik yang bisa digunakan untuk alat lain berdaya lsitrik rendah
Return air grill : Tempat masuknya kembali udara dalam ruang yang telah bersikulasi di dalam ruangan ke dalam mesin pendingin untuk dikondisikan
Reuse : Menggunakan kembali material atau air yang masih dapat digunakan tanpa melalui proses perubahan bentuk
Revitalisasi : Upaya untuk meningkatkan daya dukung kawasan yang produktivitasnya telah menurun agar vitalitasnya kembali
Ruang terbuka hijau (RTH) : Area memanjang dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam
Sampah anorganik : Sampah seperti kertas, kardus, kaca/gelas, plastik, serta besi dan logam lainnya
Sampah organik : Sampah yang mudah membusuk, antara lain bekas makanan, bekas sayuran, kulit buah lunak, daun-daunan, dan rumput
Sanitasi : Usaha pencegahan penyakit dengan cara menghilangkan atau mengatur faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dengan rantai perpindahan penyakit tersebut
Selubung bangunan : Pemisah antara interior dan eksterior sebuah bangunan lingkungan yang berfungsi sebagai kulit terluar untuk melindungi lingkungan dalam ruang (indoor) serta untuk memfasilitasi kontrol iklim
Shuttle bus : Moda transportasi yang secara khusus menghubungkan dua titik tujuan Sistem flushing : Sistem penggelontoran air untuk membersihkan dan menghanyutkan
kotoran yang dimasukkan ke dalam lubang peturasan atau kloset yang dibantu dengan tekanan tertentu.
Sistem kotak kontak : Sistem yang digunakan sebagai media penghubung antara sumber listrik dan peralatan yang membutuhkan listrik
Sistem tata cahaya : Sistem yang digunakan untuk mengatur penerangan sesuai dengan fungsi ruang
Sistem tata udara : Sistem yang digunakan untuk mengatur pengondisian udara dalam ruang sesuai dengan kebutuhan
Sleep mode : Mode stand by daya rendah untuk perangkat elektronik SNI : Standar Nasional Indonesia
Softscape : Bagian dari lansekap yang merupakan vegetasi SPB : Surat pengantar barang
Stormwater management : Manajemen air limpasan hujan
Stratosfer : Lapisan kedua dari atmosfer bumi, terletak di atas troposfer dan di bawah mesosfer
Styrofoam : Nama generik untuk semua busa polystyrene
Supplier : Pihak yang memasok produk kepada konsumen
Tenant : Pengguna gedung
Tengkulak : Pihak yang membeli hasil pertanian sebelum waktu panen kemudian berhak memanen dan mendistribusikannya ke pasar
TPA : Tempat pembuangan akhir, yaitu lahan akumulasi akhir penimbunan sampah
TPS : Tempat pembuangan sementara, yaitu tempat pemindahan sampah dari alat pengumpul ke alat angkut sampah yang dapat dipindahkan secara langsung atau melalui tempat penampungan sampah sementara
Traffic management system
: Sistem pengelolaan lalu lintas lift sehingga mencapai waktu tempuh dan konsumsi energy sehingga mencapai efisiensi optimal
UKL dan UPL : Upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan, merupakan perangkat pengelolaan lingkungan hidup untuk pengambilan keputusan dan menjadi dasar untuk menerbitkan izin melakukan usaha dan atau kegiatan.
Valve : Katup yang digunakan untuk suatu aliran.
Ventilasi : Pergerakan udara masuk ke dan keluar dari ruangan tertutup
Verifier : Petugas yang melakukan verifikasi kesesuaian data proyek terhadap persyaratan yang telah ditentukan
VOC : Volatile organic compound, yaitu senyawa kimia organik yang memiliki tekanan uap yang cukup tinggi dalam kondisi normal secara signifikan sehingga mudah menguap
Voltage drop : Penurunan tegangan dalam rangkaian listrik yang terjadi antara sumber dan beban
Volume meter : Alat untuk mengukur besaran volume air yang telah dialirkan
Water fixtures : Alat yang digunakan untuk keluaran sumber air
Water runoff : Kondisi di mana air tidak dapat diserap oleh tanah karena porositas tanah rendah
WC : Water closet
Worksheet : Kertas kerja elektronik yang mengitung penghematan energi dengan membandingkan penggunaan energi pada gedung baseline dengan gedung designed
RINGKASAN RATING
Perangkat Penilaian
Provisi
Code
Rating
Poin
Max
Poin
Max
Appropriate Site Development
17%
20%
Prasyarat 1 Basic Green Area A
ASD 1 Site Selection 2 A 2
ASD 2 Community Accessibility 2 A 2
ASD 3 Public Transportation 2 A 2
ASD 4 Bicycle 2 A 2
ASD 5 Site Landscaping 3 A 3
ASD 6 Micro Climate 3 A 3
ASD 7 Storm Water Management 3 A 3
8
17 17Energy Efficiency and Conservation
26%
36%
Prasyarat 1 Electrical Sub Metering A
Prasyarat 2 OTTV Calculation A
EEC 1 Energy Efficiency Measure 20 A 20
EEC 2 Natural Lighting 4 A 4
EEC 3 Ventilation 1 A 1
EEC 4 Climate Change Impact 1 A 1
EEC 5 On Site Renewable Energy 5 A 5
7
26 31Water Conservation
21%
24%
Prasyarat 1 Water Metering A
WAC 1 Water Use Reduction 8 A 8
WAC 2 Rainwater Harvesting 3 A 3
WAC 3 Water Recycling 3 A 3
WAC 4 Alternative Water Resource 2 A 2
WAC 5 Water Fixtures 3 A 3
WAC 6 Water Efficiency Landscaping 2 A 2
Material Resource and Cycle
14%
6%
Prasyarat 1 Fundamental Refrigerant A
MRC 1 Building and Material Reuse 2 A 2
MRC 2 Environmentally Processed Product 3 NA
MRC 3 Non ODS Usage 2 NA
MRC 4 Certified Wood 2 NA
MRC 5 Modular Design 3 A 3
MRC 6 Regional Material 2 NA
7
14 5Indoor Health and Comfort
10%
7%
Prasyarat 1 Outdoor Air Introduction A
IHC 1 CO2 Monitoring 1 A 1
IHC 2 Environmental Tobacco Smoke Control 2 A 2
IHC 3 Chemical Pollutants 3 NA
IHC 4 Outside View 1 A 1
IHC 5 Visual Comfort 1 A 1
IHC 6 Thermal Comfort 1 A 1
IHC 7 Acoustic Level 1 NA
8
10 6Building Environmental Management
13%
8%
Prasyarat 1 Basic Waste Management A
BEM 1 AP as a Member of The Project Team 1 A 1
BEM 2 Pollution of Construction Activity 2 NA 1
BEM 3 Advance Waste Management 2 A 2
BEM 4 Proper Commissioning 3 A 3
BEM 5 Submission Implementation Green Building
Data for Database 2 NA
BEM 6 Fit Out Guide 1 NA
BEM 7 Occupant Survey 2 NA
8
13 7RINGKASAN TOLOK UKUR
No
Category
Benchmark
Point
Max.
Point
ASD
17
P1 Basic Green Area
Adanya vegetasi (softscape) bangunan taman (hardscape) dengan luas area minimum 10% dari luas total lahan atau 50% dari ruang terbuka dalam tapak.
P P Memiliki komposisi vegetasi 50% lahan tertutupi
luasan pohon ukuran kecil, ukuran sedang, ukuran besar, perdu setengah pohon, perdu, semak dalam ukuran dewasa dengan jenis tanaman.
1 Site Selection
Membangun di dalam kawasan perkotaan yang masih berdensitas rendah, yaitu tingkat okupansi/hunian <300 orang/Ha.
1
2 Pembangunan yang berlokasi dan melakukan
revitalisasi diatas lahan yang bernilai negatif dan tak terpakai karena bekas pembangunan / dampak negatif pembangunan.
1
2 Community Accessibility
Terdapat minimal 7 jenis fasilitas umum dalam jarak pencapaian jalan utama sejauh 1500m dari tapak. 1
2 Membuka akses pejalan kaki ke minimal 3 fasilitas
umum sejauh 300 m. 1
Menyediakan fasilitas/akses yang aman, nyaman dan bebas dari perpotongan akses kendaraan bermotor ke minimal 3 fasilitas umum atau dan dengan stasiun transportasi masal.
2 Membuka lantai dasar gedung sehingga dapat menjadi akses pejalan kaki yang aman dan nyaman selama minimum 10 jam sehari.
2
3 Public Transportation
Adanya halte atau stasiun transportasi umum dalam jangkauan 300 m (walking distance) dari gerbang lokasi bangunan
1
2 atau
Menyediakan shuttle bus untuk pengguna tetap gedung dengan jumlah unit minimum untuk 10% pengguna tetap gedung.
1 Menyediakan fasilitas jalur pedestrian di dalam area gedung untuk menuju ke stasiun transportasi umum terdekat yang aman dan nyaman sesuai dengan Peraturan Menteri PU 30/PRT/M/2006 mengenai Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksessibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan Bab 2 B.
1
4 Bicycle
Adanya parkir sepeda yang aman sebanyak 1 unit parkir per 20 pengguna gedung. 1
2 Apabila memenuhi butir 1 di atas dan menyediakan
shower sebanyak 1 unit untuk setiap 10 tempat parkir sepeda.
5 Site Landscaping
Adanya area lansekap berupa vegetasi (softscape) minimal 40% luas total lahan termasuk taman di atas basement, roof garden, terrace garden, dan wall
garden.
1
3 Penambahan nilai sebesar 1 poin untuk setiap
penambahan sebesar 10% area lansekap dari luas lahan di tolok ukur 1 di atas.
2 Penggunaan tanaman lokal (indigenous) dan budidaya lokal dalam provinsi sebesar 60% luas tajuk/jumlah tanaman.
1
6 Micro Climate
Menggunakan material pada area atap gedung sehingga nilai Albedo (daya refleksi panas matahari) minimum 0,3.
1
3 Menggunakan material pada area non-atap sehingga
nilai Albedo (daya refleksi panas matahari) minimum 0,3.
1 Desain menunjukkan adanya pelindung pada sirkulasi utama pejalan kaki di daerah luar ruangan area luar ruang gedung menurut Peraturan Menteri PU No. 5/PRT/M/2008 mengenai Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pasal 2.2.3.c mengenai Sabuk Hijau.
1
dan/atau
Desain Lanskap menunjukan adanya fitur yang mencegah terpaan angin kencang kepada pejalan kaki di daerah luar ruangan area luar ruang gedung.
1
7 Storm Water Management
Pengurangan beban volume limpasan air hujan hingga 50% total volume hujan harian. 1
3 atau
Pengurangan beban volume limpasan air hujan hingga 85% total volume hujan harian. 2 Menunjukan adanya upaya penanganan pengurangan beban banjir lingkungan dari luar lokasi bangunan.
1 Menggunakan teknologi-teknologi yang dapat mengurangi debit limpasan air hujan 1
EEC 26
P1 Electrical Sub Metering
Memasang kWh meter pada sistem tata udara , sistem tata cahaya dan kotak kontak serta sistem beban lainnya.
P P P2 OTTV Calculation Menghitung selubung gedung OTTV yang akan
disertifikasi. P P
1 Energy Efficiency Measures
Menggunakan Energy Modelling Software untuk menghitung konsumsi energi di gedung baseline dan gedung designed. Setiap penghematan sebesar 2,5% dimulai dari penurunan energi sebesar 10% dari gedung baseline, mendapat nilai 1 poin dengan maksimum 20 poin (wajib untuk level platinum).
20 20
atau
Menggunakan perhitungan dengan worksheet. Setiap penghematan 2% dari selisih antara gedung
designed dengan baseline mendapat nilai 1 poin.
Penghematan mulai dihitung dari penurunan energi sebesar 10% dari gedung baseline.
atau
Memperhitungkan secara terpisah Overall Thermal
Transfer Value (OTTV) dari selubung bangunan dan
mempertimbangkan Pencahayaan Buatan, Transportasi Vertikal dan Coefficient of Performance (COP).
Building Envelope
5 Tiap penurunan 3 W/m2 dari nilai OTTV 45
W/m2 (SNI 03-6389-2000) mendapatkan nilai 1 poin (sampai maksimal 5 poin).
1 Non Natural Lighting
2 Menggunakan lampu dengan daya pencahayaan
sebesar 30% lebih hemat dari daya pencahayaan yang tercantum dalam SNI 03 6197-2000.
1 Menggunakan 100% ballast frekuensi tinggi (elektronik) untuk ruang kerja 1 Zonasi pencahayaan untuk seluruh ruang kerja yang dikaitkan dengan sensor gerak (motion
sensor)
1 Penempatan tombol lampu dalam jarak pencapaian tangan pada saat buka pintu 1 Vertical Transportation
1 Lift menggunakan Traffic Management System
yang sudah lulus traffic analysis atau menggunakan regenerative drive system
1 Menggunakan fitur hemat energi pada lift, menggunakan sensor gerak atau sleep mode pada eskalator
1 COP
2 Menggunakan peralatan Air Conditioning
dengan COP minimum 10% lebih besar dari standar SNI 03-6390-2000
2
2 Natural Lighting
Penggunaaan cahaya alami secara optimal minimal 30% dari luas lantai dengan intensitas cahaya alami minimal sebesar 300 lux.
Khusus untuk pusat perbelanjaan minimal 20 % dari luas lantai non service mendapatkan intensitas cahaya alami minimal sebesar 300 lux.
2
4 Jika butir satu dipenuhi dan ditambah dengan
adanya lux sensor untuk otomatisasi pencahayaan buatan apabila intensitas cahaya alami kurang dari 300 lux, mendapatkan tambahan nilai 2 poin.
2
3 Ventilation
Tidak mengkondisikan (tidak ber AC) ruang WC, tangga, koridor dan lobi lift serta melengkapi ruangan tersebut dengan sistem ventilasi.
1 1 4 Climate Change Menyerahkan perhitungan pengurangan emisi CO2 1 1
Impact yang didapatkan dari selisih kebutuhan energi antara design building dan base building dengan
menggunakan grade emission factor (konversi
antara CO2 dan energi listrik) yang telah ditetapkan
dalam “...” B/277/Dep.III/LH/01/2009. 5 On-site Renewable
Menggunakan sumber energi baru dan terbarukan. Setiap 0,5% daya listrik gedung dari sumber energi terbarukan, mendapatkan 1 poin (sampai maksimal 5 poin bonus).
1B 5B
WAC 21
P1 Water Metering
Pemasangan alat meteran air (Volume meter) di setiap sistem keluaran sumber air bersih seperti sumber PDAM atau air tanah.
P P Pemasangan alat meteran air (Volume meter) untuk
memonitor untuk keluaran sistem air daur ulang Pemasangan alat meteran air (Volume meter) untuk mengukur tambahan dari keluaran air bersih apabila dari sistem daur ulang tidak mencukupi.
1 Water Use Reduction
Konsumsi air bersih dengan jumlah tertinggi 80%
dari sumber primer. 1
8 Setiap penurunan konsumsi air bersih dari sumber
primer sebesar 5% sesuai acuan pada poin no. 1 akan mendapatkan nilai 1 dengan dengan nilai maksimum sebesar 7 poin.
1
2 Water Fixtures
Penggunaan water fixture yang sesuai dengan Tabel lampiran 3, pada tekanan air 3 bar, sejumlah minimal 25% dari total pengadaan produk water
fixture.
1
3 Atau
Penggunaan water fixture yang sesuai dengan Tabel lampiran 3, pada tekanan air 3 bar, sejumlah minimal 50% dari total pengadaan produk water
fixture.
2 Atau
Penggunaan water fixture yang sesuai dengan Tabel lampiran 3, pada tekanan air 3 bar, sejumlah minimal 75% dari total pengadaan produk water
fixture.
3
3 Water Recycling
Instalasi daur ulang air dengan kapasitas yang cukup untuk kebutuhan seluruh sistem flushing, irigasi dan
make up water cooling tower (jika ada).
1 3
4 Alternative Water Resource
Menggunakan salah satu dari tiga alternatif sebagai berikut: air kondensasi AC, air bekas wudhu, atau air hujan.
1
2 Atau
Menggunakan lebih dari satu sumber air dari tiga
alternatif di atas. 2
5 Rainwater Harvesting
Instalasi tanki penyimpanan air hujan dengan berkapasitas 50% dari jumlah air hujan yang jatuh di atas atap bangunan sesuai dengan kondisi intensitas
curah hujan tahunan setempat menurut BMKG dalam waktu 10 menit.
Atau
Instalasi tanki penyimpanan air hujan berkapasitas 75% dari perhitungan di atas. 2 Atau
Instalasi tanki penyimpanan air hujan berkapasitas 100% dari perhitungan di atas. 3 6 Water Efficiency
Landscaping
Seluruh air yang digunakan untuk irigasi gedung tidak berasal dari sumber air tanah dan atau PDAM. 1
2 Menerapkan sistem instalasi untuk irigasi lansekap
yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan tanaman. 1
MRC 14
P1 Fundamental Refrigerant
Tidak menggunakan Chloro Fluoro Carbon (CFC) sebagai refrigeran dan Halon sebagai bahan pemadam kebakaran.
P P 1
Building and Material Reuse
Menggunakan kembali semua material bekas setara minimal 10% dari total biaya material baru fasad, plafon, lantai, partisi, kusen, dinding
1
2 Atau
Menggunakan kembali semua material bekas setara minimal 20% dari total biaya material baru fasad, plafon, lantai, partisi, kusen, dinding.
2
2 Environmentally Process Product
Menggunakan material yang bersertifikat ISO 14001 terbaru dan/atau sertifikasi lain yang setara bernilai 30% dari total biaya material.
1
3 Menggunakan material yang merupakan hasil
proses daur ulang senilai minimal 5% dari total biaya material.
1 Menggunakan material yang bahan baku utamanya berasal dari sumber daya terbarukan minimal 2% dari total biaya material.
1 3 Non ODS Usage Tidak menggunakan bahan perusak ozon pada
seluruh sistem bangunan 1 2
4 Certified Wood
Menggunakan bahan material kayu yang bersertifikat legal sesuai Peraturan Pemerintah asal kayu (Faktur Angkutan Kayu Olahan/FAKO, Sertifikat Perusahaan dll) dan sah terbebas dari perdagangan kayu illegal sebesar 100% biaya total material kayu.
1
2 Jika 30% dari butir di atas menggunakan kayu
bersertifikasi dari pihak Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) atau Forest Stewardship Council (FSC).
1
5 Modular Design
Desain yang menggunakan material modular atau pra fabrikasi (tidak termasuk equipment) sebesar 30% dari total biaya material.
1 3
6 Regional Material
Menggunakan material yang lokasi asal bahan baku utama atau fabrikasinya berada di dalam radius 1000 km dari lokasi proyek mencapai 50% dari total biaya material.
1
2 Apabila material di atas berasal dari dalam wilayah 1
Republik Indonesia (RI) mencapai 80% dari total biaya material.
IHC 10
P1 Outdoor Air Introduction
Desain ruangan yang menunjukkan adanya potensi introduksi udara luar minimal sesuai dengan Standar SNI 03-6572-2001 Tabel. 4.4.2.
P P
1 CO2 Monitoring
Untuk banquet, ruang rapat umum, general office (ruangan dengan kepadatan tinggi) dilengkapi dengan Instalasi sensor gas Karbon dioksida (CO2) di
dalam ruangan tidak lebih dari 1.000 ppm. Sensor diletakkan 1,5 m di atas lantai dekat return air grill.
1 1
2
Environmental Tobacco Smoke
Control
Memasang tanda “Dilarang Merokok di Seluruh Area Gedung” dan tidak menyediakan bangunan/area khusus untuk merokok. Apabila tersedia bangunan/area rokok, maka minimal berada pada jarak 5 m dari pintu masuk, outdoor air intake dan bukaan jendela.
2 2
3 Chemical Pollutants
Menggunakan cat dan coating yang mengandung kadar Volatile Organic Compounds (VOCs) rendah. Ditandai dengan label/sertifikasi yang diakui GBCI..
1
3 Menggunakan produk kayu komposit dan produk
agrifiber, antara lain produk kayu lapis, papan partikel, papan serat; insulasi busa; dan laminating adhesive. Dengan syarat: tanpa tambahan urea formaldehyde atau memiliki kadar emisi formaldehida rendah. Ditandai dengan label/sertifikasi yang diakui GBCI.
1
Tidak menggunakan material yang mengandung asbes, merkuri dan styrofoam. 1 4 Outside View
Apabila 75% dari Net Lettable Area (NLA) menghadap langsung ke pemandangan luar yang dibatasi bukaan transparan apabila ditarik suatu garis lurus.
1 1
5 Visual Comfort
Menggunakan lampu dengan iluminansi (tingkat pencahayaan) ruangan sesuai dengan SNI 03-6197-2000 Tabel 1.
1 1
6 Thermal Comfort
Menetapkan perencanaan kondisi termal ruangan secara umum pada suhu 25°C dan kelembaban relatif 60%.
1 1
7 Acoustic Level
Tingkat kebisingan pada 90% dari Nett Lettable Area (NLA) tidak lebih dari atau sesuai dengan SNI 03-6386-2000 Tabel 1.
1 1
BEM 13
P1 Basic Waste Facility
Adanya instalasi atau fasilitas untuk memilah dan mengumpulkan sampah sejenis sampah rumah tangga berdasarkan jenis organik dan anorganik.
P P
1 AP as A Member of Design Team
Melibatkan seorang tenaga ahli yang sudah tersertifikasi Accredited Professional (AP), bertugas untuk mengarahkan berjalannya proyek sejak tahap perencanaan desain dan sebelum pendaftaran sertifikasi.
2
Pollution and Construction Activity
Memiliki Rencana Manajemen Sampah konstruksi Limbah padat, dengan menyediakan area pengumpulan, pemisahan dan sistem pencatatan.
1
2 Memiliki Rencana Manajemen Sampah konstruksi
limbah cair, dengan menjaga kualitas seluruh air yang timbul dari aktivitas konstruksi.
1
3 Advance Waste Management
Adanya instalasi pengomposan limbah organik di lokasi tapak bangunan. 1
2 Memberikan pernyataan atau rencana kerjasama
untuk pengelolaan limbah anorganik secara mandiri dengan pihak ketiga di luar sistem jaringan persampahan kota.
1
4 Proper Commissioning
Melakukan prosedur Testing- Commissioning sesuai petunjuk GBCI termasuk training dengan baik dan benar agar peralatan/sistem berfungsi dan menunjukkan kinerja sesuai perencanaan dan acuan.
2
3 Desain serta spesifikasi teknik harus lengkap dan
saat konstruksi melaksanakan pemasangan seluruh
measuring-adjusting instruments. 1 5 Submission Green Building Implementation Data
for Data Base
Menyerahkan data implementasi Green Building sesuai dengan form dari GBCI. 1
2 Memberi pernyataan bahwa pemilik gedung akan
menyerahkan data implementasi Green Building dari bangunannya dalam waktu 12 bulan setelah tanggal sertifikasi kepada GBCI dan suatu pusat data energi Indonesia yang akan ditentukan kemudian.
1
6 Fit Out Agreement
Memiliki surat perjanjian dengan penyewa gedung atau tenant yang terdiri atas penggunaan Menggunakan kayu yang bersertifikat. Dan Mengikuti training yang akan dilakukan oleh Managemen Bangunan.
1 1
7 Occupant Survey
Memberi pernyataan bahwa pemilik gedung akan mengadakan survey suhu dan kelembaban paling lambat 12 bulan setelah tanggal sertifikasi.
Apabila hasilnya minimal 20% responden menyatakan ketidaknyamanannya, maka pemilik gedung setuju untuk melakukan perbaikan selambat-lambatnya 6 bulan setelah pelaporan hasil survey.
2 2
PENDAHULUAN
GREEN BUILDING
Konsep green yang mengacu kepada prinsip sustainability/keberlanjutan dan menerapkan praktik-praktik ramah lingkungan merupakan hal yang baru di Indonesia. Tetapi, kenyataannya, telah banyak pelaku pasar yang sudah menggunakan label green. Ini menunjukkan adanya kecenderungan pasar terhadap kesadaran betapa pentingnya penerapan prinsip ini, sehingga muncul keinginan untuk menerapkan praktik ramah lingkungan dan prinsip keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun sudah ada keinginan, masyarakat umum belum memiliki pengetahuan yang cukup serta aksesibiltas terhadap informasi, praktik-praktik, dan produk-produk ramah lingkungan. Oleh karena itu, perlu ada suatu jembatan yang menghubungkan konsep sesungguhnya dengan persepsi yang tersebar di masyarakat.
Di dunia internasional, baik di Eropa, di Amerika, maupun di Asia Tenggara, konsep green sudah mulai diadaptasi dan telah menjadi praktik umum. Karena itu, di era globalisasi ini, praktik green
building pada industri bangunan menjadi tinggi urgensinya, terutama bagi perusahaan multinasional
yang berhubungan dengan masyarakat internasional dan harus memenuhi standar mereka. Predikat ini sudah menjadi suatu label yang dikenali sebagai penjaminan bagi suatu gedung yang berkualitas tinggi dan memiliki pengaruh negatif yang lebih sedikit kepada lingkungan hidup di sekitarnya. Dalam waktu yang bersamaan, penerapan teknologi dan best practice juga merangsang industri pendukung dalam mengadakan riset dan inovasi untuk menghasilkan green products. Dengan demikian, hal itu akan meningkatkan perekonomian dan menyediakan kesempatan kerja baru bagi masyarakat. Dapat dikatakan, praktik ramah lingkungan juga memiliki potensi dan berperan dalam pengentasan kemiskinan serta pertumbuhan ekonomi nasional. Tapi gerakan ini hanya dapat berhasil bila didukung oleh semua stakeholder, sehingga dapat mentransformasi cara berpikir, gaya hidup, dan perilaku.
SISTEM RATING
Sistem rating GREENSHIP merupakan alat bantu bagi para pelaku industri bangunan, baik pengusaha, engineer, maupun pelaku lainnya dalam menerapkan best practices dan mencapai standar terukur yang dapat dipahami oleh masyarakat umum, terutama tenant dan pengguna bangunan. Standar yang ingin dicapai dalam penerapan GREENSHIP adalah terjadinya suatu bangunan hijau (green building) yang ramah lingkungan sejak tahap perencanaan, pembangunan, hingga pengoperasian dan pemeliharaan sehari-hari. Kriteria penilaiannya dikelompokkan menjadi enam kategori, yaitu:
Appropriate site development /ASD (tepat guna lahan)
Energy efficiency and conservation/EEC (efisiensi dan konservasi energi)
Material resources and cycle /MRC (sumber dan siklus material)
Indoor air health and comfort /IHC (kualitas udara dan kenyamanan ruangan)
Building and environment management /BEM (manajemen lingkungan bangunan)
Perangkat rating GREENSHIP adalah sistem penilaian yang merupakan bentuk dari salah satu upaya untuk menjembatani konsep ramah lingkungan dan prinsip keberlanjutan dengan praktik yang nyata. Diharapkan, dengan adanya perangkat rating ini, secara pasti akan terjadi transformasi di industri bangunan sehingga praktik-praktik ramah lingkungan dapat diterapkan di Indonesia. Dengan sistem penilaian ini, setiap bangunan yang mendeklarasikan diri sebagai green building akan dinilai dan disertifikasi berdasarkan kriteria-kriteria baku yang ada dalam sistem penilaian. Sistem penilaian ini juga dapat mengedukasi industri bangunan dan khalayak umum tentang aspek apa saja yang harus dipenuhi sebuah green building.
Sejalan dengan baru dimulainya proses transformasi ini, sistem rating yang disusun pun seperti itu. Kriteria penilaian GREENSHIP bukan merupakan penemuan baru melainkan kumpulan dan pengelompokan dari praktik-praktik terbaik di industri bangunan yang kemudian diidentifikasi oleh GBCI. Penyusunan ini dilakukan oleh putra-putri indonesia. Oleh karena itu, ia sarat dengan pertimbangan yang didasarkan pada kondisi khas Indonesia yang unik dan spesifik. Dan penyusunan ini dilakukan sambil menjalani proses pembelajaran, sehingga tipologi rating yang dipilih dimulai dari yang mudah. Karena itu, dipilihlah jenis rating untuk gedung baru komersial (new building) sebagai langkah awal proses pembelajaran.
Bangunan baru komersial adalah bangunan yang didirikan di atas lahan kosong, atau bangunan lama yang dibongkar dengan peruntukan sebagai perkantoran, pertokoan, dan/atau hotel. Jenis bangunan ini dipandang mudah karena pola penggunaan, penggunanya, serta aktivitas yang terjadi di dalamnya lebih mudah diprediksi dibandingkan dengan jenis bangunan lain. Jenis bangunan ini biasanya menjadi icon/ landmark dari suatu kawasan, serta menjadi properti yang terbuka bagi umum sehingga membantu promosi konsep bangunan hijau itu sendiri.
TUJUAN PENYUSUNAN
Tujuan penyusunan GREENSHIP adalah:
Mendorong penerapan best practice dalam industri bangunan di Indonesia,
Mendorong terciptanya lingkungan yang berkualitas melalui bangunan baru yang bermutu baik sehingga meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan,
Mendorong pemecahan masalah lingkungan terkini melalui rating dan pembobotan nilainya,
Mendorong pertumbuhan industri bangunan yang berbasis ramah lingkungan, baik operasional maupun produk yang dihasilkannya, di dalam negeri Republik Indonesia,
Mendorong kemajuan teknologi dan riset dalam industri bangunan di dalam negeri Republik Indonesia sehingga tercipta berbagai teknologi yang tepat guna dalam penerapannya,
Mendorong peningkatan dan pemerataan kualitas sumber daya manusia dalam industri bangunan dari waktu ke waktu, dan
Memerangi fenomena perubahan iklim dengan diterapkan praktik-praktik ramah lingkungan sesuai dengan prinsip berkelanjutan.
FILOSOFI
Dari awal, GBCI sudah berketatapan akan menyusun suatu rating system yang sesuai dengan kondisi dan situasi lokal Indonesia serta menetapkan teknik-teknik yang dapat diimplementasikan di negeri ini. Dan beberapa prinsip yang dipergunakan, yang menjadi dasar penyusunannya adalah:
1. Sederhana (simple),
2. Dapat dan mudah diimplementasi (applicable), 3. Teknologi tersedia (available technology), serta
4. Menggunakan kriteria penilaian sedapat mungkin berdasarkan standard lokal baku seperti Undang-Undang (UU), Keputusan Presiden (Keppres), Instruksi Presiden (Inpres), Peraturan Menteri (Permen), Keputusan Menteri (Kepmen), dan Standar Nasional Indonesia (SNI). Dengan adanya keempat dasar tersebut, diharapkan para pelaku industri bangunan berkeinginan untuk mengimplementasikan konsep bangunan hijau karena tidak sulitnya kriteria yang dituntut sistem rating tersebut. Dengan dimulainya gerakan ini, diharapkan semakin banyak pihak yang menerapkan konsep ini sehingga pelaksanaan konsep bangunan hijau merupakan suatu hal yang akan menjadi sasaran yang umum dari setiap pengembang bangunan.
Rating yang disusun dan tolok ukur standar pencapaiannya dimulai dari yang mudah. Tentu ini lebih sederhana dibanding sistem rating lain di luar negeri, yang sudah lebih dahulu berkembang dan diakui reputasinya. Di sini terdapat lima tingkat kesulitan dari rating yang ditetapkan, yaitu:
1. Rating yang untuk pencapaiannya relatif mudah dan tanpa biaya besar,
2. Rating yang untuk pencapaiannya relatif mudah tapi terdapat hambatan dalam
penerapannya, 3. Rating yang untuk pencapaiannya relatif sulit, butuh biaya besar, tetapi bila dilakukan
memiliki dampak lingkungan yang signifikan,
4. Rating yang untuk pencapaiannya relatif sulit, butuh biaya besar, dan teknologi yang tersedia belum cukup maju untuk mencapai dampak lingkungan yang signifikan, serta 5. Rating yang untuk proses penilaiannya relatif sulit dilakukan.
Tingkat kesulitan yang dipetakan ini dapat tercermin dari bobot nilai rating tersebut. Rating yang relatif mudah pencapaiannya tanpa biaya besar tentunya berbobot rendah, sedangkan semakin tinggi tingkat kesulitannya semakin tinggi pula bobotnya. Untuk rating yang pencapaiannya masih sulit karena teknologinya belum tersedia, diberi nilai bonus sebagai penghargaan atas usahanya dalam menerapkan teknologi ramah lingkungan.
Perangkat rating ini juga berfungsi sebagai media pembelajaran bagi industri bangunan di Indonesia. Oleh karena itu, bila dirasakan, dari masa ke masa para pelaku industri bangunan sudah dapat
mencapai rating ini dengan mudah. Akibatnya, standarnya akan dinaikkan sehingga terjadi peningkatan kualitas, baik dari segi produk maupun keterampilan sumber daya manusianya.
Penyusunan perangkat rating ini juga dalam proses pembelajaran dan akan berubah dari waktu ke waktu seiring dengan peningkatan praktik-praktik pelaku industri bangunan dan urgensi isu lingkungan yang terjadi. Untuk itu, sistem penilaian akan selalu direvisi untuk mendapatkan versi yang lebih baru, dengan tolok ukur yang lebih tinggi. Dan tidak terutup kemungkinan adanya penambahan atau pengurangan jumlah rating ataupun bobot nilai yang dikandungnya di masa yang akan datang, karena pada dasarnya tidak akan pernah ada sistem yang sempurna. Rating akan terus berubah mengikuti kemajuan teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan isu lingkungan yang ada.
PROSES PENYUSUNAN
Guidelines v1
Beberapa core founder dari sejumlah 50 orang dibagi dalam beberapa gugus tugas sesuai dengan kategori pengelompokan rating, dengan tugas menyusun konsep awal sistem rating. Berdasarkan hasil penyusunan konsep awal itu, GBCI menerbitkan terlebih dahulu Panduan Bangunan Hijau (Green Building guidelines ) versi GBCI, yang hanya berisi butir-butir sistem rating yang sedang disusun. Panduan ini belum dilengkapi tolok ukur (kriteria) dan nilai (point), sehingga buku belum dapat digunakan untuk menilai atau mengevaluasi bangunan hijau, melainkan digunakan untuk menguji tingkat pemahaman tentang konsep bangunan hijau.
Framework v2
Setelah guidelines versi 1 diterbitkan, yang berisi kategori dan jenis rating yang diusulkan untuk menjadi isi sistem rating GREENSHIP, dimulailah proses yang lebih jauh dari penyusunan
GREENSHIP, yaitu menentukan tolok ukur dan penilaian. GBCI melalui Direktorat Rating dan
Teknologi membentuk tim yang terdiri atas para analis dan penulis ilmiah. Mereka membedah enam sistem rating di dunia yang dipandang cukup mewakili, yaitu LEED dari USA, BREEAM dari Inggris Raya, Greenstar dari Australia, Greenmark dari Singapura, dan GBI dari Malaysia. Dari keenam sistem itu, pertama-tama dicari rating-rating yang minimal tertera di empat sistem rating (four common), karena dianggap dapat berlaku secara universal, kemudian disarikan menjadi three common dan two
common. Pertimbangannya adalah, dapat dilakukan adopsi dengan menilik kondisi yang ada di
Indonesia.
Rating-rating tersebut dianalisis berdasarkan kesesuaian kondisi dan tolok ukur baku yang berlaku di Indonesia seperti tertera pada UU, Keppres, Inpres, Permen, Kepmen, dan SNI. Selain diskusi internal, juga dilakukan diskusi dengan berbagai pihak, terutama para ahli yang berasal dari:
lembaga penelitian
instansi pemerintah
universitas
asosiasi profesi
asosiasi industri, dan sebagainya.
Dari proses tersebut, dapat diidentifikasi enam kategori yang berisi 42 (empat puluh dua) rating dengan jumlah nilai total 96 (sembilan puluh enam). Rating yang telah diidentifikasi inilah yang dibukukan dalam buku Kerangka Konsep untuk Bangunan Hijau Tipe Bangunan Baru Versi 2 (GREENSHIP Green Building Framework for New Construction Version 2).
Framework v3
Setelah peluncuran Framework Versi 2, banyak masukan diterima, baik berupa email maupun diskusi langsung dengan berbagai pihak. Dari diskusi itu berkembanglah rating-rating baru yang dipertajam dengan identifikasi keperluan data yang harus dimasukkan ke dalam penilaian sertifikasi. Penyusunan naskah ini juga telah mempertimbangkan cara teknis penilaian dan proses sertifikasi. Naskah yang telah lebih komprehensif ini kemudian disusun dan diberi judul ‘Kerangka Konsep untuk Bangunan Hijau Tipe Bangunan Baru Versi 3’ (GREENSHIP Green Building Framework for New
Building Version 3).
Konsensus Nasional
Setelah selesai disusun, naskah ‘Kerangka Konsep untuk Bangunan Hijau Tipe Bangunan Baru Versi 3’ kemudian dijadikan bahan diskusi dengan technical advisory group (TAG) dan dibandingkan dengan proyek percontohan. Yang bergabung dalam TAG ini adalah industri bangunan yang mengirimkan wakil ahlinya untuk turut mempertajam rating GREENSHIP NB Version 1. Setelah mengalami serangkaian diskusi yang membahas kategori per kategori, dikristalkanlah sebuah naskah yang di sebut ‘Perangkat Rating Bangunan Hijau GREENSHIP untuk Bangunan Baru Versi 1, 2010’. Naskah ini dibukukan menjadi buku ‘Perangkat Rating Bangunan Hijau GREENSHIP untuk Bangunan Baru Versi 1, 2010 (GREENSHIP Rating Tools for New Building Version 1, 2010). Dan untuk melengkapi buku ini dalam praktik, juga dibukukan ‘Bangunan Hijau GREENSHIP untuk Bangunan Baru Versi 1, 2010’.
SISTEMATIKA
‘GREEN’ SEBAGAI TUJUAN
Penerapan konsep green building merupakan bagian dari green practice atau tindakan ramah lingkungan. Keuntungan membangun sebuah green building, antara lain adalah:
Desain yang lebih kompak dan efisien sehingga mengoptimalkan fungsi-fungsi gedung,
Efisiensi yang tinggi dalam konsumsi energi listrik dan air,
Biaya yang hemat dalam operasional sehari-hari untuk energi dan konsumsi air,
Kesehatan jasmani-rohani yang lebih baik bagi pengguna gedung,
Produktivitas dan kinerja yang meningkat paada pengguna gedung,
Biaya pemeliharaan dan operasional yang rendah dalam jangka panjang,
Preferensi pasar yang lebih tinggi, terutama perusahaan internasional/multinasional,
Didapatnya pengakuan internasional sebagai produk unggulan dalam industri rancang bangun,
Munculnya ketertarikan yang tinggi, baik pada konsumen/klien maupun karyawan karena merupakan sebuah produk/perusahaan yang memerhatikan lingkungan, dan
Tumbuhnya sikap ramah lingkungan pada para penggunanya, yang diharapkan dapat meneruskan sikap tersebut di rumah tangga masing-masing dan menimbulkan efek
multiplier.
Untuk menciptakan sebuah green building, harus dilaui serangkaian proses. Bagi sebuah bangunan baru, tentunya terlebih dahulu ditetapkan bahwa bangunan yang akan dirancang dan dibangun akan menjadi suatu green building. Pemilik atau pihak manajemen sudah harus menetapkan peringkat mana yang ingin dicapai.
Penetapan tujuan ini diperlukan karena untuk mencapai tingkatan tertentu tentu diperlukan pencapaian nilai minimum. Semakin tinggi peringkat yang diinginkan, semakin banyak nilai yang harus dicapai. Pencapaian nilai minimum ini mencerminkan usaha dan produk akhir tertentu yang diharapkan berlanjut hingga ke pengoperasian. Dari awal tentu pemilik sudah dapat memproyeksikan apakah usaha yang dilakukan setara dengan pengembalian investasi yang akan diperoleh atau tidak. Ada empat tingkat peringkat GREENSHIP, yaitu:
PREDIKAT NILAI TERKECIL NILAI PERSENTASE (%) PLATINUM 70 73 EMAS 54 57 PERAK 44 46 PERUNGGU 33 35
Peringkat dari GREENSHIP mencerminkan usaha pemilik gedung. Butir rating yang dimuat di dalamnya mengombinasikan berbagai tingkat kesulitan. Angka yang ditetapkan sebagai nilai minimal peringkat perunggu adalah jumlah nilai yang dapat dicapai apabila sebuah proyek memenuhi nilai maksimum dari rating yang pencapaiannya relatif mudah, tidak membutuhkan biaya tambahan, dan yang membutuhkan biaya tidak terlalu besar. Nilai minimal perak dapat dicapai bila sebuah proyek memenuhi semua rating yang pencapaiannya relatif mudah serta sepertiga dari rating yang pencapaiannya sulit dan butuh biaya relatif besar. Nilai minimal emas diperoleh bila sebuah proyek memenuhi semua rating yang pencapaiannya relatif mudah dan dua per tiga dari rating yang pencapaiannya sulit dan butuh biaya relatif besar. Peringkat platinum dapat dicapai bila sebuah proyek memenuhi rating yang pencapaiannya membutuhkan biaya relatif lebih besar dan teknologinya belum tersedia sehingga dapat dikatakan sangat sulit pencapaiannya.
Langkah kedua adalah membentuk suatu tim desain yang terintegrasi. Dari awal tahap perencanaan desain, unsur-unsur perencana desain gedung, yaitu arsitektur, interior, lansekap, struktur, mekanikal elektrikal, dan sipil sudah mulai berinteraksi dan membentuk integrated design team. Prosedur ini diperlukan agar dapat tercapai suatu desain yang optimal dan tidak tambal sulam. Hasil koordinasi sejak tahap awal ini menjadikan desain sebuah gedung lebih well designed, kompak, efisien, dan bahkan mendorong terjadinya kreasi baru desain yang inovatif. Di tahap inilah sebaiknya tim desain sudah mulai dituntun oleh seorang accredited professional (AP) yang memahami penggunaan perangkat penilaian GREENSHIP dan implementasinya pada desain.
GEDUNG BARU (NEW BUILDING/NB)
Yang dimaksud dengan gedung baru komersial adalah suatu bangunan yang didirikan di atas suatu lahan kosong atau bangunan lama yang dibongkar dengan peruntukan sebagai fungsi perkantoran, pertokoan, rumah sakit, hotel, dan apartemen. Pertimbangan yang dilakukan dalam memilih tipe NB ini sebagai perangkat penilaian yang pertama kali disusun adalah karena dinilai lebih mudah dibandingkan dengan tipe lain seperti gedung terbangun (existing building) dan lain-lain.
TOLOK UKUR
Tolok ukur (benchmark) adalah patokan yang dianggap sebagai implementasi dari praktik terbaik sehingga menjadi syarat pencapaian suatu rating. Dari tolok ukur inilah batasan pencapaian suatu rating dapat diukur. Sebagian besar tolok ukur menggunakan standar yang berlaku di Indonesia. Sebagian rating yang belum memiliki standar lokal mengacu kepada standar yang berlaku secara universal. Untuk sebagian kecil rating yang belum memiliki tolok ukur tetapi praktiknya dirasa memiliki dampak yang signifikan kepada lingkungan, tim proyek diberi kesempatan untuk memilih dan membuktikan validitas tolok ukur yang digunakan.
ACCREDITED PROFESSIONAL (AP)
Proses mendirikan suatu green building sudah dimulai sejak sebelum tahap perencanaan, yaitu ketika pemilik gedung mencanangkan target peringkat sertifikasi green building. Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu dipertimbangkan berbagai aspek, mulai dari tingkat kesulitan desain, biaya yang diperlukan, dan kombinasi rating mana saja yang harus diperoleh untuk mencapai peringkat tersebut.
Seorang AP GREENSHIP (selanjutnya disebut AP) sudah memahami rating-rating secara mendalam, baik tujuan maupun filosofinya, sehingga dapat membantu cara-cara mencapai rating tersebut. Tingkat pemahaman ini diperoleh dari pendidikan yang diselenggarakan GBCI dan dikukuhkan dengan sertifikat.
Untuk memperoleh sertifikat AP, seseorang profesional harus terlebih dahulu menjalani serangkaian pendidikan. Profesional tersebut harus telah memiliki tingkat pendidikan minimum S1 dan terlebih dahulu melalui workshop Green Associate (GA). Peserta harus melalui ujian untuk mendapatkan sertifikat kelulusan pendidikan GA.
DEFINISI DALAM RATING TOOLS
Kategori
Yang dimaksudkan dengan kategori adalah pembidangan aspek-aspek yang dinilai secara signifikan, dan harus menjadi perhatian utama dalam konsep bangunan hijau. Kategori ini mengandung rating-rating yang menjadi inti penilaian perangkat rating-rating GREENSHIP ini.
Rating
Rating adalah bagian dari kategori, berisi muatan apa saja yang dinilai, tolok ukur apa saja yang harus dipenuhi, dan berapa nilai poin yang terkandung di dalamnya. Ada 3 (tiga) jenis penilaian, yaitu rating prasyarat, rating biasa, dan rating bonus.
Rating Prasyarat (Prerequisite)
Rating prasayarat adalah butir rating yang mutlak harus dipenuhi dan diimplementasi dalam suatu kategori. Apabila butir ini tidak dipenuhi, butir-butir rating lainnya dalam kategori ini tidak dapat dinilai dan tidak akan mendapatkan nilai sehingga proses sertifikasi tidak dapat dilanjutkan. Butir rating ini sendiri tidak memiliki butir nilai.
Rating Biasa
Rating biasa adalah turunan dalam kategori selain butir prasyarat. Butir ini baru dapat dinilai dan diberi nilai kalau semua butir prasyarat dalam kategori tersebut telah dipenuhi atau telah dilaksanakan. Butir rating ini memiliki butir nilai tertentu, sesuai dengan ketentuan pencapaian tolok ukur yang sudah ditetapkan.
Rating Bonus
Rating bonus adalah butir rating yang dapat dinilai seperti butir rating biasa tetapi keberadaannya tidak diperhitungkan dalam jumlah total butir rating yang digunakan sebagai nilai pembagi dalam perhitungan persentase penilaian. Suatu rating dipertimbangkan sebagai rating bonus apabila dinilai untuk mencapai rating tersebut diperlukan usaha atau biaya yang besar, dan apabila dilakukan menimbukan impact yang besar terhadap lingkungan, tetapi teknologi yang ada belum cukup memadai untuk mendukung usaha tersebut sehingga terdapat kendala seperti biaya yang relatif tinggi.
PERSYARATAN AWAL (ELIGIBILITY)
I
Luas bangunan sekurang-kurangnya 2500 m
2TUJUAN
Membatasi lingkup target dari sistem rating GREENSHIP untuk bangunan baru komersial pada bangunan besar dengan luas minimum 2500 m2
LATAR BELAKANG
Bangunan gedung berpotensi memerlukan energi dan sumber daya dalam jumlah yang besar pada saat membangun, mengoperasikan, dan memeliharanya. Keadaan ini menjadikan keberadaannya dapat memberi pengaruh yang signifikan pada lingkungan. Dengan perbaikan yang dimulai dari gedung baru berskala besar, dapat dirasakan bagaimana pengaruhnya yang nyata terhadap lingkungan secara signifikan. Mengingat sistem rating untuk bangunan hijau adalah hal yang baru di Indonesia, maka target penilaian pertamanya adalah bangunan besar yang dapat dengan mudah diakses oleh masyarakat umum dan dirasakan keberadaannya sebagai suatu icon.
II
Lokasi tapak bangunan sesuai dengan peruntukan berdasarkan Rencana Tata
Ruang Wilayah (RTRW) setempat
TUJUAN
Mendorong pengendalian pembangunan dan pemanfaatan kawasan sesuai dengan fungsinya sehingga tercipta lingkungan hidup yang selaras, serasi, dan seimbang
LATAR BELAKANG
Membangun di kawasan yang sesuai dengan RTRW memberikan dampak positif bagi pengembang dikarenakan bangunan memiliki lokasi yang stabil di dalam kawasannya. Dengan kata lain, bangunan tersebut tidak akan rentan terhadap penggusuran yang dapat merugikan banyak pihak, baik dari aspek ekonomi maupun sosial. Di lain pihak, bila pembangunan dilakukan pada peruntukan Ruang Tata Hijau atau RTH, hal ini akan berdampak negatif terhadap lingkungan hidup perkotaan. Peran RTH tidak hanya memiliki fungsi ekologis dan estetika bagi lingkungan perkotaan. Lebih jauh lagi, RTH dapat menjadi nilai kebanggaan dan identitas suatu kota.
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung Pasal 18, setiap gedung harus didirikan sesuai dengan peruntukan lokasi yang ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota setempat, yang klasifikasi tersebut mengacu pada UU RI No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang.